You are on page 1of 22

PROPOSAL TUGAS AKHIR

ANALISA PENENTUAN AKSIS JANTUNG SINYAL ECG
DENGAN PROGRAM DELPHI

Oleh :
ADHITYA SETIAWAN
P27 838 109 001

PROGRAM DIPLOMA IV
DEPARTEMEN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK KESEHATAN SURABAYA
JURUSAN TEKNIK ELEKTROMEDIK
SURABAYA
2010

1
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Penerapan teknologi telah berkembang dengan pesat dan
meliputi segala bidang ilmu pada sisi kehidupan manusia, salah satunya
pada bidang kesehatan/ kedokteran. Di dalam era globalisasi ini,
perkembangan dunia kedokteran telah menarik perhatian bagi engineering
untuk ikut memberikan perhatian yang tidak hanya sekedarnya. Baik itu
dalam bidang akustik, energi, akustik, bahan dan juga rekayasa
instrumentasi. Semua bidang tersebut telah ikut mendukung untuk
memajukan dunia kesehatan.
Hal tersebut sangat membantu bidang kesehatan dan para medis.
Perkembangan teknologi dewasa ini sangatlah membantu, terutama dalam
tahap diagnosa penyakit pada pasien. Salah satu aplikasi teknologi
elektronika medis yang dirancang pada tugas akhir ini adalah untuk
memonitoring secara online sinyal jantung pasien yang ditampilkan pada
PC .Sebagai salah satu tindakan diagnosa awal pada kelainan jantung, juga
untuk mempermudah bagi tenaga medis dalam menentukan aksis jantung
dari pasien.
ECG merekam aktifitas bioelektrik jantung dengan sepasang
elektroda, yaitu elektroda positif (anoda) dan satu electrode negative
(katoda). Sepasang electrode perekam ini bersama galvanometer dikenal
sebagai sandapan (lead).

Ada 3 hukum dasar ECG dari Golberger[3] yang perlu diingat :
a. Arus depolarisasi jantung yang merambat menuju ke elektroda positif
(meninggalkan electrode negative) menimbulkan defleksi positif.
b. Arus depolarisasi jantung yang merambat menuju ke electrode
negative (meninggalkan electrode positif) menimbulkan defleksi
negative.
c. Arus depolarisasi jantung yang berjalan tegak lurus terhadap sumbu
antara dua elektroda menimbukan defleksi bifasik.

2
Tampak pula besarnya amplitude defleksi yang terekam
berbanding lurus dengan besarnya arus depolarisasi. Hal ini data dilihat
apabila ada bagian jantung yang hipertrofi (membesar), maka pada
elektroda perekam yang bersangkutan akan memperlihatkan amplitude
defleksi yang lebih besar.
Atas dasar hukum ini, maka potensial gelombang ECG dapat
diperoleh dengan jalan menentukan jumlah aljabar amplitude gelombang-
gelombang ECG. Gelombang yang digunakan adalah besar nilai
amplitudo R dan S. Aksis jantung dapat ditentukan dengan menggunakan
sandapan 1 dan aVF.
Denggan ini dapat diperoleh hasil yang akurat, cepat dan juga
dapat dipergunakan sebagai media pembelajaran bagi para medis muda/
perawat muda. Cara ini juga diharapkan dapat mengurangi kemungkinan
faktor human error dalam tahap diagnosis dan analisa kelainan pada
jantung pasien yang dilakukan secara manual.

1.2 Identifikasi Masalah
Permasalahan yang ingin diangkat pada tugas akhir ini adalah
bagaimana menampilkan (memonitor) grafik ECG pasien secara online
dengan memanfaatkan sinyal output dari simulator ecg dan menentukan
aksis jantung pasien.

1.3 BATASAN MASALAH
Adapun yang menjadi batasan permasalahan dalam perancangan tugas
akhir ini adalah sebagai berikut :
1.3.1 Pada tugas akhir ini dilakukan perancangan ECG monitoring 1
channel saja.
1.3.2 Kelainan jantung yang dapat diketahui hanya letak aksis jantung
saja.
1.3.3 Sebagai inputan personal computer adalah grafik on-line dari
simulator EKG

3
1.4 Rumusan Masalah
Berdasarkan dari pembatasan masalh diatas maka dapat diketahui
rumusan masalah yang ada yaitu :
“ Dapatkah dianalisa kelainan axis pada jantung dengan program
Delphi ”

1.5 TUJUAN
Tujuan pembuatan modul Tugas Akhir ini adalah

1.5.1 Tujuan Umum

Dikembangkannya ECG untuk mengetahui kelainan axis jantung

dengan pemograman Delphi

1.5.2 Tujuan Khusus

1.5.2.1 Membuat rangkaian biopotensial amplifier untuk

mendeteksi sinyal listrik jantung.

