You are on page 1of 36

1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Di Indonesia jumlah penyalah guna narkoba diperkirakan ada sebanyak
3,8 juta sampai 4,1 juta orang dalam setahun terakhir (current users) pada
kelompok usia 10-59 tahun di tahun 2014.1
Dalam Kedokteran, sebagian besar golongan Narkotika, Psikotropika dan
Zat Adiktif lainnya (NAPZA) masih bermanfaat bagi pengobatan, namun bila
disalahgunakan atau digunakan tidak menurut indikasi medis atau standar
pengobatan terlebih lagi bila disertai peredaran di jalur ilegal, akan berakibat
sangat merugikan bagi individu maupun masyarakat luas khususnya generasi
muda.
Fenomena penyalahgunaan zat mempunyai banyak implikasi untuk
penelitian otak, psikiatri klinis, dan masyarakat pada umumnya. Dinyatakan
dengan sederhana, beberapa zat dapat mempengaruhi keadaan mental yang
dirasakan dari dalam (sebagai contohnya, mood) maupun aktivitas yang dapat
diobservasi dari luar, yaitu perilaku.1
Prevalensi pasien yang mengalami gejala psikotik dengan riwayat
pengguna NAPZA di Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO) Jakarta selama
2011-2012. Beberapa dari zat adiktif dapat menimbulkan efek pada sistem saraf
baik pada sentral maupun pada sistem saraf perifer, sehingga dapat menimbulkan
gangguan jiwa. Dari total 131 pasien yang mengalami gejala psikotik, 96 orang
memiliki riwayat pengguna NAPZA. Prevalensi sebesar 73,3% yang sebagian
besarnya berjenis kelamin laki-laki (90,6%), berasal dari kelompok usia 30-39
tahun (49%), dari kelompok tidak bekerja (53,1%), dan lulusan SMA (55,2 %).
Sebagian besar dari populasi merupakan pengguna 2 jenis zat dengan shabu
sebagai jenis yang paling banyak digunakan (66,7%).

2

BAB II
STATUS PASIEN
I. IDENTIFIKASI PASIEN
a. Nama
b. Jenis kelamin
c. Umur
d. Status perkawinan
e. Agama
f. Tingkat pendidikan
g. Warga negara
h.

: Tn. HN
: Laki-laki
: 26 tahun
: Belum menikah
: Islam
: Sarjana
: Indonesia
Alamat: Desa Harapan Jaya, Kab. Pali, Sumatera
Selatan

II. ANAMNESIS
A. ALLOANAMNESIS
Diperoleh dari
: Tn. M
Jenis kelamin
: Laki-laki
Umur
: 64 tahun
Alamat
: Desa Harapan Jaya, Kab. Pali, Sumatera Selatan
Pendidikan
: Tamat SD
Pekerjaan
: Petani
Hubungan dengan pasien : Ayah OS
a. Sebab utama
Os mengalami

perubahan

perilaku

menjadi

lebih

mudah

tersinggung dan emosian.
b. Keluhan utama
Tidak ada (pasien diam)
c. Riwayat perjalanan penyakit
± 2 bulan yang lalu, os mulai mengalami perubahan perilaku. Os
menjadi mudah tersinggung dan emosi. Os terlihat sering berbicara
sendiri dan berjalan tanpa arah. Os juga mengatakan kepada keluarganya
bahwa os memiliki kekuatan untuk melihat makhluk halus dan dapat
berkomunikasi dengan mereka. Os merasa makhluk halus tersebut selalu
mengejar-ngejarnya sehingga os selalu merasa ketakutan dan cemas. Os
merasa orang-orang di sekitarnya sering membicarakan tentang
keburukannya. Os cenderung memberikan respon datar terhadap situasi
senang ataupun sedih.

3

d. Riwayat penyakit dahulu
± 4 tahun yang lalu os awalnya menggunakan sabu-sabu hanya
karena ingin coba-coba. Kemudian menjadi berkelanjutan hingga
sekarang. Os merasa setiap tidak mengonsumsi sabu-sabu menjadi stress
selalu tidak tenang. Setelah os menggunakan sabu-sabu, os merasa bisa
melupakan masalah, os banyak tidur dan saat bangun os banyak makan.
Menurut keluarganya setelah os menggunakan sabu-sabu, os berubah
menjadi orang yang mudah tersinggung.
± 2 tahun yang lalu keluarga os merasa os semakin aneh dan tidak
mudah ditebak. Os makin mudah tersinggung, sulit tidur dan sering
berbicara sendiri. Os merasa dirinya dapat mendengar suara-suara gaib
yang dapat mengganggunya seperti mengejarnya. Os juga sering
mencurigai seseorang tanpa sebab. Lalu os dibawa berobat dan
disarankan rawat jalan di RSJ Ernaldi Bahar.
e. Riwayat premorbid
- Lahir
: lahir spontan, langsung menangis
- Bayi
: tumbuh kembang baik
- Anak-anak
: sosialisasi baik
- Remaja
: sosialisasi baik
- Dewasa
: sosialisasi baik

f. Riwayat perkembangan organobiologi
-

Riwayat kejang (-)
Riwayat demam tinggi

-

yang lama (-)
Riwayat hipertensi (-)

-

Riwayat trauma kepala (-)
Riwayat asma (-)
Riwayat alergi obat (-)
Riwayat sakit ginjal (-)

g. Riwayat penggunaan alkohol dan obat-obatan terlarang
-

Riwayat mengonsumsi alkohol sejak 5 tahun yang lalu, frekuensi 3x

-

seminggu, terakhir 1 hari SMRS.
Riwayat mengonsumsi sabu-sabu sejak 4 tahun yang lalu, frekuensi
1x seminggu, terakhir 1 bulan yang lalu.

-

25 November 2016 pukul 11. l.00 WIB di Bangsal Cendrawasih RS Ernaldi Bahar. j.Pedigree: Keterangan: : Pasien B. i. Keadaan sosial ekonomi Pasien tinggal bersama keluarga dengan keadaan sosial ekonomi menengah ke bawah. Riwayat pekerjaan Pasien adalah seorang pengangguran.d. Riwayat keluarga . 12.Pemeriksaan dilakukan dengan pengawasan perawat ruangan.4 - h.00 s. Riwayat perkawinan Pasien belum menikah. AUTOANAMNESIS DAN OBSERVASI Wawancara dan observasi dilakukan pada Kamis. Riwayat pendidikan Pasien tamat sarjana. Palembang. Wawancara dilakukan dengan menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa daerah yakni bahasa Palembang - Pemeriksa - Pasien - Interpretasi . k.

Pak? - Ini siapa. Pak? (sambil - 26 tahun (Kontak (menggerakkan bibir) Tidak tahu (menggerakkan bibir) Tidak tahu (menggerakkan bibir) Belum - Afek: tumpul Kontak: atensi - inadekuat Konsentrasi: kurang - Daya ingat: - kurang Orientasi tempat: - baik Orientasi waktu menunjukkan dan personal: perawat) jelek - Bapak sudah menikah? .5 - Pak. Pak? - Sekarang hari apa. umurnya - berapa ? mata pasien kurang) Rumah sakit Sekarang kita lagi dimana.

Sekarang saya sering dikejar tidak takut lagi. Dulu. Sekarang tidak lagi. mahluk halus itu? - Tidak. saya sehat. bisa melihat dan (Kontak mata berbicara dengan pasien kurang) - (Pasien terlihat melihat sesuatu memandang ke ya disana? satu arah dan (sambil menunjuk tampak ke satu sisi - ketakutan) - Dulu. (Pasien dia sudah pergi. Bapak sedang ruangan) - sakit jadi dirawat di rumah sakit mahluk halus? - Katanya saya takut - Halusinasi visual (+) - Waham kejar (+) Waham curiga (+) Afek: marah . - Iya itu dulu. mahluk berusaha untuk halus itu suka ngomong apa dengan bapak? Suka nyuruh - menyangkal) - Dia suka ngajak bapak ngelakuin ngobrol saja.6 - Bapak kenapa ada - di rumah sakit? - padahal saya tidak sakit. Tapi sering Bapak juga katanya jadi ketakutan dan cemas karena ngajak ngobrol. sesuatu? tidak nyuruh apaapa. Katanya bapak saya mau pulang. Bapak suka curiga sama orang - Curiga? Saya Kontak: atensi inadekuat - Kontak: atensi - inadekuat Halusinasi visual - (+) Afek: cemas.

