You are on page 1of 14

Kajian faktor-faktor penyebab susut hasil Padi di Kabupaten Sambas

1)

Rini Fertiasari ; 2) Wilis Widi Wilujeng ; 3)Nafis Khuriyati; 3) M.Affan Fajar Falah.
1. Staff pengajar Jurusan Teknologi pertanian,Politeknik Negeri Sambas,
Kalimantan Barat
2. Staff pengajar Jurusan Agrobisnis, Politeknik Negeri Sambas, Kalimantan Barat
3. Staff pengajar Fakultas Teknologi Industri Pertanian, Universitas Gadjah Mada
Yogyakarta
ABSTRACT

Rice plants are a sources of rice and a strategic commodity that plays an important
role in economy and national food security. Rice is the staple food it sustains the lives of
more than 60% of farmers in Indonesia. Sambas district is a second largest barns in West
Kalimantan Province. It is possible considering that Sambas district has a vast land area.
Local varieties are much cultivated by Sambas communities. In order to increase the family
income of farmers, the postharvest activity of rice is a very important issue and also have a
special concern of the local government.
The analytical method used in a fishbone diagram that assess, identify, explore and
describe in detail all of the causes related to a problem. This study aims to determine tha
factors that affecting rice yield losses in Sambas District.
Passwords: fishbone, paddy/rice, postharvest, shrinkage results
INTISARI
Tanaman padi adalah sumber penghasil beras dan merupakan komoditas strategis
yang berperan penting dalam perekonomian dan ketahanan pangan nasional, karena beras
merupakan makanan pokok dan menopang kehidupan lebih dari 60 % petani di Indonesia.
Kabupaten Sambas merupakan lumbung pangan nomor dua di Propinsi Kalimantan Barat.
Hal ini dikarenakan luasan lahan di Kabupaten Sambas untuk menanam padi masih sangat
luas.Varietas yang banyak dibudidayakan oleh masyarakat Sambas adalah varietas lokal.
Dalam rangka meningkatkan pendapatan keluarga petani, maka pascapanen padi merupakan
permasalahan yang sangat penting dan menjadi perhatian tersendiri dari pemerintah daerah
Kabupaten Sambas.
Metode analisis yang digunakan adalah fishbone diagram yang mengkaji,
mengidentifikasi, mengekplorasi dan menggambarkan secara detil semua penyebab yang
berhubungan dengan suatu masalah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor
yang mempengaruhi susut hasil padi di Kabupaten sambas.
Kata kunci: Fishbone,Gabah/beras, Pascapanen, Susut hasil

