You are on page 1of 27

MAKALAH KEPERAWATAN ANAK I

012014008
DIII KEPERAWATAN

STIKes Santa Elisabeth Medan


T.A 2014/2015

O L E H :

FENNY MARIANA HUTAGAOL


012014008
DIII KEPERAWATAN

STIKes Santa Elisabeth Medan


T.A 2014/2015
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kepada Allah Yang Maha Esa. karena berkat dan
limpahan rahmatNya penyusun dapat menyelesaikan makalah Asuhan Keperawatan Leukemia
Pada Anak, yang di ajukan untuk memenuhi salah satu tugas Mata Keperawatan Anak.

Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada seluruh pihak yang telah membantu dalam
penyusunan makalah ini.

Kami sadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih jauh dari sempurna, maka dari
itu kami mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak yang telah membaca makalah ini, demi
perbaikan dimasa yang akan datang.

Medan, Februari 2016

Penyusun
DAFTAR ISI

halaman

KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI .. ii
BAB I PENDAHULUAN .... 1
1.1 LATARBELAKANG . 1
1.2 TUJUAN PENYUSUNAN.. 1
1.3 MANFAAT PENULISAN .. 1
1.4 SISTEMATIKA PENULISAN ... 2
BAB II PEMBAHASAN LEUKEMIA . 3

