You are on page 1of 6

Kualitas akustik ruangan tercipta karena adanya reflections and resonance yang

dapat dipengaruhi oleh dimensi ruangan dan pemilihan material. Design ruang
akustik ditujukan untuk mengontrol kualitas suara dalam ruangan,
merencanakan / Design setiap material yang akan digunakan sehingga ruangan
tersebut memenuhi standar yang sesuai dengan kebutuhan. Acoustic Control
tidak ditujukan untuk mencegah propagasi suara antara kamar. untuk masalah
kebocoran suara kita telah membahasnya pada artikel Noise Control. Acoustic
Control berbicara tentang Quality of Sound , mencegah standing wave,
reverberation time 60 (RT60), Acoustic Tools (Absorber, diffuser, Bass Trap,
Resonator) , mencegah gema-pantulan, meningkatkan artikulasi, dll. Untuk lebih
ringkas, jika sumber suara kebisingan yang dihasilkan dalam lingkungan yang
sama membutuhkan peningkatan kontrol suara, maka Anda akan membutuhkan
produk Acoustic Control.
Akustik Ruang

Formasi Elemen Akustik dalam Ruang

Formasi elemen akustik dalam sebuah ruangan akan menentukan kinerja akustik ruang
tersebut sesuai dengan fungsi nya. Beberapa catatan berikut dapat digunakan sebagai acuan
perancangan formasi penempatan elemen akustik pada ruang dengan fungsi tertentu.

Ruang Kelas: Elemen Pemantul atau Penyebar pada dinding depan, samping serta langit-
langit depan. Elemen penyerap atau penyebar pada dinding belakang serta langit-langit
belakang. Lantai bisa keramik atau parket atau karpet.

Masjid: Dinding depan elemen pemantul atau penyebar, dinding samping kombinasi
pemantulan dan penyerap, dinding belakang penyerap atau penyebar, langit-langit penyerap
bila menggunakan sound system atau kombinasi pemantul-penyebar bila tanpa sound system,
lantai boleh karpet atau keras (keramik atau parket)

Ruang Auditorium: Dinding depan pemantul atau penyebar, Dinding samping kombinasi
pemantul penyerap atau penyebar penyerap, Dinding Belakang penyerap atau penyebar,
langit-langit penyebar atau penyerap, dengan elemen pemantul di area atas panggung, lantai
bebas. Bila menggunakan sound system, harus diperhatikan type dan posisi pemasangan.

Ruang Konser Akustik/Philharmonik: hindari pemakaian elemen penyerap, maksimalkan


penggunaan pemantul dan penyebar pada seluruh bagian permukaan.

Ruang Studio: Banyak penyerap di ruang kontrol (bisa dikombinasikan dengan penyebar)
dan kombinasi penyerap=penyebar di ruang live.

Kamar Tidur, Living Room, Ruang rawat inap: kombinasi 3 elemen sesuai kondisi bising
dan kenyamanan individu.

Ruang rapat: Dinding kombinasi penyerap-penyebar, langit-langit dan lantai berlawanan


karakteristik (bila lantai penyerap, langit-langit pemantul atau penyebar, dan sebaliknya)

Ruang Bioskop: mayoritas permukaan dilapisi elemen penyerap.

Gelanggang Olah Raga: lantai keras, langit-langit kombinasi penyerap-penyebar, dinding


kombinasi pemantul-penyerap-penyebar (tergantung bentuk geometri nya)

Ruang Kantor tapak terbuka: dinding bebas, langit-langit penyerap, lantai bebas.

by Joko Sarwono
Akustik untuk Ruang Kelas Anak-anak

Salah satu faktor penting yang mempengaruhi proses belajar mengajar pada anak-anak di
dalam kelas adalah terjaminnya proses komunikasi yang baik antara guru dan murid (dan
sebaliknya). Dua faktor utama yang mempengaruhi proses mendengar di dalam ruangan kelas
adalah kondisi akustik ruang kelas dan kemampuan mendengar anak (murid). Kondisi
Akustik ruang kelas yang harus diperhatikan terutama adalah tingkat kebisingan dan waktu
dengung ruang, serta rasio suara terhadap bising (SNR).

