You are on page 1of 12

LAPORAN PENDAHULUAN TYPHUS ABDOMINALIS

A. PENGERTIAN
Typhoid adalah penyakit infeksi akut usus halus yang disebabkan oleh kuman
salmonella thypi dan salmonella para thypi A, B, dan C. Sinonim dari penyakit ini adalah
Typhoid dan Paratyphoid Abdominalis (Syaifullah Noer, 1998).
Typus abdominalis adalah penyakit infeksi akut yang biasanya mengenai saluran
pencernaan dengan gejala demanm lebih dari tujuh hari, gangguan pada saluran cerna,
gangguan kesadaran, dan dan lebih banyak menyerang pada anak usia 12-13 tahun (70%-
80%), pada usia 30-40 tahun (10%-20%) dan di atas usia pada anak 12-13 tahun sebanyak
(5%-10%) (Mansjoer Arif, 1999).
Typus abdominalis adalah penyakit infeksi akut yang biasanya mengenai saluran
pencernaan dengan gejala demam yang lebih dari 1 minggu, gangguan pencernaan dan
gangguan kesadaran (FKUI, 1999).
Thypus Abdominalis adalah penyakkit infeksi akut yang biasanya terdapat pada
saluran cerna dengan gejala demam lebih dari satu minggu dan terdapat gangguan kesadaran
(Suriadi, Yuliani Rita, 2001). Jadi tifus abdominalis adalah penyakit infeksi akut yang
disebabkan oleh kuman salmonella typhi dan terdapat pada saluran pencernaan yang disertai
dengan demam lebih dari satu minggu, dan gangguan kesadaran.

B. ETIOLOGI
Faktor Etiologi dari demam typhoid adalah disebabkan oleh makanan yang tercemar
oleh salmonella typhoid dan salmonella paratyphoid A, B dan C yang ditularkan melalui
makanan, jari tangan, lalat dan feses, serta muntah diperberat bila klien makan tidak teratur.
Faktor predisposisinya adalah minum air mentah, makan makanan yang tidak bersih dan
pedas, tidak mencuci tangan sebelum dan sesudah makan, dari WC dan menyiapkan
makanan.
Salmonella typhosa, merupakan basil gram negatif yang bergerak dengan bulu getar,
tidak berspora. Mempunyai sekurang-kurangnya tiga macam antigen yaitu antigen O (Ohne
Hauch) yaitu somatic antigen (tidak menyebar), terdiri dari zat kompleks lipopolisakarida,
antigen H (Hauch/menyebar) terdapat pada flagella, antigen Vi merupakan polisakarida
kapsul verilen. Ketiga jenis antigen tersebut didalam tuibuh manusia akan menimbulkan
pembentukan tiga macam antibody yang lazim disebut aglutinin (Ngastiyah,1997).

C. Setelah menyebabkan peradangan dan nekrosis setempat kuman lewat pembuluh limfe masuk ke darah (bakteremia primer) menuju organ retikuloendotelial sistem (RES) terutama hati dan limpa. depresi sumsum tulang dan panas. Selanjutnya zat pirogen yang beredar di darah mempengaruhi pusat termoregulator di hipothalamus yang mengakibatkan timbulnya gejala demam. Infiltrasi jaringan oleh makrofag yang mengandung eritrosit. Di tempat ini kuman difagosit oleh sel-sel fagosit retikuloendotelial sistem (RES) dan kuman yang tidak difagosit berkembang biak. pemasalahan pada identifikasi dan pelaksanaan karier. penyediaan air bersih yang tidak memadai. limpa. PATOFISIOLOGI Kuman Salmonella masuk bersama makanan atau minuman yang terkontaminasi. patogenesis dan faktor virulensi yang belum dimengerti sepenuhnya serta belum tersedianya vaksin yang efektif. jaringan limfe mesemterium. keterlambatan membuat diagnosis yang pasti. Pada akhir masa inkubasi 5-9 hari kuman kembali masuk ke darah menyebar ke seluruh tubuh (bakteremia sekunder) dan sebagian kuman masuk ke organ tubuh terutama limpa. Pada dinding ileum terjadi ulkus yang dapat menyebabkan perdarahan atau perforasi intestinal. kandung empedu yang selanjutnya kuman tersebut dikeluarkan kembali dari kandung empedu ke rongga usus dan menyebabkan reinfeksi usus. . sumsum tulang dan organ yang terinfeksi. Bila sel ini beragregasi maka terbentuk nodul terutama dalam usus halus. 2002). hati. Kelainan utama yang terjadi di ileum terminale dan plak peyer yang hiperplasi (minggu I). limfosist sudah berdegenerasi yang dikenal sebagai tifoid sel. Dalam masa bakteremia ini kuman mengeluarkan endotoksin. Keluarga dengan hygiene sanitasi yang rendah. kuman. Makrofag pada pasien akan menghasilkan substansi aktif yang disebut monokines yang menyebabkan nekrosis seluler dan merangsang imun sistem. setelah berada dalam usus halus mengadakan invasi ke jaringan limfoid usus halus (terutama plak peyer) dan jaringan limfoid mesenterika. nekrosis (minggu II) dan ulserasi (minggu III). aman dan murah Pang dalam (Soegijanto Soegeng. Endotoksin ini merangsang sintesa dan pelepasan zat pirogen oleh lekosit pada jaringan yang meradang. Selain itu penyakit Tipus Abdomnalis juga bisa didukung oleh faktor-faktor antara lain : pengetahuan tentang kesehatan diri dan lingkungan yang relative rendah. instabilitas vaskuler.

