You are on page 1of 102

ANALISIS EFEKTIVITAS KELOMPOK USAHA BERSAMA SEBAGAI

PROGRAM PEMBERDAYAAN RAKYAT MISKIN PERKOTAAN


(Studi Kasus di Kecamatan Pesanggrahan, Jakarta Selatan)

Oleh:
MUTIARA PERTIWI
A14304025

PROGRAM STUDI EKONOMI PERTANIAN DAN SUMBERDAYA


FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2008

RINGKASAN
MUTIARA PERTIWI. Analisis Efektivitas Kelompok Usaha Bersama Sebagai
Program Pemberdayaan Rakyat Miskin Perkotaan (Studi Kasus di Kecamatan
Pesanggrahan, Jakarta Selatan). Dibawah bimbingan HERMANTO SIREGAR.
Kemiskinan merupakan masalah nasional yang kompleks. Bahkan jumlah
orang miskin dalam beberapa tahun terakhir mengalami peningkatan. Peningkatan
penduduk miskin juga terjadi di Jakarta, pada tahun 2005 terdapat 316.200
penduduk miskin dan meningkat pada tahun 2006 menjadi 407.100 penduduk
miskin berdasarkan data diolah dari Susenas modul konsumsi 2005 dan 2006.
Namun, pada tahun 2007 angka kemiskinan mengalami penurunan. Hal ini
menimbulkan pertanyaan, program apa yang telah berhasil menurunkan jumlah
penduduk miskin. Berdasarkan departemen sosial RI, saat ini pemerintah sedang
menggalakkan program pemberdayaan masyarakat. Penelitian ini ingin
mengetahui efektivitas suatu program kemiskinan di Jakarta, sehingga peneliti
merujuk pada program pemberdayaan rakyat miskin perkotaan pada kegiatan
kelompok usaha bersama (KUBE).
Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan kemiskinan yang terjadi di
Kecamatan Pesanggrahan, menganalisis efektivitas Kelompok Usaha Bersama
(KUBE) dalam program penanggulangan kemiskinan yang telah dilakukan oleh
pemerintah di Kecamatan Pesanggrahan dan faktor-faktor yang mempengaruhi
keberhasilan KUBE, merumuskan implikasi kebijakan atas pelaksanaan KUBE
dalam program penanggulangan kemiskinan yang telah dijalankan.
Penelitian ini dilakukan dengan pengambilan data selama bulan April sampai
Juni 2008 di Kelurahan Ulujami dan Petukangan Utara, Kecamatan Pesanggrahan,
Jakarta Selatan. Data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Data
primer diperoleh dengan melakukan wawancara dan pengisian kuisioner oleh 55
orang anggota KUBE yang berasal dari 6 KUBE, yang dipilih dengan metode
accidental sampling. Data tersebut diolah dengan menggunakan program
Minitab14 dan Eviews 4.1.
Analisis efektivitas dilakukan dengan menggunakan uji beda mean dua
sampel berpasangan, yaitu menganalisis selisih antara pendapatan sebelum dan
setelah bergabung dengan KUBE. Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi
keberhasilan KUBE dianalisis menggunakan model regresi berganda. Variabel
bebas yang digunakan adalah pendidikan, pengalaman, pendampingan, dummy
kedudukan, dan dummy kelompok. Variabel tak bebas yang diduga adalah
pendapatan usaha KUBE.
Pendapatan rata-rata penduduk miskin sebesar Rp 201.968 per kapita per
bulan yang menunjukkan bahwa jumlah ini berada di bawah garis kemiskinan
yaitu Rp 322.780 per kapita per bulan untuk wilayah Kotamadya Jakarta Selatan
pada tahun 2006. Menurut jam kerja, penduduk miskin di Kecamatan
Pesanggrahan rata-rata telah bekerja lebih dari 39 jam per minggu, sedangkan
penduduk tidak miskin rata-rata bekerja lebih dari 74 jam per minggu.
Hasil uji beda mean dua sampel berpasangan menghasilkan t-hitung sebesar
4,48 untuk RT miskin, 4,7 untuk RT tidak miskin dan 6,1 untuk keseluruhan. Hal
ini menunjukkan bahwa t-hitung lebih besar dari t-tabel yang digunakan sehingga

dapat disimpulkan bahwa program KUBE secara kuantitatif efektif dalam


meningkatkan pendapatan masyarakat.
Hasil pendugaan pendapatan usaha KUBE menunjukkan bahwa nilai
koefisien determinasi (R-Sq) sebesar 67 persen dan nilai koefisien determinasi
terkoreksi (R-Sq adj) sebesar 63,6 persen. Angka (R-Sq) tersebut menunjukkan
bahwa 67 persen keragaman dari variabel tak bebas (pendapatan KUBE per
individu) dapat diterangkan oleh variabel-variabel bebas yang digunakan dalam
model. Hal ini bermakna bahwa model sudah baik. Hasil pendugaan model
terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan KUBE menunjukkan
bahwa variabel-variabel yang berpengaruh nyata pada taraf 95 persen terhadap
pendapatan usaha secara individu adalah variabel pendampingan, dummy
kedudukan dan dummy kelompok. Sedangkan variabel lain tidak berpengaruh
nyata.
Beberapa implikasi kebijakan yang dapat dipertimbangkan untuk
mengurangi angka kemiskinan di Kecamatan Pesanggrahan, antara lain:
Peningkatan kreatifitas masyarakat dengan pelatihan-pelatihan; Memperbaiki
pelaksanaan KUBE, program pemerintah yang dimulai dengan top-down
seringkali hasilnya tidak optimal karena memaksakan suatu keadaan untuk
diterima oleh masyarakat yang menerima bantuan; Meningkatkan monitoring
pelaksanaan program, walaupun selama ini telah ada pendampingan namun tidak
semua KUBE memperoleh pendampingan yang cukup.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemiskinan yang terjadi di Kecamatan
Pesanggrahan disebabkan oleh jam kerja rumah tangga miskin yang relatif lebih
rendah dibandingkan rumah tangga tidak miskin sehingga pendapatannya juga
rendah. Program KUBE terbukti efektif dalam meningkatkan pendapatan
masyarakat secara kuantitatif tetapi secara keseluruhan masih perlu dioptimalkan.
Adanya pendampingan dan usaha yang dijalankan secara berkelompok
meningkatkan pendapatan anggota KUBE.
Berdasarkan hasil penelitian diatas, maka penulis dapat memberikan saran
sebagai berikut: Pendampingan terhadap KUBE perlu ditingkatkan dan
dikembangkan sehingga efektifitas KUBE dalam meningkatkan keterampilan para
anggota menjadi lebih tinggi dan pada akhirnya dapat meningkatkan pendapatan
sasarannya secara lebih besar; KUBE sebaiknya berhubungan baik dengan
Lembaga Keuangan Mikro Sosial (LKMS) sehingga sinergi diantara dua lembaga
ini dapat berkelanjutan dan berkembang, hal ini diharapkan sangat membantu
KUBE dalam masalah keuangan dan kemitraan terhadap pihak luar; Perlu diteliti
efektifitas beberapa program penanggulangan kemiskinan lainnya yang telah
dilakukan oleh pemerintah sehingga dapat diketahui program mana yang memiliki
pengaruh yang lebih besar dalam mengurangi angka kemiskinan dan dicari bentuk
sinergi atau kombinasi diantaranya agar efektivitasnya dalam menanggulangi
kemiskinan lebih tinggi lagi.

ANALISIS EFEKTIVITAS KELOMPOK USAHA BERSAMA SEBAGAI


PROGRAM PEMBERDAYAAN RAKYAT MISKIN PERKOTAAN
(Studi Kasus di Kecamatan Pesanggrahan, Jakarta Selatan)

Oleh:
MUTIARA PERTIWI
A14304025

Skripsi
Sebagai Bagian Untuk Memperoleh Gelar
Sarjana Pertanian
pada
Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor

PROGRAM STUDI EKONOMI PERTANIAN DAN SUMBERDAYA


FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2008

Judul

: Analisis Efektivitas Kelompok Usaha Bersama Sebagai


Program Pemberdayaan Rakyat Miskin Perkotaan (Studi
Kasus di Kecamatan Pesanggrahan, Jakarta Selatan)

Nama Mahasiswa : Mutiara Pertiwi


NRP

: A14304025

Program Studi

: Ekonomi Pertanian dan Sumberdaya

Menyetujui,
Dosen Pembimbing

Prof. Dr. Ir. Hermanto Siregar, MEc


NIP. 131803656

Dekan Fakultas Pertanian

Prof. Dr. Ir. Didy Sopandie, M. Agr


NIP. 131124019

Tanggal Lulus:

PERNYATAAN

DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI YANG BERJUDUL


ANALISIS EFEKTIVITAS KELOMPOK USAHA BERSAMA SEBAGAI
PROGRAM PEMBERDAYAAN RAKYAT MISKIN PERKOTAAN (Studi
Kasus di Kecamatan Pesanggrahan, Jakarta Selatan) BELUM PERNAH
DIAJUKAN PADA PERGURUAN TINGGI LAIN ATAU LEMBAGA LAIN
MANAPUN UNTUK TUJUAN MEMPEROLEH GELAR AKADEMIK
TERTENTU. SAYA JUGA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI INI BENARBENAR HASIL KARYA SAYA.

Bogor,

Agustus 2008

Mutiara Pertiwi
A14304025

RIWAYAT HIDUP
Penulis lahir di Jakarta, 25 Januari 1987 sebagai anak kedua dari tiga
bersaudara pasangan Bambang Hermanto, Skom dan Umi Farida, Ssi. Penulis
menyelesaikan sekolah menengah atas pada SMUN 2 Ciputat pada tahun 2004.
Pada tahun yang sama, penulis diterima sebagai mahasiswa Program Studi
Ekonomi Pertanian dan Sumberdaya, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor
melalui jalur USMI (Undangan Seleksi Masuk IPB).
Selama menjadi mahasiswa penulis aktif dalam kegiatan kemahasiswaan,
menjadi anggota ICC (IPB Crisis Center) BEM KM IPB pada tahun 2004-2005,
menjadi anggota KOPMA IPB, menjadi bagian dari BEM A Departemen
Perekonomian pada tahun 2006-2007. Disamping kegiatan kemahasiswaan,
penulis juga aktif menjadi asisten MK. Ekonomi Umum selama empat semester.

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telah memberi
rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulisan skripsi ini yang berjudul Analisis
Efektivitas Kelompok Usaha Bersama Sebagai Program Pemberdayaan Rakyat
Miskin Perkotaan (Studi Kasus di Kecamatan Pesanggrahan, Jakarta Selatan)
dapat terselesaikan. Skripsi ini merupakan hasil laporan penelitian yang dilakukan
oleh penulis sebagai syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian pada
Program Studi Ekonomi Pertanian dan Sumberdaya, Fakultas Pertanian, Institut
Pertanian Bogor.
Penulis berusaha mengerjakan dan menyajikan skripsi ini dengan sebaikbaiknya. Namun, penulis tetap mengharapkan kritik dan saran yang membangun
untuk penelitian selanjutnya. Penulis berharap semoga penelitian ini dapat
bermanfaat bagi semua pihak yang berkepentingan.

Bogor,

Agustus 2008

Mutiara Pertiwi

UCAPAN TERIMAKASIH
Penulisan skripsi merupakan tahap akhir dari proses pendidikan yang dijalani
oleh penulis di Institut Pertanian Bogor. Dalam proses penulisan skripsi ini tidak
lepas dari kerjasama dan bantuan berbagai pihak. Pada kesempatan ini penulis
ingin mengucapkan terimakasih kepada :
1. Prof. Dr. Ir. Hermanto Siregar, MEc sebagai dosen pembimbing skripsi atas
masukan, arahan dan kerjasamanya selama penyusunan skripsi ini.
2. Ir. Nindyantoro, MSP sebagai dosen penguji utama pada ujian skripsi
sehingga skripsi ini dapat diselesaikan.
3. Tintin Sarianti, SP sebagai dosen penguji departemen pada ujian skripsi
sehingga skripsi ini dapat diselesaikan.
4. Bapak Yono selaku pihak LKMS dan ibu Yetty selaku pihak Kecamatan
urusan sosial serta warga Kelurahan Ulujami dan Kelurahan Petukangan
Utara atas kerjasamanya selama ini.
5. Kedua orang tua yang selalu memberi perhatian dan kasih sayangnya kepada
penulis.
6. Saudara-saudara dan semua keluarga yang selalu mendoakan.
7. Teman-teman seperjuangan (epse41, pns, maharani, dan SMUN 2 Ciputat)
yang tak henti-hentinya memberi semangat, dukungan dan doa.
8. Dan pihak-pihak lain yang tidak bisa disebutkan satu per satu.

DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL ...................................................................................

xii

DAFTAR GAMBAR ..............................................................................

xiii

DAFTAR LAMPIRAN ...........................................................................

xiv

I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ..............................................................................

1.2 Perumusan masalah .......................................................................

1.3 Tujuan Penelitian ..........................................................................

1.4 Kegunaan penelitian.......................................................................

1.5 Keterbatasan Penelitian .................................................................

II. TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Kemiskinan ...................................................................................

2.2 Program Penanggulangan Kemiskinan ..........................................

16

2.2.1 Program Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan (P2KP) .....

18

2.2.2 Kelompok Usaha Bersama (KUBE) ......................................

19

2.3 Efektivitas......................................................................................

24

2.4 Hasil Penelitian terdahulu .............................................................

25

III.KERANGKA PEMIKIRAN
3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis
3.1.1 Analisis Regresi ...................................................................

29

3.1.2 Permasalahan OLS ...............................................................

31

3.2 Kerangka Pemikiran Operasional ..................................................

35

IV. METODE PENELITIAN


4.1 Waktu dan Lokasi Penelitian .........................................................

38

4.2 Jenis dan Sumber Data ..................................................................

38

4.3 Teknik Penarikan Sampel ..............................................................

38

4.4 Metode Analisis Data


4.4.1 Analisis Deskriptif ................................................................

39

4.4.2 Analisis Efektivitas Program KUBE .....................................

39

4.4.3 Analisis Regresi Berganda ....................................................

40

4.4.4 Model Analisis .....................................................................

41

4.4.5 Koefisien Determinasi (R2) dan Adjusted R2 .........................

42

4.4.6 Pengujian untuk Masing-masing Parameter Regresi ..............

44

4.4.7 Pengujian Terhadap Model Penduga .....................................

45

4.4.8 Pengujian Terhadap Masalah Heteroskedastisitas .................

46

4.4.9 Pengujian Terhadap Masalah Multikolinearitas ....................

48

4.5 Hipotesis Penelitian .......................................................................

50

V. GAMBARAN LOKASI PENELITIAN


5.1 Kondisi Kemiskinan Jakarta Selatan ..............................................

51

5.2 Kondisi Fisik, Sosial, dan Ekonomi Kecamatan Pesanggrahan ......

52

5.2.1 Fasilitas Pendidikan ..............................................................

55

5.2.2 Fasilitas Kesehatan ...............................................................

55

5.3 Karakteristik Responden ................................................................

56

5.4 Pelaksanaan KUBE di Kecamatan Pesanggrahan ..........................

58

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN


6.1 Kemiskinan di Kecamatan Pesanggrahan ......................................

62

6.2 Efektivitas Kelompok Usaha Bersama (KUBE) .............................

63

6.3 Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Keberhasilan KUBE


6.3.1 Deskripsi Statistik Variabel-variabel Penelitian ....................

65

6.3.2 Hasil dan Pembahasan Model Dugaan ..................................

68

6.4 Implikasi Kebijakan .......................................................................

71

VII.

KESIMPULAN DAN SARAN

7.1 Kesimpulan ...................................................................................

73

7.2 Saran..............................................................................................

74

DAFTAR PUSTAKA...............................................................................

75

LAMPIRAN ............................................................................................

78

DAFTAR TABEL
Nomor
1.

Halaman
Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin di Indonesia menurut
Daerah, 1996 2007 .....................................................................

2.

Garis Kemiskinan, Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin


Menurut Daerah, Maret 2006 Maret 2007 ...................................

3.

Persentase Penduduk Bekerja Menurut Provinsi/Kabupaten/Kota


dan Jam Kerja per Minggu, 2006 ...................................................

4.

Indikator Kemiskinan Pedesaan dan Perkotaan ..............................

15

5.

Data dan Informasi Kemiskinan Tahun 2005 2006 .....................

52

6.

Kepadatan

Penduduk

Kecamatan

Pesanggrahan

Menurut

Kelurahan Tahun 2006 .................................................................

54

7.

Jumlah Fasilitas Pendidikan Menurut Kelurahan Tahun 2006 ........

55

8.

Jumlah Fasilitas Kesehatan Menurut Kelurahan Tahun 2006..........

56

9.

Variabel Sosial ekonomi Responden .............................................

57

10. Variabel Demografi Responden .....................................................

58

11. Jenis dan Jumlah Bantuan Sarana KUBE Catering ........................

60

12. Rata-rata Pendapatan dan Jam Kerja Penduduk Miskin dan Tidak
Miskin di Kecamatan Pesanggrahan ..............................................

62

13. Hasil Uji Beda Dua Mean Sampel Berpasangan Antara Pendapatan
Sebelum dan Setelah Mengikuti KUBE .........................................

64

14. Jumlah Anggota KUBE berdasarkan Tingkat Pendidikan ..............

66

15. Hasil Pendugaan faktor-faktor yang Mempengaruhi Pendapatan


Individu Kelompok Usaha Bersama di Kecamatan Pesanggrahan ..

68

16. Matriks Korelasi ...........................................................................

69

DAFTAR GAMBAR
Nomor

Halaman

1.

Pola Penyaluran Dana Program ...................................................

2.

Strategi Penanggulangan Kamiskinan Melalui Pemberdayaan

17

Usaha Mikro ..............................................................................

18

3.

Alur Kerangka Pemikiran ............................................................

37

4.

Pendapatan RT Miskin Sebelum dan Setelah KUBE ...................

63

5.

Pendapatan RT Tidak Miskin Sebelum dan Setelah KUBE .........

64

DAFTAR LAMPIRAN
Nomor
1.

Halaman
Garis Kemiskinan (Rp/Kap/Bln) Menurut Provinsi dan Daerah,
Tahun 2005-2007 ......................................................................

79

2.

Kuisioner Penelitian ..................................................................

80

3.

Data dan Variabel-variabel Penelitian.........................................

82

4.

Pendapatan RT Miskin Sebelum dan Setelah Mengikuti KUBE


serta Pekerjaan Utama Responden Selain KUBE ........................

5.

85

Pendapatan RT Tidak Miskin Sebelum dan Setelah mengikuti


KUBE serta Pekerjaan Utama Responden Selain KUBE.............

86

6.

Hasil Pengolahan dengan Minitab 14..........................................

87

7.

Hasil Pengolahan dengan Eviews 4.1 .........................................

88

I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Reforma agraria yang tidak dijalankan mengakibatkan ketimpangan
kepemilikan dan pengelolaan atas sumber-sumber agraria. Hal ini menyebabkan
makin

tingginya

jumlah

buruh

migran,

pengangguran,

urbanisasi

dan

meningkatnya keluarga petani yang tidak memiliki lahan pertanian1.


Urbanisasi merupakan pilihan yang rasional bagi para migran, tetapi
urbanisasi tersebut akan menimbulkan masalah tenaga kerja, baik pengangguran
maupun setengah pengangguran, yang diikuti dengan meluasnya aktivitas sektor
informal di kota. Menurut Direktur Institute for Democracy & Society
Empowerment (IDSE) Yogyakarta Hendrizal, hal ini akan mengakibatkan kualitas
hidup para migran menjadi minim, kebanyakan mereka hanya mampu hidup
secara subsistem dan kondisi ini akan menimbulkan gejala kemiskinan2.
Jakarta merupakan wilayah Ibukota negara yang merupakan pusat beberapa
kegiatan baik ekonomi, pariwisata dan pendidikan. Daya tarik Jakarta ini
merupakan salah satu faktor yang mendorong urbanisasi ke Jakarta meningkat dan
kemiskinan Jakarta terus bertambah.
Kemiskinan merupakan masalah nasional yang kompleks. Bahkan jumlah
orang miskin dalam beberapa tahun terakhir mengalami peningkatan seperti pada
Tabel 1. Peningkatan penduduk miskin juga terjadi di Jakarta, pada tahun 2005
terdapat 316.200 penduduk miskin dan meningkat pada tahun 2006 menjadi
1

Pandangan dan Sikap Politik Organisasi Rakyat di Indonesia terhadap International Conference
on Agrian Reform and Rural Development (ICARRD). http://groups.google.co.id/group/eksseminari/browse_thread/96a5ccc98578e37c. diakses 25 Agustus 2008.
2
Urbanisasi Pasca Mudik. http://chairulakhmad.wordpress.com/2007/11/15/urbanisasi-pascamudik/. diakses 12 April 2008.

