You are on page 1of 49

TAHAP I

KARAKTERISTIK DEMOGRAFI KELUARGA DAN ASPEK PERSONAL


A. KARAKTERISTIK DEMOGRAFI KELUARGA
Nama Kepala Keluarga : Tn. D
Alamat Lengkap : Desa Bendungan, Kecamatan Kedawung, Sragen
Bentuk Keluarga : nuclear family
Struktur Komposisi Keluarga:
Tabel 1.1. Daftar anggota keluarga yang tinggal dalam satu rumah
N Pendidika Ket
Nama Kedudukan L/P Umur Pekerjaan
o n .

Kepala 31
1. Tn. D L SMP Wiraswasta -
keluarga tahun

24 Ibu rumah
2. Ny. D Anggota P SMP -
tahun tangga

6
3. An. F Anggota P TK Pelajar -
tahun

(Sumber : Data primer, Januari 2017)

Kesimpulan :
Keluarga Tn. D adalah nuclear family yang terdiri atas 3 orang. Pasien
tinggal satu rumah bersama istri yaitu Ny. D (24 tahun) dan anak kandungnya
yaitu An. V (6 tahun). Dalam keluarga tersebut, terdapat satu orang sakit yaitu Tn.
D, umur 31 tahun dengan diagnosis klinis Kusta. Saat ini Tn. D bekerja sebagai
wirasawasta yaitu pedagang bawang di Pasar Kedawung.

1
TAHAP II
STATUS PASIEN
A. IDENTITAS PASIEN
Nama : Tn. D
Umur : 31 tahun
Alamat : Desa Kedawung, Kecamatan Kedawung, Sragen
Jenis kelamin : Laki - Laki
Agama : Islam
Tanggal Pemeriksaan : 13 Januari 2017

B. ANAMNESIS (Autoanamnesis)
IDENTIFIKASI ASPEK PERSONAL
1. Alasan kedatangan berobat
Pasien datang ke Puskesmas Kedawung I untuk melakukan
pengobatan setelah dilakukan pemeriksaan di RSUD Sragen dan
didiagnosis oleh Dokter Spesialis Kulit Kelamin yaitu pasien menderita
Kusta tipe Multibasiler (BTA Kulit +).
2. Persepsi pasien tentang penyakit
Pasien mengerti dengan keadaan yang dialaminya. Pasien sadar
akan perlunya pengobatan terhadap penyakitnya dan membutuhkan
waktu yang lama dan kedisiplinan dalam pengobatan penyakitnya.
3. Harapan pasien
Pasien berharap penyakit kusta yang dideritanya dapat sembuh
dengan baik agar pasien dapat beraktivitas normal seperti sediakala
bersama keluarganya serta agar tidak minder dengan keadaan fisiknya.
4. Kekhawatiran pasien
Pasien merasa khawatir apabila penyakitnya tidak segera ditangani
maka akan menyebabkan kecacatan permanen.

5. Keluhan Utama : Gatal di seluruh tubuh


6. Riwayat Penyakit Sekarang
Pada bulan November 2016 pasien mengeluhkan rasa gatal pada
seluruh tubuh. Rasa gatal dirasakan terus-menerus terutama saat
berkeringat sehingga mengganggu aktivitas pasien. Pasien juga
mengeluhkan adanya dompo pada tubuh pasien. Dompo dirasa semakin

2
tebal. Selain itu pasien juga mengeluhkan panas. Panas dirasakan hilang
timbul. Pasien memiliki riwayat bekerja di Ternate sebagai tukang ojek
pada tahun 2004-2005. Menurut pasien tidak ada teman ataupun tetangga
di sana yang memiliki keluhan yang sama dengan pasien. Tetapi ada
tempat khusus orang yang memiliki penyakit kusta.
Kemudian pasien memeriksakan diri ke dokter spesialis kulit di
Tugupan, dan disarankan untuk melakukan pemeriksaan Lab di RSUD
Sragen. Setelah dilakukan pemeriksaan bakterioskopik dengan specimen
berupa hasil kerokan kulit di belakang telinga, pasien didiagnosis
menderita Kusta tipe Multibasiler (BTA Kulit +). Pasien kemudian
melakukan pengobatan awal pada bulan November 2016 di Puskesmas
Kedawung 1. Dan saat ini pasien sudah mengkonsumsi obat kusta selama
2 bulan. Pasien mengaku mengalami penurunan berat badan selama 2
bulan dari 75 kg menjadi 69 kg. Pasien mengaku lebih menjaga pola
makan. Saat ini pasien sudah tidak mengelukan gatal, nyeri, ataupun rasa
tebal.
7. Riwayat Penyakit Dahulu

a. Riwayat sakit serupa : disangkal


b. Riwayat tekanan darah tinggi : disangkal
c. Riwayat sakit gula : disangkal
d. Riwayat alergi : disangkal
e. Riwayat sakit asma : disangkal
8. Riwayat Penyakit Keluarga
a Riwayat sakit serupa : disangkal
b Riwayat tekanan darah tinggi : disangkal
c Riwayat sakit gula : disangkal
d Riwayat sakit asma : disangkal
e Riwayat alergi : disangkal
f Riwayat sakit jantung : disangkal

3
9. Riwayat Sosial Ekonomi
Pasien adalah seorang laki-laki berusia 31 tahun. Pasien tinggal
bersama istri dan seorang anaknya. Saat ini pasien bekerja sebagai
pedagang bawang. Tn. D mengambil barang dari Mojokerto kemudian
menjual di Pasar Kedawung. Sebelumnya pasien bekerja sebagai tukang
ojek pada saat di Ternate. Sedangkan istri pasien adalah ibu rumah tangga.
Saat ini, Tn. D mengandalkan penghasilan dari berdagang di pasar
dan dirasa cukup untuk memenuhi kehidupan sehari-hari. Saat ini pasien
berobat dengan dengan bantuan dari pemerintah daerah yaitu Saraswati.
Saat awal didiagnosis menderita penyakit Kusta Tn.D sedikit menutup
diri , namun setelah berkonsultasi dengan dokter dan menjalani pengobatan,
Tn. D mulai bersosialisasi kembali. Menurut pengakuan pasien, keluarga
maupun masyarakat sekitar menerima keadaan Tn. D dan membantu
mengingatkan agar selalu rutin minum obat setiap hari. Pasien juga masih
melakukan aktivitas dengan masyarakat seperti solat berjamaah di mushola
dekat rumah pasien dan pasien rutin mengikuti musyawarah RT dan RW.
10. Riwayat Nutrisi
Pasien makan 2-3 kali sehari secara rutin dengan menu yang
berbeda tiap waktunya. Pada pagi hari, pasien kerap mengkonsumsi teh
ataupun kopi hitam namun tanpa menggunakan gula. Untuk sarapan pagi
pasien sering kali makan dengan menu nasi + tempe/tahu + sayur
(sop/kangkung/bayam/asam/pare). Pasien jarang mengkonsumsi makanan
secara lengkap (4 sehat 5 sempurna) dalam satu waktu. Pada siang hari
pasien makan namun biasanya sedikit telat dari jam makan siang
dikarenakan ia masih harus bekerja di pasar. Ia mengaku kerap membeli
jajanan di pasar seperti gorengan, bakso, dll sebagai pengganjal perut.
Menu makan siang biasanya terdiri dari nasi + lauk pauk
(telur/ikan/ayam/daging sapi/kambing). Pada sore hari pasien biasanya
jarang makan besar, hanya makan cemilan seperti singkong atau ubi rebus,
serta memakan buah- buahan. Pasien mengaku tiap harinya ia selalu rutin
mengkonsumsi buah meskipun tidak selalu tersedia buah-buahan pada
setiap jam makan. Buah buahan yang biasa dikonsumsi pasien yakni

4
pisang, jeruk dan pepaya. Pasien mengaku terdapat perubahan pola makan
setelah ia menderita penyakit kusta. Ia berusaha untuk makan tepat waktu
dan mengurangi frekuensi jajan serta mengkonsumsi goreng-gorengan.
Pasien juga mengatakan telah berhenti merokok sejak 4 tahun yang lalu.

Kesan: Kuantitas dan kualitas nutrisi baik

C. ANAMNESIS SISTEM
Keluhan utama : Gatal pada seluruh tubuh

1 Kulit : Pucat (-), menebal (-), gatal (-), kuning


(-)
2 Kepala : sakit kepala (-), leher cengeng (-),
pusing berputar (-), luka (-), benjolan (-)
3 Mata : mata berkunang-kunang (-/-),
penurunan tajam penglihatan (-/-), gatal (-/-), mata
kuning (-/-), mata merah (-/-)
4 Hidung : Tersumbat (-), keluar darah (-), keluar
lendir atau air berlebihan (-), gatal (-).
5 Telinga : Telinga berdenging (-/-) pendengaran
berkurang (-/-), keluar cairan atau darah (-/-)
6 Mulut : bibir kering (-), gusi mudah berdarah
(-), sariawan (-), gigi mudah goyah (-)
7 Tenggorokan : Rasa kering dan gatal (-), nyeri
untuk menelan (-), suara serak (-)
8 Sistem respirasi : batuk (-), dahak (-), sesak nafas (-),
nyeri dada (-), mengi (-), batuk darah (-)
9 Sistem kardiovaskuler : Nyeri
dada (-), rasa tertekan (-), sering pingsan
(-), berdebar-debar (-), keringat dingin (-),
ulu hati terasa panas (-), denyut jantung
meningkat (-), bangun malam karena sesak
nafas (-)
10 Sistem gastrointestinal : Nyeri
perut kanan atas (-), perut mrongkol (-),

