You are on page 1of 11

EVALUASI POTENSI MATAAIR

UNTUK KEBUTUHAN AIR DOMESTIK


DI KECAMATAN CANGKRINGAN KABUPATEN SLEMAN
PASCA ERUPSI MERAPI 2010

Anastasia Erista Purnama Wardani


eristapw@gmail.com

Ig. L. Setyawan Purnama


setyapurna@ugm.ac.id

Abstract
Cangkringan represent the sub-district which is located at Merapi volcanic
slope, that has high potential water resource. Beside have high groundwater
resource, Cangkringan also has many springs. The research methods involves
measuring and field observation, instantional survey, and laboratory test. The
result of this research show that there are 20 springs in the study area, some of
them have discharge fluctuation after Merapi Eruption in 2010. Most of physical
quality and chemical quality of springs meet to the standard water quality, but all
of the springs, except Umbul Lanang have microbiologycal quality exceed the
quality standards. Estimation for domestic purposes in research area is
737.794,37 m/year, it can fulfill by exploiting the springs.

Keywords: spring, water quantity, water quality, domestic purposes

Abstrak
Cangkringan merupakan kecamatan yang terletak di lereng Gunungapi
Merapi. Daerah ini memiliki potensi sumberdaya air yang besar, karena potensi
airtanahnya yang cukup baik. Selain itu, di daerah tersebut juga ditemukan
banyak mataair. Metode penelitian yang digunakan meliputi metode survei, baik
survei lapangan maupun survei instansional, dan uji laboratorium. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa terdapat 20 mataair yang ditemukan di daerah
penelitian, beberapa mataair mengalami perubahan debit setelah terjadi erupsi
Merapi pada tahun 2010. Ditinjau dari parameter fisik dan kimia, sebagian besar
mataair di daerah penelitian masih memenuhi baku mutu. Akan tetapi untuk
parameter mikrobiologi (Koliform total) hampir semua sampel melebihi standar
baku mutu, kecuali untuk Umbul Lanang. Estimasi kebutuhan air domestik di
daerah penelitian sebesar 737.794,37 m/tahun, kebutuhan air domestik tersebut
dapat dipenuhi dengan memanfaatkan mataair yang ada di daerah penelitian.

Kata kunci: mataair, kuantitas air, kualitas air, kebutuhan air domestik

299
yang lalu memberikan pengaruh
PENDAHULUAN terhadap keterdapatan dan kondisi
Sumber air yang biasa mataair di Kecamatan Cangkringan,
digunakan manusia untuk memenuhi baik dari segi kuantitas maupun
kebutuhan airnya adalah air hujan, air kualitasnya
permukaan, dan airtanah. Diantara Tujuan penelitian ini adalah
ketiga sumber air tersebut, airtanah mengidentifikasi keterdapatan mataair
memiliki keunggulan tersendiri, yaitu di Kecamatan Cangkringan pasca
kualitasnya relatif lebih baik erupsi Merapi 2010, mengetahui
dibandingkan air permukaan dan tidak kuantitas dan kualitas mataair di
terpengaruh musim, cadangan airtanah Kecamatan Cangkringan pasca erupsi
lebih besar, dan mudah diperoleh Merapi 2010, mengetahui kesesuaian
(Trafis, 1977; dalam Sudarmadji, kualitas mataair di Kecamatan
1990). Airtanah terkadang muncul ke Cangkringan terhadap baku mutu air
permukaan sebagai mataair. Mataair minum, dan mengevaluasi potensi
adalah pemusatan pengeluaran mataair untuk memenuhi kebutuhan
airtanah yang muncul di permukaan air domestik penduduk di Kecamatan
tanah sebagai arus dari aliran air Cangkringan.
(Todd, 1980). Mataair muncul ke Keadaan mataair sangat bervariasi.
permukaan dengan sendirinya tanpa Menurut Tolman (1937), faktor-faktor
adanya pemompaan. Banyak yang mempengaruhi keadaan mataair
penduduk yang memanfaatkan mataair adalah: curah hujan; karakteristik
sebagai sumber air karena airnya hidrologi material permukaan tanah,
merupakan keluaran dari airtanah, terutama kelulusannya; topografi;
sehingga memiliki kualitas yang baik. karakteristik hidrologi akuifer; dan
Terutama penduduk di daerah struktur geologi.
pegunungan yang memiliki letak Informasi mengenai kuantitas dari
sumur sangat dalam karena letak suatu sumberdaya air dapat didekati
akuifer yang jauh di dalam tanah, dengan perhitungan debit, yang dapat
banyak mengandalkan air dari sumber memberikan gambaran potensi air dari
mataair sebagai pemenuhan sumberdaya air tersebut. Sedangkan
kebutuhannya akan air. untuk mengetahui kualitas dari suatu
Secara hidrologi, Kabupaten sumberdaya air dapat dilakukan
Sleman merupakan daerah yang dengan pengujian parameter fisik dan
memiliki potensi sebagai penyimpan kimia dari sampel air. Informasi
air, ditinjau dari segi geologi dan mengenai kuantitas dan kualitas
iklim. Salah satu potensi air yang sumberdaya air penting sebagai salah
besar di Kabupaten Sleman, satu tolak ukur dalam pemenuhan
khususnya Kecamatan Cangkringan kebutuhan air domestik.
adalah berasal dari mataair. Terdapat Kebutuhan domestik didefinisikan
banyak mataair di Kecamatan sebagai air untuk kebutuhan penduduk
Cangkringan. Erupsi Merapi pada secara individu, apartemen-apartemen,
bulan Oktober-November tahun 2010 rumah, dan untuk keperluan air

