You are on page 1of 8

PENGARUH TEKANAN HOT COMPACTING TERHADAP LAJU KOROSI DAN

DISTRIBUSI KEKERASAN BUSHING POWDER DURALUMIN
Martha Zainuddin Zuhri Marsus, Wahyono Suprapto
Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Brawijaya
Jl. Mayjen Haryono No. 167, Malang, 65145, Indonesia
E-mail: martha.zainuddin@gmail.com
Abstract
Permasalahan yang timbul pada industri manufaktur berupa limbah padat logam, kurang termanfaatkan
secara optimal sehingga menyebabkan pencemaran lingkungan. Salah satu cara untuk memanfaatkan limbah
tersebut adalah dengan menjadikannya bushing melalui proses Powder Metallurgy.
Bahan baku yang digunakan dalam penelitian ini adalah serbuk duralumin dengan berat 40 gram,
variasi tekanan yaitu 30 MPa, 32,5 MPa, 35 MPa, 37,5 MPa, dan 40 MPa, temperatur sintering 450°C dan
waktu penekanan 30 menit.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi tekanan maka nilai laju korosinya semakin rendah
dan distribusi kekerasannya semakin tinggi. Hal ini terbukti dengan nilai laju korosi pada tekanan 30 MPa, 32,5
MPa, 35 MPa, 37,5 MPa, dan 40 MPa yaitu masing-masing 0,096 mmpy, 0,078 mmpy, 0,070 mmpy, 0,043
mmpy, dan 0,035 mmpy. Nilai kekerasannya pada tekanan 30 MPa, 32,5 MPa, 35 MPa, 37,5 MPa, dan 40 MPa
yaitu masing-masing 54 VHN, 61 VHN, 77 VHN, 95 VHN dan 119 VHN.
Kata kunci: Powder Metallurgy, tekanan hot compacting, duralumin, bushing, laju korosi dan kekerasan

dipadukan dengan logam lain sehingga
membentuk logam paduan dan paduan
yang digunakan dalam penelitian ini
adalah
tembaga.
Dimana
paduan
alumunium
dan
tembaga
dengan
komposisi tembaga tidak lebih dari 5,6%
dikenal
dengan
nama
Duralumin.
Duralumin mempunyai beberapa kelebihan
antara lain, mempuyai ketahanan korosi
yang baik, sifat ketangguhan patah dan
ketahanan lelah yang sangat tinggi dan
dapat diberi perlakuan panas.
Produk yang akan dibuat pada
penelitian ini adalah bushing berbentuk
silinder bercelah dan mempunyai bentuk
yang cukup rumit. Pemilihan ini mengacu
pada dunia industri yang umumnya lebih
mengutamakan bentuk daripada sifat
produk karena sifat dari suatu produk
dapat diperbaiki dengan perlakuan
tambahan pada produk tersebut. Dipilihnya
bushing sebagai produk dari penelitian ini
dikarenakan bushing memiliki beberapa
kelebihan dibandingkan dengan bantalan
gelinding antara lain bushing dapat
digunakan pada poros yang ukuran
diameternya tidak berkelipatan 5, misal 22,
24 dan 26, dapat disesuaikan dengan beban

PENDAHULUAN
Salah satu masalah yang timbul
pada industri manufaktur baik di Indonesia
maupun di negara lain adalah limbah
berupa air sisa produksi, gas, abu
alumunium dan logam bekas. Di
Indonesia, limbah berupa logam bekas
kurang termanfaatkan secara optimal
karena
pengetahuan
tentang
cara
pengolahannya masih sangat kurang (Toto,
2009). Padahal jika limbah ini diolah
secara baik dapat menghasilkan manfaat
yang besar. Limbah tersebut masih bisa
dibuat barang jadi atau bahan baku suatu
komponen mesin dan barang lainnya yang
berbahan logam. Salah satu cara
memanfaatkan limbah padat logam
tersebut adalah dengan menjadikannya
serbuk logam yang diolah melalui proses
yang
disebut
powder
metallurgy
(metalurgi serbuk).
Powder metallurgy merupakan
proses pembuatan serbuk dan benda jadi
dari serbuk logam atau paduan logam
melalui proses penekanan dan disertai
proses pemanasan (sintering) tetapi suhu
pemanasan harus berada di bawah titik cair
serbuk. Untuk meningkatkan sifat mekanik
dari alumunium, umumnya alumunium

