You are on page 1of 47

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Anak tunagrahita pada dasarnya memiliki hak dan kesempatan yang
sama dalam mengembangkan kemampuan yang dimiliki setiap anak normal
pada umumnya. Pendidikan dan pengajaran merupakan salah satu sarana untuk
mengembangkan kemampuan agar mereka dapat bergaul, berkomunikasi, dan
berhubungan dengan lingkungan. Tunagrahita kata lain dari retardasi mental.
Kosasih (2012: 143) menyebutkan ada empat taraf dari retardasi mental menurut
skala Intelegensi Wechsler, yaitu (1) retardasi mental ringan (mild mental
retardation), IQ 55-69; (2) retardasi mental sedang (moderate mental
retardation), IQ 40-54; (3) retardasi mental berat (severe mental retardation), IQ
39-52; dan (4) terardasi mental sangat berat (profound mental retardation), IQ 24
kebawah. Dari berbagai taraf yang telah dijelaskan, peneliti lebih menitikberatkan
kepada peserta didik tunagrahita ringan sebagai objek kajian. Tunagrahita ringan
merupakan salah satu jenis retardsi mental, meskipun kecerdasan dan adaptasi
sosialnya terhambat, namun mereka masih mempunyai kemampuan untuk
berkembang dalam bidang akademik, penyesuaian sosial, dan kemampuan
kerja. Mereka masih dapat belajar membaca, menulis, dan berhitung dengan
suatu bimbingan yang terarah, sehingga dapat berkembang secara optimal
sehingga

kelak

dapat

hidup

sendiri

untuk

mencari

penghasilan

bagi

kehidupannya serta tidak tergantung kepada orang lain (Amin 1995: 22).
Hasil penelitian Kemis dan Ati (2013: 30-31) tentang kemampuan
berbahasa anak tunagrahita dengan menggunakan ITPA (Illinoins Test of
Psycholinguistik Abilities) menunjukkan bahwa (1) anak tunagrahita memeroleh
keterampilan berbahasa sama seperti anak normal; (2) kecepatan anak
tunagrahita dalam memeroleh keterampilan berbahasa jauh lebih rendah dari
pada anak normal; (3) kebanyakan anak tunagrahita tidak dapat mencapai
keterampilan bahasa yang sempurna; (4) perkembangan bahasa anak
tunagrahita sangat lambat dibandingkan dengan anak normal, sekalipun dengan
MA (mental age) yang sama; (5) anak tunagrahita mengalami kesulitan tertentu

dalam menguasai gramatikal; (6) anak tunagrahita tidak dapat menggunakan


kalimat majemuk, ia akan banyak menggunakan kalimat tunggal.
Salah satu komponen keterampilan yang harus dikuasai oleh siswa
tunagrahita ringan yaitu keterampilan berbicara. Keterampilan berbicara dapat
dilihat dari kemampuan menjelaskan petunjuk suatu alat, baik itu terhadap guru,
orang tua, maupun teman sebaya. Menjelaskan petunjuk suatu alat merupakan
salah satu bentuk keterampilan berbicara. Menjelaskan petunjuk suatu alat
merupakan kegiatan yang cukup dekat dengan kegiatan sehari-hari. Kegiatan ini
bertujuan untuk menjelaskan pemakaian suatu alat kepada seseorang agar
lawan bicara paham tentang alat-alat yang akan digunakan.
Berdasarkan hasil observasi peneliti di kelas VII SMPLB-C Cahaya Jaya
Jakarta, peneliti melihat ternyata penguasaan keterampilan menjelaskan
petunjuk siswa tunagrahita ringan kelas VII masih kurang. Guru Bahasa
Indonesia.yang mengampu kelas tersebut kemudian menuturkan beberapa
permasalahan yang melatar belakangi kurangnya kemampuan menjelaskan
petunjuk siswa. Permasalahan yang sering dijumpai adalah anak mengalami
kesulitan dalam membentuk konsep kosakata dan mengembangkannya ke
dalam unit-unit semantik. Mereka sulit merangkai kata demi kata agar menjadi
suatu kalimat yang utuh dalam berbicara. Banyak anak tunagrahita yang
kesulitan dalam pembentukan konsep dan unit-unit semantik. Misalnya ia
bermaksud untuk menggunakan kata meledak, tetapi yang digunakan adalah
kata bom.
Permasalahan berikutnya adalah siswa kesulitan memahami dan
membedakan makna bunyi wicara. Kondisi seperti ini menyebabkan anak
mengalami kesulitan untuk merangkai fonem, segmentasi bunyi, membedakan
nada, dan mengatur kenyaringan. Selanjutnya, permasalahan mendasar yang
juga menghambat kemampuan menjelaskan petunjuk siswa tunagrahita ringan di
SMPLB-C Cahaya Jaya Jakarta adalah kesulitan dalam hal berkomunikasi dan
juga berinteraksi. Namun anak tunagrahita tidak hanya sulit berkomunikasi, tapi
juga sulit mengerjakan tugas-tugas akademik. Hal ini disebabkan perkembangan
otak dan fungsi syarafnya yang tidak sempurna.

Keterampilan berbahasa yang memliki nilai ketuntasan paling rendah


adalah kemampuan berbicara. Hampir 50% siswa tidak tuntas dalam aspek
berbicara, khususnya menjelaskan petunjuk. Padahal kemampuan menjelaskan
petunjuk bertujuan agar siswa dapat mengarahkan atau memberi petunjuk
kepada orang lain dengan baik dan benar. Hal ini sesuai dengan tujuan
pembelajaran, yaitu siswa dapat menjelaskan petunjuk melakukan sesuatu
dengan urutan yang baik dan tidak membingungkan orang lain. Berdasarkan
keluhan guru tersebut, peneliti melakukan observasi dan wawancara lebih
kepada guru yang bersangkutan.
Dari hasil observasi dan wawancara, peneliti menyimpulkan beberapa
faktor penyebab randahnya kemampuan siswa dalam menjelaskan petunjuk.
Pertama, siswa tidak diberi media pembelajaran yang menarik sehingga siswa
terkesan kurang semangat dan kurang tertarik mengikuti pembelajaran. Kedua,
guru lebih sering menggunakan metode ceramah sehingga siswa menjadi kurang
aktif mengikuti pembelajaran. Ketiga, input siswa kelas VII SMPLB-C Widya
Bhakti relatif rendah. Faktor ini juga menjadi penyebab rendahnya kemampuan
menjelaskan

petunjuk,

karena

siswa

kurang

cepat

dalam

mencerna

pembelajaran menjelaskan petunjuk. Oleh sebab itu, guru harus melakukan


pendekatan secara personal terhadap siswa yang kemampuan menjelaskan
petunjuk masih rendah. Hal tersebut diperlukan untuk mengetahui tingkat
kesulitan siswa sehingga masalah dapat teratasi secara tepat.
Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah
tersebut adalah dengan penerapan stratergi pembelajaran yang lebih efektif dan
menarik bagi siswa. Untuk itulah, peneliti tawarkan metode demonstrasi dan
Kotak Ajaib sebagai sarana peningkatan menjelaskan petunjuk pada siswa
tunagrahita ringan kelas VII SMPLB-C Cahaya Jaya Jakarta. Pembelajaran
menjelaskan petunjuk dengan menggunakan metode dan media ini diharapkan
akan memberikan banyak kemudahan bagi siswa tunagrahita dalam belajar.
Djamarah dan Aswan (2010:91) menuturkan beberapa kelebihan metode
demonstrasi yaitu (1) dapat membuat pengajaran menjadi lebih jelas dan
konkret; (2) siswa lebih mudah memahami yang dipelajari; (3) proses pengajaran
lebih menarik; dan (4) siswa dirangang untuk aktif mengamati, menyesuaikan

antara teori dengan kenyataan, dan mencoba melakukannya sendiri. Dalam


menggunakan metode pembelajaran demonstrasi hal penting yang perlu
disampaikan kepada siswa adalah bagaimana cara melakukan suatu tugas atau
pekerjaan tertentu. Pembelajaran menjelaskan petunjuk melalui metode
demonstrasi lebih optimal jika diaplikasikan dengan media pembelajaran. Media
sangat penting dalam sebuah pembelajaran. Ketidakjelasan materi dapat dibantu
dengan menghadirkan media sebagai perantara. Media dapat mewakili apa yang
kurang mampu diucapkan, baik melalui kata-kata atau kalimat tertentu, bahkan
keabstrakan

bahan

dapat

dikonkretkan

dengan

penggunaan

media

pembelajaran. Dengan demikian, pemilihan media yang sesuai psikologi anak,


materi yang diajarkan, dan tujuan pembelajaran sangatlah penting. Kotak Ajaib
merupakan salah satu media tiga dimensi. Daryanto (2010:29) menyebutkan
beberapa kelebihan media tiga dimensi. Kelebihannya adalah memberikan
pengalaman secara langsung, penyajian secara konkret dan menghindari
verbalisme, dapat menunjukkan objek secara utuh baik konstruksi maupun cara
kerjanya, dapat memperlihatkan struktur organisasi yang jelas, dan dapat
menunjukkan alur suatu proses secara jelas.
Berdasarkan uraian tersebut, peneliti terdorong untuk melakukan
penelitian tindakan kelas pada siswa tunagrahita kelas VII SMPLB-C Cahaya
Jaya Jakarta. Metode yang digunakan adalah metode demonstrasi dengan Kotak
Ajaib. Dengan demikian maka peneliti melakukan penelitian mengenai
kemampuan menjelaskan penggunaan suatu alat melalui metode demonstrasi
dengan Kotak Ajaib pada siswa tunagrahita ringan kelas VII SMPLB-C Cahaya
Jaya Jakarta.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang yang telah disebutkan sebelumnya,
dapat disimpulkan bahwa kemampuan menjelaskan petunjuk pada siswa
tunagrahita ringan kelas VII SMPLB-C masih kurang. Rendahnya keterampilan
berbicara siswa tunagrahita ringan kelas VII SMPLB-C Cahaya Jaya Jakarta
disebabkan beberapa permasalahan. Permasalahan tersebut dipengaruhi oleh
beberapa faktor, diantaranya dari faktor siswa dan guru. Beberapa permasalahan
yang timbul dari faktor siswa yaitu: (1) mengalami kesulitan dalam memahami
konsep kosakata; (2) gangguan atau kesulitan bicara, anak mengalami kesulitan

dalam mengartikulasikan bunyi bahasa dengan benar; (3) kesulitan dalam hal
berkomunikasi dan juga berinteraksi. Pada sisi yang lain timbul masalah yang
berasal dari guru yaitu: (1) guru kurang mahir dalam berkreasi membuat media
pembelajaran yang menyenangkan sekaligus bermanfaat bagi siswa; (2) guru
kesulitan dalam mengatur waktu pembelajaran berbicara, jadi ada beberapa
siswa

yang

belum

lancar

berbicara

tidak

memiliki

kesempatan

untuk

memperbaiki penampilannya.
Untuk itu perlu adanya pembaharuan media pembelajaran yang sesuai
dengan karakteristik siswa untuk membantu meperlancar menjelaskan petunjuk
penggunaan suatu alat. Penggunaan media yang variatif, inovatif, dan edukatif
akan menimbulkan minat serta ketertarikan siswa dalam belajar dengan aktif,
kreatif, efektif, dan sungguh-sungguh.
C. Pembatasan Masalah
Dari uraian di atas dapat diketahui beberapa permasalahan yang
menghambat keterampilan berbicara siswa tunagrahita kelas VII SMPLB-C
Cahaya Jaya Jakarta, yaitu siswa kesulitan dalam memahami konsep kosakata;
gangguan atau kesulitan berbicara; dan anak tunagrahita mengalami kesulitan
dalam hal berkomunikasi dan juga berinteraksi. Mengingat keterbatasan peneliti
serta alasan agar pembahasan dan analisis lebih mendalam, dalam skripsi ini
peneliti membatasi permasalahan pada upaya mengatasi kesulitan siswa dalam
mengungkapkan gagasan saat berbicara guna peningkatan menjelaskan
petunjuk penggunaan suatu alat pada siswa tunagrahita ringan kelas VII SMPLBC Cahaya Jaya Jakarta, melalui metode demonstrasi dengan Kotak Ajaib.
D. Rumusan Masalah
Dilihat dari identifikasi masalah, maka rumusan masalah yang akan diteliti
:
1. Bagaimana proses pembelajaran kemampuan menjelaskan petunjuk suatu
alat melalui metode demonstrasi dengan Kotak Ajaib pada siswa tunagrahita
ringan kelas VII SMPLB-C Cahaya Jaya Jakarta?
2. Bagaimana peningkatan kemampuan menjelaskan petunjuk suatu alat
melalui metode demonstrasi dengan Kotak Ajaib pada siswa tunagrahita
ringan kelas VII SMPLB-C Cahaya Jaya Jakarta?

