You are on page 1of 12

Ketika Rosululloh saw telah berhijrah ke Madinah dan saat berjihad telah diperbolehkan, dan Nabi saw berhak

mendapat seperlima dari setiap harta


rampasan perang (ghonimah) sebagaimana firman Alloh swt :


" Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh, sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seper-lima untuk Allah, Rasul, kerabat
Rasul, anakanak yatim, orang-orang miskin dan Ibnussabil, jika kamu beriman kepada Allah, dan kepada apa yang Kami turunkan, kepada hamba Kami (Muhammad)
di hari Furqaan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah Maha Penguasa segala sesuatu."(QS.8:41).
Meski demikian, Nabi saw hidup bersahaja beliau membagi-bagikan harta yang menjadi haknya kepada umat islam, beliau tidur hanya beralaskan tikar
yang meninggalkan bekas ditubuh jika ditiduri. Suatu ketika,Umar ibn Khathab ra, mengunjungi Nabi saw kala itu beliau sedang menyendiri di ruang
penyimpanan air. Umar ra, menyaksikan beliau saw tengah duduk di atas dan tampak galur-galur bekas tikar dikedua sisi tangan Nabi saw.
Setelah itu ia mengawasi seluruh ruangan itu ,ia hanya menemukan segengam gandum dan sebiji kurma. Lalu ia bertanya, bukankah Alloh swt, telah
memudahkanmu ya Rosululloh mengapa engkau tidak membeli sesuatu yang bisa engkau makan? Mendengar itu, beliau Rosululloh saw bersabda, "
Hiduplah di dunia seolah-olah engkau seorang pendatang atau musafir."
Mari bersama-sama kita merenung betapa Rosululloh saw, yang seorang Nabi dan seorang kholifah,dapat hidup begitu bersahaja, mari setelah kita
membaca diatas bersama-sama kita berniat sedikit untuk merubah cara hidup kita yang gemar berfoya-foya menjadi sedikit bersahaja, insyaalloh kita
bisa. Aamiin

Secara bahasa, iffah adalah menahan. Adapun secara istilah; menahan diri sepenuhnya dari
perkara-perkara yang Allah haramkan. Dengan demikian, seorang yang afif adalah orang yang
bersabar dari perkara-perkara yang diharamkan walaupun jiwanya cenderung kepada perkara
tersebut dan menginginkannya.
Firman Allah swt:

Dan orang-orang yang belum mampu untuk menikah hendaklah menjaga kesucian dirinya
sampai Allah menjadikan mereka mampu dengan karunia-Nya. (An-Nur: 33).

Orang yang tidak tahu menyangka mereka (orang-orang fakir) itu adalah orang-orang yang
berkecukupan karena mereka taaffuf (menahan diri dari meminta-minta kepada manusia). (AlBaqarah: 273).



Apa yang ada padaku dari kebaikan (harta) tidak ada yang aku simpan dari kalian.
Sesungguhnya siapa yang menahan diri dari meminta-minta maka Allah akan memelihara dan
menjaganya, dan siapa yang menyabarkan dirinya dari meminta-minta maka Allah akan
menjadikannya sabar. Dan siapa yang merasa cukup dengan Allah dari meminta kepada selainNya maka Allah akan memberikan kecukupan padanya. Tidaklah kalian diberi suatu pemberian
yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran. (HR. Al-Bukhari no. 1469 , 6470 dan
Muslim no. 1053 , 2421) (Lihat: Al-Jami li Ahkamil Quran, Al-Imam Al-Qurthubi, 3/221.
Makarimul Akhlaq, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, hal. 149, 152. Fathul Bari, 11/309, 311.
Al-Iffah Madhahiruha wa Tsamaruha, hal. 4).
Al-Allamah Asy-Syaikh Abdurrahman ibnu Nashir as-Sadi rahimahullah mengatakan:
Hadits yang agung ini terdiri dari empat kalimat yang singkat, namun memuat banyak
faedah lagi manfaat.

