You are on page 1of 43

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Derajat kesehatan masyarakat dipengaruhi oleh 4 faktor utama, yaitu lingkungan,

perilaku manusia, pelayanan kesehatan dan keturunan ( teori Blum, 1974). Keempat faktor
tersebut saling terkait dengan beberapa faktor lain, yaitu sumber daya alam, keseimbangan
ekologi, kesehatan mental, dan populasi sebagai satu kesatuan. Lingkungan mempunyai
pengaruh paling besar terhadap derajat kesehatan masyarakat. Faktor lingkungan meliputi
lingkungan fisik, biologik, dan sosio-kultural.
John Gordon menggambarkan adanya interaksi antara 3 faktor, yaitu faktor lingkungan
(environment), pejamu (host), dan penyebab penyakit (agent). Penyakit timbul jika terdapat
ketidakseimbangan antara ketiga faktor tersebut.
Data 10 penyakit terbanyak di Puskesmas Pauh menyatakan ISPA merupakan masalah
tertinggi di Puskesmas Pauh. Kemudian disusul oleh penyakit infeksi kulit. Diare menempati
urutan ke-6 dan penyakit kulit karena jamur menempati urutan ke-7. Tidak dapat dipungkiri,
penyakit-penyakit ini merupakan masalah yang berhubungan dengan lingkungan.
Salah satu upaya untuk menurunkan kejadian penyakit ini adalah dengan merubah
perilaku dan memperbaiki lingkungan. Hal ini bisa dilakukan dengan memberikan edukasi ke
masyarakat mengenai penyakit berbasis lingkungan, penyebab dan upaya mencegah
penularan penyakit tersebut kepada orang lain. Upaya ini diwujudkan dengan tersedianya
klinik sanitasi di Puskesmas. Jadi, setiap pasien yang menderita penyakit berbasis lingkungan
di KIA dan Balai Pengobatan akan dirujuk ke klinik sanitasi sebelum mengambil obat yang
telah diresepkan ke apotik.
Walaupun telah tersedia klinik sanitasi, namun pencapaian kunjungan pasien dengan
penyakit berbasis lingkungan ke klinik sanitasi masih rendah, yaitu 1,6 %. Hal ini jauh dari
target yang ditetapkan oleh Puskesmas Pauh, yaitu 63%. Hal ini menggambarkan pelaksanaan
klinik sanitasi yang tidak maksimal. Oleh karena itu, penulis membuat sebuah PoA (Plan of
Action) yang berjudul “Optimalisasi Pelaksanaan Klinik Sanitasi Di Puskesmas Pauh”.

1.2

Batasan Masalah
Tulisan ini membahas tentang masalah belum maksimalnya pelaksanaan klinik sanitasi

di Puskesmas Pauh.
1.3
Tujuan Penulisan
a. Mengidentifikasi masalah yang ada di Puskesmas Pauh
b. Menetapkan prioritas masalah yang ada di Puskesmas Pauh
1

c. Menganalisis penyebab belum maksimalnya pelaksanaan klinik sanitasi di
Puskesmas Pauh
d. Menentukan alternative pemecahan masalah belum maksimalnya pelaksanaan
klinik sanitasi di Puskesmas Pauh
1.4

Manfaat Penulisan
Tulisan ini diharapkan dapat memberikan masukan ke Puskesmas Pauh dalam upaya

memaksimalkan pelaksanaan klinik sanitasi melalui kerjasama lintas program dan perbaikan
media informasi klinik sanitasi.

BAB II
GAMBARAN UMUM PUSKESMAS
Keadaan Geografis
Wilayah kerja Puskesmas Pauh terletak di Kecamatan Pauh, pada 0 0 58’ Lintang
Selatan, 100 0 21’ 11’ Bujur Timur sebelah timur pusat Kota Padang yang terdiri 9 (sembilan)
kelurahan. Dengan luas wilayah + 146, 2m Km2, terdiri dari 60 % dataran rendah dan 40 %
2

dataran tinggi . Curah hujan ± 471 mm / bulan , temperatur antara 28 0 – 310C dengan batas
wilayah sebagai berikut:
a

Sebelah Timur berbatas dengan Kabupaten Solok

b

Sebelah Barat berbatas dengan Wilayah kerja Puskesmas Andalas (Padang Timur)

c

Sebelah Utara berbatas dengan Wilayah Kerja Puskesmas Kecamatan Koto Tangah.

d

Sebelah Selatan berbatas dengan sebagian Wilayah kerja Puskesmas Lubuk Kilangan.

Gambar 2.1 Peta wilayah kerja Puskesmas Pauh
2.2 Keadaan demografi
Berdasarkan data dari Kantor Kecamatan Pauh Kota

Padang tahun 2010 yang

dipublikasikan pada tahun 2010 jumlah Penduduk Kec. Pauh adalah sebanyak 53.669 jiwa
dengan total rumah tangga 13.315 KK dan rata-rata anggota keluarga 4 orang serta kepadatan
penduduk 367/km².

Adapun rincian jumlah penduduk menurut kelurahan dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 2.1 Jumlah Penduduk Kec. Pauh menurut kelurahan Tahun 2010
No
1

Kelurahan
Pisang

Jumlah kepala

Jumlah Jiwa

keluarga
1365

6741
3

2
3
4
5
6
7
8
9

Binuang Kp Dalam
Piai Tangah
Cupak Tangah
Kapalo Koto
Koto Luar
Lambung Bukit
Limau Manis Selatan
Limau Manis
JUMLAH

1005
734
1004
1105
1618
814
1733
839
10217

5617
4405
7863
5841
6955
3123
8263
4861
53669

Pada tahun 2010 jumlah Keluarga Miskin (gakin) terdapat sebanyak 11.517 jiwa
dengan cakupan Gakin yang memiliki Jaminan Kesehatan sebesar 106 % meliputi Jamkesmas
dan Jamkesda sebagaimana dibawah ini:
Tabel 2.2 Jumlah Penduduk Kec. Pauh menurut kelurahan Tahun 2010
KELURAHAN

JML Gakin

Jamkesmas

Jamkesda

%

Pisang

1329

1329

261

119,6

Binuang KD

853

853

147

117,2

Koto Luar

1452

1452

139

109,6

Piai Tangah

1172

1172

110

109,4

LM Selatan

1228

1228

45

104,3

Lambung Bukit

1213

1213

45

101,5

Cupak Tangah

1473

1473

36

100,4

Kapalo Koto

1330

1330

2

100,2

Limau Manis

1467

1419

0

100,1

11517

11469

785

106,9

2.3 Sarana Dan Prasarana
Salah satu Lembaga atau institusi kesehatan yang dirasakan masih eksis ditengah
masyarakat sampai saat ini adalah Posyandu. Jumlah Posyandu di Kecamatan Pauh pada
tahun 2009 adalah sebagai berikut:
Posyandu balita

