You are on page 1of 38

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Masa remaja merupakan periode dari pertumbuhan dan kematangan

manusia, pada masa ini terjadi perubahan yang sangat unik dan

berkelanjutan. Perubahan fisik karena pertumbuhan yang terjadi akan

mempengarui status kesehatan dan gizinya ketidakseimbangan antara

asupan kebutuhan atau kecukupan menimbulkan masalah gizi, baik itu

berupa masalah gizi lebih maupun gizi kurang. Masalah gizi pada remaja

akan berdampak negatif pada tingkat kesehatan masyarakat, misalnya

penurunan kosentrasi belajar, penurunan kesegaran jasmani. Oleh karena itu,

masa remaja adalah masa yang lebih banyak membutuhkan zat gizi. Remaja

membutuhkan asupan zat gizi yang optimal untuk pertumbuhan dan

perkembangannya (Asfuah,2010).

Data reset kesehatan dasar (Riskesdas) 2013, prevalensi anemia di

Indonesia yaitu 21,7%, dengan proporsi 20,6% di perkotaan dan 22,8% di

pedesaan serta 18,4% laki-laki dan 23,9% perempuan. Berdasarkan

kelompok umur, penderita anemia berumur 5-14 tahun sebesar 26,4% dan

sebesar 18,4% pada kelompok umur 15-24 tahun (Zumrah et all, 2014).

Masalah kesehatan remaja berawal pada usia yang sangat dini.

Masalah tersebut berdampak negatif pada usiaremaja nantinya, misal adanya

gejala infeksi dan malnutrisi, yang dapat mempengaruhi masalah sel–sel

darah merah menurun di bawah normal.Sel darah merah dan hemoglobin

yang terkandung di dalamnya diperlukan untuk transportasi dan pengiriman

1

2

oksigen dari paru–paru ke seluruh tubuh.Tanpa adanya pemasukkan oksigen

yang cukup, maka jaringan dan organ seluruh tubuh dapat terganggu

(Proverawati, 2011).

Remaja putri mempunyai risiko lebih tinggi mengalami anemia

dibandingkan remaja putra. Peningkatan kebutuhan besi terutama

disebabkan kehilangan zatbesi selama haid. Selain itu remaja putri lebih

memperhatikan perubahan ukuran tubuh dan penampilan fisiknya sehingga

perilaku atau kebiasaan makannya seringkali keliru, seperti membatasi

asupan makan khususnya makanan hewaniyang kadangkala dianggap

sebagai makanan yang mengandung lemak tinggi dan dapatmemicu

terjadinya kegemukan (Dieny, 2014).

Remaja putri merupakan salah satu kelompok yang rawan untuk

menderita anemia.Depkes RI (2011) menyatakan bahwa penderita anemia

pada remaja putri 26.5% dan WUS 26.9% (Arisman, 2010). Menurut Riset

Kesehatan Dasar ( Riskesdas ) tahun 2013 di Indonesia terdapat 26.4% pada

perempuan umur 5-14 tahun mengalami anemia.

Masalah gizi yang diakibatkan oleh remaja yang pola makannya tidak

sehat salah satunya adalah anemia. Anemia ditandai oleh rendahnya

konsentrasi hemoglobin (Hb) atau nilai ambang batas hematokrit yang

disebabkan oleh rendahnya produksi sel-sel darah merah (eritrosit) dan Hb,

meningkatnya kerusakan eritrosit (hemolisis), atau kehilangan darah yang

berlebihan (Indartanti et all, 2014)

3

Anemia sekarang ini termasuk ke dalam salah satu masalah

kesehatan yang berhubungan dengan masalah nutrisi secara global yang

paling sering ditemukan. Anemia merupakan masalah kesehatan masyarakat

secara global yang mempengaruhi negara berkembang dengan konsekuensi

terbesar terhadap kesehatan manusia serta perkembangan sosial dan

ekonomi. WHO memperkirakan jumlah penderita anemia di seluruh dunia

mendekati angka dua milyar dengan sedikitnya 50% dari jumlah tersebut

berhubungan dengan defisiensibesi. Anemia defisiensi besi terjadi dalam

seluruh tingkat kehidupan, tapi lebih sering terjadi pada wanita hamil dan

anak –anak. Remaja, terutama remaja putri, rentan terhadap defisiensi besi

(WHO, 2011).

Dari hasil laporan kesehatan seluruh Puskesmas kabupaten Lombok

Tengah, pada triwulan III (Juli-September)tahun 2015, terdapat 129 remaja

yang mengalami anemia, yang mengalami anemia pada remaja laki-laki

sebanyak 17 orang (13%), sedangkan remaja perempuan yang mengalami

anemia sebanyak 112 orang (87%). (Dinas kesehatan Lombok Tengah

2015).

1 : Dinas Kesehatan kabupaten Lombok Tengah 2015. Jumlah remaja yang Anemia (10-14 (15-18 (10-14 (15-18 No Puskesmas tahun) tahun) tahun) tahun) Laki-Laki Perempuan 1 Praya 0 0 1 1 2 Aikmual 0 10 0 36 3 Batunyala 0 0 0 0 4 Pengadang 0 0 5 5 5 Kopang 1 1 3 11 6 Muncan 1 1 2 2 7 Mujur 0 0 0 8 8 Ganti 0 0 0 0 9 Janapria 0 0 0 0 10 Langko 0 0 0 0 11 Sengkol 0 0 0 7 12 Kute 0 0 0 0 13 Penujak 0 0 0 0 14 Mangkung 0 0 0 0 15 Darek 0 0 0 0 16 Ubung 0 0 0 0 17 Bonjeruk 0 0 0 2 18 Puyung 0 0 1 1 19 Pringgarata 0 0 0 0 20 Mantang 0 0 0 0 21 Teratak 0 0 0 0 22 Teruwai 5 9 4 12 23 Bagu 0 0 0 0 24 Aik Darek 0 0 0 0 25 Batu Jangkih 0 0 0 11 JUMLAH 0 21 16 96 . 4 Tabel 1.

salah satunya adalah faktor pendapatan keluarga. Secara umum faktor utama yang menyebabkan tingginya prevalensi anemia gizi adalahpendarahan yang mengakibatkan tubuh kehilangan banyak sel darah merah seperti wasir. dimana produksi sel darah merah akan terganggu apabilamakanan yang dikonsumsi kurang mengandung zat gizi terutama zat-zat gizi penting. Kabupaten Lombok Tengah 2016. Anemia di pengaruhi oleh beberapa faktor.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah di atas. dari hasil pemeriksaan hemoglobin terdapat 8 responden yang kadar hemoglobinya di bawah 11 g/dl. pada masa ini terjadi perubahan yang sangat unik dan berkelanjutan. dan menstruasi. .diidentifikasipermasalahan yaitu tingginya prevalensi anemia pada remaja Putri SMPN 3 Praya. 1.Oleh karena itu. Remaja membutuhkan asupan zat gizi yang optimal untuk pertumbuhan dan perkembangannya. masa remaja adalah masa yang lebih banyak membutuhkan zat gizi. Berdasarkan standar WHO 2011. maka dari 10 responden terdapat 8 remaja putri yang mengalami anemia. wanita anemia bila kadar hemoglobin kurang dari 12 g/dl. Masa remaja merupakan periode dari pertumbuhan dan kematangan manusia. 5 Dari hasil studi pendahuluan yang di lakukan peneliti di SMPN 3 Praya pada tanggal 18januari2016 dengan melakukan pemeriksaan hemoglobin pada 10 responden. Anemia gizi juga dapat disebabkan oleh kurangnya produksi sel darah merah.

