You are on page 1of 24

BAB I

PENDAHULUAN
1.

Latar Belakang
Organ kelamin wanita terdiri atas organ genitalia interna dan organ

genitalia eksterna. Kedua bagian besar organ ini sering mengalami gangguan,
salah satunya adalah infeksi, infeksi dapat mengenai organ genitalia interna
maupun eksterna dengan berbagai macam manifestasi dan akibatnya. Tidak
terkecuali pada glandula vestibularis major atau dikenal dengan kelenjar bartolini.
Kelenjar bartolini merupakan kelenjar yang terdapat pada bagian bawah introitus
vagina. Jika kelenjar ini mengalami infeksi yang berlangsung lama dapat
menyebabkan terjadinya kista bartolini, kista bartolini adalah salah satu bentuk
tumor jinak pada vulva. Kista bartolini merupakan kista yang terbentuk akibat
adanya sumbatan pada duktus kelenjar bartolini, yang menyebabkan retensi dan
dilatasikistik. Dimana isi di dalam kista ini dapat berupa nanah yang dapat keluar
melalui duktus atau bila tersumbat dapat dapat mengumpul di dalam menjadi
abses.
Kista bartolini ini merupakan masalah pada wanita usia subur, kebanyakan
kasus terjadi pada usia 20 sampai 30 tahun dengan sekitar 1 dalam 50 wanita akan
mengalami kista bartolini atau abses dalam hidup mereka, sehingga hal ini
merupakan masalah yang perlu untuk di cermati. Kista bartolini bias tumbuh dari
ukuran seperti kacang polong menjadi besar dengan ukuran seperti telur. Kista
bartolini tidak menular secara seksual, meskipun penyakit menular seksual seperti
Gonore adalah penyebab paling umum terjadinya infeksi pada kelenjar bartolini
yang berujung pada terbentuknya kista dan abses, sifilis ataupun infeksi bakteri
lainnya juga dianggap menjadi penyebab terjadinya infeksi pada kelenjar ini.
Dua persen wanita mengalami kista Bartolini atau abses kelenjar pada
suatu saat dalam kehidupannya. Abses umumnya hampir terjadi tiga kali lebih
banyak daripada kista. Salah satu penelitian kasus kontrol menemukan bahwa
wanita berkulit putih dan hitam yang lebih cenderung untuk mengalami kista
bartolini atau abses bartolini daripada wanita hispanik, dan bahwa perempuan
dengan paritas yang tinggi memiliki risiko terendah. Kista Bartolini, yang paling

LBM IV Ada Benjolan

Page 1

umum terjadi pada labia majora. Involusi bertahap dari kelenjar Bartolini dapat
terjadi pada saat seorang wanita mencapai usia 30 tahun. Hal ini mungkin
menjelaskan lebih seringnya terjadi kista Bartolini dan abses selama usia
reproduksi. Biopsi eksisional mungkin diperlukan lebih dini karena massa pada
wanita

pascamenopause

dapat

berkembang

menjadi

kanker.

Beberapa

penelitiantelah menyarankan bahwa eksisi pembedahan tidak diperlukan karena


rendahnya risiko kanker kelenjar Bartholin (0,114 kanker per 100.000 wanitatahun).Namun, jika diagnosis kanker tertunda, prognosis dapat menjadi lebih
buruk. Sekitar 1 dalam 50 wanita akan mengalami kista Bartolini atau abses di
dalam

hidup

mereka.

Jadi,

hal

ini

adalah

masalah

yang

perlu

dicermati.Kebanyakan kasus terjadi pada wanita usia antara 20 sampai 30 tahun.


Namun, tidak menutup kemungkinan dapat terjadi pada wanita yang lebih tua atau
lebih muda.

LBM IV Ada Benjolan

Page 2

BAB II
PEMBAHASAN
2.1

Skenario
ADA BENJOLAN
Seorang gadis usia 25 tahun datang ke praktik dokter umum swasta
dengan keluhan terdapat benjolan di kemaluan sebelah kanan dirasakan sejak
2 minggu yang lalu. Benjolan awalnya kecil lama kelamaan semakin
membesar. Oleh dokter dilakukan pemeriksaan status lokalis pada daerah
vagina terdapat benjolan tunggal, tampak kemerahan, diameter 3 cm,
konsistensi kenyal, permukaan licin, dan terdapat nyeri bila ditekan. Kelainan
apakah yang dialami oleh pasien tersebut dan bagaimanakah penatalaksanaan
kasus tersebut

2.2
2.3

Teminologi
Permasalahan
1. Anatomi dan fisiologi kelenjar bartolin
2.

