ANALISIS PENGARUH JENIS KELAMIN DAN

TINGKAT PENDIDIKAN TERHADAP
PERSEPSI ETIS MAHASISWA AKUNTANSI
DENGAN LOVE OF MONEY SEBAGAI
VARIABEL INTERVENING
Berliana Normadewi
Prof. Dr. H. Arifin. S, M.Com, Hons., Ph.D, Akt.

Universitas Diponegoro

ABSTRACT
This research replicated from research paper that have been done by Elias
(2010). This research had purposed to know how big the impact of gender and
class grade to the accounting students ethical perception throught love of money
as intervening variable.
This research used purposive sampling to choosed the sample. The sample
of this research are undergraduate accounting students, PPA and master of
accounting students in University of Diponegoro. The number of samples that
used were 142 respondens. The data obtained were analyzed by using PLS
analysis technique (Partial Least Square) through the smartPLS software.
The result showed that gender have no relationship with accounting
students love of money and their ethical perceptions. The result of this research
also shows that the level of education have relationship with accounting students
love of money and their ethical perceptions. The influence of a direct relationship
between the level of education with accounting students ethical perception is
greater than the effect on love of money. So the love of money cannot be said to be
intervening variable.
Keywords
: Gender, Level of Education, Love of Money, Ethical Perception,
Accounting Students.

[ANALISIS PENGARUH JENIS KELAMIN DAN TINGKAT PENDIDIKAN TERHADAP PERSEPSI
ETIS MAHASISWA AKUNTANSI DENGAN LOVE OF MONEY SEBAGAI VARIABEL
INTERVENING]

1

I.

PENDAHULUAN
Meningkatnya perhatian masyarakat pada isu-isu etika dalam dunia bisnis

dan profesi setelah terjadinya skandal-skandal perusahaan besar membuat
kepercayaan masyarakat terhadap profesi akuntan menurun. Terbongkarnya kasus
Enron Corp. (2001) dan kasus-kasus perusahaan besar lainnya yang terlibat di
dalamnya memberikan kesadaran tentang pentingnya peran dunia pendidikan
dalam menciptakan sumber daya manusia yang cerdas dan bermoral.
Robertson (2008) dalam Elias (2010) menyatakan bahwa kehancuran moral
yang dihasilkan oleh perusahaan seperti Enron dan WorldCom menghasilkan The
Sarbanes-Oxley (SOX) Act

tahun 2002. Peraturan tersebut ditujukan untuk

menahan manajer perusahaan bertanggung jawab atas tindakan mereka dan
tindakan rekan-rekan mereka. Saat ini, profesi akuntan mengandalkan kode etik
untuk menyampaikan tanggung jawab mereka kepada masyarakat. Seorang
akuntan harus memiliki objektifitas yang tinggi supaya dapat bertindak adil tanpa
dipengaruhi oleh pihak lain maupun dirinya sendiri.
Sejak kebangkrutan perusahaan besar di Amerika Serikat, profesi akuntansi
telah mengalami krisis kepercayaan dalam kemampuannya untuk mengatur
anggotanya dan menyediakan laporan keuangan yang dapat diandalkan untuk
publik. Auditor sering disalahkan atas runtuhnya perusahaan (Jackling et. al.,
2007 dalam Elias, 2010), oleh sebab itu pemerintah menindaklanjuti masalah
tersebut dengan The Sarbanes-Oxley (SOX) Act yang diterapkan untuk mencegah
kegagalan penyajian laporan keuangan. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa
The Sarbanes-Oxley (SOX) Act memiliki dampak positif. Canary dan Jennings
(2008) dalam Elias (2010) menguji persamaan dan perbedaan kelakuan kode etik
perusahaan sebelum dan sesudah diterapkannya The Sarbanes-Oxley (SOX) Act.
Hasil penelitian tersebut menemukan bahwa struktur kode etik telah berubah dari
waktu ke waktu dengan kenaikan penekanan kepatuhan kode etik sesudah
diterapkannya The Sarbanes-Oxley (SOX) Act.
Namun, ada banyak kasus dimana kode etik dan The Sarbanes-Oxley (SOX)
Act tidak memberikan jawaban yang jelas. Dalam situasi ambigu seperti itu, etika
[ANALISIS PENGARUH JENIS KELAMIN DAN TINGKAT PENDIDIKAN TERHADAP PERSEPSI
ETIS MAHASISWA AKUNTANSI DENGAN LOVE OF MONEY SEBAGAI VARIABEL
INTERVENING]

2

pribadi akuntan memberikan alasan berbeda untuk menentukan pendapat
profesional (Gibbins dan Mason, 1998 dalam Elias, 2010). Studi menunjukkan
bahwa akuntan dengan penalaran moral yang tinggi mungkin lebih merasakan
situasi tidak etis dibandingkan dengan akuntan dengan etika pribadi yang lebih
rendah.
Sikap dan tindakan etis akuntan akan sangat menentukan posisi di
masyarakat pemakai jasa profesional (Ludigdo, 1999).

Saat ini, profesional

akuntansi mengandalkan kode etik untuk menyampaikan tanggung jawab mereka
kepada masyarakat. Karakter menunjukkan personalitas seorang profesionalisme
yang diwujudkan dalam sikap profesional dan tindakan etisnya (Machfoedz dalam
Winarna dan Retnowati, 2004). Penelitian Hunt dan Vitell (1986) menyebutkan
kemampuan seorang profesional untuk dapat mengerti dan sensitif akan adanya
masalah-masalah etika dalam profesinya dipengaruhi oleh lingkungan budaya atau
masyarakat di mana profesi itu berada, lingkungan profesi, lingkungan organisasi
dan pengalaman pribadi. Disamping lingkungan bisnis, hal yang dapat
mempengaruhi seseorang berperilaku etis adalah lingkungan dunia pendidikan
(Sudibyo dalam Murtanto dan Marini, 2003).
Dengan adanya krisis kepercayaan pada profesi akuntansi, maka
pendidikan mengenai etika harus dilakukan dengan benar kepada mahasiswa
akuntansi sebelum mereka memasuki dunia kerja.

Bedford Committee

menyebutkan dalam pernyataannya bahwa salah satu tujuan dari pendidikan
akuntansi adalah untuk mengenalkan mahasiswa kepada nilai-nilai dan standarstandar etik dalam profesi akuntan (Clikemen dan Henning, 2000). Mastracchio
(2005) juga mengatakan bahwa kepedulian terhadap etika harus diawali dari
kurikulum akuntansi, jauh sebelum mahasiswa akuntansi masuk di dunia profesi
akuntansi. Madison (2002) dalam Elias (2010) berpendapat bahwa mahasiswa
akuntansi sekarang adalah para profesional di masa depan dan dengan pendidikan
etika yang baik diharapkan dapat menguntungkan profesinya dalam jangka
panjang. Karena begitu pentingnya etika dalam suatu profesi, membuat profesi
akuntansi memfokuskan perhatiannya pada persepsi etis para mahasiswa
[ANALISIS PENGARUH JENIS KELAMIN DAN TINGKAT PENDIDIKAN TERHADAP PERSEPSI
ETIS MAHASISWA AKUNTANSI DENGAN LOVE OF MONEY SEBAGAI VARIABEL
INTERVENING]

3

akuntansi sebagai titik awal dalam meningkatkan persepsi terhadap profesi
akuntansi. Elias (2007) mengatakan bahwa masih sangat dibutuhkan penelitian
mengenai sosialisasi mengenai etika pada mahasiswa akuntansi.
Analisis terhadap sikap etis dalam profesi akuntansi menunjukkan bahwa
akuntan mempunyai kesempatan untuk melakukan tindakan tidak etis dalam
profesi mereka (Fine et al. dalam Husein, 2004). Kesadaran etika dan sikap
profesional memegang peran yang sangat besar bagi seorang akuntan (Louwers et
al. dalam Husein, 2004). Pengambilan keputusan oleh seorang individu yang
melibatkan masalah etis bergantung pada prinsip-prinsip standar etika yang dianut
oleh individu tersebut.
Persepsi etis dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah uang.
Uang adalah aspek penting dalam kehidupan sehari-hari. Walaupun uang tersebut
digunakan universal, arti dan pentingnya uang tidak diterima secara universal
(McClelland, 1967 dalam Elias, 2010). Karena pentingnya uang dan interpretasi
yang berbeda, Tang (1992) dalam Elias (2010) memperkenalkan konsep “the love
of money” untuk literatur psikologis yang merupakan ukuran perasaaan subjektif
seseorang tentang uang. Penelitian menunjukkan bahwa love of money terkait
dengan beberapa perilaku organisasi yang diinginkan dan tidak diinginkan. Tang
dan Chiu (2003) dalam Elias 2010 mengemukakan konsep love of money sangat
terkait dengan konsep ketamakan. Mereka menemukan bahwa karyawan di Hong
Kong dengan love of money yang tinggi bekerja dengan kurang memuaskan
dibandingkan rekan-rekan mereka. Chen dan Tang (2006) dalam Elias (2010)
menunjukkan bahwa hubungan tersebut dapat menyebabkan perilaku yang tidak
etis.
Faktor demografi seperti jenis kelamin dan tingkat pendidikan dianggap
ikut mempengaruhi tingkat love of money individu. Tang et. al. (2000) dalam Elias
(2010) mengatakan karyawan perempuan cenderung kurang peduli dengan uang
daripada karyawan laki-laki. Elias (2006) berpendapat mahasiswa akuntansi
mengalami