STATUS INTERNUS 1) Keadaan Umum - Sensorium - Suhu : Compos mentis Frekuensi nadi : 36. saya mau pulang.7 lain? - tidak pernah curiga sama orang lain.70C - Frekuensi : 90 x/menit - napas : 20 x/menit Tekanan darah : 110/80 mmHg B. STATUS NEUROLOGIKUS 1) 2) 3) 4) Urat syaraf kepala (panca indera) Gejala rangsang meningeal Gejala peningkatan tekanan intracranial Mata Gerakan : tidak ada kelainan : tidak ada : tidak ada : baik ke segala arah . Saya tidak sakit. - - Saya tidak bisa tidur disini. (pasien Katanya orang- menggelengkan orang itu suka membicarakan keburukan bapak? - kepala) - Iya. (pasien mulai merasa tidak nyaman) III. Orang-orang itu banyak yang Bapak tidurnya tidak suka dengan nyenyak? saya.PEMERIKSAAN A.

visus normal - Pupil : bentuk bulat. diplopia tidak ada.K an i r - Luas - i L r - Lua u - s u a - Kekuatan Tonus - 5 Euto - ni - Klonus Refleks - fisiologis Refleks - + patologis 6) Sensibilitas : normal 7) Susunan syaraf vegetatif: tidak ada kelainan 8) Fungsi luhur : tidak ada kelainan s 5 E a - u - i l 5 eut - oni s 5 e u t t o o n n i + - + - i + - - - - . Ø 2mm/2mm - Refleks cahaya : +/+ Refleks kornea : +/+ Pemeriksaan oftalmoskopi : tidak dilakukan 5) Motorik Kan - Fungsi Lengan . isokor. sentral.8 - Persepsi mata : baik.K an Gerakan - i Motorik - Tungkai Kan .

Kontak verbal : Inadekuat .Kontak mata : Inadekuat . Inisiatif : Kurang e. Cara bicara : Lancar h. Hidup emosi - Stabilitas : labil - Dalam- Skala diferensiasi : normal - Einfuhlung : bisa dirasakan Pengendal - ian : tidak terkendali - Echt-unecht : echt - dangkal : normal - - Arus emosi : labil Adekuat- Inadekuat : adekuat c. Perhatian : Atensi inadekuat c.KEADAAN KHUSUS (SPESIFIK) a. Keadaan dan fungsi intelektual - Daya ingat : baik - Daya konsentrasi - Orientasi orang/waktu/tempat : jelek : baik - Luas pengetahuan umum : sesuai - Discriminative judgement : jelek - Discriminative insight : jelek - Dugaan taraf intelegensi : baik . Sensorium : Compos Mentis b. Ekspresi fasial : Wajar g. Kontak psikis : Inadekuat .9 9) Kelainan khusus : tidak ada C. adekuat . Sikap : Kurang kooperatif d.Kontak fisik : Ada. Tingkah laku motorik : Normoaktif f. Keadaan afektif Afek : Tumpul Mood : Irritable b. STATUS PSIKIATRIKUS -KEADAAN UMUM a.

Kelainan sensasi dan persepsi - Ilusi : tidak ada Halusinasi : ada (halusinasi visual dan auditorik) e.10 - Depersonalisasi dan derealisasi ada d. Keadaan proses berpikir - Bentuk pikiran : tidak .

Keadaan dorongan instinktual dan perbuatan .- Autistik Simbolik Dereistik Simetrik Paralogik Konkritisasi Overinklusif : tidak ada : tidak ada : tidak ada : tidak ada : tidak ada : tidak ada : tidak ada - Arus pikiran - Flight of ideas - Inkoherensi : ada Sirkumstansial : tidak ada Tangensial : tidak ada Terhalang (blocking) : tidak ada Terhambat (inhibition): tidak ada Perseverasi : tidak ada Verbigerasi : tidak ada - - Isi pikiran Waham Pola Sentral Fobia Konfabulasi Perasaan inferior Kecurigaan Rasa permusuhan Perasaan berdosa Hipokondria Ide bunuh diri Ide melukai diri Lain-lain : tidak ada : ada (waham kejar. waham curiga) : tidak ada : tidak ada : tidak ada : tidak ada : ada : tidak ada : tidak ada : tidak ada : tidak ada : tidak ada : tidak ada Pemilikan pikiran - Obsesi : tidak ada Aliensi : tidak ada f.

DIAGNOSIS DIFFERENSIAL Skizofrenia paranoid VI. Kecemasan : ada h. Pemeriksaan laboratorium : tes urin (-) IV. Psikofarmaka .Sopan santun : cukup : cukup : kurang i. Pemeriksaan radiologi/ CT scan : tidak dilakukan c. TERAPI a.- Hipobulia Vagabondage Stupor Pyromania Raptus/Impulsivitas Mannerisme Kegaduhan umum Autisme Deviasi seksual Logore Ekopraksi Mutisme Ekolalia Lain-lain : tidak ada : tidak ada : tidak ada : tidak ada : tidak ada : tidak ada : tidak ada : tidak ada : tidak ada : tidak ada : tidak ada : tidak ada : tidak ada : tidak ada g.Kebersihan . Reality testing ability RTA terganggu D. Dekorum . DIAGNOSIS MULTIAKSIAL Aksis I :F.0 Gangguan kepribadian paranoid : Tidak ada diagnosis : Masalah psikososial dan lingkungan lainnya : 60-51 V. Gangguan Psikotik Onset Lambat : F60.Cara berpakaian .19. Pemeriksaan elektroensefalogram : tidak dilakukan b. PEMERIKSAAN LAIN a.75 Gangguan Mental dan Perilaku Akibat Penggunaan Zat Multipel dan Penggunaan Psikoaktif Lainnya (sabu dan Aksis II Aksis III Aksis IV Aksis V alkohol).

PROGNOSIS Dubia ad bonam . yaitu menjalankan solat lima waktu. dan sikapnya terhadap masalah yang dihadapi. Religius Bimbingan keagamaan agar pasien selalu menjalankan ibadah sesuai ajaran agama yang dianutnya. Keluarga Memberikan penyuluhan bersama dengan pasien yang diharapkan keluarga dapat membantu dan mendukung kesembuhan pasien. mengatasi perasaan.Abilify 1x10 mg Stelosi 2x2.5 mg THP 2x2 mg Merlopam 1x0. VII. berzikir. Memotivasi pasien agar meminum obat secara teratur dalam Kognitif Menerangkan tentang gejala penyakit pasien yang timbul akibat cara berpikir yang salah. menegakkan amalan sunah seperti mengaji. Psikoterapi Suportif - Memberi dukungan dan perhatian kepada pasien - menghadapi masalah. dan berdoa kepada Allah SWT.5 mg b.

