You are on page 1of 21

Makalah Pengelolaan Kewirausahaan Menurut Ajaran

Agama Islam
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Terjadinya kegagalan pada model pembangunan pada masa lalu, menyadarkan akan perlunya
reorientasi baru dalam pembangunan, yaitu pendekatan pembangunan yang memperhatikan
lingkungan dan pembangunan yang berwajah manusiawi. Pendekatan tersebut menempatkan
manusia sebagai factor kunci yang memainkan peran penting dalam segala segi. Proses
pembangunan hendaknya sebagai suatu proses yang populis, konsentrasi pembangunan lebih
pada ekonomi kerakyatan, dengan mengedepankan fasilitas pembangunan pada usaha rakyat
kecil.

Bertolak dari model pembangunan yang Humanize tersebut maka dibutuhkan program-program
pembangunan yang memberikan prioritas pada upaya memberdayakan masyarakat. Dalam
konteks Good Governance ada tiga pilar yang harus menopang jalannya proses pembangunan,
yaitu masyarakat sipil, pemerintah dan swasta. Oleh karena itu SDM/ masyarakat menjadi pilar
utama yang harus diberdayakan sejak awal.

Dalam pembangunan perekonomian rakyat untuk memberdayakan rakyat hendaklah disertai


transformasi secara seimbang, baik itu transformasi ekonomi, social, budaya maupun politik.
Sehingga akan terjadi keseimbangan antara kekuatan ekonomi, budaya, social dan budaya.

Dengan adanya pemberdayaan, masyarakat dapat menjalankan pembangunan dengan diberikan


hak untuk mengelola sumber daya yang ada. Masyarakat miskin diberikan kesempatan untuk
merencanakan dan melaksanakan pogram pembangunan yang telah mereka tentukan. Dengan
demikian masyarakat diberi kekuasaan untuk mengelola dana sendiri, baik yang berasal dai
pemerintah maupun pihak lain.

Menurut Winarni dalam Sulistiyani (2004:79), inti dari pemberdayaan ada tiga hal, yaitu
pengembangan (enabling), memperkuat potensi atau daya (empowering), dan terciptanya
kemandirian. Pada hakikatnya pemberdayaan merupakan penciptaan suasana atau iklim yang
memungkinkan potensi masyarakat dapat berkembang. Setiap masyarakat pasti memiliki daya,
akan tetapi masyarakat tidak menyadari, atau bahkan belum diketahui. Oleh karena itu, daya
harus digali, dan kemudian dikembangkan.

Pendidikan kewirausahaan (entrepreneurship) di Indonesia masih kurang memperoleh perhatian


yang cukup memadai, baik oleh dunia pendidikan, masyarakat, maupun pemerintah. Banyak
praktisi pendidikan yang kurang memperhatikan aspek-aspek penumbuhan mental, sikap, dan
prilaku kewirausahaan peserta didik, baik di sekolah kejuruan maupun professional sekalipun.
Orientasi mereka, pada umumnya, hanya pada upaya-upaya menyiapkan tenaga kerja yang siap
pakai. Sementara itu, dalam masyarakat sendiri telah berkembang lama kultur feodal (priyayi)
yang diwariskan oleh penjajahan Belanda. Sebagian besar anggota masyarakat memiliki persepsi
dan harapan bahwa output dari lembaga pendidikan dapat menjadi pekerja (karyawan,
administrator atau pegawai) oleh karena dalam pandangan mereka bahwa pekerja (terutama
pegawai negeri) adalah priyayi yang memiliki status sosial cukup tinggi dan disegani oleh
masyarakat.

Akan tetapi, melihat kondisi objektif yang ada, persepsi dan orientasi di atas musti diubah karena
sudah tidak lagi sesuai dengan perubahan maupun tuntutan kehidupan yang berkembang
sedemikian kompetitif. Pola berpikir dan orientasi hidup kepada pengembangan kewirausahaan
merupakan suatu yang mutlak untuk mulai dibangun, paling tidak dengan melihat realitas
sebagai berikut:

1. Senantiasa terjadi ketidakseimbangan antara pertambahan jumlah angkatan kerja setiap


tahun jika dibandingkan dengan ketersediaan lapangan kerja yang ada. Tentu saja kondisi
seperti ini akan mengakibatkan persaingan yang semakin ketat dalam upaya mendapatkan
pekerjaan. Sementara hidup ini tetap harus berjalan dan penghasilan tetap harus dicari
untuk menutup berbagai kebutuhan hidup yang kian mahal.
2. Yang dibutuhkan dalam menghadapi tantangan di era global ini adalah manusia mandiri
(independent) yang memiliki keunggulan kompetitif maupun komparatif, mampu
membangun kemitraan sehingga tidak menggantungkan pada orang lain. Menurut Samuel
Hutington, di sini hukum insani berlaku, bahwa yang mampu bertahan adalah mereka
yang berkualitas (bukan yang kuat).
3. Posisi pekerja, karyawan, dan pegawai (pada umumnya di negara berkembang) sering
berada pada posisi yang lemah dan ditempatkan sebagai alat produksi (subordinasi)
sehingga tidak memiliki daya tawar yang seimbang. Bekerja sebagai karyawan/pegawai
dapat mencerminkan jiwa pemalas. Sebaliknya, ia malah tidak dapat mengembangkan ide
dan visi selama ia bekerja untuk orang lain.

Berdasarkan asumsi tersebut maka pemberdayaan adalah upaya untuk membangun daya, dengan
cara mendorong, memotivasi, dan membangkitkan kesadaran akan potensi yang dimiliki serta
berupaya untuk mengembangkannya dengan dilandasi proses kemandirian.

B. Rumusan Masalah

Dari latar belakang di atas, maka masalah-masalah yang akan di bahas dalam makalah ini, yaitu:

1. Apakah yang di maksud dengan pengelolaan dan kewirausahaan?


2. Bagaimanakah ciri dan watak dalam kewirausahaan?
3. Bagaimanakah tahap-tahap dan proese dalam kewirausahaan?
4. Bagaimanakah faktor-faktor motivasi dalam berwirausaha?
5. Bagaimakah kegiatan kewirausahaan menurut pandangan Islam?
C. Tujuan Penulisan

Berdasarkan rumusan masalah yang tersebut di atas, maka tujuan penulisan makalah ini yaitu:

1. Untuk menjelaskan pengertian pengelolaan dan kewirausahaan.


2. Untuk mengidentifikasikan ciri dan watak dalam kewirausahaan.
3. Untuk menjelaskan dan mengidentifikasikan tahap-tahap dan proses dalam berwirausaha.
4. Untuk mengidentifikasikan faktor-faktor motivasi dalam berwirausaha.
5. Untuk menjelaskan dan mengidentifikasi kegiatan kewirausahaan menurut pandangan
Islam.

D. Manfaat Penulisan

Bagi Pribadi

Meningkatkan pengetahuan dan wawasan akan ciri dan watak berwirausaha. Selain itu juga,
wawasan akan berwirausaha menurut pandangan Islam semakin jelas dan dapat meningkatkan
motivasi dalam berwirausaha.