proses

sosialisasi

selama

pendidikan

sarjana

mereka

[ANALISIS PENGARUH JENIS KELAMIN DAN TINGKAT PENDIDIKAN TERHADAP PERSEPSI
ETIS MAHASISWA AKUNTANSI DENGAN LOVE OF MONEY SEBAGAI VARIABEL
INTERVENING]

dan

4

memungkinkan mahasiswa mengembangkan dasar love of money dalam
sosialisasi.
Penelitian ini berisi analisis hubungan antara love of money dan persepsi
etis mahasiswa akuntansi. Penelitian ini merupakan replikasi penelitian Elias
(2010) yang menguji pengaruh antara love of money dan persepsi etis mahasiswa
akuntansi di Amerika. Penelitian ini dilakukan karena adanya krisis kepercayaan
masyarakat terhadap profesi akuntansi dan dilakukan untuk mendeteksi apakah
faktor love of money merupakan penyebab dari persepsi etis tersebut.
Secara teoritis, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan
kontribusi bagi manajemen perusahaan dalam melakukan perekrutan karyawan.
Manajemen perusahaan diharapkan menggunakan variabel love of money dalam
perekrutan karyawan untuk dapat mengetahui persepsi etis calon karyawan. Hasil
penelitian juga diharapkan dapat menambah perhatian pihak pengajar terhadap
pentingnya

penanaman

kesadaran

mengenai

profesi

akuntan

kepada

mahasiswanya sejak dini. Serta dapat memberi kontribusi dalam perkembangan
literatur penelitian akuntansi, pentingnya pemahaman terhadap love of money dan
etika profesi pada mahasiswa selama belajar di perguruan tinggi, serta dapat
digunakan sebagai acuan bagi penelitian yang akan datang.

II. TINJAUAN PUSTAKA
Landasan Teori dan Pengembangan Hipotesis
Teori Harapan (Expectancy Theory)
Teori harapan berpegang pada motivasi untuk berperilaku yang
menghasilkan kombinasi keinginan yang diharapakan sebagai hasil. Persepsi
memainkan peran inti dalam teori harapan karena persepsi menekankan
kemampuan kognitif untuk mengantisipasi konsekuensi perilaku yang cenderung
terjadi. Yang mendasari teori harapan adalah prinsip hedonisme. Orang yang
berprinsip hedonis berjuang memaksimalkan kesenangan dan meminimalkan rasa
sakit (Kreitner dan Kinicki, 2003).

[ANALISIS PENGARUH JENIS KELAMIN DAN TINGKAT PENDIDIKAN TERHADAP PERSEPSI
ETIS MAHASISWA AKUNTANSI DENGAN LOVE OF MONEY SEBAGAI VARIABEL
INTERVENING]

5

Teori motivasi menyatakan bahwa karyawan akan termotivasi untuk
mengeluarkan tingkat usaha yang tinggi ketika mereka yakin bahwa usaha
tersebut akan menghasilkan penilaian kinerja yang baik. Kinerja yang baik akan
menghasilkan penghargaan-penghargaan organisasional,

dan penghargaan-

penghargaan organisasional tersebut akan memuaskan tujuan-tujuan pribadi para
karyawan (Robbins dan Judge, 2008). Oleh karenanya, teori ini berfokus pada tiga
hubungan.
1. Hubungan Usaha – Kinerja
Kemungkinan yang dirasakan oleh individu yang mengeluarkan sejumlah
usaha akan menghasilkan kinerja.
2. Hubungan Kinerja – Penghargaan
Tingkat sampai dimana individu tersebut yakin bahwa bekerja pada tingkat
tertentu akan menghasilkan pencapaian yang diinginkan.
3. Hubungan Penghargaan – Tujuan-tujuan Pribadi
Tingkat sampai mana penghargaan-penghargaan organisasional memuaskan
tujuan-tujuan pribadi.
Secara umum, teori harapan dapat digunakan untuk memperkirakan
perilaku setiap situasi dimana ada dua pilihan alternatif atau lebih yang harus
dibuat (Kreitner dan Kinicki, 2003). Sebagai contoh, teori harapan dapat
digunakan untuk memperkirakan persepsi etis mahasiswa akuntansi dalam
kaitannya dengan tingkat love of money dengan cara mengidentifikasi hal-hal apa
yang akan diperoleh apabila lebih mementingkan kecintaannya terhadap uang
tanpa

mengutamakan

tindakan

etis

yang

diambil

dalam

menjalankan

pekerjaannya, dan apakah hasil yang diperoleh telah memenuhi kebutuhan
individu tersebut.
Etika
Etika dalam bahasa latin adalah "ethica" yang berarti falsafah moral. Etika
merupakan pedoman cara bertingkah laku yang baik dari sudut pandang budaya,
susila serta agama. Sedangkan menurut Keraf (1998), etika secara harfiah berasal
dari kata Yunani ethos (jamaknya ta etha), yang artinya sama dengan moralitas,
[ANALISIS PENGARUH JENIS KELAMIN DAN TINGKAT PENDIDIKAN TERHADAP PERSEPSI
ETIS MAHASISWA AKUNTANSI DENGAN LOVE OF MONEY SEBAGAI VARIABEL
INTERVENING]

6

yaitu adat kebiasaan yang baik. Etika merupakan suatu prinsip moral dan
perbuatan yang menjadi landasan bertindak seseorang sehingga apa yang
dilakukannya dipandang oleh masyarakat sebagai perbuatan terpuji dan
meningkatkan martabat dan kehormatan seseorang (Munawir dalam Marwanto
2007). Etika sangat erat kaitannya dengan hubungan yang mendasar antarmanusia
dan berfungsi untuk mengarahkan kepada perilaku moral. Makna kata etika dan
moral memang sinonim, namun menurut Siagian (1996) dalam Marwanto (2007)
antara keduanya mempunyai nuansa konsep yang berbeda. Moral atau moralitas
biasanya dikaitkan dengan tindakan seseorang yang benar atau salah. Sedangkan
etika ialah studi tentang tindakan moral atau sistem atau kode berperilaku yang
mengikutinya. Etika juga bisa dimaksudkan sebagai ilmu tentang yang baik dan
yang buruk (Bertens, 2002).
Istilah etika jika dilihat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1998),
memiliki tiga arti, yang salah satunya adalah nilai mengenai benar dan salah yang
dianut suatu golongan atau masyarakat. Dari beberapa definisi di atas dapat
disimpulkan bahwa etika merupakan seperangkat aturan/norma/pedoman yang
mengatur perilaku manusia, baik yang harus dilakukan maupun yang harus
ditinggalkan yang dianut oleh sekelompok/segolongan manusia/masyarakat/
profesi. Menurut Keraf (2001) dalam Edi (2008), etika dibagi menjadi etika umum
dan etika khusus. Etika khusus dibagi lagi menjadi 3 kelompok, yaitu: etika
individual, etika lingkungan hidup dan etika sosial. Etika sosial berbicara
mengenai kewajiban dan hak, sikap dan pola perilaku manusia sebagai makhluk
sosial dalam interaksinya dengan sesama. Karena etika sosial menyangkut
hubungan antara manusia dengan manusia. Ia menyangkut hubungan individual
antara orang yang satu dengan orang yang lain, serta menyangkut interaksi sosial
secara bersama.
Etika seseorang dapat berpengaruh terhadap persepsi yang dimiliki setiap
individu. Mahasiswa yang memiliki etika yang tinggi dianggap memiliki persepsi
etis yang juga tinggi. Sehingga diharapkan mahasiswa tersebut tidak akan
melakukan kecurangan dalam menjalankan tugas profesinya di masa depan.
[ANALISIS PENGARUH JENIS KELAMIN DAN TINGKAT PENDIDIKAN TERHADAP PERSEPSI
ETIS MAHASISWA AKUNTANSI DENGAN LOVE OF MONEY SEBAGAI VARIABEL
INTERVENING]

