You are on page 1of 11

A.

Pembahasan
Penelitian ini dilakukan pada tanggal 20-21 Mei 2014 di kantin yang
ada di Poltekkes Kemenkes Yogyakarta, dimana hari pertama mendatangi
masing-masing kantin untuk melakukan pengambilan sampel kuman
tangan penjamah makanan. Penelitian dilakukan pada jam kerja yaitu mulai
pada pukul 10.30 WIB - 13.50 WIB, saat dimana mahasiswa dan karyawan
telah beraktivitas di luar ruangan.
Pengambilan sampel kuman

tangan

terlebih

dahulu

sabun

diencerkan dengan perbandingan 1: 6 agar sabun 100 % cair. Kemudian
membagi telapak tangan menjadi 4 bagian dengan plastik mika dengan
masing-masing ukuran 4x1 cm2. Selanjutnya dilakukan pengusapan tangan
pada telapak tangan kiri, karena tangan kiri yang paling rentan terhadap
kuman.
Selain itu, metode yang digunakan adalah usap telapak tangan agar
diketahui hasil berupa angka dengan satuan koloni/cm 2 yang nantinya
dapat dihitung potensi antiseptiknya. Apabila yang diteliti jari-jari tangan
maka satuan yang didapatkan adalah simbol – (tidak ada) atau + (ada).
Pengambilan sampel kuman tangan terlebih dahulu untuk sampel
kontrol yang hanya menggunakan NaCl fisiologis steril pada masingmasing penjamah makanan kantin. Sabun yang digunakan setiap
penjamah makanan sama, untuk sabun padat seberat 1 gram yang telah
dicairkan dengan menggunakan aquades sebanyak 6 ml, sedangkan sabun
cair sebanyak 1 ml yang telah diencerkan menggunakan aquades
sebanyak 6 ml.
Selanjutnya dilakukan pengambilan sampel kuman tangan untuk
sampel perlakuan dengan sabun L, S dan D. Pada masing-masing bagian
dikontakkan selama 1 menit dengan masing-masing sabun secara
bergantian yang selanjutnya diusap dengan lidi kapas steril yang telah

Setelah didapatkan hasil pemeriksaan laboratorium berupa kontrol dan post angka kuman tangan (lihat lampiran 2. agar peneliti mendapatkan pengalaman dan tambahan pengetahuan dalam memeriksa angka kuman tangan. sabun cair dan sabun gel (Lubis. sampel usap tangan untuk masing-masing jenis sabun diberi kode. Sabun L Sabun L adalah jenis sabun padat yang berfungsi sebagai sabun mandi dengan bahan aktif triclocarban. data dianalisis secara deskriptif dan juga diuji secara statistik. Dari tabel induk tersebut. Sabun terdiri dari 3 jenis.dibasahi NaCl fisiologis steril. dihitung potensi antiseptik masing-masing jenis sabun kemudian dimasukkan dalam tabel induk (lihat lampiran 3. 2014). Untuk meningkatkan obyektivitas dan kualitas hasil pemeriksaan. hal 56). 2003). Sabun merupakan hasil reaksi kimia antara asam lemak tinggi yang diturunkan dari minyak atau lemak dan direaksikan dengan alkali seperti KOH (kalium hidroksida) dan NaOH (Natrium hidroksida). Namun dalam penelitian ini hanya menggunakan 2 jenis sabun yaitu sabun padat dan sabun cair. yaitu sabun padat. Bahan aktif tersebut berfungsi untuk mengurangi jumlah bakteri berbahaya pada kulit sehingga membantu untuk menghentikan penularan kuman kepada orang lain atau benda (Cosmetics Info. dapat dianalisis pada masingmasing sabun sebagai berikut : a. . Dalam perhitungan angka kuman. Berdasarkan penelitian ini. Sampel usap tangan yang berada di media blood agar kemudian dibawa ke Laboratorium Mikrobilogi untuk dilakukan oleh peneliti sendiri. reaksi kimia tersebut dinamakan saponifikasi. hal 53). Sabun adalah surfaktan yang digunakan dengan air untuk mencuci dan membersihkan. pemeriksa dibantu oleh beberapa pemeriksa lain.