Bagi Masyarakat Pembaca

a) Meningkatkan pengetahuan dan wawasan akan kewirausahaan beserta proses-prosesnya.

b) Menumbuhkan dan meningkatkan motivasi untuk mulai dan terus berwirausaha.

c) Meningkatkan pengetahuan akan kewirausahaan menurut pnadangan Islam.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Pengelolaan dan Kewirausahaan

1. Pengertian Pengelolaan

Pengelolaan = manajemen (D. Sudjana)

Manajemen adalah suatu proses yang khusus yang terdiri dari tindakan-tindakan
perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengendalian yang dilakukan untuk
menentukan serta mencapai sasaran-sasaran yang telah ditentukan melalui pemanfaatan
sumber daya manusia dan sumber-sumber lainnya (G.R. Terry).
Manajemen merupakan serangkaian kegiatan merencanakan, mengorganisasikan,
menggerakkan, mengendalikan dan mengembangkan terhadap segala upaya dalam
mengatur dan mendayagunakan sumberdaya manusia, sarana dan prasarana secara efisien
dan efektif untuk mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan.(Stoner, 1981)
Proses yang sistematis, terkoordinasi, koperatif dan terintegrasi.

Mempunyai tujuan.

Memanfaatkan dan Mendayagunakan sumber-sumber.

Menerapkan fungsi-fungsi manajemen (merencanakan, mengorganisir, menggerakkan


mengarahkan, dan mengendalikan).

2. Pengertian Kewirausahaan

Kewirausahaan pertama kali muncul pada abad 18 diawali dengan penemuan-penemuan baru
seperti mesin uap, mesin pemintal, dll. Tujuan utama mereka adalah pertumbuhan dan perluasan
organisasi melalui inovasi dan kreativitas. Keuntungan dan kekayaan bukan tujuan utama.
Secara sederhana arti wirausahawan (entrepreneur) adalah orang yang berjiwa berani mengambil
resiko untuk membuka usaha dalam berbagai kesempatan Berjiwa berani mengambil resiko
artinya bermental mandiri dan berani memulai usaha, tanpa diliputi rasa takut atau cemas
sekalipun dalam kondisi tidak pasti. (Kasmir, 2007 : 18).

Pengertian kewirausahaan relatif berbeda-beda antar para ahli/sumber acuan dengan titik berat
perhatian atau penekanan yang berbeda-beda, diantaranya adalah penciptaan organisasi baru
(Gartner, 1988), menjalankan kombinasi (kegiatan) yang baru (Schumpeter, 1934), ekplorasi
berbagai peluang (Kirzner, 1973), menghadapi ketidakpastian (Knight, 1921), dan mendapatkan
secara bersama faktor-faktor produksi (Say, 1803). Beberapa definisi tentang kewirausahaan
tersebut diantaranya adalah sebagai berikut:

Richard Cantillon (1775)

Kewirausahaan didefinisikan sebagai bekerja sendiri (self-employment). Seorang wirausahawan


membeli barang saat ini pada harga tertentu dan menjualnya pada masa yang akan datang dengan
harga tidak menentu. Jadi definisi ini lebih menekankan pada bagaimana seseorang menghadapi
resiko atau ketidakpastian

Jean Baptista Say (1816)

Seorang wirausahawan adalah agen yang menyatukan berbagai alat-alat produksi dan
menemukan nilai dari produksinya.

Frank Knight (1921)


Wirausahawan mencoba untuk memprediksi dan menyikapi perubahan pasar. Definisi ini
menekankan pada peranan wirausahawan dalam menghadapi ketidakpastian pada dinamika
pasar. Seorang worausahawan disyaratkan untuk melaksanakan fungsi-fungsi manajerial
mendasar seperti pengarahan dan pengawasan

Joseph Schumpeter (1934)

Wirausahawan adalah seorang inovator yang mengimplementasikan perubahan-perubahan di


dalam pasar melalui kombinasi-kombinasi baru. Kombinasi baru tersebut bisa dalam bentuk (1)
memperkenalkan produk baru atau dengan kualitas baru, (2) memperkenalkan metoda produksi
baru, (3) membuka pasar yang baru (new market), (4) Memperoleh sumber pasokan baru dari
bahan atau komponen baru, atau (5) menjalankan organisasi baru pada suatu industri.
Schumpeter mengkaitkan wirausaha dengan konsep inovasi yang diterapkan dalam konteks
bisnis serta mengkaitkannya dengan kombinasi sumber daya.

Penrose (1963)

Kegiatan kewirausahaan mencakup indentifikasi peluang-peluang di dalam sistem ekonomi.


Kapasitas atau kemampuan manajerial berbeda dengan kapasitas kewirausahaan.

Harvey Leibenstein (1968, 1979)

Kewirausahaan mencakup kegiatan-kegiatann yang dibutuhkan untuk menciptakan atau


melaksanakan perusahaan pada saat semua pasar belum terbentuk atau belum teridentifikasi
dengan jelas, atau komponen fungsi produksinya belum diketahui sepenuhnya.

Israel Kirzner (1979)

Wirausahawan mengenali dan bertindak terhadap peluang pasar.

Entrepreneurship Center at Miami University of Ohio

Kewirausahaan sebagai proses mengidentifikasi, mengembangkaan, dan membawa visi ke dalam


kehidupan. Visi tersebut bisa berupa ide inovatif, peluang, cara yang lebih baik dalam
menjalankan sesuatu. Hasila akhir dari proses tersebut adalah penciptaan usaha baru yang
dibentuk pada kondisi resiko atau ketidakpastian.

Salah satu kesimpulan yang bisa ditarik dari berbagai pengertian tersebut adalah bahwa
kewirausahaan dipandang sebagai fungsi yang mencakup eksploitasi peluang-peluang yang
muncul di pasar. Eksploitasi tersebut sebagian besar berhubungan dengan pengarahan dan atau
kombinasi input yang produktif. Seorang wirausahawan selalu diharuskan menghadapi resiko
atau peluang yang muncul, serta sering dikaitkan dengan tindakan yang kreatif dan innovatif.

Wirausahawan adalah orang yang merubah nilai sumber daya, tenaga kerja, bahan dan faktor
produksi lainnya menjadi lebih besar daripada sebelumnya dan juga orang yang melakukan
perubahan, inovasi dan cara-cara baru.
Selain itu, seorang wirausahawan menjalankan peranan manajerial dalam kegiatannya, tetapi
manajemen rutin pada operasi yang sedang berjalan tidak digolongkan sebagai kewirausahaan.
Seorang individu mungkin menunjukkan fungsi kewirausahaan ketika membentuk sebuah
organisasi, tetapi selanjutnya menjalankan fungsi manajerial tanpa menjalankan fungsi
kewirausahaannya. Jadi kewirausahaan bisa bersifat sementara atau kondisional.

Kesimpulan lain dari kewirausahaan adalah proses penciptaan sesuatu yang berbeda nilainya
dengan menggunakan usaha dan waktu yang diperlukan, memikul resiko finansial, psikologi dan
sosial yang menyertainya, serta menerima balas jasa moneter dan kepuasan pribadi.

B. Ciri dan Watak dalam Kewirausahaan

1. Ciri-ciri Kewirausahaan

Percaya diri.

Berorientasi pada tugas dan hasil.

Pengambilan resiko.

Kepemimpinan.

Keorisinilan.

Berorientasi ke masa depan.

