You are on page 1of 26

JUDUL

Perancangan pembuatan alat pemanas bahan bakar


solar menggunakan elemen pemanas dengan sistem
kontrol.

ABSTRAK
Teknologi pada mobil yang semakin berkembang, yaitu dengan adanya
pemanas bahan bakar solar menggunakan elemen panas dengan sistem kontrol.
Pada umumnya di mobil Diesel memiliki kelemahan. Kelemahan pada mobil
Diesel adalah emisi gas buang yang tinggi, tingkat opasitas yang tinggi, banyak
bahan bakar solar yang belum terbakar dengan sempurna, dikarenakan viskositas
bahan bakar solar yang tinggi dan jika bahan bakar solar dipanaskan terlebih
dahulu maka proses pembakaran akan lebih sempurna. Kemudian pada mobil
Diesel jarang yang menggunakan pemanas bahan bakar solar pada mobil Diesel.
Disisi lain saat ini sudah ada alat pemanas bahan bakar solar namun harganya
masih terbilang mahal, dan di bengkel otomotif masih belum ada, sehingga
pemahaman mahasiswa kurang komprehensif. Tujuan pembuatan alat pemanas
bahan bakar solar untuk mengurangi emisi gas buang, menurunkan viskositas pada
bahan bakar solar, menurunkan opasitas kendaraan, memaksimalkan pembakaran,
menstabilkan panas pada temperatur 50oC sampai 60oC dan dapat membantu
sarana pembelajaran. Alat pemanas bahan bakar solar dibuat dengan elemen
pemanas yang dapat dikontrol oleh mikrokontroller untuk mendapatkan
temperatur yang optimal. Metode penelitian dilaksanakan dengan survei lapangan
dan kajian referensi, pengambilan data yang dibutuhkan, analisa keakuratan
temperatur keluaran bahan bakar solar setelah dipanaskan oleh alat pemanas
bahan bakar solar. Hasil yang diharapkan berupa alat pemanas bahan bakar solar
menggunakan elemen pemanas dengan sistem kontrol.

BAB I. PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Perkembangan dunia otomotif akhir-akhir ini sangat pesat. Perkembangan

industri otomotif tersebut dapat kita lihat dari banyaknya produk-produk


kendaraan.

Tentu

saja

dengan

menghadirkan

teknologi

teknologi

dan

spesifikasinya. Alat pemanas bahan bakar solar merupakan salah satu


perkembangan dari proses pembakaran pada mobil Diesel. Mobil Diesel pada saat
ini masih banyak memiliki kekurangan. Salah satu polutan dari proses

pembakaran yang dapat menyebabkan polusi pada lingkungan adalah opasitas


mobil Diesel yang sangat tinggi. Gas ini terbentuk oleh proses pembakaran yang
tidak sempurna. Kandungan polutan gas buang dari kendaraan bermotor paling
banyak di pengaruhi oleh ketidak sempurnanya proses pembakaran di dalam
silinder.
Tingginya konsumsi bahan bakar solar dan kadar polusi dari kendaraan
bermotor pada dasarnya dapat dikendalikan dan dikurangi. Salah satu cara yang
paling tepat adalah dengan cara memperbaiki proses pembakaran yang terjadi di
dalam ruang bakar mesin. Syarat agar campuran lebih homogen adalah bahan
bakar harus mudah menguap, sehingga bahan bakar dipanaskan terlebih dahulu
maka diharapkan bahan bakar solar lebih mudah bercampur dengan udara yang
masuk ke dalam ruang bakar. Homogenitas campuran bahan bakar dan udara yang
baik akan mempengaruhi sistem pembakaran sehingga dapat mengurangi emisi
gas buang, konsumsi bahan bakar dan menambah kinerja mesin. Dengan cara
memanaskan bahan bakar solar sebelum masuk ke ruang bakar mesin Diesel dapat
mengurangi emisi gas buang, konsumsi bahan bakar dan menambah kinerja
mesin.
Menurut Rabiman dan Zainal (2011:15) penambahan pemanas solar
ternyata membawa perubahan terhadap torsi, daya, konsumsi dan efisiensi
thermis. Temperature solar yang paling ideal yaitu dengan putaran 850 rpm
sampai 2500 rpm adalah 50C, dimana terjadi peningkatan rata-rata sebesar 4,1%
dan penurunan sfc sebesar 23,4% bila dibandingkan tanpa menggunakan pemanas.
Pembuatan alat ini bertujuan untuk meningkatkan unjuk kerja mesin
namun juga tetap memperhatikan konsumsi bahan bakar yang seminimal mungkin
pada kendaraan tersebut sehingga didapatkan performa kendaraan yang optimal
dengan konsumsi bahan bakar minimal. Pada alat ini menggunakan elemen panas
sebagai pemanas bahan bakar solar yang dapat diatur oleh sistem kontrol sehingga
panas yang dihasilkan alat ini dapat stabil pada temperatur yang di inginkan oleh
pengguna. Pada kondisi terlalu panas bahan bakar solar akan menyebabkan bahan
bakar lebih mudah terbakar sehingga dapat mempersingkat periode prapembakaran, sedangkan dalam kondisi terlalu dingin bahan bakar solar terlalu
kental untuk pembakaran sehingga menyebabkan bahan bakar tidak dapat terbakar
sempurna.