Ketahanan pangan dapat berkesinambungan didasarkan pada kemandirian masyarakat yang berbasis sumberdaya lokal dan berazaskan agroindustri sehingga dapat mendorong peningkatan kesejahteraan petani.78 % dari total produksi padi Propinsi Kalimantan Barat sehingga Kabupaten Sambas ditetapkan sebagai Lumbung Padi Kalimantan Barat. menjadi daerah yang maju dengan komunitas yang kualitas hidupnya sama atau tidak jauh tertinggal dibandingkan dengan masyarakat Indonesia lainnya. karena beras merupakan makanan pokok dan menopang kehidupan lebih dari 60 % petani di Indonesia. Pembangunan pada hakekatnya adalah upaya peningkatan taraf hidup rakyat secara adil dan merata. perikanan. Di Kabupaten Sambas tanaman padi merupakan komoditi unggulan. peternakan.PENDAHULUAN Pembangunan daerah tertinggal merupakan upaya terencana untuk mengubah suatu daerah yang dihuni oleh komunitas dengan berbagai permasalahan sosial ekonomi dan keterbatasan fisik. hal ini terlihat dari sebagian besar penduduknya adalah petani yaitu sekitar 82 %. baik dalam bidang pertanian. Upaya mewujudkan ketahanan pangan merupakan usaha untuk menegakkan pilar bagi eksistensi atau martabat bangsa. Tuntutan akan pemenuhan bahan pangan merupakan pemenuhan akan hak azasi setiap individu. industri dan sumber daya potensial lainnya yang belum dikelola secara optimal. . Tanaman padi adalah sumber penghasil beras dan merupakan komoditas strategis yang berperan penting dalam perekonomian dan ketahanan pangan nasional. Disamping itu juga Kabupaten Sambas memberikan kontribusi sebesar 20. perkebunan. Masyarakat di daerah tertinggal umumnya masih bertumpu pada sektor ekonomi konvensional. Salah satu indikator peningkatan taraf hidup rakyat adalah dengan pengukuran aksesibilitas rakyat terhadap pangan. Kebutuhan bahan pangan terus meningkat berbanding lurus dengan pertambahan jumlah penduduk. maka peningkatan pengelolaan sumberdaya tersebut menjadi sangat penting.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode fishbone. METODE Analisis penelitian ini berkaitan dengan proses panen dan pascapanen yang terjadi didalam masyarakat tani di Kabupaten Sambas termasuk didalamnya adalah pola sosial ekonomi dan budaya masyarakat terhadap kegiatan panen dan pascapanen dalam usaha menekan susut hasil varietas padi lokal Kabupaten sambas. Oleh karena itu. Penelitian ini bertujuan mengetahui dan menganalisis faktor-faktor yang menyebabkan susut hasil varietas padi lokal kabupaten Sambas.mengekplorasi dan secara grafik menggambarkan secara detil semua penyebab yang berhubungan dengan suatu masalah. Data yang diperoleh menggunakan data . masalah lain yang muncul adalah tentang perilaku masyarakat itu sendiri yaitu tingkat sosial ekonomi dan budaya masyarakat petani Kabupaten Sambas dalam menerima dan menerapkan informasi tentang inovasi teknologi dan inovasi proses panen dan pascapanen padi varietas lokal. Hal ini karena adanya kebiasaan atau budaya masyarakat dalam membudidayakan varietas lokal. Varietas padi yang dibudidayakan di Kabupaten Sambas bermacam-macam.Kabupaten Sambas memiliki luasan lahan padi seluas 1197 Ha dengan produksi 3. penggilangan dan kemasan. dimana metode ini mencari akar masalah dan menganalisis akar masalah tersebut. Hal ini disebabkan oleh masih rendahnya penerapan teknologi baik pada pemanenan. perontokkan. 2013). Permasalahan tersebut berdampak signifikan terhadap tingkat pendapatan rumah tangga petani. Permasalahan panen dan pascapanen padi yang sering dihadapi adalah masih kurangnya kesadaran dan pemahaman petani di Kabupaten Sambas terhadap penanganan panen dan pascapanen yang baik sehingga mengakibatkan masih tingginya kehilangan hasil baik secara kuantitatif dan kualitatif serta rendahnya mutu gabah/beras.31 Ton/Ha (Distanak kab Sambas. penanganan panen dan pascapanen menjadi perhatian tersendiri dari pemerintah daerah Kabupaten Sambas untuk menjaga dan meningkatkan nilai persaingan baik dari segi kuantitas maupun kualitasnya. pengangkutan. Tingkat kehilangan hasil dalam pascapanen secara nasional sebesar 20. pengeringan. Diagram fishbone merupakan suatu alat visual untuk mengidentifikasi. 2012). namun varietas yang banyak dibudidayakan oleh masyarakat tani adalah varietas lokal yaitu Ringkak.51 % (Kasma iswari.

data dari kelompok tani yang dijadikan sampel penelitian.primer dan data sekunder. 4. 3. Penetapan daerah penelitian 3. Survey awal 2. Berikut adalah diagram alir prosedur penelitian : mulai Identifikasi dan perumusan masalah Penetapan tujuan penelitian Studi pustaka 1. 2. Data sekunder didapat dari dua instansi terkait yaitu dinas pertanian dan peternakan kabupaten Sambas. Penentuan faktor-faktor penyebab susut hasil brainstorming antara petani padi dengan distanak dan badan ketahanan pangan Kabupaten Menganalisis tiap faktor Penyuluhan di Poktan-Poktan pendampingan proses panen dan pascapanen secara langsung Analisis dan evaluasi . Penyebaran kuisoner awal Analisis kuisoner 1. badan ketahan pangan penyuluhan perikanan kelautan dan kehutanan kabupaten Sambas. Penentuan Gapoktan sebagai sampel penelitian 4. Data sekunder di dapat dari anggota Gapoktan yang terdapat di enam wilayah Kecamatan yang digunakan sebagai sampel dengan metode purposive sampling.

