You are on page 1of 27

Sindrom Aspirasi

Mekonium dan Resusitasi

Skenario 3
Seorang ibu berusia 26 tahun, G1P0A0
kehamilan 38 minggu datang ke IGD
diantar suaminya dengan keluhan
keluar cairan ketuban sudah sejak 1
hari yang lalu. Setelah dilakukan
anamnesa dan pemeriksaan fisik,
pasien segera direncanakan untuk
emergency section cesaria. Segera
setelah anak lahir dilakukan resusitasi.

Mind Map .

•Takipnea. •Retraksi intercosta. •Sianosis. •Mekonium mengotori kulit. •Bayi tampak lemas dan lemah. Gejala Klinis •Cairan ketuban yang berwarna kehijauan atau jelas terlihat adanya mekonium didalam cairan ketuban. dan kuku. . •Apnea. •Frekuensi denyut jantung rendah sebelum kelahiran. •Hipoksia. tali pusat.

Pemeriksaan Penunjang • Pemeriksaan Laboratorium – Analisis gas darah. untuk menyingkirkan kemungkinan infeksi neonatal. untuk mengetahui status oksigenasi kardiopulmonal serta mengidentifikasi asidosis metabolik atau respiratorik dengan penururnan PO2 dan peningkatan PCO2 – Kultur darah dan CBC. • Pemeriksaan Radiologi – Rontgen Dada. memperlihatkan adanya bercak infiltrat. . corakan kedua lapang paru kasar dan ateletaksis.

hipotonia atau koma) » Adanya gangguan sistem multiorgan (misalnya: gangguan kardiovaskular.0) » Gangguan neurologis (misalnya: kejang. atau . hematologi. gastrointestinal. Faktor Resiko • Kehamilan lewat bulan • Hipertensi maternal • Denyut jantung janin abnormal • Pre-eklampsia • Ibu penderita diabetes • Menurut American Association of Pediatrics (AAP). Seorang neonatus disebut mengalami asfiksia bila memenuhi kondisi sebagai berikut: » Nilai Apgar menit kelima 0-3 » Adanya asidosis pada pemeriksaan darah tali pusat (pH<7. pulmoner.

Diagnosis Banding • Transient tachypnea of the newborn (TTN) • Respiratory distress syndrome (RDS) .

”siluet infiltrat homogenus. diabetes pada ibu kelahiran preterm Gambaran klinis Takipneu. air Patchy atelectasis. amnioinfusi tidak kehamilan 37-39 minggu preterm (usia kehamilan bermanfaat 24-34 minggu) . hipoxia hipoksia maupun sianosis sianosis Temuan infiltrat pada parenkim. sering kali tanpa Takipneu. kelahiran jenis kelamin laki-laki. hipoksia ventilasi. penurunan toraks penumpukan cairan intralobar volume paru. makrosomia. oksigen jika terjadi Resusitasi. bronchogram. surfaktan surfaktan Pencegahan Kortikosteroid prenatal Kortikosteroid prenatal Jangan menunda suctioning setelah sebelum operasi sesar jika usia jika ada resiko kelahiran kelahiran. oksigen. post-term pada ibu. Terapi Suportif. Takipneu. asma diabetes pada ibu. oksigen. konsolidasi radiologis basah” di sekeliling jantung.Pembeda TTN RDS SAM Etiologi Cairan paru persisten Defisiensi surfaktan Iritasi dan obstruksi paru Paru belum berkembang sempurna Waktu Kapan saja Preterm Aterm atau post-term persalinan Faktor resiko Section cessarea. Cairan amnion mekonial. ventilasi. Resusitasi. hypoxia. jenis kelamin laki-laki.

• Terjadi: – Sumbatan jalan nafas – Inflamasi parah – Hipertensi paru – Aktivasi platelet . Patofisiologi • Mekonium  merusak epitel bronkus. bagian paru lain hiperinflasi. bronkiolus dan alveolus. • Mekonium menyumbat saluran napas secara total/parsial  beberapa bagian paru kolaps.

.