1.5.2.2 Membuat rangkaian ADC dan Amplifier

1.5.2.3 Membuat rangkaian INTERFACE

1.5.2.4 Membuat software pada pemrograman Delphi untuk

menampilkan sinyal ECG.

1.6 Manfaat

1.6.1 Manfaat Teoritis

Menambah ilmu pengetahuan dalam bidang elektromedik

khususnya tentang pengembangan ECG dengan memanfaatkan

kemampuan personal komputer.

4
1.6.2 Manfaat Praktis

1.6.2.1 Hasil pengukuran ECG dapat dilihat langsung

pada monitor komputer.

1.6.2.2 Memudahkan dokter dalam mengolah data hasil

pengukuran ECG.

1.6.2.3 Memudahkan dokter untuk melihat kelainan axis

jantung pada pasien

5
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Prinsip dasar

2.1.1 Jantung

Secara fisiologi, jantung adalah salah satu organ tubuh yang paling
vital fungsinya dibandingkan dengan organ tubuh vital lainnya. Dengan
kata lain, apabila fungsi jantung mengalami gangguan maka besar
pengaruhnya terhadap organ-organ tubuh lainya terutama ginjal dan otak.
Karena fungsi utama jantung adalah sebagai single pompa yang
memompakan darah ke seluruh tubuh untuk kepentingan metabolisme sel-
sel demi kelangsungan hidup. Untuk itu, siapapun orangnya sebelum
belajar EKG harus menguasai anatomi dan fisiologi dengan baik dan bena

Gambar 2.1.1 Jantung manusia

6
Dalam topik anatomi & fisiologi jantung ini, saya akan menguraikan
dengan beberapa sub-topik di bawah ini :
1. Ukuran,Posisi atau letak Jantung
2. Lapisan Pembungkus Jantung
3. Lapisan Otot Jantung
4. Katup Jantung
5. Ruang Jantung
6. Arteri Koroner
7. Siklus Jantung

2.1.2 Ukuran,Posisi atau letak Jantung

Secara anatomi ukuran jantung sangatlah variatif. Dari beberapa
referensi yang saya baca, ukuran jantung manusia mendekati ukuran
kepalan tangannya atau dengan ukuran panjang kira-kira 5" (12cm) dan
lebar sekitar 3,5" (9cm). Jantung terletak di belakang tulang sternum,
tepatnya di ruang mediastinum diantara kedua paru-paru dan bersentuhan
dengan diafragma. Bagian atas jantung terletak dibagian bawah sternal
notch, 1/3 dari jantung berada disebelah kanan dari midline sternum , 2/3
nya disebelah kiri dari midline sternum. Sedangkan bagian apek jantung di
interkostal ke -5 atau tepatnya di bawah puting susu sebelah kiri.

Gambar 2.1.2.1 Posisi Letak Jantung Manusia

Jantung merupakan sebuah organ unik yang mampu memproduksi
muatan listrik. Hal ini telah dibuktikan oleh Von Kolliker (1855) melalui

7
preparat yang dikenal sebagai rheoscopic frog, yaitu bila saraf dari otot
gastroknemius kodok ditelentangkan pada permukaan jantung yang sedang
berdenyut, maka otot tersebut akan ikut berkontraksi sesuai dengan irama
denyut jantung.karena tubuh merupakan sebuah konduktor yang baik,
maka impuls yag dibentuk oleh jantung dapat menjalar ke seluruh tubuh.
Sehingga potensial bioelektrik yang dipancarkan oleh jantung dapat diukur
dengan sebuah galvanometer melalui electrode-elektrode yang diletakkan
pada berbagai posisi dipermukaan tubuh. Grafik yang tercatat melalui
rekaman ini disebut elektrokardiogram.