Pertama: Ucapan Nabi shallallahu alaihi wasallam:


Siapa yang menjaga kehormatan dirinyadengan tidak meminta kepada manusia dan berambisi
untuk beroleh apa yang ada di tangan merekaAllah taala akan menganugerahkan kepadanya
iffah.
Kedua: Ucapan Nabi shallallahu alaihi wasallam:


Siapa yang merasa cukup, Allah taala akan mencukupinya (sehingga jiwanya kaya/merasa
cukup dan dibukakan untuknya pintu-pintu rezeki).
Dua kalimat di atas saling terkait satu sama lain, karena kesempurnaan seorang hamba ada pada
keikhlasannya kepada Allah taala, dalam keadaan takut dan berharap serta bergantung kepadaNya saja. Adapun kepada makhluk, tidak sama sekali. Oleh karena itu, seorang hamba
sepantasnya berupaya mewujudkan kesempurnaan ini dan mengamalkan segala sebab yang
mengantarkannya kepadanya, sehingga ia benar-benar menjadi hamba Allah taala semata,
merdeka dari perbudakan makhluk.
Usaha yang bisa dia tempuh adalah memaksa jiwanya melakukan dua hal berikut:
1. Memalingkan jiwanya dari ketergantungan kepada makhluk dengan menjaga kehormatan diri
sehingga tidak berharap mendapatkan apa yang ada di tangan mereka, hingga ia tidak meminta
kepada makhluk, baik secara lisan (lisanul maqal) maupun keadaan (lisanul hal).
Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda kepada Umar radhiyallahu
anhu:


,


Harta yang mendatangimu dalam keadaan engkau tidak berambisi terhadapnya dan tidak pula
memintanya, ambillah. Adapun yang tidak datang kepadamu, janganlah engkau/menggantungkan
jiwamu kepadanya. (HR. Al-Bukhari no. 1473 dan Muslim no. 2402)
Memutus ambisi hati dan meminta dengan lisan untuk menjaga kehormatan diri serta
menghindar dari berutang budi kepada makhluk serta memutus ketergantungan hati kepada
mereka, merupakan sebab yang kuat untuk mencapai iffah.
2. Penyempurna perkara di atas adalah memaksa jiwa untuk melakukan hal kedua, yaitu merasa
cukup dengan Allah taala, percaya dengan pencukupan-Nya. Siapa yang bertawakal kepada
Allah taala, pasti Allah taala akan mencukupinya. Inilah yang menjadi tujuan.

Yang pertama merupakan perantara kepada yang kedua ini, karena orang yang ingin menjaga diri
untuk tidak berambisi terhadap yang dimiliki orang lain, tentu ia harus memperkuat
ketergantungan dirinya kepada Allah taala, berharap dan berambisi terhadap keutamaan Allah
taala dan kebaikan-Nya, memperbaiki persangkaannya dan percaya kepada Rabbnya. Allah
taala itu mengikuti persangkaan baik hamba-Nya. Bila hamba menyangka baik, ia akan beroleh
kebaikan. Sebaliknya, bila ia bersangka selain kebaikan, ia pun akan memperoleh apa yang
disangkanya.
Setiap hal di atas meneguhkan yang lain sehingga memperkuatnya. Semakin kuat ketergantungan
kepada Allah taala, semakin lemah ketergantungan terhadap makhluk. Demikian pula
sebaliknya.
Di antara doa yang pernah dipanjatkan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam:


Ya Allah, aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, iffah, dan kecukupan. (HR. Muslim
no. 6842 dari Ibnu Masud z)
Seluruh kebaikan terkumpul dalam doa ini. Al-huda (petunjuk) adalah ilmu yang bermanfaat,
ketakwaan adalah amal saleh dan meninggalkan seluruh yang diharamkan. Hal ini membawa
kebaikan agama.
Penyempurnanya adalah baik dan tenangnya hati, dengan tidak berharap kepada makhluk dan
merasa cukup dengan Allah taala. Orang yang merasa cukup dengan Allah taala, dialah orang
kaya yang sebenarnya, walaupun sedikit hartanya. Orang kaya bukanlah orang yang banyak
hartanya. Akan tetapi, orang kaya yang hakiki adalah orang yang kaya hatinya.
Dengan iffah dan kekayaan hati sempurnalah kehidupan yang baik bagi seorang hamba. Dia
akan merasakan kenikmatan duniawi dan qanaah/merasa cukup dengan apa yang Allah taala
berikan kepadanya.
Ketiga: Ucapan Nabi shallallahu alaihi wasallam:




Siapa yang menyabarkan dirinya, Allah taala akan menjadikannya sabar.
Keempat: Bila Allah taala memberikan kesabaran kepada seorang hamba, itu merupakan
pemberian yang paling utama, paling luas, dan paling agung, karena kesabaran itu akan bisa
membantunya menghadapi berbagai masalah. Allah taala berfirman:
Mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat. (Al-Baqarah: 45)
Maknanya, dalam seluruh masalah kalian.