300
minum, mandi, memasak, menyiram kependudukan. Pengambilan sampel
halaman, dan untuk tujuan sanitasi dalam survei mataair dilakukan
(Sutikno, 1981). Kebutuhan air dengan metode sensus, sedangkan
domestik sangat ditentukan oleh untuk wawancara penduduk
jumlah penduduk dan konsumsi menggunakan metode purposive
perkapita. sampling. Analisis laboratorium
Erupsi Gunungapi Merapi yang dilakukan untuk mengetahui kondisi
terjadi pada tanggal 26 Oktober-05 fisik (warna, rasa, bau, DHL, suhu,
November 2010 termasuk dalam kekeruhan, dan TDS), kimia (pH, Na+,
siklus seratus tahunan yang K+, Ca2+, SO42, Fe, Mn2+, NH3-N,
menghasilkan letusan besar. Salah PO4-P, CN, NO3-, NO2-, Cl-, H2S, dan
satu akibat dari adanya erupsi tersebut HCO3-), dan mikrobiologi (Koliform
adalah terjadinya perubahan- total) masing-masing sampel mataair.
perubahan kondisi mataair (dari segi Analisis yang digunakan dalam
kuantitas maupun kualitas) di sekitar penelitian ini adalah analisis deskriptif
lereng Merapi, termasuk mataair di yang menjelaskan tentang kondisi
Kecamatan Cangkringan. Penting mataair dan analisis kuantitatif yang
untuk diketahui apakah kondisi dilakukan pada data hasil survei
kuantitas dan kualitas mataair di lapangan. Selain itu juga dilakukan
Kecamatan Cangkringan masih dapat analisis komparatif untuk mengetahui
dimanfaatkan oleh penduduk atau perbandingan kualitas mataair di
tidak, terutama mengingat bahwa air daerah penelitian dengan standar baku
merupakan komponen yang sangat mutu air minum dan membandingkan
penting dalam mendukung kehidupan potensi mataair dan kebutuhan air
manusia. domestik penduduk daerah penelitian.

METODE PENELITIAN HASIL DAN PEMBAHASAN


Metode penelitian yang dilakukan 1. Deskripsi Umum dan Persebaran
dalam penelitian ini adalah metode Mataair di Daerah Penelitian
survei yang didukung dengan data Terdapat beberapa mataair di
sekunder. Dalam perolehan Kecamatan Cangkringan yang
kelengkapan data ditempuh dengan berhasil diinventarisasi dalam
survei lapangan, survei instansional, penelitian ini, yaitu sejumlah 20
dan analisis laboratorium. Survei matair yang terdapat di semua
lapangan dilakukan dengan desa di Kecamatan Cangkringan,
pengukuran debit, pengamatan dan kecuali di Desa Kepuharjo.
pengukuran kondisi fisik dan kimia Mataair terbanyak terdapat di
mataair, pemetaan lokasi mataair, dan Desa Argomulyo, yaitu sepuluh
wawancara penduduk. Survei mataair. Untuk Desa Wukirsari
instansional dilakukan untuk terdapat lima mataair, Desa
mendapatkan informasi mengenai Umbulharjo terdapat dua mataair,
wilayah dan mataair-mataair yang dan di Desa Glagaharjo
akan diteliti juga memperoleh data ditemukan satu mataair.

