You are on page 1of 16

UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA

FAKULTAS KEDOKTERAN

Referat
Terapi Cairan pada Pembedahan

Pembimbing :
dr. Ujang, Sp.An

Disusun Oleh :

Ega Farhatu Jannah 112015363

KEPANITERAAN KLINIK ILMU ANASTESI
RUMAH SAKIT BHAKTI YUDHA

1

Dalam praktis klinis terapi cairan didasarkan pada kombinasi jumlah cairan yang hilang dan perubahan fisiologis tubuh. Parameter klinis yang digunakan untuk mengukur jumlah cairan saat dan setelah operasi adalah tekanan darah. pH darah. dan perubahan pada parameter fisiologis dengan sensitivitas yang cukup baik. Efek samping dari kelebihan cairan intravena (IV) yaitu. cairan peritoneum dan lainnya. tetapi zat-zat lain sulit atau diperlukan proses khusus supaya dapat melintasinya. Ekstraselular dibagi lagi menjadi antarsel (interstitial) 15% dan plasma 5%. Komposisi Cairan Tubuh Kandungan air pada saat bayi lahir sekitar 75% berat badan. cairan diberikan atas dua tujuan. yaitu untuk mengganti cairan yang hilang. usia 1 bulan 65%. Penentuan jumlah cairan yang harus diberikan tergantung pada dua syarat. yaitu jumlah cairan yang hilang harus dihitung dengan benar. dan mempertahankan fungsi fisiologis tubuh. Namun parameter ini harus disesuaikan. dan lain-lain. fungsi organ yang tidak optimal. 1 Air melewati membran sel dengan mudah.1 Air dalam tubuh berada di beberapa ruangan. Cairan antarsel khusus disebut cairan transelular misalnya cairan serebrospinal. lemak. dewasa pria 60% dan wanita 50%. frekuensi nadi. sisanya ialah zat padat seperti protein. jumlah urin. Kelebihan cairan juga mempunyai efek buruk yang sama terhadap oksigenasi jaringan. dan akhirnya kegagalan fungsi organ. karena kondisi seperti penggunaan obat anastesia dapat menurunkan tekanan darah. Hipovolemia atau kondisi kekurangan darah dalam tubuh dapat mengakibatkan perfusi jaringan yang buruk. cairan persendian. ekstraselular 20%. Pendahuluan Resusitasi cairan secara intravena merupakan komponen yang penting dalam manajemen pasien saat operasi. yaitu intraselular 40%. dan berat badan tubuh. karbohidrat. dapat berupa edema paru dan kemungkinan terjadi komplikasi ini diperberat dengan kondisi adanya penyakit jantung yang mendasari. yang bernilai sama dengan perubahan terhadap jumlah darah dalam tubuh. karena itu komposisi elektrolit di dalam dan di luar 2 . Pengukuran parameter fisiologis tersebut penting untuk mendapatkan hasil terapi cairan optimal. stress akibat proses pembedahan dapat menurunkan jumlah urin.

Fungsi kalium adalah merangsang saraf otot. gangguan irama jantung. lemas.sel berbeda. Larutan dengan tekanan osmotik kira-kira sama disebut isotonic (NaCl 0. sehingga kekurangan kalium jarang terdeteksi.1 Peran Natrium Ekskresi air hampir selalu disertai oleh ekskresi natrium baik lewat urin. pada sindrom reseksi prostat atau pada menurunnya sekresi ADH. tinja atau keringat.1 Peran Kalium Sebagian besar kalium terdapat dalam sel (150 mEq/L).1 Kadar kalium serum normalnya 3-5 mEq/L. Natrium sebagian besar (84%) berada di cairan ekstraselular.1 3 . menghantarkan impuls listrik.96%. Keseimbangan natrium diatur terutama oleh ginjal. Dekstrosa 5%. ion Mg. Kekurangan natrium biasanya disebabkan oleh pemberian infus berlebihan tanpa Na.1 Tekanan osmotik plasma darah adalah 285 ± 5 mOsm/L. Ringer-laktat) lebih rendah disebut hipotonik (akuades) dan lebih tinggi disebut hipertonik. Cairan intraselular banyak mengandung ion K. Kemampuan ginjal menahan kalium sangat rendah. 1 gram NaCl = 17 mEq. dan pembentukan sel. ileus paralitik. kembung. Hipokalemia (<3 mEq/L) menyebabkan keletihan otot. Kadar kalium dalam plasma hanya 2% dari total kalium tubuh. sedangkan ekstraselular mengandung banyak ion Na dan ion Cl. Pembedahan Menyebabkan katabolisme jaringan dan mobilisasi kalium pada hari-hari pertama dan kedua. Membran semipermeable adalah membran yang dapat dilalui air (pelarut).5 mEq/kgBB/hari. Kebutuhan akan kalium cukup diatasi dengan kebutuhan rutin saja sekitar 0.1 Pergerakan Air Tekanan osmotik adalah tekanan yang dibutuhkan untuk mencegah perembesan (difusi) cairan melalui membran semipermeable ke dalam cairan lain yang konsentrasinya lebih tinggi. Kebutuhan natrium perhari sekitar 50-100 mEq atau 3-6 gram sebagai NaCl. namun tidak dapat dilalui zat terlarut seperti protein. dan ion fosfat. Natrium berperan memelihara tekanan osmotik dan volume cairan ekstraselular. Konsentrasi kalium dalam infus sebaiknya <40 mEq/L atau kecepatan pemberian <20 mEq/jam. karena itu terapi kekurangan air (dehidrasi) selalu diberi cairan infus yang mengandung natrium.

