You are on page 1of 16

“TUGAS PROSES KEPERAWATAN LINTAS BUDAYA”

DI SUSUN OLEH :
AGUSTO E. RUNESI
DAUD NOTI
MESSE SEY ABINENO
RIVAY O.V. SIANIPAR

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN – PROGRAM STUDI S1
BANDUNG, 05 OKTOBER 2015
UNIVERSITAS ADVENT INDONESIA
A . PENGKAJIAN KEPERAWATAN LINTAS BUDAYA

umur dan tempat tanggal lahir. nama panggilan. Pengertian Pengkajian Keperawatan Lintas Budaya Pengkajian adalah proses mengumpulkan data untuk mengidentifikasi masalah kesehatan klien sesuai dengan latar belakang budaya klien (Giger andDavidhizar. kebiasaan makan. tipe keluarga. 2. dan hubungan klien dengan kepala keluarga. Ini diperlukan dalam mengumpulkan data mengenai penyebab penyakit dan masalah klien. Norma-norma budaya adalah suatu kaidah yang mempunyai sifat penerapan terbatas pada penganut budaya terkait. cara pandang klien terhadap penyebab penyakit. Pengkajian Dalam 7 Komponen Pengkajian Dalam Transkultural Nursing Pengkajian dirancang berdasarkan 7 komponen yang ada pada"Sunrise Model" yaitu : 1). jenis kelamin. alasan mencari bantuan kesehatan. Faktor agama yang harus dikaji oleh perawat adalah : agama yang dianut. status pernikahan. 4). 1995). Yang perlu dikaji pada faktor ini adalah: posisi dan jabatan yang dipegang oleh kepala keluarga. Tujuan Pengkajian Keperawatan Lintas Budaya Perawat harus memulai pengkajian dengan melihat latar budaya cultural yang di miliki klien dan latar belakang social juga ketrampilan bahasa yang dimilikinya. pengambilan keputusan dalam keluarga. Faktor agama dan falsafah hidup (religious and philosophical factors) Agama adalah suatu simbol yang mengakibatkan pandangan yang amat realistis bagi para pemeluknya. Perawat perlu mengkaji : persepsi sehat sakit. 2). Faktor teknologi (tecnological factors) Teknologi kesehatan memungkinkan individu untuk memilih atau mendapat penawaran menyelesaikan masalah dalam pelayanan kesehatan. 3). Agama memberikan motivasi yang sangat kuat untuk menempatkan kebenaran di atas segalanya. Faktor sosial dan keterikatan keluarga (kinship and social factors) Perawat pada tahap ini harus mengkaji faktor-faktor : nama lengkap.1. bahasa yang digunakan. Proses pendekatan ini diperlukan untuk mengetahui atau mengidentifikasi apakah klien mempunyai latar belakang budaya tradisional yang lebih dominan di bandingkan dengan budayanya yang modern. Nilai-nilai budaya dan gaya hidup (cultural value and life ways) Nilai-nilai budaya adalah sesuatu yang dirumuskan dan ditetapkan oleh penganut budaya yang dianggap baik atau buruk. makanan yang dipantang dalam . cara pengobatan dan kebiasaan agama yang berdampak positif terhadap kesehatan. alasan klien memilih pengobatan alternatif dan persepsi klien tentang penggunaan dan pemanfaatan teknologi untuk mengatasi permasalahan kesehatan saat ini. kebiasaan berobat atau mengatasi masalah kesehatan. bahkan diatas kehidupannya sendiri.status. 3.