Tingkat kebisingan suara yang terjadi di ruangan kelas disebabkan oleh sumber dari luar
ruangan (misalnya kendaraan yang lewat di jalanan di sekitar sekolah, aktifitas di dalam dan
di luar lingkungan sekolah) dan sumber di dalam ruangan kelas (misalnya suara murid-murid,
suara AC). Suara-suara tersebut pada akhirnya akan berkompetisi dengan suara guru,
sehingga mengganggu proses komunikasi antara guru-murid dan sebaliknya. Jika tingkat
bising terlalu tinggi, suara guru akan tenggelam di dalam bising, sehingga guru harus
meningkatkan tingkat energi suara yang dikeluarkan (akibatnya guru lebih mudah letih).
Faktor utama yang bisa digunakan untuk mengendalikan kebocoran/intrusi bising dari luar
ruang kelas adalah dengan memastikan semua bukaan yang ada di ruang kelas memiliki
sistem insulasi suara yang baik, sedangkan untuk mengendalikan bising yang bersumber dari
dalam ruang kelas itu sendiri adalah dengan mengendalikan tingkat bising sumber yang
menghasilkan suara.

Waktu dengung ruangan kelas memegang peranan penting dalam menciptakan tingkat
kejelasan suara ucap dalam ruang. Waktu dengung ruang pada dasarnya berkaitan dengan
jumlah energi pantulan yang dihasilkan oleh permukaan dalam ruangan, yang pada akhirnya
mempengaruhi seberapa lama suara bertahan di dalam ruangan tersebut. Jumlah energi
pantulan yang berlebihan ini akan berinteraksi dengan suara langsung dari guru yang datang
ke telinga murid. Jika suara pantulan lebih dominan dari suara langsung, maka tingkat
kejelasan suara ucapan akan menurun. Untuk mengatasi suara pantulan yang berlebihan ini,
atau dengan kata lain menurunkan waktu dengung ruang kelas, dapat digunakan material
penyerap suara, tentunya yang terbuat dari bahan yang aman bagi kesehatan respirasi murid
dan guru. Waktu dengung yang disarankan untuk ruangan kelas adalah 0.45 1 detik
tergantung dari volume ruangannya.

Selain Waktu Dengung ruang, Rasio Suara terhadap bising (Signal to Noise Ratio, SNR)
adalah faktor akustik yang sangat mempengaruhi tingkat kejelasan suara ucapan di dalam
ruangan kelas. Faktor ini terkait dengan seberapa besar energi suara ucap yang harus
dihasilkan seorang guru dibandingkan dengan tingkat bising yang ada di dalam kelas. Suara
guru berperan sebagai sinyal dan bising latar belakang (dan waktu dengung) memberikan
kontribusi pada Noise Level. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa tingkat energi suara
yang dihasilkan guru disarankan 15 dB diatas tingkat bising di ruang kelas (Untuk dapat
memahami percakapan secara komprehensif, anak-anak memerlukan guru berbicara 9 dB
lebih keras dibandingkan orang dewasa). Apabila hal tersebut dapat dicapai, maka proses
belajar mengajar akan berlangsung dengan komprehensif karena murid dapat memahami
dengan baik apa yang disampaikan oleh guru mereka. Untuk mengatasi masalah ini,
penggunaan sistem tata suara yang baik menjadi solusinya. Sistem tata suara yang tidak
hanya menghasilkan energi yang cukup, tetapi juga yang dapat menghasilkan tingkat
kejelasan suara ucap (speech intelligibility) yang baik.
Hal lain yang perlu dicatat adalah, otak manusia baru berkembang sempurna pada saat usia
mencapai 15 tahun. Hal ini juga mempengaruhi kemampuan mendengar manusia, karena
sistem auditory nerve terkait dengan perkembangan otak. Oleh karena itu, kondisi lingkungan
mendengar di ruangan belajar (ruang kelas) untuk anak-anak ( < 15 tahun) menjadi lebih
kritis dibandingkan dengan orang dewasa (>15 tahun). Sebagai konsekuensi logis dari
kondisi ini, pertimbangan akustik pada perancangan ruang kelas untuk anak-anak (TK, SD
dan SMP) menjadi lebih perlu diperhatikan dibandingkan dengan ruang kelas untuk remaja-
dewasa (SMA dan Perguruan Tinggi).

