You are on page 1of 39

LAPORAN KASUS

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH WALED 
SMF TELINGA HIDUNG TENGGOROK KEPALA LEHER
Jl. PrabuKiansantang No. 4, Waled Kota Babakan Cirebon

Nama Mahasiswa : Meidita wahyu S dan Yuny Hafitry
NIM : 111170045 dan 1111700
Dokter Pembimbing : dr. H. Edy Riyanto B, Sp.THT-KL

2.1. IDENTITAS PASIEN
Nama : Ny. S
Jenis Kelamin : Perempuan
Umur : 31 tahun
Alamat : Cigobang
Agama : Islam
Pekerjaan : Ibu rumah tangga
Status : Sudah Kawin
Tanggal Masuk : 10 Oktober 2016
Tanggal Pemeriksaan : 10 Oktober 2016

2.2. ANAMNESIS
alloanamnesa tanggal 10 Oktober 2016 pukul 11.00 WIB di Poli THT.
2.2.1. Keluhan utama
Nyeri menelan.
2.2.2. Riwayat penyakit sekarang
Pasien perempuan datang diantar oleh keluarganya ke RSUD
waled dengan keluhan nyeri menelan. Keluhan nyeri menelan sudah
dirasakan sejak 1 bulan sebelum masuk rumah sakit. Nyeri menelan sudah
dirasakan 2 kali selama 1 bulan ini. Nyeri menelan dirasakan hilang
timbul. Nyeri menelan paling dirasakan saat pasien menelan makanan dan

setelah pasien makan es. nyeri menelan disertai dengan perasaan
mengganjal di tenggorokan pasien sehingga pasien merasakan tidak
nyaman.
. Menurut keluarga pasien, pasien sering mendengkur saat tidur.
Nyeri menelan tidak disertai dengan batuk, pilek ataupun demam.
Keluhan kering pada tenggorokan, sesak saat bernapas, napas yang terasa
bau, nyeri dan keluar cairan dari telinga, sariawan, dan sulit menelan
disangkal
2.2.3. Riwayat penyakit dahulu dan riwayat pengobatan
Pasien memiliki riwayat nyeri menelan yang hilang timbul sejak
pasien berumur 9 tahun.keluhan nyeri menelan sering disertai batuk dan
pilek tetapi hanya diobati dengan obat warung . 1bulan sebelum ke pol
Pasien sebelumnya telah berobat ke dokter. Setelah diperiksa, pasien
diberitahukan bahwa amandelnya membesar pasien diberikan obat minum
dan dokter tersebut menyarankan untuk operasi jika keluhan berulang.
Keluhan dibiarkan saja dan lama kelamaan keluhan hilang sendiri.
Pasien tidak memliki riwayat alergi seperti alergi makanan, obat-
obatan, bersin pada pagi hari dan gatal-gatal pada kulit. Riwayat asma dan
pengobatan paru disangkal.
2.2.4. Riwayat penyakit keluarga
Tidak ada riwayat alergi dalam keluarga seperti alergi makanan,
obat-obatan, bersin pada pagi hari dan gatal-gatal pada kulit. Riwayat
asma dan pengobatan paru dalam keluarga disangkal.
2.2.5. Riwayat kebiasaan
Pasien Suka mengkonsumsi makanan pedas dan asam

2.3. PEMERIKSAAN FISIK
Dilakukan tanggal 10 Oktober 2016 pukul 11.00 WIB di Poli THT.
2.3.1. Status Generalis
Keadaan umum : Baik
Kesadaran : Compos mentis
Berat badan : 60 kg
Tinggi Badan : 155 cm
Status Gizi : Cukup

2.3.2. Tanda vital
Nadi : 88 x/menit
Tekanan darah : 120/80
Respirasi : 20 x/menit
Suhu : 36,5 °c

 Kepala
Bentuk lonjong, simetris, warna rambut hitam, rambut mudah rontok (-),
deformitas (-)
 Mata
Conjungtiva pucat -/-, Sklera ikterik -/-
 Thoraks :
 Inspeksi :
Pernapasan simetris kanan dan kiri, tidak ada yang tertinggal, retraksi
IC (-), iktus kordis tidak terlihat.
 Palpasi :
Nyeri tekan (-), fremitus taktil simetris kanan = kiri, iktus cordis teraba
di ICS V linea midlavicularis sinistra
 Perkusi :
Sonor pada kedua lapangan paru
Batas jantung : batas atas : linea parasternalis sinistra ICS II, batas
kanan : linea parasternalis dextra ICS V, batas kiri: linea midclavicula
sinistra ICS V
 Auskultasi :
Vesikuler (+/+) normal, ronkhi (-/-), wheezing (-/-)
S1 = S2 reguler murni, murmur (-), gallop (-)
 Abdomen
Inspeksi : datar, luka/bekas luka (-), sikatrik (-)
Palpasi : nyeri tekan (-), soepel, Hepar dan Lien tak teraba
Perkusi : timpani seluruh lapang abdomen
Auskultasi : bising usus (+) 5 kali / menit normal
 Ekstremitas :

hiperemi (-). clubbing finger (-).3. otorhea furunkel (-). edema (-). Ekstremitas atas: edema (-/-). hematoma (-).2. Retraksi (-). sianosis(-). edema (-). sianosis (-). hiperemis (-). edema (-). nyeri normal.1. edema (-) 2. Status Lokalis 2. pigmentasi normal. pigmentasi normal. Telinga 1. Intak. bulging (-). Pemeriksaan telinga No Pemeriksaan Telinga kanan Telinga kiri . perforasi (-). cone of light (+) perforasi (-). furunkel (-). edema (-) Nyeri tekan (-). hiperemi (-). clubbing finger (-). telapak tangan pucat (-). hiperemis (-). telapak tangan pucat (-).3.3. bulging (-). Auricula Bentuk dan ukuran dalam batas Bentuk dan ukuran dalam batas normal.3. Pemeriksaan hidung . nyeri tekan (-) 2. otorhea (-) (-) 4. Serumen (+). nyeri tekan (-) Ekstremitas bawah: Edema (-/-). hematoma (-). edema (-). Tragus Nyeri tekan (-). Membran timpani Intak. CAE Serumen (+). nyeri tarik aurikula (-) tarik aurikula (-) 3. Retraksi (-).3. cone of light (+) 2.3.