2.1 KONSEP MEDIK .. 3

2.1.11. DEFINISI . 3

2.1.22. ETIOLOGI . 3

2.1.44. MANIFESTASI KLINIS. 8

2.1.55. PATOFISIOLOGI .. 9

2.1.66. KOMPLIKASI 10

2.1.76. PENATALAKSANAAN 10

BAB III KONSEP KEPERAWATAN


3.11. PENGKAJIAN .... 14

3.22. ANALISA DATA .............................................. 15

3.33. DIAGNOSA KEPERAWATAN .. 15

3.44. INTERVENSI ................................................... 16


BAB IV PENUTUP 26
4.1 KESIMPULAN .. 26
4.2 SARAN .. 27
DAFTAR PUSTAKA 28
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Fimosis adalah suatu keadaan dimana prepusium tidak bisa ditarik ke belakang, bisa
dikarenakan keadaan sejak lahir atau karena patologi. Pada usia bayi glan penis dan prepusium
terjadi adesi sehingga lengket jika terdapat luka pada bagian ini maka akan terjadi perlengketan
dan terjadi Phimosis biasanya pada bayi itu adalah hal yang wajar karena keadaan tersebut akan
kembali seperti normal dengan bertambahnya umur dan produksi hormon.
Beberapa penelitian mengatakan kejadian fimosis saat lahir hanya 4% bayi yang
preputiumnya sudah bisa ditarik mundur sepenuhnya sehingga kepala penis terlihat utuh.
Selanjutnya secara perlahan terjadi desquamasi sehingga perlekatan itu berkurang. Sampai umur
1 tahun, masih 50% yang belum bisa ditarik penuh. Berturut-turut 30% pada usia 2 tahun, 10%
pada usia 4-5 tahun, 5% pada umur 10 tahun, dan masih ada 1% yang bertahan hingga umur 16-
17 tahun. Dari kelompok terakhir ini ada sebagian kecil yang bertahan secara persisten sampai
dewasa bila tidak ditangani.
Bila fimosis menghambat kelancaran berkemih seperti pada ballooning maka sisa-sisa
urin mudah terjebak pada bagian dalam preputium dan lembah tersebut kandungan glukosa pada
urine menjadi lading subur bagi pertumbuhan bakteri, maka berakibat terjadi infeksi saluran
kemih.
Berdasarkan data tahun 1980-an dilaporkan bahwa anak yang tidak disirkumsisi
memiliki resiko menderita 10-20 kali lebih tinggi. Tahun 1993, dituliskan review bahwa resiko
terjadi sebesar 12 kali lipat. Tahun 1999 dalam salah satu bagian dari pernyataan AAP tentang
sirkumsisi disebutkan bahwa dari 100 anak pada usia 1 tahun. 7-14 anak yang tidak sirkumsisi
menderita sedang hanya 1-2 anak pada kelompok yang disirkumsisi. Dua laporkan jurnal tahun
2001 dan 2005 mendukung bahwa sirkumsisi dibawah resiko.
Pada akhir tahun pertama kehidupan, retraksi kulit preputium ke belakang sulkus.
Glandularis hanya dapat dilakukan pada sekitar 50% anak laki-laki, hal ini meningkat menjadi
89% pada saat usia tiga tahun. Insidens fimosis adalah sebesar 8% pada usia 6 sampai 7 tahun
dan 1% pada laki-laki usia 16 sampai 18 tahun. Pada pria yang lebih tua, fimosis bisa terjadi
akibat iritasi menzhun. Fimosis bisa mempengaruhi proses berkemih dan aktivitas seksual.
Biasanya keadaan ini diatasi dengan melakukan penyunatan (sirkumsisi). Suatu penelitian lain
juga mendapatkan bahwa hanya 4% bayi yang seluruh kulit preputiumnya dapat ditarik ke
belakang penis pada saat lahir, namun mencapai 90% pada saat usia 3 tahun dan hanya 1% laki-
laki berusia 17 tahun yang masih mengalami fimosis kongenital. Walaupun demikian, penelitian
lain mendapatkan hanya 20% dari 200 anak laki-laki berusia 5-13 tahun yang seluruh kulit
preputiumnya dapat ditarik ke belakang penis.
Fimosis, baik merupakan bawaan sejak lahir (kongenital) maupun didapat, merupakan
kondisi dimana kulit yang melingkupi kepala penis (glans penis) tidak bisa ditarik ke belakang
untuk membuka seluruh bagian kepala penis. Kulit yang melingkupi kepala penis tersebut juga
dikenal dengan istilah kulup, prepuce, preputium, atau foreskin. Preputium terdiri dari dua lapis,
bagian dalam dan luar, sehingga dapat ditarik ke depan dan belakang pada batang penis. Pada
fimosis, lapis bagian dalam preputium melekat pada glans penis. Kadangkala perlekatan cukup
luas sehingga hanya bagian lubang untuk berkemih (meatus urethra externus) yang terbuka.
Fimosis adalah penyempitan pada prepusium. Kelainan ini juga menyebabkan
bayi/anak sukar berkemih. Kadang-kadang begitu sukar sehingga kulit prepusium
menggelembung seperti balon. Bayi/anak sering menangis keras sebelum urine keluar.
Fimosis didapat (fimosis patologik, fimosis yang sebenarnya, true phimosis) timbul
kemudian setelah lahir. Hal ini berkaitan dengan kebersihan (higiene) alat kelamin yang buruk,
peradangan kronik glans penis dan kulit preputium (balanoposthitis kronik), atau penarikan
berlebihan kulit preputium (forceful retraction) pada fimosis kongenital yang akan menyebabkan
pembentukkan jaringan ikat (fibrosis) dekat bagian kulit preputium yang membuka.

1.2 Tujuan
Tujuan Umum:
Mahasiswa dapat mengetahui bagaimana asuhan keperawatan pada anak yang menderita
penyakit fimosis.
Tujuan Khusus
1. Mengetahui asuhan pada penyakit fimosis
2. Mengetahui pengertian pada penyakit fimosis
3. Mengetahui etiologi, tanda dan gejala, tindakan/ penatalaksanaan yang tepat untuk mengatasi
fimosis, serta angka kejadian terjadinya fimosis.

