You are on page 1of 62

TUGAS TERSTRUKTUR

KRISIS ADRENAL

M.A : KMB I
Dosen : Tonalius, SKM

Disusun oleh :
Dipo Wibisono

20080561

AKADEMI KEPERAWATAN DHARMA INSAN


PONTIANAK
1

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis kami panjatkan kehadiran Tuhan Yang Maha Esa
atas berkat dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan laporan pendahuluan
tentang Krisis Adrenal tepat pada waktunya.
Dalam penyusunan makalah ini, penulis mendapat dukungan, bantuan, serta
bimbingan dari berbagai pihak, dan pada kesempatan ini penulis juga
mengucapkan terima kasih kepada:
1. Tonalius, SKM, selaku pembimbing M.A KMB1.
2. Teman-teman mahasiswa/I Akademi Keperawatan Dharma Insan Pontianak
khususnya angkatan IX yang telah memberikan dukungan dan bantuan bagi
penulis.
Penulis juga menyadari bahwa makalah ini juga masih belum sempurna, oleh
karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun guna
perbaikan dan kesempurnaan makalah yang sudah saya buat ini. Guna dari
pembuatan makalah ini untuk menambah pengetahuan dan sumber informasi bagi
para pembaca dan terutama untuk mahasiswa/I Akademi Keperawatan Dharma
Insan Pontianak dalam pemberian asuhan keperawatan secara optimal.

Pontianak, 23 September 2009

Penulis

DAFTAR ISI
Kata Pengantar
Daftar Isi...
BAB I
Landasan Teori
1. Anatomi Fisiologoi.
2. Etiologi
3. Patofisiologi
4. Manifestasi Klinik.
5. Pemeriksaan Penunjang..
6. Penatalaksanaan...
Insufisiensi Adrenal
1. Pengertian
2. Etiologi.
3. Patofisiologi.
4. Manifestasi Klinik...
5. Pemeriksaan Penunjang
6. Penatalaksanaan
7. Komplikasi.
BAB II

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN DISFUNGSI KELENJAR


ADRENAL
A. Sindrome Cushing
1. Pengkajian
2. Diagnosa keperawatan
3. Intervensi keperawatan..
4. Implementasi
5. Evaluasi
B. Penyakit Addison..
1. Pengkajian
2. Diagnosa Keperawatan...
3. Rencana Keperawatan
4. Implementasi
5. Evaluasi.
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
LANDASAN TEORI
A. Anatomi Fisiologi
Kelenjar supraneralis jumlahnya ada 2, terdapat pada bagian atas dari ginjal kiri
dan kanan. Ukurannya berbeda-beda, beratnya rata-rata 5-9 gram.
Fungsi kelenjar suprarenalis terdiri dari :
1. Mengatur keseimbangan air, elektrolit dan garam-garam
2. Mengatur atau mempengaruhi metabolisme lemak, hidrat arang dan protein
3. Mempengaruhi aktifitas jaringan limfoid
Kelenjar suprarenalis ini terbagi atas 2 bagian, yaitu :
1. Medula Adrenal
Medula adrenal berfungsi sebagai bagian dari system saraf otonom.
Stimulasi serabut saraf simpatik pra ganglion yang berjalan langsung ke dalam
sel-sel pada medulla adrenal aka menyebabkan pelepasan hormon katekolamin
yaitu epinephrine dan norepinephrine. Katekolamin mengatur lintasan metabolic
untuk meningkatkan katabolisme bahan bakar yang tersimpan sehingga kebutuhan
kalori dari sumber-sumber endogen terpenuhi.
Efek utama pelepasan epinephrine terlihat ketika seseorang dalam
persiapan untuk memenuhi suatu tantangan (respon Fight or Fligh). Katekolamin
juga menyebabkan pelepasan asam-asam lemak bebas, meningkatkan kecepatan
metabolic basal (BMR) dan menaikkan kadar glukosa darah.
5

2. Korteks Adrenal
Korteks adrenal tersusun dari zona yaitu zona glomerulosa, zona fasikulata
dan zona retikularis. Korteks adrenal menghasilkan hormon steroid yang terdiri
dari 3 kelompok hormon :
a. Glukokortikoid
Hormon ini memiliki pengaruh yang penting terhadap metabolisme
glukosa ; peningkatan hidrokortison akan meningkatan kadar glukosa darah.
Glukokortikoiddisekresikan dari korteks adrenal sebagai reaksi terhadap
pelepasan ACTH dari lobus anterior hipofisis. Penurunan sekresi ACTH akan
mengurangi pelepasan glukokortikoid dari korteks adrenal.
Glukokortikoid sering digunakan untuk menghambat respon inflamasi
pada cedera jaringan dan menekan manifestasi alergi. Efek samping
glukokortikoid

mencakup

kemungkinan

timbulnya

diabetes

militus,

osteoporosis, ulkus peptikum, peningkatan pemecahan protein yang


mengakibatkan atrofi otot serta kesembuhan luka yang buruk dan redistribusi
lemak tubuh. Dalam keadaan berlebih glukokortikoid merupakan katabolisme
protein,

memecah

protei

menjadi

karbohidrat

dan

menyebabkan

keseimbangan nitrogen negatif.


b. Mineralokortikoid
Mineralokortikoid pada dasarnya bekerja pada tubulus renal dan
epitelgastro intestinal untuk meningkatkan absorpsi ion natrium dalam proses
pertukaran untuk mengeksresikan ion kalium atau hydrogen. Sekresi
aldesteron hanya sedikit dipengaruhi ACTH. Hormon ini terutama
disekresikan sebagai respon terhadap adanya angiotensin II dalam aliran
darah.
6

Kenaikan kadar aldesteron menyebabkan peningkatan reabsorpsi natrium


oleh ginjal dan traktus gastro intestinal yang cederung memulihkan tekanan
darah untuk kembali normal. Pelepasan aldesteron juga ditingkatkan
oleh hiperglikemia. Aldesteron merupakan hormon primer untuk mengatuk
keseimbangan natrim jangka panjang.
c. Hormon-hormon seksAdrenal (Androgen)
Androgen dihasilkan oleh korteks adrenal, serta sekresinya didalam
glandula

adrenalis

dirangsang

ACTH,

mungkin

dengan

sinergisme

gonadotropin. Kelompok hormon androgen ini memberikan efek yang serupa


dengan efek hormon seks pria. Kelenjar adrenal dapat pula mensekresikan
sejumlah kecil estrogen atau hormon seks wanita. Sekresi androgen adrenal
dikendalikan

oleh

ACTH.

Apabila

disekresikan

secara

berlebihan,

maskulinisasi dapat terjadi seperti terlihat pada kelainan bawaan defisiensi


enzim tertentu. Keadaan ini disebut Sindrom Adreno Genital.