4. Kabupaten Lombok Tengah. Kabupaten Lombok Tengah.2 Tujuan Khusus 1. Kabupaten Lombok Tengah. . Mengetahui hubungan antara kebiasaan mengkonsumsi makanan penghambat penyerapan zat besi dengan kejadian anemia pada remaja putri SMPN 3 Praya. 3. 2. Kabupaten Lombok Tengah. Kabupaten Lombok Tengah. Mengetahui hubungan antara kebiasaan mengkonsumsi makanan pemacu penyerapan zat besi dengan kejadian anemia pada remaja putri SMPN 3 Praya. Kecamatan Praya.3. Mengetahui hubungan antara pengetahuan tentang anemia dengan kejadian anemia pada remaja putri SMPN 3 Praya. 6 Dari rumusan masalah di atas peneliti tertarik mengambil dudul:faktor yang berhubungan dengan kejadian anemia pada remaja putri di SMPN 3 Praya 1.3. Kabupaten Lombok Tengah. 1. Mengetahuihubunganantara pendapatan keluarga dengan kejadiananemia pada remaja putri SMPN 3 Praya. Mengetahui hubungan antara penyakit infeksi dengan kejadian anemia pada remaja putri SMPN 3 Praya. Kecamatan Praya.3 Tujuan Penelitian 1. Kecamatan Praya. Kecamatan Praya. 5. Kecamatan Praya. Kecamatan Praya.1 Tujuan Umum Secaraumumtujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahuifaktor- faktor yang menyebabkan anemia pada remaja putriSMPN 3 Praya.

dan sebagai sarana berfikir secara ilmiah dan rasional. 1. protein.4. 7 6. 7.4. Kecamatan Praya. penelitian ini dapat digunakan untuk bahan informasi di bidang keperawatan dalam program pengendalian dan pengetahuan tentang anemia khususnya pada remaja putri.4 Manfaat Penelitian 1.Variabel yang di gunakan dalam penelitian ini adalah faktor yang berhubungan dengan kejadian anemia. 1. 1. Kabupaten Lombok Tengah. Penelitian ini di lakukan pada bulan Januari-Maret 2016. Kabupaten Lombok Tengah. 1. .1 Keilmuan Bagi pengelola program di instansi kesehatan. Fe) dengan kejadian anemia pada remaja putri SMPN 3 Praya.2 Metodologis Bagi peneliti selanjutnya.khususnya Program Studi Stara 1 (satu) Stikes Yarsi Mataram.4. Mengetahui hubungan antara konsumsi gizi (Energi.5 Ruang Lingkup Penelitian Penelitian ini dilakukan diSMPN 3 Praya. Kecamatan Praya. Bagi pembimbing kesiswaan di sekolah. penelitian ini dapat digunakan untuk bahan informasi dalam program kesehatan sekolah melalui pemberdayaan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS).3 Aplikasi Bagi peneliti dapat digunakan untuk menelaah sejauh mana teori yang ada dengan aplikasinya. Kabupaten Lombok Tengah. Mengetahui Adakah hubungan antara pola menstruasi dengan kejadian anemia pada remaja putri SMPN 3 Praya. Kecamatan Praya. diharapkan dapatmelakukan penelitian lebih lanjut pada variabel lain yang dapat menyebabkan terjadinya anemia pada remaja putri.

status gizi. GebogKabup gizi tingkat konsumsi aten Kudus  IMT besi.  Anemia kejadian infeksi 2 Faktor.2 : Keaslian Penelitian Judul Jenis No Proposal Variabel Hasil penelitian dan Penulis 1 Determinan  Faktor social Cross Determinan kejadian Kejadian ekonomi sectional anemia pada remaja Anemia Pada  Pengetahuan dan putrid di Kecamatan Remaja Putri sikap tentang Gebog Kabupaten Di anemia Kudus adalah tingkat Kecamatan  Tingkatkonsumsi konsumsi energy.  Pendapatan Cross Hubungan yang Faktor Yang keluarga Sectional signifikan dengan Berhubungan  Pengetahuan kejadian anemia Dengan tentang anemia pada remaja putri di Kejadian  Pendidikan ibu SMA N 1 Kecamatan Anemia Di  Konsumsi zat besi Ajibarang Kabupaten SMA N 1  Status gizi Brebes adalah Kecamatan  Menstruasi tingkatpendapatan Ajibarang  Kejadian anemia keluarga. 8 1. tingkat Tahun 2006  Pola menstruasi konsumsi vitamin A. Kabupaten tingkat pendidikan Brebes ibu. 2007 (Dian G 2007).6 Keaslian Penelitian Table 1. Siswi yang mengikuti penelitian dan diperiksa kadar . 3 Factor resiko  Umur Cross Remaja pada anemia pada  Hubungan kelas Sectional penelitian ini adalah siswi pondok  Hubungan jumlah remaja putri usia pesantrentah anak antara 13-15 tahun un 2015  Pendidikan bapak yang sekolah di (Rahayu  Status menarche madrasah tsanawiah Astuti)  IMT kelas 1 dan 2.  Kejadianinfeksi pola menstruasi. Tahun menstruasi. (Ida Farida).

9 hemoglobinnya sebanyak 213 orang siswi. dan pola menstruasi). Fe). Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasional analitik. Sementara itu penelitian yang akan dilakukan yaitu : faktor yang berhubungan dengan kejadian anemia pada remaja putrid di smpn 3 praya. . Desain yang digunakan adalah cross sectional. penyakit infeksi. desa aik mual. yaitu peneliti melakukan observasi atau pengukuran variabel pada satu saat. konsumsi gizi (Energi. Dengan variabel penelitian ini adalah pendapatan keluarga. protein. kecamatan praya. kabupaten Lombok tengah. kebiasaan mengkonsumsi makanan pemacu penyerapan zat besi. kebiasaan mengkonsumsi makanan penghambat penyerapan zat besi. pengetahuan tentang anemia.

1: Batasan Anemia Kelompok Batas Normal Anak balita 11 gram% Anak usi sekolah 12 gram% Wanita dewasa 12 gram% Laki-laki dewasa 13 gram% Ibu hamil 11 gram% Ibu menyusui >3 bulan 12 gram% Sumber: Batasan Anemia (Deswita. dan sel darah merah lebih rendah dari normal. 2006) Anemia dikenal sebagai kekurangan atau kehilangan darah. dari periode menstruasi berat atau borok lambung). sebagai akibat dari defisiensi salah satu atau .1 Pengertian Anemia Adalah suatu kondisi medis dimana jumlah sel darah merah atau hemoglobin kurang dari normal.5 gram/100 ml dan pada wanita sebagai hemoglobin kurang dari 12. untuk pria anemia didefinisikan sebagai kadar hemoglobin kurang dari 13. Hal ini disebabkan : 1) Perdarahan : menstruasi 2) Penyakit : malaria 3) Penyakit kronis seperti kanker. Berikut batasan anemia menurut Departemen Kesehatan : Tabel 2.1. colitis ulserativa. atau rheumatoid arthritis.0 gram/100. 21011). Sedangkan menurut Arisman MB (2004) anemia gizi adalah keadaan dimana kadar hemoglobin. Definisi ini mungkin sedikit berbeda tergantung pada sumber dan refrensi laboratorium yang di gunakan (Proverawati. 4) Kehilangan darah (misalnya. 10 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Anemia 2. Kadar hemoglobin normal umumnya berbeda pada laki-laki dan perempuan. hematokrit.