7

Persepsi
Pengertian persepsi merupakan proses untuk memahami lingkungannya
meliputi objek, orang, dan simbol atau tanda yang melibatkan proses kognitif
(pengenalan). Proses kognitif adalah proses dimana individu memberikan arti
melalui penafsirannya terhadap rangsangan (stimulus) yang muncul dari objek,
orang, dan simbol tertentu. Dengan kata lain, persepsi mencakup penerimaan,
pengorganisasian, dan penafsiran stimulus yang telah diorganisasi dengan cara
yang dapat mempengaruhi perilaku dan membentuk sikap. Hal ini terjadi karena
persepsi melibatkan penafsiran individu pada objek tertentu, maka masing-masing
objek akan memiliki persepsi yang berbeda walaupun melihat objek yang sama
(Gibson, 1996 dalam Retnowati, 2003). Aryanti (1995) dalam Edi (2008)
mengemukakan bahwa persepsi di pengaruhi oleh faktor pengalaman, proses
belajar, cakrawala, dan pengetahuan terhadap objek psikologis.
Persepsi adalah tanggapan (penerimaan) langsung dari sesuatu atau proses
seseorang mengetahui beberapa hal melalui panca inderanya (Ludigdo, 1999).
Gibson (dalam Retnowati, 2003) menyatakan ada beberapa faktor penting khusus
yang menyebabkan perbedaan individual dalam perilaku yaitu persepsi, sikap,
kepribadian dan belajar. Melalui pemahaman persepsi individu, seseorang dapat
meramalkan bagaimana perilaku individu itu didasarkan pada persepsi mereka
mengenai apa realita itu, bukan mengenai apa realita itu sendiri (Retnowati,
2003).
Salah satu faktor psikologis yang mempengaruhi persepsi etis adalah love
of money atau kecintaan individu terhadap uang. Seseorang yang memiliki love of
money tinggi seringkali memiliki persepsi etis yang lebih rendah dan
dikhawatirkan akan mempengaruhi pengambilan keputusan yang kurang etis
dalam pekerjaannya.
The love of money
Uang adalah aspek yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari.
Rubenstein (1981) dalam Elias (2010) berpendapat bahwa di Amerika Serikat,
kesuksesan diukur dengan uang dan pendapatan. Walaupun uang tersebut
[ANALISIS PENGARUH JENIS KELAMIN DAN TINGKAT PENDIDIKAN TERHADAP PERSEPSI
ETIS MAHASISWA AKUNTANSI DENGAN LOVE OF MONEY SEBAGAI VARIABEL
INTERVENING]

8

digunakan universal, arti dan pentingnya uang tidak diterima secara universal
(McClelland, 1967 dalam Elias, 2010). Tang et al. (2005) dalam Elias (2010)
berpendapat bahwa sikap terhadap uang dipelajari melalui proses sosialisasi yang
didirikan pada masa kanak-kanak dan dipelihara dalam kehidupan dewasa. Dalam
dunia bisnis, manajer menggunakan uang untuk menarik, mempertahankan, dan
memotivasi karyawan (Milkovich dan Newman, 2002 dalam Elias, 2010).
Karena pentingnya uang dan interpretasi yang berbeda, Tang (1992) dalam
Elias (2010) memperkenalkan konsep the love of money untuk literatur psikologis.
Konsep ini mengukur perasaan subjektif seseorang tentang uang. Penelitian telah
menunjukkan bahwa love of money terkait dengan beberapa perilaku organisasi
yang diinginkan dan tidak diinginkan. Tang et al. (2000) dalam Elias (2010)
menemukan bahwa kesehatan mental profesional dengan love of money yang
rendah memiliki perputaran kesengajaan yang rendah, bahkan dengan kepuasan
kerja rendah. Tang dan Chiu (2003) dalam Elias (2010) berteori bahwa konsep
love of money sangat terkait dengan konsep ketamakan. Mereka menemukan
bahwa karyawan di Hong Kong dengan love of money yang tinggi kurang
memuaskan dalam bekerja dibandingkan dengan rekan-rekan mereka. Chen dan
Tang (2006) dalam Elias (2010) menunjukkan bahwa hubungan tersebut dapat
menyebabkan perilaku yang tidak etis. Faktanya, Tang dan Chiu (2003) dalam
Elias (2010) juga menemukan jalur langsung antara love of money dan perilaku
tidak etis di antara karyawan di Hong Kong.
Tingkat love of money seseorang dapat dipengaruhi oleh faktor jenis
kelamin dan tingkat pendidikan. Terdapat perbedaan pandangan antara laki-laki
dan perempuan dalam kecintaannya terhadap uang. Selain itu, seseorang yang
tinggi tingkat pendidikannya memiliki kecintaan terhadap uang yang lebih rendah
bila dibandingkan dengan seseorang yang tingkat pendidikannya lebih rendah.
Jenis kelamin
Jenis kelamin adalah suatu konsep analisis yang digunakan untuk
mengidentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dilihat dari sudut nonbiologis, yaitu dari aspek sosial, budaya, maupun psikologis (Siti Mutmainah,
[ANALISIS PENGARUH JENIS KELAMIN DAN TINGKAT PENDIDIKAN TERHADAP PERSEPSI
ETIS MAHASISWA AKUNTANSI DENGAN LOVE OF MONEY SEBAGAI VARIABEL
INTERVENING]

9

2006). Pengaruh dari perbedaan jenis kelamin terhadap penilaian etis dapat
dikatakan sangat kompleks dan tidak pasti. Beberapa penelitian sebelumnya
menunjukan bahwa tidak terdapat perbedaan antara perempuan maupun laki-laki
dalam menyikapi perilaku etis maupun skandal etis yang terjadi di dalam profesi
akuntansi.
Penelitian yang dilakukan oleh Sankaran dan Bui (2003) menunjukkan
bahwa seorang perempuan akan lebih peduli terhadap perilaku etis dan
pelanggarannya dibandingkan dengan seorang laki-laki. Mahasiswa akuntansi
yang berjenis kelamin perempuan akan memiliki ethical reasoning yang lebih
tinggi dibandingkan dengan siswa laki-laki.
Berdasarkan Coate dan Frey (2000), terdapat dua pendekatan yang biasa
digunakan untuk memberikan pendapat mengenai pengaruh gender terhadap
perilaku etis maupun persepsi individu terhadap perilaku tidak etis, yaitu
pendekatan struktural dan pendekatan sosialisasi. Pendekatan struktural,
menyatakan bahwa perbedaan antara laki-laki dan perempuan disebabkan oleh
sosialisasi awal terhadap pekerjaan dan kebutuhan-kebutuhan peran lainnya.
Sosialisasi awal dipengaruhi oleh reward dan insentif yang diberikan kepada
individu di dalam suatu profesi. Karena sifat dan pekerjaan yang sedang dijalani
membentuk perilaku melalui sistem reward dan insentif, maka laki-laki dan
perempuan akan merespon dan mengembangkan nilai etis dan moral secara sama
dilingkungan pekerjaan yang sama. Dengan kata lain, pendekatan struktural
memprediksi bahwa baik laki-laki maupun perempuan di dalam profesi tersebut
akan memiliki perilaku etis yang sama.
Berbeda dengan pendekatan struktural, pendekatan sosialisasi gender
menyatakan bahwa pria dan wanita membawa seperangkat nilai dan yang berbeda
ke dalam suatu lingkungan kerja maupun ke dalam suatu lingkungan belajar.
Perbedaan nilai dan sifat berdasarkan jenis kelamin ini akan mempengaruhi pria
dan wanita dalam membuat keputusan dan praktik. Para pria akan bersaing untuk
mencapai kesuksesan dan lebih cenderung melanggar peraturan yang ada karena
mereka memandang pencapaian prestasi sebagai suatu persaingan. Berkebalikan
[ANALISIS PENGARUH JENIS KELAMIN DAN TINGKAT PENDIDIKAN TERHADAP PERSEPSI
ETIS MAHASISWA AKUNTANSI DENGAN LOVE OF MONEY SEBAGAI VARIABEL
INTERVENING]

10

dengan pria yang mementingkan kesuksesan akhir atau relative performance, para
wanita lebih mementingkan self-performance. Wanita akan lebih menitikberatkan
pada pelaksanaan tugas dengan baik dan hubungan kerja yang harmonis, sehingga
wanita akan lebih patuh terhadap peraturan yang ada dan mereka akan lebih kritis
terhadap orang-orang yang melanggar peraturan tersebut.
Penelitian mengenai pengaruh jenis kelamin terhadap etika menunjukkan
hasil yang berbeda-beda. Gilligan (1982) dalam Richmond (2001) menjelaskan
bahwa pertimbangan moral dan alasan mendasar dalam etika pada laki-laki dan
perempuan terdapat perbedaan. Pengaruh jenis kelamin terhadap kepatuhan
kepada etika terjadi pada saat proses pengambilan keputusan. Penelitian yang
dilakukan oleh Lawrence dan Shaub (1997) menunjukan bahwa perempuan lebih
etis dibandingkan laki-laki. Dengan kata lain dibandingkan dengan laki-laki,
perempuan biasanya akan lebih tegas dalam berperilaku etis maupun menanggapi
individu lain yang berperilaku tidak etis.
Tingkat Pendidikan
Pendidikan merupakan faktor yang semakin penting dalam kehidupan
sehari-hari. Tingkat pendidikan akan mempengaruhi persepsi seseorang tentang
etika. Seseorang yang berpendidikan tinggi dianggap memiliki etika yang juga
tinggi serta penalaran moral yang tinggi.
Cohen et al. (2001) dalam Elias (2010) membandingkan penalaran etis
mahasiswa akuntansi dan akuntan publik bersertifikat (CPA) menggunakan sketsa
beberapa perusahaan dan menemukan bahwa CPA dapat melihat banyak tindakan
pertanyaan seperti perbandingan kurangnya etika bagi mahasiswa. Communale et
al. (2006) dalam Elias (2010) meneliti efek dari skandal akuntansi seperti Enron,
persepsi mahasiswa terhadap akuntan dan profesi pada umumnya. Mereka
menemukan bahwa mahasiswa memiliki pendapat yang rendah tentang manajer
perusahaan dan mahasiswa akuntansi kurang tertarik untuk bekerja di Big 4
setelah skandal. Madison (2002) dalam Elias (2010) berpendapat bahwa
mahasiswa akuntansi saat ini akan menjadi profesional dan pendidikan etika dapat
bermanfaat bagi profesi dalam jangka panjang. Mantzke et al. (2005) dalam Elias
[ANALISIS PENGARUH JENIS KELAMIN DAN TINGKAT PENDIDIKAN TERHADAP PERSEPSI
ETIS MAHASISWA AKUNTANSI DENGAN LOVE OF MONEY SEBAGAI VARIABEL
INTERVENING]

