You are on page 1of 102
ANALISIS EFEKTIVITAS KELOMPOK USAHA BERSAMA SEBAGAI PROGRAM PEMBERDAYAAN RAKYAT MISKIN PERKOTAAN (Studi Kasus di Kecamatan

ANALISIS EFEKTIVITAS KELOMPOK USAHA BERSAMA SEBAGAI

PROGRAM PEMBERDAYAAN RAKYAT MISKIN PERKOTAAN

(Studi Kasus di Kecamatan Pesanggrahan, Jakarta Selatan)

Oleh:

MUTIARA PERTIWI

A14304025

Jakarta Selatan) Oleh: MUTIARA PERTIWI A14304025 PROGRAM STUDI EKONOMI PERTANIAN DAN SUMBERDAYA FAKULTAS

PROGRAM STUDI EKONOMI PERTANIAN DAN SUMBERDAYA

FAKULTAS PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2008

RINGKASAN MUTIARA PERTIWI. Analisis Efektivitas Kelompok Usaha Bersama Sebagai Program Pemberdayaan Rakyat Miskin

RINGKASAN

MUTIARA PERTIWI. Analisis Efektivitas Kelompok Usaha Bersama Sebagai Program Pemberdayaan Rakyat Miskin Perkotaan (Studi Kasus di Kecamatan Pesanggrahan, Jakarta Selatan). Dibawah bimbingan HERMANTO SIREGAR.

Kemiskinan merupakan masalah nasional yang kompleks. Bahkan jumlah orang miskin dalam beberapa tahun terakhir mengalami peningkatan. Peningkatan penduduk miskin juga terjadi di Jakarta, pada tahun 2005 terdapat 316.200 penduduk miskin dan meningkat pada tahun 2006 menjadi 407.100 penduduk miskin berdasarkan data diolah dari Susenas modul konsumsi 2005 dan 2006. Namun, pada tahun 2007 angka kemiskinan mengalami penurunan. Hal ini menimbulkan pertanyaan, program apa yang telah berhasil menurunkan jumlah penduduk miskin. Berdasarkan departemen sosial RI, saat ini pemerintah sedang menggalakkan program pemberdayaan masyarakat. Penelitian ini ingin mengetahui efektivitas suatu program kemiskinan di Jakarta, sehingga peneliti merujuk pada program pemberdayaan rakyat miskin perkotaan pada kegiatan kelompok usaha bersama (KUBE). Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan kemiskinan yang terjadi di Kecamatan Pesanggrahan, menganalisis efektivitas Kelompok Usaha Bersama (KUBE) dalam program penanggulangan kemiskinan yang telah dilakukan oleh pemerintah di Kecamatan Pesanggrahan dan faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan KUBE, merumuskan implikasi kebijakan atas pelaksanaan KUBE dalam program penanggulangan kemiskinan yang telah dijalankan. Penelitian ini dilakukan dengan pengambilan data selama bulan April sampai Juni 2008 di Kelurahan Ulujami dan Petukangan Utara, Kecamatan Pesanggrahan, Jakarta Selatan. Data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dengan melakukan wawancara dan pengisian kuisioner oleh 55 orang anggota KUBE yang berasal dari 6 KUBE, yang dipilih dengan metode accidental sampling. Data tersebut diolah dengan menggunakan program Minitab14 dan Eviews 4.1. Analisis efektivitas dilakukan dengan menggunakan uji beda mean dua sampel berpasangan, yaitu menganalisis selisih antara pendapatan sebelum dan setelah bergabung dengan KUBE. Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan KUBE dianalisis menggunakan model regresi berganda. Variabel bebas yang digunakan adalah pendidikan, pengalaman, pendampingan, dummy kedudukan, dan dummy kelompok. Variabel tak bebas yang diduga adalah pendapatan usaha KUBE. Pendapatan rata-rata penduduk miskin sebesar Rp 201.968 per kapita per bulan yang menunjukkan bahwa jumlah ini berada di bawah garis kemiskinan yaitu Rp 322.780 per kapita per bulan untuk wilayah Kotamadya Jakarta Selatan pada tahun 2006. Menurut jam kerja, penduduk miskin di Kecamatan Pesanggrahan rata-rata telah bekerja lebih dari 39 jam per minggu, sedangkan penduduk tidak miskin rata-rata bekerja lebih dari 74 jam per minggu. Hasil uji beda mean dua sampel berpasangan menghasilkan t-hitung sebesar 4,48 untuk RT miskin, 4,7 untuk RT tidak miskin dan 6,1 untuk keseluruhan. Hal ini menunjukkan bahwa t-hitung lebih besar dari t-tabel yang digunakan sehingga

dapat disimpulkan bahwa program KUBE secara kuantitatif efektif dalam meningkatkan pendapatan masyarakat. Hasil pendugaan

dapat disimpulkan bahwa program KUBE secara kuantitatif efektif dalam meningkatkan pendapatan masyarakat. Hasil pendugaan pendapatan usaha KUBE menunjukkan bahwa nilai koefisien determinasi (R-Sq) sebesar 67 persen dan nilai koefisien determinasi terkoreksi (R-Sq adj) sebesar 63,6 persen. Angka (R-Sq) tersebut menunjukkan bahwa 67 persen keragaman dari variabel tak bebas (pendapatan KUBE per individu) dapat diterangkan oleh variabel-variabel bebas yang digunakan dalam model. Hal ini bermakna bahwa model sudah baik. Hasil pendugaan model terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan KUBE menunjukkan bahwa variabel-variabel yang berpengaruh nyata pada taraf 95 persen terhadap pendapatan usaha secara individu adalah variabel pendampingan, dummy kedudukan dan dummy kelompok. Sedangkan variabel lain tidak berpengaruh nyata. Beberapa implikasi kebijakan yang dapat dipertimbangkan untuk mengurangi angka kemiskinan di Kecamatan Pesanggrahan, antara lain:

Peningkatan kreatifitas masyarakat dengan pelatihan-pelatihan; Memperbaiki pelaksanaan KUBE, program pemerintah yang dimulai dengan top-down seringkali hasilnya tidak optimal karena memaksakan suatu keadaan untuk diterima oleh masyarakat yang menerima bantuan; Meningkatkan monitoring pelaksanaan program, walaupun selama ini telah ada pendampingan namun tidak semua KUBE memperoleh pendampingan yang cukup. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemiskinan yang terjadi di Kecamatan Pesanggrahan disebabkan oleh jam kerja rumah tangga miskin yang relatif lebih rendah dibandingkan rumah tangga tidak miskin sehingga pendapatannya juga rendah. Program KUBE terbukti efektif dalam meningkatkan pendapatan masyarakat secara kuantitatif tetapi secara keseluruhan masih perlu dioptimalkan. Adanya pendampingan dan usaha yang dijalankan secara berkelompok meningkatkan pendapatan anggota KUBE. Berdasarkan hasil penelitian diatas, maka penulis dapat memberikan saran sebagai berikut: Pendampingan terhadap KUBE perlu ditingkatkan dan dikembangkan sehingga efektifitas KUBE dalam meningkatkan keterampilan para anggota menjadi lebih tinggi dan pada akhirnya dapat meningkatkan pendapatan sasarannya secara lebih besar; KUBE sebaiknya berhubungan baik dengan Lembaga Keuangan Mikro Sosial (LKMS) sehingga sinergi diantara dua lembaga ini dapat berkelanjutan dan berkembang, hal ini diharapkan sangat membantu KUBE dalam masalah keuangan dan kemitraan terhadap pihak luar; Perlu diteliti efektifitas beberapa program penanggulangan kemiskinan lainnya yang telah dilakukan oleh pemerintah sehingga dapat diketahui program mana yang memiliki pengaruh yang lebih besar dalam mengurangi angka kemiskinan dan dicari bentuk sinergi atau kombinasi diantaranya agar efektivitasnya dalam menanggulangi kemiskinan lebih tinggi lagi.

ANALISIS EFEKTIVITAS KELOMPOK USAHA BERSAMA SEBAGAI PROGRAM PEMBERDAYAAN RAKYAT MISKIN PERKOTAAN (Studi Kasus di Kecamatan

ANALISIS EFEKTIVITAS KELOMPOK USAHA BERSAMA SEBAGAI

PROGRAM PEMBERDAYAAN RAKYAT MISKIN PERKOTAAN

(Studi Kasus di Kecamatan Pesanggrahan, Jakarta Selatan)

Oleh:

MUTIARA PERTIWI

A14304025

Skripsi Sebagai Bagian Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pertanian

pada Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor

Pertanian pada Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor PROGRAM STUDI EKONOMI PERTANIAN DAN SUMBERDAYA FAKULTAS

PROGRAM STUDI EKONOMI PERTANIAN DAN SUMBERDAYA

FAKULTAS PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2008

Judul : Analisis Efektivitas Kelompok Usaha Bersama Sebagai Program Pemberdayaan Rakyat

Judul

: Analisis

Efektivitas

Kelompok

Usaha

Bersama

Sebagai

Program

Pemberdayaan

Rakyat

Miskin

Perkotaan

(Studi

Kasus di Kecamatan Pesanggrahan, Jakarta Selatan)

Nama Mahasiswa : Mutiara Pertiwi

NRP

Program Studi

: A14304025

: Ekonomi Pertanian dan Sumberdaya

Menyetujui,

Dosen Pembimbing

Prof. Dr. Ir. Hermanto Siregar, MEc NIP. 131803656

Dekan Fakultas Pertanian

Prof. Dr. Ir. Didy Sopandie, M. Agr NIP. 131124019

Tanggal Lulus:

PERNYATAAN DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI YANG BERJUDUL ”ANALISIS EFEKTIVITAS KELOMPOK USAHA

PERNYATAAN

DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI YANG BERJUDUL

”ANALISIS

EFEKTIVITAS

KELOMPOK

USAHA

BERSAMA

SEBAGAI

PROGRAM

PEMBERDAYAAN

RAKYAT

MISKIN

PERKOTAAN

(Studi

Kasus

di

Kecamatan

Pesanggrahan,

Jakarta

Selatan)”

BELUM

PERNAH

DIAJUKAN PADA PERGURUAN TINGGI LAIN ATAU LEMBAGA LAIN

MANAPUN

UNTUK

TUJUAN

MEMPEROLEH

GELAR

AKADEMIK

TERTENTU. SAYA JUGA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI INI BENAR-

BENAR HASIL KARYA SAYA.

Bogor,

Agustus 2008

Mutiara Pertiwi

A14304025

RIWAYAT HIDUP Penulis lahir di Jakarta, 25 Januari 1987 sebagai anak kedua dari tiga bersaudara

RIWAYAT HIDUP

Penulis lahir di Jakarta, 25 Januari 1987 sebagai anak kedua dari tiga

bersaudara pasangan Bambang Hermanto, Skom dan Umi Farida, Ssi. Penulis

menyelesaikan sekolah menengah atas pada SMUN 2 Ciputat pada tahun 2004.

Pada tahun yang sama, penulis diterima sebagai mahasiswa Program Studi

Ekonomi Pertanian dan Sumberdaya, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor

melalui jalur USMI (Undangan Seleksi Masuk IPB).

Selama menjadi mahasiswa penulis aktif dalam kegiatan kemahasiswaan,

menjadi anggota ICC (IPB Crisis Center) BEM KM IPB pada tahun 2004-2005,

menjadi

anggota

KOPMA

Perekonomian

pada

tahun

IPB,

menjadi

bagian

2006-2007.

Disamping

dari

BEM

kegiatan

A

Departemen

kemahasiswaan,

penulis juga aktif menjadi asisten MK. Ekonomi Umum selama empat semester.

KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telah memberi rahmat dan

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telah memberi

rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulisan skripsi ini yang berjudul “Analisis

Efektivitas Kelompok Usaha Bersama Sebagai Program Pemberdayaan Rakyat

Miskin Perkotaan (Studi Kasus di Kecamatan Pesanggrahan, Jakarta Selatan)”

dapat terselesaikan. Skripsi ini merupakan hasil laporan penelitian yang dilakukan

oleh penulis sebagai syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian pada

Program Studi Ekonomi Pertanian dan Sumberdaya, Fakultas Pertanian, Institut

Pertanian Bogor.

