You are on page 1of 39

BAB 1

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Jembatan mempunyai arti penting bagi setiap orang. Akan tetapi tingkat
kepentingannya tidak sama bagi tiap orang, sehingga akan menjadi suatu bahan
studi yang menarik. Jembatan mungkin tidak ada artinya bagi orang-orang yang
bertempat tinggal di daerah dataran yang rata, tidak didapati adanya sungai,
jurang, tebing, ataupun keadaan dimana kita akan berpindah tempat namun ada
penghalang di depan kita. Sebaliknya, jembatan dirasa sangat dibutuhkan oleh
orang-orang yang bertempat tinggal di daerah yang sangat sulit dijangkau,
sehingga jembatan sangat di butuhkan sebagai alat penghubung dari satu tempat
ke tempat lain.
Dengan perkembangan zaman maka jembatan tidak hanya dipandang
sebagai alat penghubung antara tempat satu dengan tempat yang lain, melainkan
sebagai sarana untuk memperlancar kegiatan manusia, serta membantu
berkembangnya suatu daerah yang selama ini sulit di akses, apalagi Indonesia ini
sebagai negara yang berkembang, akses ke daerah-daerah ataupun ke kota sangat
dibutuhkan, dengan adanya jembatan ini sangat membantu hal tersebut.
Ada banyak jenis dan bentuk jembatan yang kita kenal, namun pada
proposal ini saya akan memfokuskan pembahasan pada jembatan dengan
tipe Arch Bridge .
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan jembatan Arch Bridge ?
2. Apa saja komponen jembatan Arch Bridge ?
3. Bagaimana Idealisasi Struktur pada jembatan Arch Bridge ?
C. Tujuan
Tujuan dari proposal ini adalah untuk :

1. Mengetahui yang dimaksud dengan jembatan lengkung/busur

(Arch

Bridge).
2. Mengetahui idealisasi struktur pada elemen jembatan lengkung/busur (Arch
Bridge).

3. Menemukan sebuah inovasi baru pada struktur jembatan lengkung/busur


(Arch Bridge).

BAB II
STUDI PUSTAKA

2.1 Jembatan Busur / arch bridge


Jembatan merupakan suatu elemen atau bagian dari jalan. Menurut sejarah,
jembatan yang pertama dibangun adalah pada tahun 2650 SM oleh Raja Manes
dari Mesir untuk menyeberangi sungai Nil.
Pada tahun 783 SM dibangun oleh Ratu Semirawis dari Babilonis untuk
melintasi sungai Efhrat.
1 Fungsi Jembatan
Jembatan berfungsi sebagai penghubung dua ruas atau beberapa ruas
jalan yang dipisahkan oleh sungai atau melintasi ruas jalan yang tak sebidang.
2

Bentuk struktur jembatan.


Jembatan pelengkung/busur (arch bridge) dengan model struktur K-

Truss
2.2 Rotan
Rotan adalah sekelompok palma dari puak (tribus) Calameae yang
memiliki

habitus

memanjat,

terutama

Calamus,

Daemonorops,

dan

Oncocalamus. Puak Calameae sendiri terdiri dari sekitar enam ratus anggota,
dengan daerah persebaran di bagian tropis Afrika, Asia dan Australasia. Ke
dalam puak ini termasuk pula marga Salacca ( misalnya salak), Metroxylon
(misalnya rumbia/sagu), serta Pigafetta yang tidak memanjat, dan secara
tradisional tidak digolongkan sebagai tumbuhan rotan.
Batang rotan biasanya langsing dengan diameter 25 cm, beruas-ruas
panjang, tidak berongga, dan banyak yang dilindungi oleh duri-duri panjang,
keras, dan tajam.Duri ini berfungsi sebagai alat pertahanan diri dari herbivora,
sekaligus membantu pemanjatan, karena rotan tidak dilengkapi dengan
sulur.Suatu batang rotan dapat mencapai panjang ratusan meter. Batang rotan
mengeluarkan air jika ditebas dan dapat digunakan sebagai cara bertahan hidup
di alam bebas.
Sebagian besar rotan berasal dari hutan di Indonesia, seperti Sumatra,
Jawa, Borneo, Sulawesi, dan Nusa Tenggara. Indonesia memasok 70%

