You are on page 1of 5

DNA fingerprint adalah salah satu teknik biologi molekuler penanda genetik yang dipakai

untuk pengujian terhadap materi profil DNA, yaitu sehimpunan data yang menggambarkan
susunan DNA yang dianggap khas untuk individu yang menjadi sampelnya.

DNA Fingerprint yang pertama kali diadopsi pada 1985 oleh Alec Jeffreys dari Oxford
University. Penemuan Jeffrey ini dapat memberikan metode baru yang dapat mengungkap
karakteristik dari masing-masing orang, dengan penanda gennya karena dalam setiap tubuh
manusia, binatang, serta tanaman, dan mikroorganisme, terdapat sebuah struktur DNA yang unik.

Penggunaan DNA untuk pembuktian kasus kriminal pertama kali dilakukan pada tahun 1987,
dalam sebuah kasus pemerkosaan di Inggris.Di Indonesia, istilah DNA fingerprint mulai
mencuat sebagai cara identifikasi forensik setelah terjadi rentetan peristiwa peledakan bom di
tanah air, seperti kasus bom Bali, bom JW Marriot, peledakan bom di depan Kedubes Australia
dan lain-lain.

Beberap Jenis Teknik Analisa Hasil Pemeriksaan DNA Fingerprint

DNA fingerprint atau yang dikenal dengan sidik jari DNA adalah salah satu metode yang
digunakan untuk mengidentifikasi kekhasan pola DNA setiap individu khususnya dalam bidang
forensik. DNA fingerprint setiap individu berbeda-beda sehingga dapat digunakan sebagai bukti
forensik pada kasus kejahatan. Tes DNA fingerprint ini bisa digunakan DNA yang terdapat pada
inti sel atau DNA mitokondria.

Analisis menggunakan DNA inti telah lebih dulu digunakan dalam bidang forensik dan
berkembang pesat. Analisis menggunakan DNA inti memiliki akurasi yang tinggi karena dirujuk
pada DNA inti kedua orangtua (diploid). Kelemahan metode ini adalah bila salah satu atau kedua
orangtua tidak ada. Penggunaan DNA inti saudara seayah-ibu, anak, paman, dan bibi atau kakek
dan nenek kandung memerlukan koreksi berdasarkan segregasi Mendel. Sedangkan generasi
ketiga atau saudara sepupu tidak dapat digunakan

Analisis menggunakan DNA mitokondria memiliki kelebihan utama yaitu penggunaan mtDNA
adalah jumlah molekulnya yang mencapai ribuan dalam satu sel sehingga memungkinkan
dilakukan analisis dari sampel yang sangat sedikit, misalnya cairan tubuh, akar atau batang
rambut bahkan tulang dan fosil tulang. Selain itu, bentuknya yang relatif lebih stabil dan resisten
terhadap degradasi. Ketiadaan mitokondria ayah pada keturunannya mempermudah analisis
penurunan mtDNA. Karakteristik ini memungkinkan mtDNA sebagai alat untuk mengetahui
hubungan maternal antar individu, mempelajari antropologi, serta biologi evolusi berbagai
makhluk hidup. Kelemahan penggunaan mtDNA adalah kemungkinan menemukan kesamaan
antar individu yang relatif tinggi, terutama individu yang terkait hubungan keluarga segaris ibu.

Adapun jenis-jenis analisa DNA yang dapat dilakukan pada tes DNA fingerprint adalah sebagai
berikut:

Penyisipan (inersi). Proses pada teknik RFLP diawali dengan proses pemotongan denganmenggunakan enzim restriksi tertentu menjadi segmen-segmen yang berbeda. Kemudian dengan menggunakan fragmen pendek DNA (DNA probe) yang mengandung petanda radioaktif maka akan dideteksi DNA yang berasal dari lokasi pada genome yang memiliki ciri yang jelas dan sangat polimorfik. Enzim yang berbeda memiliki recognition sequence yang berbeda sehingga panjang segmen tersebut bervariasi pada tiap orang. Proses ini dinamakan electroforensis dan prinsip pada proses in adalah potongan DNA yang lebih pendek bergerak lebih cepat daripada yang lebih panjang.penghilangan (delesi). Kemudiandengan menggunakan gel yang dialiri arus listrik. Polymerase Chain Reaction (PCR) Metode PCR adalah suatu metode untuk memperbanyak DNA template tertentu dengan enzim polymerase DNA. Pada proses ini DNA probe akan berikatan dengan potongan DNA rantai tunggal dan membentuk DNA rantai ganda pada bahan nilon. Setelah selesai. hal ini disebabkankarena titik potong enzim yang berbeda dan panjang segmen antara titik potong juga berbeda. b. Pola inilah yang dibandingkan untuk mengetahui apakah kedua sampel bersal dari sumber yang sama. Analisa yang dihasilkan adalah variasi pada panjang fragmen DNA yang telahditentukan. pola RFLP tampak seperti kode batang (bar code) Saat membandingkan hasil analisa dua sampel. Teknik pertama yang digunakan analisa DNA dalam bidang forensik adalah RFLP. Pada proses ini akan tampak hasil berupa kode batang yang disebut autorad. Membran nilon yang berisi potongan DNA yang telah ditandai dengan DNA probe selanjutnya ditransfer pada selembar film X-ray. pola batang pada autoradiograf dibandingkan untuk menentukan apakah kedua sampel tersebut berasal dari sumber yang sama. DNA probe yang tidak berikatan akan dicuci. potongan DNA diurutkan berdasarkan panjangnya. Restriction Fragment Length Polymorphism (RFLP) Pada prinsipnya. RFLP merupakan semua mutasi yang menghilangkan ataumenciptakan sekuen rekognisi baru bagi enzim restriksi. Teknik ini dilakukan dengan memanfaatkan suatu enzim restriksi yang mampu mengenal urutan basa tertentu dan memotong DNA (biasanya 4-6 urutan basa). Enzim restriksi ini dihasilkan oleh bakteri dan dinamakan menurut spesies bakteriyang menghasilkannya. maupun subtitusi nukleotida yang terjadi pada daerahrekognisi suatu enzim restriksi menyebabkan tidak lagi dikenalinya situspemotongan enzim restriksi dan terjadinya perbedaan pola pemotogan DNA. Reaksi teknik inididesain seperti meniru penggandaan atau replikasi DNA . Polimorfisme yang dinamakan Restriction Fragment Leght Polymorphism (RFLP) adalah suatu polimorfisme DNA yang terjadi akibat variasi panjang fragmen DNAsetelah dipotong dengan enzim retriksi tertentu menjadi fragmen Variable Number Of Tandem Repeat (VNTR).

Selain itu pada metode ini dapat dilakukan pemeriksaan pada setiap lokus yangmemiliki tingkat polimorfisme sedang dengan memeriksa banyak lokus dalam waktu bersamaan. DNA polymerase ditambahkan dan dilakukan peningkatan suhu ke kisaran suhu kerja optimum enzim DNA polymerase. yaitu suhu 70-72ºC. Proses yang terjadi pada teknik ini serupa dengan cara DNA memperbanyak jumlahnya dalam sel. Annealing atau Hybridization Pada proses ini setiap rantai tunggal tersebut dipersiapkan dengan cara mengikatkannya dengan DNA primer. hanya pada segmen tertentu dengan bantuan enzim DNA polymerase sebanyak 20hingga 40 siklus (umumnya 30 siklus). c. dilanjutkan dengan proses replikasi. 2. Kemudian. 3. sehingga DNA rantai ganda akan memisah menjadi rantai tunggal. Ada tiga tahap yang dilakukan di laboratorium yaitu: 1. Analisis pada teknik ini didasarkan pada perbedaan urutan basa STRs dan perbedaan panjang atau pengulangan basa STRs. DNA polymerase akan memasangkan dNTP yang sesuai dengan pasangannya. otomatis dan memilikikekuatan diskriminasi yang tinggi. Analisa Hasil Tes DNA Fingerprint . Dengan metode STRs dapat memeriksa sampel DNAyang rusak atau dibawah standar karena ukuran fragmen DNA yang diperbanyak olehPCR hanya berkisar antara 200 500 pasangan basa. Dengan cara ini dapat menghemat waktu danmenghemat sampel. Short Tandem Repeats STRs (Short Tandem Repeat)adalah suatu istilah genetik yang digunakan untuk menggambarkan urutan DNA pendek (2-5 pasangan basa) yang diulang. Teknik yang digunakan adalah multiplexing yaitu dengan memeriksa banyak lokus dan berbeda pada satu tabung.Metode ini paling banyak dikembangkan karena metode ini cepat. yang terjadi dalam makhluk hidup. 3.Tahap ini dilakukan dengan menurunkan suhu hingga ke kisaran 40-60ºC selama 20-40detik. Denaturation Denaturation yaitu dengan memanaskan segmen atau urutan DNArantai ganda pada suhu 96º. dengan tingkat akurasi yang tinggi. Enzim akan memperpanjang rantai baru ini hingga ke ujung dan lamanya waktu ekstensi bergantung pada panjang daerah yang akan diamplifikasi. Extension atau Elongasi Pada tahap ini. Genome setiap manusia mengandung ratusan STRs.