masa tunas terlama berlangsung 30 hari. lesu. Masa tunas tersingkat adalah empat hari. Selama masa inkubasi. yang kemudian disusul dengan gejala-gejala klinis sebagai berikut : . dan tidak bersemangat. nyeri kepala. Sedangkan. MANIFESTASI KLINIK/TANDA DAN GEJALA Gejala klinis demam typhoid pada anak biasanya lebih ringan jika dibandingkan dengan penderita dewasa. mungkin ditemukan gejala prodomal. pusing. jika infeksi terjadi melalui makanan. yaitu perasaan tidak enak badan. Gambar Pathway Typhoid abdominalis D. jika infeksi melalui minuman. Masa tunas rata-rata 10-20 hari.

Mobilisasi sesuai kondisi. Makanan diberikan secara bertahap sesuai dengan keadaan penyakitnya (mula-mula air. lidah putih kotor (coated tounge) ujung dan tepi kemerahan. Posisi tubuh harus diubah setiap 2 jam untuk mencegah dekubitus. bibir kering. yaitu bintik-bintik kemerahan karena emboli basil dalam kapiler kulit. PENATALAKSANAAN Penatalaksanaan dari penyakit ini dapat dibedakan menjadi tiga bagian sebagai berikut (Rahmad Juwono. 2. Ginjal : glomerulonefritis. dan arthritis. b. Tirah baring absolut sampai minimal 7 hari bebas demam atau kurang lebih selama 14 hari. lalu makanan lunak. empiema. tidak boleh mengandung banyak serat. Makanan mengandung cukup cairan. perut kembung. f. Pada minggu kedua. Paru : pneumoni. Gangguan pada Saluran Pencernaan Nafas berbau tidak sedap. 3. kalori.1. d. Komplikasi ekstra intestinal a. periostitis. 3. Selama minggu pertama. dan perinefritis. b. 2. tromboritopenia. walaupun tidak terlalu merosot. disertai nyeri pada perabaan. Komplikasi intestinal a. b. Ileus paralitik 2. dan dengan suhu tubuh yang tidak terlalu tinggi. biasanya turun pada pagi hari dan meningkat lagi pada sore dan malam hari. Tulang : osteomielitis. tidak merangsang maupun menimbulkan banyak gas. suhu berangsur-angsur meningkat. miokarditis. c. spondilitis. Perdarahan usus b. Gangguan Kesadaran Kesadaran menurun. E. c. sindrom uremia hemolitik. KOMPLIKASI 1. pielonefritis. penderita terus demam dan pada minggu ketiga demam penderita berangsur-angsur normal. F. Hepar dan kandung empedu : hipatitis dan kolesistitis. trombosis. pada punggung dan anggota gerak juga dijumpai adanya roseola. yaitu apatis sampai samnolen atau somnolence (keinginan untuk tidur dan terus tidur). Obat . Kardiovaskuler : kegagalan sirkulasi perifer (renjatan sepsis). Darah : anemia hemolitik. Di samping gejala-gejala tersebut . 1996) : 1. Diet a. dan tromboflebitis. hati dan limpa membesar. e. Perawatan a. bersifat febris remiten. dan kemudian makanan biasa). Demam Demam berlangsung selama 3 minggu. dan pecah-pecah. dan tinggi protein. Perforasi usus c. pleuritis.