Masih sedikitnya adanya alat pemanas bahan bakar solar pada bengkel
otomotif yang dapat membantu jalanya sistem pembelajaran. Oleh karena itu
penulis mengambil judul Perancangan Pembuatan Alat Pemanas Bahan
Bakar Solar Menggunakan Elemen Pemanas Dengan Sistem Kontrol.
1.2

Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalah adalah

sebagaimana berikut:
1) Bagaimana mekanisme alat pemanas bahan bakar solar dengan sistem
kontrol?
2) Bagaimana menguji akurasi alat pemanas bahan bakar solar dan mengukur
tingkat opasitas gas buang?
1.3 Batasan Masalah
Untuk menyelesaikan permasalahan pada rumusan masalah, diperlukan
batasan masalah untuk memudahkan agar pembahasan berlangsung dengan baik
dan untuk menghindari perluasan masalah yang disusun sebagai berikut :
1) Pada penelitian ini, alat pemanas bahan bakar solar digunakan untuk
mengukur keakuratan alat pemanas dan mengukur tingkat opasitas gas
buang.
2) Pengujian hanya dilakukan pada temparatur 35oC, 40oC, 45oC, 50oC,
55oC dan tingkat opasitas gas buang.
1.4 Rumusan Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah di atas, rumusan tujuan dari penelitian ini
adalah sebagai berikut:
1) Mengetahui mekanisme alat pemanas bahan bakar solar dengan sistem
kontrol.
2) Mengetahui keakuratan alat pemanas bahan bakar dengan sistem kontrol.
1.5 Manfaat
Adapun manfaat yang dapat diambil dari penelitian ini adalah:
1) Dapat dipakai untuk mengetahui pengaruh pemanas bahan bakar solar
terhadap performa mesin Diesel.

2) Mendapat pengetahuan tentang pemanasan bahan bakar solar dengan


sistem kontrol.
3) Mampu mengontrol temperatur bahan bakar solar untuk mendapatkan
hasil pembakaran yang optimal.

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Motor Diesel
(Mohlis, 2007) Motor Diesel adalah motor pembakaran dalam (internal
combustion engine) yang beroperasi dengan menggunakan minyak gas atau
minyak berat sebagai bahan bakar dengan suatu prinsip bahan bakar tersebut
disemprotkan
(diinjeksikan) ke dalam silinder yang di dalamnya sudah terdapat udara dengan
tekanan dan suhu yang tinggi sehingga bahan bakar tersebut secara spontan
terbakar.
Motor Diesel biasa disebut juga sebagai motor penyalaan kompresi
compression ignition engine. Motor Diesel mempunyai langkah yang lebih
panjang dari motor bensin, dalam hal ini besar silinder dan pistonnya lebih besar
dari pada motor bensin, sehingga tenaga yang dihasilkan lebih besar dan mampu
bertahan lama. Oleh karena itu motor Diesel harus dibuat lebih kuat dan kokoh,
sehingga lebih berat dan tahan lama.
Prinsip kerja mesin Diesel hampir sama dengan mesin
bensin

empat

langkah yaitu terdiri dari langkah hisap, langkah kompresi,


langkah

pembakaran

dan langkah buang. Walaupun secara prinsip kerja sama tetapi


ada

beberapa

perbedaan yang terdapat di dalamnya. Adapun prinsip kerja dari


motor

Diesel

adalah :
a. Langkah Hisap

Piston membentuk kevakuman di dalam silinder seperti


pada mesin bensin, piston bergerak ke bawah dari titik mati
atas ketitik mati bawah. Posisi katup masuk terbuka selama
langkah hisap, karena terjadinya kevakuman di dalam silinder
menyebabkan udara segar masuk ke dalam silinder. Posisi
katup
buang tertutup selama langkah hisap. Pada mesin Diesel
hanya

udara

yang

dihisap masuk pada langkah hisap.


b. Langkah Kompresi
Piston bergerak dari titik mati bawah ketitik mati atas.
Pada

saat

ini

kedua

katup dalam posisi tertutup. Udara yang dihisap selama


langkah

hisap

ditekan sampai tekanannya naik sekitar 30 kg/cm 2 (427 psi,


2.942

kPa)

dengan temperatur sekitar 500 C - 800oC.


c. Langkah Pembakaran
Udara yang terdapat di dalam silinder didorong ke ruang
bakar. Pada akhir langkah kompresi, nozle menyemprotkan
bahan bakar yang berupa kabut ke dalam ruang bakar dan
campuran

udara

bahan

bakar

selanjutnya

terbakar

oleh panas yang dibangkitkan oleh perubahan tekanan dan


temperatur
dalam

ruang

di
bakar

yang

naik

secara

drastis.

Energi

pembakaran
mengekspansikan gas dengan sangat cepat dan piston
terdorong

ke

bawah.

Gaya yang mendorong piston ke bawah diteruskan ke batang


torak

dan

poros engkol dan diubah menjadi gerak putar untuk memberi

tenaga

pada

mesin.
d. Langkah Buang
Saat piston menuju titik mati bawah, katup buang
terbuka

dan

gas

pembakaran dikeluarkan melalui katup buang pada saat


piston

bergerak

naik

lagi. Gas akan terbuang habis ketika piston mencapai titik


mati

atas,

dan

setelah itu proses dimulai lagi dengan langkah hisap. Selama


mesin
menyelesaikan empat langkah (hisap, kompresi, pembakaran
dan

buang),

poros engkol berputar dua kali dan menghasikan satu tenaga.


