You are on page 1of 3

KEGIATAN OPERASI PENAMBANGAN

Kegiatan Operasi Penambangan


a.

Pembersihan Lahan (land clearing)


Kegiatan pembersihan lahan (Land Clearing) akan dilakukan sebelum masa konstruksi
dilakukan. Land clearing pada periode konstruksi hanya terbatas pada lokasi box cut yang akan digali
dan areal yang akan digunakan untuk fasilitas penunjang seperti stockpile, coal processing plant,
workshop, perumahan karyawan dan lain-lain. Area yang akan dibuka sekitar 15 ha pada masa
konstruksi, dan pada saat memasuki tahap penambangan, akan dibuka lagi sekitar 15 ha areal yang
akan dijadikan tambang terbuka.
Penebangan pohon dilakukan pertama kali pada kegiatan ini dengan menggunakan chain
saw dan selanjutnya dilakukan pembersihan lahan dengan menggunakan bulldozer. Jika pohon-pohon
yang ditebang ada yang bernilai ekonomis, maka peruntukkannya diserahkan pada yang berhak atas
pemanfaatan kayu - kayu tersebut (pemegang IUPHHK/IPK).

b.

Penanganan Tanah Pucuk (top soiling)


Tanah pucuk yang dijumpai di areal penggalian mempunyai ketebalan antara 30 100 cm.
Mengingat tanah pucuk ini kaya akan unsur hara yang sangat diperlukan untuk penanaman kembali
pada areal bekas tambang, maka penanganannya harus dilakukan dengan hati-hati. Rencana
penanganan dan penyimpanan tanah pucuk :
Pengupasan tanah sebaiknya jangan dilakukan dalam keadaan basah (musim penghujan) untuk
menghindari pemadatan dan rusaknya struktur tanah;
Timbunan tanah pucuk tidak melebihi dari 2 meter;
Dilakukan penanaman langsung dengan tanaman penutup (cover crop) yang cepat tumbuh dan
berumur pendek untuk menutup permukaan tanah agar terhindar dari erosi akibat hujan.
Alat berat yang digunakan untuk membongkar dan mendorong tanah pucuk apabila jarak
ke tempat penimbunan kurang dari 200 m adalah bulldozer D85SS dan apabila melebihi jarak
tersebut,
bulldozer
tidak
efisien
lagi
sehingga
harus
digunakan
kombinasi back
hoe berupa excavator dan dump truck. Tanah pucuk ini akan dikembalikan pada lokasi bekas
tambang yang sudah ditimbun dengan overburden atau menempati bagian paling atas dengan
ketebalan minimal 0.15 m, sehingga penanaman tumbuhan dapat dilakukan. Pada saat meratakan
tanah pucuk nantinya sebelum ditanami digunakan bulldozer. Lokasi penimbunan tanah pucuk
ditempatkan di sebelah Barat masing-masing Pit yang ada.

c.

Penggalian Tanah Penutup (overburden removal)


Penggalian overburden menggunakan bulldozer dan back hoe, dimana bulldozer berfungsi
sebagai alat gali, alat dorong dan alat berai dan pengumpul material untuk dimuat ke dump
truck dengan menggunakan back hoe. Bulldozer yang digunakan adalah D 85 ESS dan alat gali muat
adalah excavator PC 300 LCSE-7 serta alat angkut berupa dump truck HINO 22 Ton.
Berdasarkan kajian geoteknik, tinggi lereng tunggal yang masih stabil pada lapisan batuan
yang menjadioverburden adalah 10 m dengan sudut 60 serta mempunyai faktor keamanan > 1,3.
Mengingat alat gali yang digunakan yaitu excavator PC 300LCSE-7 mempunyai jangkauan lengan gali
maksimum 10,5 m, maka tinggi lereng penggalian yang optimal adalah 10 m. Pada pelaksanaan
penambangan lebar lantai kerja awal (working bench) sebesar 12,0 m dengan pertimbangan alat gali
dan dump truck dapat beroperasi dengan leluasa. Dalam operasinya lebar working bench yang 12,0
m tersebut dapat berkurang menjadi 6,0 m disesuaikan dengan kebutuhan.

Pada awal produksi di setiap Pit, tanah penutup akan diangkut dan dibuang di lokasi
pembuangan yang berada di luar areal penggalian (outside dump). Selanjutnya penimbunan, apabila
kegiatan penambangan sudah selesai pada suatu area, maka bekas areal penggalian (mined out)
tersebut akan dijadikan lokasi pembuangan untuk menimbun lubang-lubang yang ada. Cara
penimbunan seperti ini dapat mengurangi dampak-dampak negatif pada lingkungan karena lubanglubang bekas tambang tertutup kembali dan selanjutnya diselimuti dengan tanah pucuk sebelum
ditanami kembali. Bentuk dari bekas tambang yang siap ditanami kembali ada dua macam, yaitu :
a.

Berbentuk jenjang (trap) dengan ketinggian jenjang relatif rendah yaitu sekitar 1 m dan lebar
sekitar 6 m. Selain sulit melakukan penimbunan tanah pucuk, bentuk seperti ini memerlukan
biaya mahal untuk membentuk jenjang - jenjang tersebut. Selain itu, juga mengakibatkan
tingkat erosi tanah pucuk yang cukup tinggi.

b.