berwarna merah muda (N) Mulut Mukosa mulut basah berwarna merah muda.Pemeriksaan hidung Dextra Sinistra Hidung Bentuk normal Bentuk normal Sekret Mukoserous Mukoserous Mukosa konka media Hiperemis(+). dalam batas normal.3. hipertrofi(-) (-) Mukosa konka Hiperemis(+). gangren(-). reflex muntah (+). hipertrofi (-) Hiperemis(-). hiperemis (-). polip (-) 2. hipertrofi(-) Septum Deviasi (-) Deviasi (-) Massa (-). membrane (-).3. pseudomembrane (-). hipertrofi Hiperemis(+). eksudat (-) . hipertrofi(-) Meatus inferior Hiperemis(-). edema (-) Palatum mole Ulkus (-).4 pemeriksaan tenggorokan Bibir Mukosa bibir basah. stomatitis (-) Geligi Warna kuning gading. hipertrofi Hiperemis(+). hipertrofi (-) Hiperemis(-). berlubang (-) Ginggiva Warna merah muda. hipertrofi(-) inferior (-) Meatus media Hiperemis(-). hiperemi (-) Faring Mukosa hiperemi (-). polip (-) (-). sama dengan daerah sekitar Lidah Tidak ada ulkus. luka (-) Uvula Bentuk normal. caries (-).

 Sarankan keluarga untuk mempertimbangkan untuk melakukan operasi pengangkatan amandel atau tonsilektomi  jelaskan indikasi. . dan komplikasinya. pedas.5. Begitu pula dengan minuman dingin.4. manis.Tonsila palatine Kanan Kiri Ukuran T3 T3 Warna Hiperemis (-) Hiperemis (-) Permukaan Tidak rata Tidak rata Kripte Melebar Melebar Detritus (+) (+) Eksudat (-) (-) Peri Tonsil Abses (-) Abses (-) Fossa Tonsillaris hiperemi (-) hiperemi (-) dan Arkus Faringeus 2. DIAGNOSIS Tonsilitis Kronis hipertropikan 2. dan lainnya yang dapat mengiritasi tenggorokan.6. PEMERIKSAAN PENUNJANG Laboratorium Darah lengkap 2.  Menjaga higiene mulut. RENCANA TERAPI Farmakologi  Obat kumur + desinfektan  Cefixime 2 x 200mg  Asam mefenamat 3 x 500mg Non-Farmakologi  Untuk sementara hindari makanan yang berminyak.

Foto pasien .

yang akhirnya terbentuk jaringan ikat limfoid.6 kehidupan janin. Pada bulan ke 3 tumbuh limfosit di dekat epitel tersebut dan terjadi nodul pada bulan ke 6. berasal dari epitel permukaan. Selanjutnya terbentuk fosa tonsil pada bagian dorsal kantong tersebut. Kapsul dan jaringan ikat lain tumbuh pada bulan ke 5 dan berasal dari mesenkim. dengan demikian terbentuklah massa jaringan tonsil. ANATOMI . sehingga terjadi kripta. ANATOMI CINCIN WELDEYER EMBRIOLOGI Pada permulaan pertumbuhan tonsil. terjadi invaginasi kantong brakial ke II ke dinding faring akibat pertumbuhan faring ke lateral. 1. Bagian yang mengalami invaginasi akan membagi lagi dalam beberapa bagian. Kripta tumbuh pada bulan ke 3 . BAB II TINJAUAN PUSTAKA II. yang kemudian ditutupi epitel.

dan laringofaring. di bawah mukosa dinding posterior faring dan dekat orifisium tuba eustachius. orofaring. Tonsila palatina. Dalam pengertian sehari-hari yang dimaksud dengan tonsil adalah tonsila palatina. menunjukkan daerah jalan nafas bagian atas yang terpisah dari saluran pencernaan bagian atas. dan tonsila lingualis yang ketiga-tiganya membentuk lingkaran yang disebut cincin Waldeyer. gugus limfoid lateral faring dan kelenjar-kelenjar limfoid yang tersebar dalam fosa Rosenmuller. Satu pertiga bagian atas atau nasofaring adalah bagian pernafasan dari faring dan tidak dapat bergerak kecuali palatum molle bagian bawah. Bagian tengah faring disebut orofaring. Untuk kepentingan klinis. dan Tonsila lingualis. faring dibagi menjadi 3 bagian utama: nasofaring. tonsila palatina (tonsil faucium). terdapat cincin jaringan limfoid yang melingkar dikenal dengan Cincin Waldeyer. Bagian terpentingnya adalah tonsil palatina dan tonsil faringeal (adenoid). Bagian bawah faring dikenal dengan nama hipofaring atau laringofaring. Cincin waldeyer merupakan jaringan limfoid yang mengelilingi faring. sedang tonsila faringeal lebih dikenal sebagai adenoid. meluas dari batas bawah palatum molle sampai permukaan lingual epiglotis. diliputi epitel skuamosa dan ditunjang oleh jaringan ikat dengan kriptus didalamnya . Tonsil adalah massa yang terdiri dari jaringan limfoid yang terdapat di dalam faring. Unsur yang lain adalah tonsil lingual. . Terdapat 3 macam tonsil yaitu tonsila faringeal (adenoid). Pada orofaring yang disebut juga mesofaring. terdiri dari Tonsila pharingeal (adenoid).

2.Pharyngeal tonsil. 4. 1. Palatine tonsil . Lingual tonsil. Epiglottis Gambar 2. Lobus atau segmen tersebut tersusun teratur seperti suatu segmen terpisah dari sebuah ceruk dengan celah atau . 3. Gambar 1. Anatomi cincin waldayer Tonsila Faringeal (adenoid) Adenoid merupakan masa limfoid yang berlobus dan terdiri dari jaringan limfoid yang sama dengan yang terdapat pada tonsil.