penggantian biaya dari kantor atau patungan antar anggota keluarga. tabungan yang dimiliki oleh keluarga.kondisi sakit. 4) Etnosentris Adalah persepsi yang dimiliki oleh individu yang menganggap bahwa budayanya adalah yang terbaik diantara budaya-budaya yang dimiliki oleh orang lain. 6). Faktor ekonomi yang harus dikaji oleh perawat diantaranya: pekerjaan klien. 1995). Faktor ekonomi (economical factors) Klien yang dirawat di rumah sakit memanfaatkan sumber-sumber material yang dimiliki untuk membiayai sakitnya agar segera sembuh. bertindak dan mengambil keputusan. Yang perlu dikaji pada tahap ini adalah : peraturan dan kebijakan yang berkaitan denganjam berkunjung. 2) Nilai budaya Adalah keinginan individu atau tindakan yang lebih diinginkan atau suatu tindakan yang dipertahankan pada suatu waktu tertentu dan melandasi tindakan dan keputusan. Hal yang perlu dikaji pada tahap ini adalah: tingkat pendidikan klien. 4. Faktor pendidikan (educational factors) Latar belakang pendidikan klien adalah pengalaman klien dalam menempuh jalur pendidikan formal tertinggi saat ini. cara pembayaran untuk klien yang dirawat. jumlah anggota keluarga yang boleh menunggu. Prinsip-Prinsip Pengkajian Keperawatan Lintas Budaya Konsep Dalam Asuhan Keperawatan Traskultural 1) Budaya Adalah norma atau aturan tindakan dari anggota kelompok yang dipelajari. serta memberi petunjuk dalam berfikir. Semakin tinggi pendidikan klien maka keyakinan klien biasanya didukung oleh bukti bukti ilmiah yang rasional dan individu tersebut dapat belajar beradaptasi terhadap budaya yang sesuai dengan kondisi kesehatannya. 3) Perbedaan budaya Perbedaan budaya dalam asuhan keperawatan merupakan bentuk yang optimal dari pemberian asuhan keperawatan. 7). persepsi sakit berkaitan dengan aktivitas sehari-hari dan kebiasaan membersihkan diri. 5). jenis pendidikan serta kemampuannya untuk belajar secara aktif mandiri tentang pengalaman sakitnya sehingga tidak terulang kembali. Faktor kebijakan dan peraturan yang berlaku (political and legal factors) Kebijakan dan peraturan rumah sakit yang berlaku adalah segala sesuatu yang mempengaruhi kegiatan individu dalam asuhan keperawatan lintas budaya (Andrew and Boyle. 5) Etnis . biaya dari sumber lain misalnya asuransi. sumber biaya pengobatan.

keluarga atau kelompok untuk mempertahankan kesehatan. negroid dan mongoloid. bentuk tubuh. Ada 3 (tiga) jenis ras yang umumnya dikenal. Pendekatan metodologi pada penelitian etnografi memungkinkan perawat untuk mengembangkan kesadaran yang tinggi pada perbedaan budaya setiap individu. bulu pada tubuh dan bentuk kapala. 2) Culture care accomodation / negotiation : Yaitu prinsip membantu. bantuan. menjelaskan dasar observasi untuk mempelajari lingkungan dan orang-orang dan saling timbal balik diantara keduanya. praktik dan nilai diatas budaya orang lain karena percaya bahwa ide yang dimiliki oleh perawat lebih tinggi dari kelompok lain. kelompok.Etnis berkaitan dengan manusia dari ras tertentu atau kelompok budaya yang digolongkan menurut ciri-ciri dan kebiasaan yang lazim. mendukung dan mengarahkan individu. bentuk wajah. dukungan perilaku pada individu. 10) Cultural care Berkenaan dengan kemampuan kognitif untuk mengetahui nilai. 6) Ras Merupakan system pengklarifikasian manusia berdasarkan karakteristik fisik. pigmentasi. keluarga. 8) Care Adalah fenomena yang berhubungan dengan bimbingan. keluarga atau kelompok dan keadaan yang nyata. 11) Cultural imposition Berkenaan dengan kecendrungan tenaga kesehatan untuk memaksakan kepercayaan. 9) Caring Adalah tindakan langsung yang diarahkan untuk membimbing. memfasilitasi atau memperhatikan fenomena budaya guna membantu individu menentukan tingkat kesehatan dan gaya hidup yang diinginkan. mendukung atau memberi kesempatan individu. merefleksikan cara-cara . hidup dalam keterbatasan dan mencapai kamatian dengan damai. 7) Etnografi Adalah ilmu yang mempelajari budaya. yaitu kaukasoid. berkembang dan bertahan hidup. memfasilitasi atau memperhatikan fenomena budaya. kepercayaan dan pola ekspresi yang digunakan untuk membimbing. Prinsip Dalam Asuhan Keperawatan Transkultural : 1) Culture care preservation / maintenance : Yaitu prinsip membantu.

