You are on page 1of 11

Dampak Demam Berdarah Dengue pada Anak

Sabrina Ayu Putri
102014190
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jln. Arjuna Utara No.6
Jakarta Barat, 11510
Email: sabrina.2014fk190@civitas.ukrida.ac.id

Abstract
Dengue hemorrhagic fever is an infectious disease caused by a virus of the genus
flavivirus, family Flaviviridae and is spread by Aedes mosquitoes. The mosquitoes that
transmit the disease is an adult female mosquitoes. Female mosquitoes need blood of a
human or animal to live and breed. On enlargement DBD plasma characterized by
hemoconcentration (increased hemotokrit) or accumulation of fluid in the body cavity.

Keywords: mosquitoes, DBD, hemoconcentration

Abstrak

Demam berdarah dengue adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus genus
flavivirus, famili Flaviviridae dan disebarkan oleh nyamuk aedes. Nyamuk yang menularkan
penyakit adalah nyamuk betina dewasa. Nyamuk betina memerlukan darah manusia atau
binatang untuk hidup dan berkembang biak. Pada DBD terjadi pembesaran plasma yang
ditandai dengan hemokonsentrasi (peningkatan hemotokrit) atau penumpukan cairan di
rongga tubuh.

Kata kunci: nyamuk, DBD, hemokonsentrasi

 Keluhan Utama: Keluhan yang dirasakan pasien sehingga membawa pasien pergi ke dokter atau mencari pertolongan → Demam sejak 5 hari yang lalu. ruam. Adapun yang ditanyakan kepada pasien sebagai berikut:1  Identitas: Identitas meliputi nama lengkap pasien. Pada DBD terjadi pembesaran plasma yang ditandai dengan hemokonsentrasi (peningkatan hematokrit) atau penumpukan cairan di rongga tubuh. umur atau tanggal lahir. tidak ada pendarahan di gusi.Pendahuluan Demam dengue (DF) dan demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dengue dengan manifestasi klinis demam.  Riwayat Penyakit Sekarang: Riwayat perjalanan penyakit merupakan cerita yang kronologis. pekerjaan. limfadenopati. Anamnesis Dalam melakukan anamnesis. terinci dan jelas mengenai keadaan kesehatan pasien sejak sebelum sakit sampai pasien datang berobat. tetapi konstipasi. dapat diperhatikan bagaimana keadaan umum pasien melalui ekspresi wajahnya. tanyakanlah hal-hal yang logik mengenai penyakit pasien. gaya berjalannya dan . pendidikan. trombositopenia dan diatesis hemoragik. suku bangsa dan agama. → Seorang anak perempuan berusia 6 tahun.2  Keadaan Umum: Sebelum melakukan pemeriksaan fisik. jenis kelamin. tidak diare. tidak ada riwayat pergi keluar kota dalam 1 bulan terakhir. alamat. nyeri otot atau nyeri sendi yang disertai leukopenia. → Tidak disertai batuk dan pilek. mimisan dan BAB hitam. Pemeriksaan Pemeriksaan fisik mempunyai nilai yang sangat penting untuk memperkuat temuan- temuan dalam anamnesis. nama orang tua atau suami atau istri atau penanggung jawab. Sindrom renjatan dengue (dengue shock syndrome) adalah demam berdarah dengue yang ditandai oleh renjatan/syok.