11

(2010) mengusulkan pendekatan modular yang menyatukan etika dalam kaitannya
dengan program kerja teknis.
Dalam konteks profesional, Elias (2006) menemukan bahwa mahasiswa
akuntansi dengan komitmen profesional yang lebih tinggi dan sosialisasi
antisipasi lebih mungkin untuk mempertanyakan tindakan tidak etis dibandingkan
dengan siswa lain.
Kerangka Pemikiran
Jenis
Kelamin

Love of
Money

Persepsi Etis
Mahasiswa
Akuntansi

Tingkat
Pendidikan
Pengembangan Hipotesis
Hubungan Jenis Kelamin dengan Persepsi Etis Mahasiswa Akuntansi
Perbedaan jenis kelamin mungkin membentuk persepsi yang berbeda
sehingga mempengaruhi sikap yang berbeda pula antara laki-laki dan perempuan
dalam menanggapi kasus mengenai etika profesi akuntan publik. Selalu ada
perdebatan tentang apakah laki-laki dan perempuan berbeda dalam bagaimana
jalan mereka membuat keputusan etis. Berdasarkan pendekatan sosialisasi jenis
kelamin dan literatur dari Gillgan (1982) dalam Richmond (2001), wanita dan pria
mengevaluasi dilema etis secara berbeda. Berdasarkan pendekatan tersebut, pria lebih

cenderung untuk melakukan perilaku tidak etis sebab mereka akan fokus pada
kesuksesan secara kompetitif dan cenderung akan mengabaikan aturan demi

[ANALISIS PENGARUH JENIS KELAMIN DAN TINGKAT PENDIDIKAN TERHADAP PERSEPSI
ETIS MAHASISWA AKUNTANSI DENGAN LOVE OF MONEY SEBAGAI VARIABEL
INTERVENING]

12

mencapai kesuksesan. Kebalikannya, wanita lebih berorientasi pada tugas, dan
karena itu lebih fokus dalam menyelesaikan tugas daripada melanggar aturan.
Studi empiris mengenai hubungan jenis kelamin dengan keputusan etis
dicampur. Beberapa penelitian tentang etika di bidang akuntansi dan bisnis
menunjukkan adanya perbedaan perkembangan moral berdasarkan jenis kelamin
(Borkowski dan Ugras dalam Hartanto, 2001). Penelitian tersebut berhasil
menemukan adanya hubungan yang kuat dan konsisten antara pertimbangan moral
dan jenis kelamin, yang mengindikasikan bahwa wanita memiliki pertimbangan
moral yang lebih tinggi dibanding dengan pria. Penelitian lain menemukan bahwa
perempuan lebih etis daripada pria (Arlow, 1991; Crow et al, 1991;. Deshpande,
1997 dalam Elias 2010). Hal ini disebabkan karena perempuan lebih berhati-hati
dalam mengambil suatu tindakan dan berusaha untuk menghindari risiko yang
dapat merugikan dirinya dalam jangka panjang. Berbeda dengan laki-laki yang
tidak terlalu memikirkan akibat jangka panjang dalam suatu pengambilan
keputusan.
Berdasarkan uraian penjelasan di atas maka rumusan hipotesis sebagai
berikut:
H1: Terdapat perbedaan pengaruh jenis kelamin terhadap persepsi etis mahasiswa
akuntansi.
Hubungan Tingkat Pendidikan dengan Persepsi Etis Mahasiswa Akuntansi
Tingkat pendidikan dianggap mempengaruhi persepsi etis mahasiswa
akuntansi karena semakin tinggi tingkat pendidikan, pengetahuan yang dimiliki
juga akan meningkat. Semakin banyak pengetahuan yang mereka ketahui maka
akan membantu mereka untuk bisa memberikan persepsi maupun tanggapan
terhadap krisis etis yang melibatkan profesi akuntan. Pengetahuan yang
didapatkan selama menempuh pendidikan yang dimiliki oleh mahasiswa
akuntansi akan mempengaruhi persepsi etis mereka.
Penelitian Ponemon dan Gabhart (1993) dalam Elias (2010) mengenai
akuntan dengan penalaran moral yang tinggi cenderung melakukan perilaku yang
lebih etis dibandingkan dengan akuntan dengan penalaran moral yang lebih
[ANALISIS PENGARUH JENIS KELAMIN DAN TINGKAT PENDIDIKAN TERHADAP PERSEPSI
ETIS MAHASISWA AKUNTANSI DENGAN LOVE OF MONEY SEBAGAI VARIABEL
INTERVENING]

13

rendah. Hasil penelitiannya menemukan bahwa auditor Amerika serikat dan
Kanada dengan penalaran moral yang lebih rendah sering melakukan prosedur
audit secara tidak lengkap.
Dellaportas (2006) dalam Elias (2010) menemukan bahwa pendidikan
etika memiliki dampak positif yang signifikan terhadap etika mahasiswa
akuntansi. Hal ini berarti mahasiswa dengan tingkat pendidikan yang tinggi akan
cenderung berperilaku lebih etis dibandingkan mahasiswa dengan tingkat
pendidikan yang lebih rendah.
Berdasarkan uraian penjelasan di atas maka rumusan hipotesis sebagai
berikut:
H2a: Terdapat pengaruh perbedaan tingkat pendidikan terhadap persepsi etis
mahasiswa akuntansi.
H2b: Semakin tinggi tingkat pendidikan, berpengaruh positif terhadap persepsi etis
mahasiswa akuntansi.
Hubungan Jenis Kelamin dengan Love of Money
Seorang laki-laki cenderung memiliki tingkat love of money lebih tinggi
daripada perempuan karena kebanyakan laki-laki tidak hanya merasa tertuntut
untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, tetapi juga berambisi untuk memperoleh
pencapaian seperti predikat, jabatan, dan kekuasaan. Sebaliknya, perempuan tidak
terlalu berambisi untuk memperoleh hal tersebut.
Tang et al. (2000) dalam Elias (2010) menemukan bahwa karyawan
perempuan cenderung tidak mementingkan uang daripada laki-laki. Hasil
penelitian tersebut menunjukkan bahwa perempuan tidak memiliki kecintaan
terhadap uang yang begitu tinggi. Hal tersebut dikarenakan perempuan tidak
terlalu termotivasi untuk memperoleh kekuasaan atau

jabatan,

selama

kebutuhannya terpenuhi.
Berdasarkan uraian penjelasan di atas maka rumusan hipotesis sebagai
berikut:
H3: Terdapat pengaruh perbedaan jenis kelamin terhadap tingkat love of money
mahasiswa akuntansi.
[ANALISIS PENGARUH JENIS KELAMIN DAN TINGKAT PENDIDIKAN TERHADAP PERSEPSI
ETIS MAHASISWA AKUNTANSI DENGAN LOVE OF MONEY SEBAGAI VARIABEL
INTERVENING]

14

Hubungan Tingkat Pendidikan dengan Love of Money
Tang dan Chen (2008) berpendapat bahwa mahasiswa akuntansi memiliki
tingkat love of money yang tinggi. Mahasiswa akuntansi mengalami proses
sosialisasi selama masa pendidikan mereka dan memungkinkan para mahasiswa
mengembangkan dasar love of money dalam sosialisasi. Luna-Arocas dan Tang
(2004) berpendapat bahwa love of money berpengaruh negatif terhadap tingkat
pendidikan. Dalam penelitian tersebut para profesor di Amerika Serikat dan
Spanyol tidak termotivasi oleh kecintaan terhadap uang dalam membuat
keputusan etis. Sehingga semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka
tingkat kecintaan terhadap uangnya akan semakin rendah. Hal ini dikarenakan
semakin tinggi tingkat pendidikan, akan berpengaruh terhadap etika mereka.
Lopez et al. (2005) menguji efek dari tingkat pendidikan dalam sekolah
bisnis dan faktor individu lain, seperti kebudayaan intranasional, spesialisasi
dalam pendidikan, dan jenis kelamin pada persepsi etis. Hasil penelitian
menunjukkan menunjukkan bahwa tingkat pendidikan, kebudayaan intranasional,
dan jenis kelamin berpengaruh secara signifikan terhadap persepsi etis.
Selanjutnya, mereka menemukan bahwa perilaku etis cenderung tinggi pada
tingkat pendidikan yang lebih tinggi.
Berdasarkan uraian penjelasan di atas maka rumusan hipotesis sebagai
berikut:
H4a: Terdapat pengaruh perbedaan tingkat pendidikan terhadap tingkat love of
money mahasiswa akuntansi.
H4b: Semakin tinggi tingkat pendidikan, berpengaruh negatif terhadap tingkat love
of money mahasiswa akuntansi.
Hubungan Love of Money dengan Persepsi Etis Mahasiswa Akuntansi
Dalam dunia bisnis, manajer menggunakan uang untuk menarik,
mempertahankan, dan memotivasi karyawan (Milkovich dan Newman, 2002
dalam

Elias,

2010).