Mengapa ada benjolan kemerahan disertai nyeri

3.

Kenapa benjolan Semakin Membesar

4. Diagnosa Banding
5. Diagnosa kerja

LBM IV Ada Benjolan

Page 3

BAB II
PEMBAHASAN
2.4

Pembahasan
2.4.1 Anatomi dan Fisiologi Kelenjar Bartolin
Kelenjar bartolini merupakan salah satu organ genitalia eksterna,
kelenjar bartolini atau glandula vestibularis major, berjumlah dua buah
berbentuk bundar, dan berada di sebelah dorsal dari bulbus vestibulli.
Saluran keluar dari kelenjar ini bermuara pada celah yang terdapat diantara
labium minus pudendi dan tepi hymen. Glandula ini homolog dengan
glandula bulbourethralis pada pria. Kelenjar ini tertekan pada waktu coitus
dan mengeluarkan sekresinya untuk membasahi atau melicinkan
permukaan vagina di bagian caudal. kelenjar bartolini diperdarahi oleh
arteri bulbi vestibuli, dan dipersarafi oleh nervus pudendus dan
nervushemoroidal inferior. Kelenjar bartolini sebagian tersusun dari
jaringan erektil dari bulbus, jaringan erektil dari bulbus menjadi sensitif
selama rangsangan seksual dan kelenjar ini akan mensekresi sekret yang
mukoid yang bertindak sebagai lubrikan. Drainase pada kelenjar ini oleh
saluran dengan panjang kira- kira 2 cm yangterbuka ke arah orificium
vagina sebelah lateral hymen, normalnya kelenjar bartolini tidak teraba
pada pemeriksaan palapasi. seperti pada gambar dibawah ini :

Kelenjar ini mengeluarkan lendir untuk memberikan pelumasan vagina.


kelenjar Bartolini mengeluarkan jumlah lendir yang relatif sedikit sekitar satu
atau dua tetes cairan tepat sebelum seorang wanita orgasme. Tetesan cairan

LBM IV Ada Benjolan

Page 4

pernah dipercaya menjadi begitu penting untuk pelumas vagina, tetapi


penelitian dari Masters dan Johnson menunjukkan bahwa pelumas vagina
berasal dari bagian vagina lebih dalam. Cairan mungkin sedikit membasahi
permukaan labia vagina, sehingga kontak dengan daerah sensitif menjadi lebih
nyaman bagi wanita.
2.4.2

Mengapa ada benjolan kemerahan disertai nyeri


Bila terjadi infeksi atau peradangan kelenjar ini akan membesar,
merah, dam nyeri kemudian isinya akan menjadi nanah dam keluar
pada duktusnya, karena adanya cairan tersebut maka dapat terjadi
sumbatanpada salah satu duktus yang dihasilkan oleh kelenjar dan
terakumulasi, menyebabkan kelenjar membengkak dan menbentuk
suatu benjolan berisi cairan (kista).

2.4.3

Kenapa benjolan semakin membesar


Kelenjar bartholini menghasilkan cairan membasahi vagina mulai
masa pubertas, yang selain berfungsi untuk melumasi vagina mulai
masa pubertas, yang selain berfungsi untuk melumasi vagina pada saat
berhubungan juga pada kondisi normal. Adanya peradangan pada
kelenjar bartholini yang disebabkan oleh bakteri Gonococcus. Kista
bartholini terjadi karena adanya sumbatan pada salah satu duktus
sehingga mucus yang dihasilkan tidak dapat disekresi. Sumbatan dapat
disebabkan oleh mucus yang mengental, infeksi, trauma atau gangguan
congenital. Jika terjadi infeksi pada kista bartholini maka kista ini
berubah menjadi abses yang ukurannya dapat meningkat setiap hari
dan terasa nyeri

2.4.4

Diagnosa Banding

ABSES BARTHOLINI
DEFINISI
Kelenjar Bartholin rentan terhadap obstruksi, dengan membentuk kista
yang bisa terinfeksi menjadi abses kelenjar. Abses Bartolini adalah
penumpukan nanah yang membentuk benjolan (pembengkakan) di salah
satu kelenjar Bartholin yang terletak di setiap sisi lubang vagina.