c. No. ASUHAN KEPERAWATAN 1. d. g. Riwayat Kesehatan Keluarga Apakah dalam kesehatan keluarga ada yang pernah menderita Typhoid atau sakit yang lainnya. dan apakah menderita penyakit lainnya. Riwayat Penyakit Sekarang Pada umumnya pasien Typhoid demam. dengan timbul gejala-gejala yang dialami. c. Pola nutrisi dan metabolisme Adanya mual dan muntah. pucat (anemi). b. dan rasa pahit waktu makan sehingga dapat mempengaruhi status nutrisi berubah. Pengkajian Pengumpulan Data a. Pola reproduksi dan seksual Pola reproduksi dan seksual pada pasien yang telah atau sudah menikah akan terjadi perubahan. Kortikosteroid diberikan pada pasien yang toksik. Supportif : vitamin-vitamin. anorexia. gangguan kesadaran berupa somnolen sampai koma. nyeri kepala/pusing. Tiamfenikol. pada waktu tidur. pendidikan. Pola aktivitas dan latihan Pasien akan terganggu aktivitasnya akibat adanya kelemahan fisik serta pasien akan mengalami keterbatasan gerak akibat penyakitnya. lidah kotor. nafsu makan menurun. 5. 3. . nyeri otot. berat badan dan tanggal MRS. lidah kotor. Keluhan utama Pada pasien Typhoid biasanya mengeluh perut merasa mual dan kembung. alamat. sehingga pasien merasa gelisah. Obat Symptomatik . Pola-pola fungsi kesehatan 1. penurunan napsu makan selama sakit. Riwayat Penyakit dahulu Apakah pasien sebelumnya pernah mengalami sakit Typhoid. Riwayat Psikososial Psikososial sangat berpengaruh sekali terhadap psikologis pasien. diare. agama. konsumsi cairan yang tidak sesuai dengan kebutuhan. G. Identitas Di dalam identitas meliputi nama. b. dan demam.a. pekerjaan. tinggi badan. mual. 4. Pola tidur dan aktivitas Kebiasaan tidur pasien akan terganggu dikarenakan suhu badan yang meningkat. f. apakah pasien dapat menerima pada apa yang di deritanya. panas. muntah. Co-trimoksazol (Kombinasi Trimetoprim dan Sulkametoksazol). d. Registrasi. 2. e. perasaan tidak enak di perut. umur. Antimikroba : Kloramfenikol. Antipiretik. Penenang : diberikan pada pasien dengan gejala neuropsikiatri. jenis kelamin. Pola Eliminasi Kebiasaan dalam BAK akan terjadi retensi bila dehidrasi karena panas yang meninggi. status perkawinan.

yang dibuat karena rangsangan antigen H (berasal dari flagel kuman). 9. Pola Penaggulangan Stres Kaji apakah yang biasa dilakukan pasien dalam menghadapi setiap stressor. pucat. i. Tujuan dari uji widal ini adalah menentukan adanya aglutinin dalam serum klien yang disangka menderita typhoid. Pemeriksaan fisik 1. Pola konsep diri Adakah gangguan konsep diri. mual. berkeringat banyak. Pola persepsi dan pengetahuan Bagaimanakah persepsi terhadap status kesehatan saat ini dan sampai sejauh mana pasien memahami penyakit dan perawatannya. Kepala dan leher Konjungtiva anemia.6. perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium yang mencakup pemeriksaan-pemeriksaan sebagai berikut . pucat. trombositopenia. Aglutinin Vi. limfositosis relatif. produk kemih pasien bisa mengalami penurunan (kurang dari normal). 2. akral hangat. h. Biakan empedu : basil salmonella typhii ditemukan dalam darah penderita biasanya dalam minggu pertama sakit. 7. Antigen yang digunakan pada uji widal adalah suspensi salmonella yang sudah dimatikan dan diolah di laboratorium. 3. yang dibuat karena rangsangan antigen O (berasal dari tubuh kuman). muka pucat/bibir kering. Pola tata nilai dan kepercayaan Adakah gangguan dalam pelaksanaan ibadah sehari-hari. 5. Sistem eliminasi Pada pasien Typhoid kadang-kadang diare atau konstipasi. klien membuat antibodi atau aglutinin yaitu : 1. 2. Aglutinin H. Aglutinin yang spesifik terhadap salmonella thypi terdapat dalam serum klien dengan typhoid juga terdapat pada orang yang pernah divaksinasikan. 3. Pemeriksaan Penunjang Untuk melakukan diagnosis penyakit typhus abdominalis. Pola hubungan interpersonal Adanya kondisi kesehatan mempengaruhi terhadap hubungan interpersonal dan mengalami hambatan dalam menjalankan perannya selama sakit. aneosinofilia. Pemeriksaan darah tepi : dapat ditemukan leukopenia. Akibat infeksi oleh Salmonella Thypi. 1. dan anorexia. normal ½ . . Keadaan umum Biasanya pada pasien Typhoid mengalami badan lemah. 3. anemia. panas. Sistem integument Turgor kulit menurun. mataa cowong. 2. lidah kotor. yang dibuat karena rangsangan antigen Vi (berasal dari simpai kuman). perut tidak enak. 10. ditepi dan di tengah merah. Aglutinin O.1 cc/kg BB/jam. 8. Uji Widal Uji Widal adalah suatu reaksi aglutinasi antara antigen dan antibodi (aglutinin). Dada dan abdomen Di daerah abdomen ditemukan nyeri tekan 4.

