You are on page 1of 5

BAB II

ISI

2.1 Penyakit Ehrlichiosis

Ehrlichiosis adalah penyakit yang dapat menyerang pada manusia serta hewan
yang disebabkan oleh bakteri Ehrlichia canis, Ehrlichia ewingii dan Anaplasma
phagocytophilum oleh vektor caplak Rhipicephalus sanguineus, Amblyomma
americanum, ixodes scapularis, dan ixodes pacificus (Rikihisa 2010) . Canine ehrlichiosis
ini juga dikenal sebagai tropical pancytopenia yang sangat fatal bagi anjing ras Herder.

Bakteri Ehrlichia seperti Rickettsiae, dapat hidup hanya di dalam sel hewan atau
manusia. Meskipun begitu, tidak seperti Rickettsiae, bakteri Ehrlichia mendiami sel darah
putih (seperti granulosit dan monosit). Spesies lain mendiami jenis lain pada sel darah
putih. Ehrlichia ewingii hidup di sel granulosit, sedangkan Ehrlichia canis hidup di
monosit.

2.2 Siklus hidup Caplak Rhipicephalus sanguineus

Caplak ini bereproduksi secara seksual dengan menggunakan penis yang dapat
tersembul dan dimasukan ke dalam vagina caplak betina. Siklus R. sanguineus dimulai
dari caplak betina yang bertelur hingga menetas larva yang berkaki 3 pasang berkembang
menjadi nimfa yang berkaki 4 pasang hingga berkembang menjadi caplak dewasa yang
semuanya berada pada inang. Rhipicephalus sanguineus membutuhkan 3 inang dalam
melengkapi seluruh siklusnya, sehingga disebut caplak berumah tiga. Siklus dimulai dari
telur yang diletakkan oleh induknya di tanah. Caplak dewasa setelah kawin akan
menghisap darah sampai kenyang (engorged), lalu jatuh ke tanah dan akan bertelur. Telur
akan menetas menjadi larva dengan 3 pasang kaki, dan naik ke rumput atau semak
belukar.

Larva akan mencari inang barunya dengan bantuan organ olfaktoriusnya (untuk
mencium adanya inang baru). Setelah mendapatkan inangnya, larva akan menghisap
darah inang tersebut sebagai makanannya sampai kenyang. Kemudian larva jatuh ke
tanah atau tetap tinggal pada tubuh inang tersebut dan berubah (molting) menjadi nimfa
dengan 4 pasang kaki. Nimfa hinggap ke inang yang kedua dan menghisap darah sebagai
makanannya. Setelah kenyang menghisap darah inang, nimfa jatuh ke tanah dan molting
menjadi caplak dewasa. Caplak betina dan jantan dewasa hinggap pada inang yang
ketiga, kemudian akan kembali kopulasi dan bertelur hingga 3.000 butir.
Telur caplak biasanya bergerombol pada celah-celah dinding, di bawah dan di
balik perabot-perabot, sofa, tirai, kain pelapis, kursi, di bawah semak-semak dan tanaman
lainnya serta di atap. Periode inkubasi atau proses mulai dikeluarkannya telur sampai
menetas menjadi larva dicapai dalam waktu 17-30 hari. Untuk molting larva menjadi
nimfa membutuhkan waktu selama 2 minggu pada musim panas dan 7 minggu pada
musim dingin. Larva akan mengalami perubahan bentuk tubuh dari bentuk pipih sebelum
menghisap darah menjadi bulat (globular) setelah menghisap darah. Larva yang sudah
siap untuk berubah menjadi nimfa berwarna biru keabuabuan atau disebut light brown.

Ada perbedaan antara caplak betina dan jantan. Caplak betina bila menghisap
darah maka akan berubah bentuk tubuhnya dari pipih menjadi globular yang besar dan
luas pada permukaan badannya, sedangkan jantan menghisap darah yang sedikit pada
inangnya sehingga perubahannya tidak besar, karena anatomi R. sanguineus jantan
mempunyai scutum yang lebih besar daripada betina.