LBM IV Ada Benjolan

Page 5

EPIDEMIOLOGI
Sekitar 2% dari wanita usia reproduksi akan mendapatkan gangguan
pada kelenjar bartolini pada salah satu atau kedua kelenjarnya. Abses
hampir tiga kali lebih umum terjadi dibanding kista. Satu kasus kontrol
studi menemukan bahwa perempuan kulit putih dan hitam lebih mungkin
untuk mendapatkan kista Bartolin atau abses daripada wanita Hispanik,
dan wanita paritas tinggi berada pada risiko terendah. Infeksi kelenjar
Bartolini didominasi oleh wanita berumur produktif ( puncaknya : 20 29
tahun).
Massa vulva pada wanita pos menopause dapat menjadi kanker,
biopsy eksisi mungkin diperlukan. Beberapa pengamat mengusulkan
bahwa operasi eksisi tidak perlu karena rendahnya resiko terkena
keganasan kelenjar Bartolini ( 0,114 keganasan per 100.00 wanita per
tahun ). Bagaimanapun, diagnosa yang tidak tepat terhadap keganasan
dapat menyebabkan prognosis yang lebih buruk bagi pasien.
ETIOLOGI
Infeksi kelenjar bartholini terjadi oleh infeksi gonokokus, pada
bartholinitis kelenjar ini akan membesar, merah, dam nyeri kemudian
isinya akan menjadi nanah dam keluar pada duktusnya, karena adanya
cairan tersebut maka dapat terjadi sumbatan pada salah satu duktus yang
dihasilkan oleh kelenjar dan terakumulasi, menyebabkan kelenjar
membengkak dan menbentuk suatu kista. Suatu abses terjadi bila kista
menjadi terinfeksi. Abses bartholini dapat disebabkan oleh sejumlah
bakteri. Ini termasuk orgasme yang menyebabkan penyakit menular
seksual seperti Klamidia dan Gonore. Serta umumnya abses ini melibatkan
lebih dari lebih dari satu jenis organisme. Obstruksi distal saluran bartolini
bisa mengakibatkan retensi cairan, dengan dihasilkannya dilatasi dari
duktus dan pembentukan kista. Kista dapat terinfeksi, dan abses dapat
berkembang dalam kelenjar. Kista bartolini tidak selalu harus terjadi
sebelum abses kalenjar.
PATOFISIOLOGI

LBM IV Ada Benjolan

Page 6

Tersumbatnya bagian distal dari duktus Bartholin dapat menyebabkan


retensi

dari sekresi, dengan akibat berupa pelebaran duktus dan

pembentukan kista. Kista tersebut dapat menjadi terinfeksi, dan abses bisa
berkembang dalam kelenjar. Kelenjar BartholiIn sangat sering terinfeksi
dan dapat membentuk kista atau abses pada wanita usia reproduksi. Kista
dan abses bartholin seringkali dibedakan secara klinis.
Kista Bartholin terbentuk ketika ostium dari duktus tersumbat,
sehingga menyebabkan distensi dari kelenjar dan tuba yang berisi cairan.
Sumbatan ini biasanya merupakan akibat sekunder dari peradangan
nonspesifik atau trauma. Kista bartholin

dengan diameter 1-3 cm

seringkali asimptomatik. Sedangkan kista yang berukuran lebih besar,


kadang menyebabkan nyeri dan dispareunia. Abses Bartholin merupakan
akibat dari infeksi primer dari kelenjar, atau kista yang terinfeksi. Pasien
dengan abses Bartholin umumnya mengeluhkan nyeri vulva yang akut dan
bertambah secara cepat dan progresif. Abses kelenjar Bartholin disebakan
oleh polymicrobial.
GAMBARAN KLINIS
Abses Bartolini berupa pembengkakan genital yang sangat nyeri dan
pada pemeriksaan kelenjar

ditemukan pelebaran yang tegang disertai

nyeri, kemerahan dan panas. Pembengkakan bisa menunujukkan adanya


fluktuasi dan bahkan pelepasan pus, setelah nyeri berdenyut yang hebat,
nyeri akan berkurang. Wanita dapat menunjukkan keluhan-keluhan seperti
kulit vagina terasa terbakar, panas, nyeri dan rasa tidak nyaman selama
berhubungan seksual. Beberapa wanita akan mengalami gejala panjang
dan meskipun gejalanya timbul berkali-kali tapi kadang-kadang susah
untuk didiagnosis dan diberikan nasehat atau pengobatan yang tepat
dengan konsekuensi psychological dan psychosexual yang tidak sehat.
Jumlah cairan (pus) meningkat di kelenjar dan peningkatan tekanan di
sekitarnya. Apabila infeksi dan pembengkakan bertambah, kelenjar
mungkin mengalami abses dan kulit vagina akan membuka. Abses
Bartolini biasanya hanya muncul pada salah satu sisi dari vagina.