b. 2. dan kembung. mual. maka perencanaan yang dibuat sebagai berikut : a. Suhu dalam batas normal. Diagnosa 1 Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi. 2. Dari ketiga aglutinin tersebut hanya aglutinin O dan H yang ditentukan titernya untuk diagnosa. Risiko tinggi terjadinya kekurangan volume cairan yang berhubungan dengan kurangnya asupan (intake) cairan dan peningkatan suhu tubuh. 3. karena pasien tidak nafsu makan. 1990). Intoleransi aktivitas berhubungan dengan tidak adekuatnya masukan nutrisi (mual dan muntah) dan pembatasan aktivitas. c. (Lismidar. Diagnosa Keperawatan Dari analisa data yang diperoleh maka diagnosa keperawatan yang muncul pada kasus demam typhus abdominalis yaitu sebagai berikut : a. Data subyek adalah data yang diambil dari ungkapan klien atau keluarga klien sedangkan data obyek adalah data yang didapat dari suatu pengamatan atau pendapat yang digunakan untuk menentukan diagnosis keperawatan. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan asupan makanan yang tidak adekuat. Tidak ada tanda-tanda dehidrasi. Analisa data Data yang sudah terkumpul dikelompokkan dan dianalisis untuk menentukan masalah klien. . Tujuan : Hipertermi teratasi Kriteria hasil : 1. d. e. Intervensi Keperawatan Rencana keperawatan yang digunakan untuk memberikan asuhan keperawatan klien pada dasarnya sesuai dengan masalah yang ditemukan pada klien dengan demam tifoid dan hal ini sesuai dengan diagnosa keperawatan yang telah ada. Untuk mengelompokkan data ini dilihat dari jenis data yang meliputi data subyek dan dan data obyek. makin tinggi titernya makin besar klien menderita typhoid. kriteria hasil dan rasionalisai berdasarkan susunan diagnosa keperawatan diatas. 4. Pemeriksaan SGOT/SGPT SGOT dan SGPT pada demam typhoid seringkali meningkat tetapi dapat kembali normal setelah sembuhnya typhoid. Perencanaan berisi suatu tujuan pelayanan keperawatan dan rencana tindakan yang akan digunakan itu untuk mencapai tujuan. Kurangnya pengetahuan tentang penyakit yang diderita berhubungan dengan kurangnya informasi. Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi.

