You are on page 1of 11

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Epispadia adalah suatu anomali kongenital yaitu meatus uretra terletak pada
permukaan dorsal penis. Insiden epispadia yang lengkap sekitar 1 dalam 120.000
laki-laki. Keadaan ini biasanya tidak terjadi sendirian, tetapi juga disertai anomali
saluran kemih. Inkontinensia urine timbul pada epispadia penopubis (95%) dan penis
(75%) karena perkembangan yang salah dari spingter urinarius.Perbaikan dengan
pembedahan dilakukan untuk memperbaiki inkontinensia,memperluas uretra ke glans.
Prepusium digunakan dalam proses rekonstruksi, sehingga bayi baru lahir dengan
epispadia tidak boleh di sirkumsisi. (Sylvia A. Price, hal. 1317).
Pada epispadia, meatus uretra tidak meluas ke ujung penis karena tidak
adanya dinding dorsal uretra. Pada kedua keadaan tersebut, derajat rekontruksi uretra
yang dibutuhkan bergantung pada letak lubang uretra di batang penis. Rekontruksi
uretra dapat dilakukan dengan menggunakan selubung kulit yang ditanam, flap kulit,
atau tandar bebas. Selama oenyembuhan pengeluaran urine biasanya dialihkan.
Epispadias merupakan kelainan kongiental berupa tidak adanya dinding
uretra bagian atas. Kelainan ini terjadi pada laki-laki maupun perempuan, tetapi lebih
sering pada laki-laki. Ditandai dengan terdapat nya lubang uretra di suatu tempat pada
permukaan dorsum penis. ( Kamus Saku Kedokteran DORLAN edisi 28 halaman
395).

Epispadias merupakan malformasi congenital dimana uretra bermuara pada


permukaan dorsal penis. (Kamus Keperawatan halaman 217).

Epispadia adalah suatu anomaly congiental yaitu terletak pada permukaan


dorsal penis. Insiden epispadia yang lengkap sekitar 1 dalam 120.000 laki-laki.
Keadaan ini biasanya tidak terjadi sendirian, tetapi juga disertai anomaly saluran
kemih disepanjang batang penis.

Epispadia merupakan suatu kelainan bawaan pada bayi laki-laki, dimana


lubang uretra terdapat di bagian punggung penis atau uretra tidak berbentuk tabung
tetapi terbuka. Epispadias adalah kelainan bawaan dari alat kelamin eksternal dan
bawah saluran kemih akibat perkembangan yang tidak lengkap dari permukaan dorsal
penis atau klitoris dan dinding atas dari uretra yang karena itu terbuka. Akibatnya,
meatus uretra eksternal memiliki lokasi yang tidak biasa di titik variabel antara leher
kandung kemih dan puncak kepala penis.
1.2. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan epispadia ?
2. Apa penyebab dari epispadia ?
3. Apa saja klasifikasi dari epispadia?
4. Bagaimana cara penatalaksanaan medis dari epispadia?

1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Tujuan umum dari pembuatan laporan kasus ini adalah untuk memberikan
gambaran dalam melaksanakan asuhan keperawatan pada klien dengan diagnose
medis Epispadia dengan menggunakan metode pendekatan proses keperawatan.
1.3.2 Tujuan Khusus
Tujuan khusus dari pembuatan laporan ini adalah untuk memberikan gambaran
tentang :
1. Pengkajian keperawatan pada klien yang mengalami epispadia.
2. Diagnose keperawatan pada klien yang mengalami epispadia.
3. Perencanaan keperawatan pada klien yang mengalami epispadia.
4. Penatlaksanaan rencana keperawatan pada klien yang mengalami epispadia.
5. Evaluasi tindakan keperawatan pada klien yang mengalami epispadia.

BAB 2
LANDASAN TEORI
2.1 Definisi Epispadia
Epispadias merupakan kelainan kongiental berupa tidak adanya dinding
uretra bagian atas. Kelainan ini terjadi pada laki-laki maupun perempuan, tetapi lebih
sering pada laki-laki. Ditandain dengan terdapat nya lubang uretra di suatu tempat
pada permukaan dorsum penis.( Kamus Saku Kedokteran DORLAN edisi 28 halaman
395).

Epispadias merupakan malformasi congenital dimana uretra bermuara pada


permukaan dorsal penis. (Kamus Keperawatan halaman 217).