3. Bagaimana perubahan perilaku siswa dalam pembelajaran kemampuan


menjelaskan petunjuk suatu alat melalui metode demonstrasi dengan Kotak
Ajaib pada siswa tunagrahita ringan kelas VII SMPLB-C Cahaya Jaya
Jakarta?
E. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah yang sudah ditetapkan, tujuan dari
penelitian ini yaitu: 1. mendeskripsi proses pembelajaran kemampuan
menjelaskan petunjuk suatu alat melalui metode demonstrasi dengan Kotak
Ajaib pada siswa tunagrahita ringan kelas VII SMPLB-C Cahaya Jaya Jakarta
2. mendeskripsi peningkatan kemampuan menjelaskan petunjuk suatu alat
melalui metode demonstrasi dengan Kotak Ajaib pada siswa tunagrahita
ringan kelas VII SMPLB-C Cahaya Jaya Jakarta. 3. mendeskripsi perubahan
perilaku siswa dalam pembelajaran kemampuan menjelaskan petunjuk suatu
alat melalui metode demonstrasi dengan Kotak Ajaib pada siswa tunagrahita
ringan kelas VII SMPLB-C Cahaya Jaya Jakarta
F. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi beberapa pihak.
Manfaat dari penelitian ini meliputi manfaat teoretis dan manfaat praktis.
Manfaat teoretis yaitu manfaat yang diterima secara teori sebagai
pengetahuan namun tidak dipraktikkan secara langsung. Kemudian untuk
manfaat praktis adalah manfaat yang diperoleh untuk dipraktikan secara
langsung di lapangan.
Secara teoretis, penelitian ini diharapkan hasilnya dapat bermanfaat
untuk meningkatkan kemampuan menjelaskan petunjuk anak tunagrahita
ringan. Dengan adanya pemanfaatan metode demonstrasi melalui Kotak
Ajaib akan memberikan daya tarik kepada siswa tunagrahita ringan untuk
meningkatkan kemampuan menjelaskan petunjuk serta dapat menciptakan
kegiatan belajar mengajar yang menarik dan tidak membosankan. Selain itu
dapat digunakan sebagai bahan penelitian selanjutnya.
Secara praktis, penelitian ini bermanfaat bagi guru, yaitu (1) sebagai
bahan untuk peningkatan kinerja dan profesionalisme saat mengajar, dan (2)
memberikan masukan dalam penggunaan metode demonstrasi dengan
Kotak Ajaib yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kemampuan
menjelaskan petunjuk anak tunagrahita ringan. Penelitian ini juga bermanfaat

bagi siswa, yaitu (1) meningkatkan motivasi dan prestasi belajar siswa, dan
(2) mengatasi kesulitan yang dihadapi siswa saat pembelajaran menjelaskan
petunjuk.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORETIS

A. Kajian Pustaka
Penelitian yang beranjak dari awal jarang ditemui karena biasanya suatu
penelitian mengacu pada penelitian yang lain yang dapat dijadikan titik tolak
dalam

penelitian

selanjutnya.

Dengan

demikian,

peninjauan

terhadap

penelitianpenelitian sebelumnya sangat penting. Hal ini bisa digunakan untuk


mengetahui relevansi penelitian yang telah lampau dengan penelitian yang akan
dilakukan.
Selain itu, peninjauan penelitian sebelumnya dapat digunakan untuk
membandingkan seberapa keaslian dari penelitian yang akan dilakukan.
Penelitian mengenai metode ataupun cara yang dilakukan agar anak tunagrahita
ringan mampu menjelaskan petunjuk secara lancar, masih jarang dilakukan. Ada
beberapa penelitian yang cukup relevan untuk dijadikan kajian pustaka dalam
penelitian ini, antara lain penelitian yang dilakukan oleh Malik (2009), Nur (2011),
Harjdun (2011), Madechan (2012), Fajria (2013), Pirmansyah (2013), Iline (2013),
dan Silvia (2014).
Malik (2009) melakukan penelitian dalam jurnal Education Scient yang
berjudul Effect of Intervention Training on Mental Abilities of Slow Learners.
Peneliti

menyimpulkan

bahwa

berdasarkan

hasil

penelitian

tersebut

menunjukkan bahwa intervensi memiliki keuntungan dalam segala bidang. Mulai


dari pendidikan, pelatihan, dan perawatan. Hal itu dibuktikan anak-anak yang

memiliki keterlambatan belajar sebelumnya mengalami peningkatan dalam


bidang pendidikan, perawatan, maupun pelatihan.
Persamaan kedua penelitian ini terletak pada objek kajian, yaitu tentang
anak tunagrahita. Perbedaan penelitian Malik dengan penelitian ini terletak pada
kompetensi yang ditingkatkan dan jenis penelitian. Malik memilih semua
kompetensi mulai dari pendidikan, perawatan, dan pelatihan, sedangkan peneliti
memfokuskan pada kompetensi menjelaskan petunjuk. Nur (2011) dalam jurnal
TEQIP yang berjudul Peningkatan Kemampuan Menjelaskan Petunjuk
Penggunaan suatu Alat dengan Bahasa yang Baik dan Benar dengan
Menggunakan Media di Kelas IV SDN Dufa-Dufa Pantai 1 Kota Ternate. Hasil
dari

penelitian

tersebut

menunjukkan

adanya

peningkatan

keterampilan

menjelaskan petunjuk pada siswa setelah melalui pembelajaran dengan


menggunakan media. Penelitian ini juga terlihat adanya perubahan sikap positif
siswa setelah mengikuti pembelajaran.
Besar peningkatan keterampilan menjelaskan petunjuk melalui media pada
siswa kelas IV SDN Dufa-dufa Pantai 1 kota Ternate, hasil dari siklus I, 1 siswa
mendapat nilai 20 atau 0,5%. Sejumlah 2 siswa atau 10% mendapat nilai 27, 2
siswa atau 10% mendapat 33, 6 siswa atau 30% mendapat nilai 40, 1 siswa atau
0,5% men-dapat nilai 47, 8 siswa atau 40% mendapat nilai 53, 1 siswa atau 0,5%
mendapat nilai 67. 1 siswa atau 0,5% mendapat nilai 80. Secara keseluruhan
tingkat pencapaian siswa baru 43,67%. Setelah dilakukan tindakan pada siklus II
mengalami peningkatan, 3 siswa mendapat nilai 40 atau 15%. 5 siswa atau 25%
mendapat nilai 53, 6 siswa atau 30% mendapat 67, 4 siswa atau 20% mendapat
nilai 80, 2 siswa atau 10% mendapat nilai 93. Nilai rata-rata siswa adalah 61,25.
Secara

keseluruhan

tingkat

pencapaian

siswa

mencapai

66,33%.

Kenyataan tersebut menunjukan adanya peningkatan kemampuan siswa dalam


menjelaskan penggunaan suatu alat dengan menggunakan media. Terjadi
peningkatan skor sejak prasiklus, siklus 1, dan siklus 2, baik pada ketepatan cara
menjelaskan maupun kelengkapan informasi dalam menjelaskan. Terdapat
persamaan dan perbedaan anatar penelitian Nur dengan yang peneliti lakukan.
Letak kesamaan terdapat pada jenis penelitian dan kompetensi yang dilakukan.

Keduanya berjenis penelitian tindakan kelas, dan mengangkat permasalahan


menjelaskan petunjuk.
Perbedaan keduanya terletak pada sasaran penelitian. Sasaran penelitian
Nur adalah siswa SD kelas IV, sedangkan penelitian ini sasarannya adalah siswa
SMPLB-C.
menjelaskan

Dilanjutkan
petunjuk

Harjdun
pada

(2011)

jurnal

yang

TEQIP

menghasilkan

yang

berjudul

peningkatan
Peningkatan

Pembelajaran Menjelaskan Petunjuk suatu Alat melalui Alat Peraga pada Siswa
Kelas IV SDN I Bobanehena Kecamatan Jailolo Kabupaten Halmahera Barat.
Dari hasil penelitian tersebut terdapat dampak positif dan mempermudah
pemahaman siswa dalam mempelajari petunjuk pemakaian pasta gigi secara
baik dan benar. Hal ini dibuktikan dengan adanya peningkatan hasil belajar siswa
dalam setiap siklus yaitu pada siklus I, 20,83% menjadi 75% pada siklus II atau
mengalami penurunan pada jumlah siswa yang kurang aktif serta nilai rendah
pada siklus I yaitu dari 79,16% turun menjadi 25% pada siklus II. Terdapat
persamaan dan perbedaan antara penelitian Harjdun dengan yang peneliti
lakukan. Letak kesamaan terdapat pada jenis penelitian dan kompetensi yang
dilakukan. Keduanya berjenis penelitian tindakan kelas, dan mengangkat
permasalahan menjelaskan petunjuk.
Perbedaan keduanya terletak pada sasaran penelitian. Sasaran penelitian
Harjdun adalah siswa SD kelas IV, sedangkan penelitian ini sasarannya adalah
siswa SMPLB-C. Madechan dan Sri pada tahun 2012 dalam jurnal E-jupekhu
yang berjudul Peningkatan Keterampilan Berbicara melalui Media Permainan
Telepon pada Anak Tunagrahita.
Dari hasil penelitian tersebut terdapat peningkatan aktivitas siswa dalam
belajar menggunakan media telepon pada siswa tunagrahita, yaitu tingkat
pencapaian keterampilan berbicara pada siklus I siswa masih di bawah standar
yaitu 57,6 %. Kemudian setelah dievaluasi pada siklus II pencapaian hasil belajar
Bahasa Indonesia dalam hal keterampilan berbicara anak tunagrahita sedang
kelas IV sudah mencapai hasil belajar tuntas karena sudah mencapai nilai
82,05% yang berarti bahwa siswa aktif dalam pembelajaran dan memiliki
keberanian dalam pembelajaran. Persamaan kedua penelitian ini terletak pada

10

jenis penelitian dan media pembelajarannya, yaitu berjenis penelitian tindakan


kelas dengan menggunakan media telepon.
Perbedaan antara penelitian Madechan dan Sri dengan yang peneliti
lakukan adalah pada kompetensi yang ditingkatkan. Penelitian Madechan dan Sri
dibatasi pada kompetensi berbicara secara umum, sedangkan pada penelitian ini
mencakup kompetensi menjelaskan petunjuk. Fajria (2013) dalam E-jupekhu
yang berjudul Meningkatkan Keterampilan Membuat Bunga dari Kantong Plastik
melalui Metode Demonstrasi bagi Anak Tunagrahita Ringan. Hasil penelitian
tersebut menunjukkan adanya peningkatan keterampilan membuat bunga dari
kantong plastik menggunakan metode demonstrasi. Hasil penelitian ini juga
terlihat adanya perubahan sikap positif siswa setelah mengikuti pembelajaran.
Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil tes dapat diperoleh gambaran nilai
akhir rata-rata pada siklus I adalah SR memperoleh nilai 51,92%, YL
memperoleh nilai 48,07% dan YK memperoleh nilai 44,32%. Jadi dari hasil yang
diperoleh, taraf keberhasilan anak belum mencapai standar yang ditetapkan yaitu
anak bisa dalam membuat bunga dari kantong plastik dengan metode
demonstrasi.
Setelah dilakukan penelitian siklus II nilai siswa meningkat. SR mencapai
92,30%, YL memperoleh nilai 90,38% dan YK memperoleh nilai 88,46%. Jadi
hasil yang diperoleh taraf keberhasilan anak sudah mencapai standar yang
ditetapkan. Persamaan penelitian ini yaitu pada penggunaan metode dan objek
kajiannya.

Penelitian

yang

dilakukan

oleh

fajria

menggunakan

metode

demonstrasi dan objek kajiannya yaitu anak tunagrahita ringan. Perbedaannya


terletak pada materi yang diajarkan. Fajria mengajarkan tentang cara membuat
bunga,

sedangkan

peneliti

mengajarkan

tentang

menjelaskan

petunjuk.

Pirmansyah (2013) dalam jurnal penelitian yang berjudul Peningkatan Motivasi


Belajar Siswa pada Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dengan Penggunaan
Media Telepon.
Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa media dalam pembelajaran dapat
meningkatkan motivasi belajar siswa. Berdasarkan hasil pengamatan yang telah
dilakukan terdapat peningkatan yang besar dari base line dari terhadap siklus
yang dilaksanakan yaitu 8,66% pada base line menjadi 45,87% padasiklus I

11

dengan selisih sebesar 37,21% kemudian dari siklus I 45,87% menjadi 18,81%
ke siklus II dengan selisih 27,06%. Selisih keseluruhan dari base line ke siklus II
ialah 10,15%.
Persamaan yang telah dilakukan oleh Pirmansyah dengan penelitian ini
terletak pada media pembelajarannya, yaitu menggunakan media telepon.
Perbedaannya terletak pada materi yang diajarkan, karena Pirmansyah
melakukan penelitian tentang meningkatkan motivasi, sedangkan peneliti
mengajarkan tentang kemampuan menjelaskan petunjuk Iline (2013) melakukan
penelitian dalam Journal Of Humanities And Social Science yang berjudul
Impacts of the Demonstration Method in the Teaching and Learning of Hearing
Impaired Children.
Hasil penelitian menunjukkan metode demonstrasi jika digunakan dalam
pembelajaran matematika, agama, dan pembelajaran akademik tidak efektif, jika
digunakan dalam pembelajaran memasak, menjahit, dan pembelajaran praktik
sangat efektif. Hal ini dapat dilihat dari analisis data penelitian dampak metode
demonstrasi dari tahun 2010 sampai tahun 2012. Pada pelajaran akademik
seperti matematika, sains, dan geografi nilai siswa menurun sampai 5%.
Kemudian pada pelajaran praktik seperti memasak dan menjahit naik hingga
15%. Persamaan yang dilakukan oleh Iline dengan penelitian ini adalah terletak
pada metode yang digunakan, yaitu menggunakan metode demonstrasi.
Perbedaannya terletak pada objek kajiannya. Penelitian Iline objek yang diteliti
yaitu anak-anak tunarungu, sedangkan objek yang dilakukan oleh peneliti yaitu
anak-anak tunagrahita.
Silvia (2014) dalam jurnal E-jupekhu yang berjudul Meningkatkan
Keterampilan Memasak Beras Menggunakan Rice Cooker melalui Metode
Demonstrasi bagi Anak Tunagrahita Ringan. Dari hasil penelitian menunjukkan
bahwa

metode

keterampilan

demonstrasi

memasak

beras

dalam
bagi

pembelajaran
anak

dapat

tunagrahita

meningkatkan

ringan.