Dalam beberapa hari kemuadian penderita akan sembuh. Kepercayaan-kepercayaan berdasarkan cerita atau penuturan secara turun-temurun tersebut adalah faktor utama yang mempengaruhi persepsi masyarakat di suatu daerah mengenai timbulnya gejala suatu penyakit. Gambaran Masyarakat Dengan Kasus Yang Berhubungan Dengan Transkultural Nursing Berikut ini adalah contoh persepsi atau gambaran masyarakat tentang salah satu penyakit. Kemudian salah satu contoh lagi seperti yang terjadi pada sebagian penduduk di Pulau Jawa. dulu penderita demam sangat tinggi diobati dengan cara menyiram air di malam hari. Air yang telah diberi ramuan dan jampi-jampi oleh dukun atau pemuka masyarakat yang disegani digunakan sebagai obet malaria. Penyakit tersbut dapat sembuh dengan cara memohon ampun kepada penguasa hutan. Siapa yang melanggar ketentuan dari penguasa gaib tersebut akan diganjar dengan penyakit berupa demam tinggi. Tidak jauh dari wilayah pemukiman mereka adalah daerah hutan dengan pepohonan yang lebat. Pengobatan dengan ramuan dari dedaunan memang masuk dalam kategori pengobatan alami dengan ramuan herbal. dan sebagainya. Pelangaran yang dilakukan dapat berupa menebang pohon. 5. 3) Culture care reparterning / restructuring : Yaitu prinsip merekontruksi atau mengubah desain untuk memperbaiki kondisi kesehatan dan pola hidup klien kearah yang lebih baik. dan muntah. bernegosiasi atau mempertimbangkan kondisi kesehatan dan gaya hidup individu dan klien. Makanan pokok penduduk di daerah tersebut adalah sagu yang tumbuh di daerah rawa-rawa. Misalnya penyakit akibat kutukan makhluk gaib. menggigil. dan sebagainya. Namun permasalahan utama dalam pengobatan ini adalah kandungan dari setiap daun yang dipakai begitu juga dengan komposisi yang di perlukan untuk dapat di pakai sebagai obat herbal agar dapat menyembuhkan suatu penyakit yang mereka derita. Pengobatan dengan cara-cara tersebut tentu tidak memiliki dasar teori dan bukti klinis yang jelas. Belum lagi dengan pengobatan . Penduduk desa tersebut beranggapan bahwa hutan itu memiliki penguasa gaib yang dapat menghukum setiap orang yang melanggar ketentuannya. roh-roh jahat. membabat hutan untuk area pertanian. kemudian memetik daun dari pohon tertentu yang kemuadian dibuat menjadi ramuan untuk diminum dan dioleskan ke seluruh tubuh penderita. Persepsi masyarakat mengenai penyakit diperoleh dan di tentukan dari penuturan sederhana dan mudah secara turun temurun. Sebagai contoh adalah persepsi masyarakat di beberapa pedesaan daerah Papua mengenai penyakit malaria.untuk beradaptasi.

3. Cantumkan Data Yang Mendukung Diagnosa Keperawatan Baik Data Obyektif Maupun Data Subyektif 1. Buat Rumusan Diagnosa Keperawatan Terdapat tiga diagnose keperawatan yang sering ditegakkan dalam asuhan keperawatan transkultural yaitu :  Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan perbedaan kultur. 1995. perawat harus mempertimbangkan status kesehatan klien terakhir dari perspektif holistik. (Giger and Davidhizar. Gangguan interaksi sosial berhubungan disorientasi sosiokultural . 1997). Ketika meninjau pengkajian spiritual dan mengintegrasikan informasi kedalam diagnosa keperawatan yang sesuai. diubah atau dikurangi melalui intervensi keperawatan. 2. Setiap diagnosa harus mempunyai faktor yang berhubungan dengan akurat sehingga intervensi yang dihasilkan dapat bermakna dan berlangsung (Potter and Perry. dengan spiritualitas sebagai prinsip kesatuan (Farran. DIAGNOSA KEPERAWATAN LINTAS BUDAYA 1. Selain itu diagnosa keperawatan harus menyatakan penyebab yang mungkin. Diagnosa keperawatan adalah respon klien sesuai latar belakang budayanya yang dapat dicegah. 1989). B. Identifikasi terhadap penyebab masalah lebih jauh mengindividualisasikan rencana asuhan keperawatan dan mendorong pemilihan intervensi yang sesuai. Definisi Diagnosa Transkultural Nursing Pengkajian memberdayakan perawat untuk mengelompokan data yang relavan dan mengembangkan diagnosa keperawatan potensial dan aktual yang berhubungan dengan kebutuhan kultural dan etnik klien. 2.  Gangguan interaksi sosial berhubungan disorientasi sosiokultural dan  Ketidak patuhan dalam pengobatan berhubungan dengan sistem nilai yang diyakini. Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan perbedaan kultur DS: pasien mengatakan tidak mengerti bahasa indonesia DO: pasien terlihat binggung karena tidak mengerti dan tidak tahu berbahasa indonesia.dengan metode mantra atau jampi-jampi yang di berikan oleh pemuka adat atau dukun. Hal tersebut tentu tidak sesuai dengan metode pengobatan yang baik dan benar sesuai dengan standar pengobatan berdasarkan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang kesehatan.