Epispadia adalah suatu kelainan bawaan pada bayi laki-laki, dimana lubang
uretra terdapat di bagian punggung penis atau uretra tidak berbentuk tabung, tetapi
terbuka.

Terdapat 3 jenis epispadia :

1. Lubang uretra terdapat di puncak kepala penis

2. Seluruh uretra terbuka di sepanjang penis

3. Seluruh uretra terbuka dan lubang kandung kemih terdapat pada dinding perut.

Epispadia adalah suatu anomaly congiental yaitu terletak pada permukaan


dorsal penis. Insiden epispadia yang lengkap sekitar 1 dalam 120.000 laki-laki.
Keadaan ini biasanya tidak terjadi sendirian, tetapi juga disertai anomaly saluran
kemih disepanjang batang penis.

Epispadia merupakan suatu kelainan bawaan pada bayi laki-laki, dimana lubang
uretra terdapat di bagian punggung penis atau uretra tidak berbentuk tabung tetapi
terbuka.

Epispadias adalah kelainan bawaan dari alat kelamin eksternal dan bawah saluran
kemih akibat perkembangan yang tidak lengkap dari permukaan dorsal penis atau
klitoris dan dinding atas dari uretra yang karena itu terbuka. Akibatnya, meatus uretra
eksternal memiliki lokasi yang tidak biasa di titik variabel antara leher kandung
kemih dan puncak kepala penis.

2.2 Anatomi fisiologi Genetalia

1.Struktur luar dari sistem reproduksi pria


terdiri dari : penis, skrotum (kantung zakar) dan testis (buah zakar).
a) Penis
Penis terdiri dari:
- Akar (menempel pada didnding perut)
- Badan (merupakan bagian tengah dari penis)
- Glans penis (ujung penis yang berbentuk seperti kerucut).
Lubang uretra (saluran tempat keluarnya semen dan air kemih) terdapat di umung
glans penis. Dasar glans penis disebut korona. Pada pria yang tidak disunat
(sirkumsisi), kulit depan (preputium) membentang mulai dari korona menutupi glans
penis.
Badan penis terdiri dari 3 rongga silindris (sinus) jaringan erektil:
- 2 rongga yang berukuran lebih besar disebut korpus kavernosus, terletak
bersebelahan.
- Rongga yang ketiga disebut korpus spongiosum, mengelilingi uretra. Jika rongga
tersebut terisi darah, maka penis menjadi lebih besar, kaku dan tegak (mengalami
ereksi).
b)Skrotum
Skrotum merupakan kantung berkulit tipis yang mengelilingi dan melindungi testis.
Skrotum juga bertindak sebagai sistem pengontrol suhu untuk testis, karena agar
sperma terbentuk secara normal, testis harus memiliki suhu yang sedikit lebih rendah
dibandingkan dengan suhu tubuh.
Otot kremaster pada dinding skrotum akan mengendur atau mengencang sehinnga
testis menggantung lebih jauh dari tubuh (dan suhunya menjadi lebih dingin) atau
lebih dekat ke tubuh (dan suhunya menjadi lebih hangat).
c)Testis
Testis berbentuk lonjong dengan ukuran sebesar buah zaitun dan terletak di dalam
skrotum. Biasanya testis kiri agak lebih rendah dari testis kanan.
Testis menghasilkan Follicle Stimulating Hormone (FSH) dan Luteinizing Hormone
(LH) juga hormon testosterone.
Fungsi testis, terdiri dari :
a) Membentuk gamet-gamet baru yaitu spermatozoa, dilakukan di Tubulus
seminiferus.
b) Menghasilkan hormon testosteron, dilakukan oleh sel interstial (sel leydig).