atau karena ekspresi perasaan agresif yang tidak wajar. Klasifikasi gangguan penggunaan zat dapat dibedakan menjadi dua.1 Gangguan Penggunaan Zat 3. (2) Ketergantungan Zat Ketergantungan zat merupakan suatu bentuk gangguan penggunaan zat yang pada umunya lebih berat. yaitu: (1) Penyalahgunaan Zat Penyalahgunaan zat merupakan suatu pola penggunaan zat yang bersifat patologik.BAB III TINJAUAN PUSTAKA 3. Pola penggunaan zat yang bersifat patologik dapat berupa intoksikasi sepanjang hari. impulsif.1. Dapat pula berupa pelanggaran lalu lintas dan kecelakaan lalu lintas akibat intoksikasi. sehingga menimbulkan gangguan fungsi sosial atau okupasional. serta perbuatan kriminal lainnya karena motivasi memperoleh uang. atau adanya kenyataan bahwa ia tidak dapat berfungsi dengan baik tanpa menggunakan zat tersebut. paling sedikit satu bulan lamanya. terus menggunakan zat tersebut walaupun penderita mengetahui dirinya sedang menderita sakit fisik berat akibat zat tersebut. terdapat ketergantungan fisik yang ditandai .1 Definisi Gangguan Penggunaan Zat Gangguan penggunaan zat adalah suatu gangguan jiwa berupa penyimpangan perilaku yang berhubungan dengan pemakaian zat yang dapat mempengaruhi sususan saraf pusat secara kurang lebih teratur sehingga menimbulkan gangguan fungsi sosial. Gangguan yang dapat terjadi adalah gangguaan fungsi sosial yang berupa ketidakmampuan memenuhi kewajiban terhadap keluarga atau kawan-kawannya karena perilakunya yang tidak wajar.

Misalnya LSD.dengan adanya toleransi atau sindroma putus zat. teh.1. Kokain dan daun koka 4. antipasmodik (mengurangi rasa mulas dan mual) dan pramedikasi anestesi dalam praktik kedokteran. teman sebaya maupun masyarakat. Faktor NAPZA . dan psilosibin 7. 3.2 Penyebab Penyalahgunaan NAPZA Penyebab penyalahgunaan NAPZA sangat kompleks akibat interaksi antara faktor yang terkait dengan individu. Obat psikotropika maupun narkotika digunakan dalam ilmu kedokteran sebagai penyembuhan dari rasa sakit. Nikotin yang terdapat dalam tembakau 10. meskalin. Halusinogen. sekolah. 3. yang dapat menyebabkan gangguan penggunaan zat dapat digolongkan sebagai berikut : 1. antitusif (mengurangi batuk).kodein. hilangnya rasa. Opioida misalnya morfin. Kafein yang terdapat dalam kopi. hashish 3. Solven dan inhalansia 9. Sedativa dan hipnotika 8. Alkohol (Etillkohol) Yang Terdapat Dalam Minuman keras 5. heroin. faktor lingkungan dan faktor tersedianya zat (NAPZA). 2. dan candu.oetidin. dan minuman kola Obat Narkotika adalah obat yang bekerja secara selektif pada susunan saraf pusat dan mempunyai efek utama terhadap penurunan atau peubahan kesadaran. Zat-zat yang sering dipakai. Obat ini biasanya digunakan untuk analgesik (anti rasa sakit). Tidak terdapat adanya penyebab tunggal (single cause) Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya penyalagunaan NAPZA adalah sebagian berikut 1. mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri. Faktor individu 2. Faktor Lingkungan Faktor lingkungan meliputi faktor keluarga dan lingkungan pergaulan baik disekitar rumah. Amfetamin 6. Ganja atau kanabis atau mariyuana. psilosin.

Kelompok Risiko Tinggi Kelompok risiko tinggi adalah orang yang belum menjadi pemakai atau terlibat dalam penggunaan NAPZA tetapi mempunyai risiko untuk terlibat hal tersebut. Pada Remaja : Ciri-ciri remaja yang mempunyai risiko tinggi menyalahgunakan NAPZA : .tapi sangat penting artinya untuk mencegah berlanjutnya masalah tersebut. menghilangkan nyeri.3 Deteksi Dini Penyalahgunaan NAPZA Deteksi dini penyalahgunaan NAPZA bukanlah hal yang mudah. mereka disebut juga Potential User (calon pemakai. b) Anak yang sering sakit c) Anak yang mudah kecewa d) Anak yang mudah murung e) Anak yang sudah merokok sejak Sekolah Dasar e) Anak yang agresif dan destruktif f) Anak yang sering berbohong. Pada Anak Ciri-ciri pada anak yang mempunyai risiko tinggi menyalahgunakan NAPZA antara lain : a) Anak yang sulit memusatkan perhatian pada suatu kegiatan (tidak tekun).menidur-kan.1.Sekalipun tidak mudah untuk mengenalinya. golongan rentan).a) Mudahnya NAPZA didapat dimana-mana dengan harga “terjangkau” b) Banyaknya iklan minuman beralkohol dan rokok yang menarik untuk dicoba c) Khasiat farakologik NAPZA yang menenangkan. mencari atau melawan tata tertib g)Anak denga IQ taraf perbatasan (IQ 70-90) 2. namun seseorang dengan ciri tertentu (kelompok risiko tinggi) mempunyai potensi lebih besar untuk menjadi penyalahguna NAPZA dibandingkan dengan yang tidak mempunyai ciri kelompok risiko tinggi. Mereka mempunyai karakteristik sebagai berikut : 1. membuat euforia/fly/stone/high/teler dan lain-lain. 3. Beberapa keadaan yang patut dikenali atau diwaspadai adalah : a.

suka menyendiri. sering masturbasi.1. l) Remaja yang mudah menjadi bosan.murung. kurang percaya diri dan mempunyai citra diri negative b) Remaja yang mempunyai sifat sangat tidak sabar c) Remaja yang diliputi rasa sedih (depresi) atau cemas (ansietas) d) Remaja yang cenderung melakukan sesuatu yang mengandung risiko e) f) g) h) i) j) k) tinggi/bahaya Remaja yang cenderung memberontak Remaja yang tidak mau mengikutu peraturan/tata nilai yang berlaku Remaja yang kurang taat beragama Remaja yang berkawan dengan penyalahguna NAPZA Remaja dengan motivasi belajar rendah Remaja yang tidak suka kegiatan ekstrakurikuler Remaja dengan hambatan atau penyimpangan dalam perkembangan psikoseksual (pemalu.orang tua berselingkuh atau ayah menikah lagi f) Orang tua yang tidak memiliki standar norma baik-buruk atau benar salah yang jelas g) Orang tua yang tidak dapat menjadikan dirinya teladan h) Orang tua menjadi penyalahgunaan NAPZA 3.jenuh.a) Remaja yang mempunyai rasa rendah diri. Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis maupun semisintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan .sering bertengkar.antara lain: a) Orang tua kurang komunikatif dengan anak b) Orang tua yang terlalu mengatur anak c) Orang tua yang terlalu menuntut anaknya secara berlebihan agar berprestasi diluar kemampuannya d) Orang tua yang kurang memberi perhatian pada anak karena terlalu sibuk e) Orang tua yang kurang harmonis. kurang bergaul dengan lawan jenis). Pada Keluarga Ciri-ciri keluarga yang mempunyai risiko tinggi.4 Jenis Napza Yang Disalahgunakan 1. m) Remaja yang cenderung merusak diri sendiri 3.sulit bergaul.

candu. Zat Adiktif Lain Yang dimaksud disini adalah bahan/zat yang berpengaruh psikoaktif diluar Narkotika dan Psikotropika.5 tahun 1997 tentang Psikotropik. mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri. (menurut Undang-Undang RI Nomor 22 tahun 1997 tentang Narkotika). herion (putauw). baik alamiah maupun sintetis bukan Narkotika. 2.kesadaran. b) Narkotika Golongan II : Narkotika yang berkhasiat pengobatan digunakan sebagai pilihan terakhir dan dapat digunakan dalam terapi atau tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi tinggi mengakibatkan ketergantungan (Contoh : morfin. yaitu serbuk kokain. meliputi : . Psikotropika Menurut Undang-undang RI No. (Contoh : heroin/putauw. hilangnya rasa. daun koka. dan tidak ditujukan untuk terapi serta mempunyai potensi sangat tinggi menimbulkan ketergantungan. marihuana. kokain. dan lain-lain (2) Ganja atau kanabis. ganja). petidin. dan dapat menimbulkan ketergantungan.petidin) c) Narkotika Golongan III : Narkotika yang berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi atau tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan ketergantungan (Contoh : kodein) Narkotika yang sering disalahgunakan adalah Narkotika Golongan I : (1) Opiat : morfin. 3. hashis (3) Kokain. Narkotika dibedakan kedalam golongan-golongan : a) Narkotika Golongan I : Narkotika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan. pasta kokain.Yang dimaksud dengan PSIKOTROPIKA adalah zat atau obat. yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku.