2. Watak Kewirausahaan

Keyakinan, ketidaktergantungan, individualistis, dan optimisme.


Kebutuhan untuk berprestasi, berorientasi laba, ketekunan dan ketabahan, tekad kerja
keras, mempunyai dorongan kuat, energetik dan inisiatif
Kemampuan untuk mengambil resiko yang wajar dan suka tantangan

Perilaku sebagai pemimpin, bergaul dengan orang lain, menanggapi saran-saran dan
kritik
Inovatif dan kreatif serta fleksibel.

Pandanga ke depan, perspektif.

(Sumber : dari Meredith, et.a., dalam Suryana, 2001 : 8)

Dalam konteks bisnis, seorang entrepreneur membuka usaha baru (new ventures) yang
menyebabkan munculnya produk baru arau ide tentang penyelenggaraan jasa-jasa. Karakteristik
tipikal entrepreneur (Schermerhorn Jr, 1999) :

1. Lokus pengendalian internal


2. Tingkat energi tinggi
3. Kebutuhan tinggi akan prestasi
4. Toleransi terhadap ambiguitas

C. Tahap-tahap dan Proses dalam Kewirausahaan

1. Tahap-tahap Kewirausahaan

1. Kepercayaan diri
2. Berorientasi pada action.

Secara umum tahap-tahap melakukan wirausaha:

a) Tahap memulai, tahap di mana seseorang yang berniat untuk melakukan usaha
mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan, diawali dengan melihat peluang usaha baru yang
mungkin apakah membuka usaha baru, melakukan akuisisi, atau melakukan franchising. Juga
memilih jenis usaha yang akan dilakukan apakah di bidang pertanian, industri / manufaktur /
produksi atau jasa.

b) Tahap melaksanakan usaha atau diringkas dengan tahap jalan, tahap ini seorang
wirausahawan mengelola berbagai aspek yang terkait dengan usahanya, mencakup aspek-aspek :
pembiayaan, SDM, kepemilikan, organisasi, kepemimpinan yang meliputi bagaimana
mengambil resiko dan mengambil keputusan, pemasaran, dan melakukan evaluasi.

c) Mempertahankan usaha, tahap di mana wirausahawan berdasarkan hasil yang telah dicapai
melakukan analisis perkembangan yang dicapai untuk ditindaklanjuti sesuai dengan kondisi yang
dihadapi.

d) Mengembangkan usaha, tahap di mana jika hasil yang diperoleh tergolong positif atau
mengalami perkembangan atau dapat bertahan maka perluasan usaha menjadi salah satu pilihan
yang mungkin diambil.

2. Proses Kewirausahaan

Menurut Carol Noore yang dikutip oleh Bygrave (1996 : 3), proses kewirausahaan diawali
dengan adanya inovasi. Inovasi tersebut dipengeruhi oleh berbagai faktor baik yang berasal dari
pribadi maupun di luar pribadi, seperti pendidikan, sosiologi, organisasi, kebudayaan dan
lingkungan. Faktor-faktor tersebut membentuk locus of control, kreativitas, keinovasian,
implementasi, dan pertumbuhan yang kemudian berkembangan menjadi wirausaha yang besar.
Secara internal, keinovasian dipengaruhi oleh faktor yang bersal dari individu, seperti locus of
control, toleransi, nilai-nilai, pendidikan, pengalaman. Sedangkan faktor yang berasal dari
lingkungan yang mempengaruhi diantaranya model peran, aktivitas, dan peluang. Oleh karena
itu, inovasi berkembangan menajdi kewirausahaan melalui proses yang dipengrauhi lingkungan,
organisasi dan keluarga (Suryana, 2001 : 34). Secara ringkas, model proses kewirausahaan
mencakup tahap-tahap berikut (Alma, 2007 : 10 12) :

a) proses inovasi
b) proses pemicu

c) proses pelaksanaan

d) proses pertumbuhan

Berdasarkan analisis pustaka terkait kewirausahaan, diketahui bahwa aspek-aspek yang perlu
diperhatikan dalam melakukan wirausaha adalah :

a) mencari peluang usaha baru : lama usaha dilakukan, dan jenis usaha yang pernah
dilakukan,

b) pembiayaan : pendanaan jumlah dan sumber-sumber dana,

c) SDM : tenaga kerja yang dipergunakan,

d) kepemilikan : peran-peran dalam pelaksanaan usaha,

e) organisasi : pembagian kerja diantara tenaga kerja yang dimiliki,

f) kepemimpinan : kejujuran, agama, tujuan jangka panjang, proses manajerial (POAC),

g) Pemasaran : lokasi dan tempat usaha.

D. Faktor-faktor Motivasi Dalam Berwirausaha

Ciri-ciri wirausaha yang berhasil (Kasmir, 27 28) :

1. Memiliki visi dan tujuan yang jelas. Hal ini berfungsi untuk menebak ke mana langkah
dan arah yang dituju sehingga dapat diketahui langkah yang harus dilakukan oleh
pengusaha tersebut
2. Inisiatif dan selalu proaktif. Ini merupakan ciri mendasar di mana pengusaha tidak hanya
menunggu sesuatu terjadi, tetapi terlebih dahulu memulai dan mencari peluang sebagai
pelopor dalam berbagai kegiatan.
3. Berorientasi pada prestasi. Pengusaha yang sukses selalu mengejar prestasi yang lebih
baik daripada prestasi sebelumnya. Mutu produk, pelayanan yang diberikan, serta
kepuasan pelanggan menjadi perhatian utama. Setiap waktu segala aktifitas usaha yang
dijalankan selalu dievaluasi dan harus lebih baik dibanding sebelumnya.
4. Berani mengambil risiko. Hal ini merupakan sifat yang harus dimiliki seorang pengusaha
kapanpun dan dimanapun, baik dalam bentuk uang maupun waktu.
5. Kerja keras. Jam kerja pengusaha tidak terbatas pada waktu, di mana ada peluang di situ
dia datang. Kadang-kadang seorang pengusaha sulit untuk mengatur waktu kerjanya.
Benaknya selalu memikirkan kemajuan usahanya. Ide-ide baru selalu mendorongnya
untuk bekerja kerjas merealisasikannya. Tidak ada kata sulit dan tidak ada masalah yang
tidak dapat diselesaikan.
6. Bertanggungjawab terhadap segala aktifitas yang dijalankannya, baik sekarang maupun
yang akan datang. Tanggungjawab seorang pengusaha tidak hanya pada segi material,
tetapi juga moral kepada berbagai pihak.
7. Komitmen pada berbagai pihak merupakan ciri yang harus dipegang teguh dan harus
ditepati. Komitmen untuk melakukan sesuatu memang merupakan kewajiban untuk
segera ditepati dana direalisasikan.
8. Mengembangkan dan memelihara hubungan baik dengan berbagai pihak, baik yang
berhubungan langsung dengan usaha yang dijalankan maupun tidak. Hubungan baik yang
perlu dlijalankan, antara lain kepada : para pelanggan, pemerintah, pemasok, serta
masyarakat luas.