Sabar itu, sebagaimana seluruh akhlak yang lain, membutuhkan kesungguhan (mujahadah) dan
latihan jiwa. Karena itulah, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengatakan:

memaksa jiwanya untuk bersabar, balasannya:


Allah taala akan menjadikannya
sabar. Usaha dia akan berbuah bantuan Allah taala terhadapnya.
Sabar itu disebut pemberian terbesar, karena sifat ini berkaitan dengan seluruh masalah hamba
dan kesempurnaannya. Dalam setiap keadaan hamba membutuhkan kesabaran.
Ia membutuhkan kesabaran dalam taat kepada Allah taala sehingga bisa menegakkan ketaatan
tersebut
dan
menunaikannya.
Ia membutuhkan kesabaran untuk menjauhi maksiat kepada Allah taala sehingga ia bisa
meninggalkannya
karena
Allah
taala.
Ia membutuhkan sabar dalam menghadapi takdir Allah taala yang menyakitkan sehingga ia
tidak menyalahkan/murka terhadap takdir tersebut. Bahkan, ia pun tetap membutuhkan sabar
menghadapi nikmat-nikmat Allah taala dan hal-hal yang dicintai oleh jiwa sehingga tidak
membiarkan jiwanya bangga dan bergembira yang tercela. Ia justru menyibukkan diri dengan
bersyukur kepada Allah taala.
Demikianlah, ia membutuhkan kesabaran dalam setiap keadaan. Dengan sabar, akan diperoleh
keuntungan dan kesuksesan. Oleh karena itulah, Allah taala menyebutkan ahlul jannah
(penghuni surga) dengan firman-Nya:
Dan para malaikat masuk kepada tempat-tempat mereka dari semua pintu (sambil
mengucapkan), Keselamatan atas kalian berkat kesabaran kalian. Maka alangkah baiknya
tempat kesudahan itu. (Ar-Rad: 2324)
Demikian pula firman-Nya:
Mereka itulah yang dibalasi dengan martabat yang tinggi dalam surga karena kesabaran
mereka. (Al-Furqan: 75)
Dengan kesabaranlah mereka memperoleh surga berikut kenikmatannya dan mencapai tempattempat yang tinggi.
Seorang hamba hendaklah meminta keselamatan kepada Allah taala, agar dihindarkan dari
musibah yang ia tidak mengetahui akibatnya. Akan tetapi, bila musibah itu tetap
menghampirinya, tugasnya adalah bersabar. Kesabaran merupakan hal yang diperintahkan dan
Allah taala-lah yang menolong hamba-Nya.
Allah taala menjanjikan dalam kitab-Nya dan melalui lisan Rasul-Nya bahwa orang-orang yang
bersabar
akan
beroleh
ganjaran
yang
tinggi
lagi
mulia.
Allah taala berjanji akan menolong mereka dalam semua urusan, menyertai mereka dengan
penjagaan, taufik dan pelurusan-Nya, mencintai dan mengokohkan hati serta telapak kaki
mereka.

Allah taala akan memberikan ketenangan dan ketenteraman, memudahkan mereka melakukan
banyak ketaatan.
Dia
juga
akan
menjaga
mereka
dari
penyelisihan.
Dia memberikan keutamaan kepada mereka dengan shalawat, rahmat, dan hidayah ketika
tertimpa
musibah.
Dia mengangkat mereka kepada tempat-tempat yang paling tinggi di dunia dan akhirat.
Dia berjanji menolong mereka, memudahkan menempuh jalan yang mudah, dan menjauhkan
mereka
dari
kesulitan.
Dia menjanjikan mereka memperoleh kebahagiaan, keberuntungan, dan kesuksesan.
Dia
juga
akan
memberi
mereka
pahala
tanpa
hitungan.
Dia akan mengganti apa yang luput dari mereka di dunia dengan ganti yang lebih banyak dan
lebih baik daripada hal-hal yang mereka cintai yang telah diambil dari mereka.
Allah taala pun akan mengganti hal-hal tidak menyenangkan yang menimpa mereka dengan
ganti yang segera, banyaknya berlipat-lipat daripada musibah yang menimpa mereka.
Sabar itu pada mulanya sulit dan berat, namun pada akhirnya mudah lagi terpuji akibatnya. Ini
sebagaimana dikatakan dalam bait syair berikut.


