You are on page 1of 30

DOUBLE NOSE FACIAL CLEFT TESSIER 2,3

( Case Report )

SYARIFAH DEBI MULYA

S561508008

PEMBIMBING:

dr. Amru Sungkar, Sp.B, Sp.BP-RE

PROGRAM PENDIDIKAN DOKTER SPESIALIS BEDAH I
FAKULTAS KEDOKTERAN UNS/ RSUD dr. MOEWARDI
SURAKARTA
2017

LEMBAR PENGESAHAN

Case Report:

DOUBLE NOSE FACIAL CLEFT TESSIER 2,3

PPDS I Ilmu Bedah FK UNS / RSUD DR. MOEWARDI
SURAKARTA
2017

Disusun oleh :

Syarifah Debi Mulya

S561508008

Telah disetujui dan dipresentasikan pada tanggal :

27 Januari 2017

Pembimbing,

dr. Amru Sungkar, Sp.B, Sp.BP-RE

DAFTAR ISI
2

HALAMAN JUDUL……………………………………………………….....….i

LEMBAR PENGESAHAN………………………………………………...........ii

DAFTAR ISI ..................................................................................................iii

DAFTAR GAMBAR…………………………………………………………....iv

BAB I PENDAHULUAN .................................................................................1

BAB II LAPORAN KASUS .............................................................................3

BAB III DISKUSI ….........................................................................................10

BAB IV KESIMPULAN……………………………………………………......22

DAFTAR PUSTAKA......................................................................................23

3

Foto Klinis Pasien Pre Operasi.…16 Gambar 15....19 Gambar 18.........20 4 ..13 Gambar 13..11 Gambar 10.. Tehnik Repair Perbaikan Anaromis dengan Incisi Internal denganBantuan Alat Tambahan…………………………………………………………………………... Korelasi Antara Prosesus Wajah Embrio dengan Wajah Dewasa…………11 Gambar 11.. Tehnik Repair dengan Rotasi Bagian Menggunakan Incisi Eksternal……..7 Gambar 4... Kegagalan Fusiantara Dua Prosesus ………………………………………12 Gambar 12..... Mesoderm Gagal Berkembang di Bawah Ectoderm pada Suatu Prosesus......10 Gambar 9....19 Gambar 17..... Berbagai Prosessus pada Embriologi Wajah……………………………….... DAFTAR GAMBAR Gambar 1..9 Gambar 7. Facial Bipartition…………………………………………………………. Klasifikasi Tessier pada Tulang tengkorak dan Wajah……………………14 Gambar 14........9 Gambar 8.....5 Gambar 3.. Tehnik Repair Perbaikan Anatomis dengan Incisi Internal………………..8 Gambar 6. Foto Klinis DPH VIII Post Aff Hecting…………………………………….. Foto Klinis kontrol Tanggal 30 Desember2016……………………....17 Gambar 16.. Foto Rontgent kepala AP & Lateral…………………………………………..... Anatomi Hidung……………………………………………………………..4 Gambar 2.. Desain Incisi Durante Operasi dan Post Op…………………………………7 Gambar 5 Foto Klinis DPH I……………………………………………………………. Foto Klinis Pre Operatif…………………………………………………….... Box Osteotomy………………………………………………………….………...............

Gambar 19. Pre Op Desain Incisi dan Post Op pada Kasus Nasal Asesorius………….macam Alat bantu yang Digunakan untuk Support pada Rekonstruksi Hidung……………………………………………………………………. Macam..20 Gambar 20.21 5 .