= 70 buah

Posyandu Lansia

= 12 buah
4

Adapun rincian rincian sarana dan prasarana yang dimiliki Puskesmas untuk mendukung jalannya kegiatan pelayanan kesehatandi wilayah kerjanya dapat dilihat pada tabel berikut ini. Ulu Gadut. Dalam tahun ini juga untuk melengkapi sarana UKBM di Kelurahan Siaga. Tabel 2. Terhitung mulai Oktober 2008 sampai sekarang telah beroperasional dan dipimpin oleh 2 ( dua ) orang Bidan Kelurahan Siaga kecuali Poskeskel Pisang yang selesai dibangun pada pertengahan tahun 2010 tahun ini. 2 Praktek Swasta Dokter Gigi. 1 Klinik bersalin dan 3 Praktek Swasta Dokter Umum.Selain itu beberapa sarana pelayanan kesehatan yang bersifat Private / swasta yang ada diwilayah kerja Puskesmas Pauh ada 8 Bidan Praktek Swasta (BPS). Gedung C yang menjadi ruang rawat inap cukup baik namun prasarana penunjang kegiatan perlu dilengkapi seperti intalasi air besih dan listrik sendiri sehingga mampu memberi pelayanan yang baik kepada masyarakat. Pisang. Jawa Gadut. Untuk membantu terselenggaranya pembangunan kesehatan diwilayah kerja Puskesmas Pauh dibantu oleh jejaring kerja seperti 5 (lima) unit Puskesmas Pembantu yang terletak di Kelurahan Batu Busuk. Piai Tangah. Prasarana Puskesmas saat ini terutama pada gedung A yaitu gedung pelayanan rawat jalan pada saat penyusunan laporan tahunan ini telah dimanfaatkan untuk pelayanan kepada masyarakat.3 Kondisi Sarana Dan Prasarana Puskesmas Pauh Tahun 2010 NO KONDISI JENIS SARANA DAN PRASARANA Jlm SARANA I RUSAK RUSAK RUSAK RINGAN SEDANG BERAT BAIK KESEHATAN 1 Puskesmas Induk 1 1 - - - 2 Rawat Inap 1 1 - - - 1 Puskesmas Pembantu 3 5 4 - ( Jawa - Gadut ) 5 . telah ada 3 unit Poskeskel pada kelurahan Limau Manis Selatan Kelurahan Koto Lua dan Kelurahan Pisang. namun belum dioperasionalkan karena terkendala sengketa tanah lokasi tempat poskeskel berada.

DALAM PIAI 3 TANGAH CUPAK 4 TANGAH KAPALO 5 KOTO 5 - 3 1 1 6 KOTO LUA 9 2 3 2 1 2 - 2 - 0 1 LAMBUANG 7 BUKIK 6 .4 Sarana Pendidikan Di Kecamatan Pauh Tahun 2010 NO KELURAHAN 1 PISANG JLH TK SD/MI SMPMTS 5 1 4 - 6 1 4 1 2 - 2 - 0 4 1 1 1 1 SEKOLAH SMU/K/MA PT BINUANG 2 KP. 4 8 Ambulance 0 0 9 Sepeda Motor 7 5 I SARANA I PENUNJANG 1 Komputer 1 - 1 - - 2 Mesin Tik 3 1 2 - - 3 Telepon 1 1 - - - 4 Listrik 2 2 - - - 5 Sarana Air Bersih 1 1 - - - Tabel 2.4 Rumah Dinas Dokter 1 - 1 - - 5 Rumah Dinas Perawat 2 2 - - - 6 Rumah Dinas Bidan - - - - - 1 1 0 0 0 2 - Puskesmas Keliling 7 roda.

5 Kondisi Ketenagaan Pada Puskesmas Pauh Tahun 2010 NO JENIS KETENAGAAN YANG ADA SEKARANG STATUS KEPEG 1 Dokter 2 2 PNS 2 Dokter Gigi 1 1 PNS TITIPAN NAD 3 Sarjana Keperawatan 1 1 PNS 4 Rekam Medik 1 1 PNS 5 D3 Keperawatan 12 6 PNS.LIMAU MANIH 8 SELATAN 7 3 2 1 1 MANIH 6 1 3 - 1 1 PUSKESMAS 46 9 24 6 5 2 LIMAU 9 2. 8 PTT 7 D3 Gizi 4 2 PNS. Dibawah ini disajikan data dan informasi ketenagaan yang bekerja pada Puskesmas PAUH selama Tahun 2010 sebagai berikut: Tabel 2. namun dari segi kualitatif memang diperlukan upaya peningkatan pendidikan dan pelatihan terutama dalam rangka menjawab tantangan akan pentingnya peningkatan mutu (Quality Assurance) oleh provider serta tuntutan masyarakat (user) akan mutu yang ditandai dengan semakin berkurangnya keluhan masyarakat akan pelayanan kesehatan yang diberikan Puskesmas.4 Ketenagaan Puskesmas Pauh Sumber daya tenaga kesehatan yang bertugas di Puskesmas PAUH secara kuantitatif sudah cukup memadai dengan rasio tenaga berdasarkan katagori tenaga rata-rata 1 : 8000 penduduk. 2 VOLUNTIR 8 D3 Teknisi Gigi 1 1 PNS 7 . 6 VOLUNTIR 6 D3 Kebidanan 15 7 PNS.

5 KONDISI SOSIAL.9 D3 Kesling 2 2 PNS 10 Bidan 2 2 PNS 11 Perawat ( SPK ) 6 6 PNS 12 Analis Kimia 1 1 PNS 13 Ass. 2 Budaya Tersedianya berbagai jenis pendidikan mulai dari tingkat pendidikan kanak-kanak dasar sampai dengan perguruan tinggi pada wilayah kerja Puskesmas PAUH menyebabkan Semakin banyak penduduk yang mengenyam pendidikan dan diharapkan semakin kritis dengan berbagai dampak pembangunan. Dari segi kepercayaan. Pendekatan kultural sangat dibutuhkan dalam rangka menjalin kerjasama peran serta masyarakat. 3 Ekonomi 8 . Protestan. Mayoritas kepercayaan penduduk adalah Islam dengan komposisi 99 % Islam. sisanya katolik. Apoteker 3 3 PNS 14 LCPK 1 1 PNS 15 SMA 4 4 PNS JUMLAH 56 2. Potensi keninik mamakan yang masih dilakoni masyarakat menjadi ssendo dalam melakukan perubahan perilaku masyarakat menuju Perilaku Hidup Bersih dan Sehat. Budha dan lain lain. BUDAYA DAN EKONOMI 1 Sosial. Sistem kekerabatan yang masih dijalankan oleh penduduk setempat masih dipakai sebagian besar penduduk dan merupakan kekuatan yang dapat digarap apabila cara nya diketahui. Penduduk wilayah kerja Puskesmas Pauh dengan strata dan rasial yang relatif homogen dengan akar budaya yang kuat dan kental dengan sendirinya menjadi potensi dan kekuatan dalam pembangunan termasuk kesehatan.

2.669 1145 5605 1259 1202 1202 2290 3660 Limau 09 9 .4 % dari total penduduk wilayah kerja Puskesmas PAUH.6 Sasaran Pelayanan Kesehatan Dibawah ini disajikan gambaran kependudukan yang menjadi sasaran dan cakupan kesehatan Puskesmas PAUH berdasarkan perhitungan statistik dan konversi dari DKK tahun 2010 sebagai berikut: Tabel 2. Swasta 24 % . dengan kemampuan terbatas sampai ke kelompok mampu dan mapan. sisanya bekerja di sektor informal lainnya. Namun kelompok dengan pendapatan rendah dan tidak menentu secara signifikan rawan dengan kesehatan yaitu keluarga miskin ternyata menduduki proporsi yang cukup besar yaitu 22.Pendapatan penduduk wilayah kerja Puskesmas PAUH boleh dikata bervariasi mulai dari petani ± 46 % . PNS 17 % . 07 Bukik 3123 66 326 74 70 70 132 219 08 Lm selatan 8263 177 863 194 185 185 354 479 manih 4861 104 508 114 109 109 208 341 Total 53. ABRI ± 5 %.6 Jumlah Prakiraan Penduduk Sasaran Kesehatan Tahun 2010 Kode Kelurahan 01 Jumlah Pddk Bayi Balita Bumil Bufas Bulin Buteki Lansia Pisang 6741 144 704 158 151 151 288 472 02 Binuang kd 5617 120 587 132 126 126 240 393 03 Piai tangah 4405 94 460 103 98 98 188 309 7863 168 821 185 176 176 336 551 Cupak 04 tangah Kapalo 05 koto 5841 124 610 136 131 131 248 409 06 Koto lua 6955 148 726 163 156 156 296 487 Lamb.