Kelebihan alkali dapat dapat disebabkan karena penambahan alkali yang berlebih pada proses pembuatan sabun. aroma yang dimiliki sabun L sangat menyengat walaupun busa yang dihasilkan sedikit. 2011). Namun demikian.5 % (BPOM. Kelebihan dari sabun padat adalah tidak lembab dan dapat kering sehingga tidak bisa menjadi tempat hidup kuman. Suatu sabun mandi yang baik kualitas kadar alkali bebas jumlah yang masih tersisa tidak boleh melebihi 0.02 % yang seharusnya batasan konsentrasi bahan aktif adalah 1. Pada penggunaannya. Nilai pH yang semakin tinggi akan lebih efektif membersihkan kotoran dan minyak dalam tubuh. sedangkan Sedangkan kekurangannya yaitu dalam pemakaian sabun batang . (Akmal.18 yang berarti pH sabun L adalah basa. 2006) Sabun badan memiliki nilai pH sebesar 5-8 (Barrans Jr. 2002).Sabun L memiliki rata-rata potensi antiseptik sebesar 41.56 %. Hal ini dikarenakan sabun L mengandung bahan aktif triclocarban sebagai agen antibakteri yang digunakan pada sabun padat dengan mengganggu metabolisme mikroorganisme. Kelebihan jumlah kadar alkali dari batasan tersebut dapat menimbulkan kerugian konsumen. Richard E. berupa kerusakan kulit dan iritasi kulit lainnya. busa berperan dalam proses pembersihan dan melimpahkan wangi sabun pada kulit. 2012).05 %. Sabun L memiliki nilai pH sabun sebesar 9. Konsentrasi bahan aktif triclocarban adalah 0. Konsentrasi 0. Sabun padat tidak menghasilkan busa yang banyak jika tidak tersedia air yang banyak pula.02 % mempunyai aktivitas antimikrobial sedang terhadap mikobakterial.Yopita. sehingga adanya antibakteri dapat membunuh mikroorganisme (Awalul. dimana lebih tinggi dibandingkan sabun S.

b.. Apalagi jika sabun batang tidak disimpan di kemasan yang tertutup. . Sabun S Sabun S adalah jenis sabun cair yang berfungsi sebagai sabun pencuci piring dengan bahan aktif surfaktan anionik 18. selalu ada potensi untuk bakteri tinggal di sana. Richard E. Bahan aktif tersebut berfungsi sebagai zat pembasah yang akan menyusup ke dalam ikatan antara kotoran dan serat kain. Alkali yang digunakan sabun L adalah NaOH yang lebih sulit larut dalam air sehingga lebih boros air. Sabun S memiliki nilai pH sabun sebesar 10. sabun L cenderung menyisakan produknya dan terkadang juga terbuang dalam wujud padat.30 %. sehingga dapat melepaskan kotoran dan minyak yang menempel pada permukaan bahan (Ghandy. Bahan aktif yang terkandung dalam sabun S lebih banyak menghilangkan kotoran dan lemak. Secara ekonomis. Maka dari itu kurangi kontak langsung dengan kulit dengan cara menggunakan sarung tangan setiap kontak dengan sabun. Potensi antiseptik ini lebih rendah disbanding rata-rata potensi antiseptik sabun L dan sabun D. Selain itu. segera membilas tangan dan keringkan. Jika terlajur kontak dengan sabun. 2002).3%. Nilai pH yang bersifat korosif akan meyebabkan iritasi pada kulit.yang habis dalam seminggu. 2012).5 yang berarti pH sabun S adalah basa.bergantian akan membuat pemakainya bertukar bakteri yang ada. Sabun badan memiliki nilai pH sebesar 10-12 (Barrans Jr. sabun padat dengan volume 80 gram dengan harga kurang lebih Rp 3000. Hal ini disebabkan karena tidak adanya zat antimikroba yang di formulasikan pada sabun ini. Sabun S memiliki rata-rata potensi antiseptik sebesar 26.