407.100 penduduk miskin berdasarkan data diolah dari Susenas modul konsumsi
2005 dan 2006.
Tabel 1. Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin di Indonesia menurut
Daerah, 1996-2007
Jumlah Penduduk Miskin
(Juta)
Persentase Penduduk Miskin
Tahun
Kota
Desa Kota+Desa
Kota
Desa Kota+Desa
1996
9,42
24,59
34,01
13,39
19,78
17,47
1998
17,60
31,90
49,50
21,92
25,72
24,23
1999
15,64
32,33
47,97
19,41
26,03
23,43
2000
12,30
26,40
38,70
14,60
22,38
19,14
2001
8,60
29,30
37,90
9,76
24,84
18,41
2002
13,30
25,10
38,40
14,46
21,10
18,20
2003
12,20
25,10
37,30
13,57
20,23
17,42
2004
11,40
24,80
36,10
12,13
20,11
16,66
2005
12,40
22,70
35,10
11,68
19,98
15,97
2006
14,49
24,81
39,30
13,47
21,81
17,75
2007
13,56
23,61
37,17
12,52
20,37
16,58
Sumber: Diolah dari data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas), 2007
Pemerintah telah banyak merumuskan program penanggulangan kemiskinan
bahkan telah terbentuk suatu Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan
(TKPK) untuk menyelesaikan masalah kemiskinan ini. Kebanyakan program yang
telah dilaksanakan bukan merupakan program yang berkelanjutan dan hanya
membuka akses pangan dan kesehatan pada saat tertentu saja. Program
penanggulangan kemiskinan diperlukan untuk dapat menunjang kelangsungan
hidup penduduk miskin secara berkelanjutan. Berdasarkan data BPS 2007
mengenai garis kemiskinan dan jumlah orang miskin pada tahun 2007 telah
mengalami penurunan seperti pada Tabel 2.
Hal ini menimbulkan pertanyaan, program apa yang telah berhasil
menurunkan jumlah penduduk miskin. Berdasarkan departemen sosial RI, saat ini
pemerintah

sedang

menggalakkan

program

pemberdayaan

masyarakat.

Pemberdayaan ini dimaksudkan agar program yang dilakukan pemerintah saat ini
dapat menunjang kehidupan penduduk miskin secara berkelanjutan. Program
pokok dalam pemberdayaan fakir miskin dibagi menjadi dua bagian, yaitu
program penanggulangan kemiskinan kronis dan program penanggulangan
kemiskinan transient serta program terpadu pengembangan desa miskin/adopsi
desa miskin.
Tabel 2. Garis Kemiskinan, Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin
menurut Daerah, Maret 2006-Maret 2007
Garis Kemiskinan (Rp/Kapita/Bln)
Jumlah
Daerah/
Penduduk Persentase
Bukan
Tahun
Makanan
Total
Miskin
Penduduk
Makanan
(Juta)
Miskin
Perkotaan
Maret 2006
126.163
48.127
174.290
14,49
13,47
Maret 2007
132.258
55.683
187.942
13,56
12,52
Perdesaan
Maret 2006
102.907
27.677
130.584
24,81
21,81
Maret 2007
116.265
30.572
146.837
23,61
20,37
Kota+Desa
Maret 2006
114.125
37.872
151.997
39,30
17,75
Maret 2007
123.992
42.704
166.697
37,17
16,58
Sumber: Diolah dari data Susenas Panel Maret 2006 dan Maret 2007
Program penanggulangan kemiskinan kronis terdiri dari pemberdayaan fakir
miskin di wilayah hutan kemasyarakatan, pemberdayaan fakir miskin di wilayah
perdesaan, pemberdayaan fakir miskin di wilayah sub urban (desa-kota),
pemberdayaan fakir miskin di wilayah perkotaan, pemberdayaan fakir miskin di
wilayah pesisir pantai, pemberdayaan fakir miskin di wilayah kepulauan terpencil,
pemberdayaan fakir miskin di wilayah perbatasan antar negara, pemberdayaan
fakir miskin di wilayah pertambangan dan industri. Sedangkan program
penanggulangan kemiskinan transient terdiri dari pemberdayaan fakir miskin eks
korban bencana alam, dan pemberdayaan fakir miskin eks bencana sosial (Depsos,
2005).

Penelitian ini ingin mengetahui efektivitas suatu program penanggulangan


kemiskinan di Jakarta, sehingga peneliti merujuk pada program pemberdayaan
fakir miskin perkotaan pada kegiatan Kelompok Usaha Bersama (KUBE). KUBE
merupakan kegiatan pengembangan usaha ekonomi produktif fakir miskin yang
ditujukan untuk meningkatkan motivasi untuk lebih maju, meningkatkan interaksi
dan kerjasama dalam kelompok, mendayagunakan potensi dan sumberdaya sosial
ekonomi lokal, memperkuat budaya kewirausahaan mengembangkan akses pasar,
melaksanakan usaha kesejahteraan sosial dan menjamin kemitraan sosial ekonomi
dengan berbagai pihak yang terkait.
KUBE di Jakarta mulai dilaksanakan pada tahun 2005 pada setiap kotamadya
dipilih satu Kecamatan sebagai daerah pelaksanaan. Dalam penelitian ini, Jakarta
selatan dipilih sebagai daerah penelitian berdasarkan data persentase penduduk
bekerja menurut provinsi/kabupaten/kota seperti pada Tabel 3. Jakarta Selatan
memiliki persentase penduduk yang bekerja kurang dari 15 jam, 36 jam dan 42
jam relatif lebih banyak bila dibandingkan dengan wilayah lain.
Hingga tahun 2007, telah terdapat tiga kecamatan sebagai tempat
pelaksanaan KUBE di Jakarta Selatan. Setiap tahunnya jumlah KUBE yang
dibentuk serta dana yang dialokasikan pada Lembaga Keuangan Mikro Sosial
(LKMS) berbeda-beda. Pada tahun 2005 hanya dibentuk 3 KUBE di Kecamatan
Kebayoran Lama, pada tahun 2006 telah dibentuk 40 KUBE di Kecamatan
Pesanggrahan dan pada tahun 2007 dibentuk 13 KUBE di Kecamatan Tebet.
Dalam penelitian ini akan dibahas KUBE yang dibentuk pada tahun 2006 dengan
pertimbangan bahwa KUBE yang dibentuk dalam jumlah yang cukup banyak.

Tabel 3. Persentase Penduduk Bekerja Menurut Provinsi/Kabupaten/Kota


dan Jam Kerja per Minggu, 2006
Kode
Kabupaten/kota
< 42 jam < 36 jam < 15 jam
1 Kab.Adm. Kepulauan Seribu
18,66
8,24
0
71 Kota Jakarta Selatan
36,1
14,2
3,61
72 Kota Jakarta Timur
34,47
11,65
2,35
73 Kota Jakarta Pusat
30,55
12,55
1,93
74 Kota Jakarta Barat
30,13
12,73
2,01
75 Kota Jakarta Utara
29,05
12,42
2,05
Provinsi DKI Jakarta
32,48
12,73
2,47
Sumber: BPS, 2007
1.2 Perumusan Masalah
Selama ini kemiskinan direduksi menjadi suatu rumusan teknis yang sempit.
Pengukuran kemiskinan yang hanya bertumpu pada indeks konsumsi beras telah
mengurangi konteks dan kompleksitas persoalan yang sebenarnya. Di sisi lain,
respon kebijakan juga simplitis yang hanya memberikan solusi kebijakan yang
bersifat umum. Seakan semua persoalan kemiskinan mempunyai latar belakang
yang seragam (KIKIS, 2000).
Dalam kenyataan, masing-masing wilayah memiliki penyebab kemiskinan
yang berbeda dengan daerah lainnya. Kemiskinan yang dimaksud dapat dinilai
dari berbagai konsep kemiskinan yang ada. Dalam hal ini perlu diketahui
bagaimana kemiskinan yang terjadi di kecamatan pesanggrahan berdasarkan
konsep kemiskinan absolut yang dianut oleh BPS?
Kemiskinan yang selalu menjadi masalah tahunan di Indonesia membuat
pemerintah lebih serius dalam menangani masalah kemiskinan ini. Berbagai
departemen/instansi pemerintah telah merumuskan dan melaksanakan berbagai
program penanggulangan kemiskinan. Dana pemerintah yang dialokasikan untuk
penaggulangan kemiskinan juga bukan dana yang sedikit. Tetapi angka
kemiskinan yang terjadi tetap masih tinggi. Sehingga perlu diketahui bagaimana

efektivitas dari program penanggulangan kemiskinan yang dilakukan oleh


pemerintah (dalam penelitian ini adalah KUBE yang dilaksanakan di Kecamatan
Pesanggrahan pada tahun 2006)? Serta faktor apa yang mempengaruhi
keberhasilan suatu KUBE?
Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah untuk mengatasi masalah
kemiskinan yang terjadi khususnya di Ibukota. Berdasarkan hasil pengolahan data
yang diperoleh, bagaimana rujukan bagi pemerintah dalam melaksanakan
kebijakan selanjutnya?
1.3 Tujuan Penulisan
Tujuan dari penelitian ini sebagai berikut.
1. Mendeskripsikan kemiskinan yang terjadi di Kecamatan Pesanggrahan.
2. Menganalisis efektivitas Kelompok Usaha Bersama (KUBE) dalam program
penanggulangan kemiskinan yang telah dilakukan oleh pemerintah di
Kecamatan Pesanggrahan dan faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan
KUBE.
3. Merumuskan implikasi kebijakan atas pelaksanaan KUBE dalam program
penanggulangan kemiskinan yang telah dijalankan.
1.4 Kegunaan Penelitian
Penelitian

ini

diharapkan

berguna

bagi

peneliti

terutama

dalam

mengaplikasikan teori-teori yang telah diperoleh selama kuliah dan sebagai


pengalaman yang berharga. Hasil penilitian ini diharapkan berguna bagi instansi
terkait (Walikota Jakarta Selatan, Departemen Sosial, Dinas Bina Spiritual dan
Kesejahteraan Sosial dan Lembaga Keuangan Mikro Sosial Kecamatan
Pesanggrahan)

sebagai

acuan

dalam

perumusan

program-program

penanggulangan kemiskinan lebih lanjut. Serta berguna bagi mahasiswa sebagai


bahan referensi penelitian berikutnya.
1.5 Keterbatasan Penelitian
Penelitian ini menggunakan variabel pendidikan hanya berdasarkan lamanya
dalam tahun seorang responden memperoleh pendidikan formal, belum
membedakan antara Sekolah Menengah Atas (SMA) dengan Sekolah Menengah
Kejuruan (SMK) yang memiliki lama tahun sekolah yang sama tetapi tingkat
keahlian atau pengetahuan atas suatu bidang usaha yang berbeda. Pengalaman
usaha yang digunakan merupakan pengalaman usaha yang luas dan belum
memperhitungkan keterkaitan usaha responden dengan usaha KUBE.

II.

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kemiskinan
Kemiskinan adalah kondisi sosial ekonomi warga masyarakat yang tidak
mempunyai kemampuan dalam memenuhi kebutuhan pokok yang layak bagi
kemanusiaan. Sedangkan fakir miskin adalah orang yang sama sekali tidak
memiliki sumber mata pencarian dan tidak mempunyai kemampuan memenuhi
kebutuhan pokok yang layak bagi kemanusiaan atau orang yang mempunyai mata
pencaharian tetapi tidak dapat memenuhi kebutuhan pokok yang layak bagi
kemanusiaan (PP Nomor 42 Tahun 1981pasal 1 ayat (1)).
Kemiskinan adalah kondisi tidak terpenuhinya kebutuhan asasi atau essensial
sebagai manusia. Kebutuhan asasi ini meliputi kebutuhan akan substitensi, afeksi,
keamanan, identitas kultural, proteksi, kreasi, kebebasan, partisipasi, dan waktu
luang. Dengan adanya kebutuhan asasi tersebut, terjadilah berbagai jenis
kemiskinan diantaranya. Kemiskinan substitensi terjadi karena rendahnya
pendapatan, tak terpenuhinya kebutuhan akan sandang, pangan, papan serta
kebutuhan-kebutuhan dasar lainnya. Kemiskinan perlindungan terjadi karena
meluasnya budaya kekerasan atau tidak memadainya sistem perlindungan atas hak
dan kebutuhan dasar. Kemiskinan afeksi terjadi karena adanya bentuk-bentuk
penindasan, pola hubungan eksploitatif antara manusia dengan manusia dan antara
manusia dengan alam. Kemiskinan pemahaman terjadi karena kualitas pendidikan
yang rendah, selain faktor kuantitas yang tidak mampu memenuhi kebutuhan.
Kemiskinan partisipasi terjadi karena adanya diskriminasi dan peminggiran rakyat
dari proses pengambilan keputusan. Kemiskinan identitas terjadi karena

dipaksakannya nilai-nilai yang asing terhadap budaya lokal yang mengakibatkan


hancurnya nilai sosio kultural yang ada (KIKIS, 2000).
Chambers dalam Khairullah (2003) menyatakan kemiskinan yang disebut
kemiskinan mutlak sebagai kondisi hidup yang ditandai dengan kekurangan gizi,
tuna aksara, wabah penyakit, lingkungan kumuh, mortalitas bayi yang tinggi, dan
harapan hidup yang rendah. Kemiskinan merupakan keadaan yang kompleks dan
menyangkut banyak faktor yang saling terkait dan menyebabkan orang-orang
dalam kategori miskin tetap berada dalam perangkap ketidakberdayaan. Faktor
yang saling berkaitan tersebut seperti adanya pendapatan yang rendah, kelemahan
fisik, isolasi atau keterasingan, kerawanan, dan tidak memiliki kekuatan politik
dan tawar-menawar.
Ada tiga macam konsep kemiskinan yang paling sering dijadikan acuan
yakni: kemiskinan absolut, kemiskinan relatif, dan kemiskinan subyektif (Sunyoto
Usman, 2003). Kemiskinan absolut dirumuskan dengan membuat ukuran tertentu
yang konkret (a fixed yardstick). Ukuran itu lazimnya berorientasi pada kebutuhan
hidup minimum anggota masyarakat (sandang, pangan, dan papan). Konsep
kemiskinan relatif dirumuskan berdasarkan the idea if relative standart, yaitu
dengan memperlihatkan dimensi tempat dan waktu. Dasar asumsinya adalah
kemiskinan di suatu daerah berbeda dengan daerah lainnya, dan kemiskinan pada
waktu tertentu berbeda dengan waktu lain. Konsep kemiskinan semacam ini
lazimnya diukur berdasarkan pertimbangan (in terms of judgement) anggota
masyarakat tertentu, dengan berorientasi pada derajat kelayakan hidup. Sedangkan
kosep kemiskinan subyektif dirumuskan berdasarkan perasaan kelompok miskin
itu sendiri. Konsep ini tidak mengenal a fixed yardstick dan tidak

memperhitungkan the idea of relative standard. Kelompok yang menurut kita


berada dibawah garis kemiskinan boleh jadi tidak menganggap dirinya sendiri
miskin dan demikian pula sebaliknya. Oleh karena itu konsep kemiskinan
semacam ini dianggap lebih tepat apabila dipergunakan untuk memahami
kemiskinan

dan

merumuskan

cara

atau

strategi

yang

efektif

untuk

penanggulangannya.
Emil Salim dalam Sumodiningrat (1999) mengemukakan sekurangnya ada
lima ciri penduduk yang hidup dibawah garis kemiskinan. Pertama, pada
umumnya mereka tidak mempunyai faktor produksi seperti tanah, modal atau
keterampilan sehingga kemampuan untuk memperoleh pendapatan menjadi
terbatas. Kedua, mereka tidak memiliki kemungkinan untuk memperoleh aset
produksi dengan kekuatan sendiri. Ketiga, tingkat pendidikan mereka umumnya
rendah karena waktu mereka tersita untuk mencari nafkah dan untuk mendapatkan
penghasilan. Keempat, kebanyakan mereka tinggal di pedesaan. Kelima, mereka
yang hidup di kota masih berusia muda dan tidak didukung oleh keterampilan
yang memadai.
Sajogyo (1977) menggunakan hubungan tingkat pengeluaran rumah tangga
dengan ukuran kecukupan pangan dalam menetapkan garis kemiskinan. Tingkat
pengeluaran setara kurang dari 240 kg nilai tukar beras per kapita per tahun
tergolong miskin sekali dan tingkat pengeluaran setara kurang dari 180 kg nilai
tukar beras per kapita per tahun tergolong paling miskin untuk pedesaan.
Sedangkan tingkat pengeluaran setara kurang dari 360 kg nilai tukar beras per
kapita per tahun tergolong miskin sekali dan tingkat pengeluaran setara kurang
dari 270 kg nilai tukar beras per kapita per tahun tergolong paling miskin untuk

perkotaan. Adapun yang tergolong miskin adalah mereka yang mempunyai


tingkat pengeluaran setara kurang dari 320 kg nilai tukar beras per kapita per
tahun untuk pedesaan dan 480 kg nilai tukar beras per kapita per tahun untuk
perkotaan.
Sejak tahun 1976 Badan Pusat Statistik (BPS) membuat perkiraan jumlah
penduduk miskin (dibedakan antara wilayah perdesaan, perkotaan dan provinsi di
Indonesia) dengan berpatokan pada pengeluaran rumah tangga menurut data
SUSENAS (Survei Sosial Ekonomi Nasional). Penduduk miskin ditentukan
berdasarkan pengeluaran atas kebutuhan pokok, yang terdiri dari bahan makanan
maupun bukan makanan yang dianggap dasar dan diperlukan selama jangka
waktu tertentu agar dapat hidup secara layak. Dengan cara ini, maka kemiskinan
diukur sebagai tingkat konsumsi per kapita dibawah suatu standar tertentu yang
disebut sebagai garis kemiskinan. Mereka yang berada di bawah garis kemiskinan
tersebut dikategorikan sebagai miskin. Garis kemiskinan BPS menurut provinsi
dan daerah dapat dilihat pada Lampiran 1. Berdasarkan data tersebut dapat dilihat
bahwa gris kemiskinan untuk masing-masing daerah (kota dan desa) serta provinsi
berada pada tingkat yang berbeda-beda. Hal ini menunjukkan bahwa adanya
pengeluaran untuk kebutuhan pokok yang berbeda mungkin disebabkan oleh
kebutuhan yang berbeda atau harga yang berbeda untuk kebutuhan pokok yang
sama.
Menurut Sen (1999) dalam Siregar, Wahyuniarti dan Achsani (2007)
kemiskinan lebih terkait pada ketidakmampuan untuk mencapai standar hidup
tersebut dari pada apakah standar hidup tersebut tercapai atau tidak. Seseorang
dapat dikatakan miskin atau hidup dalam kemiskinan jika pendapatan atau

aksesnya terhadap barang dan jasa relatif rendah dibandingkan rata-rata orang lain
dalam perekonomian tersebut. Secara absolut, seseorang dinyatakan miskin
apabila tingkat pendapatan atau standar hidupnya secara absolut berada di bawah
tingkat subsisten. Ukuran subsistensi tersebut dapat diproksi dengan garis
kemiskinan. Secara umum, kemiskinan adalah ketidakmampuan seseorang untuk
memenuhi kebutuhan dasar standar atas setiap aspek kehidupan.
Menurut Muttaqien (2005) secara umum penyebab kemiskinan dapat
dianalisis dari akibat yang terjadi. Kemiskinan yang terjadi di perkotaan dan
pedesaan memiliki penyebab yang khas. Daerah pedesaan cenderung didominasi
lahan pertanian sehingga penyebab kemiskinan paling utama dapat diprediksi dari
sektor tersebut. Kurangnya pemerataan pembangunan saat ini turut memperparah
keadaan. Kemiskinan di perkotaan merupakan imbas dari kemiskinan di pedesaan
yang menyebabkan arus urbanisasi meningkat. Kemampuan kota yang terbatas
namun terus-menerus mendapat input dari pedesaan membuat daya dukung kota
melemah. Puncaknya, berbagai pemukiman kumuh (slum), kriminalitas dan
pengangguran menjadi makin meningkat.
Kemiskinan yang terjadi di pedesaan menyebabkan kesejahteraan masyarakat
menjadi rendah. Pendapatan masyarakat yang rendah dan tingginya tingkat
pengangguran menyebabkan meningkatnya arus migrasi ke kota (urbanisasi). Hal
ini justru menimbulkan masalah baru di desa dan terutama di kota.
Secara umum kemiskinan di pedesaan disebabkan oleh:

Faktor pendidikan yang rendah.

Terjadinya ketimpangan kepemilikan lahan pertanian. Tanah pertanian hanya


dikuasai tuan tanah, sedangkan masyarakat miskin hanya menjadi buruh tani.

Tidak meratanya investasi dibidang pertanian.

Rendahnya perhatian pemerintah dalam bidang pertanian. Selama ini bidang


pertanian selalu termarjinalkan. Pemerintah berorientasi pada pembangunan
sektor industri. Fondasi pertanian ternyata masih rapuh. Kebijakan pertanian
belum mendukung pertanian.

Kebijakan pembangunan bertumpu di kota. Arus lalu lintas uang dan barang
lebih besar terjadi di kota.

Budaya pemerintah yang buruk (bad governance). Hal ini berakibat pada
buruknya pelayanan pemerintah pada publik. Sistem birokrasi mejadi panjang
dan rumit.

Sistem pertanian yang masih menggunakan cara tradisional.

Tingkat kesehatan yang mengkhawatirkan.

Rendahnya produktivitas masyarakat dibidang pertanian.

Budaya masyarakat yang tidak disiplin, kurang suka bekerja keras, dan
cenderung agraris.
Beberapa hal yang menyebabkan terjadinya kemiskinan di perkotaan antara

lain:

Terjadinya arus urbanisasi besar-besaran dari desa. Migrasi yang besar tanpa
disertai peningkatan daya dukung kota akan menyebabkan efek negatif bagi
kota tersebut.

Tingkat pendidikan yang rendah. Semakin rendah tingkat pendidikan


seseorang maka semakin sulit melakukan mobilitas vertikal dalam hal
pekerjaan dan peran dalam masyarakat.

Tingginya angka pengangguran, terutama pada usia produktif.

Penataan kota yang belum baik, meliputi sistem transportasi, pemukiman dan
lain-lain.