dan dapat menyebabkan terganggunya parameter klinis hingga menyebabkan gagal fungsi organ yang berakibat fatal. compos mentis Gelisah. Tabel 1. kalium 1 mEq/kgBB. hipotonik atau hiponatremik (kadar Na <130 mmol/L atau osmolaritas serum <275 mOsm/L) dan hipertonik atau hipernatremia (kadar Na >150 mmol/L atau osmolaritas serum >295 mOsm/L). Pedoman WHO untuk menilai dehidrasi. sedang (5-10%) dan berat (>10%).Dehidrasi dan hipovolemia Kebutuhan harian air 50 ml/kgBB. Klinis Dehidrasi ringan Dehidrasi sedang Dehidrasi berat (5%) (5-10%) (>10%) Keadaan umum Baik. Sifat dehidrasi dapat berupa isotonik (kadar Na dan osmolaritas serum normal). yakni :1. lesu Letargik.2 Tabel 2. Dehidrasi adalah kekurangan air dalam tubuh yang dapat dikategorikan menjadi ringan (<5%). rewel. Derajat kekurangan darah. tidak sadar Mata Normal Cekung Sangat cekung Air mata Ada Kering Kering sekali Mulut atau lidah Lembab Kering Sangat kering. oliguria Kurang sekali Pada saat operasi berlangsung. Derajat kondisi kekurangan darah (hipovolemia) terbagi atas 4 derajat. dapat terjadi kondisi kehilangan darah dalam jumlah yang besar. natrium 2 mEq/kgBB. 4 . pecah-pecah Haus Minum normal Haus Tidak bisa minum Turgor Baik Jelek Sangat jelek Nadi Normal Cepat Cepat sekali Tekanan darah Normal Turun Turun sekali Air kemih Normal Kurang.

dan mengatasi kelainan akibat terapi lain. mencukupi kebutuhan per hari. Sifat-sifat Kristaloid Koloid 1. neonatus 3 ml/kgBB/jam. dehidrasi dan perdarahan pada pembedahan atau cedera. Cairan nutrisi Digunakan untuk nutrisi parenteral pada pasien yang tidak mau makan.4 2. Penggunaan Untuk dehidrasi Pada perdarahan massif 5.1 4. misalnya natrium bikarbonat 7. Berat molekul Lebih kecil Lebih besar 2. mengatasi syok.Tujuan terapi cairan Tujuan pemberian terapi cairan adalah untuk mengganti cairan yang hilang. bayi 4-6 ml/kgBB/jam. Untuk koreksi Diberikan 2-3 kali Sesuai dengan jumlah perdarahan jumlah perdarahan perdarahan 3.3 Jenis cairan dan indikasinya Berdasarkan penggunaannya. Hemasel. NaCl 3%. maka sebagai cairan pengganti adalah hipotonis-isotonis. Faal hemostasis Tidak ada pengaruh Mengganggu 4. cairan infus dapat digolongkan menjadi 4 kelompok:3 1. asites. Cairan untuk tujuan khusus Cairan kristaloid yang digunakan khusus. Biasanya cairan yang hilang sedikit sekali mengandung elektrolit. Cairan pemeliharaan Tujuannya adalah untuk mengganti kehilangan air tubuh lewat urin. drainase lambung.1. mengoreksi dehidrasi. feses. mengganti kehilangan cairan yang sedang berlangsung. paru dan keringat. kalsium glukonas dan lainnya untuk tujuan koreksi khusus terhadap gangguan keseimbangan asam-basa dan elektrolit. tidak boleh makan dan tidak bisa makan secara peroral. Jumlah kehilangan air tubuh ini berbeda sesuai dengan umur. misalnya NaCl 0.5-2 ml/kgBB/jam.9% dan Ringer laktat atau koloid. Distribusi Lebih cepat Lebih lama dalam sirkulasi 3. yaitu dewasa 1. Cairan pengganti Tujuannya adalah untuk mengganti kehilangan air tubuh yang disebabkan oleh sekuestrasi atau proses patologi yang lain misalnya fistula. Expafusin. anak-anak 2-4 ml/kgBB/jam. efusi peura.1 Tabel 3. Jenis cairan nutrisi parenteral pada saat 5 . Perbandingan antara kristaloid dan koloid. misalnya Dextrans 40 dan 70.5%. Albumin dan plasma. Sebagai cairan pengganti untuk tujuan ini digunakan cairan kristaloid.