1.3 Rumusan Masalah


Dari latar belakang dan tujuan di atas maka kami dapat merumuskan masalah dari penulisan
makalah ini yaitu:
1. Apakah pengertian dari Fimosis?
2. Apa tanda dan gejala dari fimosis?
3. Apa penyebab terjadinya fimosis?
4. Bagaimana penatalaksanaan dari fimosis?
5. Berapa besar angka kejadian yang terjadi pada bayi yang terkena fimosis?
BAB II

KONSEP DASAR FIMOSIS

2.1 Konsep Medik

2.1.1 Pengertian

1. Fimosis adalah tercerutnya kepala zakar oleh lubang kulup yang terlalu sempit. ( Ramali,

Ahmad; 2003 )

2. Fimosis adalah kondisi dimana prepusium tidak dapat diretraksi dari glans penis. ( Mott,

Sandra; 1990 )

3. Fimosis adalah penyempitan pada prepusium. ( Ngastiyah; 2005 )

4. Fimosis adalah prepusium penis yang tidak dapat di retraksi ( ditarik ke proksimal sampai

ke korona glanis ). ( Purnomo, Basuki; 2000 )

5. Fimosis adalah ketidakmampuan kulup zakar untuk diretraksi pada umur tertentu yang

secara normal dapat diretraksi. ( Behram, Richard E;2000)

6. Fimosis adalah penyempitan lubang prepusium sehingga tidak dapat ditarik ke atas glans

penis. ( Catzel, Pincus; 1990 )

7. Fimosis merupakan pengkerutan atau penciutan kulit depan penis. (

http://www.kompas.com/read/xml/penis.kok,sembunyi )
2.1.2 Etiologi

Fimosis penyebabnya tidak dapat diidentifikasi, tetapi ada beberapa faktor yang

dapat menyebabkan terjadinya fimosis diantaranya:

1. Kongenital

2. Inflamasi/peradangan

3. Oedema

2.1.3 Patofisiologi

Fimosis dialami oleh sebagian besar bayi baru lahir karena terdapat adesi alamiah

antara prepusium dengan glans penis. Hingga usia 3-4 tahun penis tumbuh dan berkembang

dan debris yang dihasilkan oleh epitel prepusium ( smegma ) mengumpul di dalam

prepusium dan perlahan-lahan memisahkan prepusium dari glans penis. Pemisahan secara

kehamilan 7 minggu. Selama proses pemisahan, prepusium harus diretraksi agar menjaga

hygiene sehari-hari.smegma dihasilkan dari personal hygiene yang buruk yang dapat

memberikan perkembangan inflamasi dan infeksi serta telah mengimplikasikan penyebab

kanker penis.

2.1.4 Pathway
2.1.4 Manifestasi klinis

1. Fimosis menyebabkan gangguan aliran urin berupa sulit BAK, pancaran urin mengcil dan

deras menggelumbungnya ujung prepusium penis pada saat miksi dan pada akhirnya

dapat menimbulkan retensi uruin.


2. Hygiene local yang kurang bersih menyebabkan terjadinya infeksi pada prepusium

( postitis ), infeksi pada galns penis ( balanitis ) atau infeksi pada glans penis dan

prepusium penis.

3. Kadang ada benjolan lunak di ujung penis karena adanya korpus smegma ( timbunan

smegma di dalam saku prepusium penis ).

2.1.5 Komplikasi

1. Retensi urin

2. Karsinoma penis

3. Perdarahan

4. Stenosis ineatus

5. Fimosis persisten

6. Robekan pada prepusium

2.1.6 Penatalaksanaan

1. Penatalaksanaan medis

a. Fimosis disertai balanitis xerotica obliterans dapat diberikan salep dexamethasone

0,1% yang dioleskan 3-4 kali sehari dan diharapkan setelah 6 minggu pemberian

prepusium dapat diretraksi spontan.


b. Dengan tindakan sirkumsisi, apabila fimosis sampai menimbulkan gangguan miksi

pada klien. Dengan bertambahnya usia, fimosis akan hilang dengan sendirinya.

2. Prinsip terapi dan manajemen keperawatan

a. Perawatan rutin pra bedah.

1) Menjaga kebersihan bagian alat kelamin untuk mencegah adanya kuman atau

bakteri dengan air hangat dan sabn mandi.

2) Penis harus dibersihkan secara seksama dan bayi tidak boleh ditinggalkan sendiri

berbaring seperti popok yang basah dalam waktu yang lama.

b. Perawatan pasca bedah

1) Setelah dilakukan pembedahan, akan menimbulkan komplikasi salah satunya

perdarahan. Untuk mengatasinya, dengan mengganti balutan apabila basah dan

dibersihkan dengan kain/lap yang berguna untuk mendorong terjadinya

penyembuhan.