Cultural care preservation/maintenance 1) Identifikasi perbedaan konsep antara klien dan perawat tentang proses penyembuhan suatu penyakit 2) Bersikap tenang dan tidak terburu-buru saat berinterkasi dengan klien 3) Mendiskusikan kesenjangan budaya yang dimiliki klien dan perawat 2. pandangan klien dan standar etik. Definisi Rencana Tindakan Keperawatan Transkultural Perencanaan dan pelaksanaan dalam keperawatan trnaskultural adalah kategori dari perilaku keperawatan dimana tujuan yang berpusat pada klien dan hasil yang diperkirakan ditetapkan dan intervensi keperawatan dipilih untuk mencapai tujuan tersebut. Cultural care preservation/maintenance 2. C.PERENCANAAN KEPERAWATAN 1. Berbagai Komponen Dalam Rencana Tindakan Keperawatan Transkultural Ada 3 komponen dalam perencanaan keperawatan : 1. 3. 2. Cultural careaccommodation / negotiation 3. Cultural care repartening/reconstruction . lakukan negosiasi dimana kesepakatan berdasarkan pengetahuan biomedis. Cultural care accomodation/negotiation 1) Gunakan bahasa yang mudah dipahami oleh klien 2) Libatkan keluarga dalam perencanaan perawatan 3) Apabila konflik tidak terselesaikan. suatu proses keperawatan yang tidak dapat dipisahkan. gambaran masyarakat dan pemecahan melalui rencana tindakan keperawatan transkultural 1. 3.DS: pasien mengatakan tidak mau dirawat di rumah sakit/puskesmas DO: pasien menolak dirawat di rumah sakit. Ketidak patuhan dalam pengobatan berhubungan dengan sistem nilai yang diyakini DS: pasien mengatakan tidak ingin melakukan transfusi darah dari orang lain DO: pasien menolak untuk dilakukan transfusi darah dari orang lain dengan alasan bertentangan dengan kepercayaan suku dan budayanya. Cultual care repartening/reconstruction 3. Perencanaan adalah suatu proses memilih strategi yang tepat.

gerakan puntir mendadak dan bahkan kontraksi otot ekstrem.1) Beri kesempatan pada klien untuk memahami informasi yang diberikan dan melaksanakannya. B. B terjatuh akibat didorong oleh penunggu pohon keramat tersebut. 4) Terjemahkan terminologi gejala pasien ke dalam bahasa kesehatan yang dapat dipahami oleh klien dan keluarga. B masih tampak lemah. Namun An. dan tampak kesakitan. kemudian menurut kepercayaan orang sekitar An. D. CONTOH KASUS ASUHAN KEPERAWATAN LINTAS BUDAYA PADA PASIEN FRAKTUR PEMBAHASAN KASUS Kasus An. pada saat di berikan perkes Bp. pada hasil rontgen terlihat bahwa terdapat adanya retak pada tulang kering An. 5) Berikan informasi pada klien tentang sistem pelayanan kesehatan. Fraktur terjadi jika tulang dikenai stress yang lebih besar dari pada yang dapat diabsorpsinya. B terjatuh dari pohon keramat didesanya. Bp. Definisi Fraktur Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya. beragama islam diantarkan orang tuanya di rumah sakit harapan kita dengan keluhan nyeri pada tulang keringnya. Setelah dilakukan pemeriksaan melalui rontgen. B masih terlihat kebingungan. B dipijit menggunakan batang sereh yang di bakar dengan bacaan doa-doa. daging. B mengatakan An. B langsung dibawa ke tukang pijit. Bp. 2) Tentukan tingkat perbedaan pasien melihat dirinya dari budaya kelompok 3) Gunakan pihak ketiga bila perlu. B mengatakan nyerinya timbul akibat An. Menurut cerita yang dikatakan Bp. . B saat anak nya jatuh An. B dilarang mengkonsumsi makanan seperti ikan. dan telur. lesu. B 9 tahun suku padang. lalu An. gaya meremuk. Fraktur dapat disebabkan oleh pukulan langsung.