Steroid
Sel-sel korteks adrenal dapat menyintesis kolestrol dan juga mengambilnya dari
sirkulasi. Kolestrol diubah menjadi 5-Pregnenolon yang merupakan bahan dasar
semua kortikosteroid. Banyak steroid telah diisolasi dari korteks adrenal tetapi ada 3
yang paling penting :
a. Kortisol (hidrokortison)
Disekresi setiap hari, umumnya berasal dari zona fasikulata (lapisan tengah) dan
zona retikularis (lapisan dalam)
7

b. Dehidro epi androsteron (DHEA)


Disekresi oleh lapisan yang sama dan kira-kira dalam jumlah yang sama dengan
kortisol

c. Aldesteron
Disekresi oleh zona glomerulosa (lapisa luar) yang juga memproduksi beberapa
jenis kortikosteroid lain dan sedikit testosteron dan estrogen

Pengontrolan Sekresi Kortikosteroid


Sekresi kortisol diatur oleh 3 sistem yang bekerja secara serempak :
a. Penglepasan kortisol berlangsung bergelombang menyebabkan adanya ritme
diurnal sekresi kortisol sehingga terjadi kadar plasma maksimal pada jam 06.00
dan menurun sampai kira-kira setengah maksimum pada jam 22.00. Ritme
intrinsic ini diatur dari otak yang dicetuskan oleh cahaya melalui hipotalamus
oleh ACTH.
b. Adanya respon terhadap stress mental dan fisis, juga melalui kortikotropin
releasing factor dan ACTH
c. Adanya mekanisme umpan balik dengan pengaturan sekresi ACTH oleh kortisol
(dan oleh glukokortikoid sintetik). Sedangkan produk steroid lain dari korteks
adrenal tidak mempunyai efek ini.

B. Konsep Dasar
1. Pengertian
Disfungsi kelenjar adrenal merupakan gangguan metabolic yang
menunjukkan kelebihan / defisiensi kelenjar adrenal (Rumohorbo Hotma, 1999)
Klasifikasi Disfungsi Kelenjar Adrenal
a. Hiperfungsi kelenjar adrenal
1) Sindrom Cushing
Sindrom Cushing disebabkan oleh sekresi berlebihan steroid
adrenokortikal, terutama kortisol. Gejala klinis bisa juga ditemukan oleh
pemberian dosis farmakologis kortikosteroid sintetik
2) Sindrom Adrenogenital
Penyakit

yang

disebabkan

oleh

kegagalan

sebagian

atau

menyeluruh, satu atau beberapa enzim yang dibutuhkan untuk sintesis


steroid
3) Hiperaldosteronisme
a) Hiperaldosteronisme primer (Sindrom Cohn)
Kelaianan yang disebabkan karena hipersekresi aldesteron autoimun
b) Aldosteronisme sekunder
Kelainan yang disebabkan karena hipersekresi rennin primer, ini
disebabkan oleh hiperplasia sel juksta glomerulus di ginjal.
9

b. Hipofungsi Kelenjar Adrenal


Insufisiensi Adrenogenital :
1) Insufisiensi Adrenokortikal Akut (krisis adrenal)
Kelainan yang terjadi karena defisiensi kortisol absolut atau relatif yang
terjadi mendadak sehubungan sakit / stress.
2) Insufisiensi Adrenokortikal Kronik Primer (penyakit Addison)
Kelainan yang disebabkan karena kegagaln kerja kortikosteroid tetapi
relatif lebih penting adalah defisiensi gluko dan mineralokortikoid.
3) Insufisiensi Adreno Kortikal Sekunder
Kelainan ini merupakan bagian dari sinsrom kegagalan hipofisis anterior
respon terhadap ACTH terhambat atau menahun oleh karena atrofi
adrenal.

SINDROM CUSHING
1. Pengertian
Sindrom Cushing adalah keadan klinik yang terjadi akibat dari paparan
terhadap glukokortikoid sirkulasi dengan jumlah yang berlebihan untuk waktu yang
lama. (Green Span, 1998)
Penyakit Cushing didefinisikan sebagai bentuk spesifik tumor hipofisis yang
berhubungan sekresi ACTH hipofisis berlebihan.
Sindrom Cushing dapat diklasifikasikan menjadi beberapa bagian, yaitu :
10

a. Penyakit Cushing
Merupakan tipe Sindroma Cushing yang paling sering ditemukan
berjumlah kira-kira 70 % dari kasus yang dilaporkan. Penyakit Cushing lebih
sering pada wanita (8:1, wanita : pria) dan umur saat diagnosis biasanya antara
20-40 tahun.
b. Hipersekresi ACTH Ektopik
Kelainan ini berjumlah sekitar 15 % dari seluruh kasus Sindroma Cushing.
Sekresi ACTH ektopik paling sering terjadi akigat karsinoma small cell di paruparu; tumor ini menjadi penyebab pada 50 % kasus sindroma ini tersebut.
Sindroma ACTH ektopik lebih sering pada laki-laki. Rasio wanita : pria adalah
1:3 dan insiden tertinggi pada umur 40-60 tahun.
c. Tumor-tumor Adrenal Primer
Tumor-tumor adrenal primer menyebabkan 17-19 % kasus-kasus Sindroma
Cushing. Adenoma-adenoma adrenal yang mensekresi glukokortikoid lebih sering
terjadi pada wanita. Karsinoma-karsinoma adrenokortikal yang menyebabkan
kortisol berlebih juga lebih sering terjadi pada wanita; tetapi bila kita menghitung
semua tipe, maka insidens keseluruhan lebih tinggi pada laki-laki. Usia rata-rata
pada saat diagnosis dibuat adalah 38 tahun, 75 % kasus terjadi pada orang
dewasa.
d. Sindroma Cushing pada Masa Kanak-kanak
Dindroma Cushing pada masa kanak-kanak dan dewasa jelas lebih berbeda.
Karsinoma adrenal merupakan penyebab yang paling sering dijumpai (51 %),
adenoma adrenal terdapat sebanyak 14 %. Tumor-tumor ini lebih sering terjadi
pada usia 1 dan 8 tahun.
11

Penyakit Cushing lebih sering terjadi pada populasi dewasadan berjumlah sekitar
35 % kasus, sebagian besar penderita-penderita tersebut berusia lebih dari 10
tahun pada saat diagnosis dibuat, insidens jenis kelamin adalah sama.
2. Etiologi
a. Glukokortikoid yang berlebih
b. Aktifitas korteks adrenal yang berlebih
c. Hiperplasia korteks adrenal
d. Pemberian kortikosteroid yang berlebih
e. Sekresi steroid adrenokortikal yang berlebih terutama kortisol
f. Tumor-tumor non hipofisis
g. Adenoma hipofisis
h. Tumor adrenal

3. Patofisiologi
Adenoma Hipofisis Tumor adrenal Tumor-tumor non hipofisis Hiperplasia kortek

adrenal

Hipersekresi ACTH

Sekresi kortisol

Glukokortikoit

Hiperglikemia Fungsi korteks adrenal tidak efektif

DM

Kortisol menghilang

Kesembuhan luka-luka
ringan yang lambat

Katabolisme protein Peningkatan aktifitas


-Badan kurus mineralkortikoid
- kulit tipis, rapuh, mudah luka - Hipertensi
- Osteoporosis - Natrium & air
- Edema
4. Manifestasi Klinik
a. Amenorea n. Jerawat
b. Nyeri punggung o. Penurunan konsentrasi
c. Kelemahan otot p. Moonface
13
d. Nyeri kepala q. Hiperpigmentasi

e. Luka sukar sembuh r. Edema pada ekstremitas


f. Penipisan kulit s. Hipertensi
g. Petechie t. Miopati
h. Ekimosis u. Osteoporosis
i. Striae v. Pembesaran klitoris
j. Hirsutisme (pertumbuhan bulu diwajah) w. Obesitas
k. Punuk kerbau pada posterior leher x. Hipokalemia
l. Psikosis y. Retensi natrium
m. Depresi z. Perubahan emosi
5. Pemeriksaan Penunjang
a. Tes supresi dexamethason
1) Untuk membantu menegakkan diagnosis penyebab sindrom cushing tersebut, apakah
hipofisis atau adrenal
2) Untuk menentukan kadar kortisol
Pada pagi hari lonjakan kortisol akan ditekan : Steroid <5 style="">
Normal
Pada pagi hari sekresi kortisol tidak ditekan : Steroid >10 uL /dl Sindrom
Cushing
b. Kadar kortisol bebas dalam urin 24 jam:
Untuk memeriksa kadar 17- hidroksikortikosteroid serta 17- kortikosteroid, yang
merupakan metabolic kortisol dan androgen dalam urin.
Kadar metabolic dan kortisol plasma meningkat Sindrom Cushing
14
c. Stimulasi CRF (Corticotrophin-Releasing Faktor)