Menjaga fungsi fisiologis tubuh Kebutuhan cairan maintenance Kebutuhan cairan maintenance dapat dihitung dengan rumus holliday-segar. Kebutuhan cairan basal Pasien yang disiapkan untuk proses pembedahan diperbolehkan untuk minum air putih hingga 2 jam sebelum dimulainya proses anastesi.1 Terapi cairan standar terdiri dari :4 . eksudasi cairan dari luka pembedahan. sehingga pasien harus terhidrasi dengan baik. keringat yang tidak dapat diukur. urin yang keluar). Penggantian cairan yang hilang melalui kebutuhan cairan basal (defisit dari puasa. maka kebutuhan cairan maintenance adalah (10 x 4) + (10 x 2) + (30 x 1) = 90 mL/jam. kehilangan darah selama proses pembedahan. sehingga dapat kebutuhan minimal tubuh akan cairan dapat terpenuhi. ini sudah dalam berbagai komposisi baik untuk parenteral parsial atau total maupun kasus penyakit tertentu. Kebutuhan nutrisi pasien yang mendapat nutrisi parenteral total harus terpenuhi maksimal dalam 3 hari dimulai dari dihentikannya nutrisi peroral. ke luar tubuh). apabila seorang pasien dengan berat badan 50 kg. Terapi cairan parenteral diperlukan untuk mengganti defisit cairan saat puasa sebelum dan sesudah pembedahan. penguapan cairan dari luka pembedahan. hilangnya cairan pada “ruang ketiga”.1 Terapi cairan standar pada pembedahan Pembedahan dengan anastesi memerlukan puasa sebelum dan sesudah pembedahan. mengganti kebutuhan rutin saat pembedahan. sehingga untuk memenuhi kebutuhan cairan 6 . dan pasien bisa saja tidak terhidrasi dengan baik.5 Berat badan Jumlah cairan 10 kg pertama 4 mL/kg/jam x 10 10 kg kedua 2 mL/kg/jam x 10 Sisa berat badan 1 mL/kg/jam x BB sisa Sebagai contoh. Namun kenyataannya hal ini tidak selalu terjadi. mengganti perdarahan yang terjadi dan mengganti cairan pindah ke ruang ketiga (ke rongga peritoneum.5 Penggantian cairan yang hilang 1. .