Sehingga

hasilnya

menimbulkan

perilaku

yang

kontraproduktif (Tang dan Chiu, 2003). Penelitian Tang et al. (2000) menemukan

[ANALISIS PENGARUH JENIS KELAMIN DAN TINGKAT PENDIDIKAN TERHADAP PERSEPSI
ETIS MAHASISWA AKUNTANSI DENGAN LOVE OF MONEY SEBAGAI VARIABEL
INTERVENING]

15

bahwa seseorang dengan love of money yang rendah memiliki kepuasan kerja
yang rendah.
Love of money dan persepsi etis memiliki hubungan yang negatif. Semakin
tinggi tingkat love of money yang dimiliki seseorang, maka akan semakin rendah
persepsi etis yang dimilikinya, begitu pula sebaliknya. Hal ini disebabkan karena
apabila seseorang memiliki kecintaan uang yang tinggi, maka ia akan berusaha
untuk melakukan segala cara agar kebutuhannya terpenuhi walaupun tidak sesuai
dengan etika. Hubungan antara perilaku cinta uang dan persepsi etis telah diteliti
lebih lanjut di beberapa negara. Elias (2010) menguji hubungan love of money
apabila dikaitkan dengan persepsi etis menghasilkan hubungan yang negatif.
Penelitian ini didukung oleh Tang dan Chiu (2003) yang memiliki pendapat
bahwa etika uang seseorang memiliki dampak yang signifikan dan langsung pada
perilaku yang tidak etis.
Berdasarkan uraian penjelasan di atas maka rumusan hipotesis sebagai
berikut:
H5: Love of money berpengaruh negatif terhadap persepsi etis mahasiswa
akuntansi.

III. METODE PENELITIAN
Sampel Penelitian
Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling
yaitu pengambilan sampel yang didasarkan pada kriteria tertentu. Sampel yang
digunakan dalam penelitian ini adalah mahasiswa S1 tingkat akhir yang sudah
mengambil mata kuliah teori akuntansi, PPA dan S2. Mahasiswa S1 yang telah
menempuh mata kuliah teori akuntansi dipilih karena mereka dekat dengan
kelulusan dan telah menyelesaikan sebagian besar pendidikan akuntansi mereka.
Elias (2006) berpendapat mahasiswa akuntansi mengalami proses sosialisasi
selama

pendidikan

sarjana

mereka

dan

memungkinkan

mahasiswa

mengembangkan dasar love of money dalam sosialisasi.

[ANALISIS PENGARUH JENIS KELAMIN DAN TINGKAT PENDIDIKAN TERHADAP PERSEPSI
ETIS MAHASISWA AKUNTANSI DENGAN LOVE OF MONEY SEBAGAI VARIABEL
INTERVENING]

16

Metode Pengumpulan Data
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan kuesioner sebagai
instrumen utama dalam pengumpulan data. Kuesioner disampaikan kepada
responden secara langsung. Data penelitian yang digunakan dalam penelitian ini
dikumpulkan dengan metode pemberian kuesioner kepada mahasiswa yang sudah
lulus mata kuliah teori akuntansi pada mahasiswa S1 akuntansi, Pendidikan
Profesi Akuntansi (PPA), dan mahasiswa S2 akuntansi Universitas Diponegoro
Semarang.
Variabel Penelitian
Penelitian ini menggunakan tiga jenis variabel yaitu jenis kelamin dan
tingkat pendidikan sebagai variabel independen, persepsi etis mahasiswa
akuntansi sebagai variabel dependen, dan love of money sebagai variabel
intervening.
Jenis kelamin
Jenis kelamin dalam penelitian ini merupakan variabel independen yang
dibedakan menjadi dua kategori yaitu laki-laki dan perempuan. Jenis kelamin
dalam penelitian ini merupakan variabel dummy dimana konstruk nilai yang
digunakan adalah skala biner dengan angka 1 untuk laki-laki dan 2 untuk
perempuan.
Tingkat Pendidikan
Tingkat pendidikan dalam penelitian ini digunakan untuk mengetahui
apakah ada pengaruh yang berbeda terhadap tingkat love of money dengan
persepsi etis mahasiswa berdasarkan perbedaan tingkat pendidikan mahasiswa.
Tingkat pendidikan diwakili juga oleh variabel dummy yaitu 1 untuk mahasiswa
S1 akuntansi, 2 untuk mahasiswa Pendidikan Profesi Akuntansi (PPA), 3 untuk
mahasiswa S2 akuntansi.
Persepsi Etis
Untuk mengukur persepsi etika, skenario yang digunakan oleh Uddin dan
Gillet (2002) dalam Elias (2010) digunakan. Penelitian saat ini menggunakan
empat skenario sebagai berikut: Skenario 1 membahas pengenalan awal
[ANALISIS PENGARUH JENIS KELAMIN DAN TINGKAT PENDIDIKAN TERHADAP PERSEPSI
ETIS MAHASISWA AKUNTANSI DENGAN LOVE OF MONEY SEBAGAI VARIABEL
INTERVENING]

17

pendapatan (misalnya EM), skenario 2 adalah menangani permasalahan dengan
mengelompokkan sekuritas jangka panjang saat ini untuk meningkatkan rasio
lancar, skenario 3 adalah pengakuan beberapa persediaan konsinyasi sebagai aset
(kedua skenario adalah pelanggaran yang jelas dari Prinsip Akuntansi Berterima
Umum (PABU)), dan skenario 4 membahas tidak dilaporkannya kewajiban
bersyarat (pelanggaran prinsip konservatisme). Responden mencatat persepsi
mereka tentang etika tindakan tersebut pada skala tujuh poin mulai dari 1 (sangat
etis) sampai 7 (sangat tidak etis).
Love of Money
Untuk mengukur love of money, money ethics scale (MES) yang
dikembangkan oleh Tang (1992) digunakan. Skala ini mengukur sikap manusia
terhadap uang.

Elias

(2010)

mempertimbangkan MES

sebagai survey

pengembangan yang baik untuk mengukur sikap terhadap uang. Penelitian ini
menggunakan skala asli karena kedalaman dan cakupan yang komprehensif dari
sikap terhadap uang. Tiga puluh item kuesioner diterjemahkan ke banyak bahasa
dan berhasil digunakan dalam banyak studi sejak publikasi aslinya. Responden
menyatakan kesepakatan atau ketidaksetujuan mereka dengan setiap pernyataan
pada skala tujuh poin mulai dari 1 (sangat tidak setuju) sampai 7 (sangat setuju)
dan skor dihitung secara terpisah untuk masing-masing faktor.
Metode Analisis
Pengujian hipotesis dilakukan dengan pengujian Partial Least Square
(PLS). PLS merupakan factor indeterminacy matode analisis yang powerful
karena tidak mengasumsikan data harus menggunakan skala pengukuran tertentu
dan jumlah sampel yang kecil. PLS digunakan untuk causal predictive analysis
dalam situasi kompleksitas yang tinggi dan dukungan teori yang rendah.
Pendekatan PLS digunakan sebagai alat pengukuran dengan pertimbangan
bahwa skala pengukuran untuk variabel terikat dan variabel bebas yang digunakan
dalam penelitian merupakan skala nominal dan skala ordinal sehingga bersifat non
parametrik. Berbeda dengan SEM yang digunakan pada penelitian yang

[ANALISIS PENGARUH JENIS KELAMIN DAN TINGKAT PENDIDIKAN TERHADAP PERSEPSI
ETIS MAHASISWA AKUNTANSI DENGAN LOVE OF MONEY SEBAGAI VARIABEL
INTERVENING]

18

menggunakan skala interval, PLS merupakan alat ukur yang dapat digunakan
dalam penelitian dengan skala pengukuran ordinal maupun nominal.
Langkah analisis yang digunakan dalam pendekatan PLS antara lain:
1. Pengujian Outer Model
a. Convergent validity
b. Discriminant validity
c. Composite reliability
2. Pengujian Model Struktural (Inner Model)
Inner model (inner relation, structural model, atau substantive theory)
menggambarkan hubungan antar variabel laten berdasarkan pada substantive
theory. Model struktural dinilai dengan menggunakan Rsquare untuk konstruk
dependen, Stone-Geisser Q-square untuk relevansi prediktif, dan uji t serta
signifikansi dari koefisien parameter jalur struktural. Perubahan nilai R-square
dapat digunakan untuk menilai pengaruh substantif variabel laten independen
tertentu terhadap variabel laten dependen. Q-square digunakan untuk
mengukur seberapa baik nilai observasi dihasilkan oleh model dan estimasi
parameternya. Nilai Qsquare lebih besar dari 0 (nol) menunjukkan bahwa
model mempunyai nilai relevansi prediktif, sedangkan nilai Q-square kurang
dari 0 (nol) menunjukkan bahwa model kurang memiliki relevansi prediktif.