Untuk membedakan tumor hipofisis dengan tempat-tempat ektopik produksi


ACTH sebagai penyebab.
d. Pemeriksaan Radioimmunoassay ACTH Plasma
Untuk mengenali penyebab Sindrom Cushing
e. CT, USG, dan MRI
Dapat dilakukan untuk menentukan lokasi jaringan adrenal dan mendeteksi tumor
pada kelenjar adrenal.
6. Penatalaksanaan
a. Terapi Operatif
- Hipofisektomi Transfenoidalis Operasi pengangkatan tumor pada kelenjar
hipofisis
- Adrenalektomi terapi pilihan bagi pasien dengan hipertrofi adrenal primer
b. Terapi Medis
Preparat penyekot enzim adrenal (metyrapon, aminoglutethimide, mitotane,
ketokonazol) digunakan untuk mengurangi hiperadrenalisme jika sindrom
tersebut disebabkan oleh sekresi ektopik ACTH oleh tumor yang tidak dapat
dihilangkan secara tuntas.
c. Keperawatan

14
7. Komplikasi

a. Diabetes Militus
b. Hipertensi
c. Osteoporosis

INSUFISIENSI ANDRENAL (PENYAKI ADDISON)


1. Pengertian
Pengakit Addison adalah: penykit yang terjadi aakibt fungsi korteks adekuat untuk
memenuhi kebutuhan pasienakan hormone hormone korteks adrenal (Soediman, 1996
)
Penyakit Addison adalah: lesi kelenjar primer karena penyakit destruktif atau
atrofik, biasanya autoimun atau tuberkulosa.(Baroon, 1994)
2. Etiologi
a. Tuberculosis
b. Histoplasmosis
c. Koksidiodomikosis
d. Kriptokokissis
e. Pengangkatan kedua kelenjar adrenal

15
f. Kanker metastatik (ca paru, lambung, payudara, melanoma, limfoma)

g. Adrenalitis autoimun

3. Patofisiologi

Autoimun TB / Histoplasmosis

Infeksi

Korteks adrenal

Insufisiensi adrenal
Respon umpan balik

ACHT Kortisol

Merangsang mineralkortikoid
Melanosit

Hiperpigmentasi Glikokortikoid Sekresi androgen

Hipoglikemia Pertumbuhan bulu2 Reabsorbsi


pada wanita ber(-) Natrium

17
4. Manifestasi klinik
a. Gejala awal: kelemahan, fatique, anoreksia, nausea, muntah, BB menurun,
hipotensi, dan hipoglikemi

b. Astenia (gejala cardinal): pasien kelemahan yang berlebih


c. Hiperpigmentasi (menghitam seperti: perunggu, coklat spt: seperti terkena sinar
matahari) biasanya pada kulit buku jari, lutut, siku
d. Rambut pubis dan aksilaris berkurang pada perempuan
e. Hipotensi arterial (TD: 80/50 mmHg / kurang)
f. Abnormalitas fungsi gastrointestinal
5. Pemeriksaan penunjang
a. Pemerisaan laboratorium
1) Penurunan konsentrasi glukosa darah dan natrium (hipoglikemia dan
hiponatremia)
2) Peningkatan kosentrasi kalium serum (hiperkalemia)
3) Peningkatan jumlah sel darah putih (leukositosis)
4) Penurunan kadar kortisol serum
5) Kadar kortisol plasma rendah
b. Pemeriksaan radiografi abdominal menunjukan adanya kalsifikasi diadrenal
c. CT Scan
18
Detektor kalsifikasi adrenal dan pembesaran adrenal yang sensitive hubungannya
dengan insufisiensi pada tuberculosis, infeksi, jamur, penyakit infiltratif malignan
dan non malignan, dan haemoragik adrenal

d. Gambaran EKG
Tegangan rendah aksis QRS vertical dan gelombang ST non spesifik abnormal
sekunder akibat adanya abnormalitas elektrolit
6. Penatalaksanaan
a. Medik
1) Terapi dengan pemberian kortikosteroid setiap hari selama 2 sampai 4 minggu
dosis 12,5 sampai 50 mg/hari
2) Hidrokortison (solu- cortef) disuntikan secara IV
3) Prednison (7.5 mg/hari)dalam dosis terbagi diberikan untuk terapi pengganti
kortisol
4) Pemberian infuse dekstrosa 5%dalam larutan saline
5) Fludrokortison: 0,05-0,1 mgper oral dipagi hari
b. Keperawatan
1) Pengukuran TTV
2) Memberikan rasa nyaman dengan mengatur atau menyediakan waktu istirahat
pasien
3) Menempatkan pasien dalam posisi setengah duduk dengan kedua tungkai
ditinggikan
19
4) Memberikan suplemen makanan dengan penambahan garam

5) Follow up: mempertahankan berat badan, tekanan darah dan elektrolit yang
normal disertai regresi gambaran klinis
6) Memantau kondisi pasien untuk mendeteksi tanda dan gejala yang menunjukan
adanya krisis Addison
7. Komplikasi
a. Syok (akibat dari infeksi akut atau penurunan asupan garam)
b. Kolaps sirkulasi
c. Dehidrasi
d. Hiperkalemia
e. Sepsis
Krisis Addison disebabkan karena hipotensiakut (hiperkortisolisme) ditandai dengan
sianosis, panas, pucat, cemas, nadi cepat.

20
BAB II

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN DISFUNGSI KELENJAR


ADRENAL

A. SINDROM CUSHING
1. Pengkajian
a. Data Biografi : nama, usia, jenis kelamin
b. Riwayat Kesehatan Sekarang
1) Data subjektif
Amenorea
Nyeri punggung
Mudah lelah / kelemahan otot
Sakit kepala
Luka sukar sembuh
2) Data objektif
a) Integumen
- Penipisan - Kulit Striae
- Petechie - Hirsutisme (pertumbuhan bulu bulu wajah)
21
- Ekimosis - Edema pada ekstremitas

- Jerawat - Hiperpigmentasi
- Moonface
- Punuk kerbau (buffalo hump) pada posterior leher
b) Kardiovaskuler
Hipertensi
c) Muskuloskeletal
Kelemahan otot
Miopati
Osteoporosis
d) Reproduktif
Pembesaran klitoris
e) Makanan dan cairan
Obesitas
Hipokalemia
Retensi natrim

22

f) Psikiatrik
Perubahan emosi
Psikosis
Depresi
Penurunan konsentrasi
g) Pembelajaran
Kurang pengetahuan tentang kondisi penyakit, prognosis dan
pengobatannya