Tatalaksana Mekonium Terdapat Mekonium Bayi Bugar TID TID AK AK Lakukan Y penghisapan A mulut dan trakea Lakukan tindakan awal: • Bersihkan sekresi dari mulut dan hidung • Keringkan. rangsang pernafasan dan posisikan lagi .

APGAR Score Nilai 0 Nilai 1 Nilai 2 Akronim Warna Seluruhnya Warna kulit Warna kulit Appearan Kulit biru tubuh normal tubuh. Respiratio tidak teratur pernafasan baik n dan teratur . dan kaki tidak ada kebiruan sianosis (Akrosianosis Denyut Tidak ada < 100 > 100 kali/menit Pulse Jantung kali/menit Respon Tidak ada Meringis/mena Meringis/bersin/ Grimace Refleks respon ngis lemah batuk saat terhadap ketika stimulasi saluran stimulasi distimulasi nafas Tonus Otot Tidak ada Sedikit gerakan Bergerak aktif Activity Pernafasan Tidak ada Lemah atau Menangis kuat. dan kaki normal tetapi tangan merah muda. tangan ce merah muda.

sianosis berat dan kadang-kadang pucat. • APGAR  bukan sebagai penentu untuk memulai resusitasi. tonus otot kurang baik. . • 30 detik setelah bayi lahir  bayi tidak menangis  resusitasi. • Nilai Apgar 4-6 : Mild Moderat atau asfiksia sedang – Frekuensi jantung >100x/menit. seluruh tubuh kemerah-merahan. • Nilai Apgar 0-3 : Asfiksia berat – Frekuensi jantung <100 x/menit. reflek iritabilitas tidak ada. sianosis.• Nilai Apgar 7-10 : Vigorous baby atau asfiksia ringan – Bayi dalam keadaan baik sekali. • APGAR  menilai keberhasilan resusitasi bayi dan menentukan prognosis. Tonus otot baik. tonus otot buruk. reflek iritabilitas tidak ada.

ETT(endotracheal tube) .Balon penghisap (bulb syringe) .Penghisap mekanik dan tabung . Resusitasi Alat-alat resusitasi: • Perlengkapan penghisap: .Laringoskop .Kateter penghisap • Peralatan intubasi: .Stilet • Lain – lain: – Alat pemancar panas (Radiant warmer) atau sumber panas lainnya – Monitor jantung – Oropharyngeal airways .

Balon resusitasi neonatus yang dapat memberikan oksigen 90% sampai 100%.• Peralatan balon dan sungkup: .Sungkup ukuran bayi cukup bulan dan bayi kurang bulan (dianjurkan yang memiliki bantalan pada pinggirnya) .Sumber oksigen dengan pengatur aliran (ukuran sampai 10 L/m) dan tabung . dengan volume balon resusitasi ± 250 ml .

Algoritma Resusitasi Neonatus IDAI 2013 .

nilai 2 pertanyaan: Perawatan rutin Apakah bayi: Y • Pastikan bayi tetap • Bernapas / menangis? A hangat • Tonus otot baik? • Keringkan bayi • Lanjutkan observasi pernafasan.Pada bayi baru lahir. laju denyut TID AK jantung dan tonus Langkah Awal Resusitasi .

• Penilaian terhadap: pernapasan. frekuensi jantung. . denyut jantung >100x/menit dan bayi tidak mengalami sianosis. warna kulit. Langkah Awal Resusitasi: • Pastikan bayi tetap hangat • Atur posisi dan bersihkan jalan nafas • Keringkan bayi dan stimulasi • Posisikan kembali Penilaian: • Langkah awal dilakukan dalam 30 detik. hentikan resusitasi. • Jika bayi bernapas secara teratur dan memadai. • Bayi tidak bernapas/megap atau frekuensi denyut jantung < 100x/menit  VTP.