2. Struktur dalamnya terdiri dari : vas deferens, uretra, kelenjar prostat dan vesikula
seminalis.Alat kelamin laki-laki terbagi atas 3 bagian :
a) Vas deferens
Vas deferens merupakan saluran yang membawa sperma dari epididimis. Saluran ini
berjalan ke bagian belakang prostat lalu masuk ke dalam uretra dan membentuk
duktus ejakulatorius. Struktur lainnya (misalnya pembuluh darah dan saraf) berjalan
bersama-sama vas deferens dan membentuk korda spermatika.
b) Uretra
Uretra berfungsi 2 fungsi:
- Bagian dari sistem kemih yang mengalirkan air kemih dari kandung kemih
- Bagian dari sistem reproduksi yang mengalirkan semen.
3. Duktus Duktuli
a)Epididimis
Merupakan saluran halus yang panjangnya 6 cm terletak sepanjang atas tepi dan
belakang dari testis. Epididimis terdiri dari kepala yang terletak di atas katup kutup
testis, badan dan ekor epididimis sebagian ditutupi oleh lapisan visceral, lapisan ini
pada mediastinum menjadi lapisan parietal.
Saluran epididimis dikelilingi oleh jaringan ikat, spermatozoa melalui duktuli
eferentis merupakan bagian dari kaput (kepala) epididimis. Duktus eferentis
panjangnya 20 cm, berbelok-belok dan membentuk kerucut kecil dan bermuara di
duktus epididimis tempat spermatozoa disimpan, masuk ke dalam vas deferens
Fungsi dari epididimis yaitu sebagai saluran penhantar testis, mengatur sperma
sebelum di ejakulasi, dan memproduksi semen.
b) Duktus Deferens
Merupakan kelanjutan dari epididimis ke kanalis inguinalis, kemudian duktus ini
berjalan masuk ke dalam rongga perut terus ke kandung kemih, di belakang kandung
kemih akhirnya bergabung dengan saluran vesika seminalis dan selanjtnya
membentuk ejakulatorius dan bermuara di prostate. Panjang duktus deferens 50-60
cm.
c) Uretra.
Uretra berfungsi 2 fungsi:
- Bagian dari sistem kemih yang mengalirkan air kemih dari kandung kemih
- Bagian dari sistem reproduksi yang mengalirkan semen.
2.3 Etiologi
1. Idiopatik.

2. Dapat dihubungkan dengan faktor genetik, lingkungan atau pengaruh hormonal.

3. Maskulinisasi inkomplit dari genitalia karena involusi menyangkut prematur dari


sel intertisial testis

2.4 Patofisiologi

Pada anak laki-laki yang terkena, penis biasanya luas, dipersingkat dan
melengkung ke arah perut (chordee dorsal). Biasanya, meatus terletak di ujung penis,
namun anak laki-laki dengan epispadias, terletak di atas penis. Dari posisi yang
abnormal ke ujung, penis dibagi dan dibuka, membentuk selokan. Seolah-olah pisau
dimasukkan ke meatus normal dan kulit dilucuti di bagian atas penis. Klasifikasi
epispadias didasarkan pada lokasi meatus pada penis. Hal ini dapat diposisikan pada
kepala penis (glanular), di sepanjang batang penis (penis) atau dekat tulang kemaluan
(penopubic). Posisi meatus penting dalam hal itu memprediksi sejauh mana kandung
kemih dapat menyimpan urin (kontinensia). Semakin dekat meatus adalah dasar atas
penis, semakin besar kemungkinan kandung kemih tidak akan menahan kencing.

Dalam kebanyakan kasus epispadias penopubic, tulang panggul tidak datang


bersama-sama di depan. Dalam situasi ini, leher kandung kemih tidak dapat menutup
sepenuhnya dan hasilnya adalah kebocoran urin. Kebanyakan anak laki-laki dengan
epispadias penopubic dan sekitar dua pertiga dari mereka dengan epispadias penis
memiliki kebocoran urin stres (misalnya, batuk dan usaha yang berat). Pada akhirnya,
mereka mungkin membutuhkan bedah rekonstruksi pada leher kandung kemih.
Hampir semua anak laki-laki dengan epispadias glanular memiliki leher kandung
kemih yang baik. Mereka dapat menahan kencing dan melatih bak normal. Namun,
kelainan penis (membungkuk ke atas dan pembukaan abnormal) masih memerlukan
operasi perbaikan.

Epispadias adalah jauh lebih jarang pada anak perempuan, dengan hanya satu
dari 565.000 terpengaruh. Mereka yang terpengaruh memiliki tulang kemaluan yang
dipisahkan untuk berbagai derajat. Hal ini menyebabkan klitoris tidak menyatu
selama perkembangan, sehingga kedua bagian klitoris. Selanjutnya, leher kandung
kemih hampir selalu terpengaruh. Akibatnya, anak perempuan dengan epispadias
selalu bocor urin stres (misalnya, batuk dan usaha yang berat). Untungnya, dalam
banyak kasus, perawatan bedah dini dapat menyelesaikan masalah ini.