2. Diagnosa Keperawatan
a. Kelebihan volume cairan b.d sekresi kortisol berlebih karena sodium dan retensi
cairan
b. Intoleransi aktivitas b.d kelemahan otot dan perubahan metabolisme protein
c. Resiko infeksi b.d penurunan respon imun, respon inflamasi
d. Resiko cidera b.d kelemahan
e. Gangguan integritas kulit b.d kerusakan proses penyembuhan, penipisan dan
kerapuhan kulit
f. Gangguan body image b.d perubahan integumen, perubahan fungsi sexual
g. Perubahan proses piker b.d sekresi kortisol berlebih
23

h. Defisit perawatan diri b.d penurunan masa otot


i. Kurang pengetahuan b.d kurang informasi mengenai pengobatan, proses
penyakit dan perawatan

3. Intervensi Keperawatan
Dx 1. Kelebihan volume cairan b.d sekresi kortisol berlebih karena sodium dan
retensi cairan
Tujuan : Klien menunjukkan keseimbangan volume cairan setelah dilakukan
tindakan keperawatan
KH : - TD : 100/60 120/80 mmHg
- N : 60 100 x/mnt
- RR : 16 24 x/mnt
- Edema (-)
- Intake output seimbang
- BB dalam batas normal
- Hasil lab : Na: 138-145 mEq
K : 3,4-4,7 mEq
Cl: 98-106 mEq
24

Intervensi :
1) Ukur intake output
R/ Menunjukkan status volume sirkulasi terjadinya perpindahan cairan dan
respon terhadap nyeri

2) Hindari intake cairan berlebih ketika pasien hipernatremia


R/ Memberikan beberapa rasa kontrol dalam menghadapi upaya pembatasan
3) Ukur TTV (TD, N, RR) setiap 2 jam
R/ TD meningkat, nadi menurun dan RR meningkat menunjukkan kelebihan
cairan
4) Timbang BB klien
R/ Perubahan pada berat badan menunjukkan gangguan keseimbangan cairan
5) Monitor ECG untuk abnormalitas (ketidakseimbangan elektrolit)
R/ Hipernatremi dan hipokalemi menunjukkan indikasi kelebihan cairan
6) Lakukan alih baring setiap 2 jam
R/ Alih baring dapat memperbaiki metabolisme
7) Kolaborasi hasil lab (elektrolit : Na, K, Cl)
R/ Menunjukkan retensi cairan dan harus dibatasi
25

8) Kolaborasi dalam pemberian tinggi protein, tinggi potassium dan rendah


sodium
R/ Menurunkan retensi cairan
Dx 2. Intoleransi aktivitas b.d kelemahan otot dan perubahan metabolisme protein
Tujuan : Klien menunjukkan aktifitaskembali normal setelah dilakukan tindakan keperawatan

KH : - Menunjukkan peningkatan kemampuan dan berpartisipasi dalam aktivitas


- Kelemahan (-)
- Kelelahan (-)
- TTV dbn saat / setelah melakukan aktifitas
- TD : 120/80 mmHg
- N : 60-100 x/mnt
- RR : 16-20 x/mnt
Intervensi :
1) Kaji kemampuan klien dalam melakukan aktifitas
R/ Mengetahui tingkat perkembangan klien dalam melakukan aktivitas

26

2) Tingkatkan tirah baring / duduk


R/ Periode istirahat merupakan tehnik penghematan energi
3) Catat adanya respon terhadap aktivitas seperti :takikardi, dispnea, fatique
R/ Respon tersebut menunjukkan peningkatan O2, kelelahan dan kelemahan
4) Tingkatkan keterlibatan pasien dalam beraktivitas sesuai kemampuannya
R/ Menambah tingkat keyakinan pasien dan harga dirinya secar baik sesuai
dengan tingkat aktivitas yang ditoleransi
5) Berikan bantuan aktivitas sesuai dengan kebutuhan
R/ Memenuhi kebutuhan aktivitas klien

6) Berikan aktivitas hiburan yang tepat seperti : menonton TV dan mendengarkan


radio
R/ Meningkatkan relaksasi dan penghematan energi, memusatkan kembali
perhatian dan meningkatkan koping
Dx 3. Resiko infeksi b.d penurunan respon imun, respon inflamasi
Tujuan : Infeksi tidak terjadi setelah dilakukan intervensi
KH : - Tanda-tanda infeksi (tumor, calor, dolor, rubor, fungsio laesa)
tidak ada
- Suhu normal : 36,5-37,1 C
27

- Hasil lab : Leukosit : 5000-10.000 gr/Dl


Intervensi :
1) Kaji tanda-tanda infeksi
R/ Adanya tanda-tanda infeksi (tumor, rubor, dolor, calor, fungsio laesa)
merupakan indicator adanya infeksi
2) Ukur TTV setiap 8 jam
R/ Suhu yang meningkat merupan indicator adanya infeksi
3) Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan keperawatan
R/ Mencegah timbulnya infeksi silang

4) Batasi pengunjung sesuai indikasi


R/ Mengurangi pemajanan terhadap patogen infeksi lain
5) Tempatkan klien pada ruang isolasi sesuai indikasi
R/ Tehnik isolasi mungkin diperlukan untuk mencegah penyebaran /
melindungi pasien dari proses infeksi lain
Kolaborasi
6) Pemberian antibiotik sesuai indikasi
R/ Terapi antibiotik untuk mengurangi resiko terjadinya infeksi nosokomial

28

7) Pemeriksaan lab (Leukosit)


R/ Leukosit meningkat indikasi terjadinya infeksi
Dx 4. Resiko cedera b.d kelemahan
Tujuan : Klien tidak mengalami cidera setelah dilakukan intervensi
KH : - Cedera jaringan lunak (-)
- Fraktur (-)
- Ekimosis (-)
- Kelemahan (-)
Intervensi :
1) Ciptakan lingkungan yang protektif / aman
R/ Lingkungan yang protektif dapat mencegah jatuh, fraktur dan cedera
lainnya pada tulang dan jaringan lunak
2) Bantu klien saat ambulansi
R/ Kondisi yang lemah sangat beresiko terjatuh / terbentur sat ambulasi
3) Berikan penghalang tempat tidur / tempat tidur dengan posisi yang rendah
R/ Menurunkan kemungkinan adanya trauma
4) Anjurkan kepada klien untuk istirahat secara adekuat dengan aktivitas yang
sedang
R/ Memudahkan proses penyembuhan
29

5) Anjurkan klien untuk diet tinggi protein, kalsium dan vitamin D


R/ Untuk meminimalkan pengurangan massa otot
6) Kolaborasi pemberian obat-obatan seperti sedative
R/ Dapat meningkatkan istirahat
Dx 5. Gangguan integritas kulit b.d kerusakan proses penyembuhan, penipisan
dan kerapuhan kulit
Tujuan : Klien menunjukkan integritas kulit kembali utuh setelah dilakukan
tindakan keperawatan
KH : - Penipisan kulit (-)
- Petechie (-)
- Ekimosis (-)
- Edema pada ekstremitas (-)
- Keadaan kulit baik dan utuh
- Striae (-)

Intervensi :
1) Kaji ulang keadaan kulit klien
R/ Mengetahui kelaianan / perubahan kulit serta untuk menentukan intervensi
selanjutnya
30