Penulis berusaha mengerjakan dan menyajikan skripsi ini dengan sebaik-

baiknya. Namun, penulis tetap mengharapkan kritik dan saran yang membangun

untuk

penelitian

selanjutnya.

Penulis

berharap

semoga

penelitian

ini

dapat

bermanfaat bagi semua pihak yang berkepentingan.

Bogor,

Agustus 2008

Mutiara Pertiwi

UCAPAN TERIMAKASIH Penulisan skripsi merupakan tahap akhir dari proses pendidikan yang dijalani oleh penulis di

UCAPAN TERIMAKASIH

Penulisan skripsi merupakan tahap akhir dari proses pendidikan yang dijalani

oleh penulis di Institut Pertanian Bogor. Dalam proses penulisan skripsi ini tidak

lepas dari kerjasama dan bantuan berbagai pihak. Pada kesempatan ini penulis

ingin mengucapkan terimakasih kepada :

1. Prof. Dr. Ir. Hermanto Siregar, MEc sebagai dosen pembimbing skripsi atas

masukan, arahan dan kerjasamanya selama penyusunan skripsi ini.

2. Ir.

Nindyantoro,

MSP

sebagai

dosen penguji utama

pada

sehingga skripsi ini dapat diselesaikan.

ujian skripsi

3. Tintin Sarianti, SP sebagai dosen penguji departemen pada ujian skripsi

sehingga skripsi ini dapat diselesaikan.

4. Bapak Yono selaku pihak LKMS dan ibu Yetty selaku pihak Kecamatan

urusan sosial serta warga Kelurahan Ulujami dan Kelurahan Petukangan

Utara atas kerjasamanya selama ini.

5. Kedua orang tua yang selalu memberi perhatian dan kasih sayangnya kepada

penulis.

6. Saudara-saudara dan semua keluarga yang selalu mendoakan.

7. Teman-teman seperjuangan (epse’41, pns, maharani, dan SMUN 2 Ciputat)

yang tak henti-hentinya memberi semangat, dukungan dan doa.

8. Dan pihak-pihak lain yang tidak bisa disebutkan satu per satu.

DAFTAR ISI   Halaman DAFTAR TABEL xii DAFTAR GAMBAR xiii DAFTAR LAMPIRAN xiv I. PENDAHULUAN

DAFTAR ISI

 

Halaman

DAFTAR TABEL

xii

DAFTAR GAMBAR

xiii

DAFTAR LAMPIRAN

xiv

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

1

1.2 Perumusan masalah

5

1.3 Tujuan Penelitian

6

1.4 Kegunaan penelitian

6

1.5 Keterbatasan Penelitian

7

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kemiskinan

8

2.2 Program Penanggulangan Kemiskinan

16

2.2.1 Program Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan (P2KP)

18

2.2.2 Kelompok Usaha Bersama (KUBE)

19

2.3 Efektivitas

24

2.4 Hasil Penelitian terdahulu

25

III.KERANGKA PEMIKIRAN

3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis

3.1.1 Analisis Regresi

29

3.1.2 Permasalahan OLS

31

3.2 Kerangka Pemikiran Operasional

35

IV. METODE PENELITIAN

4.1 Waktu dan Lokasi Penelitian

38

4.2 Jenis dan Sumber Data

38

4.3 Teknik Penarikan Sampel

38

4.4 Metode Analisis Data

4.4.1

Analisis Deskriptif

39

4.4.3

Analisis Regresi Berganda

40

4.4.3 Analisis Regresi Berganda 40   4.4.4 Model Analisis 41 4.4.5 Koefisien Determinasi (R 2 )
 

4.4.4 Model Analisis

41

4.4.5 Koefisien Determinasi (R 2 ) dan Adjusted R 2

42

4.4.6 Pengujian untuk Masing-masing Parameter Regresi

44

4.4.7 Pengujian Terhadap Model Penduga

45

4.4.8 Pengujian Terhadap Masalah Heteroskedastisitas

46

4.4.9 Pengujian Terhadap Masalah Multikolinearitas

48

4.5

Hipotesis Penelitian

50

V. GAMBARAN LOKASI PENELITIAN

5.1 Kondisi Kemiskinan Jakarta Selatan

51

5.2 Kondisi Fisik, Sosial, dan Ekonomi Kecamatan Pesanggrahan

52

 

5.2.1 Fasilitas Pendidikan

55

5.2.2 Fasilitas Kesehatan

55

5.3 Karakteristik Responden

56

5.4 Pelaksanaan KUBE di Kecamatan Pesanggrahan

58

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN

6.1 Kemiskinan di Kecamatan Pesanggrahan

62

6.2 Efektivitas Kelompok Usaha Bersama (KUBE)

63

6.3 Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Keberhasilan KUBE

 

6.3.1 Deskripsi Statistik Variabel-variabel Penelitian

65

6.3.2 Hasil dan Pembahasan Model Dugaan

68

6.4 Implikasi Kebijakan

71

VII.

KESIMPULAN DAN SARAN

7.1 Kesimpulan

73

 

7.2 Saran

74

DAFTAR PUSTAKA

75

LAMPIRAN

78

DAFTAR TABEL Nomor Halaman 1. Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin di Indonesia menurut Daerah, 1996

DAFTAR TABEL

Nomor

Halaman

1. Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin di Indonesia menurut Daerah, 1996 2007

2

2. Garis Kemiskinan, Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin Menurut Daerah, Maret 2006 Maret 2007

3

3. Persentase Penduduk Bekerja Menurut Provinsi/Kabupaten/Kota dan Jam Kerja per Minggu, 2006

5

4. Indikator Kemiskinan Pedesaan dan Perkotaan

15

5. Data dan Informasi Kemiskinan Tahun 2005 2006

52

6. Kepadatan Penduduk Kecamatan Pesanggrahan Menurut Kelurahan Tahun 2006

54

7. Jumlah Fasilitas Pendidikan Menurut Kelurahan Tahun 2006

55

8. Jumlah Fasilitas Kesehatan Menurut Kelurahan Tahun 2006

56

9. Variabel Sosial ekonomi Responden

57

10. Variabel Demografi Responden

58

11. Jenis dan Jumlah Bantuan Sarana KUBE Catering

60

12. Rata-rata Pendapatan dan Jam Kerja Penduduk Miskin dan Tidak Miskin di Kecamatan Pesanggrahan

62

13. Hasil Uji Beda Dua Mean Sampel Berpasangan Antara Pendapatan Sebelum dan Setelah Mengikuti KUBE

64

14. Jumlah Anggota KUBE berdasarkan Tingkat Pendidikan

66

15. Hasil Pendugaan faktor-faktor yang Mempengaruhi Pendapatan Individu Kelompok Usaha Bersama di Kecamatan Pesanggrahan

68

16. Matriks Korelasi

69

Nomor DAFTAR GAMBAR Halaman 1. Pola Penyaluran Dana Program 17 2. Strategi Penanggulangan Kamiskinan Melalui

Nomor

DAFTAR GAMBAR

Halaman

1. Pola Penyaluran Dana Program

17

2. Strategi Penanggulangan Kamiskinan Melalui Pemberdayaan Usaha Mikro

18

3. Alur Kerangka Pemikiran

37

4. Pendapatan RT Miskin Sebelum dan Setelah KUBE

63

5. Pendapatan RT Tidak Miskin Sebelum dan Setelah KUBE

64

Nomor DAFTAR LAMPIRAN Halaman 1. Garis Kemiskinan (Rp/Kap/Bln) Menurut Provinsi dan Daerah, Tahun 2005-2007 79

Nomor

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

1. Garis Kemiskinan (Rp/Kap/Bln) Menurut Provinsi dan Daerah, Tahun 2005-2007

79

2. Kuisioner Penelitian

80

3. Data dan Variabel-variabel Penelitian

82

4. Pendapatan RT Miskin Sebelum dan Setelah Mengikuti KUBE serta Pekerjaan Utama Responden Selain KUBE

85

5. Pendapatan RT Tidak Miskin Sebelum dan Setelah mengikuti KUBE serta Pekerjaan Utama Responden Selain KUBE

86

6. Hasil Pengolahan dengan Minitab 14

87

7. Hasil Pengolahan dengan Eviews 4.1

88

1.1 Latar Belakang

Reforma

agraria

yang

I. PENDAHULUAN

tidak

dijalankan

mengakibatkan

ketimpangan

kepemilikan dan pengelolaan atas sumber-sumber agraria. Hal ini menyebabkan

makin

tingginya

jumlah

buruh

migran,

pengangguran,

urbanisasi

dan

meningkatnya keluarga petani yang tidak memiliki lahan pertanian 1 .

Urbanisasi

merupakan

pilihan

yang

rasional

bagi

para

migran,

tetapi

urbanisasi tersebut akan menimbulkan masalah tenaga kerja, baik pengangguran

maupun setengah pengangguran, yang diikuti dengan meluasnya aktivitas sektor

informal

di

kota.

Menurut

Direktur

Institute

for

Democracy

&

Society

Empowerment (IDSE) Yogyakarta Hendrizal, hal ini akan mengakibatkan kualitas

hidup para migran menjadi minim, kebanyakan mereka hanya mampu hidup

secara subsistem dan kondisi ini akan menimbulkan gejala kemiskinan 2 .

Jakarta merupakan wilayah Ibukota negara yang merupakan pusat

beberapa

kegiatan

baik

ekonomi,

pariwisata

dan

pendidikan.

Daya

tarik

Jakarta

ini

merupakan salah satu faktor yang mendorong urbanisasi ke Jakarta meningkat dan

kemiskinan Jakarta terus bertambah.

Kemiskinan merupakan masalah nasional yang kompleks. Bahkan jumlah

orang miskin dalam beberapa tahun terakhir mengalami peningkatan seperti pada

Tabel 1. Peningkatan penduduk miskin juga terjadi di Jakarta, pada tahun 2005

terdapat 316.200 penduduk miskin dan meningkat pada tahun 2006 menjadi

1 Pandangan dan Sikap Politik Organisasi Rakyat di Indonesia terhadap International Conference on Agrian Reform and Rural Development (ICARRD). http://groups.google.co.id/group/eks- seminari/browse_thread/96a5ccc98578e37c. diakses 25 Agustus 2008.

2 Urbanisasi Pasca Mudik. http://chairulakhmad.wordpress.com/2007/11/15/urbanisasi-pasca- mudik/. diakses 12 April 2008.

Urbanisasi Pasca Mudik. http://chairulakhmad.wordpress.com/2007/11/15/urbanisasi-pasca- mudik/ . diakses 12 April 2008.
407.100 penduduk miskin berdasarkan data diolah dari Susenas modul konsumsi 2005 dan 2006. Tabel 1.

407.100 penduduk miskin berdasarkan data diolah dari Susenas modul konsumsi

2005 dan 2006.

Tabel 1. Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin di Indonesia menurut Daerah, 1996-2007

Tahun

Jumlah Penduduk Miskin (Juta)

Persentase Penduduk Miskin

Kota

Desa

Kota+Desa

Kota

Desa

Kota+Desa

1996

9,42

24,59

34,01

13,39

19,78

17,47

1998

17,60

31,90

49,50

21,92

25,72

24,23

1999

15,64

32,33

47,97

19,41

26,03

23,43

2000

12,30

26,40

38,70

14,60

22,38

19,14

2001

8,60

29,30

37,90

9,76

24,84

18,41

2002

13,30

25,10

38,40

14,46

21,10

18,20

2003

12,20

25,10

37,30

13,57

20,23

17,42

2004

11,40

24,80

36,10

12,13

20,11

16,66

2005

12,40

22,70

35,10

11,68

19,98

15,97

2006

14,49

24,81

39,30

13,47

21,81

17,75

2007

13,56

23,61

37,17

12,52

20,37

16,58

Sumber: Diolah dari data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas), 2007

Pemerintah telah banyak merumuskan program penanggulangan kemiskinan

bahkan

telah

terbentuk

suatu

Tim

Koordinasi

Penanggulangan

Kemiskinan

(TKPK) untuk menyelesaikan masalah kemiskinan ini. Kebanyakan program yang

telah dilaksanakan bukan merupakan program yang berkelanjutan dan hanya

membuka

akses

pangan

dan

kesehatan

pada

saat

tertentu

saja.