2 g/jam). Contoh kasus dari ruang ini adalah pada ascites pada rongga peritoneal dan rongga pleura. namun berdasarkan hasil penelitian. dimana ditutup dengan penutup plastik yang tidak menyerap air.4 Kehilangan cairan pada “ruang ketiga”. Proses penguapan yang terjadi pada jalan nafas bergantung pada kelembaban udara yang dihirup. pemberian D5W preoperatif meningkatkan kekuatan otot postoperatif. dimana terapi denag D5W dapat membantu prognosis pasien pasca bedah. Edema dapat terjadi hingga 10-20% pada 7 . Kehilangan cairan melalui eksudasi dari luka pembedahan dapat terjadi pada pembedahan usus juga. hal ini terjadi pada kondisi tubuh yang sedang sakit atau mengalami trauma.4 Kehilangan cairan melalui keringat diperkirakan 10 mL/kg/hari.pasien maka perlu ditanyakan berapa lama pasien puasa minum air. Ruang ini disebut juga “ruang ketiga” anatomis. dalam hal ini sediaan IV terapi cairan yang paling mendekati adalah D5W.4 Kehilangan cairan melalui luka pembedahan sangat dipengaruhi oleh besarnya luka yang dibuat saat pembedahan. sedangkan jika yang dihirup udara kering maka kehilangan cairan menjadi 0. Kehilangan cairan ini dapat terjadi melalui kulit dan jalan nafas. pada kondisi udara yang lembab 100% maka jumlah kehilangan cairan mendekati 0. merupakan defisit cairan berupa air saja. dan kebutuhan cairan puasa dipenuhi dengan rumus 80 mL/jam puasa. kehilangan cairan dapat dihitung dengan akurat karena dianggap tidak ada uap yang lolos dari penutup tersebut. Volume cairan yang hilang tersembunyi pada jaringan yang terluka lebih sulit untuk dihitung jumlahnya. Kehilangan cairan melalui cairan melalui puasa dan keringat. hal ini disebabkan pada luka terbuka akan menyebabkan kehilangan cairan yang lebih banyak (minor 2 g/jam. namun pada pembedahan abdomen. hal ini akan menyebabkan pertambahan dari volume ekstrasel. Kehilangan cairan ini masih tidak dapat diukur dengan baik karena hanya berdasar pada cairan yang terserap pada penutup luka. sehingga disimpulkan pemberian D5W baik untuk pasien preoperatif yang puasa. moderate 8 g/jam.5 ml/kg/jam. namun ada penelitian lain yang mendukung teori ini dan ada yang tidak karena sebagian menganggap pemberian cairan D5W preoperatif akan menimbulkan kondisi hiperglikemia. Ascites pada rongga peritoneum atau rongga pleura yang dikeluarkan dapat dihitung seberapa banyak cairan yang dikeluarkan dan menimbulkan kehilangan berat badan postoperatif. mayor 32. sehingga pemberian terapi cairan menjadi kurang optimal karena sebagian cairan berpindah pada ruang ini. Namun pada beberapa penelitian didapatkan hasil yang berbeda. sehingga secara logika hanya perlu diberikan air yang cukup.

Kehilangan cairan melalui keringat dan penguapan luka pembedahan memiliki nilai maksimal 35 mL/jam untuk kehilangan cairan akibat keringat. namun hal ini bisa saja tidak terjadi sehingga perlu ditanyakan pada pasien berapa lama dia sudah puasa. Kehilangan cairan dari kehilangan darah dan eksudasi luka pembedahan digantikan dengan prinsip volume untuk volume dan digantikan dengan cairan koloid atau kristaloid. Kehilangan cairan ini biasanya digantikan dengan saline atau air dari pelarut obat saat obat-obatan dimasukkan.4 Terapi cairan yang dibatasi Berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan. dan kelebihan cairan harus dihindari. pasien yang diberikan terapi cairan dengan jumlah 15 mL/kg/jam. terapi cairan dengan tujuan maksimalisasi curah sekuncup tidak menunjukan hasil klinis yang lebih baik. Transfusi eritrosit diberikan pada kehilangan darah yang cukup signifikan. Namun jika tidak. Defisit cairan dari puasa idealnya digantikan di bangsal bedah. Kehilangan cairan melalui urin biasanya tidak digantikan apabila jumlah kecil dan pasien tidak dalam kondisi hipovolemik. dan 32 mL/jam akibat penguapan. Maka dari itu dilakukan penelitian mengenai terapi cairan yang dibatasi. Kehilangan cairan dari ascites. Berat badan preoperatif dengan post operatif 8 . Kehilangan cairan ini minim. dan baru diperhitungkan pada operasi jangka waktu > 5 jam. terlihat dari pengukuran berat badan post operatif yang bertambah 3-7 kg. efusi pleura baru digantikan apabila terdapat perubahan pada hemodinamik. Tujuan dari teknik terapi cairan ini adalah mencegah kemungkinan terjadinya kelebihan cairan. maka dapat dilihat terapi cairan standard. dan tidak perlu diperhitungkan pada operasi yang dijadwalkan. Sebaliknya sering menimbulkan kondisi kelebihan cairan. Kehilangan cairan pada proses pembedahan usus diperkirakan sebesar 2.5-5 g jika tidak ada cairan yang diberikan. dan 5-10 g jika diberikan cairan dengan jumlah 15 mL/kg/jam. dan cairannya diganti dengan rumus 80 mL/jam puasa. dan diberikan sampai Hb > 10 g/dL. Kehilangan cairan pada “ruang ketiga” biasanya kecil. Berdasarkan penelitian disimpulkan bahwa terapi cairan yang dibatasi menunjukkan hasil klinis yang lebih baik dan mengurang komplikasi post operatif. dengan prinsip umum tidak merubah berat badan pre operatif dan post operatif. kehilangan cairan ini akan dilakukan post operatif. Kehilangan cairan pada ECV ini tidak berjumlah besar dan tidak berpengaruh pada perburukan kondisi pasien menjadi hipovolemik.4 Rekomendasi terapi cairan restriktif pada pembedahan mayor elektif Prinsip umum yang dianut pada terapi cairan yang dibatasi adalah kehilangan cairan digantikan secara kualitatif dan kuantitatif.