Sabar
itu
seperti
namanya,
Akan tetapi, akibatnya lebih manis daripada madu.

pahit

rasanya

(Bahjatu Qulubil Abrar wa Qurratu Uyunil Akhyar fi Syarhi Jawamiil Akhbar, hadits ke-33,
hlm. 9l93)
Bila seorang muslim dituntut untuk memiliki iffah maka demikian pula seorang muslimah.
Hendaknya ia memiliki iffah sehingga ia menjadi seorang wanita yang afifah, karena akhlak
yang satu ini merupakan akhlak yang tinggi, mulia dan dicintai oleh Allah Subhanahu wa Taala.
Bahkan akhlak ini merupakan sifat hamba-hamba Allah yang shalih, yang senantiasa
menghadirkan keagungan Allah dan takut akan murka dan azab-Nya. Ia juga menjadi sifat bagi
orang-orang yang selalu mencari keridhaan dan pahala-Nya.
Berkaitan dengan iffah ini, maka ada beberapa hal yang harus diperhatikan dan dilakukan oleh
seorang muslimah untuk menjaga kehormatan diri, di antaranya:
1. Menundukkan pandangan mata ( ghadhul bashar) dan menjaga kemaluannya. Allah
Subhanahu wa Taala berfirman:





Katakanlah kepada wanita-wanita mukminah: Hendaklah mereka menundukkan pandangan
mata mereka dan menjaga kemaluan mereka (An-Nur: 31)
Asy-Syaikh Muhammad Amin Asy-Syinqithi rahimahullah berkata: Allah Jalla wa Ala
memerintahkan kaum mukminin dan mukminat untuk menundukkan pandangan mata mereka
dan menjaga kemaluan mereka. Termasuk menjaga kemaluan adalah menjaganya dari perbuatan
zina, liwath (homoseksual) dan lesbian, dan juga menjaganya dengan tidak menampakkan dan
menyingkapnya di hadapan manusia. (Adhwa-ul Bayan, 6/186)
2. Tidak bepergian jauh ( safar) sendirian tanpa didampingi mahramnya yang akan
menjaga dan melindunginya dari gangguan. Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam
bersabda:


Tidak boleh seorang wanita safar kecuali didampingi mahramnya. (HR. Al-Bukhari no. 1862
dan Muslim no. 1341)
3. Tidak berjabat tangan dengan lelaki yang bukan mahramnya. Karena bersentuhan dengan
lawan jenis akan membangkitkan gejolak di dalam jiwa yang akan membuat hati itu condong
kepada perbuatan keji dan hina.
Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullah berkata: Secara mutlak tidak boleh
berjabat tangan dengan wanita yang bukan mahram, sama saja apakah wanita itu masih muda
ataupun sudah tua. Dan sama saja apakah lelaki yang berjabat tangan denganya itu masih muda
atau kakek tua. Karena berjabat tangan seperti ini akan menimbulkan fitnah bagi kedua pihak.
Aisyah radhiallahu anhu berkata tentang teladan kita (Rasulullah Shallallahu alaihi wa
sallam):




Tangan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam tidak pernah menyentuh tangan wanita, kecuali
tangan wanita yang dimilikinya (istri atau budak beliau). (HR. Al-Bukhari, no. 7214)
Tidak ada perbedaan antara jabat tangan yang dilakukan dengan memakai alas/ penghalang
(dengan memakai kaos tangan atau kain misalnya) ataupun tanpa penghalang. Karena dalil
dalam masalah ini sifatnya umum dan semua ini dalam rangka menutup jalan yang
mengantarkan kepada fitnah. (Majmu Al-Fatawa, 1/185)
4. Tidak khalwat ( berduaan) dengan lelaki yang bukan mahram. Rasulullah Shallallahu
alaihi wa sallam telah memperingatkan dalam titahnya yang agung:


Tidak boleh sama sekali seorang lelaki bersepi-sepi dengan seorang wanita kecuali bila bersama
wanita itu ada mahramnya. (HR. Al-Bukhari no. 5233 dan Muslim no. 1341)
5. Menjauh dari hal-hal yang dapat mengundang fitnah seperti mendengarkan musik,
nyanyian, menonton film, gambar yang mengumbar aurat dan semisalnya.
Seorang muslimah yang cerdas adalah yang bisa memahami akibat yang ditimbulkan dari suatu
perkara dan memahami cara-cara yang ditempuh orang-orang bodoh untuk menyesatkan dan
meyimpangkannya. Sehingga ia akan menjauhkan diri dari membeli majalah-majalah yang rusak
dan tak berfaedah, dan ia tidak akan membuang hartanya untuk merobek kehormatan dirinya dan
menghilangkan iffah-nya. Karena kehormatannya adalah sesuatu yang sangat mahal dan iffahnya adalah sesuatu yang sangat berharga. (Lihat: Lin Nisa-i Faqath, Asy-Syaikh Abdullah bin
Jarullah Alu Jarillah, hal. 60-75. Al-Iffah, hal. 8-10)
Memang usaha yang dilakukan untuk sebuah iffah bukanlah usaha yang ringan. Butuh perlu
perjuangan jiwa yang sungguh-sungguh dengan meminta tolong kepada Allah Subhanahu wa
Taala. Allah Subhanahu wa Taala telah menyatakan:


Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk mencari keridhaan Kami, benar-benar akan
Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta
orang-orang yang berbuat baik. (Al-Ankabut: 69).

sumber: http://muhammadqosim.wordpress.com/2010/08/03/iffah-sebuah-kehormatan-diri/

`B 9yz )s

Dan tatkala ia (Musa) sampai di sumber air negeri Madyan ia menjumpai di sana
sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternaknya), dan ia men- jumpai di belakang

orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya). Musa berkata:
Apakah maksudmu (dengan berbuat at begitu)? kedua wanita itu menjawab: Kami tidak
dapat meminumkan (ternak kami), sebelum pengembala-pengembala itu memulangkan
(ternaknya), sedang bapak Kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya. Maka Musa
memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya. (al-Qoshosh [28]: 23-24)
Ayat yang mulia ini menjelaskan bagaimana seharusnya kaum wanita berakhlak dan
bersifat malu. Allah menyifati (wanita) yang mulia ini dengan cara jalannya yang penuh dengan
rasa malu dan terhormat. Amirul Muminin Umar bin Khathab r.a berkata: wanita itu datang
menemui Musa dengan pakaian yang tertutup rapat. (Tafsir Ibnu Katsir: 3/360)
4. Tegar dengan memakai jilbab syari
Memakai jilbab syari juga termasuk sebab terbesar dalam merealisasikan kesucian dan
kehormatan diri. Ini merupakan kewajiban yang Allah perintahkan atas seluruh wanita muslimah.
Tidak ada alasan bagi mereka untuk menolak atau meragukan hukumnya. Allah
:berfirman

pkr't <Z9$# @% y7_urX{ y7?$uZt/ur !$


$|Sur

tZBsJ9$#

`kn=t

`B

`g66n=y_ 4 y79s #oTr& br& z`t xs


tss 3 c%x.ur !$# #Yqx $VJm

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang
mukmin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian
itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Alloh
adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. al-Ahzab [33]: 59)

Betapa tegas dan jelas ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa jilbab merupakan
perintah dan syariat Allah Taala kepada segenap wanita muslimah, bukan hanya kepada