29persen dari luas .395. Tebas. Barat : LautNatuna Kabupaten Sambas memiliki daratan seluas 6. Sejangkung. Jawai Selatan. Pemangkat. Kecamatan terluasadalah KecamatanSajinganBesardenganluas 1.70Km²atausekitar4.75 Km²atau 1. yaitu Kecamatan Paloh dan Sajingan Besar. Dari 19 kecamatan tersebut. Selakau Timur. Tangaran.Kesimpulan Seles ai Gambar 1. Panjang pantai ±128. Paloh. dengan dikelilingi perairan laut seluas 1. Sebawi.467. Selakau. Salatiga. Jawai. dua kecamatan diantaranya berbatasan langsung dengan negara Malaysia (Sarawak). Teluk Keramat.20 Km² atau 21. Tekarang.84 Km². Secaraadministratif. dengan luas sebesar 82.391. Semparuk.5 km dan panjang perbatasan negara ± 97 km.75persen sedangkan yang terkecil adalah Kecamatan Salatiga wilayahKabupatenSambas. Sajad dan Sajingan. Diagram alir prosedur penelitian PEMBAHASAN Kabupaten Sambas merupakan daerah bagian paling utaraProvinsiKalimantan Baratataudiantara2°08' Lintang Utara serta 0°33'LintangUtaradan 108°39' Bujur Timurserta110°04' Bujur Timur. BengkayangdanSerawak. Galing. Sembilan belas kecamatan tesebut yaitu Kecamatan Sambas. Subah. l etak geografis Kabupaten Sambas adalah (Gambar 2): Utara : Serawak(Malaysia Timur)dan lautNatuna Selatan : KotaSingkawang dan Kabupaten Bengkayang Timur : Kab.36persen dari luas wilayah ProvinsiKalimantanBarat. Daerah PemerintahanKabupaten Sambas padatahun2008 t erbagimenjadi 19 Kecamatan dan 183 Desa serta1 UPT.

penduduk Kabupaten Sambas pada tahun 2013 berjumlah sekitar 496. 129. 2.51 162.Gambar 2. Kecamatan Pemangkat merupakan kecamatan dengan tingkat kepadatan penduduk tertinggi yaitu 402 jiwa/km2.589 Selakau Selakau Timur Pemangkat Kepadatan Penduduk Per Km2 Per Desa 232 63 402 3.2.00 9 4 5 30.120 jiwa dengan kepadatan penduduk sekitar 78 jiwa per kilometer persegi atau 2.697 jiwa per desa. Sajingan Besar dengan luas sekitar 21.99 111. Jumlah dan Kepadatan Penduduk Kabupaten Sambas Berdasarkan Kecamatan Tahun 2013 No. Penyebaran penduduk di Kabupaten Sambas tidak merata antar kecamatan yang satu dengan kecamatan lainnya. 3. Adapun sebaran penduduk di Kabupaten Sambas berdasarkan kecamatan tahun 2010 adalah sebagai berikut: Tabel 2.918 . Sebaliknya.072 10. Kecamatan Luas (Km2) Desa Pendudu k 1.200 44.341 2.75 persen dari total wilayah Kabupaten Sambas hanya dihuni 7 jiwa/km2. Kondisi Demografi Berdasarkan hasil Sensus Penduduk yang dilakukan oleh BPS.550 8. Peta Kabupaten Sambas 2.