Bentuk kedua adalah dibuat rata, dimana cara ini relatif lebih murah dan mudah dalam
penimbunan kembali serta menyebarkan tanah pucuk, tingkat erosi juga relatif rendah.

Dengan memperhatikan pertimbangan tersebut, maka penimbunan tanah penutup akan dilakukan
dengan membuat bentuk rata.
d.

Pembersihan Lapisan Batubara (Coal Cleaning)


Penggalian batubara dilakukan secara hati-hati agar batubara yang diproduksi adalah batubara
yang bersih, sehingga tidak diperlukan proses pencucian. Batubara hanya akan mengalami proses
peremukan dengan menggunakan mesin peremuk (crushing plant).
Setelah tanah penutup dibongkar dan atap lapisan batubara (roof) sudah mulai terkupas,
maka dilakukan pembersihan lapisan batubara tersebut sampai ketebalan sekitar 5 cm. Pada lantai
batubara (floor) juga disisakan ketebalan batubara yang tidak tertambang sekitar 5 cm. Hal ini bertujuan
untuk menjaga agar batuan atap maupun batuan lantai tidak ikut terbawa pada saat pengambilan
batubara.

e.

Penggalian dan Pengangkutan Batubara (loading and hauling )


Lapisan batubara yang siap diproduksi mulai digali dengan menggunakan excavator, disamping
itu juga menggunakan bulldozer yang mempunyai ripper, sehingga pemberaian batubara dapat
dilakukan dan excavatordapat lebih optimal digunakan untuk mengumpulkan dan memuat batubara ke
atas dump truck. Faktor penting yang harus diperhatikan adalah keseimbangan kombinasi antar alat
berai, alat gali dan muat, serta alat angkut. Keseimbangan tersebut ditentukan oleh dua kegiatan, yaitu
pengambilan dan pemuatan batubara oleh alat gali dan muat serta pengangkutan batubara hasil
tambang ke Run of Mine (ROM) stockpile.

f.

Peremukan Batubara (crushing)


Batubara
dari front tambang
diangkut
ke tempat
penimbunan
batubara
di ROM
Stockpile dengan menggunakan dumptruck dengan kapasitas 25 ton. Batubara tersebut ada yang
ditimbun atau ditumpuk sementara dan ada juga yang langsung dimasukan ke crushing plant.

g.

Pengangkutan Batubara ke pelabuhan (hauling to port)


atubara yang sudah diremukan di crushing plant kemudian diangkut menggunakan dumptruck
ke stockpile/pelabuhan Tanjung Kelanis, berjarak 210 km.

Kegiatan Pasca Penambangan


a. Reklamasi
Tanah penutup yang digali pada operasi penambangan akan dibuang ke tempat yang sudah
ditentukan (outside dump) atau dibuang ke lubang bekas penambangan (inside dump). Kemudian Top
soil ditebarkan di atas tanah penutup tersebut. Kemudian dilakukan revegetasi terhadap lokasi-lokasi

yang telah ditimbun kembali menggunakan tumbuh-tumbuhan setempat yang mudah dan cepat
beradaptasi dengan lingkungan di bekas areal penambangan tersebut.
b. Penutupan Tambang
Dilakukan revegetasi terhadap lokasi-lokasi yang telah ditimbun kembali menggunakan
tumbuh-tumbuhan setempat yang mudah dan cepat beradaptasi dengan lingkungan di bekas areal
penambangan tersebut.

Pada umumnya proses pembukaan lahan tambang dimulai dengan pembersihan lahan (land clearing) yaitu menyingkirkan dan
menghilangkan penutup lahan berupa vegetasi kemudian dilanjutkan dengan penggalian dan pengupasan tanah bagian atas (top soil)
atau dikenal sebagai tanah pucuk. Setelah itu dilanjutkan kemudian dengan pengupasan batuan penutup (overburden), tergantung pada
kedalaman bahan tambang berada. Proses tersebut secara nyata akan merubah bentuk topografi dari suatu lahan, baik dari lahan yg
berbukit menjadi datar maupun membentuk lubang besar dan dalam pada permukaan lahan khususnya terjadi pada jenis surface
mining.
Setelah didapatkan bahan tambang maka dilakukanlah proses pengolahan. Proses pengolahan dilakukan untuk memisahkan bahan
tambang utama dengan berbagai metode hingga didapatkan hasil yang berkualitas. Pada proses pemisahan ini kemudian menghasilkan
limbah yang disebut tailing. Tailing adalah satu jenis limbah yang dihasilkan oleh kegiatan tambang dan kehadirannya dalam dunia
pertambangan tidak bisa dihindari. Sebagai limbah sisa pengolahan batuan-batuan yang mengandung mineral, tailing umumnya masih
mengandung mineral-mineral berharga. Kandungan mineral pada tailing tersebut disebabkan karena pengolahan bijih untuk
memperoleh mineral yang dapat dimanfaatkan pada industri pertambangan tidak akan mencapai perolehan (recovery) 100% (Pohan,
dkk, 2007).
Proses akhir dari aktivitas pertambangan adalah kegiatan pascatambang yang terdiri dari reklamasi dan penutupan tambang (mining
closure). Setiap perusahaan tambang wajib melakukan hal tersebut sebagaimana telah diatur oleh pemerintah (Peraturan Menteri Energi
dan Sumberdaya Mineral Nomor 18 tahun 2008).