3) Normositik Pada anemia normositik ukuran sel darah merah tidak berubah. penyakit-penyakit hemolitik. 1999). Penyebab anemia megalobastik adalah kekurangan vitamin B12.2 Klasifikasi Anemia Secara morfologis. Menurut Faisal Yatim (2003) anemia tidak hanya dikenal sebagai kurang darah. Penyebabnya adalah kehilingan darah yang parah. Sedangkan anemia non-megalobastik disebabkan oleh eritropoiesis yang dipercepat dan peningkatan luas permukaan membran. Penyebabnya adalah defisiensi besi. Wirakusumah. meningkatnya volume plasma secara berlebihan. asam folat. gangguan sintesis globin. yakni : a) Anemia kurang zat besi (Fe) b) Anemia karena perdarahan c) Anemia kronis . yaitu anemia megalobastik dan anemia non-megalobastik. porfirin dan heme. anemia dapat diklasifikasikan menurut ukuran sel dan hemoglobin yang dikandung seperti berikut : 1) Makrositik Pada anemia makrositik. serta gangguan metabolism besi lainnya. ukuran sel darah merah bertambah besar dan jumlah hemoglobin tiap sel juga bertambah. 2) Mikrositik Mengecilnya ukuran sel darah merah merupakan salah satu tanda anemia mikrositik. gangguan endokrin ginjal dan hati (Emma S.1. 2. 11 beberapa unsure makanan yang esensial yang dapat mempengaruhi timbulnya defisiensi tersebut. Ada dua jenis anemia makrositik. atau gangguan sintesis DNA. Perlu diketahui bahwa ada bermacam- macam anemia.

hingga tubuh tidak mampu mengubah asam orotik menjadi orotidilik hingga asam orotik dikeluarkan melalui air seni) o) Anemia sel besar akibat mengkonsumsi obat anti kejang. 12 d) Anemia karena gangguan penyerapan zat besi (Anemia dispagia sideropenik) e) Anemia karena kurang Fe selama kehamilan f) Anemia karena infeksi parasit g) Anemia sel besar (megalobastik) h) Anemia pernisiosa karena gangguan penyerapan vitamin B12 akibat kekurangan asam lambung (anhydria) i) Anemia sejak lahir (kelainan penyerapan vitamin B12 sejak lahir) j) Anemia karena infeksi cacing dipilobotrium (juga terganggu penyerapan vitamin B12) k) Anemia karena gangguan penyerapan vitamin B12 karena beberapa kelainan seperti operasi pemotongan usus halus atau akibat diare kronis (chronic tropical sprue) l) Anemia skorbut (kekurangan vitamin C) m) Anemia sel besar dalam kehamilan (megalobastic anemia of pregnancy) n) Anemia asam orotik (karena kekurangan enzim asam orotidilik dekarboksilase. Usia sel darah merah normal antara 90 sampai 120 hari. Hormone yang disebut eritropoietin di buat di ginjal yang merupakan sinyak pada sumsum tulang untuk membuat sel darah merah. Susum tulang adalah jaringan lunak dan pusat tulang yang membantu sel darah.3 Penyebab Anemia Banyak bagian tubuuh yang penting terlibat dalam sintesis sel darah merah.1. 2. sebagian besar dilakukan di sumsum tulang. Hemoglobin adalah protein yang membawa oksigen didalam sel darah .

angina.3 Tanda dan Gejala Anemia 1) Anemia Ringan a) Kelelahan b) Pemenuhan energy c) Kelemahan d) Sesak nafas e) Ringan f) Palpitasi (rasa jantung balab atau pemukulan tidak teratur) g) Tampak pucat (Proverawati. 13 merah.4 Akibat Anemia Kekurangan zat besi menyebabkan terjadinya anemia. 2.2011).2011). Anemia dapat di sebabkan oleh banayak hal. Orang dengan dengan anemia tidak memiliki cukup hemoglobin. tetapi tiga mekanisme utama tubuh yang menyebabkan adalah : 1) Penghancuran sel darah merah yang berlebihan. Anemia pada ibu hamil dapat menyebabkan perdaraha pada saat melahirkan dan gangguan .2011). yang member warnah merah pada sell darah merah. atau serangan jantung p) Pingsan (Proverawati. yaitu kadar Hb berada di bawah normal. 2) Anemia Berat a) Perubahan warna tinja b) Denyut jantung cepat c) Tekanan darah rendah d) Frekuensi pernafasan cepat e) Pucat atau kulit dingin f) Kulit kuning disebut jaundice jika anemia karena kerusakan sel darah merah g) Murmur jantung h) Pembersaran limpa dengan kejadian anemia tertentu i) Nyeri dada j) Pusing atau kepala terasa ringan (ketika berdiri dengan tenaga) k) Kelelahan atau kekurangan energy l) Sakit kepala m) Tidak bisa berkonsentrasi n) Sesak nafas (khususnya pada saat latihan) o) Nyeri dada.1.1. 2. 2) Kehilangan darah 3) Penurunanan produksi sel dahrah merah (Proverawati.

serta cepa mengantuk.1. Anemia gizi besi yang terjadi pada anak- anak. Konsumsi bahan makanan yang mengandung zat-zat penghambat . Namun harga pangan hewani yang tinggi tidak dapat dijangkau oleh masyarakat sehingga diperlukan alternatif lain untuk mencegah anemia yaitu dengan mengkonsumsi makanan yang cukup beragam yang memiliki zat gizi yang saling melengkapi. obat yang membantu susum tulang membuat sel darah merah 4) sublemen zat besi vitamin B12.1. dan di sekolah sulit berkonsentrasi dalam belajar. Sementara pada anak sekolah dan pekerja akan menyebabkan menurunnya prestasi (Rizqie Auliana. baik balita maupun usia sekolah.6 Pencegahan Anemia 1) Meningkatkan Konsumsi Zat Besi Dari Makanan Mengkonsumsi pangan hewani seperti daging. Akibat lanjutnya akan mempengaruhi kecerdasan dan daya tanngkap anak. hati atau telur dalam jumlah cukup dapat mencegah anemia gizi besi. 14 pertumbuhan janin. cepat lelah.2011). 2. malas. Dalam kegiatan sehari- hari anak menjadi tidak aktif. Kekurangan besi dapat menurunkan ketahanan tubuh menghadapi penyakit infeksi. atau vitamin dan mineral lainnya (Proverawati.5 Pengobatan Anemia Pengobatanharus ditujukan kepada penyebab anemia dan termasuk : 1) Transfusi darah 2) kostikosteroid atau obat-obatan lainya yang menekan system kekebalan tubuh 3) eritropoletin. 2. akan mengganggu pertumbuhan dan perkembangannya. Anak menjadi lemah karena sering terkena infeksi akibat pertahanan tubuhnya menurun. ikan. asam folat. 2001).