2) Ubah posisi klien tiap 2 jam


R/ Meminimalkan / mengurangi tekanan yang berlebihan didaerah yang
menonjol serta melancarkan sirkulasi
3) Hindari penggunaan plester
R/ Penggunaan plester dapat menimbulkan iritasi dan luka pada kulit yang
rapuh
4) Berikan lotion non alergik dan bantalan pada tonjolan tulang dan kulit
R/ dapat mengurangi lecet dan iritasi
Dx 6. Gangguan body image b.d perubahan integumen, perubahan fungsi sexual
Tujuan : Klien menunjukkan gambaran diri yang positif setelah dilakukan
tindakan keperawatan
KH : - Klien dapat mengekspresikan perasaanya terhadap perubahan
penampilannya
- Klien dapat mengutarakan perasaannya tentang perubahan sexual
- Klien dapat menyebutkan tanda dan gejala yang terjadi selama
pengobatan
- Klien dapat melakukan personal hygine setiap hari

31

Intervensi :
1) Ciptakan lingkungan yang kondusif dengan klien mengenai perubahan body
image yang dialami
R/

Lingkungan

yang

kondusif

dapat

memudahkan

klien

untuk

mengungkapkan perasaannya
2) Beri penguatan terhadap mekanisme koping yang positif
R/ Membantu klien dalam meningkatkan dan mempertahankan kontrol dan
membantu mengembangkan harga diri klien
3) Berikan informasi pada klien mengenai gejala yang berhubungan dengan
pengobatan
R/ Dengan diberikan penjelasan tersebut, klien dapat menerima perubahan
pada dirinya
4) Diskusikan dengan klien tentang perasaan klien karena perubahan tersebut
R/ Mendiagnosa perubahan konsep diri didasarkan pada pengetahuan dan
persepsi klien
5) Jaga privacy klien
R/ Meningkatkan harga diri klien
6) Beri dukungan pada klien dan jadilah pendengar yang baik
R/ Memberikan dukungan dapat memotivasi klien untuk berinteraksi dengan
lingkungan sekitar

32

7) Kolaborasi dengan ahli psikolog


R/ Pasien mungkin membutuhkan dukungan selama berhadapan dengan
proses jangka panjang ketidakmampuan
Dx. 7 Perubahan proses pikir berhubungan dengan sekresi cortisol berlebih.
Tujuan : Klien menunjukkan Tidak terjadi perubahan proses pikir.
KH :- Klien mempraktekkan teknik relaksasi.
- Klien mendiskusikan perasaannya dengan mudah.
- Klien dapat berorientasi terhadap lingkungan.
Intervensi :
1) Orientasikan pada tempat, orang dan waktui.
R/

Dapat

memolong

mempertahankan

orientasi

dan

menurunkan

kebingungan.
2) Tetapkan jadwal perawatan rutin untuk memberikan waktu istirahat yang
teratur.
R/ Menaikkan orientasi dan mencegah kelelahan yang berlebihan.
3) Anjurkan klien untuk melakukan perawatan diri sendiri sesuai kemampuan.
R/ Mempertahankan orientasi pada lingkungan.

33

4) Ajarkan teknik relaksasi.


R/ Teknik relaksasi dapat mempengaruhi proses pikir, sehingga klien dapat
lebih tenang.
5) Berikan tindakan yang stabil, terang dan tidak menimbulkan stress.
R/ Tindakan yang stabil, tenang dan tidak menimbulkan stress memperbaiki
proses pikir.
Dx. 8 Defisit perawatan diri berhubungan dengan penurunan masa otot
Tujuan : Klien menunjukkan perawatan diri yang maksimal.
KH : - Kelemahan (-)
- Keletihan (-)
- Klien ikut serta dalam aktivitas perawatan diri.
- Klien mengalami peningkatan dalam perawatan diri.
- Klien bebas dari komplikasi imobilitas.
Intervensi :
1) Kaji kemampuan klien dalam melakukan aktivitas perawatan diri.
R/ Dapat mengetahui kemampuan klien dan memudahkan intervensi
selanjutnya.
2) Bantu klien dalam melakukan aktivitas perawatan diri.
R/ Pemenuhan kebutuhan perawatan diri klien.
34

3) Libatkan keluarga dalam aktivitas perawatan diri klien.


R/ Keluarga merupakan orang terdekat dalam pemenuhan kebutuhan
perawatan diri klien.
4) Rencanakan aktivitas dan latihan klien.
R/ Istirahat klien tidak terganggu dengan adanya aktivitas dan latihan yang
terencana.
5) Berikan dorongan untuk melakukan perawatan diri kepada klien dan atur
aktivitasnya.
R/ Dapat mencegah komplikasi imobilitas.
6) Ciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman
R/ Lingkungan yang tenang dan nyaman dapat menaikan istirahat dan tidur.
Dx. 9 Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi mengenai
pengobatan, proses penyakit dan perawatan.
Tujuan : Pengetahuan klien bertambah.
KH : - Klien mengatakan pemahaman penyebab masalah.
- Klien mendemonstrasikan pemahaman tentang pengertian, etiologi,
tanda dan gejala serta perawatannya.
- Klien mau berpartisipasi dalam proses belajar.

35

Intervensi :
1) Kaji pengetahuan klien tentang etiologi, tanda dan gejala serta perawatan.
R/ Membuat data dasar dan mengidentifikasi kebutuhan terhadap informasi.
2) Identifikasi data dasar / gejala harus dilaporkan dengan segera pada pemberi
pelayanan kesehatan.
R/ Evaluasi dan intervensi yang segera dapat mencegah terjadinya komplikasi.
3) Berikan informasi tentang perawatan pada klien dengan sindrom cushing.
R/ Mempermudah dalam melakukan intervensi dan menaikan pengetahuan
klien.
4) Berikan perlindungan (isolasi) bila diindikasikan.
R/ Teknik isolasi mungkin diperlukan unutk mencegah penyebaran /
melindungi pasien dari proses infeksi lain.
Kolaborasi.
5) Pemberian antibiotik sesuai indikasi.
R/ Therapi antibiotik untuk mengurangi resiko terjadinya infeksi nosokomial.
6) Pemeriksaan lab (leukosit)
R/ Leukosit yang meningkat indikasi terjadinya infeksi.
4. Implementasi
Implementasi dilakukan sesuai intervensi yang disesuaikan dengan kondisi klien.
36

5. Evaluasi
a. Kebutuhan volume cairan kembali adekuat.
b. Klien toleransi terhadap aktivitas.
c. Infeksi tidak terjadi.
d. Cedera tidak terjadi.
e. Integritas kulit klien kembali normal.
f. Body image klien kembali bertambah.
g. Proses pikir klien kembali normal.
h. Klien menunjukkan perawatan diri yang maksimal.
i. Pengetahuan klien bertambah

37

B. PENYAKIT ADDISON
1. Pengkajian
a. Aktivitas / istirahat
Gejala : Lelah, nyeri/ kelemahan pada otot (terjadi perburukan setipa hari
Tidak mampu beraktivitas atau bekerja
Tanda : peningkatan denyut jantung atau denyut nadi pada aktivitas yang
minimal
Penurunan kekuatan dan rentang gerak sendi
Depresi, gangguan konsentrasi
Letargi
b. Sirkulasi
Tanda: Hipotensi termasuk hipotensi postural
Takikardi, disritmia, suara jantung melemah
Nadi perifer melemah
Pengisian kapiler memanjang
Ekstremitas dingin, sianosis, dan pucat