Diketahui

pengamatan dilaksanakan sebanyak 6 kali. Kemampuan anak X dalam


keterampilan memasak beras menggunakan rice cooker pada hari pertama
adalah 40,7% pada hari kedua naik menjadi 55,5%, namun pada hari ketiga
turun 44,4% dan hari keempat turun menjadi 37%, pada hari kelima dan keenam

12

kemampuan anak X kembali seperti kemampuan pada hari pertama yaitu 40,7%.
Setelah data yang diperoleh stabil, maka peneliti menghentikan pengamatan.
Pada kondisi intervensi dilaksanakan sebanyak 10 kali pengamatan. Dari grafik
tersebut dapat diketahui bahwa kemampuan anak X pada hari ketujuh adalah
55,5%, pada hari ke-delapan dan kesembilan naik menjadi 62,5%, pada hari
kesepuluh juga naik menjadi 62,5%, hari kesebelas menjadi 74% dan kedua
belas naik 88,8% hari ketiga belas menjadi 92,5%, pada hari keempat belas naik
96,2%, pada hari kelima belas dan ke-enam belas kemampuan anak menjadi
100%. Setelah itu peneliti menghentikan perlakuan karena kemampuan anak X
dalam keterampilan memasak beras menggunakan rice cooker dan metode
demosntrasi menunjukkan hasil yang stabil. Persamaan kedua penelitian ini
terletak pada jenis penelitian dan metode yang digunakan. Metode yang
digunakan yaitu metode demonstrasi, dan berjenis penelitian tindakan kelas.
Perbedaan penelitian Silvia dengan penelitian ini
terletak pada kompetensi yang ditingkatkan dan media pembelajaran yang
diberikan. Silvia memilih kompetensi memasak beras dan rice coocker sebagai
media

pembelajarannya,

sedangkan

peneliti

memilih

pada

kompetensi

menjelaskan petunjuk dan telepon sebagai media pembelajaran. Berdasarkan


kajian pustaka yang telah dipaparkan dapat diketahui bahwa penelitian tindakan
kelas yang mengambil topik kemampuan menjelaskan petunjuk suatu alat
melalui metode demonstrasi melalui media telepon sangat menarik untuk diteliti.
Penelitian yang peneliti lakukan yaitu tentang peningkatan kemampuan
menjelaskan petunjuk suatu alat dan perubahan perilaku anak tunagrahita ringan
kelas VII SMPLB-C Cahaya Jaya Jakarta dengan metode demonstrasi melalui
media telepon. Persamaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah
pada kesamaan objek, media, dan metode penelitiannya yang menitikberatkan
pada kemandirian siswa dalam melakukan aktivitas wicara. Penelitian ini
diharapkan dapat menjadi solusi terhadap masalah-masalah yang dihadapi siswa
di SMPLB-C selama ini, khususnya masalah kelemahan anak tunagrahita ringan
dalam berbicara. Penggunaan metode demosntrasi melalui media telepon
diharapkan dapat meningkatkan kemampuan berbicara khususnya kemampuan
menjelaskan petunjuk suatu alat.
B. Landasan Teoretis

13

Landasan teori yang menjadi pijakan dalam penelitian tindakan kelas ini,
yaitu (1) hakikat menjelaskan petunjuk; (2) hakikat metode demonstrasi; (3)
pengertian media; (4) media telepon; (5) definisi tunagrahita; (6) karakteristik
tunagrahita; dan (7) klasifikasi tunagrahita.
1. Hakikat Menjelaskan Petunjuk
Petunjuk merupakan suatu arahan atau bimbingan untuk melakukan
sesuatu. Petunjuk harus jelas, singkat dan tepat. Bahasa petunjuk harus singkat,
artinya dalam petunjuk hanya mencantumkan hal-hal yang dianggap penting dan
bahasa yang digunakan pun harus informatif, berisi langkah-langkah yang
mudah diikuti oleh pemakai atau pengguna.
Bahasa petunjuk juga tidak boleh menyesatkan, artinya langkah-langkah
yang diberikan harus sistematis. Antara urutan yang satu dengan yang lain harus
praktis, logis, dan tidak menimbulkan penafsiran ganda pada pemakai. Petunjuk
harus langsung menuju kepada hal yang akan dilakukan. Bahasa yang
digunakan harus jelas dan lugas atau menggunakan kata-kata yang umum
digunakan. Memberi petunjuk harus memiliki persayaratan (Tarigan 1997:171).
Lebih lanjut Depdiknas (2004:322) menjelaskan bahwa petunjuk dibagi
menjadi tiga bagian, yaitu petunjuk melakukan sesuatu, petunjuk menggunakan
sesuatu, dan petunjuk membuat sesuatu. Petunjuk melakukan sesuatu adalah
ketentuan yang patut diturut dalam melalukan sesuatu, misalnya mencoblos
dalam pemilu, cara mengerjakan soal, dan sebagainya. Petunjuk menggunakan
sesuatu adalah ketentuan-ketentuan yang harus dituruti atau diperhatikan dalam
menggunakan sesuatu. Misalnya cara menggunakan komputer, aturan pakai
dalam menggunakan suatu produk, dan lain-lain. Jenis petunjuk yang ketiga
adalah jenis petunjuk membuat sesuatu, misalnya cara membuat kue bolu dan
lain sebagainya.
Berkaitan dengan petunjuk, Depdiknas (2004:42) menyebutkan bahwa
ciri-ciri petunjuk yang baik yaitu logis, jelas, dan singkat. Logis berarti sistematika
urutan penjelasannya dapat dibuktikan secara nalar. Dalam menjelaskan
petunjuk, faktor kelogisan merupakan unsur penting. Dijadikan suatu yang
penting karena menghindari dari kesalahan-kesalahan atau urutan yang tidak

14

benar dalam membuat atau menggunakan sesuatu. Selain itu, antara urutan satu
dengan berikutnya harus berkesinambungan sesuai dengan petunjuk yang tepat.
Jelas berarti kaidah bahasa yang digunakan tidak membingungkan dan mudah
dipahami. Mengenai hal ini, pemakaian istilah-istilah yang tertuang dalam
petunjuk yang digunakan dalam bentuk istilah sehari-hari. Oleh karena itu,
penggunaan bahasa harus disesuaikan dengan sasaran pendengar. Singkat
berarti memenuhi syarat singkat. Singkat mengandung arti bahwa hanya
mencantumkan

hal-hal

yang

penting

saja.

Selain

itu,

Asril

(2012:84)

mengungkapkan bahwa keterampilan menjelaskan adalah penyajian informasi


secara lisan yang dikelola secara sistematis untuk menunjukkan adanya
hubungan antara satu dengan yang lainnya. Jadi saat menjelaskan petunjuk
harus sistematis, artinya untuk meguraikan dan merumuskan sesuatu dalam
hubungan yang teratur dan logis sehingga membentuk suatu sistem yang berarti
secara utuh, menyeluruh, terpadu, mampu menjelaskan rangkaian sebab akibat
menyangkut objeknya. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa
menjelaskan petunjuk merupakan penyajian informasi secara lisan yang berisi
arahan atau bimbingan dalam melakukan atau membuat sesuatu yang dikelola
secara sistematis. Sebuah petunjuk yang baik perlu memperhatikan sasaran
petunjuk.
2. Hakikat Metode Demonstrasi
Syah (2000:22) mengungkapkan metode demonstrasi adalah metode
mengajar dengan cara memperagakan barang, kejadian, aturan, dan urutan
melakukan suatu kegiatan. Memperagakan sesuatu biasanya secara langsung
maupun melalui penggunaan media pengajaran yang relevan dengan pokok
bahasan atau materi yang sedang disajikan. Metode demonstrasi juga cara
mengajar dengan mengkombinasikan lisan dengan suatu perbuatan serta
mempergunakan suatu alat, sehingga akan lebih menambah penjelasan lisan,
lebih menarik perhatian anak dan sebagainya.
Melengkapi pernyataan di atas, Djamarah dan Aswan (2010:90)
menjelaskan bahwa metode demonstrasi adalah penyajian pelajaran dengan
memperagakan suatu proses, situasi atau benda tertentu yang sedang dipelajari,
baik sebenarnya ataupun tiruan, yang sering disertai dengan penjelasan lisan.

15

Metode demonstrasi baik digunakan untuk mendapatkan gambaran yang lebih


jelas tentang hal-hal yang berhubungan dengan proses mengatur sesuatu,
proses membuat sesuatu, proses bekerjanya sesuatu, proses mengerjakan atau
menggunakan,

komponen-komponen

yang

membentuk

sesuatu,

membandingkan suatu cara dengan cara lain, dan untuk melihat atau
mengetahui kebenaran sesuatu.
Berkaitan dengan metode demonstrasi, Subana dan Sunarti (2011:111112) menyatakan bahwa metode demonstrasi merupakan memperagakan suatu
proses yang disertai dengan penjelasan lisan. Dari pengertian tersebut maka
terdapat beberapa kelebihan dan kelemahan dalam metode demonstrasi.
Kelebihan metode demonstrasi yaitu (1) dapat membuat pengajaran
menjadi lebih jelas dan konkret; (2) siswa lebih mudah memahami yang
dipelajari; (3) proses pengajaran lebih menarik; dan (4) siswa dirangsang untuk
aktif mengamati, menyesuaikan antara teori dengan kenyataan, dan mencoba
melakukannya sendiri.
Kelemahan metode demosntrasi yaitu (1) memerlukan keterampilan guru
secara khusus; (2) fasilitas peralatan, tempat, dan biaya tidak selalu tersedia
dengan baik; (3) demonstrasi memerlukan kesiapan dan perencanaan yang
matang; dan (4) bila siswa tidak diikutsertakan, proses demonstrasi akan kurang
dipahami.
Melengkapi pernyataan di atas, Hamdani (2011:270) mengungkapkan
beberapa kelemahan dan kelebihan metode demonstrasi. Kelebihannya yaitu (1)
perhatian siswa lebih dapat terpusatkan pada pelajaran yang diberikan; (2)
kesalahan yang terjadi apabila pelajaran itu melalui metode ceramahkan dapat di
atasi melalui pengamatan dan contoh yang konkret; (3) memberi motivasi yang
kuat untuk siswa agar lebih giat belajar; dan (4) siswa dapat berpartisipasi aktif
dan memperoleh pengalaman langsung. Kemudian untuk kekurangan metode
demonstrasi antara lain (1) apabila alatnya terlalu kecil atau penempatannya
kurang tepat, demonstrasi tidak dapat dilihat dengan jelas oleh seluruh siswa;
dan (2) apabila waktu tidak tersedia cukup, demonstrasi akan berlangsung
terputusputus.