2) Mengganti popok apabila basah terkena air kencing.

3) Mengajarkan orang tua tentang personal hygiene yang baik bagi anak.

4) Membersihkan daerah luka setiap hari dengan sabun dan air serta menerpkan

prinsip protektif.
BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN FIMOSIS

3.1 Pengkajian

1. Tanyakan biodata klien.

2. Kaji keadaan umum klien.

3. Kaji penyebab fimosis, termasuk kongenital atau peradangan.

4. Dapatkan riwayat kesehatan sekarang untuk melihat adanya:

a) Kaji pola eliminasi

BAK:

1) Frekuensi : Jarang karena adanya retensi.

2) Jumlah : Menurun.
3) Intensitas : Adanya nyeri saat BAK.

b) Kaji kebersihan genital: adanya bercak putih.

c) Kaji perdarahan

d) Kaji tanda-tanda infeksi yang mungkin ada

5. Obsevasi adanya manifestasi:

a) Gangguan aliran urine berupa sulit BAK, pancaran urine mengecil dan deras.

b) Menggelembungnya ujung prepusium penis saat miksi,

c) Adanya inflamasi.

6. Kaji mekanisme koping pasien dan keluarga

7. Kaji pasien saat pra dan post operasi

3.2 Diagnosa Keperawatan

Pre Operasi

1. Kerusakan eliminasi urine berhubungan dengan infeksi saluran urinaria.

2. Cemas berhubungan dengan krisis situasional.

3. Kurang pengetahuan berhubungan dengan keterbatasan kognitif.

Post Operasi
1. Nyeri akut berhubungan nengan agen cedera fisik.

2. Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur invasif.

3. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan volume cairan aktif.

3.3 Intervensi Keperawatan

Pre Operasi

1. Diagnosa 1

Kerusakan eliminasi urine berhubungan dengan infeksi saluran urinaria.

Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan eliminasi

urine lancar.

a) NOC : Pengawasan urine

Kriteria Hasil :

1) Mengatakan keinginan untuk BAK.

2) Menentukan pola BAK.

3) Bebas dari kebocoran urine sebelum BAK.

4) Mampu memulai dan mengakhiri aliran BAK.

Keterangan skala :
1: tidak pernah menunjukkan

2: jarang menunjukkan

3: kadang menunjukan

4: sering menunjukkan

5: selalu menunjukkan

b) NIC : Perawatan Retensi Urine

Intervensi :

1) Monitor intake dan out put.

2) Monitor distensi kandung kemih dengan palpasi dan perkusi.

3) Sediakan perlak dikasur.

4) Gunakan kekuatan dari keinginan untuk BAK ditoilet.

5) Jaga privasi untuk eliminasi.

6) Berikan waktu berkemih dengan interval reguler, jika diperlukan.

2. Diagnosa II

Cemas berhubungan dengan krisis situasional.


Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan kecemasan

pasien berkurang.

a) NOC : Kontrol cemas

Kriteria Hasil :

1) Tingkat kecemasan dalam batas normal.

2) Mengetahui penyebab cemas.

3) Mengetahui stimulus yang menyebabkan cemas.

4) Tidur adekuat.

Keterangan skala:

1: tidak pernah menunjukkan

2: jarang menunjukkan

3: kadang menunjukan

4: sering menunjukkan

5: selalu menunjukkan

b) NIC : Pengurangan Cemas

Intervensi :
1) Ciptakan suasana yang tenang.

2) Dengarkan dengan penuh perhatian.

3) Kuatkan kebiasaan yang mendukung.

4) Ciptakan hubungan saling percaya dengan klien dan keluarga.

5) Identifikasi perubahan tingkat kecemasan

6) Temani pasien.

7) Gunakan pendekatan dan sentuhan.

8) Jelaskan seluruh prosedur tindakan pada klien.