Gambar 2.1.2.2 Grafik ECG pada beberapa lead/ sandapan
Untuk jantung yang normal grafik yang terekam pada ECG adalah berupa
grafik sinus dengan titik-titik PQRST yang normal dan tampak jelas, letak
axis jantung yang normal berkisar antara -30o sampai ke + 105o dilihat
pada grafik QRS pada pada lead-lead tertentu.

Gambar2.1.2.3 Diagram perhitungan aksis jantung secara manual

8
.

2.1.3 Axis Jantung
Aksis jantung adalah rambatan arus depolarisasi yang secara
grafik dapat digambar sebagai vector-vektor kecil yang setiap saat
memiliki arah dan intensitas tersendiri, yang apabila digabungkan akan
membentuk arah sebuah vector utama. Pada keadaan normal aksis jantung
mengarah dari SA node ke arah apex jantung. Arah dari aksis ini akan
dapat berubah apabila posisi jantung di dalam rongga dada berubah, atau
apabila terjadi gangguan konduksi yang disebabkan oleh penyakit apa saja.
Dengan demikian aksis merupakan pedoman penting dalam menilai ada
tidaknya kelainan jantung.
Axis jantung juga tidak kalah pentingnya untuk dilakukan
analisa, karena berkenaan dengan aktifitas arus listrik jantung manusia.
[6]
Selanjutnya pada jurnal Narayanan Srinivasan juga hanya menganalisa
sinyal ECG pada sinus arrhythmia saja. Jenis grafik arrhythmia yang
dianalisa adalah normal sinus rhythm (NSR) atrial premature contraction
(APC), premature ventricular contraction (PVC), superventricular
tachycardia (SVT), ventricular tachycardia (VT) dan ventricular
fibrillation (VF). Oleh Karena itu berdasarkan dr. Sjukir Karim[3] yang
menulis bahwa arus depolarisasi jantung yang merambat tegak lurus
terhadap sumbu antara dua elektroda menimbulkan defleksi bifasik,
digunakan sebagai salah satu alternative (metode) pengukuran yang efisien
untuk mengetahui aksis jantung.
Menghitung aksis jantung saat menginterpretasi EKG 12 lead
adalah salah satu langkah yang harus dilakukan oleh interpreter untuk
mendapatkan hasil interpertasi EKG yang akurat. Ada beberapa cara yang
sederhana saat menentukan aksis jantung. Jantung memiliki keunikan
sendiri yaitu mempunyai beberapa tempat atau pusat pacemaker yaitu SA
node, AV node or daerah junction, serta furkinje fiber. Dimana normal
pacemaker jantung berada di SA node yang mengeluarkan impuls
sebanyak 60-100 x menit

9
Impuls yang dikeluarkan oleh SA node akan menyebar keseluruh
sel-sel otot kedua atrium melalui sistem konduksi jantung. Setelah semua
sel-sel otot atrium didepolarisasi, impuls diteruskan untuk mendepolarisasi
sel-sel otot ventrikel oleh sistem konduksi jantung melalui AV node,
bundle his, sampai furkinje fiber. Istilah aksis jantung otot atrium yang
ditentukan dengan melihat gelombang P, dan ada aksis jantung otot
ventrikel yang ditentukan dengan melihat gelombang atau komplek QRS.
Karena otot atrium komposisinya lebih kecil dari otot ventrikel, maka
untuk mengevaluasi aksis jantung otot atrium kadang diabaikan. Jadi untuk
menentukan aksis jantung, cukup dengan menentukan aksis jantung otot
ventrikel dengan melihat komplek QRS.
Saya akan memberikan perumpamaan untuk menjelaskan aksis
jantung. A adalah SA node, B,C,D adalah otot atrium jantung yang harus
di depolarisasi oleh A ( SA node). Impuls yang dikeluarkan oleh SA node
akan menyebar keseluruh tubuh dimana elektroda EKG yang kita
tempatkan diseluruh permukaan tubuh akan merekam aktivitas
bioelektrikal yang dikeluarkan oleh SA node. Misalkan jarak antara A
dengan B = 1 meter, A dengan C = 3 meter, A dengan C = 2 meter. Jadi
rata rata jarak atau waktu yang di butuhkan A untuk mendepolarisasi BCD
kemungkinan besar rata-rata akan mengarah ke C karena mempunyai jarak
dan waktu lebih dibanding dengan BD.
Begitupun dengan otot ventrikel, impuls akan disebarkan
keseluruh otot ventrikel dan seluruh tubuh yang nantinya akan terekam
oleh elektroda EKG yang kita tempatkan di permukaan tubuh. Bagi
elektroda yang menghasilkan hasil rekaman dengan amplitudo yang paling
tinggi, menandakan aksis jantung mengarah ke elektrode tersebut.
Normalnya aksis jantung mengarah dari arah tangan kanan ke arah kaki
kiri kira-kira 30-60 derajat karena otot ventrikel kiri lebih tebal
dibandingkan otot jantung lainya. Adapun normal axis jantung antara -30
derajat s/d +110 derajat dibawah usia 40 thn, -30 derajat s/d +90 derajat
diatas 40 thn