16

Majid (2013:197), mengungkapkan metode demonstrasi merupakan


metode penyajian pelajaran dengan memperagakan tentang suatu proses,
situasi, atau benda tertentu, baik sebenarnya maupun tiruan. Benda tiruan yang
dimaksud adalah benda-benda yang kemungkinan besar tidak dapat dibawa
dalam kelas.
Ada beberapa tujuan menggunakan benda tiruan dalam metode
demonstrasi ini yaitu mengatasi kesulitan jika objeknya terlalu besar atau terlalu
kecil

seperti

matahari

dan

bakteri,

mengatasi

kesulitan

jika

objeknya

membahayakan bagi siswa seperti hewan-hewan buas. Hal serupa juga


dikemukakan oleh Sagala dalam Majid (2013:197) bahwa metode demonstrasi
adalah petunjuk tentang suatu proses terjadinya suatu peristiwa atau benda agar
dapat diketahui dan dipahami oleh peserta didik secara nyata. Metode ini sangat
membantu siswa untuk memahami sesuatu hal secara nyata, misalnya dalam
mempelajari objek yang tidak mudah dijangkau oleh manusia misalnya seperti
organ dalam manusia yang terdiri atas hati, paru-paru, jantung, lambung, ginjal,
dan lain sebagainya.
Berdasarkan definisi para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa metode
demonstrasi adalah pelajaran dengan memperagakan suatu proses dengan
benda asli maupun tiruan dan disertai dengan penejalasan secara lisan. Sebagai
metode penyajian, demonstrasi tidak terlepas dari penjelasan secara lisan oleh
guru. Walaupun dalam proses demonstrasi peran siswa hanya sekadar
memperhatikan, tetapi demonstrasi dapat menyajikan bahan pelajaran lebih
konkret. Dalam strategi pembelajaran, demonstrasi dapat digunakan untuk
mendukung keberhasilan dalam mengatasi kesulitan-kesulitan yang muncul.
3. Hakikat Media Telepon
Media dibutuhkan dalam kegiatan belajar. Penggunaan media ini sangat
bermanfaat untuk memudahkan pemahaman atau bahkan mempercepat proses
belajar. Kehadiran media akan menciptakan suasana pembelajaran akan
lebih menyenangkan dan peserta didik merasa selalu dilibatkan, dibutuhkan, dan
berperan aktif dalam pembelajaran. Wujud media atau model tentu saja
disesuaikan dengan kebutuhan dan jenis mata pelajaran. Pembelajaran bahasa
Indonesia dibutuhkan media atau model seperti majalah, surat kabar, kaset,
video, slide, gambar, atau artikel. Penggunaan media dalam proses kegiatan

17

belajar mengajar dapat membangkitkan rasa ingin tahu dan minat, serta motivasi
dan rangsangan dalam pembelajaran.
a. Pengertian Media
Soeparno (1988:1-2), menjelaskan bahwa media adalah suatu alat yang
dipakai sebagai saluran untuk menyampaikan suatu pesan atau informasi dari
suatu sumber kepada penerimanya.
Dalam proses belajar mengajar, pesan atau informasi yang dimaksud
berasal dari guru, sedangkan penerima informasinya adalah siswa. Pesan atau
informasi yang dikomunikasikan tersebut berupa sejumlah kemampuan yang
harus dikuasai oleh siswa. Kemampuan tersebut dapat dikomunikasikan melalui
berbagai saluran, yaitu saluran penglihatan, saluran pendengaran, saluran
perasaan, dan saluran penampilan.
Sementara itu, Rumampuk (1988:6) menyebut media sebagai media
instruksional

yaitu

setiap

alat,

baik

hardware

maupun

software

yang

dipergunakan sebagai media komunikasi dan tujuannya untuk meningkatkan


efektivitas proses belajar mengajar. Hardware maksudnya adalah alat atau
perangkat keras yang digunakan untuk memantulkan materi pelajaran pada
layar, misalnya LCD, slide proyector dan masih banyak lagi. Kemudian software
merupakan materi atau bahan pembelajaran yang dipantulkan melalui perangkat
keras, misalnya film, PPT, transparansi, dan lain-lain.
Lain halnya dengan pendapat di atas, Ibrahim dan Syaodih (1996:112)
mengartikan media dalam konteks pembelajaran yaitu segala sesuatu yang
dapat digunakan untuk menyalurkan pesan atau isi pelajaran, merangsang
pikiran, perasaan, perhatian, dan kemampuan siswa sehingga dapat mendorong
proses belajar mengajar. Pengertian media ini lebih kompleks dari pada
pengertian sebelumnya.
Media tidak hanya sebagai penyalur pesan, tetapi lebih menekankan pada
aspek siswa, yakni merangsang minat siswa dalam proses belajar mengajar.
Sementara itu, Rohani (1997:3-4) berpendapat bahwa media adalah segala
sesuatu yang dapat diindra dan berfungsi sebagai perantara/sarana/alat untuk
proses komunikasi. Media dalam proses belajar mengajar dapat diartikan
sebagai sarana komunikasi untuk mencapai tujuan, proses dan hasil yang efektif
dan efisien.
Meski

demikian,

penggunaan

media

tetap

harus

memperhatikan

keefektifan dan kesesuaian dengan kompetensi yang diajarkan dan tujuan


pembelajaran. Selain itu Arsyad (2007:3) menjelaskan bahwa media adalah

18

pengantar pesan dari pengirim kepada penerima. Jika dikaitkan dengan


pembelajaran, guru diposisikan sebagai pengirim pesan, siswa sebagai penerima
pesan, dan media sebagai pengantar pesan. Dengan demikian media berperan
penting dalam proses pembelajaran, karena tanpa media, berarti pesan tersebut
sulit untuk disampaikan atau bahkan tidak dapat tersampaikan.
Sejalan dengan pendapat-pendapat sebelumnya, Uno

(2008:65)

mengemukakan bahwa media pembelajaran adalah alat yang digunakan untuk


menyampaikan pesan atau informasi dari pengajar atau instruktur kepada
peserta belajar. Pengertian ini lebih spesifik dibandingkan dengan pengertianpengertian sebelumnya yang mengacu pada alat. Alat yang digunakan bisa
bermacam-macam bergantung kepada pesan atau materi yang diajarkan.
Melengkapi pernyataan di atas, Anitah (2008:2) mendefinisikan media
adalah setiap orang, bahan alat atau peristiwa yang dapat menciptakan kondisi
yang memungkinkan pembelajar menerima pengetahuan, keterampilan, dan
sikap. Setiap media merupakan sarana untuk menuju ke suatu tujuan.
Didalamnya terkandung informasi yang dapat dikomunikasikan kepada orang
lain.
Sementara itu, Sadiman (2009:7) menjelaskan bahwa media adalah segala
sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke
penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, dan minat serta
perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar terjadi. Dalam
pengertian ini, media berperan sebagai perantara untuk menyampaikan informasi
dalam proses komunikasi agar terjadi timbal balik.
Media sangat efektif digunakan dalam pembelajaran, terlebih bermanfaat
untuk siswa. Selain itu, Kustandi dan Sutjipto (2011:9) menjelaskan bahwa media
pembelajaran adalah alat yang dapat membantu proses belajar mengajar dan
berfungsi

untuk

memperjelas

makna

pesan

yang

disampaikan.

Media

pembelajaran mempunyai peranan penting dalam proses kegiatan belajar


mengajar. Adanya media pembelajaran, proses kegiatan belajar mengajar akan
semakin dirasakan manfaatnya, karena informasi yang disalurkan pengirim
kepada penerima pesan akan sampai dengan baik. Sependapat dengan
pernyataan di atas, Aqib (2014:50) menjelaskan bahwa media pembelajaran
adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dan
merangsang terjadinya proses belajar pada si pembelajar. Dari pendapat
tersebut yang dimaksud pesan adalah suatu informasi yang harus disampaikan

19

oleh komponen yang berbentuk ide, fakta, pengertian maupun data. Jadi adanya
media pembelajaran itu digunakan untuk memudahkan dan merangsang siswa
agar lebih paham menerima materi pembelajaran. Berdasarkan pendapat para
ahli tersebut, dapat diambil simpulan bahwa media adalah sesuatu yang
digunakan guru sebagai sarana untuk menyampaikan pesan yang diajarkan,
serta dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan kemampuan siswa
dalam proses belajar mengajar. Media sangat berperan penting dalam proses
belajar mengajar sebagai sarana untuk menciptakan pembelajaran yang efektif
dan memudahkan dalam pencapaian tujuan pembelajaran.
4. Pengertian Kotak Ajaib Tematik
Media pengajaran yang digunakan berupa peralatan yang efektif yaitu alat peraga.
Alat peraga adalah alat (benda) yang digunakan untuk memperagakan fakta,
konsep prinsip atau prosedur tertentu agar tampak lebih nyata/konkrit. Kotak
Ajaib yang dimaksud dalam karya tulis ini adalah media diam yang digunakan
untuk memperlancar proses pembelajaran yang bisa dinikmati lewat panca-indera
mata.
Pemberian nama pada jenis alat peraga ini merupakan penamaan yang
sengaja dibuat sedemikian rupa untuk menarik minat para siswa. Koper yang
dibuat tersebut berasal dari bahan bekas pakai atau bahan daur ulang yang terdiri
dari: 1) Kotak kado bekas, 2) kayu, 3) kardus bekas indomi, 4) kain fanel, 5) pipet,
6) ditambah kartu gambar dan kartu kata.
Kota bekas kado itu dimanfaatkan serta dimodifikasi

agar

dapat

membangkitkan aktivitas belajar siswa. Bentuk kotak dibuat seperti tas koper atau
seperti laptop sehingga terdiri atas dua bagian yaitu bagian mendatar dan tegak.
Pada bagian kotak yang mendatar berfungsi sebagai tempat menempelkan
konsep atau jenis gambar seperti gambar anggota tubuh. Sedangkan pada bagian
kotak yang tegak lutus difungsikan untuk menempelkan fungsi anggota tubuh atau
sebaliknya.
Untuk

memperoleh

pengetahuan

yang

baru

maka

siswa

harus

menghubungkan konsep pada bidang datar dengan pernyataan pada bagian yang
tegak lurus sehingga jika dihubungan akan diperoleh konsep dan pengetahuan
baru karena keduanya saling berhubungan.
Kata ajaib merupakan kata yang tidak sembarang karena Kotak Ajaib yang
dimaksud merupakan kumpulan pengetahuan yang dapat dijadikan sarana belajar
bagi siswa sehingga kemampuan siswa secara visual Audio dan kinestetis dapat

20

tumbuh secara berimbang. Artinya Kotak Ajaib ini mengandung multifungsi, dapat
digunakan pada semua mata pelajaran.
Di bawah ini disajikan gambar Kotak Ajaib sebagai berikut :

Bagian anggota tubuh

5. Pengertian
Siswaanggota
Tunagrahita
Sedang
Fungsi
tubuh
Siswa Tunagrahita sedang biasa disebut dengan anak mampu latih,
artinya anak masih mampu dilatih keterampilan sesuai kemampuan yang
dimilikinya dengan latihan secara rutin. Kemampuan yang dimiliki Siswa
Tunagrahita sedang adalah kemampuan keterampilan yang sifatnya sederhana.
Anak tunagrahita sedang memiliki IQ antara 20/25-50/55 (Sri Rumini
1987:42). Sementara itu, dari ahli lain juga mempunyai pendapat yang hampir
sama, menurut Astati (1995: 17) Siswa Tunagrahita sedang pada umumnya
dapat mengurus diri, mengerjakan sesuatu yang sederhana dan sifatnya rutin,
bergaul dan berkomunikasi dengan lingkungan terbatas. Ada diantara Siswa
Tunagrahita sedang yang memperlihatkan ciri fisik yang berbeda dengan anak
normal. Perbedaan-perbedaan itu adalah koordinasi motorik yang tidak baik,
kurang keseimbangan, tidak dapat mengucapkan kata dengan jelas sehingga
kesulitan dalam berkomunikasi. Selanjutnya, ditegaskan kembali menurut
Lumban Tobing (2001: 8), Siswa Tunagrahita sedang lambat perkembangan
komprehensi dan penggunaan bahasanya, dan pencapaian bidang ini terbatas.
Pencapaian dalam mengurus diri dan kecakapan motorik juga terlambat dan
beberapa diantara Siswa Tunagrahita sedang yang membutuhkan supervisi
seumur hidup.
Mengutip dari beberapa pendapat di atas, maka penulis menegaskan
bahwa yang dimaksud dengan Siswa Tunagrahita sedang adalah anak yang
mempunyai

hambatan

dalam

berpikir,

mengalami

kelambatan

dalam

perkembangan dan bahasanya, dan keterbatasan dalam kecakapan motoriknya,


sehingga kemampuan yang bersifat akademik sangat kurang, namun masih
dapat diberikan keterampilan sederhana yang bersifat rutinitas.