idealnya tidak berubah. yaitu prabedah. mengganti perdarahan dan mengganti cairan yang hilang melalui organ ekskresi. Pedoman koreksinya adalah:2  Mengikuti pedoman terapi cairan prabedah  Berikan tambahan cairan sesuai dengan jumlah perdarahan yang terjadi ditambah dengan koreksi cairan sesuai dengan perhitungan cairan yang hilang berdasarkan jenis operasi yang dilakukan. maka perubahan berat badan sudah pasti akan terjadi. dengan asumsi: o Operasi besar: 6-8 ml/kgBB/jam o Operasi sedang: 4-6 ml/kgBB/jam o Operasi kecil: 2-4 ml/kgBB/jam  Koreksi perdarahan selama operasi: o Dewasa: pada perdarahan lebih dari 20% dari perkiraan volume darah maka dilakukan transfusi. menghitung deficit puasa (lama puasa) atau dehidrasi (derajat dehidrasi).2 1. pada jam pertama setelah terpasang infus berikan 50% defisit dan cairan pemeliharan/jam. Cairan yang digunakan adalah:3  Untuk mengganti puasa diberikan cairan pemeliharaan  Untuk koreksi defisit puasa atau dehidrasi berikan cairan kristaloid. Jika perdarahan kurang dari 20% dari 9 .  Perdarahan akut berikan cairan kristaloid + koloid atau transfuse Pedoman koreksinya adalah menghitung kebutuhan cairan perhari (perjam). dan jika berubah batasannya adalah hanya 1 kg. fasilitas vena terbuka bahkan untuk koreksi deficit akibat hipovolemik atau dehidrasi.4 Terapi Cairan Perioperatif Terdapat tiga periode yang dialami oleh pasien apabila menjalani tindakan pembedahan. selama pembedahan dan pasca bedah. pada jam ketiga berikan 25% defisit dan cairan pemeliharaan/jam. Terapi cairan prabedah Tujuannya adalah mengganti cairan dan kalori yang dialami pasien prabedah akibat puasa. Cairan yang digunakan adalah cairan pengganti. Terapi cairan selama operasi Tujuannya adalah koreksi kehilangan cairan melalui luka operasi. 2. namun jika selama proses pembedahan terdapat jaringan yang dibuang dalam jumlah besar. pada jam kedua berikan 25% defisit dan cairan pemeliharaan/jam. bisa kristaloid dan koloid atau transfuse darah.

perkiraan volume darah maka berikan kristaloid sebanyak 2 sampai 3 kali jumlah perdarahan atau koloid yang jumlahnya sama dengan perkiraan jumlah perdarahan atau campuran kristaloid dan koloid. Nutrisi dimulai 4 jam post operatif. 3. namun apabila tidak bisa dan terpasang NGT maka makan secara enteral diberikan.  Jumlah perdarahan selama operasi dihitung berdasarkan: o Jumlah darah yang tertampung di dalam botol penampung o Tambahan berat kasa yang digunakan (1 gram = 1 ml darah) o Ditambah dengan faktor koreksi sebesar 25% x jumlah yang terukur +terhitung (jumlah darah yang tercecer dan melekat pada kain penutup lapangan operasi). diberikan cairan nutrisi dasar yang mengandung air + elektrolit + karbohidrat dosis dinaikkan + asam amino dan pada hari kelima ditambahkan emulsi lemak. diberikan cairan nutrisi dasar yang mengandung air + elektrolit + karbohidrat + asam amino esensial. Rata-rata cairan dan makanan yang diberikan pada pasien post operatif yang kebutuhan cairan selama operasi terpenuhi adalah 2000-3000 mL/hari. pasien dianjurkan untuk minum secara oral segera setelah menelan dinilai aman untuk pasien. Pada pasien dewasa yang diperkirakan puasa lebih dari 3 hari. Kebutuhan basal cairan harus dipenuhi dan pemberian cairan mengandung glukosa sebanyak 1 L harus mulai diberikan.5-1 mL/kg/jam. yaitu kehilangan cairan harus digantikan namun kelebihan cairan harus dihindari. Jika perdarahan kurang dari 10% dari perkiraan volume darah maka berikan kristaloid sebanyak 2 sampai 3 kali jumlah perdarahan atau koloid yang jumlahnya sama dengan perkiraan jumlah perdarahan atau campuran kristaloid dan koloid.3 Pada pasien dewasa yang diperkirakan puasa kurang dari 3 hari. sehingga terapi disesuaikan dengan tabel diatas. namun apabila intake oral masih belum adekuat maka ditambahkan jalur IV. o Bayi dan anak: pada perdarahan lebih dari 10% dari perkiraan volume darah makan dilakukan transfusi. Nutrisi diteruskan sama seperti jumlah yang diberikan setelah proses 10 . dan pasien dianjurkan untuk makan secara oral. 3 Terapi cairan pada bangsal bedah Intake oral lebih dianjurkan. Diuresis terukur secara normal dengan jumlah 0. Kehilangan cairan melalui drainase berupa darah. Terapi cairan pasca bedah Prinsip terapi cairan setelah pembedahan tetap sama.