10
Gambar 2.1.3.1 Computing the Axis

Gambar 2.1.3.2

Apabila aksis jantung antara-30 s/d -90 derajat dinamakan left axis deviation
(LAD), apabila +110 derajat s/d +180 derajat dinamakan Right axis deviation
(RAD), apabila aksis jantung antara +180 derajat s/d +270 derajat atau -90
derajat s/d -180 derajat dinamakan extrem axis

Gambar 2.1.3.2 The Precordial Leads

Apabila terjadi kelainan atau penyakit pada SA node, maka
pacemaker utama kedua yaitu AV node akan mengambil alih fungsi utama
sebagai generator atau pembangkit impuls menggantikan SA node dengan
impuls yang di keluarkan antara 40-60x/menit. Walaupun secara keseluruhan
hemodinamik relatif normal akan tetapi keadaan seperti ini harus cepat

11
diidentifikasi penyebab gagalnya SA node sebagi generator utama. Karena
impuls dikeluarkan oleh AV node, maka sel-sel otot atrium akan
didepolarisasi secara retrograf sehingga akan nampak jelas sekali perbedaan
pada gambaran EKG khususnya gelombang P.

Cara menghitung atau menentukan aksis jantung :
Ada beberapa cara di bawah ini dalam menentukan aksis jantung,
ada juga yang mengatakan kalau aksis jantung juga bisa di tentukan melalui
bidang horizontal. menghitung melalui bidang frontal yaitu dengan
menggunakan lead I, II, III, aVR, aVF, aVL seperti penjelasan saya sebagai
berikut :
1. Anda lihat lead I dan aVF ---> kalau kedua lead ini dominan
menggambarkan positip defleksi, anda jangan ragu untuk mengatakan
normal aksis karena masih dalam daerah normal aksis.
2. Kalau anda menemukan salah satu dari lead I atau aVF negatif, maka
gunakan cara ini.Misalkan lead aVF defleksi pasitip 5 mm (5 kotak
kecil= 1 kotak besar))dan defleksi negatif10 mm( 10 kotak kecil) jadi
di lead aVF dominasinya defleksi negatif ---> (-10mm )- (+5 mm) =
-5mm, sedangkan di lead I misalkan defleksi positip 11mm (11 kotak
kecil) dan defleksi negatif 2 mm (2 kotak kecil). Jadi di lead I
dominasinya defleksi positip ---> (+11mm) - (-2mm) = + 9mm. Anda
tinggal hitung 5mm kearah negatif lead aVF, dan 9 mm kearah positip
lead I. Setelah itu tentukan titik pertemuan kedua lead tersebut,
kemudian hubungkan titik pertemuan itu dengan titik pusat.
3. Cari lead yang bifasik atau yang mendekati bifasik defleksi (50:50)
baik kearah positif maupun ke arah negatif defleksi. Misalkan anda
menemukan lead yang bifasik berada di lead aVF, selanjutnya anda
cari lead yang tegak lurus dengan lead aVF (yaitu lead I). Perhatikan
lead I, ke arah mana defleksinya? (negatif atau positip) bila lead I
defleksinya dominan positip, maka aksisnya ke arah positip lead I
(yaitu O derajat or normal aksis), bila sebaliknya lead I dominan
negatif, maka aksisnya ke arah negatif lead I ( yaitu -180 derajat or
RAD).

12
2.2 Simulator EKG

Gambar 2.2.1 Ekg Phantom

Untuk simulasi jantung buatan. Alat ini digunakan untuk kalibrasi ECG,
karena dengan phantom ECG, kita dapat mengatur pola waveform ECG yang
kita inginkan.