kebutuhan rotan dunia.Sisa pasar diisi dari Malaysia, Filipina, Sri Lanka, dan
Bangladesh.
Rotan cepat tumbuh dan relatif mudah dipanen serta ditransprotasi.Ini
dianggap membantu menjaga kelestarian hutan, karena orang lebih suka
memanen rotan daripada kayu.
1.3 Sifat Mekanik Rotan
Spesifikasi dari rotan :

1. Keteguhan Tarik
Keteguhan tarik adalah kekuatan rotan untuk menahan
gaya-gaya yang berusaha menarik rotan.

Terdapat 2 (dua)

macam keteguhan tarik yaitu :


a.

Keteguhan tarik sejajar arah serat dan

b.

Keteguhan tarik tegak lurus arah serat.


Kekuatan tarik terbesar pada rotan ialah keteguhan tarik
sejajar arah serat. Kekuatan tarik tegak lurus arah serat lebih
kecil daripada kekuatan tarik sejajar arah serat.

2. Keteguhan tekan / Kompresi


Keteguhan tekan/kompresi adalah kekuatan rotan untuk
menahan muatan/beban. Terdapat 2 (dua) macam keteguhan
tekan yaitu :
a.Keteguhan tekan sejajar arah serat dan
b.Keteguhan tekan tegak lurus arah serat.
keteguhan

tegak

lurus

serat

keteguhan kompresi sejajar arah serat.

lebih

kecil

daripada

3. Keteguhan Geser
Keteguhan

geser

adalah

kemampuan

Rotan

untuk

menahan gaya-gaya yang membuat suatu bagian rotan


tersebut turut bergeser dari bagian lain di dekatnya. Terdapat
3 (tiga) macam keteguhan yaitu :
a.

Keteguhan geser sejajar arah serat


b. Keteguhan geser tegak lurus arah serat dan Keteguhan
geser miring
Keteguhan geser tegak lurus serat jauh lebih besar dari
pada keteguhan geser sejajar arah serat.

4.

Keteguhan lengkung (lentur)


Keteguhan

lengkung/lentur

adalah

kekuatan

untuk

menahan gaya-gaya yang berusaha melengkungkan Rotan


atau untuk menahan beban mati maupun hidup selain beban
pukulan. Terdapat 2 (dua) macam keteguhan yaitu :
a. Keteguhan

lengkung

statik,

yaitu

kekuatan

Rotan

menahan gaya yang mengenainya secara perlahanlahan.


b. Keteguhan

lengkung

pukul,

yaitu

kekuatan

Rotan

menahan gaya yang mengenainya secara mendadak.

5. Kekakuan
Kekakuan adalah kemampuan Rotan untuk menahan
perubahan

bentuk

atau

lengkungan.Kekakuan

dinyatakan dalam modulus elastisitas.

6. Keuletan

tersebut

Keuletan adalah kemampuan Rotan untuk menyerap


sejumlah tenaga yang relatif besar atau tahan terhadap
kejutan-kejutan atau tegangan-tegangan yang berulang-ulang
yang melampaui batas proporsional serta mengakibatkan
perubahan bentuk yang permanen dan kerusakan sebagian.

7. Kekerasan
Kekerasan adalah kemampuan rotan untuk menahan
gaya yang membuat takik atau lekukan atau kikisan (abrasi).
Bersama-sama dengan keuletan, kekerasan merupakan suatu
ukuran tentang ketahanan terhadap pengausan Rotan.
Ukuran

yang

dipakai

untuk

menjabarkan

sifat-sifat

kekuatan Rotan atau sifat mekaniknya dinyatakan dalam


kg/cm2.