Ini

disebut

dengan siklus Diesel.


Jika dibandingkan dengan mesin bensin pada mesin Diesel
memiliki
keuntungan dan kerugian sebagai berikut :
Keuntungan yang dimiliki mesin Diesel adalah :
a. Mesin Diesel mempunyai efisiensi panas yang lebih besar.
Hal ini berarti bahwa penggunaan bahan bakarnya lebih
ekonomis jika dibandingkan dengan mesin bensin.
b. Mesin Diesel lebih tahan lama dan tidak memerlukan
electric igniter.
c. Momen pada mesin Diesel tidak berubah pada jenjang
tingkat

kecepatan

yang luas.
Kerugian yang dimiliki mesin Diesel adalah :
a. Getaran pada mesin Diesel lebih besar jika dibandingkan
dengan

mesin

bensin
b. Pada daya kuda yang sama konstruksi mesin Diesel jauh
lebih

berat

dari

pada mesin bensin.

c. Pada pemeliharaannya mesin Diesel memerlukan biaya


yang lebih besar.
d. Mesin Diesel mempunyai perbandingan kompresi yang
lebih

tinggi

dan

membutuhkan gaya lebih besar untuk memutarnya.

Gambar2.1 Motor Diesel Putaran Tengah


(Sumber : Anonim, 2014)
2.2 Pembakaran
Proses pembakaran pada motor Diesel tidak berlangsung sekaligus
melainkan membutuhkan waktu dan berlangsung dalam beberapa tahapan. Di
samping itu penyemprotan bahan bakar juga tidak dapat dilaksanakan sekaligus,
tetapi berlangsung antara 30 - 40 derajat sudut engkol. Dalam hal ini tekanan
udara akan naik selama langkah kompresi berlangsung.
Beberapa derajat sebelum torak mencapai TMA, bahan bakar mulai
disemprotkan. Bahan bakar segera menguap dan bercampur dengan udara yang
sudah bersuhu tinggi (karena naiknya tekanan). Karena suhunya sudah melampaui
suhu penyalaan bahan bakar, maka bahan bakar akan terbakar sendiri dengan
cepat.
Waktu yang dibutuhkan antara saat bahan bakar mulai disemprotkan
dengan saat mulai berlangsungnya pembakaran disebut dengan periode persiapan
pembakaran. Waktu persiapan pembakaran ini tergantung pada beberapa faktor,
antara lain gerakan udara dan bahan bakar, derajat pengabutan bahan bakar, serta
perbandingan udara - bahan bakar lokal. Setelah melampaui periode persiapan
pembakaran, bahan bakar akan terbakar dengan cepat.
7

Periode pembakaran, saat terjadi kenaikan tekanan yang berlangsung


sangat cepat disebut dengan periode pembakaran cepat. Periode pembakaran saat
masih terjadi kenaikan tekanan sampai melampaui tekanan yang maksimum pada
tahap berikutnya disebut periode pembakaran terkendali. Dalam hal ini jumlah
bahan bakar yang masuk ke dalam silinder sudah berkurang, bahkan mungkin
suplai sudah dihentikan. Selanjutnya dalam periode pembakaran lanjut terjadi
proses penyempurnaan pembakaran dan pembakaran dari bahan bakar yang belum
sempat terbakar.
Agar dihasilkan efisiensi yang maksimal, pada umumnya diusahakan agar
tekanan gas maksimum terjadi pada saat torak berada antara 15 - 20 derajat sudut
engkol sesudah TMA. Hal ini dapat dilaksanakan dengan jalan mengatur saat
penyemprotan dengan tepat. (Philip Kristanto & Rahardjo Tirtoatmodjo, 2000)

Gambar2.2 Diagram indikator Hipotetik Motor Diesel


(Sumber : Mohlis, 2007 )
2.3 Alat Pemanas Solar
Pemanas solar ini terdiri dari sebuah tabung yang mempunyai 1
saluran masuk dan 1 saluran keluar, dan terdapat elemen pemanas yang
dipasang pada bagian bawahnya serta dilengkapi juga dengan sensor
pengukur temperatur yang diletakkan di dekat saluran pipa keluar dalam
tabung yang kemudian dihubungkan pada sebuah rangkaian pengkondisi
sinyal supaya besarnya pengukuran dapat terbaca pada sebuah multimeter
digital yang digunakan sebagai display.
Elemen pemanas yang digunakan dihubungkan dengan suplai
listrik arus bolak-balik namun sebelumnya dilewatkan dulu ke sebuah
rangkaian potensiometer
yang digunakan untuk mengatur besarnya panas yang dihasilkan oleh elemen
pemanas tersebut.