12 leads I,II,III,avR,avL,avF,V1,V2,V3,V4,V5,V6

Waveforms 8 sinus rhythms (normal QRS)
30,45,60,75,90,120,150,180 BPM
7 supraventricular arrhythmia

13
9 ventricular arrhythmia
3 pacemaker
2 ST segments (elevation, depression)
Each with horizontal, ascending and descending ST wave
Bradycardia
Tachycardia
ECG with artefacts
ECG with interference 50/60 Hz

2.3 Delphi

Pengertian Delphi Delphi adalah suatu bahasa pemograman (development
language) yang digunakan untk merancang suatu aplikasi program.
a. Kegunaan Delphi
1. untuk membuat aplikasi windows
2. Untuk merancang aplikasi program berbasis grafis
3. Untuk membuat program berbasis jaringan (client/server)
4. Untuk merancang program .Net (berbasis internet)
b. Keunggulan Delphi
1. IDE (Integrated Development Environment) atau lingkungan
pengembangan aplikasi sendiri adalah satu dari beberapa keunggulan
delphi, didalamnya terdapat menu – menu yang memudahkan kita untuk
membuat suatu proyek program.
2. Proses Kompilasi cepat, pada saat aplikasi yang kita buat dijalankan
pada Delphi, maka secara otomatis akan dibaca sebagai sebuah program,
tanpa dijalankan terpisah.
3. Mudah digunakan, source kode delphi yang merupakan turunan dari
pascal, sehingga tidak diperlukan suatu penyesuain lagi.
4. Bersifat multi purphase, artinya bahasa pemograman Delphi dapat
digunakan untuk mengembangkan berbagai keperluan pengembangan
aplikasi.
c. Sejarah Borland Delphi

14
1. Delphi versi 1 (berjalan pada windows 3.1 atau windows 16 bit)
2. Delphi versi 2 (Berjalan pada windows 95 atau delphi 32 bit)
3. Delphi versi 3 (berjalan pada windows 95 keatas dengan tambahan fitur
internet atua web)
4. Perkembangan selanjutnya diikuti dengan Delphi versi 4, 5 dan 6.
5. Versi terkini dari delphi adalahversi 7 dengan tambahan vitur .net dengan
tambahan file XML

Gambar 2.3.1 Jendela Utama Delphi

15
BAB III
KERANGKA KONSEP

3.1 Blok Diagram

Instrument Switching Filter
Amplifier Analog

Simulator Ecg

Personal Sinyal
Computer RS 232 Conditioning Dan
Adc

Axis Sinyal Grafik Microcontroler
Jantung Ecg

Cara Kerja Blok Diagram :

16
• Sinyal yang dihasilkan dari simulator ECG yang hanye berorde mv
dikuatkan oleh instrument ampilfer, rangkaian penguat intrumentasi
tersebut mampu menguatkan sinyal tanpa mengubah sifat sinyal asli,
kemudian sinyal ecg tersebut diswitching anatara lead 1 dan afv.
• Sinyal Ekg dirancang untuk keperluan klinis sehingga
penapisan/pemfilteran dilakukan pada frekuensi dibawah 0,5 hz dan
diatas 100 hz, penapisan / pemfilteran juga dilakukan pada frekuensi
50 hz (sinyal gangguan yang berasal dari jala-jala listrik
• Agar sinyal analog yang telah diproses dapat diolah pada
microcontroller sinyal tersebut diubah terlebih dahulu dalam bentuk
digital dengan menggunakan rangkaian ADC
• Microcontroler berfungsi sebagai pengendali utama yang mengatur
kerja ADC, menyimpan data sementara pada RAM exsternal, dan
melakukan komunikasi dengan PC, untuk mendapatkan nilai konversi
digital pada ADC,microcontroller terlebih dahulu mengirim sinyal
control, kemudian data ADC dapat diambil.Data ADC kemudian
disimpan untuk sementara di RAM eksternal dan kemudian dikirimkan
ke computer lewat komunikasi data RS232
• Data yang dikirim diPC kemudian diolah oleh perangkat lunak yang
akan meampilkan sinyal berupa grafik dank an diperoleh perhitungan
axis jantung

