You are on page 1of 12

LAPORAN PENDAHULUAN

BAYI DENGAN BERAT BADAN LAHIR RENDAH

A. PENGERTIAN
Bayi berat badan lahir rendah adalah bayi dengan berat badan kurang dari 2500 gram
pada waktu lahir (Nelson, 2009). Menurut WHO, 2007 dalam Suriadi (2001) , bayi yang
baru lahir dengan berat lahir kurang dari 2500 gram disebut Low Birth Weight Infants.
Dalam hal ini, bayi dengan BBLR dibedakan menjadi 2 yaitu :
1. Prematuritas murni
Yaitu bayi pada kehamilan < 37 minggu dengan berat badan sesuai.
2. Retardasi pertumbuhan janin intra uterin (IUGR)
Yaitu bayi yang lahir dengan berat badan rendah dan tidak sesuai dengan usia kehamilan.

2. ETIOLOGI (Ennis, 2008)
Penyebab berat badan lahir rendah (BBLR) tidak diketahui, tapi ada beberapa faktor yang
berhubungan, yaitu :
1. Faktor ibu
a. Penyakit
Penyakit yang berhubungan langsung dengan kehamilan, misalnya perdarahan
antepartum, trauma fisik dan psikologis, DM, toksemia gravidarum dan nefritis akut.
b. Usia
Angka kejadian BBLR tertinggi pada usia ibu < 20 tahun dan multigravida yang
jarak kelahirannya terlalu dekat. Kejadian terendah pada usia ibu 26 – 35 tahun.
c. Keadaan sosial ekonomi
Keadaan sosial ekonomi sangat berpengaruh terhadap kejadian BBLR. Kejadian
BBLR tertinggi terdapat pada golongan sosial ekonomi rendah. Hal ini disebabkan
oleh asupan gizi yang kurang baik dan pengawasan antenatal yang kurang. BBLR
juga banyak terjadi pada bayi yang lahir dari perkawinan yang tidak sah.
d. Sebab lain

suhu tubuh turun (< 350C) 2. 3. Sistem pernafasan . Faktor lingkungan Lingkungan kotor. Kulit dan kelamin . 2009) 1. Sistem muskuloskeletal . batuk masih lemah 4.kulit tipis dan transparan .bayi kecil.axifikasi tengkorak sedikit. Hal lain yang dapat menimbulkan BBLR adalah ibu perokok.tulang rawan elastis kurang .rambut halus dan tipis .tungkai abduksi. peminum alkohol atau pecandu NAPZA 2.frekuensi nafas bervariasi . ubun-ubun dan sutura lebar . berat badan < 2500 gram .genitalia belum sempurna 3.refleks moro masih belum sempurna . kehamilan ganda dan kelainan kromosom. Sistem saraf .refleks menghisap.pernafasan belum teratur sering apnoe .pergerakan kurang dan masih lemah .kepala lebih besar dari pada badan . MANIFESTASI KLINIS (Arvin. Fisik .otot-otot masih hipotonik . sendi lutut dan kaki fleksi .kepala menghadap satu jurusan 5. berpolusi dan tinggi radiasi dapat menyebabkan terjadinya BBLR. 3. Faktor janin Faktor janin yang berpengaruh terhadap kejadian BBLR adalah pada kasus hidramnion. menelan.lanugo banyak .

Imun 5.polusi . f/ pengaturan pernafasan belum 3. pusat pengaturan suhu panas badan 2.muntah Sesak regurgitasi isi lambung Anoreksia Perubahan status kesehatan Kurang informasi Perubahan pola Risiko aspirasi Nutrisi napas tdk efektif kurang dari kebutuhan Kurang pengetahuan tubuh orang tua . f/ pencernaan blm 4.hidramnion .k luas surfaktan paru-paru masih kurang penyerapan makan rentan terjadi infeksi Badan yang besar lemah. penurunan sist.Sosial ekonomi . HCl meningkat mual.kotor .Sebab lain bayi lahir dgn BB rendah 1. 2008) Faktor ibu : Faktor janin : Faktor lingkungan : .kelainan kromosom .tinggi radiasi .4.kehamilan ganda . Kehilangan panas Ventilasi paru menurun aktivitas otot pencernaan Risiko makanan menurun Risti infeksi hipoglike mi Hipotermi Ventilasi paru menurun merangsang prod.organ belum sempurna sempurna sempurna hepar immatur Tjd penguapan yg sempurna o. PATHWAY BBLR (Corwin.Penyakit .Usia .