Alat ini dipasang antara filter solar dan pompa tekanan tinggi,
sehingga dengan demikian solar yang akan masuk ke pompa tekanan
tinggi ini dapat diatur temperaturnya. (Rahardjo Tirtoatmodjo & Willyanto
Anggono, 1999)

Gambar 2.3 Alat Pemanas Solar


(Sumber: Rahardjo Tirtoatmodjo & Willyanto Anggono, 1999)
2.4 Minyak Solar
Bahan bakar solar adalah bahan bakar minyak hasil sulingan dari minyak
bumi mentah bahan bakar ini berwarna kuning cokelat yang jernih (Pertamina:
2005). Penggunaan solar pada umumnya adalah untuk bahan bakar pada semua
jenis mesin Diesel dengan putaran tinggi (di atas 1000 rpm), yang juga dapat
digunakan sebagai bahan bakar pada pembakaran langsung dalam dapur-dapur
kecil yang terutama diinginkan pembakaran yang bersih. Minyak solar ini biasa
disebut juga Gas Oil, Automotive Diesel Oil, High Speed Diesel.
Mesin-mesin dengan putaran yang cepat (>1000 rpm) membutuhkan
bahan bakar dengan karakteristik tertentu yang berbeda dengan minyak Diesel.
Karakteristik yang diperlukan berhubungan dengan auto ignition (kemampuan
menyala sendiri), kemudahan mengalir dalam saluran bahan bakar, kemampuan
untuk teratomisasi, kemampuan lubrikasi, nilai kalor dan karakteristik lain
(Semar, 2010).
Bahan bakar solar mempunyai sifat-sifat utama, yaitu :

a. Tidak mempunyai warna atau hanya sedikit kekuningan


dan berbau.
b. Encer dan tidak mudah untuk menguap pada suhu
normal
c. Mempunyai titik nyala yang tinggi (40oC sampai 100oC).
d. Terbakar secara spontan pada suhu 350oC.
e. Mempunyai berat jenis sekitar 0,82-0,86.
f. Mampu

menimbulkan

panas

yang

besar

(10.500

kcal/kg).
g. Mempunyai kandungan sulfur yang lebih besar dari
pada bensin.
2.1 Tabel Spesifikasi Bahan Bakar Solar

(Sumber : Mohlis, 2007)


2.5 Elemen Pemanas
Elemen pemanas merupakan piranti yang mengubah energi listrik menjadi
energi panas melalui proses Joule Heating. Prinsip kerja elemen panas adalah
arus listrik yang mengalir pada elemen menjumpai resistansinya, sehingga
menghasilkan panas pada elemen.
Persyaratan elemen pemanas antara lain :
1 Harus tahan lama pada suhu yang dikehendaki.
2 Sifat mekanisnya harus kuat pada suhu yang dikehendaki.

10

Koefisien muai harus kecil, sehingga perubahan bentuknya pada suhu

yang dikehendaki tidak terlalu besar.


4 Tahanan jenisnya harus tinggi.
5 Koefisien suhunya harus kecil, sehingga arus kerjanya sedapat
mungkin konstan.

Gambar 2.4 Elemen Pemanas


(Sumber: Anonim)
Hal yang dipertimbangkan dalam pemilihan elemen pemanas:
1 Maximum element surface temperature (MET)
2 Maximum Power/Surface Loading area radiasi permukaan elemen,
diyatakan dalam (Watt/cm2)
MET, adalah suhu yang dicapai saat bahan elemen mulai mengalami
perubahan bentuk atau saat umur hidup bahan elemen menjadi singkat yang
mengakibatkan elemen menjadi putus atau hubung singkat. Semakin tinggi MET
maka akan semakin tinggi pula Maximum Power Loading.
3 Kelas/tipe elemen pemanas yang umum dipakai:
1 Metallic
2 Silicon carbide (SiC)
3 Molybdenum disilicide (MoSi2)
Pada tipe metallic, bahan yang digunakan untuk elemen pemanas antara
lain:
1 Nichrome/nickel-chromium (NiCr): wire and strip
2 Kanthal / iron-chromium-aluminum (FeCrAl) : wires
3 Cupronickel (CuNi): alloys for low temperature heating
Pada klas metallic, sebagian besar elemen pemanas menggunakan bahan
nichrome 80/20 (80% nikel, 20% kromium) dalam bentuk kawat, pita, atau strip.
80/20 nichrome merupakan bahan yang baik, karena memiliki ketahanan yang
relatif tinggi dan membentuk lapisan kromium oksida ketika dipanaskan untuk
pertama kalinya, sehingga bahan di bawah kawat tidak akan teroksidasi,
mencegah kawat terputus atau terbakar.

11

2.6 Sensor Termokopel


Termokopel adalah sensor suhu yang banyak digunakan untuk mengubah
perbedaan suhu dalam benda menjadi perubahan tegangan listrik (voltase).
Termokopel yang sederhana dapat dipasang, dan memiliki jenis konektor standar
yang sama, serta dapat mengukur temperature dalam jangkauan suhu yang cukup
antara -200oC sampai 1800oC dengan batas kesalahan pengukuran kurang dari
1C.
Prinsip kerja termokopel secara sederhana berupa dua buah kabel dari jenis
logam yang berbeda ujungnya, hanya ujungnya saja, disatukan (dilas). Titik
penyatuan ini disebut hot junction. Prinsip kerjanya memanfaatkan karakteristik
hubungan antara tegangan (volt) dengan temperatur. Setiap jenis logam, pada
temperatur tertentu memiliki tegangan tertentu pula. Pada temperatur yang sama,
logam A memiliki tegangan yang berbeda dengan logam B, terjadilah perbedaan
tegangan (kecil sekali, miliVolt) yang dapat dideteksi.
Kerapatan electron untuk setiap bahan logam berbeda tergantung dari jenis
logam. Jika dua batang logam disatukan salah satu ujungnya, dan kemudian
dipanaskan, maka elektron dari batang logam yang memiliki kepadatan tinggi
akan bergerak ke batang yang kepadatan elektronnya rendah, dengan demikian
terjadilah perbedaan tegangan diantara ujung kedua batang logam yang tidak
disatukan

atau

dipanaskan.

