You are on page 1of 6

ANALISIS PENGARUH INFLASI, KURS, DER, EPS DAN PBV

TERHADAP RETURN SAHAM DENGAN METODE INTERVALLING
(Studi pada Saham-Saham Perusahaan Perbankan yang Terdaftar di BEI
Tahun 2011-2013).

Oktikaningsih1
oktika14@gmail.co.id

Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Semarang, Semarang, Indonesia.

Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah inflasi, kurs, DER, EPS dan
PBV berpengaruh signifikan terhadap return saham pada interval 3 bulanan, 6
bulanan dan 12 bulanan. Sampel penelitian ini adalah perusahaan perbankan yang
terdaftar di BEI periode 2011-2013 sebanyak 29 emiten, menggunakan teknik
purposive sampling. Data dalam penelitian berasal dari data sekunder diperoleh
melalui teknik dokumentasi. Analisis data dengan regresi linear berganda secara
parsial menggunakan SPSS for Windows versi 16. Berdasarkan hasil pengujian
hipotesis, diperoleh kesimpulan bahwa inflasi dan kurs secara parsial hanya
berpengaruh signifikan terhadap return saham pada interval 12 bulanan. DER
tidak berpengaruh signifikan terhadap return saham pada interval 3, 6 dan 12
bulanan. EPS berpengaruh signifikan terhadap return saham hanya pada interval 3
bulanan. PBV berpengaruh signifikan terhadap return saham pada interval 3, 6
dan 12 bulanan.
Kata Kunci : Return, Inflasi, Kurs, DER, EPS, PBV, Metode Intervalling
THE EFFECT ANALYSIS OF INFLATION, EXCHANGE RATE, DER, EPS
AND PBV ON STOCK RETURN WITH INTERVALLING METHOD
(Study on Banking Companies Listed in BEI 2011-2013.
Abstract

The purpose of this study is to know whether inflation, exchange rate, DER, EPS
and PBV affect significantly to the stock return. Sampling technique used in this
research is purposive sampling with criteria banking company listed in Indonesia
Stock Exchange in 2011 to 2013 and always seem annual financial report over
period 2011-2013. The data in the study comes from the secondary data obtained
through the documentation technique. Data that needed in this research taken
from Indonesian Capital Market Directory (ICMD) 2011-2013 was acquired 29
sample companies. Data analysis with partial multiple regression analysis using
SPSS for Windows version 16. Based on the result hypothesis test, the result
shows that inflation and exchange rate influence significantly to stock return in
intervals of 12 months, whereas in intervals of 3 and 6 months inflation and
exchange rate do not affect significantly to stock return. DER has no signifficant
effect to stock return in intervals of 3, 6 and 12 months. EPS influence
significantly to stock return in intervals of 3 months, whereas in intervals of 6 and
12 months exchange rate do not affect significantly to stock return. PBV influence
significantly to stock return in intervals of 3, 6 and 12 months.
Keywords: Corporate Value, Profitability, Corporate Social Responsibility