Berdasarkan efeknya terhadap perilaku yang ditimbulkan NAPZA dapat digolongkan menjadi tiga golongan : 1. hipnotik (otot tidur). penghapus cat kuku. Kamput. Ada 3 golongan minuman berakohol. kantor dan sebagai pelumas mesin. pendiam dan bahkan membuatnya tertidur dan tidak sadarkan diri.dan sering menjadi bagian dari kehidupan manusia sehari-hari dalam kebudayaan tertentu.) b) Inhalansia (gas yang dihirup) dan solven (zat pelarut) mudah menguap berupa senyawa organik. karena rokok dan alkohol sering menjadi pintu masuk penyalahgunaan NAPZA lain yang lebih berbahaya.Jenis ini membuat pemakaiannya merasa tenang. rokok.Penggunaan dengan resep dokter : amfetamin. mengandung etanol etil alkohol.Sama sekali dilarang : Narkotika golongan I dan Psikotropika Golongan I. Vodca.Johny Walker. c) Tembakau : Pemakaian tembakau yang mengandung nikotin sangat luas di masyarakat. Golongan Depresan (Downer) Adalah jenis NAPZA yang berfungsi mengurangi aktifitas fungsional tubuh. yaitu : . kodein).Diperjual belikan secara bebas : lem. TKW. Sedatif (penenang). yang berpengaruh menekan susunan syaraf pusat. thinner. Manson House. bensin. (Berbagai jenis minuman anggur) -Golongan C : kadar etanol 20-45 %. dan tranquilizer (anti cemas) dan lain-lain. harus menjadi bagian dari upaya pencegahan. (Whiskey. . yang terdapat pada berbagai barang keperluan rumah tangga. Bahan/ obat/zat yang disalahgunakan dapat juga diklasifikasikan sebagai berikut : .a) Minuman berakohol. (Bir) .Golongan A : kadar etanol 1-5%. antara lain : Lem. Pada upaya penanggulangan NAPZA di masyarakat. Jika digunakan sebagai campuran dengan narkotika atau psikotropika. memperkuat pengaruh obat/zat itu dalam tubuh manusia.Golongan ini termasuk Opioida (morfin. thinner dan lain-lain. . heroin/putauw. pemakaian rokok dan alkohol terutama pada remaja. .Golongan B : kadar etanol 5-20%. sedatif hipnotika. Yang sering disalah gunakan. .Ada batas umur dalam penggunannya : alkohol.

LSD. Mescalin. Jenis ini membuat pemakainya menjadi aktif. Nama jalanan dari kokain adalah koka. Kokain. srepet. happy dust. brown sugar o Heroin yang murni berbentuk bubuk putih. Kafein. 3. charlie. hidromorfin .esktasi).Opioida sintetik : meperidin.bhang. KANABIS Nama jalanan yang sering digunakan ialah : grass cimeng. putih. Biasanya dalam bentuk bubuk putih. Macam-macam bahan Narkotika dan Psikotropika yang terdapat di masyarakat serta akibat pemakaiannya : a) OPIOIDA Opioida dibagi dalam tiga golongan besar yaitu : .hasish. Rasa sedikit pahit dan lebih mudah larut dari free base. Gamja berasal dari tanaman kanabis sativa dan .coke. sedangkan heroin yang tidak murni berwarna putih keabuan b) KOKAIN Kokain mempunyai dua bentuk yaitu : kokain hidroklorid dan free base. Golongan Halusinogen Adalah jenis NAPZA yang dapat menimbulkan efek halusinasi yang bersifat merubah perasaan dan pikiran dan seringkali menciptakan daya pandang yang berbeda sehingga seluruh perasaan dapat terganggu. putaw.2. tidak berbau dan rasanya pahit. metadon o Nama lainnya adalah putauw. segar dan bersemangat. ganja dan gelek.Golongan ini tidak digunakan dalam terapi medis.Opioida semi sintetik : heroin/putauw. Golongan ini termasuk : Kanabis (ganja).marijuana. snow salju.Opioida alamiah (opiat): morfin. Zat yang termasuk golongan ini adalah : Amfetamin (shabu. cpium. c). kodein . Free base tidak berwarna/putih. Kokain berupa kristal pitih. propoksipen. black heroin. Golongan Stimulan (Upper) Adalah jenis NAPZA yang dapat merangsang fungsi tubuh dan meningkatkan kegairahan kerja.

Pada tanaman ganja terkandung tiga zat utama yaitu tetrehidro kanabinol. Terdiri dari berbagai macam jenis antara lain : white doft.Yang bisa digambarkan seperti halusinasi terhadap tempat. SEDATIF-HIPNOTIK (BENZODIAZEPIN) .SS. trips.Biasanya halusinasi ini digabung menjadi satu.dengan nama jalanan : acid. crystal. Nama lainnya shabu-shabu. Nama lain : xtc. LSD (Lysergic acid) Termasuk dalam golongan halusinogen. Sedangkan yang berbentuk tablet biasanya diminum dengan air.Cara menggunakannya dengan meletakkan LSD pada permukaan lidah dan bereaksi setelah 30-60 menit sejak pemakaian dan hilang setelah 8-12 jam. kertas. cein. crank. Efek rasa ini bisa disebut tripping. snow white. pink heart. kanabinol dan kanabidio. atau dibakar dengan menggunakan botol kaca yang dirancang khusus (bong). d). e). dikenal sebagai SHABU.MDMA (methylene dioxy methamphetamin).crystal. Bentuknya ada yang berbentuk bubuk warna putih dan keabuan. kapsul.Nama jalannya : seed. AMPHETAMINES Nama generik amfetamin adalah D-pseudo epinefrin berhasil disintesa tahun 1887. fantacy pils. Ada dua jenis amfetamin : . Bentuk yang bisa didapatkan seperti kertas berukuran kotak kecil sebesar seperempat perangko dalam banyak warna dan gambar.whizz dan sulphate.digunakan dengan cara dihirup. ice. mulai dikenal sekitar tahun 1980 dengan nama Ekstasi atau Ecstacy. cece.kanabis indica.Warna dan waktu. Cara penggunaan : dibakar dengan menggunakan kertas alumunium foil dan asapnya dihisap. menjadi sangat indah atau bahkan menyeramkan dan lama-lama membuat paranoid. tabs. dan dipasarkan tahun 1932 sebagai obat.meth.uppers. inex. f). ada juga yang berbentuk pil. Hingga timbul obsesi terhadap halusinasi yang ia rasakan dan keinginan untuk hanyut didalamnya.Methamfetamin ice. petir yang dikemas dalam bentuk pil atau kapsul .