Sedangkan bila frekuensi nadi kurang dari 60x/menit.  Ekstremitas: Akral dingin. disebut bradipneu. Tingkat kesadaran: Kompos Mentis. tidak ada retraksi sela iga. limpa tidak teraba. misalnya rangsang nyeri. yaitu penurunan kesadaran yang tidak memberikan respons terhadap rangsang verbal. Delirium. yaitu penurunan kesadaran disertai kekacauan motorik dan siklus tidur bangun yang terganggu. 2cm dibawah proc. tetapi pasien tidak terbangun sempurna dan tidak dapat memberikan jawaban verbal yang baik. Pasien dapat menjawab pertanyaan pemeriksa dengan baik. hipersomnia). tidak ada weezing. Somnolen (letargia. disorientasi dan meronta-ronta. → 100x/menit. Pasien masih dapat dibangunkan dengan rangsang yang kuat. → 386C  Tekanan Darah: 90/70mmHg  Nadi: Frekuensi nadi yang normal adalah sekitar 80x/menit.spoideus. disebut takikardia (pulsus frequent). kacau. obtundasi.  Torax: Pergerakan dada simetris. Bila frekuensi pernapasan kurang dari 16x/menit. dan tidak dapat dibangunkan sama sekali. yaitu penurunan kesadaran yang sangat dalam. Semi-koma (koma ringan). yaitu keadaan dimana pasien tampak segan dan acuh tak acuh terhadap lingkungannya. Pasien tampak gaduh gelisah. pasien akan tertidur kembali. tetapi bila rangsang berhenti.  Tanda-Tanda Vital:  Suhu: Suhu tubuh yang normal adalah 366-376C. → 22x/menit. Bila frekuensi nadi lebih dari 100x/menit. suara napas vesikuler. yaitu sadar sepenuhnya.  Kesadaran: Kesadaran pasien dapat diperiksa secara inspeksi dengan melihat reaksi pasien. → Kesadaran somnolen. Sopor (Stopor). tetapi refleks (kornea. permukaan rata. baik terhadap dirinya maupun terhadap lingkungannya. Koma. tidak ada gerakan spontan dan tidak ada respons terhadap rangsangan nyeri. → Anak tampak sakit sedang. Respons terhadap rangsang nyeri tidak adekuat. yaitu keadaan mengantuk yang masih dapat pulih penuh bila dirangsang. hematomegali 2cm dibawah arcus costae. tepi tajam. .  Frekuensi Pernapasan: Dalam keadaan normal. pupil) masih baik.  Abdomen: Tampak datar. Apatis. disebut bradikardia (pulsus rarus). sedangkan bila lebih dari 24x/menit. disebut takipneu. frekuensi pernapasan adalah 16-24x/menit. tanda-tanda spesifik lain yang segera tampak begitu kita melihat pasien. konsistensi kenyal disertai nyeri tekan. yaitu keadaan mengantuk yang dalam.

hematokrit mulai meningkat (hemokonsentrasi). antara 2-7 hari.  Test torniquete (+) Pemeriksaan penunjang: Laboratorium (sesuaikan dengan perjalanan penyakit). dan trombositopenia terjadi pada hari ke 3-7.  Trombositopenia (jumlah trombosit <100. atau perdarahan dari tempat lain.3  Hb: 11  Hematokrit: 48%  Leukosit: 4000  Trombosit: 85.5 juta  Basofil: 1%  Eosinofil: 2%  Batang: 2%  Neutrofil segmen: 50%  Limfosit: 40%  Monosit: 5% Diagnosis Working Diagnosis4 Berdasarkan kriteria WHO 1997 diagnosis DBD ditegakkan bila semua hal di bawah ini dipenuhi:  Demam atau riwayat demam akut. . biasanya bifasik.  Perdarahan mukosa (tersering epistaksis atau perdarahan gusi).  Kapitari test: Balik setelah 3 detik.  Terdapat minimal satu manifestasi perdarahan berikut:  Uji bendung positif.000/ul).  Petekie. atau purpura.  Penurunan hematokrit >20% setelah mendapat terapi cairan. ekimosis.  Hematemesis atau melena.  Terdapat minimal satu tanda-tanda plasma leakage (kebocoran plasma) sebagai berikut:  Peningkatan hematokrit >20% dibandingkan standar sesuai dengan umur dan jenis kelamin.000  Eritrosit: 5. Pada hari ke-3 umumnya leukosit menurun atau normal. dibandingkan dengan nilai hematokrit sebelumnya.

anemia.8 Faktor Resiko Salah satu faktor risiko penularan DBD adalah pertumbuhan penduduk perkotaan yang cepat. black water fever.5  Tifoid: Fase invasi. Flavivirus merupakan virus dengan diameter 30nm terdiri dari asam ribonukleat rantai tunggal dengan berat molekul 4x106.7 Etiologi Demam berdarah dengue disebabkan oleh virus dengue. sakit kepala. Penelitian pada antropoda menunjukkan virus dengue dapar bereplikasi pada nyamuk genus Aedes (Stegamyia) dan Toxorhynchites. naik secara bertahap. Terdapat reaksi silang antara serotipe dengue dengan Flavivirus lain seperti yellow fever. Terdapat 4 serotipe virus yaitu DEN-1. adanya tanda-tanda perdarahan termasuk uji turniket positif. terkadang suhu malam lebih tinggi. Dalam laboratorium virus dengue dapat bereplikasi pada hewan mamalia seperti tikus. Differensial Diagnosis  DBD: Demam. purpura. anjing. sklera ikterik. rasa tidak nyaman pada saluran cerna. Japanese encephalitis. mual. diare. hipotensi dengan akral dingin. konstipasi. Keempat serotipe ditemukan di Indonesia dengan DEN-3 merupakan serotipe terbanyak. splenomegali. temuan hematomegali (sering ditemukan pada kasus anak). Gejala lainnya adalah nyeri kepala. hepatomegali. petekie.6  Malaria: Demam.  Tanda kebocoran plasma seperti: efusi pleura. batuk. dan DEN-4 yang semuanya dapat menyebabkan demam dengue atau demam berdarah dengue. kelelawar dan primata. menggigil. nyeri otot. tanda-tanda syok takikardia. mual. DEN-3. dan West Nile virus. sakit perut. Demam ringan. muntah. asites atau hipoproteinemia. kelinci. pucat dan tampak lemas. keluarga Flaviviridae. muntah. lemas. mobilisasi penduduk karena membaiknya sarana dan prasarana transportasi dan terganggu atau melemahnya pengendalian populasi sehingga memungkin terjadinya KLB. yang termasuk dalam genus Flavivirus. keringat dingin. . DEN-2.