Dari analisis pengalaman di lapangan, ciri-ciri wirausaha yang pokok untuk dapat berhasil dapat
dirangkum dalam tiga sikap, yaitu :

1. Jujur, dalam arti berani untuk mengemukakan kondisi sebenarnya dari usaha yang
dijalankan, dan mau melaksanakan kegiatan usahanya sesuai dengan kemampuannya. Hal
ini diperlukan karena dengan sikap tersebut cenderung akan membuat pembeli
mempunyai kepercayaan yang tinggi kepada pengusaha sehingga mau dengan rela untuk
menjadi pelanggan dalam jangka waktu panjang ke depan.
2. Mempunyai tujuan jangka panjang, dalam arti mempunyai gambaran yang jelas
mengenai perkembangan akhir dari usaha yang dilaksanakan. Hal ini untuk dapat
memberikan motivasi yang besar kepada pelaku wirausaha untuk dapat melakukan kerja
walaupun pada saat yang bersamaan hasil yang diharapkan masih juga belum dapat
diperoleh.
3. Selalu taat berdoa, yang merupakan penyerahan diri kepada Tuhan untuk meminta apa
yang diinginkan dan menerima apapun hasil yang diperoleh. Dalam bahasa lain, dapat
dikemukakan bahwa manusia yang berusaha, tetapi Tuhan-lah yang menentukan !
dengan demikian berdoa merupakan salah satu terapi bagi pemeliharaan usaha untuk
mencapai cita-cita.

Kompetensi perlu dimiliki oleh wirausahawan seperti halnya profesi lain dalam kehidupan,
kompetensi ini mendukungnya ke arah kesuksesan. Dan & Bradstreet business Credit Service
(1993 : 1) mengemukakan 10 kompetensi yang harus dimiliki, yaitu :

1. Knowing your business, yaitu mengetahui usaha apa yang akan dilakukan. Dengan kata
lain, seorang wirausahawan harus mengetahui segala sesuatu yang ada hubungannya
dengan usaha atau bisnis yang akan dilakukan.
2. Knowing the basic business management, yaitu mengetahui dasar-dasar pengelolaan
bisnis, misalnya cara merancang usaha, mengorganisasi dan mengenalikan perusahaan,
termasuk dapat memperhitungkan, memprediksi, mengadministrasikan, dan
membukukan kegiatan-kegiatan usaha. Mengetahui manajemen bisnis berarti memahami
kiat, cara, proses dan pengelolaan semua sumberdaya perusahaan secara efektif dan
efisien.
3. Having the proper attitude, yaitu memiliki sikap yang sempurna terhadap usaha yang
dilakukannya. Dia harus bersikap seperti pedagang, industriawan, pengusaha, eksekutif
yang sunggung-sungguh dan tidak setengah hati.
4. Having adequate capital, yaitu memiliki modal yang cukup. Modal tidak hanya bentuk
materi tetapi juga rohani. Kepercayaan dan keteguhan hati merupakan modal utama
dalam usaha. Oleh karena itu, harus cukup waktu, cukup uang, cukup tenaga, tempat dan
mental.
5. Managing finances effectively, yaitu memiliki kemampuan / mengelola keuangan, secara
efektif dan efisien, mencari sumber dana dan menggunakannnya secara tepat, dan
mengendalikannya secara akurat.
6. Managing time efficiently, yaitu kemampuan mengatur waktu seefisien mungkin.
Mengatur, menghitung, dan menepati waktu sesuai dengan kebutuhannya.
7. Managing people, yaitu kemampuan merencanakan, mengatur, mengarahkan /
memotivasi, dan mengendalikan orang-orang dalam menjalankan perusahaan.
8. Statisfying customer by providing high quality product, yaitu memberi kepuasan kepada
pelanggan dengan cara menyediakan barang dan jasa yang bermutu, bermanfaat dan
memuaskan.
9. Knowing Hozu to Compete, yaitu mengetahui strategi / cara bersaing. Wirausaha harus
dapat mengungkap kekuatan (strength), kelemahan (weaks), peluang (opportunity), dan
ancaman (threat), dirinya dan pesaing. Dia harus menggunakan analisis SWOT sebaik
terhadap dirinya dan terhadap pesaing.
10. Copying with regulation and paper work, yaitu membuat aturan / pedoman yang jelas
tersurat, tidak tersirat. (Triton, 2007 :137 139)

Delapan anak tangga menuju puncak karir berwirausaha (Alma, 106 109), terdiri atas :

1. Mau kerja keras (capacity for hard work).


2. Bekerjasama dengan orang lain (getting things done with and through people).
3. Penampilan yang baik (good appearance).
4. Yakin (self confidence).
5. Pandai membuat keputusan (making sound decision).
6. Mau menambah ilmu pengetahuan (college education).
7. Ambisi untuk maju (ambition drive).
8. Pandai berkomunikasi (ability to communicate).
E. Kegiatan Kewirausahaan Menurut Pandangan Islam

Islam memang tidak memberikan penjelasan secara eksplisit terkait konsep tentang
kewirausahaan (entrepreneurship) ini, namun di antara keduanya mempunyai kaitan yang cukup
erat; memiliki ruh atau jiwa yang sangat dekat, meskipun bahasa teknis yang digunakan berbeda.

Dalam Islam digunakan istilah kerja keras, kemandirian (biyadihi), dan tidak cengeng.
Setidaknya terdapat beberapa ayat al-Quran maupun Hadis yang dapat menjadi rujukan pesan
tentang semangat kerja keras dan kemandirian ini, seperti; Amal yang paling baik adalah
pekerjaan yang dilakukan dengan cucuran keringatnya sendiri, amalurrajuli biyadihi (HR.Abu
Dawud) ;

Tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah; al yad al ulya khairun min al yad al sufla(
HR.Bukhari dan Muslim)(dengan bahasa yang sangat simbolik ini Nabi mendorong umatnya
untuk kerja keras supaya memiliki kekayaan, sehingga dapat memberikan sesuatu pada orang
lain), atuzzakah. (Q.S. Nisa : 77)

Manusia harus membayar zakat (Allah mewajibkan manusia untuk bekerja keras agar kaya dan
dapat menjalankan kewajiban membayar zakat).

Dalam sebuah ayat Allah mengatakan, Bekerjalah kamu, maka Allah dan orang-orang yang
beriman akan melihat pekerjaan kamu(Q.S. at-Taubah : 105). Oleh karena itu, apabila shalat
telah ditunaikan maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia (rizki) Allah. (Q.S.
al-Jumuah : 10)

Bahkan sabda Nabi, Sesungguhnya bekerja mencari rizki yang halal itu merupakan kewajiban
setelah ibadah fardlu (HR.Tabrani dan Baihaqi).

Nash ini jelas memberikan isyarat agar manusia bekerja keras dan hidup mandiri.

Bekerja keras merupakan esensi dari kewirausahaan. Prinsip kerja keras, menurut Wafiduddin,
adalah suatu langkah nyata yang dapat menghasilkan kesuksesan (rezeki), tetapi harus melalui
proses yang penuh dengan tantangan (reziko). Dengan kata lain, orang yang berani melewati
resiko akan memperoleh peluang rizki yang besar. Kata rizki memiliki makna bersayap, rezeki
sekaligus reziko (baca; resiko).