sebagian kalangan saja. Tetapi berbagai alasan mereka mengatakan bahwa jilbab muslimah
hanyalah tradisi wanita Arab karena mereka tinggal di daerah panas.
Apabila setiap wanita telah menyadari bahwa jilbab merupakan perintah agama bukan
hanya sekadar mode semata, maka ia wajib memakai jilbab yang memenuhi persyaratanpersyaratan sehingga terwujudlah manfaat jilbab sebagai sarana menjaga kesucian diri.
5. Pilih teman yang shalih
Kita semua menyadari, bahwa manusia tidak bisa hidup melainkan harus berteman dan
bersosialisasi. Demikian pula wanita muslimah, punya teman dan handai tolan yang sehari-hari
berinteraksi dan bergaul dengannya. Namun, hendaknya wanita muslimah bersikap selektif
dalam memilih teman bergaulnya. Hendaklah kita memilih teman yang bisa membantu dalam
kebaikan dan ketaatan kepada Allah, teman-teman yang selalu menjaga kesucian dirinya, karena
teman punya pengaruh yang sangat kuat dalam membentuk kepribadian seseorang.
Ini merupakan perintah Allah kepada wanita-wanita Mukminah,karena kecemburuan-Nya
terhadap suami-suami mereka, para hamba-Nya yang beriman,dan untuk membedakan mereka
dengan sifat wanita jahiliyyah dan wanita musyrikah. Sebab turunnya ayat ini seperti yang
disebutkan oleh Muqattil bin Hayyan,bahwa ia brkata:telah sampai kepada kami riwayat dari
Jabir bin Abdillah al-Anshari, ia menceritakan bahwa Asma binti Martsad berada ditempatnya
dikampung bani Haritsah. Para wanita masuk menemuinya tanpa mengenakan kain sehingga
tampaklah gelang pada kaki-kaki mereka dan tampak juga dada dan jalinan rambut mereka.
Asma berkata :Sungguh jelek kebiasaan seperti ini.Lalu turunlah Firman AllahKatakanlah
kepada wanita yang beriman :hendaklah mereka menahan pandangan mereka,yakni dari
perkara haram yang mereka lihat, diantaranya melihat kepada laki-laki selain suami mereka.
Oleh sebab itu sebagian besar ulama berpendapat, wanita tidak boleh melihat kepada
laki-laki yang bukan mahram, baik disertai dengan syahwat atau tanpa syahwat. Sebagian besar
ulama berdalil dengan sebuah haidts yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan at-Tirmidzi, dari
jalur az-Zuhri, dari Nabhan,maula Ummu Salamah, ia bercerita kepadanya bahwa pada suatu
hari ia dan Maimunah bersama Rasulullah, ia berkata : Ketika kami berd di sisi beliau,tiba-tiba
datanglah Ibnu Ummi Maktum dan mauk menemui beliau.peristiwa itu terjadi setelah turunnya
perintah berhijab. Rasulullah berkata Berhijablah darinya Aku berkata Wahi Rasulullah,
bukankah ia seorang buta yang tidak bias melihat kamidan tidak mengeneli kami?Maka

RAsulullah berkata:Apakah kalian berdua juga buta?bukankahkalian berdua melihatnya?AtTirmidzi berkata Hadits ini hassan shahih
Sebagian ulama lainnya berpendapat:Kaum wanita boleh melihat laki-laki bukan
mahram asalkan tanpa disertai syahwat. Seperti yang diriwayatkan dalam kitab as-SHahih,bahwa
Rasulullah menyaksikan kaum Habasyah yang sedang ber,aim tombak pada hari Ied did lam
masjid, sementara Aisyah Ummul Mukminin juga menyaksikan mereka dari belakang beliau,
beliau menutupinya dari mereka hingga Aisyah jemu dan pulang.
Firman Allah : Dan memelihara kemaluan mereka,Said bin Jubair
berkata:Yakni dari perbuatan keji (zina).
Sifat Iffah Rasulullah
Sungguh keadaan Nabi SAW menjadi contoh bagi seluruh umat manusia dalam sifat
kebersihan jiwa, tangan dan lisannya. Rasullullah telah sampai kepada derajat iffah yang paling
tinggi dalam segala macam iffah beliau adalah seorang teladan dalam segala sifat yang utama
seperti sifat adil, amanah, qonaah serta pemberani.
Sifat iffah Rasulullah yaitu menjaga diri dari perbuatan keji karena Allah telah memelihara
beliau dari dosa sejak kecil dari hal yang buruk yang belum beliau lakukan. Beliau belum pernah
menginginkan hal yang buruk, beliau tidak pernah menyentuh perempuan kecuali istri, mahram
atau perempuan budak yang beliau miliki.
Rasulullah telah menguatkan aturan untuk berlaku iffah dan mengajak supaya menundukan
pandangan dan tidak duduk di pinggir-pinggir jalan, yang mungkin perempuan lewat karena
yang demikian itu membuat para wanita malu bila dipandang oleh orang-orang yang duduk di
tepi jalan, tanpa disengaja nampak aurat mereka, tetapi kalau mereka terpaksa duduk di tepi jalan
maka wajib atas mereka berlaku iffah sopan santun dan menahan pandangan kepada orang yang
lewat khususnya wanita. Rasulullah bersabda : Janganlah kalian duduk di tepi-tepi jalan, dan
jika kalian tidak biasa meninggalkannya maka. Tundukanlah pandangan, jawablah oleh kalian
salam dan tunjukkanlah orang yang tersesat, dan tolonglah orang yang lemah. Telah datang
petunjuk Rasulullah untuk menyampaikan apa-apa yang diperintahkan Allah kepadanya dengan
mengkhususkan pandangan kepada mahram sebagaimana dalam firmannya Q.S An-Nur : 30-31.
30. "Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan
pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih Suci bagi mereka,
Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat".

31. Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya,
dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa)
nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung kedadanya, dan
janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau
ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau
Saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau puteraputera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak- budak yang mereka
miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau
anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. dan janganlah mereka memukulkan
kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan dan bertaubatlah kamu sekalian
kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung"(An Nur :30-31)
Yang dimaksud dalam ayat diatas yaitu perhiasan yang dipakai perempuan, apa-apa yang
nampak seperti baju untuk keluar. Apabila pakaiannya tidak nampak maka diperbolehkan untuk
memakainya didepan orang banyak. Dan apa yang tersembunyi seperti gelang, gelang kaki,
kalung maka tidak diperbolehkan didepan orang yang telah disebutkan tanpa terkecuali bagi
orang yang baligh dalam hal berdandan atau berhias diri yang bisa memikat lawan jenis. Karena
perhiasan ini dipakai dibagian tubuh kepada selain orang yang telah ditentukan, seperti leher,
tangan, kepala, dada, dan telinga.
Anjuran bersifat 'iffah
Rasulullah SAW menganjurkan manusia untuk menjaga kehormatan dirinya agar manusia
berakhlak dengan akhlaq 'iffah maka mereka akan bahagia dengan.
1. Rasulullah saw bersabda : "Tangan yang diatas lebih baik daripada tangan
dibawah"
2. Seseorang yang mencari kayu lalu memikulnya diatas punggungnya lebih baik
daripada orang yang meminta-minta kepada orang lain diberi atau tidak.
3. Rasulullah saw bersabda : "Bukanlah kaya itu banyaknya harta benda tetapi kaya
itu ialah dapat menguasai diri dari hawa nafsu"

4. Barang siapa yang meminta-minta tidak karena miskin maka dia seolah-olah
memakan bara api
5. Hendaklah kamu bersifat qonaah, karena qonaah itu harta yang tidak pernah
habis
6. Ada beberapa orang anshar meminta kepada rasulullah , maka mereka diberi
oleh rasulullah, lalu mereka memberi lagi dan mereka diberi lagi sehingga
habislah apa yang ada ditangan rasulullah lalu beliau berkata : apa yang ada
padaku tidak akan aku sembunyikan terhadapmu dan barang siapa memelihara
dari meminta-minta maka dia akan dipelihara oleh allah dan barang siapa yang
mencukupkan yang ada padanya dia akan dicukupi oleh allah dan siapa yang
berusaha agar bersabar maka allah akan menjadikannya sabar, dan tidak ada
suatu karunia bagi seseorang lebih baik serta lebih luas daripada sabar.
7. Sesungguhnya allah menyukai orang yang membersihkan diri dan minta bantuan
orang lain
8. Sesungguhnya allah menyukai orang yang pemalu, yang murah hati lagi 'afif dan
allah membenci orang yang kotor kata-katanya dan memaksa jika meminta.
9. Seorang arab datang kepada nabi dan berkata :Wahai rasulullah berilah aku
nasihat yang ringkas. Beliau berkata : bila kamu shalat maka shalatlah seperti
shalatnya orang yang akan meninggalkan (mekkah) dan janganlah kamu
membicarakan sesuatu yang pada esoknya kamu akan meminta maaf karena
pembicaraan itu dan berputus asalah kamu (jangan mengharap) apa yang ada di
tangan orang lain

Rasulullah selalu menjaga lisannya meskipun dalam keadaan berselisih dengan orang lain,
beliau belum pernah mengeluarkan kata-kata yang kotor.