Program

penanggulangan kemiskinan diperlukan untuk dapat menunjang kelangsungan

hidup

penduduk

miskin

secara

berkelanjutan.

Berdasarkan

data

BPS

2007

mengenai garis kemiskinan dan jumlah orang miskin pada tahun 2007 telah

mengalami penurunan seperti pada Tabel 2.

Hal

ini

menimbulkan

pertanyaan,

program

apa

yang

telah

berhasil

menurunkan jumlah penduduk miskin. Berdasarkan departemen sosial RI, saat ini

pemerintah

sedang

menggalakkan

program

pemberdayaan

masyarakat.

Pemberdayaan ini dimaksudkan agar program yang dilakukan pemerintah saat ini dapat menunjang kehidupan penduduk miskin

Pemberdayaan ini dimaksudkan agar program yang dilakukan pemerintah saat ini

dapat menunjang kehidupan penduduk miskin secara berkelanjutan. Program

pokok dalam pemberdayaan fakir miskin dibagi menjadi dua bagian, yaitu

program

penanggulangan

kemiskinan

kronis

dan

program

penanggulangan

kemiskinan transient serta program terpadu pengembangan desa miskin/adopsi

desa miskin.

Tabel

2.

Garis

menurut Daerah, Maret 2006-Maret 2007

Kemiskinan,

Jumlah

dan

Persentase

Penduduk

Miskin

 

Garis Kemiskinan (Rp/Kapita/Bln)

Jumlah

Daerah/

Penduduk

Persentase

Tahun

Makanan

Bukan

Makanan

Total

Miskin

(Juta)

Penduduk

Miskin

Perkotaan

Maret 2006

126.163

48.127

174.290

14,49

13,47

Maret 2007

132.258

55.683

187.942

13,56

12,52

Perdesaan

Maret 2006

102.907

27.677

130.584

24,81

21,81

Maret 2007

116.265

30.572

146.837

23,61

20,37

Kota+Desa

Maret 2006

114.125

37.872

151.997

39,30

17,75

Maret 2007

123.992

42.704

166.697

37,17

16,58

Sumber: Diolah dari data Susenas Panel Maret 2006 dan Maret 2007

Program penanggulangan kemiskinan kronis terdiri dari pemberdayaan fakir

miskin di wilayah hutan kemasyarakatan, pemberdayaan fakir miskin di wilayah

perdesaan,

pemberdayaan

fakir

miskin

di

wilayah

sub

urban

(desa-kota),

pemberdayaan fakir miskin di wilayah perkotaan, pemberdayaan fakir miskin di

wilayah pesisir pantai, pemberdayaan fakir miskin di wilayah kepulauan terpencil,

pemberdayaan fakir miskin di wilayah perbatasan antar negara, pemberdayaan

fakir

miskin

di

wilayah

pertambangan

dan

industri.

Sedangkan

program

penanggulangan kemiskinan transient terdiri dari pemberdayaan fakir miskin eks

korban bencana alam, dan pemberdayaan fakir miskin eks bencana sosial (Depsos,

2005).

Penelitian ini ingin mengetahui efektivitas suatu program penanggulangan

kemiskinan di Jakarta, sehingga peneliti merujuk pada program pemberdayaan

fakir miskin perkotaan pada kegiatan Kelompok Usaha Bersama (KUBE). KUBE

merupakan kegiatan pengembangan usaha ekonomi produktif fakir miskin yang

ditujukan untuk meningkatkan motivasi untuk lebih maju, meningkatkan interaksi

dan kerjasama dalam kelompok, mendayagunakan potensi dan sumberdaya sosial

ekonomi lokal, memperkuat budaya kewirausahaan mengembangkan akses pasar,

melaksanakan usaha kesejahteraan sosial dan menjamin kemitraan sosial ekonomi

dengan berbagai pihak yang terkait.

KUBE di Jakarta mulai dilaksanakan pada tahun 2005 pada setiap kotamadya

dipilih satu Kecamatan sebagai daerah pelaksanaan. Dalam penelitian ini, Jakarta

selatan dipilih sebagai daerah penelitian berdasarkan data persentase penduduk

daerah penelitian berdasarkan data persentase penduduk bekerja menurut provinsi/kabupaten/kota seperti pada Tabel

bekerja menurut provinsi/kabupaten/kota seperti pada Tabel 3. Jakarta Selatan

memiliki persentase penduduk yang bekerja kurang dari 15 jam, 36 jam dan 42

jam relatif lebih banyak bila dibandingkan dengan wilayah lain.

Hingga

tahun

2007,

telah

terdapat

tiga

kecamatan

sebagai

tempat

pelaksanaan KUBE di Jakarta Selatan. Setiap tahunnya jumlah KUBE yang

dibentuk serta dana yang dialokasikan pada Lembaga Keuangan Mikro Sosial

(LKMS) berbeda-beda. Pada tahun 2005 hanya dibentuk 3 KUBE di Kecamatan

Kebayoran Lama, pada tahun 2006 telah dibentuk 40 KUBE di Kecamatan

Pesanggrahan dan pada tahun 2007 dibentuk 13 KUBE di Kecamatan Tebet.

Dalam penelitian ini akan dibahas KUBE yang dibentuk pada tahun 2006 dengan

pertimbangan bahwa KUBE yang dibentuk dalam jumlah yang cukup banyak.

Tabel 3. Persentase Penduduk Bekerja Menurut Provinsi/Kabupaten/Kota dan Jam Kerja per Minggu, 2006

Kode

Kabupaten/kota

< 42 jam

< 36 jam

< 15 jam

1

Kab.Adm. Kepulauan Seribu

18,66

8,24

0

71

Kota Jakarta Selatan

36,1

14,2

3,61

72

Kota Jakarta Timur

34,47

11,65

2,35

73

Kota Jakarta Pusat

30,55

12,55

1,93

74

Kota Jakarta Barat

30,13

12,73

2,01

75

Kota Jakarta Utara Provinsi DKI Jakarta

29,05

12,42

2,05

32,48

12,73

2,47

Sumber: BPS, 2007

1.2 Perumusan Masalah

Selama ini kemiskinan direduksi menjadi suatu rumusan teknis yang sempit.

Pengukuran kemiskinan yang hanya bertumpu pada indeks konsumsi beras telah

mengurangi konteks dan kompleksitas persoalan yang sebenarnya. Di sisi lain,

respon kebijakan juga simplitis yang hanya memberikan solusi kebijakan yang

bersifat umum. Seakan semua persoalan kemiskinan mempunyai latar belakang

yang seragam (KIKIS, 2000).

Dalam kenyataan, masing-masing wilayah memiliki penyebab kemiskinan

yang berbeda dengan daerah lainnya. Kemiskinan yang dimaksud dapat dinilai

dari berbagai konsep kemiskinan yang ada. Dalam hal ini perlu diketahui

bagaimana kemiskinan yang terjadi di kecamatan pesanggrahan berdasarkan

konsep kemiskinan absolut yang dianut oleh BPS?

Kemiskinan yang selalu menjadi masalah tahunan di Indonesia membuat

yang selalu menjadi masalah tahunan di Indonesia membuat pemerintah lebih serius dalam menangani masalah kemiskinan

pemerintah lebih serius dalam menangani masalah kemiskinan ini. Berbagai

departemen/instansi pemerintah telah merumuskan dan melaksanakan berbagai

program penanggulangan kemiskinan. Dana pemerintah yang dialokasikan untuk

penaggulangan

kemiskinan

juga

bukan

dana

yang

sedikit.

Tetapi

angka

kemiskinan yang terjadi tetap masih tinggi. Sehingga perlu diketahui bagaimana

efektivitas

dari

program

penanggulangan

kemiskinan

yang

dilakukan

oleh

pemerintah (dalam penelitian ini adalah KUBE yang dilaksanakan di Kecamatan

Pesanggrahan

pada

tahun

2006)?

keberhasilan suatu KUBE?

Serta

faktor

apa

yang

mempengaruhi

Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah untuk mengatasi masalah

kemiskinan yang terjadi khususnya di Ibukota. Berdasarkan hasil pengolahan data

yang

diperoleh,

bagaimana

rujukan

kebijakan selanjutnya?

1.3 Tujuan Penulisan

bagi

pemerintah

Tujuan dari penelitian ini sebagai berikut.

dalam

melaksanakan

1. Mendeskripsikan kemiskinan yang terjadi di Kecamatan Pesanggrahan.

2. Menganalisis efektivitas Kelompok Usaha Bersama (KUBE) dalam program

penanggulangan

kemiskinan

yang

telah

dilakukan

oleh

pemerintah

di

Kecamatan Pesanggrahan dan faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan

KUBE.

3.

Merumuskan implikasi kebijakan atas pelaksanaan KUBE dalam program

penanggulangan kemiskinan yang telah dijalankan.

1.4

Kegunaan Penelitian

Penelitian

ini

diharapkan

berguna

bagi

peneliti

terutama

dalam

ini diharapkan berguna bagi peneliti terutama dalam mengaplikasikan teori-teori yang telah diperoleh selama

mengaplikasikan teori-teori yang telah diperoleh selama kuliah dan sebagai

pengalaman yang berharga. Hasil penilitian ini diharapkan berguna bagi instansi

terkait (Walikota Jakarta Selatan, Departemen Sosial, Dinas Bina Spiritual dan

Kesejahteraan

Sosial

dan

Lembaga

Keuangan

Mikro

Sosial

Kecamatan

Pesanggrahan)

sebagai

acuan

dalam

perumusan

program-program

penanggulangan kemiskinan lebih lanjut. Serta berguna bagi mahasiswa sebagai bahan referensi penelitian berikutnya. 1.5

penanggulangan kemiskinan lebih lanjut. Serta berguna bagi mahasiswa sebagai

bahan referensi penelitian berikutnya.

1.5 Keterbatasan Penelitian

Penelitian ini menggunakan variabel pendidikan hanya berdasarkan lamanya

dalam

tahun

seorang

responden

memperoleh

pendidikan

formal,

belum

membedakan antara Sekolah Menengah Atas (SMA) dengan Sekolah Menengah

Kejuruan (SMK) yang memiliki lama tahun sekolah yang sama tetapi tingkat

keahlian atau pengetahuan atas suatu bidang usaha yang berbeda. Pengalaman

usaha yang digunakan merupakan pengalaman usaha yang luas dan belum

memperhitungkan keterkaitan usaha responden dengan usaha KUBE.

2.1 Kemiskinan II. TINJAUAN PUSTAKA Kemiskinan adalah kondisi sosial ekonomi warga masyarakat yang tidak mempunyai

2.1 Kemiskinan

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kemiskinan II. TINJAUAN PUSTAKA Kemiskinan adalah kondisi sosial ekonomi warga masyarakat yang tidak mempunyai

Kemiskinan adalah kondisi sosial ekonomi warga masyarakat yang tidak

mempunyai kemampuan dalam memenuhi kebutuhan pokok yang layak bagi

kemanusiaan. Sedangkan fakir miskin adalah orang yang sama sekali tidak

memiliki sumber mata pencarian dan tidak mempunyai kemampuan memenuhi

kebutuhan pokok yang layak bagi kemanusiaan atau orang yang mempunyai mata

pencaharian tetapi tidak dapat memenuhi kebutuhan pokok yang layak bagi

kemanusiaan (PP Nomor 42 Tahun 1981pasal 1 ayat (1)).