IV. HASIL DAN ANALISIS
Deskripsi Objek Penelitian
Objek dalam penelitian ini adalah mahasiswa akuntansi yang terdiri dari
mahasiswa S1 akuntansi, Pendidikan Profesi Akuntansi (PPA), dan S2 magister
akuntansi di Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Universitas Diponegoro Semarang.
Jumlah kuesioner yang dibagikan sebanyak 165 kuesioner. Sebanyak 157
kuesioner dapat kembali, 8 kuesioner tidak kembali, dan 15 kuesioner tidak
memenuhi syarat karena berisi jawaban yang tidak lengkap.

[ANALISIS PENGARUH JENIS KELAMIN DAN TINGKAT PENDIDIKAN TERHADAP PERSEPSI
ETIS MAHASISWA AKUNTANSI DENGAN LOVE OF MONEY SEBAGAI VARIABEL
INTERVENING]

19

Analisis Deskriptif
Untuk menganalisis data berdasarkan atas kecenderungan jawaban yang
diperoleh dari responden terhadap masing-masing variabel, maka akan disajikan
hasil jawaban responden dalam bentuk deskriptif berikut ini.
Deskripsi Variabel Berdasarkan Jenis Kelamin

N
Persepsi Etis

Mean

Std. Deviation

Minimum

Maximum

Laki-laki

70

19.81

4.894

9

28

Perempuan

72

19.12

4.847

8

28

142

19.46

4.865

8

28

70

99.51

22.026

33

140

72

95.90

24.769

37

138

142

97.68

23.444

33

140

Total
Love of Money Laki-laki
Perempuan
Total

Tabel di atas menunjukkan bahwa variabel persepsi etis yang diukur
dengan menggunakan 4 item valid menunjukkan rata-rata sebesar 19,46. Jika
dikelompokkan berdasarkan jenis kelamin menunjukkan untuk sampel laki-laki
memiliki rata-rata sebesar 19,81 sedangkan untuk sampel perempuan adalah
sebesar 19,12 yang menunjukkan bahwa laki-laki memiliki persepsi etis yang
sedikit lebih besar dibanding perempuan.
Variabel love of money yang diukur dengan menggunakan 21 item valid
menunjukkan rata-rata sebesar 97,68. Jika dikelompokkan berdasarkan jenis
kelamin menunjukkan untuk sampel laki-laki memiliki rata-rata sebesar 99,51
sedangkan untuk sampel perempuan adalah sebesar 95,90 yang menunjukkan
bahwa laki-laki memiliki love of money yang lebih besar dibandingkan
perempuan.

[ANALISIS PENGARUH JENIS KELAMIN DAN TINGKAT PENDIDIKAN TERHADAP PERSEPSI
ETIS MAHASISWA AKUNTANSI DENGAN LOVE OF MONEY SEBAGAI VARIABEL
INTERVENING]

20

Deskripsi Variabel Berdasarkan Tingkat Pendidikan

N
Persepsi Etis

Std. Deviation

Minimum

Maximum

S1

50

14.94

3.322

8

24

PPA

47

21.47

3.316

13

28

S2

45

22.40

3.962

12

28

142

19.46

4.865

8

28

S1

50

101.90

15.680

61

131

PPA

47

97.53

24.947

33

137

S2

45

93.16

28.208

38

140

142

97.68

23.444

33

140

Total
Love of Money

Mean

Total

Tabel di atas menunjukkan bahwa variabel persepsi etis yang
dikelompokkan berdasarkan tingkat pendidikan menunjukkan bahwa untuk
sampel S1 memiliki rata-rata sebesar 14,94, PPA memiliki rata-rata sebesar 21,47
sedangkan untuk sampel S2 sebesar 22,40 yang berarti bahwa sampel S2 memiliki
persepsi etis yang paling besar.
Jika variabel love of money dikelompokkan berdasarkan tingkat pendidikan
menunjukkan bahwa sampel S1 memiliki rata-rata sebesar 101,90, PPA memiliki
rata-rata sebesar 96,53 sedangkan untuk sampel S2 sebesar 93,16 yang
menunjukkan bahwa sampel S1 memiliki love of money yang paling besar.
Pengujian Hipotesis
Berdasarkan data-data yang telah diuraikan sebelumnya, selanjutnya pada bagian
ini akan dikaji mengenai pengaruh variabel independen terhadap variabel
dependennya.

[ANALISIS PENGARUH JENIS KELAMIN DAN TINGKAT PENDIDIKAN TERHADAP PERSEPSI
ETIS MAHASISWA AKUNTANSI DENGAN LOVE OF MONEY SEBAGAI VARIABEL
INTERVENING]

21

Result For Inner Weights
original
sample

mean of

Standard

T-

estimate

subsamples

deviation

Statistic

GENDER -> LoveOfMoney

-0.082

-0.069

0.111

0.737

EDU -> LoveOfMoney

-0.201

-0.222

0.075

2.660

GENDER -> PersepsiEtis

-0.081

-0.080

0.083

0.979

0.573

0.561

0.074

7.696

-0.322

-0.333

0.084

3.812

EDU -> PersepsiEtis
LoveOfMoney -> PersepsiEtis

Tabel di atas menunjukkan bahwa pengaruh GENDER terhadap Love of
Money negatif (-0,082) tetapi tidak signifikan pada α=0,05 dengan nilai statistik
0,737 (0,737<1,96). Variabel EDU berpengaruh terhadap Love of Money negatif (0,201) dan signifikan pada α=0,05 (2,660>1,96). Pengaruh variabel GENDER
terhadap Persepsi Etis negatif (-0,081) tetapi tidak signifikan pada α=0,05
(0,979<1,96). Pengaruh variabel EDU terhadap Persepsi Etis positif (0,573) dan
signifikan pada α=0,05 (7,696>1,96). Pengaruh variabel Love of Money terhadap
Persepsi Etis negatif (-0,322) signifikan pada α=0,05 (3,812>1,96).
Berdasarkan

hasil pengujian yang tampak pada tabel di atas dapat

dijelaskan pengaruh dari masing-masing variabel sebagai berikut:
Pengaruh Jenis Kelamin terhadap Persepsi Etis Mahasiswa Akuntansi
Hasil pengujian pengaruh jenis kelamin terhadap persepsi etis mahasiswa
akuntansi diperoleh nilai t hitung sebesar 0,979. Nilai tersebut lebih kecil dari t
tabel yaitu 1,96 (t hit < t table). Hal ini berarti bahwa jenis kelamin tidak memiliki
pengaruh yang signifikan terhadap persepsi etis mahasiswa akuntansi. Hal ini
berarti hipotesis 1 ditolak.
Pengaruh Tingkat Pendidikan terhadap Persepsi Etis Mahasiswa Akuntansi
Hasil pengujian pengaruh tingkat pendidikan terhadap persepsi etis
diperoleh nilai t hitung sebesar 7,696. Nilai tersebut lebih besar dari t tabel yaitu
1,96 (t hit > t table). Hal ini berarti bahwa tingkat pendidikan memiliki pengaruh
yang signifikan terhadap persepsi etis, maka hipotesis 2a diterima. Arah koefisien
[ANALISIS PENGARUH JENIS KELAMIN DAN TINGKAT PENDIDIKAN TERHADAP PERSEPSI
ETIS MAHASISWA AKUNTANSI DENGAN LOVE OF MONEY SEBAGAI VARIABEL
INTERVENING]