LBM IV Ada Benjolan

Page 7

Pada pemeriksaan fisis dapat ditemukan gambaran kista bartolini


seperti dibawah ini :

Gambar 1: tampak abses bartolini pada kelenjar bartholini sinistra.

Gambar 2: Abses Bartolini menunjukkan nodul eritematous dengan


fluktuasi.
DIAGNOSA
Anamnesis
Massa atau lesi pada genitalia eksterna lazim ditemukan. Lesi ini
mungkin berkaitan dengan penyakit kelamin, tumor, atau infeksi. Pasien
dengan abses bertolini mungkin datang dengan massa yang sangat nyeri di
vulva. Tanyakan sejak kapan pasien menyadari ada lesi (massa), apakah

LBM IV Ada Benjolan

Page 8

nyeri atau tidak, apakah ukuran massa berubah atau tidak, apakah pasien
pernah menderita penyakit yang sama sebelumnya dan tanayakan pula
apakah pernah menderita penyakit kelamin sebelumnya.
Penemuan Klinis
Berikut temuan pemeriksaan fisik terlihat diabses bartolini, seperti
yang ditunjukkan pada gambar di bawah:

Gambar 3 : Abses Bartolini


Tampak ada benjolan lembut, massa labial berfluktuasi dengan

eritema sekitarnya danedema


Dalam beberapa kasus, daerah sekitar abses mungkin dapat

tampak selulitis.
Demam. Meskipun tidakkhas, dapat terjadi.
Jika abses telah pecah secara spontan, dapat tampak discharge
purulen. Jika benar-benar telah terkuras, tidak ada massa yang
jelas dapat diamati.

Test laboratorium
Biasanya tidak ada test laboratorium yang dilakukan untuk
mendiagnosa abses bartolini.

Diagnosis Banding Terhadap Lesi Kistik dan Padat pada Vulva


Lesi

Lokasi

Karakteristik

Lesi Kistik
Kista Bartolini

Vestibule

Umumnya

unilateral;

tidak

memberikan gejala jika ukurannya


kecil.

LBM IV Ada Benjolan

Page 9

Kista Epidermal

Labia majora

Jinak, mobile, kendur; terjadi

(umumnya)

karena trauma atau obstruksi pada


duktus pilosebaceous.

Mucous cyst

Labia

minora, Lunak, diameter kurangdari 2 cm,

vestibule,
of the vestibule

periclitoris

area permukaan

rata,

daerah

superficial; soliter or multisoliter;


umumnya tanpa gejala

Hidradenoma papilli Antara

labia Jinak, progresifitas lambat, ukuran

ferum

labia nodul antara 2 mm sampai 3 cm;

majoradan
minora

dimulai dari kelenjar apokrin

Cyst of the canal of

Labia majora,

Soft, compressible; peritoneum

Nuck

mons pubis

entrapped within round ligament;


may mimic inguinal hernia

Gambar 4. Kista bartolini.

LBM IV Ada Benjolan

Gambar 5. Kista Epidermal.

Page 10

Gambar 6. Cyst of the canal of Nuck.

PENATALAKSANAAN
Abses bartolini umumnya disertai rasa nyeri, dengan demikian insisi
atau drainase terhadap secret diperlukan. Tujuan pengobatan abses adalah
untuk memungkinkan drainase dan mencegah akumulasi kembali cairan.
Kenyamanan pasien sangat penting untuk kelancaran proses drainase.
Penggunanan estesi topikal pada mukosa diikuti dengan injeksi submukosa
lokal anestesi. Pada pasien dengan abses besar atau kompleks atau untuk
prosedur yang rumit, anestesi umum di ruang operasi (RO) mungkin
diperlukan.
Insisi dan drainase
Teknik ini terdiri dari sayatan tradisional, drainase, irigasi, dan
pengepakan. Teknik ini membutuhkan beberapa perubahan modifikasi
untuk mengatasi nyeri dan untuk mencegah tingkat munculnya abses
kembali.
Penggunaan kateter word diperkenalkan pada 1960-an. Ini adalah
kateter kecil dengan balon. Prosedur ini harus dilakukan dengan
menggunakan teknik steril. Dengan membuat sayatan 0,5cm- dibuat ke

LBM IV Ada Benjolan

Page 11

dalam rongga abses pada permukaan mukosa dari labia minora. Ujung
kateter dimasukkan kerongga, dan balon digelembungkan dengan 4mL
saline yang normal.

Gambar 7 : Setelah pembedahan, tidak tampak lagi nodul eritema dan


tidak nyeri.