patomorfogenesis dan insidensinya (Versnel. Jenis tersering dari facial cleft adalah cleft lip dan atau cleft palate. tidak selalu sama pada setiap individu. Facial cleft termasuk malformasi yang cukup rumit untuk ditangani dan dipelajari karena bentuk klinisnya sangat bervariasi. dan religious. yang berbeda lokasi. 2003). mengenalkan konsep keterhambatan perkembangan selama proses embrionik sebagai penyebabnya. meliputi faktor lingkungan. teknik maxilofasial. Kemudian. 2010). sehingga orang awam cenderung lebih mengenalnya. psikologis. Malformasi kongenital dari tengkorak. tidak hanya melibatkan mulut dan hidung. Selama bertahun-tahun. wajah dan rahang mewakili malformasi kraniofasial. Pada tahun 1575 seorang ahli bedah Perancis. Sementara itu. Ambroise Pare menerbitkan sebuah buku yang mengulas mengenai berbagai penyebab kelainan kongenital. Hal tersebut diperlukan sebab tujuan yang ingin dicapai pada operasi ini selain secara estetika juga melibatkan berbagai macam fungsi wajah (Booth et al. telinga. kening dan dapat sampai ke batas rambut (Coruh & Gunay. Ada banyak jenis malformasi kraniofasial kongenital. Pada awal abad ke 19. maupun rekonstruksi jaringan lunak pada wajah. BAB I PENDAHULUAN Malformasi dapat terjadi pada semua jaringan dan semua bagian tubuh. dan dapat hadir sebagai malformasi murni atau sebagai bagian dari sindrom. Seorang ahli bedah harus mempunyai keterampilan yang baik pada operasi kraniofasial. tetapi meliputi jaringan lunak dan tulang pada dagu. yang termasuk facial cleft. 2008). sehingga pada tahun 1 . meckel dan Geoffry St. William Havey (1578-1657). Hilaire mendirikan badan penelitian tentang teratologi. Facial cleft adalah suatu kelainan kongenital dalam bentuk malformasi pada wajah dan tengkorak yang mencakup spektrum kelainan yang luas dan bermanifestasi menjadi berbagai macam bentuk. herediter. Insidensi malformasi kongenital adalah 1 dari 33 kelahiran. 2008). mata. penelitian mengenai kelainan tersebut masih sedikit akibat angka kejadiannya yang tergolong jarang (Booth et al.

Ibu mengkonsumsi alkohol selama kehamilan d. seperti radiasi. dan proliferasi sel serta remodeling jaringan lunak (Versnel. atau saudara dekat lain yang lahir dengan sumbing wajah. Memiliki saudara kandung. diferensiasi. Bayi yang memiliki cacat lahir lainnya b. obat. orang tua. dan sindrom rupture amnion juga dapat menjadi penyebabnya (Versnel. human influenza). dapat berasal dari bayi sendiri maupun dari ibunya. 2010). 2010). Faktor risiko terjadinya facial cleft ini. Teori lain yang disuguhkan oleh Meckel menjelaskan adanya gangguan proses perkembangan yang melibatkan berbagai tahap. Mekanisme nongenetik juga bisa menjadi penyebab. talidomid). Selain itu. Sampai saat itu. deposisi. seperti metabolism fenilalanin maternal yang abnormal. hematoma. yaitu teori pita amnion/ amniotic band (Versnel. Namun.obatan (antikonvulsan. penyebab facial cleft masih belum jelas.1832 dimulailah berbagai penelitian tentang penyebab kelainan kongenital. abnormalitas metabolism. oligohidramnion. c. Faktor risiko tersebut antara lain: a. Geoffry mencoba mengemukakan pendapatnya mengenai hal ini. infeksi (toxoplasmosis. 2010). Kekurangan asam folat pada pembuahan atau selama kehamilan awal 2 . antara lain informasi genetik. tretinoin. Memiliki penyakit atau infeksi saat hamil e.

gangguan makan dan minum (-). Nafsu makan saat kehamilan baik. isi dan tegangan cukup kRR : 22 x/menit T : 36. konsumsi obat-obatan. pendengaran (-). BAB II LAPORAN KASUS Seorang An S perempuan umur 3 tahun dibawa orangtuanya ke poli bedah plastic RDSM dengan keluhan celah pada rongga hidung sejak lahir. nutrisi cukup serta mendapat suplemen gizi dari bidan. simetris. Keluhan sudah diketahui sejak lahir dan tidak berubah hingga sekarang. dan alkohol disangkal. pasien lahir dengan usia kehamilan 37 minggu. Riwayat paparan asap rokok saat kehamilan disangkal. pemeriksan kehamilan rutin dilakukan 1 kali setiap bulan ke bidan. kesan gizi cukup Vital sign : N : 94 x/menit. Riwayat Kelahiran. spontan di bidan dengan berat badan lahir 3100 gram serta panjang badan 48 cm. gangguan pernafasan (-).7º C per aksilar Kepala : tidak ada kelainan Mata : tidak ada kelainan Telinga : tidak ada kelainan Hidung : lihat status lokalis Mulut : tidak ada kelainan Leher : tidak ada kelainan Thoraks Inspeksi : pengembangan dada kanan dan kiri sama Palpasi: krepitasi (-) Perkusi : sonor/sonor 3 . regular. Pada pemeriksaan fisik didapatkasil pemeriksaan sebagai berikut: Keadaan umum : Compos mentis. lahir langsung menangis kuat. . pasien merupakan rujukan dari RS Blora. Ibu pasien hamil saat usia 41 tahun. keluhan gangguan pengucapan (-). Tidak didapatkan adanya penyakit selama kehamilan. Riwayat kehamilan. infeksi telinga (-). E4V5M6. Riwayat sakit berat. tampak sakit sedang. penghidu (-).