usia dan jenis kelamin. Sedangkan faktor risiko terjadinya infeksi sekunder yang menyebabkan DBD adalah jenis kelamin lakilaki. kemiskinan. Vektor : perkembangbiakan vektor. transportasi vektor dari satu tempat ke tempat lain.000 penduduk (1989 hingga 1995).000 penduduk pada tahun 1998. sanitasi dan kepadatan penduduk. berdasarkan hasil penelitian di wilayah Amazon Brasil adalah jenis kelamin laki-laki. kepadatan vektor di lingkungan. Pejamu: terdapatnya penderita di lingkungan/keluarga.10 . Peningkatan kasus setiap tahunnya berkaitan dengan sanitasi lingkungan dengan tersedianya tempat perindukan bagi nyamuk betina yaitu bejana yang berisi air jernih (bak mandi. Indonesia merupakan wilayah endemis dengan sebaran di seluruh wilayah tanah air. 2). dan pernah meningkat tajam saat kejadian luar biasa hingga 35 per 100. diketahui faktor yang berpengaruh terhadap kejadian DBD adalah pendidikan dan pekerjaan masyarakat. Dari penelitian di Pekanbaru Provinsi Riau. sedangkan mortalitas DBD cenderung menurun hingga mencapai 2% pada tahun 1999. riwayat pernah terkena DBD pada periode sebelumnya serta migrasi ke daerah perkotaan. kaleng bekas dan tempat penampungan air lainnya). Beberapa faktor diketahui berkaitan dengan peningkatan transmisi biakan virus dengue yaitu: 1). DBD juga bisa menyerang penduduk yang lebih makmur terutama yang biasa bepergian. suhu. Penularan infeksi virus dengue terjadi melalui vektor nyamuk genus Aedes (terutama A. albopictus). Tetapi di lain pihak.9 Epidemiologi Demam berdarah dengue tersebar di wilayah Asia Tenggara. dan migrasi. aegypti dan A. 3). Lingkungan: curah hujan. sedangkan tata letak rumah dan keberadaan jentik tidak menjadi faktor risiko. kebiasaan menggigit. Faktor risiko yang menyebabkan munculnya antibodi IgM anti dengue yang merupakan reaksi infesksi primer. jarak antar rumah. keberadaan tempat penampungan air. Pasifik barat dan Karibia. Insiden DBD di Indonesia antara 6 hingga 15 per 100.Faktor risiko lainnya adalah kemiskinan yang mengakibatkan orang tidak mempunyai kemampuan untuk menyediakan rumah yang layak dan sehat. pasokan air minum dan pembuangan sampah yang benar. keberadaan tanaman hias dan pekarangan serta mobilisai penduduk. mobilisasi dan paparan terhadap nyamuk.

