You are on page 1of 6

Pascasarjana Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor, Desember 2014

Teknik Observasi dan Eksplorasi Geologi Kelautan
di Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan, Cirebon
Oleh:
Mario P. Suhana, *M. Trial Fiar Erawan
*
Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor
*

ABSTRAK
Seiring dengan perkembangan zaman, kemajuan teknologi juga mengalami perkembangan
yang sangat pesat yang ditandai dengan semakin banyaknya alat-alat atau teknologi baru yang
digunakan dalam pengambilan sampel penelitian utamanya dalam penelitian dalam bidang
oseanografi. Perlu kiranya untuk kita mengenal alat-alat tersebut dan mengetahui kegunaan dari alat
tersebut. Kesalahan dalam penggunaan alat dan bahan dapat menimbulkan hasil yang didapat tidak
akurat dalam hal ilmu statistika kesalahan seperti ini digolongkan dalam galat pasti.
Dari hasil kunjungan studi yang dilakukan ke Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi
Laut (P3GL) Cirebon dapat diambil kesimpulan bahwa penelitian mengenai perairan laut khususnya
fenomena geologi dan karakteristik dasar perairan laut di Indonesia selalu dilakukan kemajuan
inovasi-inovasi baru baik dalam sarana penelitian dan ilmu-ilmu atau kajian yang diteliti.
Dalam kunjungan studi ini juga diketahui masih banyak hal-hal baru yang masih belum
teramati oleh manusia mengenai segala hal yang berhubungan dengan karakteristik, komposisi dan
geologi perairan laut khususnya di Indonesia.
I.

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Oseanografi merupakan bagian dari
ilmu kebumian atau earth sciences yang
mempelajari lautan, samudra dan isinya serta
apa yang berada didalamnya hingga ke kerak
samudra. Ilmu ini tidak semata-mata
merupakan ilmu murni melainkan perpaduan
dari bermacam-macam ilmu dasar yang
lainnya. Ilmu-ilmu lain yang termasuk
didalamnya ialah ilmu tanah (geology), ilmu
bumi (geography), ilmu fisika (physics), ilmu
kimia (chemistry), ilmu hayat (biology) dan
ilmu iklim (meteorology).
Namun demikian ilmu oseanografi
biasanya hanya dibagi menjadi 4 cabang ilmu
saja yaitu fisika oseanografi, kimia
oseanografi, biologi oseanografi dan geologi
oseanografi. Ilmu geologi penting artinya
bagi kita dalam mempelajari asal lautan yang
telah berubah lebih dari berjuta-juta tahun
yang lalu biasa disebut dengan ilmu
oseanografi geologi atau ilmu yang
mempelajari geologi dasar samudra,
termasuk
tektonik
lempeng
dan
paleoseanografi, sedangkan yang disebut
dengan biogeologi adalah yang mempelajari
interaksi antara biosfer bumi dan litosfer.
Seiring dengan perkembangan zaman,
kemajuan teknologi juga mengalami

perkembangan yang sangat pesat yang
ditandai dengan semakin banyaknya alat-alat
atau teknologi baru yang digunakan dalam
pengambilan sampel penelitian utamanya
dalam penelitian dalam bidang oseanografi.
Perlu kiranya untuk kita mengenal alat-alat
tersebut dan mengetahui kegunaan dari alat
tersebut. Kesalahan dalam penggunaan alat
dan bahan dapat menimbulkan hasil yang
didapat tidak akurat dalam hal ilmu statistika
kesalahan seperti ini digolongkan dalam galat
pasti.
Oleh karena itu, pemahaman fungsi
dan cara kerja peralatan serta bahan harus
mutlak dikuasai oleh seseorang sebelum
melakukan pengambilan sampel tertentu.
Bukan hal yang mustahil bila terjadi
kecelakaan di dalam pengambilan sampel
karena kesalahan dalam pemakaian dan
penggunaan alat–alat dan bahan yang dalam
suatu pengambilan sampel atau objek yang
dituju untuk diamati atau dikaji. Oleh karena
itu, pemilihan jenis alat yang akan digunakan
dalam suatu penelitian disesuaikan dengan
tujuan penelitian agar penelitian berjalan
lancar dan data yang diperoleh lebih akurat.

