You are on page 1of 4

IES 2004 – Politeknik Elektronika Negeri Surabaya - ITS

Pengurutan dan Penjadwalan Produksi untuk Meminimalkan Jumlah
Keterlambatan pada Proses Peelingan Kayu di Mesin Rotary Lathe B’Nahl 8 Feet dengan Metoda Algoritma Hodgson dan Wilkerson-Irwin
Studi Kasus di Pt Putra Sumber Utama Timber Jambi
Hendra
Jurusan Teknik Industri Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta
Jl. Babarsari No 2 Yogyakarta 55281, Indonesia
E-Mail : hauna81@yahoo.com
Andino Maseleno
Jurusan Teknik Informatika Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta
Jl. Babarsari No 2 Yogyakarta 55281, Indonesia
E-Mail : andinomaseleno@yahoo.com
menyelesaikan suatu job (pekerjaan) dengan suatu
prosesor (mesin).
PT Putra Sumber Utama Timber (PT PSUT)
sebagai perusahaan yang bergerak di bidang industri
plywood, block board, dan wood working seringkali
mengalami keterlambatan dalam penjadwalan proses
peeling (pengupasan) kayu menjadi kayu dalam
bentuk
lembaran-lembaran
veneer
sebelum
dipindahkan ke bagian lintasan produksi lain,
meskipun sudah menggunakan sistem otomasi
(cutting line), namun sering terjadi keterlambatan
pada saat barang sudah menumpuk di stasiun kerja
lain (bottle neck). Biasanya waktu untuk melakukan
pengupasan menjadi tidak terkontrol sehingga dapat
mempengaruhi stasiun-stasiun kerja lain dalam
mengerjakan kegiatan produksi.
Berdasarkan permasalahan di atas maka perlu
dilakukan penjadwalan job shop pada “n“ pekerjaan
untuk suatu prosesor secara seri pada proses
pengupasan
kayu
secara
mendetail
agar
keterlambatan dapat ditekan seminimal mungkin dan
didapat urutan pekerjaan yang baik sesuai dengan
waktu penyelesaian yang telah ditentukan dan order
yang sesuai dengan pesanan pasar.
Tujuan dari penelitan yang dilakukan pada
PT PSUT adalah melakukan penjadwalan untuk
meminimalkan
waktu
keterlambatan
proses
pengupasan kayu pada mesin Rotary Lathe B’- Nahl
8 Feet dengan metoda algoritma Hodgson dan
algoritma Wilkerson-Irwin.

Abstraksi
Makalah ini akan membahas penjadwalan untuk
meminimalkan
waktu
keterlambatan
proses
pengupasan kayu pada mesin Rotary Lathe B’- Nahl
8 Feet dengan metoda algoritma Hodgson dan
algoritma Wilkerson-Irwin. Berdasarkan penerapan
pada kedua algoritma didapat bahwa penggunaan
algoritma Wilkerson-Irwin lebih rapi dalam hal
pengaturan urutan jadwal pekerjaan sesuai dengan
waktu proses terkecil sedangkan algoritma Hodgson
lebih unggul dalam hal meminimalkan rata–rata
keterlambatan serta jumlah job yang ada.
Kata Kunci: penjadwalan, algoritma hodgson,
algoritma wilkerson-irwin
1. Pendahuluan
Kemajuan teknologi serta pertumbuhan yang
semakin pesat dari perusahaan-perusahaan baik di
kalangan instansi pemerintah maupun swasta
menimbulkan banyak pula permasalahan yang terjadi
di perusahaan tersebut. Persaingan antara perusahaan
yang satu dengan yang lain dalam memasarkan
produk dengan kualitas yang terjamin baik dari segi
bentuk maupun konsep desain memerlukan beberapa
hal yang harus dicermati dan menjadi bahan
pertimbangan dari setiap perusahaan yang baru
berdiri, dalam masa perkembangan, ataupun sudah go
public.