UKGS G.P2P: 1.PROGRAM PENUNJANG : 1. Yetti. SKM Koor Yankes Masyarakat Drg. N/ Rukmini : Rafniati. N A. Kep D. Desmawati. Ismed 2. Apotik : Nirna Ningsih Irma Bayu Retno Handayani 3. Hj.PROMKES : Yetti Varida. ISPA : Sri Wahyuni 2. KIA ANAK : Sri Wahyuni.Kep Keuangan Winda Rika Mulyani Perencanaan Tata Usaha Staf Medis Perlengkapan Ismed Suardi Koor Pelayanan Medik Drg.DBD : Asmara Juita 8. KIA IBU : Emilda. Yetti.UKS F. Malaria : Yuliza Reny B. Kusta : Yuliza Reny 3.GIGI B.7 Struktur Organisasi Puskesmas Kepala Puskesmas Dr. KB : Trias Betty C.Imunisasi : Nurbaini 7. Ratna Sari Tata Usaha Kepegawaian Rheynce Primaria. Amd. Febrina A. Amd.LANSIA : Febriani Erita : Drg.Survailens : Winda Permata Sari 6.KESLING : Asmara Juita Fadhly Agma C. RR : Suwardi. Rabies : Yuliza Reny 4.UMUM 2.Keb D.Keb E. Amd.TB Paru : Yuliza Reny 5.PENGOBATAN : 1. Labor : Sofinarti Pustu Jawa Gadut Roslina Rosa Pustu Pisang Eka Matrisia Pustu Piai Tangah Hera Novita Pustu Batu Busuk Desi Delvita Pustu Ulu Gadut Emilia Roza Poskeskel Limau Manis Selatan Rawat Inap 10 Poskeskel Koto Luar Nopriani . AMG Faldaneli. AMG Program Tambahan E.GIZI : Lely Guslina.2. Amd.

3. 3. Pengunjung klinik sanitasi terdiri dari pasien dan klien.1 Tujuan Umum Meningkatnya derajat kesehatan masyarakat melalui upaya promotif. terarah.BAB III TINJAUAN PUSTAKA 3.2.1 Pengertian Klinik Sanitasi Klinik sanitasi merupakan suatu upaya atau kegiatan yang mengintegrasikan pelayan kesehatan promotif dan preventif yang difokuskan pada penduduk yang berisiko tinggi untuk mengatasi masalah penyakit berbasis lingkungan dan masalah kesehatan lingkungan pemukiman yang dilaksanakan oleh petugas puskesmas bersama masyarakat secara aktif dan pasif di dalam dan di luar ruangan. preventif dan kuratif yang dilakukan secara terpadu.2 Tujuan Khusus 11 . Petugas klinik sanitasi adalah tenaga kesehatan lingkungan/tenaga kesehatan lain/tenaga pelaksana yang ditunjuk oleh pimpinan puskesmas untuk melaksanakan kegiatan klinik sanitasi.2. Klinik sanitasi merupakan bagian integral kegiatan puskesmas yang dilaksanakan lintas program dan lintas sektor di wilayah kerja puskesmas. Pasien adalah penderita penyakit yang diduga berkaitan dengan kesehatan lingkungan yang dirujuk oleh petugas medis atau ditemukan di lapangan baik oleh petugas medis/paramedis maupun petugas survey.2 Tujuan Klinik Sanitasi 3. dan tersusun secara terus-menerus. tapi untuk berkonsultasi tentang masalah yang berkaitan dengan kesehatan lingkungan. Klien adalah masyarakat yang berkunjung ke puskesmas atau yang menemui petugas klinik sanitasi bukan sebagai penderita suatu penyakit.

4 Ruang Lingkup Klinik Sanitasi 1. 3. 7. Penyediaan / penyehatan air bersih dan sanitasi dalam rangka pencegahan / penanggulangan penyakit diare / penyakit cacingan / penyakit kulit / penyakit kusta / penyakit frambusia. 3. 3. 5. Penyakit atau gangguan kesehatan lainnya yang berhubungan dengan lingkungan. Masyarakat mampu memecahkan masalah kesehatan yang berhubungan dengan kesehatan lingkungan. Masyarakat umum atau klien yang mempunyai masalah kesehatan lingkungan (yang datang ke puskesmas atau menemui petugas klinik sanitasi di lapangan). Pengamanan pestisida dalam rangka pencegahan dan penaggulangan keracunan pestisida. 4. 1. Lingkungan penyebab masalah bagi penderita atau klien dan masyarakat di sekitarnya. 12 . 2. Penyehatan lingkungan pemukiman dalam rangka pencegahan penyakit DBD / malaria / filariasis. 3.1. 4. Penyehatan perumahan dalam rangka pencegahan penyakit ISPA/TB paru. Terciptanya keterpaduan antar program-program kesehatan dan antar sektor terkait yang dilaksanakan di Puskesmas dengan pendekatan secara holistik terhadap penyakit-penyakit berbasis lingkungan. 2.3 Sasaran Klinik Sanitasi. Penyehatan makanan / minuman dalam rangka pencegahan dan penanggulangan penyakit saluran pencernaan / keracunan makanan. Meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat (pasien dan klien) serta masyarakat disekitarnya akan pentingnya lingkungan dan perilaku hidup bersih dan sehat. Penyehatan lingkungan tempat kerja dalam rangka pencegahan dan penaggulangan penyakit yang berhubungan dengan lingkungan / akibat kerja. Meningkatkan kewaspadaan dini terhadap penyakit-penyakit berbasis lingkungan melalui Pemantauan Wilayah Setempat (PWS) secara terpadu (PWS terhadap lingkungan dan penyakit) 3. 6. 2. Penderita penyakit atau pasien yang berhubungan dengan masalah kesehatan lingkungan (yang datang ke puskesmas atau yang ditemukan di lapangan).