Regulasi atau peraturan yang kurang mendukung mulai dari sitem RTRW
(Rancangan Tata Ruang dan Wilayah) dan peraturan investasi yang kurang
mendukung.

Tata pemerintahan yang buruk (bad governance) sehingga pelayanan publik


(public service) menjadi buruk dan mendukung terjadinya Korupsi, Kolusi dan
Nepotisme (KKN).

Sistem perpolotikan yang tidak stabil, terutama terjadi di tingkat daerah.

Terjadinya ketidakadilan dalam pendapatan antara berbagai jenis pekerjaan


dan berbagai golongan.

Rencana pembangunan yang belum berpihak kepada rakyat kecil dan


cenderung ke arah konglomerasi.

Kebijakan otonomi daerah. Kemampuan tiap daerah berbeda. Daerah kaya


memiliki kemungkinan lebih besar membuat rakyatnya lebih sejahtera. Di
daerah miskin, berlaku hal sebaliknya.
Secara umum, kemiskinan di pedesaan dan di perkotaan memiliki faktor

penyebab yang hampir sama. Kemiskinan di pedesaan akan berimbas pada kota
melalui urbanisasi. Sebagian besar kemiskinan terjadi di pedesaan. Namun
kemiskinan di perkotaan adalah hal yang paling mudah dipantau karena arus
informasi lebih baik daripada di pedesaan. Kemiskinan di wilayah pedesaan dan
perkotaaan dapat dijabarkan dalam indikator-indikator yang dapat diihat pada
Tabel 4.

Tabel 4. Indikator Kemiskinan Pedesaan dan Perkotaan


Indikator Kemiskinan Pedesaan
Indikator Kemiskinan Perkotaan
Kurangnya kesempatan memiliki lahan
pertanian. Pertanian merupakan mata
usaha paling utama bagi penduduk
pedesaan.
Kurangnya modal bagi penduduk
pedesaan. Arus uang di wilayah
pedesaan tidak setinggi di kota. Hal ini
wajar, mengingat secara umum kota
lebih menggantungkan pada
perdagangan dan perindustrian sehingga
lalu lintas uang lebih besar daripada di
desa yang menggantungkan hidup pada
pertanian.
Rendahnya tingkat pendapatan
masyarakat desa.
Terbatasnya lapangan pekerjaan,
biasanya hanya menggantungkan pada
pertanian dan kelautan.
Rendahnya kualitas kesehatan
masyarakat.
Kurangnya kesempatan memperoleh
kredit usaha.
Kurangnya produktivitas usaha.
Kurangnya pendidikan yang berkualitas.
Kurang terpenuhinya kebutuhan dasar
(sandang, pangan dan papan).
Sistem pertanian masih bertumpu pada
cara tradisional.
Sistem Pemerintahan yang buruk (bad
governance), terjadinya korupsi, kolusi
dan nepotisme.
Kurangnya akses akan informasi.
Kurangnya akses mendapatkan air
bersih.
Lingkungan yang kurang mendukung,
seperti kekeringan berkepanjangan.
Kurangnya partisipasi rakyat dalam
pengambilan keputusan publik pada
tingkat yang lebih tinggi.
Kurangnya budaya menabung, investasi
dan disiplin dalam masyarakat.

Kurangnya kesempatan mendapatkan


pekerjaan yang layak dan dapat
memenuhi kehidupan yang standar.
Kesempatan pendidikan yang kurang
adil. Biasanya lebih didominasi
kelompok kaya.
Terjadinya ketimpangan pendapatan
antara golongan kaya dan golongan
miskin.
Tata pemerintahan yang buruk (bad
governance) menyebabkan lemahnya
pelayanan kepada publik (public
service) dan terjadinya korupsi, kolusi
dan nepotisme.
Kurang terpenuhinya kebutuhan dasar
(sandang, pangan dan papan) yang
memadai. Biasanya kemiskinan akan
menimbulkan pemukiman kumuh
(slum), kekurangan makanan akan
menimbulkan tingkat kesehatan yang
rendah dan rentan terhadap penyakit.
Akses informasi yang kurang.
Tingkat kriminalitas yang tinggi.
Terbatasnya sumberdaya ekonomi
strategis. Mereka akan menempati
pekerjaan yang memiliki penghasilan
rendah. Biasanya tersebar pada sektor
informal.
Kurangnya partisipasi dalam
perpolitikan/pemerintahan
menyebabkan kurang berperan dalam
pengambilan keputusan publik.
Sistem penataan kota yang kacau mulai
dari perumahan, perkantoran,
transportasi dan regulasi.

2.2 Program Penanggulangan Kemiskinan


Masalah kemiskinan merupakan salah satu masalah penting yang harus
ditanggulangi oleh pemerintah sesuai dengan amanat Undang-Undang Dasar 1945
sebagaimana tertuang dalam Pembukaan UUD 1945, yaitu memajukan
kesejahteraan umum dengan melakukan pemberdayaan masyarakat. Sasaran
pemberdayaan itu adalah terciptanya manusia Indonesia seutuhnya dan
masyarakat secara keseluruhan. Dalam sasaran jangka panjang kedua sasaran ini
ditegaskan kembali dengan menggaris bawahi terciptanya kualitas manusia dan
kualitas masyarakat Indonesia yang maju, moderen dan mandiri dalam suasana
tentram dan sejahtera lahir dan batin, dalam tata kehidupan masyarakat, bangsa
dan negara berdasarkan Pancasila (BPS, 2005).
Telah banyak dilakukan berbagai program untuk menanggulangi kemiskinan
yang terjadi di Indonesia, diantaranya program terpadu Program Keluarga
Sejahtera (Prokesra) untuk Memantapkan Program Menghapus Kemiskinan
(MPMK) yang dirancang oleh Menteri Negara Kependudukan/Badan Koordonasi
Keluarga Berencana Nasional pada tahun 1997, program pembangunan keluarga
sejahtera merupakan kelanjutan dari upaya membangun keluarga kecil yang
bahagia dan sejahtera yang dimulai pada tahun 1970, program Inpres Desa
Tertinggal (IDT) yang pelaksanaanya dikoordinasikan oleh Departemen Dalam
Negeri (Depdagri) yang bertujuan membantu 22,5 juta jiwa penduduk miskin,
Program Kesejahteraan Sosial (Prokesos) berperan dan memberikan sumbangan
kepada penghapusan kemiskinan dan program pembangunan keluarga dan
penduduk melalui Kelompok Usaha Bersama (KUBE) serta upaya pengembangan
wilayah melalui Rehabilitasi Sosial Daerah Kumuh (RSDK).

Gambar 1. Pola Penyaluran Dana Program


Terdapat paradigma baru dalam penanggulangan kemiskinan. Sasaran dalam
paradigma ini adalah pembangunan manusia, langkah-langkah yang digunakan
dalam melakukan perubahan struktur masyarakat antara lain: kesempatan
kerja/berusaha,

peningkatan

kapasitas/pendapatan,

perlindungan

sosial/

kesejahteraan, dan yang menjadi fokus adalah penduduk miskin produktif pada
kisaran usia antara 15-55 tahun. Dalam paradigma ini peranan stakeholder dibagi
menjadi empat bagian yaitu pemerintah sebagai fasilitator, masyarakat sebagai
pelaku usaha, perbankan sebagai sumber pembiayaan, dan Konsultan Keuangan
Mitra

Bank

(KKMB)/Business

Development

Services

(BDS)

sebagai

pendamping. Tujuan yang ingin dicapai adalah masyarakat yang maju, mandiri,
sejahtera dan berkeadilan. Strategi penanggulangan kemiskinan dilakukan dengan
pemberdayaan masyarakat yaitu upaya meningkatkan kesejahteraan rakyat
melalui peran aktif masyarakat dalam mewujudkan pemenuhan kebutuhan hidup,
meningkatkan kesejahteraan sosial ekonomi serta memperkukuh martabat
manusia dan bangsa. Hal ini akan dicapai dengan dua upaya yaitu mengurangi
beban orang miskin dan meningkatkan produktivitas dan pendapatan masyarakat
miskin produktif. Pola penyaluran dana program dapat dilihat lebih jelas pada

Gambar 1. sedangkan strategi penanggulangan kemiskinan yang dilakukan pada


Gambar 2.3

Gambar 2. Strategi Penanggulangan Kemiskinan melalui


Pemberdayaan Usaha Mikro
2.2.1 Program Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan (P2KP)
Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan (P2KP) merupakan
program pemerintah yang secara substansi berupaya dalam penanggulangan
kemiskinan melalui konsep memberdayakan masyarakat dan pelaku pembangunan
lokal lainnya, termasuk Pemerintah Daerah dan kelompok peduli setempat,
sehingga dapat terbangun "gerakan kemandirian penanggulangan kemiskinan dan
pembangunan berkelanjutan", yang bertumpu pada nilai-nilai luhur dan prinsipprinsip universal. [Dikutip dari : Buku Pedoman Umum P2KP-3, Edisi Oktober
2005]4.
3

Prof.Dr.Gunawan W. Program Penanggulangan Kemiskinan.


http://kfm.depsos.go.id/mod.php?mod=userpage&page_id=1. diakses 19 Agustus 2008.
4
Program Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan (P2KP).
http://www.p2kp.org/aboutdetil.asp?mid=1&catid=5&. diakses 29 agustus 2008.

Tujuan program ini adalah terbangunnya lembaga masyarakat berbasis nilainilai universal kemanusiaan, prinsip-prinsip kemasyarakatan dan berorientasi
pembangunan berkelanjutan, yang aspiratif, representatif, mengakar, mampu
memberikan pelayanan kepada masyarakat miskin, mampu memperkuat
aspirasi/suara masyarakat miskin dalam proses pengambilan keputusan lokal, dan
mampu menjadi wadah sinergi masyarakat dalam penyelesaian permasalahan
yang ada di wilayahnya; Meningkatnya akses bagi masyarakat miskin perkotaan
ke pelayanan sosial, prasarana dan sarana serta pendanaan (modal), termasuk
membangun kerjasama dan kemitraan sinergi ke berbagai pihak terkait, dengan
menciptakan kepercayaan pihak-pihak terkait tersebut terhadap lembaga
masyarakat (BKM); Mengedepankan peran Pemerintah kota/kabupaten agar
mereka makin mampu memenuhi kebutuhan masyarakat miskin, baik melalui
pengokohan Komite Penanggulangan Kemiskinan (KPK) di wilayahnya, maupun
kemitraan dengan masyarakat serta kelompok peduli setempat. Kelompok sasaran
P2KP mencakup empat sasaran utama, yakni masyarakat, pemerintah daerah,
kelompok peduli setempat dan para pihak terkait (stakeholders)5.
2.2.2 Kelompok Usaha Bersama (KUBE)
Kelompok Usaha Bersama Fakir Miskin (KUBE-FM) adalah himpunan dari
keluarga yang tergolong miskin dengan keinginan dan kesepakatan bersama
membentuk suatu wadah kegiatan, tumbuh dan berkembang atas dasar prakarsa
sendiri, saling berinteraksi antara satu dengan yang lain, dan tinggal dalam satuan
wilayah tertentu dengan tujuan untuk meningkatkan produktivitas anggotanya,
meningkatkan relasi sosial yang harmonis, memenuhi kebutuhan anggota,

Konsep P2KP. http://www.p2kp.org/aboutdetil.asp?mid=4&catid=2&. diakses 29 Agustus 2008

memecahkan masalah sosial yang dialaminya dan menjadi wadah pengembangan


usaha bersama (Depsos RI, 2005).
Tujuan program secara umum adalah berupaya untuk meningkatkan kualitas
hidup dan kesejahteraan sosial keluarga miskin melalui program pemberdayaan
dan

pendayagunaan

potensi

serta

sumber

kesejahteraan

sosial

bagi

penanggulangan kemiskinan di Indonesia. Secara khusus program ini bertujuan :


1. Meningkatkan pendapatan keluarga miskin
2. Mewujudkan kemandirian usaha sosial-ekonomi keluarga miskin
3. Meningkatkan aksesibilitas keluarga miskin terhadap pelayanan sosial dasar,
fasilitas pelayanan publik dan sistem jaminan kesejahteraan sosial
4. Meningkatkan kepedulian dan tanggunga jawab sosial masyarakat dan dunia
usaha dalam penanggulangan kemiskinan
5. Meningkatkan ketahanan sosial masyarakat dalam mencegah masalah
kemiskinan
6. Meningkatkan kualitas manajemen pelayanan kesejahteraan sosial bagi
keluarga miskin.
Sasaran program ini adalah keluarga fakir miskin yang tidak mempunyai
sumber pencaharian atau memiliki mata pencaharian tetapi tidak mencukupi untuk
memenuhi kebutuhan dasar (pangan, sandang, air bersih, kesehatan dan
pendidikan). Kriteria yang menjadi kelompok sasaran program adalah kepala atau
anggota yang mewakili keluarga fakir miskin, memiliki identitas kependudukan,
mepunyai usaha atau berniat usaha, usia produktif dan memiliki keterampilan,
mampu bertanggung jawab sendiri, bersedia mematuhi aturan KUBE FM
(Kelompok Usaha Bersama Fakir Miskin).

Landasan hukum pelaksanaan program bantuan sosial fakir miskin melalui


KUBE FM meliputi:
1. Undang-Undang Dasar 1945 pasal 34
2. Undang-Undang Nomor 6 tahun 1974 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok
Kesejahteraan Sosial
3. Peraturan Pemerintah RI Nomor 42 tahun 1981 tentang Pelayanan
Kesejahteraan Sosial bagi Fakir Miskin
4. Peraturan Pemerintah RI Nomor 106 tahun 2000 tentang Pengelolaan dan
Pertanggungjawaban Keuangan dalam pelaksanaan dekonsentrasi dan Tugas
Pembantuan
5. Peraturan Pemerintah RI Nomor 39 tahun 2002 tentang Penyelenggaraan
Dekonsentrasi
6. Keputusan Presiden RI Nomor 124 tahun 2001 dan Nomor 8 tahun 2002
tentang Komite Penanggulangan Kemiskinan
7. Keputusan

Menteri

Sosial

RI

Nomor

50/PENGHUK/2002

tentang

penanggulangan kemiskinan
8. Peraturan Menteri Sosial RI Nomor 82/HUK/2005 tentang Organisasi dan Tata
Kerja Departemen Sosial RI.
Sebuah KUBE FM dalam pelaksanaan kegiatannya mengalami beberapa
tahap, berdasarkan kriteria pentahapan perkembangan KUBE-FM dari Dinas
Sosial, maka tahap perkembangannya sebagai berikut (Andayasari, 2006).
1. Tahap Tumbuh
a. Sudah ada pendamping KUBE (Pembina Usaha dan Unsur Aparat Desa)
b. Pernah mengikuti pelatihan

c. Pengurus dan organisasi KUBE telah dibentuk sebanyak 10 orang


d. Sudah menerima bantuan permakanan
e. Telah menerima bantuan UEP (Usaha Ekonomi Produktif)
f. Kegiatan kelompok baru berjalan
2. Tahap Berkembang
a. Kegiatan kelompok sudah dijalankan sesuai dengan kepengurusan
b. Keuntungan UEP sudah ada untuk kesejahteraan anggota dan IKS (Iuran
Kesetiakawanan Sosial)
c. Kepercayaan dan harga diri anggota KUBE dan keluarga meningkat
d. Pergaulan antara anggota KUBE dengan masyarakat sudah semakin positif
e. Hasil usaha sudah didapat
3. Tahap maju/Mandiri
a. Keuntungan UEP meningkat sehingga modal semakin besar
b. Mampu menyisihkan dana IKS untuk anggota kelompok, keluarga miskin
lainnya dan berpartisipasi dalam pembangunan desa
c. Manajemen UEP sudah dilekola dengan baik
d. Hubungan bisnis dengan lembaga ekonomi dan pengusaha baik dan
menguntungkan.
e. Hubungan sosial dengan masyarakat dan lembaga-lembaga sosial sudah
semakin baik dan melembaga
f. Kegiatan UEP semakin maju dan berkembang
KUBE bagi fakir miskin merupakan sarana untuk meningkatkan Usaha
Ekonomi Produktif (khususnya dalam peningkatan pendapatan), memotivasi
warga miskin untuk lebih maju secara ekonomi dan sosial, meningkatkan interaksi

dan kerjasama dalam kelompok, mendayagunakan potensi dan sumber sosial


ekonomi lokal, memperkuat budaya kewirausahaan, mengembangkan akses pasar
dan menjalin kemitraan sosial ekonomi dengan pihak terkait. Kegiatan usaha
diberikan dalam bentuk pemberian bantuan modal usaha dan sarana prasarana
ekonomi.
Kelembagaan KUBE-FM ditandai dengan: (1) Jumlah anggota KUBE yaitu
diawali oleh pembentukan kelompok-kelompok yang terdiri dari 5-10 orang. Satu
kelompok KUBE-FM dapat memilih anggotanya yang bukan termasuk kategori
fakir miskin (poorest), namun masih termasuk kategori miskin (poor) atau hampir
miskin (near poor) dan mempunyai kemampuan serta potensi; (2) Ikatan
pemersatu, yaitu kedekatan tempat tinggal, jenis usaha atau keterampilan anggota,
ketersediaan sumber, latar belakang kehidupan budaya, memiliki motivasi yang
sama, keberadaan kelompok masyarakat yang sudah tumbuh berkembang lama;
(3) Struktur dan kepengurusan KUBE, yang terdiri dari Ketua, Sekretaris dan
bendahara. (Depsos RI, 2005). Dalam penelitian ini akan dibahas efektivitas dari
Kelompok Usaha Bersama (KUBE) dalam upaya pemberdayaan fakir miskin di
wilayah perkotaan. Program pemberdayaan fakir miskin di wilayah perkotaan
bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup dan taraf kesejahteraan sosial
keluarga fakir miskin yang tinggal di wilayah perkotaan. Sasaran program adalah
keluarga fakir miskin yang tinggal di wilayah perkotaan, termasuk fakir miskin di
pemukiman kumuh, pemukiman ilegal, kawasan jasa dan perdagangan dan
bantaran sungai (Depsos, 2005).
Komponen kegiatan pemberdayaan fakir miskin meliputi: (1) Penjajakan
lokasi dan pemetaan kebutuhan; (2) Sosialisasi program; (3) Pendampingan

sosial; (4) Identifikasi dan seleksi; (5) Studi kelayakan usaha; (6) Bantuan sosial
berupa santunan hidup dan akses jaminan kesejahteraan sosial, bantuan modal
usaha ekonomi produktif melalui kelompok usaha bersama (KUBE), penguatan
modal usaha melalui lembaga keuangan mikro (LKM), rehabilitasi sosial rumah
tidak layak huni, penataan sarana lingkungan kumuh, insentif tabungan sejahtera,
fasilitas usaha kesejahteraan sosial; (7) Pengembangan kemitraan sosial dengan
lembaga/instansi sektor lain, perguruan tinggi, dunia usaha, LSM/Orsos dan
kalangan perbankan; Serta (8) Monitoring dan evaluasi (Depsos, 2005).
2.3 Efektivitas
Ilham, Siregar, dan Priyarsono. (2006) menyatakan efektivitas dapat
diartikan sebagai suatu usaha untuk mencapai hasil yang maksimal dengan
memanfaatkan sumberdaya yang ada. Kaitannya dengan kebijakan, menurut
Ramdan, Yusran dan Darusman (2003) dalam Ilham dkk. (2006) ukuran
efektivitas kebijakan adalah: (1) Efisiensi: suatu kebijakan harus mampu
meningkatkan efisiensi penggunaan sumberdaya secara optimal; (2) Adil: bobot
kebijakan harus ditempatkan secara adil, yakni kepentingan publik tidak
terabaikan; (3) Mengarah Kepada insentif: suatu kebijakan harus mengarah
kepada atau merangsang tindakan dalam perbaikan dan peningkatan sasaran yang
ditetapkan; (4) Diterima oleh Publik: oleh karena diperuntukkan bagi kepentingan
publik maka kebijakan yang baik harus diterima oleh publik; dan (5) Moral: suatu
kebijakan harus dilandasi oleh moral yang baik.
Ukuran efektivitas yang digunakan Sanim (1998) dan Simatupang (2002)
dalam Ilham dkk. (2006) adalah pendekatan ekonometrika dari nilai elastisitas dan
tingkat signifikansi peubah independent terhadap peubah dependen. Jika

pengaruhnya signifikan dan elastis, maka pengaruh peubah independen terhadap


peubah dependen dikatakan efektif.
Dalam penelitian ini untuk menilai efektivitas program kelompok usaha
bersama (KUBE) daerah perkotaan dalam upaya penanggulangan kemiskinan
digunakan uji perbedaan dua mean sampel berpasangan yaitu melihat adanya
perbedaan pendapatan sebelum bergabung dengan KUBE dan pendapatan setelah
bergabung dangan KUBE.
2.4 Hasil Penelitian Terdahulu
Penelitian mengenai program penanggulangan kemiskinan telah banyak
dilakukan. Santosa, Hidayat dan Indroyono (2003) telah melakukan evaluasi
dampak program penanggulangan kemiskinan dengan menggunakan metode
ESCAPE (Economic and Social Commision for Asian and Pasific). Program
penanggulangan kemiskinan yang dievaluasi meliputi program Inpres Desa
Tertinggal (IDT), Program Pengembangan Kecamatan (PPK), dan Proyek
Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan (P2KP) yang ketiganya dikategorikan
sebagai Program Kerja Mandiri dan Program Padat Karya. Kesimpulan yang
diperoleh yaitu pendapatan peserta Program Kerja Mandiri meningkat sedangkan
Program Padat Karya menurun, efisiensi penyaluran program dari Program Kerja
Mandiri lebih tinggi dibandingkan penyaluran program dari Program Padat Karya,
dan kelangsungan dana untuk program Kerja Mandiri lebih tinggi dibanding
kelangsungan dana untuk Program Padat Karya.
Kemiskinan di perkotaan dapat dikurangi dengan pendekatan peningkatan
kebijakan tingkat upah riil, peningkatan pertumbuhan ekonomi, penambahan
belanja pemerintah di sektor jasa dan peningkatan stok pangan nasional. Hal ini