38

c. Integritas ego
Gejala: adanya riwayat riwayat factor stress yang baru dialami, termasuk sakit
fisik atau pembedahan
Perubahan gaya hidup
Ketidak mampuan mengatasi stress
Tanda: Ansietas, peka rangsang, depresi, emosi tidak stabil
d. Eliminasi
Gejala: diare, sampai adanya konstipasi
Kram abdomen
Perubahan frekuensi dan karakteristik urin
Tanda: Diuresis yang diikuti oliguria
e. Makanan atau cairan
Gejala: Anoreksia berat, mual, muntah
Kekurangan zat garam
BB menurun dengan cepat
Tanda: Turgor kulit jelek, membrane mukosa kering

39

f. Neurosensori
Gejala: Pusing, sinkope, gemetar kelemahan otot, kesemutan
Tanda: disorientasi terhadap waktu, tempat, ruang (karena kadar
natrium rendah), letargi, kelelahan mental, peka rangsangan,cemas,
koma (dalam keadaan krisis)
g. Nyeri/ kenyamanan
Gejala: Nyeri otot, kaku perut, nyeri kepala
Nyeri tulang belakang, abdomen, ekstrimitas (pada keadaan krisis)
h. Pernapasan
Gejala: Dipsnea
Tanda: Pernapasan meningkat, takipnea, suara nafas: krekels, ronkhi pada
keadaan infeksi
i. Keamanan
Gejala: tidak toleran terhadap panas, cuaca udara panas
Tanda: Hiperpigmentasi kulit (coklat kehitaman karena terkena sinar
matahari) menyeluruh atau berbintik bintik
Peningkatan suhu, demam yang diikuti dengan hipotermi (keadaan
krisis)

40

j. Seksualitas
Gejala: Adanya riwayat menopause dini, amenore
Hilangnya tanda tanda seks sekunder (berkurangnya rambut rambut
pada tubuh terutama pada wanita)
Hilangnya libido
Pemeriksaan diagnostik
Kortisol plasma menurun
ACTH meningkat (pada primer) menurun (pada sekunder)
ADH meningkat
Aldosteron menurun
Elektrolit: kadar dalam serum mungkin normal atau natrium sedikit menurun
sedangkan kalium sedikit meningkat
Glukosa; hipoglikemi
Ureum/ keratin: mungkin meningkat (karena terjadi penurunan perfusi
jaringan ginjal)
Analisa gas darah: asidosis metabolic
Sel darah merah (eritrosit): anemia numokronik, Ht meningkat (karena
hemokonsentrasi)jumlah limfosit mungkin rendah, eosinofil meningkat
Urin 24 jam : 17 kerosteroid, 17 hidroksikortikoid, dan 17 kelogenik steroid
menurun

41
Pemeriksaan EKG
2. Diagnosa keperawatan
a. Kekurangan volume cairan b.d kekurangan natrium dan kehilangan cairan
melalui ginjal, kelenjar keringat, saluran gastrointestinal (karena kekurangan
aldosteron)
b. Perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh b.d intake tidak adekuat (mual,
muntah, anoreksia),defisiensi glukokortikoid
c. Intoleransi aktifitas b.d penurunan produksi metabolime ketidak seimbangan
cairan elektrolit dan glukosa
d. Penurunan curah jantung b.d berubahnya kecepatan, irama, dan konduksi
jantung (akibat dari ketidakseimbangan elektrolit)
e. Perubahan proses pikir b.d penurunan kadar natrium (hipotremia), penurunan
kadar glukosa (hipoglikemia), gangguan keseimbangan asam basa
f. Gangguan harga diri b.d perubahan dalam kemampuan fungsi, perubahan
karakteristik tubuh
g. Kurang pengetahuan tentang: penyakit, prognosis, pengobatan b.d kurang
pemajanan/ mengingat, keterbatasan kognitif
3. Rencana keperawatan
DX. 1: Kekurangan volume cairan b.d kekurangan natrium dan kehilangan cairan
melalui ginjal, kelenjar keringat, saluran gastrointestinal (karena kekurangan
aldosteron)

42
Tujuan : klien dapat mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit
setelah dilakukan tindakan
KH : - Pengeluaran urin adekuat (1cc/kgBB/jam0
- TTVdbn: N:80-100 x/mnt S: 36-37C
TD: 120/80 mmHg
- Tekanan nadi perifer jelas: kurang dari 3 det
- Turgor kulit elastis
- Pengisian kapiler baik kurang dari 3 det
- Membrane mukosa lembab
- Warna kulit tidak pucat
- Rasa haus tidak ada
- BB ideal: (TB-100)-10%(TB-100)
- Hasil lab dbn:
Ht : W: 37-47%
L: 42-52%
Ureum: 15-40 mg/dl
Natrium: 135-145 mEq/L


Kalium: 3,3-5,0 mEq/ L
Kreatinin: 0,6-1.2 mg/dl
Intervensi:
1. Pantau TTV, catat perubahan tekanan darah pada perubahan posisi,
kekuatan dari nadi perifer
R/: Hipotensi postural merupakan bagian dari hipovolemia akibat
kekurangan hormone aldosteron dan penurunan curah jantung sebagai
akibat dari penurunan kortisol
2. Ukur dan timbang BB klien
R/: Memberikan perkiraan kebutuhan akan pengganti volume cairan dan
kefektifan pengobatan. Peningkatan BB yang cepat disebabkan oleh
adanya retensi caairan dan natrium yang berhubungnn dengan
pengobatan steroid
3. Kaji pasien mengenai ada rasa haus, kelelahan, nadi cepat, pengisian kapiler
memanjang, turgor kulit jelek, membrane mukosa kering. Catat warna
kulit dan temperaturnya
R/: Mengidentifikasi adanya hipovolemia dan mempengaruhi kebutuhan
volume pengganti.
4. Periksa adanya perubahan status mental dan sensori.

R/: Dehidrasi berat menurunkan curah jantung berat dan perfusi jaringan
terutama jaringan otak.
44
5. Aukultasi bising usus (peristaltic usus). Catat dan laporkan adanya mual,
muntah, dan diare.

R/: Kerusakan fungsi saluran cerna dapat meningkatkan kehilangan cairan


dan elektrolit dan mempengaruhi cara untuk pemberian cairan dan
nutrisi
6. Berikan perawatan mulut secara teratur
R/: membantu menurunkan rasa tidak nyaman akibat dari dehidrasi dan
mempertahankan kerusakan membrane mukosa
7. Berikan cairan oral diatas 3000cc/hari sesegera mungkin sesuai dengan
kemampuan klien
R/: Adanya perbaikan pada saluran cerna dan kembalinya fungsi saluran
cerna tersebut memungkinkan untuk memberikan cairan dan elektrolit
melalui oral