Sedangkan atas dasar harga berlaku. Melalui identifikasi sektor unggulan.2 0 1.75 395.660 58. Pada Tahun 2013.29 persen.48 persen terhadap keseluruhan perekonomian yang ditunjukkan pada PDRB harga berlaku tahun tersebut. P a l o h* JUMLAH 90. 8. 11.936 35. kontribusi dari sektor pertanian sebesar 42.987 6.70 184 496. perencanaan kegiatan ekonomi diprioritaskan pada sektor yang menjadi spesialisasi daerah dan berimplikasi lebih luas bagi perekonomian daerah.598 9.318 264 177 161 160 182 27 97 105 181 189 106 59 111 77 4. Semparuk Salatiga Tebas Tekarang Sambas Subah Sebawi Sajad Jawai Jawai Selatan Teluk Keramat Galing Tangaran Sejangkung 18.395. Sajingan Besar* 19.696 Sumber: BPS Kabupaten Sambas (2014) Keterangan: * = Kecamatan yang Perbatasan dengan Negara Malaysia.45 94.148.445 1. 7. 6.671 63.55 161.16 246.848 7 1.892 21 2. 10.765 14.675 19.4.26 1.753 2. 13.962 2.99 93.527 15.67 291.228 2. 9. 17. 15.120 78 2.51 554.00 186.499 1.979 17.789 22. dan oleh karenanya dibutuhkan pengembangan potensi sektor untuk didorong menjadi unggulan daerah. .042 17. 5.66 644. 1.391.970 8 23.766 1.965 2. 14.934 2. 12.94 193.860 5 9.970 1.484 3.653 20.8 4 5 5 23 7 18 11 7 4 11 9 24 10 7 12 23.15 82. kontribusi dari sektor pertanian sebesar 47. Gambaran Umum Sektor Pertanian Sektor pertanian merupakan sektor perekonomian yang memberikan kontribusi terbesar di Kabupaten Sambas. Peran masing-masing sektor ekonomi tentunya mempengaruhi percepatan perekonomian daerah.899 2.43 333.293 44.593 2.64 83.613 13. 16.186 1.3.

440 12 SEJANGKUNG 3.05 17.200 2.57 26.65 8.43 25.24 29.751 35.450 1.560 3.807 31.585 32. Penanganan panen dan pascapanen padi lokal Sambas bertujuan meningkatkan efisiensi.274 35.21 11.49 7.39 16.471 33.911 3 PEMANGKAT 3.682 5.15 38. maka ditentukan enam kecamatan yang akan dijadikan sampel dalam penelitian kali ini.064 7 TEKARANG 3.015 32.350 2.353 31.69 6.90 18.000 6.798 33.805 15 GALING 3. Dari enam kecamatan.24 318.816 19 PALOH 8.024 31. menekan .860 7.725 14 SUBAH 1.414 16 SAJINGAN BESAR 2.155 2. Pembahasan hasil penelitian diawali dengan pembahasan tentang faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya susut hasil padi pada varietas lokal Sambas.038 36.639 98.999 JUMLAH KETERANGAN Gabah Kering Giling Sumber : Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Sambas. Tahun 2013 NO KECAMATAN LUAS TANAM LUAS PANEN RATA-RATA PRODUKSI (Ha) (Ha) (Kw/Ha) (Ton) 1 SELAKAU 8.125 24.425 1.664 4 SALATIGA 5.342 8.573 11.133 9 JAWAI SELATAN 6.717 93.43 24.68 5.577 33. Luas panen dan rata-rata Produksi Tanaman Padi menurut Kecamatan.35 10.110 35.93 2.21 29.43 22.512 13 SAJAD 1.726 10 SEBAWI 2.397 8.711 31.Tabel 1.506 2.547 5 SEMPARUK 7.508 30.043 18 TANGARAN 4.146 34.105 2 SELAKAU TIMUR 5.648 17 TELUK KERAMAT 7.771 3.65 8.910 2.165 34.579 8 JAWAI 8.786 35. di ambil enam gapoktan juga sebagai sampel selanjutnya.509 11 SAMBAS 3.720 6 TEBAS 11.248 6.574 39.066 7.552 4.512 33. 2014 Berdasarkan tabel diatas.02 8.670 5.