1

5 MPa. Disinter dalam oven dengan temperatur 450 ºC selama 60 menit. (2004) meneliti serbuk paduan Al-9% Si hasil pengikiran.. Proses Pencampuran Serbuk Apabila dua serbuk yang berbeda unsur dicampur untuk menghasilkan paduan. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa penambahan 3% berat alumina. 200 oC dan 300 oC. Toto. laju korosinya rendah. Berdasarkan masalah yang telah dijelaskan di atas. 35 MPa. 30% dan 40%. 37. TINJAUAN PUSTAKA Penelitian Sebelumnya Ejiofor dan Reddy (1997) meneliti komposit paduan Al (hyper-eutectoid Al)/Al2O3 dengan metode tuang. Sebuah bushing harus memiliki sifat mekanik yang baik antara lain kekerasannya tinggi. dkk. Pembuatan spesimen dengan variasi tekanan kompaksi 300. 20%. Pada penelitian ini komposit isotropik Al/Al2O3 dibuat dari aluminium sebagai matrik dan Al/Al2O3 sebagai penguat.2 dan putaran yang diterima. Salah satu faktor yang mempengaruhi sifat pada bushing powder metallurgy adalah tekanan kompaksi. Fraksi volume penguat terbaik adalah 40% dan waktu tahan sintering optimum adalah 2 jam. Tekanan yang digunakan dalam penelitian ini adalah 30 MPa. tetapi suhu sintering harus berada di bawah titik cair serbuk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan meningkatnya tekanan kompaksi dan suhu sinter akan meningkatkan kekerasan dan densitas dari spesimen. Volume fraksi penguat yang digunakan adalah 10%. Dari hasil penelitian menunujukkan bahwa semakin meningkatnya suhu hot pressing maka kekerasan bushing juga meningkat sedangkan laju keausannya menurun. maka perlu diadakan penelitian tentang pengaruh tekanan terhadap laju korosi dan distribusi kekerasan pada bushing powder metallurgy duralumin untuk mendapatkan hasil produk berupa bushing yang memiliki sifat mekanik yang unggul serta sebagai salah satu upaya memanfaatkan limbah padat logam yang kurang termanfaatkan secara optimal. (2008) melakukan penelitian tentang kompaktibilitas komposit isotropik Al/Al2O3 dengan variabel waktu tahan sinter. dari serbuk logam melalui penekanan dan disertai sintering. Temperatur sintering 600 oC dan gaya tekan kompaksi 15 kN. Powder Metallurgy Powder metallurgy adalah proses pengolahan logam untuk menghasilkan produk. dan 40 MPa. 32. Pengujian yang dilakukan adalah uji tekan dan pengamatan metalografi. Beban pengepresan adalah 5400 kg. Widyastuti. maka pencampuran serbuk tersebut harus homogen untuk menghasilkan pencampuran yang sebaik- . (2009) melakukan penelitian tentang hot pressing metalurgi serbuk alumunium dengan variasi suhu pressing (suhu ruang) 100 oC. dan porositasnya rendah. Hasil yang diperoleh adalah kompaktibilitas komposit Al/Al2O3 mencapai nilai optimum saat waktu tahan sintering 2 jam. Fitria dan Waziz. baik yang jadi atau masih setengah jadi. Semakin besar tekanan kompaksi akan memberikan pemampatan yang lebih besar pula pada butiran-butiran serbuk logam sehingga menjadikan kekerasan bushing lebih tinggi dan laju korosinya semakin rendah karena dengan lebih termampatkannya butiran serbuk logam maka material akan lebih sulit terurai karena korosi. pemanasan dan pengepresan menggunakan alat cetakan hot pressing metalurgi serbuk. 400 dan 500 MPa dan variasi suhu sinter 450 oC.5 MPa. kekerasan meningkat dari 27 BHN menjadi 37 BHN dan UTSnya dari 75 MPa menjadi 93 MPa. 500 oC dan 550 oC selama 2 jam dalam lingkungan gas argon. serta mudah dalam penggantian.

