You are on page 1of 5

BAB I

KEJANG DEMAM

1.1. DEFENISI

Kejang demam adalah kejang yang terjadi antara usia 6 sampai 60 bulan
dengan temperatur tubuh 380 C (100,40 F) atau lebih , yang bukan merupakan
akibat dari infeksi sistem sarah pusat atau ketidakseimbangan metabolik lain dan
terjadi tanpa ada riwayat kejang tanpa demam sebelumnya.

1.2 KLASIFIKASI

1. Kejang demam sederhana

a. Kejang demam < 15 menit , dan umumnya akan berhenti sendiri.
b. Kejang berbentuk umum tonik dan atau klonik
c. Kejang tidak berulang dalam waktu 24 jam.

2. Kejang demam kompleks

a. Kejang lama > 15 menit
b. Kejang fokal atau persial satu sisi, atau kejang umum didahului kejang
parsial
c. Berulang atau lebih dari 1 kali dalam 24 jam

1.3 DIAGNOSIS

Anamnesis :
 Adanya kejang , jenis kejang, kesadaran, lama kejang
 Suhu sebelum/ saat kejang , frekuensi dalam 24 jam, interval, keadaan
anak pasca kejang, penyebab demam di luar infeksi susunan saraf
pusat( gajala infeksi saluran napas akut/ ISPA, infeksi saluran kemih/ ISK,
otitis media akut/OMA )
 Riwayat perkembangan , riwayat kejang demam, dan epilepsy dalam
keluarga
 Singkirkan penyebab kejang yang lain ( misalnya muntah/diare yang
mengakibatkan gangguan elektrolit , sesak yang mengakibatkan
hipoksemia ,asupan kurang yang dapat menyebabkan hipoglekemia

Pemeriksaan Fisik

1

dll  Permeriksaan neurologi: tonus.OMA.  Kesadaran: apakah terdapat penurunan kesadaran . Pungsi lumbal dianjurkan pada:  bayi usia kurang dari 12 bulan : sangat dianjurkan  bayi usia 12-18 bulan: dianjurkan  bayi usia > 18 bulan tidak rutin dilakukan  pemeriksaan elektronsefalografi (EEG) tidak direkomendasi . papil edema  Tanda infeksi diluar SSP: ISPA. urin atau feses. Jika yakin bukan meningitis secara klinis tidak perlu dilakukan pungsi lumbal. Pemeriksaan dapat meliputi darah perifer lengkap. Pada bayi kecil sering kali sulit untuk menegakkan atau menyingkirkan diagnosis meningitis karena manifestasi klinisnya tidak jelas. kernique.ISK. muntah berulang.  Pemeriksaan cairan serebrospinal dilakukan untuk menegakkan atau menyingkirkan kemungkinan meningitis. paresis nervus VI . bruzunki 1 dan 2 . motorik. apakah terdapat demam  Tanda rangsang meningeal: kaki kuduk . reflex fisiologis reflex patologis Pemeriksaan Penunjang  Pemeriksaan penunjang dilakukan sesuai indikasi untuk mencari penyebab demam atau kejang demam. misalnya:  kelainan neurologis fokal yang menetap (hemiparesis) atau kemungkinan adanya lesi structural di otak (mikrosefali.4 TATALAKSANA 2 . laseque  Tanda peningkatan tekanan intracranial: ubun-ubun besar (UUB) membonjol. misalnya: kejanng demam kompleks pada anak berusia lebih dari 6 tahun atau kejang demam fokal  pencitraan (CT-Scan atau MRI kepala) dilakukan jika hanya ada indikasi. spastisitas)  terdapat tanda peningkatan tekanan intracranial ( kesadaran menurun. EEG masih dapat dilakuakn pada kejang demam yang tidak khas. urinalisis. suhu tubuh . dan biakan darah . UUB membonjol. edema papil) 1. gula drah . elektrolt.

dengan dosis maksimal 20 mg. dianjurkan kerumah sakit Berikan diazepam intravena dengan dosis 0.3-0. .paresis Todd.5 mg untuk anak > 3 tahun.dimulai 12 jam setelah dosis awal.Kejang fokal Pengobatan jangka panjang dipertimbangkan jika: .dosis diazepam rektal adalah 0.3-0.5mg/kg. Kejang berulang 2 kali/lebih dalam 24 jam .5 mg/kg perlahan-lahan dengan kecepatan 1-2 mg/menit atau dalam waktu 3-5 menit. Obat yang dapat diberikan oleh orang tua atau dirumah adalah diazepam rectal . Bila kejang berhenti dosis selanjutnya adalah 4- 8mg/kg/hari. Dosis diazepam intravena adalah 0.  Pengobatan jangka panjang/ rumatan : . Kejang demam terjadi pada bayi kurang dari 12 bulan 3 .5-0. Bila setelah pemberian diazepam rektal kejang belum berhenti. 3-4 kali sehari  Anti kejang Apabila datang dalam keadaan kejang obat yang paling cepat untuk menghentikan kejang adalah diazepam yang diberikan secara intravena. pemberian obat selanjutnya tergantung dari jenis kejang demam apakah kejang demam sederhana atau kompleks dan faktor resikonya.Kelainaan neurologi yang nyata sebelum/sesudah kejang: hemiparesis.Medikamentosa Pengobatan medikamentosa saat kejang dapat dilihat pada algoritme tatalaksana kejang saat ini lebih diutamakan pengobatan profilaksis intermiten pada saat demam berupa:  Antipiretik parasetamol 10-15 mg/kgBB /kali diberikan 4 kali sehari dan tidak lebih dari 5 kali atau ibuprofen 5-10 mg/kgBB/kali. Bila kejang telah berhenti. dapat diulangi lagi dengan cara dan dosis yang sama dengan interval waktu 5 menit. Bila dengan fenitoin kejang belum berhenti maka pasien harus dirawat diruang intensive. Bila setelah 2 kali pemberian diazepam rektal masih tetap kejang. Bila kejang tetap belum berhenti diberikan fenitoin secara intravena dengan dosis awal 20mg/kg/kali dengan kecepatan 1 mg/kg/menit atau kurang dari 50 mg/menit.Kejang lama > 15 menit .75 mg/kg atau diazepam rektal 5 mg untuk anak dengan BB < 10 kg dan 10 mg untuk BB 10 kg atau diazepam rektal dengan dosis 5 mg untuk anak usia < 3 tahun atau dosis 7.

Kejang demam ≥ 4 kali per tahun Obat untuk pengobatan jangka panjang : fenobarbital ( dosis 3-4 mg/kgBB dibagi 1-2 dosis) atau asam valproat (dosis 15-40 mg/kgBB/hari dibagi 2-3 dosis) . Usia dibawah 6 bulan . . Pengobatan diberikan selama 1 tahun bebas kejang. Kejang demam kompleks . kemudian dihentikan secara bertahap selama 1-2 bulan Indikasi rawat . Hiperpireksia . Kejang demam pertama kali . Terdapat kelainaan neurologis DAFTAR PUSTAKA 4 .

Edition 20. Nelson Textbook of Pediatric.2016. Kliegman.dkk. 20th .1. Volume 2. 5 . Nelson Textbook of Pediatrics.