Dalam sejarahnya Nabi Muhammad, istrinya dan sebagian besar sahabatnya adalah para
pedagang dan entrepre mancanegara yang pawai. Beliau adalah praktisi ekonomi dan sosok
tauladan bagi umat. Oleh karena itu, sebenarnya tidaklah asing jika dikatakan bahwa mental
entrepreneurship inheren dengan jiwa umat Islam itu sendiri. Bukanlah Islam adalah agama
kaum pedagang, disebarkan ke seluruh dunia setidaknya sampai abad ke -13 M, oleh para
pedagang muslim.

Dari aktivitas perdagangan yang dilakukan, Nabi dan sebagian besar sahabat telah meubah
pandangan dunia bahwa kemuliaan seseorang bukan terletak pada kebangsawanan darah, tidak
pula pada jabatan yang tinggi, atau uang yang banyak, melainkan pada pekerjaan.
Oleh karena itu, Nabi juga bersabda Innallaha yuhibbul muhtarif (sesungguhnya Allah sangat
mencintai orang yang bekerja untuk mendapatkan penghasilan). Umar Ibnu Khattab mengatakan
sebaliknya bahwa, Aku benci salah seorang di antara kalian yang tidak mau bekerja yang
menyangkut urusan dunia.

Keberadaan Islam di Indonesia juga disebarkan oleh para pedagang. Di samping menyebarkan
ilmu agama, para pedagang ini juga mewariskan keahlian berdagang khususnya kepada
masyarakat pesisir. Di wilayah Pantura, misalnya, sebagian besar masyarakatnya memiliki basis
keagamaan yang kuat, kegiatan mengaji dan berbisnis sudah menjadi satu istilah yang sangat
akrab dan menyatu sehingga muncul istilah yang sangat terkenal jigang (ngaji dan dagang).

Sejarah juga mencatat sejumlah tokoh Islam terkenal yang juga sebagai pengusaha tangguh,
Abdul Ghani Aziz, Agus Dasaad, Djohan Soetan, Perpatih, Jhohan Soelaiman, Haji Samanhudi,
Haji Syamsuddin, Niti Semito, dan Rahman Tamin.

Apa yang tergambar di atas, setidaknya dapat menjadi bukti nyata bahwa etos bisnis yang
dimiliki oleh umat Islam sangatlah tinggi, atau dengan kata lain Islam dan berdagang ibarat dua
sisi dari satu keping mata uang. Benarlah apa yang disabdakan oleh Nabi, Hendaklah kamu
berdagang karena di dalamnya terdapat 90 persen pintu rizki (HR. Ahmad).

Adapun Motif Berwirausaha Dalam Bidang Perdagangan menurut ajaran agama Islam, yaitu:

1. Berdagang buat Cari Untung?

Pekerjaan berdagang adalah sebagian dari pekerjaan bisnis yang sebagian besar bertujuan untuk
mencari laba sehingga seringkali untuk mencapainya dilakukan hal-hal yang tidak baik. Padahal
ini sangat dilarang dalam agama Islam. Seperti diungkapkan dalam hadis : Allah mengasihi
orang yang bermurah hati waktu menjual, waktu membeli, dan waktu menagih piutang.

Pekerjaan berdagang masih dianggap sebagai suatu pekerjaan yang rendahan karena biasanya
berdagang dilakukan dengan penuh trik, penipuan, ketidakjujuran, dll.

2. Berdagang adalah Hobi

Konsep berdagang adalah hobi banyak dianut oleh para pedagang dari Cina. Mereka menekuni
kegiatan berdagang ini dengan sebaik-baiknya dengan melakukan berbagai macam
terobosan.Yaitu dengan open display (melakukan pajangan di halaman terbuka untuk menarik
minat orang), window display (melakukan pajangan di depan toko), interior display (pajangan
yang disusun didalam toko), dan close display (pajangan khusus barang-barang berharga agar
tidak dicuri oleh orang yang jahat).

3. Berdagang Adalah Ibadah

Bagi umat Islam berdagang lebih kepada bentuk Ibadah kepada Allah swt. Karena apapun yang
kita lakukan harus memiliki niat untuk beribadah agar mendapat berkah. Berdagang dengan niat
ini akan mempermudah jalan kita mendapatkan rezeki. Para pedagang dapat mengambil barang
dari tempat grosir dan menjual ditempatnya. Dengan demikian masyarakat yang ada disekitarnya
tidak perlu jauh untuk membeli barang yang sama. Sehingga nantinya akan terbentuk patronage
buying motive yaitu suatu motif berbelanja ketoko tertentu saja.

Berwirausaha memberi peluang kepada orang lain untuk berbuat baik dengan cara memberikan
pelayanan yang cepat, membantu kemudahan bagi orang yang berbelanja, memberi potongan,
dll. Perbuatan baik akan selalu menenangkan pikiran yang kemudian akan turut membantu
kesehatan jasmani. Hal ini seperti yang diungkapkan dalam buku The Healing Brain yang
menyatakan bahwa fungsi utama otak bukanlah untuk berfikir, tetapi untuk mengembaliakn
kesehatan tubuh. Vitalitas otak dalam menjaga kesehatan banyak dipengaruhi oleh frekwensi
perbuatan baik. Dan aspek kerja otak yang paling utama adalah bergaul, bermuamalah, bekerja
sama, tolong menolong, dan kegiatan komunikasi dengan orang lain.

4. Perintah Kerja Keras

Kemauan yang keras dapat menggerakkan motivasi untuk bekerja dengan sungguh-sungguh.
Orang akan berhasil apabila mau bekerja keras, tahan menderita, dan mampu berjuang untuk
memperbaiki nasibnya. Menurut Murphy dan Peck, untuk mencapai sukses dalam karir
seseorang, maka harus dimulai dengan kerja keras. Kemudian diikuti dengan mencapai tujuan
dengan orang lain, penampilan yang baik, keyakinan diri, membuat keputusan, pendidikan,
dorongan ambisi, dan pintar berkomunikasi. Allah memerintahkan kita untuk tawakkal dan
bekerja keras untuk dapat mengubah nasib. Jadi intinya adalah inisiatif, motivasi, kreatif yang
akan menumbuhkan kreativitas untuk perbaikan hidup. Selain itu kita juga dianjurkan untuk
tetap berdoa dan memohon perlindungan kepada Allah swt sesibuk apapun kita berusaha karena
Dialah yang menentukan akhir dari setiap usaha.

5. Perdagangan/ Berwirausaha Pekerjaan Mulia Dalam Islam

Pekerjaan berdagang ini mendapat tempat terhormat dalam ajaran Islam, seperti disabdakan
Rasul :

Mata pencarian apakah yang paling baik, Ya Rasulullah?Jawab beliau: Ialah seseorang
yang bekerja dengan tangannya sendiri dan setiap jual beli yang bersih. (HR. Al-Bazzar).