Sel-sel limfoid ini sering mengalami degenerasi disertai deskuamasi sel-sel epitel dan bakteri. Darah vena dialirkan sepanjang pleksus faringeus ke dalam V. yang akhirnya membentuk detritus. Jaringan adenoid di nasofaring terutama ditemukan pada dinding atas dan posterior. konstriktor superior sehingga pada waktu adenoidektomi sukar mengangkat jaringan ini secara keseluruhan. Berlainan dengan tonsil. walaupun dapat meluas ke fosa Rosenmuller dan orifisium tuba eustachius Pada masa pubertas adenoid ini akan menghilang atau mengecil sehingga jarang sekali dijumpai pada orang dewasa. Sedangkan persarafan sensoris melelui N. Jaringan limfoid ini menyebar ke arah lateral dan ukurannya mengecil. Tonsila Lingualis Merupakan kumpulan jaringan limfoid yang tidak berkapsul dan terdapat pada basis lidah diantara kedua tonsil palatina dan meluas ke arah anteroposterior dari papilla sirkumvalata ke epiglottis. dikenal sebagai bursa faringeus. Jumlahnya bervariasi. Vagus. Lobus ini tersusun mengelilingi daerah yang lebih rendah di bagian tengah. Ukuran adenoid bervariasi pada masing-masing anak. antara 30-100 buah. Pada umumnya adenoid akan mencapai ukuran maksimal antara usia 3-7 tahun kemudian akan mengalami regresi. Karotis interna dan sebagian kecil dari cabang-cabang palatina A. Tidak ada jaringan khusus yang memisahkan adenoid ini dengan m.kantong diantaranya. Dipisahkan dari otot-otot lidah oleh suatu lapisan jaringan fibrosa. Maksilaris. Pada permukaannya terdapat kripta yang dangkal dengan jumlah yang sedikit. Adenoid mendapat darah dari cabang-cabang faringeal A. Nasofaringeal yaitu cabang dari saraf otak ke IX dan juga melalui N. . Jugularis interna. Apabila adenoid membesar maka akan tampak sebagai sebuah massa yang terdiri dari 4-5 lipatan longitudinal anteroposterior serta mengisi sebagian besar atas nasofaring. adenoid mengandung sedikit sekali kripta dan letak kripta tersebut dangkal. Adenoid terletak pada nasofaring yaitu pada dinding atas nasofaring bagian belakang.

Lingualis ke V. Kripta dengan ukuran terbesar terletak pada pole atas tonsil dan disebut kripta superior. normalnya mengandung sel-sel epitel. Dibatasi oleh:  Lateral : M. tebal 15 mm. Aliran limfe menuju ke kelenjar servikalis profunda. limfosit. Darah vena dialirkan sepanjang V. lebar 15-20 mm. Tonsila Palatina Tonsil terletak di bagian samping belakang orofaring.Tonsil tidak selalu mengisi seluruh fosa tonsilaris. Karotis eksterna. Lingualis yang merupakan cabang dari A. bakteri. dan sisa makanan. Beberapa kripta ada yang berjalan kearah dalam substansia tonsil dan berakhir dibawah permukaan kapsul. dan berat sekitar 1. Persarafannya melalui cabang lingual N. IX. Jugularis interna. daerah yang kosong diatasnya dikenal sebagai fosa supratonsilar Tonsil terletak di lateral orofaring. berbentuk oval dengan ukuran dewasa panjang 20-25 mm. konstriktor faring superior  Anterior : M. Tonsila lingualis mendapat perdarahan dari A. Permukaan tonsil merupakan permukaan bebas dan mempunyai lekukan yang merupakan muara dari kripta tonsil.5 gram. Berat tonsil pada laki-laki berkurang dengan bertambahnya umur. Tonsil berbentuk oval dengan panjang 2-5 cm. sedangkan pada wanita berat bertambah pada masa pubertas dan kemudian menyusut kembali. Jumlah kripta tonsil berkisar antara 20-30 buah. dan dibatasi oleh pilar anterior (otot palatoglosus) dan pilar posterior (otot palatofaringeus). dalam fossa tonsilaris. palatoglosus  Posterior : M. juga karena tersedianya substansi makanan di daerah tersebut. palatofaringeus . berbentuk celah kecil yang dilapisi oleh epitel berlapis gepeng. Kripta superior sering menjadi tempat pertumbuhan kuman karena kelembaban dan suhunya sesuai untuk pertumbuhan kuman. Tonsil palatina adalah suatu massa jaringan limfoid yang terletak di dalam fosa tonsil pada kedua sudut orofaring..

sedangkan di bagian belakang dibatasi oleh pilar posterior (arkus palatina posterior). Kutub bawah tonsil melekat pada lipatan mukosa yang disebut plika triangularis. folikel germinativum (merupakan sel limfoid) dan jaringan interfolikel (terdiri dari jaringan limfoid). Pole atas tonsil terletak pada cekungan yang berbentuk bulan sabit. Plika ini penting karena sikatrik yang terbantuk setelah proses tonsilektomi dapat menarik folikel tersebut ke dalam fossa tonsilaris. membentuk septa yang mengandung pembuluh darah dan saraf tonsil. Permukaan lateral tonsil ditutupi oleh kapsula fibrosa yang kuat dan berhubungan dengan fascia faringobasilaris yang melapisi M. yang kemudian bersatu di pole atas dan selanjutnya bersama- sama dengan m. sehingga dapat dikelirukan sebagai sisa tonsil. jaringan areolar yang lunak antara tonsil dengan fosa tonsilaris mudah dipisahkan. Pada saat tonsilektomi. . Fossa tonsilaris di bagian depan dibatasi oleh pilar anterior (arkus plalatina anterior). Bagian atas fossa tonsilaris kosong dinamakan fossa supratonsiler yang merupakan jaringan ikat longgar. konstriktor faringeus. letaknya dekat dengan ruang supratonsil dan disebut glandula salivaris mukosa dari Weber. dimana pada bagian bawahnya terdapat folikel yang kadang-kadang membesar. Pada plika ini terdapat massa kecil lunak. Kapsul tonsil tersebut masuk ke dalam jaringan tonsil. disebut sebagai plika semilunaris. Palatina membentuk palatum molle. yang penting peranannya dalam pembentukan abses peritonsil.  Superior : Palatum mole  Inferior : Tonsil lingual Secara mikroskopik tonsil terdiri atas 3 komponen yaitu jaringan ikat.

palatoglosus .Potongan sagital rongga hidung.Anterior : m. dan laring. rongga mulut. Ketiga ruang potensial tersebut adalah : 1. Ruang peritonsil (ruang supratonsil) Berbentuk hampir segitiga dengan batas-batas : .Lateral & posterior : m. faring. palatofaringeus . Di sekitar tonsil terdapat 3 ruang potensial yang secara klinik sering menjadi tempat penyebaran infeksi dari tonsil. Gambar 3.