21

Karakteristik merupakan ciri khusus yang dimiliki anak tunagrahita sedang


yang menunjukkan kondisinya. Kondisi yang ada tersebut berbeda-beda sesuai
dengan keadaan awal anak dan pengaruh di sekeliling anak.
Berawal dari pengetahuan tentang karakteristik ini maka dapat diketahui
dan dipahami kondisinya sehingga akan dapat memberikan penanganan yang
sesuai yang diperlukan oleh anak terutama yang berkaitan dengan akademik.
Moh. Amin (Mumpuniarti, 2000: 42) berpendapat bahwa anak tunagrahita
sedang hampir tidak dapat mempelajari pelajaran akademik, anak tunagrahita
sedang pada umumnya belajar secara membeo, perkembangan bahasanya
sangat terbatas daripada anak tunagrahita ringan. Anak tunagrahita sedang
masih mempunyai potensi untuk dilatih memelihara diri dan beberapa pekerjaan
yang memerlukan latihan secara mekanis. Mengutip dari Mumpuniarti (2007: 25)
karakteristik secara rinci adalah sebagai berikut:
a. Karakteristik fisik, anak tunagrahita sedang

lebih

menampakkan

kecacatannya, penampilannya nyata sekali sebagai anak terbelakang dan


koordinasi motoriknya lemah.
b. Karakteristik psikis, pada umur dewasa anak tunagrahita sedang baru
mencapai kecerdasan setaraf anak normal umur 7 tahun atau 8 tahun. Anak
nampak hampir tidak mempunyai inisiatif, kekanak-kanakan, sering melamun,
atau sebaliknya hiperaktif.
c. Karakteristik sosial, banyak diantara anak tunagrahita sedang yang sikap
sosialnya kurang baik, rasa etisnya kurang, dan nampak tidak mempunyai
rasa terima kasih, rasa belas kasihan dan rasa keadilan.
Ahli lain juga berpendapat yang lebih luas dari karakteristik di atas,
menurut Muhammad Efendi (2006: 98) karakteristik anak tunagrahita sedang
adalah sebagai berikut:
a. Cenderung memiliki kemampuan berpikir konkrit dan sukar berpikir abstrak.
b. Mengalami kesulitan dalam berkonsentrasi.
c. Kemampuan sosialisasinya terbatas.
d. Tidak mampu menyimpan instruksi yang sulit.
e. Kurang mampu menganalisis dan menilai kejadian yang diamati.
f. Kerap kali diikuti gangguan artikulasi bicara.
Perkembangan motorik tidak dapat digunakan sebagai ukuran khusus bagi
perkembangan kognitif. Keterlambatan dalam kecakapan motorik merupakan
presentasi yang umum dijumpai pada gangguan perkembangan. Anak dengan
hendaya (impairment) motorik mungkin mempunyai intelegensi yang normal,
namun keterlambatan di bidang motorik merupakan gejala yang umum dijumpai

22

pada retardasi mental dan sering pula merupakan gejala pendahulu daripada
gangguan belajar (learning disabilities) (Lumban Tobing, 2001: 8).
Beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa anak tunagrahita
mempunyai karakteristik yang unik yang lebih mudah dikenali yakni mempunyai
kecakapan yang rendah baik kecakapan fisik, sosial maupun psikis. Karakteristik
tunagrahita sedang secara fisik menampakkan sekali sebagai anak terbelakang
dengan koordinasi motorik lemah. Karakteristik sosial yang memerlukan arahan
dan bimbingan khusus serta bekal kehidupan yang harus diberikan untuk masa
depannya.
Anak tunagrahita sedang hanya mampu berpikir konkrit sehingga
kemampuan yang dapat dikembangkan yaitu diberikan sedikit pelajaran
menghitung, menulis, dan membaca yang fungsional untuk kehidupan sehari-hari
sebagai bekal mengenal lingkungannya serta latihan-latihan memelihara diri dan
beberapa keterampilan sederhana. Anak tunagrahita sedang dalam melakukan
kecakapan hidup sehari-hari masih membutuhkan bantuan yang intensif dari luar,
memerlukan banyak latihan termasuk latihan untuk meningkatkan kemampuan
motorik halusnya.
6. Pembelajaran

Menjelaskan

Petunjuk

suatu

Alat

melalui

Metode

Demosntrasi dengan Media Telepon


Penggunaan metode demonstrasi dan media telepon dalam pembelajaran
menjelaskan petunjuk merupakan suatu inovasi dalam pembelajaran bahasa
tingkat sekolah menengah pertama luar biasa. Penggunaan metode demonstrasi
dan media telepon, siswa diharapkan lebih mudah menguasai kemampuan
menjelaskan petunjuk. Tujuan yang akan dicapai dalam pembelajaran ini adalah
siswa dapat menjelaskan petunjuk suatu alat dengan bahasa yang sederhana.
Sebuah metode tidak akan berhasil apabila tidak disesuaikan dengan keadaan
dan materi yang akan diajarkan. Untuk itu, peneliti memilih metode demonstrasi
dan media telepon untuk diterapkan dalam pembelajaran menjelaskan petunjuk
penggunaan suatu alat karena menurut peneliti penggunaan metode dan media
tersebut cocok apabila digunakan dalam pembelajaran materi tersebut.
Penggunaan metode demonstrasi dan media telepon diharapkan mampu
mengatasi kesulitan siswa saat menjelaskan penggunaan alat yang berkaitan
dengan telepon.

23

Penggunaan telepon dimaksudkan untuk membantu saat siswa dirangsang


untuk aktif mengamati, menyesuaikan antara teori dengan kenyataan. Kemudian
pemilihan metode demonsrasi agar siswa mengamati atau melihat benda agar
membuat pengajaran menjadi lebih jelas dan konkret. Penerapan metode dan
media telepon dalam pembelajaran menjelaskan petunjuk penggunaan suatu alat
dilakukan dengan beberapa langkah. Langkah pertama siswa mengamati benda
yang diperagakan oleh guru. Kemudian secara bergantian siswa diminta untuk
memperagakan benda tersebut secara bergantian.
C. Hipotesis Penelitian
Berdasarkan uraian di atas, hipotesis penelitian tindakan kelas ini adalah
kemampuan menjelaskan petunjuk suatu alat siswa tunagrahita ringan SMPLB-C
Jakarta akan meningkat dan terjadi perubahan perilaku positif setelah dilakukan
pembelajaran menjelaskan petunjuk suatu alat melalui metode demonstrasi
dengan media telepon.

BAB III
METODE PENELITIAN
A. Desain Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian ini
berbasis kelas yang melibatkan beberapa komponen, yaitu guru, siswa, materi
pembelajaran, media pembelajaran, dan strategi pembelajaran. Semua itu
terangkum dalam proses pembelajaran.
Penelitian tindakan kelas merupakan suatu bentuk penelitian yang
bersifat reflektif dengan melakukan tindakan-tindakan tertentu agar dapat

24

memperbaiki

dan

meningkatkan

praktik

pembelajaran

di

kelas

secara

profesional.
Melalui penelitian ini dapat dilihat perubahan-perubahan yang terjadi
dalam pembelajaran sehingga diharapkan tujuan pembelajaran akan tercapai
secara maksimal. Penelitian yang akan dilakukan adalah penelitian tindakan
kelas dengan menggunakan dua siklus. Tiap siklus terdiri atas empat tahap, yaitu
perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Pada tahap perencanaan,
peneliti menyusun rancangan mengajar, termasuk mempersiapkan rencana
pelaksanaan pembelajaran (RPP).
Selanjutnya peneliti melakukan

kegiatan

pembelajaran

dengan

melaksanakan tindakan yang akan dilakukan pada penelitian. Setelah dilakukan


tindakan, peneliti melakukan observasi terhadap kegiatan pembelajaran yang
telah dilakukan.
Tahap terakhir peneliti melakukan refleksi kegiatan-kegiatan yang telah
dilakukan. Kelebihan yang ada pada siklus I akan dipertahankan, sedangkan
kekurangan dalam siklus I akan diperbaiki pada siklus II. Tripp (dalam
Subyantoro 2012: 34), proses penelitian tindakan kelas dengan menggunakan
dua siklus.
Sesuai dengan jenis penelitian yang dipilih, yaitu penelitian
tindakan, maka penelitian ini menggunakan model penelitian tindakan dari
Kemmis dan Taggart (dalam Sugiarti, 1997: 6), yaitu berbentuk spiral dari
siklus yang satu ke siklus yang berikutnya. Setiap siklus meliputi planning
(rencana), action (tindakan), observation (pengamatan), dan reflection
(refleksi). Langkah pada siklus berikutnya adalah perencanaan yang
sudah direvisi, tindakan, pengamatan, dan refleksi. Sebelum masuk pada
siklus 1 dilakukan tindakan pendahuluan yang berupa identifikasi
permasalahan. Siklus spiral dari tahap-tahap penelitian tindakan kelas
dapat dilihat pada gambar berikut :
Refleksi Awal

Perencanaan Tindakan
1
Pelaksanaan
Tindakan O
1 bservasi 1

Reflkesi 1

Perencanaan Tindakan
2
Pelaksanaan
Tindakan O
2 bservasi 2

Refleksi 2

25

Gambar 3.1 Bagan Siklus PTK Model Modifikasi Depdiknas (2010) Dari
Model Kemmis dan Taggart (1988)
B. Prosedur Penelitian
1. Pra-penelitian/Refleksi Awal
Pada

tahap

prapenelitian,

peneliti

melaksanakan

beberapa

kegiatan, diantaranya:
a
b

Mengumpulkan data obyektif sekolah


Melakukan tes awal, tes awal dilakukan untuk mengetahui kemampuan siswa
sebelum melakukan pembelajaran dengan menerapkan penggunaan media

Kotak Ajaib.
Melakukan analisis data hasil tes untuk digunakan dalam perencanaan

tindakan dengan menyusun perangkat pembelajaran.


d Mencatat faktor-faktor penyebab terjadinya masalah dari guru kelas.
e Mendiskusikan semua data dan fakta hasil prapenelitian dengan kolaborator.
2. Penelitian Tindakan
Penelitian Tindakan ini akan ditempuh dalam 2 siklus. Apabila
belum tercapai akan dilanjutkan siklus berikutnya, Selanjutnya tiap-tiap
siklus akan ditempuh melalui prosedur sebagai berikut :
a. Perencanaan Tindakan
1) Perangkat Pembelajaran
a) Silabus Pembelajaran
Silabus pelajaran matematika kelas 4 Semester 1 yang tahun
pelajaran 2015/2016 dengan kurikulum KTSP yang mengacu pada
silabus yanng berkarakter.
b) Program Semester
Program yang berisi rencana pembelajaran dalam waktu satu
semester, dengan mempersiapkan waktu untuk penelitian tindakan
kelas dalam rangka penyusunan skripsi.
c) Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Rencana pelaksanaan
pembelajaran yang dibuat untuk mengatasi masalah yang timbul
dengan menerapkan penggunaan media Kotak Ajaib secara tepa
dengan menyusun langkah demi langkah secara sistematis dan
terukur.

26

d) Lembar Bahan Ajar. Lembar bahan ajar yang disusun berdasarkan


pada penggunaan media Kotak Ajaib untuk menjawab permasalahan
yang timbul dari pembelajaran yang telah dilakukan sebelumnya.
e) Lembar Kerja Siswa (LKS). Lembar kerja yang digunakan untuk
latihan siswa dalam memperdalam pemahaman tentang materi yang
f)

diajarkan.
Media dan Alat Pembelajaran. Media digunakan untuk memperjelas

pengertian siswa terhadap materi yang diberikan


g) Kisi-kisi Soal. Kisi-kisi soal untuk membuat soal agar terarah dan
sesuai dengan tujuan pembelajaran.
b. Pelaksanaan Tindakan
1) Kegiatan Awal
Pada tahap ini guru membuka pembelajaran, dengan upaya
menciptakan suasana kelas agar perhatian ada di kelas, menciptakan
atmosfir kelas dengan nyaman, aman serta menyenangkan, diawali
dengan bernyanyi bersama, tentu tema lagu dipilih yang akan
bersentuhan dengan tema yang akan dipelajari bersama.
Pada kelas tunagrahita guru tidak berceritera panjang, karena
bahasa yang digunakan guru selalu disesuaikan dengan kondisi anak,
bahasa yang dugunakan singkat, padat serta mudah dipaham. Selain itu
menciptakan motivasi bagi siswa guru sering pula menggunakan bunyibunyian untuk mengalihkan perhatian anak agar terpusat pada aktivitas
pembelajaran.
2) Kegiatan Inti
Pada tahap ini yang merupakan kegiatan pokok tema dan sub tema
dibahas melalui berbagai kegiatan dengan menggunakan bermacam
model seperti make a match, atau picture and Picture agar pembelajaran
diharapkan dapat bermakna.
Menjelaskan pembelajaran di SLB untuk anak tunagrahita guru
memiliki banyak alat praga, hal ini mengingat anak tunagrahita
mempunyai hambatan berfikir abstrak. Untuk menjelaskan bulat ataupun
bentuk lain siswa dihadapkan dengan alat peraga atau dapat pula dengan
benda konkrit. Misal menjelaskan akar pohon tidak jarang pembelajaran
berlangsung di halaman sekolah atau guru membawa bunga dalam pot
hanya untuk menerangkan akar, atau menjelaskan rasa asin, manis dan
asam guru sering membawa garam,gula atau asam jawa agar anak

27

merasakan dan dapat membedakan berbagai rasa. Anak yang dinilai


pengetahuannya lebih dari yang lain kadang turut membantu guru dalam
menjelaskan pembelajaran.
Bagi anak yang mempunyai

gangguan

konsentrasi

berat

merupakan agenda guru untuk mempertahankan konsentrasi belajarnya.