Dalam QS.Al-Baqarah:275 dijelaskan bahwa Allah swt telah menghalalkan kegiatan jual beli dan
mengharamkan riba. Kegiatan riba ini sangat merugikan karena membuat kegiatan perdagangan
tidak berkembang. Hal ini disebabkan karena uang dan modal hanya berputar pada satu pihak
saja yang akhirnya dapat mengeksploitasi masyarakat yang terdesak kebutuhan hidup.

v Perilaku Terpuji dalam Perdagangan/ Berwirausaha

Menurut Imam Ghazali, ada 6 sifat perilaku yang terpuji dalam perdagangan, yaitu :

1. Tidak mengambil laba lebih banyak.


Membayar harga yang sedikit lebih mahal kepada pedagang yang miskin. Memurahkan harga
dan memberi potongan kepada pembeli yang miskin sehingga akan melipatgandakan pahala. Bila
membayar hutang, maka bayarlah lebih cepat dari waktu yang telah ditetapkan. Membatalkan
jual beli bila pihak pembeli menginginkannya. Bila menjual bahan pangan kepada orang miskin
secara cicilan, maka jangan ditagih apabila orang tersebut tidak mampu membayarnya dan
membebaskan ia dari hutang apabila meninggal dunia.

2. Manajemen Utang Piutang

Hutang ini sudah melekat pada kehidupan masyarakat kita. Dosa hutang tidak akan hilang
apabila tidak dibayarkan. Bahkan orang yang mati syahidpun dosa utangnya tidak berampun.
Jadi jika seseorang meninggal, maka ahli warisnya wajib melunasi hutang tersebut. Tapi jika
orang tersebut telah berusaha membayarnya, tetapi memang betul-betul tidak mampu, dan ia
kemudian meninggal dunia, maka Rasul saw menjadi penjaminnya. Seperti dalam hadis berikut :

Barang siapa dari umatku yang punya hutang, kemudian ia berusaha keras untuk
membayarnya, lalu ia meninggal dunia sebelum lunas hutangnya, maka aku sebagai walinya.
(HR. Ahmad).

3. Demonstration Effect Menyebabkan Faktor Modal Menjadi Beku

Demonstration Effect atau pamer kekayaan akan dapat mengundang kecemburuan social, orang
lain menjadi iri, mengundang pencuri/perampok, membuat modal masyarakat menjadi beku dan
membuat masyarakat tidak produktif. Nabi saw menganjurkan agar kita menggunakan uang
untuk kepentingan yang di ridhoi Allah, terutama untuk tujuan pengembangan produktivitas yang
digunakan untuk kepentingan umat. Dalam sebuah hadist disebutkan :

Barang siapa mengurus anak yatim yang mempunyai harta, maka hendaklah ia
memperdagangkan harta ini untuknya, jangan biarkan harta itu habis termakan sedekah
(zakat). (HR. At-Tarmidzi dan Ad-Daruquthni).

Dalam hadist tersebut dapat disimpulkan bahwa apabila kita memiliki modal, maka janganlah
disimpan begitu saja, tetapi harus digunakan untuk sesuatu yang menghasilkan.

4. Membina Tenaga Kerja Bawahan

Hubungan antara pengusaha dan pekerja harus dilandasi oleh rasa kasih sayang, saling
membutuhkan, dan tolong menolong. Hal ini dapat dilihat dari hubungan dalam bidang
pekerjaan. Pengusaha menyadiakan lapangan kerja dan pekerja menerima rezeki berupa upah
dari pengusaha. Pekerja menyediakan tenaga dan kemampuannya untuk membantu pengusaha
untuk menyelesaikan pekerjaan yang diperintahkan. Majikan mempunyai hak untuk memerintah
bawahan dan mendapat keuntungan. Majikan juga mnemiliki kewajiban yaitu membayar upah
karyawan sesegera mungkin dan melindungi karyawannya. Seperi dalam hadist berikut :

Berikanlah kepada karyawanmu upahnya sebelum kering keringatnya. (HR. Ibnu Majah)
Sebagai majikan kita juga harus menyayangi dan memperlakukan bawahan dengan baik karena
itu bertentangan dengan ajaran islam.

v Sifat-Sifat Seorang Wirausaha

Sifat yang harus dimiliki oleh seorang wirausaha yang sesuai dengan ajaran agama Islam adalah :

1. Sifat Takwa, Tawakkal, Zikir, dan Syukur

Sifat ini harus dimiliki oleh wirausahawan karena dengan sifat-sifat itu kita akan diberi
kemudahan dalam menjalankan setiap usaha yang kita lakukan. Dengan adanya sifat takwa maka
kita akan diberi jalan keluar penyelesaian dari suatu masalah dan mendapat rizki yang tidak
disangka. Dengan sikap tawakkal, kita akan mengalami kemudahan dalam menjalankan usaha
walaupun usaha yang kita jalani memiliki banyak saingan. Dengan bertakwa dan bertawakkal
maka kita akan senantiasa berzikir untuk mengingat Allah dan bersyukur sebagai ungkapan
terima kasih atas segala kemudahan yang kita terima. Dengan begitu, maka kita akan merasakan
tenang dan melaksanakan segala usaha dengan kepala dingin dan tidak stress.

2. Jujur

Dalam suatu hadist diriwayatkan bahwa :Kejujuran akan membawa ketenangan dan
ketidakjujuran akan menimbulkan keragu-raguan.(HR. Tirmidzi). Jujur dalam segala kegiatan
yang berhubungan dengan orang lain maka akan membuat tenang lahir dan batin.

3. Niat Suci dan Ibadah

Bagi seorang muslim kegiatan bisnis senantiasa diniatkan untuk beribadah kepada Allah
sehingga hasil yang didapat nanti juga akan digunakan untuk kepentingan dijalan Allah.

4. Azzam dan bangun Lebih Pagi

Rasul saw mengajarkan agar kita berusaha mencari rezeki mulai pagi hari setelah shalat subuh.
Dalam sebuah hadist disebutkan bahwa : Hai anakku, bangunlah!sambutlah rizki dari Rabb-
mu dan janganlah kamu tergolong orang yang lalai, karena sesungguhnya Allah membagikan
rizki manusia antara terbitnya fajar sampai menjelang terbitnya matahari.(HR. Baihaqi)

5. Toleransi

Sikap toleransi diperlukan dalam bisnis sehingga kita dapat menjadi pribadi bisnis yang mudah
bergaul, supel, fleksibel, toleransi terhadap langganan dan tidak kaku.

6. Berzakat dan Berinfak


Tidaklah harta itu akan berkurang karena disedekahkan dan Allah tidak akan akan
menambahkan orang yang suka memberi maaf kecuali kemuliaan. Dan tidaklah seorang yang
suka merendahkan diri karena Allah melainkan Allah akan meninggikan derajatnya.(HR.
Muslim). Dalam hadist tersebut telah diungkapkan bahwa dengan berzakat dan berinfak maka
kita tidak akan miskin, melainkan Allah akan melipat gandakan rizki kita. Dengan berzakat, hal
itu juga akan membersihkan harta kita sehingga harta yang kita peroleh memang benar-benar
harta yang halal.

7. Silaturahmi

Dalam usaha, adanya seorang partner sangat dibutuhkan demi lancarnya usaha yang kita
lakukan. Silaturrahmi ini dapat mempererat ikatan kekeluargaan dan memberikan peluang-
peluang bisnis baru. Pentingnya silaturahmi ini juga dapat dilihat dari hadist berikut :Siapa
yang ingin murah rizkinya dan panjang umurnya, maka hendaklah ia mempererat hubungan
silaturahmi.(HR. Bukhari)

BAB III

PENUTUP

Dari uraian di atas dapat diambil beberapa simpulan sebagai berikut.