Petugas klinik sanitasi diharapkan mengikutsertakan perawat dari pustu atau bidan desa b. Rapid Survey. Klien Klien mendaftar di loket selanjutnya menuju ruang klinik sanitasi untuk konsultasi. pengolahan. b. dikaitkan dengan lingkungan. Pasien Di klinik sanitasi. Pemetaan dilakukan menurut sebaran penyakit dan pemetaan per desa.5 Kegiatan Klinik Sanitasi 1. Hasil analisis berupa jenis penyakit berbasis lingkungan tertinggi di wilayah kerja puskesmas. Luar Gedung Puskesmas a. Lalu dibuat janji untuk kunjungan rumah. Intervensi rencana tindak lanjut 13 . Hasil wawancara dicatat dan petugas melakukan konseling terkait penyakit pasien. 2. c. Lalu dibuat janji untuk kunjungan rumah. Pemetaan population at risk Petugas klinik sanitasi bekerja sama dengan tenaga epidemiologi-surveilans puskesmas dalam pengumpulan data. Kunjungan rumah Merupakan tindak lanjut kunjungan pasien/klien ke puskesmas. Penemuan penderita melalui pencarian penderita secara aktif Petugas Klinik Sanitasi harus mengetahui penyakit menular apa yang menjadi prioritas di daerahnya untuk kemudian mencari upaya pengendalian penyakit tersebut dengan cara perbaikan lingkungan. Kartu Kesehatan Keluarga (K3). analisis. khusus untuk daerah proyek KKG/repliksai proyek KKG. Focus Group Discussion. khusus untuk daerah proyek KKG/replikasi - proyek KKG. Hasil penemuan ini harus dilaporkan pada evaluasi bulanan Puskesmas untuk diputuskan sebagai sasaran klinik sanitasi. dan desa dengan kasus penyakit tertinggi.3. e. petugas mewawancarai pasien tentang penyakit yang diderita. Indeks Potensi Keluarga Sehat (IPKS). Dalam Gedung Puskesmas a. dan pemetaan population at risk dan faktor yang mempengaruhi penularan penyakit. kelompok risiko tinggi. d. Beberapa cara yang dapat digunakan untuk menetukan population at risk : Rapid Assesment Procedure. Penemuan population at risk melalui pengumpulan data di lapangan. Population at risk adalah penderita atau orang-orang yang secara - epidemiologis mendapat risiko tertular penyakit berbasis lingkungan. Hasil wawancara dicatat dan petugas melakukan konseling terkait penyakit pasien.

Petugas klinik sanitasi mencatat kegiatan yang dikerjakan dalam format pencatatan kliniki sanitasi (register. 3. . kartu status kesehatan). Terciptanya hubungan dan kerja sama yang baik lintas program dan lintas sektor di wilayah kerja puskesmas. Meningkatnya cakupan dan jumlah sarana air bersih dan sanitasi yang memenuhi syarat dari swadaya masyarakat. atau tabel yang diperbarui secara periodik. Penentuan prioritas penyakit yang akan diintervensi mempertimbangkan kegawatan penyakit. penyakit akibat kerja. c. Pelaporan. Langsung a.Hasil pengolahan dan pemetaan data disampaikan pada rapat Micro Planning puskesmas untuk menentukan intervensi sebagai tindak lanjut temuan. program prioritas daerah/nasional. dan keracunan). Menurunnya angka kejadian penyakit berbasis lingkungan (diare. Pencatatan a. Evaluasi dilaksanakan lintas program/lintas sektor pada akhir tahun yang hasilnya dapat digunakan untuk penyusunan program kerja tahun berikutnya.Intervensi dilakukan pada beberapa penyakit di satu desa. b.7 Pencatatan. Meningkatnya kunjungan petugas klinik sanitasi ke rumah pasien/klien. 3. malaria. DBD. cacingan. c.Intervensi pada satu jenis penyakit di beberapa desa yang kasunya menonjol. 2. penyakit saluran pencernaan. b. ISPA/TB paru. 2. penyakit kulit. Petugas klinik sanitasi mengolah data kegiatan di dalam dan luar Puskesmas. dan tingkat kesulitan pemberantasan penyakit. grafik. b. Alternatif intervensi : . b. b.6 Kriteria Keberhasilan Klinik Sanitasi Keberhasilan pelaksanaan klinik sanitasi ditunjukkan dengan beberapa indikator : 1. Meningkatnya kunjungan klien dan menurunnya kunjungan pasien klinik sanitasi.8 Media Komunikasi 14 . Kartu Status Kesehatan Lingkungan. Laporan diberikan secara periodik. Kartu Rumah dan formulir lain yang diperlukan. 3. dan Evaluasi 1. Petugas klinik sanitasi membuat penyajian data dalam bentuk peta. Pemantauan untuk mengetahui hambatan serta peluang dilaksanakan tiap bulan saat lokakarya mini puskesmas yang akan dipakai untuk perbaikan pelaksanaan klinik sanitasi sebagai bahan untuk peningkatan kinerja petugas klinik sanitasi. Puskesmas yang melaksanakan program ini melaporkannya kepada Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota sesuai format yang telah ada. 3. Pemantauan dan Penilaian a. Pelaporan a. Tidak langsung a.

Komunikasi akan lebih berhasil dengan semakin banyaknya media yang digunakan. b. Pengunjung mendaftar ke loket. 5. Penderita menuju dan memberikan kartu rujukan/kartu status pasien untuk menuju ke petugas klinik sanitasi. Petugas klinik sanitasi mempelajari kartu pasien untuk mengetahui penyakit penderita. f. 6. Leaflet. mudah dilaksanakan dan murah sesuai dengan masalahnya. Lakukan wawancara dengan menggunakan daftar pertanyaan sesuai penyakit yang diderita pasien. dokter. Pasien yang dirujuk menyerahkan kartu status/rujukan ke pertugas klinik sanitasi. 6. g. 3. 1. 2. Simpulkan hasil wawancara apakah penyakit yang diderita pasien itu ada indikasi berhubungan dengan faktor lingkungan.Diperlukan media yang akan digunakan untuk menyampaikan pesan. Petugas loket mengisi kartu status. 5. Penyampaian harus diberikan secara intensif dan berkelanjutan agar menimbulkan pengaruh yang lebih baik pada sasaran. i. c. Pasien menuju ke poliklinik dengan membawa kartu status.9 Pedoman Merujuk Pasien Penyakit Berbasis Lingkungan ke Klinik Sanitasi. Pelatihan dan demonstrasi.10 Alur Wawancara Petugas Klinik Sanitasi dengan Pasien. Petugas poliklinik (perawat. Apabila penyakit disebabkan faktor lingkungan. Media - komunikasi dapat berbentuk: Penyuluhan. minuman dan pestisida) Keluhan akibat lingkungan yang buruk/akibat kerja maka pemeriksa memberikan kartu rujukan/kartu status kepada pasien untuk menuju ke petugas klinik sanitasi. 2. 3. e. 15 . Berikan saran pemecahan yang sederhana. 3. 3. Apabila dari hasil pemeriksaan diduga menderita penyakit yang berbasis a. lingkungan diakibatkan oleh pengaruh lingkungan. 4. h. Pertemuan. d. adakan kesepakatan kapan bisa berkunjung ke rumah pasien. yaitu: Diare Kecacingan ISPA Malaria DBD TB Paru Kulit/ Gatal-gatal Keracunan (makanan. bidan) memeriksa pasien sesuai prosedur yang berlaku di Puskesmas. 1. selebaran. 4. dan poster.