Faktor-faktor yang mempengaruhi sifat mekanik

rotan secara garis besar digolongkan menjadi dua kelompok :


a. Faktor luar (eksternal): pengawetan rotan, kelembaban
lingkungan, pembebanan dan cacat yang disebabkan
oleh jamur atau serangga perusak Rotan.
b. Faktor dalam Rotan (internal): BJ (Berat Jenis), cacat
rotan, serat miring dan sebagainya.

2.3

Ketentuan Kompetensi

2.3.1 Ketentuan Desain

spesifikasi Jembatan Busur Pejalan Kaki


1. Panjang Jembatan
Ukuran 100 cm (jarak as ke as tumpuan/ perletakan pada kepala
jembatan) yang terdiri dari 1 bentang, dengan tinggi busur puncak
18 cm (dari tepi atas puncak busur ke tepi bawah balok pengikat).
2. Lebar Lantai Jembatan

Ukuran 7 cm, dihitung dari tepi dalam ke tepi dalam busur.


Ditengah bentang ada gelagar melintang/croos girder sebagai
tempat pengujian lendutan. Lantai terbuat dari triplek tebal 2 mm.
3. Balok Melintang
Diameter balok melintang rotan 10 mm.
4. Bresing
Diameter bresing rotan maksimal 10 mm. Bresing hanya
ditempatkan di daerah busur tidak berlokasi ditengah bentang.
Jumlah bresing minimum 2 buah.
5. Batang Tegak
Diameter batang tegak rotan maksimum 10 mm.
6. Jenis Jembatan
Jembatan Busur (stiffned deck arch) pejalan kaki.
7. Tumpuan / perletakan
Sistem perletakan dikedua sisi jembatan adalah sendi dan rol
8. Tinggi Busur
Ketinggian busur maksimum adalah 18 cm dari tepi atas puncak
busur ke tepi bawah balok pengikat. Bentuk busur adalah parabola.
9. Bahan Konstruksi
Bahan struktur pelengkung/busur terbuat dari Rotan yang sudah
diserut, dengan diameter maksimum adalah 20 mm.
10. Kepala jembatan
Abutment yang terbuat dari beton.
11. Jenis dan Bahan Sambungan
paku, tali kulit rotan, perekat dan sambungan pasak (pasak
dibuat di lokasi kompetisi).
12. Material Jembatan Busur (stiffned deck arch) pejalan kaki
2 busur rotan 20 mm dengan panjang 150 cm, 2 balok pengikat
(tie beam) 20 mm dengan panjang 150 cm, 2 batang tegak 10
mm dengan panjang 200 cm, 1 batang balok melintang 10 mm
dengan panjang 100 cm, dan 1 batang bresing 10 mm dengan
panjang 120 cm, triplek 3 x 70 x 120 mm, tali kulit rotan 800 cm,
paku 5 cm dan paku 1,25 cm masing-masing 100 buah, 1 kaleng
perekat (merk Fox), dan area kerja

BENTUK MODEL JEMBATAN BUSUR

Gambar 2.1 Tampak Samping

Gambar 2.2 Potongan A-A

Gambar 2.3 Tampak Atas

Gambar 2.4 Tampak Bawah

2.2.1 Kriteria Perancangan


Spesifikasi Jembatan
1

Nama Jembatan

Peruntukan

Jenis Jembatan

Sistem struktur

: rangka batang dengan girder ganda

Lebar Jembatan

: 7 cm.

Bentang Jembatan

: 100 cm.

Tinggi Jembatan

: 18 cm.

Perletakan

: Rol dan sendi.

Dimensi Penampang (b;h) :

Gelagar Induk Memanjang (Girder)

(Double)
b Rangka Atas (Horizontal)
(Double)

Rangka Diagonal dan Vertikal

(Single)
d Gelagar Melintang (Diafragma)

(Double)
10 Lantai jembatan

: PapanMultipleks 7 cm.