Persepsi Sehat Sakit Persepsi klien tentang penggunaan dan pemanfaatan teknologi untuk mengatasi permasalahan kesehatan saat ini adalah jarak melakukan pemeriksaan kondisi klien kedokter .PENGKAJIAN Identitas Pasien : Nama : An. B Jenis Kelamin : Laki-laki Usia : 35 Tahun Status Perkawinan : Menikah Agama : Islam Suku Bangsa : Indonesia Pendidikan : Tamat SD Bahasa yang digunakan : Indonesia Pekerjaan : Petani Alamat : Jl. Faktor Tekhnologi a. Cihanjuang Rahayu RT/RW 05/03 Diagnosa Medis : Fraktur Tibia ( Retak tulang kering ) Penanggung Jawab : Nama : Bp. B Jenis Kelamin : Laki-laki Usia : 9 Tahun Agama : Islam Suku Bangsa : Indonesia Pendidikan : SD Bahasa yang digunakan : Bahasa Indonesia Alamat : Jl. Cihanjuang Rahayu RT/RW 05/03 Hubungan Dengan Pasien : Ayah klien Riwayat Kesehatan Teori Sunrise model : 1.

5. 2 Faktor Agama dan Filosofi Agama yang dianut adalah islam. keyakinan agama tidak bertentangan dengan kesehatan. serta jeruk nipis dicampur kecap lalu diminum. An. 3. B adalah Sunda Pedalaman. B dari tiga bersaudara dan An. B tinggal satu rumah dengan keluarganya. Selain itu keluarga juga menggunakan obat tradisional seperti batang sereh yang dibakar. Faktor hukum dan kebijakan yang berlaku . dan dari RS Hasan Sadikin .Alasan klien memilih pengobatan alternative Keluarga pasien mengatakan bahwa pasien juga mengkonsumsi obat selain obat yang diresepkan oleh dokter yaitu An.maupun rumah sakit. Persepsi penggunaan dan pemanfaatan tekhnologi Untuk memproses kesembuhan klien diharuskan mengikuti terapi dari dokter yaitu Terapi. B mengatakan keadaan anaknya sangat parah karena tulang pada bagian tulang keringnya retak. Mereka juga sangat percaya bahwa kekuatan dukun sangat ampuh. pasien disuruh untuk rawat inap di rumah sakit. B dipijit menggunakan batang sereh yang di bakar dengan bacaan doa-doayang didapatkan dari pengobatan tradisional. B adalah anak dari pasanganBp. air kelapa yang dibakar dicampur dengan garam lalu diminum .B mengatakan bahwa merasakan nyeri pada tulang keringnya sehingga Klien & keluarga menggunakan angkot untuk mengantarkan klien ke fasulitas kesehatan c. klien & keluarga mempunyai pandangan bahwa sakit yang diderita An. Alasan mencari bantuan kesehatan An. biasanya keluarga klien cukup datang ke dukun selain itu juga sering menkonsumsi obat tradisional. karena dari hasil pemeriksaan yang telah didapatkan klien terdiagnosis medis Fraktur Tibia ( Retak Tulang Kering ) d. b. 4. Karena klien merasa bahwa pengobatan tradisional yang dia lakukan tidak ada perubahan sehingga keluarga klien membawa ke Rs Hasan Sadikin . B akibat gangguan dari makhluk gaib dan klien & keluarga biasanya datang kedukun dan meminta do’a-do’a agar penyakitnya berkurang. Keluarga & Klien percaya pada kekuatan supernatural. Faktor Sosial dan Ikatan Kekerabatan Bp. Faktor nilai budaya dan gaya hidup klien Suku An.