Toga . 5.LKMD . D Koordinasi Masyarakat .Toma . 3.7. 8. 2. 7. Petugas klinik sanitasi mengisi Kartu Status Kesehatan Lingkungan berdasarkan kartu status penderita dan mencatat ke dalam buku registrasi. Pemantauan dan Klinik Sanitasi t Penemuan Puskesmas Penemuan Pop.Guru . 1. klien langsung ke ruang kerja sanitasi (disesuaikan dengan kondisi daerah perlu mendaftarkan ke loket Puskesmas atau langsung ke klinik sanitasi. murah dan mudah dilaksanakan sesuai dengan masalahnya. Kasus at TPM TTU.11 Alur Kunjungan Klien ke Klinik Sanitasi.Kader Klien/Masyarakat . Lingkungan Kerja. Apotek Evaluasi Poliklinik 16 Pulang G G E E D D U U N N G G . Apabila diperlukan adakan kesepakatan kapan bisa berkunjung ke rumah klien. 6. 4. Petugas klinik sanitasi mengisi buku register klien berdasar penjelasan klien.Polindes/bidan desa L o k Kunjungan Rumah dan Puskesmas e Mini Lokakarya Lingkungan. Berikan saran pemecahan yang sederhana.Puskesmas . Pasien menuju apotik untuk mengambil obat dan selanjutnya pulang.KEsling umum Pasien Koordinasi Lintas Program L A U L A A M R Koordinasi Lintas Sektor -Agama -PU -PMD -Pariwisata -Pertanian Alur KegiatanPembantu Program Klinik Sanitasi . Klien pulang. Petugas melakukan wawancara dengan klien sesuai permasalahan yang disampaikan ada indikasi berhubungan dengan faktor lingkungan. 3. Simpulkan hasil wawancara apakah permasalahan yang disampaikan ada indikasi berhubungan dengan faktro lingkungan.

Proses ini juga dilakukan dengan melihat data sekunder berupa laporan tahunan Puskesmas Pauh tahun 2010 dan Laporan Semester I Puskesmas Pauh tahun 2011.Keterangan penderita klien petugas umpan balik BAB IV PEMBAHASAN 4. Berdasarkan laporan Rekapitulasi LB3 Gizi dan F3 Gizi 17 . pemegang program. pencapaian program ASI Eksklusif masih jauh dari target yang ditetapkan.1 Identifikasi Masalah Proses identifikasi masalah dilakukan melalui kegiatan observasi dan wawancara dengan pimpinan puskesmas. Dari target 80% program ASI Eksklusif baru tercapai sebesar 48.47%. Beberapa potensi masalah yang berhasil diidentifikasi di puskesmas Pauh adalah : 1. Berdasarkan laporan tahun 2010 Pusksesmas Pauh. dan orang – orang yang menjalankan program serta analisis laporan tahunan puskesmas. Pemberian ASI Eksklusif yang masih sangat rendah dan jauh dari target pencapaian.

dari target 9 POSBINDU total .2% pada tahun 1997 menjadi 39. dan tidak memungkinkannya untuk diselesaikan sekaligus atau seluruhnya. petugas klinik sanitasi juga kurang disiplin dalam menjalankan tugasnya dan kurangnya kesadaran petugas BP/KIA dalam merujuk pasien ke klinik sanitasi. sehingga perlu 18 .2. 1 untuk masing-masing kelurahan. Hal ini menyebabkan rendahnya pencapaian kunjungan pasien dengan penyakit berbasis lingkungan ke klinik sanitasi. Jadi angka kesenjangannya 100 %. Berdasarkan data Laporan Semester I tahun 2011 tentang peran serta kesehatan masyarakat dalam program Promosi. 4. 5. Belum terlaksananya POSBINDU di wilayah kerja Puskesmas Pauh. Prioritas Masalah Banyaknya masalah yang ditemukan dalam program puskesmas.35%.bulan Maret 2011 Puskesmas Pauh. 2. Hal ini masih jauh dari target yang ditentukan yaitu 65%. Tidak maksimalnya pelaksanaan klinik sanitasi. Berdasarkan laporan tahunan Puskesmas Pauh tahun 2010. Berdasarkan data kunjungan ke klinik sanitasi dari laporan semester awal Puskesmas Pauh 2011 didapatkan pencapaian yang hanya sebesar 1. 4. Selain itu dari Data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 1997-2007 juga memperlihatkan terjadinya penurunan prevalensi ASI eksklusif dari 40. belum ada satupun POSBINDU yang terlaksana di 9 kelurahan. Pelaksanaan klinik sanitasi yang tidak maksimal yang dapat dilihat dari jadwal operasional klinik sanitasi yang hanya buka 2 kali seminggu.1209 Tanggal 19 Oktober 1998 setiap kasus gizi buruk diperlakukan sebagai KLB.6% dari target sebesar 63%. sedangkan BP/KIA buka setiap hari kerja. Masih ditemukannya kasus gizi buruk di wilayah kerja Puskesmas Pauh.5% dan 32% pada tahun 2003 dan 2007. yang tetap saja masih jauh dari target. 3.46%. Selain itu. Oleh karena itu hal ini masih menjadi suatu masalah yang dinilai memiliki prioritas tersendiri. dan terjadi penurunan dibandingkan dengan pencapaian tahun 2010. Angka kunjungan balita ke posyandu yang belum memenuhi target. bayi 0-6 bulan yang hanya diberi ASI Eksklusif saja ada 161 bayi atau sekitar 39. Berdasarkan data dari bagian gizi puskesmas pauh terhitung sampai Bulan Agustus 2011 masih terdapat 1 kasus gizi buruk di wilayah kerja puskesmas di Kecamatan Pauh. didapatkan data balita yang ditimbang selama tahun 2010 yaitu 49. Berdasarkan Instruksi Menkes No.

Ugrensi (merupakan masalah yang penting untuk diselesaikan) Nilai 1 : tidak penting Nilai 2 : kurang penting Nilai 3 : cukup penting Nilai 4 : penting Nilai 5 : sangat penting 2. Pemberian ASI Eksklusif yang masih sangat rendah Urgensi Intervensi Biaya Mutu Total Rangking 4 4 4 4 16 II dan jauh dari target pencapaian 19 .1. Biaya Nilai 1 : sangat mahal Nilai 2 : mahal Nilai 3 : cukup mahal Nilai 4 : murah Nilai 5 : sangat murah 4.dilakukan pemilihan prioritas masalah yang merupakan masalah terbesar. Kemungkinan intervensi Nilai 1 : tidak mudah Nilai 2 : kurang mudah Nilai 3 : cukup mudah Nilai 4 : mudah Nilai 5 : sangat mudah 3. Penilaian Prioritas Masalah di Puskesmas pauh Kriteria 1. Kemungkinan meningkatkan mutu Nilai 1 : sangat rendah Nilai 2 : rendah Nilai 3 : sedang Nilai 4 : tinggi Nilai 5 : sangat tinggi Tabel 4. yaitu : 1. Dalam hal ini metode yang kami gunakan adalah teknik scoring.

Tidak maksimalnya pelaksanaan klinik sanitasi Dari tabel penilaian prioritas masalah di atas. dan upaya pemecahan masalah tidak maksimalnya pelaksanaan klinik sanitasi. Belum terlaksananya POSBINDU di wilayah kerja Puskesmas Pauh 5. sedangkan target yang harus dicapai adalah 63 %. 4. Pencapaian kunjungan klinik sanitasi hanya 1. maka yang menjadi prioritas utama adalah tidak maksimalnya pelaksanaan klinik sanitasi di Puskesmas Pauh. Angka kunjungan anak balita ke Posyandu yang belum memenuhi target 4. kami menganggap perlunya identifikasi. Rekapitulasi kunjungan pasien ke klinik sanitasi dibandingkan dengan kunjungan pasien ke BP dan KIA menunjukkan belum maksimalnya pelaksanaan klinik sanitasi. penulis menganggap perlu untuk mengoptimalkan pelaksanaan klinik sanitasi. Masih ditemukannya kasus gizi buruk di 4 4 4 1 13 IV 3 4 4 3 14 III 3 3 2 4 12 V 4 4 4 4 16 I wilayah kerja Puskesmas Pauh 3.3. analisis. Analisis Sebab Akibat Masalah Berdasarkan penilaian prioritas di atas.2. 20 .6 %. Oleh karena itu.