Menurut Ang (1997) analisis kondisi ekonomi merupakan dasar dari analisis sekuritas. Dalam memperkirakan tingkat pengembalian (rate of return) yang akan didapat. Hernendiastoro (2005) melalui penelitiannya menunjukkan bahwa kurs tidak berpengaruh signifikan terhadap return saham dalam interval pengamatan 3. . Indriastuti (2003) secara empiris membuktikan bahwa kurs berpengaruh signifikan terhadap return saham dalam pengamatan interval 3 bulanan. Dalam investasi saham. nilai tukar. investor yang rasional terlebih dahulu akan menganalisis faktor-faktor yang bisa mempengaruhi fluktuasi harga saham. baik faktor makro ekonomi suatu negara dimana kegiatan investasi akan dilakukan. Pada dasarnya semua kegiatan investasi bertujuan untuk memaksimalkan hasil (return) yang diharapkan dalam batas risiko yang dapat diterima untuk tiap investor. Hernendiastoro (2005) membuktikan bahwa variabel makro-ekonomi seperti inflasi tidak berpengaruh signifikan terhadap return saham dalam pengamatan interval 3. akurat dan transparan. maka refleksi harga saham akan naik pula. dalam Utami dan Rahayu. Fenomena penarikan dana investor asing besar-besaran saat inflasi melambung tinggi dan rupiah terdepresiasi tajam bulan Agustus 2013 menunjukkan bahwa variabel makro-ekonomi seperti kurs dan inflasi menjadi pertimbangan penting bagi para investor (khususnya investor internasional) yang hendak ataupun sudah menanamkan modalnya di suatu negara untuk kemudian memutuskan menarik atau mempertahankan modal yang sudah ditanamkan. Informasi yang aktual. hasil penelitian Aryati (2013) secara empiris membuktikan bahwa variabel inflasi dan kurs berpengaruh signifikan terhadap return saham untuk interval 6 bulanan.PENDAHULUAN Globalisasi ekonomi salah satunya ditunjukkan oleh kegiatan penanaman modal atau yang dikenal dengan istilah investasi yang tidak mengenal batasan negara. (2012) return akan memberikan model estimasi yang lebih tepat daripada harga saham yang memberikan bias terhadap reaksi investor. namun jika kondisi ekonomi baik. Untuk itu investor harus mempertimbangkan beberapa faktor. Menurut Sudiyatno dan Suharmanto (2011) return saham akan naik seiring dengan meningkatnya harga saham. Menurut Jogiyanto (2000) kegiatan investasi merupakan suatu kegiatan menempatkan dana pada satu atau lebih aset selama periode tertentu dengan harapan dapat memperoleh pendapatan atau peningkatan atas nilai investasi awal (modal). et al (1995. Menurut Aryati (2013) dalam melakukan investasi di pasar modal dibutuhkan informasi yang aktual. Pemilihan return dan bukan harga saham yag menjadi variabel dependen dalam penelitian ini karena menurut Ardiansyah. Fokus dalam penelitian ini investasi pada saham (financial asset). Peneliti menemukan adanya research gap dari beberapa penelitian terdahulu yang meneliti tentang pengaruh inflasi dan kurs terhadap return saham dan pasar modal secara keseluruhan. 2003) perubahan harga saham dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu Gross Domestic Product (GDP). akurat dan transparan dibutuhkan oleh para investor untuk membantu proses decision making dalam berinvestasi di pasar modal dengan tujuan memaksimalkan return. suku bunga. dimana jika kondisi ekonomi jelek maka kemungkinan besar tingkat kembalian saham-saham yang beredar akan merefleksikan penurunan yang sebanding. inflasi. Indriastuti (2003) menyarankan penelitian-penelitian mendatang tentang return saham perlu memperhatikan faktor makro (seperti kurs dan inflasi) dan kinerja perusahaan dalam model analisis penelitian. Hasil penelitian ini berbeda dengan hasil penelitian Iorio dan Faff (2001) yang membuktikan bahwa perubahan kurs Dollar dan Yen pada pasar modal Australia hanya berpengaruh pada return dengan interval jangka panjang (interval di atas 12 bulanan). Berbeda dengan hasil penelitian Hernendiastoro (2005). tingkat pengangguran. Menurut Bodie. 6 dan 12 bulanan. transaksi berjalan dan defisit anggaran. maupun faktor mikro perusahaan yang akan ditanami modal karena return saham dipengaruhi oleh dua hal tersebut. investor akan lebih memilih saham perusahaan yang memberikan tingkat keuntungan tinggi. 6 dan 12 bulanan. dkk.