sementara pada bagianpostero-medialnyaterdapat m. lebih besar. temporalis. Pterygoideusinternus dan bagian atas terdapatfasikuluslongus M. sehingga sulit dibedakan dengan abses peritonsil. Ruang post-styloid. karies gigi atau tindakan operatif. abses dapat timbul oleh karena : radng tonsil. ruang pterygomandibula) Merupakan ruang yang lebih besar dan luas serta banyak terdapat pembuluh darah besar. Pterygoideus interna dan bagian posterior kelenjar parotis . tempat m. sehingga bila terjadi abses. berbahaya sekali. Ruang pre-styloid.Superior : Basis kranii dekat foramen jugulare . berbentuk oval.Inferior : Os hyoid .Lateral : Ramus ascendens mandibula. karotis interna. V. Konstriktor faringeus superior . Ruang parafaring (ruang faringomaksila . .Posterior : Otot-otot prevertebra Ruang parafaring ini terbagi 2 (tidak sama besar) oleh prosesus styloideus dan otot-otot yang melekat pada prosesus styloideus tersebut : . N. menjadi abses peritonsil. Ruang retromolar Terdapat tepat di belakang gigi molar 3.Medial : M. mastoiditis. 2. Buccinator. Jugularis. yang bila terinfeksi dapat menyebar ke ruang peritonsil. merupakan sudut yang dibentuk oleh ramus dan korpus mandibula. Adapun batas-batas ruang ini adalah .Dasar segitiga : pole atas tonsil Dalam ruang ini terdapat kelenjar salivarius Weber. di dalamnya terdapat : A. parotitis. . Di sebelah medial terdapat m. Vagus dan saraf-saraf simpatis. lebih kecil. . 3. Bila terjadi abses hebat pada daerah ini akan menimbulkan gejala utama trismus disertai sakit yang amat sangat.

Ruang parafaring ini hanya dibatasi oleh fascia yang tipis dengan ruang retro faring.Superior : basis cranii . selanjutnya menembus fascia bukofaringeus dan akhirnya menuju kelenjar servikalis profunda yang terletak sepanjang pembuluh darah besar leher.Posterior : fascia prevertebralis .Lateral : parafaringeal space Aliran Limfe Tonsil Tonsil tidak mempunyai sistem limfatik aferen.Inferior : mediastinum setinggi bifurkasio trakea . untuk selanjutnya bermuara ke dalam duktus torasikus. Ruang retrofaring Batas-batasnya adalah sebagai berikut : . Aliran limfe dari parenkim tonsil ditampung pada ujung pembuluh limfe eferen yang terletak pada trabekula. di belakang dan di bawah arkus mendibula.Anterior : fascia m. . yang kemudian membentuk pleksus pada permukaan luar tonsil dan berjalan menembus M. Konstriktor faringeus superior. Kemudian aliran limfe ini dilanjutkan ke nodulus limfatikus daerah dada. Konstriktor superior .

Jugularis .A. Palatida Descenden dan cabangnya. Fasialis. Lingualis dan pleksus venosus faringeal. Fasialis. Tonsilaris. memperdarahi daerah postero-superior . memperdarahi daerah antero-media . memperdarahi bagian postero inferior . Karotis Eksterna. Faringeal Ascenden. memperdarahi daerah antero-inferior . yaitu : . cabang A. A. Palatina Minor. memperdarahi daerah antero-superior Daerah vena dialirkan melalui pleksus venosus perikapsular ke V.A. cabang A. Palatina Mayor dan A. cabang A. Maksilaris Interna. Lingualis Dorsalis.A.Vaskularisasi Tonsil Tonsil diperdarahi oleh beberapa cabang pembuluh darah. yang kemudian bermuara ke V.A. Palatina Ascenden. cabang A.A.

Interna. Bagian bawah tonsil dipersarafi n. glossopharingeus. Penelitian menunjukkan bahwa tonsil memegang peranan penting dalam fase- . II. Pembuluh vena tonsil berjalan dari palatum. Nervus trigeminus mempersarafi bagian atas tonsil melalui cabangnya yang melewati ganglion sphenopaltina yaitu n. palatina.2.Vaskularisasi Tonsil Persarafan Tonsil Persarafan tonsil berasal dari saraf trigeminus dan saraf glossopharingeus. FISIOLOGI DAN HISTOLOGI TONSIL Fungsi jaringan limfoid faring adalah memproduksi sel-sel limfosit tetapi peranannya sendiri dalam mekanisme pertahanan tubuh masih diragukan. Gambar 4. menyilang bagian lateral kapsula dan selanjutnya menembus dinding faring.

2) sebagai organ utama produksi antibodi dan sensitisasi sel limfosit T dengan antigen spesifik. barulah mulai terjadi pembesaran tonsil dan adenoid. Kuman-kuman patogen yang terdapat dalam flora normal tonsil dan faring tidak menimbulkan peradangan. Tonsil mempunyai 2 fungsi utama yaitu 1) menangkap dan mengumpulkan bahan asing dengan efektif. Tonsil merupakan organ limfotik sekunder yang diperlukan untuk diferensiasi dan proliferasi limfosit yang sudah disensitisasi. sedangkan di darah 55-75%:15-30%. terjadi kemunduran fungsi tonsil yang disertai proses involusi. Proporsi limfosit B dan T pada tonsil adalah 50%:50%. Pada tonsil terdapat sistem imun kompleks yang terdiri atas sel M (sel membran). limfosit T. Juga terdapat sel limfosit B. Pada waktu pubertas atau sebelum masa pubertas. yamg pada permulaan kehidupan masa kanak-kanak dianggap normal dan dipakai sebagai indeks aktifitas sistem imun. makrofag. yaitu : .2% dari keseluruhan limfosit tubuh pada orang dewasa.1-0. Tonsil merupakan jaringan limfoid yang mengandung sel limfosit. karena pada daerah ini terdapat mekanisme pertahanan dan hubungan timbal balik antara berbagai jenis kuman. sel plasma dan sel pembawa IgG. Hasil penelitian mengenai kadar antibodi pada tonsil menunjukkan bahwa perenkim tonsil mempunyai kemampuan untuk memproduksi antibodi. Setelah antibodi dari ibu habis. dan APCs yang berperan dalam transportasi antigen ke sel limfosit sehingga terjadi sintesis imunoglobin spesifik. biasanya ukurannya kecil. Sewaktu baru lahir tonsil secara histologis tidak mempunyai centrum germinativum. fase permulaan kehidupan terhadap infeksi mukosa nasofaring dari udara pernafasan sebelum masuk ke dalam saluran nafas bagian bawah. sel dendrit. Penelitian terakhir menyatakan bahwa tonsil memegang peranan dalam memproduksi Ig-A. 0. yang menyebabkan jaringan lokal resisten terhadap organisme patogen. Terdapat 2 bentuk mekanisme pertahanan tubuh.