GDS 118mg/dl. Plan diagnosis yang selanjutnya adalah pemeriksaan laboratorium darah dan rontgen Kepala AP/Lateral. hematocrit 35%. Hasil pemeriksaan rontgen kepala AP dan Lateral yang dilakukan pada 8 November 2016 didapatkan 4 . Auskultasi : suara dasar vesikuler (+/+) Abdomen : tidak ada kelainan Extremitas : tidak ada kelainan Genitalia : tidak ada kelainan Status Lokalis Regio Nasal I : Deformitas (+) pada ala nasi bilateral. Natrium 138 mmol/L.8 detik. Hasil pemeriksaan laboratorium yang dilakukan pada 7 November 2016 didapatkan Hb 11.0 mmol/L. 920. Chlorida darah 104 mmol/L dan HbsAg nonreaktif. SGPT 7 u/L. Ur 24 mg/dl. APTT 28.81 juta/ µL. Foto Kinis Pasien Pre Operasi Pasien didiagnosis dengan Facial Cleft Regio Nasal. SGOT 28 u/L. trombosit 411 ribu/ µL.2 g/dl.0 detik. Cr 0. INR 0. Kalium 4. PT 11. golongan darah O.0 ribu/µL. eritrosit 4. tampak cleft pada lubang hidung dekstra dan sinistra Gambar 1. leukosit 9. Albumin 45 g/dL.4 mg/dl.

Injeksi Cefotaxime 400 mg ekstra sebagai antibiotik profilaksis (skin test terlebih dahulu) 5. Irfan / dr Debi Diagnosis : Facial Cleft Regio Nasal 5 . Amru Sungkar. Konsultasi anestesi 3. Konsultasi pediatri 4. Persiapan preoperatif yang dilakukan adalah: 1. SpBP-RE (K) Asisten : dr. Informed consent 2. Foto Rontgent Kepala AP dan Lateral Pasien direncanakan tindakan operasi rekonstruksi nasal dengan anestesi umum. Puasa 6 jam Pasien kemudian dilakukan operasi rekonstruksi hidung di OK IGD pada tanggal 8 November 2016 di OK IGD. Laporan operasi 8 November 2016 Operator : dr. SpB. Gambar 2.

Jahit aproksimasi tepi insisi dengan benang multifilament absorbable 5.0 simple interrupted. 7.Tindakan : Rekonstruksi Hidung 1. Buat desain insisi disekitar defek 5. Tutup luka dengan tulle. Toilet medan operasi. pasang duk steril berlubang 3. 6. Operasi selesai 6 . Posisi supine dalam general anestesi 2. Insisi sesuai desain pada defek. kassa lembab dan kasa kering 9. Identifikasi lubang pada hidung / nasolabial fasial (D) dan adanya septum pada lubang hidung (S) 4. kontrol perdarahan. Tampon perdarahan pada lubang hidung 8.

Foto Klinis Pre Operatif Gambar 4. Gambar 3. Durante Operasi dan Post Operasi 7 . Desain Insisi.

Foto Klinis DPH VIII Post Aff Hecting 8 . Foto Klinis DPH I Gambar 6. Gambar 5.

Foto Klinis Kontrol tanggal 30 Desember 2016 9 .Gambar 7.

Sumbing wajah adalah istilah untuk semua macam bentuk celah di wajah.2008). Ada banyak variasi jenis celah dan klasifikasi yang diperlukan untuk menjelaskan dan mengelompokkan semua jenis celah. Gambar 8. jaringan lunak. kulit. dan lain sebagainya. Semua struktur seperti tulang. BAB III DISKUSI Facial cleft dapat didefinisikan sebagai kegagalan pembentukan jaringan wajah baik parsial. Sedangkan pseudocleft terjadi karena kegagalan diferensiasi jaringan setelah terjadi fusi (Booth et al. 2008). Pada sumbing wajah terjadi tumpang tindih dari sumbing yang berdekatan (Booth et al. Sumbing wajah merupakan kelainan kongenital yang sangat jarang . True facial cleft adalah sebuah pembukaan atau celah di wajah karena kegagalan penyatuan atau fusi bagian dari wajah. dapat terpengaruh. sehingga dapat berupa true facial cleft atau pseudo cleft. maupun lengkap. Anatomi Hidung 10 .