Intrepretasi hasilnya adalah dengan cara menganalisa pola DNA menggunakan marka STR (short tandem repeats). Memotong. maka DNA tersebut dapat diprofilkan dan dibandingkan dengan sampel DNA terduga lainnya. Karena urutan DNA setiap orang berbeda.Jika dari pembacaan. mengukur dan mensortir Enzim yang khusus disebut enzim restriksi digunakan untuk memotong bagian-bagian tertentu. c. maka jumlah dan lokasi pita DNA (pola elektroforesis) setiap individu akan berbeda juga. Penetapan hasil tes DNA ini dilakukan mencocokkan tipe DNA korban dengan tipe DNA pihak tercurigai atau dengan tipe DNA yang telah tersedia dalam data base. tahap perhitungan statistik dan pengambilan kesimpulan. Dengan menganalisa STR ini. diperoleh tingkat homolog melebihi ambang yang ditetapkan (misal 90%). masih memanfaatkan metode elektroforesis DNA. STR adalah lokus DNA yang tersusun atas pengulangan 2-6 basa. Phenolchloroform digunakan untuk isolasi darah yang berbentuk cairan. Setelah sampel didapat dari bagian tubuh tertentu. Selanjutnya copy urutan DNA ini akan dikarakterisasi dengan elektroforesis untuk melihat pola pitanya. sedangkan chilex digunakan untuk isolasi barang bukti berupa rambut. yang ditemukan dalam bakteri akan memotong DNA yang mempunyai sequen GAATT. Misalnya enzim Eco Ri. tahap proses laboratorium. Ketika sampel DNA yang telah dimurnikan dimasukkan ke dalam mesin PCR sebagai tahapan amplifikasi. Potongan DNA disortir menurut ukuran dengan teknik penyaringan disebut elektrophoresis. Mesin PCR akan membaca data-data DNA dan menampilkannya dalam bentuk angka-angka dan gambar- gambar identifikasi DNA. Pola pita inilah yang disebut DNA sidik jari(DNA finger print) yang akan dianalisa pola STR nya. Untuk metode tes DNA di Indonesia.maka dapat dipastikan korban adalah kerabat pihak tercurigai. Dalam genom manusia dapat ditemukan pengulangan basa yang bervariasi jumlah dan jenisnya. kemudian sampel DNA diamplifikasi dengan menggunakan PCR. maka hasil akhirnya berupa copy urutan DNA lengkap dari DNA sampel. DNA fingerprint dimulai dengan isolasi DNA. Tahap terakhir adalah DNA berada dalamt ahapan typing. Bahan kimia yang digunakan untuk isolasi adalah Phenolchloroform dan Chilex. proses ini dimaksudkan untuk memperoleh tipe DNA. Adapun beberapa tahap analisa DNA fingerprint adalah sebagai berikut: a. Isolasi DNA Sistematika ini dimulai dari proses pengambilan sampel. Transfer DNA ke membran nilon . Potongan DNA dilewatkan gel yang dibuat dari agarose Teknik ini untuk memisahkan pita-pita menurut berat molekulnya. Analisis DNA untuk tes paternitas meliputi beberapa tahap yaitu tahap pengambilan spesimen. b.

sehingga dapat memastikan (hampir 100%) bahwa sesorang adalah ayah biologis si anak atau bukan. Metode Pemeriksaan DNA Fingerprint Pada Berbagai Kasus DNA Fangerprint pada umumnya memiliki dua tujuan yaitu tujuan pribadi seperti. solusi kasus bayi tertukar. Probing Dengan menambahkan radioaktif atau pewarna probe pada sehelai membran nylon menghasilkan DNA fingerprint. penentuan perwalian anak atau penentuan orang tua dari anak (Tes Paternitas). a. Tujuan hukum seperti. d. Penentuan perwalian anak atau penentuan orang tua dari anak (Tes Paternitas) Tes paternitas adalah pemeriksaan yang dilakukan untuk mengetahui apakah seorang pria adalah ayah biologis dari seorang anak. dan untuk mengidentifikasi korban kecelakaan. Tes paternitas dengan menggunakan analisis DNA merupakan analisis informasi genetik yang sangat spesifik dalam membedakan ciri setiap individu. untuk pembuktian terhadap kasus-kasus ktiminal (pemerkosaan atau pembunuhan). . Setiap probe seperti batang pendek (pita) hanya 1 atau 2 tempat yang khas pada helaian membran nylon tersebut. Metode tes paternitas terbagi atas metode analisis DNA dan metode konvensional. Distribusi potongan DNA ditransfer pada sehelai nylon dengan menempatkan membran nylon diatas gel dan direndam selama 1 malam. urusan imigrasi dan kewarganegaraan.