dan 3 mEq kalsium. Satu liter RL mengandung 130 mEq natrium. Beban cairan besar dapat mencairkan protein plasma dan menurunkan tekanan osmotik koloid plasma. yang dapat memperburuk asidosis metabolik yang ada.9% atau Ringer Laktat (RL) adalah yang paling umum. karena berat badan tidak mampu menilai kehilangan cairan karena perubahan volume vaskular.9% NaCl (saline normal) mengandung 154 mEq natrium dan klorida 154 mEq dan memiliki osmolalitas 308mOsm / L. Penyebab hipotensi harus ditatalaksana sesuai dengan penyebabnya. yang akan menimbulkan hipotensi. Demikian pula. Tabel kandungan dari beberapa jenis kristaloid.pembedahan. dan paling murah dari cairan resusitasi. jumlah yang lebih besar pada infus kristaloid yang diperlukan untuk mempertahankan volume vaskular. Volume besar infus NaCl 0.9% NaCl. Furosemid diberikan pada pasien tanpa komplikasi yang mengalami penambahan berat badan lebih dari 1 kg. paling tersedia.9%. Namun. 3 mEq kalium.4 Pilihan cairan intraoperatif Kristaloid Kristaloid seperti NaCl 0.9% akan menghasilkan asidosis metabolik hiperkloremik. 28 mEq laktat. ada laporan ketidaknyamanan pencernaan dan masalah sistem saraf pusat dengan pemberian volume besar NaCl 0. Namun penilaian klinis tetap menjadi patokan utama untuk terapi. LR sedikit hipotonik (273 mOsm / L) dan rendah natrium dan klorida daripada 0. 109 mEq klorida.4 11 . sehingga terapi cairan dapat dinilai apakah berlebih secara kuantitas dan tepat secara kualitas. Satu liter 0. Tidak ada keraguan bahwa menginfus cairan kristaloid untuk resusitasi cairan pada sepsis menghasilkan edema dan potensi gangguan metabolisme. antigenik yang terendah. Pengukuran berat badan merupakan salah satu variabel yang dapat dipercaya untuk mengukur balans cairan pada pasien.

Albumin juga membawa sedikit risiko penyakit dan penularan virus dibandingkan dengan plasma. sebagian besar biologi diizinkan untuk mengisi sebanyak 1 ng / mL endotoksin. Kebanyakan pasien yang berada di bawah stres menunjukkan fase respon protein akut.4 Secara khusus.Koloid Solusi koloid seperti albumin. Sebelumnya. atau gelatin menghasilkan peningkatan koloid plasma tekanan osmotik. Sebuah penelitian oleh kelompok Cochrane mengatakan terjadi peningkatan kematian pada pasien yang diterapi dengan albumin sebanyak 1 kematian per 17 pasien yang diterapi dengan albumin 6%. Namun. Ada sejumlah artikel mengkritik ulasan ini. Albumin lebih mahal daripada solusi kristaloid atau koloid solusi buatan. Efek hemat volume koloid adalah karena retensi osmotik cairan di ruang vaskuler. keseimbangan cairan paru telah menjadi fokus dari banyak studi klinis dan eksperimental untuk membandingkan pemberian cairan kristaloid dan koloid. dan akhirnya kesimpulan bahwa terapi albumin meningkatkan kematian dipatahkan oleh penelitian yang lebih baru lagi. Albumin adalah protein 69 kD alami. hetastarch. dekstran. ketika koloid digunakan untuk resusitasi. Tampaknya tidak ada perbedaan atau edema paru kurang. Konsekuensi utama dari 12 . karena sifatnya yang tidak melewati membran sel. Albumin menghasilkan sebagian besar tekanan onkotik dalam plasma dan digunakan baik sebagai regimen resusitasi utama atau sebagai cairan ajuvan. fresh frozen plasma.

