You are on page 1of 7

PANDUAN TAMAN BERMAIN IBNU SINA

OLEH CO NERS UMY XXIV


SYARAT BERMAIN DI RUMAH SAKIT
Ada beberapa hal yang dipersyaratkan untuk dapat melakukan kegiatan bermain yang baik untuk anak di
rumah sakit, yaitu :
1. Perhatikan faktor usia anak.
Sesuaikan mainan/aktivitas dengan kematangan motorik anak, yaitu sejauh mana gerakan-gerakan otot tubuh
siap melakukan gerakan-gerakan tertentu. Juga sesuaikan dengan kognisinya, yaitu sejauh mana anak
mampu memahami permainan itu. Jika terlalu sulit, anak jadi malas bermain dan jika kelewat gampang ia
cepat bosan. Untuk itu pilihlah mainan yang dapat merangsang kreativitas anak.
2. Tidak harus sehat.
Tentu akan lebih baik jika anak dalam kondisi sehat. Namun anak yang sakitpun diperbolehkan untuk
bermain, malah bisa mempercepat proses kesembuhannya tentunya jenis permainannya disesuaikan kondisi
fisik. Misalnya pilih permainan yang bisa dilakukan ditempat tidur seperti melipat, mewarnai, menggambar
atau mendengarkan dongeng, memainkan jari-jemari sambil bercerita, main tebak-tebakan, dll.
3. Lama bermain.
Tergantung karakteristik anak, ada yang aktif dan pasif. Namun sebaiknya bermain tak terlalu lama agar
anak tak mengabaikan tugas-tugas lainnya seperti makan, mandi dan tidur. Untuk bayi, cukup 10-30 menit
karena rentang perhatiannya pun masih terbatas. Untuk anak yang lebih besar, buatlah komitmen lebih dulu.
Missal, boleh main selama 1 jam, setelah itu makan atau mandi. Namun kita harus konsisten dengan aturan
itu agar anak tidak bingung. Bagi anak yang sakit, jika ia butuh banyak istirahat, jangan dipaksakan.
4. Pastikan mainannya aman.
Terlebih untuk bayi, keamanan mainan harus diperhatikan betul. Pilih yang tidak mudah rusak/pecah
ataupun terurai seperti manik-manik karena di khawatirkan akan masuk mulut atau lubang telingan/hidung.
Jangan pula memberikan mainan yang bertali panjang, berukurang kecil dan menggunakan listrik. Selain itu
secara umum mainan anak haruslah tidak boleh ada bagian yang mudah tertelan, tidak tajam atau berujung
runcing, tidak mudah mengelupas, tidak menjepit dan tidak menimbulkan api.
5. Dampingi anak.
Penting diingat, mainan bukan pengganti orang tua, melainkan sarana untuk mendekatkan hubungan orang
tua dengan anak jadi, selalu dampingi anak kala bermain. Tanpa arahan kita anak akan bermain sendiri tanpa
mengenal tujuan dari permainan tersebut. Oleh karena itu kita perlu selalu mendampingi mereka dalam
bermain. Hal ini juga untuk mengatasi segala persoalan yang dihadapi tiap anak, seperti sulitnya
berkonsentrasi terhadap suatu kegiatan. Situasi ini juga dapat memacu pertumbuhan harga diri anak dengan
memberikan penghargaan pada setiap hasil kegiatan atau penemuan-penemuan anak dalam proses bermain.

PRINSIP PERMAINAN PADA ANAK DI RUMAH SAKIT

1.

Permainan tidak boleh bertentangan dengan pengobatan yang sedang dijalankan pada anak. Apabila anak
harus tirah baring, harus dipilih permainan yang dapat dilakukan di tempat tidur, dan anak tidak boleh diajak

2.
3.
4.
5.

bermain dengan kelompoknya di tempat bermain khusus yang ada di ruangan rawat.
Permainan yang tidak membutuhkan banyak energi, singkat dan sederhana
Permainan harus mempertimbangkan keamanan anak
Permainan harus melibatkan kelompok umur yang sama
Melibatkan orang tua

KEUNTUNGAN BERMAIN PADA ANAK DI RUMAH SAKIT


1.
2.

Meningkatkan hubungan antara klien (anak dan keluarga) dan perawat


Perawatan di rumah sakit akan membatasi kemampuan anak untuk mandiri. Aktivitas bermain yang

3.

terprogram akan memulihkan perasaan mandiri pada anak


Permainan pada anak di rumah sakit tidak hanya memberikan rasa senang pada anak, tetapi juga akan

4.

membantu anak mengekspresikan perasaan dan pikiran cemas, takut, sedih tegang dan nyeri
Permainan yang terapeutuk akan dapat meningkatkan kemampuan anak untuk mempunyai tingkah laku yang
positif

KL ASIFIKASI BERMAIN
1. Berdasarkan Isi Permainan
a. Social affective play
Inti permainan ini adalah adanya hubungan interpersonal yang menyenangkan antara anak dan orang lain. Misalnya,
bayi akan mendapatkan kesenangan dan kepuasan dari hubungan yang menyenangkan dengan orang tuanya dan/atau
orang lain. Permainan yang biasa dilakukan adalah Cilukba, berbicara sambil tersenyum/tertawa, atau sekadar
memberikan tangan pada bayi untuk menggenggamnya , tetapi dengan diiringi berbicara sambil tersenyum dan
tertawa. Bayi akan mencoba berespons terhadap tingkah laku orang tuanya dan/atau orang dewasa tersebut/misalnya
dengan tersenyum, tertawa, dan/atau mengoceh .
b.