Cold compacting yaitu memadatkan serbuk pada tempetatur ruang dengan 100-900 MPa untuk menghasilkan green body. telah menyerupai produk akhir. Duralumin memiliki sifat ringan. Pengujian korosi dibagi menjadi dua kategori. Pengujian korosi ini dilakukan untuk mengetahui laju korosi atau ketahanan korosi dari suatu material. dan difusi antar permukaan. Bentuk benda yang dikeluarkan dari pressing disebut bahan kompak mentah. Korosi Korosi merupakan sebuah penurunan mutu logam atau material akibat reaksi dengan lingkungannya. duralumin tidak boleh memiliki presentase tembaga lebih dari 5. keuletan yang tingi.6 % karena akan membentuk senyawa CuAl2 dalam logam yang menjadikan logam rapuh (Heine. Komposisi paduan tersebut dicampur dengan perbandingan jumlah yang sama agar didapatkan pencampuran yang terbaik. Selama proses ini terbentuk batas-batas butir yang merupakan tahap rekristalisasi dan gas-gas yang ada menguap. dan juga sifat tahan korosi. Rolling. Penekanan terhadap serbuk dilakukan agar serbuk dapat menempel satu dengan lainnya sebelum ditingkatkan ikatannya dengan proses sintering. Temperatur sinter umumnya berada pada 0. Untuk yang terakhir ini (difusi) dapat terjadi pada saat dilakukan proses sintering. Terdapat beberapa metode penekanan. Untuk waktu pemanasan tergantung dari jenis logam dan tidak diperoleh manfaat tambahan dengan diperpanjangnya waktu pemanasan. reaksi korosi ada dua macam yaitu reaksi penggantian atau disebut juga reaksi basah adalah pelarutan logam (biasanya di lingkungan berair) lalu bergabung dengan bukan logam membentuk korosi dan yang kedua adalah reaksi langsung atau disebut juga korosi kering yaitu penggabungan langsung logam atau ion logam dengan unsur-unsur bukan logam. yaitu penekanan yang dilakukan pada cetakan yang berisi serbuk. Cold isotactic pressing. penekanan dingin (cold compacting) dan penekanan panas (hot compacting).3 baiknya.9 dari temperatur cair serbuk utama. Compacting Compacting adalah suatu cara untuk memadatkan serbuk menjadi bentuk yang diinginkan. 2. akan tetapi kekuatannya masih rendah.7-0. Paduan ini dinamakan duralumin dikarenakan memiliki sifat durability yang tinggi yaitu kemampuan suatu material untuk menerima beban kejut sehingga mampu memperpanjang usia produk akibat fatigue. yaitu penekanan pada serbuk metal dengan memakai rolling mill. Menurut peristiwanya. Dalam proses pembuatan suatu paduan dengan metode metalurgi serbuk. interaksi adesi-kohesi. yaitu: . Untuk proses penempaan. 1990: 293). Proses cold pressing terdapat beberapa macam antara lain: 1. Duralumin Duralumin merupakan paduan antara alumunium dan tembaga. terikatnya serbuk sebagai akibat adanya interlocking antar permukaan. Die Pressing. yaitu penekanan pada serbuk pada temperatur kamar yang memiliki tekanan yang sama dari setiap arah. Kehilangan berat pada logam merupakan parameter korosi yang sering dipakai dalam menganalisa suatu umur komponen atau suatu konstruksi logam. Kekuatan akhir bahan diperoleh setelah proses sintering. Sintering Sintering adalah proses pemanasan sampai temperatur tinggi yang menyebabkan bersatunya partikel dan meningkatnya efektivitas reaksi tegangan permukaan. diantaranya. 3.