Proses sedimentasi merupakan parameter yang paling menonjol dalam hubungannya dengan penyebaran material bahan dasar laut atau pendangkalan dan bahan yang tersuspensi yang berada di dalam kolom air. Multi Corer Grabber 7. Perairan ini meliputi rangkaian pelepasan (detachment).2 Tujuan Tujuan dari kunjungan studi ini adalah untuk: 1.Pascasarjana Ilmu Kelautan. material autigenik hasil proses kimiawi laut. 1992). Gravity Core 2. angin dan gaya gravitasi serta pengendapan atau terkumpul oleh proses alam sehingga membentuk lapisan-lapisan dipermukaan bumi yang padat atau tidak terkonsolidasi (Isnaniawardhani dan Natsir. CASQ Core 6. Untuk memahami demonstrasi laboratorium teknis pengukuran fraksi sedimen. II. Untuk memahami jenis peralatan dan teknik pengambilan contoh sedimen. Piston Core 3.. pengangkutan oleh air. CTD 8. Bahan Sampel Sedimen Dasar Perairan kesemuanya disebut sedimen ketika terakumulasi di dasar perairan laut. melompat (saltasion). atmosfer atau dari laut itu sendiri. (1993) menyebutkan bahwa tepian benua dan dasar laut mendapatkan suplai partikel-partikel secara terus menerus dari berbagai sumber. materi residual. peluluhan (disintegration). Tube Plastics 9. No. et al. 2011). Sedimen pada permukaan dasar laut umumnya tersusun oleh material biogenik yang berasal dari organisme. Duxbury. Manfaat dari kunjungan studi ini adalah diharapkan setelah kegiatan ini dapat membantu mahasiswa dalam pemahaman Kegiatan kunjungan studi ini dilaksanakan pada tanggal 5 Desember 2014 3. TEKNIK DAN PROSES 2. Institut Pertanian Bogor.1 Teknik Penanganan dan Pembahasan Sedimen adalah material bahan padat yang berasal dari batuan yang mengalami proses pelapukan. Grab Core Tabel 1. dalam bentuk tersuspensi (suspension). 1. 2010). Untuk memahami interpretasi struktur sedimen dari hasil rekaman metode akustik. Apakah partikelpartikel tersebut asli dari organisme hidup di daratan. Jenis Alat 1.3 Manfaat dan meningkatkan daya tarik pengetahuan di bidang geologi laut. Vibran Core 4. Untuk memahami demonstrasi laboratorium teknis tahapan analisis foraminifera. 4.1.4 Waktu dan Tempat di Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Laut (P3GL) Cirebon. .1 Teknik Pengambilan Sedimen dan Teknik Penanganannya Jenis peralatan dan bahan yang digunakan dapat dilihat pada Tabel 1. Desember 2014 1. selanjutnya proses ini akan merubah kedalaman dan konfigurasi pantai sehingga merubah keadaan dasar laut. materi sisa pengendapan sebelumnya dan material detritus sebagai hasil erosi asal daratan (Boggs. 2006). baik secara vertikal maupun secara horizontal (Uktoselya. Boomerang Core 5. 2. berputar (rolling) dan menggelinding (sliding) (Roza. 1. Selanjutnya butiran-butiran tersebut akan mengendap bila aliran air tidak dapat mempertahankan geraknya. Proses sedimentasi merupakan pengendapan butiran sedimen dari kolom air ke dasar perairan. Alat dan Bahan yang Digunakan 2.