3. Diagnosa III

Kurang pengetahuan berhubungan dengan keterbatasan kognitif.

Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan keluarga

dan pasien mengerti akan tindakan yang akan dilakukan.

a) NOC : Pengetahuan tentang penyakit

Kriteria hasil :

1) Familiar dengan penyakit.

2) Mendeskripsikan proses penyakit.


3) Mendeskripsikan efek penyakit.

4) Mendeskripsikan komplikasi.

Keterangan skala:

1: tidak pernah menunjukkan

2: jarang menunjukkan

3: kadang menunjukan

4: sering menunjukkan

5: selalu menunjukkan

b) NIC : Mengajarkan proses penyakit

1) Observasi kesiapan klien untuk mendengar.

2) Tentukan tingkat pengetahuan klien sebelumnya.

3) Jelaskan proses penyakit.

4) Diskusikan gaya hidup yang bisa untuk mencegah komplikasi.

5) Diskusikan tentang pilihan terapi.

6) Hindarkan harapan kosong.


7) Instruksikan pada klien dan keluarga tentang tanda dan gejala untuk melaporkan

pada pemberi perawatan kesehatan dengan cara yang tepat.

Post operasi

1. Diagnosa 1

Nyeri akut berhubungan nengan agen cedera fisik.

Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan nyeri

berkurang.

a) NOC : kontrol nyeri

Kriteria hasil :

1) Mengenali faktor penyebab.

2) Menggunakan metode pencegahan.

3) Mengenali gejala-gejala nyeri.

4) Menggunakan analgetik sesuai kebutuhan.

Keterangan skala :

1: tidak dilakukan sama sekali

2: jarang dilakukan
3: kadang dilakukan

4: sering dilakukan

5: selalu dilakukan

b) NIC : pain management

Intervensi :

1) Kaji nyeri secara komprehensif.

2) Observasi isyarat-isyarat non verbal dari ketidaknyamanan.

3) Gunakan komunikasi terapeutik.

4) Kaji latar belakang budaya pasien.

5) Beri dukungan terhadap pasien dan keluarga.

6) Beri informasi tentang nyeri.

7) Tingkatkan tidur yang cukup.

8) Berikan analgetik sesuai kebutuhan.

2. Diagnosa II

Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur invasif.


Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan resiko

infeksi tidak terjadi.

a) NOC : kontrol infeksi: knowledge

Kriteria hasil :

1) Klien bebas dari tanda dan gejala infeksi.

2) Menunjukan perilaku hidup normal.

3) Menunjukan kemampuan untuk mencegah timbulnya infeksi.

Keterangan skala:

1: tidak pernah menunjukkan

2: jarang menunjukkan

3: kadang menunjukan

4: sering menunjukkan

5: selalu menunjukkan

b) NIC : infection kontrol

Intervensi :

1) Bersihkan lingkungan setelah dipakai pasien lain.


2) Batasi jumlah pengunjung.

3) Tingkatkan intake nutrisi.

4) Berikan terapi antibiotik.

5) Pertahankan lingkungan aseptic selama pemasangan alat.

3. Diagnosa III

Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan volume cairan aktif

Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan cairan

terpenuhi.

a) NOC : fluid balance

Kriteria hasil :

1) Mempertahankan urine output sesuai dengan usia dan berat badan.

2) Tekanan darah, nadi, suhu tubuh dalam batas normal.

3) Tidak ada tanda-tanda dehidrasi.

Keterangan skala:

1: tidak pernah menunjukkan

2: jarang menunjukkan
3: kadang menunjukan

4: sering menunjukkan

5: selalu menunjukkan

b) NIC : fluid management

Intervensi :

1) Timbang popok jika diperlukan.

2) Pertahankan cairan intake dan output yang akurat.

3) Monitor status hidrasi.

4) Monitor TTV.

5) Dorong keluarga untuk membantu pasien makan.

6) Kolaborasi dengan dokter jika tanda cairan berlebih muncul memburuk.