Solusi Hydroxylethyl yang polisakarida molekul yang lebih besar dari albumin. Hextend menunjukkan peningkatan kelangsungan hidup bila dibandingkan dengan saline. Formula tepung hydroxylethyl lain dengan substitusi cabang-rantai yang berbeda cenderung untuk menginduksi koagulopati. Meskipun Hespan memiliki berat molekul rata-rata 450 kD.4 Meskipun fresh frozen plasma mungkin telah digunakan di masa lalu untuk resusitasi syok. Koagulopati adalah hasil dari bahan dengan berat molekul tinggi menghambat faktor VIII dan faktor von Willebrand. Dalam sepsis eksperimental. beberapa kelompok klinis mencoba untuk menjaga tingkat albumin atas 2 g / L pada pasien trauma.9% NaCl. Digunakan pada keadaan tertentu seperti untuk mengelola plasma pada pasien septik termasuk koagulopati intravaskular. Hespan lebih murah dari albumin dan memiliki efek fisiologis yang sama. itu adalah campuran dari berbagai bahan yang berbeda ukuran dari kecil seperti 5000 D. Berarti pemberian tidak lebih dari satu liter Hespan untuk pasien septik. dan pembalikan efek Coumadin dan pada pasien yang telah menerima transfusi darah masif. 3 Hespan memiliki tekanan onkotik yang sama dibandingkan dengan albumin. sebagian besar hingga beberapa juta. Merek komersial Hespan® adalah rumus yang paling umum di Amerika Serikat. bahkan ketika ada 13 . Mengingat pentingnya dalam tekanan onkotik dan sebagai protein pembawa. dan cairan tambahan yang dibutuhkan untuk mempertahankan volume vaskular. Ada juga upaya untuk menghasilkan senyawa dengan berat molekul yang akan mencegah mereka dari kebocoran pada vaskular.reaksi protein ini untuk stres adalah pengurangan protein konstitutif seperti albumin. menyimpulkan bahwa ada dua kali lipat peningkatan risiko menyebabkan gagal ginjal akut pada pasien sepsis berat diobati dengan Hespan dibandingkan dengan koloid lain. tetapi enam kali lebih besar dengan berat molekul rata-rata 450 kD. Ini merupakan campuran dari 6% hetastarch di 0. Hextend adalah hydroxylethyl rumus yang lebih baru yang lebih fisiologis seimbang dari Hespan dan dapat diberikan dalam dosis yang lebih besar. Tetapi penggunaan albumin harus berhati-hati. insufisiensi hati berat.4 Yang harus diperhatikan saat pemberian Hespan adalah gagal ginjal. biaya dan ketersediaan melarang penggunaannya untuk resusitasi cairan hipovolemia. Mekanisme insufisiensi ginjal dengan Hespan tidak jelas. dan umumnya direkomendasikan tidak lebih dari 15ml / kg atau 1500 mL Hespan diberikan kepada pasien dalam waktu 24 jam. oleh karena itu penggunaannya dimulai dari 25 g dan dapat diulang dalam 30 menit apabila tidak ada respon adekuat dan sebaiknya dibawah 250 g/48 jam. karena pada penggunaan yang berlebihan dapat menimbulkan efek samping seperti mencetuskan gagal jantung. Ada kekhawatiran bahwa infus Hespan dapat menyebabkan koagulopati. Sebuah studi terbaru oleh Schortgen et al.