 Lingkungan tanah. lempung. Bushing METODE PENELITIAN Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian eksperimental nyata (true experimental research) yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh tekanan terhadap laju korosi dan distribusi kekerasan pada bushing powder metallurgy duralumin. misal: air mengalir (sungai) dan air diam (air payau).5 MPa. dan 40 MPa). udara pantai. yaitu metode pengujian dengan pantulan. metode pengujian dengan goresan. 2. misal: berpasir.4 1. variabel terikat (laju korosi dan distribusi kekerasan) dan variabel kontrol (berat . Pengujian Laboratorium Pengujian ini dilakukan dengan mengkondisikan lingkungan agar spesimen yang diuji dapat terkorosi. dan metode pengujian dengan tekanan. yang disebabkan oleh penusukan oleh benda tekan yang berbentuk tertentu karena pengaruh gaya tertentu. air panas dan bertekanan. dengan kondisi dan bentuk spesimen yang dibuat mendekati keadaan sebenarnya atau spesimen tiruan. Gambar 1. 37. yaitu variabel bebas (variasi tekanan 30 MPa. berdebu. Variabel Penelitian Dalam penelitian ini ada tiga macam variabel yang digunakan.  Lingkungan air. Bushing harus memiliki sifat mekanik yang baik agar poros dan elemen mesin yang lain dapat bekerja secara maksimal. air destilasi. Lingkungan-lingkungan yang alamiah itu antara lain:  Kondisi atmosfer. Di bawah ini menunjukan bentuk sebuah bushing (bantalan poros).5 MPa. 35 MPa. Pada pengujian di laboratorium ini biasanya digunakan larutan-larutan yang bersifat korosif dan menggunakan larutan yang dialiri arus listrik (electrochemical). misal: industri. pegunungan. Beberapa metode pengujian kekerasan. Bushing Bushing atau yang dikenal sebagai bantalan luncur merupakan elemen atau bagian dari peralatan mesin yang dirancang agar dapat menahan beban yang diterimanya. kering. air garam. Pengujian lapangan Pengujian ini dilakukan dengan menempatkan spesimen pada kondisi lingkungan oleh material tanpa adanya kondisi-kondisi yang dibuat-buat untuk mempercepat terjadinya korosi. 32. misalnya galvanic cells dan electrolytic cells sehingga waktu relatif lebih singkat. khususnya beban yang bergerak seperti poros sehingga putaran atau gerak bolak – baliknya dapat berlangsung secara halus dan aman. Pengujian kekerasan sangat berguna sekali untuk mengetahui kualitas suatu bahan yang akan dipergunakan pada produk – produk logam seperti komponen mesin. Laju korosi dihitung dengan menggunakan rumus dibawah ini: Keterangan: laju korosi [mmpy] W = berat yang hilang [gram] A = luas spesimen [cm2] t = waktu pengujian [jam] D = densitas massa spesimen [gram/cm3] Kekerasan Kekerasan didefinisikan sebagai ketahanan suatu bahan terhadap penetrasi permukaan. Penelitian ini dilakukan di laboratorium αβϒ Landung Sari dan laboratorium Pengujian Bahan Universitas Brawijaya.

Beban Penekan 4. sarung tangan. Bagian Bushing yang Diuji Kekerasannya . alat uji kekerasan. Pressure Gauge 2. Sumber Listrik Gambar 4. Termometer Display 3. kemudian dilakukan proses compacting dan sintering dalam waktu yang bersamaan selama 30 menit dengan temperatur sintering 450°C. Tungku 5. Rancangan Benda Kerja (Satuan dalam mm) Prosedur Penelitian Serbuk Duralumin dengan berat 40 gram dituangkan ke dalam cetakan. cetakan. 32. 37. timbangan elektrik.5 MPa.) dengan menggunakan mikrovikers hardness tester dan dilakukan pengujian korosi dengan menggunakan larutan HCl 5 % selama 1 jam. Instalasi Penelitian Gambar 3. serbuk Duralumin. grafit.5 MPa. penjepit baja. alat uji korosi. bagian dalam dan bagian atas (keterangan bagian pada gambar 4. 35 MPa. Instalasi mesin Hot Pressing Keterangan gambar: 1.5 serbuk 40 gram. dan 40 MPa. Setelah itu dilakukan pengujian kekerasan pada bagian luar. Dimensi Hasil Powder Metallurgy Alat dan Bahan Penelitian Mesin hot pressing dengan instalasi ditunjukkan pada gambar 2. Gambar 2. temperatur sintering 450°C dan waktu penekanan 30 menit). Variasi tekanan yang digunakan yaitu 30 MPa.