Jika disimpan selama beberapa bulan makanan tersebut akan menjadi tengik (Arisman. Kesulitan dalam fortifikasi besi adalah sifat besi yang reaktif dan berkecenderungan mengubah warna makanan. 2004). fosfat. setelah waktu lebih dari 4 minggu akan terjadi kenaikan kadar hemoglobin sekitar 2 g/dl (Michael J. 4) Pengawasan Penyakit Infeksi dan Prasit Penyakit infeksi dan parasit merupakan salah satu penyebab anemia gizi besi karena parasit dalam jumlah besar dapat . tannin dan beberapa jenis serat makanan harus dihindari karena zat-zat ini bersama zat besi membentuk senyawa yang tak larut dalam air sehingga tidak dapat diabsorpsi (Emma S.Misalnya garam ferro mengubah pangan yang berwarna merah dan hiaju menjadi lebih cerah warnanya. 2) Suplementasi Besi Ferro sulfat merupakan preparat zat besi oral yang paling murah dan banyak digunakan.2008). 15 absorpsi seperti fitat. 1999). 3) Fortifikasi Besi Fortifikasi besi adalah penembahan suatu jenis zat besi dalam bahan pangan untuk meningkatkan kualitas pangan dalam upaya pencegahan defisiensi zat besi pada beberapa kelompok masyarkat. Wirakusumah. Selain itu Fe reaktif dapat mengkatalisai reaksi oksidasi sehingga menimbulkan baud an rasa yang tidak diingainkan. Ferro sulfat telah digunakan secara luas untuk memfortifikasi roti serta produk bakteri lain yang dijual untuk waktu singkat. Umumnya. Dosis total yang ekuivalen dengan 60 mg zat besi elemental (300 mg ferro sulfat) per hari sudah cukup bagi orang dewasa.

2008). dan radio (M. Upaya tersebut harus diikuti dengan peningkatan konsumsi pangan yang seimbang dan beragam serta dapat ditamabh dengan suplementasi besi maupun fortifikasi besi (Emma S. 5) Pendidikan Gizi Upaya persuasif diperlukan untuk menimbulkan perubahan perilaku dalam masyarakat untuk mengkonsumsi makanan yang kaya akan zat besi secara teratur. percakapan dalam kelompok. Gibney. orang tua murid dan pedagang makanan.J. Perlunya pendidikan gizi di sekolah melalui . teater jalanan. 2008). 16 mengganggu penyerapan zat gizi. 1999). Menkes Siti Fadilah menyatakan bahwa khusus untuk anak sekolah. pengawasan terhadap makanan yang dijual di kantin sekolah dan jika perlu ada pemberian suplemen atau makanan yang mengandung zat besi pada siswa (Sabrina M. Dengan menanggulangi penyakit infeksi dan memberantas parasit diharapkan dapat meningkatkan status besi dalam tubuh. guru. televise. Upaya ini dapat dilakukan dengan pendidikan gizi yang dapat dilakukan melalui penyuluhan gizi dengan berbagai metode seperti. Wirakusumah. penanggulangan anemia dapat dilakukan lewat program Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) melibatkan murid. mendorong asupan promoter absorpsi besi seperti vitamin C. Program ini berupa pemeriksaan kesehatan secara berkala. slideshow. Pendidikan gizi di sekolah dapat berlangsung secara optimal mengingat sekolah merupakan suatu tempat berlangsungnya proses belajar bagi anak. dan mencegah konsumsi faktor- faktor penghambat yang berlebihan. penyuluhan kepada warga sekolah.

yaitu dengan jalan mempromosikan makanan yang dapat memacu dan menghindarkan pangan yang bisa mereduksi penyerapan zat besi (Arisman MB. yaitu : a) Pemastian konsumsi makanan yang cukup mengandung kalori sebesar yang semestinya dikonsumsi b) Meningkatkan ketersediaan hayati zat besi yang dimakan. 2005). . 2004). 17 UKS didasarkan pada hasil penelitian Madanijah (2003) yang menyatalkan bahwa tidak semua orang tua memiliki pengetahuan gizi yang memadai sehingga pola pengasuhannya mempengaruhi status gizi anak. 6) Modifikasi Makanan Asupan zat besi dari makanan dapat ditingkatkan melalui dua cara. Tujuan yang spesifik perlunya pelaksanaan pendidikan di UKS adalah meningkatkan pengetahuan gizi sehingga mampu menyedarkan anak didik untuk berperilaku gizi seimbang (Diffah Hanim dkk.

0 g/dl Pria dewasa 13.0 g/dl Ibu hamil 11.100ml untuk wanita. Hemoglobin dapat diukur secara kimia dan jumlah Hb/100ml dapat digunakan sebagi indikasi kapasitas pembawa oksigen pada darah. Sedangkan metode cyanmethemoglobin merupakan metode yang lebih canggih yaitu dengan mengoksidai Hb dengan kalium ferrosianida menjadi methemoglobin yang kemudian bereaksi dengan ion sianida (CN 2-) membentuk sianmethemoglobin yang berwarna merah.0 g/dl Sumber: Batasan Nilai Hemoglobin (Supariasa. Hemoglobin merupakan senyawa penbawa oksigen pada sel darah merah.2 : Batas Nilai Hemoglobi Kelmopok Batas Nilai Hb Bayi balita 11. Nilai normal yang paling sering dinyatakan adalah 14-18g/100ml untuk laki-laki dan 12-16g. Kandunagn hemoglobin yang rendah mengindikasika anemia.2 Hemoglobin Hemoglobin adalah parameter yang digunakan secara luas untuk menetapkan prevalensi anemia.0 g/dl Usia sekolah 12. Karena metode cyanmethemoglobinmembandingkan warna denan alat . Warna yang terbentuk dibandingkan dengan warna standar. Intensitas warna dibaca dengan fotometer dan dibandingkan dengan standar. Berikut batasan hemoglobin darah meurut WHO : Table 2. 2001) Metode yang paling sering digunakan dalam pemeriksaan hemoglobin adalah metode sahli dan metode cyanmethemiglobin. Metode sahli adalah metode yang paling sederhana yaitu dengan menghidrolisis Hb dengan HCl menjadi globin ferroheme yang kemudian oleh oksigen dioksidasi menjadi ferriheme dan segera bereaksi dengan ion Cl membentuk ferrihemechlorida (hematin) yang berwarna coklat. 18 2.0 g/dl Wanita dewasa 12.

tetapi kemudian pola makan berubah di mana sebagian besar besi berasal dari sumber nabati. 2007). Diperkirakan hanya 5-15% besi makanan diabsorpsi oleh orang dewasa yang berada dalam status gizi baik. 2. Besi dialam terdapat dalam jumlah yang cukup berlimpah. sehingga banyak menimbulkan defisiensi besi (Bakta I Made. 19 elektronik maka metode ini lebih akurat daripada metode sahli yang menggunakan mata telanjang (Supariasa. Banyak faktor berpengaruh dalam absorpsi besi (Sunita Almatsier. 2001). 2001). Dalam keadaan defisiensi besi absorpsi dapat mencapai 50%. terutama di Negara tropic. maka sejak awal manusia dipersiapkan untuk menerima besi yang berasal dari sumber hewani. Dilihat dari segi evolusinya. tetapi perangkat absorpsi besi tidak mengalami evolusi yang sama.3 Zat Besi Besi merupakan treace element yang sangat di butuhkan oleh tubuh. .