Kemiskinan adalah kondisi tidak terpenuhinya kebutuhan asasi atau essensial

sebagai manusia. Kebutuhan asasi ini meliputi kebutuhan akan substitensi, afeksi,

keamanan, identitas kultural, proteksi, kreasi, kebebasan, partisipasi, dan waktu

luang.

Dengan

adanya

kemiskinan

diantaranya.

kebutuhan

asasi

tersebut,

Kemiskinan

substitensi

terjadilah

berbagai

jenis

terjadi

karena

rendahnya

pendapatan, tak terpenuhinya kebutuhan akan sandang, pangan, papan serta

kebutuhan-kebutuhan dasar lainnya. Kemiskinan perlindungan terjadi karena

meluasnya budaya kekerasan atau tidak memadainya sistem perlindungan atas hak

dan kebutuhan dasar. Kemiskinan afeksi terjadi karena adanya bentuk-bentuk

penindasan, pola hubungan eksploitatif antara manusia dengan manusia dan antara

manusia dengan alam. Kemiskinan pemahaman terjadi karena kualitas pendidikan

yang rendah, selain faktor kuantitas yang tidak mampu memenuhi kebutuhan.

Kemiskinan partisipasi terjadi karena adanya diskriminasi dan peminggiran rakyat

dari

proses

pengambilan

keputusan.

Kemiskinan

identitas

terjadi

karena

karena adanya diskriminasi dan peminggiran rakyat dari proses pengambilan keputusan. Kemiskinan identitas terjadi karena
dipaksakannya nilai-nilai yang asing terhadap budaya lokal yang mengakibatkan hancurnya nilai sosio kultural yang ada

dipaksakannya nilai-nilai yang asing terhadap budaya lokal yang mengakibatkan

hancurnya nilai sosio kultural yang ada (KIKIS, 2000).

Chambers dalam Khairullah (2003) menyatakan kemiskinan yang disebut

kemiskinan mutlak sebagai kondisi hidup yang ditandai dengan kekurangan gizi,

tuna aksara, wabah penyakit, lingkungan kumuh, mortalitas bayi yang tinggi, dan

harapan hidup yang rendah. Kemiskinan merupakan keadaan yang kompleks dan

menyangkut banyak faktor yang saling terkait dan menyebabkan orang-orang

dalam kategori miskin tetap berada dalam perangkap ketidakberdayaan. Faktor

yang saling berkaitan tersebut seperti adanya pendapatan yang rendah, kelemahan

fisik, isolasi atau keterasingan, kerawanan, dan tidak memiliki kekuatan politik

dan tawar-menawar.

Ada tiga macam konsep kemiskinan yang paling sering dijadikan acuan

yakni: kemiskinan absolut, kemiskinan relatif, dan kemiskinan subyektif (Sunyoto

Usman, 2003). Kemiskinan absolut dirumuskan dengan membuat ukuran tertentu

yang konkret (a fixed yardstick). Ukuran itu lazimnya berorientasi pada kebutuhan

hidup minimum anggota masyarakat (sandang, pangan, dan papan). Konsep

kemiskinan relatif dirumuskan berdasarkan the idea if relative standart, yaitu

dengan memperlihatkan dimensi tempat dan waktu. Dasar asumsinya adalah

kemiskinan di suatu daerah berbeda dengan daerah lainnya, dan kemiskinan pada

waktu tertentu berbeda dengan waktu lain. Konsep kemiskinan semacam ini

lazimnya diukur berdasarkan pertimbangan (in terms of judgement) anggota

masyarakat tertentu, dengan berorientasi pada derajat kelayakan hidup. Sedangkan

kosep kemiskinan subyektif dirumuskan berdasarkan perasaan kelompok miskin

itu

sendiri.

Konsep

ini

tidak

mengenal

a

fixed

yardstick

dan

tidak

dirumuskan berdasarkan perasaan kelompok miskin itu sendiri. Konsep ini tidak mengenal a fixed yardstick dan tidak
memperhitungkan the idea of relative standard . Kelompok yang menurut kita berada dibawah garis kemiskinan

memperhitungkan the idea of relative standard. Kelompok yang menurut kita

berada dibawah garis kemiskinan boleh jadi tidak menganggap dirinya sendiri

miskin

dan

demikian pula

sebaliknya.

Oleh karena

itu

konsep

kemiskinan

semacam

ini

dianggap

lebih

tepat

apabila

dipergunakan

untuk

memahami

kemiskinan

dan

merumuskan

penanggulangannya.

cara

atau

strategi

yang

efektif

untuk

Emil Salim dalam Sumodiningrat (1999) mengemukakan sekurangnya ada

lima

ciri

penduduk

yang

hidup

dibawah

garis

kemiskinan.

Pertama,

pada

umumnya mereka tidak mempunyai faktor produksi seperti tanah, modal atau

keterampilan

sehingga

kemampuan

untuk

memperoleh

pendapatan

menjadi

terbatas. Kedua, mereka tidak memiliki kemungkinan untuk memperoleh aset

produksi dengan kekuatan sendiri. Ketiga, tingkat pendidikan mereka umumnya

rendah karena waktu mereka tersita untuk mencari nafkah dan untuk mendapatkan

penghasilan. Keempat, kebanyakan mereka tinggal di pedesaan. Kelima, mereka

yang hidup di kota masih berusia muda dan tidak didukung oleh keterampilan

yang memadai.

Sajogyo (1977) menggunakan hubungan tingkat pengeluaran rumah tangga

dengan ukuran kecukupan pangan dalam menetapkan garis kemiskinan. Tingkat

pengeluaran setara kurang dari 240 kg nilai tukar beras per kapita per tahun

tergolong miskin sekali dan tingkat pengeluaran setara kurang dari 180 kg nilai

tukar beras

per kapita per tahun tergolong paling miskin untuk pedesaan.

Sedangkan tingkat pengeluaran setara kurang dari 360 kg nilai tukar beras per

kapita per tahun tergolong miskin sekali dan tingkat pengeluaran setara kurang

dari 270 kg nilai tukar beras per kapita per tahun tergolong paling miskin untuk

dan tingkat pengeluaran setara kurang dari 270 kg nilai tukar beras per kapita per tahun tergolong
perkotaan. Adapun yang tergolong miskin adalah mereka yang mempunyai tingkat pengeluaran setara kurang dari 320

perkotaan. Adapun yang tergolong miskin adalah mereka yang mempunyai

tingkat pengeluaran setara kurang dari 320 kg nilai tukar beras per kapita per

tahun untuk pedesaan dan 480 kg nilai tukar beras per kapita per tahun untuk

perkotaan.

Sejak tahun 1976 Badan Pusat Statistik (BPS) membuat perkiraan jumlah

penduduk miskin (dibedakan antara wilayah perdesaan, perkotaan dan provinsi di

Indonesia) dengan berpatokan pada pengeluaran rumah tangga menurut data

SUSENAS (Survei

Sosial

Ekonomi

Nasional).

Penduduk miskin ditentukan

berdasarkan pengeluaran atas kebutuhan pokok, yang terdiri dari bahan makanan

maupun bukan makanan yang dianggap ’dasar’ dan diperlukan selama jangka

waktu tertentu agar dapat hidup secara layak. Dengan cara ini, maka kemiskinan

diukur sebagai tingkat konsumsi per kapita dibawah suatu standar tertentu yang

disebut sebagai garis kemiskinan. Mereka yang berada di bawah garis kemiskinan

tersebut dikategorikan sebagai miskin. Garis kemiskinan BPS menurut provinsi

dan daerah dapat dilihat pada Lampiran 1. Berdasarkan data tersebut dapat dilihat

bahwa gris kemiskinan untuk masing-masing daerah (kota dan desa) serta provinsi

berada pada tingkat yang berbeda-beda. Hal ini menunjukkan bahwa adanya

pengeluaran untuk kebutuhan pokok yang berbeda mungkin disebabkan oleh

kebutuhan yang berbeda atau harga yang berbeda untuk kebutuhan pokok yang

sama.

Menurut

Sen

(1999)

dalam

Siregar,

Wahyuniarti

dan

Achsani

(2007)

kemiskinan lebih terkait pada ketidakmampuan untuk mencapai standar hidup

tersebut dari pada apakah standar hidup tersebut tercapai atau tidak. Seseorang

dapat dikatakan miskin atau hidup dalam kemiskinan jika pendapatan atau

aksesnya terhadap barang dan jasa relatif rendah dibandingkan rata-rata orang lain dalam perekonomian tersebut. Secara

aksesnya terhadap barang dan jasa relatif rendah dibandingkan rata-rata orang lain

dalam

perekonomian

tersebut.

Secara

absolut,

seseorang

dinyatakan

miskin

apabila tingkat pendapatan atau standar hidupnya secara absolut berada di bawah

tingkat

subsisten.

Ukuran

subsistensi

tersebut

dapat

diproksi

dengan

garis

kemiskinan. Secara umum, kemiskinan adalah ketidakmampuan seseorang untuk

memenuhi kebutuhan dasar standar atas setiap aspek kehidupan.

Menurut

Muttaqien

(2005)

secara

umum

penyebab

kemiskinan

dapat

dianalisis dari akibat yang terjadi. Kemiskinan yang terjadi di perkotaan dan

pedesaan memiliki penyebab yang khas. Daerah pedesaan cenderung didominasi

lahan pertanian sehingga penyebab kemiskinan paling utama dapat diprediksi dari

sektor tersebut. Kurangnya pemerataan pembangunan saat ini turut memperparah

keadaan. Kemiskinan di perkotaan merupakan imbas dari kemiskinan di pedesaan

yang menyebabkan arus urbanisasi meningkat. Kemampuan kota yang terbatas

namun terus-menerus mendapat input dari pedesaan membuat daya dukung kota

melemah.

Puncaknya,

berbagai

pemukiman

kumuh

(slum),

pengangguran menjadi makin meningkat.

kriminalitas

dan

Kemiskinan yang terjadi di pedesaan menyebabkan kesejahteraan masyarakat

menjadi rendah. Pendapatan masyarakat yang rendah dan tingginya tingkat

pengangguran menyebabkan meningkatnya arus migrasi ke kota (urbanisasi). Hal

ini justru menimbulkan masalah baru di desa dan terutama di kota.

Secara umum kemiskinan di pedesaan disebabkan oleh:

Faktor pendidikan yang rendah.

Terjadinya ketimpangan kepemilikan lahan pertanian. Tanah pertanian hanya

dikuasai tuan tanah, sedangkan masyarakat miskin hanya menjadi buruh tani.

Tidak meratanya investasi dibidang pertanian. Rendahnya perhatian pemerintah dalam bidang pertanian. Selama ini bidang

Tidak meratanya investasi dibidang pertanian.

Rendahnya perhatian pemerintah dalam bidang pertanian. Selama ini bidang

pertanian selalu termarjinalkan. Pemerintah berorientasi pada pembangunan

sektor industri. Fondasi pertanian ternyata masih rapuh. Kebijakan pertanian

belum mendukung pertanian.

Kebijakan pembangunan bertumpu di kota. Arus lalu lintas uang dan barang

lebih besar terjadi di kota.

Budaya pemerintah yang buruk (bad governance). Hal ini berakibat pada

buruknya pelayanan pemerintah pada publik. Sistem birokrasi mejadi panjang

dan rumit.

Sistem pertanian yang masih menggunakan cara tradisional.

Tingkat kesehatan yang mengkhawatirkan.

Rendahnya produktivitas masyarakat dibidang pertanian.

Budaya masyarakat yang tidak disiplin, kurang suka bekerja keras, dan

cenderung agraris.

Beberapa hal yang menyebabkan terjadinya kemiskinan di perkotaan antara

lain:

Terjadinya arus urbanisasi besar-besaran dari desa. Migrasi yang besar tanpa

disertai peningkatan daya dukung kota akan menyebabkan efek negatif bagi

kota tersebut.

 

Tingkat

pendidikan

yang

rendah.

Semakin

rendah

tingkat

pendidikan

seseorang

maka

semakin

sulit

melakukan

mobilitas

vertikal

dalam

hal

pekerjaan dan peran dalam masyarakat.