Spesifikasi Material Struktur Utama yang Digunakan


1 Jenis
: rotan
2 Berat jenis kering udara
: g/cm3
3

: kg/cm2

Elastisitas

BAB III
DESAIN MODEL JEMBATAN
3.1 Dasar Teori Perancangan
3.2

Kriteria perancangan

Kriteria perancangan secara umum didasarkan pada persyaratan yang dimuat pada
pedoman BDF YCE INNOFEST Tahun 2016 yang tercantum,sebagai berikut :

a) Panjang Jembatan : cm (jarak as ke as tumpuan/ perletakan pada


kepala jembatan) yang terdiri dari bentang, dengan tinggi busur puncak
cm (dari tepi atas puncak busur ke tepi bawah balok pengikat.Catatan :
cm = x cm (jarak antara kabel penggantung) cm (jarak as ke as
tumpuan/ perletakan pada kepala jembatan)

yang terdiri dari 1

bentang, dengan tinggi busur puncak cm (dari tepi atas puncak busur ke
tepi bawah balok pengikat.
Catatan : cm = x cm (jarak antara batang tegak rotan)

b) Lebar lantai Jembatan : 7 cm dihitung dari as busur ke as busur. Di


tengah bentang harus ada gelagar melintang/cross girder sebagai tempat
pengujian lendutan. Lantai terbuat dari triplek tebal 3 mm. Lantai
dibuat secara menerus dan harus terpisah dari balok pengikat
(batang

tarik/tied

beam), namun

boleh

menyatu

dengan

balok

melintang dan balok memanjang (opsional). Balok melintang, balok


memanjang, dan bresing terbuat dari bahan rotan.
c) Tinggi dek Jembatan : Dek merupakan kombinasi antara balok
pengikat
rotan berdiameter maksimal

cm disisi kiri dan kanan jembatan dengan

balok melintang yang berjarak cm (posisi batang tegak). Adapun


diameter balok melintang maksimal adalah cm.

d) Jenis Jembatan : Jembatan Busur (stiffned deck arch) pejalan kaki.


e) Tumpuan/ perletakan : Sistem perletakan dikedua sisi jembatan
adalah
sendi dan rol yang harus dibuat TERPISAH dari struktur jembatan busur
dan perletakan tersebut hanya bertumpu pada kepala jembatan.

f) Tinggi Busur : Ketinggian busur maksimum adalah 18 cm dari tepi


atas
puncak busur ke tepi bawah balok pengikat. Bentuk busur adalah parabola
atau bentuk-bentuk lengkungan tunggal lainnya.

g) Bahan Konstruksi : Bahan struktur pelengkung/busur terbuat dari


Rotan
yang sudah diserut, dengan diameter maksimum adalah cm.
Jenis dan bahan sambungan : Jenis sambungan antara batang tegak dan dek sesuai
dengan rencana desain,serta sambungan antaa batang tegak dan busur jembatan.Lokasi
batang tegak terletak pada sumbu pelengkung/ busur dan balok pengikat. Sambungan antara
pelengkung dengan daerah perletakan dibuat dengan bahan yang disediakan oleh panitia.
Bahan sanbungan yang disediakan panitia adalah paku, kulit, dan perekat. Peserta wajib
membawa peralatan (bor tangan/bukan bor listrik/bukan bor baterai, pahat dan palu, gergaji,
alat ukur, sipat, alat tulis/marker/spidol, mata bor kayu, cutter, gunting, perekat untuk
ornament/aksesories, ragum) dan jika peserta memilih sambungan pasak maka pasak dibuat
dilokasi kompetisi.