variet as ungg ul Materi al Gambar 3 : Fishbone diagram Susut hasil varietas padi di Kabupaten Sambas Penentuan umur panen Desain grafis pane kemasa n Environmen Teknologi yang digunakan pada proses panen lokal Lokasi Bahan kemasan Beras Kemar au sabi t Pascapan en Kondisi kematangan varietas Musim Kurangn ya jumlah power threser Bahan Sistem pemanenan Meth od . Berikut tahapan pembahasan dalam penelitian ini : A. pengeringan . penyimpana n. Faktor-faktor penyebab susut hasil varietas padi di Kabupaten Sambas dalam diagram fishbone Machine Man Sosekb ud petani Perilak u petani penyuluha n Kurangnya informasi trainin g Kurangnya jumlah penyuluh Kurangny a skill SDM Studi banding Huja n Ani- Proses pasca panen Perontokan. Panen dan pascapanen yang sesuai prosedur serta inovasi teknologi dan inovasi proses yang digunakan akan mengurangi tingkat susut hasil padi . untuk proses panen dan pascapanen menjadi hal yang perlu diperhatikan dan dibahas. Pola sosial ekonomi dan budaya masyarakat di tiap lokasi penelitian.tingginya susut hasil dan mempertahankan mutu gabah/beras.

penggilingan) Y kemasan 4 Y Proses pascapanen Perilaku petani 3 Y Y Desain kemasan Bahan kemasan Y Y Y Material Varietas padi Varietas unggul Varietas lokal N Y .pengeringan.penyimpanan. Analisis tiap-tiap faktor No Posible root cause Discussion Root cause? 1 Machine Teknologi digunakan proses panen 2 yang Ani-ani dan sabit digunakan untuk proses panen pada Belum terbukanya wawasan masyarakat tani tentang teknologi untuk panen Masih kurangnya kemauan masyarakat tani untuk menggunakan alat panen yang modern Kurangnya teknologi panen (sedikitnya jumlah power thresher) Y Keengganan masyarakat untuk menggunakan fasilitas teknologi pascapanen Y pengemasan Kurangnya alat pengemas Y Man Kurangnya SDM Sosial ekonomi budaya masyarakat tani Pengambilan keputusan untuk sistem panen Adopsi teknologi dan informasi pada tiap tahapan proses produksi padi skill Perlunya training Studi banding Penyuluhan Kurangnya informasi Kurangnya jumlah penyuluh dalam pendampingan masyarakat tani di tiap desa Y N Y Y Y Y Y Method Inovasi proses panen Penentuan umur panen/tingkat kematangan Sistem pemanenan Y Pascapanen Sistem penggilingan Perlakuan yang dilakukan petani setelah panen (perontokan.B.

Terbatasnya jumlah power thresher menyebabkan petani sulit memanfaatkan teknologi panen tersebut. Hasil dari tahapan panen n pascapanen ini adalah tekstur beras yang mudah patah dan beras berwarna hitam setelah digiling. pengeringan. 2. Kecamatan Tebas. Kecamatan Salatiga. Dimulai dari proses perontokan yang tidak dilakukan dengan segera (harus didiamkan hingga 2 minggu setelah panen). Kecamatan Semparuk. Proses tahapan pascapanen yang dilakukan petani di kabupaten Sambas (sampel) masih menggunakan teknik lama. Kemasan merupakan hal yang penting juga dalam tahapan pascapanen padi di Kabupaten Sambas. Hasil beras setalah pascapanen untuk dipasarkanpun mengalami kendala. penyimpanan hingga penggilingan.Kondisi kematangan Tingkat kematangan varietas padi pada saat panen Y Y 5 Bahan kemasan Environmental Pachaging untuk beras Musim Kemarau Hujan lokasi Lokasi yang terpencar-pencar Y Y Y Berdasarkan analisis tiap faktor dan akar masalah diketahui bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi susut hasil di Kabupaten Sambas adalah : 1. Kecamatan Selakau. Kecamatan Teluk Keramat. Hal ini dipengaruhi karena memang masih kurangnya power thresher di lapangan. Mesin Teknologi yang digunakan pada saat panen masih sangat sederhana (seperti ani-ani dan sabit). Seperti diketahui bahwa Sambas merupakan lumbung padi nomor . Penentuan umur panen tanaman padi dikalangan petani masih menggunakan ilmu perkiraan oleh masing-masing petani. Metode Inovasi proses panen dan pascapanen yang telah digaungkan dan diinformasikan oleh pemerintah pusat dan pemerintah daerah untuk saat ini masih belum terserap sempurna oleh petani. Hal ini disebabkan masih kurangnya alat pengemas beras. Enam power thresher tersebut ada di enam Kecamatan sampel penelitian yaitu di Kecamatan Tangaran. Power thresher yang ada saat ini masih berjumlah enam buah. sehingga beras hasil panen kebanyakan dijual menggunakan kemasan kantong plastik biasa.