5
perut membesar (-), mual (-), muntah (-),
nafsu makan berkurang (-), nyeri ulu hati
(-), BAB cair(-), BAB bercampur darah
(-), BAB bercampur lendir (-) rasa penuh
di perut (-), cepat kenyang (-), sulit BAB
(-), perut nyeri setelah makan (-)
11 Sistem muskuloskeletal : kaku sendi
(-), nyeri sendi (-), bengkak sendi (-), nyeri
otot (-), kejang (-)
12 Sistem genitouria : Nyeri saat
BAK (-), panas saat BAK (-), sering buang
air kecil (-), air kencing warna seperti teh
(-), BAK darah (-), nanah (-),
anyang-anyangan (-), sering menahan
kencing (-), rasa pegal di pinggang (-), rasa
gatal pada saluran kencing (-), rasa gatal
pada alat kelamin (-)
13 Ekstremitas :
Atas : Bengkak (-/-), luka (-/-), tremor (-/-),
ujung jari terasa dingin (-/-), nyeri (-/-)
Bawah : Bengkak (-/-), luka (-/-), tremor (-/-),
ujung jari terasa dingin (-/-), nyeri (-/-)
14 Neurologi : kebas (-)
15 Riwayat Psikiatri
Keluhan utama : Pasien hari ini merasa cemas
Riwayat Penyakit Sekarang : Pasien merupakan pasien kusta sejak
November 2016. Pasien menjalani
perawatan sejak November 2016.
Riwayat Penyakit Dahulu
a. Riwayat Psikiatri : (-)
b. Riwayat Medis : (-)
c. Riwayat trauma kepala : (-)
Status Mentalis
a. Deskripsi Umum

6
Penampilan: Laki-laki sesuai umur, perawatan diri baik
Pembicaraan: Volume cukup, artikulasi jelas, intonasi jelas
Psikomotor: normoaktif
Sikap: kooperatif dengan pemeriksa
b. Kesadaran
Kuantitatif: compos mentis (GCS E4V5M6)
Kualitatif: tidak berubah
c. Alam Perasaan
Mood: euthymik
Afek: normoafek
Keserasian: serasi
Empati: dapat dirabarasakan
d. Fungsi Intelektual
Daya Konsentrasi: Baik
Orientasi O/T/W/S: Baik
Daya ingat: Baik
e. Gangguan Persepsi
Halusinasi: (-)
Ilusi: (-)
Derealisasi: (-)
Depersonalisasi: (-)
f. Proses Pikir
Bentuk: Realistis
Isi: Preokupasi penyakitnya, waham (-)
Depersonalisasi: (-)
g. Daya Nilai
Sosial: Baik
Realita: Baik
g Tilikan derajat VI

D. PEMERIKSAAN FISIK

7
1 Keadaan Umum
Tampak sakit ringan, kesadaran compos mentis (GCS E4V5M6), status
gizi kesan baik.
2 Tanda Vital
Nadi : 80 x/menit
Pernafasan : 20 x/menit
Suhu : 36,70C per axiler
3 Status Gizi
BB : 69 kg
TB : 168 cm
BMI : 24,4 kg/m2
Status gizi : normoweight
4 Kulit
Warna sawo matang, turgor baik, macula eritem berbatas tegas dengan
tepi meninggi multiple diskrit pada area wajah, thorax anterior et
posterior serta ekstremitas

5 Kepala
Bentuk mesochepal, rambut sukar dicabut, distribusi merata, berwarna
hitam,

6 Mata
Konjungtiva pucat (-/-), sklera ikterik (-/-), pupil isokor (3mm/3mm),
reflek kornea (+/+)

7 Hidung
Nafas cuping hidung (-), sekret (-), epistaksis (-), deviasi septum (-),

8 Mulut
Mukosa basah (+), bibir pucat (-), bibir kering (-), papil lidah atrofi (-),
gusi berdarah (-), gigi tanggal (-)

9 Telinga
Membran timpani intak (+), sekret (-)

8
10 Tenggorokan
Tonsil membesar (-), faring hiperemis (-), dahak (-)

11 Leher
Trakea di tengah, JVP tidak meningkat, Kelenjar Getah Bening tidak
membesar, tampak bercak putih di sekitar leher.

12 Thoraks
Normochest, simetris, pernapasan thoracoabdominal, retraksi (-), spider
nevi (-), pulsasi infrastenalis (-), sela iga melebar (-)

a Cor
1 Inspeksi
Ictus cordis tak tampak

2 Palpasi
Ictus cordis tak kuat angkat

3 Perkusi
Batas jantung kesan tidak melebar

4 Auskultasi
BJ I dan BJ II intensitas normal, regular, bising (-),

b Pulmo
1 Inspeksi : pengembangan dada kanan=dada kiri
2 Palpasi : fremitus raba kanan=kiri
3 Perkusi : sonor/sonor
4 Auskultasi : suara dasar vesikuler, suara
tambahan (-)
13 Abdomen
I: dinding perut sama tinggi dengan dinding dada, supel, NT (-)
A: bising usus (+) normal
P: timpani seluruh lapang perut
P: supel, nyeri tekan (-), hepar dan lien tak teraba

9
14 Ekstremitas
Atas : Palmar eritem (-/-), akral dingin (-/-), oedem (-/-), wasting (-/-),
CRT < 2
Bawah : Palmar eritem (-/-), akral dingin (-/-), oedem (-/-), wasting
(-/-), CRT < 2, ADP kuat, baggy pants (-/-).

15 Status Neurologis

i Fungsi Sensibilitas : (+) pada daerah bercak, (+)


pada bagian tubuh yang lain

ii Fungsi motorik :Kekuatan ekstremitas (5),


tonus otot normal, eutrofi

iii Refleks fisiologis : Biceps (+2), Triceps (+2),


Patella (+2), Achilles (+2)

iv Refleks patologis : Hoffmann-Tromer (-),


Babinski (-), Chaddok (-), Gordon (-), Oppenheim
(-), Rossolimo (-), Mendel-Bechterew (-)

E. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1 Pemeriksaan Bakterioskopik (November 2016)
Pemeriksaan bakterioskopik di RSUD dr. Soehadi Prijonegoro Sragen,
dengan hasil BTA kulit pada lesi telinga dan lesi lain (+).
2 Pemeriksaan penunjang lain yang dapat dilakukan yakni :
a. Lepromin Test
b. Uji serologis MPLA (Mycrobacterium leprae particle
agglutination)
c. Pemeriksaan Histopatologi (PA)
d. PCR
F. RESUME
Pasien merupakan penderita kusta yang telah menjalani pengobatan
secara rutin selama 2 bulan terakhir. Pasien mengaku sempat bekerja di

10
Ternate selama satu tahun (2004-2005), dimana di wilayah tersebut terdapat
perkampungan khusus yang dihuni oleh para penderita kusta. Pasien
merasakan gejala awal pada bulan November 2016 berupa gatal di seluruh
tubuh, nyeri, panas dingin, dan sensasi baal. Pasien kemudian memeriksakan
diri ke puskesmas setempat dan diberikan obat, namun karena merasa
kondisinya tidak membaik, pasien memeriksakan diri ke RS. Tugupan, dan
disarankan untuk melakukan pemeriksaan Lab di RSUD Sragen. Pasien
kemudian didiagnosis Kusta tipe Multibasiler. Saat ini pasien diharuskan
untuk melakukan kontrol secara rutin dan mengambil persediaan obat setiap
28 hari sekali di Puskesmas Kedawung I. Pasien mengkonsumsi 3 macam obat
yang diberikan oleh dokter, yakni Dapson, Rifampisin dan Lamprene.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum tampak sakit
sedang, compos mentis (GCS E4V5M6), status gizi kesan baik. Tanda vital,
tensi: 120/70 mmHg, nadi: 80 x/menit (reguler, isi cukup, simetris),
pernafasan: 20 x/menit, suhu: 36,70C per axiler. Status Gizi, BB: 69 kg, TB:
168 cm, BMI: BB/TB2 = 24,4 kg/m2 , Status gizi: BB baik. Pada pemeriksaan
fisik kulit didapatkan macula eritem berbatas tegas dengan tepi meninggi
multiple diskrit pada area wajah, thorax anterior et posterior serta ekstremitas.
Anestesia (-). Keadaan anggota tubuh lain dalam batas normal.

G. PENATALAKSANAAN
1 Medikamentosa
Pemberian regimen MDT MB untuk dewasa oleh puskesmas

- Rifampisin 600mg/bulan
- Dapson 100mg/hari
- Lamprene 50mg/hari
2 Non Medikamentosa
- Pemahaman tentang penyakit kusta, faktor risiko yang bisa
menimbulkan kusta, dan cara penularannya

11
- Edukasi mengenai terapi farmakologis (jenis obat, cara minum obat,
lama pengobatan, dan efek samping obat) kusta dan target
pengobatan
- Edukasi mengenai pengambilan obat di Puskesmas kepada pasien
maupun keluarga pasien
- Edukasi mengenai kepatuhan pengobatan kepada pasien maupun
keluarga
- Edukasi meningkatkan kepercayaan diri pasien untuk tetap
bersosialisasi dengan masyarakat sekitar dan tidak mengurung diri
dari masyarakat
- Edukasi untuk menghilangkan stigma masyarakat mengenai penyakit
kusta

FLOW SHEET

Nama : Tn. D

Diagnosis : Kusta tipe MB dalam pengobatan bulan ke 2

Keluhan/
No Tgl Pemeriksaan Fisik Terapi
Kondisi Pasien
1. 22-11- Bercak Tanda Vital: Medikamentosa :
16 kemerahan di -Tensi: 120/70 mmHg MDT MB untuk dewasa
seluruh tubuh -Nadi: 90 x/menit (reguler, isi
cukup, simetris) Non Medikamentosa :
-Pernafasan: 18x/menit, Suhu: 1. Menjaga asupan nutrisi
36,30C per axiler 2. Istirahat yang cukup
Status Gizi : 3. Minum obat secara teratur
-BB: 65 kg 4. Mengurangi paparan sinar
-TB: 168 cm matahari dan keringat berlebih
-IMT: BB/TB2 = 65/(1,68)2 =23.03
kg/m2 ,
-Status gizi: BB normoweight.