h) Bahan yang disediakan oleh panitia : 2 busur rotan 20 mm dengan


panjang 150 cm, 2 balok pengikat (tie beam) 20 mm dengan panjang
155 cm, 2 batang tegak 10 mm dengan panjang 200 cm, 1 batang balok
melintang 10 mm dengan panjang 150 cm, dan 1 batang bresing 10
mm dengan panjang 120 cm, triplek 3 x 70 x 140 mm, tali kulit rotan 800
cm, paku 5 cm dan paku 1,25 cm masing-masing 100 buah, 1 kaleng
perekaty (merk fox), dan area kerja.
i) Beban pengujian menggunakan beban statis vertical sebesarb 5 kg yang
diletakan ditengah bentang secara bertahap setiap 2 kg dengan lendutan
maksimum pada tengah jembatan sebesar 2 mm.
3.2.1 Material
Material yang digunakan pada jembatan Mukhadorotul afkar yaitu rotan. Rotan
memiliki sifat yang cenderung mirip dengan kayu. Untuk perhitungan dan
perancangannya

kami

mengasumsikan

rotan

yang

digunakan

oleh

Mukhadorotul afkaryaitu rotan mandola dengan berat jenis 0,5899. Pada bagian
dek menggunakan triplek atau polywood.Tripleks memiliki sifat yang fleksibel,
murah, dapat dibentuk, dapat didaurulang
pembuatan

yang

rumit.

Tripleks

dan

tidak

memiliki

teknik

biasanyadigunakan karena lebih tahan

retak, susut atau bengkok. Plywood sendiri saat ini tersedia dalam berbagai
ketebalan, dengan tingkatkualitas yang berbeda-beda. Dalam perancangan
jembatan ini kami menggunakanplywood dengan ketebalan 2 mm. berdasarkan
pedoman, desain jembatan ini dibuat dengan menggunakan bahan-bahan
sebagai berikut :

1.Busur jembatan menggunakan material rotan seuti diameter 2,5cm.


2.Gelagar memanjang menggunakan material rotan diameter 2,5 cm.
3.Gelagar

melintang menggunakan

material rotan diameter 1 cm.


4.Balok

pengikat mengggunakan

material rotan diameter 2,5 cm.


5.Lantai

jembatan menggunakan

material triplek dengan tebal 3 mm.


6.Balok ikatan angin menggunakan material rotan diameter 1 cm

3.2.2 Alat Sambungan


Sambungan merupakan salah satu hal yang harus diperhatikan pada saat
perancangan konstruksi jembatan. Penyambungan pada Mukhadorotul afkar
dibuat sama dengan sambungan pada furniture rotan biasanya ,hal ini dilakukan
dengan cara pencoakan dan paku tembak beserta merekatkan dengan alat
perekat berupa fox. Berikut adalah beberapa alat yang akan digunakan pada
penyambungan rancangan jembatan model busur :

Paku tembak (stapler) tipe F


Paku tembak tipe U
Sekrup
Pensil
Palu
Pisau serut

Penggaris besi dan meteran

Gambar 3.1 Sambungan paku pada rotan


BUAT GAMBAR PERALATAN

3.2.3. Beban Uji


Pengujian jembatan dilakukan menggunakanbeban uji. Adapun beban uji
berupa beban statis bertahap yang diletakkan di tengah bentang jembatan.
Beban pengujian menggunakan beban statis vertikal seberat maksimum 10
kg dengan lendutan maksimum pada tengah jembatan sebesar 3 mm.

3.2.4 Metodologi Perancangan Model Jembatan


Perancangan

model

jembatan

hanya

didasarkan

pada

persyaratan

perlombaan dimana yang disyaratkan adalah lendutan sebesar maksimum 3 mm


dengan beban pengujian sebesar 500 kg di tengah bentang. Sehingga
perencanaan hanya direncanakan pada kondisi daya layan model jembatan rotan
saja.
Tahapan perencanaan pada model jembatan model sama persis dengan
tahapan pada jembatan ukuran sebenarnya. Permasalahan
-permasalahan yang dihadapi pada saat dilakukannya tahapan tersebut
adalah sebagai berikut :
1.Rotan

adalah

material

yang

belum

banyak

digunakan

sebagaielemen struktur, sehinga belum banyak informasi dan data yang


dapat dipakai untuk memodelkan struktur sebenarnya (baja) menjadi
pemodelan struktur rotan. Oleh karena itu, kami belum dapat dengan pasti
membuat skala gaya untuk pemodelan beban jembatan model dan
membuat skala penampang untuk pemodelan dimensi elemen struktur
dari jembatan ukuran

sebenarnya.