Gambar 6. Grafik Hubungan Tekanan Hot Compacting dengan Kekerasan Data nilai kekerasan ditunjukkan pada gambar 7.6 HASIL DAN PEMBAHASAN Produk yang dihasilkan berupa bushing seperti gambar 5. Dari grafik tersebut dapat dilihat bahwa rata-rata nilai kekerasan yang paling rendah terjadi pada titik dengan tekanan kompaksi 30 MPa yaitu sebesar 54.14 VHN sedangkan rata-rata nilai kekerasan tertinggi terjadi pada titik dengan tekanan kompaksi 40 MPa yaitu sebesar 119. Grafik Hubungan Tekanan Hot Compacting dengan Laju Korosi Kekerasan Salah satu faktor yang mempengaruhi laju korosi pada bushing powder metallurgy adalah tekanan hot compacting. Hal ini disebabkan karena semakin besar tekanan. Hal ini menunjukkan . Dengan lebih termampatkannya partikel. maka material akan lebih sulit terurai karena korosi.47 VHN.035 mmpy sedangkan tingkat laju korosi tertinggi Gambar 7. Produk yang dihasilkan (bushing). Begitu pula sebaliknya. Semakin besar tekanan hot compacting akan memberikan pemampatan yang lebih besar pula pada butiran-butiran serbuk logam sehingga menjadikan laju korosinya semakin rendah karena dengan lebih termampatkannya butiran serbuk logam maka material akan lebih sulit terurai karena korosi. Korosi biasanya berlangsung sangat lambat tetapi secara terus menerus. patikel-partikel semakin terdesak sehingga membuat luas kontak antar partikel semakin besar dan ronggarongga antar partikel menjadi lebih kecil sehingga menjadikan partikel lebih mampat. Gambar 5. Korosi merupakan sebuah penurunan mutu logam atau material akibat reaksi dengan lingkungannya. Laju Korosi Data laju korosi ditunjukkan pada gambar 6 di bawah ini: terjadi pada titik dengan tekanan kompaksi 30 MPa yaitu sebesar 0. Dari hal tersebut dapat diketahui bahwa semakin besar tekanan kompaksi pada proses powder metallurgy maka tingkat laju korosi yang terjadi semakin rendah. Hal ini terjadi karena semakin kecil tekanan maka partikel-partikel kurang terdesak dan termampatkan yang menyebabkan berkurangnya luas kontak antar partikel sehingga material akan lebih mudah terurai karena korosi. semakin kecil tekanan kompaksi pada proses powder metallurgy makan tingkat laju korosi yang terjadi tinggi.096 mmpy. Dari gambar 5 ditunjukkan bahwa tingkat laju korosi yang paling rendah terjadi pada titik dengan tekanan kompaksi 40 MPa yaitu sebesar 0.

