You are on page 1of 14

A.

Definisi Asuransi Syariah


Asuransi dalam bahasa Arab disebut Attamin yang berasal dari
kata amanah yang berarti memberikan perlindungan, ketenangan,
rasa aman serta bebas dari rasa takut. Istilah mentaminkan sesuatu
berarti seseorang memberikan uang cicilan agar ia atau orang yang
ditunjuk menjadi ahli warisnya mendapatkan ganti rugi atas hartanya
yang hilang.
Asuransi syari'ah menurut Dewan Syariah Nasional (DSN) adalah
usaha untuk saling melindungi dan tolong menolong diantara sejumlah
orang melalui investasi dalam bentuk aset dan atau tabarru' yang
memberikan pola pengembalian untuk menghadapi resiko /bahaya
tertentu melalui akad yang sesuai dengan syariah.
Asuransi Syariah adalah sebuah sistem dimana para
partisipan/anggota/peserta mendonasikan/menghibahkan sebagian
atau seluruh kontribusi yang akan digunakan untuk membayar klaim,
jika terjadi musibah yang dialami oleh sebagian
partisipan/anggota/peserta. Peranan perusahaan disini hanya sebatas
pengelolaan operasional perusahaan asuransi serta investasi dari
dana-dana/kontribusi yang diterima/dilimpahkan kepada perusahaan.
Asuransi syari'ah disebut juga dengan asuransi ta'awun yang
artinya tolong menolong atau saling membantu . Oleh karena itu dapat
dikatakan bahwa Asuransi ta'awun prinsip dasarnya adalah dasar
syariat yang saling toleran terhadap sesama manusia untuk menjalin
kebersamaan dalam meringankan bencana yang dialami peserta.
Prinsip ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam surat Al Maidah ayat
2, yang artinya :
"Dan saling tolong menolonglah dalam kebaikan dan ketaqwaan
dan jangan saling tolong menolong dalam dosa dan permusuhan"

B. Dasar Syariah dalam Asuransi Syariah

1. Perintah Allah SWT Untuk Mempersiapkan Hari Depan.

Allah SWT berfirman QS. An-Nisa/ 04 : 09 :

Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya


meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang
mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu
hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka
mengucapkan perkataan yang benar.

Ayat ini menggambarkan kepada kita tentang pentingnya


planning atau perencanaan yang matang dalam mempersiapkan
hari depan. Nabi Yusuf as, dicontohkan dalam Al-Quran membuat
sistem proteksi menghadapi kemungkinan yang buruk di masa
depan (QS. Yusuf/ 12 : 43 49)

2. Berasuransi tidaklah berarti menolak takdir atau menghilangkan


ketawakalan kepada Allah SWT, karena :

a. Segala sesuatunya terjadi setelah berpikir dengan baik, bekerja


dengan penuh kesungguhan, teliti dan cermat.

b. Segala sesuatu yang terjadi di dunia ini, semuanya ditentukan


oleh Allah SWT. Adapun manusia hanya diminta untuk berusaha
semaksimal mungkin.

Allah SWT berfirman QS. Attaghabun/ 64 : 11)

Tidak ada sesuatu musibahpun yang menimpa seseorang kecuali


dengan izin Allah.

Jadi pada dasarnya Islam mengakui bahwa kecelakaan,


musibah dan kematian merupakan qodho dan qodar Allah yang
tidak dapat ditolak. Hanya kita diminta untuk membuat
perencanaan hari depan (QS. A-Hasyr/ 59 : 18)

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan


hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya
untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah,
sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

2
C. Dasar Hukum Asuransi Syariah

Dari segi hukum positif, hingga saat ini asuransi syariah masih
mendasarkan legalitasnya pada Undang-undang No. 2 tahun 1992
tentang perasuransian
Pedoman untuk menjalankan usaha asuransi syariah terdapat
dalam Fatwa Dewan Asuransi Syariah Nasional Majelis Ulama
Indonesia (DSN-MUI) No.21/DSN-MUI/X/2001 tentang
Pedoman Umum Asuransi Syariah
Keputusan Menteri Keuangan RI No.426/KMK.06/2003, Keputusan
Menteri Keuangan RI No. 424/KMK.06/2003 dan Keputusan
Direktorat Jendral Lembaga Keuangan No. 4499/LK/2000. Semua
keputusan tersebut menyebutkan mengenai peraturan sistem
asuransi berbasis Syariah.