merupakan hasil penelitian Nugroho (2006) dengan membangun model sistem


persamaan simultan dengan persamaan menggunakan metode 2SLS, dimana hasil
pendugaan parameter model digunakan untuk melakukan simulasi skenario
kebijakan yang relevan.
Saidi (2007) telah melakukan penelitian mengenai strategi peningkatan
efektivitas penyaluran Dana Usaha Desa/Kelurahan untuk penanggulangan
kemiskinan (Kajian di Kota Pekanbaru-Provinsi Riau). Hasil kajian menunjukkan
bahwa pinjaman modal usaha dari Dana Usaha Desa/Kelurahan efektif dalam
menanggulangi kemiskinan.
Efektivitas pengelolaan kredit mikro proyek penanggulangan kemiskinan
perkotaan (P2KP) telah

dilakukan oleh Tarmidi (2006). Kesimpulan yang

diperoleh adalah perubahan pendapatan berdasarkan jenis usaha dan sumber


penerimaan menunjukkan angka yang positif setelah mendapat kredit mikro
P2KP. Namun, secara umum hasil pengujian t-hitung belum menunjukkan
perbedaan yang nyata terhadap perubahan pendapatan, kecuali pada jenis usaha
jasa komersial yang memiliki pengaruh nyata terhadap perubahan pendapatan. Hal
ini dapat diartikan bahwa peranan kredit mikro belum menunjukkan pengaruh
yang besar dalam meningkatkan pendapatan keluarga miskin (baik usaha maupun
non usaha). Pengaruh pendapatan ini menunjukkan bahwa tujuan kredit mikro
dalam meningkatkan pendapatan keluarga miskin belum tercapai.
Penelitian yang dilakukan oleh Permanda (2007) menggunakan regresi
berganda dengan dummy kredit menyimpulkan bahwa kredit mikro P2KP hanya
berperan dalam menambah input, sehingga produksi dan penerimaan meningkat.
Hal ini ditunjukkan dari adanya peningkatan rata-rata biaya dan penerimaan yang

meningkat setelah penerimaan kredit. Jadi peranan kredit yang diperoleh adalah
melalui pergerakan disepanjang kurva karena kredit tidak digunakan dalam
meningkatkan teknologi produksi. Kemitraan adalah salah satu strategi dalam
pengembangan Usaha Kecil dan Menengah.
Nurhayati (2007) menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat
kemiskinan dengan menggunakan model ekonometrika persamaan simultan,
menghasilkan kesimpulan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kemiskinan
adalah pendapatan dan pendidikan pada taraf nyata 10 persen serta variabel
jumlah pengangguran dan tingkat ketergantungan berpengaruh nyata satu persen.
Rahmawati (2006) telah menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi
suatu rumah tangga berada dalam kemiskinan dengan menggunakan analisis
regresi

logistik,

menghasilkan

kesimpulan

bahwa

faktor-faktor

yang

mempengaruhi peluang suatu rumah tangga berada dalam kemiskinan adalah


peubah jumlah anggota rumah tangga yang termasuk tenaga kerja, umur,
pendidikan, jenis kelamin, dan pendapatan.
Penelitian mengenai kelompok usaha bersama (KUBE) telah dilakukan oleh
beberapa orang, diantaranya yaitu Wahyuni (2005) dan Andayasari (2006).
Wahyuni telah meneliti model pengembangan kelompok usaha bersama (KUBE).
Hasil kajian menujukkan bahwa aktivitas anggota di dalam KUBE mampu
memberikan manfaat untuk menciptakan lapangan kerja dan dapat meningkatkan
pendapatan mereka. Terdapat tujuh faktor yang mempengaruhi keberhasilan
KUBE yaitu faktor keanggotaan, jenis usaha, permodalan, motif anggota,
penegasan struktur kelompok, penegasan norma kelompok dan kemitraan dengan
pihak luar. Proses pemberdayaan dalam KUBE berawal pada saat pembentukkan

kelompok. KUBE yang berdaya adalah KUBE yang dilandasi oleh motif yang
sama dari anggotanya dan melaksanakan usaha secara berkelompok bukan
perorangan.
Andayasari (2006) menemukan suatu cara mengelola Kelompok Usaha
Bersama-Fakir Miskin (KUBE-FM) bidang konveksi yaitu dengan cara
menyatukan kegiatan konveksi di satu tempat yang diharapkan dapat lebih
memudahkan dalam menjalankan kegiatan KUBE-FM. Upaya ini mencoba
mewujudkan bentuk kolaborasi dalam mengentaskan masalah kemiskinan berupa
tata kelola yang baik.
Penelitian mengenai KUBE yang telah dilakukan baru secara kualitatif.
Dalam penelitian ini akan melihat secara kuantitatif mengenai efektivitas dari
KUBE yang dilihat dari segi pendapatan dan faktor-faktor yang mempengaruhi
keberhasilan KUBE. Hal ini dilakukan untuk mengetahui gambaran yang lebih
rinci mengenai keberhasilan dan kendala dalam pelaksanaan program KUBE.

III. KERANGKA PEMIKIRAN


3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis
3.1.1 Analisis Regresi
Istilah regresi pertama kali digunakan oleh Sir Francis Galton (1822 1911)
yang membandingkan tinggi badan anak laki-laki dengan tinggi badan ayahnya.
Galton menemukan bahwa tinggi badan anak laki-laki dari ayah yang tinggi
setelah beberapa generasi cenderung menurun (regressed) mendekati nilai tengah
populasi. Sekarang istilah regresi ditetapkan pada semua jenis peramalan dan
tidak harus berimplikasi pada peramalan yang mendekati nilai tengah populasi.
Analisis regresi berkenaan dengan studi ketergantungan satu variabel,
variabel tak bebas, pada satu atau lebih variabel lain, variabel yang menjelaskan
(explationary variabels), dengan maksud menaksir dan atau meramalkan nilai
rata-rata hitung (mean) atau rata-rata populasi varibel tak bebas, dipandang dari
segi nilai yang diketahui atau tetap (dalam pengambilan sampel yang berulang
variabel yang menjelaskan). Persamaan regresi dinyatakan sebagai persamaan
matematika yang memungkinkan kita meramalkan nilai-nilai peubah tak bebas
dari suatu peubah bebas (Walpole, 1995). Ramanathan (1998) menyatakan bahwa
model regresi linear adalah model yang menunjukkan hubungan antara variabel
dependent dengan satu atau lebih variabel independent.
Regresi menunjukkan hubungan kausalitas (sebab-akibat) antara dua macam
variabel, yaitu: a) variabel independent yang disebut sebagai variabel penjelas dan
secara umum disimbolkan dengan X dan b) variabel dependent yaitu varibel
terkait yang nilainya dipengaruhi atau tergantung pada variabel independent dan
disimbolkan dengan Y. Regresi sendiri memilki dua bentuk yaitu regresi sedehana

dimana terdapat satu variabel panjelas dan regresi berganda yang mempunyai
lebih dari satu variabel penjelas.
Dalam analisis regresi terdapat beberapa asumsi-asumsi mendasar yang harus
dipenuhi, jika tidak pengujian akan menjadi inefisien. Model yang diuji harus
dilihat apakah termasuk BLUE (Best Linear Unbiased Estimator) atau tidak.
Model yang termasuk BLUE harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
a) normalitas, uji ini dilakukan dengan membuat histogram dan scaterplot, apabila
histogram membentuk lonceng dan keberadaan titik-titik pada scaterplot
menyebar maka model terdistribusi normal
b) lineraritas. Uji ini dilakukan dengan melihat scaterplot, jika plot antara nilai
residual terstandarisasi tidak membentuk suatu pola tertentu (acak) maka
memenuhi asumsi linearitas
c) homoskedastisitas, adalah kesamaan varians atau penyebaran yang sama.
Pendektesian kesamaan varians salah satunya dapat dilakukan dengan uji Park.
d) non multikolinearitas, dilakukan dengan melihat niai VIF (Variance Inflation
Factors). Jika VIF < 10, maka tidak terdapat multikolinearitas
e) non autokorelasi, dilakukan untuk melihat adanya korelasi antara serangkaian
data menurut waktu (time series) atau menurut ruang (cross section).
Pendektesian autokorelasi dilakukan dengan pengujian Durbin Watson (DW).
Bentuk dasar dari persamaan regresi sederhana secara umum berbentuk linear
yang menunjukkan bahwa nilai atau parameter dari koefisien regresi dan
berhubungan linear.
Yt t X t

(3.1)

Dimana Y adalah vaiabel dependent dan X variabel independen dengan t


menunjukkan pada waktu time series atau cross section data. sedangkan nilai
dan adalah parameter yang diestimasi. Dalam hal ini menyatakan intersep
atau perpotongan dengan sumbu tegak dan adalah kemiringan gradiennya.
Sedangkan pengertian dan spesifik tergantung pada fungsinya, dinyakaan
sebagai error yang bersifat random atau acak (galat acak) yang disebabkan oleh
empat efek yaitu penghilangan variabel, non linearitas, kesalahan pengukuran dan
efek yang tidak dapat diprediksi lainnya (Ramanathan, 1998).
3.1.2 Permasalahan OLS
Dalam menggunakan metode OLS dapat ditemukan beberapa permasalahan
yang

dihadapi,

yaitu

masalah

autokorelasi,

heteroskedastisitas

dan

multikolinearitas.
1. Autokorelasi
Dalam berbagai penelitian seringkali terdeteksi adanya hubungan serius
antara gangguan estimasi satu observasi dengan gangguan estimasi observasi yang
lain. Nisbah antara observasi inilah yang disebut sebagai masalah autokorelasi.
Adanya autokorelasi akan menyebabkan terjadinya:
1. Dugaan parameter tidak bias.
2. Nilai galat baku terautokorelasi, sehingga ramalan tidak efisien.
3. Ragam galat terbias.
4. Terjadi pendugaan kurang pada ragam galat (standar error underestimated),
sehingga Sb underestimated. Oleh karena itu, t overestimated cenderung lebih
besar dari yang sebenarnya.

Gejala autokorelasi dapat dideteksi dengan uji Breusch Godfrey Serrial


Correlation Langrange Multiplier Test dengan hipotesis sebagai berikut:
H 0 : 0 (tidak terdapat serial korelasi)
H1 : 0 (terdapat serial korelasi)

Kriteria uji yang digunakan untuk melihat adanya autokorelasi adalah


sebagai berikut.
1. Apabila nilai obs*R-squared-nya lebih besar dari taraf nyata yang digunakan
maka model persamaan yang digunakan tidak mengalami masalah
autokorelasi.
2. Apabila nilai obs*R-squared-nya lebih kecil dari taraf nyata yang digunakan
maka model persamaan yang digunakan mengalami masalah autokorelasi.
Solusi dari masalah autokorelasi yaitu dihilangkannya variabel yang
sebenarnya berpengaruh terhadap variabel tak bebas. Jika terjadi kesalahan dalam
spesifikasi model, hal ini dapat diatasi dengan mentransformasi model, misalnya
dari model linear menjadi nonlinear atau sebaliknya.
2. Heteroskedastisitas
Heteroskedastisitas adalah suatu penyimpangan asumsi OLS dalam bentuk
varians gangguan estimasi yang dihasilkan oleh estimasi OLS yang tidak bernilai
konstan. Heteroskedastisitas tidak merusak sifat ketidakbiasan dan konsistensi
dari penaksir OLS tetapi penaksir yang dihasilkan tidak lagi mepunyai varians
minimum (efisien). Menurut Gujarati (1993), jika terjadi heteroskedastisitas maka
akan berakibat sebagai berikut.
1. Estimasi dengan menggunakan OLS tidak akan memiliki varians yang
minimum atau estimator tidak efisien.

2. Prediksi (nilai Y untuk X tertentu) dengan estimator dari data yang sebenarnya
akan mempunyai varians yang tinggi sehingga prediksi menjadi tidak efisien.
3. Tidak dapat diterapkannya uji nyata koefisien atau selang kepercayaan dengan
menggunakan formula yang berkaitan dengan nilai varians.
Untuk memeriksa keberadaan heteroskedastisitas salah satunya dapat
ditunjukkan dengan uji Hal White, dimana tidak perlu asumsi normalitas dan
relatif

mudah.

Kriteria

uji

yang

digunakan

untuk

melihat

adanya

heteroskedastisitas adalah sebagai berikut.


a. Apabila nilai probability obs*R-squared-nya lebih besar dari taraf nyata yang
digunakan maka model persamaan yang digunakan tidak mengalami masalah
heteroskedastisitas.
b. Apabila nilai probability obs*R-squared-nya lebih kecil dari taraf nyata yang
digunakan maka model persamaan yang digunakan mengalami masalah
heteroskedastisitas.
Solusi dari masalah ini adalah mencari transformasi model asal sehingga
model yang baru akan memiliki error-term dengan varians yang konstan.
3. Multikolinearitas
Multikolinearitas adalah adanya hubungan linear yang sempurna atau pasti
diantara beberapa atau semua variabel yang menjelaskan dari model regresi.
Tanda-tanda adanya multikoliniearitas adalah sebagai berikut.
1. Tanda tidak sesuai dengan yang diharapkan.
2. R-squared-nya tinggi tetapi uji individu tidak banyak bahkan tidak ada yang
nyata.
3. Korelasi sederhana antara variabel individu tinggi (rij tinggi).

4. R2 lebih kecil dari rij2 menunjukkan adanya masalah multikolinearitas.


Konsekuensi multikolinearitas adalah estimasinya tidak dapat ditentukan dan
galat baku menjadi tinggi sehingga prediksi menjadi tidak benar. Kriteria
ekonometrik untuk melihat adanya multikolinearitas diantara peubah-peubah
penjelas dalam suatu persamaan dapat dilihat dari R-squared dan kuadrat korelasi
sederhana peubah-peubah penjelas (r2) yang dirumuskan sebagai berikut.
rX 1 X 2

(nX 1 X 2 ) (X 1 X 2 )

(3.2)

nX 12 (X 1 ) 2 nX 22 (X 2 ) 2

R 2Y , X i ,..., X k

bi YX1 b2YX 2 ... bk YX k


Y 2

(3.3)

Dimana:
rX 1 X 2

= koefisien korelasi X 1 dan X 2

X 1 dan X 2

= peubah-peubah penjelas

= peubah tak bebas

R 2Y , X i ,..., X k

= koefisien determinasi

Untuk menguji adanya multikolinearitas adalah sebagai berikut.


1. Jika nilai R-squared lebih besar dari nilai kuadrat korelasi sederhana peubahpeubah penjelas (r2), maka tidak ada masalah multikolinearitas.
2. Jika nilai R-squared lebih kecil dari nilai kuadrat korelasi sederhana peubahpeubah penjelas (r2), maka terdapat masalah multikolinearitas.
Solusi dari permasalahan multikolinearitas yaitu menggunakan extraneous
information atau informasi sebelumnya, mengkombinasikan data cross-sectional
dan

data

time-series,

meninggalkan

variabel

yang

sangat

mentransformasikan data dan mendapatkan tambahan data baru.

berkorelasi,

3.2 Kerangka Pemikiran Operasional


Tingginya tingkat urbanisasi ke kota Jakarta mengakibatkan kurangnya
kesempatan kerja yang tersedia. Hal ini menimbulkan banyaknya orang yang
memiliki penghasilan di bawah garis kemiskinan yang ditetapkan untuk kota
Jakarta. Penghasilan yang rendah ini dapat disebabkan oleh kurang produktifnya
seseorang dalam kegiatan ekonomi produktif seperti kurangnya jam kerja yang
tersedia mengakibatkan pendapatan yang rendah. Jam kerja yang rendah ini
disebabkan oleh keterbatasan yang dimiliki oleh masyarakat dalam hal
pendidikan, keterampilan, tidak mempunyai sarana usaha ekonomi yang memadai
dan tidak memiliki modal usaha yang cukup untuk menegembangkan usaha
ekonomi produktifnya.
Pemerintah dalam hal ini adalah Departemen Sosial, telah berusaha
menemukan pola yang efektif agar fakir miskin dapat memperoleh kemudahan
akses modal usaha tanpa agunan dengan tetap mendorong tanggung jawab
bersama melalui Kelompok Usaha Bersama (KUBE). Untuk itu sejak tahun 2005,
Departemen Sosial melaksanakan program pemberdayaan fakir miskin melalui
pola terpadu Kelompok Usaha Bersama (KUBE) dengan Lembaga Keuangan
Mikro Sosial (LKMS) di Jakarta.
Kegiatan pengembangan usaha ekonomi produktif fakir miskin melalui
KUBE ditujukan untuk meningkatkan motivasi untuk lebih maju, meningkatkan
interaksi dan kerjasama dalam kelompok, mendayagunakan potensi dan sumber
sosial ekonomi lokal, memperkuat budaya kewirausahaan, mengembangkan akses
pasar, melaksanakan usaha kesejahteraan sosial dan menjalin kemitraan sosial
ekonomi dengan berbagai pihak yang terkait.

Dalam penelitian ini penulis membuat bagan alur pemikiran seperti tampak
pada Gambar 3. Penulis akan memulai dengan mengidentifikasi kemiskinan yang
terjadi di Kecamatan Pesanggrahan karena kemiskinan yang terjadi di setiap
daerah memiliki kondisi yang berbeda-beda. Selain itu, pada tahun 2006,
Kecamatan Pesanggrahan dipilih sebagai Kecamatan di wilayah Kotamadya
Jakarta Selatan yang melaksanakan program KUBE dan memperoleh satu
Lembaga Keuangan Mikro Sosial (LKMS) sebagai pembantu dana untuk kegiatan
KUBE dari pemerintah pusat. Penulis akan melihat efektivitas pelaksanaan
program

KUBE

dan

mengetahui

keberlanjutan

program

KUBE

yang

dilaksanakan. Pada awal pembentukkan KUBE, telah dibentuk 40 KUBE dengan


bantuan dana dari pemerintah melalui Dinas Bina Spiritual dan Kesejahteraan
Sosial (Bintal dan Kesos) Jakarta.

