You are on page 1of 1

Umurku tujuh tahun saat pertama kali melihat gadis itu.

Kakakku hanya tertawa dan mengelus kepalaku saat aku


menceritakannya, dia hanya mengataiku terlalau banyak menghayal hingga
terbawa kedalam mimpi. Tapi apakah mungkin memimpikan seseorang yang
tidak kukenal berulang kali. Sejauh yang kuingat semua mimpi itu bukanlah
mimpi buruk. Aku tak pernah takut untuk memejamkan mata dan terlelap
sehingga mimpi itu dapat terus datang kedalam kepalaku. Awalnya semuanya
tidak sejelas sekarang, entah karna aku masih terlalu kecil atau ada alasan lain
aku tidak mengerti. Tapi, setelah semua kian jelas aku selalu mempertahankan
setiap ingatan mimpiku, menggenggamnya erat seperti anak kecil melindungi
mainannya. Takkan ku biarkan siapapun mengambilnya.
Akhir-akhir ini kakakku sering menanyakan lagi tentang gadis dimimpiku,
apakah dia masih datang mampir kepikiranku saat tengah terlelap. Ku bilang aku
tidak bermimpi belakangan ini dan kakakku hanya melihatku dengan tatapan
menyelidik. Tak ada salahnya berbohon bukan, toh aku selalu tau kapan mimpi
itu akan datang. Seperti yang terjadi sekrang. Saat aku memejamkan mataku,
dan hangatnya desiran angin musim panas mulai mengusik masuk ketelingaku
saat seharusnya aku sedang dikamar. Serrr hushhh, tarikan nafas berikutnya
membuatku masuk lebih dalam dalam kabut yang membawaku ketempat yang
sama, sebuah padang rumput yang dikelilingi hutan seperti itu adalah bagian
terkecil dari sebuah dunia, dunia yang kami miliki. Karna tak pernah ada orang
lain selain kami.
Aku menyingkap dahan terakhir, dan melihat sosoknya sedang duduk
sambil menatap kearah langit, aku tidak dapat berpikir bagaimana sosoknya bisa
begitu sempurna dibawah terpaan sinar bulan. Kulit putih pucatnya seolah
berpendar memantulkan cahaya hangat, sangat kontras dengan rambut
panjangnya yang hitam pekat. Sepuluh tahun yang lalu hal yang ku tau saat
bersama gadis ini hanyalah aku dapat jadi diriku sendiri dan bersenang-senang
bersamanya. Tapi sekarang saat aku mengerti keindahannya yang tak bisa
digambarkan aku selalu ingin lebih, selalu berharap untuk tidak dibangunkan
lagi, menikmati langit yang berkelebat berganti dari biru terang yang hangat
menjadi hitam pekat dengan butiran-butiran cahaya lembut yang berkelap-kelip.
Aku terkesiap bangun saat gadis itu berdiri dengan gelisah, matanya
menatap sekeliling dan kembali menatap wajahku, kulihat matanya sirat akan
ketakutan. Tangannya terulur mengajakku untuk pergi dari tempat kami saat ini.
Kutarik tangannya sehingga terjatuh kepelukanku, tapi matanya masih
menyiratkan kegelisahan. Kali ini dia bangkit dan berlari tanpa menungguku,
matanya sirat permohonan agar aku mengejarnya. Takan kubiarkan satu
orangpun menyakitinya meski bukan dikehidupan nyata, aku mengejarnya dan
jauh terdengar riuh yang ku yakin jadi alasan kegelisahannya. Aku berlari tapi
gadis itu telah hilang, lenyap.
Berhenti!! aku terjaga dengan banyak pertanyaan.