Fero sulfat dan berbagai garam fero lain (Fe2) sangat mudah diserap. 2001). kacang-kacangan). besi lebih mudah diserap. Bentuk besi dalam makanan juga memepengaruhi penyerapan besi. Namun konsumsi vitamin C dalam jumlah cukup dapat melawan faktor yang menghambat penyerapan besi (Sunita Almatsier. 2001).4 Tanin Tannin dalam teh. Selain itu vitamin C dapat membentuk gugus besi- askorbat yang dapat larut pada PH tinggi di dalam usus (Sunita Almatsier. Sehingga dengan bentuk ferro. .3.2 Asam Organik Asam organk seperti vitamin C dapat membantu meningkatkan penyerapan besi-non hem yaitu dengan mengubah bentuk ferri menjadi ferro. Bila memakan besi-hem dan besi-non hem secara bersamaan dapat meningkatkan penyerapan besi-non hem (Sunita Almatsier. 20 2.3 Asam Fitat Asam fitat dalam serealia dan asam oksalat dalam sayuran dapat mengikat besi sehingga akan mempersulit penyerapannya. 2.3. 2001). sedanngkan garam feri (Fe3) kurang dapat diserap (Dedy Muchtadi. 2001).kopi.1 Bentuk Besi Penyerapan zat besi dari garam-garam besi sangat tergantung pada bentuk besinya. Besi-hem yang banyak terdapat dalam daging hewan dapat diserap dua kali lipat daripada besi-non hem (telur. 1993). 2. 2. dan beberapa jenis sayuran dan buah dapat mengikat besi sehingga menghamba penyerapannya. serealia.3. Suplemen kalsium dosis tinggi juga dapat menghambat penyerapan zat besi (Sunita Almatsier.3.

Permulaanya ditandai dengan perubahan biokimia dan fisiologis pubertas. pertumbuhan anak . Kekurangan asam klorida di lambung atau penggunaan obat- obatan yang bersifat basa seperti antasida dapat menghalangi absorpsi besi (Sunita Almatsier. Laju pertumbuhan anak. bervariasi antara pertengahan belasan tahun dan pertengahan 20-an.6 Kebutuhan Tubuh Kekurangan besi atau kebutuhan besi oleh tubuh yang meningkat pada masa pertumbuhan akan meningkatkan absorpsi besi (Sunita almatsier. 2. yaitu mencapi 21 persen dari total populasi penduduk atau sekitar 44 juta jiwa (BPS. 2. 2001). 2003). Karena alasan yang tidak semuanya jelas tetapi diduga berkaitan dengan status kesehatan yang meningkat secara umum dan gizi secara khusus.200 juta jiwa atau sekitar 19 persen dari total populasi dunia (WHO. WHO menyebutkan bahwa masalah gizi pada remaja masih terabaikan karena masih banyaknya faktor yang belum diketahui (Departemen Gizi dan Kesehatn Masyarakat FKM UI.3. berakhirnya kurang pasti. Saat ini populasi remaja di dunia telah mencapai 1. permulaan masa remaja secara bertahap menjadi lebih dini (George dan John.3. antara 10-12 tahun. wanita. 2001). dan pria hampir sama cepatnya sampai usia 9 tahun. 2009). Di Indonesia persentase populasi remaja bahkan lebih tinggi.5 Tingkat Keasaman Lambung Tingkat keasaman lambung dapat meningkatkan daya larut besi. Selanjutnya. 2008). 2003). 21 2.4 Remaja Putri Masa remaja didefinisikan sebagai proses terjadinya peralihan secara bertahap seseorang dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa.

1 Konsumsi Gizi . 2. Puncak pertambahan berat dan tinggi badan wanita tercapai pada usia masing-masing 12. Di Negara berkembang. Rekomendasi diet mencerminkan perubahan ukuran dan komposisi tubuh.5 Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Anemia 2. masalah gizi remaja serupa dengan masalah gizi pada usia anak. keikutsertaan dalam olahraga. kecanduan alkohol dan obat. 2) Perubahan gaya hidup dan kebiasaan pangan menuntut penyesuaian masukan energi dan zat gizi 3) Kehamilan. menarche muncul lebih larut (Departemen Gizi dan Kesehatn Masyarakat FKM UI. 2009). yaitu anemia defisiensi besi. Cukup banyak masalah yang berdampak negatif terhadap kesehatan dan gizi remaja.1 tahun. antara lain : 1) Percepatan pertumbuhan dan perkembangan tubuh memerlukan energi dan zat gizi yang lebih banyak. Menginjak masa remaja. kebutuhan gizi ini jauh lebih besar seperti yang tercermin dalam meningkatnya angka kecukupan gizi yang dianjurkan.9 dan 12. yang harus dipenuhi dengan cara meningkatkan asupan dari semua kelompok makanan (Mary E. kelebihan dan kekurangan berat badan. Dalam beberapa hal. meningkatkan kebutuhan energi dan zat gizi. 22 perempuan mengalami percepatan lebih dahulu karena tubuhnya memerlukan persiapan menjelang usia reproduksi. Akibatnya. pendewasaan fisik lebih lama dan biasanya baru terselesaikan setelah usia 19 tahun. 2007). kebutuhan nutrisi untuk sebagian nutrien adalah sama untuk anak laki-laki dan perempuan. Selama masa kanak-kanak. serta hanya meningkat sedikit antara usia yang lebih muda (4-6 tahun) dan usia yang lebih tua (7-10 tahun).5. Ada tiga alasan mengapa remaja dikategorikan rentan.

dan organ-organ lain (Sunita Almatsier. Penilaian status gizi secara langsung dapat dibagi menjadi empat penilaian yaitu anthropometri. 2001:88).1 Konsumsi Zat Besi Dalam makanan terdapat 2 macam zat besi yaitu besi heme (40%) dan besi non hem. kentang dan serealia serta beberapa jenis buah-buahan.Terdapat dalam semua jenis sayuran misalnya sayuran hijau.5. 2. 2007).1. 2. Besi non hem merupakan sumber utama zat besi dalam makanan. ikan. 2001). Indeks anthropometri bisa merupakan rasio dari . gula. klinis. Secara prinsip.5. Secara umum anthropometri berarti kuran tubuh manusia. 23 Secara umum survei konsumsi makanan dimaksudkan untuk mengetahui kebiasaan makan dan gambaran tingkat kecukupan bahan makanan dan zat gizi serta mengetahui faktor diet yang dapat menyebabkan malnutrisi (Supariasa. cara konsumsi yang baik adalah hal yang mudah. dan garam (Departemen Gizi dan Kesehatan Masyarakat FKM UI. Sedangkan besi heme hamper semua terdapat dalam makanan hewani antara lain daging. biokimia dan biofisik. Caranya memilih makanan yang mengandung zat gizi esensial. Anthropometri gizi berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi (Supariasa. ayam. dan energi tanpa kelebihan lemak. hati. kacang-kacangan. 2001).1. serta. Pengertian indeks anthropometri adalah pengukuran dari beberapa parameter.2 Status Gizi Staus gizi merupakan ekspresi dari keadaan keseimbangan dalam bentuk variable tertentu.