Survei di beberapa perusahaan industri baik
lokal maupun asing menyebutkan sekitar 80 % yang
menjadi tolak ukur keberhasilan dan daya tahan
perusahaan adalah peningkatan efisiensi, efektifitas,
dan produktifitas yang optimal dari perusahaan dalam
hal pengalokasian sumber daya.
Pengalokasian sumber daya menjadi hal yang
sangat penting, salah satu bentuk aplikasi dari hal
tersebut adalah penjadwalan dan pengurutan
fasilitas–fasilitas produksi yang ada untuk

2. Penjadwalan
Penjadwalan merupakan alat ukur yang baik
bagi perencanaan agregat. Pesanan-pesanan aktual
pada tahap ini akan ditugaskan pertama kalinya pada
sumber daya tertentu (fasilitas, pekerja, dan
peralatan), kemudian dilakukan pengurutan kerja
pada tiap-tiap pusat pemrosesan sehingga dicapai
optimalitas utilisasi kapasitas yang ada. Pada
penjadwalan ini, permintaan akan produk-produk
tertentu (jenis dan jumlah) dari MPS (Master

430

Jika memenuhi kualifikasi semua maka tugas selanjutnya kembali ke langkah 2. Perkiraan permintaan 3. yang berarti juga menimalkan biaya penalti (penalty Cost) .…. maka pekerjaan ke-i yang dihapus dari list pada akhir penjadwalan dimasukkan kembali. merupakan gambaran waktu yang diperlukan untuk melaksanakan tugas dengan memperhatikan faktorfaktor sebagai berikut : 1. t β ) ≤ ( d α . Syarat-syarat tugas 2. Apabila sudah tidak ada lagi pekerjaan ke-i yang dihilangkan akibat nilai lateness positif. kemudian menghitung lateness yang didapat dari selisih antara Completion Time (Ci) dan Due Date (Di) dan kemudian diurutkan pekerjaan yang menghasilkan keterlambatan paling sedikit sehingga tidak ada lagi nilai lateness p. penjadwalan diartikan sebagai penentuan kapan suatu pekerjaan akan dimulai serta kapan pekerjaan tersebut selesai. dan bukan menentukan berapa lama suatu operasi akan dapat diselesaikan.n) dengan aturan Earliest Due Date dengan prioritas pertama pada batas waktu terawal. merupakan waktu kapan pekerjaan produksi akan dilaksanakan. d β ). Jika penalti masing-masing pekerjaan sama besarnya dan pekerjaan tidak tergantung pekerjaan lainnya. Kapasitas yang tersedia Penjadwalan erat kaitannya dengan waktu penyerahan dan loading (beban) tanggal penyerahan merupakan masukan utama dalam pembuatan jadwal. d γ ). Pengolahan Data Dengan Metoda Algoritma Hodgson Pengolahan Data dilakukan dengan menghitung waktu kumulatif dari waktu proses yang ada. kemudian kembali ke langkah 3. Penjadwalan menurut Ahyary [1]. Langkah . Jadwal bukan hanya sekedar daftar operasi melainkan dapat menginformasikan beberapa operasi yang mungkin dilaksanakan secara bersamaan dan beberapa operasi perlu diselesaikan sebelum operasi lain dimulai. maka selanjutnya tugas yang ada di kolom β di pindahkan ke kolom α dan dua tugas berikutnya ke kolom β dan γ. maka penjadwalan yang dilakukan adalah untuk meminimumkan jumlah pekerjaan yang terlambat. Jika ternyata t β ≤ t γ atau F α + maks (t β . t γ ) ≤ maks (d β .Irwin Metoda lain yang digunakan untuk menimalkan rata-rata keterlambatan pada “n“ job pada m prosesor secara seri selain menggunakan algoritma Hodgson ada juga yang dikenal dengan nama algoritma Wilkerson-Irwin. 