LBM IV Ada Benjolan

Page 12

Gambar 8. Contoh posisi pemasangan word kateter pada abses


bartholini.

Penempatan Word Catheteter merupakan prosedur sederhana yang


digunakan untuk menangani gejala simptomatik. Ujung bebas dari kateter
dapat dimasukkan ke dalam vagina untuk kenyamanan pasien. Penggunaan
kateter ini memungkinkan untuk drainase abses akut dan dapat dibiarkan
selama beberapa minggu untuk mencegah pembentukan fistula.
Pasien harus diedukasi untuk menjaga kebersihan dengan mandi
dengan larutan sitzh 2-3 kali sehari selama 2 hari setelah prosedur dan
menghindari sementara kontak seks sampai kateter akan dilepas.Teknik ini
cukup sederhana namun dapat memberikan hasil yang baik, karena dapat
ditoleransi oleh pasien dan memungkinkan pemulihan fungsi kelenjar.
Sebuah laporan kasus baru-baru menggambarkan penggunaan novel pipa
plastik untuk drainase abses ketika kateter word tidak tersedia.

Marsupialisasi

LBM IV Ada Benjolan

Page 13

Tujuan dari operasi ini adalah untuk merekonstruksi pertemuan


mukokutan vulval tanpa mengganggu bagian kelenjar yang lebih
dalamuntuk menghasilkan efek drainse yang adekuat. Prosedur ini
dilakukan untuk abses yang berulang. Abses akut dikeringkan sebelum
dilakukan marsupialisasi. Prosedur ini terdiri dari sayatan pada abses
dengan mengikuti pola lalu diikuti dengan menjahit tepi dalam dari
sayatan pada mukosa eksternal. Ini prosedur yang cukup rumit biasanya
dilakukan oleh dokter kandungan atau ahli urologi di ruang operasi.
Proses epitelisasi pada tindakan bedah terjadi setelah 4-6 minggu,
kateter word akan dilepas setelah 4-6 minggu, meskipun epithelisasi biasa
terbentuk pada 3-4 minggu. Istirahat selama 2-3 hari mempercepat
penyembuhan.

Meskipun

dapat

menimbulkan

terjadinya

selulitis,

antibiotik tidak diperlukan. Antibiotik diberikan bila terjadi selulitis


(jarang).

Gambar 9. Teknik marsupilisasi.


Biopsi eksisional dilakukan untuk pengangkatan adeno karsinoma
pada wanita menopause atau perimenopause yang irregular dan massa
kelenjar Bartholini yang nodular. Penatalaksanaan dari kista duktus

LBM IV Ada Benjolan

Page 14

bartholin tergantung dari gejala pada pasien. Kecuali kalau terjadi rupture
spontan, abses jarang sembuh dengan sendirinya.Sekitar 5 sampai 15
persen dari kista duktus Bartolin kambuh setelah marsupialisasi.
Komplikasi yang muncul antara lain dapat berupa dispareunia, hematoma,
dan infeksi.
Obat-obat yang digunakan dalam pengobatan abses Bartolini termasuk
anestesi topikal dan lokal. Antibiotik untuk pengobatan empiris yang
dianjurkan dalam dosis biasanya digunakan untuk mengobati infeksi
gonokokus dan klamidia. Idealnya, antibiotik harus dimulai segera
sebelum insisi dan drainase. Abses dengan pus dan discharge yang spontan
harus diberikan flucloxacilin oral (500 mg, 4 kali dalam sehari) harus
diresepkan selama 5 hari. Tirah baring, longgarkan pakaian dan pemberian
analgetik diperlukan seperti ibuprofen. Pilihan obat yang lain seperti
ampicillin (500 mg per oral 4 kali sehari) atau antibiotic spectrum luas
lainnya jika timbul selulitis, ceftriaxone 125 mg IM atau cefixime 400 mg
per oral dosis tunggal atau ciprofloxacin 500 mg per oral dosis tunggal
untuk gonore. Kontraindikasinya berupa hipersensitivitas atau kontak
alergi.

Infeksi Neisseria gonorrhoe:


Ciprofloxacin 500 mg dosis tunggal atau Ofloxacin 400 mg dosis
tunggal atau Cefixime 400 mg oral ( aman untuk anak dan bumil) atau
Cefritriaxon 200 mg i.m ( aman untuk anak dan bumil).

Infeksi Chlamidia trachomatis:

LBM IV Ada Benjolan

Page 15

Tetrasiklin 4 X500 mg/ hariselama 7 hari, po atau Doxycyclin 2 X100


mg/ hari selama 7 hari, po.