21 .

Paru Kecacingan Keracunan Keluhan makanan 1 Januari 2 Februari 3 Maret 4 April 5 Mei 6 Juni JUMLAH NO BULAN 1 Januari 2 Februari 3 Maret 4 April 5 Mei 6 Juni JUMLAH 36 1 2 1 2 42 Diare 95 61 32 57 62 56 363 Filariasis Akibat Kerja Lainnya 1 1 Tabel 4.2 Kunjungan Pasien Penyakit Berbasis Lingkungan ke Klinik Sanitasi Tahun 2011 NO BULAN Diare ISPA Malaria DBD PENYAKIT BERBASIS LINGKUNGAN TB.3 Kunjungan Pasien Penyakit Berbasis Lingkungan ke BP/KIA Tahun 2011 ISPA 599 436 423 561 482 491 2992 Malaria - DBD - PENYAKIT BERBASIS LINGKUNGAN TB.Paru Kecacingan Keracunan Keluhan 4 9 13 - makanan Akibat Kerja - - Penyakit - 6 1 2 8 2 19 Filariasis Penyakit Lainnya - 125 106 94 108 116 82 631 22 .Tabel 4.

maka didapatkan beberapa penyebab masalah kurang maksimalnya pelaksanaan klinik sanitasi Puskesmas Pauh. 23 . diskusi.Kurangnya media informasi tentang pentingnya klinik sanitasi. dilihat tidak setiap hari ada petugas sanitasi di klinik sanitasi sesuai jadwal yang ditetapkan. 4. yakni sebagai berikut: 1. Metode .Kurangnya kerjasama lintas program dalam merujuk pasien dengan penyakit berbasis lingkungan dari BP dan KIA ke klinik sanitasi 3. Manusia Dari segi petugas kesehatan : - Kedisiplian pelaksanaan piket harian klinik sanitasi belum optimal. terlihat dari hasil kuesioner yang disebarkan kepada pasien yang datang ke Puskesmas Pauh. - Kurangnya pemahaman dan kesadaran petugas BP dan KIA untuk merujuk pasien dengan penyakit berbasis lingkungan ke klinik sanitasi Dari masyarakat : - Ketidaktahuan dan ketidakpahaman masyarakat tentang adanya klinik sanitasi dan fungsi klinik sanitasi. - Lingkungan Tempat pelaksanaan klinik sanitasi yang kurang representatif. Material . 2. - Adanya petugas klinik sanitasi yang juga bertanggungjawab terhadap program lain.Setelah melakukan observasi langsung. dan wawancara dengan petugas puskesmas.

Petugas BP dan KIA tidak merujuk pasien dengan penyakit berbasis lingkungan ke klinik sanitasi Masyarakat: - Ketidaktahuan dan ketidakpahaman masyarakat tentang adanya adanya klinik sanitasi dan fungsinya.1 Diagram Ischikawa MANUSIA Petugas Kesehatan: LINGKUNGAN - - Ruangan klinik sanitasi yang kurang memadai Pelaksana piket di klinik sanitasi tidak disiplin Adanya petugas klinik sanitasi yang juga bertanggungjawab terhadap program lain.Gambar 4. Tidak maksimalnya pelaksanaan klinik sanitasi MATERIAL - Kurangnya media informasi tentang pentingnya klinik sanitasi. METODE - Kurangnya kerjasama lintas program dalam merujuk pasien dengan penyakit berbasis lingkungan dari BP dan KIA ke klinik sanitasi 24 .

Masalah ketiga : Kurangnya pemahaman dan kesadaran petugas BP dan KIA untuk merujuk pasien dengan penyakit berbasis lingkungan ke klinik sanitasi Rencana : mengadakan rapat lintas program untuk mengingatkan kembali petugas puskesmas akan pentingnya merujuk pasien dengan penyakit berbasis lingkungan ke klinik sanitasi - Pelaksana : petugas kesehatan puskesmas Target : Pencapaian kunjungan ke klinik sanitasi memenuhi target Masyarakat 25 . Manusia .3 Alternatif Penyelesaian Masalah 1. Rencana : memberikan punishment atas ketidakdisiplinan petugas klinik sanitasi. Pelaksana : petugas program kesling Target : klinik sanitasi dibuka setiap hari dan ada petugasnya sehingga masyaralat yang memerlukan dapat memanfaatkannya.Petugas kesehatan Masalah Pertama : Kedisiplian pelaksanaan piket klinik sanitasi belum optimal.4. Rencana : Memperbaiki manajemen pembagian tugas petugas klinik sanitasi. agar tidak terjadi tumpang tindih tanggung jawab. Pelaksana : Pimpinan Puskesmas Target : klinik sanitasi dibuka setiap hari dan ada petugasnya sehingga masyarakat yang memerlukan dapat memanfaatkannya. Masalah Kedua : Adanya petugas klinik sanitasi yang juga bertanggungjawab terhadap program lain.

Material Masalah : Kurangnya media informasi tentang pentingnya klinik Rencana sanitasi. peran dan kegiatan klinik sanitasi) melalui penyuluhan pada kegiatan Posyandu. : Petugas klinik sanitasi. Lingkungan Masalah Rencana Pelaksana Target : : : : Ruangan klinik sanitasi yang kurang memadai Melakuan dekorasi ruangan klinik sanitasi Petugas klinik sanitasi Tersedia ruangan yang nyaman bagi pasien yang konsultasi 26 . : Peningkatan pencapaian kunjungan pasien ke klinik sanitasi 3. Promkes. Posyandu lansia dan UKBM. dan KIA. edukasi ke BP dan KIA. Metode Masalah : Kurangnya kerjasama lintas program dalam merujuk pasien dengan penyakit berbasis lingkungan dari BP dan KIA ke klinik sanitasi Rencana : Petugas BP/KIA membuat rujukan tertulis di kertas resep pasien yang harus ditandatangani petugas klinik sanitasi sebelum mengambil obat di apotek Pelaksana Target : Petugas klinik sanitasi. Rencana : sosialisasi klinik sanitasi (fungsi. KIA. Pelaksana : petugas kesehatan lingkungan. BP. dan Target Pembina UKBM : masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Pauh mengetahui manfaat klinik sanitasi dan dapat memanfaatkannya untuk meningkatkan derajat kesehatan (penilaian pencapaian dilakukan dengan kuesioner) 2. terlihat dari rendahnya pencapaian kunjungan ke klinik sanitasi.Masalah : Ketidaktahuan dan ketidakpahaman masyarakat tentang adanya klinik sanitasi dan fungsi klinik sanitasi. : Terdapat papan informasi di ruang tunggu pasien yang berisikan pentingnya klinik sanitasi. 4. BP. pimpinan Puskesmas. : Pembuatan media informasi berupa poster tentang klinik Pelaksana Target sanitasi yang dipasang di ruang tunggu pasien.