maka alergen tersebut akan bereaksi dengan IgE sehingga permukaan sel membrannya terangsang dan terjadilah proses degranulasi. Bila ada alergen. maka kuman ini akan ditangkap oleh sel fagosit. yaitu atopi. Selanjutnya sel fagosit akan membunuh kuman dengan proses oksidasi dan digesti. dimana sel-sel tersebut mengandung granula yang berisi mediator vasoaktif. 1. Pada beberapa tempat lapisan mukosa tonsil sangat tipis sehingga menjadi tempat yang lemah terhadap masuknya kuman ke dalam jaringan tonsil. IgA merupakan barier untuk mencegah reaksi imunologi serta untuk menghambat proses bakteriolisis. Dengan teknik immunoperoksida. dalam hal ini adalah elemen tonsil. Oleh karena itu. 2. Disamping itu. IgA mencegah terjadinya penyakit autoimun. anafilaksis. Tonsil dapat memproduksi IgA yang akan menyebabkan resistensi jaringan lokal terhadap organisme patogen. Proses ini akan menyebabkan keluarnya histamin sehingga timbul reaksi hipersensitivitas tipe 1. . Mekanisme pertahanan non spesifik Berupa kemampuan sel limfoid untuk menghancurkan mikroorganisme. dan angioedema. Sel basofil yang terutama adalah sel basofil dalam sirkulasi (sel basofil mononuklear) dan sel basofil dalam jaringan (sel mastosit). dan kripta tonsil. Mekanisme pertahanan spesifik Merupakan mekanisme pertahanan yang penting dalam mekanisme pertahanan tubuh terhadap udaran pernafasan sebelum masuk ke dalam saluran nafas bawah. dapat diketahui bahwa IgE dihasilkan dari plasma sel terutama dari epitel yang menutupi permukaan tonsil. tonsil dan adenoid juga dapat menghasilkan IgE yang berfungsi untuk mengikat sel basofil dan sel mastosit. yaitu histamin. urtikaria. Sedangkan mekanisme kerja IgA. adenoid. Dengan masuknya kuman ke dalam lapisan mukosa. sehingga dalam proses netralisasi dari infeksi virus. bukanlah menghancurkan antigen akan tetapi mencegah substansi tersebut masuk ke dalam proses imunologi.

Pembesaran Tonsil . Apabila terjadi peradangan tonsil palatina yang merupakan bagian dari cincin waldeyer. maka dapat terjadi pembesaran tonsil. Gambar 5. berikut pembagian menurut Thane & Cody : T1 : batas medial tonsil melewati pilar anterior sampai ¼ jarak pilar anterior uvula T2 : batas medial tonsil melewati ¼ pilar anterior-uvula sampai ½ jarak pilar anterior-uvula T3 : batas medial tonsil melewati ½ pilar anterior-uvula sampai ¾ jarak pilar anterior-uvula T4 : batas medial tonsil melewati ¾ pilar anterior-uvula sampai uvula atau lebih.

Peningkatan jumlah sel plasma di dalam subepitel maupun di dalam jaringan interfolikel.Histologi tonsil Secara mikroskopis tonsil memiliki tiga komponen yaitu jaringan ikat. Hiperplasia dan pembentukan fibrosis dari jaringan ikat parenkim dan jaringan limfoid mengakibatkan terjadinya hipertrofi tonsil. II. tonsil palatina (tonsil faucial). b. tonsil tuba Eustachius (lateral band dinding faring atau Gerlach’s tonsil) (Soepardi. Jaringan ini mengandung pembuluh darah.1. Trabekula merupakan perluasan kapsul tonsil ke parenkim tonsil. Definisi Tonsilitis adalah peradangan tonsil palatina yang merupakan bagian daricincin Waldeyer.18. merupakan sel induk pembentukan sel-sel limfoid. 2007). tonsil lingual (tonsil pangkal lidah). Jaringan ikat berupa trabekula yang berfungsi sebagai penyokong tonsil. Sedangkan menurut Reeves (2001) tonsilitis merupakan inflamasi atau pembengkakan akut pada tonsil atau amandel. sedangkan .3 TONSILITIS a. saluran limfatik efferent. Pada tonsilitis kronis terjadi infiltrasi limfosit ke epitel permukaan tonsil. Tonsilitis yang disebabkan oleh spesies Streptococcus biasanya terjadi pada anak usia 5-15 tahun. Cincin Waldeyer terdiri atas susunan kelenjar limfa yang terdapat di dalam rongga mulut yaitu tonsil faringeal (adenoid). Epidemiologi Tonsilitis paling sering terjadi pada anak-anak. Jaringan germinativum terletak dibagian tengah jaringan tonsil.16. syaraf. jaringan interfolikuler.jaringan germinativum.16. Jaringan interfolikel terdiri dari jaringan limfoid dalam berbagai tingkat pertumbuhan. Permukaan bebas tonsil ditutupi oleh epitel statified squamous. namun jarang terjadi pada anak-anak muda dengan usia lebih dari 2 tahun.

2. Iban 20%. Staphylococcus epidermidis dan .12 Data epidemiologi menunjukkan bahwa penyakit Tonsilitis Kronis merupakan penyakit yang sering terjadi pada usia 5-10 tahun dan dewasa muda usia 15-25 tahun. Menurut penelitian yang dilakukan di Skotlandia. usia tersering penderita Tonsilitis Kronis adalah kelompok umur 14-29 tahun.3% usia 15-44 tahun. Streptokokus grup A adalah flora normal pada orofaring dan nasofaring. dan parasit.tonsilitis virus lebih sering terjadi pada anak-anak muda. Malay 25%. S. Staphylococcus aureus. virus. dan Chinese 14%. Selain itu infeksi juga dapat disebabkan Haemophilus influenzae. jamur. Namun dapat menjadi pathogen infeksius yang memerlukan pengobatan. Etiologi Tonsilitis terjadi dimulai saat kuman masuk ke tonsil melalui kriptanya secara aerogen yaitu droplet yang mengandung kuman terhisap oleh hidung kemudian nasofaring terus masuk ke tonsil maupun secara foodborn yaitu melalui mulut masuk bersama makanan9. dan 0. Streptokokus beta hemolitikus grup A. Sedangkan Kisve pada penelitiannya memperoleh data penderita Tonsilitis Kronis terbanyak sebesar 294 (62 %) pada kelompok usia 5-14 tahun. termasuk bakteri aerobik dan anaerobik.6 % usia 45 tahun keatas. Dalam suatu penelitian prevalensi karier Group A Streptokokus yang asimptomatis yaitu: 10.9% pada usia kurang dari 14 tahun. atau kerusakan ini dapat terjadi bila fase resolusi tidak sempurna. Etiologi penyakit ini dapat disebabkan oleh serangan ulangan dari Tonsilitis Akut yang mengakibatkan kerusakan permanen pada tonsil. Pada penderita tonsilitis kronis jenis kuman yang paling sering adalah Streptokokus beta hemolitikus grup A (SBHGA). Dari hasil penelitian Suyitno dan Sadeli (1995) kultur apusan tenggorok didapatkan bakteri gram positif sebagai penyebab tersering Tonsilofaringitis Kronis yaitu Streptokokus alfa kemudian diikuti Staphylococcus aureus.9 c.9 Suku terbanyak pada penderita Tonsilitis Kronis berdasarkan penelitian yang dilakukan di poliklinik rawat jalan di rumah sakit Serawak Malaysia adalah suku Bidayuh 38%. Pneumoniae dan Morexella catarrhalis. yakni sebesar 50 % . 2. Beberapa organisme dapat menyebabkan infeksi pada tonsil.