serta pilek. Tanda perdarahan lainnya yang patut diwaspadai. Demam merupakan tanda utama infeksi dengue. Pada kasus DBD. dan hematuria. hematemesis. radang faring. yaitu fase demam (febrile). Hal tersebut yang menjadi alasan mengapa cairan diberikan maksimal 48 jam.Patofisiologi Secara klinis perjalanan penyakit dengue dibagi menjadi tiga. sedangkan pada demam dengue tidak terjadi hal ini. Pada DBD. Perjalanan penyakit tersebut menentukan dinamika perubahan tanda dan gejala klinis pada pasien dengan infeksi demam berdarah dengue (DBD). fase kritis terjadi pada hari ke-3 hingga 7. fase kritis. Pada kasus tanpa pendarahan spontan maka dapat dilakukan uji turniket. terjadi mendadak tinggi. antara lain melena. dan fase penyembuhan terjadi setelah demam hari ke 6-7. pada anak lebih sering terjadi gejala facial flush. Demam juga disertai gejala konstitusional lainnya seperti lesu. Peningkatan permeabilitas vaskular akan terjadi pada fase kritis dan berlangsung maksimal 48 jam. Selain itu. Kebocoran plsama terjadi akibat disfungsi endotel serta peran kompleks dari sistem imun: monosit dan sel T. tidak mau makan. seperti gangguan megakariositopoiesis (akibat infeksi sel hematopoietik). dan fase penyembuhan. tanda hepatomegali dan kelainan fungsi hati lebih sering ditemukan. dan muntah. terjadi peningkatan permeabilitas vaskular yang menyebabkan kebocoran plasma ke jaringan. Fase demam berlangsung pada demam hari ke-1 hingga 3. Kebocoran plasma secara masif akan menyebabkan pasien mengalami syok hipovolemik. sistem komplemen. Kondisi ini disebut sindrom syok dengue (SSD). Manifestasi perdarahan yang paling dijumpai pada anak ialah perdarahan kulit (petekie) dan mimisan (epistaksis). Trombositopenia pun terjadi akibat beberapa mekanisme yang kompleks. Kondisi tersebut dapat mengakibatkan syok hipovolemia. selama 2-7 hari. serta peningkatan destruksi dan konsumsi trombosit.11 Penatalaksanaan . serta produksi mediator inflamasi dan sitokin lainnya.

angka kematian dapat diturunkan hingga kurang dari 1%. tepat akan menentukan prognosis. prinsip utama adalah terapi suportif. Penatalaksanaan yang terlambat akan menyebabkan komplikasi dan penatalaksanaan yang tidak tapat dan adekuat akan memperburuk keadaan. DBD derajat III dan IV merupakan derajat sindrom syok dengue dimana pasien jatuh kedalam keadaan syok dengan atau tanpa penurunan kesadaran. penatalaksanaan yang cepat. Pada DBD/SSD mortalitasnya cukup tinggi. Pemeliharaan volume cairan sirkulasi merupakan tindakan yang paling penting dalam penanganan kasus DBD.12 Prognosis Prognosis DBD berdasarkan kesuksesan dalam tetapi dan penetalaksanaan yang dilakukan. Terapi yang tepat dan cepat akan memberikan hasil yang optimal. Umumnya DBD Derajat I dan II tidak menyebabkan komplikasi sehingga dapat sembuh sempurna. dan Jakarta menunjukkan bahwa prognosis dan perjalanan penyakit umumnya lebih ringan pada orang dewasa dibandingkan pada anak-anak. . Tidak ada terpai yang spesifik untuk demam dengue. Asupan cairan pasien harus tetap dijaga. Semarang. Dengan terapi suportif yang adekuat. maka dibutuhkan suplemen cairan melalui intravena untuk mencegah dehidrasi dan hemokonsetrasi secara bermakna. Penelitian pada orang dewasa di Surabaya. Kematian karena demam dengue hampir tidak ada.13 Komplikasi  Ensefalopati dengue: edema otak dan alkalosis. terutama cairan oral. Jika asupan cairan oral pasien tidak mampu dipertahankan. Dapat terjadi baik pada syok maupun tanpa syok. DBD Derajat I dan II akan memberikan prognosis yang baik.  Kelainan ginjal: akibat syok berkepanjangan. Prognosis sesuai penetalaksanaan yang diberikan Dubia at bonam.

. lebih baik dibalikkan agar tidak menjadi genangan air. karena tidak menutup kemungkinan nyamuk ini menginfeksi di malam hari. 3. Jika ada wadah kosong yang masih terpakai namun sedang tidak dipakai. Menguras bak mandi setidaknya 1 minggu sekali untuk menjamin kebersihan bak mandi. 6. 7. Perhatikan kondisi lingkungan dan kebersihan rumah agar tidak menjadi sarang nyamuk Aedes aegypti yang suatu saat bisa menggigit atau menginfeksi virus dengue.  Edema paru: akibat pemberian cairan berlebihan. 4. Lihat jendela dan pintu Anda. kalau perlu dibuang saja agar tidak memperkeruh suasana rumah. bisa menggunakan kelambu (anti nyamuk) di tempat tidurnya agar tidak terkena gigitan. 5. Karena nyamuk dikenal dengn aktivitas “menggigit” pada waktu siang hari.14 Pencegahan 1. Ketika malam hari menjelang tidur oleskan pula lotion anti nyamuk dengan merek terbaik atau obat nyamuk bakar. Mengikuti anjuran melaksanakan gerakan 3M: Menutup rapat-rapat bak mandi agar tidak menjadi sarang nyamuk dan air tidak menjadi penampungan hasil tetas nyamuk. Tutup tempat sampah yang sudah tak terpakai. Apabila Anda mempunyai anak kecil yang masih dibawah umur. 8. vas bunga. 2. Harus lebih diperhatikan atau ditekankan apabila Anda bertempat tinggal di lingkungan yang meriwayatkan banyak penderita Demam Berdarah Dengue. jangan biarkan ada lubang kecil yang berpotensi membuat rumah Anda menjadi sarang nyamuk. tentunya Anda harus mengoleskan repelant atau lotion anti nyamuk (terutama pada anak-anak). ember. Pastikan pula ventilasi udara dipasang penyaring untuk menjaga masuknya nyamuk atau serangga lain ke dalam rumah. dsb) agar nyamuk tidak bertelur di dalamnya. dan Menimbun barang tak terpakai seperti kaleng atau wadah kosong yang memungkinan menjadi tempat tergenang air (pot.