D. Produk Asuransi Syariah

1. Takaful dana pendidikan (fulnadi)

Fulnadi adalah program asuransi untuk perseorangan yang


bertujuan untuk menyediakan dana pendidikan untuk putra-putri
peserta sampai pendidikan tingkat sarjana dengan manfaat
proteksi atas resiko meninggal.

2. Takaful asuransi jiwa murni (Al-Khairat)

3
Takaful Al-Khairat adalah suatu bentuk perlindungan yang
manfaat proteksinya diperuntukkan bagi ahli waris apabila
pemegang polis ditakdirkan meninggal dalam masa perjanjian.

3. Asuransi jiwa kesehatan (takafulfalah)

Adalah produk Asuransi Takaful Keluarga yang dirancang secara


khusus bagi peserta yang menginginkan manfaat asuransi secara
menyeluruh, ketika peserta mengalami musibah meninggal baik
karena sakit ataupun kecelakaan.

4. Asuransi kesehatan group/kumpulan (fulmedicare)

Adalah Program Asuransi Kesehatan yang memberikan manfaat


pelayanan kesehatan bagi peserta yang mengalami sakit karena
resiko penyakit atau kecelakaan.

5. Asuransi kesehatan keluarga (family care)

Takaful Family Care adalah program asuransi kesehatan yang


khusus diperuntukkan bagi keluarga. Jumlah minimal peserta
adalah 2 orang.

6. Asuransi mobil (tafakulabror)

Produk Takaful yang menggantikan kerugian atas kendaraan


bermotor yang disebabkan musibah kecelakaan, pencurian serta
tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga.

7. Asuransi perlindungan rumah (tafakulbaituna)

Merupakan paket istimewa dari Takaful yang melindungi rumah


dari risiko kebakaran yang dilengkapi dengan perangkat
perlindungan ekstra.

4
E. Aspek Asuransi Syariah

Asuransi syariah dilihat dari berbagai aspek yang


membedakannya dari asuransi konvensional, sebagai berikut:

1. Konsep dan asal-usul

Asuransi syariah adalah sekumpulan orang yang saling


membantu, saling menjamin, dan bekerjasama dengan cara
masing-masing mengeluarkan dana tabbaru. Konsep asuransi
syariah berasal dari kebiasaan suku arab jauh sebelum Islam
datang yang disebut Al Aqilah.

2. Sumber Hukum

Asuransi syariah bersumber dari wahyu ilahi. Sumber hukum


dalam syariat Islam yaitu Al Quran, Sunnah, Ijma, Fatwa sahabat,
Istishan, Tradisi, dan Mashalih Murshalah. Ausransi syariah bebas
dari praktik-praktik seperti maisir, gharar dan riba yang
merupakan hal yang diharamkan dalam muamalah.

3. Dewan Pengawas Syariah

Asuransi syariah yang mutlak memerlukan keberadaan DPS yang


berfungsi sebagai pengawas pelaksanaan operasional perusahaan
agar terbebas dari praktik-praktik muamalah yang bertentangan
dengan prinsip syariah.

4. Akad dan Jaminan

Akad yang digunakan dalam asuransi syariah adalah akad


tabbaru dan akad tijaroh (yang bertujuan komersil). Asuransi
syariah yang sifat jaminannya adalah sharing risk, dimana terjadi
proses saling menanggung antara satu peserta dengan peserta
yang lain (taawun).

5
5. Pengelolaan Dana

Dalam asuransi syariah terdapat pemisahan dana menjadi dua


yaitu dana tabbaru dan dana investasi. Asuransi syariah dapat
melakukan investasi sesuai dengan undang-undang sepanjang
tidak bertentangan dengan prinsip syariah, bebas dari riba dan
tidak menyentuh tempat-tempat investasi terlarang.

6. Kepemilikan dana, Unsur Premi dan Loading serta sumber


pembayaran klaim.