1. Kepala : tampak lesi macula eritem


di seluruh wajah dan leher.
Ukuran bervariasi dengan
diameter mulai 1cm sampai 4cm.
batas tegas. Suhu teraba sama
dengan kulit sekitar. Hipoestesi
(-).

12
1. 2. Thoraks : tampak lesi macula
eritem di regio thoraks anterior dan
posterior. Ukuran bervariasi dengan
diameter mulai 1cm sampai 4cm.
batas tegas. Suhu teraba sama
dengan kulit sekitar. Hipoestesi (-).
2. 3. Cor : dbn
3. 4. Pulmo : dbn
4. 5. Ekstremitas : tampak lesi macula
eritem di seluruh ekstremitas atas
dan bawah. Ukuran bervariasi
dengan diameter mulai 1cm sampai
4cm. batas tegas. Suhu teraba sama
dengan kulit sekitar. Hipoestesi (-).
5.
2. 20-12- Bercak Tanda Vital: Medikamentosa :
16 kemerahan di -Tensi: 130/80 mmHg MDT MB untuk dewasa
seluruh tubuh -Nadi: 88 x/menit (reguler, isi
cukup, simetris) Non Medikamentosa :
-Pernafasan: 16x/menit, Suhu: 1. Menjaga asupan nutrisi
36,00C per axiler 2. Istirahat yang cukup
Status Gizi : 3. Minum obat secara teratur
-BB: 66 kg 4. Mengurangi paparan sinar
-TB: 168 cm matahari dan keringat berlebih
-IMT: BB/TB2 = 65/(1,68)2 =23.03
kg/m2 ,
-Status gizi: BB normoweight.

1. Kepala : tampak lesi macula


eritem di seluruh wajah dan leher.
Ukuran bervariasi dengan diameter
mulai 1cm sampai 4cm. batas tegas.
Suhu teraba sama dengan kulit
sekitar. Hipoestesi (-).
6. 2. Thoraks : tampak lesi macula
eritem di regio thoraks anterior dan
posterior. Ukuran bervariasi dengan
diameter mulai 1cm sampai 4cm.
batas tegas. Suhu teraba sama
dengan kulit sekitar. Hipoestesi (-).
7. 3. Cor : dbn
8. 4. Pulmo : dbn
9. 5. Ekstremitas : tampak lesi macula
eritem di seluruh ekstremitas atas
dan bawah. Ukuran bervariasi
dengan diameter mulai 1cm sampai
4cm. batas tegas. Suhu teraba sama
dengan kulit sekitar. Hipoestesi (-).
10.

13
14
TAHAP III
IDENTIFIKASI FUNGSI-FUNGSI KELUARGA
A. FUNGSI HOLISTIK
1 Fungsi Biologis dan Klinis
Pasien Tn. D tinggal bersama dengan keluarga inti (nuclear family)
yang terdiri dari Tn. D, istri (Ny. D), dan seorang anak perempuan (An.
V). Tidak ada riwayat penyakit menurun (herediter) dari keluarga Tn. D.
2 Fungsi Psikologis
Hubungan yang terjadi dalam keluarga ini cukup baik. Jarang timbul
masalah diantara tiap anggota keluarga. Apabila ada masalah, mereka akan
berdiskusi bersama, keputusan yang diambil juga diputuskan bersama agar
tidak ada yang merasa diperberat. Fungsi psikologis pasien diukur
menggunakan kuesioner DASS (Depression Anxiety and Stress Scale).
Pada penilaian menggunakan kuesioner DASS, pasien maupun keluarga
tidak mengalami depresi, tidak ansietas, dan tidak stres.
3 Fungsi Sosial
Pada awal didiagnosis menderita penyakit Kusta, Tn. D cenderung
menutup diri dan berdiam di dalam rumah, namun setelah berkonsultasi
dengan dokter dan menjalani pengobatan, Tn. D mulai bersosialisasi dan
mengikuti kegiatan di masyarakat. Keluarga bersikap terbuka baik
terhadap sanak saudara maupun tetangga sekitar mengenai pemyakit yang
diderita Tn. D, dan mereka justru memberikan support kepada Tn. D
dalam menjalani pengobatan.
4 Fungsi Ekonomi
Sumber perekonomian keluarga berasal dari penghasilan Tn. D. Pada
tahun 2004 Tn. D merantau ke Ternate dan bekerja sebagai tukang ojek,
namun sekitar pertengahan tahun 2008 ia memutuskan kembali ke Sragen
dan beralih pekerjaan menjadi pedagang brambang di pasar hingga saat
ini. Istri Tn. D merupakan ibu rumah tangga dan tidak bekerja. Untuk
biaya kesehatan, semua anggota keluarga terdaftar menjadi anggota BPJS.

15
Bila ada anggota keluarga yang sakit, maka langsung diperiksakan ke
Puskesmas Kedawung yang jaraknya dekat dengan rumah pasien.
5 Fungsi Penguasaan Masalah dan Kemampuan Beradaptasi
Dalam menyelesaikan masalah, Tn. D selalu berdiskusi dengan istri
dan juga kedua orangtuanya untuk memperoleh solusi permasalahn yang
terbaik. Hubungan dalam keluarga harmonis. Saat ini Tn. D mendapatkan
perhatian lebih dan dorongan dari keluarga dalam menyelesaikan
pengobatannya. Tn. D juga cukup baik dalam hal beradaptasi dengan
masyarakat dan budaya di sekitar tempat tinggalnya.
B. FUNGSI FISIOLOGIS
Untuk menilai fungsi fisiologis digunakan APGAR score. APGAR score
adalah skor yang digunakan untuk menilai fungsi keluarga ditinjau dari sudut
pandang setiap anggota keluarga terhadap hubungannya dengan anggota
keluarga yang lain.
1. Adaption
Adaptation menunjukkan kemampuan anggota keluarga tersebut beradaptasi
dengan anggota keluarga yang lain, penerimaan, dukungan, dan saran dari
anggota keluarga yang lain. Adaptation juga menunjukkan bagaimana keluarga
menjadi tempat utama anggota keluarga kembali jika dia menghadapi masalah.
Contohnya, keluarga merupakan tempat pertama bagi Tn. D untuk kembali dan
berbagi serta berdiskusi apabila menghadapi masalahnya, termasuk masalah
penyakit kusta yang dideritanya
2. Partnership
Partnership menggambarkan komunikasi, saling membagi, saling mengisi
antara anggota keluarga dalam segala masalah yang dialami oleh keluarga
tersebut, bagaimana sebuah keluarga membagi masalah dan membahasnya
bersama-sama. Tn. D sudah merasa puas dengan cara keluarga membagi
masalah.
3. Growth
Growth menggambarkan dukungan keluarga terhadap hal-hal baru yang
dilakukan anggota keluarga tersebut. Misalnya, pada saat Tn. D memutuskan

16
untuk bekerja hingga ke luar pulau, orang tuanya sangat mendukung keputusan
itu dan ketika memutuskan untuk bekerja di luar kota, orang tuanya juga selalu
memberi dukungan penuh.
4. Affection
Affection menggambarkan hubungan kasih sayang dan interaksi antar
anggota keluarga, di dalam keluarga terdapat rasa saling menyayangi satu sama
lain dan saling memberi dukungan serta mengekspresikankasih sayangnya.
Menurut pasien, secara keseluruhan hubungan kasih sayang antara Tn. D dengan
kedua orang tuanya cukup baik.
5. Resolve
Resolve menggambarkan kepuasan anggota keluarga tentang kebersamaan
dan waktu yang dihabiskan bersama anggota keluarga yang lain. Dalam keluarga
Tn. D nilai resolve sudah sangat baik, ditandai dengan setiap hari keluarga
terbiasa berkumpul untuk makan malam bersama dan menonton TV
Adapun sistem skor untuk APGAR ini yaitu :
1. Selalu/sering : 2 poin
2. Kadang-kadang : 1 poin
3. Jarang/tidak pernah : 0 poin
Dan penggolongan nilai total APGAR ini adalah :
1. 8-10 : baik
2. 6-7 : cukup
3. 1-5 : buruk
Penilaian mengenai fungsi fisiologis keluarga Tn. D dapat dilihat pada Tabel 3.1
Tabel 3.1 APGAR Anggota Keluarga Tn. D
Tn. D
Kode APGAR keluarga Tn. D

Saya puas bahwa saya dapat kembali ke keluarga saya


A 2
bila saya menghadapi masalah

Saya puas dengan cara keluarga saya membahas dan


P 2
membagi masalah dengan saya

17
Saya puas dengan cara keluarga saya menerima dan
G mendukung keinginan saya untuk melakukan kegiatan 1
baru atau arah hidup yang baru

Saya puas dengan cara keluarga saya


A mengekspresikan kasih sayangnya dan merespon 1
emosi saya seperti kemarahan, perhatian dll

Saya puas dengan cara keluarga saya dan saya


R 2
membagi waktu bersama-sama
Total Nilai APGAR 8
Sumber : Data primer, Januari 2017
Kesimpulan:
Fungsi fisiologis keluarga Tn. D tergolong baik. Hal ini terlihat dari total skor
APGAR 8. Secara umum, tidak ada hambatan komunikasi pada keluarga ini.