Sehingga

pemodelan

hanya

didasarkan pada kemiripan geometri.


2.Gelagar

memanjang

pada

jembatan

sebenarnya

digambarkan

menjadi satu kesatuan dengan gelagar melintang, sedangkan pada


model jembatan kedua elemen struktur terpisah, dimana digambarkan
gelagar memanjang menopang pada gelagar melintang. Hal ini
disebabkan oleh kepraktisan dalam menyambung dua elemen yang
mempunyai dimensi yang sama.
3.Pada jembatan ukuran sebenarnya pelat memiliki sifat yang structural,
tetapi dalam model jembatan lantai jembatan yang terbuat dari triplek
diilustrasikan sebagai beban lantai jembatan untuk gelagar memanjang
bukan merupakan elemen yang struktural. Hal ini dikarenakan kekakuan
material triplek yang tidak dapat memberi dukungan struktural.

MULAI

STUDI LITERATUR
PEMBELAJARAN :
1.
2.
3.

Dasar Teori Jembatan Busur


Peraturan-peraturan yang terkait
Memahami Persyaratan Perlombaan
DESAIN AWAL
Penentuan
1.
2.
3.

4.
5.
Analisa
Struktur

Tahap Akhir
PEMBUATAN
PERHITUNGAN
Desain
Akhir
1.Gambar 1.SAP
Struktur
Jembatan
dan detail
Jembatan
2000
(Perangkat
Lunak)

Bentuk Geometri (Model) Jembatan


Tipe Elemen Struktur
Material Jembatan
Dimensi Elemen Struktur
Gambar kerja

Tidak

SELESAI

4. Pemodelan profil elemen baja yang berupa Carbon Steel Pipe Schedule tidak
dapat kami modelkan dengan rotan yang berbentuk kotek berlubang. Hal ini
karena rotan yang ada dipasaran adalah rotan yang berbentuk silinder.
Sebaliknya, jika elemen baja dibuat profil silinder berlubang,maka terdapat
hambatan pada desain yang lebih rumit, sambungan yang lebih sulit, dan
pelaksanaan yang lebih kompleks.

5. Utilitas jembatan pada jembatan ukuran sebenarnya diperhitungkan dalam beban


yang bekerja pada jembatan, sedangkan dalam perencanaan model jembatan,
utilitas tidak diperhitungkan karena berat material model utilitas yang tidak
mempengaruhi lendutan model jembatan secara signifikan.

Perbedaan perencanaan jembatan ukuran sebenarnya dengan model jembatan


hanya terletak pada langkah setelah desain akhir, dimana pada jembatan ukuran
sebenarnya tahapan hanya berhenti sampai pada desain akhir, sedangkan pada
model jembatan langkah dilanjutkan pada tahap akhir. Tahap akhir ini adalah
tahap penggambaran struktur secara lebih detail terkait dengan potongan dan
sambungan elemen struktur, pembuatan rencana anggaran biaya, dan metode
perakitan jembatan model.

3.3 Sistem Struktur


Sistem strukturmodel hamper mirip dengan sistem struktur jembatan ukuran
sebenarnya.Sistemstrukturmodeljembatanbusur adalah sebagai berikut:

1. LantaiJembatan
Lantai jembatan ini bertugas menerima beban pejalan kaki secara langsung, beserta beban
utilitas jembatan. Komponen ini menumpu pada gelagar memanjang dan gelagar melintang
jembatan. Komponen lantai jembatan ini terbuat dari triplek dengan tebal 3 mm.

2. GelagarMemanjangdan GelagarMelintang
Terdapat perbedaaan dengan sistem struktur jembatan ukuran sebenarnya bahwa pada model
jembatan ini, gelagar memanjang menerima beban langsung dari lantai jembatan kemudian
diteruskan ke gelagar melintang. Hal ini dapat dilihatdengan bertumpunya gelagar
memanjang pada gelagar melintang.Komponen ini terbuat darirotan dengan diameter
cm pada gelagarmelintang

dan diameter

2,5 cm pada gelagar

memanjang.