 

Tingginya angka pengangguran, terutama pada usia produktif.

 
Penataan kota yang belum baik, meliputi sistem transportasi, pemukiman dan lain-lain. Regulasi atau peraturan yang

Penataan kota yang belum baik, meliputi sistem transportasi, pemukiman dan

lain-lain.

Regulasi atau peraturan yang kurang mendukung mulai dari sitem RTRW

(Rancangan Tata Ruang dan Wilayah) dan peraturan investasi yang kurang

mendukung.

 

Tata pemerintahan yang buruk (bad governance) sehingga pelayanan publik

(public service) menjadi buruk dan mendukung terjadinya Korupsi, Kolusi dan

Nepotisme (KKN).

 

Sistem perpolotikan yang tidak stabil, terutama terjadi di tingkat daerah.

 

Terjadinya ketidakadilan dalam pendapatan antara berbagai jenis pekerjaan

dan berbagai golongan.

 

Rencana

pembangunan

yang

belum

berpihak

kepada

rakyat

kecil

dan

cenderung ke arah konglomerasi.

 

Kebijakan otonomi daerah. Kemampuan tiap daerah berbeda. Daerah kaya

memiliki kemungkinan lebih besar membuat rakyatnya lebih sejahtera. Di

daerah miskin, berlaku hal sebaliknya.

Secara umum, kemiskinan di pedesaan dan di perkotaan memiliki faktor

penyebab yang hampir sama. Kemiskinan di pedesaan akan berimbas pada kota

melalui

urbanisasi.

Sebagian

besar

kemiskinan terjadi

di

pedesaan.

Namun

kemiskinan di perkotaan adalah hal yang paling mudah dipantau karena arus

informasi lebih baik daripada di pedesaan. Kemiskinan di wilayah pedesaan dan

perkotaaan dapat dijabarkan dalam indikator-indikator yang dapat diihat pada

Tabel 4.

Tabel 4. Indikator Kemiskinan Pedesaan dan Perkotaan Indikator Kemiskinan Pedesaan Indikator Kemiskinan Perkotaan

Tabel 4. Indikator Kemiskinan Pedesaan dan Perkotaan

Indikator Kemiskinan Pedesaan

Indikator Kemiskinan Perkotaan

Kurangnya kesempatan memiliki lahan pertanian. Pertanian merupakan mata usaha paling utama bagi penduduk pedesaan. Kurangnya modal bagi penduduk pedesaan. Arus uang di wilayah pedesaan tidak setinggi di kota. Hal ini wajar, mengingat secara umum kota lebih menggantungkan pada perdagangan dan perindustrian sehingga lalu lintas uang lebih besar daripada di desa yang menggantungkan hidup pada pertanian. Rendahnya tingkat pendapatan masyarakat desa. Terbatasnya lapangan pekerjaan, biasanya hanya menggantungkan pada pertanian dan kelautan. Rendahnya kualitas kesehatan masyarakat. Kurangnya kesempatan memperoleh kredit usaha. Kurangnya produktivitas usaha. Kurangnya pendidikan yang berkualitas. Kurang terpenuhinya kebutuhan dasar (sandang, pangan dan papan). Sistem pertanian masih bertumpu pada cara tradisional. Sistem Pemerintahan yang buruk (bad governance), terjadinya korupsi, kolusi dan nepotisme. Kurangnya akses akan informasi. Kurangnya akses mendapatkan air bersih. Lingkungan yang kurang mendukung, seperti kekeringan berkepanjangan. Kurangnya partisipasi rakyat dalam pengambilan keputusan publik pada tingkat yang lebih tinggi. Kurangnya budaya menabung, investasi dan disiplin dalam masyarakat.

Kurangnya kesempatan mendapatkan pekerjaan yang layak dan dapat memenuhi kehidupan yang standar. Kesempatan pendidikan yang kurang adil. Biasanya lebih didominasi kelompok kaya. Terjadinya ketimpangan pendapatan antara golongan kaya dan golongan miskin. Tata pemerintahan yang buruk (bad governance) menyebabkan lemahnya pelayanan kepada publik (public service) dan terjadinya korupsi, kolusi dan nepotisme. Kurang terpenuhinya kebutuhan dasar (sandang, pangan dan papan) yang memadai. Biasanya kemiskinan akan menimbulkan pemukiman kumuh (slum), kekurangan makanan akan menimbulkan tingkat kesehatan yang rendah dan rentan terhadap penyakit. Akses informasi yang kurang. Tingkat kriminalitas yang tinggi. Terbatasnya sumberdaya ekonomi strategis. Mereka akan menempati pekerjaan yang memiliki penghasilan rendah. Biasanya tersebar pada sektor informal. Kurangnya partisipasi dalam perpolitikan/pemerintahan menyebabkan kurang berperan dalam pengambilan keputusan publik. Sistem penataan kota yang kacau mulai dari perumahan, perkantoran, transportasi dan regulasi.

2.2 Program Penanggulangan Kemiskinan Masalah kemiskinan merupakan salah satu masalah penting yang harus ditanggulangi

2.2 Program Penanggulangan Kemiskinan

Masalah kemiskinan merupakan salah satu masalah penting yang harus

ditanggulangi oleh pemerintah sesuai dengan amanat Undang-Undang Dasar 1945

sebagaimana

tertuang

dalam

Pembukaan

UUD

1945,

yaitu

memajukan

kesejahteraan

umum

dengan

melakukan

pemberdayaan

masyarakat.

Sasaran

pemberdayaan

itu

adalah

terciptanya

manusia

Indonesia

seutuhnya

dan

masyarakat secara keseluruhan. Dalam sasaran jangka panjang kedua sasaran ini

ditegaskan kembali dengan menggaris bawahi terciptanya kualitas manusia dan

kualitas masyarakat Indonesia yang maju, moderen dan mandiri dalam suasana

tentram dan sejahtera lahir dan batin, dalam tata kehidupan masyarakat, bangsa

dan negara berdasarkan Pancasila (BPS, 2005).

Telah banyak dilakukan berbagai program untuk menanggulangi kemiskinan

yang

terjadi

di

Indonesia,

Sejahtera

(Prokesra)

untuk

diantaranya

program

terpadu

Program

Keluarga

Memantapkan

Program

Menghapus

Kemiskinan

(MPMK) yang dirancang oleh Menteri Negara Kependudukan/Badan Koordonasi

Keluarga Berencana Nasional pada tahun 1997, program pembangunan keluarga

sejahtera merupakan kelanjutan dari upaya membangun keluarga kecil yang

bahagia dan sejahtera yang dimulai pada tahun 1970, program Inpres Desa

Tertinggal (IDT) yang pelaksanaanya dikoordinasikan oleh Departemen Dalam

Negeri (Depdagri) yang bertujuan membantu 22,5 juta jiwa penduduk miskin,

Program Kesejahteraan Sosial (Prokesos) berperan dan memberikan sumbangan

kepada

penghapusan

kemiskinan

dan

program

pembangunan

keluarga

dan

penduduk melalui Kelompok Usaha Bersama (KUBE) serta upaya pengembangan

wilayah melalui Rehabilitasi Sosial Daerah Kumuh (RSDK).

Gambar 1. Pola Penyaluran Dana Program Terdapat paradigma baru dalam penanggulangan kemiskinan. Sasaran dalam paradigma

Gambar 1. Pola Penyaluran Dana Program

Terdapat paradigma baru dalam penanggulangan kemiskinan. Sasaran dalam

paradigma ini adalah pembangunan manusia, langkah-langkah yang digunakan

dalam

melakukan

perubahan

kerja/berusaha,

peningkatan

struktur

masyarakat

kapasitas/pendapatan,

antara

lain:

kesempatan

perlindungan

sosial/

antara lain: kesempatan perlindungan sosial/ kesejahteraan, dan yang menjadi fokus adalah penduduk miskin

kesejahteraan, dan yang menjadi fokus adalah penduduk miskin produktif pada

kisaran usia antara 15-55 tahun. Dalam paradigma ini peranan stakeholder dibagi

menjadi empat bagian yaitu pemerintah sebagai fasilitator, masyarakat sebagai

pelaku usaha, perbankan sebagai sumber pembiayaan, dan Konsultan Keuangan

Mitra

Bank

(KKMB)/Business

Development

Services

(BDS)

sebagai

pendamping. Tujuan yang ingin dicapai adalah masyarakat yang maju, mandiri,

sejahtera dan berkeadilan. Strategi penanggulangan kemiskinan dilakukan dengan

pemberdayaan

masyarakat

yaitu

upaya

meningkatkan

kesejahteraan

rakyat

melalui peran aktif masyarakat dalam mewujudkan pemenuhan kebutuhan hidup,

meningkatkan

kesejahteraan

sosial

ekonomi

serta

memperkukuh

martabat

manusia dan bangsa. Hal ini akan dicapai dengan dua upaya yaitu mengurangi

beban orang miskin dan meningkatkan produktivitas dan pendapatan masyarakat

miskin produktif. Pola penyaluran dana program dapat dilihat lebih jelas pada

Gambar 1. sedangkan strategi penanggulangan kemiskinan yang dilakukan pada Gambar 2. 3 Gambar 2. Strategi

Gambar 1. sedangkan strategi penanggulangan kemiskinan yang dilakukan pada

Gambar 2. 3

penanggulangan kemiskinan yang dilakukan pada Gambar 2. 3 Gambar 2. Strategi Penanggulangan Kemiskinan melalui

Gambar 2. Strategi Penanggulangan Kemiskinan melalui Pemberdayaan Usaha Mikro

2.2.1 Program Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan (P2KP)

Program

Penanggulangan

Kemiskinan

di

Perkotaan

(P2KP)

merupakan

program pemerintah yang secara substansi berupaya dalam penanggulangan

kemiskinan melalui konsep memberdayakan masyarakat dan pelaku pembangunan

lokal lainnya, termasuk Pemerintah Daerah dan kelompok peduli setempat,

sehingga dapat terbangun "gerakan kemandirian penanggulangan kemiskinan dan

pembangunan berkelanjutan", yang bertumpu pada nilai-nilai luhur dan prinsip-

prinsip universal. [Dikutip dari : Buku Pedoman Umum P2KP-3, Edisi Oktober

2005] 4 .

3 Prof.Dr.Gunawan W. Program Penanggulangan Kemiskinan. http://kfm.depsos.go.id/mod.php?mod=userpage&page_id=1. diakses 19 Agustus 2008.

4 Program Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan (P2KP). http://www.p2kp.org/aboutdetil.asp?mid=1&catid=5&. diakses 29 agustus 2008.

Tujuan program ini adalah terbangunnya lembaga masyarakat berbasis nilai- nilai universal kemanusiaan, prinsip-prinsip

Tujuan program ini adalah terbangunnya lembaga masyarakat berbasis nilai-

nilai universal kemanusiaan, prinsip-prinsip kemasyarakatan dan berorientasi

pembangunan berkelanjutan,

yang aspiratif,

memberikan

pelayanan

kepada

masyarakat

representatif,

mengakar, mampu

miskin,

mampu

memperkuat

aspirasi/suara masyarakat miskin dalam proses pengambilan keputusan lokal, dan

mampu menjadi wadah sinergi masyarakat dalam penyelesaian permasalahan

yang ada di wilayahnya; Meningkatnya akses bagi masyarakat miskin perkotaan

ke pelayanan sosial, prasarana dan sarana serta pendanaan (modal), termasuk

membangun kerjasama dan kemitraan sinergi ke berbagai pihak terkait, dengan

menciptakan

kepercayaan

pihak-pihak

terkait

tersebut

terhadap

lembaga

masyarakat

(BKM);

Mengedepankan

peran

Pemerintah

kota/kabupaten

agar

mereka makin mampu memenuhi kebutuhan masyarakat miskin, baik melalui

pengokohan Komite Penanggulangan Kemiskinan (KPK) di wilayahnya, maupun

kemitraan dengan masyarakat serta kelompok peduli setempat. Kelompok sasaran

P2KP mencakup empat sasaran utama, yakni masyarakat, pemerintah daerah,

kelompok peduli setempat dan para pihak terkait (stakeholders) 5 .