g). isi korek api gas. ALKOHOL Merupakan salah satu zat psikoaktif yang sering digunakan manusia. h). Diperoleh dari proses fermentasi madu. Contohnya : Aerosol. Konsentrasi maksimum alkohol dicapai 30-90 menit setelah tegukan terakhir. SOLVENT / INHALANSIA Adalah uap gas yang digunakan dengan cara dihirup.Digolongkan zat sedatif (obat penenang) dan hipnotika (obat tidur) Nama jalanan dari Benzodiazepin : BK.2. liver dan jantung. bersifat sedatif. tiner. Pemakaian benzodiazepin dapat melalui : oral. Penggunaan dibidang medis untuk pengobatan kecemasan dan stres serta sebagai hipnotik (obat tidur). gangguan fungsi paru. dengan proses penyulingan di pabrik dapat dihasilkan kadar alkohol yang lebih tinggi bahkan mencapai 100%. namun sering dengan penurunannya pula orang menjadi depresi.2. alkohol memang mampu menghilangkan rasa sakit dan dalam dosis yang lebih besar. muntah. etanol didistribusikan keseluruh jaringan tubuh dan cairan tubuh. Alkohol merangsang berbagai reseptor GABA. drink. seperti . halusinasi ringan. Lexo. kepala terasa berputar. berbagai obat benzodiazepin. mual. Rohyp.Sekali diabsorbsi.Efek yang ditimbulkan : pusing. cairan untuk dry cleaning.1 Efek Penggunaan Alkohol Efek Jangka Pendek Alkohol Pada dasarnya. aica aibon. Dum. Biasanya digunakan secara coba-coba oleh anak dibawah umur golongan kurang mampu/ anak jalanan. MG. Dari proses fermentasi diperoleh alkohol dengan kadar tidak lebih dari 15%. Sering dengan peningkatan kadar alkohol dalam darah maka orang akan menjadi euforia. sari buah dan umbi-umbian. 3. Alkohol menghasilkan berbagai efeknya melalui interaksinya dengan beberapa sistem neural di dalam otak.uap bensin. Alkohol 3.intra vena dan rectal. yang berperan dalam kemampuannya mengurangi ketegangan. bahkan kematian. Nama jalanan alkohol : booze. gula. (GABA adalah neurotransmitter penghambat utama. menyebabkan orang tertidur.

konsumsi alkohol yang sangat banyak semasa hamil diketahui merupakan penyebab utama retardasi mental. Terakhir. Kebiasaan minum yang kronis menimbulkan kerusakan biologis parah selain kemunduran psikologis.vallium. Bahkan penyalahgunaan untuk waktu yang tidak lamapun dapat mempengaruhi performa kognitif. kalori yang dipasok alkohol tidak ada. 1997). Efek Jangka Panjang Penyalahgunaan Alkohol Yang berkepanjangan Efek jangka panjang mengonsumsi alkohol dalam waktu lama secara gamblang digambarkan dalam banyak kasus. mengakibatkan meningkatnya kerentanan terhadap infeksi dan kanker. Alkohol juga menaikkan kadar serotonim dan dopamin. memiliki efek pada reseptor GABA sama dengan efek alkohol). Namun ternyata beberapa efek jangka pendek mengonsumsi sedikit alkohol berhubungan erat dengan ekspektasi si peminum mengenai efek obat tersebut sebagaimana efeknya terhadap aksi kimiawi pada tubuh. Namun.Departement of Health and Human Service. Konsumsi alkohol dalam waktu lama memberikan efek negatif bagi hampir setiap jaringan dan organ tubuh. Alkohol juga juga mengurangi efektifitas sistem imun. wajah serta anggota tubuh.para peminum berat seringkali mengurangi asupan makanan mereka. Karena alkohol mengandung kalori tinggi – sekitar setengah liter minuman kadar – 80 memasok sekitar separuh kebutuhan kalori dalam sehari. . 1994). Alkohol dianggap mengurangi kecemasan. Malnutrisi parah dapat terjadi. Dan bagi wanita hamil. melenturkan hambatan. seperti berbicara dengan tidak jelas dan hilangnya memori (U. Pertumbuhan janin melambat dan terjadi kelainan tempurung kepala. alkohol tidak mengandung berbagai zat gizi yang penting bagi kesehatan. alkohol menghambat berbagai reseptor glutamat yang dapat menimbulkan efek kognitif intoksikasi alkohol. meningkatkan sosiabilitas. Terdapat banyak keyakinan mengenai efek alkohol.S. Para mahasiswa yang menyalahgunakan alkohol menunjukkan kelemahan dalam berbagai test neuropsikologis (Sher dkk. dans ebagainya. dan efek ini mungkin merupakan sumber dari kemampuannya untuk menciptakan efek yang menyenangkan..

Sedangkan untuk anak laki-laki berusia 14-15 tahun dengan jumlah 4 atau lebih minuman beralkohol. Namun dalam literatur terbaru lebih berpendapat menempatkan pesta miras pada remaja terjadi pada usia 9-13 tahun pada anak-anak dan 14-17 tahun pada gadis dengan jumlah konsumsi 3 atau lebih minuman beralkohol. seperti tersumbatnya aliran pernafasan yang fatal. Penggunaan alkohol menjadi kontributor utama penyebab kematian para remaja di . Mekanisme Kerja Alkohol pada Neurotransmitter 3. dan usia 16-17 tahun sebanyak 5 atau lebih minuman beralkohol. penggunaan alkohol oleh remaja diketahui frekuensinya lebih sering dilakukan dan volumenya lebih banyak sehingga penggunaan alkohol pada usia remaja ini telah dianggap sangat berbahaya.2. kemungkinan besar terkait dengan budaya taruhan dan uji nyali di antara para remaja ini yang menempatkan mereka pada resiko tinggi overdosis alkohol atau keracunan alkohol. Pesta miras orang dewasa didefinisikan sebagai mengkonsumsi 5 atau lebih minuman beralkohol dalam rentang rata-rata 2 jam secara berturut-turut. Pesta miras yang semakin cepat bertambah.Gambar 1.2 Bahaya-Bahaya Penggunaan Alkohol Ketika dibandingkan dengan penggunaan alkohol oleh orang dewasa. Definisi tersebut akhir-akhir ini sering pula digunakan untuk menggambarkan penggunaan alkohol pada remaja.

Amerika Serikat seperti kecelakaan kendaraan. Bila dilakukan perbandingan. Beberapa gangguan akibat penggunaan alkohol pada remaja secara psikologis di antaranya tidak adanya gairah semangat (mood disorders).5% dari mereka sedikitnya pernah sesekali mengendarai sendiri kendaraannya sambil minum alkohol. kasus remaja yang mengendarai mobil dalam keadaan mabuk frekuensinya masih rendah di bawah para orang dewasa. jumlah kecelakaan berkendaraan yang fatal secara individual di bawah usia 21 tahun menjadi menurun secara signifikan. Sehingga bagaimana pun juga penggunaan alkohol oleh para remaja tetap tidak aman sekalipun di saat sedang tidak mengendarai. sebanyak 29. kegelisahan atau fobia. Pada tahun 2007 sebuah survei tentang Youth Risk Behavior mengungkapkan bahwa selama selang waktu 30 hari digelarnya survei tersebut. Gangguan-gangguan akibat penggunaan alkohol menjadi sebuah faktor resiko terjadinya percobaan bunuh diri pada remaja. terutama depresi. bunuh diri. Beberapa literatur penelitian secara konsisten melaporkan hubungan keterkaitan yang erat antara penggunaan dan penyalahgunaan alkohol dengan perilaku yang beresiko termasuk penyerangan. Kecelakaan tabrakan kendaraan bermotor menempati urutan teratas dalam penyebab kematian para remaja Amerika Serikat. Batasan minimal mengkonsumsi alkohol secara legal di Amerika Serikat juga telah diasosiasikan dengan laju bunuh diri yang tinggi pada remaja. Hal ini memperlihatkan adanya sebuah keterkaitan erat antara penggunaan alkohol dan kecelakaan berkendaraan yang melibatkan para remaja.1% para siswa di Amerika Serikat setidaknya pernah satu kali atau lebih menjadi penumpang sebuah mobil yang dikendarai oleh supir yang sedang minum alkohol. dan pembunuhan. kurang fokus atau konsentrasi hingga . aktifitas seksual yang riskan dan mengembang kepada penyalahgunaan obat-obatan. namun. tingkat resiko kecelakaan motor para remaja lebih besar dibandingkan orang dewasa saat mereka mabuk. dan sebanyak 10. Dampak buruk lainnya yang juga tercatat adalah gangguan mental dan fisik pada remaja itu sendiri. khususnya ketika kadar alkohol dalam tubuh para remaja ini berada pada level rendah dan menengah. Setelah Amerika Serikat mengubah aturan batasan minimal mengkonsumsi alkohol menjadi 21 tahun.