4. 5. 4.langkah dalam pengerjaan algoritma Hodgson adalah sebagai berikut : 1. 431 . Dalam hal ini. 5. Production Schedule) akan ditugaskan pada pusatpusat pemrosesan tertentu untuk periode harian [8]. 3. Algoritma Wilkerson . Waktu standar inilah yang digunakan sebagai pedoman dalam penyusunan penjadwalan produksi Penjadwalan menurut Yamit [7]. Jika ada pekerjaan ke-i yang terlambat (lateness positif). dan jadwal diatur kembali.IES 2004 – Politeknik Elektronika Negeri Surabaya . Sedangkan pada tugas berikutnya misalnya c dimasukkan ke kolom γ. sedang beban kerja hanya dapat ditentukan dari jadwal dan jadwal dapat disusun setelah mempertimbangkan beban. Kemudian kembali ke langkah 2 dan berhenti. Meletakkan tugas terakhir dalam EDD sebagai α baru. Algoritma ini digunakan sebagai pembanding kira-kira metoda mana yang pantas dan cocok digunakan dalam menjadwalkan dan mengurutkan proses pengupasan. 3. namun jika tidak memenuhi syarat maka dimasukkan ke langkah 3. Menyusun tugas dalam urutan EDD. Begitu seterusnya sampai kedua rumus memenuhi syarat maka berhenti dan kembali ke langkah 2 lagi untuk tugas berikutnya. 2. Membuat urutan pekerjaan ke i (i = 1. Penentuan lamanya suatu operasi memerlukan studi tersendiri dan motion study untuk mendapatkan satu waktu standar. Tugas di kolom γ dipindahkan ke kolom β untuk membandingkan jika t α ≤ t β atau jika F α . Di dalam pengendalian produksi. Langkah-langkah dalam pengerjaan algoritma Wilkerson-Irwin adalah sebagai berikut: 1. Jika maksimal (t α. maka dipilih waktu proses pekerjaan ke i yang terlama untuk dihilangkan.t α + maks ( t α . yang perlu diperhatikan adalah penjadwalan hanya menentukan kapan suatu operasi dimulai serta kapan operasi tersebut diselesaikan. Begitupun seterusnya dengan pola yang sama. Memasukkan kembali susunan penjadwalan tadi ke jadwal induk. t β) ≤ maksimal (d α. 2. sehingga dapat meminimasi terjadinya keterlambatan (tardiness) pada mesin Rotary B’-Nahl 8 Feet. jika tidak ada lagi tugas dalam daftar letakkan β ke dalam daftar jadwal dan dua tugas berikutnya menjadi β dan γ.2. Membandingkan antara dua tugas misalnya a dan b. Begitupun tugas yang ada di kolom γ dipindahkan ke kolom β. Algoritma Hodgson Metoda algoritma perhitungan yang dikenal dengan nama algoritma Hodgson ini merupakan salah satu metoda penjadwalan dengan menggunakan aturan EDD (Earliest Due Date) untuk meminimalkan kelambatan terbesar pada satu mesin. dan untuk tugas yang baru dimasukkan ke kolom γ. 3. d β) tugas a dan b dimasukkan masing-masing ke kolom α dan kolom β. maka tugas b yang ada di kolom β dipindahkan ke kolom α.ITS 4.ositif pada pekerjaan yang dilakukan. jika gagal maka menuju ke langkah 4.3. Proses selesai.