retrolental fibroplasia. 2012) Mengingat belum sempurnanya kerja alat-alat tubuh yang perlu untuk pertumbuhan dan perkembangan serta penyesuaian diri dengan lingkungan hidup di luar uterus maka perlu diperhatikan pengaturan suhu lingkungan. Oleh karena itu bayi prematuritas harus .000-24. Pemantauan elektrolit ( Na. Hipokalsemia. dan 12 mg/dl pada 3-5 hari. penurunan kadar menunjukkan anemia atau hemoragic prenatal/perinatal ). Dismatur preterm terutama bila masa gestasinya kurang dari 35 minggu 3. 1. Bilirubin total : 6 mg/dl pada hari pertama kehidupan. necrotizing enterocolitis (NEC) 6. gangguan pembekuan darah 5. penyakit membran hialin 2. Hiperbilirubinemia. 2010) 1. 6. 5. Hipotermia. sindrom distres respirasi. Sindrom aspirasi mekonium. netrofil meningkat sampai 23. Bronchopulmonary dysplasia. Pemeriksaan analisa gas darah. 8 mg/dl 1-2 hari. 2. 6. Hemoglobin (Hb) : 15-20 gr/dl (kadar lebih rendah berhubungan dengan anemia atau hemolisis berlebihan ). karena pusat pengaturan panas badan belum berfungsi dengan baik. 2009) 1.000/mm3. Destrosix : tes glukosa pertama selama 4-6 jam pertama setelah kelahiran rata-rata 40- 50 mg/dl meningkat 60-70 mg/dl pada hari ketiga.61 % ( peningkatan sampai 65 % atau lebih menandakan polisitemia. Cl ) : biasanya dalam batas normal pada awalnya. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK (Sowden.000/mm3. K. malformasi konginetal 7. Pengaturan suhu tubuh Bayi prematuritas dengan cepat akan kehilangan panas badan dan menjadi hipotermia. Anemi. metabolismenya rendah dan permukaan badan relatif luas. Infeksi. 4. pemberian makanan dan mencegah infeksi. perdarahan ventrikel otak 4. asfiksia neonatorum. KOMPLIKASI (Mochtar.5. Hipoglikemia. Hematokrit (HMT) : 43%. 7. Jumlah sel darah putih : 18. PENATALAKSANAAN (Ngastiyah. patent ductus arteriosus. hari pertama setelah lahir (menurun bila ada sepsis ). 3.

2.80 cc/kg BB/ hari dan terus dinaikkan sampai mencapai sekitar 200 cc/kg BB/ hari. Dengan demikian perawatan dan pengawasan bayi prematuritas secara khusus dan terisolasi dengan baik. enzim pencernaan belum matang. lingkar dada 3. Bila faktor menghisapnya kurang maka ASI dapat diperas dan diminumkan dengan sendok perlahan-lahan atau dengan memasang sonde menuju lambung. Masa gestasi 2. upaya preventif sudah dilakukan sejak pengawasan antenatal sehinggatidak terjadi persalinan prematuritas ( BBLR). pembuluh darah . Pemberian minum bayi sekitar 3 jam setelah lahir dan didahului dengan menghisap cairan lambung.2. sedangkan kebutuhan protein 3-5 gr/kg BB dan kalori 110 kal/kg BB sehingga pertumbuhannya dapat meningkat. Sistem pernafasan : frekuensi pernafasan. kedalaman. 8. PENGKAJIAN FOKUS KEPERAWATAN 1. lingkar kepala. Menghindari infeksi Bayi prematuritas mudah sekali terkena infeksi. Refleks menghisap masih lemah. panjang badan.5 kg adalah 33-340celcius. 3. Bila bayi dirawat dalam inkubator maka suhu bayi dengan berat badan < 2 kg adalah 350celcius dan untuk bayi dengan berat badan 2. Oleh karena itu. Makanan Alat pencernaan bayi prematur masih belum sempurna. sehingga panan badannya dapat dipertahankan. karena daya tahan tubuh yang masih lemah.sehingga pemberian minum sebaiknya sedikit demi sedikit. ASI merupakan makanan yang paling utama. lambung kecil. tetapi frekwensi yang lebih sering. retraksi dada. Permulaan cairan diberikan sekitar 70. Antropometri : berat badan. pergerakan dada. dirawat di dalam inkubator sehingga panas badannya mendekati dalam rahim.kemampuan leukosit masih kurang dan pembentukan anti bodi belum sempurna. sekret. Bila inkubator tidak ada bayi dapat dibungkus dengan kain dan ditidurkan dalam boks berlampu. Sistem cardiovaskuler : frekuensi heart rate.sehingga ASI lah yang paling dahulu diberikan. suara nafas. 4.