Deskripsi Kemiskinan Perkotaan di


Kecamatan Pesanggrahan

Bantuan Sarana Usaha Kelompok Usaha Bersama (KUBE) sebagai


Program Penanggulangan Kemiskinan

Pelaksanaan Program
(Pengamatan Dilengkapi
dengan Pengisian Kuisioner
kepada Sasaran Program)

Faktor-faktor
Keberhasilan KUBE
(Analisis Regresi)
Keefektifan Program
(Uji Mean Berpasangan)

Implikasi Program Penanggulangan


Kemiskinan Perkotaan

Gambar 3. Alur Kerangka Pemikiran

IV. METODE PENELITIAN

4.1 Waktu dan Lokasi Penelitian


Penelitian ini dilakukan dengan pengambilan data primer selama bulan April
sampai Juni 2008 di Kelurahan Ulujami dan Petukangan Utara, Kecamatan
Pesanggrahan, Jakarta Selatan. Pemilihan lokasi ditentukan secara purposive
(sengaja) dengan pertimbangan bahwa daerah tersebut merupakan daerah Ibukota
Negara tetapi masih memiliki sejumlah penduduk yang berada dalam kemiskinan.
Jumlah penduduk miskin di Jakarta Selatan pada tahun sebanyak 76.300 orang
atau 3,74 persen dari keseluruhan penduduk yang tinggal di Kotamadya Jakarta
Selatan.
4.2 Jenis dan Sumber Data
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data
sekunder. Data primer dikumpulkan untuk memperoleh variabel-variabel yang
akan digunakan untuk estimasi, sedangkan data sekunder diperoleh dari instansiinstansi terkait yaitu Badan Pusat statistik (BPS), Departemen Sosial dan
Lembaga Keuangan Mikro Sosial (LKMS) Kecamatan Pesanggrahan. Data primer
diperoleh melalui wawancara dan pengisian kuisioner dari anggota KUBE yang
terpilih sebagai sampel dan para petugas yang terkait. Kuisioner dilampirkan pada
Lampiran 2.
4.3 Teknik Penarikan Sampel
Sampel yang diambil untuk penelitian ini adalah anggota KUBE yang berada
di Kecamatan Pesanggrahan. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara
melakukan wawancara dengan pihak LKMS untuk memperoleh informasi

mengenai keberadaan anggota KUBE. Penentuan responden dilakukan dengan


metode accidental sampling. Responden yang diambil berjumlah 55 orang
anggota KUBE yang berasal dari 6 KUBE catering yang berada di Kecamatan
Pesanggrahan (lihat Lampiran 4 dan 5) dengan pertimbangan bahwa jumlah
tersebut cukup mewakili keadaan KUBE catering di Kecamatan Pesanggrahan.
4.4 Metode Analisis Data
4.4.1 Analisis Deskriptif
Analisis deskriptif dilakukan dengan menggunakan data kualitatif yang
dikumpulkan dari hasil wawancara, pengamatan dan telaah pustaka. Data tersebut
diinterpretasikan sehingga dapat menjawab fenomena yang ada yang berhubungan
dengan penyebab kemiskinan yang terjadi di Kecamatan Pesanggrahan. Untuk
membantu analisis deskriptif tersebut digunakan tabel.
4.4.2 Analisis Efektivitas Program KUBE
Metode analisis statistik yang digunakan untuk menganalisis efektivitas
KUBE adalah dengan menggunakan uji perbedaan dua mean sampel berpasangan.
Uji perbedaan dua mean sampel berpasangan ini melihat apakah ada perbedaan
yang nyata antara pendapatan rata-rata sebelum mengikuti KUBE dengan
pendapatan rata-rata setelah mengikuti KUBE. Hipotesis yang diuji adalah
sebagai berikut:
H0 : 1 2 D (Mean pendapatan rata-rata setelah mengikuti KUBE sama
dengan sebelum mengikuti KUBE)
H1 : 1 2 D (Mean pendapatan rata-rata setelah mengikuti KUBE lebih
besar dari sebelum mengikuti KUBE)

Statistik uji (Walpole, 1995)


t

d D
Sd / n

(4.1)

Dimana:
d = rata-rata selisih antar dua sampel

S d = standar deviasi selisih dua sampel


Apabila nilai T-hitung > T atau nilai P-value < , dimana = 0,05 maka
simpulkan tolak H0 pada selang kepercayaan 95 persen. Dan dapat disimpulkan
bahwa program KUBE efektif dalam meningkatkan pendapatan masyarakat.
perhitungan dilakukan dengan menggunakan software Minitab 14.
4.4.3 Analisis Regresi Berganda
Dalam penelitian ini dilakukan analisis regresi berganda untuk melihat
faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan KUBE. Estimasi koefisien regresi
dilakukan melalui metode Ordinary Least Square (OLS). Salah satu regresi dalam
OLS adalah regresi linear berganda. Analisis regresi linear berganda menunjukkan
hubungan sebab akibat antara variabel X (variabel bebas) yang merupakan
penyebab dan variabel Y (variabel tak bebas) yang merupakan akibat. Analisis
regresi linear berganda merupakan suatu metode yang digunakan untuk
menguraikan pengaruh variabel bebas yang mempengaruhi variabel tak bebasnya.
Regresi linear berganda tidak hanya melihat keterkaitan antar variabel namun juga
mengukur besaran hubungan kausalitasnya.
Model regresi linear berganda menurut Walpole (1995) adalah sebagai
berikut:
Y b0 b1 x1 b2 x 2 b j x j

(4.2)

Dimana :
r

= 1, 2, 3, ..., n

b0

= intersept

b1, ..., bj = koefisien regresi/slope

= terminologi error (variabel acak)

4.4.4 Model Analisis


Model yang digunakan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi
keberhasilan kelompok yang mengikuti program KUBE yang dilihat dari sisi
pendapatan kelompok per individu adalah sebagai berikut:
Y 0 1 X 1 2 X 2 3 X 3 4 D1 5 D2
Dimana:

0 = intersep

= error term
Y = pendapatan per individu hasil KUBE (dalam satuan rupiah)
X1 = pendidikan anggota (tahun sekolah)
X2 = pengalaman berusaha (tahun)
X3 = intensitas pendampingan (selama KUBE berlangsung)
D1 = dummy kedudukan
i = 1, sebagai ketua
i = 0, lainnya
D2 = dummy kelompok
i = 1, sebagai KUBE yang dijalankan secara berkelompok
i = 0, lainnya

(4.3)

Variabel-variabel yang digunakan dalam model penduga diperoleh


berdasarkan hasil penelitian terdahulu yang disesuaikan dengan kondisi yang ada
di lapangan. Pendapatan individu hasil KUBE diduga dipengaruhi oleh
pendidikan anggota, pengalaman berusaha, intensitas pendampingan dalam
frekuensi, dummy kedudukan yang membedakan antara kedudukan sbagai ketua
dengan kedudukan lain yang ada di KUBE, dan dummy kelompok yang
membedakan antara KUBE yang dijalankan secara berkelompok sesuai tujuan
pembentukan

KUBE

dengan

KUBE

yang

tidak

dijalankan

secara

berkelompok/perorangan. Setelah itu, model dianalisis menggunakan kriteriakriteria uji agar model tersebut memenuhi persyaratan metode analisis OLS,
seperti terbebas dari heteroskedastisitas dan multikolinearitas. Perhitungan ini
dilakukan dengan menggunakan Software Eviews 4.1.
4.4.5 Koefisien Determinasi (R2) dan Adjusted R2
Koefisien determinasi (R2) dan Adjustedsquared digunakan untuk melihat
sejauhmana variabel bebas mampu menerangkan keragaman variabel tak
bebasnya dan untuk melihat seberapa kuat variabel yang dimasukkan ke dalam
model dapat menerangkan model tersebut. Menurut Gujarati (1993) terdapat dua
sifat R-squared yaitu:
1. Merupakan besaran non-negative.
2. Batasnya adalah 0R21. Jika R2 bernilai 1 berarti suatu kecocokan sempurna,
sedangkan jika nilai R2 bernilai 0 berarti tidak ada hubungan antara variabel
tak bebas dengan variabel bebasnya.

Nilai koefisien determinasi dapat dihitung sebagai berikut:


R2

ESS
TSS

RSS
TSS

ei2
y i2

(4.4)

Dimana :
ESS = jumlah kuadrat yang dijelaskan (explained sum square)
TSS = jumlah kuadrat total (total sum square)
Salah satu masalah jika menggunakan ukuran R-squared untuk menilai baik
buruknya model adalah akan selalu mendapatkan nilai yang terus naik seiring
dengan pertambahan variabel bebas ke dalam model sehingga Adjusted R-squared
bisa juga digunakan untuk melihat sejauh mana variabel bebas mampu
menerangkan keragaman variabel tak bebasnya. Adjusted R-squared secara umum
memberikan penalty atau hukuman terhadap penambahan variabel bebas yang
tidak mampu menambah daya prediksi suatu model. Nilai Adjusted R-squared
tidak akan pernah melebihi nilai R-squared bahkan dapat turun jika ditambahkan
variabel bebas yang tidak perlu. Bahkan untuk model yang memiliki kecocokan
rendah (goodness of fit). Adjusted R-squared dapat memiliki nilai yang negatif.
Nilai Adjusted R-squared dapat dihitung sebagai berikut:
ei2
(N k)
R2 1
y i2
(n 1)

(4.5)

Dimana k adalah banyaknya parameter dalam model termasuk faktor intersept.

Persamaan (4.5) dapat ditulis sebagai berikut :

R2 1

2
S y2

(4.6)

Dimana:

2 = varians resisual
S y2 = varians sample dari Y
4.4.6 Pengujian untuk Masing-masing Parameter Regresi
Pengujian ini dilakukan dengan uji t untuk melihat apakah masing-masing
variabel bebas (secara parsial) berpengaruh pada variabel tak bebasnya. Selain itu,
uji ini digunakan untuk melihat keabsahan dari hipotesis dan membuktikan bahwa
koefisien regresi dalam model secara statistik signifikan atau tidak.
Hipotesis:
H 0 : i 0
H 1 : i 0, i 1,2,3,..., n.
Statistik uji yang dilakukan dalam uji-t adalah sebagai berikut:
t hitung

b
Sb

Dengan hasil t-hitung dibandingkan dengan t-tabel (t-tabel = t / 2 ( n k ) )


Dimana:
b = koefisien regresi parsial sampel
= koefisien regresi parsial populasi
Sb = simpangan baku koefisien dugaan

(4.7)

Kriteria uji yang digunakan dalam melakukan uji t adalah sebagai berikut:
1. Apabila nilai t-hitung lebih besar dari nilai t / 2 ( n k ) , maka tolak H0. hal ini
berarti variabel yang digunakan berpengaruh nyata terhadap variabel tak
bebas.
2. Apabila nilai t-hitung lebih kecil dari nilai t / 2 ( n k ) , maka terima H0. hal ini
berarti variabel yang digunakan tidak berpengaruh nyata terhadap variabel tak
bebas.
4.4.7 Pengujian terhadap Model Penduga
Uji F-statistik digunakan untuk menduga persamaan secara keseluruhan. Uji
F-statistik dapat menjelaskan kemampuan variabel bebas secara bersamaan dalam
menjelaskan keragaman dari variabel tak bebasnya. Hipotesis yang diuji dari
pendugaan persamaan adalah variabel bebas tidak berpengaruh nyata terhadap
variabel tak bebas. Hal ini disebut sebagai hipotesis nol.
Mekanisme untuk menguji hipotesis dari parameter dugaan secara serentak
(uji F-statistik) adalah sebagai berikut:
H 0 : 0 1 2 ... j 0 (tidak ada pengaruh nyata variabel-variabel dalam

persamaan)
H 1 : minimal salah satu i 0 (paling sedikit ada satu variabel bebas yang

berpengaruh nyata terhadap variabel tak bebas)


Untuk : i = 1, 2, 3, ..., j

= dugaan parameter

Statistik uji yang dilakukan dalam uji-F adalah sebagai berikut:


F hitung

R2

k 1
(1 R )
nk
2

(4.8)

Keterangan:
Hasil dari F-hitung dibandingkan dengan F-tabel (F-tabel = F ( k 1,n k ) ).
Dimana:
R2 = koefisien determinasi
n = banyaknya data
K = jumlah koefisien regresi dugaan
Kriteria uji yang digunakan dalam pengujian model penduga adalah sebagai
berikut:
1. Apabila nilai F-hitung lebih besar dari F ( k 1,n k ) , maka tolak H0. hal ini berarti
minimal terdapat satu parameter dugaan yang tidak nol dan berpengaruh nyata
terhadap keragaman variable tak bebas.
2. Apabila nilai F-hitung lebih kecil dari F ( k 1,n k ) , maka terima H0. dalam hal
ini berarti secara bersama variabel yang digunakan tidak bias menjelaskan
secara nyata keragaman dari variabel tak bebas.
4.4.8 Pengujian Terhadap Masalah Heteroskedastisitas
Salah satu asumsi dalam model regresi adalah residual memiliki varian yang
konstan agar menghasilkan estimator yang BLUE. Dalam kenyataan, sulit
memiliki varian yang konstan. Hal ini sering terjadi pada data yang bersifat data
silang (cross section) dibanding data runtut waktu. Ada beberapa metode yang
dapat digunakan untuk mengidentifikasi ada tidaknya masalah heteroskedastisitas.

Beberapa metode tersebut adalah metode grafik, uji Park, uji Glejser, uji Korelasi
Spearman, uji Goldfeld-Quandt, uji Bruesch-Pagan-Godfrey, dan uji White.
Dalam penelitian ini untuk mengidentifikasi masalah heteroskedstisitas digunakan
uji White.
Uji White menggunakan residual kuadrat sebagai variabel dependen dan
variabel independennya terdiri atas variabel independen yang sudah ada, ditambah
dengan kuadrat variabel independen, ditambah lagi dengan perkalian dua variabel
independen. Misal mengunakan dua variabel independen M1 dan GDP. Dengan
Uji white, menghitung regresi dengan persamaan berikut.

e 2 b0 b1 M 1 b2 GDP b3 M 12 b4 GDP 2 b5 ( M 1)(GDP)

(4.9)

Untuk menghilangkan heteroskedastisitas, ada beberapa alternatif yang


dapat dilakukan. Namun alternatif tersebut sangat tergantung kepada ketersediaan
informasi tentang varian dan residual. Jika varian dan residual diketahui, maka
heteroskedastisitas dapat diatasi dengan metode WLS. Seandainya varian tidak
diketahui maka harus mengetahui pola varian residual terlebih dahulu sebelum
dapat mengatasi masalah heteroskedastisitas.
Dalam penelitian ini, jika didapatkan masalah heteroskedastisitas akan
digunakan

metode

White.

Metode

ini

dikenal

juga

dengan

varian

heteroskedastisitas terkoreksi (heteroskedasticity-corrected variances). Metode ini


menggunakan residual kuadrat ei2 sebagai proksi dari i2 yang tidak diketahui,
sehingga varian estimator dapat dihitung dengan:

x e
var( )
x

2 2
i i
2 2
i

(4.10)

Dengan software Eviews 4.1, masalah heteroskedastisitas dapat diatasi dengan


menggunakan Heteroskedasticity Consistent Coefficient Covariance.
4.4.9 Pengujian Terhadap Masalah Multikolinearitas
Multikolinearitas adalah kondisi adanya hubungan linear antar variabel
independen.

Karena

melibatkan

beberapa

variabel

independen

maka

multikolinearitas tidak akan terjadi pada persamaan regresi sederhana (yang terdiri
atas satu variabel dependen dan satu variabel independen). Kondisi terjadinya
multikolinearitas ditunjukkan dengan berbagai informasi sebagai berikut.
1. Nilai R2 tinggi tetapi variabel independen banyak yang tidak signifikan.
2. Dengan menghitung koefisien korelasi antar variabel independen. Apabila
koefisiennya rendah (tidak lebih besar dari 0,8) maka tidak terdapat
multikolinearitas.
3. Dengan melakukan regresi auxiliary. Regresi jenis ini dapat digunakan untuk
mengetahui hubungan antar dua (atau lebih) variabel independen yang secara
bersama-sama (misalnya x2 dan x3 ) mempengaruhi satu variabel independen
yang lain (misalnya x1 ). Harus dijalankan beberapa regresi, masing-masing
dengan memberlakukan satu variabel independen (misalnya x1 ) sebagai
variabel dependen dan variabel independen lainnya tetap diperlakukan sebagai
variabel independen. Masing-masing persamaan akan dihitung nilai F dengan
rumus:

Rx21 , x2 ,... xk

k 2

Fi
1 Rx21 , x2 ,... xk

n k 1

(4.11)

Dimana:
n = banyaknya observasi
k = banyaknya variabel independen (termasuk konstanta)
R = koefisien deterninasi masing-masing model
Distribusi F dihitung dengan derajat kebebasan k 2 dan n k 1 . Jika nilai

Fhitung Fkritis pada dan derajat kebebasan tertentu maka model


mengandung multikolinearitas.
Ada beberapa alternatif dalam menghadapi masalah multikolinearitas.
Alternatif tersebut sebagai berikut.
a. Membiarkan model mengandung multikolinearitas karena estimatornya masih
dapat bersifat BLUE. Sifat BLUE tidak terpengaruh oleh ada tidaknya korelasi
antar variabel independen. Namun, harus diketahui bahwa multikolinearitas
akan menyebabkan standart error yang besar.
b. Menambah data bila memungkinkan karena masalah multikolinearitas
biasanya muncul karena jumlah observasinya sedikit. Apabila data tidak dapat
ditambah, teruskan dengan model yang sekarang digunakan.
c. Menghilangkan salah satu variabel independen, terutama yang memiliki
hubungan linear yang kuat dengan variabel lain. Namun apabila menurut teori
variabel independen tersebut tidak mungkin dihilangkan, berarti harus tetap
dipakai.
d. Transformasikan salah satu (atau beberapa variabel), termasuk misalnya
dengan melakukan diferensi.

4.5 Hipotesis Penelitian


Hipotesis penelitian mengenai efektivitas program kelompok usaha bersama
dalam upaya penanggulangan kemiskinan di Kecamatan Pesanggarahan Jakarta
Selatan adalah sebagai berikut:
1. Program KUBE meningkatkan pendapatan warga miskin.
2. Kemiskinan yang terjadi dipengaruhi oleh kurangnya jam kerja masyarakat
sehingga kurang produktif dalam melaksanakan kegiatan ekonomi.
3. Pendapatan sebelum mengikuti KUBE berbeda nyata dengan pendapatan
setelah mengikuti KUBE
4. Pendidikan, pengalaman berusaha dalam kegiatan ekonomi produktif,
pendampingan, dummy kedudukan dan dummy kelompok memiliki pengaruh
positif dan nyata dalam mempengaruhi keberhasilan KUBE.

V. GAMBARAN LOKASI PENELITIAN


5.1 Kondisi Kemiskinan Jakarta Selatan
Berdasarkan data dan informasi kemiskinan tahun 2005 2006, kemiskinan
yang terjadi di suatu wilayah dapat dilihat berdasarkan data jumlah dan persentase
penduduk miskin, persentase distribusi penduduk miskin dan pendidikan yang
ditamatkan, persentase penduduk miskin usia 15 tahun keatas dan status bekerja,
persentase penduduk miskin usia 15 tahun keatas dan sektor bekerja.
Pada tahun 2005, Jakarta Selatan memiliki 64.000 penduduk miskin atau 3,36
persen dari total penduduk yang tinggal dengan garis kemiskinan wilayah
Rp263.740. Pendidikan yang dapat ditamatkan oleh penduduk miskin sudah
mencapai tingkatan yang cukup tinggi yaitu 41,86 persen tamat SLTA, 30,23
persen tamat SD/SLTP dan hanya 27,91 persen yang tidak tamat SD. Persentase
penduduk miskin usia 15 tahun keatas yang tidak bekerja sebesar 34,58 persen,
yang bekerja pada sektor informal sebesar 31,78 persen dan yang bekerja pada
sektor formal sebesar 33,64 persen. Jika dibedakan antara sektor pertanian dan
non pertanian, sebesar 0,93 persen penduduk miskin bekerja pada sektor pertanian
dan sisanya sebesar 64,49 persen bekerja pada sektor non pertanian.
Pada tahun 2006, Jakarta Selatan memiliki 76.300 penduduk miskin atau 3,74
persen dari total penduduk yang tinggal dengan garis kemiskinan wilayah
Rp263.740. Pendidikan yang dapat ditamatkan oleh penduduk miskin antara lain
13,64 persen tamat SLTA, 54,55 persen tamat SD/SLTP dan 31,82 persen yang
tidak tamat SD. Persentase penduduk miskin usia 15 tahun keatas yang tidak
bekerja sebesar 29,21 persen, yang bekerja pada sektor informal sebesar 28,09
persen dan yang bekerja pada sektor formal sebesar 42,70 persen. Jika dibedakan

antara sektor pertanian dan bukan pertanian, tidak ada penduduk miskin yang
bekerja pada sektor pertanian dan sebesar 70,79 persen bekerja pada sektor bukan
pertanian.
Tabel 5. Data dan Informasi Kemiskinan Tahun 2005-2006
Tahun

No. Informasi Kemiskinan


1
2
3
4

Jumlah Penduduk
Miskin
Persentase Penduduk
Miskin (%)
Garis Kemiskinan
Wilayah
Persentase Distribusi
Penduduk Miskin dan
Pendidikan yang
Ditamatkan (%)
Persentase Penduduk
Miskin Usia 15 Tahun
Keatas dan Status
Bekerja (%)
Persentase Penduduk
Miskin Usia 15 Tahun
Keatas dan Sektor
Bekerja (%)

2005

2006

64.000 orang

76.300 orang

3,36

3,74

Rp 263.740,-

Rp 263.740,-

SLTA

SD/SLTP

Tidak
tamat
SD

SLTA

SD/SLTP

Tidak
tamat
SD

41,9

30,2

27,9

13,6

54,6

31,8

Tidak
bekerja

Sektor
informal

Sektor
formal

Tidak
bekerja

Sektor
informal

Sektor
formal

34,6

31,8

33,6

29,2

28,1

42,7

Tidak
bekerja

Pertanian

Non
pertanian

Tidak
bekerja

Pertanian

Non
pertanian

34,6

0,9

64,5

29,2

70,8

Sumber: BPS, 2007


5.2 Kondisi Fisik, Sosial dan Ekonomi Kecamatan Pesanggrahan
Kecamatan Pesanggrahan merupakan salah satu kecamatan di wilayah
Kotamadya Jakarta Selatan. Sesuai dengan Surat Keputusan Gubernur Kapala
Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor: 1251 Tahun 1986, Nomor:435 Tahun
1966 dan Nomor: 1986 Tahun 2000, maka luas wilayah Kecamatan Pesanggrahan
adalah 13,45 Km2 yang terdiri atas 50 RW dan 521 RT dengan luas masingmasing kelurahan sebagai berikut:
a. Kelurahan Bintaro: 4,55 Km2
b. Kelurahan Pesanggrahan: 2,11 Km2
c. Kelurahan Ulujami: 1,70 Km2

d. Kelurahan Petukangan Selatan: 2,10 Km2


e. Kelurahan Petukangan Utara: 2,99 Km2
Secara administratif Kecamatan Pesanggrahan memiliki batas-batas wilayah
sebagai berikut:
Sebelah Utara: Berbatasan dengan Kecamatan Kebon Jeruk Kodya Jakata Barat.
Sebelah Selatan: Berbatasan dengan Ciputat, Propinsi Banten.
Sebelah Barat: Berbatasan dengan Kecamatan Ciledug, Propinsi Banten.
Sebelah Timur: Berbatasan dengan Kecamatan Kebayoran Lama.
Kecamatan Pesanggrahan berada pada daerah dataran rendah dengan
ketinggian 26,2 meter diatas permukaan laut, terletak pada 06 15 40,8 lintang
selatan dan 106 45 00,0 Bujur Timur. Dan memiliki wilayah yang sebagian
besar lahan digunakan sebagai daerah perumahan.
Dari hasil Survei Inventarisasi Kelurahan Tahun 2006, penduduk Kecamatan
Pesanggrahan sebanyak 154.719 Jiwa dengan jumlah kepala keluarga adalah
25.744 KK. Dengan data tersebut dapat ketahui kepadatan penduduk mencapai
11.503 jiwa/km2, dengan perincian penduduk laki-laki sebanyak 81.397 jiwa atau
52,61 persen, penduduk perempuan sebanyak 73.322 jiwa atau sekitar 47,39
persen. Dari lima kelurahan yang terdapat di Kecamatan Pesanggrahan, kepadatan
penduduk tertinggi di kelurahan Ulujami yaitu sebesar 16.758 jiwa/km2,
sedangkan tingkat kepadatan penduduk yang terendah pada Kelurahan Bintaro
yaitu sebesar 8.730 jiwa/km2.
Jika dirinci menurut kewarganegaraannnya, terdapat sebanyak 154.703 jiwa
warga negara Indonesia (WNI) dan 16 jiwa warga negara asing (WNA). Dari 16
WNA itu, yang terbanyak terdapat di Kelurahan Bintaro sebanyak 13 orang.