C. FUNGSI PATOLOGIS
Fungsi patologis menilai setiap sumber daya yang dapat digunakan oleh
keluarga ketika keluarga Tn. D menghadapi permasalahan. Fungsi patologis
keluarga Tn. D dapat diamati pada Tabel 3.2
Tabel 3.2. SCREEM Keluarga Tn. D
Sumber Patologi Ket.
Interaksi sosial antar anggota keluarga dan
masyarakat baik. Hanya saat awal didiagnosis
menderita penyakit Kusta sedikit menutup diri
SOCIAL -
namun setelah berkonsultasi dengan dokter dan
menjalani pengobatan, Tn. D mulai bersosialisasi
kembali.
CULTURAL Keluarga Tn. D menerapkan adat-istiadat Jawa -
dalam kehidupannya. Mereka bersikap ramah dan
berhubungan baik dengan tetangga di sekitar.
Tn.D aktif mengikuti berbagai kegiatan di
lingkungan tempat tinggalnya seperti ronda, kerja
bakti, rapat RT, perayaan 17an, pengajian rutin
serta sholat subuh dan Jumat berjamaah di
masjid. Bahasa yang digunakan untuk komunikasi

18
sehari-hari adalah Bahasa Jawa.
Tn. D dan keluarga menerapkan dan menjaga
nilai-nilai kerohanian Islam dalam hidupnya.
Mereka rutin beribadah dan mengaji di rumah.
RELIGION -
Mereka merasa bahwa kegiatan spiritual mampu
membantu mereka mengatasi permasalahan-
permasalahan dalam hidup.
Tabungan Tn. D dan penghasilan istri diakui
cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
ECONOMY -
Pasien juga masih bisa membayar biaya
kesehatannya secara mandiri.
Pendidikan terakhir Tn. D pada tingkat SMK
namun belum sampai lulus memutuskan untuk
EDUCATION +
berhenti sekolah dan merantau ke Maluku
bersama kakak.
Apabila ada masalah kesehatan, keluarga Tn. D
MEDICAL selalu berobat ke Puskesmas maupun pelayanan -
kesehatan lainnya.
Sumber : Data primer, Januari 2017
Kesimpulan:
Fungsi patologis keluarga Tn. D mengalami gangguan pada area sosial dan
pendidikan.

19
20
GENOGRAM

Ny. W Ny. D
Tn.S Tn.R
88 th 80th
90 th 87th
HT

Ny. D Ny. N Ny. M Tn. K Ny. Y 62th


Tn W 73th
68th 62 th 57th 65th

Ny. S
Tn. S 56 th
60 th

Ny. D 24th Tn. N


Ny. K Tn. D 31th
Tn. S 34th 29 th 29 th

An. V
An. Rz 6 th
An. Ri
10 th
8 th

21
Keterangan:
: Laki-laki
: Laki-laki yang telah meninggal
: Wanita
: Pasien
: Wanita yang telah meninggal
: Tinggal serumah

Kesimpulan:
Pasien adalah Tn. D (31 tahun) merupakan anak ke dua dari tiga bersaudara. Ia memiliki seorang kakak perempuan yakni Ny. S
(34 th) dan seorang adik laki-laki yakni Tn. N (29 th). Tn, D saat ini telah menikah dengan Ny. D (24 th) dan memiliki seorang putri
bernama An. V (6th). Saat ini Tn. D tinggal bersama istri dan anaknya. Pada genogram tampak bahwa tidak terdapat penyakit yang
diturunkan dalam keluarga.

22
23
D. POLA INTERAKSI KELUARGA

Tn. D Ny. D

Gambar 3.3 Pola Interaksi Keluarga Tn. D


An. K Sumber : Data primer, Januari 2017
Keterangan :
: Hubungan harmonis
: Hubungan tidak harmonis
Kesimpulan :
Hubungan antar anggota keluarga Tn. D harmonis dan dekat.

E. FAKTOR-FAKTOR PERILAKU YANG MEMPENGARUHI


KESEHATAN

1. Pengetahuan
Pendidikan terakhir Tn. D adalah SMK, sehingga kemampuan dan
kesadaran untuk mencari atau mengetahui informasi tentang penyakit yang
dialami cenderung terbatas. Namun keluarga Tn. D memiliki kesadaran
yang cukup baik untuk memeriksakan diri ke dokter setiap kali ada
anggota keluarga yang sakit. Pengetahuan dan kesadaran yang baik akan
bahaya serta penularan penyakit kusta tercemin dalam sikap dan tindakkan
pasien yang segera memeriksakan dini ke puskesmas terdekat, dan rutin
meminum obat serta kontrol secara berkala setelah ia didiagnosis
menderita kusta.
2. Sikap
Tn. D dan keluarga mempunyai sikap terhadap kesehatan yang
cukup baik. Hal tersebut tampak dari sikap keluarga yang mendukung
Tn.D untuk menjalani pengobatan, serta tidak serta merta
menjauhi/mengucilkan beliau.
Sehat menurut Tn. D adalah dimana beliau bisa melakukan segala aktivitas
tanpa adanya keterbatasan yang dapat diperoleh dari pola makan yang
sehat dan olahraga yang teratur, dan apabila dirasa terdapat keterbatasan

24
atau kelainan yang benar-benar menggangu aktivitasnya barulah pasien
periksa ke dokter.
3. Tindakan
Tn. D memiliki tindakan terhadap kesehatan yang cukup baik.
Pengetahuan yang baik akan penularan kusta membuat Tn.D cepat
memeriksakan diri ke RS dan segera melakukan pengobatan sedini
mungkin. Ia juga kerap menggunakan masker saat melakukan aktivitas
yang berkontak erat dengan orang lain. Kekurangan dari tindakan Tn. D
yang mempengaruhi kesehatannya adalah sering terlambat makan dan
minum obat.
F. SIKLUS KEHIDUPAN KELUARGA

Dalam siklus kehidupan keluarga terdapat tahap-tahap yang dapat


diprediksi. seperti individu-individu yang mengalami tahap pertumbuhan dan
perkembangan yang berturut-turut, keluarga sebagai sebuah unit juga
mengalami tahap-tahap perkembangan yang berturut-turut.

Tabel 3.3 Delapan Tahap Siklus Kehidupan Keluarga


Tahap I : Keluarga Pemula (juga menuju pasangan menikah
atau tahap pernikahan)

Tahap II : Keluarga sedang mengasuh anak (anak tertua adalah bayi sampai
umur 30 bulan)

Tahap III : Keluarga dengan anak usia prasekolah (anak tertua berumur 2
hingga 6 tahun)

Tahap IV : Keluarga dengan anak usia sekolah (anak tertua berumur 6 hingga
13 tahun).

Tahap V : Keluarga dengan anak remaja (anak tertua berumur 13 hingga 25


tahun).

Tahap VI : Keluarga yang melepas anak usia dewasa muda (mencakup anak
pertama sampai anak terakhir) yang meninggalkan rumah.

25
Tahap VII : Orangtua usia pertengahan (tanpa jabatan, pensiunan).

Tahap VIII : Keluarga dalam masa pensiun dan lansia (juga menunjuk kepada
anggota keluarga yang berusia lanjut atau pensiun) hingga pasangan
yang sudah mengenalinya.

(Duvall and Evelyn, 1977)

Berdasarkan siklus hidup keluarga di atas, keluarga Tn D masuk


dalam tahap III : keluarga dengan usia prasekolah dimana ia hanya memiliki
seorang putri berusia 6 tahun. Dalam tahap ini, kontak anak dengan penyakit
infeksi menular dan kerentanan umum mereka terhadap penyakit merupakan
masalah-masalah kesehatan utama. Hal tersebut disebabkan karena daya
tahan spesifik terhadap banyak bakteri/penyakit virus dan paparan cenderung
meningkat. Masalah kesehatan fisik yang utama adalah penyakit-penyakit
menular, infeksi, jatuh, luka bakar dan keracunan.
Pada kasus ini, penyakit kusta yang diderita Tn.D sangat berisiko
untuk menular ke anggota keluarga yang tinggal satu atap dengan Tn.D,
terutama kepada putri nya, mengingat usia anak tersebut dalam fase sangat
rentan untuk tertular penyakit, ditambah adanya kontak secara terus-menerus
dengan sumber penyakit. Adapun faktor faktor yang berperan dalam
penularan penyakit kusta yakni faktor imunitas, faktor sumber penularan, dan
faktor bakteri kusta. Sumber penularan penyakit kusta adalah penderita kusta
tipe MB. Penyakit kusta ditularkan melalui kontak langsung melalui kulit dan
saluran pernapasan secara berulang-ulang dan dalam jangka waktu yang
lama. Untuk itu diperlukan kerjasama secara komperhensif baik dari pihak
penderita , keluarga dengan risiko tinggi penularan, serta pihak tenaga
kesehatan utnuk mencegah penularan kusta. Adapun langkah yang dapat
dilakukan yakni:

Pihak Penderita :
- Melakukan pengobatan sedini mungkin dan kontrol secara rutin
- Tidak meludah di sembarang tempat dan menutup mulut saat bersin
- Menggunakan masker

26
- Menjaga kebersihan diri dan lingkungan
Pihak keluarga yang tinggal satu atap
- Meningkatkan daya tahan tubuh melalui asupan nutrisi yang baik serta
olah raga secara teratur
- Melakukan vaksinasi BCG
- Tidak bertukar pakaian ataupun handuk dengan penderita kusta
- Mengurangi/ membatasi kontak fisik dengan penderita kusta
Pihak tenaga kesehatan :
- Memberikan obat yang tepat dengan dosis adequat
- Memantau perkembangan penyakit pasien tiap kali kontrol
- Melakukan penyuluhan terhadap masyarakat disekitar penderita
mengenai mekanisme penularan kusta dan informasi tentang
ketersediaan obat obatan yang efektif di puskesmas.