Dalam asuransi syariah dana yang terkumpul merupakan milik


peserta (shohibul maal), perusahaan hanya sebagai pemegang
amanag (mudhorib) dalam mengelola dana tersebut. sedangkan
unsur preminya dalam asuransi syariah terdiri dari iuran atau
kontribusi yang terdiri dari dana tabbaru dan tabungan yang
tidak mengandung unsur riba. Pada asuransi syariah loading tidak
dibebankan pada peserta tapi dari dana pemegang saham.
Adapun sumber pembayaran dari asuransi syariah diperoleh dari
dana tabbaru dimana peserta saling menanggung.

7. Sistem akuntansi, keuntungan serta visi dan misi.

Sistem akuntansi pada asuransi syariah menggunakan cash basic.


Dalam asuransi syariah keuntungan yang diperoleh dari surplus
underwriting, komisi reasuransi, dan hasil seluruh investasi
perusahaan bukan seluruhnya milik perusahaan tapi dilakukan
bagi hasil dengan peserta. Asuransi syariah selain mengembang
misi ekonomi juga membawa misi aqidah, misi ibadah, dan misi
pemberdayaan masyarakat.

8. Tidak ada dana hangus.

Dalam konsep asuransi syariah, mekanismenya tidak mengenal


dana hangus. Peserta yang baru masuk sekalipun karena satu dan

6
lain hal ingin mengundurkan diri, maka dana atau premi yang
sebelumnya sudah dibayarkan dapat diambil kembali kecuali
sebagian kecil saja yang sudah diniatkan untuk dana tabarru
yang tidak dapat diambil.

F. Akuntansi untuk Asuransi Syariah

Dalam akuntansi asuransi syariah belum diatur secara khusus


dalam PSAK sebagaimana akuntansi perbankan syariah yang sudah
diatur dengan keluarnya PSAK No. 59. Oleh karena itu berlaku prinsip-
prinsip akuntansi yang berlaku umum, terutama PSAK No. 28 tentang
Akuntansi Asuransi Kerugian dan PSAK No. 36 tentang Akuntansi
Asuransi jiwa.

Pengakuan pendapatan dan beban

a. Pengakuan pendapatan:

1) Apabila jumlah premi dapat diestimasikan secara layak, maka


pendapatan premi diakui selama periode kontrak dan jumlah
premi tersebut disesuaikan setiap periode untuk
mencerminkan jumlah premi yang sebenarnya.

2) Apabila jumlah premi tidak dapat diestimasi secara layak,


maka premi diperlakukan dengan menggunakan metode uang
muka (deposit methode) sampai jumlah premi dapat
diestimasi secara layak.

b. Pengakuan beban:

Beban klaim

Klaim sehubungan dengan terjadinya peristiwa kerugian


terhadap obyek asuransi yang dipertanggungkan, meliputi

7
klaim yang disetujui (settled claim), kali dalam proses
penyelesaian (outstanding claims), klaim yang terjadi
umumnya belum dilaporkan dan beban penyelesaian klaim
(claim settelment expenses), diakui sebagai beban klaim pada
saat timbulnya kewajiban untuk memenuhi klaim. Hak
subrogasi diakui sebagai pengurang beban klaim pada saat
realisasi. Jumlah klaim dalam penyelesaian, termasuk klaim
yang terjadi namun belum dilaporkan, ditentukan berdasarkan
estimasi kewajiban klaim tersebut. Perubahan jumlah estimasi
kewajiban klaim, sebagai akibat proses penelaahan lebih
lanjut dan perbedaan antara jumlah estimasi klaim dengan
klaim yang dibayarkan diakui dalam laporan laba rugi pada
periode terjadinya perubahan.

G. Penyajian Laporan Keuangan Neraca

Dalam penyajian Neraca, Aktiva, dan Kewajiban tidak


dikelompokkan berdasarkan lancar dan tidak lancar (unclassified),
tetapi mendahulukan kelompok akun investasi dan kelompok akun
kewajiban kepada tertanggung. Dengan demikian laporan keuangan
menggambarkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi
kewajibannya kepada tertanggung.