Besarnya

termolistrik

atau

gem

(gaya

electromagnet ) mengalir dari titik hot-juction ke cold-junction atau sebaliknya.


Setelah terdeteksi perbedaan tegangan (volt). Beda tegangan ini linear dengan
perubahan arus, sehingga nilai arus ini bisa dikonversi kedalam bentuk tampilan
display. Sebelum dikonversi, nilai arus di komparasi dengan nilai acuan dan nilai
offset di bagian komparator, fungsinya untuk menerjemahkan setiap satuan
amper ke dalam satuan volt kemudian dijadikan besaran temperatur yang
ditampilkan melalui layar/monitor berupa seven segmen yang menunjukkan
temperatur yang dideteksi oleh termokopel. ( Yusman Wiyatmo dan Budi
Purwanto, 2015: 2-11)
2.7 Mikrokontroller
Mikrokontroler AVR merupakan pengontrol utama standar industri dan
riset saat ini. Hal ini dikarenakan berbagai kelebihan yang dimilikinya

12

dibandingkan mikroprosesor, antara lain, murah, dukungan software dan


dokumentasi yang memadai, dan memerlukan komponen pendukung yang sedikit
salah satu tipe mikrokontroler AVR untuk aplikasi standar yang memiliki fitur
memuaskan ialah ATmega8535/16 atau ATtiny13 (Budiharto dkk, 2010:293)
2.7.1 Mikrokontroler AVR ATmega16
Mikokontroler AVR memiliki arsitektur 8 bit, yang semua instruksinya
dikemas dalam kode 16-bit dan sebagian besar instruksi dieksekusi dalam 1 (satu)
siklus clock. AVR berteknologi RISC (Reduced Instruction Set Computing),
sedangkan

seri

MCS51

berteknologi

CISC

(Complex

Instruction

Set

Computing). AVR dapat dikelompokkan menjadi 4 kelas, yaitu keluarga ATtiny,


keluarga AT90Sxx, keluarga ATMega, dan AT86RFxx. Pada dasarnya yang
membedakan masing masing kelas adalah memori, peripheral, dan fungsinya.
Berdasarkan spesifikasi Mikrokontroler ATmega16 menurut Budiharto,dkk
(2010:295) di dalam Mikrokontroler ATmega 16 terdiri dari:
1. Saluran I/O sebanyak 32 buah, yaitu Port A, Port B, Port C, dan Port D.
ADC (Analog to Digital Coverter) 10 bit sebanyak 8 chanel.
2. Tiga buah Timer/Counter dengan kemampuan pembandingan.
3. CPU yang terdiri dari 32 buah register
4. 131 instruksi handal yang umumnya hanya membutuhkan 1 siklus clock
5. Watchdog Timer dengan osilator Internal
6. 2 buah timer/counter 8 bit
7. 1 buah timer/counter 16 bit
8. Tegangan operasi 2.7V-5.5V pada ATmega 16
9. Internal SRAM sebesar 1 KB
10. Memori Flash sebesar 16 KB dengan kemampuan Read While Write
11. EEPROM sebesar 512 byte yang dapat deprogram saat operasi
12. Antarmuka komparator analog
13. 4 chanel PWM
14. 32x8 general purpose register
15. Hampir mencapai 16 MIPS pada Kristal 16 MHz
16. Port USART programmable untuk komunikasi serial

13

Gambar 2.5 Konfigurasi Pin


(Sumber : Sidik, 2012: 3)
1) Konfigurasi port ATMega16
Mikrokontroler AVR ATMega memiliki 40 pin dengan 32 pin diantaranya
digunakan sebagai port paralel. Satu port paralel terdiri dari 8 pin, sehingga
jumlah port pada mikrokontroler adalah 4 port, yaitu port A, port B, port C dan
port D. Sebagai contoh adalah port A memiliki pin antara port A.0 sampai dengan
port A.7, demikian selanjutnya untuk port B, port C, port D. Diagram pin
mikrokontroler dapat dilihat pada gambar berikut:
Tabel 2.2 Konfigurasi Pin pada Mikrokontroler ATMega16
VCC

Tegangan suplai (5 volt)

GND

Ground

RESET

Input reset level rendah, pada pin ini selama lebih dari
panjang pulsa minimum akan menghasilkan reset
walaupun clock sedang berjalan. RST pada pin 9
merupakan reset dari AVR. Jika pada pin ini diberi
masukan low selama minimal 2 machine cycle maka