dua di propinsi kalimantan Barat. Untuk karung tau plastik (5 Kg. alat pengemas beras masih belum mencukupi. 10 Kg. Manusia Perilaku petani di Kabupaten Sambas menentukan tahap proses panen dan pascapanen di Kabupaten Sambas. Varietas padi unggul hanya dibudidayakan sebagian kecil oleh masyarakat tani di sambas. Masyarakat tani di Kabupaten Sambas selama ini lebih memilih varietas lokal untuk dibudidayakan. Bahan kemasan hanya tersedia di Propinsi yang jaraknya lumayan jauh dari wilayah Kabupaten Sambas. Adopsi teknologi dan informasi pada tiap tahapan proses panen oleh masyarakat Sambas masih dirasa kurang. Tujuan dari budidaya dan produksi padi tentunya adalah bisnis atau dipasarkan. Alasan dari petani adalah kebiasaan yang turun temurun dan varietas unggul yang ditanam di lahan kabupaten Sambas dianggap kurang baik pada saat panen. Lingkungan Musim di Indonesia terbagi menjadi dua yaitu musim penghujan dan musim kemarau. Kurangnya skill SDM juga mempengaruhi dalam susut hasil padi di Kabupaten Sambas. Material Varietas menentukan cara panen dan pascapanen yang akan dilakukan oleh masyarakat tani. 20 Kg) sebagai kemasan beraspun harus pesan di propinsi yang jarahnya lumayan jauh dari Kabupaten sambas. Hal ini berkaitan dengan sosial ekonomi budaya masyarakat tani di Kabupaten Sambas yang masih sangat tradisonal dan sedikit susah untuk menerima informasi atau inovasi proses panen dan pascapanen yang baru yang biasanya diberikan oleh dinas teknis terkait di wilayah Pemda sambas. Hasil panen varietas unggul dinilai kurang produktivitasnya dibanding dengan varietas lokal. 5. Tekstur dan fisik beras dari varietas unggul juga mudah pecah daripada varietas lokal yang ditanam potani. Petanipun dihadapkan pada masalah baru yaitu tentang pengetahuan desain kemasan. 3. Lokasi lahan di Kabupaten Sambas yang terpencar-pencar menjadikan alasan bagi masyarakat dalam perlakuan dan melaksanakan proses panen . Di Kabupaten Sambas. studi banding tentang padi di wilayah yang menerapkan inovasi teknologi dan proses panen dan pascapanen dan penyuluhan oleh masing-masing penyuluh di tiap Kecamatan atau Gapoktan 4. Skill SDM bisa ditingkatkan dengan pelatihan petani. Perlakuan panen dan pascapanen masyarakat kabupaten Sambas didasarkan pada musim tersebut. Bahan kemasan untuk packing beras di Kabupaten sambas sangat susah dicari.