3. BatangTegak
Batang tegak berfungsi untuk menyalurkan beban kepada busur jembatan. Batang tegak
menghubungkan balok pengikat bawah dengan busur jembatan, Komponen terbuat dari rotan
Manau dengan diameter 1,5 cm.

4. Busur
Busur jembatan berfungsi sebagai tempat pengikat hangers, sehingga busur menerima beban
dari hangers kemudian diteruskan ke perletakan jembatan. Komponen busur ini terbuat dari
rotan diameter 2,5 cm.

3.4 Modelisasi Struktur


Berdasarkan kriteria perancangan di atas maka model jembatan busur dibuat
dengan menggunakan perangkat lunak STAAD PRO. Tahapan dalam modelisasi
jembatan model adalah sebagai berikut:

1. Membuat file baru dan mengatur grid data. Grid data yang dimasukkan merupakan
titik-titik koordinat dari persamaan elips yang membentuk busur jembatan.
Mengubah satuan ke dalam Kgf, cm, C.

Gambar 3.5 Langkah awal menentukan model dan satuan dalam SAP 2000 V14 (atas),
menentukan grid data (bawah)

Gambar 3.6 Pengaturan Koordinat Busur Jembatan Model

Kompetisi Jembatan Indonesia (KJI) ke-10 Tahun 2014

128

2. Mendefinisikan material rotan.

Gambar 3.7 Mendefinisikan Material Rotan Manau

3. Mendefinisikan frame, dan area section. Dimana pada tahap ini dimensi struktur
yang ingin diperiksa pada analisa struktur nantinya dimasukkan ke dalam
property SAP 2000.
Tabel 3.2 Tabel Dimensi Komponen Struktur Jembatan Ukuran Model

No

Komponen

SectionProperties

GelagarMemanjang

Diameter 2,5 cm

GelagarMelintang

Diameter 1 cm

BusurJembatan

Diameter 2,5 cm

BresingAtas

Diameter 1 cm

BatangTegak

Diameter 1,5 cm

Gambar 3.9 Mendefinisikan Ukuran Penampang Rotan diameter 1dan 2 cm

Gambar 3.8 Mendefinisikan Ukuran Penampang Rotan

4. Membuat bentuk jembatan busur


5. Mendefinisikan beban yang bekerja pada jembatan model
6. endefinisikan kombinasi beban untuk pengecekan lendutan
7. Penambahan beban uji5 kg pada gelagarme lintangdi tengah bentang

Gambar 3.10 Tampak Samping Jembatan Model

Gambar 3.11 Tampak Atas Jembatan Model

Gambar 3.14 Tampak 3D Jembatan Model

Gambar 3.15 Pendefinisian beban yang bekerja pada jembatan model

Gambar 3.17 Kombinasi beban

Gambar 3.18 Pembebanan 5 kg untuk beban uji di tengah bentang

3.5 AnalisaStruktur
Analisa struktur dilakukan terhadap kombinasi yang terdiri dari beban mati,

beban uji dan beban mati tambahan. Hasil analisa digunakan untuk melihat lendutan yang
terjadi, apakah memenuhi syarat maksimum 2 mm atau tidak.

Gambar 3.23 Hasil lendutan yang diperoleh dari STAAD PRO akibat beban 5 kg

Analisa kombinasi beban untuk lendutan menunjukkan bahwa lendutan yang terjadi
pada tengah bentang adalah akibat beban 5 kg akibat kombinasi 1 yang menunjukkan bahwa
struktur telah memenuhi persyaratan kondisi batas maksimum lendutan yang diizinkan pada
kompetisi ini sebesar 2 mm.

Gambar 3.25 Hasil reaksi perletakan jembatan model yang diperoleh dari STAAD PRO.