Akan tetapi. Potensi antiseptik dengan bahan aktif chloroxylenol . tidak ada sabun yang terbuang. Bahan aktif tersebut berfungsi sebagai sabun cuci tangan (hand wash) yang dapat membunuh kuman dan bakteri dengan memecah dinding sel (Saifuddin. Alkali yang digunakan adalah KOH yang lebih mudah larut dalam air sehingga lebih menghemat air. Bau jeruk nipis ini berasal dari formula sabun S untuk menghilangkan lemak pada permukaan peralatan makan. Bau yang dimiliki sabun S adalah bau jeruk nipis dengan warna hijau tua. Sabun D memiliki rata-rata potensi antiseptik sebesar 48. sesuai petunjuk kegunaan sabun bahwa 1 sendok makan sabun cuci piring (15 mL). Secara ekonomis.000. Sehingga sabun S belum efektif dalam proses pembersihan.Sabun S adalah sabun cuci piring yang tidak mengandung antimikroba yang jika digunakan secara terus menerus untuk mencuci tangan akan membuat tangan menjadi kasar. Selain itu.cukup untuk mencuci sekitar 80 peralatan makan standar (piring. alkali yang digunakan KOH. serta mudah larut dalam air. c. Sabun D Sabun D adalah jenis sabun cair yang berfungsi sebagai sabun cuci tangan dengan bahan aktif chloroxylenol 0.. mangkok) yang digunakan sebagai tempat saji makanan berlemak tinggi selama kurang lebih 27 hari. 2005).81 %. Sabun jenis cair ini memiliki ciri yaitu dibuat dari minyak kelapa. berbentuk cair dan tidak mengental dalam suhu kamar. kekentalan sabun S lebih rendah dari sabun D sehingga busa yang dihasilkan tidak sebanyak sabun D. volume sabun 400 mL dengan harga kurang lebih Rp 10.175% w/w.

karena dapat menyerap dengan cepat dan potensial meracuni (Saifuddin. Bau yang dimiliki sabun S adalah bau antiseptik dengan warna hijau muda pucat. Alkali yang digunakan adalah KOH yang lebih mudah larut dalam air sehingga lebih menghemat air. Kelebihan dari sabun jenis cair ialah jika digunakan orang lain tidak perlu memegang sabun tersebut. cukup diteteskan pada tangan sehingga kontaminasi kuman pada sabun dapat dihindari. sehingga menghasilkan sabun yang lebih banyak dan dapat membersihkan tangan dengan maksimal. 2002).0.175% w/w yang terkandung dalam sabun D ini mampu menghilangkan kuman pada tangan. Sabun D memiliki nilai pH sabun sebesar 9 yang berarti pH sabun D adalah basa. sesuai petunjuk kegunaan sabun cair (WHO. 2005). Sabun tangan memiliki nilai pH sebesar 8-10 (Barrans Jr. Bahan aktif yang terkandung dalam sabun D meninggalkan efek residu hingga beberapa jam sehingga dapat melindungi tangan dari kuman dalam waktu yang lama sehingga tidak perlu sering mencuci tangan dan dapat menghemat sabun. 2005) yaitu sekali pemakaian sebanyak 3 tetes (1. Kekurangan sabun ini adalah sabun antibakteri akan membuat bakteri tertentu lebih resisten terhadap bahan-bahan tersebut dan menjadikannya bertambah sulit dibasmi. Kekentalan sabun D kelih kental disbanding sabun S. Secara ekonomis. Tetapi tidak menutup kemungkinan penggunaan sabun D sesering mungkin akan lebih baik dalam pencegahan terhadap kuman pada tangan. Akan tetapi tidak boleh digunakan pada bayi baru lahir. Sehingga nilai pH sabun D tidak lebih dari kriteria nilai pH. Richard E.5 mL) dengan . Bahan aktif ini tidak menimbulkan bahaya pada kulit orang dewasa.