dkk. hal ini dapat dilihat dari 3 indikator. yaitu Earning Per Share (EPS). Berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Anis (2004) yang menemukan bahwa Price Book Value (PBV) tidak berpengaruh signifikan terhadap return saham. 6 dan 12 bulanan (didasarkan pada periode publikasi laporan keuangan perusahaan). informasi yang terkandung dalam laporan keuangan yang dipublikasikan dapat digunakan sebagai salah satu dasar dalam proses pengambilan keputusan. Hasil penelitian Ardiansyah. kepercayaan masyarakat terhadap mata uang dalam negeri berkurang sehingga dana dilarikan ke luar negeri yang perekonomiannya lebih stabil. Metode intervalling sendiri dipandang mampu mengamati beberapa kejadian yang terjadi dalam periode pengamatan. Menurut Ang (1997) EPS merupakan perbandingan antara laba bersih setelah pajak pada satu tahun buku dengan jumlah saham yang diterbitkan. dan Wardjono (2010) menunjukkan bahwa PBV berpengaruh positif dan signifikan terhadap return saham. dan LDR dengan return saham yang fluktuatif sehingga menarik untuk diteliti faktor apa saja yang berpengaruh signifikan dalam menerangkan return. harga-harga saham mencerminkan semua informasi yang relevan dan pasar akan bereaksi dengan cepat apabila terdapat informasi baru. Interval yang digunakan dalam penelitian ini adalah 3. Ang (1997) mengungkapkan bahwa rasio yang diperkirakan dapat mempengaruhi return suatu saham adalah Debt to Equity Ratio (DER). 2012) menemukan bahwa tingkat inflasi mempengaruhi harga saham secara signifikan. Beberapa penelitian yang meneliti pengaruh PBV terhadap return saham antara lain penelitian yang dilakukan oleh Liestyowati (2002). Dari 2011 hingga 2013 sektor perbankan menunjukkan kinerja yang cukup memuaskan. dalam Aryati. Berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Susilowati dan Turyanto (2011) yang menunjukkan bahwa EPS tidak berpengaruh signifikan terhadap return saham. maka return yang nantinya akan diperoleh . dkk. (2009).Menurut Jones (1998) dalam pasar modal yang efisien. Price to Book Value (PBV) menunjukkan tingkat kemampuan perusahaan menciptakan nilai relatif terhadap jumlah modal yang diinvestasikan. Jika harga saham mengalami penurunan terus menerus. (2012) menunjukkan bahwa DER berpengaruh positif dan signifikan terhadap return saham. Tahun 2011-2013 dipilh sebagai periode penelitian karena data terbaru akan lebih mencerminkan kondisi terakhir populasi penelitian. PBV yang tinggi mencerminkan harga saham yang tinggi dibandingkan nilai buku per lembar saham. 2013) menyatakan bahwa ketika tingkat inflasi tinggi. Para investor melepaskan sahamnya di dalam negeri sehingga mengakibatkan terjadinya penurunan harga saham. Salah satu informasi yang juga menjadi cerminan kinerja dan pencapaian perusahaan adalah laporan keuangan perusahaan. Bagi para investor. dimana return merupakan tujuan utama aktivitas perdagangan para investor di pasar modal. dalam Kewal. yaitu CAR. Martani. Wahyudi (2003. NPL. Peningkatan inflasi secara relatif merupakan sinyal negatif bagi investor di pasar modal. Penelitian-penelitian yang menggunakan EPS sebagai variabel independen dalam menerangkan return saham menunjukkan hasil yang berbeda-beda. Beberapa penelitian yang meneliti mengenai pengaruh Debt to Equity Ratio terhadap return saham menunjukkan adanya research gap. LANDASAN TEORI Inflasi Hooker (2004. Rasio keuangan lain. sedangkan hasil penelitian Komala dan Nugroho (2013) menunjukkan bahwa variabel Debt to Equity Ratio (DER) tidak berpengaruh signifikan terhadap return investasi. Penelitian yang dilakukan Sasongko & Wulandari (2006) menunjukkan bahwa EPS merupakan variabel yang signifikan dalam menerangkan perubahan return saham.

Semakin besar laba akan menyebabkan semakin tinggi EPS dan kemungkinan peningkatan jumlah dividen yang diterima pemegang saham. Price to Book Value (PBV) Menurut Ang (1997) Price to Book Value (PBV) merupakan salah satu rasio pasar yang digunakan untuk mengukur kinerja harga pasar saham terhadap nilai bukunya. karena tingkat hutang yang semakin tinggi berarti beban bunga perusahaan akan semakin besar dan akan mengurangi keuntungan. proyeksi penurunan tingkat laba tersebut akan dipandang negatif. akibatnya para investor cenderung menghindari saham-saham yang memiliki nilai DER yang tinggi. karena informasi EPS suatu perusahaan menunjukkan besarnya laba bersih perusahaan yang siap dibagikan kepada semua pemegang saham. Kurs Aryati (2013) menyatakan bahwa fluktuasi nilai rupiah terhadap mata uang asing sangat mempengaruhi iklim investasi dalam negeri. Menurut Hernendiastoro (2005) DER akan mempengaruhi kinerja perusahaan dan menyebabkan apresiasi dan depresiasi harga saham. tentu akan mendorong penurunan harga dan return saham. Hal ini akan mendorong investor untuk melakukan aksi jual terhadap saham-saham yang dimilikinya. Semakin besar EPS akan menarik minat investor untuk melakukan investasi di perusahaan yang bersangkutan. Jika terjadi depresiasi rupiah terhadap dolar akan berdampak pada perusahaan yang go public. DER yang terlalu tinggi mempuyai dampak buruk terhadap kinerja perusahaan. Debt to Equity Ratio (DER) Debt to Equity Ratio (DER) merupakan perbandingan antara total hutang yang dimiliki perusahaan dengan total ekuitasnya. dengan demikian EPS berpengaruh positif terhadap return saham. Earning Per Share (EPS) Menurut Tandelilin (2001) Earning Per Share (EPS) merupakan komponen penting yang harus diperhatikan dalam analisis perusahaan. Hal ini dapat mengakibatkan permintaan akan saham meningkat dan harga saham akan meningkat. terutama pasar modal. Jika derajat kepercayaan investor pada kinerja masa depan perusahaan menurun. Semakin besar nilai DER menandakan bahwa struktur permodalan usaha lebih banyak memanfaatkan hutang-hutang relatif terhadap ekuitas. dengan kata lain menggambarkan prospek earning perusahaan di masa mendatang. Semakin tinggi DER mencerminkan risiko perusahaan yang relatif tinggi. EPS dapat diketahui dari informasi laporan keuangan perusahaan. Semakin tinggi . hal ini akan berimbas negatif terhadap harga dan return saham perusahaan bersangkutan.investor juga akan mengalami penurunan. Bagi investor. Apabila banyak investor melakukan hal tersebut.