3. sehingga mempercepat 5. Pemberian antibiotik sesuai program medis. Anjurkan pasien untuk menggunakan Saat suhu tubuh naik. kemungkinan mengindikasikan terjadinya komplikasi perforasi usus. Observasi adanya peningkatan suhu secara tipes dan efektivitas terapi. terus-menerus. Pengisian kapiler kurang dari 3. Berikan terapi obat golongan antipiretik 7. 9. dan turgor kulit. Observasi membrane mukosa. Turgor kulit elastis 4. Kaji dan catat suhu tubuh setiap 2 atau 4 jam. kapiler. 6. fase akut. Pakaian tipis memudahkan penguapan panas. distensi abdomen. Peningkatan suhu secara terus-menerus abdomen. 5. penyebaran infeksi. Kebutuhan cairan dalam tubuh cukup 4. Untuk menurunkan atau mengontrol panas sesuai program medis evaluasi efektivitasnya. 7. badan. Anjurkan pasien untuk tirah baring (bed rest) penguapan tubuh. Pemberian cairan parenteral sesuai program 8. mengeluarkan keringat. Observasi hasil pemeriksaan darah dan feses. setelah pemberian antiseptik dan antibiotik. Menurunkan kebutuhan metabolisme tubuh sebagai upaya pembatasanaktivitas selama sehingga turut menurunkan panas. mencegah terjadinya panas. Penggantian cairan akibat penguapan panas tubuh. dan nyeri 11. 6. pengisian menentukan intervensi.3. dan lipat paha. 10. 1. . Untuk mengidentifikasi tanda-tanda 3.5 liter sehari selama 24 dehidrasi akibat panas. 4.10. Untuk mengetahui perkembangan penyakit 11. Untuk mengatasi infeksi dan mencegah medis. jam. Membrane mukosa Intervensi Rasional 1. 9. pasien akan banyak pakaian yang tipis dan menyerap keringat. Berikan minum 2-2. Berikan kompres hangat pada dahi. 8. 2. ketiak. Kompres hangat memberi efek vasodilatasi pembuluh darah. 5. Tindakan ini sebagai dasar untuk 2.

5. 2. Mencegah terjadinya iritasi usus dan (pedas. metabolisme tubuh. dan sering.b. asam. dan kembung. Jelaskan pentingnya asupan nutrisi yang pemenuhan nutrisi. 9. Berikan makan dalam porsi kecil tapi sering. Berat badan meningkat/normal Intervensi Rasionalisasi 1. Pasien mampu menghabiskan satu porsi makanan d. (masih ada panas atau suhu lebih dari normal). Kriteria hasil : a. Kaji pola makan dan status pasien 1. Nafsu makan meningkat c. Lakukan perawatan mulut secara teratur 6. 6. Timbang berat badan pasien setiap hari. Tidak terjadi mual dan kembung b. jika pemberian memberikan nutrisi penting untuk makanan oral tidak dapat diberikan. Sebagai dasar untuk menentukan intervensi. 2. makanan. Diagnosis 3 Risiko tinggi terjadinya kekurangan volume cairan yang berhubungan dengan kurangnya asupan (intake) cairan dan peningkatan suhu tubuh. Untuk mengontrol mual dan muntah. 3. Diagnosis 2 Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan asupan makanan yang tidak adekuat. Berikan terapi antiematik sesuai program sehingga dapat meningkatkan masukan medis. mual. Berikan makan yang tidak merangsang 3. Berikan makanan lunak selama fase akut komplikasi perforasi usus. Untuk mengistirahatkan gastrointestinal dan program terapi medis. Meningkatkan nafsu makan. 7. Tujuan : Pemenuhan kebutuhan nutrisi yang tidak memadai 2. memadai 8. Agar pasien bersikap kooperatif dalam 7. Tujuan : keseimbangan cairan tubuh memadai. karena pasien tidak nafsu makan. 1. c. 2. 1. Mencegah rangsangan mual/muntah. dan mengandung gas). 4. 4. Mencegah iritasi usus dan distensi abdomen. Untuk mengetahui masukan makanan/penambahan berat badan. Kriteria hasil : . 8. Berikan nutrisi parenteral sesuai 9. 5.