Hasil analisis data secara deskriptif. 2006).yang digunakan oleh satu orang dapat melindungi tangan dari kuman sehingga mencegah penyakit yang diakibatkan melalui perantara tangan selama kurang lebih 27 hari.175% w/w yang memiliki kemampuan meninggalkan efek residu tahan sampai beberapa jam sehingga bahan aktif tersebut yang tinggal lebih lama dalam tangan dapat mencegah pertumbuhan kuman penyakit. Hal ini dikarenakan sabun D mengandung bahan aktif chloroxylenol 0.. berupa racun yang dapat membahayakan kelangsungan hidup manusia yang dihinggapi oleh kuman tersebut (Amri. Kedua jenis sabun dengan tiga bahan aktif yang digunakan dalam penelitian ini adalah sabun yang digunakan untuk mencuci tangan penjamah makanan jajanan kantin. Sebagai makhluk hidup.volume 240 mL seharga kurang lebih Rp 7000. mencuci tangan dengan sabun yang digunakan dalam penelitian ini sebagai upaya mencegah kontaminasi kuman dalam tangan.063 dimana < 0. . 2005). pada tabel Anova didapatkan p-value adalah 0. diketahui bahwa sabun yang memiliki potensi antiseptik yang mampu mencegah pertumbuhan mikroorganisme paling baik adalah sabun D. hal 58).05 sehingga tidak terdapat perbedaan potensi antiseptik sabun L. Secara statistik. Salah satu perilaku sehat untuk mencegah kontaminasi kuman adalah menjaga kulit selalu dalam keadaan bersih (Hanifah. kuman dapat mengeluarkan bahan-bahan sisa dari hidupnya. dari hasil uji Anava satu jalan (lihat lampiran 5. Maka itu. S dan D pada penjamah makanan jajanan kantin.

Escherichia coli yang dapat menyebabkan diare. Satu kuman akan berkembang biak menjadi sangat banyak dalam waktu yang singkat. kuman dapat mengeluarkan bahan-bahan sisa dari hidupnya. Flora transien yang juga disebut flora transit atau flora kontaminasi. Mikroorganisme pada kulit manusia dapat diklasifikasikan dalam dua kelompok. berupa racun yang dapat membahayakan kelangsungan hidup manusia yang dihinggapi oleh kuman tersebut (Amri. Jenis kuman yang terdapat di tangan adalah : Helocobakter pylori yang dapat menyebabkan maag. tidak mudah dihilangkan dengan gesekan mekanis yang telah beradaptasi dengan kehidupan tangan manusia. Selain itu dapat menciptakan kepercayaan pelanggan kantin terhadap makanan yang dijual dikantin tersebut. terutama bila terdapat pada tempat suasana yang baik dan sesuai di dalam media dimana makanan untuk kuman tersedia. gorengan. 2006). Clostridium . Mikroorganisme ini dengan mudah dapat dihilangkan dari permukaan dengan gesekan mekanis dan pencucian tangan dengan sabun atau detergen (Ditjen PP dan PL. jenisnya tergantung dari lingkungan tempat bekerja. soto. Sallmonela sp yang dapat menyebabkan tipus dan diare. Sebagai makhluk hidup. Flora risiden adalah mikroorganisme yang secara konsisten dapat diisolasi dari tangan manusia. Kuman adalah suatu makhluk hidup yang terdiri dari satu sel dan dapat memperbanyak diri dengan cepat. 2003). yaitu flora risiden dan flora transien. Staphylococcus haemoliticus.Apabila sabun D digunakan oleh penjamah makanan jajanan kantin. lotek akan lebih aman dari kontaminasi kuman dari tangan penjamah makanan jajanan. keamanan makanan yang dijual di kantin tersebut seperti nasi sayur. Kuman yang lain seperti Staphylococcus aureus.