Halusinasi setelah putus alkohol dianggap merupakan gejala yang jarang. Walaupun biasanya halusinasi menghilang dalam 1 minggu. 3.gangguan attention deficit/hyperactivity disorder (ADHD). perilaku atau tabiat menjadi terganggu. mencela. Halusinasi .gangguan tidur. tetapi biasanya berhubungan dengan orang yang telah melakukan penyalahgunaan alkohol dalam jangka waktu yang lama. gigi dan organ oral yang abnormal. dan schizophrenia. Suara-suara karakteristiknya adalah memfitnah. bulimia. sebagian besar pasien menyadari sifat halusinasi dari gejalanya.2. DSM-IV memungkinkan lebih jauh untuk menentukan onset (selama intoksikasi atau putus alkohol) dan apakah halusinasi atau waham ditemukan. Sedangkan gangguan secara fisik di antaranya trauma sequelae (semacam gangguan pada ginjal). atau mengancam. tapi pada beberapa kasus dapat menetap. konsentrasi tinggi serum enzim hati. Halusinasi dapat terjadi pada semua usia. tidak adanya riwayat klasik skizofrenia dan halusinasinya biasanya singkat.meskipun kondisi abnormal tersebut relatif sedikit ditemukan saat pemeriksaan fisik. Halusinasi biasanya berlangsung selama kurang dari 1 minggu walaupun selama minggu tersebut gangguan test realitas adalah sering.3 Gangguan psikotik akibat alkohol Diagnostik dan gambaran klinis Kreteria diagnostik untuk gangguan psikotik akibat alkohol (alcoholinduced psycotik disorder) (sebagai contoh halusinasi dan waham) ditemukan di dalam kategori DSM-IV tentang gangguan psikotik akibat zat (subtance-induced psycotic disorder). Halusinasi yang paling sering adalah auditorik. Halusinasi berhubungan dengan putus alkohol harus dibedakan dengan skizofren yang berhubungan dengan temporal dengan putus alkohol. Walaupun beberapa pasien dilaporkan bahwa suara-suara itu adalah menyenangkan dan tidak menganggu. biasanya berupa suara-suara. Istilah untuk halusinasi yang terjadi selama putus alkohol yang digunakan didalam DSM-III R tetapi tidak lagi digunakan dalam DSM-IV adalah halusinasi alkohol. tetapi suara tersebut sering kali tidak terstruktur. Setelah episode. dan sindrom adalah berbeda dari delirium putus alkohol.

Medikasi Medikasi utama untuk mengendalikan gejala putus alkohol adalah benzodiazepin.berhubungan dengan putus alkohol dibedakan dari DTs oleh karena adanya sensorium yang jernih pada pasien.5 Tahun 1997. Menurut UU No.3 Amfetamin 3. hasil yang diharapkan dari minum. amfetamin . Melibatkan pasangan yang tertarik dan bekerja sama dalam terapi bersama (conjoint therapy) untuk sekurangnya satu sesion adalah sangat efektif. meningkatkan percaya diri. dan tremor yang berhubungan dengan putus alkohol. delirium. Benzodiazepin dalam jumlah yang cukup harus digunakan untuk menjaga pasien tetap tenang dan tersedasi. kecemasan. Penelitian menunjukkan bahwa benzodiazepin membantu mengontrol aktivitas kejang. dan jika digunakan dengan dosis yang lebih tinggi lagi dapat mengakibatkan euforia. dan libido. Benzodiazepin dititrasi mulai dosis tinggi dan menurunkan dosis saat pasien pulih. dan stamina. konsentrasi. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa carbamazepine (Tegretol) dalam dosis 800 mg sehari sama efektifnya dengan benzodiazepin dan mempunyai manfaat tambahan kemungkinan penyalahgunaan yang minimal. dan cara alternatif untuk mengatasi situasi tersebut. Fokus spesifik adalah dimana pasien minum.3. Pengobatan Psikoterapi Psikoterapi memusatkan pada alasan seseorang mengapa minum. Diazepam (Valium) ataupun chlordiazepoxide (Librium) tidak boleh diberikan IM karena adanya absorbsi yang menentu dari obat jika diberikan dengan cara tersebut. dorongan premotivasi dibelakang minum. 3.Obat ini meningkatkan kewaspadaan. Benzodiazepin dapat diberikan peroral maupun parenteral.1 Definisi Amfetamin adalah obat psikostimulant dari golongan phenethylamine dan amfetamine.

Adapun efek Amfetamin terhadap tubuh antara lain : 1.3.13-6. norephineprine. suhu tubuh. Aamfetamin juga merupakan neurotoksin yang poten dan dapat menyebabkan degenerasi dopaminergik. Efek akut dari senyawa tersebut antara lain dapat meningkatkan tekanan darah dan frekuensi nadi. Amfetamin bekerja pada sistem saraf pusat dengan mengaktifkan pelepasan neurotransmitter dopamin. hiperglikemia. Ketika dopamin menurun. tekanan darah. hipertensi. Neurotransmiter yang dimaksud adalah katekolamine.2 Farmakodinamik Amfetamin merupakan obat simpatomimetik yang berarti “meniru” transmiter endogen di sistem saraf simpatis dengan berinteraksi dengan reseptornya. Efek fisik Efek yang dapat terjadi berupa anoreksia. konsentrasi dan penurunan nafsu makan. Waktu paruh dari Amfetamin bervariasi dengan waktu rata-rata adalah 9 sampai 12 jam. suasana hati dan emosi serta berhubungan dengan kewaspadaan terhadap lingkungan sekitar. takikardi. senyawa oksigen reaktif seperti hidrogen peroksida pun diproduksi. vasokontriksi pembuluh darah. Metabolisme puncak dicapai pada 10 sampai 24 jam.3 jam pasca dikonsumsi. Hasil penetilian menyatakan bahwa berkurangnya produksi dopamin atau penurunan pengeluarannya merupakan efek dari Amfetamin. nafsu makan. Amfetamin dosis tinggi dapat menimbulkan penurunan beberapa penanda dopamin dan serotonin di otak. Amfetamin dimetabolisme di hati dan diekresikan oleh ginjal.termasuk dalam obat psikotropika golongan II yaitu “obat psikotropika yang berkhasiat untuk pengobatan dan dapat digunakan dalam terapi dan atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi kuat mengakibatkan sindrom ketergantungan”. dilatasi pupil. peningkatan kewaspadaan.3. bronkodilatasi. Amfetamin dapat melewati sawar darah otak dan plasenta karena memiliki lipofilisitas yang tinggi. dan epineprine.3 Farmakokinetik Konsentrasi puncak penyerapan Amfetamin dicapai pada 3. 3. konsentrasi. norepinefrin. dan pada pengunaan yang lama dan . takipnue. dan serotonin. hiperaktivitas. bradikardi. Amfetamin merupakan stimulan sistem saraf yang memiliki efek yang dapat mempengaruhi frekuensi nadi. mulut kering. 3. hipotensi. dopamine. nyeri kepala. diare. kemerahan pada kulit.