Infeksi Escherichia coli:


Ciprofoxacin 500 mg oral dosis tunggal, atau Ofloxacin 400 mg oral
dosis tunggal atau Cefixime 400 mg dosis tunggal.

Infeksi Staphylococcus dan Streptococcus :


Penisilin G Prokain injeksi 1,6-1,2 juta IU im, 1-2 x hari, Ampisilin
250-500 mg/ dosis 4x/hari, atau Amoksisillin 250-500 mg/dosis 3x/hari.

2.4.5 Diagnosa Kerja


KISTA BARTHOLINI
DEFINISI
Kista bartholini adalah suatu pembesaran berisi cairan yang terjadi
akibat sumbatan pada salah satu duktus sehingga mucus yang dihasilkan
tidak dapat disekresi. Kista dapat berkembang pada kelenjar itu sendiri
atau pada duktus bartholini.
ETIOLOGI
Infeksi kelenjar bartholini terjadi oleh infeksi gonokokus, pada
bartholinitis kelenjar ini akan membesar, merah, dam nyeri kemudian
isinya akan menjadi nanah dam keluar pada duktusnya, karena adanya
cairan tersebut maka dapat terjadi sumbatan pada salah satu duktus yang
dihasilkan oleh kelenjar dan terakumulasi, menyebabkan kelenjar
membengkak dan menbentuk suatu kista. Suatu abses terjadi bila kista
menjadi terinfeksi. Abses bartholini dapat disebabkan oleh sejumlah
bakteri. Ini termasuk orgasme yang menyebabkan penyakit menular
seksual seperti Klamidia dan Gonoreserta. Umumnya abses ini melibatkan
lebih dari lebih dari satu jenis organisme. Obstruksi distal saluran bartolini
bisa mengakibatkan retensi cairan, dengan dihasilkannya dilatasi dari
duktus dan pembentukan kista. Kista dapat terinfeksi, dan abses dapat

LBM IV Ada Benjolan

Page 16

berkembang dalam kelenjar. Kista bartolini tidak selalu harus terjadi


sebelum abses kalenjar.
EPIDEMIOLOGI
Kista bartholini adalah masalah yang terbanyak ditemukan pada
perempuan usia reproduktif. Frekuensi tersering timbulnya kista terutama
pade umur 20-30 tahun, yang merupakan insiden tertinggi. Kista bartholini
merupakan kista yang banyak ditemukan di daerah vulva tepatnya di
sekitar labium mayora. Kurang dari 2% perempuan dapa mengalami kista
atau abses bartolini pada suatu priode kehidupannya.
Pada saat perempuan berumur 30 tahun terjadi involusio kelenjar
bartholini secara berlahan-lahan oleh karana itu kejadian usia 40 tahun
keatas jarang ditemukan. Namun tidak menutup kemungkinan dapat terjadi
pada perempuan yang lebih tua atau lebih muda.
PATOFISIOLOGI
Kista bartholini terjadi karena adanya sumbatan pada salah satu
duktus sehingga mucus yang dihasilkan tidak dapat disekresi. Sumbatan
dapat disebabkan oleh mucus yang mengental, infeksi, trauma atau
gangguan congenital. Jika terjadi infeksi pada kista bartholini maka kista
ini berubah menjadi abses yang ukurannya dapat meningkat setiap hari
dan terasa nyeri.
GEJALA KLINIS
Pada saat kelenjar bartholini terjadi peradangan maka akan
membengkak, merah dan nyeri tekan. Kelenjar bartholini membengkak
dan terasa nyeri bila penderita berjalan dan sukar duduk.
Kista bartholini tidak selalu menyebabkan keluhan akan tetapi kadang
dirasakan sebagai benda yang berat dan menimbulkan kesulitan pada
waktu koitus. Bila kista bartholini berukuran besar dapat menyebabkan
rasa kurang nyaman saat berjalan atau duduk. Tanda kista bartholini yang
tidak terinfeksi berupa penonjolan yang tidak nyeri pada salah satu sisi