3.4 Evaluasi

Pre Operasi SKALA

1. Diagnosa 1

Kerusakan eliminasi urine berhubungan dengan

infeksi saluran urinaria.


a) Mengatakan keinginan untuk BAK. 4

b) Menentukan pola BAK. 4

c) Bebas dari kebocoran urine sebelum BAK. 3

d) Mampu memulai dan mengakhiri aliran BAK. 4

2. Diagnosa II

Cemas berhubungan dengan krisis situasional.

a) Tingkat kecemasan dalam batas normal. 5

b) Mengetahui penyebab cemas. 3

c) Mengetahi stimulus yang menyebabkan cemas. 4

d) Tidur adekuat. 4

3. Diagnosa III

Kurang pengetahuan berhubungan dengan keterbatasan kognitif.

a) Familiar dengan penyakit. 3

b) Mendeskripsikan proses penyakit. 3

c) Mendeskripsikan efek penyakit. 4

d) Mendeskripsikan komplikasi. 3
Post Operasi

1) Diagnosa 1

Nyeri akut berhubungan nengan agen cedera fisik.

a) Mengenali faktor penyebab. 4

b) Menggunakan metode pencegahan. 3

c) Mengenali gejala nyeri. 4

d) Menggunakan analgetik sesuai kebutuhan. 5

2) Diagnosa II

Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur invasif

a) Klien bebas dari tanda dan gejala infeksi. 4

b) Menunjukkan perilaku hidup normal. 4

c) Menunjukkan kemampuan untuk mencegah timbulnya infeksi. 3

3) Diagnosa III

Kekurangan volume cairan berhubungan dengan

kehilangan volume cairan aktif

a) Mempertahankan urine output sesuai dengan 4


usia dan berat badan

b) Tekanan darah, nadi, dan suhu tubuh dalam batas normal. 3

c) Tidak ada tanda-tanda dehidrasi. 4

BAB IV
PENUTUP
KESIMPULAN
Fimosis adalah suatu penyempitan lubang kulit preputium, sehingga tidak dapat ditarik
(diretraksi) ke atas glans penis.ini disebabkan oleh infeksi bakteri karena tidak adanya proteksi
diri yang adekuat.
Paraphimosis adalah sebuah kondisi serius yang bisa terjadi hanya pada laki-laki dan anak
laki-laki yang belum atau tidak disunat. Paraphimosis berarti kulup terjebak di belakang kepala
penis dan tidak dapat ditarik kembali ke posisi normal

SARAN
Dengan adanya makalah dengan kasus fimosis dan parafimosis pada anak,di harapkan
mahasiswa dapat mengerti tentang pengertian, etiologi dan patofisiolgi serta mampu memberikan
suatu asuhan keperawatan yang benar pada anak yang menderita fimosis dan parafimosis.
DAFTAR PUSTAKA

Behirman, Richard E. 1992. Ilmu Kesehatan Anak. Edisi 15. Jakarata:EGC

Catzel, Picus. 1990. Kapita Selekta Pediatric. Edisi 11. Jakarta:EGC

Ngastiyah. 2005. Perawatan Anak Sakit. Jakarta:EGC

Nur, M.F. 1993. Catatan Kuliah Bedah Anak. Jakarta:EGC

Purnomo, Basuki B. 2000. Dasar-Dasar Urologi. Jakarta:CV.Info Medika

Robbins, dkk. 1999. Buku Saku Dasar Patologi Penyakit. Edisi 5. Jakarta:EGC

www.kompas.com/read/xml/2008/06/10/10354630/penis.kok.sembunyi

www.wahanakedokteran.blogspot.com
http://www.mitrahomecare.com/2010/10/askep-anak-dengan-fimosis.html

https://kumpulan0askep.wordpress.com/2011/06/02/askep-fimosis/

Ngastiyah, 2005, Perawatan Anak Sakit, Jakarta: EGC

Haws., Paulette S., 2008, Asuhan Neonatus Rujukan Cepat, Jakarta: EGC

http://brebes-medical-bloggers.blogspot.com/2011/10/fimosis-dan-parafimosis.html

http://dominggushalla.blogspot.com/2009/06/asuhan-keperawatan-pada-anak-dengan.html