Yakni dengan membakar kapur barus dalam ruangan yang Anda yakini sebagai sumber bersarangnya nyamuk. Buttorsworsh. Sudoyo AW. Syam AF. Dalam: Setiati S. Diagnosis Fisis pada anak.417-26 . Sastroasmoro S. Alwi I.Philadelphia:1995:123-30 4. Pohan HT. Buku ajar ilmu penyakit dalam. Lamsey JSP. Matondang C. Jika perlu. Kuno G.Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI. Bates B. Simadibrata M.Jakarta: Interna Publishing.Clinical examination of the patient. Edisi ke-6. Waspadji S.London:1994 3. Hendarwanto.Jakarta: Interna Publishing. Tanaman ini memiliki kemampuan untuk menjauhkan nyamuk dan mencegah perembang biakan nyamuk. Simadibrata M. gunakan cara ampuh untuk mengusirnya.15 Daftar Pustaka 1.Jakarta: Interna Pub. penyunting. Demam berdarah dengue. Suhendro. Setiyohadi B. Syam AF. penyunting. Setelah itu semprot dengan pengharum ruangan. Sudoyo AW.Rachman M.In:Noer HMS. Sudoyo AW. Anda bisa menanam tanaman tulasi di dekat jendela rumah. penyunting.Jakarta:Balai Penerbit FKUI:1996.2014 6. Dalam: Setiati S. Khie Chen. rekam medik berorientasi masalah (RMOM): Dalam Ikut berperan dalam perubahan kurikulum FKUI. Harijanto PN. Bouloux PMG. 1st ed. Buku ajar ilmu penyakit dalam.Jakarta:1998 5.2014 8.New York:CAB Internaional:1997 9. Setiyohadi B. et al. 10. Malaria.Jakarta:2006:33-36 2. Alwi I. Widodo J.JB Lippincott. Apabila di dalam rumah terlihat banyak nyamuk berterbangan.6th ed. 9.Buku ajar ilmu penyakit dalam edisi ke-3. Gubler DJ. Supartondo. A Guide to Physical examination and History Taking. Simadibrata M. Wahidayat I.2014 7. Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI. Setiyohadi B. Bickley LS.Dengue and dengue hemorrhagic fever. Edisi ke- 6.p. Nainggolan L. Alwi I. kemudian tutup jendela dan pintu (Anda berada di luar rumah) selama 15 menit. Demam Tifoid. Dalam: Setiati S. Hoekelman RA. dan rumah Anda akan terbebas dari nyamuk.Dengue. Edisi ke- 6. Buku ajar ilmu penyakit dalam. Syam AF. pemikiran dan pandangan dalam bidang pendidikan kedokteran.

World health organization (WHO). Peters CJ. Widodo D.In:Penatalaksanaan Kedaruratan di Bidang Penyakit Dalam.Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 11.Dengue:Guidelines for diagnosis.Jakarta:Interna Pub:2014 15.Jakarta:Pusat Informasi dan Penerbitan Penyakit Dalam FKUI:2000.prevention and control.Riset Kesehatan Dasar 2007.Edisi ke-6. penyunting.treatment.Sindrom renjatan dengue pada orang dewasa.Infections caused by arthropod and rodent-borne viruses.Buku Ajar ilmu penyakit dalam.Dalam:Longo DL.2008 14.10.Kasper DL. Depkes RI.51-8.Loscalzo J.2009 . Departement Kesehatan.Geneva:WHO.Pedoman tatalaksana klinis infeksi dengue di sarana pelayanan kesehatan.Jameson JL.p.Jakarta:Departemen Kesehatan RI.Fauci AS. Swcws 12.2005 13.Hauser SL.