Kolaborasi
8. Berikan cairan, antara lain:
Cairan NaCl 0,9%

R/: Mungkin membutuhkan cairan pengganti 4-6Ltr.dengan pemberian


cairan NaCl 0,9% melalui Iv 500-1000ml/jam, dapat mengatasi
kekurangan natrium yang sudah terjadi
45
Larutan glukosa
R/: Dapat menghilangkan hipovolemia
9. Berikan obat sesuai dosis
Kortison (ortone)atau hidrokotison (cortef) 100mg intravena setiap 6jam
untuk 24jam.
R/: Dapat mengganti kekurangn kortison dalam tubuh dan meningkatkan
reabsorbsi natrium sehingga dapat menurunkan kehilangan cairan dan
mempertahankan curah jantung
Mineral kortikoid, fludokortison, deoksikortikosteron 25-30mg/hari
peroral
R/: dimulai setelah pemberian dosis hidrokortisol yang tinggi yang telah
mengakibatkan retensi garam berlebihan yang

mengakibatkan

gangguan tekanan darah dan gangguan elektrolit


10. Pasang atau pertahankan kateter urin dan selang NGT sesuai indikasi
R/: dapat memfasilitasi pengukuran haluaran dengan akurat baik urin
maupun dari lambung, memberikan dekompresi lambung dan
membatasi muntah
11. Pantau hasil laboratorium
Hematokrit (Ht)

R/: Peningkatan kadar Ht darah merupakan indikasi terjadinya


hemokonsentrasi yang akan kembali normal sesuai dengan terjadinya
dehidrasi pada tubuh
46
Ureum atau kreatinin
R/: peningkatan kadar ureum dan kreatinin darah merupakan indikasi
terjadinya kerusakan tingkat sel karena dehidrasi atau tanda serangan
gagal ginjal
Natrium
R/: hiponatremia merupakan indikasi kehilangan melalui urin yang
berlebihan karena gangguan reabsorpsi pada tubulus ginjal
Kalium
R/: penurunan kadar aldosteron mengakibatkan penurunan natrium dan air
sementara itu kalium tertahan sehingga dapat menyebabkan
hiperkalemia
Dx 2: Perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh b.d intake tidak adekuat
(mual, muntah, anoreksia) defisiensi glukortikoid
Tujuan: kebutuhan nutrisi klien kembali adekuat setelah dilakukan tindakan
intervensi

KH :

Tdak ada mual muntah


BB ideal (TB-100)-10%(TB-100)

Anoreksia (-)
Hb: W: 12-14 gr/dl
L: 13-16 gr/dl
Ht: W: 37-47%
L:42-52%
Albumin: 3,5-4,7g/dl
Globulin: 2,4-3,7g/dl
Bising usus: 5-12x/mnt
TTV dbn: N: 80-100x/mnt TD: 120/80mmHg
Temperature kulit hangat
Nyeri kepala (-)
Kesadaran compos mentis

Intervensi:

1. Aukultasi bising usus dan kaji apakah ada nyeri perut, mual atau muntah
R/: Kekurangan kortisol dapat menyebabkan gejala intestinal berat yang
mempengaruhi pencernaan dan absorpsi dari makanan
48
2. catat adanya kulit yang dingin atau basah, perubahan tingkat kesadaran,
nadi yang cepat, nyeri kepal, sempoyongan
R/: Gejala hipoglikemia dengan timbulnya tanda tersebut mungkin perlu
pemberian glukosa dan mengindikasikan pemberian tambahan
glukortikoid
3. Pantau pemasukan makanan dan timbang BB tiap hari
R/: Anoreksi, kelemahan, dan kehilangan pengaturan metabolismr oleh
kortisol terhadap makanan dapat mengakibatkan penurunan berat
badan dan terjadi malnutrisi
4. Berikan atau Bantu perawatan mulut
R/: Mulut yang bersih dapat meningkatkan nafsu makan
5. Berikan lingkungan yang nyaman untuk makna contoh bebas dari bau
tidak sedap, tidak terlalu ramai
R/: Dapat meningkatkan nafsu makan dan memperbaiki pemasukan
makan
Kolaborasi
6. Pertahankan status puasa sesuai indikasi

R/: Mengistirahatkan gastrointestinal, mengurangi rasa tidak enak dan


kehilangan

49
7. Berikan glukosa intravena dan obat obatan sesuai indikasi seperti
glukokortikoid
R/: Memperbaiki hipoglikemi, memberi sumber energi pemberian
glukokortikoid akan merangsang glukoneogenesis, menurunkan
pengguanaan glukosa dan membantu penyimpanan glukosa
sebagai glikogen
8. Pantau hasil lab seperti Hb, Ht
R/: Anemia dapat terjadi akibat deficit nutrisi atau pengenceran yang
terjadi akibat retensi cairan sehubungan dengan glukokortikoid
Dx 3: Intoleransi aktivitas b.d penurunan produksi energi metabolisme,
ketidakseimbangan cairan elektrolit dan glukosa
Tujuan: Aktivitas klien kembali adekuat setelah dilakukan tindakan
KH:
Menunjukkn peningkatan kemampuan klien dan partisipasi dalam aktivitas
setelah dilakukan tindakan
TTV dbn : N: 80-100x/mnt RR: 16-20x/mnt
TD: 120/80 mmHg
Kelelahan (-)

Tidak terjadi perubahan TTV setelah melakukan aktivitas.

50
Intervensi
1. kaji tingkat kelemahan klien dan identifikasi aktifitas yang dapat
dilakukan oleh klien
R/: Pasien biasanya telah mengalami penurunan tenaga, kelemahan otot
menjadi terus memburuk setiap hari karena proses penyakit dan
munculnya ketidak seimbangan natrium dan kalium
2. Pantau TTV sebelum dan sesudah melakukan aktivitas
R/: Kolapsnya sirkulasi dapat terjadi sebagai akibat dari stress, aktivitas
jika curah jantung berkurang
3. Sarankan pasien untuk menentukan masa atau periode antara istirahat dan
melakukan aktivitas
R/: Mengurangi kelelahan dan mencegah ketegangan pada jantung
4. Diskusikan cara untuk menghemat tenaga misal: duduk lebih baik
daripada berdiri selama melakukan aktifitas
R/: Pasien akan dapat melakukan aktivitas yang lebih banyak dengan
mengurangi pengeluaran tenaga pada setiap kegiatan yang dilakukan
5. Tingkatkan keterlibatan pasien dalam beraktivitas sesuai kemampuannya
R/: Menambah tingkat keyakinan pasien dan harga dirinya secara baik
sesuai dengan tingkat aktivitas yang dapat ditoleransi

Dx 4: Penurunan curah jantung b.d berubahnya kecepatan, irama dan konduksi


jantung (akibat dari ketidakseimbangan elektrolit)
51
Tujuan: Curah jantung klien kembali adekuat setelah dilakukan tindakan
KH:
TTV dbn N: 80-100x/mnt RR:16-20x/mnt
TD: 12/80 mmHg S: 36-37c

Nadi perifer teraba dengan baik

Pengisian kapiler kurang dari 3 det

Hasil lab kalium darah: 3,3-5,0 mEq/L

Disritmia (-)

Warna kulit tidak pucat

Intervensi:
1. Pantau TTV dan catat adanya disritmia
R/: Peningkatan fungsi jantung merupakan manifestasi awal sebagai
kompensasi hipovolemia dan penurunan curah jantung
2. Pantau suhu tubuh, catat bila ada perubahan yang mencolok dan tiba tiba.
R/: Hiperpireksia yang tiba tiba terjadi diikuti oleh hipotermia sebagai
akibat dari ketidakseimbangan hormonal, cairan dan elektrolit yang
mempengaruhi fungsi jantung dan curah jantung.