Gambar 9. Korelasi antara processus di wajah dari suatu embrio dan wajah seorang dewasa akan membantu klinisi dalam memahami morfologi dan distribusi cleft (Ortiz. dan terdapat pola untuk tipe dasar dari berbagai cleft yang berbeda.Monasterio. 11 . Oleh karena itu. 2008).Patofisiologi Pembentukan cleft terjadi ketika embrio mengalami pertumbuhan. 2008). sehingga apapun yang mengganggu ‘tempat pertemuan’ ini atau apapun yang menyebabkan rupturnya persatuan ini akan menimbulkan cleft. Berbagai processus pada embriologi wajah Berbagai processus yang berbeda akan menyambung di sekeliling area mulut. merupakan hal yang penting untuk mengetahui embryogenesis wajah sebagai prinsip dasar untuk memahami kompleksitas malformasi ini (Ortiz-Monasterio.

Gambar 11. Korelasi antara processus wajah embrio dengan wajah dewasa. Kegagalan fusi antara dua processus 12 . Kegagalan fusi tersebut dapat disebabkan perubahan lapisan ectoderm atau kegagalan pada lapisan tersebut dimana seharusnya lapisan tersebut menghilang (sehingga memberi tempat bagi mesoderm intuk berkembang dan membentuk penyatuan antar bagian). Terdapat beberapa teori yang dapat menjelaskan patofisiologi facial cleft (Ortiz-Monasterio. Dalam teori itu dijelaskan bahwa terdapat kegagalan fusi berbagai processus sehingga menyebabkan terpisahnya bagian wajah dan terbentuk cleft. Teori Kegagalan Fusi Teori ini diusulkan oleh Dursy dan His pada abad XIX dan dianggap sebagai teori klasik. 1. 2008). Etiologi cleft kraniofasial sebenarnya berdasar pada teori dan prinsip yang sama dengan cleft lip dan cleft palate.Gambar 10.

Kolaps ini akhirnya menimbulkan cleft. Gambar 12. Mereka menyatakan bahwa malformasi cleft sebenarnya bukan suatu cleft sejati tetapi suatu displasia. Mesoderm gagal berkembang di bawah ectoderm pada suatu processus 3. Displasia ini merupakan hasil dari berhentinya pertumbuhan selama proses fusi fasial. muncullah klasifikasi Morian yang mengklasifikasikan facial cleft menjadi dua tipe yaitu tipe I yang merupakan oculonasal cleft dan tipe II. Setelah itu. Teori van der Meulen Di akhir abad ke XX.2. dan mereka menyatakan bahwa kurangnya migrasi mesodermal dan penetrasi menyebabkan kolapsanya ectoderm karena tidak ada penyangga. dari foramen infraorbita hingga aspek luar wajah. Klasifikasi Malformasi kraniofasial. Dimulai dari tahun 1887 oleh Morian. Defek yang terjadi disebabkan tidak adanya atau kuranya pertumbuhan sentra osifikasi pada wajah. Teori Migrasi Mesoderm Teori ini dipaparkan oleh Pohlmann dan Veau di tahun-tahun awal abad XX. klasifikasi tersebut mengalami beberapa penyesuaian dan pembaharuan seperti klasifikasi AACPR (American Association of Cleft Palate 13 . Van der Meulen dan koleganya mengusulkan teori yang lebih kompleks dimana konsep embriologi lebih terkait dengan anomali cleft. dimana salah satunya adalah facial cleft telah mengalami beberapa tahap klasifikasi.