Infeksi tonsil yang ini adalah peradangan di tenggorokan terutama dengan tonsil yang abses (absesperitonsiler).panas. dapat menyebabkan pembesaran tonsil secara cepat sehingga mengakibatkan obstruksi jalan napas yang akut Infeksi jamur seperti Candida sp tidak jarang terjadi khususnya di kalangan bayi atau pada anak-anak dengan immunocompromised.amandel berperan sebagai filter.dan kelenjar getah bening melemah didalam daerah submandibuler. pasien hanya mengeluh merasa sakit tenggorokannya sehingga berhentimakan. Klebsiella dan E. d. Abses besar yang terbentuk dibelakang tonsil menimbulkan rasa sakit yang intens dan demam tinggi (39C-40C). Infeksi virus biasanya ringan dan dapat tidak memerlukan pengobatan yang khusus karena dapat ditangani sendiri oleh ketahanan tubuh. Abses secara perlahan-lahan mendorong tonsil menyeberang ke tengah tenggorokan.bengkak. Tonsilitis dapat menyebabkan kesukaran menelan. sakit pada sendi . Penyebab penting dari infeksi virus adalah adenovirus.Hal ini akan memicu tubuh untuk membentuk antibody terhadap infeksi yang akan datang akan tetapi kadang-kadang amandel sudah kelelahan menahan infeksi atau virus. Epstein-Barr yang menyebabkan infeksi mononukleosis. coli. Dimulai dengan sakit tenggorokan ringan sehingga menjadi parah.kuman gram negatif berupa Enterobakter.Infeksi tonsil jarang menampilkan gejala tetapi dalam kasus yang ekstrim pembesaran ini dapat menimbulkan gejala menelan. yang menyebabkan timbulnya vesikel dan ulserasi pada tonsil. Pseudomonas aeruginosa. Patofisiologi Saat bakteri atau virus memasuki tubuh melalui hidung atau mulut. Selain itu infeksi virus juga termasuk infeksi dengan coxackievirus A. menyelimuti organism yang berbahaya tersebut sel-sel darah putih ini akan menyebabkan infeksi ringan pada amandel. influenza A.Infeksi bakteri dari virus inilah yang menyebabkan tonsillitis. dan herpes simpleks (pada remaja). Bakteri atau virus menginfeksi lapisan epitel tonsil-tonsil epitel menjadikan terkikis dan terjadi peradangan serta infeksi pada tonsil.

Hal-hal yang tidak menyenangkan tersebut biasanya berakhir setelah 72 jam.Patofisiologi tonsillitis . Gambar 6. seluruh tubuh sakit.Sekresi yang berlebih membuat pasien mengeluh sukar menelan.dan otot.kedinginan.belakang tenggorokan akan terasa mengental.sakit kepala dan biasanya sakit pada telinga.

Macam-macam tonsillitis 1. . Klasifikasitonsilitis f.Patogenesis tonsillitis kronik e. Klasifikasi Bagan 1. Gambar 7.Tonsillitis akut .

Tonsilitis Folikularis : Adalah tonsillitis akut dengan detritus yang jelas d. streptococcus viridian dan streptococcus piogenes. Gambar 7. yaitu a. Infiltrasi bakteri pada lapisan epitel jaringan tonsil akan menimbulkan reaksi radang berupa keluarnya leukosit polimorfonuklear sehingga terbentuk detritus . Penyebab paling tersering adalah virus Epstein Barr. pneumococcus. b. c.Detritus merupakan kumpulan leukosit.alur . . Tonsilitis viral Ini lebih menyerupai common cold yang disertai rasa nyeri tenggorok. Tonsilitis Lakunaris :Bila bercak detritus ini memjadi satu membentuk alur. bakteri yang mulai mati. Tonsilitis akut Dibagi lagi menjadi 2. Tonsilitis Bakterial Radang akut tonsil dapat disebabkan kuman grup A stereptococcus beta hemoliticus yang dikenal sebagai strept throat.

faring dan laring.Sering dituemukan pada anak berusia< 10 tahun dan frekuensi tertinggi pada usia 2 – 5 tahun walaupun pada orang dewasa masih mungkin menderita penyakit ini .Perbedaan tonsillitis bakteridan viral Gambar 9. Gambar 8. Tonsilitis membranosa a. tonsillitis folikularis dan tonsillitis lakunaris 2. Tonsilitis Difteri Penyebabnya yaitu oleh kuman Coryne bacterium diphteriae. kuman yang termasuk Gram positif dan hidung di saluran napas bagian atas yaitu hidung. . Dari kiri kekanan.