G. FAKTOR-FAKTOR NON PERILAKU YANG MEMPENGARUHI


KESEHATAN

1. Lingkungan
Berikut ini adalah keadaan rumah pasien:

Tabel 3.3 Keadaan Rumah Tn. D

No Lingkungan Tn. D Keterangan

1 Status kepemilikan rumah: milik sendiri Kesimpulan:


2 Daerah perumahan: dekat perkebunan Keadaan
Luas tanah: 700 m2, luas bangunan: 11 x rumah Tn. D
3 belum cukup
7 m2
rapih dan
Jumlah penghuni dalam satu rumah: 3 bersih. Pada
4
orang bagian dapur
Jarak antar rumah: 40m (depan), 10m masih
5 terkesan
(samping)
kumuh dan
6 Rumah 1 lantai kotor karena
lantai dan
Lantai rumah: sebagian bertegel sebagain
7 dinding yang
masih berupa semen
masih berupa
8 Dinding rumah: tembok bata, tinggi, semen, serta

27
sebagian sudah ter cat, sebagian tidak atap tidak
berplafon
9 Atap rumah tidak berplafon
10 Jamban keluarga: ada (1)
11 Kamar mandi: ada (1)
12 Dapur: ada (1)
13 Kamar tidur: ada 2
Penerangan listrik @20watt x 10 buah
14
lampu = 200 watt
15 Pencahayaan: cukup
Ketersediaan air bersih bersumber dari
16
sumur
Kondisi umum rumah: kondisi rumah
17
belum cukup rapih dan bersih
Tempat pembuangan sampah: di dalam
rumah terdapat tempat sampah dan di
17
luar rumah terdapat tempat
pembakaran sampah.

Sumber : Data primer, Januari 2017

Pada kasus ini, penyakit kusta yang di derita Tn. D salah satunya
dapat dipicu oleh kondisi lingkungan fisik rumah yang kurang baik. Hal
tersebut sesuai dengan pernyataan Louisiana Department of Health and
Medical, dimana terdapat hubungan antara kondisi lingkungan fisik rumah
dengan kejadian kusta. Hal ini disebabkan karena proporsi kondisi
lingkungan fisik rumah buruk pada kelompok kasus sembilan kali lebih
besar jika dibandingkan dengan kelompok kontrol.

2. Keturunan
Tidak ada riwayat penyakit keturunan (herediter) dari keluarga Tn.
D
3. Pelayanan Kesehatan

28
Tn. D memiliki kemauan memeriksakan diri ke pelayanan
kesehatan seperti kontrol untuk penyakitnya dan memeriksakan diri jika
sakit. Ketersediaan sarana dan prasarana pelayanan kesehatan sudah cukup
baik. Saat ini pasien berobat dengan dengan bantuan dari pemerintah
daerah yaitu Saraswati.

Pemahaman: Lingkungan:
Tn. D cukup memahami Kebersihan lingkungan
tentang penyakit kusta yang rumah belum sepenuhnya
dideritanya terjaga

Sikap: Keturunan:
Keluarga sangat mendukung Ny. S Tidak ada riwayat penyakit
pengobatan Tn. D dan tidak keturunan
mengucilkan penderita

Keterangan:
Tindakan:
Tn. D kontrol dan meminum Pelayanan Kesehatan:
obat secara rutin serta Jika sakit keluarga akan
menggunakan masker guna segera periksa ke
mencegah penularan kusta Puskesmas
: Faktor Perilaku : Faktor Non Perilaku

Gambar 3.3 Faktor Perilaku dan Nonperilaku yang Mempengaruhi Kesehatan


Keluarga Tn. D

H. IDENTIFIKASI INDOOR DAN OUTDOOR

1. Lingkungan Indoor
U
Kamar
Mandi

Dapur

8
Ruang Keluarga m

Kamar Kamar
Tidur I Ruang Tamu Tidur II

12
Gambar 3.4 m Rumah Tn. D
Denah
Teras

29
Keterangan Gambar :
: Jendela
: Pintu

Keterangan:
a. Luas rumah 96m2, lantai semen, pencahayaan cukup.
b. Penggunaan air sumur untuk mandi, mencuci, dan memasak.
c. Keadaan dalam rumah kurang rapi dan kurang bersih
2. Lingkungan Outdoor
a. Tidak terdapat pagar pada bagian belakang rumah
b. Terdapat tempat pembuangan sampah yang cukup, namun tidak
memiliki batas seperti bak maupun penutup. Sampah biasanya dibakar
c. Jarak jamban dari sumber air bersih lebih dari 10 meter

30
TAHAP IV
DIAGNOSTIK HOLISTIK
A. Diagnosis Holistik
Tn D yang berusia 31 tahun dalam extended family dengan diagnosa
kusta dengan BTA (+) tipe Multibasiler. Hubungan suami (Tn. D) dan istri
(Ny. D) dalam keluarga harmonis. Pasien adalah seorang laki-laki berusia 31
tahun. Pasien tinggal bersama istri dan seorang anaknya. Saat ini pasien
bekerja sebagai pedagang bawang. Tn. D mengambil barang dari Mojokerto
kemudian menjual di Pasar Kedawung. Sebelumnya pasien bekerja sebagai
tukang ojek pada saat di Ternate. Sedangkan istri pasien adalah ibu rumah
tangga.
Pasien Tn. D tinggal bersama dengan keluarga inti (nuclear family)
yang terdiri dari Tn. D, istri (Ny. D), dan seorang anak perempuan (An. V).
Tidak ada riwayat penyakit menurun (herediter) dari keluarga Tn. D. Dari segi
fungsi psikologis, pasien tidak mengalami depresi maupun ansietas. Fungsi
sosial keluarga Tn. D baik. Tn. D mampu bersosialisasi dan mengikuti
kegiatan di masyarakat meskipun telah didiagnosis kusta. Keluarga bersikap
terbuka baik terhadap sanak saudara maupun tetangga sekitar mengenai
pemyakit yang diderita Tn. D, dan mereka justru memberikan support kepada
Tn. D dalam menjalani pengobatan. Pasien bekerja sebagai pedagang bawang
di pasar. Istri Tn. D merupakan ibu rumah tangga dan tidak bekerja. Untuk
biaya kesehatan, semua anggota keluarga terdaftar menjadi anggota BPJS.
Bila ada anggota keluarga yang sakit, maka langsung diperiksakan ke
Puskesmas Kedawung yang jaraknya dekat dengan rumah pasien. Interaksi
antara pasien dengan keluarga lain harmonis. Tingkat pendidikan pasien
rendah, namun pasien dan keluarga tetap paham tentang kondisi yang dialami
pasien.

Penilaian 5 Aspek
Aspek I: Personal
Pasien berusia 31 tahun dalam nuclear family dengan diagnosa Kusta.
Dari penilaian aspek personal, didapatkan pasien tidak mengalami
keterbatasan dalam melakukan kegiatan sehari-hari setelah mengetahui

31
penyakitnya. Namun pasien terkadang merasa cemas ataupun khawatir bila
teman-teman dan masyarakat mengetahui akan penyakitnya dan takut akan
dikucilkan dan dijauhi.
Aspek II: Klinis
Pasien didiagnosis menderita Kusta (Morbus Hansen) tipe Multibasiller.
Aspek III: Faktor Internal
Tingkat pendidikan pasien cukup memadai untuk diberikan pengertian
mengenai kondisinya saat ini. Pasien cukup mudah untuk memahami cara
pengobatan, kepatuhan pengobatan, nutrisi untuk pasien, dan hal-hal yang
harus dihindari agar penyakitnya tidak menular pada orang-orang di
sekitarnya. Pasien rutin minum obat dan kontrol, namun terkadang pasien
terlambat untuk meminum obatnya.
Aspek IV: Faktor Eksternal
Pasien masih dapat melaksanakan kehidupannya dengan baik, tampak
ceria, ramah terhadap orang baru. Fungsi sosial pasien cukup baik terlihat dari
sehari-hari pasien yang masih bersosialisasi dengan masyarakat di sekitarnya,
meskipun dibayang-bayangi oleh kecemasan akan penyakitnya apabila
diketahui oleh masyarakat. Hubungan yang terjadi dalam keluarga cukup
harmonis.
Dari segi ekonomi, saat ini pasien bekerja sebagai pedagang di pasar
Kedawung. Saat ini pasien mengandalkan uang hasil berjualan. Keadaan
lingkungan indoor maupun outdoor sudah cukup baik, walaupun masih
kurang dalam hal kerapian dan kebersihan ruangan.
Aspek V: Derajat Fungsional
Kategori derajat fungsional :
1 : SEHAT tidak butuh bantuan
2 : sakit ringan (aktivitas berat dikurangi)
3 : sakit sedang
4 : sakit berat (aktivitas ringan saja yang bisa)
5 : 100% ADL butuh orang lain
Dari anamnesis dan pemeriksaan yang dilakukan, Tn. D memiliki
derajat fungsional 1. Pasien mampu melakukan pekerjaan seperti sebelum
sakit baik di dalam maupun di luar rumah, serta mandiri dalam perawatan
diri.