LBM IV Ada Benjolan

Page 17

vulva disertai kemerahan atau pambengkakan pada daerah vulva disertai


kemerahan atau pembengkakan pada daerah vulva.
Adapun jika kista terinfeksi maka dapat berkenbang menjadi abses
bartholini dengan gajala klinik berupa:
a. Nyeri saat berjalan, duduk, beraktifitas fisik atau berhubungan
seksual.
b. Umunnya tidak diserati demam kecuali jika terifeksi dengan
organisem yang ditularkan melaui hubungan seksual.
c. Pembengkakan pada vulva selam 2-4 hari.
d. Biasanya ada secret di vagina.
e. Dapat terjadi rupture spontan.
DIAGNOSIS
Anamnesis yang baik dan pemeriksaan fsik sangat mendukung suatu
diagnosis. Pada anamnese dinyatakan tentang gejala seperti panas, gatal,
sudah berapa lama gejala berlangsung, kapan mulai muncul, apakah
pernah berganti pasangan seks, keluhan saat berhubungan, riwayat
penyakit menulat seksual sebelumnya, riwayat penyakit kelamin pada
keluarga.
Kista bartholini di diagnosis melalui pemeriksaan fisik. Pada
pemeriksaan dengan posisi litotomi, terdapat pembengkakan pada kista
pada posisi jam 5 atau jam 7 pada labium minus posterior. Jika kista
terinfeksi,

maka

pemeriksaan

kultur

jaringan

dibutuhkan

untuk

mengidantifikasi jenis bakteri penyebab abses dan untuk mengetahui ada


tau tidaknya infeksi menular.
PENATALAKSANAAN
Pengobatan kista Bartholin bergantung pada gejala pasien. Suatu kista
tanpa gejala mungkin tidak memerlukan pengobatan, kista yang
menimbulkan gejala dan abses kelenjar memerlukan drainase.

a. Tindakan Operatif

LBM IV Ada Benjolan

Page 18

Beberapa prosedur yang dapat digunakan:


1) Insisi dan Drainase
Meskipun insisi dan drainase merupakan prosedur yang
cepat dan mudahdilakukan serta memberikan pengobatan
langsung pada pasien, namun prosedur iniharus diperhatikan
karena ada kecenderungan kekambuhan kista atau abses.Ada
studiyang melaporkan, bahwa terdapat 13% kegagalan pada
prosedur ini.

2) Kateter
Word catheter ditemukan pertama kali pada tahun 1960-an.
Merupakan sebuah kateter kecil dengan balon yang dapat
digembungkan dengan saline pada ujung distalnya, biasanya
digunakan untuk mengobati kista dan abses Bartholin. Panjang
dari kateter karet ini adalah sekitar 1 inch dengan diameter No.10
French Foley kateter. Balon kecil di ujung Word catheter dapat
menampung sekitar 3-4 mL larutan saline
3) Marsupialisasi
Alternatif pengobatans elain penempatan Wordcatheter
adalah marsupialisasi dari kista Bartholin . Prosedur ini tidak
boleh dilakukan ketika terdapat tanda- tanda abses akut.
Setelah dilakukan persiapan yang steril dan pemberian
anestesi lokal, dinding kista dijepit dengan dua hemostat kecil.
Lalu dibuat incisivertikal pada vestibular melewati bagian tengah
kista dan bagian luar dari hymenal ring.Incisi dapat dibuat
sepanjang 1.5 hingga 3cm, bergantung pada besarnya kista.
Setelah kista diincisi, isi rongga akan keluar. Rongga ini dapat
diirigasi dengan larutan saline, dan lokulasi dapat dirusak dengan
hemostat. Dinding kista ini lalu dieversikan dan ditempelkan
pada dindung vestibular mukosa dengan jahitan interrupted
menggunakan benang absorbable 2 -0.18 Sitz bath dianjurkan

LBM IV Ada Benjolan

Page 19

pada hari pertama setelah prosedur dilakukan. Kekambuhan kista


Bartholin setelah prosedur marsupialisasi adalah sekitar 5-10 %.
4) Eksisi (Bartholinectomy)
Eksisi dari kelenjar Bartholin dapat dipertimbangkan pada
pasien yang tidak berespon terhadap drainase, namun prosedur
ini harus dilakukan saat tidak ada infeksi aktif.
Eksisi kista bartholin karena memiliki risiko perdarahan,
maka sebaiknya dilakukan di ruang operasi dengan menggunakan
anestesi umum. Pasien ditempatkan dalam posisi dorsal lithotomy.
Lalu dibuat insisi kulit berbentuk linear yangmemanjang sesuai
ukuran kista pada vestibulum dekat ujung medial labia minora
dansekitar 1 cm lateral dan parallel dari hymenal ring. Hati hati
saat melakukan incisikulit agar tidak mengenai dinding
kista.Struktur vaskuler terbesar yang memberi supply pada kista
terletak pada bagian posterosuperior kista. Karena alasan ini,
diseksi harus dimulai dari bagian bawahkista dan mengarah ke
superior. Bagian inferomedial kista dipisahkan secara tumpul dan
tajam dari jaringan sekitar. Alur diseksi harus dibuat dekat
dengandinding kista untuk menghindari perdarahan plexus vena
dan vestibular bulb danuntuk menghindari trauma pada rectum.
b. Pengobatan Medikamentosa
Antibiotik sebagai terapi empirik untuk pengobatan penyakit
menular seksual biasanya digunakan untuk mengobati infeksi
gonococcal dan chlamydia. Idealnya, antibiotik harus segera diberikan
sebelum dilakukan insisi dan drainase. Beberapa antibiotikyang
digunakan dalam pengobatan abses bartholin:
1. Ceftriaxone
Ceftriaxone adalah sefalosporin generasi ketiga dengan
efisiensi broad spectrum terhadap bakteri gram-negatif, efficacy
yang lebih rendah terhadap bakteri gram-positif, dan efficacy yang
lebih tinggi terhadap bakteri resisten. Dengan mengikat pada satu