24 satu pengukuran terhadap satu atau lebih pengukuran. 2. Beberapa indeks anthropometri adalah sebagai berikut : 1) BB/U (berat badan terhadap umur) 2) TB/U (tinggi badan terhadap umur) 3) BB/TB (berat badan terhadap tinggi badan) 4) LILA/U (lingkar lengan atas terhadap umur) (Departemen Gizi dan Kesehatan Masyarakat FKM UI. 2001). anak. maka sulit untuk diubah (Soekidjo.5. Kebiasaan makan yang diperoleh semasa remaja akan berdampak pada kesehatan dalam fase kehidupan selanjutnya. Kekurangan besi dapat menimbulkan anemia dan keletihan. berlangsung secara otomatis dan tidak direncanakan. termasuk kebiasaan yang kurang mengntungkan bagi kesehatan.Kebiasaan makan yang buruk berpangkal pada kebiasaan makan keluarga yang juga tidak baik sudah tertanam sejak kecil akan terus terjadi pada usia remaja. 2010). Karena kebiasaan pada umumnya sudah melekat pada diri seseorang. remaja. ibu hamil dan olahragawan. Remaja . Mereka makan sedanya tanpa mengetahui kebutuhan akan berbagai zat gizi dan dampak tidak dipenuhinya kebutuhan zat gizi tersebut terhadap kesehatan mereka (Soekidjo. IMT tidak dapat diterapkan pada bayi. Penggunaan IMT hanya berlaku untuk orang dewasa berumur diatas 18 tahun (Supariasa. Untuk memantau status gizi orang dewasa khususnya yang berkaitan dengan kekurangan dan kelebihan berat badan digunakan Indeks Massa Tubuh (IMT). 2007). 2010).2 Kebiasaan Makan Kebiasaan merupakan aspek perilaku manusia yang menetap.

kedelai dan produknya). Bentuk zat besi dalam makanan mempengaruhi penyerapan zat besi. biji-bijian. Sedangkan faktor penghambat antara lain seperti fitat (di dalam kacang-kacangan. sedangkan besi nonhem penyerannya sangat dipengaruhi oleh faktor penghambat dan pemacu.5.3 Pengetahuan Tentang Anemia Pengetahuan merupakan resultan dari akibat proses penginderaan terhadap suatu objek. oksalat dalam sayuran.Perilaku kesehatan seseorang atau masyarakat ditentukan oleh niat orang terhadap objek kesehatan. Wirakusumah. serta posfitin dalam kuning telur (Emma S.2006). 1999:23).Sangat penting bagi orang tua untuk selalu mengingatkan anaknya tentang makanan jajanan yang sebaiknya dibeli di sekolah. Dalam satu segi jajan mempunyai aspek positif dan dalam segi lainnya jajan juga bias bermakna negatif (Ali Khomsan. yaitu besi hem dan nonhem. 2010). ada atau tidaknya dukungan dari masyarakat sekitarnya. 2. tannin dalam teh. Pengukuran atau penilaian pengetahuan pada umumnya dilakukan melalui tes atau wawancara dengan alat bantu kuesioner berisi materi yang ingin diukur dari responden. ada atau tidaknya informasi . Besi hem lebih mudah diabsorpsi. Pengenderaan tersebut sebagian besar dari penglihatan dan pendengaran. 25 memerlukan lebih banyak besi dan wanita membutuhkan lebih banyak lagi untuk mengganti besi yang hilang bersama darah haid (Soekidjo. Vitamin C dan daging adalah faktor utama yang mendorong penyerapan zat besi nonhem.

misalnya TBC.5. malnutrisi. semakin banyak jumlah dan jenis makanan yang diperoleh. terutama yang berstatus sosial ekonomi rendah (Soetjiningsih. 2. 26 tentang kesehatan. dan penyakit parasit yang banyak terdapat pada penduduk golongan ekonomi rendah (Eko Budiarto dan Dewi Anggraeni. dapat mengenai semua kelompok status sosial ekonomi. ISPA. 2010).5. 2002). 2. 2007). Tingkat pendidikan berhubungan dengan status gizi karena dengan meningkatnya pendidikan kemungkinan akan meningkatkan pendapatan sehingga dapat meningkatkan daya beli makanan (Departemen Gizi dan Kesehatan Masyarakat FKM UI. kebebasan individu untuk bertindak dan situasi yang memungkinkan utuk bertindak (Soekidjo. Remaja adalah salah satu kelompok yang rawan terhadap defisiensi zat besi.4 Sosial Ekonomi Keluarga Keadaan sosial ekonomi merupakan factor yang mempengaruhi frekuensi distribusi penyakit tertentu. Sebaliknya orang yang hidup dalam kemiskinan atau berpenghasilan rendah memiliki kesempatan yang sangat terbatas dalam memilih makanan (Mery E. Kehilangan besi dapat pula . infeksi akut gastrointestinal.5 Penyakit Infeksi Penyakit infeksi dan parasit merupakan salah satu penyebab anemia gizi besi karena parasit dalam jumlah besar dapat mengganggu penyerapan zat besi. Tingkat pendidikan juga masuk dalam faktor ini. Semakin tinggi status ekonominya. 2007). Akses terhadap makanan dalam hal uang atau barang penukar merupakan faktor kritikal dalam menentukan pilihan makanan. anemia. 2007).

Jika darah yang keluar selama menstruasi sangat banyak maka . 2. disertai keringat dingin dan kemudian kadang hilang. Secara sistemik penderita TBC akan mengalami demam yang berlangsung pada waktu sore dan malam hari. 2004). utamanya pada udara tertutup seperti dalam rumah yang pengap dan lembab. Schistosoma. terjadi kehilangan darah secara alamiah setiap bulan. dan perut merasa mulas yang dapat disebabkan oleh infeksi atau stress serta mengakibatkan gangguan penyarapan air dalam usus (Djoko Pekik Irianto. 27 diakibatkan oleh infestasi parasit seperti cacing tambang. atau berupa faeces cair atau lembek. diare serta kehilangan darah karena infeksi parasit (malaria dan kecacingan) akan memperberat anemia. 2008). dan mungkin pula Trichuris trichiura.5. lembab serta keadaan sanitasi yang buruk (Arisman MB. Diare adalah gangguan pencernaan yang berupa pengeluaran faeces lebih dari empat kali sehari. Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA).6 Pola Menstruasi Pada wanita. Hal ini lazim terjadi di negara tropis. Pada infeksi kronis. anemia dapat terjadi karena penghisapan darah oleh cacing. Penularan TBC dikenal melalui udara. Penyakit kronis seperti tuberkulosis (TBC). larva. Adapun gejala respiratorik adalah batuk yang berlangsung terus menerus selama tiga minggu atau lebih disertai dahak dan atau darah (Umar Fachmi. atau bahkan cacing dewasa (Widoyono. 2005). Penyakit TBC adalah penyakit menular yang disebabkan oleh Mycobacterium Tuberculosis. Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan pemeriksaan tinja dengan ditemukannya telur. 2007).