proses pengambilan sampel sedimen menggunakan alat yang disebut Core ataupun Grab. Kegunaan dari vibran core adalah untuk mengambil sedimen bertipe pasiran halus di dasar perairan. Seperti yang dijelaskan saat kegiatan kunjungan ke Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Laut (P3GL) Cirebon. Proses analisis sedimen menggunakan metode fraksinasi ini untuk tahapan awal adalah dengan melakukan analisis megaskopik. vibran core dan boomerang core.Pascasarjana Ilmu Kelautan. Berdasarkan data yang diperoleh dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Laut (P3GL) Cirebon core yang digunakan terdiri dari gravity core. Core merupakan peralatan pengambilan sampel sedimen yang dapat terbuat dari material besi. hal ini bertujuan agar sampel sedimen tidak rusak dan tetap berada pada suhu yang sama atau disesuaikan dengan suhu dasar perairan dimana sampel sedimen tersebut diambil. 2. cara kerja dari piston core adalah dengan menggunakan pemicu yang disebut dengan trigger dimana pemicu tersebut digunakan pada saat core akan tiba di dasar laut atau pada permukaan sedimen. 2011). Untuk gambar jenis piston core dapat dilihat pada Lampiran 4. nekton maupun planktonik. 1996). Sedimen merupakan wadah penyimpanan utama unsur hara berupa fosfor dalam siklus yang terjadi di laut yang umumnya berbentuk partikular dengan oksida besi maupun hidroksida (Risamasu dan Prayitno.2 Teknik Analisis Fraksinasi Pengolahan sampel sedimen pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Laut (P3GL) Cirebon adalah menggunakan metode pipet dan analisis fraksinasi. Menurut OHIOEPA (2001) pada beberapa contoh core untuk pengambilan sampel sedimen telah dilengkapi dengan perangkap sedimen (sediment catcher) yang membuat pengambilan sampel sedimen menjadi lebih mudah pada setiap lapisan sedimen yang akan diambil. Piston yang terdapat di core tersebut berfungsi sebagai alat bantu mengangkat core setelah sampel sedimen terperangkap di core. yaitu analisis terhadap karakter- karakter sedimen yang tampak dan dapat dirasa oleh indera tubuh manusia. 2010). piston core. Vibran core merupakan alat pengambil sampel sedimen dengan memanfaatkan tenaga getaran yang dihasilkan oleh core tersebut. Contoh dari vibran core dapat dilihat pada Lampiran 4. Peralatan selanjutnya adalah piston core.000-11. Gravity core digunakan untuk mengambil sedimen dengan tetap menjaga urutan dari geologi laut dari sedimen tersebut (Supriyadi.000 getaran per menit (VPM). Kemudian saringan bertingkat tersebut diguncang dengan menggunakan . Cara kerja dari metode ini adalah dengan mengambil sebagian sampel sedimen selanjutnya dimasukkan kedalam saringan bertingkat. Contoh gravity core dapat dilihat pada Lampiran 3. Desember 2014 Sedimen memegang peranan penting dalam rantai nutrien yang terjadi di lautan yang kemudian dipengaruhi oleh proses fisik laut yang selanjutnya akan berdampak terhadap proses biologis organisme yang ada baik organisme bentik. baja maupun plastik. Alat ini dapat membuat getaran dengan kisaran 3. Alat ini memiliki ukuran panjang yang bervariasi sesuai dengan kebutuhan pengambilan sampel. Analisis ini meliputi penentuan warna. Jenis core selanjutnya adalah vibran core. pengestimasian lapisan sampel sedimen dan pendugaan struktur pembentuk sedimen dengan cara dipegang atau melakukan perabaan pada permukaan sampel sedimen dan hasil dari analisis awal menggunakan metode analisis megaskopik ini selanjutnya dicatat. Cara kerja core secara umum adalah setelah memasuki kolom air core akan bergerak perlahan dan semakin pelan ketika telah berpenetrasi dengan substrat sedimen di dasar perairan. Gravity core merupakan jenis core yang bekerja dengan memanfaatkan gaya berat dan gaya gravitasi bumi untuk dapat melakukan penetrasi ke dalam lapisan substrat sedimen. Tahapan selanjutnya adalah tahapan metode fraksinasi atau tahapan pemisahan materi penyusun sampel sedimen tersebut. Sampel sedimen yang telah diperoleh kemudian diberi perlakuan agar tidak rusak dengan cara disimpan pada wadah khusus pada suhu dibawah 10°C. Institut Pertanian Bogor. Analisis fraksinasi atau metode fraksinasi adalah metode analisis sedimen dengan menggunakan prinsip fraksional dari ukuran materi-materi penyusun sedimen. Alat yang digunakan untuk melakukan pemisahan antar materi-materi sedimen tersebut adalah saringan bertingkat yang meiliki ukuran yang berbeda pada setiap saringannya (Hamzah dan Setiawan.