52
3. Kaji warna kulit, suhu, pengisian kapiler dan nadi perifer
R/: Pucat, kulit yang dingin, pengisian kapiler yang memanjang, nadi yang
lambat dan lemah merupkan indikasi terjadi syok
4. Teliti adanya perubahan mental dan laporkan adanya nyeri pada abdomen
daerah punggung dan kaki
R/: Perubahan mental (peka rangsang, cemas, ketakutan)merupakan
cerminan dari penurunan curah jantung / serebral dan perfusi perifer atau
serangan hipoglikemia
5. Tempatkan pasien pada ruangan yang tenang dan dengan kelembapan yang
sesuai, tidak bising dan dibatasi aktivitas
R/: Respon normal pasien terhadap stress adalah kurang dan stimulus yang
biasanya tidak menimbulkan masalah dapat berpengaruh negative pada
pasien
6. Pantau adanya hipertensi, edema, krekels, BB meningkat, nyeri kepala yang
hebat, peka rangsang dan bingung
R/: Efek pemberian kortikosteroid dan atau natrium dan cairan pengganti
yang berlebihan dapat menyebabkan potensial kelebihan cairan dan
gagal jantung
Kolaborasi
7. Berikan O2

R/: Kadar oksigen yang maksimal dapat membantu menurunkan kerja


jantung
53
8. Pantau kalium darah
R/: Pasien cenderung mengalami hiperkalemia karena bila kadar natrium
menurun (dampak sekunder pada kekurangan aldosteron), kalium
tetahan oleh ginjal
Dx. 5: Perubahan proses pikir b.d hiponatremia, hipoglikemia, gangguan
keseimbangan asam basa
Tujuan: Proses pikir klien kembali efektif setelah dilakukan tindakan
KH:
Mempertahankan tingkat kesadaran mental
Tidak mengalami cedera
Klien dapat mengenal tempat, orang, dan waktu
TTV dbn : N: 80-100x/mnt TD: 120/80 mmHg
RR: 16-20x/mnt
Hasil lab :Hb L: 13-16 gr/dl
W: 12-14 gr/dl
Ht L: 42-51%
W: 37-47%

Glukosa darah: 80-110 mg/dl

54
Intervensi:
1. Pantau TTV dan status neurologis
R/: Memberikan patokan untuk dasar perbandingan atau pengenalan
terhadap temuan abnormal
2. Panggil pasien dengan namanya orientasikan pada orang, tempat, dan waktu
sesuai kebutuhan
R/: Menolong mempertahankan orientasi dan menurunkan kebingungan

3. Tetapkan dan pertahankan jadwal perawatan rutin untuk memberikan waktu


istirahat yang teratur
R/: Meningkatkan orientasi dan mencegah kelelahan yang berlebih
4. Sarankan pasien untuk melakukan perawatan diri sendiri sesuai dengan
kemampuan dengan waktu yang cukup untuk menjalankan seluruh tugasnya
R/: Menolong pasien dalam menjaga dan memberikan sentuhan yang nyata
dan mempertahankan orientasi pada lingkungan
Kolaborasi
5. Pantau hasil pemeriksaan lab mis: glukosa darah, osmolaritas serum, Hb, Ht
R/: Perubahan yang terus menerus pada mental memerlukan evaluasi lanjut

Dx 6: Gangguan harga diri b.d perubahan dalam kemampuan fungsi, perubahan


karakteristik tubuh
55
Tujuan : Harga diri klien kembali positif setelah dilakukan tindakan
KH:
Menunjukkan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan yang terjadi pada
tubuhnya
Dapat beradaptasi dengan orang lain
Dapat mengungkapkan perasaan tentang dirinya

Intervensi
1. Dorong pasien untuk mengungkapkan perasaan tentang keadaannya misal:
perubahan penampilan dan peran
R/: Membantu mengevaluasi berapa banyak masalah yang dapat diubah oleh
pasien
2. Sarankan pasien untuk melakukan manajemen stress misal: tehnik relaksasi,
visualisasi, imaginasi
R/: Meminimalkan perasaan stress, frustasi, meningkatkan kemampuan
koping

3. Dorong pasien untuk membuat pilihan dan berpartisipasi dalam penampilan diri
sendiri
R/: Dapat membantu meningkatkan kepercayaan diri, memperbaiki harga diri
56
4. Fokuskan pada perbaikan yang sedang terjadi dan pengobatan missal;
menurnnya pigmentasi kulit
R/: Ungkapkan seperti ini dapat mengangkat semangat pasien dan
meningkatkan harga diri pasien
5. Sarankan pasien untuk mengunjungi seseorang yang penyakitnya telah
terkontrol dan gejalanya telah berkurang
R/: Dapat menolong pasien untuk melihat hasil dari pengobatan yang telah
dilakukan
Kolaborasi
6. Rujuk ke pelayanan social konseling, dan kelompok pendukung sesuai
pendukung
R/: Pendekatan secara komprehensif dapat membantu memenuhi kebutuhan
pasien untuk memelihara tingkah laku pasien
Dx 7: Kurang pengetahuan tentang penyakit, prognosis, penyakit b.d kurang
pemajanan, mengingat, keterbatasan kognitif
Tujuan: Pengetahuan klien bertambah setelah dilakukan tindakan
KH:

Klien dapat mengungkapkan pemahamannya tentang penyakit, prognosis, dan


pengobatan
Dapat mengidentifikasikan keadaan yang membuat stress
Dapat melakukan perubahan gaya hidup
57
Dapat berpartisipasi dalam pengobatan

Intervensi
1) Sarankan pasien untuk tetap menetapkan secara aktif jadwal yang teratur dalam
makan, tidur dan latihan
R/: Membantu untuk meningkatkan perasaan menyenangkan, sehat dan untuk
memahami bahwa aktivitas fisik yang tidak teratur dapat meningkatkan
kebutuhan hormone
2) Diskusikan mengenai diet, seperti diet yang teratur diet yang tinggi karbohidrat
dan tinggi protein
R/: Mencegah kehilangan BB dan menurunkan resiko timbulnya hipoglikemia
3) Tinjau ulang tentang terapi hormone pengganti dan perlunya memahami jadwal
pengobatan yang tepat
R/: Membantu pasien untuk memahami situasi pengobatan yang dapat
meningkatkan kerja sama dalam program pengobatan
4) Diskusikan perasaan pasien yang berhubungan dengan pemakaian obat untuk
sepanjang kehidupan pasien

R/: Dengan mendiskusikan fakta fakta tersebut dapat membantu pasien untuk
memasukkan perubahan perilaku yang perlu kedalam gaya hidup

58
5) Tekankan pentingnya menghindari sumber infeksi (batasi pengunjung, hindari
kontak dengan orang yang mengalami infeksi)
R/: Suplai respon inflamasi meningkatkan resiko terjadinya infeksi dan
kemungkinan berkembang ke keadaan yang mengancam kehidupan pasien
4. Implementasi
Implementasi dilakukan sesuai dengan intervensi yang ditetapkan dan sesuai
dengan masalah prioritas pasien.
5. Evaluasi
a. Keseimbangan volume cairan dan elektrolit dapat dipertahankan
b. Kebutuhan nutrisi klien kembali adekut
c. Aktivitas klien terpenuhi secara adekuat
d. Curah jantung kembali adekuat
e. Proses pikir klien kembali adekuat
f. Harga diri klien kembali adekut
g. Pengetahuan klien bertambah

59

DAFTAR PUSTAKA

http://www.google.com

60