BAB V RENCANA PELAKSANAAN PROGRAM 5.1 Tahap Persiapan Pada tahap persiapan ini dilakukan rapat evaluasi terhadap kerja petugas kesehatan lingkungan sebelumnya berupa rapat internal. 5.2 Tahap Pelaksanaan 27 . Kemudian dilakukan rapat dengan pimpinan puskesmas dan pemegang program lainnya dalam rangka peningkatan kunjungan ke klinik sanitasi.

Posyandu lansia dan UKBM. agar tidak terjadi tumpang tindih tanggung jawab. Petugas BP/KIA membuat rujukan tertulis di kertas resep pasien yang harus ditandatangani petugas klinik sanitasi sebelum mengambil obat di apotek 5. Hal ini bisa dilihat dari pencapaian kunjungan ke klinik Pada tahap ini juga dapat dinilai tentang pengetahuan dari pasien yang berkunjung ke puskesmas tentang klinik sanitasi melalui kuesioner. Memberikan punishment atas ketidakdisiplinan petugas klinik sanitasi.Pelaksanaan difokuskan pada : 1. Sosialisasi klinik sanitasi (fungsi. Pembuatan media informasi berupa poster tentang klinik sanitasi yang dipasang di 6. Melakuan dekorasi ruangan klinik sanitasi 5. Evaluasi juga dilakukan melalui rapat internal dan lokakarya mini yang dilakukan sekali sebulan.3 Tahap Evaluasi Tahap evaluasi ini bertujuan untuk menilai apakah pelaksanaan klinik sanitasi telah maksimal. 28 . 3. peran dan kegiatan klinik sanitasi) melalui penyuluhan pada kegiatan Posyandu. Memperbaiki manajemen pembagian tugas petugas klinik sanitasi. ruang tunggu pasien. 4. edukasi ke BP dan KIA. 2.

Meningkatkan tugas sanitasi. rencana anggaran dana pada minggu IV Oktober 2011 2 Tahap pelaksanaan .Tabel 5.Memberikan punishment kedisiplinan Pemegang petugas program klinik sanitasi untuk Kesehatan selalu berada di lingkungan ruangan klinik sanitasi atas pada jam kerja.Membuat rencana Kesehatan .Memperbaiki manajemen pembagian tugas pada minggu IV Oktober 2011 . Ruang rapat Puskesmas petugas laporan Puskesmas kunjungan minggu klinik sanitasi 2011 klinik lingkungan dan dana .Rapat dengan pemegang progam lainnya puskesmas .1 Rencana Pelaksanaan Program No 1 Kegiatan Penanggung Tujuan jawab Unsur yang terlibat Tenaga Sarana Tempat dan Waktu Tahap Persiapan Rapat internal . . Pimpinan petugas Puskesmas dan Ruangan Ruangan klinik sanitasi klinik sanitasi .Evaluasi kinerja petugas Pemegang .Memperbaiki pembagian klinik manajemen .Rapat internal I pada Oktober laporan .Rapat dengan pemegang dari BP dan program KIA penetapan punishment.Menyusun sanitasi rencana anggaran program Pimpinan dan Ruang rapat.Penetapan sistem punishment pelaksanaan . terjadi petugas agar tumpang tidak tindih tanggung jawab.Memberikan punishment 29 . menyusun lain.

Sosialisasi bersifat incidental manfaat klinik sanitasi klinik dan memanfatkannya selama (fungsi.Pasien leaflet pada kegiatan Posyandu. 3 Melakukan dekorasi ruangan klinik sanitasi Tahap evaluasi .Masyarakat mengetahui sanitasi.Dekorasi pada minggu IV jika Oktober 2011 berkonsultasi di klinik sanitasi ruang tunggu pasien. .Penyebaran kuesioner dan Puskesmas kendala ditemukan yang Kesehatan lingkungan Pimpinan dan Ruangan rapat Ruangan rapat Puskesmas.Rapat internal Kesling Menilai keberhasilan Pemegang .Sosialisasi klinik sanitasi melalui meningkatkan penyuluhan dan pembagian . .kedisiplinan petugas klinik .Pembuatan poster pada mengetahui minggu I November adanya ruangan klinik 2011 sanitasi dan merasa informasi dipasang di nyaman bulan .Pembuatan media berupa poster tentang klinik sanitasi yang . peran dan kegiatan untuk November 2011 klinik derajat kesehatan sanitasi) sanitasi .Rapat lintas program (Lokmin) program klinik sanitasi program petugas .Lokmin dan rapat internal Kesling dilaksanakan minggu IV setiap bulan mulai November 2011 30 . .

2 Indikator Keberhasilan No 1 Kegiatan Membuat piket jaga di klinik sanitasi Indikator Keberhasilan Terlaksana piket jaga di klinik sanitasi setiap 2 3 hari kerja Menerapkan system punishment Terlaksana system punishment Sosialisasi klinik sanitasi melalui Terlaksana penyuluhan tentang klinik sanitasi 4 penyuluhan Membuat dan memasang poster tentang Terpasang poster tentang klinik sanitasi di 5 klinik sanitasi di ruang tunggu pasien Mendekorasi ruangan klinik sanitasi ruang tunggu pasien Tersedia tempat duduk bagi pasien yang konsultasi Sumber Dana - Tanggung Jawab Petugas kesehatan BOK lingkungan Pimpinan Puskesmas Petugas kesehatan BOK lingkungan Petugas kesehatan APBD lingkungan Petugas kesehatan lingkungan 31 .Penyebaran kuesioner pada minggu I Mei 2012 Tabel 5..

g. Program ini harus dievaluasi secara berkesinambungan dan terus ditingkatkan kualitasnya. e.2 Saran Dari analisis masalah.1 Kesimpulan Dari data yang di dapat. disebabkan oleh: a. dan rencana pelaksanaan program yang disusun di atas. Pimpinan Puskesmas Pauh bersama-sama petugas di Puskesmas Pauh terutama petugas klinik sanitasi supaya memperbaiki manajemen. Kurangnya pemahaman dan kesadaran petugas BP dan KIA untuk merujuk pasien dengan penyakit berbasis lingkungan ke klinik sanitasi d. alternatif solusi masalah. Kedisiplinan pelaksanaan piket harian klinik sanitasi belum optimal. dapat disimpulkan bahwa tidak maksimalnya pelaksanaan klinik sanitasi Puskesmas Pauh. b. 32 .BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6. Kurangnya media informasi tentang pentingnya klinik sanitasi. Ruangan klinik sanitasi yang kurang memadai 6. diharapkan dapat memaksimalkan pelaksanaan klinik sanitasi. sehingga pelaksanaan klinik sanitasi maksimal. Adanya petugas klinik sanitasi yang juga bertanggungjawab terhadap program lain. Kurangnya kerjasama lintas program dalam merujuk pasien dengan penyakit berbasis lingkungan dari BP dan KIA ke klinik sanitasi f. Ketidaktahuan dan ketidakpahaman masyarakat tentang adanya adanya klinik sanitasi dan fungsinya. melakukan sosialisasi yang baik mengenai klinik sanitasi kepada masyarakat dan meningkatkan kerjasama klinik sanitasi secara lintas sektor dan lintas program di Puskesmas Pauh. c.