Di dalam kelas tunagrahita walaupun mereka belajar dengan tema yang
sama. Tetapi tingkat kedalaman serta keluasan dari tema tersebut
berbeda,

karena

kelas

untuk

tunagrahita

dilakukan

dengan

pengelompokkan usia kronologis, tetapi tidak usia mental. Misalnya


dalam matematika: seorang anak telah memahami penggunaan mata
uang sampai Rp.5000,-, dan yang seorang lagi baru paham pengunaan
mata uang sampai Rp. 1000,- semua indikator ini tentu dilakukan melalui
asesmen sebelum perencanaan pembelajaran dirumuskan.
Menciptakan atmosfir kelas agar selalu kondisif merupakan tugas
berat seorang guru pendidikan berkebutuhankhusus, selain itu tantangan
lainnya

bagaimana

mempertahankan

akan

memperpanjang

daya

komsentrasi setiap siswa yang ada di kelas, karena itu upaya berbagai
aktivitas dilakukan seperti : bermain peran, mengamati dsb.
Pembelajaran ditingkat Tunagrahita sedang ( C1) secara oprasional
hampir tidak memiliki jadwal pelajaran, tema-tema diangkat berdasarkan
topik-topik yang disesuaikan dengan kebutuhan anak, dan tema dapat
dilanjutkan pada jam pelajaran selanjutnya.
3) Kegiatan Akhir
Kegiatan akhir dapat diartikan sebagai kegiatan yang dilakukan
untuk mengakhiri pembelajaran yang bertujuan untuk memberikan
gambaran menyeluruh tentang apa yang telah dipelajari siswa dan
keterkaitannya dengan pengalaman sebelum pembelajaran diberikan,
pada bagian ini pula diharapkan diketahuinya tingkat keberhasilan siswa
dan keberhasilan guru dalam memberikan bimbingan pembelajaran. Cara
yang dapat dilakukan diantaranya meninjau kembali dan mengadakan
evaluasi pada akhir pembelajaran.
Dalam evaluasi guru dapat dapat menggunakan bentuk-bentuk
mendemontrasikan keterampilan dan mengaplikasikan gagasan-gagasan
baru pada situasi lain, mengekpresikan pendapat siswa. Vorgaty (2001:7)

28

Assesmen dapat dilakukan dengan cara kolaboratif antara guru dan


siswa, khusus untuk tunagrahita ringan, dilakukan secara formal dan
informal. Formal asesmen dapat berupa test khusus, juga data dari ahli
lainnya, seperti psycholog atau Dokter sedangkan secara imformal
berupa kemajuan siswa yang dilakukan melalui catatan anekdot,
observasi, diskusi kelompok, refleksi dan laporan kelompok belajar. Hal
tersebut dapat dilakukan pada sebagian anak tunagrahita dengan
tingkatan ringan, sedangkan untuk anak katagori sedang mendkati berat.
Tahap akhir dilakukan evaluasi. Evaluasi dalam pembelajaran
tematik tidak berbeda dari evaluasi untuk kegiatan pembelajaran
konvensional.

(Raka

Joni,1996:16),

karena

itu

asas-asas

yang

diperhatikan dalam evaluasi pembelajaran konvensional berlaku pula


pada pembelajaran tematik. Walaupun ada perbedaan hanya pada
penekanan proses dan upaya pembentukan nurturant effect. Penilaian
yang dilakukan untuk melihat hasil belajar anak tunagrahita tentu
mempunyai perbedaan dengan anak pada umumnya, tidak sedikit anak
mempunyai gangguan komunikasi verbal, ataupun tulisan, sehingga
penilaian kadang kala dengan perbuatan atau komunikasi lisan.
c. Observasi
1) Situasi kegiatan belajar mengajar.
2) Keaktifan serta motivasi siswa
3) Kemampuan siswa dalam memahami pembelajaran dengan bantuan
penggunaan media Kotak Ajaib.
4) Tingkat kolaborasi antara guru dan siswa dalam kegiatan pembelajaran.
Penguasaan

guru

dalam

melaksanakan

pembelajaran

dengan

pendekatan realistik melalui penggunaan media Kotak Ajaib.


d. Refleksi
1) Melakukan evaluasi terhadap hasil pembelajaran
2) Melakukan diskusi hasil tindakan bersama tim kolaborasi
3) Mengelompokan komponen hipotesis tindakan yang belum
4) Terpecahkan
A Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpuan data yang digunakan dalam penelitian ini
bertujuan untuk memperoleh data tentang peningkatan aktivitas belajar
dengan media Kotak Ajaib, maka alat pengumpulan data dalam penelitian
tindakan kelas ini harus tepat.

29

Yang dimaksud teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah


mekanisme pengumpulan data yang dilakukan oleh peneliti terhadap sumber
data atau responden yang tersusun dengan baik serta disesuaikan dengan
tujuan penelitian, misalnya melalui teknik observasi, serta teknik literature.
Teknik pengumpulan data tersebut dipergunakan secara beruntun guna saling
melengkapi atau bersifat komplementer.
1

Observasi
Teknik observasi ini digunakan untuk mengamati secara langsung
kepada objek penelitian. Untuk mengkaji upaya meningkatkan hasil
belajar dan aktivitas siswa tentang materi energi dan perubahannya pada
pelajaran IPA melalui penerapan media Kotak Ajaib di kelas IV SMPLB C
Cahaya Jaya.
2

Kepustakaan
Kepustakaan yaitu penelitian yang data informasinya diperoleh
dari sumber pustaka atau bacaan baik berupa buku-buku referensi hasil
penelitian dan bahan bacaan lainnya yang berhubungan dengan
penelitian tindakan kelas. Dalam teknik kepustakaan ini penulis gunakan
untuk pengumpulan data-data yang bersumber pada buku-buku. Data ini
merupakan data-data yang dapat dijadikan referensi atau landasan
berpijak dalam rangka penyusunan penelitian tindakan kelas.

Tes
Tes kemampuan belajar matematika diberikan untuk mengetahui
sejauh mana hasil belajar siswa. Tes ini diberikan setiap akhir siklus atau
biasa di sebut tes formatif. Tes formatif dari setiap siklus dilihat hasilnya
untuk mengetahui perkembangan hasil belajar siswa contohnya berupa
lembar evaluasi siswa.

Dokumentasi
Teknik pengumpulan data ini digunakan untuk mengumpulkan
data dari sumber informasi berbentuk tulisan dan bentuk visual lain yang
bertujuan untuk memperoleh data tambahan tentang permasalahan yang
akan dibahas dengan sasaran utama rancangan kegiatan pembelajaran
disamping dokumen lain yang berisi informasi tentang sumber daya
sarana prasarana pendukung.

30

B Instrumen Pengumpulan Data


Dalam penelitian tindakan kelas Ini peneliti menggunakan
instrument yang terdiri dari:
Instrumen observasi Aktivitas Belajar siswa terlampir
Tabel 3.2 Kisi-kisi Pengamatan Perubahan Aktivitas Belajar Siswa

NO
1
2
3
4
5
6
7
8

Indikator
Antusiasme
siswa
dalam
pembelajaran
Interaksi siswa dengan guru
Interaksi antar siswa
Kerjasama kelompok
Aktivitas siswa dalam diskusi
kelompok
Usaha siswa dalam mengikuti
pembelajaran
Siswa mengerjakan tugas atau
menggunakan alat
Partisipasi
siswa
dalam
menyimpulkan
materi
pembelajaran
Jumlah

Nilai
3

Jumlah

2
3

3
2
1

3
4

2
1

Keterangan

4
2

19
59,38

Keterangan :
4
= Mandiri
3
= Dengan Bantuan Minimal
2
= D engan Bantuan Maksimal
1
= Siswa tidak menunjukkan Perilaku
C Indikator Keberhasilan Penelitian
Indikator keberhasilan penelitian ini berdasarkan pada Kriteria
Ketuntasan Minimal (KKM) berdasarkan pada hasil kesepakatan guru dan
kepala sekolah. Indikator keberhasilan penelitian bersifat kuantitatif
1. Indikator individu (persiswa) minimal mencapai Kriteria Ketuntasan
Minimal (KKM) yang ditetapkan yaitu 60
2. Indikator klasikal minimal 75% dari jumlah siswa mencapai Kriteria
D

Ketuntasan Minimal (KKM).


Analisis Data
Data

yang

dikumpulkan

pada

setiap

kegiatan

observasi

dari

pelaksanaan siklus PTK dianalisis secara deskriptif dengan menggunakan


teknik persentase untuk melihat kecenderungan yang terjadi dalam kegiatan
pembelajaran.
Analisis data yang digunakan adalah statistik deskriptif sederhana
dengan langkah-langkah sebagai berikut :

31

Mentabulasi data hasil obserfvasi dan penilaian tes, serta memperoleh


nilai rata-rata (means) dengan rumus :
X=

X 1 x 100
n

Keterangan = X = nilai rata-rata atau presentase


X1 = nilai X ke satu sampai ke n
N = Jumlah siswa
2
3

Menganalisis tingkat keaktifan siswa dalam PBM


Implementasi tindakan (treatment) dalam pembelajaran:

menganalisis tingkat keberhasilannya.


Menyusun Tabel Distribusi Frekuensi (TDF) menggunakan aturan

Sturges.
Membuat diagram Histogram/Polygon dan Piechart.

dengan

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian
Hasil penelitian meliputi dua fase yaitu data hasil pra-penelitian (prasiklus)
dan data hasil penelitian siklus.
1 Hasil Pra-Penelitian SMPLB C Cahaya Jaya Jakarta.
Data hasil pra-penelitian ini merupakan data awal yang dilakukan oleh
peneliti yang merupakan bahan dasar yang dijadikan sebagai acuan untuk
melakukan tindakan penelitian. Data awal yang diperoleh peneliti ini adalah
tentang jumlah siswa yang terdapat dalam kelas IV sebagai berikut:
Tabel 4.1
Data Jumlah Siswa Kelas IV SMPLB C Cahaya Jaya
Jakarta

Kelas
Kelas IV
Persentase

Jumlah Siswa

Total

Laki-laki

Perempuan

75%

25%

100%

Gambaran dari tabel di atas menunjukkan bahwa kelas IV merupakan


kelas yang hampir mayoritas siswanya adalah laki-laki yaitu berjumlah 3 siswa
dengan presentase 75%, sedangkan sisanya adalah perempuan sebanyak 1

32

siswa dengan presentase 25%, dan jumlah keseluruhan kelas IV sebanyak 4


siswa.
Sebelum

dilaksanakan

tindakan

dalam

siklus

penulis

melakukan

pengamatan terhadap kemampuan merawat diri. Pembelajaran tematik dengan


tema kebersihan diawali dengan kegiatan mengenal alat indera dan fungsinya.
Selama kegiatan berlangsung siswa tampak kebingungan dan seringkali gagal
mencapai indikator yang diharapan dalam merawat diri khususnya asesmen
kebersihan badan.
Hasil pengamatan kemampuan merawat diri selama pembelajaran
sebelum tindakan digambarkan sebagai berikut :
Tabel 1. Kemampuan Merawat diri Siswa Tunagrahita sedang Selama
Pembelajaran Sebelum Tindakan (pra siklus )
No
1
2
3
4

Nama Siswa
Subjek 1
Subjek 2
Subjek 3
Subjek 4
Jumlah
Rata-Rata

Nilai Akhir
45
50
60
60
215
53,75

Berdasarkan tabel tampak bahwa hampir di semua latihan pencapaian


indikator dalam merawat diri sebelum diadakannya tindakan siswa masih
memerlukan bantuan maksimal. Berdasarkan taraf pencapaian indikator masuk
dalam kategori kurang dengan persentase 53,75%. Untuk lebih jelas di bawah
hasi belajar siswa dapat ditunjukkan dengan grafik sebagai berikut :

Diagram Kemampuan Merawat Diri


80
60

45

50

60

60

Subjek 3

Subjek 4

40
20
Subjek 1

Subjek 2

Diagram 4.1. Kemampuan Merawat Diri

33

Selama kegiatan pembelajaran merawat diri dan fungsi alat indera siswa
tampak lebih kesulitan. Siswa gagal mengintepretasikan perintah dalam latihan
merawat diri dan fungsi alat indera, siswa tampak kebingungan dan berkali- kali
guru/peneliti memberikan bantuan maksimal selama latihan berlangsung.
Secara keseluruhan Aktivitas selama pembelajaran sebelum diadakannya
tindakan adalah sebagai berikut :
Tabel 2. Aktivitas Siswa Tunagrahita sedang Selama Pembelajaran
Sebelum Tindakan ( Pra Siklus )

No

Nama
Siswa

Siswa 1

Siswa 2

Siswa 3

Siswa 4
Jumlah
Rata-rata
Kategori

Indikator
4
5

Jml
6

1,75

2,25

Nilai
Akhir

19

59,38

17

53,13

12

37,50

12

37,50

60

187,50

15

46,88

Berdasarkan tabel tampak bahwa hampir di semua aspek aktivitas sebelum


diadakannya tindakan siswa masih memerlukan bantuan maksimal. Nilai ratarata aktivitas belajar siswa rata-rata mencapai 46,88.
Untuk indikator Antusiasme siswa dalam pembelajaran (1), Interaksi siswa
dengan guru (2), Interaksi antar siswa (3), Aktivitas siswa dalam diskusi
kelompok (5), Siswa mengerjakan tugas atau menggunakan alat (8), dan
Partisipasi siswa dalam menyimpulkan materi pembelajaran menunjukkan
kategori cukup. Sedangkan indikator 4 yaitu kerja sama dan indikator 6 yaitu
Usaha siswa dalam mengikuti pembelajaran masih sangat kurang.