Amfetamin adalah senyawa yang mempunyai efek simpatomimetik tak langsung dengan aktivitas sentral maupun perifer. agresif.atau dosis yang lebih tinggi dapat mengakibatkan kejang. Amfetamin lebih kurang adiktif dibandingkan kokain. keinginan bunuh diri. Efek putus obat Efek yang terjadi akibat putus obat pada penggunaan methamphetamine dapat berupa lemah. 3. dan pada penggunaan yang lama dan atau dosis yang lebih tinggi dapat mengakibatkan psikosis amfetamin. dan gangguan konsentrasi. Penyalahgunaan methemphetamine diyakini bertanggungjawab untuk mengakibatkan terjadinya penurunan kognitif yang menetap. stroke. Amfetamin yang tidak diresepkan dan amfetamin racikan juga dimasukkan dengan inhalasi. serangan jantung.4 Mekanisme Kerja Amfetamin (Neurofarmakologi) Semua amfetamin cepat diabsorbsi peroral dan disertai dengan onset kerja yang cepat. Methemphetamine juga mempunyai resiko ketergantungan. seperti ingatan. selain itu juga merupakan zat neurotoksik yang diyakini meningkatkan resiko penyakit parkinson. biasanya dalam satu jam jika digunakan peroral. 4.3. Strukturnya sangat mirip . dan dapat tetap muncul hingga beberapa minggu ataupun bulan pada pemakaian jangka panjang. cemas. dan kematian. 2. Efek psikologis Dapat berupa euforia. depresi. sehingga pemakai amfetamin sering kali mengatasi toleransi dengan menggunakan lebih banyak obat. sensitif. halusinasi.Tingkat beratnya efek putus obat yang timbul tergantung dari lamanya pemakaian dan jumlah methamphetamine yang digunakan. dan perilaku kasar. peningkatan nafsu makan. Amfetamin klasik juga digunakan secara intravena. kepercayaan diri. peningkatan kewaspadaan. 3. dengan cara tersebut mereka mempunyai efek yang hampir segera. Toleransi dapat timbul pada amfetamin klasik dan racikan. Efek dalam jangka panjang Penggunaan methemphetamine dengan jangka waktu panjang sangat erat hubungannya dengan munculnya depresi. konsentrasi. peningkatan libido. obsesif.Gejala dapat tetap muncul dalam beberapa hari pada penggunaan jangka pendek. seperti yang dibuktikan pada percobaan binatang dimana tidak semua tikus memasukkan sendiri dosis rendah amfetamin.

Serotonin adalah neurotransmiter yang berperan sebagai jalur neurokimiawi utama yang terlibat dalam efek halusiogen. . MMDA. Efek alfa dan beta adrenergik disebabkan oleh keluarnya neurotransmiter dari daerah presinap. DOM) menyebabkan pelepasan katekolamin (dopamin dan norepinefrin) dan pelepasan serotonin. sehingga konsentrasi dari neurotransmitter terutama dopamin cenderung meningkat dalam sinaps. norepinefrin dan dopamin. Efek yang dihasilkan dapat melibatkan neurotransmitter atau sistim monoamine oxidase (MAO) pada ujung presinaps saraf. Setelah di dalam neuron. Jalur tersebut disebut jalur hadiah (reward pathway) dan aktifasinya kemungkinan merupakan mekanisme adiksi utama bagi amfetamin. norepinefrin dan serotonin atau ketiganya dari tempat penyimpanan pada presinap yang terletak pada akhiran saraf. Farmakologi MDMA adalah yang paling dimengerti di antara semua jenis amfetamin racikan. MDMA menyebabkan pelepasan cepat suatu bolus serotonin dan menghambat aktifitas enzim yang menghasilkan serotonin. Mekanisme kerja amfetamin pada susunan saraf pusat dipengaruhi oleh pelepasan biogenik amine yaitu dopamin. Amfetamin racikan (MDMA. MDMA diambil dalam neuron serotonergik oleh transporter serotonin yang bertanggung jawab untuk reuptake serotonin. Pengguna SSRI/Selective Serotonin Reuptake Inhibitor (fluoxetine) tidak dapat mencapai perasaan elasi jika mereka menggunakan MDMA karena SSRI mencegah pengambilan/uptake MDMA ke dalam neuron serotonergik. Efek tersebut terutama kuat pada neuron dopaminergik yang keluar dari area tegmental ventralis ke korteks serebral dan area limbik.dengan katekolamin endogen seperti epinefrin. Amfetamin klasik mempunyai efek menghalangi re-uptake dari katekolamin oleh neuron presinap dan menginhibisi aktivitas monoamin oksidase. MDEA.

didapatkan juga efek yang ringan pada sistem saraf tepi. dan gangguan terkait amfetamin yang tak-tergolongkan pada bagian gangguan terkait amfetamin (atau lir-arnfetamin). narcolepsi.5 Pengunaan di Bidang Medik Amfetamin telah disetujui oleh badan pengatur makanan dan obat-obatan di Amerika Serikat (FDA) untuk penggunaannya di bidang kesehatan dan terapi baik untuk anak-anak maupun dewasa.3. Kriteria diagnosis gangguan terkait amfetamin (atau lir-amfetamin) lain tercantum dalam bagian . Merek dagang “Desoxyn” digunanakan untuk pengobatan ADHD. keadaan putus amfetamin. Mekanisme Kerja Amfetamin pada Neurotransmitter 3. Amfetamin dikenal memiliki efek pada sistem saraf pusat seperti golongan stimulan lainnya. 3. tetapi pada dosis yang lebih kecil.6 Gangguan Terkait Amfetamin DSM-IV-TR mencantumkan banyak gangguan terkait amfetamin (atau liramfetamin) namun hanya merinci kriteria diagnosis intoksikasi amfetamin.3. dan depresi yang resisten.Gambar 2. Sifat amfetamin yang mudah larut dalam lemak mengakibatkan mudah untuk masuk kedalam sawar darah otak dibandingkan golongan obat stimulan lainnya.

walaupun gejala positif skizofrenia dan gangguan psikotik akibat amfetamin adalah serupa. dan hanya resolusi gejala dalam beberapa hari atau temuan positif pada uji saring urine yang akhirnya mengungkapkan diagnosis yang tepat. Gangguan mental ini sangat mirip sekali dengan paranoid schizophrenia.DSM-IV-TR yang berhubungan dengan gejala fenomenologis primer (contohnya psikosis). dan sedikit bukti gangguan berpikir (sebagai contohnya. Tetapi. telah banyak korban dengan gangguan psikosis atau gangguan kejiwaan yang parah. Kondisi psikosis inilah yang tidak disadari oleh kebanyakan pengguna amfetamin. Amfetamin Psikosis Efek penggunaan jangka panjang bisa menimbulkan kondisi yang disebut dengan amfetamin psikosis. Karena efeknya baru muncul jangka panjang maka sering kali efek ini disalah artikan. Tanda utama dari gangguan psikotik akibat amfetamin adalah adanya paranoia. Beberapa bukti menyatakan bahwa penggunaan amfetamin jangka panjang adalah disertai dengan peningkatan kerentanan terhadap perkembangan psikosis di bawah sejumlah keadaan. pendataran afek dan alogia dari skizofrenia biasanya tidak ditemukan pada gangguan psikotik akibat amfetamin. hiperseksualitas. Pengobatan terpilih untuk gangguan psikotik akibat amfetamin adalah penggunaan jangka pendek antagonis reseptor dopamin seperti haloperidol. gangguan psikotik akibat amfetamin akut mungkin sama sekali tidak dapat dibedakan dari skizofrenia. secara klinis. konfusi dan inkoherensi. asosiasi longgar). Pengalaman dari negaranegara lain yang sudah lebih lama muncul penggunaan amfetamin. termasuk intoksikasi alkohol dan stres. Skizofrenia dapat dibedakan dari gangguan psikotik akibat amfetamin oleh sejumlah karakteristik seperti menonjolnya halusinasi visual. hiperaktifitas. . DSMIV menuliskan kriteria diagnostik untuk gangguan psikotik akibat amfetamin dengan gangguan psikotik lainnya. afek yang biasanya sesuai. Efek psikosis ini juga bisa muncul pada penggunaan jangka pendek dengan dosis yang besar. Beberapa penelitian juga menemukan bahwa. DSM-IV memungkinkan dokter menyebutkan apakah waham atau halusinasi adalah merupakan gejala yang menonjol.