53 1.58 = 7.02 7.52 + 1. Maximum Lateness = 5 jam/26 hari = 0.33 jam untuk prosesor 2.58 2.14 = 7.14 2. Pekerjaan 2 dalam hal ini pekerjaan Peeling Log 2 memiliki keterlambatan selama 2. (−3.53 = 3. 2.192 jam/hari. Pengolahan Data Dengan Metoda Algoritma Wilkerson-Irwin Pada algoritma Wilkerson-Irwin didapat data yang sama dengan yang ada pada algoritma Hodgson hanya saja pada pengerjaannya yang berbeda dengan mengelompokkan pekerjaan 1 dan 2 untuk dimasukkan pada kolom yang sudah ditentukan. Pekerjaan 1 dalam hal ini pekerjaan Peeling Log 1 memiliki keterlambatan selama 5 jam untuk masing-masing prosesor. kemudian disusul dengan pekerjaan selanjutnya yang dimasukkan ke kolom lain pula dan dibandingkan kira-kira sudah sesuai dengan keinginan yang ditentukan. Maximum Lateness = 5 jam/26 hari = 0. 4.64 + 0. Hasil yang dapat disimpulkan untuk sementara ini pada penjadwalan dengan menggunakan algoritma Hodgson adalah : 1.64 2.77 + 0. 3.48 -0.12 Mean Lateness = Gambar 1. Pekerjaan 5 dalam hal ini pekerjaan Peeling Log 5 memiliki keterlambatan selama 4.ITS Tabel 1 di bawah menunjukkan pengurutan pekerjaan setelah melalui proses iterasi berdasarkan EDD = 6 – 4 – 3 – 2 – 7 – 5 – 1 6. 6 4 3 7 5 2 1 0.02 7.09 3 2.36 Tabel 2.76 = 1. dengan penjabaran sebagai berikut : 1.91 + 0. jika sudah selesai maka berhenti dan dicari keterlambatan yang minimal.13 0.64 + 0.52 1. didapat beberapa hal sebagai berikut : 1.192 jam/hari.64 2.30 3.02 5 5 -0. Penjadwalan Dengan Metoda Algoritma Wilkerson–Irwin Berdasarkan Due Date pada prosesor 2 Pekerjaan Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa dengan aturan Hodgson. Tabel 2 di bawah menunjukkan penjadwalan dengan metoda algoritma Wilkerson–Irwin berdasarkan due date pada prosesor 2.58 = 4. Waktu Proses Ti ( jam ) 1.02 jam untuk prosesor 2. 4.02 jam untuk prosesor 2.IES 2004 – Politeknik Elektronika Negeri Surabaya . 3.14 0.02 + 2. Pengurutan Pekerjaan Setelah Melalui Proses Iterasi Berdasarkan EDD = 6 – 4 – 3 – 2 – 7 – 5–1 Pekerjaan 6 4 3 2 7 5 1 Waktu Proses Ti ( Jam ) 1.52 1.52 1.52 1.88 jam untuk prosesor 2. 2. Pekerjaan 1 dalam hal ini pekerjaan Peeling Log 1 memiliki keterlambatan selama 5 jam untuk masing–masing prosesor.12 0. maka jumlah pekerjaan yang terlambat sebanyak 3 buah pada 2 prosesor.88 4.77 2.13 = 2. Gantt chart untuk penjadwalan dengan menggunakan algoritma Hodgson dapat dilihat pada diagram berikut : 2.045 jam/hari.58 2.56) + 11.88 5 2.13 = 2. Pekerjaan 7 dalam hal ini pekerjaan Peeling Log 7 memiliki keterlambatan selama 2.12 = 2. dengan penjabaran sebagai berikut : 1.98 = 10 Due Date di ( Jam ) 2 3 Lateness Li ( Jam ) 3 -0.Li ) 1. sedangkan jika tidak sesuai maka dimajukan ke langkah selanjutnya.23 5 -0. Tabel 1.44 jam untuk prosesor 2.13 2.02 5 5 Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa dengan aturan Wilkerson-Irwin.44 5. maka jumlah pekerjaan yang terlambat sebanyak 4 buah pada 2 prosesor.14 = 4.88 + 2.30 + 1.98 Completion Time Ci ( jam ) Due Date di (Jam ) Tardimess Ti ( Jam ) Dari ( 0.77 2. Pekerjaan 5 dalam hal ini pekerjaan Peeling Log 5 memiliki keterlambatan selama 1.91 4.3 3 1.53 = 5. 3.52 + 1.98 Completion Time Ci ( Jam ) 1.44 + 1.77 + 2. Gantt Chart Untuk Penjadwalan Algoritma Hodgson 432 .44 3 4.02 + 2. Pekerjaan 7 dalam hal ini pekerjaan Peeling Log 7 memiliki keterlambatan selama 0.98 = 10 2 3 0 0 3 0 3 0.171 7 jam/26 hari = 0.12 = 2.53 1. Sehingga dapat diambil suatu kesimpulan sementara bahwa dengan menggunakan algoritma Wilkerson-Irwin. Number Of Tardy Jobs = 3 buah job (pekerjaan).