Tabel 6.

Kepadatan Penduduk Kecamatan Pesanggrahan Menurut


Kelurahan, Tahun 2006
Jumlah
Jumlah
Kepadatan
Luas
No
Kelurahan
Rumah
Penduduk
Penduduk
(Km2)
Tangga (KK)
(Jiwa)
(Jiwa/Km2)
1 Bintaro
4,55
6,854
39,722
8,73
2 Pesanggrahan
2,11
3,652
26,622
12,617
3 Ulujami
1,7
5,565
28,489
16,758
4 Petukangan Selatan
2,1
3,806
23,577
11,227
5 Petukangan Utara
2,99
5,867
36,309
12,143
Jumlah
13,45
25,744
154,719
11,503
Sumber: BPS, 2007
Untuk menghitung jumlah penduduk disuatu wilayah dibutuhkan data-data
penduduk yang lahir, mati, datang dan pindah pada wilayah itu. Pada tahun 2006
jumlah penduduk yang lahir 1.427 jiwa, yang mati 673 jiwa, yang datang sebesar
1.411 jiwa dan yang pindah sebesar 1.090 jiwa.
Dalam pencapaian penerimaan pemerintah melalui pajak dan retribusi,
Kecamatan Pesanggrahan memiliki angka realisasi yang cukup baik yaitu untuk
pajak bumi dan bangunan 82,03 persen dalam realisasi aktual pada tahun 2006
yaitu sebesar Rp 9.107.343, untuk retribusi kebersihan 11,22 persen dengan
realisasi aktual sebesar Rp 9.770.000.
Keadaan perekonomian di Kecamatan Pesanggrahan dapat dilihat dari jumlah
bank dan perusahaan industri. Pada tahun 2006 tercatat terdapat 5 bank
pemerintah dan 9 bank swasta. Sedangkan perusahaan industri dibedakan menjadi
empat jenis yaitu, industri besar, sedang, kecil dan rumah tangga. Terdapat 363
perusahaan industri di Kecamatan Pesanggrahan dan 79,89 persen diantaranya
adalah industri rumah tangga.
Keadaan beberapa fasilitas pelayanan dasar bagi masyarakat Kecamatan
Pesanggrahan seperti fasilitas pendidikan dan kesehatan telah tersedia cukup baik,

bahkan dapat juga diakses oleh masyarakat miskin. Jumlah beberapa pelayanan ini
dapat dilihat pada subbab berikut.
5.2.1 Fasilitas Pendidikan
Fasilitas pendidikan terbagi dua yaitu pendidikan formal dan non formal. Di
Pesanggrahan pada tahun 2006 jumlah sekolah dibidang pendidikan formal,
terdapat sebanyak 55 sekolah Taman Kanak-kanak (TK), 76 Sekolah Dasar (SD),
18 Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) dan 7 Sekolah Menengah Umum
(SMU). Sedangkan untuk pendidikan non formal seperti kursus-kursus (mengetik,
tata buku, dan sebagainya) seluruhnya berjumlah 32 buah dan yang paling banyak
adalah kursus bahasa. Untuk melihat letak fasilitas pendidikan per kelurahan,
dapat dilihat pada Tabel 7.
Jumlah fasilitas pendidikan yang terdapat di Kecamatan Pesanggrahan sudah
cukup untuk menjadi sarana pendidikan yang dapat diakses oleh masyarakat
termasuk penduduk miskin, karena saat ini pemerintah telah membebaskan uang
sekolah bagi pendidikan dasar dan menengah tingkat pertama.
Tabel 7. Jumlah Fasilitas Pendidikan Menurut Kelurahan Tahun 2006

16
11
7

Negeri
14
10
7

SD
Swasta
2
4
1

MI
5
1
3

11

10
55

10
49

2
13

3
14

1
6

5
12

1
5

Kelurahan

TK

Bintaro
Pesanggrahan
Ulujami
Petukangan
Selatan
Petukangan
Utara
Jumlah

SLTP
Negeri Swasta
1
1
2
3
1
1

SMU
Negeri Swasta
2 1
2
1
3

SMK
-

Kursus

4
1

12
2
2

6
13

10
32

Sumber: BPS, 2007

5.2.2 Fasilitas Kesehatan


Pembangunan kesehatan di Kecamatan Pesanggrahan diarahkan pada
prioritas untuk memberikan pelayanan secara mudah, merata dan murah kepada

masyarakat dengan beberapa fasilitas seperti rumah sakit, rumah bersalin,


poliklinik, BKIA, Puskesmas, Pos KB, dan Posyandu serta memberikan
penyuluhan kepada masyarakat, seperti meningkatkan gizi masyarakat khususnya
balita serta penanggulangan dan pencegahan terhadap beberapa penyakit (BPS,
2007).
Tabel 8. Jumlah Fasilitas Kesehatan Menurut Kelurahan Tahun 2006
Rumah
Puskesmas
Sakit
Bintaro
1
1
Pesanggrahan
2
Ulujami
1
Petukangan
Selatan
1
Petukangan
Utara
1
Kelurahan

Jumlah
Sumber: BPS, 2007

30
16
21

Dokter
Praktek
20
12
10

Mantri,Bidan
dan Perawat
13
4
15

Dukun
Bayi
3
1

18

24

14

109

64

49

11

Posyandu

Fasilitas kesehatan di Kecamatan Pesanggrahan pada tahun 2006 ada


sebanyak 1 rumah sakit, 6 Puskesmas, sedangkan dokter praktek berjumlah 64
orang. Hal ini dapat dilihat lebih jelas pada Tabel 8.
5.3 Karakteristik Responden
Karakteristik responden yang akan dilihat yakni dimulai dari tingkat
pendidikan, umur, pekerjaan utama, status pernikahan, jam kerja pada pekerjaan
utama per bulan, jumlah anggota keluarga, pengalaman berusaha, pelaksanaan
KUBE (dummy kelompok), pendampingan kelompok oleh pendamping sosial
yang telah ditunjuk. Karakteristik tersebut tentunya akan mempengaruhi
keberlangsungan usaha yang akhirnya berdampak pada pendapatan yang
diperoleh dari Kelompok Usaha Bersama (KUBE). Beberapa karakteristik
tersebut dapat disajikan pada Tabel 9. dan Tabel 10, sedangkan secara
keseluruhan data responden dapat dlihat pada Lampiran 3.

Tingkat pendidikan responden yang terpilih ternyata berkisar dari yang tidak
sekolah, SD, SLTP, SMU sampai pada yang sudah menempuh perguruan tinggi.
Data menunjukkan bahwa 67,27 persen berada pada sekolah lanjut yaitu SLTP
dan SMU.
Semua responden yang diambil adalah wanita. Hal ini berkaitan dengan
keanggotaannya pada kelompok usaha bersama (KUBE). Walaupun wanita,
sebagian besar responden yaitu 34 orang atau sebesar 61,82 persen memiliki
pekerjaan utama sebagai guru, pedagang, buruh, penjahit, dan lainnya, sedangkan
sisanya hanya bekerja di rumah sebagai ibu rumah tangga.
Tabel 9. Variabel Sosial Ekonomi Responden
Variabel
Jumlah (Jiwa)
Pendidikan
Tidak sekolah
2
SD
12
SLTP
18
SMU
19
Perguruan Tinggi
4
55
Pekerjaan Utama Selain KUBE
Guru
4
Buruh
4
Dagang
19
IRT
21
Jahit
2
Lainnya
5
55
Sumber: Data Primer

Persen (%)
3,64
21,82
32,73
34,55
7,27
100
7,27
7,27
34,55
38,18
3,64
9,09
100,00

Umur responden berkisar antara 24 sampai 66 tahun. Berdasarkan data yang


diperoleh, sebagian besar responden berada pada usia 31 50 tahun yaitu sebesar
38 orang atau sekitar 69,09 persen.
Responden yang terpilih sebagian besar telah menikah yaitu sebesar 39 orang
atau 70,91 persen. Sedangkan jumlah anggota keluarga responden sebagian besar

sesuai dengan anjuran program KB (keluarga berencana) berkisar 2 orang sampai


4 orang sebanyak 42 orang atau sebesar 76,36 persen.
Tabel 10. Variabel Demografi Responden
Variabel
Jumlah (Jiwa)
Kelompok Umur
Antara 16 30
6
Antara 31 50
38
51 - ke atas
11
Status Perkawinan
Menikah
39
Belum Menikah/Janda
16
Jumlah Anggota Keluarga
Hanya Sendiri
7
Sesuai anjuran KB
42
Keluarga Besar
6
Sumber: Data Primer

Persen (%)
10,91
69,09
20,00
70,91
29,09
12,73
76,36
10,91

5.4 Pelaksanaan KUBE di Kecamatan Pesanggrahan


Berdasarkan data yang diperoleh dari BPS, Departemen sosial bekerjasama
dengan Dinas Bintal dan Kesos (Bina Spiritual dan Kesejahteraan Sosial) DKI
Jakarta dalam melaksanakan program KUBE di DKI Jakarta. Setiap tahun ada
satu Kecamatan dari setiap Kotamadya yang akan menjadi daerah pelaksanaan
KUBE. Pada tahun 2006, Dinas Bintal Dan Kesos membentuk 200 KUBE pada
lima Kotamadya yang terdapat di Jakarta. Kecamatan Pesanggrahan dipilih
menjadi daerah pelaksanaan KUBE di Kotamadya Jakarta Selatan dengan
membentuk 40 KUBE yang masing-masing KUBE beranggotakan 10 orang, dan
tersebar di dua kelurahan yaitu Kelurahan Ulujami dan Kelurahan Petukangan
Utara. Kedua kelurahan tersebut dipilih dengan pertimbangan karena di Kelurahan
lainnya telah mendapatkan bantuan. Kelurahan Petukangan Selatan memperoleh
Bantuan Rehabilitasi Rumah (BRR) dan jalan setapak/jalan gang, Kelurahan
Bintaro dan Kelurahan Pesanggrahan memperoleh bantuan Usaha Ekonomi
Produktif (UEP) yang merupakan bantuan usaha yang ditujukan bagi perorangan.

Pelaksanaan KUBE di Kecamatan Pesanggrahan diawali dengan perekrutan


anggota yang dilakukan oleh Seksi Sosial Kecamatan (SSK) dan Pekerja Sosial
Masyarakat (PSM) yang akhirnya mendapatkan data 400 orang yang
direkomendasikan untuk menjadi anggota KUBE. Tidak semua orang yang
direkomendasikan oleh SSK dan PSM merupakan warga miskin tetapi sudah
direncanakan dari 10 orang anggota per KUBE, 3 orang diantaranya merupakan
warga tidak miskin atau berada sedikit diatas garis kemiskinan yang diharapkan
mampu mengorganisasikan keberlangsungan KUBE. PSM adalah masyarakat
yang peduli dan sukarela menjadi penyelenggara/pelaksana Usaha Kesejahteraan
Sosial (UKS). Dala proram KUBE ini, hanya beberapa PSM yang terlibat dan
ditunjuk menjadi pendamping KUBE.
Data anggota yang berhasil dikumpulkan oleh SSK dan PSM kemudian
direkomendasikan kepada Dinas Bintal dan Kesos untuk menjadi peserta program
KUBE. Saat perekrutan, masing-masing kelompok diberikan kesempatan untuk
memilih bidang usaha yang akan dijalankan sesuai dengan pilihan bidang usaha
yang telah direncanakan oleh Dinas Bintal dan Kesos serta disesuaikan dengan
keahlian yang dikuasai oleh masing-masing anggota. Bidang usaha yang dapat
dipilih antara lain: catering, pembuat kue kering, parutan kelapa, menjahit dan
steam motor.
Dari 40 KUBE yang dibentuk, sebagian besar KUBE berupa KUBE catering
yaitu sebesar 26 KUBE, 7 KUBE kue kering, 3 KUBE parutan kelapa, 3 KUBE
menjahit dan 1 KUBE steam motor. Semua KUBE yang terbentuk memperoleh
bantuan berupa peralatan dan uang tunai. Uang tunai untuk masing-masing KUBE
sebesar Rp 1.000.000 tetapi dikenakan potongan sebesar Rp 250.000 sebagai

tabungan wajib di LKMS agar KUBE merasa terikat dengan LKMS sehingga
dapat melakukan kerjasama yang baik dan saling mendukung dalam urusan
pemasaran dan terutama dalam permodalan.
Bantuan peralatan yang diterima oleh KUBE catering secara rinci dapat
dilihat pada Tabel 11. Tidak semua peralatan ini dapat dimanfaatkan dengan baik,
hal ini disebabkan skala usaha yang dijalankan KUBE tidak sesuai dengan ukuran
peralatan bantuan yang diberikan sehingga sebagian besar KUBE hanya
menyewakan peralatan-peralatan catering tersebut kepada masyarakat yang
membutuhkan.
Selain itu, pelaksanaan KUBE di Kecamatan Pesanggrahan sejak 2006
hingga 2008 belum berjalan secara rutin, hanya melayani pesanan pada acaraacara tertentu dan belum memiliki pasar yang pasti. Pelaksanaan KUBE di
lapangan tidak sepenuhnya berjalan seperti yang direncanakan. Ada beberapa
KUBE yang tidak dijalankan secara berkelompok tetapi dijalankan secara
individu. KUBE yang dijalankan secara individu hanya memanfaatkan KUBE
sebagai sarana akses untuk simpan pinjam, bukan sebagai pengembangan usaha
keuangan bersama.
Tabel 11. Jenis dan Jumlah Bantuan Sarana KUBE Catering
No.
Jenis Barang
Jumlah
1
Kompor Gas
2 set
2
Piring Makan
10 lusin
3
Sendok Garpu
10 lusin
4
Panci (Langseng)
2 set
5
Panci (Sayur)
2 set
6
Penggorengan Sedang
2 set
7
Pemanas
4 set
8
Uang
Rp 750.000,Sumber: Data Primer

Hal ini menyimpang dari rencana pembuatan KUBE yang dibentuk menjadi
sebuah organisasi yang menjalankan suatu usaha secara bersama-sama dan
memanfaatkan LKMS sebagai sarana simpan pinjam. Penyimpangan ini terjadi
karena lokasi beberapa KUBE yang tidak berdekatan dengan LKMS sehingga
KUBE-KUBE tersebut segan untuk datang dan menjalin kerjasama dengan
LKMS. Selain itu, lokasi yang berjauhan mengakibatkan KUBE-KUBE tidak
mendapatkan informasi terbaru dari LKMS.
Tidak semua KUBE dapat berlangsung dan berkembang dengan lancar. Hal
ini terjadi karena beberapa sebab, antara lain: ada beberapa KUBE yang
kehilangan peralatan usaha akibat banjir yang melanda daerah tempat tinggal
mereka pada tahun 2007, KUBE steam motor tidak berjalan disebabkan anggota
KUBE memiliki kesibukan lain di luar KUBE dan KUBE kue kering mengalami
hambatan untuk berkembang sebab alat yang diberikan terlalu besar sehingga
warga kesulitan untuk menyimpan alat dan mengoperasikannya.
Setiap KUBE memiliki seorang pendamping yang akan membantu dalam
keberlangsungan KUBE serta sebagai usaha monitoring dari Dinas. Namun tidak
setiap pendamping menangani satu KUBE tetapi seorang pendamping dapat
menangani 4 KUBE yang lokasinya berada pada daerah yang berdekatan. Bahkan
ada beberapa pendamping yag bertindak sebagai ketua dari KUBE yang ditangani.
Kegiatan pendampingan sampai saat ini belum mencakup kegiatan peningkatan
skill dan kreatifitas anggota KUBE. Kegiatan pendampingan hanya mencakup
pemberian saran dan masukan ketika KUBE mengalami kesulitan.

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN


6.1 Kemiskinan di Kecamatan Pesanggrahan
Kemiskinan memiliki definisi yang beragam dari setiap departemen maupun
para ahli yang meneliti tentang kemiskinan. Kemiskinan yang terjadi di suatu
daerah disebabkan oleh suatu penyebab yang terkadang tidak sama dengan daerah
lainnya. Di Kecamatan Pesanggrahan, kemiskinan terjadi karena pendapatan ratarata penduduk per kapita per bulan masih berada di bawah garis kemiskinan yang
ditetapkan BPS untuk kota Jakarta khususnya wilayah Kotamadya Jakarta Selatan.
Hal ini dapat dilihat lebih jelas pada Tabel 12.
Tabel 12. Rata-rata Pendapatan dan Jam Kerja Penduduk Miskin dan Tidak
Miskin di Kecamatan Pesanggrahan
Kategori

Jumlah
Responden

Rata-rata Jam Kerja


RT

Penduduk Miskin
Penduduk Tidak Miskin

31
24

39,6 jam per minggu


74,3 jam per minggu

Rata-Rata
Pendapatan per
Kapita per bulan
Rp 201.968
Rp 507.847

Sumber: Data Primer


Pendapatan rata-rata penduduk miskin sebesar Rp 201.968 per kapita per
bulan yang menunjukkan bahwa jumlah ini berada di bawah garis kemiskinan
yaitu Rp 322.780 per kapita per bulan untuk wilayah Kotamadya Jakarta Selatan
pada tahun 2006. Menurut jam kerja, penduduk miskin di Kecamatan
Pesanggrahan rata-rata telah bekerja lebih dari 39 jam per minggu, sedangkan
penduduk tidak miskin rata-rata bekerja lebih dari 74 jam per minggu. Hal ini
menunjukkan bahwa ada perbedaan jumlah jam kerja yang cukup besar antara
penduduk miskin dan tidak miskin yang disebabkan karena kurangnya
keterampilan dan ketersediaan lapangan kerja bagi penduduk miskin.

6.2 Efektifitas Kelompok Usaha Bersama (KUBE)


Analisis efektivitas program Kelompok Usaha Bersama (KUBE) dilakukan
dengan menggunakan data pendapatan dari pekerjaan utama dan pendapatan dari
usaha bersama yang diambil pada Juni 2008 dengan 55 orang responden. Analisis
dilakukan dengan pengujian secara statistik, membandingkan antara pendapatan
sebelum bergabung dengan KUBE dan pendapatan setelah bergabung dengan
KUBE.
Rupiah (Rp)
2500000
2000000
1500000
1000000
500000
0
1

11

13

15

Sebelum KUBE
Setelah KUBE

17

19

21

23

25

27

29

31

RT Miskin

Gambar 4. Pendapatan RT Miskin Sebelum dan Setelah KUBE


Pekerjaan utama responden antara sebelum bergabung dengan KUBE dengan
pekerjaan setelah bergabung dengan KUBE adalah sama atau dengan kata lain
tidak ada responden yang melakukan pergantian pekerjaan pada saat pengambilan
data. Hal serupa juga terjadi pada suami responden, sehingga rumah tangga yang
diteliti tidak ada yang mengalami pergantian pekerjaan saat diadakan penelitian.
Hal ini mengindikasikan bahwa perbedaan pendapatan rumah tangga terjadi
karena adanya pendapatan tambahan yang berasal dari KUBE. Secara grafik,
dapat dilihat pada Gambar 4 dan Gambar 5.

Rupiah (Rp)
4000000
3500000
3000000
2500000
2000000
1500000
1000000
500000
0
1

10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24

Sebelum KUBE
Sesudah KUBE

RT Tidak Miskin

Gambar 5. Pendapatan RT Tidak Miskin Sebelum dan Setelah KUBE


Berdasarkan Gambar 4, dari 31 responden Rumah Tangga (RT) miskin
anggota KUBE terdapat 23 RT yang mengalami peningkatan pendapatan.
Sedangkan berdasarkan Gambar 5, diperoleh informasi bahwa dari 24 RT tidak
miskin anggota KUBE terdapat 15 RT yang mengalami peningkatan pendapatan.
Pendapatan sebelum dan setelah KUBE serta pekerjaan utama responden dapat
dilihat pada Lampiran 4. untuk RT miskin dan Lampiran 5. untuk RT tidak
miskin.
Tabel 13.
No.
1
2
3
4
5
6
7

Hasil Uji Beda Dua Mean Sampel Berpasangan Antara


Pendapatan Sebelum dan Setelah Mengikuti KUBE
Uraian

Rata-rata pendapatan sebelum


mengikuti KUBE
Rata-rata pendapatan setelah mengikuti
KUBE
Rata-rata selisih antara besar pendapatan
sebelum dan setelah mengikuti KUBE
Simpangan baku (Sd)
Jumlah sampel (n)
t-hitung
t-tabel (0,05)

RT
Miskin

RT Tidak
Miskin

Keseluruhan

662.903

1.571250

1.059273

784.456

1.654253

1.164004

121.553

83.003

104.731

151.051
31
4,48
2,04

86.439
24
4,7
2,06

127.399
55
6,1
2,01

Secara statistik dilakukan pengujian terhadap perbedaan pendapatan sebelum


dan sesudah adanya KUBE. Pengujian dilakukan dengan uji beda dua mean
sampel berpasangan. Uji ini menghasilkan t-hitung sebesar 4,48 untuk RT miskin,
4,7 untuk RT tidak miskin dan 6,1 untuk keseluruhan. Hal ini menunjukkan
bahwa t-hitung lebih besar dari t-tabel yang digunakan, sehingga dapat
disimpulkan bahwa program KUBE efektif dalam meningkatkan pendapatan
masyarakat anggota KUBE. Hasil uji beda dua mean sampel berpasangan secara
singkat dapat dilihat pada Tabel 13 sedangkan hasil pengolahan dengan software
minitab 14 dapat dilihat pada Lampiran 6.