Klasifikasi Tessier merupakan cara paling mudah untuk mendeskripsikan cleft dan nomenklaturnya. Klasifikasi Tessier Paulus Tessier mengklasifikasikan facial cleft berdasarkan posisi anatomis dari celah. Berbeda dengan klasifikasi Tessier. cleft berdasarkan posisinya diberi nomor 0-14 dengan nomor 30 menunjukkan simfisis media dari mandibula. klasifikasi Boo-Chai. paramedian cleft. David et al. Penomeran ini memudahkan nomenklatur cleft. orbital cleft dan lateral cleft.Rehabilitation) pada tahun 1962. 2008). sehingga menjadi klasifikasi yang paling sering digunakan hingga sekarang (Ortiz-Monasterio. Berbagai jenis facial cleft ini dapat dimasukkan ke dalam 4 kelompok berdasarkan posisinya. 2010). Gambar 13. klasifikasi Van de Meulen didasarkan pada hubungan cleft dengan asal embriogenesisnya. 1989). dan klasifikasi van de Meulen. yaitu midline cleft. (Butow & Botha. 1976.. karena tampaknya bahwa celah jaringan lunak memiliki lokasi yang sedikit berbeda di muka dari celah tulang (Tessier. 2008). klasifikasi Tessier. 1. Klasifikasi Tessier menggambarkan celah di tingkat jaringan lunak maupun di tingkat tulang. klasifikasi Karfik. Klasifikasi Tessier didasarkan pada posisi anatomi celah. Berbagai jenis celah Tessier diberi nomor 0 sampai 14. Dua klasifikasi yang diterima secara luas adalah sistem klasifikasi Tessier dan van de Meulen (Ortiz-Monasterio. Klasifikasi Tessier pada tulang tengkorak dan wajah 14 . Pada system klasifikasi ini. Sistem ini murni bersifat deskriptif dan tidak berkaitan dengan faktor-faktor embriologi maupun patologi.

Jika operasi diperlukan agar fungsi menjadi baik. bibir. karena variasi belahan yang sangat banyak. Coloboma 15 . hal ini harus dilakukan pada usia dini. 2011). Terapi pada Anomali Orbital/Mata Anomali pada orbital/mata yang paling umum terlihat pada anak dengan sumbing adalah coloboma dan distopia vertikal. Oleh karena itu ahli bedah kraniofasial juga harus memiliki keterampilan dalam osteotomi maksilo- mandibular (Ortiz-Monasterio. jika fungsi bagian dari wajah tidak rusak. bedah saraf. sebuah hidung fungsional. Rencana terapi dari celah wajah dibuat setelah diagnosis. Rencana ini mencakup setiap operasi yang dibutuhkan dalam 18 tahun pertama kehidupan pasien untuk merekonstruksi wajah sepenuhnya. kelopak mata. 1. 2008). Rekonstruksi jaringan lunak dapat dilakukan pada usia dini. anomali orbit dan mata. beberapa kasus cleft membutuhkan pembedahan ortognatik. Jenis operasi yang dilakukan tergantung pada jenis celah dan struktur yang terlibat. Tidak ada satu jenis pengobatan yang ditetapkan untuk untuk facial cleft. operasi tergantung pada faktor psikologis dan daerah wajah rekonstruksi. Hasil estetika terbaik dicapai bila sayatan ditempatkan di daerah-daerah yang sedikit menarik perhatian. Masalah pada rekonstruksi awal adalah kecacatan yang timbul akibat adanya pembatasan pertumbuhan intrinsik.. Terlebih lagi. dan bedah maksilofasial. Sebagian besar cleft sangat membutuhkan prosedur bedah plastik karena beragam teknik flap dan/ atau ekspansi jaringan diperlukan untuk rekonstruksi lipatan mata. anomaly hidung dan anomali midface mulut (tahmeedullah et al. tetapi hanya jika flap kulit dapat digunakan lagi selama operasi berikutnya. a. Perlakuan terhadap facial cleft dapat dibagi di berbagai wilayah wajah: anomali tengkorak. dan telinga estetik.Terapi Terapi untuk deformitas kompleks ini sangat membutuhkan operasi dimana operasi tersebut dapat melibatkan ahli bedah plastik. Namun. Hal ini memerlukan operasi tambahan pada usia lanjut untuk memastikan semua bagian wajah yang terbentuk proporsional. Waktu operasi tergantung pada urgensi dari kondisi yang mendasarinya.