penghambat dan 2.Konsumsi berkepentingan dan kelompok (Georgefactor dan John. Menstruasi adalah proses peluruhan lapisan dalam dinding rahim yang banyak mengandung pembuluh darah. Untuk 1. Status kesehatan . Siklus menstruasi yang normal berkisar antara 21-40 hari.7 Layanan Kesehatan Remaja memiliki masalah dan kebutuhan kesehatan khusus. sangat masuk akal untuk mengembangkan program layanan khusus untuk melayani kebutuhan mereka di lingkungan sekolah. dan siklus menstruasi disebut tidak normal jika kurang dari 21 hari atau lebih dari 40 hari (Elizabeth J. Menstruasi pertama disebut menarche dimulai saat pubertas kira-kira umur 9 tahun dan paling lambat 16 tahun.1: Kerangka Teori besi 2. Tingkat konsumsi gizi Pendapatan keluarga 3.5. ada juga yang sampai satu minggu (BKKBN. tetapi variasinya cukup luas bagi beberapa wanita dan pada wanita yang sama. Namun ada juga yang mengalami hanya 3 hari. Karena banyak waktu mereka dihabiskan di rumah dan di sekolah.Frekuensi makan . 2. Corwin. 2008). berhenti waktu hamil atau menyusui dan berakhir saat menopause. yang tidak terlayani dengan baik dalam program kesehatan anak tradisional ataupun dalam praktik perawatan medis swasta.Pola menstruasi 4. Status gizi Anemia Pengetahuan Layanan tentang anemia kesehatan . 2000). 2008). Kebiasaan melakukannya diperlukan kerjamakan sama berbagai pihak yang . 28 akan terjadi anemia defisiensi besi. Rata-rata menstruasi berlangsung 4-5 hari. Panjang siklus menstruasi yang normal yaitu 28 hari.6 Kerangka Teori pendorong absorpsi Gambar 2.Penyakit infeksi/noninfeksi Aktivitas fisik .

2001. Supariasa.Wirakusumah. 1999. Emma S. 2001. 29 Sumber : Kerangka Teori Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Anemia Pada Remaja Putri (Sunita Almatsier.) .

kebiasaan mengkonsumsi makanan penghambat penyerapan zat besi 4. Pola menstruasi Gambar 3.1 kerangka konsep Kerangka konsep adalah suatu uraian dan visualisasi hubungan atau kaitan antara konsep satu dengan konsep lainnya atau variabel yang satu dengan variabel yang lain dari masalah yang ingin diteliti ( Notoatmodjo. kebiasaan mengkonsumsi makanan pemacu penyerapan zat besi Anemia 5. . Mengkonsumsi gizi 7. Status gizi 9. pengetahuan tentang anemia 3.1: Kerangka Konsep Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Anemia pada Remaja Putri di SMPN 3 Praya tahun 2016. 2012 ). Penyakit infeksi 6. Pendapatan Keluarga 2. Variabel Independen Variabel Dependen 1. Adapun kerangka konsep penelitian terlihat pada skema dibawah ini. 30 BAB 3 KERANGKA KONSEP 3. Aktivitas fisik 8.

dan pola menstruasi.2 Variabel Penelitian Variabel dalam penelitian ini ada dua yaitu : 1. kebiasaan mengkonsumsi makanan pemacu penyerapan zat besi. Variabel Dependen. kebiasaan mengkonsumsi makanan penghambat penyerapan zat besi. 3.3 Hipotesis Penelitian HO : Tidak ada hubungan Faktor pendapatan keluarga. penyakit infeksi. kebiasaan mengkonsumsi makanan penghambat dan pemacu penyerapan zat besi. 31 Keterangan: : Diteliti : Tidak Diteliti Variabel independen yang tidak diteliti adalah aktivitas fisik dan status gizi. penyakit infeksi. penyakit infeksi. konsumsi gizi. . Kecamatan Praya. pengetahuan tentang anemia. 2. kebiasaan mengkonsumsi makanan penghambat penyerapan zat besi. kebiasaan mengkonsumsi makanan pemacu penyerapan zat besi. dan pola menstruasi Dengan Kejadian Anemia Pada Remaja Putri Siswa SMPN 3 Praya. Kecamatan Praya. yaitu pendapatan keluarga. Kabupaten Lombok Tengah. pengetahuan tentang anemia. Kabupaten Lombok Tengah. Variabel Independen. yaitu kejadian Anemia 3. konsumsi gizi. dan pola menstruasi Dengan Kejadian Anemia Pada Remaja Putri Siswa SMPN 3 Praya. pengetahuan tentang anemia. Ha : Ada hubungan Faktor pendapatan keluarga. konsumsi gizi.

mengkonsumsi vitamin C) atau mengkonsumsi ≥ . 32 3. Baik. Tidak anemia (Hb normal bin ≥ 12 mg) 2 Pendapatan Jumlah tetap Mengisi Kuesioner Tinggi (>UMR) Ordinal keluarga pendapatan seluruh kuesioner Rendah (<UMR) anggota keluarga dibagi jumlah tanggungan dalam keluarga 3 Pengetahua Kemampuan remaja Mengisi Kuesioner 1.coklat) 2. Cukup (60-80%) Anemia dan memahami 3. Buruk. dengan anemia 2004) 4 Kebiasaan Kebiasaan remaja Mengisi Kuesioner 1.4 Definisi Operasional Table 3. Baik. jika tidak n zat besi (protein hewani.susu. kopi. jika Nominal mengkons putri mengkonsumsi kuesioner mengkonsumsi < umsi makanan yang 1-2 jam makanan mengandung zat-zat sebelum/sesudah pemacu yang dapat memacu makan tiap hari penyerapa penyerapan zat besi 2.1 : Definisi Operasional No Variabel Devinisi Perasional Alat Cara Hasil Ukur Skala Ukur Ukur Ukur 1 Anemia Suatu keadaan dengan Metode Laborator 1. Buruk. jika nominal mengkons putri mengkonsumsi kuesioner Tidakmengkonsum umsi makanan yang i atau makanan mengandung zat-zat mengkonsumsi ≥ penghamb yang dapat 1-2 jam at menghambat sebelum/sesudah penyerapa penyerapan zat besi makan n zat besi (teh. jika mengkonsumsi < 1-2 jam sebelum/sesudah makan tiap hari 5 Kebiasaan Kebiasaan remaja Mengisi Kuesioner 1. Kurang(<60%) masalah yang berkaitan (Yayuk Farida. Anemia (Hb < 12 nominal kadar hemoglobin yang cyanme ium mg) lebih rendah dari hemoglo 2. Baik (> 80%) Ordinal n tentang putri untuk mengetahui kuesioner 2.