6.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan KUBE


6.3.1 Deskripsi Statistik Variabel-variabel Penelitian
Nilai dari variabel-variabel penelitian yang digunakan diperoleh melalui
kuisioner terhadap 55 responden yang merupakan anggota KUBE dengan usaha
catering. Variabel-variabel tersebut antara lain, pendidikan formal yang pernah
ditempuh, pengalaman dalam menjalankan usaha, pendampingan kelompok oleh
pendamping/PSM, kedudukan dalam kelompok, pelaksanaan KUBE secara
berkelompok atau perorangan dan pendapatan usaha secara individu.
Pendidikan
Kesadaran untuk memperoleh pendidikan bagi masyarakat Kecamatan
Pesanggrahan sudah cukup baik. Dari 55 orang responden, yang tidak sekolah
hanya ada 2 orang atau 3,64 persen sedangkan 12 orang atau 21,82 persen
bersekolah hingga SD (sekolah dasar), 18 orang atau 32,73 persen bersekolah
hingga SLTP (Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama), 19 orang atau 34,55 persen
bersekolah hingga SMU (Sekolah Menengah Umum) atau sederajat, dan hanya 4

orang atau 7,27 persen yang bersekolah hingga perguruan tinggi. Hal ini dapat
dilihat pada Tabel 14.
Tabel 14. Jumlah Anggota KUBE Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Pendidikan
Tidak sekolah
SD
SLTP
SMU
Perguruan Tinggi

Jumlah (Jiwa)

Persen (%)
2
12
18
19
4
55

3,64
21,82
32,73
34,55
7,27
100

Sumber: Data Primer


Pengalaman
Variabel pengalaman yang digunakan dalam penelitian ini adalah
pengalaman seorang anggota dalam menjalankan usaha. Usaha yang pernah
dijalankan oleh anggota diantaranya adalah usaha berjualan kue pagi, nasi uduk
dan membuka warung. Pengalaman yang paling lama dilakukan oleh seorang
anggota adalah membuka warung. Berdasarkan data yang diperoleh, hanya 21
orang anggota yang memiliki pengalaman berusaha.
Pendampingan
Pendampingan dilakukan oleh seorang pendamping sosial atau PSM yang
ditunjuk oleh dinas untuk mendampingi KUBE. Akan tetapi karena didasari atas
kesukarelaan maka pendamping ini bersifat tidak terikat. Selama ini sebagian
besar KUBE menerima pendampingan sebanyak 2 sampai 3 kali. Namun, ada juga
KUBE yang menerima pendampingan hingga 10 kali. Hal ini dipengaruhi oleh
kedekatan jarak tempat tinggal pendamping dengan KUBE yang didampinginya
serta partisipasi anggota untuk menerima pendampingan. Kegiatan pendampingan
ini antara lain adalah evaluasi kegiatan yang telah dilakukan oleh KUBE,
pengarahan serta pemberian informasi mengenai perkembangan di LKMS

(Lembaga Keuangan Mikro Sosial) karena pendamping merupakan penghubung


antara KUBE dengan LKMS.
Dummy Kedudukan
Pembentukan KUBE disesuaikan dengan pembentukan suatu organisasi yang
terdiri atas ketua, sekretris, bendahara dan anggota. Hal ini dimaksudkan agar
pelaksanaan

KUBE

dapat

dipantau

secara

terorganisir

dan

dapat

dipertanggungjawabkan. Pemilihan ketua, sekretaris dan bendahara dilakukan


SSK yang disesuaikan dengan kemampuan masing-masing individu yang menjadi
kandidat, karena diharapkan pemegang kedudukan didalam KUBE memiliki
kemampuan untuk membimbing seperti pendamping. Dan ada beberapa ketua
KUBE yang juga merangkap sebagai pendamping KUBE. Dalam hal ini, dummy
kedudukan mewakili kedudukan seseorang sebagai ketua atau bukan ketua.
Dummy Kelompok
Pada awal pembentukkan KUBE diharapkan dapat berjalan layaknya sebuah
kelompok yang bekerja untuk saling melengkapi dan bertanggung jawab terhadap
kelompok. Pada kenyataan di lapangan, sebagian KUBE yang berjalan tidak lagi
dijalankan secara berkelompok namun secara individual sehingga dalam
penelitian ini dummy kelompok mewakili KUBE yang dijalankan secara
berkelompok atau secara perorangan.
Pendapatan Usaha secara Individu
KUBE merupakan suatu kegiatan usaha yang dirancang untuk dijalankan
secara bersama-sama. Namun, pendapatan masing-masing individu yang terlibat
dalam KUBE belum tentu memiliki jumlah yang sama karena dipengaruhi oleh
kontribusi masing-masing anggota dalam keterlibatannya pada kegiatan KUBE.

Kontribusi anggota ini terkait dengan intensitas kumpul dalam kelompok masingmasing individu. Pendapatan usaha dalam KUBE selama ini rata-rata diperoleh
dari hasil menyewakan peralatan catering dan pesanan yang tidak tentu adanya.
6.3.2 Hasil dan Pembahasan Model Dugaan
Dengan menggunakan metode Ordinary Least Squre (OLS), diperoleh
model dugaan sebagaimana pada Tabel 14. Dari model dugaan tersebut diperoleh
nilai koefisien determinasi (R-Sq) sebesar 67 persen dan nilai koefisien
determinasi terkoreksi (R-Sq adj) sebesar 63,6 persen. Angka (R-Sq) tersebut
menunjukkan bahwa 67 persen keragaman dari variabel tak bebas (pendapatan
KUBE per individu) dapat diterangkan oleh variabel-variabel bebas yang
digunakan dalam model, sedangkan sisanya yaitu sebesar 33 persen dijelaskan
oleh variabel lain yang tidak dimasukkan ke dalam model. Uji F dengan p-value
0,000 (lebih kecil dari = 0,05) menunjukkan bahwa koefisien regresi secara
bersama-sama signifikan berbeda nyata dari nol. Hal-hal ini bermakna bahwa
model sudah baik.
Tabel 15. Hasil Pendugaan Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pendapatan
Individu Kelompok Usaha Bersama di Kecamatan Pesanggrahan
Variabel
Koef
SE Koef
T
P
Kontanta
29673.51
39982.95
0,742
0,4615
Pendidikan
-2708.57
2803.81 -0,966
0,3388
Pengalaman
-195.42
169.74 -1,151
0,2552
Pendampingan
35946.38
10008.84
3,591
0,0008*
Dummy Kedudukan
144186.9
48705.13
2,960
0,0047*
Dummy Kelompok
55632.99
23461.38
2,371
0,0217*
S = 76881.01
R-Sq = 67%
R-Sq(adj) = 63.6%
DW = 1.397605
F = 19.85620
P-value = 0.000
Keterangan: * nyata pada taraf 5%
Berdasarkan hasil output pada Tabel 15, dapat dilihat bahwa tidak ada
masalah multikolinearitas maupun heteroskedastisitas. Pengujian terhadap

multikolinearitas dalam program Eviews dapat dilakukan dengan melihat matriks


korelasi antar variabel yang terdapat dalam model. Multikolinearitas terjadi saat
koefisien korelasi diantara dua variabel dalam matriks korelasi antar sesama
variabel bebas bernilai lebih besar dari 0,8. Dari Tabel 16 dapat dilihat bahwa
tidak terdapat nilai koefisien korelasi antara dua variabel yang bernilai lebih besar
dari 0,8. Berarti, dalam model tidak terdapat masalah multikolinearitas.
Terhadap masalah heteroskedastisitas, saat pengolahan model telah digunakan
metode White Heteroskedasticity-Consistent Standard Errors & Covariance
sehingga model dugaan tidak mengandung masalah heteroskedastisitas.
Tabel 16. Matriks Korelasi
Pendidikan Pengalaman Pendampingan
Pendidikan
Pengalaman
Pendampingan
Dummy
Kedudukan
Dummy
Kelompok

1.000.000
-0.125098
0.130381
0.205498

-0.125098
1.000.000
-0.057693
0.500683

0.130381
-0.057693
1.000.000
0.109914

Dummy
Kedudukan
0.205498
0.500683
0.109914
1.000.000

-0.316494

0.169328

-0.128469

0.023187

Dummy
Kelompok
-0.316494
0.169328
-0.128469
0.023187
1.000.000

Hasil pendugaan model terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi


keberhasilan KUBE menunjukkan bahwa variabel-variabel yang berpengaruh
nyata pada taraf nyata () 5 persen terhadap pendapatan usaha secara individu
adalah variabel pendampingan, dummy kedudukan dan dummy kelompok.
Sedangkan variabel lain tidak berpengaruh nyata. Hasil pengolahan dengan
menggunakan software Eviews 4.1 dapat dilihat pada Lampiran 7.
Pendidikan
Pendidikan tidak berpengaruh nyata terhadap pendapatan usaha. Hal ini
terjadi karena sebagian besar anggota KUBE memiliki tingkat pendidikan yang
relatif sama yaitu pada kisaran SLTP dan SMU. Dalam penelitian ini, variabel

pendidikan belum dibedakan berdasarkan jenjang sekolah atau membedakan


antara SMU dengan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) atau tingkat pendidikan
yang mendukung pengetahuan mengenai catering. Dalam penelitian Siregar, dkk.
(2007) menemukan bahwa variabel pendidikan berpengaruh negatif terhadap
jumlah orang miskin. Dampak terbesar terjadi pada tingkat pendidikan SLTP
sehingga kebijakan pemerintah mengenai wajib belajar sembilan tahun harus
diteruskan. Pendidikan SMA dan diploma juga memiliki pengaruh yang relatif
besar dalam mengurangi kemiskinan. Hal ini mencerminkan bahwa human capital
merupakan determinan penting untuk menurunkan jumlah penduduk miskin.
Pengalaman
Pengalaman tidak berpengaruh nyata terhadap pendapatan usaha secara
individu. Hal ini terjadi karena pengalaman berusaha yang telah dilakukan
anggota tidak berkaitan dengan usaha KUBE yang dijalankan karena dari 19
anggota KUBE yang memiliki usaha dagang hanya terdapat 8 orang yang
memiliki usaha di bidang makanan (usaha yang mendukung atau sejenis dengan
KUBE yang dijalankan). Sedangkan 11 orang anggota lainnya berdagang dengan
usaha warung, kelontong dan pakaian.
Pendampingan
Frekuensi pendampingan berpengaruh nyata terhadap pendapatan usaha
secara individu dengan nilai koefisien regresi sebesar 35946. Artinya setiap
peningkatan satu kali pendampingan maka pendapatan akan meningkat Rp 35.946
cateris paribus. Maka pendampingan harus dilakukan lebih intensif agar dapat
menjadi motivasi bagi anggota KUBE dalam menjalankan usaha.

Dummy Kedudukan
Hasil regresi menunjukkan bahwa dummy kedudukan berpengaruh nyata
terhadap pendapatan usaha secara individu dengan nilai koefisien regresi sebesar
144186. Artinya pendapatan usaha secara individu yang menjadi ketua lebih besar
Rp 144.186,- dibandingkan dengan anggota KUBE yang tidak menduduki jabatan
sebagai ketua.
Dummy Kelompok
Hasil regresi menunjukkan bahwa dummy pelaksanaan KUBE secara
berkelompok berpengaruh nyata terhadap pendapatan usaha secara individu
dengan nilai koefisien regresi sebesar 55633. Artinya pendapatan usaha secara
individu yang menjadi anggota dalam KUBE yang berjalan secara berkelompok
lebih besar Rp 55.633,- dibandingkan dengan anggota dalam KUBE yang berjalan
secara individual.
6.4 Implikasi Kebijakan
Berdasarkan hasil analisis efektivitas pendapatan sebelum dan setelah adanya
KUBE dan analisis faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan KUBE di
Kecamatan Pesanggrahan, maka dapat dirumuskan beberapa implikasi kebijakan
yang dapat dipertimbangkan untuk mengurangi angka kemiskinan di Kecamatan
Pesanggrahan, sebagai berikut.
1.

Peningkatan kreatifitas masyarakat dengan pelatihan-pelatihan. Pemberian


bantuan KUBE tanpa dilengkapi dengan kreatifitas hanya akan membuat
usaha yang diharapkan berkembang menjadi macet ditengah jalan.
Pengembangan usaha bukan hanya bermodal aset tetapi juga memerlukan

modal keterampilan dan kreatifitas untuk dapat mengantisipasi berbagai


kendala yang akan datang ditengah usaha sedang berjalan.
2.

Memperbaiki pelaksanaan KUBE. Program pemerintah yang dimulai dengan


top-down seringkali hasilnya tidak optimal karena memaksakan suatu
keadaan untuk diterima oleh masyarakat yang menerima bantuan. Lebih baik
mengembangkan program yang dimulai dengan bottom-up sehingga bantuan
yang diberikan sesuai dengan yang diharapkan. Dalam program KUBE
dilaksanakan dengan cara top-down sehingga peralatan yang diberikan
sebagai bantuan tidak dapat dimanfaatkan dengan optimal, karena peralatan
tidak sesuai dengan skala usaha yang sedang berjalan atau dirintis.

3.

Meningkatkan monitoring pelaksanaan program. Walaupun selama ini telah


ada pendampingan namun tidak semua KUBE memperoleh pendampingan
yang cukup. Karena merasa tidak diawasi maka perkembangan beberapa
KUBE menjadi tidak baik atau tidak berkembang. Selain itu, para
pendamping sebaiknya memiliki keterampilan khusus dan merupakan
pegawai dinas bukan relawan sehingga mampu membantu perkembangan
KUBE dan bertanggung jawab atas tugas yang dijalankannya.

VII.

KESIMPULAN DAN SARAN

7.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan dari bab sebelumnya, maka dapat diambil
kesimpulan sebagai berikut.
1. Kemiskinan perkotaan yang terjadi di Kecamatan Pesanggrahan antara lain
disebabkan oleh kurangnya jam kerja rata-rata RT penduduk miskin yaitu
sekitar 39 jam per minggu sedangkan jam kerja rata-rata RT penduduk tidak
miskin adalah sekitar 74 jam per minggu. Dengan jam kerja yang relatif lebih
rendah, pendapatan rata-rata RT penduduk miskin per kapita per bulan juga
rendah yaitu Rp 201.968, masih dibawah garis kemiskinan Wilayah Kotamadya
Jakarta Selatan.
2. Program KUBE yang dilaksanakan di Kecamatan Pesanggrahan pada tahun
2006 secara kuantitatif telah efektif dalam meningkatkan pendapatan
masyarakat. Namun, pada kenyataannya KUBE belum beroperasi secara rutin
sehingga efektivitas program KUBE sebetulnya masih dapat ditingkatkan lagi
sehingga dapat meningkatkan pendapatan masyarakat. Berdasarkan hasil
pendugaan dengan model regresi diperoleh kesimpulan bahwa faktor-faktor
yang secara nyata mempengaruhi keberhasilan KUBE pada taraf nyata 5 persen
adalah frekuensi pendampingan, dummy kedudukan dan dummy kelompok.
3. Kebijakan pemerintah saat ini cenderung masih bersifat top-down sehingga
bantuan yang diterima masih belum sepenuhnya dapat dimanfaatkan secara
optimal. Rakyat miskin perkotaan di lokasi penelitian tidak hanya
membutuhkan bantuan berupa aset (modal produksi) tetapi juga memerlukan

bantuan dalam meningkatkan keterampilan (skill dan kreatifitas) dalam


menjalankan suatu usaha produktif.

7.2 Saran
Berdasarkan hasil penelitian di atas, maka penulis dapat memberikan saran
sebagai berikut.
1. Pendampingan terhadap KUBE perlu ditingkatkan dan dikembangkan
sehingga efektivitas KUBE dalam meningkatkan keterampilan para anggota
menjadi lebih tinggi dan pada akhirnya dapat meningkatkan pendapatan
sasarannya secara lebih besar.
2. KUBE sebaiknya berhubungan baik dengan Lembaga Keuangan Mikro Sosial
(LKMS) sehingga sinergi diantara dua lembaga ini dapat berkelanjutan dan
berkembang. Hal ini diharapkan sangat membantu KUBE dalam masalah
keuangan dan kemitraan terhadap pihak luar.
3. Untuk penelitian lanjutan, perlu diteliti efektifitas beberapa program
penanggulangan kemiskinan lainnya yang telah dilakukan oleh pemerintah
sehingga dapat diketahui program mana yang memiliki pengaruh yang lebih
besar

dalam

mengurangi

angka

kemiskinan

dan

dicari

bentuk

sinergi/kombinasi diantaranya agar efektivitasnya dalam menanggulangi


kemiskinan lebih tinggi lagi.

DAFTAR PUSTAKA
Andayasari, Ika. 2006. Pengembangan KUBE-Fakir Miskin Dalam Upaya
Pengentasan Kemiskinan (Kasus Upaya Pengentasan Kemiskinan melalui
KUBE-FM di Kelurahan Cibeureum Kecamatan Cimahi Selatan). Tesis.
IPB, Bogor.
Badan Pusat Statistik. 2005. Analisis dan Perhitungan Tingkat Kemiskinan. BPS,
Jakarta.
Badan Pusat Statistik. 2007. Analisis dan Perhitungan Tingkat Kemiskinan Tahun
2007. BPS, Jakarta
Badan Pusat Statistik. 2007. Data dan Informasi Kemiskinan 2005-2006 buku 1.
BPS, Jakarta.
Badan Pusat Statistik. 2007. Data dan Informasi Kemiskinan 2005-2006 buku 2.
BPS, Jakarta.
Badan Pusat Statistik. 2007. Kecamatan Pesanggrahan Dalam Angka 2007. BPS,
Jakarta.
Badan Pusat Statistik. 2007. Jakarta Selatan Dalam Angka 2007. BPS, Jakarta.
Departemen Sosial RI. 2005. Panduan Operasional Program Pemberdayaan Fakir
Miskin Melalui Bantuan Sarana Penunjang Produksi KUBE Bidang
Konveksi.Depsos, Jakarta.
Departemen Sosial RI. 2005. Panduan Operasional Program Pemberdayaan Fakir
Miskin di Wilayah Pertanian.Depsos, Jakarta.
Gujarati, Damodar. 1978.Ekonometrika Dasar. Terjemahan. Erlangga, Jakarta.
Ilham, Nyak, Hermanto Siregar, & D. S. Priyarsono. 2006. Efektivitas Kebijakan
Harga Pangan Terhadap Ketahanan Pangan. Jurnal Agro Ekonomi.
Volume 24 no. 2, hal 157- 177. pdf.
Khairullah. 2003. Dinamika Kelompok dan Kemandirian Anggota Kelompok
Swadaya Masyarakat. Tesis. IPB, Bogor.
Khanata-Khasanah persona dan pranata. 2006. Menuju Indonesia Sejahtera Upaya
Konkret Pengentasan Kemiskinan. Khanata-Pustaka LP3ES Indonesia,
Jakarta.
KIKIS (The Ford Foundation). 2000. Penanggulangan kemiskinan Struktural
Agenda Keadilan dan Pemberdayaan Masyarakat Program Aksi Lima
Tahun. Akatiga, Bandung.

Nugroho, Tri Wahyu. 2006. Dmpak Kebijakan Pembangunan Pertanian Terhadap


Pengentasan Kemiskinan di Indonesia. Tesis. IPB, Bogor.
Nurhayati, Maruti. 2007. Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tingkat
Kemiskinan di Jawa Barat. Skripsi. Departemen Ilmu Ekonomi. Fakultas
Ekonomi dan Manajemen. IPB, Bogor.
Permanda, Estiani. 2007. Peranan Proyek Penanggulangan Kemiskinan di
Perkotaan (P2KP) Terhadap Pendapatan Usaha Kecil di Kelurahan
Kedung Badak Kota Bogor. Skripsi. Program Studi Ekonomi Pertanian
dan Sumberdaya. Fakultas Pertanian. IPB, Bogor.
PSP3-IPB. 2006. 22 Tahun Studi Pembangunan Pengurangan Kemiskinan,
Pembangunan Agribisnis dan Revitalisasi Pertanian. Pusat Studi
Pembangunan Pertanian dan Pedesaan-LPPM IPB, Bogor.
Rahmawati, Yenny Indra. 2006. Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi
Kemiskinan Rumah Tangga di Kabupaten Pacitan Propinsi Jawa Timur.
Skripsi. Program Studi Ekonomi Pertanian dan Sumberdaya. Fakultas
Pertanian. IPB, Bogor.
Ramanathan, Ramu.1998. Introductory Econometrics with Applications Fourth
Edition. The Dryden Press, United States of America.
Saidi, Naili. 2007. Strategi Peningkatan Efektivitas Penyaluran Dana Usaha
Desa/Kelurahan Untuk Penanggulangan Kemiskinan (Kajian di Kota
Pekanbaru - Provinsi Riau). Tesis. IPB, Bogor.
Sajogyo. 1996. Memahami dan Menanggulangi Kemiskinan di Indonesia Prof.
Dr. Sajogyo 70 Tahun. Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta.
Santosa, Awan, Dadit G. Hidayat, & Puthut Indroyono. 2003. Evaluasi Dampak
Program Penanggulangan Kemiskinan Bersasaran Di Provinsi D.I.
Jogjakarta. Jurnal Ekonomi & Bisnis Indonesia, vol.18, no.2, hal. 144160.
Siregar, Hermanto, Dwi Wahyuniarti, & Nur Azam Achsani. 2007. Dampak
Pertumbuhan Ekonomi terhadap Penurunan Jumlah Penduduk Miskin.
Makalah disampaikan dalam acara Seminar Nasional Pusat Analisis
Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian-Deptan. PASEKP, Bogor. 21
Agustus.
Sumodiningrat, Gunawan. 1999. Kemiskinan: Teori, Fakta dan Kebijakan.
IMPAC, Jakarta.
Tarmidi. 2006. efektivitas Pengelolaan Kredit Mikro Proyek Penanggulangan
Kemiskinan di Perkotaan (P2KP) dan Analisis Pendapatan Keluarga
Miskin. Skripsi. Program Sarjana Ekstensi Manajemen Agribisnis.
Fakultas Pertanian. IPB, Bogor.