Sense of pleasure play


Permainan ini menggunakan alat yang dapat menimbulkan rasa senang pada anak dan biasanya mengasyikkan.
Misalnya, dengan menggunakan pasir, anak akan membuat gunung-gunungan atau benda-benda apa saja yang dapat
dibentuknya dengan pasir . Bisa juga dengan menggunakan air anak akan melakukan macam-macam permainan,
misalnya memindah-mindahkan air ke botol, bak, atau tempat lain. Cirri khas permainan ini adalah anak akan
semakin asyik bersentuhan dengan alat permainan ini dan dengan permainan yang dilakukannya sehingga susah

c.

dihentikan
Skill play
Sesuai dengan sebutannya, permainan ini akan meningkatkan ketrampilan anak, khususnya motorik kasar dan halus.
Misalnya, bayi akan terampil memegang benda-benda kecil, memindahkan benda dari satu tempat ke tempat yang
lain, dan anak akan terampil naik sepeda. Jadi, keterampilan tersebut diperoleh melalui pengulangan kegiatan

d.

permainan yang di lakukan. Semakin sering melakukan latihan, anak akan semakin terampil.
Games atau permainan
Games atau permainan adalah jenis permainan yang menggunakan alat tertentu yang menggunakan perhitungan
dan/atau skor. Permainan ini bisa dilakukan oleh anak sendiri dan/ atau dengan temannya. Banyak sekali jenis

permainan ini mulai dari yang sifatnya tradisional maupun yang modern.misalnya, ular tangga, congklak, puzzle, dan
e.

lain-lain.
Unoccupied behaviour
Pada saat tertentu, anak sering terlihat mondar-mandir, tersenyum, tertawa, jinjit-jinjit, bungkuk-bungkuk,
memainkan kursi, meja, atau apa saja yang ada di sekelilingnya. Jadi, sebenarnya anak tidak memainkan alat
permainan tertentu, dan situasi atau obyek yang ada di sekelilingnya yang di gunakannya sebagai alat permainan.

f.

Anak tampak senang, gembira, dan asyik dengan situasi serta lingkungannya tersebut .
Dramatic play
Sesuai dengan sebutannya, pada permainan ini anak memainkan peran sebagai orang lain melalui permainannya.
Anak berceloteh sambil berpakaian meniru orang dewasa, misalnya ibu guru, ibunya, ayahnya, kakaknya, dan
sebagainya yang ingin ia tiru. Apabila anak bermain dengan temannya, akan terjadi percakapan di antara mereka
tentang peran orang yang mereka tiru. Permainan ini penting untuk proses identifikasi anak terhadap peran tertentu

2.

Berdasarkan Karakter Social


a. Onlooker play
Pada jenis permainan ini, anak hanya mengamati temannya yang sedang bermain, tanpa ada inisiatif untuk ikut
berpartisipasi dalam permainan. Jadi, anak tersebut bersifat pasif, tetapi ada proses pengamatan terhadap permainan
b.

yang sedang dilakukan temannya.


Solitary play
Pada permainan ini, anak tampak berada dalam kelompok permainan, tetapi anak bermain sendiri dengan alat
permainan yang dimilikinya, dan alat permainan tersebut berbeda dengan alat permainan yang digunakan temannya,

c.

tidak ada kerja sama, ataupun komunikasi dengan teman sepermainannya


Parallel play
Pada permainan ini, anak dapat menggunakan alat permainan yang sama, tetapi antara satu anak dengan anak lainnya
tidak terjadi kontak satu sama lain sehingga antara anak satu dengan anak lain tidak ada sosialisasi satu sama lain.

d.

Biasanya permainan ini dilakukan oleh anak usia toddler.


Associative play
Pada permainan ini sudah terjadi komunikasi antara satu anak dengan anak lain, tetapi tidak terorganisasi, tidak ada
pemimpin atau yang memimpin permainan, dan tujuan permainan tidak jelas. Contoh permainan jenis ini adalah

e.

bermain boneka, bermain hujan-hujanan dan bermain masak-masakan.