301
Informasi mengenai mataair- Gunungapi Merapi hingga jalur
mataair yang diamati pada Pakem-Cangkringan. Materi
penelitian ini disajikan dalam penyusunnya berupa endapan
peta persebaran mataair di daerah lahar yang lepas dengan material
penelitian pada Lampiran 1. pasir, kerakal, dan boulder,
Akibat terjadinya erupsi bagian bawahnya dialasi oleh
Merapi pada tahun 2010 yang aliran lava. Akuifer Volkan
lalu beberapa mataair menjadi Merapi Bagian Tengah meliputi
mati atau tidak lagi mengeluarkan jalur Pakem-Cangkringan ke
air. Selain itu, juga terjadi selatan Kota Yogyakarta.
perubahan debit pada beberapa Material utamanya adalah pasir
mataair yang lain. Hal ini diduga dan kerakal dengan ketebalan
karena erupsi menyebabkan akuifer mencapai 100 meter atau
terjadinya perubahan struktur lebih. Dasar dari akuifer berupa
geologi di daerah penelitian. aliran lava volkan Merapi.
Susunan batuan pada kedua
2. Klasifikasi Mataair satuan tersebut memungkinkan
terbentuknya akuifer yang baik,
Penelitian ini mengamati
karena dapat menyimpan dan
mataair berdasarkan besarnya
melalukan air dengan jumlah
debit dan sifat pengaliran. Dari
yang cukup, sehingga memiliki
kedua klasifikasi tersebut,
potensi airtanah yang cukup baik
kuantitas mataair dapat diketahui.
pula.
Besar debit antara satu
Faktor-faktor yang ada akan
mataair dengan mataair lain
saling berpengaruh satu sama lain
berbeda-beda, karena adanya
dan menyebabkan perbedaan
faktor-faktor yang berpengaruh
debit pada masing-masing
pada mataair, seperti faktor iklim
mataair. Besarnya kelas debit
(berhubungan dengan curah hujan
dapat diklasifikasikan
yang akan mempengaruhi
berdasarkan klasifikasi Meinzer.
besarnya imbuh dan luas daerah
Peta kelas debit mataair di daerah
imbuh), kelulusan dan kesarangan
penelitian disajikan pada
batuan (berhubungan dengan
Lampiran 2.
litologi dan struktur geologi),
Mataair di daerah penelitian
kemiringan lereng, karakteristik
dengan debit terbesar adalah
akuifer, dan struktur geologi.
Umbul Wadon, yang terletak di
Berdasarkan kondisi geologi
Desa Umbulharjo dengan debit
dan gemorfologinya, Kecamatan
sebesar 1411,5 liter/detik.
Cangkringan memiliki dua satuan
Mataair ini memiliki debit yang
utama, yaitu Satuan Akuifer
besar didukung oleh curah hujan
Volkan Merapi Bagian Atas dan
yang cukup besar dan letak
Satuan Akuifer Volkan Merapi
mataair yang berada pada titik
Bagian Tengah. Untuk Bagian
perubahan lereng yang sangat
atas, meliputi wilayah puncak
302
curam, letaknya adalah pada Karmono dan Cahyono (1978)
lembah Sungai Kuning yang menyebutkan bahwa kualitas air
dikelilingi oleh tebing-tebing adalah besaran-besaran yang
tinggi, sehingga memungkinkan menunjukkan secara spesifik
mataair tersebut memiliki karakteristik suatu jenis air.
pasokan airtanah yang besar dari Perbedaan kualitas antara satu
daerah di sekelilingnya. Untuk sumber air dengan sumber air
mataair dengan debit terkecil lainnya, disebabkan oleh
adalah Mataair Sumber Waras beberapa faktor yang meliputi:
yang terletak di Desa Wukirsari. (1) faktor alam, yaitu iklim,
Mataair ini dikelilingi oleh geologi, tanah, vegetasi, dan
permukiman warga, yang waktu; (2) faktor buatan, yaitu
berpengaruh terhadap pasokan pupuk dan limbah pertanian,
airtanah untuk mataair ini. insektisida dan pestisida, limbah
Karena sebagian warga memiliki domestik/limbah rumah tangga
sumurnya masing-masing, maka serta limbah industri.
pasokan airtanah untuk mataair Kualitas air dapat dinyatakan
menjadi berkurang.. dalam parameter fisik, kimia, dan
Tolman (1937) membagi mikrobiologi. Pengukuran
mataair berdasarkan sifat kualitas fisik, kimia, dan
pengaliran, yaitu mataair tahunan mikrobiologi mataair dilakukan
(perenial springs), mataair pada sepuluh mataair yang
musiman (intermittent springs), dijadikan sebagai sampel
dan mataair periodik (periodic pengamatan.
springs). Mataair di daerah Beberapa parameter fisik
penelitian termasuk dalam mataair dapat diukur di lapangan,
mataair perenial, yaitu mataair seperti rasa, bau, DHL, dan suhu.
yang mengalir sepanjang tahun Akan tetapi parameter seperti
dan tidak tergantung musim. warna, kekeruhan, dan TDS harus
Akan tetapi, pada mataair-mataair melalui uji di laboratorium.
tersebut terjadi pengurangan debit Lampiran 4 menyajikan informasi
saat musim kemarau tiba. mengenai kualitas fisik pada
sampel mataair.
3. Kualitas Fisik, Kimia, Kualitas kimia mataair
Mikrobiologi Mataair, dan diketahui dengan mengamati
Perbandingannya dengan Baku kandungan unsur-unsur kimia
Mutu untuk Air Minum dalam sampel air. Salah satu
Kualitas dari suatu sumber air faktor yang dapat mempengaruhi
juga perlu diperhatikan selain kualitas kimia air adalah jenis
dari segi kuantitasnya, karena batuan dan tanah yang dilewati
kualitas air dapat dijadikan oleh air tersebut. Dalam
sebagai bahan pertimbangan penelitian ini pengamatan
pemanfaatan sumber air. kualitas kimia dilakukan terhadap