lanugo pada daerah dahi. pada laki-laki testis belum turun. 10. Risiko hipoglikemi 7. Sistem pencernaan : reflek menelan. ubun-ubun dan sutura lebar. posisi fetal 9. Risiko infeksi 6. pada wanita labia minora belum tertutup oleh labia mayora. telinga dan lengan. Ketidakseimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh 5. Kurang pengetahuan orangtua . lemak subkutan kurang. risiko hipotermi 6. sadar 2 – 3 jam / hari I.Aktivitas/ istirahat : tidur + 20 jam pada hari pertama. RENCANA KEPERAWATAN 1. Sistem muskuloskeletal : tulang rawan telinga belum sempurna. Pola nafas tidak efektif 2. reflek tonus lemah. licin. Kebutuhan cairan : 70 – 80 cc / kg BB / hari 7. rambut tipis dan halus 8. pergerakan kurang dan lemah. Sistem termoregulasi : pengukuran suhu tubuh. Genetalia : Genetalia belum sempurna. rajah tangan belum sempurna. Sistem integumen : kulit tipis transparan. Risiko aspirasi 4. pelipis. reflek muntah. mengkilap. Hipotermi 3. 5. reflek hisap.

tidak ada  Identifikasi pasien perlunya pemasangan alat jalan sianosis dan dyspneu (mampu nafas buatan bernafas dengan mudah. frekuensi pernafasan dalam rentang normal.J. hidung dan secret trakea  Pertahankan jalan nafas yang paten  Atur peralatan oksigenasi  Monitor aliran oksigen  Pertahankan posisi pasien  Observasi adanya tanda tanda hipoventilasi  Monitor adanya kecemasan pasien terhadap oksigenasi . catat adanya suara tambahan irama nafas. Pola Nafas tidak NOC : NIC : efektif  Respiratory status : Ventilation Airway Management  Respiratory status : Airway patency  Buka jalan nafas. guanakan teknik chin lift atau jaw  Vital sign Status thrust bila perlu Kriteria Hasil :  Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi  Suara nafas yang bersih.  Monitor respirasi dan status O2 Terapi Oksigen  Bersihkan mulut.  Auskultasi suara nafas. tidak ada  Pasang mayo bila perlu pursed lips)  Lakukan fisioterapi dada jika perlu  Menunjukkan jalan nafas yang  Keluarkan sekret dengan suction paten (klien tidak merasa tercekik. tidak ada  Lakukan suction pada mayo suara nafas abnormal)  Berikan bronkodilator bila perlu  RR dalam rentang normal  Berikan pelembab udara Kassa basah NaCl Lembab  Atur intake untuk cairan mengoptimalkan keseimbangan. RENCANA KEPERAWATAN No Diagnosa NOC NIC Keperawatan 1.

Risiko aspirasi NOC : NIC:  Respiratory Status : Ventilation Aspiration precaution  Aspiration control  Monitor tingkat kesadaran. dan kelembaban kulit  Monitor sianosis perifer 2. mudah bernafas. tanpa terjadi aspirasi banyak  Jalan nafas paten.  Naikkan kepala 30-45 derajat setelah makan tidak tercekik dan tidak ada suara nafas abnormal . Hipotermi NOC : NIC :  Thermore Temperature regulation gulation  Monitor suhu minimal tiap 2 jam  Thermore  Monitor warna dan suhu kulit gulation : neonate  Tingkatkan intake cairan dan nutrisi Kriteria Hasil :  Selimuti pasien untuk mencegah hilangnya  Suhu tubuh dalam rentang normal kehangatan tubuh  Pasang lampu penghangat pada boks bayi 3. irama. Vital sign Monitoring  Monitor RR  Monitor frekuensi dan irama pernapasan  Monitor suara paru  Monitor pola pernapasan abnormal  Monitor suhu. reflek batuk dan  Swallowing Status kemampuan menelan Kriteria Hasil :  Monitor status paru  Klien dapat bernafas dengan  Pelihara jalan nafas mudah. frekuensi pernafasan  Lakukan suction jika diperlukan normal  Cek nasogastrik sebelum makan  Pasien mampu menunjukkan reflek  Hindari pemberian minum kalau residu masih menelan. warna.