32
B. Diagnostik Biologis
Kusta (Morbus Hansen) tipe Multibasiller
C. Diagnostik Psikologis
Interaksi yang terjadi dalam keluarga ini baik. Fungsi psikologis pasien
diukur menggunakan kuesioner DASS (Depression Anxiety and Stress Scale).
Pada penilaian menggunakan kuesioner DASS pasien maupun keluarga tidak
mengalami depresi, tidak ansietas, dan tidak stres. Tidak terjadi konflik yang
berarti dalam keluarga pasien.
D. Diagnostik Sosial, Ekonomi, dan Budaya
Pada awal didiagnosis menderita penyakit Kusta, Tn. D cenderung
menutup diri dan berdiam di dalam rumah, namun setelah berkonsultasi
dengan dokter dan menjalani pengobatan, Tn. D mulai bersosialisasi dan
mengikuti kegiatan di masyarakat. Keluarga bersikap terbuka baik
terhadap sanak saudara maupun tetangga sekitar mengenai pemyakit yang
diderita Tn. D, dan mereka justru memberikan support kepada Tn. D
dalam menjalani pengobatan.
Sumber perekonomian keluarga berasal dari penghasilan Tn. D. Pada
tahun 2004 Tn. D merantau ke Ternate dan bekerja sebagai tukang ojek,
namun sekitar pertengahan tahun 2008 ia memutuskan kembali ke Sragen
dan beralih pekerjaan menjadi pedagang brambang di pasar hingga saat
ini. Istri Tn. D merupakan ibu rumah tangga dan tidak bekerja. Untuk
biaya kesehatan, semua anggota keluarga terdaftar menjadi anggota BPJS.
Dalam menyelesaikan masalah, Tn. D selalu berdiskusi dengan istri dan
juga kedua orangtuanya untuk memperoleh solusi permasalahn yang
terbaik. Hubungan dalam keluarga harmonis. Saat ini Tn. D mendapatkan
perhatian lebih dan dorongan dari keluarga dalam menyelesaikan
pengobatannya. Tn. D juga cukup baik dalam hal beradaptasi dengan
masyarakat dan budaya di sekitar tempat tinggalnya
TAHAP V
PEMBAHASAN DAN PENATALAKSANAAN KOMPREHENSIF
A. PEMBAHASAN
Penyakit Kusta atau yang dikenal pula sebagai Morbus Hansen
merupakan penyakit kronis yang disebabkan oleh infeksi Mycobacterium

33
leprae yang bersifat intraselular obligat. Penyakit ini pertama menyerang
saraf tepi, selanjutnya dapat menyerang kulit, mukosa mulut, saluran napas
bagian atas, sistem retikuloendotelial, mata, otot, tulang dan testis kecuali
susunan saraf pusat. Pada kebanyakan orang yang terinfeksi dapat
asimptomatik, namun sebagian kecil memperlihatkan gejala dan mempunyai
kecenderungan untuk menjadi cacat pada tangan dan kaki. Kusta bukan
penyakit keturunan. Kuman dapat ditemukan di kulit, folikel rambut, kelenjar
keringat, dan air susu ibu, jarang didapat dalam urin. Sputum dapat banyak
mengandung M. leprae yang berasal dari traktus respiratorius atas. Tempat
implantasi tidak selalu menjadi tempat lesi pertama. Dapat menyerang semua
umur, anak-anak lebih rentan daripada orang dewasa. (Djuanda et al., 2011;
Wisnu et al., 2000).
Sampai saat ini masalah epidemiologi masih belum sepenuhnya diketahui
secara pasti. Cara penularan belum diketahui pasti hanya berdasarkan
anggapan klasik yaitu melalui kontak langsung antar kulit yang lama dan
erat. Anggapan kedua yaitu melalui inhalasi, sebab Mycobacterium leprae
masih dapat hidup beberapa hari dalam droplet. Masa tunasnya sangat
bervariasi, antara 40 hari sampai 40 tahun, umumnya beberapa tahun, antara
3-5 tahun. Penyakit kusta tersebar di seluruh dunia terutama di daerah tropis
dan subtropis. Penyakit ini dapat menyerang semua umur, frekuensi tertinggi
pada kelompok umur 30-50 tahun dan lebih sering mengenai laki-laki
daripada wanita. Jumlah kasus baru kusta di dunia pada tahun 2011 adalah
sekitar 219.075. Dari jumlah tersebut paling banyak terdapat di regional Asia
Tenggara (160.132) diikuti regional Amerika (36.832), regional Afrika
(12.673), dan sisanya berada di regional lain di dunia (Depkes, 2012).
Sementara itu di regional Asia Tenggara distribusi kasus kusta bervariasi
berdasarkan penemuan kasus baru dan prevalensi seperti dilihat dalam tabel
berikut.
Tabel 5.1. Situasi Kusta di Wilayah WHO-SEARO
NEGARA CASE DETECTION PREVALENSI
RATE AWAL 2012
Bangladesh 3.970 3.300

34
Bhutan 23 29
Korea Utara Data tidak tersedia Data tidak tersedia
India 127.295 83.187
Indonesia 20.023 23.169
Maladewa 14 2
Myanmar 3.082 2.735
Nepal 3.184 2.140
Srilanka 2.178 1.565
Thailand 280 672
Timor Leste 83 72
(Depkes, 2012)
Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan adalah patogenesis kuman
penyebab, cara penularan, keadaan sosial ekonomi dan lingkungan, varian
genetik yang berhubungan dengan kerentanan, perubahan imunitas, dan
kemungkinan reservoir di luar manusia.
Dalam satu negara atau wilayah yang sama kondisi lingkungannya,
didapatkan bahwa faktor etnik mempengaruhi distribusi tipe kusta. Faktor
sosial ekonomi berperan penting dalam kejadian kusta, hal ini terbukti pada
negara-negara di Eropa. Dengan adanya peningkatan sosial ekonomi, maka
kejadian kusta sangat cepat menurun bahkan hilang. Kasus kusta yang masuk
dari negara lain ternyata tidak menularkan kepada orang yang sosial
ekonominya tinggi (Depkes, 2012).
Di Indonesia penderita kusta terdapat hampir pada seluruh propinsi dengan
pola penyebaran yang tidak merata. Meskipun pada pertengahan tahun 2000
Indonesia secara nasional sudah mencapai eliminasi kusta namun pada tahun
tahun 2002 sampai dengan tahun 2006 terjadi peningkatan penderita kusta
baru. Pada tahun 2006 jumlah penderita kusta baru di Indonesia sebanyak
17.921 orang. Propinsi terbanyak melaporkan penderita kusta baru adalah
Maluku, Papua, Sulawesi Utara dan Sulawesi Selatan dengan prevalensi
lebih besar dari 20 per 100.000 penduduk. Pada tahun 2010, tercatat 17.012
kasus baru kusta di Indonesia dengan angka prevalensi 7,22 per 100.000
penduduk sedangkan pada tahun 2011, tercatat 19.371 kasus baru kusta di
Indonesia dengan angka prevalensi 8,03 per 100.000 penduduk (Depkes,
2012).
Pada tahun 2013 jumlah kasus kusta di provinsi Jawa Tengah mencapai
1.925 kasus, dengan rincian 175 kasus merupakan kasus kusta pausibasiler

35
dan 1.750 kasus diidentifikasi sebagai kasus kusta multibasiler. Angka
prevalensi kusta pada tahun 2013 berjumlah 0,58 kasus per 10.000
penduduk. Kabupaten Sragen pada tahun 2013 terdapat total 40 kasus kusta
dengan rincian 3 kasus pausibasiler dan 37 kasus multibasiler (Dinkes
Jateng, 2013)
Berbagai penelitian dilakukan untuk mengetahui patogenesis penyakit
kusta, salah satunya adalah Shepard pada tahun 1960 telah berhasil
menginokulasikan M. leprae pada kaki mencit dan berkembang biat di
sekitar tempat suntikan. Dari berbagai macam spesimen, bentuk lesi, maupun
Negara asal penderita, ternyata tidak ada perbedaan spesies. Agar dapat
tumbuh diperlukan minimum M. leprae yang disuntikkan dan kalau
melampaui jumlah maksimum tidak berarti meningkatkan perkembangbiakan
(Djuanda et al., 2012; Brandma et al.,2003).
Respon imun pada penyakit kusta sangat kompleks, dimana melibatkan
respon imun seluler dan humoral. Sebagian besar gejala dan komplikasi
penyakit ini disebabkan oleh reaksi imunologi terhadap antigen yang dimiliki
M. leprae. Jika respon imun yang terjadi setelah infeksi cukup baik, maka
multiplikasi bakteri dapat dihambat pada stadium awal sehingga dapat
mencegah perkembangan tanda dan gejala klinis selanjutnya. M. leprae
merupakan bakteri obligat intraseluler, maka respon imun yang berperan
penting dalam ketahanan tubuh terhadap infeksi adalah repon imun seluler.
Respon imun seluler merupakan hasil aktivasi dari makrofag dengan
meningkatkan kemampuannya dalam menekan multiplikasi bakteri. Respon
imun humoral terhadap M. leprae merupakan aktivitas sel limfosit B yang
berada dalam jaringan limfosit dan aliran darah. Rangsangan dari komponen
antigen basil tersebut akan mengubah limfosit B menjadi sel plasma yang
akan menghasilkan antibodi yang akan membantu proses opsonisasi. Namun
pada penyakit kusta, fungsi respon imun humoral ini tidak efektif, bahkan
dapat menyebabkan timbulnya beberapa reaksi kusta karena diproduksi
secara berlebihan yang tampak pada kusta lepromatosa (Walker et al., 2008).
Untuk menetapkan diagnosis penyakit kusta perlu dicari tanda-tanda