dengan menutup celah Boney atau merekonstruksi lantai orbital menggunakan graft tulang (Coruh & Gunay. Distopia Orbit Vertikal Distopia orbital vertikal dapat terjadi di sumbing pada lantai orbital dan/atau rahang atas. 2012. Distopia orbit vertikal berarti bahwa mata tidak terletak pada garis horizontal yang sama di wajah (satu mata lebih rendah dari yang lain). menghapus sepotong tulang berbentuk segitiga dari dahi dan tulang hidung dan menarik dua potong dahi bersamasama. b. untuk mencegah kekeringan mata dan hilangnya penglihatan berturut-turut (Coruh & Gunay. 2003).Coloboma yang sering terjadi di sumbing adalah celah yang terdapat pada kelopak mata bawah atau atas. Sharma. Pengobatan ini didasarkan pada rekonstruksi lantai orbital. Hal ini dapat dilakukan dengan memisahkan rahang dan tulang frontal. Ini harus ditutup sesegera mungkin. Hypertelorism Ada banyak jenis operasi yang dapat dilakukan untuk mengobati hypertelorism. 2003). 16 . ruang antara kedua bagian rahang atas akan menjadi lebih luas (Marchac et al. tapi karena tindakan ini juga. Tujuan dari bipartition wajah tidak hanya untuk membawa orbita lebih dekat bersama-sama. c. Tujuan dari box osteotomy adalah untuk membawa orbita lebih dekat bersama-sama dengan menghapus sebagian dari tulang antara orbit.. Tidak hanya hypertelorism yang akan teratasi setelah dilakukan tarikan tulang frontal secara bersama-sama. 2014). 2 pilihan tersebut adalah: osteotomy dan bipartition wajah (juga disebut sebagai fasiotomi median). tetapi juga untuk menciptakan lebih banyak ruang di rahang atas. untuk melepaskan kedua orbit dari struktur tulang di sekitarnya dan menggerakkan orbita lebih ke tengah wajah.

Kelemahan rekonstruksi ini adalah bahwa setelah dilakukan pada usia yang lebih muda. biasanya diambil dari telinga. Rekonstruksi hidung dengan flap dahi didasarkan pada reposisi penutup kulit dari dahi ke hidung. Gambar 14. karena hidung memiliki pertumbuhan yang terbatas di daerah celah. Facial Bipartition 2. Box Osteotomy Gambar 15. Per baikan alae (sayap hidung) sering membutuhkan inset cangkok tulang rawan. Operasi kedua sering diperlukan jika operasi dilakukan pada usia dini. Terapi pada Anomali Hidung Anomali hidung yang ditemukan pada kelainan sumbing bervariasi. Tujuan utama dari perawatan ini adalah untuk merekonstruksi hidung untuk mendapatkan hasil yang diterima secara fungsional dan estetika. flap tidak dapat diperpanjang pada tahap berikutnya. Selain itu. cleft pada nasal juga dapat 17 .

terutama dalam masa mempertahankan kehamilan dan menyambut kelahiran 18 . Pada pengobatan anomaly midface umumnya operasi lebih banyak dibutuhkan. 2003. Terapi pada Anomali Mulut Ada beberapa pilihan untuk pengobatan anomali mulut seperti sumbing Tessier 2-3-7. Celah ini juga terlihat dalam berbagai gejala seperti sindrom Treacher Collins dan microsomia hemifacial. 2015).direkonstruksi dengan menggantikan kartilago lateral bawah yang tidak ada dengan kartilago konka melalui pendekatan endonasal (Jhamb & Mohanty. akan menurunkan resiko memiliki anak dengan facial cleft secara signifikan. Hasil dari penelitian yang dilakukan oleh U. kemungkinan bahwa terhambatnya pertumbuhan akan menghasilkan tulang rahang yang lebih kecil di seluruh 3 dimensi (tinggi. National Institute of Health adalah bahwa ibu yang mengkonsumsi asam folat pada masa kehamilannya. 2007. perlakuan terhadap anomali mulut merupakan bagian dari pengobatan sindrom. Untuk mempersiapkan orangtua secara optimal. karena dapat dibangkitkan lagi dan dialihkan lagi. Terapi pada Anomali Midface Perlakuan bagian jaringan lunak dari anomali midface sering merupakan rekonstruksi dari skin flap pipi. Skin flap ini dapat digunakan untuk operasi lain di lain waktu. Terdapat factor genetik dan lingkungan yang mendasari. Dalam hal ini.S. lebar) (Agarwal. Bila sumbing melibatkan rahang atas. Figueroa & Polley. Mishra et al. Metode yang paling umum untuk merekonstruksi midface adalah dengan menggunakan garis fraktur sayatan atau yang seperti dijelaskan oleh René Le Fort . Pencegahan Karena penyebab sumbing masih tidak jelas. proyeksi. Jadi. asam folat memberikan kontribusi untuk risiko yang lebih rendah dari anak yang lahir dengan facial cleft. 3. yang membuat perawatan jauh lebih rumit. 4. sulit untuk mengatakan apa yang mungkin mencegah anak-anak yang lahir dengan sumbing. Diagnosis prenatal terhadap facial cleft dapat dilakukan melalui pemeriksaan ultrasound. 2008).