Sebagai dasar untuk menentukan intervensi 2. 7. f. Kebutuhan aktivitas pasien terpenuhi . Monitor tanda-tanda kekurangan cairan cairan tubuh. elektrolit. medis. Intervensi Rasional 1. 1. Kebutuhan aktivitas pasien terpenuhi. Tidak ada takikardia dan takipnea saat melakukan aktivitas. 3. 4. Membran mukosa lembab. 3. Kaji tingkat toleransi pasien terhadap 1. c. dan demam menunjukkan respon terhadap kehilangan 2. Timbang berat badan pasien setiap hari kekurangan cairan dan status nutrisi. g. adanya hemokonsentrasi. Tanda-tanda tersebut menunjukkan menurun. jika pasien tidak muntah. pecah-pecah. Untuk mendeteksi keseimbangan cairan dan cairan setiap 8 jam. 1. Kriteria hasil : a. Observasi dan catat masukan serta keluaran 3. Berikan cairan parenteral sesuai program cairan. evaluasi 7. 2. produksi urine 2. Hipotensi. 4. Untuk mengidentifikasi asupan nutrisi aktivitas. d. Tidak ada keluhan lelah b. Jelaskan pentingnya pembatasan aktivitas sehingga mencegah iritasi usus 5. d. bibir kehilangan cairan berlebihan/dehidrasi. Pengisian kapiler baik (<3). (turgor kulit tak elastis. Berat badan merupakan indikator 5. Awasi data laboratorium (hematokrit). akut. Hematokrit dalam batas normal. Tujuan : toleran terhadap aktivitas 2. Asupan (intake) dan keluaran (output) cairan seimbang b. Intervensi Rasional 1. 5. Untuk menurunkan metabolisme tubuh dan pasien. Tanda-tanda vital dalam batas normal c. Berat badan normal. Indikator status cairan pasien. Untuk mengurangi gerak peristaltik usus. membran mukosa kering. dan pengisian kapiler lambat). 6. Anjurkan tirah baring (bed rest) selama fase mencegah iritasi usus 4.5 liter per hari. e. Produksi urine normal. Untuk memperbaiki kekurangan volume 6. Diagnosis 4 Intoleransi aktivitas berhubungan dengan tidak adekuatnya masukan nutrisi (mual dan muntah) dan pembatasan aktivitas. Observasi tanda-tanda vital setiap 4 jam. Kaji jumlah makanan yang dikonsumsi pasien 3. 4. Berikan cairan per oral 2-2. Untuk pemenuhan kebutuhan cairan tubuh. takikardia. dengan alat ukur yang sama. a.

3. waktu kontrol ulang. Meningkatkan daya tahan tubuh. pengobatannya. penyebab. 5. Pasien mendapat kejelasan tentang penyakitnya. 7. Jelaskan pada pasien tentang perawatan perawatan di rumah setelah pulang dari penyakit. serta 3. Pasien mendapat kejelasan tentang komplikasi penyakit). alat menjaga kebersihan makanan dan makan. pengobatan. Agar pasien mudah mengingat kapan waktu kontrol yang tepat. . Berikan kesempatan kepada pasien untuk meningkatkan toleransi aktivitas melakukan aktivitas sesuai kondisinya (jika telah bebas panas selama beberapa hari. dan gejala. Jelaskan pada pasien tentang penyakit penyakitnya. 2. 7. perawatan penyakit tersebut. Typhus abdominalis (pengertian. Partisipasi keluarga meningkatkan sikap bekerja sama pasiendalam perawatan. e. Sebagai dasar menentukan intervensi. Jelaskan kepada pasien tentang pentingnya yang yang berasal dari makanan. Untuk mencegah terulangnya infeksi usus 4. Tujuan : pasien dan keluarga mendapatkan pemahaman tentang penyakitnya. 6. Meningkatkan partisipasi pasien dapat 6. 2. selama perawatan. Kriteria hasil : pasien dapat menjelaskan penyakitnya. kebersihan diri. Berikan catatan tertulis waktu kontrol ulang setelah sakit. 4. dengan energi minimal. Diagnosis 5 : Kurangnya pengetahuan tentang penyakit yang diderita berhubungan dengan kurangnya informasi. Intervensi Rasional 1. sehingga 8. Kaji tingkat pengetahuan pasien tentang 1. Bantu pasien melakukan aktivitas sehari- mengurangi gerak peristaltik usus hari sesuai kebutuhan. tanda. rumah sakit.8. Melibatkan keluarga dalam pemenuhan meningkatkan harga diri pasien dan kebutuhan kebutuhan aktivitas sehari-hari. Berikan terapi multivitamin sesuai program meningkatkan aktivitas pasien terapi medis. hasil laboratorium menunjukkan perbaikan. 2. 5. sehingga 5. 1. dan kebersihan diri yang kurang.

html(pada tanggal 10 September 2014) Abi.Perawatan Pasien Penyakit Dalam.2012.Thypus Abdominalis. Ardiansyah.Jogjakarta : Gosyen Publishing.Jogjakarta : Diva Press.Dalam http://anfebfel. Rudi.2012.2012.2012.Keperawatan Medikal Bedah Sistem Pencernaan.Yogyakarta : gosyen Publishing. Andrifebri. Muhamad. Fely.blogspot.Thypus Abdominalis. Murwani. Benedikta.html(diakses pada tanggal 10 September 2014) .com/2012/10/thypus- abdominalis.Medikal Bedah untuk Mahasiswa.nl/2012/09/thypus- abdominalis. DAFTAR PUSTAKA Haryono.Dalam http://askepdikta.blogspot.2012.