1. Dengan melihat realita secara jujur dan objektif, maka orang sadar bahwa menumbuhkan
mental wirausaha merupakan terobosan yang penting dan tidak dapat ditunda-tunda lagi.
Kita semua harus berpikir untuk melihat dan melangkah ke arah sana.
2. Dalam Islam, baik dari segi konsep maupun praktik, aktivitas kewirausahaan bukanlah
hal yang asing, justru inilah yang sering dipraktikkan oleh Nabi, istrinya, para sahabat,
dan juga para ulama di tanah air. Islam bukan hanya bicara tentang entrepreneurship
(meskipun dengan istilah kerja mandiri dan kerja keras), tetapi langsung
mempraktikkannya dalam kehidupan nyata.
3. Lembaga pendidikan melalui para praktisinya harus lebih konkret dalam menyiapkan
program kegiatan pembelajaran yang benar-benar dapat mendorong tumbuh dan
berkembangnya spirit kewirausahaan mulai dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi.

DAFTAR PUSTAKA

http://fadhilwahyudi.multiply.com/journal/item/44/MUTIARA_KEGIATAN_WIRAUSAHA_M
ENURUT_ISLAM

http://insaniaku.files.wordpress.com/2009/03/4-islam-dan-mental-kewirausahaan-subur.pdf

http://islamkuno.com/2008/02/01/pemberdayaan-masyarakat-dan-kewirausahaan/

http://www.scribd.com/doc/4933265/PENGELOLAAN-KEWIRAUSAHAAN

http://www.waspada.co.id/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=10450
KARAKTERISTIK SEORANG WIRAUSAHA ISLAM
January 27th, 2009 | admin | Artikel Wirausaha

Dalam ajaran Islam, ada beberapa sifat atau karakteristik yang harus dimiliki oleh seorang
wirausaha, yaitu :

1. Sifat takwa, tawakal, dzikir dan syukur


Sifat-sifat di atas harus benar-benar dilaksanakan dalam kehidupan (praktek bisnis) sehari-hari.
Ada jaminan dari Allah bahwa : barang sapa yang takwa kepada Allah, maka Allah akan
mengadakan baginya jalan keluar, dan Allah memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-
sangka. Tawakal ialah suatu sifat penyerahan diri kepada Allah secara aktif, tidak cepat
menyerah. Berdzikir artinya selalu menyebut Asma Allah dalam hati dengan merendahkan diri
dan rasa takut serta tidak mengeraskan suara dalam segala keadaan. Selalu ingat Allah membuat
hati menjadi tenang, segala usaha dapat dilakukan dengan kepala dingin dan lancar. Selain itu
rasa syukur juga akan membuat hati menjadi tenang, ungkapan rasa syukur ini dapat dilakukan
baik secara diam-diam dalam hati maupun diucapkan dengan lisan atau dalam bentuk perbuatan.

2. Jujur
Dalam suatu hadis dinyatakan : Kejujuran itu akan membawa ketenangan dan ketidakjujuran
akan menimbulkan keragu-raguan (HR. Tirmidzi). Jujur dalam segala kegiatan bisnis,
menimbang, mengukur, membagi, berjanji, membayar hutang, jujur dalam berhubungan dengan
orang lain akan membuat ketenangan lahir dan batin.
3. Niat suci dan ibadah
Bagi seorang muslim melakukan bisnis adalah dalam rangka ibadah kepada Allah. Demikian
pula hasil yang diperoleh dalam bisnis akan dipergunakan kembali di jalan Allah.

4. Adzan dan bangun lebih pagi


Rasulullah telah mengajarkan kepada umatnya, agar mulai bekerja sejak pagi hari, selesai sholat
subuh, jangan kamu tidur, bergeraklah, carilah rizki dari Tuhanmu. Para malaikat akan turun dan
membagi rizki sejak terbit fajar sampai terbenam matahari.

5. Toleransi
Toleransi, tenggang rasa, tepo seliro, lamat diawak katuju diurang (Minang) harus dianut oleh
orang-orang yang bergerak dalam bidang bisnis. Dengan demikian tampak orang bisnis itu supel,
mudah bergaul, komunikatif, praktis, tidak banyak teori, fleksibel, pandai melihat situasi dan
kondisi, toleransi terhadap langganan, dan tidak kaku.

6. Berzakat dan berinfaq


Mengeluarkan zakat dan infaq harus menjadi budaya muslim yang bergerak dalam bidang bisnis.
Harta yang dikelola dalam bidang bisnis, laba yang diperoleh harus disisihkan sebagian untuk
membantu anggota masyarakat yang membutuhkan. Dalam ajaran Islam sudah jelas bahwa harta
yang dizakatkan dan diinfaqkan tidak akan hilang, melainkan menjad tabungan yang berlipat
ganda baik di dunia maupun diakhirat. Sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Muslim
menyatakan :
Tidaklah harta itu akan berkurang karena disedekahkan dan Allah tidak akan menambahkan
orangyang suka memberi maaf kecuali kemuliaan. Dan tidaklah seorang yang suka merendahkan
diri karena Allah melainkan Allah akan meninggikan derajatnya.
Dalam sebuah hadis Qudsi Allah berfirman, yang artinya : Berinfaqlah kamu, niscaya Allah akan
memberi belanja kepadamu (MuttafaqAlaih).
Al Quran menyatakan : Barang siapa yang takwa kepada Allah, niscaya Allah akan memberi
jalan keluar baginya. Dan Allah memberi rizki dari arah atau sumber yang tidak disangka-
sangka. (QS. At Thalaq : 2-3).

7. Silaturrahmi
Orang bisnis seringkali melakukan silaturrahmi dengan partner bisnisnya ataupun dengan
langganannya. Hal ini sesuai dengan ajaran Islam bahwa seorang Islam harus selalu mempererat
silaturrahmi satu sama lain. Manfaat silaturrahmi ini di samping mempererat ikatan
persaudaraan, juga sering kali membuka peluang-peluang bisnis yang baru. Hadis Nabi
menyatakan :
Siapa yang ingin murah rizkinya dan panjang umurnya, maka hendaklah ia mempererat
hubungan silaturrahmi (HR. Bukhari).
Kegiatan produksi saat ini sudah menggunakan mesin yang serba canggih, tidak dapat dilakukan
oleh orang-orang awam, akan tetapi harus menggunakan manajemen yang baik. Haruslah
seorang wirausaha yang akan mengurusnya, sebab segala sesuatu urusan akan hancur apabila
diurus oleh orang yang bukan ahlinya. Seperti dinyatakan dalam hadis berikut :
Apabila urusan di serangkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancurannya (HR.
Bukhari).
Fungsi-fungsi manajemen seperti planning, organizing, actuating, controlling, sangat
membutuhkan seorang wirausaha dalam pelaksanaannya, seupaya perusahaan, organisasi dapat
berjalan sesuai dengan yang diharapkan.