4. Ketidakseimbangan NOC : NIC : nutrisi: kurang dari  Nutritional Status : Nutrition Management kebutuhan tubuh  Nutritional Status : food and  Kaji adanya alergi makanan Fluid Intake  Tentukan kebutuhan nutrisi pasien  Nutritional Status : nutrient Intake Nutrition Monitoring  Weight control  Timbang BB pasien setiap hari Kriteria Hasil :  Monitor adanya penurunan berat badan  Adanya peningkatan berat badan  Monitor turgor kulit sesuai dengan tujuan  Monitor mual dan muntah  Beratbadan ideal sesuai dengan panjang badan  Tidak ada tanda tanda malnutrisi  Menunjukkan peningkatan fungsi pengecapan dari menelan  Tidak terjadi penurunan berat badan yang berarti 5. sarung tangan sebagai alat pelindung  Jumlah leukosit dalam  Pertahankan lingkungan aseptik selama pemasangan batas normal  Menunjukkan perilaku alat . Risiko infeksi NOC : NIC :  Immune Infection Control (Kontrol infeksi) Status  Bersihkan lingkungan disekitar pasien lain  Knowledge  Pertahankan teknik isolasi : Infection control  Batasi pengunjung bila perlu  Risk control  Instruksikan pada pengunjung untuk mencuci tangan Kriteria Hasil : saat berkunjung dan setelah berkunjung  Klien bebas dari tanda meninggalkan pasien dan gejala infeksi  Gunakan sabun antimikrobia untuk cuci tangan  Menunjukkan  Cuci tangan setiap sebelum dan sesudah tindakan kemampuan untuk mencegah kperawtan timbulnya infeksi  Gunakan baju.

takikardi. Risiko hipoglikemi NOC : NIC :  Risk kontrol Risk management Kriteria hasil :  Pantau kadar gula darah setiap 12 jam  Kadar glukosa darah dalam rentang  Pantau tanda dan gejala hipoglikemi (kadar gula normal darah kurang dari 70 mg/dl. lembab dan pucat. tidak terkoordinasi)  Kolaborasi terapi glukosa secara intavena 7. Kurang pengetahuan NOC : NIC : . panas. WBC  Monitor kerentanan terhadap infeksi  Batasi pengunjung  Saring pengunjung terhadap penyakit menular  Pertahankan teknik aspesis pada pasien yang beresiko  Pertahankan teknik isolasi k/p  Berikan perawatan kulit pada area epidema  Inspeksi kulit dan membran mukosa terhadap kemerahan.peka terhadap rangsang. hidup sehat  Ganti letak IV perifer dan line central dan dressing sesuai dengan petunjuk umum  Gunakan kateter intermiten untuk menurunkan infeksi kandung kencing  Tingktkan intake nutrisi  Berikan terapi antibiotik bila perlu Infection Protection (proteksi terhadap infeksi)  Monitor tanda dan gejala infeksi sistemik dan lokal  Monitor hitung granulosit. drainase  Dorong masukkan nutrisi yang cukup  Dorong masukan cairan  Kolaborasi pemberian antibiotik 6. kulit dingin. tidak sadar.

kondisi.orangtua  Knowledge : disease process Teaching : Disease Process  Kowledge : health Behavior  Jelaskan kondisi pasien kepada orangtua Kriteria Hasil :  Hindari harapan yang kosong  Keluarga menyatakan pemahaman  Sediakan bagi keluarga informasi tentang kemajuan tentang penyakit. pasien dengan cara yang tepat prognosis dan program pengobatan  Beri kesempatan kepada orangtua untuk dekat  Keluarga mampu melaksanakan dengan anaknya prosedur yang dijelaskan secara  Sediakan waktu bagi orangtua untuk berkonsultasi benar dengan dokter yang merawat  Keluarga mampu menjelaskan  Ajarkan cara perawatan pasien di rumah kembali apa yang dijelaskan perawat/tim kesehatan lainnya .

Jakarta : EGC. Suriadi. Diagnosis Keperawatan Definisi dan Klasifikasi 2012 – 2014. Jakarta : EGC. Corwin. . Perawatan Anak Sakit. Asuhan Keperawatan Pada Anak. Nelson. (2012). Jakarta : EGC. Betz. (2009). E. NANDA Internasional. (2008). Keperawatan Pediatric. Ilmu Kesehatan Anak. Sowden. Sinopsis Obstetri. Jakarta : EGC. (2010). (2009). Sharon. B. Jakarta : EGC. Jakarta : EGC. Mochtar. DAFTAR PUSTAKA Arvin. (2008). (2001). Ngastiyah. New Jersey : Pearson Education. Jakarta : EGC. Jakarta : EGC. Pediatric Nursing Care Plans. Ilmu Kesehatan Anak. Buku Saku Patofisiologi. (2012). R. Ennis. (2009).