2.2.2 Kelompok Usaha Bersama (KUBE)

Kelompok Usaha Bersama Fakir Miskin (KUBE-FM) adalah himpunan dari

keluarga yang tergolong miskin dengan keinginan dan kesepakatan bersama

membentuk suatu wadah kegiatan, tumbuh dan berkembang atas dasar prakarsa

sendiri, saling berinteraksi antara satu dengan yang lain, dan tinggal dalam satuan

wilayah tertentu dengan tujuan untuk meningkatkan produktivitas anggotanya,

meningkatkan

relasi

sosial

yang

harmonis,

memenuhi

kebutuhan

anggota,

5 Konsep P2KP. http://www.p2kp.org/aboutdetil.asp?mid=4&catid=2&. diakses 29 Agustus 2008

memecahkan masalah sosial yang dialaminya dan menjadi wadah pengembangan usaha bersama (Depsos RI, 2005). Tujuan

memecahkan masalah sosial yang dialaminya dan menjadi wadah pengembangan

usaha bersama (Depsos RI, 2005).

Tujuan program secara umum adalah berupaya untuk meningkatkan kualitas

hidup dan kesejahteraan sosial keluarga miskin melalui program pemberdayaan

dan

pendayagunaan

potensi

serta

sumber

kesejahteraan

sosial

bagi

penanggulangan kemiskinan di Indonesia. Secara khusus program ini bertujuan :

1. Meningkatkan pendapatan keluarga miskin

2. Mewujudkan kemandirian usaha sosial-ekonomi keluarga miskin

3. Meningkatkan aksesibilitas keluarga miskin terhadap pelayanan sosial dasar,

fasilitas pelayanan publik dan sistem jaminan kesejahteraan sosial

4. Meningkatkan kepedulian dan tanggunga jawab sosial masyarakat dan dunia

usaha dalam penanggulangan kemiskinan

5. Meningkatkan

kemiskinan

ketahanan

sosial

masyarakat

6. Meningkatkan

kualitas

keluarga miskin.

manajemen

pelayanan

dalam

mencegah

masalah

kesejahteraan

sosial

bagi

Sasaran program ini adalah keluarga fakir miskin yang tidak mempunyai

sumber pencaharian atau memiliki mata pencaharian tetapi tidak mencukupi untuk

memenuhi

kebutuhan

dasar

(pangan,

sandang,

air

bersih,

kesehatan

dan

pendidikan). Kriteria yang menjadi kelompok sasaran program adalah kepala atau

anggota yang mewakili keluarga fakir miskin, memiliki identitas kependudukan,

mepunyai usaha atau berniat usaha, usia produktif dan memiliki keterampilan,

mampu

bertanggung

jawab

sendiri,

bersedia

mematuhi

(Kelompok Usaha Bersama Fakir Miskin).

aturan

KUBE

FM

Landasan hukum pelaksanaan program bantuan sosial fakir miskin melalui KUBE FM meliputi: 1. Undang-Undang Dasar

Landasan hukum pelaksanaan program bantuan sosial fakir miskin melalui

KUBE FM meliputi:

1. Undang-Undang Dasar 1945 pasal 34

2. Undang-Undang Nomor 6 tahun 1974 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok

Kesejahteraan Sosial

3. Peraturan

Pemerintah

RI

Nomor

42

tahun

1981

Kesejahteraan Sosial bagi Fakir Miskin

tentang

Pelayanan

4. Peraturan Pemerintah RI Nomor 106 tahun 2000 tentang Pengelolaan dan

Pertanggungjawaban Keuangan dalam pelaksanaan dekonsentrasi dan Tugas

Pembantuan

5. Peraturan Pemerintah RI Nomor 39 tahun 2002 tentang Penyelenggaraan

Dekonsentrasi

6. Keputusan Presiden RI Nomor 124 tahun 2001 dan Nomor 8 tahun 2002

tentang Komite Penanggulangan Kemiskinan

7. Keputusan

Menteri

Sosial

penanggulangan kemiskinan

RI

Nomor

50/PENGHUK/2002

tentang

8. Peraturan Menteri Sosial RI Nomor 82/HUK/2005 tentang Organisasi dan Tata

Kerja Departemen Sosial RI.

Sebuah KUBE FM dalam pelaksanaan kegiatannya mengalami beberapa

tahap, berdasarkan kriteria pentahapan perkembangan KUBE-FM dari Dinas

Sosial, maka tahap perkembangannya sebagai berikut (Andayasari, 2006).

1. Tahap Tumbuh

a. Sudah ada pendamping KUBE (Pembina Usaha dan Unsur Aparat Desa)

b. Pernah mengikuti pelatihan

c.

Pengurus dan organisasi KUBE telah dibentuk sebanyak 10 orang

dan organisasi KUBE telah dibentuk sebanyak 10 orang d. Sudah menerima bantuan permakanan e. Telah menerima

d. Sudah menerima bantuan permakanan

e. Telah menerima bantuan UEP (Usaha Ekonomi Produktif)

f. Kegiatan kelompok baru berjalan

2. Tahap Berkembang

a. Kegiatan kelompok sudah dijalankan sesuai dengan kepengurusan

b. Keuntungan UEP sudah ada untuk kesejahteraan anggota dan IKS (Iuran

Kesetiakawanan Sosial)

c. Kepercayaan dan harga diri anggota KUBE dan keluarga meningkat

d. Pergaulan antara anggota KUBE dengan masyarakat sudah semakin positif

e. Hasil usaha sudah didapat

3. Tahap maju/Mandiri

a. Keuntungan UEP meningkat sehingga modal semakin besar

b. Mampu menyisihkan dana IKS untuk anggota kelompok, keluarga miskin

lainnya dan berpartisipasi dalam pembangunan desa

c. Manajemen UEP sudah dilekola dengan baik

d. Hubungan

bisnis

menguntungkan.

dengan

lembaga

ekonomi

dan

pengusaha

baik

dan

e. Hubungan sosial dengan masyarakat dan lembaga-lembaga sosial sudah

semakin baik dan melembaga

f. Kegiatan UEP semakin maju dan berkembang

KUBE bagi fakir miskin merupakan sarana untuk meningkatkan Usaha

Ekonomi

Produktif

(khususnya

dalam

peningkatan

pendapatan),

memotivasi

warga miskin untuk lebih maju secara ekonomi dan sosial, meningkatkan interaksi

dan kerjasama dalam kelompok, mendayagunakan potensi dan sumber sosial ekonomi lokal, memperkuat budaya kewirausahaan,

dan kerjasama dalam kelompok, mendayagunakan potensi dan sumber sosial

ekonomi lokal, memperkuat budaya kewirausahaan, mengembangkan akses pasar

dan menjalin kemitraan sosial ekonomi dengan pihak terkait. Kegiatan usaha

diberikan dalam bentuk pemberian bantuan modal usaha dan sarana prasarana

ekonomi.

Kelembagaan KUBE-FM ditandai dengan: (1) Jumlah anggota KUBE yaitu

diawali oleh pembentukan kelompok-kelompok yang terdiri dari 5-10 orang. Satu

kelompok KUBE-FM dapat memilih anggotanya yang bukan termasuk kategori

fakir miskin (poorest), namun masih termasuk kategori miskin (poor) atau hampir

miskin

(near

poor)

dan

mempunyai

kemampuan

serta

potensi;

(2)

Ikatan

pemersatu, yaitu kedekatan tempat tinggal, jenis usaha atau keterampilan anggota,

ketersediaan sumber, latar belakang kehidupan budaya, memiliki motivasi yang

sama, keberadaan kelompok masyarakat yang sudah tumbuh berkembang lama;

(3) Struktur dan kepengurusan KUBE, yang terdiri dari Ketua, Sekretaris dan

bendahara. (Depsos RI, 2005). Dalam penelitian ini akan dibahas efektivitas dari

Kelompok Usaha Bersama (KUBE) dalam upaya pemberdayaan fakir miskin di

wilayah perkotaan. Program pemberdayaan fakir miskin di wilayah perkotaan

bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup dan taraf kesejahteraan sosial

keluarga fakir miskin yang tinggal di wilayah perkotaan. Sasaran program adalah

keluarga fakir miskin yang tinggal di wilayah perkotaan, termasuk fakir miskin di

pemukiman kumuh,

pemukiman ilegal,

bantaran sungai (Depsos, 2005).

kawasan jasa

dan perdagangan dan

Komponen kegiatan pemberdayaan fakir miskin meliputi: (1) Penjajakan

lokasi dan pemetaan kebutuhan; (2) Sosialisasi program; (3) Pendampingan

sosial; (4) Identifikasi dan seleksi; (5) Studi kelayakan usaha; (6) Bantuan sosial berupa santunan hidup

sosial; (4) Identifikasi dan seleksi; (5) Studi kelayakan usaha; (6) Bantuan sosial

berupa santunan hidup dan akses jaminan kesejahteraan sosial, bantuan modal

usaha ekonomi produktif melalui kelompok usaha bersama (KUBE), penguatan

modal usaha melalui lembaga keuangan mikro (LKM), rehabilitasi sosial rumah

tidak layak huni, penataan sarana lingkungan kumuh, insentif tabungan sejahtera,

fasilitas usaha kesejahteraan sosial; (7) Pengembangan kemitraan sosial dengan

lembaga/instansi sektor lain, perguruan tinggi, dunia usaha, LSM/Orsos dan

kalangan perbankan; Serta (8) Monitoring dan evaluasi (Depsos, 2005).

2.3 Efektivitas

Ilham,

Siregar,

dan

Priyarsono.

(2006)

menyatakan

efektivitas

dapat

diartikan sebagai suatu usaha untuk mencapai hasil yang maksimal dengan

memanfaatkan sumberdaya yang ada. Kaitannya dengan kebijakan, menurut

Ramdan,

Yusran

dan

Darusman

(2003)

dalam

Ilham

dkk.

(2006)

ukuran

efektivitas

kebijakan

adalah:

(1)

Efisiensi:

suatu

kebijakan

harus

mampu

meningkatkan efisiensi penggunaan sumberdaya secara optimal; (2) Adil: bobot

kebijakan

harus

ditempatkan

secara

adil,

yakni

kepentingan

publik

tidak

terabaikan; (3) Mengarah Kepada insentif: suatu kebijakan harus mengarah

kepada atau merangsang tindakan dalam perbaikan dan peningkatan sasaran yang

ditetapkan; (4) Diterima oleh Publik: oleh karena diperuntukkan bagi kepentingan

publik maka kebijakan yang baik harus diterima oleh publik; dan (5) Moral: suatu

kebijakan harus dilandasi oleh moral yang baik.

Ukuran efektivitas yang digunakan Sanim (1998) dan Simatupang (2002)

dalam Ilham dkk. (2006) adalah pendekatan ekonometrika dari nilai elastisitas dan

tingkat

signifikansi

peubah

independent

terhadap

peubah

dependen.

Jika

pengaruhnya signifikan dan elastis, maka pengaruh peubah independen terhadap peubah dependen dikatakan efektif. Dalam

pengaruhnya signifikan dan elastis, maka pengaruh peubah independen terhadap

peubah dependen dikatakan efektif.

Dalam penelitian ini untuk menilai efektivitas program kelompok usaha

bersama (KUBE) daerah perkotaan dalam upaya penanggulangan kemiskinan

digunakan uji perbedaan dua mean sampel berpasangan yaitu melihat adanya

perbedaan pendapatan sebelum bergabung dengan KUBE dan pendapatan setelah

bergabung dangan KUBE.