2.3 Patogenesa

Ehrlichiosis disebabkan oleh bakteri Ehrlichia chaffeensis dan ditularkan oleh


kutu Lone Star. Kutu ini menempel pada inang dan menghisap darah inangnya sampai
tubuhnya membesar beberapa kali dari ukuran normalnya. Selama makan, kutu pembawa
bakteri dapat menularkan bakteri ke inang yang sehat, atau dapat mengambil bakteri jika
inangnya sudah terinfeksi. Ehrlichiosis terjadi ketika tubuh digigit oleh kutu yang
terinfeksi. Bakteri memasuki kulit melalui gigitan dan mengalir dalam aliran darah. Kutu
harus menempel dan menghisap darah minimal selama 24 jam, sebelum bakteri dapat
ditularkan. Kutu yang menempel dan tubuhnya membesar, menunjukkan bahwa kutu
sudah makan cukup lama dan sudah mampu menularkan bakteri. Ehrlichiosis dapat
ditularkan melalui transfusi darah, dan melalui kontak langsung dengan hewan yang
terinfeksi.
Berikut adalah gambaran mengenai siklus patogenesa Ehrlichiosis:

2.4 Gejala Klinis

Gejala ini biasanya dimulai 1-3 minggu setelah gigitan caplak. Penyakit ini
ditandai dengan demam tinggi, nafsu makan menurun, keluar darah dari hidung tanpa
mau berhenti pada kulit sering pula ditemukan pendarahan, timbunan cairan pada bagian
bawah tubuh (ventral oedema), kekeruhan pada kornea mata dan kekurusan yang
berlangsung drastis.

Penyakit yang lebih berat ditandai oleh demam berulang kali, leleran hidung,
dan mata berubah menjadi mukopurulen , muntah, halitosis (nafas yang bau), kurus,
terdapat limfadenopati serta splenomegali. Selanjutnya terlihat erosi dari selaput lendir
buccal dan kulit, adanya oedem pada kaki dan skrotum,ascites, hidrotoraks, dan radang
lambung dan usus. Kadang-kadang di axilla dan selangkangan terdapat nanah terbatas,
gangguan syaraf berupa hiperestesi, konvulsi, histeriam dan kemudian diikuti paralisis.
Terjadi anemia, melena, dan perdarahan dari mata. Peteciae dan ecchyomosae dapat
dilihat di kulit perut, penis, rongga bucal , dan kongjungtiva. Kalau terjadi perdarahan
lewat hidung dan mulut biasanya diikuti kematian yang terjadi dalam beberapa jam atau
hari.

Menyerang Manusia:

Tanda-tanda dan gejala ehrlichiosis mulai dari sakit kepala, seperti flu,
anoreksia, mialgia, dan demam dalam waktu seminggu atau dua minggu setelah gigitan
kutu. Presentasi klinis yang parah mungkin termasuk kesulitan bernapas, atau perdarahan.
Korban yang meninggal diperkirakan sekitar 1,8%.

Jika kutu pembawa bakteri yang menyebabkan ehrlichiosis yang telah menggigit
selama 24 jam, maka tanda-tanda dan gejala berikut dapat muncul dalam waktu 5 sampai
14 hari setelah gigitan. Yakni diantaranya: demam ringan, sakit kepala, nyeri otot, mual,
vomit, diare, batuk, serta adanya Ruam.

Menyerang Anjing:

Ehrlichia merupakan tipe bakteri yang menginfeksi anjing dan spesies lain
secara mendunia, menyebabkan penyakit yang disebut sebagai ehrlichiosis. Ehrlichiosis
juga disebut sebagai canine pancytopenia. Biasanya ditularkan melalui caplak, untuk
etiologinya adalah Ehrlichia canis, E. sennetsu. Tempat yang paling disukai adalah leher,
sela-sela jari dan bagian dalam telinga.

Berikut tanda-tanda penyakit yang ditularkan caplak, menyebabkan gejala yang


sama pada anjing, yaitu: hilangnya selera makan, demam, pembengkakan kelenjar getah
bening, pembengkakan sendi atau nyeri, kekurangan darah/anemia, Iritasi atau infeksi
kulit, serta paralysis / kelumpuhan.

Penyakit-penyakit di atas dapat menyebabkan komplikasi serius. Sehingga


pengobatan harus diberikan secara cepat. Kelumpuhan yang dialami mengacu pada
lemahnya otot yang disebabkan oleh racun yang dihasilkan dari caplak tercebut. Penyakit
ini sering menyerang pada hewan liar dan domestik terutama dari jenis canine. Untuk
gejala yang ditimbulkan terbagi ke dalam 3 bentuk yakni akut, subklinis, dan kronis.

Fase Akut: bisa dilihat dari adanya demam, anoreksia, depresi, limfadenopati dan
trombositopenia.