2004). Rotasi Bagian Menggunakan Incisi Eksternal lubang hidung yang berlainan bentuk dilakukan pendekatan dengan incisi pada kulit bagian luar diperluas hingga kulit dorsal dari lubang hidung kemudian bagian tersebut dirotasi kearah kranial hingga kartilago bahkan mukosa. Rey-Bellet & Hohlfeld. Perbaikan Anatomis dengan Incisi Internal Selama perbaikan anatomis dengan incisi internal.bayi. Macam – macam tehnik pada rekonstruksi nasal 1.Tehnik Repair dengan Rotasi Bagian Menggunakan Incisi Eksternal 2. perlu dilakukan konseling prenatal mengenai efek malformasi terhadap kualitas hidup anak (Wilcox et al. Gambar 16 . Gambar 17. berbagai incisi pada tepi hidung digunakan untuk mengekspos kartilago abnormal kemudian dibentuk ulang. 2007.. Tehnik Repair Perbaikan Anatomis dengan Incisi Internal 19 .

3. Gambar 18. Macam-macam Alat Bantu yang digunakan untuk support pada rekonstruksi hidung 20 . Perbaikan Anatomis dengan Incisi Internal dengan Bantuan Alat Tambahan Berbagai kombinasi incisi digunakan untuk reposisi kartilago pada hidung. Tehnik Repair Perbaikan Anatomis dengan Incisi Internal dengan Bantuan Alat Tambahan Gambar 19.

Gambar 20. design Incisi dan Post Op pada Kasus Nasal Assesorius 21 . Pernah dilaporkan kasus serupa yang ditangani oleh dr Dewi Haryanti. Seorang Laki-laki 11 tahun dengan nasal accesorius pada bagian atas lubang hidung kiri tanpa ditemukan gangguan fungsi. Kami sarankan untuk dilakukan rekonstruksi secara bertahap untuk mendapatkan hasil yang seanatomis mungkin. Hasil yang didapatkan pasien dan keluarga dapat menerima hasil post operasi. SpBP-RE dengan penatalaksanaan yang hampir sama. namun pasien mengalami keluhan yang bersifat psikososial. Pada kasus ini eksisi pada nasal accesorius menggunakan desain eksisi elips. pasien ingin memperbaiki penampilannya. Dilakukan eksisi nasal accesorius dengan desain eksisi elips kemudian dilakukan rekonstruksi untuk mendapatkan bentuk seanatomis mungkin dan dilakukan penjahitan defek secara primer. Pre OP. Pada kasus yang dipresentasikan didapatkan kelainan nasal asesorius tanpa adanya gangguan fungsi pernapasan. kemudian dilanjutkan dengan rekonstruksi bentuk hidung dan menjahit defek yang timbul secara primer.

BAB IV KESIMPULAN Telah dilaporkan seorang anak 3 tahun dengan diagnose Double Nose Facial Cleft Tessier 2. sill dan nasal tip. Walaupun telah dilakukan rekonstruksi hidung namun hidung pasien masih belum simetris dan akan direncanakan rekonstruksi kedua utk mendapat kesimetrisan nostril. 22 . Pada pasein tersebut sudah dilakukan rekonstruksi hidung dengan menggunakan metode rearrangement anatomi dengan incise internal tanpa menggunakan alat tambahan.3.