3. Tonsilitis Septik Penyebab streptococcus hemoliticus yang terdapat dalam susu sapi sehingga menimbulkan epidemi. 4. Tonsilitis kronis merupakan salah satu penyakit yang paling umum dari daerah oral dan ditemukan terutama di . Terdapat referensi yang menghubungkan antara nyeri tenggorokan yang memiliki durasi 3 bulan dengan kejadian tonsilitis kronik. Tonsilitis kronik merupakan peradangan pada tonsil yang persisten yang berpotensi membentuk formasi batu tonsil. Oleh karena di Indonesia susu sapi dimasak dulu dengan cara pasteurisasi sebelum diminum maka penyakit ini jarang ditemukan.TonsilitisDifteri b. nyeri kepala . Gejala berupa demam sampai 39° C. Gambar 10. Angina Plout Vincent Penyebab penyakit ini adalah bakteri spirochaeta atau triponema yang didapatkan pada penderita dengan higiene mulut yang kurang dan defisiensi vitamin C. badan lemah dan kadang gangguan pecernaan.

terasa kering dan pernafasan berbau. letargi. nyeri abdomen. kriptus membesar dan terisi detritus. sulit menelan. muntah. pasien mengeluh ada penghalang di tenggorokan. terutama ketika dengan adanya gejala seperti demam berulang. Gejala umum yang dikeluhkan : Nyeri seringkali dirasakan di telinga (karena tenggorokan dan telinga memiliki persyarafan yang sama ). nyeri kepala. mual dan muntah. nyeri sendi odinafagia. beberapa jenis makanan. Faktor predisposisi timbulnya tonsillitis kronik ialah rangsangan yang menahun dari rokok. disfagia (sakit saat menelan). Kondisi ini karena peradangan kronis pada tonsil. halitosis dan limfadenopati servikal dan submandibula. tonsil membengkak. pernafasan bau. pucat. demam. Kondisi ini mungkin memiliki dampak sistemik. . anoreksia.  Tonsillitis akut : Seperti gejala common cold. kelelahan fisik dan pengobatan tonsillitis akut yang tidak adekuat. pada pemeriksaan tonsil membesar dengan permukaan tidak rata. nafsu makan menurun . adanya rasa sakit (nyeri) yang terus- menerus pada tenggorokan (odinofagi).Demam. nyeri waktu menelan atau ada sesuatu yang mengganjal di kerongkongan bila menelan. tenggorokan terasa kering. rasa gatal/ kering ditenggorokan. mudah lelah. kelompok usia muda. lesu. odynophagia. sakit kepala.  Tonsilitis membranosa : . tidak nafsu makan. Manifestasi Klinis Pada umumnya penderita sering mengeluh oleh karena serangan tonsilitis akut yang berulang ulang. g. pengaruh cuaca. hygiene mulut yang buruk. suara serak (bila laring terkena). otalgia. Data dalam literatur menggambarkan tonsilitis kronis klinis didefinisikan oleh kehadiran infeksi berulang dan obstruksi saluran napas bagian atas karena peningkatan volume tonsil. tidak enak badan.

badan lemah. h. nyeri kepala. demam.  Tonsilitiskronik : Rasa mengganjal di tenggorokan. nyeri tenggorok . Pemeriksaan fisik  Tonsilitis akut : Tonsilitis tampak hiperemis.nafasberbau. gigi dan gusi mudah berdarah . Fokus pengkajian menurut Firman (2006) yaitu : a. hipersaliva. kelumpuhan otot palatum dan pernafasan. gigi dan gusi mudah berdarah. hipersalivasi. badan lemah dan terkadnag terdapat gangguan pencernaan. Anamnesis 1) Kaji adanya riwayat penyakit sebelumnya (tonsilitis) 2) Apakah pengobatan adekuat 3) Kapan gejala itu muncul 4) Bagaimana pola makannya 5) Apakah rutin atau rajin membersihkan mulut b.  Tonsilitis kronik : . Diagnosis 1.  Tonsilitis membranosa : Tonsil membengkak ditutupi bercak putih. rasa nyeri di mulut. detritus (+) berbentuk folikel atau lacuna atau tertutup membrane semu. kelenjar submandibular membengkak dan nyeri tekan . tenggorokterasakering. membengkak. nyeri kepala. KGB membengkak (bull neck).  Angina Plaut Vincent : Demam sampai 39°C.

Tampak pembesaran tonsil oleh karena hipertrofi dan perlengketan kejaringan sekitar. kripta yang melebardan ditutupi eksudat yang purulen. h. yakni : 1. kripta yang melebar. 2) Tonsilitis terjadi sebanyak 5 kali atau lebih / tahun dalam kurun waktu 2 tahun. Berdasarkan rasio perbandingan tonsil dengan orofaring. tonsil ditutupi oleh eksudat yang purulen atau seperti keju. dengan mengukur jarak antara kedua pilar anterior dibandingkan dengan jarak permukaan medial kedua tonsil. kadang-kadang seperti terpendam di dalam tonsil bed dengan tepi yang hiperemis. mengeriput. terdapat dua macam gambaran tonsil dari Tonsilitis Kronis yang mungkin tampak. . Pengangkatan tonsil (Tonsilektomi ) dilakukan jika: 1) Tonsilitis terjadi sebanyak 7 kali atau lebih /tahun . bisa diberikan dalam bentuk suntikan. maka gradasi pembesaran tonsil dapat dibagi menjadi : T0 : Tonsil masuk di dalam fossa T1 :<25% volume tonsil dibandingkan dengan volume orofaring T2: 25-50% volume tonsil dibandingkan dengan volume orofaring T3 : 50-75% volume tonsil dibandingkan dengan volume orofaring T4 :>75% volume tonsil dibandingkan dengan volume orofaringi. b. Penatalaksanaan Penatalaksanaan tonsillitis secara umum: a. 2. 3) Tonsilitis terjadi sebanyak 3 kali atau lebih / tahun dalam kurun waktu 3 tahun. jika mengalami kesulitan menelan. Jika penyebab bakteri. Mungkin juga dijumpai tonsil tetap kecil. diberikan antibiotik peroral (melalui mulut ) selama 10 hari. Pada pemeriksaan.

kortikosteroid untuk mengurangi edema pada laring dan obat simptomatik. 2) Antibiotik yang adekuat untuk mencegah infeksi sekunder. Tonsiloadenoidektomi adalah pengangkatan tonsil palatina dan jaringan limfoid di nasofaring yang dikenal sebagai adenoid atau tonsil faringeal.  Absesperitonsiler (Peritonsillar abscess) yang tidakmenunjukkanperbaikandenganpengobatan . nyeritelan yang berat. Menurut The American Academy of Otolaryngology Head and Neck Surgery Clinical Indicators Compendium tahun 1995 menetapkan indikasi tonsilektomi : 1. 2) Terapi radikal dengan tonsilektomi bila terapi medikamentosa atau terapi konservatif tidak berhasil. Indikasi Absolut (AAO)  Tonsil yang besarhinggamengakibatkangangguanpernafasan. untuk menghindari komplikasi kantung selama 2-3 minggu atau sampai hasil usapan tenggorok 3 kali negatif 4) Pemberian antipiretik b. TONSILEKTOMI Tonsilektomi didefinisikan sebagai operasi pengangkatan seluruh tonsil palatina. tirah baring. 3) Pasien diisolasi karena menular. Penatalaksanaan tonsillitis kronik 1) Terapi lokal untuk hygiene mulut dengan obat kumur / hisap. bila alergi dengan diberikan eritromisin atau klidomisin. Penatalaksanaan tonsillitis adalah: a.4) Tonsilitis tidak memberikan respon terhadap pemberian antibiotik. gangguantidurataukomplikasipenyakit- penyakitkardiopulmonal. Penatalaksanaan tonsillitis akut : 1) Antibiotik golongan penelitian atau sulfanamid selama 5 hari dan obat kumur atau obat isap dengan desinfektan.