Aktiva disajikan dengan menempatkan akun investasi pada


urutan pertama diikuti akun-akun aktiva yang lain disajikan
berdasarkan urutan likuiditas. Sedangkan kewajiban disajikan dengan
menempatkan akun kewajiban kepada tertanggung pada urutan
pertama dan diikuti oleh akun-akun kewajiban yang lain dan sebelum
ekuitas.

H. Laporan Laba Rugi

8
Laporan laba rugi disajikan dalam bentuk multiple step.
Pendapatan premi disajikan sedemikian rupa sehingga menunjukkan
jumlah premi bruto, premi asuransi, dan kenaikan (penurunan) premi
yang belum merupakan pendapatan. Premi asuransi disajikan sebagai
pengurangan premi bruto. Bagian reasuradur atas klaim yang akan
disetujui dan atau dibayar, dan estimasi bagian reasuradur atas klaim
dalam proses penyelesaian, termasuk klaim yang terjadi namun belum
dilaporkan, disajikan sebagai pengurang beban klaim. Komisi yang
diperoleh dari transaksi reasuransi merupakan pengurang beban
komisi. Dalam hal jumlah komisi yang diperoleh lebih besar dari
jumlah beban komisi, maka selisih tersebut disajikan sebagai
pendapatan dalam laporan laba rugi.

I. Catatan Atas Laporan Keuangan

Catatan atas laporan keuangan meliputi pengungkapan


sebagaimana ditentukan dalam prinsip akuntansi yang berlaku umum,
kecuali dinyatakan lain seperti yang ditentukan dalam paragaraf 45
PSAK No. 28.

9
J. Perbedaan Asuransi Syariah dengan Asuransi Konvensional dari
Berbagai Aspek

Konsep

Asuransi konvensional adalah perjanjian antara dua pihak atau


lebih, dimana pihak penanggung mengikatkan diri kepada
tertanggung dengan menerima premi asuransi untuk memberikan
pergantian kepada tertanggung. Sedangkan asuransi syariah adalah
sekumpulan orang yang saling membantu, saling manjamin, dan
bekerjasama dengan cara masing-masing mengeluarkan dana
tabbaru.

Asal usul

Asuransi konvensional berasal dari masyarakat Babilonia


4000-3000SM yang dikenal dengan perjanjian Hammurabi. Dan
tahun 1668 M di Coffe House London berdirilah Lloyd of London
sebagai cikal bakal asuransi konvensional. Sedangkan konsep
asuransi syariah bersal dari kebiasaan suku arab jauh sebelum Islam
datang yang disebut Al Aqilah

Sumber Hukum

Asuransi Konvensional bersumber dari pemikiran manusia dan


kebudayaan. Berdasarkan hukum positif, hukum alamiah, dan
contoh sebelumnya. Sedangkan asuransi syariah bersumber dari
wahyu ilahi.

Sumber hukum dalam syariat Islam yaitu Al Quran, Sunnah,


Ijma, Fatwa sahabat, Istishan, Tradisi, dan Mashalih Murshalah.

Maisir, gharar, dan riba

10
Dalam paraktik Asuransi konvensional sarat dengan maisir,
gharar dan riba yang merupakan hal yang duharamkan dalam
muamalah.

Sedangkan dalam asuransi syariah bebas dari praktik-praktik


tersebut.

Dewan Pengawas Syariah

Asuransi Konvensional tidak memiliki Dewan Pengawas


Syariah. Lain halnya dengan Asuransi Syariah yang mutlak
memerlukan keberadaan DPS yang berfungsi sebagai pengawas
pelaksanaan operasional perusahaan agar terbebas dari praktik-
praktik muamalah yang bertentangan dengan prinsip syariah.

Akad

Akad yang digunakan oleh Asuransi Konvensional adalah akad


jual beli. Sedangkan akad yang digunakan dalam asuransi syariah
adalah akad tabbaru dan akad tijaroh (yang bertujuan komersil).

Jaminan

Sifat jaminan dalam asuransi konvensioanl adalah transfer of


risk dimana terjadi transfer risiko dari tertanggung kepada
penanggung. Hal ini sangat berbeda dengan asuransi syariah yang
sifat jaminanny adalah sharing risk, dimana terjadi proses saling
menanggung antara satu peserta dengan peserta yang lain
(taawun).