04 jam. Jakarta.065 jam/hari.IES 2004 – Politeknik Elektronika Negeri Surabaya . [4] J. 2. Penerbit Guna Widya. Dengan algoritma Hodgson untuk maksimum lateness didapat sebesar 0. Putra Sumber Utama Timber. Second Edition. New York. 4. New Jersey. Ahyary. mean latenessnya 0. maka dapat diambil kesimpulan: 1. 4. mean latenessnya 0. dan peeling log 1 dengan ukuran diameter kayu 38.53 jam. Production & Operation management. Number Of Tardy Jobs = 4 buah job (pekerjaan). Baker. E.00 m3 dengan waktu proses 2.192 jam/hari.E.18 jam dengan total waktu untuk semua pekerjaan adalah 10 jam. 1999.R.02 jam.G. inc. Management. [9] Team Training. Hernandes.32 m3 dengan waktu proses 0. Just in Time Quality. 3.B. Materi Pelatihan Karyawan Baru. Yogyakarta. peeling log 5 dengan ukuran diameter kayu 18.36 m3 dengan waktu proses 1. Production & Operation Management. Yogyakarta. New York. Arizona State University. Nasution. Perencanaan dan Pengendalian Produksi.8 = 1. Berdasarkan perbandingan diantara kedua algoritma didapat bahwa penggunaan algoritma Wilkerson-Irwin lebih rapi dalam hal pengaturan urutan jadwal pekerjaan sesuai dengan waktu proses terkecil sedangkan algoritma Hodgson lebih unggul dalam hal meminimalkan rata–rata keterlambatan serta jumlah job yang ada. Apractical Approach. Introduction to Sequencing and Schedulling. Moore. [2] K. [7] Z.52 jam.43 m3 dengan waktu proses 1. 1992. 433 .192 jam/hari. [6] F. Third Edition. Manufacturing and Nonmanufacturing. New York. Yamit. dan Number of tardy jobs sebanyak 3 buah pekerjaan. Mean Lateness = prosesor 2 prosesor 1 0 2 4 6 8 10 12 Waktu Gambar 2. [3] D. dan Number of tardy jobs sebanyak 4 buah pekerjaan. [5] A. 1974. Bedworth. 1994. peeling log 4 dengan ukuran diameter kayu 2. Jambi. John Wiley & Sons.17 m3 dengan waktu proses 1. Manajemen Produksi dan Operasi. analysis. peeling log 2 dengan ukuran diameter kayu 37. Integrated Production Control System. J.045 jam/hari.00 m3 dengan waktu proses 1.Irwin 7. peeling log 7 dengan ukuran diameter kayu 16. Bailey. peeling log 3 dengan ukuran diameter kayu 10. Gantt Chart Untuk Penjadwalan algoritma Wilkerson . 1987. Design 2/E.686 jam/26 hari = 7 0. 1994.H. Englewood Clifs. Pengendalian Produksi.065 jam/hari.13 Jam. 11.58 jam. Kesimpulan Dari data-data yang sudah terkumpul dan telah mengalami proses pengolahan dan pengerjaan secara teliti serta memperhitungkan kondisi yang ada pada PT PSUT Jambi.38 m3 dengan waktu proses 2. Dilworth. 1991. [8] A. Urutan pekerjaan yang didapat pada proses peelingan adalah peeling log 6 dengan ukuran diameter kayu 0. Prentice Hall.ITS 2. D. PT. 2000. Dengan algoritma Wilkerson-Irwin untuk maksimum lateness didapat sebesar 0. Edisi Pertama. 1993. Daftar Pustaka [1] A. Gantt Chart untuk penjadwalan dengan menggunakan algoritma Wilkerson–Irwin dapat dilihat pada gambar 2 berikut : Pekerjaan 3. Hendrick. T.