6.daging. B Tampak lemas dan fragmen tulang kesakitan E : Gangguan rasa nyaman berupa nyeri berhubungan dengan Bp.Jam berkunjung Klien pukul 09. B . PROBLEM Gangguan rasa nyaman berupa nyeri berhubungan dengan pergeseran fragmen tulang Resiko terjadinya infeksi pada struktur tulang dan jaringan lunak sekitarnya berhubungan dengan kurangnya pemenuhan nutrisi tehadap An. B mengatakandukun P: Resiko terjadinya desa melarang An. B tampak lesu. B terjatuh dari pohon S : An. B masihTampak kedukun Bp. B mengatakan An. 7. jumlah anggota keluarga yang boleh menunggu hanya kedua orang tua dan kerabat Klien cara pembayaran untuk klien yang dirawat dengan hasil kerja kedua orang tua klien. Faktor pendidikan An. B dan keluarga klien tidak mengikuti program asuransi kesehatan.00. dan dengan kurangnya telur pemenuhan nutrisi E: Setelah An.00 sampai 17. B dibawa Do: An. Faktor Ekonomi Bp. B untuk infeksi berhubungan mengosumsi ikan.PSIKO. Sumber pembiayaan An.dan meringis kesakitan. B untuk kesehatannya berasal dari hasil kerja Bp. B Lemah dan lesu mengatakan dukun desa melarang An. B untuk mengosumsi ikan. Klien juga tidak memahami apa arti sehat dan apa arti sakit yang sesungguhnya DIAGNOSA KEPERAWATAN BIO.SOSIO. Ds : Bp. B seseorang yang berprofesi sebagai kuli bangunan.KULTURAL NO DATA 1 Ds : An.lemah.daging. B pada saat ini masih duduk di Sekolah Dasar. B Mengatakannyeri pada tulang keringnya 2 ANALISIS DATA P : Gangguan rasa nyaman berupa nyeri berhubungan dengan pergeseran Do:An.

mengurangi dan menghilangkan nyeri 5.tingk at nyeri terkontrol dengan Kriteria Hasil: a. 3. pencahayaan.Kolaborasi IMPLEMEN RATIONALE 1.Kurangi faktor presipitasi nyeri. Pilih dan lakukan penanganan nyeri 6. 08.Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri klien sebelumnya. B dibawa kedukun untuk dipijat E: An. Kolabora .3 Ds : Bp.Kontrol faktor lingkungan yang mempengaruhi nyeri seperti suhu ruangan.4 oC P: 90 x/mnt R:25x/mnt BP:100/60mmhg Skala nyeri : 3(1-5) GOAL Setelah dilakukan Asuhan keperawatan selama 1x 24 jam tingkat kenyamanan kli en meningkat.Klien melaporkan nyeri berkurang dg scala 2-3 b. Mengkaji nyeri 2. 7.mengurangi nyeri 6. B Tampak lemas dan kesakitan” T: 36. B tampak lemas Resiko tinggi cedera berhubungan dengan diskontinuitas tulang RENCANA PERAWATAN TGL NO NURSING DIAGNOASA 10/05/1 5 1 Gangguan rasa nyaman berupa nyeri berhubungan dengan pergeseran fragmen tulang Ds : “An. B Mengatakan nyeri pada tulang keringnya” Do: “An. B masih mengeluh nyeri pada tulang keringnya Do : An.Ajarkan teknik non farmakologis untuk mengetasi nyeri. Mengom dengan air h dibagian ny 5. B tampak meringis kesakitan dan telur S: An. 5.Gunakan komunikasi untuk meng pengalaman klien sebelu 4. B mengatakan setelah pijat oleh dukun desa An.tentang pe 7. Kurangi f presipitasi n 6.00 1.klien dapat istirahat dan tidur PLANNING INTERVENTION 1. B masih merasakan nyeri S: An.melihat rasa ketidak nyamanan 3.Ekspresi wajah tenang c.Observasi reaksi nonverbal dari ketidak nyamanan.menurunkan kualitas nyeri 7. mengetahui kualitas nyeri 4.Kaji nyeri secara komprehensif 2. 4. membuat tenang pasien At. B masih tampak kesakitan P: Kurangnya pengetahuan tentang pengobatan terhadap tulang berhubungan dengan setelah jatuh An. mengetahu perubahan nyeri 2. kebisingan.Observasi nonverbal d nyamanan 3.

untuk pemberian analgetik untuk mengurangi nyeri. TGL NO NURSING DIAGNOASA GOAL PLANNING INTERVENTION tim dokter d terapi pemb IMPLEMEN RATIONALE .