Wirausaha Menurut Pandangan Islam


Filed Under : Etika Profesi,RELIGI by Akbar Ariansyah
Dec.13,2010

Islam sebagai agama Allah yang sempurna memberikan petunjuk kepada manusia tentang bidang
usaha yang halal, cara berusaha, dan bagaimana manusia harus mengatur hubungan kerja dengan
sesama mereka supaya memberikan manfaat yang baik bagi kepentingan bersama dan dapat
menciptakan kesejahteraan serta kemakmuran hidup bagi segenap manusia. Islam tidak hanya
menyuruh manusia bekerja bagi kepentingan dirinya sendiri secara halal, tetapi juga
memerintahkan manusia menjalin hubungan kerja dengan orang lain bagi kepentingan dan
keuntungan kehidupan manusia di jagat raya ini. Oleh karena itu, dalam bidang usaha dan
wiraswasta Islam benar-benar memberikan petunjuk-petunjuk yang jelas untuk dapat dijadikan
pedoman melakukan usaha dan wiraswasta yang baik.

Selain itu, Islam juga mengatur secara jelas hubungan kerja antara pemberi kerja dan karyawan
atau buruh atau pembantu yang melaksanakan perintah dari pemberi kerja. Islam juga
memberikan petunjuk dengan jelas masalah utang-piutang antara seseorang dan yang lain dalam
melakukan transaksi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, karena masalah utang-piutang
merupakan hal yang tidak bisa diabaikan dalam kehidupan manusia sehari-hari. Oleh karena itu,
secara jelas Islam memberikan ketentuannya agar tidak terjadi perselisihan dan permusuhan
akibat utang-piutang.
Ketentuan Islam yang jelas mengenai bidang jual beli, berbagai bentuk usaha, utang-piutang, dan
hubungan kerja dimaksudkan untuk memberikan pedoman kepada manusia dalam melakukan
aktivitas tersebut guna menciptakan kehidupan pribadi dan masyarakat yang adil, bermartabat,
dan saling menolong sehingga tercipta kesejahteraan dan kemakmuran bersama. Islam sebagai
agama yang sempurna menjelaskan semua ini secara detail dan lengkap sehingga manusia tidak
memerlukan aturan lain untuk menjalani bidang-bidang tersebut.

Pedoman dan tuntunan Islam mengenai masalah wiraswasta, utang-piutang, dan hubungan kerja
antara buruh dan majikan dibahas dalam blog ini secara ringkas, jelas, dan Insya Allah lengkap.
Walaupun demikian, kepada siapa pun yang mendapati kekurangan dalam blog ini, kami harap
menyampaikan saran, koreksi, dan sumbang-saran pemikiran agar lebih sempurna.

Akhirnya, kami berharap kepada Allah semoga penulisan blog ini menjadi amal shalih bagi
penulis, bagi siapa saja yang menyampaikan kepada orang lain, dan semua pihak yang
membantu tampilnya blog ini. Semoga Allah menjadikan kita semua sebagai hamba-Nya yang
shalih dan memperoleh barakah.

1. Perdagangan Peluang Rezeki Paling Besar


Filed Under : Etika Profesi by Akbar Ariansyah
Dec.13,2010

Dari Abu Dzar, Nabi saw. bersabda: Yang pertama kali masuk ke dalam surga adalah pedagang
yang jujur. (HR. Ibnu Abi Syaibah)

Dari Anas, Nabi saw. bersabda: Pedagang yang jujur pada hari kiamat setaraf dengan derajat
seorang syahid. (HR. Ibnu Majah)

Dari Muadz, Nabi saw. bersabda: Usaha yang paling baik adalah usaha para pedagang, selama
mereka tidak berdusta dalam berbicara, tidak berkhianat bila dipercayai, dan tidak menyalahi
janji bila mereka berjanji, tidak mencela bila mereka membeli barang, dan tidak memuji-muji
barang bila menjual, bila membayar utang, tidak menunda-nunda, dan tidak memaksa bila
menagih. (HR. Baihaqi)

Penjelasan:

Ketiga hadits tersebut derajatnya masih menjadi perselisihan ahli Hadits. Oleh karena itu, Hadits
tersebut maksimal dapat dianggap sebagai Hadits hasan.

Hadits pertama menerangkan bahwa pedagang yang jujur akan diberi balasan surga.
Hadits kedua menerangkan bahwa pedagang yang jujur mendapatkan kedudukan sederajat
dengan orang yang mati syahid.

Hadits ketiga menerangkan bahwa pedagang yang jujur dalam menjual atau menawarkan
barangnya atau membeli barang dagangan dari orang lain sehingga tidak suka mencela atau
memuji-muji barangnya serta toleransi dalam menagih dan membayar utang, dinilai melakukan
usaha yang paling baik di antara usaha-usaha lainnya.

Walaupun Hadits tersebut secara tidak tegas menerangkan bahwa usaha perdagangan mempunyai
peluang paling besar untuk mendapatkan rezeki, tapi karena usaha tersebut balasannya sangat
besar di sisi Allah, hal ini menunjukkan bahwa para pedagang memperoleh peluang
mendapatkan rezeki yang sangat besar dari Allah dibanding dengan orang-orang yang melakukan
usaha lainnya. Dikatakan demikian sebab usaha dagang paling banyak godaan dan rayuannya
untuk melakukan perbuatan dosa karena ingin memperoleh harta sebanyak-banyaknya.
Karenanya, orang yang tetap melakukan usaha dagangnya dengan penuh kejujuran dijanjikan
oleh Allah pahala di akhirat yang sangat besar.

Sebagaimana Allah menjanjikan pahala yang besar bagi setiap muslim yang berjihad di jalan
Allah dan mati syahid, Allah juga memberi peluang yang sama kepada orang yang berusaha
melakukan usaha dagang dengan jujur. Oleh karena itu, Rasulullah saw. mengatakan bahwa
berjuang mencari yang halal adalah jihad dan jihad merupakan medan usaha yang paling besar
peluangnya untuk mendapatkan rezeki yang banyak jika dapat memperoleh kemenangan di
medan perang, yaitu harta ghanimah atau rampasan perang.

Ketiga Hadits tersebut secara tersurat menjanjikan kepada pedagang yang jujur untuk
mendapatkan balasan surga. Secara tersirat Hadits tersebut memberikan petunjuk kepada kita
bahwa rezeki yang Allah bukakan bagi para pedagang sangat luas dan jauh lebih besar jika
dibandingkan dengan rezeki yang Allah limpahkan kepada orang-orang yang berusaha di bidang
lain. Oleh karena itu, kaum muslim wajib menyadari bahwa usaha dagang mempunyai peran
yang sangat besar dalam membangun kemakmuran dan kesejahteraan umat.

Dalam Hadits lain disebutkan bahwa Nuaim bin Abdur Rahman meriwayatkan sbb:

Sembilan dari 10 pintu rezeki ada dalam perdagangan dan sepersepuluh ada dalam beternak
domba. (HR. Said bin Manshur)

Hadits ini lemah karena Nuaim bin Abdur Rahman adalah seorang tabiin yang tidak
menyebutkan shahabat yang menjadi sumber riwayatnya. Oleh karena itu, Hadits ini disebut
mursal. Walaupun lemah, Hadits ini dapat menjelaskan besarnya rezeki yang Allah bukakan bagi
usaha perdagangan. Hadits semakna dengan ini diriwayatkan juga oleh Imam Ahmad.

Tegasnya, usaha perdagangan mendapatkan peluang paling besar untuk memperoleh kekayaan
atau rezeki dari Allah karena pintu rezeki yang Allah bukakan bagi usaha dagang lebih banyak
daripada usaha-usaha lainnya.