34

Aktivitas Belajar Siswa


70.00
60.00
50.00
40.00
30.00
20.00
10.00
-

59.38

Subjek 1

53.13

Subjek 2

37.50

37.50

Subjek 3

Subjek 4

Gambar 4.2 Aktivitas Belajar Siswa


Berdasarkan grafik di atas dapat dijelaskan bahwa aktivitas tertinggi
diperoleh oleh siswa nomor 1 dengan nilai rata-rata 59,39 dan peringkat kedua
diperoleh siswa nomor 2 dengan nilai rata-rata 53,13 sedangkan siswa ke 3 dan
siswa ke 4 memperoleh nilai masing-masing 37,50.
2

Hasil Penelitian Tindakan Siklus 1


Tindakan dalam siklus I untuk materi merawat diri dan fungsi alat indera

dilaksanakan dalam satu kali pertemuan. Kegiatan dalam pertemuan siklus I guru
menggunakan media kardus ajaib untuk mengembangkan model pembelajaran
tematik pada tema kebersihan : latihan meletakkan gambar / gambar alat-alat
indera dan hubungannya dengan kebersihan badan, seperti mencuci tangan,
membersihkan muka, menyikat gigi, tata cara mandi, mencuci rambut,
membersihkan mata, membersihkan telinga, membersihkan kuku, menggunting
kuku.
Selama kegiatan pembelajaran berlangsung siswa tampak antusias dan
menunjukkan ketertarikannya terhadap gambaran dalam media Kotak Ajaib.
Kegiatan dalam pembelajaran tampak sangat menyenangkan meskipun dalam
setiap latihan siswa masih memerlukan bantuan.
Secara

keseluruhan

hasil

pengamatan

aktivitas

belajar

pada

pembelajaran tematik tema kebersihan selama pembelajaran dalam tindakan


siklus I dapat digambarkan sebagai berikut.
Tabel 3. Kemampuan Merawat diri Siswa Tunagrahita Sedang Selama
Pembelajaran Tindakan Siklus I

35

No
1
2
3
4

Nama Siswa
Subjek 1
Subjek 2
Subjek 3
Subjek 4
Jumlah
Rata-Rata

Nilai Akhir
60
55
65
60
60
60

Berdasarkan tabel tampak bahwa hampir di semua latihan pencapaian


indikator dalam merawat diri dan fungsi alat indera selama tindakan siklus I siswa
masih memerlukan bantuan maksimal untuk identifikasi posisi ruang terhadap
ruang yang lain dan identifikasi tempat terhadap tempat yang lain dengan benar.
Pencapaian indiator masuk dalam kategori cukup dengan persentase 60%.
Berdasarkan data di atas dapat digambarkan diagram kemampuan siswa
merawat diri dan mengenal alat indera sebagai berikut :
Diagram 4.3. Kemampuan Merawat diri dan mengenal alat Indera

Diagram Kemampuan Merawat Diri


70
65
60

65
60

60
55

55
50
Subjek 1

Subjek 2

Subjek 3

Subjek 4

Berdasarkan diagram di atas dapat dijelaskan bahwa siswa ke 3


memperoleh nilaitertinggi 65, siswa kedua dan keempat memperoleh nilai 60,
dan siswa nomor 2 mendapat nilai 55.
Tindakan dalam siklus I untuk tema kebersihan khususnya merawat diri
dan fungsi alat indera dilaksanakan dalam satu kali pertemuan. Kegiatan dalam
siklus

tersebut

meliputi:

melakukan

persepsi

penglihatan,

perabaan,

pengecapan, dan kemampuan sensorimotor, latihan memasangkan gambar,


kemampuan berbahasa baik bicara, menulis dan menggunakan alat-alat tulis.

36

Bermain

bersama,

menjalankan

perintah,

kemampuan

kognitif

yang

dikebanhgkan mengerti cara merawat diri dan anggota badan, mengarti angka
dan ukuran. Khusus pada aspek kemampuan menggunakan alat keterampilan
seperti menggunting, memotongg, memelihara pakaian dikembangkan sesuai
dengan tema kebersihan..
Selama kegiatan pembelajaran siswa sangat antusias ketika kegiatan
memanfaatkan Kotak Ajaib. Pada setiap indikator memasangkan gambar siswa
masih memerlukan bantuan maksimal terutama dalam praktek menggunakan
alat tulis. Guru/ Peneliti berkali-kali harus mengulang penjelasan untuk
mengatasi kesulitan siswa terutama menerjemahkan penggunaan alat peraga
Kotak Ajaib dengan pengembangan yang sebenarnya.
Secara keseluruhan kemampuan merawat diri selama pembelajaran
dalam tindakan siklus I adalah sebagai berikut:
Tabel. 4. 4 Aktivitas Siswa Tunagrahita Sedang Selama Pembelajaran
Tindakan Siklus I

No

Nama Siswa

Indikator

Jml

Nilai
Akhir

Siswa 1

20

62,50

Siswa 2

18

56,25

Siswa 3

18

56,25

Siswa 4

18

56,25

Jumlah

11

11

10

74

231,25

Rata-rata

2,75

2,75

2,25

2,25

2,5

18,5

57,81

Kategori

Berdasarkan tabel tampak bahwa hampir di semua latihan pencapaian


indikator dalam merawat diri selama tindakan siklus I siswa masih memerlukan
bantuan maksimal. Pencapaian indikator masuk dalam kategori Cukup dengan
persentase 57,81 .
Untuk indikator Antusiasme siswa dalam pembelajaran (1), Interaksi siswa
dengan guru (2), Interaksi antar siswa (3), kerja sama dan indikator (4), Aktivitas
siswa dalam diskusi kelompok (5), Usaha siswa dalam mengikuti pembelajaran
(6), Partisipasi siswa dalam menyimpulkan materi pembelajaran (7) Siswa
mengerjakan tugas atau menggunakan alat (8), dan menunjukkan kategori
cukup.

37

Di bawah ini disajkan diagram aktivitas belajar siswa sebagai berikut ;


Diagram 4.3. Aktivitas Belajar Siswa

Aktivitas Belajar Siswa


64.00
62.00
60.00
58.00
56.00
54.00
52.00

62.50

56.25

56.25

56.25

Subjek 1 Subjek 2 Subjek 3 Subjek 4

Dari diagram di atas dapat disimpulkan bahwa perolehan nilai aktivitas


belajar siswa tertinggi diperoleh siswa subjek 1 dengan nilai 62,50, sementara
siswa kedua, ketiga dan keempat memperoleh nilai akytivitas sebesar 56,25.
3. Refleksi Tindakan Siklus I
Berdasarkan uraian hasil pelaksanaan tindakan pada siklus I terdapat
factor pendukung yaitu : 1) Semangat dan sikap antusias siswa terhadap
pelaksanaan pembelajaran, 2) Kemampuan bekerja sama dengan siswa cukup
memadai dan 3) Kemampuan memanfaatkan alat tulis yang cukup memadai.
Adapun faktor penghambat dalam pelaksanaan tindakan pada siklus I
adalah sebagai berikut :1)Pembentukan kemampuan memelihara diri, seperti
makan dan minum sendiri, berpakaian sendiri, menggunakan kamar mandi
masih memerlukan bantuan, 2) Kemampuan menterjemahkan ruang- ruang
dalam gambar denah masih memerlukan bantuan. Berdasarkan faktor
pendukung dan penghambat pelaksanaan tindakan sikus I maka rencana
tindakan untuk siklus II adalah sebagai berikut: 1)Mengadakan pendampingan
seefektif mungkin, 2)Menambah waktu latihan pembentukan konsep ruang dan
latihan persepsi motor dalam membaca dan memelihara diri, 3) Memisah atau
memecah perintah atau kegiatan lebih sederhana lagi dan Memodifikasi Kotak
Ajaib.
1. Hasil Tindakan Siklus II
Tindakan dalam siklus II untuk materi membaca dan mengenal alat indera
dilaksanakan

dalam

dua

kali

pertemuan.

Setiap

pencapaian

indikator

38

menerapkan hasil refleksi siklus I yaitu: mengadakan pendampingan seefektif


mungkin, menambah waktu latihan pembentukan konsep ruang dan latihan
persepsi motor dalam membaca dan mengenal alat indera dengan Kotak Ajaib,
memisah atau memecah perintah atau kegiatan lebih sederhana lagi dan dengan
memodifikasi kartu denah.
Pendampingan dilakukan seefektif mungkin dengan cara memaksimalkan
fungsi monitoring dan sesegera mungkin melakukan pembetulan apabila terjadi
kesalahan tanpa mengabaikan aspek kemandirian siswa dengan menambah
waktu

latihan.

Penambahan

waktu

latihan

dilakukan

dengan

jalan

memperpanjang jam pertemuan pembelajaran menjadi dua kali pertemuan.


Memisah atau memecah perintah atau kegiatan menjadi lebih sedehana
dilakukan dengan jalan menyusun kembali urutan kegiatan pembelajaran
merawat diri dan fungsi alat indera dalam siklus I.
Selama pembelajaran merawat diri dan fungsi alat indera pada siklus II
siswa tampak lebih percaya diri dan mendapat penggambaran yang jelas tentang
alat indera dan fungsinya dengan Kotak ajaib. Setiap kegiatan tampak lebih
menyenangkan terutama ketika siswa berhasil mencapai indikator alat indera
meskipun masih memerlukan bantuan minimal dari guru atau peneliti.
Hasil pengamatan selama pembelajaran Aktivitas selama tindakan siklus
II dapat digambarkan sebagai berikut :
Tabel 4. 5. Kemampuan Merawat diri dan mengenal alat Indera Tunagrahita
Sedang Selama Pembelajaran Siklus II

No
1
2
3
4

Nama Siswa
Subjek 1
Subjek 2
Subjek 3
Subjek 4
Jumlah
Rata-Rata

Nilai Akhir
75
65
80
70
290
72,5

Berdasarkan tabel tampak bahwa hampir di semua latihan pencapaian


indikator dalam merawat diri dan fungsi alat indera selama tindakan siklus II
siswa masih memerlukan bantuan minimalmeskipun ada beberapa indikator

39

sudah dapat bekerja secara mandiri

untuk identifikasi cara menjaga dan

merawat diri dengan benar. Taraf pencapaian indikator masuk dalam kategori
baik dengan persentase 72,5.
Berdasarkan tabel di atas maka dapat digrambarkan dalam bentuk
diagram sebagai berikut :

Diagram 4.4. Kemampuan Merawat diri dan mengenal alat Indera


Diagram Kemampuan Merawat Diri
100
80

75

80
65

70

60
40
20
-

Berdasarkan diagram di atas dapat dijelaskan bahwa siswa ke 3


memperoleh nilai tertinggi 80, siswa kesatu meperoleh nilai 75, siswa kedua
memperoleh nilai 60 dan siswa keempat memperoleh nilai 70.
Selama kegiatan mengenal alat indera dalam siklus II siswa tampak telah
menguasai konsep merawat diri dan mengenal alat indera dengan bantuan kotak
ajaib. Bantuan secara minimal diberikan ketika model atau penampang alat
indera tersebut dihubungkan dengan fungsi alat tubuh dan cara merawatnya.
Secara keseluruhan kemampuan merawat diri dan mengenal alat indera
selama pembelajaran dalam tindakan siklus II adalah sebagai berikut:
Tabel 4. 6. Kemampuan Merawat diri Siswa Tunagrahita Sedang Selama
Pembelajaran Tindakan Siklus II
No

Nama Siswa

Indikator

Jml

Nilai
Akhir

40

1
2
3
4

Siswa 1
Siswa 2
Siswa 3
Siswa 4
Jumlah
Rata-rata
Kategori

22

24

21

21

12

11

16

14

88

2,25

2,75

2,25

3,5

2,25

22

68,75
75,00
65,63
65,63
275,00
68,75

Berdasarkan tabel tampak bahwa hampir di semua latihan pencapaian


indikator dalam mengenal alat indera pada tindakan siklus II siswa masih
memerlukan bantuan minimal untuk pencapaian indikator mendeskrisikan alat
indera dan cara merawatnya, Pencapaian indikator masuk dalam kategori baik
terdapat pada indikator Interaksi siswa dengan guru (2), Kerjasama kelompok
(4), dan Usaha siswa dalam mengikuti pembelajaran (6). Dari tabel di atas dapat
diperileh nilai rata-rata aktivitas belajar siswa sebesar 68,75.
Berdasarkan tanel di atas maka dapat disajikan diagram aktivitas belajar
siswa pada Siklus II sebagai berikut ;
Diagram 4.5. Aktivitas Belajar Siswa

Aktivitas Belajar Siswa


80.00
75.00

75.00
70.00

68.75
65.63

65.63

65.00
60.00
Subjek 1 Subjek 2 Subjek 3 Subjek 4

Dari diagram di atas dapat disimpulkan bahwa perolehan nilai aktivitas


belajar siswa tertinggi diperoleh siswa subjek 2 dengan nilai 75,00, sementara
siswa subjek 1 memperoleh nilai 68,75 dan siswa ketiga dan keempat
memperoleh nilai aktivitasmasing-masing sebesar 65,63.
2. Refleksi Tindakan Siklus II
Pada siklus II siswa semakin terkondisi dengan pemanfaatan Kotak Ajaib
dalam membantu siswa meningkatkan kemampuan merawat diri dan mengenal