Fase Kronis: terjadi selama berminggu-minggu sampai bertahun-tahun, dengan gejala


pansitopenia, hipoplasia sumsum tulang.

2.5 Diagnosa

Diagnosa dapat dengan melihat dari gejala-gejalanya dan juga dengan


pemeriksaan darah dan didalamnya ditemukan parasit Ehrlichia canis dalam butir darah
putih dalam apusan darah. Pemeriksaan tersebut dapat didukung dengan perhitungan butir
darah putih dan trombosit rendah (leucopenia dan thrombocytopenia). Pemeriksaan darah
untuk memeriksa antibodi terhadap bakteri ini kemungkinan sangat membantu, tetapi
hasilnya biasanya tidak positif sampai beberapa minggu setelah sakit tersebut dimulai.
Tes Reaksi rantai polymerase (PCR) kemungkinan lebih berguna. Hal itu meningkatkan
jumlah DNA bakteri sehingga bakteri lebih mudah dikenali. Kadangkala sel darah putih
mengandung bercak berkarakter (morulae) yang bisa dilihat di bawah mikroskop. Adanya
morule ini lah yang menjadi pertanda positif bagi penyakit Ehrlichia. Agen rickettsia
dapat ditemukan dalam leukosit, bersifat intrasitoplasmik, serta beruba koloni badan
berbentu coccoid.
Dengan pengecatan Giemsa dapat ditemukan kumpulan (cluster) dari Ehrlicia
canis di sitoplasma dari monosit dan netrofil. Organisme E. canis juga dapat dilihat dari
preparat tempel dari jaringan paru-paru. Secara serologik antibodi ehrlichia juga dapat
dikenali dengan teknik imunofluoresensi tidak langsung (IFAT).

2.6 Pengobatan

Pengobatan biasanya dimulai berdasarkan gejala-gejala tersebut muncul, sebelum


hasil pemeriksaan laboratorium tersedia. Pengobatan dianjurkan dengan penggunaan
antibiotik spektrum luas . Antibiotik yang efektif untuk penyakit ini ialah Doxycycline,
chloramphenicol, dan tetrasiklin .Ketika pengobatan dimulai lebih awal, maka potensi
sembuh sangat besar namun bila pengobatan tertunda akan menyebabkan komplikasi
serius termasuk kematian. Yang perlu diperhatikan adalah dengan meniadakan vektor
(caplak) dengan cara menggunakan Anti-tick Spray, Obat Semprot Pembasmi Kutu
Anjing dan Kucing. Pemberiannya diberikan 3 hari berturut-turut sebanyak 3-4 spray
dibagian kulit tubuh anjing peliharaan.

2.7 Pencegahan

Penanggulangan secara kimiawi yang umum dilakukan adalah menggunakan


pestisida (insektisida) sintetik dengan berbagai macam aplikasi langsung dan secara tidak
langsung di anjing. Aplikasi secara langsung bisa dengan mandi (bathing), celup
(dipping), bedak (dusting), pour on maupun semprot (spraying), sedangkan secara tidak
langsung berupa penyemprotan pada daerah sekitar tempat tinggal anjing. Beberapa
insektisida yang dapat menjadi alternatif pilihan adalah diazinon, malathion, fenthion,
propoxur dan permethrin.

Sanitasi dilakukan pada anjing sebagai induk semang maupun terhadap tempat
tinggal anjing. Kandang harus sering dibersihkan secara teratur agar tetap bersih dan
kering. Konstruksi kandang juga harus memudahkan untuk dibersihkan dan diusahakan
agar tidak terlalu banyak celah-celah yang memungkinkan sebagai tempat persembunyian
caplak untuk bertelur. Anjing sebaiknya dihindari untuk berkontak secara langsung
dengan anjing yang terinfestasi caplak. Pengamatan dilakukan secara terus-menerus
terhadap adanya kemungkinan infestasi caplak pada tubuh anjing misalnya dengan cara
memandikan secara teratur dan menyikat rambut anjing setiap hari.

Secara mekanik penanggulangan dapat dilakukan dengan melakukan perputaran


padang penggembalaan (pasture rotation) untuk penanggulangan pada stadium larva di
rerumputan, yang dilakukan dengan menggembalakan anjing pada tempat yang berbeda-
beda setiap selang waktu tertentu (3-4 bulan). Hal ini akan mencegah kontak antara
anjing dengan larva caplak yang telah mencapai stadium infektif.