Foraminifera merupakan salah satu kelompok zoobentos yang memiliki respons cepat terhadap lingkungan atau perubahan lingkungan atau perubahan akibat aktivitas manusia (Rositasari dan Rahayuningsih.4 Teknik Analisis Sedimen dengan Metode Akustik Salah satu dari teknologi hidroakustik kelautan adalah penggunaan Multibeam Echosounder dalam proses survei di bidang akustik kelautan. Jika pada materi-materi hasil penyaringan tersebut ditemukan materi yang berukuran lebih kecil dari 63 um atau 4Ø maka harus dilakukan analisis tambahan dengan menggunakan metode pipet. 3. Jumlah beam yang dipancarkan oleh Multibeam Echosounder lebih dari satu pancaran dengan pola pancaran melebar dan melintang terhadap badan kapal (Edi. jumlah kamar. deskripsi dan identifikasi. pemisahan foraminifera dari sedimen. susunan kamar.Pascasarjana Ilmu Kelautan. Sampel yang telah didapatkan dideskripsikan dan diidentifikasi. 2013). 1993). Sampel yang telah dicuci dimasukkan ke dalam botol koleksi dan botol film yang telah diberi alkohol untuk pengawetan serta diberi label untuk analisis lanjutan. Multibeam Echosounder menggunakan prinsip yang sama dengan Singlebeam namun perbedaannya adalah dari jumlah beam yang digunakan. 4. Terakhir letakkan sampel yang telah diambil menggunakan pipet tadi ke dalam cawan petri untuk dilakukan proses analisis. Persiapan analisis sampel menggunakan metode Kennedy dan Ziedler (1976) yang terdiri dari tahapan pencucian sampel. cara pengerjaan metode pipet adalah sebagai berikut: 1. 1983). posisi apertura dan prolocolus.5 liter. bentuk kamar. Selanjutnya masukan pipet ke dalam larutan yang telah diaduk tadi. 2009). 1974). Untuk melihat saringan bertingkat dan proses metode pipet dapat dilihat pada Lampiran 5. 2010). 2. Foraminifera mempunyai ukuran yang beragam mulai dari 3 µm sampai 3 mm (Haq dan Boersma. Selanjutnya lakukan proses pengadukan dengan menggunakan stik atau tongkat pengaduk.3 Teknik Analisis Foraminifera Foraminifera merupakan organisme bersel tunggal yang mempunyai kemampuan berbentuk cangkang dari zat-zat yang berasal dari dirinya sendiri atau dari benda asing di lingkungannya. Sedangkan untuk proses pengukuran parameter panjang cangkang ditentukan dengan menarik garis melintang dari apertura cangkang. Institut Pertanian Bogor. 2. Hasil dari penyaringan pada tiap-tiap tingkatan dari saringan tersebut kemudian diletakan dalam wadah terpisah antar tiap materi-materi sedimen yang telah diayak dan terpisah tadi. Dinding cangkang tersebut mempunyai komponen dan struktur bervariasi (Natsir. Sedangkan lebar cangkang ditentukan dari ukuran terlebar dari cangkang pada bagian median cangkang (Silmiah. Selanjutnya tambahkan larutan dispersan hingga volume sampel menjadi 1. 2009). Pencucian sampel menggunakan air mengalir di atas saringan hingga bersih. 2. ornamentasi cangkang. 2013). Hasil sapuan multibeam akan menghasilkan satuan luasan yang menggambarkan permukaan dasar laut jika kapal bergerak maju (Edi. lama waktu pengadukan disesuaikan dengan suhu ruangan dan tetapan lama waktu pengadukan yang telah dihitung sebelumnya. Proses pemisahan sedimen dan foraminifera adalah dengan cara menyebarkan sampel yang telah dicuci pada kaca objek dan diperiksa dengan mikroskop binokuler dan difoto menggunakan kamera digital (Silmiah. Individu yang telah dipisahkan diklasifikasikan berdasarkan morfologinya seperti bentuk cangkang. usahakan pipet yang dimasukkan tidak mengakibatkan larutan teraduk kembali. Analisis foraminifera dilakukan dengan cara pengerjaan di laboratorium dengan beberapa tahapan. Setiap beam yang dipancarkan akan memperoleh satu titik kedalaman hingga akan membentuk profil muka dasar laut saat semua titik dihubungkan. Sampel sedimen yang berukuran 63 um adu 4Ø dimasukkan ke dalam gelas ukur dengan ukuran 1. Desember 2014 bantuan shaker dan selanjutnya materi-materi dari sampel sedimen tersebut akan mulai terpisah ke masing-masing tingkatan saringan sesuai dengan ukuran dari materimateri sampel sedimen tersebut. . Foraminifera merupakan komponen meiobentik dari komunitas dasar perairan dan memiliki peran sebagai produsen kalsium karbonat dalam sedimen (Hallock.000 ml.