22

jalur adalah positif yang berarti bahwa tingkat pendidikan yang lebih tinggi
memiliki persepsi etis yang lebih baik. Hal ini berarti hipotesis 2b diterima.
Pengaruh Jenis Kelamin terhadap Love of Money
Hasil pengujian pengaruh jenis kelamin terhadap love of money diperoleh
nilai t hitung sebesar 0,737. Nilai tersebut lebih kecil dari t tabel yaitu 1,96 (t hit <
t table). Hal ini berarti bahwa jenis kelamin tidak memiliki pengaruh yang
signifikan terhadap love of money. Hal ini berarti hipotesis 3 ditolak.
Pengaruh Tingkat Pendidikan terhadap Love of Money
Hasil pengujian pengaruh tingkat pendidikan terhadap love of money
diperoleh nilai t hitung sebesar 2,660. Nilai tersebut lebih besar dari t tabel yaitu
1,96 (t hit > t table). Hal ini berarti bahwa tingkat pendidikan memiliki pengaruh
yang signifikan terhadap persepsi etis, maka hipotesis 4a diterima. Arah koefisien
jalur adalah negatif yang berarti bahwa tingkat pendidikan yang lebih tinggi
memiliki love of money yang lebih rendah. Hal ini berarti hipotesis 4 diterima.
Pengaruh Love of Money terhadap Persepsi Etis Mahasiswa Akuntansi
Hasil pengujian pengaruh love of money terhadap persepsi etis diperoleh
nilai t hitung sebesar 3,812. Nilai tersebut lebih besar dari t tabel yaitu 1,96 (t hit
> t table). Hal ini berarti bahwa love of money memiliki pengaruh yang signifikan
terhadap persepsi etis. Arah koefisien jalur adalah negatif yang berarti bahwa
mahasiswa dengan love of money yang tinggi memiliki persepsi etis yang lebih
rendah. Hal ini berarti hipotesis 5 diterima.
Pembahasan
1. Pengaruh Jenis Kelamin terhadap Persepsi Etis Mahasiswa Akuntansi
Penolakan hipotesis ini mengindikasikan bahwa jenis kelamin tidak
memiliki pengaruh dalam menentukan persepsi etis mahasiswa akuntansi. Hasil
penelitian ini tidak konsisten terhadap penelitian Lam dan Shi (2008) yang
menunjukkan bahwa jenis kelamin berpengaruh signifikan terhadap persepsi etis.
Mahasiswa perempuan belum tentu akan menilai persepsi etis secara lebih tegas.
Dengan adanya temuan diatas maka penelitian ini sejalan dengan pendekatan
struktural dari gender. Pendekatan struktural menyatakan bahwa perbedaan antara
[ANALISIS PENGARUH JENIS KELAMIN DAN TINGKAT PENDIDIKAN TERHADAP PERSEPSI
ETIS MAHASISWA AKUNTANSI DENGAN LOVE OF MONEY SEBAGAI VARIABEL
INTERVENING]

23

laki-laki dan perempuan disebabkan oleh sosialisasi sebelumnya dan persyaratan
peran lainnya. Sosialisasi sebelumnya dikuasai atau dibentuk oleh penghargaan
(reward) dan cost sehubungan peran jabatan. Pekerjaan membentuk perilaku
melalui struktur reward, laki-laki dan perempuan akan memberi respon yang sama
pada lingkungan jabatan yang sama. Jadi pendekatan struktural memprediksikan
bahwa mahasiswa laki-laki dan perempuan akan menunjukkan persepsi etis yang
sama.
2. Pengaruh Tingkat Pendidikan terhadap Persepsi Etis Mahasiswa
Akuntansi
Hasil di atas konsisten dengan penelitian Lopez et al. (2005) yang
menemukan bahwa persepsi etis cenderung lebih tinggi pada tingkat pendidikan
yang lebih tinggi. Hal ini juga didukung oleh penelitian Gibbins dan Mason
(1988). Mahasiswa dengan tingkat pendidikan yang tinggi memiliki penalaran
moral yang lebih tinggi. Sehingga tidak akan menerima situasi tidak etis. Hal ini
dapat terjadi dengan bertambahnya pemahaman mahasiswa mengenai etika dan
proses pembelajaran etika yang lebih efektif, sehingga ketika dihadapkan kepada
sebuah kasus pelanggaran etika mahasiswa cukup memberikan persepsi atau
penilaian yang tegas.
3. Pengaruh Jenis Kelamin terhadap Love of Money
Hasil penelitian tidak konsisten terhadap penelitian Tang et al. (2006) yang
menunjukkan bahwa jenis kelamin berpengaruh signifikan terhadap love of
money. Mahasiswa laki-laki belum tentu akan memiliki tingkat love of money
yang lebih tinggi daripada perempuan. Perempuan mungkin merasa miskin secara
finansial karena mereka cenderung memiliki pendapatan yang rendah, mengalami
masalah keuangan, dan lebih terobsesi terhadap uang daripada kaum laki-laki. Hal
ini menandakan bahwa tingkat love of money perempuan lebih besar daripada
laki-laki.
4. Pengaruh Tingkat Pendidikan terhadap Love of Money
Hasil di atas konsisten dengan penelitian Tang dan Luna Arocas (2005)
yang menemukan bahwa dengan tingkat pendidikan yang semakin tinggi, tingkat
[ANALISIS PENGARUH JENIS KELAMIN DAN TINGKAT PENDIDIKAN TERHADAP PERSEPSI
ETIS MAHASISWA AKUNTANSI DENGAN LOVE OF MONEY SEBAGAI VARIABEL
INTERVENING]

24

love of money akan semakin rendah. Mahasiswa dengan love of money yang tinggi
cenderung memiliki persepsi etis yang lebih rendah. Sehingga dikhawatirkan akan
melakukan tindakan-tindakan kecurangan dalam menjalankan profesinya yang
akan datang. Dalam konteks profesional, Elias (2006) menemukan bahwa
mahasiswa akuntansi dengan komitmen profesional yang lebih tinggi dan
sosialisasi antisipasi lebih mungkin untuk mempertanyakan tindakan tidak etis
dibandingkan dengan mahasiswa lain.
5. Pengaruh Love of Money terhadap Persepsi Etis Mahasiswa Akuntansi
Hasil di atas konsisten dengan penelitian Elias (2010) yang menunjukkan
bahwa love of money berpengaruh secara signifikan terhadap persepsi etis
mahasiswa akuntansi. Seseorang yang memiliki memiliki love of money tinggi
seringkali memiliki persepsi etis yang lebih rendah dan dikhawatirkan akan
mempengaruhi pengambilan keputusan yang kurang etis dalam melaksanakan
pekerjaannya.

V. KESIMPULAN, KETERBATASAN, SARAN
Kesimpulan
Penelitian ini telah menguji tujuh hipotesis dengan kesimpulan lima
hipotesis diterima dan dua ditolak. Berdasarkan dari hasil analisis, pengujian
hipotesis, dan interpretasi hasil dapat ditarik kesimpulan sebagaimana diuraikan
dibawah ini: (1) jenis kelamin tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap
persepsi etis mahasiswa akuntansi, (2) tingkat pendidikan memiliki pengaruh yang
signifikan terhadap persepsi etis mahasiswa akuntansi dengan arah yang positif.
Mahasiswa akuntansi dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi memiliki
persepsi etis yang lebih tinggi juga, (3) jenis kelamin tidak memiliki pengaruh
yang signifikan terhadap love of money mahasiswa akuntansi, (4) tingkat
pendidikan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap tingkat love of money
mahasiswa akuntansi dengan arah negatif. Tingkat pendidikan yang lebih tinggi
cenderung memiliki love of money yang lebih rendah, (5) love of money memiliki
pengaruh yang signifikan terhadap persepsi etis mahasiswa akuntansi dengan arah
[ANALISIS PENGARUH JENIS KELAMIN DAN TINGKAT PENDIDIKAN TERHADAP PERSEPSI
ETIS MAHASISWA AKUNTANSI DENGAN LOVE OF MONEY SEBAGAI VARIABEL
INTERVENING]

25

negatif. Mahasiswa dengan love of money yang lebih tinggi cenderung memiliki
persepsi etis yang lebih rendah.
Berdasarkan kesimpulan di atas dapat diketahui bahwa jenis kelamin tidak
berpengaruh signifikan terhadap love of money dan persepsi etis mahasiswa
akuntansi. Sedangkan tingkat pendidikan berpengaruh signifikan terhadap love of
money dan persepsi etis mahasiswa akuntansi, dan love of money berpengaruh
signifikan terhadap persepsi etis mahasiswa akuntansi. Namun, hubungan
langsung antara tingkat pendidikan dengan persepsi etis mahasiswa akuntansi
memiliki koefisien yang lebih besar daripada koefisien hubungan tingkat
pendidikan dengan persepsi etis mahasiswa akuntansi melalui variabel love of
money. Hal ini berarti bahwa dalam penelitian ini variabel love of money belum
bisa dijadikan variabel intervening antara jenis kelamin dan tingkat pendidikan
yang dihubungkan dengan persepsi etis mahasiswa akuntansi. Hasil penelitian ini
berbeda dengan penelitian Elias (2010) yang menemukan bahwa love of money
dapat mengintervening hubungan antara jenis kelamin dan tingkat pendidikan
dengan persepsi etis mahasiswa melalui variabel love of money.
Keterbatasan Penelitian
Penelitian ini memiliki keterbatasan-keterbatasan sebagai berikut:
1. Kuesioner dalam penelitian ini menanyakan persepsi dan kecintaan terhadap
uang di antara mahasiswa akuntansi. Pada pertanyaan-pertanyaan persepsi dan
kecintaan terhadap uang, karena adanya kepentingan sosial maka ada
kemungkinan jawaban akan menyesuaikan dengan pola etika dan norma yang
berlaku, sehingga jawaban bisa saja tidak mencerminkan pola etika yang
sesungguhnya.
2. Penelitian ini mengacu pada beberapa penelitian sebelumnya yang dilakukan
di luar negeri, sehingga perbedaan nilai etika dan budaya tidak dapat dikontrol
dalam penelitian sehingga memungkinkan adanya perbedaan kesimpulan.