Pengendalian Medan Suara dalam Ruang

Secara garis besar, permasalahan akustik dalam ruangan dapat dibagi menjadi 2 bagian, yaitu
pengendalian medan suara dalam ruangan (sound field control) dan pengendalian intrusi
suara dari/ke ruangan (noise control). Pengendalian medan suara dalam ruang akan sangat
tergantung pada fungsi utama ruangan tersebut. Ruang yang digunakan untuk fungsi
percakapan saja, akan berbeda dengan ruang yang digunakan untuk mengakomodasi aktifitas
terkait musik, serta akan berbeda pula dengan ruang yang digunakan untuk kegiatan yang
melibatkan percakapan dan musik.M
Pengendalian medan suara dalam ruang (tertutup), pada dasarnya dilakukan untuk mengatur
karakteristik pemantulan gelombang suara yang dihasilkan oleh permukaan dalam ruang,
baik itu dari dinding, langit-langit, maupun lantai. Ada 3 elemen utama yang dapat digunakan
untuk mengatur karakteristik pemantulan ini yaitu:

1. Elemen Pemantul (Reflector)

Elemen ini pada umumnya digunakan apabila ruang memerlukan pemantulan gelombang
suara pada arah tertentu. Ciri utama elemen ini adalah secara fisik permukaannya keras dan
arah pemantulannya spekular (mengikuti kaidah hukum Snellius: sudut pantul sama dengan
sudut datang).

2. Elemen Penyerap (Absorber)

Elemen ini digunakan apabila ada keinginan untuk mengurangi energi suara di dalam
ruangan, atau dengan kata lain apabila tidak diinginkan adanya energi suara yang
dikembalikan ke ruang secara berlebihan. Efek penggunaan elemen ini adalah berkurangnya
Waktu Dengung ruang (reverberation time). Ciri utama elemen ini adalah secara fisik
permukaannya lunak/berpori atau keras tetapi memiliki bukaan (lubang) yang
menghubungkan udara dalam ruang dengan material lunak/berpori dibalik bukaannya, dan
mengambil banyak energi gelombang suara yang datang ke permukaannya. Khusus untuk
frekuensi rendah, elemen ini dapat berupa pelat tipis dengan ruang udara atau bahan lunak
dibelakangnya.

3. Elemen Penyebar (Diffusor)

Elemen ini diperlukan apabila tidak diinginkan adanya pemantulan spekular atau bila
diinginkan energi yang datang ke permukaan disebarkan secara merata atau acak atau dengan
pola tertentu, dalam level di masing-masing arah yang lebih kecil dari pantulan spekularnya.
Ciri utama elemen ini adalah permukaannya yang secara akustik tidak rata. Ketidakrataan ini
secara fisik dapat berupa permukaan yang tidak rata (beda kedalaman, kekasaran acak, dsb)
maupun permukaan yang secara fisik rata tetapi tersusun dari karakter permukaan yang
berbeda beda (dalam formasi teratur ataupun acak). Energi gelombang suara yang datang ke
permukaan ini akan dipantulkan secara no spekular dan menyebar (level energi terbagi ke
berbagai arah). Elemen ini juga memiliki karakteristik penyerapan.

Pada ruang (akustik) riil, 3 elemen tersebut pada umumnya dijumpai. Komposisi luasan per
elemen pada permukaan dalam ruang akan menentukan kondisi medan suara ruang tersebut.
Bila Elemen pemantulan menutup 100 % permukaan, ruang tersebut disebut ruang dengung
(karena seluruh energi suara dipantulkan kembali ke dalam ruangan). Medan suara yang
terjadi adalah medan suara dengung. Sebaliknya, apabila seluruh permukaan dalam tertutup
oleh elemen penyerap, ruang tersebut menjadi ruang tanpa pantulan (anechoic), karena
sebagian besar energi suara yang datang ke permukaan diserap oleh elemen ini. Medan suara
yang terjadi disebut medan suara langsung. Medan suara ruang selain kedua ruang itu dapat
diciptakan dengan mengatur luasan setiap elemen, sesuai dengan fungsi ruang.

Untuk pemakaian pengendalian medan suara dalam ruang yang lebih detail, sebuah elemen
bisa dirancang sekaligus memiliki fungsi gabungan 2 atau 3 elemen tersebut. Misalnya
gabungan Penyerap dan Penyebar dikenal dengan elemen Abfussor atau Diffsorbor, gabungan
antara pemantul dan penyebar, dsb. Pola pemantulan 3 elemen tersebut merupakan fungsi
dari frekuensi gelombang suara yang datang kepadanya.