Jr. ASA. Institut Pertanian Bogor. Harper. Reflektor kuat akan akan menghasilkan pantulan backscatter yang kuat dan begitu pula sebaliknya. Material seperti besi.. Keterbatasan waktu dalam menjelaskan mekanisme semua peralatan yang terdapat di Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Laut (P3GL) Cirebon menjadi kendala mahasiswa yang melakukan kunjungan studi untuk memperoleh informasi yang lebih lengkap dan memadai. bongkahan. et al. Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan. Dalam kondisi lautan yang tenang dan haluan kapal yang lurus. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. 55. . Pearson Education. 2001). DAFTAR PUSTAKA Boggs. Hal 553-558. P. Contributions of Agroecosystems to Global Climate Change. 2009). No. WI. dan gema atau pantulan gelombang diterima kembali oleh receiver dalam hitungan detik. 1993. Madison. mengamati pengembalian kekuatan akustik (Tritech International Limited. Dengan pengetahuan akan karakteristik ini pengguna SSS dapat menguji komposisi dasar laut atau objek dengan KESIMPULAN DAN SARAN Dari hasil kunjungan studi yang dilakukan ke Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Laut (P3GL) Cirebon dapat diambil kesimpulan bahwa penelitian mengenai perairan laut khususnya fenomena geologi dan karakteristik dasar perairan laut di Indonesia selalu dilakukan kemajuan inovasi-inovasi baru baik dalam sarana penelitian dan ilmu-ilmu atau kajian yang diteliti. sonogram dapat memberikan gambar atau image yang sangat tajam dan rinci. lumpur tidak merefleksikan pulsa suara dengan baik. Aplikasi Instrumen Akustik Multibeam dan Side Scan Sonar di Perairan Sekitar Teluk Mandar dan Selat Makassar. CSSA. Edi. A. ASA Spec. Sedimen halus seperti tanah liat. A. 2009. memantulkan atau menyerap gelombang suara. Sistem prakata SSS merupakan strategi penginderaan untuk merekam kondisi dasar laut dengan memanfaatkan sifat media dasar laut yang mampu memancarkan. Duxbury. Desember 2014 Peralatan lain yang digunakan adalah Side Scan Sonar (SSS). -18. Skripsi (tidak dipublikasikan). Institut Pertanian Bogor. kerik atau batuan vulkanik sangat efisien dalam merefleksikan pulsa akustik.. Side Scan sonar menggunakan narrow beam pada bidang horizontal untuk mendapatkan resolusi tinggi disepanjang lintasan dasar laut (Klien Associates Inc. pp. J. pihak Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Laut (P3GL) Cirebon dapat memberikan demo atau contoh pengoperasian alat-alat yang digunakan dalam penelitian-penelitian yang dilakukan oleh pihak Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Laut (P3GL) Cirebon di lapangan. Pulsa gelombang dipancarkan dalam pola sudut yang lebar mengarah ke dasar laut.. SSS mampu membuat liputan perekaman dasar laut dari kedua sisi lintasan survei. A. Untuk mencari atau menentukan lokasi perekaman mengikuti pola lintasan survei tertentu dengan menggunakan peralatan penentu posisi GPS dan video plotter.Pascasarjana Ilmu Kelautan. memetakan semua area penelitian secara efektif dan menghemat waktu penelitian.). Side Scan sonar menggunakan prinsip backscatter akustik dalam mengindikasikan atau membedakan kenampakan bentuk dasar laut atau objek dasar laut (Russel. S. SSSA. Dalam kunjungan studi ini juga diketahui masih banyak hal-hal baru yang masih belum teramati oleh manusia mengenai segala hal yang berhubungan dengan karakteristik. Principal of Sedimentology and Stratigraphy 4th Edition. Side Scan sonar mempunyai kemampuan menggandakan beam yang diarahkan pada satu sisi ke sisi lainnya sehingga kita bisa melihat kedua sisi. R. (edited by Harper L. Publ. In Agricultural Ecosystem Effects on Trace Gases and Global Climate Change Diharapkan kedepannya untuk kegiatan kunjungan studi lanjutan. L.. Upper Saddle River New Jersey. B. 1985). Gelombang suara yang digunakan dalam sistem SSS mempunyai frekuensi suara antara 100-500 KHz. III. Bogor. and Mosier. Inc. M. komposisi dan geologi perairan laut khususnya di Indonesia. 2006.