Wahyuni, Dewi. 2005. Model Pengembangan Usaha Bersama (KUBE) (Refleksi


Proses Pemberdayaan KUBE dari Kasus Kelurahan Leuwigajah
Kecamatan Cimahi Selatan Kota Cimahi). Tesis. IPB, Bogor.
Walpole, Ronald E.1995. Pengantar Statistika. PT. Gramedia Pustaka Utama,
Jakarta.
Winarno, Wing Wahyu. 2007. Analisis Ekonometrika dan Statistika dengan
Eviews. Unit Penerbit dan Percetakan Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen
YKPN, Yogyakarta.

LAMPIRAN

Lampiran 1. Garis Kemiskinan (Rp/Kap/Bln) Menurut Provinsi dan Daerah, Tahun 2005-2007
Provinsi
Nangroe Aceh Darussalam
Sumatera Utara
Sumatera Barat
Riau
Jambi
Sumatera Selatan
Bengkulu
Lampung
Bangka Belitung
Kepulauan Riau
DKI Jakarta
Jawa Barat
Jawa Tengah
DI Yogyakarta
Jawa Timur
Banten
Bali
Nusa Tenggara Barat
Nusa Tenggara Timur
Kalimantan Barat
Kalimantan Tengah
Kalimantan Selatan
Kalimantan Timur
Sulawesi Utara
Sulawesi Tengah
Sulawesi Selatan
Sulawesi Tenggara
Gorontalo
Sulawesi Barat
Maluku
Malku Utara
Irian Jaya Barat
Papua
Indonesia

Sumber: BPS, 2007

Perkotaan (K)
2005
2006
195882
226599
175152
209282
175730
219990
196892
266897
187608
202612
172684
242135
172659
191541
164909
195912
197082
210878
231346
247540
237735
295267
151235
207233
143776
193745
160690
196406
146743
196877
183927
217536
166962
230636
134488
140490
141168
156696
164397
171289
161231
172517
163565
176650
213378
300031
150421
205685
173991
208494
138576
170517
122067
170063
135837
165585
165808
189173
202415
174425
184891
220567
193307
214739
165565
179144

2007
246375
205379
213942
233732
214769
205145
210082
187923
236854
278742
266874
180821
168186
200855
166546
188392
179141
176591
185975
166230
179418
185289
239560
165824
181555
149439
142103
146458
144842
205046
192287
209518
242556
187942

2005
166608
117578
125602
151718
122185
120331
110275
113728
178701
156453
113964
120115
130807
115272
108855
136897
109403
89764
109777
125980
107455
161910
118675
121193
97027
107902
115018
150271
122936
145610
117365

Perdesaan (D)
2006
177637
156867
166062
219483
140453
185430
124155
148389
188898
173319
157664
160753
187521
155080
140648
178359
120042
103903
125852
136949
125025
229750
177246
144379
123441
154770
142331
147186
166800
140147
200817
175237
135896

2007
206724
154827
163301
194019
152019
161205
149468
145634
234028
213985
144204
140803
156349
140322
140885
147963
130867
113310
133403
153430
144647
188787
149440
146682
115788
127197
134410
130428
170547
153526
204958
190513
146837

2005
172084
143095
140962
167620
141157
138444
128541
125319
186531
215803
237735
133701
130013
148476
128598
150209
152519
118891
98263
124804
136309
128598
189851
130929
131524
109503
110978
120670
161114
137010
157074
138574

K+D
2006
196130
180956
184266
244004
175959
185253
164397
162479
202718
210653
295267
185702
176859
190693
172060
185866
205936
149250
137147
159291
162696
163459
257723
184597
189386
148584
172995
145578
153232
171183
149743
203582
177977
158051

2007
218143
178132
180669
214034
172349
178209
170802
157052
235379
248241
266874
165734
154111
184965
153145
169485
165954
150026
126389
142529
162266
161514
220368
156550
154006
126623
130625
138181
135242
179552
165039
205998
202379
166697

Lampiran 2. Kuisioner Penelitian


Kepada Yth: Responden Penelitian
Kuisioner ini digunakan untuk meneliti Efektivitas Program Kelompok Usaha
Bersama Sebagai Upaya Pemberdayaan Fakir Miskin Perkotaan.
No. Responden:

Kelompok Responden:

PETUNJUK PENGISIAN
Jawablah seluruhpertanyaan dengan mengisi/melingkari/ pilihan yang sesuai
dengan keadaan yang sebenarnya.mohon dijawab dengan penuh kejujuran dan
tanggung jawab agar informasi benar, akurat dan lengkap sehingga meberikan
manfaat dalam memperbaiki pelaksanaan program Kelompok Bersama (KUBE).
Data pokok responden
1. Nama Lengkap :
2. Alamat Lengkap :
3. Jenis Kelamin : (1) laki-laki, (2) perempuan
4. usia :
5. Status : (1) bujangan, (2) menikah, (3) janda/duda
6. Lama Sekolah :

tahun

7. Pekerjaan Utama (jam kerja) :


8. pendapatan/bulan :
9. Jumlah tanggungan Keluarga:
No.
Tanggungan
Jumlah Pekerjaan Penghasilan/Bln
Keterangan
1.
Istri/Suami
2.
Anak Kandung:
- Balita
- Sekolah SD
- Sekolah SMP
- Sekolah SMA
- Kuliah
- lainnya
3.
Lain-lain:
Jumlah
10. Kepemilikan rumah : (1) milik sendiri, (2) menumpang keluarga, (3)
kontak (bulanan/tahunan)
11. Asal kewarganegaraan/suku :

Data berdasarkan Kelompok


1. Jenis usaha :
2. Lokasi usaha :
3. Sasaran usaha :
4. Sumber keahlian berusaha : (1) kursus, (2) pengalaman pribadi
5. Pengalaman berusaha :

tahun

6. Kedudukan dalam kelompok : (1) ketua, (2) bendahara, (3) sekretaris, (4)
anggota
7. Pendapatan dari usaha/bulan :
8. Kumpul dalam kelompok : kali/bulan
9. Dana pinjaman yang diperoleh :
10. Pendampingan dilakukan : kali/bulan
11. Keberlanjutan usaha : (1) usaha berlanjut, (2) usaha tidak berlanjut

CATATAN (penjelasan/usulan/temuan/pernyataan/pendapat responden)

Lampiran 3. Data dan Variabel-variabel Penelitian


No.

KUBE

Nama

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27

NURI
NURI
NURI
NURI
NURI
NURI
NURI
NURI
NURI
NURI
KELELAWAR
KELELAWAR
KELELAWAR
KELELAWAR
KELELAWAR
KELELAWAR
KELELAWAR
LUMBA_LUMBA
LUMBA_LUMBA
LUMBA_LUMBA
LUMBA_LUMBA
LUMBA_LUMBA
LUMBA_LUMBA
LUMBA_LUMBA
LUMBA_LUMBA
LUMBA_LUMBA
LUMBA_LUMBA

Sa'diyah
Siti Aisyah
Siti Jalpah
Rusmayanah
Hamdah H.
Sumiyati
Rojanah
Sumarni
Halowati
Niswah
Siti Munawaroh
Rupi'ah
Hasanah
Aminah
Nina Martina
Warsinah
Aliyah
Siswanti
Sriwahyuni
Ida Suwarni
Sri Wahyuningsih
Sumiati
Djariah
Amroh
Melani
Eti
Nurhayati

UMUR
48
33
35
40
30
54
42
42
50
50
42
52
40
60
43
50
63
39
36
34
42
66
50
45
30
46
40

DSTS
1
0
1
1
1
0
1
1
1
1
1
1
0
1
1
1
0
1
1
1
1
1
1
0
1
0
1

JK
84
112
0
100
140
120
0
150
140
140
0
140
0
0
0
336
120
100
24
84
100
0
40
120
160
0
0

PHSLN
2000000
300000
0
200000
250000
200000
0
600000
500000
500000
0
900000
300000
0
0
1500000
250000
400000
50000
200000
200000
0
100000
300000
200000
200000
0

TGGN
7
2
4
5
3
0
3
4
4
4
4
4
3
2
3
3
1
4
5
3
3
2
2
3
4
1
4

JKS
0
0
180
196
280
0
180
160
168
330
288
308
0
160
160
0
0
0
336
336
160
160
252
0
308
0
252

PHSLS
0
0
1000000
700000
2000000
0
1000000
1000000
1500000
1500000
600000
900000
0
600000
600000
0
0
0
1000000
1000000
1000000
1000000
1000000
0
900000
0
900000

PNDUS
300000
200000
100000
150000
150000
200000
200000
150000
150000
150000
42587
42587
42587
42587
42587
42587
42587
200000
50000
300000
0
0
0
0
0
0
0

PNDDN
13
4
9
9
12
6
9
6
0
7
8
5
9
8
9
8
6
12
12
6
12
9
9
9
9
9
12

PGLMN
12
0
0
16
5
60
60
5
12
12
0
372
0
0
0
372
0
84
12
72
0
0
0
0
24
0
0

PNMPGN
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
0
0
0
0
0
0
0
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1

DKED
1
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
1
0
1
0
0
0
0
0
0
0
0
0

DKEL
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
51
52
53
54
55

MERPATI
MERPATI
MERPATI
MERPATI
MERPATI
MERPATI
MERPATI
MERPATI
MERAK
MERAK
MERAK
MERAK
MERAK
MERAK
MERAK
MERAK
MERAK
MERAK
ANGGREK
ANGGREK
ANGGREK
ANGGREK
ANGGREK
ANGGREK
ANGGREK
ANGGREK
ANGGREK
ANGGREK

Masanih
Budiyah
Supartini
Herlinah
Sainem
Lilis Yatiningsih
Ikawati
Masinah
Tri Hastuti
Ika Wartika
Titin Supratiwi
Rosita
Iip Latifah
Sawiyah
Lisnawati
Lilis Wati
Rubiyah
Hamianisbah
Mayulis
Rosnini
Puti
Selfiani Ros
Yusnani
Neneng
Sutirah
Hafnawati
Supani
Nurhidayati

40
52
43
33
37
45
36
40
49
35
29
50
35
57
32
42
47
48
48
52
24
27
48
30
60
56
55
35

1
1
1
1
1
1
1
1
0
0
1
1
0
1
1
0
1
1
0
0
0
0
1
1
0
1
0
1

0
0
0
0
0
0
140
0
0
0
192
180
180
0
0
120
168
168
480
150
150
150
336
120
150
160
0
0

0
0
0
0
0
0
1500000
0
800000
500000
600000
600000
1300000
400000
0
500000
1000000
1000000
900000
500000
400000
400000
1500000
200000
600000
1000000
0
0

3
4
5
4
4
4
5
4
3
3
3
4
3
2
4
3
4
3
3
2
1
1
5
3
1
2
1
4

160
180
200
160
200
160
180
140
0
0
196
0
0
0
200
0
160
160
0
0
0
0
200
336
0
0
0
140

750000
2000000
800000
750000
750000
900000
2000000
750000
0
0
700000
0
0
0
2000000
0
780000
780000
0
0
0
0
1500000
1000000
0
800000
0
750000

161875
161875
161875
161875
161875
161875
161875
161875
60867
0
0
0
60867
60867
0
60867
60867
60867
600000
600000
0
0
200000
100000
0
0
0
0

6
12
9
12
6
12
15
6
12
9
12
12
12
0
12
12
6
12
12
12
14
15
12
9
6
12
6
9

0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
216
96
12
60
36
0
0
48
12
0
0
0
0

3
3
3
3
3
3
3
3
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
10
10
0
0
10
10
0
0
0
0

0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
1
0
0
1
0
0
0
0
0
0
0
0
0

1
1
1
1
1
1
1
1
1
0
0
0
1
1
0
1
1
1
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

Keterangan:
UMUR = umur responden pada saat pengambilan data dilakukan
DSTS
= status pernikahan, 1 = menikah, 2 = belum menikah/janda
JK
= jam kerja responden tiap bulan
PHSLN = penghasilan responden dari pekerjaan utama per bulan
TGGN
= tanggungan keluarga
JKS
= jam kerja suami responden tiap bulan
PHSLS = penghasilan suami per bulan
PNDUS = pendapatan usaha KUBE per individu
PNDDN = pendidikan responden dalam jumlah tahun bersekolah
PGLMN = pengalaman usaha
PNMPGN = frekuensi pendampingan sejak KUBE dibentuk hingga pengambilan
data dilakukan
DKED
= dummy kedudukan
DKEL
= dummy kelompok

Lampiran 4. Pendapatan RT Miskin Sebelum dan Setelah Mengikuti KUBE


serta Pekerjaan Utama Responden selain KUBE
NO

KUBE

Nama

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31

NURI
NURI
NURI
NURI
NURI
KELELAWAR
KELELAWAR
KELELAWAR
KELELAWAR
KELELAWAR
LUMBA_LUMBA
LUMBA_LUMBA
LUMBA_LUMBA
LUMBA_LUMBA
LUMBA_LUMBA
LUMBA_LUMBA
MERPATI
MERPATI
MERPATI
MERPATI
MERPATI
MERPATI
MERAK
MERAK
MERAK
MERAK
MERAK
ANGGREK
ANGGREK
ANGGREK
ANGGREK
Rata-rata

Sa'diyah
Siti Aisyah
Siti Jalpah
Rusmayanah
Sumiyati
Siti Munawaroh
Hasanah
Aminah
Nina Martina
Aliyah
Siswanti
Sriwahyuni
Amroh
Melani
Eti
Nurhayati
Masanih
Supartini
Herlinah
Sainem
Lilis Y.
Masinah
Tri Hastuti
Ika Wartika
Rosita
Sawiyah
Lilis Wati
Mayulis
Rosnini
Supani
Nurhidayati

t-tabel

0 . 05

/ 2

= 2.042

Sebelum
Rp
2.000.000
300.000
1.000.000
900.000
200.000
600.000
300.000
600.000
600.000
250.000
400.000
1.050.000
300.000
1.100.000
200.000
900.000
750.000
800.000
750.000
750.000
900.000
750.000
800.000
500.000
600.000
400.000
500.000
900.000
500.000
200.000
750.000
662.903

Sesudah
Rp
2.300.000
500.000
1.100.000
1.050.000
400.000
642.857
342.857
642.857
642.857
292.857
600.000
1.100.000
300.000
1.100.000
200.000
900.000
911.875
961.875
911.875
911.875
1.061.875
911.875
860.867
500.000
600.000
460.867
560.867
1.500.000
1.100.000
200.000
750.000
784.456

DM
300.000
200.000
100.000
150.000
200.000
42.857
42.857
42.857
42.857
42.857
200.000
50.000
0
0
0
0
161.875
161.875
161.875
161.875
161.875
161.875
60.867
0
0
60.867
60.867
600.000
600.000
0
0
121.553

Pekerjaan
Utama
Guru
Buruh Cuci
IRT
Buruh Cuci
Dagang Kue
IRT
Kontrakan
IRT
IRT
Buruh RT
Jumantik
Dagang Es
Buruh Tekstil
Penjahit
IRT
IRT
IRT
IRT
IRT
IRT
IRT
IRT
IRT
IRT
Dagang
IRT
Dagang
Dagang
Dagang
IRT
IRT

Lampiran 5. Pendapatan RT Tidak Miskin Sebelum dan Setelah Mengikuti


KUBE serta Pekerjaan Utama Responden selain KUBE
NO

KUBE

Nama

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24

NURI
NURI
NURI
NURI
NURI
KELELAWAR
KELELAWAR
LUMBA_LUMBA
LUMBA_LUMBA
LUMBA_LUMBA
LUMBA_LUMBA
MERPATI
MERPATI
MERAK
MERAK
MERAK
MERAK
MERAK
ANGGREK
ANGGREK
ANGGREK
ANGGREK
ANGGREK
ANGGREK
Rata-rata

Hamdah H.
Rojanah
Sumarni
Halowati
Niswah
Rupi'ah
Warsinah
Ida Suwarni
Sri W.
Sumiati
Djariah
Budiyah
Ikawati
Titin S.
Iip Latifah
Lisnawati
Rubiyah
Hamianisbah
Puti
Selfiani Ros
Yusnani
Neneng
Sutirah
Hafnawati

t-tabel

0 . 05

/ 2

= 2.064

Sebelum
Rp
2.250.000
1.000.000
1.600.000
2.000.000
2.000.000
1.800.000
1.500.000
1.200.000
1.200.000
1.000.000
1.100.000
2.000.000
3.500.000
1.300.000
1.300.000
2.000.000
1.780.000
1.780.000
400.000
400.000
3.000.000
1.200.000
600.000
1.800.000
1.571.250

Sesudah
Rp
2.400.000
1.200.000
1.750.000
2.150.000
2.150.000
1.842.857
1.542.857
1.500.000
1.200.000
1.000.000
1.100.000
2.161.875
3.661.875
1.300.000
1.360.867
2.000.000
1.840.867
1.840.867
400.000
400.000
3.200.000
1.300.000
600.000
1.800.000
1.654.253

DTM

Pekerjaan Utama

150.000
200.000
150.000
150.000
150.000
42.857
42.857
300.000
0
0
0
161.875
161.875
0
60.867
0
60.867
60.867
0
0
200.000
100.000
0
0
83.003

Dagang Kue
IRT
Dagang Kue
Dagang Nasi Uduk
Dagang Nasi Uduk
Dagang
Dagang
Dagang
Buruh Cuci
IRT
Dagang
IRT
Guru
Pramuniaga
Guru
IRT
Dagang
Dagang
Magang
Magang
Dagang
Dagang Kue
Dagang Kue
Penjahit

Lampiran 6. Hasil Pengolahan dengan Minitab 14


One-Sample T: D Miskin
Test of mu = 0 vs not = 0

Variable
D Miskin

N
31

Mean
121553

StDev
151051

SE Mean
27130

95% CI
(66147; 176959)

T
4,48

P
0,000

One-Sample T: D Tidak Miskin


Test of mu = 0 vs not = 0

Variable
D Tidak Miskin

N
24

Mean
83002,7

StDev
86438,7

SE Mean
17644,2

95% CI
(46502,8; 119502,6)

Histogram of D Miskin

(with Ho and 95% t-confidence interval for the mean)


10

Frequency

8
6
4
2
0

_
X
Ho

160000

320000
D Miskin

480000

640000

Histogramof DTidak Miskin

(with Ho and 95%t-confidence interval for the mean)


10

Frequency

8
6
4
2
_
X

0
Ho

80000

160000
DTidakMiskin

240000

320000

T
4,70

P
0,000

Lampiran 7. Hasil Pengolahan dengan Eviews 4.1


Dependent Variable: PNDUS
Method: Least Squares
Date: 08/12/08 Time: 13:36
Sample: 1 55
Included observations: 55
White Heteroskedasticity-Consistent Standard Errors & Covariance
Variable

Coefficient

Std. Error

t-Statistic

Prob.

C
PNDDN
PGLMN
PNMPGN
DKED
DKEL

29673.51
-2708.571
-195.4186
35946.38
144186.9
55632.99

39982.95
2803.809
169.7427
10008.84
48705.13
23461.38

0.742154
-0.966033
-1.151264
3.591463
2.960405
2.371258

0.4615
0.3388
0.2552
0.0008
0.0047
0.0217

R-squared
Adjusted R-squared
S.E. of regression
Sum squared resid
Log likelihood
Durbin-Watson stat

0.669546
0.635827
76881.01
2.90E+11
-693.6158
1.397605

Mean dependent var


S.D. dependent var
Akaike info criterion
Schwarz criterion
F-statistic
Prob(F-statistic)

104730.9
127398.7
25.44057
25.65956
19.85620
0.000000

20
Series: Residuals
Sample 1 55
Observations 55

16

Mean
Median
Maximum
Minimum
Std. Dev.
Skewness
Kurtosis

12

1.82E-11
1232.215
264701.7
-262415.2
73235.26
0.640107
9.477070

4
Jarque-Bera
Probability

0
-250000

-125000

125000

99.89691
0.000000

250000

Matriks Korelasi

PNDDN
PGLMN
PNMPGN
DKED
DKEL

PNDDN
1.000.000
-0.125098
0.130381
0.205498
-0.316494

PGLMN
-0.125098
1.000.000
-0.057693
0.500683
0.169328

PNMPGN
0.130381
-0.057693
1.000.000
0.109914
-0.128469

DKED
0.205498
0.500683
0.109914
1.000.000
0.023187

DKEL
-0.316494
0.169328
-0.128469
0.023187
1.000.000