2.4 Hasil Penelitian Terdahulu

Penelitian mengenai program penanggulangan kemiskinan telah banyak

dilakukan. Santosa, Hidayat dan Indroyono (2003) telah melakukan evaluasi

dampak

program

penanggulangan

kemiskinan dengan

menggunakan metode

ESCAPE (Economic and Social Commision for Asian and Pasific). Program

penanggulangan

kemiskinan

yang

dievaluasi

meliputi

program

Inpres

Desa

Tertinggal

(IDT),

Program

Pengembangan

Kecamatan

(PPK),

dan

Proyek

Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan (P2KP) yang ketiganya dikategorikan

sebagai Program Kerja Mandiri dan Program Padat Karya. Kesimpulan yang

diperoleh yaitu pendapatan peserta Program Kerja Mandiri meningkat sedangkan

Program Padat Karya menurun, efisiensi penyaluran program dari Program Kerja

Mandiri lebih tinggi dibandingkan penyaluran program dari Program Padat Karya,

dan kelangsungan dana untuk program Kerja Mandiri lebih tinggi dibanding

kelangsungan dana untuk Program Padat Karya.

Kemiskinan di perkotaan dapat dikurangi dengan pendekatan peningkatan

kebijakan tingkat upah riil, peningkatan pertumbuhan ekonomi, penambahan

belanja pemerintah di sektor jasa dan peningkatan stok pangan nasional. Hal ini

merupakan hasil penelitian Nugroho (2006) dengan membangun model sistem persamaan simultan dengan persamaan menggunakan

merupakan hasil penelitian Nugroho (2006) dengan membangun model sistem

persamaan simultan dengan persamaan menggunakan metode 2SLS, dimana hasil

pendugaan

parameter

model

kebijakan yang relevan.

digunakan

untuk

melakukan

simulasi

skenario

Saidi (2007) telah melakukan penelitian mengenai strategi peningkatan

efektivitas

penyaluran

Dana

Usaha

Desa/Kelurahan

untuk

penanggulangan

kemiskinan (Kajian di Kota Pekanbaru-Provinsi Riau). Hasil kajian menunjukkan

bahwa pinjaman modal usaha dari Dana Usaha Desa/Kelurahan efektif dalam

menanggulangi kemiskinan.

Efektivitas pengelolaan kredit mikro proyek penanggulangan kemiskinan

perkotaan (P2KP) telah

dilakukan oleh Tarmidi (2006). Kesimpulan yang

diperoleh adalah perubahan pendapatan berdasarkan jenis usaha dan sumber

penerimaan menunjukkan angka yang positif setelah mendapat kredit mikro

P2KP.

Namun,

secara

umum

hasil

pengujian

t-hitung

belum

menunjukkan

perbedaan yang nyata terhadap perubahan pendapatan, kecuali pada jenis usaha

jasa komersial yang memiliki pengaruh nyata terhadap perubahan pendapatan. Hal

ini dapat diartikan bahwa peranan kredit mikro belum menunjukkan pengaruh

yang besar dalam meningkatkan pendapatan keluarga miskin (baik usaha maupun

non usaha). Pengaruh pendapatan ini menunjukkan bahwa tujuan kredit mikro

dalam meningkatkan pendapatan keluarga miskin belum tercapai.

Penelitian yang dilakukan oleh Permanda

(2007) menggunakan regresi

berganda dengan dummy kredit menyimpulkan bahwa kredit mikro P2KP hanya

berperan dalam menambah input, sehingga produksi dan penerimaan meningkat.

Hal ini ditunjukkan dari adanya peningkatan rata-rata biaya dan penerimaan yang

meningkat setelah penerimaan kredit. Jadi peranan kredit yang diperoleh adalah melalui pergerakan disepanjang kurva karena

meningkat setelah penerimaan kredit. Jadi peranan kredit yang diperoleh adalah

melalui pergerakan disepanjang kurva karena kredit tidak digunakan dalam

meningkatkan teknologi produksi. Kemitraan adalah salah satu strategi dalam

pengembangan Usaha Kecil dan Menengah.

Nurhayati (2007) menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat

kemiskinan

dengan

menggunakan

model

ekonometrika

persamaan

simultan,

menghasilkan kesimpulan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kemiskinan

adalah pendapatan dan pendidikan pada taraf nyata 10 persen serta variabel

jumlah pengangguran dan tingkat ketergantungan berpengaruh nyata satu persen.

Rahmawati (2006) telah menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi

suatu rumah tangga berada dalam kemiskinan dengan menggunakan analisis

regresi

logistik,

menghasilkan

kesimpulan

bahwa

faktor-faktor

yang

mempengaruhi peluang suatu rumah tangga berada dalam kemiskinan adalah

peubah

jumlah

anggota

rumah

tangga

yang

termasuk

tenaga

kerja,

pendidikan, jenis kelamin, dan pendapatan.

umur,

Penelitian mengenai kelompok usaha bersama (KUBE) telah dilakukan oleh

beberapa orang, diantaranya yaitu Wahyuni (2005) dan Andayasari (2006).

Wahyuni telah meneliti model pengembangan kelompok usaha bersama (KUBE).

Hasil kajian menujukkan bahwa aktivitas anggota di dalam KUBE mampu

memberikan manfaat untuk menciptakan lapangan kerja dan dapat meningkatkan

pendapatan mereka. Terdapat tujuh faktor yang mempengaruhi keberhasilan

KUBE

yaitu

faktor

keanggotaan,

jenis

usaha,

permodalan,

motif

anggota,

penegasan struktur kelompok, penegasan norma kelompok dan kemitraan dengan

pihak luar. Proses pemberdayaan dalam KUBE berawal pada saat pembentukkan

kelompok. KUBE yang berdaya adalah KUBE yang dilandasi oleh motif yang sama dari perorangan. anggotanya

kelompok. KUBE yang berdaya adalah KUBE yang dilandasi oleh motif yang

sama

dari

perorangan.

anggotanya

dan

melaksanakan

usaha

secara

berkelompok

bukan

Andayasari (2006) menemukan suatu cara mengelola Kelompok Usaha

Bersama-Fakir

Miskin

(KUBE-FM)

bidang

konveksi

yaitu

dengan

cara

menyatukan kegiatan konveksi di satu tempat yang diharapkan dapat lebih

memudahkan

dalam

menjalankan

kegiatan

KUBE-FM.

Upaya

ini

mencoba

mewujudkan bentuk kolaborasi dalam mengentaskan masalah kemiskinan berupa

”tata kelola” yang baik.

Penelitian mengenai KUBE yang telah dilakukan baru secara kualitatif.

Dalam penelitian ini akan melihat secara kuantitatif mengenai efektivitas dari

KUBE yang dilihat dari segi pendapatan dan faktor-faktor yang mempengaruhi

keberhasilan KUBE. Hal ini dilakukan untuk mengetahui gambaran yang lebih

rinci mengenai keberhasilan dan kendala dalam pelaksanaan program KUBE.

III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1 Analisis Regresi Istilah regresi pertama kali digunakan
III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1 Analisis Regresi Istilah regresi pertama kali digunakan

III. KERANGKA PEMIKIRAN

3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis

3.1.1 Analisis Regresi

Istilah regresi pertama kali digunakan oleh Sir Francis Galton (1822 1911)

yang membandingkan tinggi badan anak laki-laki dengan tinggi badan ayahnya.

Galton menemukan bahwa tinggi badan anak laki-laki dari ayah yang tinggi

setelah beberapa generasi cenderung menurun (regressed) mendekati nilai tengah

populasi. Sekarang istilah regresi ditetapkan pada semua jenis peramalan dan

tidak harus berimplikasi pada peramalan yang mendekati nilai tengah populasi.

Analisis

regresi

berkenaan

dengan

studi

ketergantungan

satu

variabel,

variabel tak bebas, pada satu atau lebih variabel lain, variabel yang menjelaskan

(explationary variabels), dengan maksud menaksir dan atau meramalkan nilai

rata-rata hitung (mean) atau rata-rata populasi varibel tak bebas, dipandang dari

segi nilai yang diketahui atau tetap (dalam pengambilan sampel yang berulang

variabel yang menjelaskan). Persamaan regresi dinyatakan sebagai persamaan

matematika yang memungkinkan kita meramalkan nilai-nilai peubah tak bebas

dari suatu peubah bebas (Walpole, 1995). Ramanathan (1998) menyatakan bahwa

model regresi linear adalah model yang menunjukkan hubungan antara variabel

dependent dengan satu atau lebih variabel independent.

Regresi menunjukkan hubungan kausalitas (sebab-akibat) antara dua macam

variabel, yaitu: a) variabel independent yang disebut sebagai variabel penjelas dan

secara umum disimbolkan dengan X dan b) variabel dependent yaitu varibel

terkait yang nilainya dipengaruhi atau tergantung pada variabel independent dan

disimbolkan dengan Y. Regresi sendiri memilki dua bentuk yaitu regresi sedehana

dimana terdapat satu variabel panjelas dan regresi berganda yang mempunyai lebih dari satu variabel penjelas.

dimana

terdapat satu variabel panjelas dan regresi berganda yang mempunyai

lebih dari satu variabel penjelas.

Dalam analisis regresi terdapat beberapa asumsi-asumsi mendasar yang harus

dipenuhi, jika tidak pengujian akan menjadi inefisien. Model yang diuji harus

dilihat apakah termasuk BLUE (Best Linear Unbiased Estimator) atau tidak.

Model yang termasuk BLUE harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:

a) normalitas, uji ini dilakukan dengan membuat histogram dan scaterplot, apabila

histogram

membentuk lonceng dan keberadaan

menyebar maka model terdistribusi normal

titik-titik

pada

scaterplot

b) lineraritas. Uji ini dilakukan dengan melihat scaterplot, jika plot antara nilai

residual terstandarisasi tidak membentuk suatu pola tertentu (acak) maka

memenuhi asumsi linearitas

c) homoskedastisitas, adalah kesamaan varians atau penyebaran yang sama.

Pendektesian kesamaan varians salah satunya dapat dilakukan dengan uji Park.

d) non multikolinearitas, dilakukan dengan melihat niai VIF (Variance Inflation

Factors). Jika VIF < 10, maka tidak terdapat multikolinearitas

e) non autokorelasi, dilakukan untuk melihat adanya korelasi antara serangkaian

data

menurut

waktu

(time

series)

atau

menurut

ruang

(cross

section).

Pendektesian autokorelasi dilakukan dengan pengujian Durbin Watson (DW).

Bentuk dasar dari persamaan regresi sederhana secara umum berbentuk linear

yang menunjukkan bahwa nilai atau parameter dari koefisien regresi

berhubungan linear.

Y

t

X

t

t

dan

(3.1)

Dimana Y adalah vaiabel dependent dan X variabel independen dengan t menunjukkan pada waktu time

Dimana Y adalah vaiabel dependent dan X variabel independen dengan t

menunjukkan pada waktu time series atau cross section data. sedangkan nilai

dan adalah parameter yang diestimasi. Dalam hal ini menyatakan intersep

atau perpotongan dengan sumbu tegak dan

adalah kemiringan gradiennya.

Sedangkan pengertian dan spesifik tergantung pada fungsinya, dinyakaan

sebagai error yang bersifat random atau acak (galat acak) yang disebabkan oleh

empat efek yaitu penghilangan variabel, non linearitas, kesalahan pengukuran dan

efek yang tidak dapat diprediksi lainnya (Ramanathan, 1998).

3.1.2 Permasalahan OLS

Dalam menggunakan metode OLS dapat ditemukan beberapa permasalahan

yang

dihadapi,

multikolinearitas.

1. Autokorelasi

yaitu

masalah

autokorelasi,

heteroskedastisitas

dan

Dalam berbagai penelitian seringkali terdeteksi adanya hubungan serius

antara gangguan estimasi satu observasi dengan gangguan estimasi observasi yang

lain. Nisbah antara observasi inilah yang disebut sebagai masalah autokorelasi.

Adanya autokorelasi akan menyebabkan terjadinya:

1. Dugaan parameter tidak bias.

2. Nilai galat baku terautokorelasi, sehingga ramalan tidak efisien.

3. Ragam galat terbias.

4. Terjadi pendugaan kurang pada ragam galat (standar error underestimated),

sehingga Sb underestimated. Oleh karena itu, t overestimated cenderung lebih

besar dari yang sebenarnya.