14

sistem akan di-reset


XTAL 1

Input penguat osilator inverting dan input pada


rangkaian operasi clock internal

XTAL 2

Output dari penguat osilator inverting


Pin tegangan suplai untuk port A dan ADC. Pin ini

Avcc

harus dihubungkan ke Vcc walaupun ADC tidak


digunakan, maka pin ini harus dihubungkan ke Vcc
melalui low pass filter

Aref

pin referensi tegangan analog untuk ADC


pin untuk analog ground. Hubungkan kaki ini ke GND,

AGND

kecuali jika board memiliki analog ground yang


terpisah

Berikut ini adalah penjelasan dari pin mikrokontroler ATMega16 menurut portnya masing-masing:
a. Port A
Pin33 sampai dengan pin 40 merupakan pin dari port A. Merupakan 8 bit
directional port I/O. Setiap pin-nya dapat menyediakan internal pull-up resistor
(dapat diatur per bit). Output buffer port A dapat memberi arus 20 mA dan dapat
mengendalikan display LED secara langsung. Data Direction Register port A
(DDRA) harus di-setting terlebih dahulu sebelum port A digunakan. Bit-bit
DDRA diisi 0 jika ingin memfungsikan pin-pin port A yang disesuaikan sebagai
input, atau diisi 1 jika sebagai output. Selain itu, pin-pin pada port A juga
memiliki fungsi-fungsi alternatif khusus seperti yang dapat dilihat dalam tabel:
Tabel 2.3 Penjelasan pin pada Port A
Pin

Keterangan

PA.7

ADC7 (ADC Input Channel

15

7)
PA.6

PA.5

PA.5

PA.3

PA.2

PA.1

PA.0

ADC6 (ADC Input Channel


6)
ADC7 (ADC Input Channel
5)
ADC4 (ADC Input Channel
4)
ADC3 (ADC Input Channel
3)
ADC2 (ADC Input Channel
2)
ADC1 (ADC Input Channel
1)
ADC0 (ADC Input Channel
0)

b. Port B
Pin 1 sampai dengan pin 8 merupakan pin dari port B. Merupakan 8 bit directional
port I/O. Setiap pin-nya dapat menyediakan internal pull-up resistor (dapat diatur
per bit). Output buffer port B dapat memberi arus 20 mA dan dapat
mengendalikan display LED secara langsung. Data Direction Register port B
(DDRB) harus di-setting terlebih dahulu sebelum port B digunakan. Bit-bit
DDRB diisi 0 jika ingin memfungsikan pin-pin port B yang disesuaikan sebagai
input, atau diisi 1 jika sebagai output. Selain itu, pin-pin port B juga memiliki
fungsi-fungsi alternatif khusus seperti yang dapat dilihat dalam tabel:
Tabel 2.4 Penjelasan Pin pada Port B
Pin

Keterangan

PB.7

SCK (SPI Bus Serial Clock)

16

PB.6

VISO (SPI Bus Master Input/Slave Output)

PB.5

VOSI (SPI Bus Master Output/Slave Input)

PB.4

SS (SPI Slave Select Input)

PB.3

PB.2
PB.1
PB.0

AIN1 (Analog Comparator Negative Input)OCC


(Timer/Counter0 Output Compare Match Output)
AIN0 (Analog Comparator Positive Input)INT2
(External Interrupt2 Input)
T1 (Timer/Counter1 External Counter Input)
T0 (Timer/Counter0 External Counter Input)XCK
(JSART External Clock Input/Output)

c. Port C
Pin 22 sampai dengan pin 29 merupakan pin dari port C. Port C sendiri
merupakan port input atau output. Setiap pin-nya dapat menyediakan internal
pull-up resistor (dapat diatur per bit). Output buffer port C dapat memberi arus 20
mA dan dapat mengendalikan display LED secara langsung. Data Direction
Register port C (DDRC) harus di-setting terlebih dahulu sebelum port C
digunakan. Bit-bit DDRC diisi 0 jika ingin memfungsikan pin-pin port C yang
disesuaikan sebagai input, atau diisi 1 jika sebagai output. Selain itu, pin-pin port
D juga memiliki fungsi-fungsi alternatif khusus seperti yang dapat dilihat dalam
table berikut:
Tabel 2.5 Penjelasan Pin pada Port C

17

d. Port D
Pin 14 sampai dengan pin 20 merupakan pin dari port D. Merupakan 8 bit
directional port I/O. Setiap pin-nya dapat menyediakan internal pull-up resistor
(dapat diatur per bit). Output buffer port D dapat memberi arus 20 mA dan dapat
mengendalikan display LED secara langsung. Data Direction Register port D
(DDRD) harus di-setting terlebih dahulu sebelum port D digunakan. Bit-bit
DDRD diisi 0 jika ingin memfungsikan pin-pin port D yang disesuaikan sebagai
input, atau diisi 1 jika sebagai output. Selain itu, pin-pin port D juga memiliki
fungsi-fungsi alternatif khusus seperti yang dapat dilihat dalam tabel.
Tabel 2.6 Penjelasan Pin pada Port D
Pin

Keterangan

PD.0

RDX (UART input line)

PD.1

TDX (UART output line)

PD.2

INT0 (external interrupt 0 input)

PD.3

INT1 (external interrupt 1 input)

PD.4

PD.5

OC1B (Timer/Counter1 output compareB match


output)
OC1A (Timer/Counter1 output compareA match
output)

PD.6

ICP (Timer/Counter1 input capture pin)

PD.7

OC2 (Timer/Counter2 output compare match output)