41

alat indera. Kemampuan siswa dalam merawat diri dan mengenal alat indera
mencapai kategori baik ditunjukkan dengan kemajuan pencapaian indikator
membaca dan mengenal alat indera selama pembelajaran dan peningkatan test
dalam membaca dan mengenal alat indera.
Indikator Antusiasme siswa dalam pembelajaran (1), Interaksi siswa
dengan guru (2), Interaksi antar siswa (3), kerja sama dan indikator (4), Aktivitas
siswa dalam diskusi kelompok (5), Usaha siswa dalam mengikuti pembelajaran
(6), Partisipasi siswa dalam menyimpulkan materi pembelajaran (7) Siswa
mengerjakan tugas atau menggunakan alat (8), dan menunjukkan kategori cukup
B. Pembahasan
Pada siklus I siswa tampak tertarik dalam mengikuti pembelajaran hal ini
menjadikan modalitas yang sangat baik untuk mengembangkan minat siswa
untuk belajar membaca dan mengenal alat indera dengan memanfaatkan media
Kotak Ajaib. Media Kotak Ajaib merupakan media yang baru diguanakan oleh
siswa Tunagrahita ringan di SMPLB Cahaya Jaya Jakarta. Bentuk 3 dimensi
dalam Kotak ajaib memberikan gambaran yang nyata tentang merawat diri.
Kemudian jenis alat indera dalam Kotak ajaib digambarkan kembali oleh siswa.
Perbandingan taraf pencapaian indikator merawat diri dan fungsi alat indera
selama pembelajaran sebelum tindakan dan setelah tindakan siklus pertama
adalah sebagai berikut :
Tabel 4. 7. Perbandingan Kemampuan merawat diri siswa Tunagrahita
Sedang Sebelum Tindakan dan setelah tindakan siklus I
No
1
2
3

Siklus
Prasiklus
Siklus I
Siklus II

Nilai
53,75
60
72,5

Keterangan

Berdasarkan tabel tampak siswa mengalami kemajuan dalam belajar


yang ditunjukkan dengan adanya peningkatan taraf pencapaian indikator
pembelajaran merawat diri dan fungsi alat indera. Namun demikian pencapaian
indikator

masih

kemandirian

belum

dalam

memuaskan

mengerjakan

karena

tugasnya.

siswa

belum

menunjukkan

Faktor

yang

menghambat

42

kemandirian siswa dalam mengerjakan tugas membaca pada siklus I adalah


kurangnya kemampuan siswa dalam memahami fungsi alat indera.
Kemampuan

memahami

dikembangkan

dengan

menggunakan

model

cara
Kotak

fungsi

latihan
Ajaib.

alat

indera

penanaman
Kesulitan

seharusnya

konsep

muncul

dapat

alat

indera

terutama

dalam

menerapkan langkah-langkah pembelajaran tematik dan penggunaan Kotak


Ajaib. Kondisi ini menjadi refleksi untuk pelaksanaan tindakan pada siklus dua
yaitu dengan mengadakan perpanjangan waktu latihan persepsi motoris dalam
merawat diri dan mengenal alat indera serta fungsinya dengan Model Kotak
Ajaib dan pendampingan yang lebih intensif lebih kompleks dan proporsional.
Berdasarkan tabel di atas maka dapat disajikan diagram kemampauan
merawat diri dan mengenal alat indera selama pembelajaran tematik
berlangsung sebagai berikut :
Diagram 4.6. Kemampuan Merawat Diri dan Mengenal Alat Indera.
Diagram kemampuan merawat diri dan mengenal alat indera
80.00
70.00
60.00
50.00
40.00
30.00
20.00
10.00
-

72.50
53.75

60.00
Series 1

Prasiklus

Siklus 1

Siklus II

Adapun perbandingan aktivitas belajar siswa tentang penggunaan


media kotak ajaib pada pembelajaran tematik tema kebersihan untuk
meningkatkan aktivitas belajar siswa tunagrahita sedang di SMPLB C Cahaya
Jaya Jakarta adalah sebagai berikut:
Tabel 4. 8. Aktivitas Siswa Tunagrahita Sedang Selama Pembelajaran
Sebelum Tindakan dan Setelah Tindakan Siklus I
No
1

Siklus
Prasiklus

Nilai
46,88

Keterangan

43

2
3

Siklus I
Siklus II

57,81
68,75

Berdasarkan tabel tampak siswa mengalami kemajuan dalam belajar


yang ditunjukkan dengan adanya peningkatan taraf pencapaian Indikator
Antusiasme siswa dalam pembelajaran (1), Interaksi siswa dengan guru (2),
Interaksi antar siswa (3), kerja sama dan indikator (4), Aktivitas siswa dalam
diskusi kelompok (5), Usaha siswa dalam mengikuti pembelajaran (6), Partisipasi
siswa dalam menyimpulkan materi pembelajaran (7) Siswa mengerjakan tugas
atau menggunakan alat (8). Namun demikian pencapaian indikator masih belum
memuaskan karena anak belum menunjukkan kemandirian dalam mengerjakan
tugasnya. Kemandirian dalam merawat diri masih kurang hampir disemua
indikator merawat diri meskipun kemampuan mengenal alat indera dan fungsinya
sudah cukup baik.
Kekurangan ini menjadi refleksi tindakan pada siklus II yaitu dengan
mengadakan

pendampingan seefektif mungkin, menambah waktu latihan

pembentukan konsep ruang dan latihan persepsi motor dalam mengenal alat
indera dengan memanfaatkan Kotak Ajaib, memisah atau memecah perintah
lebih sederhana lagi dan memodifikasi Kotak Ajaib.
Dibawah ini disajikan diagram perkembangan aktivitas belajar siswa tiap
siklus sebagai berikut :
Diagram 4.7. Aktivitas Siswa Siswa Tunagrahita Sedang Selama
Pembelajaran Sebelum Tindakan dan Setelah Tindakan Siklus I

Diagram Aktivitas Siswa Tiap Siklus


80.00
70.00
60.00
50.00
40.00
30.00
20.00
10.00
-

68.75
57.81
46.88

Prasiklus

Series 1

Siklus 1

Siklus II

44

Berdasarkan tabel tampak adanya kemajuan dalam mengenal alat indera.


Peningkatan ini ditunjukkan dengan taraf ketercapaian indikator dari cukup
menjadi baik dan masing- masing item indikator menunjukkan kemajuan yang
signifikan. Modifikasi Kotak Ajaib yang lebih beragam dengan tingkat kesulitan
yang lebih kompleks dan modifikasi Kotak ajaib.
Berdasarkan uraian dalam penjelasan di atas tampak bahwa Aktivitas
siswa meningkat dari 46,88 sebelum tindakan menjadi 57,81 setelah tindakan
siklus I dan setelah tindakan siklus II meningkat menjadi 68,75. Kemampuan
merawat diri pada membelajaran tematik tema kebersihan yang diintegrasikan
melalui beberapa mata pelajaran baik IPA, matematika, dan pembelajaran bina
diri, menunjukkan perubahan yang signifikan.
Berdasarkan pembahasan di atas maka dapat dijelaskan bahwa
hipotesa penelitian atau hipotesa tindakan dapat diterima bahwa penggunaan
media kotak ajaib pada pembelajaran tematik tema kebersihan dapat
meningkatkan aktivitas belajar siswa tunagrahita sedang di SMPLB C Cahaya
Jaya Jakarta.

45

BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
A Simpulan
Berdasarkan pembahasan hasil penelitian yang diperoleh dinyatakan
bahwa penggunaan media Kotak Ajaib pada pembelajaran tematik tema
kebersihan dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa tunagrahita di SMPLB C
Cahaya Jaya Jakarta.
Hal ini dapat dibuktikan dengan penerapan media Kotak Ajaib melalui
pembelajaran tematik tema kebersihan sub tema merawat diri dan mengenal alat
indera yang diamati sejak awal penelitian prasiklus nilai 53,75 dapat ditingkatkan
menjadi 60 pada Siklus I dan meningkat pada Siklus II menjadi 72,5.
Aktivitas belajar siswa juga mengalami peningkatan yang signifikan
ditunjukkan dengan adanya peningkatan taraf pencapaian Indikator Antusiasme
siswa dalam pembelajaran (1), Interaksi siswa dengan guru (2), Interaksi antar
siswa (3), kerja sama dan indikator (4), Aktivitas siswa dalam diskusi kelompok
(5), Usaha siswa dalam mengikuti pembelajaran (6), Partisipasi siswa dalam
menyimpulkan materi pembelajaran (7) Siswa mengerjakan tugas atau
menggunakan alat (8). Sehingga terjadi peningkatan aktivitas setiap siklusnya.
Pada Prasiklus diperoleh nilai 46,88, meningkat menjadi 57,81 setelah tindakan
siklus I dan setelah tindakan siklus II meningkat menjadi 68,75.
Kemampuan merawat diri pada membelajaran tematik tema kebersihan
yang diintegrasikan melalui beberapa mata pelajaran baik IPA, matematika, dan
pembelajaran bina diri, menunjukkan perubahan yang signifikan.
Namun demikian pencapaian indikator masih belum memuaskan karena
anak

belum

menunjukkan

kemandirian

dalam

mengerjakan

tugasnya.

Kemandirian dalam merawat diri masih kurang hampir disemua indikator


merawat diri meskipun kemampuan mengenal alat indera dan fungsinya sudah
cukup baik.
Kekurangan ini menjadi refleksi tindakan pada siklus II yaitu dengan
mengadakan

pendampingan seefektif mungkin, menambah waktu latihan

pembentukan konsep dan latihan persepsi motorik dalam mengenal alat indera
dengan memanfaatkan Kotak Ajaib, memisah atau memecah perintah lebih
sederhana lagi dan memodifikasi Kotak Ajaib.

46

Berdasarkan tabel tampak adanya kemajuan dalam mengenal alat indera.


Peningkatan ini ditunjukkan dengan taraf ketercapaian indikator dari cukup
menjadi baik dan masing- masing item indikator menunjukkan kemajuan yang
signifikan. Modifikasi Kotak Ajaib yang lebih beragam dengan tingkat kesulitan
yang lebih kompleks dan modifikasi Kotak ajaib.
Kemampuan merawat diri pada membelajaran tematik tema kebersihan
yang diintegrasikan melalui beberapa mata pelajaran baik IPA, matematika, dan
pembelajaran bina diri, menunjukkan perubahan yang signifikan.
Berdasarkan pembahasan di atas maka dapat dijelaskan bahwa
hipotesa penelitian atau hipotesa tindakan dapat diterima bahwa penggunaan
media kotak ajaib pada pembelajaran tematik tema kebersihan dapat
meningkatkan aktivitas belajar siswa tunagrahita sedang di SMPLB C Cahaya
Jaya Jakarta.
B Saran
Berdasarkan kesimpulan yang diuraikan di atas, maka dapat dikemukakan
beberapa saran dalam rangka peningkatan mutu pendidikan sebagai berikut:
1 Bagi guru, sebaiknya dalam setiap pembelajaran mampu menciptakan
situasi yang kondusif, misalnya dengan mengatur strategi dengan
pendekatan model kooperatif, penggunaan media dan alat peraga yang
menarik, ataupun pendukung pembelajaran lainya agar tercapainya tujuan
2

pembelajaran yang diharapkan, seperti menerapkan media audio visual .


Bagi sekolah, sebaiknya selalu melakukan perubahan inovasi dalam
pembelajaran seperti menerapkan pembelajaran dengan media audio
visual karena hal tersebut dapat diimplementasikan dalam meningkatkan

hasil belajar.
Bagi Peneliti selanjutnya, hendaknya dapat mengembangkan penelitian
yang lebih luas lagi sehingga dapat menambah wawasan dan pengetahuan
yang lebih baik.
DAFTAR PUSTAKA

Arsyad, Azhar. 2002. Media Pembelajaran. Jakarta: Raja Grafindo Persada.


Bandi Delphie. 2006. Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus. Bandung:
Rafika Aditama.
Endang Rocyadi, dan Zaenal Abidin. 2005. Pengembangan
Pembelajaran BagiAnak Tunagrahita. Jakarta: Depennas

Program

Joni Raka, (1996). Model-Model Pembelajaran. Bandung : PT. Remaja


Rosdakarya.
Moh, Amin. 1995. Ortopedagogik Anak Tunagrahita. Bandung: Depdikbud
Moh. Nazir.1990. Metode Penelitian Naturalistic-Kualitatif. Bandung: Sinar Baru
Algesindo.
Mudjiono, dkk, (1994). Strategi Pembelajaran. Bandung : Rosdakarya.
Oemar Hamalik, (1994) . Spikologi Belajar Mengajar. Jakarta : Bumi Aksara.
Rinanto, Andre. 1982. Peranan Media Audiovisual dalam Pendidikan.Yogyakarta:
Kanisius.
Suharsimi Arikunto. 1993. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.
Yogyakarta: Rineka Cipta.
Sukayati. 2004. Implementasi pembelajaran tematik kelas dasar. Bandung :
Republika.
Sumadi Suryabrata. 2000. Metodologi Penelitian. Jakarta: PT RajaGrafindo
Persada.
Sutirjo dan Sri Istuti Mamik. (2005). Tematik: Pembelajaran Efektif dalam
Kurikulum 2004. Malang: Bayumedia Publishing.
Tim Pengembang PGSD. (1997). Model Pembelajaran Tematik di Sekolah Dasar.
Jakarta : Grasindo.
Trianto. (2011). Desain Pengembangan Pembelajaran Tematik Bagi Anak Usia
Dini TK/RA & Anak Usia Kelas Awal SD/ MI. Jakarta : Kencana
Trianto. 2007. Pelaksanaan model pembelajaran tematik kelas dasar. Bandung :
Rodakarya.