Proteus spp.welchii. Pseudomonas aeruginosa. Tangan yang kotor karena menyentuh feces mengandung kurang lebih 10 juta bakteri (DinKes Provinsi Yogyakarta. kemudian dihitung berdasarkan lempeng dasar untuk standar test terhadap bakteri. Klebsiella spp. sehingga tiap koloni dianggap satu bakteri (Elita. Penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan mencuci tangan dengan sabun antara lain diare. Cuci tangan menggunakan sabun yang sesuai yaitu dengan sabun khusus cuci tangan yang mengandung anti mikroba seperti sabun D perlu diterapkan pada penjamah makanan jajanan kantin. Hal ini berarti semua sabun memiliki potensi antiseptik untuk mencegah kontaminasi kuman pada tangan sehingga mengurangi resiko penularan penyakit yang ditimbulkan tangan. bakteri Coliform. 2010). Pseudomonas spp. Tangan adalah salah satu penghantar utama masuknya kuman penyakit ke tubuh manusia. Tiap koloni berasal dari satu bakteri. Staphylococcus epidermis. dan Entamoeba coli (Rachmawati dan Triyana. Infeksi Kecacingan. Menurut Amri (2006) Pengukuran angka kuman tangan bertujuan untuk mengetahui jumlah bakteri pada tangan. 2013). Infeksi Mata dan Penyakit Kulit (Binuang. 2008). Angka kuman atau angka lempeng total adalah angka yang menunjukan adanya mikroorganisme patogen menurut pengamatan secara visual atau dengan kaca pembesar pada media penanaman yang diperiksa. Dengan menerapkan . 2007). inspeksi saliran pernapasan. Cuci tangan dengan sabun dapat menghambat masuknya kuman penyakit ke tubuh manusia melalui perantara tangan. Potensi antiseptik dari ketiga sabun tersebut tidak terlihat adanya perbedaan.

risiko terkena penyakit lingkungan seperti diare dan ISPA dapat terkurangi. Mencuci tangan dengan sabun sangat disarankan penjamah makanan jajanan kantin karena banyaknya aktivitas yang berhubungan langsung dengan makanan yang berdampak pada higienitas makanan yang disajikan.kebiasaan berperilaku hidup bersih dan sehat seperti mencuci tangan dengan sabun. Penelitian lain yang mendukung adalah penelitian tentang hubungan antara pengetahuan tentang higiene dan sanitasi makanan penjamah makanan dengan praktik menjamah makanan dan keadaan higiene makanan olahan di Panti Sosial Tresna Werdha Yogyakarta oleh Adi Rinanta (2012). Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan republik Indonesia Nomor 942/Menkes/SK/VII/2003 tentang Pedoman Persyaratan Higiene Sanitasi Makanan Jajanan bahwa persyaratan penjamah makanan jajanan kantin yaitu menjaga kebersihan tangan dengan mencuci tangan setiap kali hendak menangani makanan. . Penelitian tersebut diperoleh hasil adanyabperbedaan yang bermakna penggunaan 3 jenias sabun pencuci tangan terhadap penurunan angka kuman tangan murid SDN Patran. Penelitian lain yang mendukung adalah tentang perbedaan 3 jenis sabu cuci tangan dalam menurunkan angka kuman tangan murid SDN Patran Gamping Sleman Yogyakarta oleh Taufik Ade Elita (2010). Penelitian tersebut diperoleh hasil tidak ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan tentang higiene dan sanitasi makanan dengan praktik menjamah makanan dan ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan tentang higiene dan sanitasi makanan dengan keadaan higiene makanan.