Gejala autokorelasi dapat dideteksi dengan uji Breusch Godfrey Serrial Correlation Langrange Multiplier Test dengan

Gejala autokorelasi dapat dideteksi dengan uji Breusch Godfrey Serrial

Correlation Langrange Multiplier Test dengan hipotesis sebagai berikut:

H

H

0

1

:

:

0

0

(tidak terdapat serial korelasi)

(terdapat serial korelasi)

Kriteria uji yang digunakan untuk melihat adanya autokorelasi adalah

sebagai berikut.

1. Apabila nilai obs * R-squared-nya lebih besar dari taraf nyata yang digunakan

maka

model

autokorelasi.

persamaan

yang

digunakan

tidak

mengalami

masalah

2. Apabila nilai obs * R-squared-nya lebih kecil dari taraf nyata yang digunakan

maka model persamaan yang digunakan mengalami masalah autokorelasi.

Solusi

dari

masalah

autokorelasi

yaitu

dihilangkannya

variabel

yang

sebenarnya berpengaruh terhadap variabel tak bebas. Jika terjadi kesalahan dalam

spesifikasi model, hal ini dapat diatasi dengan mentransformasi model, misalnya

dari model linear menjadi nonlinear atau sebaliknya.

2. Heteroskedastisitas

Heteroskedastisitas adalah suatu penyimpangan asumsi OLS dalam bentuk

varians gangguan estimasi yang dihasilkan oleh estimasi OLS yang tidak bernilai

konstan. Heteroskedastisitas tidak merusak sifat ketidakbiasan dan konsistensi

dari penaksir OLS tetapi penaksir yang dihasilkan tidak lagi mepunyai varians

minimum (efisien). Menurut Gujarati (1993), jika terjadi heteroskedastisitas maka

akan berakibat sebagai berikut.

1. Estimasi

dengan

menggunakan

OLS

minimum atau estimator tidak efisien.

tidak

akan

memiliki

varians

yang

2.

Prediksi (nilai Y untuk X tertentu) dengan estimator dari data yang sebenarnya

untuk X tertentu) dengan estimator dari data yang sebenarnya akan mempunyai varians yang tinggi sehingga prediksi

akan mempunyai varians yang tinggi sehingga prediksi menjadi tidak efisien.

3. Tidak dapat diterapkannya uji nyata koefisien atau selang kepercayaan dengan

menggunakan formula yang berkaitan dengan nilai varians.

Untuk

memeriksa

keberadaan

heteroskedastisitas

salah

satunya

dapat

ditunjukkan dengan uji Hal White, dimana tidak perlu asumsi normalitas dan

relatif

mudah.

Kriteria

uji

yang

digunakan

untuk

melihat

heteroskedastisitas adalah sebagai berikut.

adanya

a. Apabila nilai probability obs * R-squared-nya lebih besar dari taraf nyata yang

digunakan maka model persamaan yang digunakan tidak mengalami masalah

heteroskedastisitas.

b. Apabila nilai probability obs * R-squared-nya lebih kecil dari taraf nyata yang

digunakan

maka

model

heteroskedastisitas.

persamaan

yang

digunakan

mengalami

masalah

Solusi dari masalah ini adalah mencari transformasi model asal sehingga

model yang baru akan memiliki error-term dengan varians yang konstan.

3. Multikolinearitas

Multikolinearitas adalah adanya hubungan linear yang sempurna atau pasti

diantara beberapa atau semua variabel yang menjelaskan dari model regresi.

Tanda-tanda adanya multikoliniearitas adalah sebagai berikut.

1. Tanda tidak sesuai dengan yang diharapkan.

2. R-squared-nya tinggi tetapi uji individu tidak banyak bahkan tidak ada yang

nyata.

4.

R 2 lebih kecil dari r ij 2 menunjukkan adanya masalah multikolinearitas.

i j 2 menunjukkan adanya masalah multikolinearitas. Konsekuensi multikolinearitas adalah estimasinya tidak dapat

Konsekuensi multikolinearitas adalah estimasinya tidak dapat ditentukan dan

galat

baku

menjadi

tinggi

sehingga

prediksi

menjadi

tidak

benar.

Kriteria

ekonometrik untuk melihat adanya multikolinearitas diantara peubah-peubah

penjelas dalam suatu persamaan dapat dilihat dari R-squared dan kuadrat korelasi

sederhana peubah-peubah penjelas (r 2 ) yang dirumuskan sebagai berikut.

r X X

1

R

2

Y

2

,

X

i

,

Dimana:

r X

1

X

1

Y

R

2

X

2

dan

Y , X

i

,

,

X

X

k

2

( n

X X

1

2

)

( X X ) 1 2 2 n X ( 2
(
X X
)
1
2
2
n
X
(
2
2 2 2 n X ( X X 1 ) 2 ) 1
2
2
2
n
X
(
X
X
1 )
2 )
1

,

X

k

b

i

YX

1

b

2

YX

2

b

k

YX

k

Y

2

= koefisien korelasi

X 1 dan

X

2

= peubah-peubah penjelas

= peubah tak bebas

= koefisien determinasi

(3.2)

(3.3)

Untuk menguji adanya multikolinearitas adalah sebagai berikut.

1.

Jika nilai R-squared lebih besar dari nilai kuadrat korelasi sederhana peubah-

peubah penjelas (r 2 ), maka tidak ada masalah multikolinearitas.

2.

Jika nilai R-squared lebih kecil dari nilai kuadrat korelasi sederhana peubah-

peubah penjelas (r 2 ), maka terdapat masalah multikolinearitas.

Solusi dari permasalahan multikolinearitas yaitu menggunakan extraneous

information atau informasi sebelumnya, mengkombinasikan data cross-sectional

dan

data

time-series,

meninggalkan

variabel

yang

sangat

berkorelasi,

mentransformasikan data dan mendapatkan tambahan data baru.

3.2 Kerangka Pemikiran Operasional Tingginya tingkat urbanisasi ke kota Jakarta mengakibatkan kurangnya kesempatan kerja

3.2 Kerangka Pemikiran Operasional

Tingginya tingkat urbanisasi ke kota Jakarta mengakibatkan kurangnya

kesempatan kerja yang tersedia. Hal ini menimbulkan banyaknya orang yang

memiliki penghasilan di bawah garis kemiskinan yang ditetapkan untuk kota

Jakarta. Penghasilan yang rendah ini dapat disebabkan oleh kurang produktifnya

seseorang dalam kegiatan ekonomi produktif seperti kurangnya jam kerja yang

tersedia mengakibatkan pendapatan yang rendah. Jam kerja yang rendah ini

disebabkan

oleh

keterbatasan

yang

dimiliki

oleh

masyarakat

dalam

hal

pendidikan, keterampilan, tidak mempunyai sarana usaha ekonomi yang memadai

dan tidak memiliki modal usaha yang cukup untuk menegembangkan usaha

ekonomi produktifnya.

Pemerintah

dalam

hal

ini

adalah

Departemen

Sosial,

telah

berusaha

menemukan pola yang efektif agar fakir miskin dapat memperoleh kemudahan

akses modal usaha tanpa agunan dengan tetap mendorong tanggung jawab

bersama melalui Kelompok Usaha Bersama (KUBE). Untuk itu sejak tahun 2005,

Departemen Sosial melaksanakan program pemberdayaan fakir miskin melalui

pola terpadu Kelompok Usaha Bersama (KUBE) dengan Lembaga Keuangan

Mikro Sosial (LKMS) di Jakarta.

Kegiatan pengembangan usaha ekonomi produktif fakir miskin melalui

KUBE ditujukan untuk meningkatkan motivasi untuk lebih maju, meningkatkan

interaksi dan kerjasama dalam kelompok, mendayagunakan potensi dan sumber

sosial ekonomi lokal, memperkuat budaya kewirausahaan, mengembangkan akses

pasar, melaksanakan usaha kesejahteraan sosial dan menjalin kemitraan sosial

ekonomi dengan berbagai pihak yang terkait.

Dalam penelitian ini penulis membuat bagan alur pemikiran seperti tampak pada Gambar 3. Penulis akan

Dalam penelitian ini penulis membuat bagan alur pemikiran seperti tampak

pada Gambar 3. Penulis akan memulai dengan mengidentifikasi kemiskinan yang

terjadi di Kecamatan Pesanggrahan karena kemiskinan yang terjadi di setiap

daerah

memiliki

kondisi

yang

berbeda-beda.

Selain

itu,

pada

tahun

2006,

Kecamatan Pesanggrahan dipilih sebagai Kecamatan di wilayah Kotamadya

Jakarta

Selatan

yang

melaksanakan

program

KUBE

dan

memperoleh

satu

Lembaga Keuangan Mikro Sosial (LKMS) sebagai pembantu dana untuk kegiatan

KUBE dari pemerintah pusat. Penulis akan melihat efektivitas pelaksanaan

program

KUBE

dan

mengetahui

keberlanjutan

program

KUBE

yang

dilaksanakan. Pada awal pembentukkan KUBE, telah dibentuk 40 KUBE dengan

bantuan dana dari pemerintah melalui Dinas Bina Spiritual dan Kesejahteraan

Sosial (Bintal dan Kesos) Jakarta.

Deskripsi Kemiskinan Perkotaan di Kecamatan Pesanggrahan Bantuan Sarana Usaha Kelompok Usaha Bersama (KUBE) sebagai

Deskripsi Kemiskinan Perkotaan di Kecamatan Pesanggrahan

Bantuan Sarana Usaha Kelompok Usaha Bersama (KUBE) sebagai Program Penanggulangan Kemiskinan

Faktor-faktor Pelaksanaan Program (Pengamatan Dilengkapi dengan Pengisian Kuisioner kepada Sasaran Program)
Faktor-faktor
Pelaksanaan Program
(Pengamatan Dilengkapi
dengan Pengisian Kuisioner
kepada Sasaran Program)
Keberhasilan KUBE
(Analisis Regresi)
Keefektifan Program
(Uji Mean Berpasangan)

Implikasi Program Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan

Gambar 3. Alur Kerangka Pemikiran

IV. METODE PENELITIAN 4.1 Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan dengan pengambilan data primer

IV. METODE PENELITIAN

4.1 Waktu dan Lokasi Penelitian

IV. METODE PENELITIAN 4.1 Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan dengan pengambilan data primer selama

Penelitian ini dilakukan dengan pengambilan data primer selama bulan April

sampai Juni 2008 di Kelurahan Ulujami dan Petukangan Utara, Kecamatan

Pesanggrahan, Jakarta Selatan. Pemilihan lokasi ditentukan secara purposive

(sengaja) dengan pertimbangan bahwa daerah tersebut merupakan daerah Ibukota

Negara tetapi masih memiliki sejumlah penduduk yang berada dalam kemiskinan.

Jumlah penduduk miskin di Jakarta Selatan pada tahun sebanyak 76.300 orang

atau 3,74 persen dari keseluruhan penduduk yang tinggal di Kotamadya Jakarta

Selatan.

4.2 Jenis dan Sumber Data

Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data

sekunder. Data primer dikumpulkan untuk memperoleh variabel-variabel yang

akan digunakan untuk estimasi, sedangkan data sekunder diperoleh dari instansi-

instansi

terkait

yaitu

Badan

Pusat

statistik

(BPS),

Departemen

Sosial

dan

Lembaga Keuangan Mikro Sosial (LKMS) Kecamatan Pesanggrahan. Data primer

diperoleh melalui wawancara dan pengisian kuisioner dari anggota KUBE yang

terpilih sebagai sampel dan para petugas yang terkait. Kuisioner dilampirkan pada

Lampiran 2.

4.3

Teknik Penarikan Sampel

 

Sampel yang diambil untuk penelitian ini adalah anggota KUBE yang berada

di

Kecamatan

Pesanggrahan.

Pengambilan

sampel

dilakukan

dengan

cara

melakukan

wawancara

dengan

pihak