2.5 Manifestasi Klinis

1. Uretra terbuka pada saat lahir, posisi dorsal

2. Terdapat penis yg melengkung ke arah dorsal, tampak jelas pada saat ereksi

3. Terdapat chordae

4. Terdapat lekukan pada ujung penis

5. Inkontinesia urin timbul pd epispadia penopubis (95%) dan penis (75%)


karena perkembangan yang salah dari sfingter urinarius.
2.6 Klasifikasi

Tergantung pada posisi meatus kemih dapat diklasifikasikan ke dalam tiga


bentuk :

1. Balanica atau epispadias kelenjar

adalah malformasi terbatas pada kelenjar, meatus terletak pada permukaan,


alur dari meatus di puncak kepala penis. Ini adalah jenis epispadias kurang sering dan
lebih mudah diperbaiki.

2. Epispadias penis

derajat pemendekan lebih besar dengan meatus uretra terletak di titik variabel
antara kelenjar dan simfisis pubis.

3. Penopubica epispadias

varian yang lebih parah dan lebih sering. Uretra terbuka sepanjang
perpanjangan seluruh hingga leher kandung kemih yang lebar dan pendek.

2.7 Penatalaksanaan

2.7.1 Bedah Teknik

Berbeda dengan hipospadia di mana ada sejumlah besar teknik bedah yang
menawarkan pilihan terapi yang berbeda, karena koreksi epispadia termasuk alternatif
bedah dan hasil dari sudut pandang fungsional sering tidak memuaskan. Ketika
epispadias tidak terkait dengan inkontinensia urin perawatan bedah terbatas pada
rekonstruksi kepala penis dan uretra menggunakan plat uretra.

Ketika epispadias dikaitkan dengan inkontinensia urin pengobatan menjadi


lebih kompleks. Dalam rangka meminimalkan dampak psikologis, usia yang paling
cocok untuk perbaikan bertepatan dengan tahun pertama atau kedua kehidupan.

Yang penting untuk perbaikan epispadia sukses meliputi:

1. Pemanjangan penis

2. Urethroplasty

3. Cakupan cacat kulit dorsal penis

2.8 Pemeriksaan Penunjang

1. Radiologis (IVP)

2. USG sistem kemih-kelamin.

3. Epispadia biasanya diperbaiki melalui pembedahan.


BAB 3
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 PENGKAJIAN
Proses pengkajian pada klien dengan keluhan lubang pada uretranya terletak
pada dorsal penis.pemeriksaan dilakukan oleh perawat dengan melakukan
wawancara, observasi dan pemeriksaan fisik langsung kepada klien. Selain itu
perawat mendapatkan keterangan dari keluarga klien, diskusi dengan perawat
diruangan dan dokter serta data-data yang ada di status rawat inap klien.
Pelaksanaan pengkajian mengacu pada teori, akan tetapi disesuaikan dengan kondisi

klien saat di kaji. Pada saat dilakukan pengkajian klien dan keluarga cukup terbuka