Pengelolaan dana

Karena akad yang digunakan hanya satu jenis maka tidak ada
pemisahan dana dalam asuransi konvensional. Sedangkan dalam
asuransi syariah terdapat pemisahan dana menjadi dua yaitu dana
tabbaru dan dana investasi.

11
Investasi

Dalam melakukan kegiatan operasionalnya asuransi


konvensional tidak perlu berpedoman terhadap prinsip syariah
karena itu asuransi konvensional bebas melakukan investasi dalam
batas batas ketentuan undang-undang dan tidak dibatasi pada
halal dan haramnya obyek dan system investasi yang digunakan.
Sedangkan asuransi syariah dapat melakukan investasi sesuai
dengan undang-undang sepanjang tidak bertentangan dengan
prinsip syariah, bebas dari riba dan tidak menyentuh tempat-tempat
investasi terlarang.

Kepemilikan dana

Dana yang terkumpul dari premi peserta pada asuransi


konvensional seluruhnya menjadi milik perusahaan sedangkan
dalam asuransi syariah dana yang terkumpul merupakan milik
peserta (shohibul maal), perusahaan hanya sebagai pemegang
amanah (mudhorib) dalam mengelola dana tersebut.

Unsur Premi

Dalam asuransi konvensional, unsur preminya terdiri dari


table mortalita, bunga dan biaya-biaya asuransi. Sedangkan dalam
asuransi syariah unsur perminya terdiri dari iuran atau kontribusi
yang terdiri dari dana tabbaru dan tabungan yang tidak
mengandung unsur riba.

Loading

Loading pada asuransi konvensional cukup besar terutama


diperuntukkan untuk komisi agen. Sedangkan pada asuransi syariah
loading tidak dibebankan pada peserta tapi dari dana pemegang
saham.

12
Sumber pemabayaran klaim

Untuk pembayaran klaim kepada tertanggung, asuransi


konvensional menggunakan sumber pembayaran dari
rekeningperusahaan sebagai konsekuensi penanggung terhadap
tertanggung. Sedangkan dalam asuransi syariah sumber
pembayaran diperoleh dari dana tabbaru dimana peserta saling
menanggung.

Sistem Akuntansi

SIistem akuntansi pada suransi konvensional menggunakan


accrual basic sedangkan dalam asuransi syariah menggunakan cash
basic.

Keuntungan

Keuntungan yang diperoleh perusahaan asuransi konvensional


berasal dari surplus underwriting, komisi reasuransi, dan hasil
seluruh investasi perusahaan. Sedangkan dalam asuransi syariah
keuntungan yang diperoleh dari surplus underwriting, komisi
reasuransi, dan hasil seluruh investasi perusahaan bukan
seluruhnya milikperusahaan tapi dilakukan bagi hasil dengan
peserta.

Misi dan Visi

Asuransi konvensional hanya mengamban misi sosisl dan


ekonomi sedangkan asuransi syariah selain mengemban misi
ekonomi juga membawa misi aqidah, misi ibadah, dan misi
pemberdayaan masyarakat

Tidak Ada Dana Hangus

Pada asuransi konvensional dikenal dana hangus, dimana


peserta tidak dapat melanjutkan pembayaran premi dan ingin

13
mengundurkan diri sebelum masa jatuh tempo. Begitu pula dengan
asuransi jiwa konvensional non-saving (tidak mengandung unsur
tabungan) atau asuransi kerugian, jika habis msa kontrak dan tidak
terjadi klaim, maka premi asuransi yang sudah dibayarkan hangus
atau menjadi keuntungan perusahaan asuransi.

Dalam konsep asuransi syariah, mekanismenya tidak


mengenal dana hangus. Peserta yang baru masuk sekalipun karena
satu dan lain hal ingin mengundurkan diri, maka dana atau premi
yang sebelumnya sudah dibayarkan dapat diambil kembali kecuali
sebagian kecil saja yang sudah diniatkan untuk dana tabarru yang
tidak dapat diambil

14