Untuk mengetahui bagaimana konsistensi perubahan return saham maka pada penelitian ini digunakan metode intervalling dengan jangka waktu 3 bulanan. mingguan. Digunakan metode intervalling karena perkembangan return saham tidak stabil dalam periode pengamatan. relatif apabila dibandingkan dengan dana yang diinvestasikannya. PBV (X5) dan Return (Y). Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling. Return realisasi dihitung berdasarkan data historis. maka akan dapat diamati perilaku data menurut periode atau kelompok waktu. 2005) interval merupakan suatu jarak dua nilai baik menurut satuan nilai maupun menurut waktu. Dengan menggolongkan data ke dalam interval waktu. Kurs (X2). Hal ini akan berakibat pada semakin meningkatnya harga saham suatu perusahaan. bulanan ataupun tahunan.rasio Price to Book Value (PBV) suatu perusahaan menunjukkan semakin tinggi pula penilaian investor terhadap perusahaan yang bersangkutan. data kurs dan data harga saham historis. bulanan ataupun tahunan. Penggunaan selang waktu tersebut didasarkan pada periode publikasi laporan keuangan perusahaan. DER (X3). . Intervalling dapat membedakan pengamatan dalam interval yang rinci berdasarkan perubahan-perubahan menurut interval harian. Metode intervalling dipandang mampu mengamati beberapa kejadian atau event yang terjadi dalam satu periode pengamatan. sebagai berikut: Pt −Pt −1 Return Saham = Pt −1 Konsep Intervalling Menurut Dayan (1983. EPS (X4). Return dapat berupa return realisasi yang sudah terjadi maupun return ekspektasi yang belum terjadi namun diharapkan akan terjadi di masa mendatang. mingguan. dengan demikian diharapkan pula akan meningkat pula tingkat kembalian (return) perusahaan yang bersangkutan. sehingga diperoleh jumlah sampel sebanyak 29 perusahaan. dalam Hernendiastoro. Return Saham Return saham menurut Jogiyanto (2000) merupakan hasil yang diperoleh dari investasi. Intervalling dapat membedakan pengamatan dalam interval yang rinci berdasarkan perubahan-perubahan menurut interval harian. data inflasi.Variabel dalam penelitian ini adalah Inflasi (X1). METODE PENELITIAN Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan perbankan yang terdaftar di BEI tahun 2011-2013 berjumlah 62 perusahaan. 6 bulanan dan 12 bulanan. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang dikumpulkan melalui metode dokumentasi meliputi data laporan keuangan.

Penggunaan 3 model regresi dimaksudkan untuk membandingkan hasil pengujian untuk melihat konsistensi pengaruh variabel X terhadap Y dalam 3 interval berbeda. (2-tailed) sebesar 0. . Penelitian ini menggunakan teknik Analisis Regresi Linier Berganda dengan bantuan program SPSS versi 16. Uji F dan Uji Statistik t. Data interval 3 bulanan ditransformasi dengan log10 untuk memenuhi asumsi normalitas.193 dengan nilai Aymp. perumusan model analisis regresi. Tahap yang dilakukan adalah Uji Asumsi Klasik. Sig. maka model regresi dinyatakan tidak terjadi multikolinearitas. Tabel 1. Dari Tabel 2 diperoleh nilai tolerance > 0.05. Periode pengamatan interval 3 bulan: R3 = a + β1I3 + β2K3 + β3DER3 + β4EPS3 + β5PBV3 + e Periode pengamatan interval 6 bulan: R6 = a + β1I6 + β2K6 + β3DER6 + β4EPS6 + β5PBV6 + e Periode pengamatan interval 12 bulan R12 = a + β1I12 + β2K12 + β3DER12 + β4EPS12 + β5PBV12 + e Dimana: R3B = Return saham periode 3 bulanan R6B = Return saham periode 6 bulanan R12B = Return saham periode 12 bulanan a = konstanta β1-β5 = koefisien regresi e = faktor kesalahan HASIL DAN PEMBAHASAN Uji Asumsi Klasik dilakukan terpisah untuk data interval 3.1 dan nilai VIF < 10. Hasil uji normalitas dapat dilihat pada Tabel 1. Hasil Uji Normalitas Data Interval 3 Bulanan dengan Kolmogorov Smirnov Hasil Uji Multikolinearitas dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2.116 > 0. Hal ini berarti data residual terdistribusi normal setelah ditransformasi dengan log10. 6 dan 12 bulanan. Jumlah N awal 348. setelah transformasi jumlah N berubah menjadi 177. koefisien determinasi. Analisis regresi berganda dalam penelitian ini menggunakan 3 model. diperoleh nilai Kolmogorov-Smirnov Z sebesar 1.