17
BAB IV
METODOLOGI PENELITIAN

4.1 Metedologi Penelitaian
Untuk mencapai tujuan yang direncanakan, maka perlu dilakukan
suatu langkah-langkah dalam menyelesaikan tugas akhir ini. Langkah-
langkah pengerjaaan yang kami lakukan adalah sebagai berikut :
a) Pengumpulan data-data
Mengumpulkan data-data yang dibutuhkan pada proses tugas akhir
ini, misalnya cara jantung baik yang normal maupun yang tidak
normal, teruatama berkenaan dengan aksis jantung. Data-data
tentang komponen hardware juga software.
b) Pengolahan data
Data diperoleh secara langsung dari pasien melalui sandapan-
sandapan pada ECG, kemudian sinyal ouput dari simulator ECG
masuk pada sinyal conditioning dan ADC untuk diubah dari
tegangan analog menjadi data digital. Setelah itu ditampilkan pada
layer monitor. Pada layer monitor itulah kita mencari nilai-nilai
QRS pada sandapan yang dibutuhkan untuk kemudian dilakukan
penghitungan nilai resultan dan hasil akhirnya adalah arah/ nilai
aksis jantung.
c) Analisa hasil pengujian
Hasil pengujian yang sudah dilakukan dikonfirmasikan dengan
para medis yang bersangkutan untuk dilakukan analisa.
d) Penyusunan laporan

4.2 Jenis Penelitian

18
Penelitian dan pembuatan modul ini menggunakan jenis penelitian
eksperimental yang observasinya dilakukan terhadap objek dalam
keadaan apa adanya tanpa manipulasi dari penelitian, yaitu membuat
alat “ANALISA PENENTUAN AKSIS JANTUNG SINYAL ECG
DENGAN PROGRAM DELPHI ”

4.3 Waktu dan Tempat

Tempat pelaksanaan pembuatan modul direncanakan di lingkungan
kampus Jurusan Teknik Elektromedik POLTEKKES Surabaya serta
mengkondisikan kepentingan yang ada. Waktu pelaksanaan direncanakan
mulai bulan April 2010 hingga batas waktu yang ditentukan

4.4 Jadwal Kerja

Bulan ke
No Kegiatan
I II III IV V
1 Studi Literatur
2 Pengumpulan Data – data
3 Analisa data pengukuran
4 Pembuatan software
5 Penyusunan Laporan

19
LEMBAR PENGESAHAN

Nama : Adhitya Setiawan

NIM : P27 838 109 001

Pembimbing Akademik : …………………………………….

Judul Proposal : ANALISA PENENTUAN AKSIS

JANTUNG SINYAL ECG DENGAN
PROGRAM DELPHI

Penyusun Proposal

Adhitya Setiawan
NIM. P27 838 109 001

Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II

Dr.Ir.H.Bambang G.I.AIM,MM Syaifudin .ST
Nip.19580109 198010 1 001 19740801 200112 1 002

Dosen Penguji I

TRIBOWO INDARTO.MT
Nip.19581118 198810 1 001
20
KATA PENGANTAR

Puji Syukur Kepada Tuhan Yesus Kristus yang telah memberikan
karuniaNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan proposal tugas akhir ini.
Dalam proposal ini penulis merencanakan pembuatan “ANALISA

PENENTUAN AKSIS JANTUNG SINYAL ECG DENGAN
PROGRAM DELPHI ” sebagai tugas akhir Diploma IV Politeknik
Kesehatan Surabaya Jurusan Teknik Elektromedik.
Penulis berusaha menyusun proposal tugas akhir ini sebaik mungkin,

namun penulis menyadari sepenuhnya bahwa proposal ini masih banyak

kekurangan. Untuk itu, besar harapan penulis untuk saran dan kritik dari

pembaca demi kesempurnaan modul ini. Semoga proposal ini dapat

bermanfaat begi semua orang khususnya keluarga POLTEKKES

SURABAYA Jurusan Teknik Elektromedik.

Tugas Akhir ini disussun untuk memenuhi sebagian persyaratan dalam

menyelesaikan pendidikan gelar diploma IV Politeknik Kesehatan Surabaya

Jurusan Teknik Elektromedik., Tugas akhir ini dirancang berdasarkan teori

dan pratikum yang diperoleh selama masa kuliah dan literature penunjangnya

Penelis berharap kiranya Tugas akhir ini dapat memberikan manfaat

yang positif bagi ilmu pengetahuan dan tehnologi.

Surabaya, 27 Januari 2010

21
Penulis

22