303
pH dan beberapa unsur, antara faktor internal dan eksternal.
lain bikarbonat (HCO3-), unsur Faktor internal merupakan faktor
mayor (Na+, K+, Ca2+, SO42-, dan dari setiap individu, yang
Cl-), unsur minor (Fe, Mn2+), ion berkaitan dengan kebiasaan
renik (CN), NH3-N (amoniak individu dalam menggunakan air.
bebas), PO4-P (fosfat), NO3- Faktor eksternal meliputi iklim,
(nitrat), NO2- (nitrit), dan H2S kondisi sosial, ekonomi, budaya,
(sulfida). Hasil pengukuran dan lingkungan, dan tempat tinggal.
perhitungan laboratorium Pengolahan data hasil
disajikan pada Lampiran 6. kuesioner menunjukkan bahwa
Bakteri terdapat di berbagai rata-rata kebutuhan air domestik
tempat, di dalam tanah, air, dan di di daerah penelitian adalah
udara. Jumlah bakteri yang sebesar 68,62 liter/orang/hari.
terdapat di suatu tempat Menurut standar kebutuhan air
bergantung pada persediaan domestik Direktorat Tata Kota
bahan makanan, kelembaban, dan dan Tata Daerah (1983 dalam
temperatur udara sekitarnya. Suyono dkk., 2001), maka daerah
Bakteri Coliform Total penelitian termasuk dalam
merupakan semua jenis bakteri kategori perdesaan. Untuk total
aerobik, anaerobik, dan rod-shape kebutuhan individu dalam satu
(bakteri batang) yang dapat tahun sebesar 25.044,79
memfermentasi laktosa dan liter/orang/tahun atau 25,04
menghasilkan gas dalam waktu m/orang/tahun, dengan estimasi
48 jam pada suhu 35 C. Secara bahwa satu tahun terdiri dari 365
laboratoris, Coliform Total hari. Faktor yang mempengaruhi
digunakan sebagai indikator besar kebutuhan air domestik
adanya pencemaran air bersih adalah keadaan topografi di
oleh tinja manusia atau hewan. daerah penelitian yang berbukit
Selain itu, Coliform Total juga dan bergunung yang langka
dapat bersumber dari tanah. airtanah di beberapa tempat, dan
Lampiran 5. menyajikan data kondisi sosial ekonomi penduduk.
hasil uji total coliform di Perkiraan kebutuhan air
laboratorium. domestik individu dalam satu
tahun tersebut kemudian
4. Ketersediaan Air Mataair digunakan untuk menghitung
Dibandingkan dengan total kebutuhan air domestik
Kebutuhan Air Domestik seluruh penduduk di Kecamatan
Penduduk Cangkringan dalam satu tahun.
Kebutuhan air domestik setiap Hasil yang diperoleh dari
individu berbeda, baik menurut perhitungan yaitu sebesar
ruang maupun waktu. Kebutuhan 737.794,37 m/tahun.
air domestik sangat dipengaruhi Data debit sesaat dari setiap
oleh beberapa faktor, meliputi mataair kemudian digunakan