Pengobatan gangguan spesifik akibat amfetamin (seperti gangguan kecemasan dan gangguan psikotik) dengan obat yang spesifik (sedatif dan antipsikotik) mungkin diperlukan dalam jangka pendek. Tanpa adanya psikotik. tetapi. Lingkungan rawat inap dan macam-macam cara pengobatan (psikoterapi individual. baik phenotiazine atau haloperidol. . keluarga.3. psikoterapi mungkin sulit.3.7 Pengobatan Pengobatan gangguan berhubungan amfetamin (atau mirip amfetamin) adalah mirip dengan gangguan berhubungan kokain dengan kesulitan dalam membantu pasien tetap abstinen dari obat. dan kelompok) biasanya diperlukan untuk mencapai abstinensi zat yang berlangsung selamanya. Dokter harus menegakkan ikatan teraupetik dengan pasien untuk mengatasi depresi atau gangguan kepribadian dasar atau keduanya. karena banyak pasien mengalami ketergantungan berat dengan obat. yang mempunyai kualitas mendorong yang sangat kuat dan menginduksi kecanduan. dapat diresepkan untuk beberapa hari pertama. diazepam (Valium) berguna untuk mengobati agitasi dan hiperaktifitas pasien. Antipsikotik.

Os menjadi mudah tersinggung dan emosi. Os merasa setiap tidak mengonsumsi sabu-sabu menjadi stress selalu tidak tenang. os merasa bisa melupakan masalah. Setelah os menggunakan sabu-sabu. Os semakin mudah tersinggung. Riwayat penyakit yang sama dalam keluarga disangkal. os berubah menjadi orang yang mudah tersinggung. terakhir 1 hari SMRS.BAB IV ANALISIS KASUS Seorang laki-laki berumur 26 tahun. Os juga sering mencurigai seseorang tanpa sebab. Os cenderung memberikan respon datar terhadap situasi senang ataupun sedih. dibawa ke Rumah Sakit oleh keluarga dengan kondisi pasien yang compos mentis terganggu. terakhir 1 bulan yang lalu. Pasien juga mengaku mengkonsumsi sabu. Kontak: atensi inadekuat. Os merasa makhluk halus tersebut selalu mengejar-ngejarnya sehingga os selalu merasa ketakutan dan cemas. Lalu os dibawa berobat dan disarankan rawat jalan di RSJ Ernaldi Bahar. frekuensi 1x seminggu. Pasien mengaku mengkonsumsi alkohol sejak 5 tahun yang lalu. Os merasa dirinya dapat mendengar suarasuara gaib yang dapat mengganggunya seperti mengejarnya. Menurut keluarganya setelah os menggunakan sabu-sabu. os mulai mengalami perubahan perilaku. Konsentrasi: . dan pasien sudah menikah atau belum. ± 2 bulan yang lalu. Os merasa orang-orang di sekitarnya sering membicarakan tentang keburukannya. frekuensi 3x seminggu. dan belum menikah. Os terlihat sering berbicara sendiri dan berjalan tanpa arah. Os juga mengatakan kepada keluarganya bahwa os memiliki kekuatan untuk melihat makhluk halus dan dapat berkomunikasi dengan mereka. Riwayat penyakit dahulu ± 2 tahun yang lalu keluarga os merasa os berkelakuan aneh dan tidak mudah ditebak. Berdasarkan autoanamnesis dan observasi saat ditanyakan berapa umurnya. sekarang ada dimana. dan sering berbicara sendiri.sabu ± 4 tahun yang lalu. tidak bekerja. sulit tidur. pasien menjawab dengan benar namun kontak mata pasien berkurang dan sering menggerakkan bibir yang menunjukkan Afek: Tumpul. dengan sebab utama os mengalami perubahan perilaku menjadi mudah tersinggung dan emosi yang berlebihan. os banyak tidur dan saat bangun os banyak makan.

dimana keluarga dapat membantu dan mendukung kesembuhan pasien.19. Daya ingat: kurang.” Menunjukkan Kontak: atensi inadekuat.75 Gangguan Mental dan Perilaku Akibat Penggunaan Zat Multipel dan Penggunaan Psikoaktif Lainnya (amfetamin dan alkohol). Terapi yang diberikan berupa psikofarmaka dan psikoterapi.5 mg. Saya merasa cemas dan takut karena makhluk itu mengejar saya. Ketika pasien ditanya apakah bisa melihat dan berbicara dengan mahluk halus. Berdasarkan DSM V maupun PPDGJ III. . Gangguan Psikotik Onset Lambat karena pada pasien ditemukan gangguan psikotik yang terjadi selama lebih dari 2 minggu. Psikofarmaka yang diberikan berupa Abilify 1x10 mg sebagai antipsikotik. kecurigaan yang berulang tanpa dasar. dan Orientasi waktu dan personal: jelek. dan ditemukan kepekaan yang berlebihan terhadap penolakan. Halusinasi visual dan auditorik (+).5 mg. Pada status internus tidak ditemukan adanya kelainan dan pada pemeriksaan status neurologi juga tidak ditemukan kelainan. Psikoterapi pada pasien ini lebih ditekankan kepada psikoterapi keluarga.0 Gangguan kepribadian paranoid. Aksis IV: Masalah psikososial dan lingkungan lainnya. Aksis V: 60-51. Diagnosis banding yang ditemukan pada pasien adalah F20.0 Skizofrenia Paranoid karena pada kasus ditandai juga gejala halusinasi. sehingga gangguan mental organik dapat disingkirkan. Diagnosis Aksis II : F60. Afek: cemas. karena pada pasien ditemukan kecurigaan dan kecenderungan yang mendalam terhadap sikap dan tindakan orang lain. pasien menjawab. Aksis III: Tidak ada diagnosis. takut. dikarenakan adanya riwayat konsumsi sabu dan alkohol dalam beberapa minggu terakhir. “Iya dulu tapi sekarang tidak lagi. Selain itu. Waham kejar (+). dan Merlopam 1x0. dan gangguan asosiasi. gejala klinis yang ditemukan pada pasien mengarah pada Gangguan Mental dan Perilaku Akibat Penggunaan Zat. Karena pada pasien ini juga ditemukan gejala psikotik sehingga diagnosis skizofrenia belum dapat disingkirkan. THP 2x2 mg sebagai pengobatan gangguan ekstrapiramidal. Maka pada Aksis I : F. Orientasi tempat: baik. Stelosi 2x2.kurang. delusi. psikoterapi suportif ditujukan untuk memberi dukungan dan perhatian kepada pasien dalam menghadapi masalah dan memotivasi pasien agar meminum obat secara teratur.

36-43. Gangguan Terkait Zat edited by Muttaqin H. p.26. Gangguan Mental dan Perilaku Akibat Penggunaan Zat. p. Humas BNN.bnn. in Buku Ajar Psikiatrik edited by Elvira SD. Maslim R. in PPDGJ-III. Cited. Available from URL:www. 3. Sadock VA.go. Bagian Ilmu Kesehatan Jiwa FK-Unika Atmajawa: Jakarta. Badan Penerbit FKUI: Jakarta. ed. 86-146. Sihombing Retna NE.id . p. ECG: Jakarta. 2001. 2. Hadisukanto G. Husain AB. 138-69 4. Rehabilitasi Adiksi Berbasis Masyarakat Dalam Rangka Dukungan Penguatan Lembaga Rehabilitasi Komponen Masyarakat. in Kaplan&Sadock Buku Ajar Psikiatri Klinis. Sadock BJ. 2013 Augs. 2nd ed.DAFTAR PUSTAKA 1. Gangguan Penggunaan Zat. 2010. 2012.