Laporan Tahunan Puskesmas Pauh 2010 Laporan Kegiatan Semester I Puskesmas Pauh 2011 Laporan Bulanan Program Kesehatan Lingkungan Puskesmas Pauh 2011 Pedoman Teknis Klinik Sanitasi untuk Puskesmas. Hasil dari kegiatan ini agar dapat dimanfaatkan oleh pimpinan Puskesmas Pauh dalam memaksimalkan pelaksanaan klinik sanitasi. 4.BAB VII PENUTUP Melalui kegiatan kepaniteraan klinik dibagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Andalas ini. DAFTAR PUSTAKA 1. Direktorat Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan. 2. 3. kami ucapkan banyak terima kasih. telah dilakukan identifikasi terhadap berbagai masalah yang ada di wilayah kerja Puskesmas Pauh. Kepada semua pihak yang telah membantu sehingga laporan ini dapat tersusun. 2000 33 .

Tidak 34 . Apakah Anda pernah diminta petugas BP/KIA ke Klinik Sanitasi di Puskesmas Pauh? a. Tahukan anda tentang Klinik Sanitasi di Puskesmas Pauh? a. Tahu b.Lampiran 1 KUESIONER PENGETAHUAN PASIEN PUSKESMAS PAUH TENTANG KLINIK SANITASI NAMA : UMUR : ALAMAT : Lingkari jawaban yang Anda pilih. Ya b. Tidak tahu 2. 1.

e. apakah anda bersedia? a. Penyuluhan c. Tidak 35 . Wawancara b. Diare ISPA Penyakit kulit TB Lainnya. Kenapa Anda diminta konsultasi oleh petugas BP/KIA ke klinik sanitasi? (pertanyaan ini untuk yang pernah dirujuk ke klinik sanitasi) a. Jika anda diminta oleh petugas BP/KIA untuk pergi ke klinik sanitasi. d. b. Tidak 5.3. Kesepakatan berkunjung ke rumah d. Semua dilakukan 6. Apakah menurut Anda klinik Sanitasi bermanfaat untuk meningkatkan kesehatan masyarakat? a. ………… 4. Apa saja yang dilakukan di klinik sanitasi? (pertanyaan ini untuk yang pernah dirujuk ke klinik sanitasi) a. c. Ya b. Ya b.

Tahu b. Apakah Anda pernah diminta petugas BP/KIA ke Klinik Sanitasi di Puskesmas Pauh? a. Tahukah Anda tentang Klinik Sanitasi di Puskesmas Pauh? a. Ya b.Lampiran 2 PENGETAHUAN PASIEN PUSKESMAS PAUH TENTANG KLINIK SANITASI 1. Tidak 36 . Tidak Tahu Pengetahuan Tentang Klinik Sanitasi 10% Tahu Tidak tahu 90% 2.

Diare b. Kenapa Anda diminta konsultasi oleh petugas BP/KIA ke klinik sanitasi? (pertanyaan ini untuk yang pernah dirujuk ke klinik sanitasi) a. TB e.Permintaan ke Klinik Sanitasi 10% Ya Tidak 90% 3. Ya b. ………… 37 . ISPA c. apakah anda bersedia? a. Penyakit kulit d. Tidak Kesediaan ke Klinik Sanitasi 5% Ya Tidak 95% 4. Jika anda diminta oleh petugas BP/KIA untuk pergi ke klinik sanitasi. Lainnya.

Tidak 38 . b.Penyakit yang dikonsultasikan ke Klinik Sanitasi Diare Penyakit Kulit ISPA 50% TB 50% Lainnya 5. Ya b. Apa saja yang dilakukan di klinik sanitasi? (pertanyaan ini untuk yang pernah dirujuk ke klinik sanitasi) a. c. d. Wawancara Penyuluhan Kesepakatan berkunjung ke rumah Semua dilakukan Kegiatan di Klinik Sanitasi Wawancara Penyuluhan Kesepakatan berkunjung ke rumah Semua dilakukan 6. Apakah menurut Anda klinik Sanitasi bermanfaat untuk meningkatkan kesehatan masyarakat? a.

5. 1 kali b. 6 kali/setiap hari Dimanakah ruangan klinik sanitasi di Puskesmas Pauh? a. Tidak tau Apakah anda tahu klinik sanitasi ada di Puskesmas Pauh? a.Klinik Sanitasi Ya Tidak 1 Lampiran 3 KUESIONER EVALUASI PENGETAHUAN PASIEN PUSKESMAS PAUH TENTANG KLINIK SANITASI 1. Di klinik sehat b. 3. Penderita dengan penyakit yang berhubungan dengan lingkungan 39 . Tahukah Anda tentang Klinik Sanitasi ? 2. a. Di KIA Siapa saja yang berkonsultasi ke klinik sanitasi? a. 2 kali c. Tidak tahu Berapa kali klinik sanitasi di Puskesmas Pauh dibuka seminggu? a. Tau b. Di BP c. Tahu b. 4.

Tidak Tahu 7. 80.000) 3.000 Rp. 50. A dan B benar 6. 180. Leaflet 100 buah Total Rp. BOK Pengeluaran 1. 50.b. Poster 2. APBD 2. Tahu b. Tidak Lampiran 4 RENCANA ANGGARAN DANA Masukan 1. Ya d. Masyarakat umum yang memiliki masalah yang berkaitan dengan kesehatan lingkungan c. Dekorasi (kursi plastik 2 buah @ Rp. Apakah menurut Anda klinik Sanitasi bermanfaat untuk meningkatkan kesehatan masyarakat? c.000 + Rp. 40.000 40 .000 Rp. Apakah Anda tahu penyakit apa saja yang dikonsultasikan ke klinik sanitasi? Sebutkan a.

5. 12.00 s. 3.00 Mengisi daftar hadir piket klinik sanitasi Mengisi buku register klinik sanitasi Mengisi kartu status kesehatan lingkungan pasien Melakukan wawancara berdasarkan daftar pertanyaan sesuai dengan penyakit pasien Membuat kesepakatan dengan pasien yang menderita penyakit yang disebabkan factor lingkungan untuk berkunjung ke rumah pasien 7. Memberikan paraf pada kertas resep pasien yang bertuliskan rujukan ke klinik sanitasi 41 . 4.Lampiran 5 JOB DESK PETUGAS KLINIK SANITASI DALAM GEDUNG 1. Piket jaga klinik sanitasi setiap hari kerja mulai pukul 08. 6.d. 2.

Lampiran 7 PROTAP PELAKSANAAN KLINIK SANITASI 1. Pasien menunggu panggilan menuju ke BP/KIA 42 . Setelah diberi surat peringatan ternyata petugas tidak mengindahkan maka petugas klinik sanitasi tersebut akan diberikan hukuman berupa penambahan beban kerja yang ditentukan oleh Pimpinan Puskesmas. Petugas klinik sanitasi yang tidak menjalankan piket sebanyak 3 kali tanpa alasan yang jelas diberikan surat peringatan. Pasien mendaftar di loket dan mengambil nomor antrian 2. 2.Lampiran 6 RENCANA PUNISHMENT PETUGAS KLINIK SANITASI 1.

Pasien mendapatkan kertas resep yang bertuliskan resep dan rujukan ke klinik sanitasi serta mendapat kartu status kesehatan lingkungan 4. Pasien menuju klinik sanitasi.3. Pasien menuju apotek dan petugas apotek hanya memberikan obat kepada pasien yang mendapat paraf petugas klinik sanitasi jika pasien dirujuk ke klinik sanitasi 43 . wawancara. konsultasi dan mendapat paraf dari petugas klinik sanitasi di kertas resep 5.