LIPI. New Hampshire. Basic Principles of Hydrographic Surveying. Nitrat dan Silikat di Perairan Kepulauan Matasiri. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan: Universitas Riau. 2(2)-Juni 2013:118123. Lonawarta XIX: 55-65.Pascasarjana Ilmu Kelautan. Hamzah. 1985. 2001. Cu dan Zn di Hutan Mangrove Muara Angke. Lembaga Oseanografi Nasional LIPI. Jurnal Biologi Universitas Andalas. Kennedy. Akumulasi Logam Berat Pb. 1983. The Preparation of Oriented Thin Sections in Micropalaeontology: An Improved Method for Revealing The Internal Morphology of Foraminifera and Other Microfosils. Skripsi. Amsterdam. Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis 2(2):41-52. M. L. Russel. Tipe Sedimen Permukaan Dasar Laut Selatan dan Utara Kepulauan Tambelan Perairan Natuna Selatan.. Supriyadi. Foraminifera Bentik. 2001. Nitrit. Risamasu. M. 16. Desember 2014 Hallock. Puslitbang Oseanologi.S. Jakarta. dan Ziedler. Rositasari. 1992. U. Jakarta. 2010. 24-27 April 2001. Kalimantan Selatan. dan Setiawan. 1996. 1993. State of Ohio. dan Rahayuningsih. Silmiah. F. Side Scan Sonar. 1976. OHIOEPA. Haq. V. B. Hal. I. F. dan Prayitno. J. Natsir. Dan Boersma. S. Jakarta Utara. Tritech International Limited. LIPI. Sumatera Barat. Seminar and Course: The Importance of Hydrographic Survey for Management and Development of The Coastal Zone. Micropalaentology 22(1):04-107. Oxford. C. Inc. A. Jenis-Jenis Foraminifera Bentik di Teluk Bayur Padang. 2013. 2011. Puslitbang Oseanografi. Sediment Production and Foraminifera Amphistegina Rnadagascariensis. 2010. Kajian Zat Hara Fosfat. Side Scan Sonar Record Interpretation. I. R. S. Sediment Sampling Guide and Methodologies 2nd Edition. Isnainiawardhani. P. 2010. . Limnology and Oceanology 19(5):802-809. R. Klien Associates. 2011. Balitbang Oseanografi. Fakultas Teknik Geologi: Universitas Padjajaran. H. 135142. Hydrographic Awareness. Introduction to Marine Micropalaeontology. Kunarso dan Ruyitno (eds) Laporan Seminar Pencemaran Laut. Elseiver Biomedical. 1974. B. New York. Beberapa Aspek Fisika Air Laut dan Peranannya dalam Masalah Pencemaran. Natsir. A. 2008. Institut Pertanian Bogor. Kelimpahan Foraminifera Resen pada Sedimen Permukaan di Teluk Ambon.. Mengenal Sedimen Laut. Komposisi Sedimen di Perairan Bagan Siapiapi. S. Y. H. H. K. Uktoselya. W. Ilmu Kelautan. USA. 143154 dalam D. Roza. Enviromental Protection Agency. Jakarta. Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis 2(1):918.