2.8 Liquid Cristal Display (LCD) 16x2


LCD adalah lapisan dari campuran organic antara lapisan kaca bening
dengan elektroda transparan indium oksida dalam bentuk tampilan seven-segment
dan lapisan elektroda pada kaca belakang. Ketika elektroda diaktifkan dengan
18

medan listrik (tegangan), molekul organic yang panjang dan silindris


menyesuaikan diri dengan elektroda dari segmen. Lapisan sandwich memiliki
polarize cahaya vertikal depan dan polarizer cahaya horizontal belakang yang
diikuti dengan lapisan reflektor. Cahaya yang dipantulkan tidak dapat melewati
molekul-molekul yang telah menyesuaikan diri dan segmen yang diaktifkan
terlihat menjadi gelap dan membentuk karakter data yang ingin ditampilkan.
(Saputro, 2014:16).

Gambar 2.6 LCD 16x2


(Sumber : https://ae01.alicdn.com/For-Raspberry-PI-LCD.jpg)
Register kontrol yang terdapat dalam suatu LCD diantaranya adalah,
1. Register perintah yaitu register yang berisi perintah-perintah

dari

mikrokontroler ke panel LCD (Liquid Crystal Display) dapat dibaca pada saat
pembacaan data.
2. Register data yaitu register untuk menuliskan atau membaca data dari atau ke
DDRAM. Penulisan data pada register akan menempatkan data tersebut ke
DDRAM sesuai dengan alamat yang telah diatur sebelumnya
Pin, kaki atau jalur input dan control dalam suatu LCD (Liquid Crystal
Display) diantaranya adalah,
1. Pin data adalah jalur untuk memberikan data karakter yang ingin ditampilkan
menggunakan LCD (Liquid Crystal Display) dapat dihubungkan dengan bus
data dari rangkaian lain seperti mikrokontroler dengan lebar data 8 bit.
2. Pin RS (Register Select) berfungsi sebagai indikator atau yang menentukan
jenis data yang masuk, apakah data atau perintah. Logika low menunjukan
yang masuk adalah perintah, sedangkan logika high menunjukan data.
3. Pin R/W (Read Write) berfungsi sebagai instruksi pada modul jika low tulis
data, sedangkan jika high baca data.
4. Pin E (Enable) digunakan untuk memegang data baik masuk atau keluar.

19

5. Pin VLCD berfungsi mengatur kecerahan tampilan (kontras) dimana pin ini
dihubungkan dengan trimpot 5 Kohm, jika tidak digunakan dihubungkan ke
ground, sedangkan tegangan catu daya LCD sebesar 5 Volt.

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN


3.1 Kerangka konsep penelitian
Kerangka konsep penelitian ditunjukkan dalam diagram blok sebagaimana
Gambar 3.1.

ON/OFF

LCD
Mikrokontroler

Sensor
Termokopel

Alat Pemanas
Bahan Bakar
Solar

Gambar 3.1 Blok Diagram alat pemanas bahan bakar solar.


Cara kerja alat pemanas bahan bakar solar pada blok diagram Gambar 3.1
sebagai berikut:
Berawal

dari

tombol

On/Off

kemudian

di

hubungkan

dengan

mikrokontroller sebagai input, dan sensor termokopel yang mengirim ke


mikrokontroller. Mikrokontroller akan mengolah data dan memproses sinyal yang

20

di dapat, kemudian memerintahkan elemen pemanas untuk menyala dan


mematikan agar temperatur stabil.
3.2 Jenis Penelitian
Metode yang di gunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian
eksperimen. Dalam desain penelitian ini terdapat variabel bebas (independent
variables) yang akan diberi perlakuan, dan hasil variabel terikat (dependent
variable) akan diobservasi.
3.3 Variabel Penelitian
Variabel penelitian ini yaitu :
1. Variabel bebas (independent variables)
Variasi temperatur bahan bakar solar 35oC, 40oC, 45oC, 50oC, 55oC
sebelum dipanaskan.
2. Variabel terikat (dependent variable)
Variable terikat dalam penelitian ini adalah keakuratan alat pemanas bahan
bakar dengan temperatur optimal sebesar 50oC sampai dengan 60oC dan
tingkat opasitas.
3.4 Peralatan dan Bahan
3.5.1 Alat
Dalam proses penelitian ini terdapat alat-alat yang diperlukan untuk
menunjang dalam proses kegiatan penelitian, berikut alat dan penjelasannya:
1. Alat Tulis
Alat tulis ini digunakan dalam membantu proses pencatatan saat
melakukan pengambilan data, diharap saat melakukan pengambilan data
menjadi lebih siap.
2. Tool Box
Dalam tool box ini terdapat baik kunci pass ring, obeng dan tang dimana
alat-alat ini digunakan dalam membantu pemasangan alat pemanas bahan
bakar pada mesin diesel.
3. Gelas Ukur
Multimeter ini digunakan untuk melakukan pengukuran debit aliran bahan
bakar yang telah dipanaskan.
4. Termometer

21

Termometer disini digunakan untuk melakukan kalibrasi pada sensor suhu,


sehingga diharapkan pembacaan sensor suhu dapat sesuai dengan
pembacaan termometer.
3.5.2

Bahan
Dalam proses analisis ini terdapat bahan yang digunakan untuk membantu

dalam proses penelitian, dimana bahan ini adalah pemanas bahan bakar yang
dikontrol dengan mikrokontroler sebagai media penelitian. Pemanas bahan bakar
ini digunakan untuk menurunkan atau menaikan temperatur bahan bakar, sehingga
diharapkan panas dari bahan bakar tersebut sesuai dengan temperatur bahan bakar
yang ditentukan.