36
utama atau tanda kardinal, yaitu;
Lesi (Kelainan) kulit yang mati rasa
Kelainan kulit/lesi yang dapat berbentuk bercak keputihan
(hipopigmentasi) atau kemerahan (eritematous) yang mati rasa
(anestesia)
Penebalan saraf tepi yang disertai dengan gangguan fungsi saraf
Gangguan fungsi saraf tepi ini biasanya akibat dari peradangan kronis
pada saraf tepi (neuritis perifer). Adapun gangguan-gangguan fungsi
saraf tepi berupa:
1. Gangguan fungsi sensoris: mati rasa
2. Gangguan Fungsi motorik: kelemahan otot (paresis) atau
kelumpuhan (paralisis)
3. Gangguan fungsi otonom: kulit kering
Ditemukannya M. leprae pada pemeriksaan bakteriologis.
(Depkes., 2012)
Pada Tahun 1982, WHO mengembangkan klasifikasi untuk memudahkan
pengobatan di lapangan. Dalam klasifikasi ini seluruh penderita kusta hanya
dibagi menjadi 2 tipe yaitu Pausibasiler (PB) dan tipe Multibasiler (MB).
Sampai saat ini departemen kesehatan Indonesia menerapkan klasifikasi
menurut WHO sebagai pedoman pengobatan penderita kusta. Dasar dari
klasifikasi ini berdasarkan manifestasi klinis dan hasil pemeriksaan
bakteriologi (Depkes, 2012).
Tabel 5.2. Klasifikasi Kusta oleh WHO, 1982
Tanda Utama Paucibasiler (PB) Multibasiler (MB)
Bercak kusta Jumlah 1-5 lesi Jumlah > 5 lesi
Penebalan saraf Hanya satu saraf Lebih dari satu
tepi yang disertai
dengan gangguan
fungsi (Gangguan
fungsi bisa berupa
kurang/matirasa
atau kelemahan otot
yang dipersarafi
oleh saraf yang
bersangkutan)
Sediaan apusan BTA negatif BTA positif

37
Tabel 5.3. Tanda lain yang dapat dipertimbangkan dalam penentuan klasifikasi
menurut WHO (1982) pada penderita kusta
Kelainan kulit dan hasil Paucibaciler Multibaciler
pemeriksaan (PB) (MB)

1 Bercak (Makula) mati rasa;


a Ukuran Kecil dan besar Kecil-kecil
b Distribusi Unilateral atau Bilateral
bilateral simetris
asimetris
c Konsistensi Kering dan Halus, berkilat
Kasar
d Batas Tegas Kurang Tegas
e Kehilangan rasa pada Selalu ada dan Biasanya tidak
bercak tegas jelas, jika ada,
terjadi pada
yang sudah
lanjut
f Kehilangan kemampuan Selalu ada dan Biasanya tidak
berkeringat, rambut rontok jelas jelas, jika ada,
pada bercak terjadi pada
yang sudah
lanjut
2 Infiltrat;
a Kulit Tidak ada Ada, kadang-
kadang tidak
ada
b Membran mukosa Tidak pernah ada Ada, kadang-
kadang tidak
ada

c Ciri-ciri Central healing - Punched out


lesion
- Madarosis
- Ginekomasti
- Hidung pelana
- Suara sengau

d Nodulus Tidak ada Kadang-kadang


ada

38
e Deformitas Terjadi dini Biasanya
asimetris

Berikut klasifikasi Kusta WHO tahun 1987 yang telah dimodifikasi:


Tabel 5.4. Gambaran Klinis, Bakteriologik dan Imunologis Kusta
Multibasiler (MB)
SIFAT LEPROMATOSA BORDERLINE MID
(LL) LEPROMATOSA BORDERLINE
(BL) (BB)
Lesi
Bentuk Makula Makula Plakat
Infiltrat difus Plakat Dome-shaped
Papul Papul (kubah)
Nodus Punched-out
Jumlah Tidak terhitung, Sukar dihitung, Dapat dihitung,
praktis, tidak ada masih ada kulit kulit sehat jelas
kulit sehat sehat ada
Distribusi Simetris Hampir simetris Asimetris
Permukaan Halus berkilat Halus berkilat Agak kasar,
berkilat
Batas Tidak jelas Agak jelas Agak jelas
Anestesia Tidak ada sampai Tak jelas Lebih jelas
tidak jelas
BTA
Lesi Kulit Banyak (ada Banyak Agak banyak
globus)
Sekret Banyak (ada Biasanya negatif Negatif
Hidung globus)
Tes Negatif Negatif Biasanya negatif
Lepromin

Tabel 5.5. Gambaran Klinis, Bakteriologis dan Imunologis Kusta


Pausibasiler (PB)
SIFAT TUBERKULOID BORDERLINE INTERMEDIATE
(TT) TUBERCULOID (I)
(BT)
Lesi
Bentuk Makula saja, Makula dibatasi Hanya makula
makula dibatasi infiltrat, infiltrat
infiltrat saja
Jumlah Satu dapat Beberapa atau satu Satu atau beberapa
beberapa dengan satelit
Distribusi Asimetris Masih Asimetris Variasi

39
Permukaan Kering bersisik Kering bersisik Halus, agak
berkilat
Batas Jelas Jelas Dapat jelas atau
dapat tidak jelas
Anestesia Jelas Jelas Tak sampai tidak
jelas
BTA Hampir selalu Negatif atau hanya Biasanya negatif
negative 1+
Tes Positif kuat (3+) Positif lemah Dapat positif lemah
Lepromin atau negatif
(Djuanda et al., 2011)
Tn. D mengeluhkan adanya bercak merah pada kaki kanan sejak 1 tahun
yang lalu. Pasien tidak merasakan gangguan saat melakukan aktivitas dengan
keluhannya tersebut. Pasien mulai merasakan keluhan bercak yang semakin
melebar, menyebar ke bagian tubuh lain, terasa tebal, dan terkadang terasa
seperti kesemutan. Pada bulan Juni 2016, Tn. D didiagnosis secara klinis
menderita penyakit kusta tipe Multibasiler (MB) oleh dokter spesialis kulit
dan kelamin di RSUD Sragen. Saat ini, pasien tengah menjalani pengobatan
memasuki bulan keempat dan kontrol di Puskesmas Kedawung I.
Mycobacterium kustae menyerang saraf tepi tubuh manusia, sehingga
bermanifestasi klinis sebagai rasa kebal di bagian tubuh yang terdapat bercak-
bercak. Namun pada pasien Tn. D ini keluhan tersebut tidak ada. Terjadinya
cacat pada kusta disebabkan oleh kerusakan fungsi saraf tepi, baik karena
kuman kusta maupun karena terjadinya peradangan (neuritis) sewaktu
keadaan reaksi kusta.
Faktor yang menyebabkan kejadian kusta yang pertama adalah agent.
Kuman penyebab penyakit kusta adalah M. kustae yang ditemukan oleh GH
Armauer Hansen, seorang sarjana dari Norwegia pada tahun 1873. Kuman
ini bersifat tahan asam, berbentuk batang dengan ukuran 1-8 mikron dan
lebar 0,2 - 0,5 mikron, biasanya berkelompok dan ada yang tersebar satu
-satu, hidup dalam sel terutama jaringan yang bersuhu dingin dan tidak dapat
dikultur dalam media buatan. Struktur sekmatik dari M. leprae terdiri atas
kapsul, dinding sel, membran dan sitoplasma. Kuman ini satu genus dengan
kuman TB dimana di luar tubuh manusia, kuman kusta hidup baik pada

40
lingkungan yang lembab akan tetapi tidak tahan terhadap sinar matahari.
Kuman kusta dapat bertahan hidup pada tempat yang sejuk, lembab, gelap
tanpa sinar matahari sampai bertahun-tahun lamanya. Kuman Tuberculosis
dan leprae jika terkena cahaya matahari akan mati dalam waktu 2 jam.
Selain itu, seperti halnya bakteri lain pada umumnya, akan tumbuh dengan
subur pada lingkungan dengan kelembaban yang tinggi. Air membentuk
lebih dari 80% volume sel bakteri dan merupakan hal esensial untuk
pertumbuhan dan kelangsungan hidup sel bakteri. Kelembaban udara yang
meningkat merupakan media yang baik untuk bakteri-bakteri patogen
termasuk yang memiliki rentang suhu yang disukai, merupakan bakteri

mesofilik yang tumbuh subur dalam rentang 25-40 C, tetapi akan tumbuh

secara optimal pada suhu 31-37 C (Djuanda et al., 2011; Brandsma et al.,
2003).
Dalam mempelajari patogenesitas penyakit baik dalam upaya pencegahan
atau pengobatan suatu penyakit, penting untuk mengetahui sifat biokimiawi
dari agen penyebab penyakit. Hal tersebut dapat dikaitkan dengan cara
penularan dan pengendalian perkembangan agen dalam lingkungan.
Pasien tinggal serumah dengan istri dan anak perempuannya.
Pencahayaan rumah pasien ventilasi rumah tampak cukup, lingkungan dalam
rumah pasien masih tampak cukup bersih dan rapi. Kondisi tersebut baik
untuk mencegah perkembangan kuman dan penularan pada orang-orang di
sekitar pasien di rumah tersebut.
Faktor kedua yang perlu diperhatikan dalam pengendalian penyakit kusta
adalah faktor host. Manusia merupakan reservoir untuk penularan kuman
seperti Mycobacterium tuberculosis dan morbus hansen, kuman tersebut
dapat menularkan pada 10-15 orang. Menurut penelitian pusat ekologi
kesehatan (1991), tingkat penularan kusta di lingkungan keluarga
penderita cukup tinggi, dimana seorang penderita rata-rata dapat
menularkan kepada 2-3 orang di dalam rumahnya. Hal yang perlu
diperhatikan mengenai host atau penjamu meliputi karakteristik: gizi
atau daya tahan tubuh, pertahanan tubuh, higiene pribadi, gejala dan tanda