Cooperative play
Aturan permainan dalam kelompok tampak lebih jelas pada permainan jenis ini, juga tujuan dan pemimpin
permainan. Anak yang memimpin permainan mengatur dan mengarahkananggotanya untuk bertindak dalam
permainan sesuai dengan tujuan yang diharapkan dalam permainan tersebut. Misalnya, pada permainan sepak bola,
ada anak yang memimpin permainan, aturan main harus dijalankan oleh anak dan mereka harus dapat mencapai
tujuan bersama, yaitu memenangkan permainan dengan memasukkan bola ke gawang lawan mainnya.

BENTUK- BENTUK PERMAINAN


1.

Usia 0 12 bulan
Tujuannya adalah :
a. Melatih reflek-reflek (untuk anak bermur 1 bulan), misalnya mengisap, menggenggam.
b. Melatih kerjasama mata dan tangan.
c. Melatih kerjasama mata dan telinga.
d. Melatih mencari obyek yang ada tetapi tidak kelihatan.
e. Melatih mengenal sumber asal suara.
f. Melatih kepekaan perabaan.
g. Melatih keterampilan dengan gerakan yang berulang-ulang.
Alat permainan yang dianjurkan :

a. Benda-benda yang aman untuk dimasukkan mulut atau dipegang.


b. Alat permainan yang berupa gambar atau bentuk muka.
c. Alat permainan lunak berupa boneka orang atau binatang.
d. Alat permainan yang dapat digoyangkan dan keluar suara.
e. Alat permainan berupa selimut dan boneka.
2. Usia 13 24 bulan
Tujuannya adalah :
a.
b.
c.
d.
e.

Mencari sumber suara/mengikuti sumber suara.


Memperkenalkan sumber suara.
Melatih anak melakukan gerakan mendorong dan menarik.
Melatih imajinasinya.
Melatih anak melakukan kegiatan sehari-hari semuanya dalam bentuk kegiatan yang menarik

Alat permainan yang dianjurkan:


a.
b.
c.

Genderang, bola dengan giring-giring didalamnya.


Alat permainan yang dapat didorong dan ditarik.
Alat permainan yang terdiri dari: alat rumah tangga(misal: cangkir yang tidak mudah pecah, sendok botol
plastik, ember, waskom, air), balok-balok besar, kardus-kardus besar, buku bergambar, kertas untuk
dicoret-coret, krayon/pensil berwarna.

3.

Usia 25 36 bulan
Tujuannya adalah ;
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

Menyalurkan emosi atau perasaan anak.


Mengembangkan keterampilan berbahasa.
Melatih motorik halus dan kasar.
Mengembangkan kecerdasan (memasangkan, menghitung, mengenal dan membedakan warna).
Melatih kerjasama mata dan tangan.
Melatih daya imajinansi.
Kemampuan membedakan permukaan dan warna benda.

Alat permainan yang dianjurkan :


a. Alat-alat untuk menggambar.
b. Lilin yang dapat dibentuk
c. Pasel (puzzel) sederhana.
d. Manik-manik ukuran besar.
e. Berbagai benda yang mempunyai permukaan dan warna yang berbeda.
f. Bola.
4. Usia 32 72 bulan
Tujuannya adalah :
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.
l.

Mengembangkan kemampuan menyamakan dan membedakan.


Mengembangkan kemampuan berbahasa.
Mengembangkan pengertian tentang berhitung, menambah, mengurangi.
Merangsang daya imajinansi dsengan berbagai cara bermain pura-pura (sandiwara).
Membedakan benda dengan permukaan.
Menumbuhkan sportivitas.
Mengembangkan kepercayaan diri.
Mengembangkan kreativitas.
Mengembangkan koordinasi motorik (melompat, memanjat, lari, dll).
Mengembangkan kemampuan mengontrol emosi, motorik halus dan kasar.
Mengembangkan sosialisasi atau bergaul dengan anak dan orang diluar rumahnya.
Memperkenalkan pengertian yang bersifat ilmu pengetahuan, misal : pengertian mengenai terapung dan

tenggelam.
m. Memperkenalkan suasana kompetisi dan gotong royong.
Alat permainan yang dianjurkan :

5.

a.

Berbagai benda dari sekitar rumah, buku bergambar, majalah anak-anak, alat gambar & tulis, kertas

b.

untuk belajar melipat, gunting, air, dll.


Teman-teman bermain : anak sebaya, orang tua, orang lain diluar rumah.

Usia Prasekolah
Alat permainan yang dianjurkan :
a.
b.

Alat olah raga.


Alat masak

c. Alat menghitung
d. Sepeda roda tiga
e. Benda berbagai macam ukuran.
f. Boneka tangan.
g. Mobil.
h. Kapal terbang.
i. Kapal laut dsb
6. Usia sekolah
Jenis permainan yang dianjurkan :
a. Pada anak laki-laki : mekanik.
b. Pada anak perempuan : dengan peran ibu.
7. Usia Praremaja (yang akan dilakukan oleh kelompok)
Karakterisrik permainnya adalah permainan intelaktual, membaca, seni, mengarang, hobi, video games,
permainan pemecahan masalah.
8.

Usia remaja
Jenis permainan : permainan keahlian, video, komputer, dll.