LBM IV Ada Benjolan

Page 20

atau lebih penicillin-binding protein, akan menghambat sintesis


dari dinding sel bakteri dan menghambat pertumbuhan bakteri.
Dosis yang dianjurkan: 125 mg IM sebagai single dose .
2. Ciprofloxacin
Sebuah monoterapi alternatif untuk ceftriaxone. Merupakan
antibiotik tipe bakterisida yang menghambat sintesis DNA bakteri
dan, oleh sebab itu akan menghambat pertumbuhan bakteri dengan
menginhibisi DNA-gyrase pada bakteri.
Dosis yang dianjurkan: 250 mg PO 1 kali sehari
3. Doxycycline
Menghambat sintesis protein dan replikasi bakteri dengan cara
berikatan dengan 30S dan50S subunit ribosom dari bakteri.
Diindikasikan untuk Ctra chomatis.
Dosis yang dianjurkan: 100 mg PO 2 kali sehari selama 7 hari.
4. Azitromisin
Digunakan untuk mengobati infeksi ringan sampai sedangyang
disebabkan oleh beberapa strain organisme. Alternatif monoterapi
untuk C. Trachohomatis.
Dosis yang dianjurkan: 1 g PO 1x
PROGNOSIS
Prognosis penyembuhan baik. 10% dari kasus rekuren. Tingkat
kekambuhan umumnya dilaporkan kurang dari 20%. Jika abses didrainase
dengan baik dan penutupan kembali dicegah, kebanyakan abses akan
membaik. Pengobatan dari tiga kasus berulang abses Bartolini dilakukan
dengan marsupialisasi.

BAB III
PENUTUP

LBM IV Ada Benjolan

Page 21

3.1 Kesimpulan
Dari hasil diskusi kelompok kami menyatakan bahwa diagnosis kerja
pada seknario adalah kista bartholini. Dimana kista bartholini merupakan
suatu pembesaran berisi cairan yang terjadi akibat sumbatan pada salah satu
duktus sehingga mucus yang dihasilkan tidak dapat disekresi. Sumbatan ini
bisa terjadi karena berbagai alasan seperti infeksi,peradangan. Cairan yang
dihasilkan keljar ini kemudian terakumulasi menyebabkan kelenjar
membengkak dan membentuk suatu kista.
Gejala klinis dari kista bartholini inimemiliki gejala yang sama dengan
pasien yang ada pada skenario yaitu pada daerah vagina terdapat benjolan
tunggal, tampak kemerahan, diameter 3 cm, konsistensi kenyal, permukaan
licin, dan terdapat nyeri bila ditekan. Oleh karena itu panatalaksanaan yang
dilakukan pada orang yang mengalami kista bartholini adalah dengan insisi
dan drainase, kateter, eksisi, marsupialisasi dan dengan menggunakan
medikamentosa.

DAFTAR PUSTAKA

LBM IV Ada Benjolan

Page 22

1. Barakbah, J dkk. 2005. Pedoman Diagnosis dan Terapi Ilmu Penyakit


Kulit dan Kelamin. Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga : Surabaya.
2. http://www.scribd.com/doc/43731478/LapKas-Kista-Bartholin-CtinedrNandono
3. Quinn A. Bartholin Gland Abscess. Nov, 08 2012; p 65-66
4. Wilopo, S. A. 2010, Kesehatan Perempuan Prioritas

Agenda

Pembangunan Kesehatan di Abad ke 21. Yogyakarta, Pusat Kesehatan


Reproduksi

LBM IV Ada Benjolan

Page 23