Mengiden asupan nutr IMPLEMEN RATIONALE . B untuk mengosumsi ikan.agar nutrisi terpenuhi 5.agar nutrisi klien terpenuhi 6. 08. jelasan pada klien dan keluarga mengenai pentingnya nutrisi bagi proses penyembuhan fraktur klien 4.Kaji Nutrisi secara teratur 2. Mengkaji secara teratu 2. Ajarkan po nutrisi untuk dengan nutr proses baik pemulihan 4. jelasan kepada klien dan keluarga mengenai kepercayaan keluarga pada dukun terhadap pemenuhan nutrisi klien. Gunakan k terapeutik u mengetahui pengalaman klien 3. Mengobse kebutuhan k 5. B masihTampak Lemah dan lesu” T: 36.daging.agar keluarga tau manfaat 3. memantau nutrisi yang masuk 2.00 1. Tidak terjadi infeksi terhadap fraktur klien 4.Pemenuhan nutrisi tercukupi GOAL 1. B 3. Klien dan keluarga menerima penjelasan dari perawat tentang kebutuhan nutrisidan manfaat nutrisi terhadap luka An.Gunakan komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nutrisi klien 3. Kolaborasi dengan ahli gizi PLANNING INTERVENTION 1. Klien tidak terlihat lemah dan lesu 2.10/05/1 5 2 Resiko terjadinya infeksi berhubungan dengan kurangnya pemenuhan nutrisi Ds : “Bp. dan telur” Do: “An. 4. 5.menunjang nutrisi klien At. Meninjau nutrisi klien 6.4 oC P: 90 x/mnt R:25x/mnt BP:100/60mmhg TGL NO NURSING DIAGNOASA Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x 24 jam.untuk meningkatkan semangat klien untuk makan. Ajarkan Pola makan dengan nutrisi yang baik 6. B mengatakandukun desa melarang An. maka kebutuhan nutrisi terpenuhi dengan criteria hasil : 1.

untuk keselamatan neurologi Do : “An. B tampak Injuri fisik 4.Menilai 2. Dapat banyak melakukan orang dalam mobilisasi memindahkan dengan baik pasien.Mampu pasien. Menilai in 5.00 berhubungan dengan dilakukan yang aman untuk cidera yang 1. B masih mengeluh terjadi 3. Berikan p kontinuitas tulang asuhan pasien aman untuk keperawatan 2.Bebas dari 5. pemindahan ps atur posisi p Kriteria Hasil : mencegah nyaman cidera 6.Menilai ROM meringis kesakitan” dengan pasien T: 36. agar cidera integritas kulit mempermudah memindahk b. memeriks nyeri pada tulang peningkatan sirkulasi perifer perifer dan keringnya” Status dan status perubahan 4. B mengatakan selama beri pengaman setelah pijat oleh dukun 1x24 jam tempat tidur 3.Berikan posisi 1.untuk melihat kulit pasien peerubahan 6.10/05/1 5 3 Resiko tinggi cidera Setelah 1.obsevasi pasien. Libatkan p pada kulit paramedis d 6.08.menghindari At. Periksa memantau 3.untuk pengaman t desa An. mengurangi Ds : “Bp. atur posisi pasien yang nyaman . parah 2. 4.Libatkan c. Menilai R nilai ROM 5.4 oC P: 90 x/mnt R:25x/mnt BP:100/60mmhg resiko jatuh ps 2. Mengobs pasien dan b neurologi mengetahui a.

.peristiwa kelelahan atau tekanan dan kelemahan pada tulang Fisioterapi sangat berperan dalam gangguan gerak dan fungsi sendi akibat patah tulang. yaitu fraktur terbuka dan tertutup. Fraktur dapat terjadi jika tulang dikenai stress yang lebih besar dari yang dapat diabsorbsi. sebagian atau keseluruhan tulang yang patah terlihat menembus kulit. Sedangkan patah tulang terbuka. baik penanganan setelah operasi ataupun konservatif (non operatif) dengan modalitas yang dimiliki.Patah tulang umumnya digolongkan dalam 2 macam.KESIMPULAN Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya. tulang yang patah tidak sampai keluar melewati kulit. Fraktur dapat disebabkan karena: peristiwa trauma. Pada fraktur tertutup.