[ANALISIS PENGARUH JENIS KELAMIN DAN TINGKAT PENDIDIKAN TERHADAP PERSEPSI
ETIS MAHASISWA AKUNTANSI DENGAN LOVE OF MONEY SEBAGAI VARIABEL
INTERVENING]

26

Saran
Berdasarkan keterbatasan di atas, saran yang bisa diberikan untuk
penelitian di masa yang akan datang:
1. Sebaiknya menambah objek penelitian yang ada karena penelitian ini hanya
melibatkan satu universitas saja.
2. Meneliti variabel-variabel independen lain selain variabel-variabel yang sudah
ada di penelitian ini, misalnya pengalaman kerja, pengalaman magang, status
ekonomi, latar belakang etnis, dan lain-lain.

[ANALISIS PENGARUH JENIS KELAMIN DAN TINGKAT PENDIDIKAN TERHADAP PERSEPSI
ETIS MAHASISWA AKUNTANSI DENGAN LOVE OF MONEY SEBAGAI VARIABEL
INTERVENING]

27

DAFTAR PUSTAKA

Bertens, K. (2002). Pengantar Etika Bisnis. Yogyakarta: Kanisius.
Chen, Y.J. and Tang, T.L.P. (2006). "Attitude Toward and Propensity to Engage
in Unethical Behavior: Measurement Invariance Across Major Among
University Students". Journal of Business Ethics , Vol. 69, pp. 77-93.
Clikeman, P. M. dan S. L. Henning. (2000). "The Socialization of Undergraduate
Accounting Students". Issues in Accounting Education .
Coate, C and Frey, K. (2000). "Some Evidence on the Ethical Disposition of
Accounting Students: Context and Gender Implications". Teaching
Business Ethis , Vol 4 No. 4, pp. 379-404.
Edi, J. S. (2008). "Hubungan Antara Komitmen Profesional dan Sosialisasi
Antisipatif dengan Orientasi Etika Mahasiswa Akuntansi". Tesis
Magister Akuntansi Universitas Diponegoro.
Elias, R.Z. (2006). "The Impact of Professional Commitment and Anticipatory
Socialization on Accounting Students' Ethical Orientation". Journal of
Business Ethics , Vol.16 No.1, pp.79-85.
Elias, R. Z. (2007). “The Relationship between Auditing Students' Anticipatory
Socialization and Their Professional Commitment”. Academy of
Educational Leadership Journal .
Elias, R. Z. (2010). "The Relationship Between Accounting Students' Love of
Money and Their Ethical Perception". Managerial Auditing Journal ,
Vol. 25 No.3.
Ghozali, Imam. (2008). Structural Equation Modeling: Metode Alternatif dengan
Partial Least Square. Semarang: Badan Penerbit Universitas
Diponegoro.
Gibbins, M. and Mason, B. (1988). Professional Judgment in Financial Reporting,
Canadian Institute of Chartered Accountants, Toronto.
Hartanto, S. Y. (2001). Analisis Pengaruh Tekanan Ketaatan Terhadap Judgment
Auditor. Tesis Program Pascasarjana Universitas Gadjah Mada.
Hunt, S. D dan Vitell. (1986). “A General Theory of Marketing Ethics.” Journal
of Macromarketing 6 (Spring) pp. 5–16.

[ANALISIS PENGARUH JENIS KELAMIN DAN TINGKAT PENDIDIKAN TERHADAP PERSEPSI
ETIS MAHASISWA AKUNTANSI DENGAN LOVE OF MONEY SEBAGAI VARIABEL
INTERVENING]

28

Husein, Muhammad F. (2004). Keterkaitan Faktor-Faktor Organisasional,
Individual, Konflik Peran, Perilaku Etis dan Kepuasan Kerja Akuntan
Manajemen. Makalah Simposium Dwi Tahunan J-AME-R. Yogyakarta.
Jones, T.M. (1991). “Ethical decision making by individuals in organizations: An
issuecontingent model.” Academy of Management Review 16 , pp. 366395.
Kamus

Besar Bahasa Indonesia.
Kebudayaan. Balai Pustaka.

(1998).

Departemen

Pendidikan dan

Keraf, A. Sonny. (1998). Etika Bisnis: Membangun Citra Bisnis sebagai Profesi
Luhur. Yogyakarta: Kanisius.
Kreitner, Robert dan Angelo Kinichi, (2003). Perilaku Organisasi, Buku 2, Edisi
Kelima, Penerjemah: Erly Suandy, Penerbit Salemba Empat, Jakarta.
Lam, K. and Shi, G. (2008), “Factors affecting ethical attitudes in Mainland China
and Hong Kong”. Journal of Business Ethics, Vol. 77 , pp. 463-79.
Lawrence and Shaub, M. (1997). “The Ethical Construction of Auditors : An
Examination of the Effect of Gender and Career Level.” Managerial
Finance. Vol 23 No 12 , pp 3-21.
Leitsch, Deborah L. (2004). Differences in the Perceptions of Moral Intensity in
the Moral Decision Process: An Empirical Examination of Accounting
Students. Journal of Business Ethics 53: 313–323
Lopez, Y.P., Rechner, P.L. and Olson-Buchanan, B. (2005), “Shaping ethical
perceptions: an empirical assessment of the influence of business
education, culture, and demographic factors”. Journal of Business Ethics,
Vol. 60 , pp. 341-58.
Marwanto. (2007). “Pengaruh Pemikiran Moral, Tingkat Idealisme, Tingkat
Relativisme, dan Locus of Control terhadap Sensitivitas, Pertimbangan,
Motivasi, dan Karakter Mahasiswa Akuntansi (Studi Eksperimen pada
Politeknik Negeri Samarinda). Tesis Magister Akuntansi Universitas
Diponegoro.
Mastracchio, N. J. (2005). Teaching CPAs About Serving The Public Interest. The
CPA Journal 76 , pp. 6.
Murtanto dan Marini. (2003). Persepsi Akuntan Pria dan Akuntan Wanita serta
Mahasiswa dan Mahasiswi terhadap Etika Bisnis dan Etika Profesi.
Simposium Nasional Akuntansi (SNA) VI. Surabaya: 16-17 Oktober.

[ANALISIS PENGARUH JENIS KELAMIN DAN TINGKAT PENDIDIKAN TERHADAP PERSEPSI
ETIS MAHASISWA AKUNTANSI DENGAN LOVE OF MONEY SEBAGAI VARIABEL
INTERVENING]

29

Muthmainah, Siti. (2006). “Studi Tentang Perbedaan Evaluasi Etis, Intensi Etis,
dan Orientasi Etis Dilihat dari Gender dan Disiplin Ilmu: Potensi
Rekruitment Staf Profesional pada Kantor Akuntan Publik”. Simposium
Nasional Akuntansi IX, Padang.
Ponemon, L. and Gabhart, D. (1993). Ethical Reasoning in Accounting and
Auditing. Canadian General Accounting Research Foundation,
Vancouver.
Retnowati, Ninuk. (2003). Persepsi Akuntan Pendidik dan Mahasiswa Akuntansi
terhadap Kode Etik Akuntan Indonesia Studi kasus di Jateng. Skripsi
tidak dipublikasikan. Fakultas Ekonomi, Universitas Sebelas Maret,
Surakarta.
Richmond, Kelly Ann. (2001). “Ethical Reasoning, Machiavellian Behaviour, and
Gender. The Impact on Accounting Students‟ Ethical Decision Making”.
www.google.com
Robbins. Stephen P., dan Timothy A.Judge. (2008). Essentials of th
Organizational Behavior. 9 edition. New Jersey : Pearson Education.
Sankaran, S and Bui, T. (2003). “Ethical Attitudes Among Accounting Majors :
An Empirical Study”. Journal of the American Academy of Business. Vol
3 No 1, pp 71-77.
Singer, M. and Sarah Mitchell. (1998). Julie Turner Consideration of moral
intensity in ethicality judgements: Its relationship with whistle
blowingand need for cognition. Journal of Business Ethics; Apr 17, 5;
Academic Research Library pp. 527
Tang, T.L.P. (1992), “The meaning of money revisited”. Journal of
Organizational Behavior, Vol. 13, pp. 197-202.
Unti Ludigdo dan Mas’ud Machfoedz. (1999). ”Persepsi Akuntan dan Mahasiswa
terhadap Etika Bisnis”. Jurnal Riset Akuntanis Indonesia. IAI. Vol.2 No.
1 Januari hal 1- 19.
Watley D. Loy, and Douglash R. May. (2004). Enhancing moral intensity: the
roles of personal and consequential information in ethical decisionmaking. Journal of Business Ethics 50, 105-126.
Winarna, Jaka dan Ninuk Retnowati. (2004). “Persepsi Akuntan Pendidik,
Akuntan Publik, dan Mahasiswa Akuntansi terhadap Kode Etik Ikatan Akuntan
Indonesia”. Jurnal Perspektif FE UNS, Vol. 9, No. 2, Desember: 129-139.

[ANALISIS PENGARUH JENIS KELAMIN DAN TINGKAT PENDIDIKAN TERHADAP PERSEPSI
ETIS MAHASISWA AKUNTANSI DENGAN LOVE OF MONEY SEBAGAI VARIABEL
INTERVENING]

30

Related Interests