operasi dapat dilaksanakan dengan tetap memperhitungkan imbang “manfaat dan risiko”.  Tonsil yang diperkirakanmemerlukanbiopsijaringanuntukmenentukangambaranpatolog isjaringan. Risiko anestesi yang besar atau penyakit berat 3. Penyakitdarah: leukemia.  Tonsillitis kronis atau tonsilitis berulang yang diduga sebagai carrier kuman Streptokokus yang tidak menunjukkan repon positif terhadap pengobatan dengan antibiotika.  Tonsillitis yang mengakibatkankejangdemam. hemofiliadanpurpura b. 2. Demam. Penyakitsistemik yang tidakterkontrol: diabetes melitus. Indikasi Relatif (AAO)  Jika mengalami tonsilitis 3 kali atau lebih dalam satu tahun dan tidak menunjukkan respon sesuai harapan dengan pengobatan medikamentosa yang memadai.  Kontraindikasiabsolut: a. Keadaan tersebut adalah: 1. penyakitjantungdansebagainya.  Pembesaran tonsil di salah satu sisi (unilateral) yang dicurigai berhubungan dengan keganasan (neoplastik) Kontraindikasi: Terdapat beberapa keadaan yang disebutkan sebagai kontraindikasi. albuminuria. Anemia 4. namun bila sebelumnya dapat diatasi.  Bau mulut atau bau nafas tak sedap yang menetap pada tonsillitis kronis yang tidak menunjukkan perbaikan dengan pengobatan. Hipertensi 2. Gangguan perdarahan.  Kontraindikasirelatif: . Infeksi akut yang berat 5. anemia aplastik.

Poliomielitisepidemik d. Infeksiakutsalurannafasatau tonsil (tidaktermasukabsesperitonsiler) c.a. Anemia (Hb<10 gr% atau HCT <30%) b.Tonsilektomi TehnikTonsilektomi . Usia di bawah 3 tahun (sebaiknyaditunggusampai 5 tahun) Gambar .

Infeksi dapat meluas menuju kapsul tonsil dan mengenai jaringan sekitarnya. dan furunkulosis. Komplikasi jauh terjadi secara hematogen atau limfogen dan dapat timbul endocarditis. Hal ini paling sering terjadi pada penderita dengan serangan berulang. urtikaria. artritis. pruritus. dermatitis. Beberapa literature menyebutkan komplikasi tonsillitis kronis antara lain a) Abses peritonsil. Gejala penderita adalah malaise yang bermakna. myositis. . nefritis.Komplikasi Radang kronik tonsil dapat menimbulkan komplikasi ke daerah sekitarnya berupa rhinitis kronik. sinusitis atau otitis media secara percontinuitatum. Diagnosa dikonfirmasi dengan melakukan aspirasi abses. Abses biasanya terdapat pada daerah antara kapsul tonsil dan otot-otot yang mengelilingi faringeal bed. uvetis iridosiklitis. odinofagi yang berat dan trismus.

Tonsilolith lebih sering terjadi pada dewasa dan menambah rasa tidak nyaman lokal atau foreign body sensation. d) Tonsilolith (kalkulus tonsil). Abses dapat dievakuasi melalui insisi servikal. Merupakan akumulasi pus yang berada dalam substansi tonsil. Biasanya diikuti dengan penutupan kripta pada Tonsilitis Folikular akut. Garam inorganik kalsium dan magnesium kemudian tersimpan yang memicu terbentuknya batu. e) Kista tonsilar. . demam tinggi dan pembengkakan dinding lateral faring sehingga menonjol kearah medial. Gejala utama adalah trismus. Batu tersebut dapat membesar secara bertahap dan kemudian dapat terjadi ulserasi dari tonsil. Penatalaksanaan yaitu dengan pemberian antibiotika dan drainase abses jika diperlukan. selanjutnya dilakukan tonsilektomi. Hal ini didiagnosa dengan mudah dengan melakukan palpasi atau ditemukannya permukaan yang tidak rata pada perabaan. c) Abses intratonsilar. Tonsililith dapat ditemukan pada Tonsilitis Kronis bila kripta diblokade oleh sisa-sisa dari debris. Dijumpai nyeri lokal dan disfagia yang bermakna. Tonsil terlihat membesar dan merah. Abses peritonsil b) Abses parafaring. indurasi atau pembengkakan di sekitar angulus mandibula. Gambar.

Tonsilitis dapat menjadi sumber dari infeksi serius seperti demam rematik atau pneumonia. antibiotika tersebut harus dikonsumsi sesuai arahan demi penatalaksanaan yang lengkap.9 . Dalam penelitiannya Xie melaporkan bahwa anti-streptokokal antibodi meningkat pada 43% penderita Glomerulonefritis dan 33% diantaranya mendapatkan kuman Streptokokus beta hemolitikus pada swab tonsil yang merupakan kuman terbanyak pada tonsil dan faring. f) Fokal infeksi dari demam rematik dan glomerulonephritis. bahkan bila penderita telah mengalami perbaikan dalam waktu yang singkat. Menangani gejala-gejala yang timbul dapat membuat penderita Tonsilitis lebih nyaman. I. infeksi yang sering terjadi yaitu infeksi pada telinga dan sinus. Pada kasus-kasus yang jarang. Bila antibiotika diberikan untuk mengatasi infeksi. PROGNOSIS Tonsilitis biasanya sembuh dalam beberapa hari dengan beristrahat dan pengobatan suportif. Dapat dengan mudah didrainasi. Sangat sering terjadi tanpa disertai gejala. Disebabkan oleh blokade kripta tonsil dan terlihat sebagai pembesaran kekuningan diatas tonsil. Gejala-gejala yang tetap ada dapat menjadi indikasi bahwa penderita mengalami infeksi saluran nafas lainnya. Hasil ini megindikasikan kemungkinan infeksi tonsil menjadi patogenesa terjadinya penyakit Glomerulonefritis.