dan sudah terjalin hubungan saling percaya antara klien,keluarga dan perawat

sehingga mempermudah perawat dalam mengkaji pasien dan dalam pelaksanaan

asuhan keperawatan. Hal ini dibuktikan dengan klien mau menjawab pertanyaan dari

perawat dan menerima saran yang diberikan. Dari hasil pengkajian TTV:S=37,60C,

N=110x/menit,R R=32x/menit, TD=120/70mm/Hg

Dari hasil pengkajian tersebut menunjukkan tanda-tanda dan gejala yang ada
pada klien tidak jauh berbeda dengan konsep teori yang ada.
Dari data yang terkumpul kemudian dilakukan analisa dan identifikasi masalah
yang dihadapi oleh klien yang merupakan data fokus dan selanjutnya dirumuskan
diagnosa atau masalah keperawatan.
3.2 Diagnosa Keperawatan
Berdasarkan tinjauan teoritis pada BAB 2, pada Anak dengan keluhan
Epispadia adalah ada 3 diagnosa yang diangkat, meliputi :
1. Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera fisik
2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
faktor biologis
3. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri
4. Gangguan pola tidur berhubungan dengan gangguan
Setelah diagnosa atau masalah keperawatan ditegakan selanjutnya dilakukan
pembuatan rencana tindakan dan kriteria hasil untuk mengatasi masalah keperawatan
yang ada pada klien.
3.3 Perencanaan
Perencanaan dalam proses keperawatan dimulai setelah data terkumpul,
dikelompkkan, dianalisa dan ditetapkan masalah keperawatan. Perencanaan disusun
berdasarkan prioritas masalah yang disesuaikan dengan kondisi klien. Setelah
masalah ditentukan berdasarkan prioritas, tujuan pelayanan keperawatan ditetapkan.
Tujuan bisa ditetapkan dalam jangka panjang atau jangka pendek, harus jelas, dapat
diukur dan realistis. Ditegaskan dalam bentuk perubahan, kriteria hasil sebagai alat
ukur pencapaian tujuan yang mengacu pada tujuan yang disusun pada rencana
keperawatan, pada penyusunan kriteria hasil perawat menyesuaikan dengan waktu
pemberian perawatan yang dilakukan oleh perawat yaitu selama 3 hari
3.4 Pelaksanaan/ Implementasi
Setelah rencana keperawatan dibuat, kemudian dilanjutkan dengan
pelaksanaan. Pelaksanaan rencana asuhan keperawatan merupakan kegiatan atau
tindakan yang diberikan pada anak B dengan menerapkan pengetahuan dan
kemampuan klinik yang dimilki oleh klien berdasarkan ilmu ilmu keperawatan dan
ilmu ilmu lainnya yang terkait. Seluruh perencanaan tindakan yang telah dibuat
dapat terlaksana dengan baik.
Ada beberaa faktor yang mempengaruhi pelaksanaan rencana asuhan keperawatan
atau hambatan yang penulis dapatkan. Hambatan-hambatan tersebut antara lain,
keterbatasan sumber referensi buku sebagai acuan penulis dan juga alat yang tersedia,
pendokumentasian yang dilakukan oleh perawat ruangan tidak lengkap sehingga sulit
untuk mengetahui perkembangan klien dari mulai masuk sampai sekarang secara
detail, lingkungan fisik atau fasilitas rumah sakit yang kurang memadai dan
keberadaan penulis di ruang tempat klien di rawat terbatas.
E. Evaluasi
Evaluasi adalah tahap akhir dalam proses keperawatan. Tahap evaluasi dalam
proses keperawatan menyangkut pengumpulan data subjektif dan data objektif yang
akan menunjukkan apakah tujuan asuhan keperawatan sudah tercapai sepenuhnya,
sebagian atau belum tercapai. Serta menentukan masalah apa yang perlu di kaji,
direncanakan, dilaksanakan dan dinilai kembali.
Tujuan tahap evaluasi adalah untuk memberikan umpan balik rencana
keperawatan, menilai, meningkatkan mutu asuhan keperawatan melalui perbandingan
asuhan keperawatan yang diberikan serta hasilnya dengan standar yang telah di
tetapkan lebih dulu. Pada tahap evaluasi yang perawat lakukan pada Anak B adalah
melihat apakah masalah yang telah diatasi sesuai dengan kriteria waktu yang telah
ditetapkan.
BAB 4
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Epispadia adalah suatu kelainan bawaan pada bayi laki-laki,dimana lubang uretra
terdapat dibagian punggung penis atau uretra tidak berbentuk tabung,tetapi
terbuka.kelainan ini terjadi pada saluran perkemihan.
4.2 Saran
1. Bagi Mahasiswa
Diharapkan agar dapat meningkatkan pengetahuan tentang penyakit-penyakit
dalam keperawatan anak salah satunya pada hipospadia dan juga meningkatkan
kemampuan dalam membuat asuhan keperawatan yang baik dan benar.
2. Bagi Perawat
Diharapkan bagi perawat agar dapat meningakatkan ketrampilan dalam
memberikan asuhan keperawtan serta pengetahuan sehingga dapat memberikan
asuhan keperawtan yang optimal khususnya pada anak yang menderita penyakit
hipospadia dan perawat mampu menjadi edukator yang baik bagi pasien dan
keluarganya.
DAFTAR PUSTAKA

Mooihead,soe dkk. 2004. Nursing Outcomes Classification (NOC) edisi 4. Mas By


Eiseuiere: LISA.

McCloskey, Joanne, dkk. 2000. Nursing Interventions Classification (NIC) edisi 4.


Mosby Elsevien: LISA.

Sumarwati, made, dkk. 2010. Diagnosis Keperawatan Definisi dan Klasifikasi 2009-
2011. EGC: Buku Kedokteran.

Newman, Dorlan. 2011. Kamus Saku Kedokteran Dorlan Edisi 2008. Jakarta: EGC.