3.5 Tempat dan Waktu Penelitian


a. Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan di dua tempat dengan rinciannya sebagai berikut.
Pembuatan simulator dan pengambilan data alat pemanas bahan bakar solar
dilakukan di Bengkel Otomotif Jurusan Teknik Mesin Politeknik Negeri Malang.
b. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan mulai bulan November 2016 hingga bulan April
2017. Selama periode ini akan dilakukan rangkaian kegiatan sesuai tabel dibawah
ini. Pelaksanaan ini dilakukan dengan berbagai kegiatan yang telah disusun agar
semua kegiatan dapat terselesaikan sesuai jadwal yang telah ditentukan. Jadwal
dari penelitian ini terdapat pada tabel 3.2

22

Mulai

Permasalahan

Persiapan

Perancangan Alat

Tabel 3.2. Jadwal penelitian.

Studi Literatur

Pembuatan Alat

3.6 Diagram
Alir Penelitian
Pengujian
Alat Pemanas
Diagram alir penelitian ditunjukan pada gambar 3.3 sebagai berikut :

Tidak

Alat Berfungsi
dengan Baik

Ya

Pengambilan Data Keakuratan Tout dan opasitas

Analisis Data

Kesimpulan
23

Selesai

Gambar 3.3 Diagram Alir Penelitian


3.7 Prosedur Penelitian
Prosedur pembuatan alat pemanas bahan bakar solar adalah sebagai berikut :
1. Mulai
Merupakan langkah pertama untuk mempersiapkan penelitian alat
pemanas bahan bakar solar.
2. Perumusan masalah
Merumuskan permasalahan dalam penelitian dengan cara menuangkan
langkah-langkah pengujian yang akan di lakukan pada kalimat pertanyaan.
3. Persiapan
Merupakan tahapan awal dari penelitian, penguji melakukan persiapan dan
merencanakan apa yang akan diteliti nantinya sesuai judul, maka penguji
menyiapkan segala sesuatu sebagai langkah awal penelitian.
4. Studi literature
Merupakan kegiatan mencari informasi dan referensi pada buku
perpustakaan, jurnal, dan skripsi untuk mencari permasalahan dari alat
pemanas bahan bakar solar.

24

5. Perancangan alat
Pada tahapan ini dilakukan perancangan alat sistem mekanik
menggunakan sensor beserta control unit, dan alat pemanas bahan bakar
solar.
6. Pembuatan alat
Merupakan tahapan perakitan komponen alat pemanas bahan bakar solar.
7. Pengujian alat
Pengujian komponen yang telah dipasang pada alat untuk melihat apakah
berfungsi atau tidak, apabila alat tidak berfungsi maka akan dilakukan
perbaikan, dengan mengulangi tahapan sebelumnya sampai uji coba
berhasil sesuai dengan rencana. Sedangkan jika alat berfungsi maka akan
dilanjutkan dengan pengambilan data, menganalisa data dan kesimpulan.
8. Pengambilan data
Data yang akan di ambil pada tahapan ini yaitu :
a) Variasi temperatur bahan bakar solar 35oC, 40oC, 45oC, 50 C,
55 C sebelum dipanaskan.
b) Keakuratan panas bahan bakar solar dengan temperatur optimal
sebesar 50oC sampai dengan 60oC dan tingkat opasitas.
9. Analisis data
setelah data terkumpul maka akan di lakukan analisis data dengan
menggunakan metode eksperimen.
10. Kesimpulan dan saran
Berdasarkan analisis data maka akan di simpulkan hasil penelitian.
11. Selesai
Apabila proses pengujian telah sesuai dengan yang diharapkan maka
penelitian ini telah selesai.
3.8 Rencana Pengambilan Data
Rencana pengambilan data pada kegiatan penelitian ini berupa pengambilan
data variasi temperatur yang dipanaskan oleh alat pemanas bahan bakar solar
terhadap temperatur keluaran bahan bakar solar dan opasitas gas buang, Data yang
diperoleh ditampilkan pada Tabel 3.4 sebagai berikut:
Tabel 3.4 Rencana Pengambilan Data.

No

Temperatur bahan
bakar ( C)

35 C

Opasitas

Temperatur 50 C - 60 C

25

40 C

45 C

50 C

55 C

3.9 Pengolahan Data


Pada penelitian ini pengolahan data yang akan dilakukan adalah sebagai
berikut:
1. Data temperatur bahan bakar setelah dipanaskan dan debit yang dibutuhkan
dimasukkan kedalam tabel 3.4.
2. Setelah data lengkap selanjutnya data tersebut diolah menggunakan metode
Anova Faktorial.
3. Untuk mempermudah analisa data, data diubah menjadi grafik perbandingan.
4. Setelah pengolahan data dan analisa selesai diambil kesimpulan dan dapat
diketahui pengaruh variasi temperatur terhadap keluaran temperatur bahan
bakar setelah dipanaskan dan debit.

26