Peran penyuluh dan dinas terkait terkait seperti Dinas pertanian dan peternakan Kabupaten sambas dan Badan Ketahanan pangan sebagai fasilitator dan pemberi informasi dirasa sangat penting dalam pendampingan masyarakat tani di Kabupaten Sambas. lokasi. Penggunakan teknologi modern seperti power threser yang jumlahnya terbatas mengakibatkan petani melakukan panen dan pascapanen secara tradisional seperti yang dilakukan selama ini. 2. Varietas padi yang banyak dibudidayakan masyarakat Sambas adalah varietas lokal. Solusi dari hal ini adalah perlunya dukungan yang kuat dari dinas teknis terkait dan Pemda Sambas untuk memfasilitasi teknologi dan SOP panen dan pascapanen untuk varietas lokal di Kabupaten Sambas. KESIMPULAN 1. perilaku petani. . sistem pemanenan dan jumlah pemanen.dan pascapanen. pengetahuan petani tentang proses panen dan pascapanen. Faktor-faktor yang mempengaruhi susut hasil varietas padi di Sambas adalah : jenis varietas padi. Diharapkan adanya peran aktif. 3. musim dan kemasan. Perlunya dukungan dan komitmen yang kuat dari dinas teknis terkait dan Pemda Sambas untuk memfasilitasi pengadaan teknologi modern yang memadai untuk panen dan pascapanen dan SOP panen dan pascapanen yang telah di sahkan oleh Pemda Sambas untuk varietas lokal di Kabupaten Sambas. pendampingan maksimal untuk masyarakat tani khususnya petani padi di Kabupaten Sambas dari Pemerintah Daerah melalui dinas teknis terkait dalam pendampingan proses panen dan pascapanen padi di Kabupaten Sambas untuk mengurangi susut hasil dan untuk menjaga kualitas serta kuantitas varietas padi lokal di Sambas. 2. inovasi teknologi dan inovasi proses panen dan pascapanen. sistem penggilingan. SARAN 1.

Tanring. 2007. Yogyakarta Ananto. Setyono. Reliabilitas dan Validitas. Yogyakarta. 2010 : 212 -226. Jurnal pengembangan Inovasi pertanian 3(3). Jurnal Litbang Pertanian.. B. No. Handaka. Z. 2009. 2.S. Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi 2008. A. M. PAU Jurnal Ilmiah Abdi Ilmu Vol 2.1. Badan Penelitian dan Pengembangan Jakarta. . Rudi. Prima Rezeki Pertiwi). 2004. Yogyakarta. Suseno.3 2001 Hal 275-282. Management Perusahaan Pendekatan Operasional. 2001. dan A. 2012. 1996. O. Demand chain management : Supply Chain Management + orientasi pasar. V. Perbaikan teknologi pascapanen dalam upaya menekan kehilangan hasil padi.E. Bandung. No. Survey Mutu Berasdi Sumatera Barat. 2001. setyono I. Azwar. Badan litbang pertanian. 1997. F. Puslitbang Tanaman pangan. November 2009. Hasbi. D. Penentuan umur panen optimum padi asawah (Oryza Sativa L. S. Damardjati. A. Chandra. Konsep dasar pentingnya penangan dan pegolahan hasil pertanian.K..DAFTAR PUSTAKA Aris. 2012. 31(2). No. Mulyono.. Wijandi. I. Pengembangan system logistic yang efisien dan efektif dengan pendekatan Supply Chain management. Pustaka Pelajar. M.D. Iswari. 2008. Kesiapan Teknologi Panen dan PascaPanen Padi dalam menekan kehilangan hasil dan meningkatkan mutu beras. Mekanisasi dalam perspektif modernisasi pertanian.E. dan S. BPFE. Jurnal lahan suboptimal Vol. 2011. H.M.2: 186-196. Kerjasama balai pengkajian Teknologi pertanian Sumatera Barat dengan Dinas Sosial Provinsi Kalimantan barat. The Philippines. 2011.). Mulyadi. 2011. Effendi. 2011. Universitas Brawijaya.K. Zainudin. PhilRice. J.. Firmansyah. Rice Chemistry and Quality. Buku jagung : teknik produksi dan pengembangan. Iswari. Perbaikan Teknologi Pasca Panen di lahan Suboptimal. Teknologi Penanagnan dan pengolahan hasil pertanian. No. Kajian ekonomi teknik tentang alat perontok padi pada tingkat petani di Kabupaten Deli Serdang. Jurnal Administrasi Bisnis vol 7. Institut Teknologi Bandung. 2009.1 hal 59-72 (ISSN : 0216 – 1249). Jurnal Riset Industri Vol. Agustinus. Oktober 2012.U dkk. Suprihanto. Analisis dan perancangan e_Supply Chain Management (studi kasus : PT. 1981. 2003. 2012 Juliano. Penanagan Pascapanen Jagung.