Balon tidak mengembang sendiri (Flow Inflating Bag) . • Berbagai macam alat: .T-piece resuscitator . Ventilasi Tekanan Positif (VTP) • Langkah Awal Resusitasi  tidak bernafas / megap – megap atau laju denyut jantung < 100 X/menit  lakukan VTP • VTP  Tindakan memasukkan udara dengan tekanan positif agar alveoli paru bayi membuka dan bayi bisa bernafas spontan.Balon mengembang sendiri (Self-Inflating Bag) .

Amati gerakan dada bayi  bila dada mengembang: a. lakukan ventilasi kira- kira 20 kali. Periksa posisi kepala. b. Periksa pemasangan sungkup dan pastikan tidak terjadi kebocoran. •. pastikan posisinya sudah benar. Penilaian apakah bayi menangis atau bernapas spontan dan teratur? .Langkah-langkah VTP: • Pasang sungkup  Pasang dan pegang sungkup agar menutupi mulut dan hidung bayi • Amati gerakan dada bayi  bila dada bayi tidak mengembang: a. b. Bila dada bayi mengembang.

yaitu menekan jantung. • Dilakukan bersamaan dengan VTP. dengan detak jantung <60 x/menit  Kompresi Dada • Kompresi teratur pada tulang dada. . dan memperbaiki sirkulasi darah. Memerlukan 2 orang. meningkatkan tekanan intratorakal. agar efektif. secara bergantian. Kompresi Dada • VTP  tidak ada perubahan pada bayi.

kepala menengadah. • Frekuensi o Teratur dalam waktu. o Ibu jari / ujung jari tetap bersentuhan selama penekanan dan pelepasan. • Kedalaman o Kurang lebih 1/3 diameter antero-posterior dada bayi.Prinsip Dasar Kompresi Dada: • Posisi bayi o Topangan yang keras pada bagian belakang bayi. terletak antara processus xiphoideus dan garis khayal yang menghubungkan 2 puting susu. • Kompresi o Letak 2 ibu jari = 1/3 bagian bawah tulang dada. o 3 kompresi = 1 ventilasi (90 kompresi/menit = 30 ventilasi/menit). .

.  Denyut jantung < 60 denyut /menit  obat (epinefrin) melalui vena umbilical atau pipa endotrakea  VTP dilanjutkan.  Denyut jantung > 60 denyut/menit  kompresi dada dapat dihentikan  VTP dilanjutkan.Setelah 30 detik. evaluasi respons.

Intubasi Endotrakeal Jika VTP: • Tidak cukup menghasilkan perbaikan kondisi • VTP telah berlangsung 2 menit Intubasi Endotrakeal untuk membantu memudahkan ventilasi. .

dan normal saline 10 ml/kg. • Dextrose – Bolus dextrosa 10% diberikan dengan dosis 1-2 ml/kg IV dan selanjutnya dapat diberikan dextrosa 10% dengan laju 4-6ml/kg/menit (80-100ml/kg/hari). meningkatkan frekuensi jantung.1 mg/kg secara IV) – Antagonis opiod. • Naloxone hydrochloride (0. . diberi pada neonatus dengan depresi nafas yang tidak responsif dengan ventilasi.03 mg/kg) – Vasokontriksi perifer. • Volume expanders – Whole blood O-rh (-)10ml/kg. atau Ringer Lactate 10ml/kg. Terapi Obat • Epinefrin (0. meningkatkan kontraktilitas jantung.01-0.

Pasca Resusitasi • Resusitasi berhasil: bayi menangis dan bernapas normal sesudah menerima tindakan sesudah ventilasi.megap atau pada pemantauan didapatkan kondisinya memburuk. • Resusitasi tidak berhasil: sesudah resusitasi 10 menit dihitung dari bayi tidak bernapas dan detak jantung 0. . • Resusitasi belum/kurang berhasil: sesudah resusitasi 2 menit belum bernapas atau bernafas megap .

. Kesimpulan • Bayi tersebut mengalami asfiksia akibat aspirasi mekonium. • Nilai keberhasilan resusitasi dengan APGAR Score. • Setelah itu lakukan tindakan resusitasi neonatus. Hal tersebut harus segera diatasi dengan membersihkan mekonium dengan cara melakukan penghisapan mekonium pada mulut dan trakea.