304
untuk menentukan potensi kecuali untuk Umbul Lanang, karena
mataair yang ada di daerah mengandung total coliform > 0
penelitian. Perhitungan JPT/100 mL. Beberapa mataair
menunjukkan bahwa dalam satu memiliki kualitas yang cukup baik
tahun mataair yang ada di dibandingkan mataair yang lain, yaitu
Kecamatan Cangkringan dapat Umbul Lanang, Umbul Kesanga
menghasilkan debit sesaat sebesar Timur, dan Umbul Sambisari,
126.460.842 m/tahun. walaupun untuk parameter seperti pH,
Kebutuhan air domestik Fosfat, dan Total Coliform sedikit
penduduk dapat dipenuhi dengan melebihi baku mutu.
mengandalkan mataair yang ada Berdasarkan kuantitasnya, mataair
di daerah penelitian, karena nilai di daerah penelitian dapat digunakan
debit dari setiap mataair jauh untuk mencukupi kebutuhan air
melebihi nilai kebutuhan air domestik penduduk. Karena
domestiknya. Oleh karena itu, kebutuhan air domestik penduduk
mataair di daerah penelitian dapat jauh di bawah estimasi debit sesaat
digunakan sebagai alternatif mataair, kebutuhan domestik
dalam pemenuhan kebutuhan air penduduk di Kecamatan Cangkringan
domestik masyarakat setempat. adalah sebesar 737.794,37 m/tahun,
sedangkan debit sesaat yaitu sebesar
KESIMPULAN 126.460.842 m/tahun.

Ditemukan adanya 20 mataair yang DAFTAR PUSTAKA


tersebar di Kecamatan Cangkringan,
Effendi, H. 2003. Telaah Kualitas Air:
semua mataair berada pada Formasi
Bagi Pengelolaan Sumber Daya
Endapan Gunung Merapi Tua (Qmo)
dan Lingkungan Perairan.
dan memiliki sifat pengaliran tahunan
Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
(perennial springs). Mataair di daerah
Handayani, S. 2010. Studi Kuantitas
penelitian termasuk dalam kelas debit
dan Kualitas Mataair untuk
II, IV, V, dan VI menurut Meinzer,
Kebutuhan Domestik di
paling banyak adalah pada kelas V,
Kecamatan Patuk Kabupaten
yaitu sebanyak enam mataair. Sebagai
Gunung Kidul. Skripsi.
dampak dari erupsi Merapi yang
Yogyakarta: Fakultas Geografi
terjadi pada tahun 2010 lalu, terdapat
Universitas Gadjah Mada.
beberapa mataair yang mengalami
Karmono, Cahyono, J. 1978.
perubahan debit, baik bertambah
Pengantar Penentuan Kwalitas
maupun berkurang debitnya.
Air. Yogyakarta: Laboratorium
Ditinjau dari parameter fisik dan
Hidrologi Fakultas Geografi Sato,
kimia, sebagian besar mataair di
Universitas Gadjah Mada. N
daerah penelitian masih memenuhi
Peraturan Menteri Kesehatan Ch
baku mutu, akan tetapi untuk
Republik Indonesia No. w
parameter biologi hampir semua
492/MENKES/PER/IV/2010 M
sampel melebihi standar baku mutu,
an
ha
305
Sutikn
Re
Pu
tentang Persyaratan Kualitas Air
Minum.
Purnama, I. S. 2000. Bahan Ajar
Geohidrologi. Yogyakarta:
Fakultas Geografi Universitas
Gadjah Mada.