Introduction Physical Metallurgy. 32.7 bahwa semakin kecil tekanan hot compacting maka kekerasan semakin menurun sedangkan semakin besar tekanan hot compacting maka kekerasan semakin meningkat. Powder Metallurgy Science. Yogyakarta: Andi Offset. 35 MPa sebesar 123. Hal ini terbukti dengan rata-rata nilai kekerasan minimum terjadi pada spesimen tekanan kompaksi 30 MPa yaitu sebesar 54. Pada bagian atas memiliki kekerasan yang lebih tinggi dibanding bagian luar dan bagian dalam yaitu pada tekanan 30 MPa sebesar 79. Anton J & Kaneko Tomijiro. Begitu pula pada bagian dalam.88 VHN dan 40 MPa sebesar 52. 32. 1994.5 MPa sebesar 159. 32. 35 MPa sebesar 56.13 VHN. 35 MPa sebesar 51. Hal ini terbukti dengan laju korosi minimum terjadi pada spesimen tekanan 40 MPa yaitu sebesar 0. Sydney.26 VHN dan 40 MPa sebesar 225.096 mmpy. terbukti dengan rata-rata nilai kekerasan maksimum terjadi pada spesimen tekanan kompaksi 40 MPa yaitu sebesar 119. . DAFTAR PUSTAKA [1] Avner.14 VHN. 1995.46 VHN dan 40 MPa sebesar 80. Pada tekanan rendah kerapatan yang dihasilkan belum terlalu besar. Dengan semakin luasnya kontak antar butir maka rongga antar butir semakin kecil sehingga kekerasannya meningkat. [3] Hartomo.26 VHN. 1992.5 MPa sebesar 45.69 VHN. namun dengan seiring meningkatnya tekanan mengakibatkan kerapatan menjadi semakin meningkat sehingga dihasilkan luas kontak antar partikel yang semakin besar.70 VHN. USA: The Pennsylvania State University. of [2] German. 37.5 MPa sebesar 51.5 MPa sebesar 51.26 VHN. Mengenal Pelapisan Logam (Elektroplating).33 VHN. Hal ini disebabkan karena pada bagian atas adalah bagian yang menerima beban penekanan secara langsung yang arahnya dari atas ke bawah.8 VHN. Selain itu partikel juga menjadi lebih mampat akibat terdesaknya partikel satu dengan yang lain. Sedangkan pada bagian luar memiliki rata-rata nilai kekerasan yang lebih rendah dibandingkan bagian atas yaitu pada tekanan 30 MPa sebesar 43. 37. Peningkatan temperatur akan menurunkan laju korosi. memiliki rata-rata nilai kekerasan yang lebih rendah dibandingkan bagian atas yaitu pada tekanan 30 MPa sebesar 39. Begitu juga sebaliknya. Tekanan menyebabkan rongga-rongga di sekitar partikel menjadi berkurang karena partikel-partikel saling bersinggungan sehingga terbentuk kontak antar butir yang semakin luas.035 mmpy. R. 37.12 VHN.67 VHN. Sedangkan laju korosi maksimum terjadi pada spesimen tekanan 30 MPa yaitu sebesar 0. penurunan tekanan kompaksi akan menurunkan kekerasan spesimen. Hal ini mengakibatkan kemampatan partikel menjadi lebih rendah sehingga nilai kekerasannya menurun.5 MPa sebesar 88.34 VHN.47 VHN. Hal ini disebabkan karena bagian luar dan bagian dalam tidak secara langsung menerima beban penekanan sehingga partikel pada bagian luar dan bagian dalam mengalami desakan yang lebih kecil daripada bagian atas.42 VHN.5 MPa sebesar 76.39 VHN. M. Hal ini terjadi karena semakin besar tekanan menyebabkan partikel partikel lebih saling bersinggungan sehingga membentuk luas kontak antar butir yang semakin luas. KESIMPULAN Dari penelitian pengaruh tekanan terhadap laju korosi dan distribusi kekerasan pada bushing powder metallurgy duralumin yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa peningkatan tekanan kompaksi akan meningkatkan kekerasan spesimen.

id/sites/defa ult/files/89_95_toto.pdf. Malang Jurusan Mesin FT Unibraw. 2009. New Delhi: Publishing Company. [6] Rusianto. 1990. Jakarta: PT Pradnya Paramita. Sri. 2001. 2006.8 [4] Heine. Tata & Chijiwa. [8] Widharto. Toto. Diakses pada tanggal 19 september 2012. http://jurtek. Richard W. Principle of Metal Casting. . [7] Surdia. Teknik Pengecoran Logam. Karat Dan Pencegahannya. Yuka. Jakarta: PT Pradnya Paramita. Kenji. Skripsi Tidak Diterbitkan. Hot Pressing Metalurgi Serbuk Alumunium Dengan Variasi Suhu Pemanasan.akprind. [5] Pravikananta. Pengaruh Sintering Temperatur Terhadap Kekerasan Alumunium Matrix Composite dengan Penguat Al2O3.ac. 1996.