41
penyakit dan pengobatan. Berdasarkan studi epidemiologi, karakteristik
host dapat dibedakan antara lain: umur, jenis kelamin, pekerjaan,
keturunan, pekerjaan, ras, pendidikan dan gaya hidup (Djuanda et al., 2011).
Keluarga Tn. D termasuk ke dalam nuclear family yang terdiri atas 3
orang. Keluarga tersebut terdiri dari Tn. D (31 tahun), Ny. D (27 tahun), dan
An. F (5,5 tahun). Pendidikan dalam keluarga ini secara umum cukup baik.
Saat ini Tn. D masih bekerja sebagai pedagang bawang merah di pasar,
sedangkan istrinya saat ini bekerja sebagai ibu rumah tangga. Anak
perempuan pasien saat ini sekolah di Taman Kanak-kanak. Dalam
pemenuhan gizi sehari hari, Tn. D makan dua sampai tiga kali sehari dengan
sayur dan lauk bervariasi, serta jarang makan buah-buahan. Pasien mengaku
makan secara teratur. Pasien mengaku tidak memiliki alergi terhadap
makanan. Pasien sebelumnya mengaku jarang menderita gangguan pada
kesehatannya.
Faktor terakhir dalam upaya pengendalian kusta yang perlu diperhatikan
adalah faktor lingkungan. Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di
luar diri host baik benda mati, benda hidup, nyata atau abstrak, seperti
suasana yang terbentuk akibat interaksi semua elemen-elemen termasuk
host yang lain. Lingkungan terdiri dari lingkungan fisik dan non fisik,
lingkungan fisik terdiri dari keadaan geografis (dataran tinggi atau rendah,
persawahan, dan lain-lain), kelembaban udara, suhu, lingkungan tempat
tinggal. Adapun lingkungan non fisik meliputi sosial (pendidikan,
pekerjaan), budaya (adat, kebiasaan turun temurun), ekonomi (kebijakan
mikro dan lokal), dan politik (suksesi kepemimpinan yang mempengaruhi
kebijakan pencegahan dan penanggulangan suatu penyakit).
Dari aspek lingkungan fisik, pasien memiliki masalah karena tinggal di
tempat yang lembab karena dekat dengan sawah dan lingkungan yang kurang
bersih. Sedangkan dari lingkungan non fisik pasien memiliki masalah dengan
pendidikan yang masih rendah.
Dalam pendekatan secara holistik pada aspek biologis dan klinis
didapatkan bahwa Tn. D berusia 31 tahun berada dalam nuclear family yang
terdiri dari Tn. D (31 tahun) serta seorang istri, Ny. D (27 tahun) dan seorang

42
anak perempuan An. F (5,5 tahun). Di keluarga Tn. D tidak ditemukan adanya
penyakit menurun (herediter).
Fungsi sosialisasi keluarga Tn. D dinilai cukup baik. Pada awal
didiagnosis menderita penyakit Kusta, Tn. D tetap sering bersosialisasi
dengan masyarakat dan mengikuti kegiatan di masyarakat. Pihak keluarga
tidak merahasiakan penyakit Tn. D. Masyarakat di lingkungan tempat tinggal
Tn. D tidak mengucilkan beliau maupun mencibir keluarga beliau. Mereka
mendukung kesembuhan Tn. D.
Pada tahun 2004 Tn. D merantau ke Ternate dan bekerja sebagai tukang
ojek namun sekitar 1 tahun memutuskan kembali ke Sragen. Saat ini Tn. D
tetap bekerja sekalipun dari keluarga menyarankan untuk fokus dalam
pengobatan dan istirahat dengan cukup. Istri Tn. D bekerja sebagai ibu rumah
tangga. Biaya pengobatan Tn. D menggunakan biaya mandiri.
Fungsi fisiologis keluarga Tn. D tergolong baik. Hal ini terlihat dari total
skor APGAR 8. Secara umum, tidak ada hambatan komunikasi pada keluarga
ini. Dilihat dari pola interaksi antar keluarga, hubungan antar anggota
keluarga dalam satu rumah secara keseluruhan harmonis. Fungsi Patologis
keluarga Tn. D tergolong baik. Walaupun secara fungsi pendidikan, pasien
yang merupakan lulusan SMP.
Kesadaran memeriksakan diri keluarga Tn. D ke dokter sudah cukup baik.
Hal tersebut terlihat dengan kesadaran keluarga untuk berobat ke puskesmas
apabila mengeluhkan penyakit tertentu. Pasien rajin untuk kontrol ke
pelayanan kesehatan dan sesuai jadwal. Pengetahuan pasien akan pentingnya
pengendalian dan komplikasi dari penyakitnya cukup. Oleh karena itu,
meskipun pasien rajin minum obat. Selain itu, pasien tidak takut mengenai
stigma negatif masyarakat terhadap penyakit kusta, dan sangat optimis akan
kesembuhannya. Tn. D juga memiliki tindakan terhadap kesehatan yang
cukup baik, ia rutin memeriksakan diri ke pelayanan kesehatan untuk kontrol
dan rutin minum obat.

43
B. SARAN KOMPREHENSIF
1 Promotif
a Puskesmas lebih aktif untuk mempromosikan kepada masyarakat
mengenai penyakit menular khususnya penyakit kusta, sehingga
masyarakat paham mengenai tanda dan gejala, komplikasi, pengobatan
dan cara pencegahan.
b Memberikan penyuluhan kepada masyarakat baik secara langsung
dalam acara khusus maupun disisipkan dalam acara lain seperti rapat
koordinasi, posyandu, program prolanis, hingga pengajian mengenai
edukasi tentang pola hidup bersih dan sehat melalui kader, bidan atau
petugas terkait secara berkala
c Memberikan edukasi kepada anggota keluarga yang tinggal dalam satu
rumah mengenai kondisi Tn. D untuk mencegah penularan kepada
anggota keluarga lain
d Keluarga Tn. D harus lebih meningkatkan perilaku hidup sehat, dengan
meningkatkan asupan gizi, sadar akan kebersihan dan karakteristik
lingkungan yang sehat untuk menjaga kesehatan
2 Preventif
a Menjaga kebersihan diri dan kebersihan lingkungan rumah dan
sekitarnya untuk mencegah bertambah parahnya penyakit, khususnya
kebersihan rumah yang masih kurang.
b Makan teratur dengan makanan bergizi dan menu seimbang, mengurangi
merokok dan teratur melakukan aktivitas fisik dan gaya hidup sehat.
c Melakukan pendekatan secara personal dari pihak puskesmas kepada Tn.
D agar pasien tidak terlalu khawatir terhadap pandangan masyarakat
akan penyakit yang dideritanya, sehingga hubungan sosial dengan
masyarakat sekitar dapat harmonis dan terbina dengan baik
3 Kuratif
a Melanjutkan pengobatan MDT MB sesuai anjuran
b Mengkonsumsi obat secara teratur sesuai dengan dosis yang telah
ditetapkan.
c Segera memeriksakan diri apabila muncul bercak di tempat lain dan
timbul keluhan lain
4 Rehabilitatif

44
Kontrol rutin ke puskesmas setiap bulan.

45
DAFTAR PUSTAKA

Departemen Kesehatan Republik Indonesia (Depkes RI). 2012. Pedoman


Nasional Program Pengendalian Penyakit Kusta. Jakarta: Direktorat
Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan.
Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah (Dinkes Jateng). 2013. Profil Kesehatan
Provinsi Jawa Tengah Tahun 2013.
http://www.dinkesjatengprov.go.id/dokumen/2013/SDK/Mibangkes/profil20
12/BAB_I-VI_2012_fix.pdf (diakses pada 20 Januari 2017).
Djuanda A, Hamzah M, Aisah S. 2011. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin edisi
keenam. Jakarta: Badan Penerbit FK UI.
Wisnu IM, Hadilukito G. 2000. Pencegahan cacat kusta. Dalam: Daili ESS,
Menaldi SL, Ismiarto SP, Nilasari H, editors. Kusta. Edisi ke-2. Jakarta:
FKUI
Brandsma JW, Brakel WHV. 2003. WHO disability grading: operational
definitions. Lepr Rev 74: 366-73.
Walker SL, Lockwood DNJ. 2008. Leprosy type 1 (reversal) reaction and their
management. Lep Rev 79: 372-86.

46
LAMPIRAN
Lampiran 1. Kunjungan Home Care Keluarga Tn. D.

47
Lampiran 2. Rumah Tn. D.

Tampak depan Dapur

Keadaan atap rumah Kamar tidur

Mushola Kamar tidur

48
49