Tidak normal (siklus menstruasi <28 hari dan lamamenstruasi <4 hari atau >7 hari ) (BKKBN. 2008) . Terinfeksi cacing. dan lama 7 hari) menstruasi 2. yang diderita remaja putri dalam satu bulan terakhir 7 Pola Pola menstruasi remaja Mengisi Kuesioner 1. Normal (siklus nominal Menstruasi putri yang kuesioner menstruasi 28 hari menggambarkan dan panjang siklus lamamenstruasi 4- menstruasi. TBC. diare. 33 1-2 jam sebelum/sesudah makan tiap hari 6 Penyakit Penyakit atau infeksi Mengisi Kuesioner 1. Tidak terinfeksi Nominal infeksi yang meliputi infeksi kuesioner 2.

di SMPN 3 Praya.2 Lokasi Penelitian Penelitian ini akan dilakukan pada bulan Februari 2016. 2010 ). Kecamatan Praya. Jumlah. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh remaja putri kelas 3 SMPN 3 praya sebanyak 67 siswi. Desa Aik Mual.1 : penentuan besar sampel N n= 2 1+ N ( d ) Keterangan : . 4. yaitu peneliti melakukan observasi atau pengukuran variabel pada satu saat ( Notoatmodjo. kecamatan praya.1 Populasi Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteriistik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari kemudian ditarik kesimpulanya (Sugiyono. 4. 34 BAB 4 METODE PENELITIAN 4. kabupaten Lombok tengah.2 Sampel Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti dinamakan penelitian sampel aabila kita bermaksud untuk menggeneralisasikan penelitian sampel (Arikunto. Desain yang digunakan adalah cross sectional.3 Populasi dan Sampel 4.3. Penentuan besar sampel dilakukan dengan rumus (Notoatmodjo. dari jumlah populasi remaja putri kelas 3 siswa SMPN 3 Praya yang diambil dengan menggunakan teknik sampling tertentu untuk dapat memenuhi atau mewakili penderita Anemia di SMPN 3 Praya.2010). 2012).1 Desain Penelitian Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasional analitik. 2010) Gambar 4. Kabupaten Lombok Tengah.3. 4.

4. Kabupaten Lombok Tengah tahun 2016” etika tersebut adalah : 1) Informed Consent (Surat Persetujuan) Lembar persetujuan ini diberikan kepada responden yang diteliti disertai judul penelitian dan tujuan penelitian. Kecamatan Praya.1 ) 67 n= 1+0.1 di bulatkan menjadi 40 Jumlah sampel minimal yang didapatkan berdasarkan perhitungan dengan menggunakan rumus tersebut sebanyak 40 orang.4 Etika Penelitian Pada penelitian ini penulis memakai beberapa etika penelitian di dalam penelitian mendapatkan data tentang “Faktor yang berhubungan dengan kejadian anemia pada remaja putri SMPN 3 Praya.. Desa Aik Mual.1 dengan hasil perhitungan sebagai berikut : N n= 2 1+ N ( d ) 67 n= 1+67 ( 0. 2) Anonymity ( Tanpa Nama ) Nama responden tidak akan dicantumkan dalam lembar pengumpulan data dan untuk mengetahui keikutsertaannya peneliti hanya . 35 N : besar populasi n : besar sampel D : penyimpangan terhadap populasi yang di inginkan yaitu (10%) atau 0. Bilamana responden menolak maka peneliti tidak memaksa dan tetap menghormati hak responden.67 n = 40.67 67 n= 1.

5.5.6. 4. 36 menggunakan kode dalam bentuk nomor pada masing-masing lembar pengumpulan data.6 PengumpulanData Tehnik pengumpulan data pada penelitian ini adalah : 4.2 Kuesioner .2 Kuesioner Kuesioner merupakan daftar pertanyaan yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden antara lain mengenai karaktristik responden. pengetahuan tentang anemia.6. Formulir recall digunakan untuk mengetahui tingkat konsumsi energi.3 Formulir recall 3x24jam Recall dilakukan dengan mencatat jenis dan jumlah bahan makanan yang dikonsumsi. 3) Confidential / Privary Kerahasiaan informasi / data yang didapat dari responden sangat dijamin oleh penulis. 4. 4.penyakit infeksi.1 Pengukuran Pengukuran dilakukan dengan pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui kadar hemoglobin dan adanya infeksi kecacingan pada siswi. Pengukuran anthropometri juga dilakukan untuk mengetahui status gizi siswa 4. protein dan zat besi. 4. pendapatan keluarga. kebiasaan mengkonsumsi makanan penghambat dan pemacu penyerapan zat besi.1 Pemeriksaan Laboratorium Pemeriksaan laboratorium digunakan untuk mengukur kadar hemoglobin darah dengan menggunakan metode cyanmethemoglobin sebagai batasan anemia. hanya pada kelompok tertentu saja yang akan peneliti sajikan. dan pola menstruasi.5. utamanya dilaporkan pada hasil riset.5 Instrumen Penelitian Instrumen yang digunakan untuk pengumpulan data yaitu : 4.

3) Tabulasi yaitu pengorganisasian data sedemikian rupa agar dengan mudah dapat dijumlah. disusun dan didata untuk disajikan dan dianalisis. 6) Melakukan analisis data dengan computer. dengan menandatangani informed consent sebagai buktinya. 4) Memberikan kuesioner kepada responden dan menjelaskan cara mengisinya. 3) Responden diminta persetujuan sebagai responden dalam penelitian ini. 4. konsistensi atas jawaban dan keseragaman prosedur.7 PengolahanData Pengolahan Data dalam penelitian ini adalah : Data yang dikumpulkan dari penelitian merupakan data mentah. oleh karena itu data tersebut harus diolah sebelumdilakukan analisis data. Responden yang sudah selesai dikumpulkan lansung pada penenliti. Prosedur pengumpulan data dalam penelitian ini adalah : 1) Memperoleh izin penelitian dari kepala sekolah 2) Memberikan penjelasan tentang tujuan. manfaat dan prosedur penelitian yang akan dilaksanakan pada responden. 5) Mengumpulkan kuesioner yang diisi dan memeriksa kelengkapannya. Adapun langkah-langkah pengolahan data adalah sebagai berikut : 1) Editing dengan tujuan untuk mengoreksi data meliputi kelengkapan pengisian jawaban. Responden diberikan penjelasan terlebih dahulu unruk cara menjawab kuesioner dan di beri waktu 1 jam untuk menjawabnya. 37 Dengan membagikan kuesioner kepada responden. 2) Coding yaitu kegiatan pemberian kode pada data dengan tujuan untuk mempermudah dalam proses dan pengelompokan data. apabila ada kekurangan maka responden di minta untuk melengkapi kembali. .

Korelasi yang digunakan adalah uji chi square Apabila distribusi data tidak normal maka digunakan uji fisher untuk tabel 2x2 dan uji kolmogorof-smirnov untuk tabel 2xk (Soedigdo Sastroasmoro. .2 Analisis Bivariat Analisis bivariat dilakukan untuk mengetahui hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat pada penelitian.8 AnalisaData Setelah semua terkumpul maka langkah selanjutnya adalah menganalisis data tersebut.8.1 Analisis Univariat Analisis univariat dilakukan terhadap tiap variabel dari hasil penelitian hasil penelitian didistribusikan dalam bentuk tabel. Analisis data yang digunakan adalah 4. Analisis univariat untuk melihat gambaran data yang diperlukan dan untuk analisis lebih lanjut.8. grafik. 4. 1995). 38 4. dan narasi untuk mengevaluasi besarnya proporsi masing-masing variabel yang diteliti. S Ismail.