13(3): 161-164.K. 5 Coruh. 43 No. 2006.10(3):167-179. Rev Bras Cir Craniomaxilofac 2010.jcms. Marchioro F. July 1989 (26):2.W. The face. 2010. David DJ. doi 10. A. J. A classification and construction of congenital lateral facial clefts. Maxillofac. Guruparasad Y.2010. Corotti V. Surgical planning and correction of median craniofacial cleft. Annals of Medical and Health SciencesResearch 13:1-3 Butow KW. 23 . A surgical conundrum: tessier number 4 cleft. M. Vol. 356-359. Cooper ME. 36(2): 126- 130. EMHJ .. Cleft Palate-Craniofacial Journal 42(1):102-106 Chauhan DS. and jaws: the maxillofacial regioin. Indian J Plastic Surg. mouth. Moore MH. Bilateral Tessier’s 7 Cleft with Maxillary Duplication. Freitas RDS. Asian Oral-Facial Cleft Birth Prevalence left Palate–Craniofacial Journal. Cruz GADOE. 14 (2). Carrigan. 2003. 2012. Cleft Palate Journal. J Craniomaxillofac Surg. tongue. 2008.1007/s12663-012-0346-x. Tessier Clefts with Revisited Third Dimensions. 2003. Ghareeb FM. 1989. doi:10. G. De Souza MM. 2003. Figueroa AA. 2008 Booth. Median facial dysplasia: A review. Management of the severe cleft and syndromic midface hypoplasia.Orthod Craniofac Res. and Gunay. M. Cooter RD. and McGurk. 27 (1): 143-152. DAFTAR PUSTAKA Agarwal P. Colpo PG. Botha A. Egypt J Plast Recont Surg. Balbinot P.02. Surgical correction of Tessier number 10 cleft. Marazita ML. 2007. 2008.. Polley JW. Facial cleft and associated anomalies: incidence among infants at a Jordanian medical centre. Aqrabawi HE.Eastern Mediterranean Health Journal.1016/j. P. Hanafy AM. September 2006.007. Ratay JS. Oral Surg.

129(3):713-727. Marchac D. 0 and 1 facial cleft and its surgical management.asp?2014/47/3/284/146572 Tahmeedullah. Cleft Palate-Craniofacial Journal 38(5):529-532. Prenatal diagnosis of facial clefts: evaluation of a specialised counseling. 2011. 2000. Journal Of Ankara Medical School. J Maxillofac Oral Surg.pdf [Diakses pada 13 Mei 2013]. 2014. Jhamb A. Kara.47:284-92. Sen Z. Plast Reconstr Surg. Marchac A. 98 Suppl. Hypertelorism. The tessier number 5 cleft with associated extremity anomalies. 1 3 4 : 6 4 0 – 6 4 4. 2008. Grahn BH. 7: A Retrospective Analysis. 4(2):69-92. Emiroglu M.1097/PRS. 2004. Available from: http://www. and Ocsel. Panamonta V. Hohlfeld J. 2015. Deschamps-Braly J. Theoret CL.ijps. Indian J Plast Surg [serial online] [cited 2016 Nov 7]. Katircioglu A. Panamonta M. Panda PK et al. Oral Surg.Gokrem S. doi:10. Mishra S. 2012. G. H. Chowchuen B. A chronicle of Tessier no. Pradubwong S. Gultan S. 1976. 2012 : Case Report Nasal Accesorius Tessier P. cranio-facial and latero-facial clefts J Maxillofac Surg. 24 . Mohanty S. Incomplete nasomaxillary dysplasia in a foal. 7 2015 Rey-Bellet C.0b013e3182402db1. Sabhlok S. 2002. JPMI 2011 vol 25 no 02: 163-170. doi: 10. Abenavoli F. Sati S. Management of Midline Facial Clefts. 8(2):178–180. (2015) 14: 883. Hypertelorism correction: what happens with growth? Evaluation of a series of 95 surgical cases.1007/s12663-015-0763-8 Ortiz- Monasterio F.cpmundi. A Rare Craniofacial Cleft: Tessier No.org/adjuntos/manuales/es/rare_cranio-facial_clefts-5. Ersoy A. http://www. Reconstruction of Rare Craniofacial Clefts: An Early Experiecne. Rare Cranio-facial Clefts. Fretz PB.org/text. Sharma RK. Renier D. Global Birth Prevalence of Orofacial Clefts: A Systematic Review. 2008. Swiss Med Wkly. Maxillofac. Velrones. 1997. J. Bilal M. Had NU. Can Vet J. 24(2): 63-68. 2015. Tampubolon. Ozdemir OM. J Med Assoc Thai Vol. 38: 445-447. Anatomical classification facial.

Thesis. 334 :464 25 . 2010. Taylor Jack. Plastic And Reconstructive Surgery. and Reconstruction. Folic acid supplements and risk of facial clefts: national population based case-control study BMJ 2007. 1985. Wilcox Allen J. McConnaughey D Robert. Oblique Facial Clefts: Pathology. Causes. Lie Rolv Terje. Treatment. 76(2): 211-224. Solvoll Kari. Etiology. Åbyholm Frank et al.Van der Meulen JCH. Rotterdam: Erasmus Univerteit Rotterdam. and Consequences of Rare Facial Clefts. Versnel LS.