306
Lampiran 1. Peta Persebaran Mataair di Kecamatan Cangkringan Lampiran 2. Peta Kelas Debit Mataair

307
Lampiran 3. Kualitas Fisik Mataair
DHL Suh TDS
Nama Warna Kekeruhan
Desa (mhos/cm u Rasa Bau (mg/L
Mataair (Skala Pt Co) (Skala NTU)
) (C) )
Umbulharj
Umbul Lanang 195 20,9 1 Tidak Berasa Tidak Berbau 0,6 98
o
Kesanga Timur Wukirsari 214 25,3 1 Tidak Berasa Tidak Berbau 2 107
Ngaglik Wukirsari 246 26,5 22 Tidak Berasa Berbau 8 123
Sambisari Wukirsari 220 24,6 3 Tidak Berasa Tidak Berbau 3 110
Celeng Wukirsari 248 25,8 46 Tidak Berasa Berbau 19 124
Plupuh Wukirsari 239 25,4 7 Tidak Berasa Berbau 3 119
Sumber Waras Wukirsari 223 25,1 9 Berasa Berbau 1 132
Guling Glagaharjo 432 25,2 19 Berasa Berbau 1 253
Pancuran Argomulyo 203 25 1 Tidak Berasa Tidak Berbau 0,4 106
Jetis Utara Argomulyo 494 26 2 Tidak Berasa Tidak Berbau 02 310
Lampiran 4. Kualitas Mikrobiologi Mataair
Total Coliform
Nama Mataair Desa Penggunaan Lahan
(JPT/100 mL)
Umbul Lanang Umbulharjo Hutan Nihil
Kesanga Timur Wukirsari Permukiman 4x10
Ngaglik Wukirsari Sawah 7,5x10
Sambisari Wukirsari Kebun 4x10
Celeng Wukirsari Sawah 2,1x10
Plupuh Wukirsari Sawah 2,1x10
Sumber Waras Wukirsari Permukiman 1,5x10
Guling Glagaharjo Kebun 1,1x10
Pancuran Argomulyo Permukiman 1,5x10
Jetis Utara Argomulyo Sawah 3081,1x10
Sumber: Pengukuran dan Uji Laboratorium di Lapangan (2012)
Lampiran 5. Kualitas Kimia Mataair
Kandungan Unsur Kimia (mg/L)
Nama
Desa Formasi pH
Mataair Na
Ca+ K+ Cl- SO42- HCO3- Fe Mn2+ NH3-N PO4-P NO3- NO2- CN HS
+
Umbul Umbulharj
Lanang o Qmo 6,3 26,4 4 2,5 6 10 12,1 0,1 0,1 0,29 0,3 1 0,001 0,006 0,0085
Kesanga
Timur Wukirsari Qmo 6,0 38,7 6 5,2 9 6 9,8 0,1 0,01 0,3 0,3 2 0,0001 0,001 0,0027
Ngaglik Wukirsari Qmo 6,6 31,7 3 4,2 4 13 14,7 0,2 0,2 0,37 0,2 0,2 0,004 0,001 0,0001
Sambisari Wukirsari Qmo 6,0 33,4 5 4 8 10 9,8 0,05 0,05 0,33 0,2 8 0,0001 0,006 0,0011
Celeng Wukirsari Qmo 6,0 28,2 5 3,1 8 24 11 0,2 1 0,81 0,4 0,1 0,01 0,009 0,0021
Plupuh Wukirsari Qmo 6,5 33,4 4 4,1 6 12 15,9 0,3 0,6 0,4 0,1 0,2 0,003 0,009 0,0016
Sumber
Waras Wukirsari Qmo 6,6 33,4 4 10 7 19 136,9 0,2 0,0003 0,13 0,8 3 0,02 0,003 0,012
Guling Glagaharjo Qmo 5,9 77,4 12 11,5 19 103 214,7 0,3 0,2 0,11 0,7 1 0,02 0,001 0,002
Pancuran Argomulyo Qmo 5,8 26,4 12 9 19 22 118,1 0,3 0,0003 0,2 0,1 2 0,03 0,001 0,001
Jetis Utara Argomulyo Qmo 6,1 70,4 10 10 15 203 144,9 0,2 0,0003 0,24 0,4 1 0,02 0,001 0
Sumber: Pengukuran dan Uji Laboratorium di Lapangan (2012)

309