Teknik pemberian Untuk pemberian terapi cairan dalam waktu singkat dapat digunakan vena-vena di pungggung tangan. seperti hetastarch. Gelatin tidak umum diberikan di Amerika Serikat. Ini menyebabkan perkembangan pentafraksi koloid. sebaiknya menggunakan kateter besar dan panjang 14 .perubahan permeabilitas.000-250.1 Penggunaan jarum anti karat atau kateter plastic anti trombogenik pada vena perifer biasanya perlu diganti setiap 1-3 hari untuk menghindari infeksi dan macetnya tetesan. gelatin urea-crosslinked (poligeline). Seperti hidroksietil dan dekstran. 70 kD molekul. dekstran 1 (Promit) dianjurkan sebelum infus untuk mengurangi risiko anafilaksis atau reaksi anafilaktoid. Kami telah menggunakan molekul berat (pentafraction) koloid tinggi untuk resusitasi pada sepsis eksperimental dan luka bakar. Kami menemukan itu sangat efektif. Oleh karena itu. tapi umum diberikan di Eropa dan negara-negara lain. Anafilaksis atau reaksi anafilaktoid terjadi pada sekitar 1 dari 400 pasien. Dekstran juga dapat mengganggu fungsi trombosit yang dapat memperburuk suatu koagulopati yang mendasari. sekitar daerah pergelangan tangan. Namun. akhirnya dimetabolisme dan dieliminasi oleh ginjal. dan juga lebih murah daripada albumin.4 Resusitasi dengan dekstran mengembalikan volume pembuluh darah dan memerlukan lebih sedikit cairan dari Hespan atau albumin. Pemberian infus lebih lama dari tiga hari. Pemberian Makanan dan Obat menuntut bahwa senyawa Ringer akan terbukti unggul dalam uji klinis. Uji klinis yang mahal. Bayi baru lahir dapat digunakan vena umbilikalis. Dekstran lain adalah cabang rantai polisakarida dengan tekanan onkotik lebih tinggi per konsentrasi dari albumin atau hetastarch.4 Ini tidak bocor dari sirkulasi bahkan ketika permeabilitas meningkat. pesaing penggunaan Hapten. depan mata kaki dalam atau di kepala. Dekstran. Pada anak kecil dan bayi sering digunakan daerah punggung kaki. Keuntungan dari bahan ini adalah berat molekul tinggi (100. memiliki tekanan onkotik dua kali dari albumin. tidak ada perusahaan telah bersedia untuk melakukannya. Gelatin terbagi menjadi 3 jenis larutan yaitu : larutan gelatin termodifikasi (gelofusin.000). Keuntungan dari penggunaan gelatin adalah tidak ada batas dosis transfusi. lengan bawah atau daerah kubiti. tapi tidak cukup besar untuk mempengaruhi faktor VDL. Enam persen dekstran 70. plasmagel). rute koloid buatan telah dibuktikan untuk dipertahankan dalam ruang vaskuler meskipun terjadi peningkatan permeabilitas kapiler. dekstran dilaporkan memiliki lebih banyak antigenik dibandingkan hetastarch atau albumin. Sayangnya. dan oxypogelatin (gelifundol). tidak berpengaruh buruk untuk ginjal.

Gangguan keseimbangan elektrolit dan asam basa Hal ini terjadi akibat pemilihan cairan yang tidak tepat. kebutuhan karena proses penguapan dari luka operasi. pneumo- hydo-hematotoraks dan refleks vagal. vena kubiti. tidak boleh kurang maupun berlebih. 15 . karena gangguan dari fungsi organ dapat berakibat fatal. kebutuhan puasa. emboli udara. 2. vena subklavia. Hal ini terjadi karena pemantauan yang tidak adekuat. 3. Maka dari itu perlu diperkirakan kebutuhan cairan pasien. menimbulkan rasa nyeri. baik saat sedang berlangsungnya pembedahan dan setelah selesai. tidak bisa dihindari apabila keadaan asepsis kurang diperhatikan. Kesimpulan Terapi cairan merupakan hal yang penting yang dibutuhkan pada proses pembedahan. karena kondisi keseimbangan cairan harus selalu dipertahankan demi berlangsungnya fungsi organ tanpa adanya gangguan. Jumlah cairan yang diberikan pada saat pembedahan juga harus sesuai dengan kebutuhan pasien. Jenis cairan yang dibutuhkan juga bervariasi bergantung dari kebutuhan pasien. dan kebutuhan berdasarkan jumlah darah yang keluar.yang ditusukkan pada vena femoralis. vena jugularis eksterna atau interna yang ujungnya sedekat mungkin dengan atrium kanan atau di vana cava inferior atau superior. terutama dari organ vital. 4. paru dan jaringan lainnya. bisa terjadi hematom. Komplikasi akibat kanulasi Terutama pada kanulasi vena sentral. Gangguan keseimbangan cairan Pada umumnya akan terjadi kelebihan cairan yang berdampak seperti payah jantung dan edema baik di otak. yang terdiri dari kebutuhan maintenance. Kemungkinan terjadinya risiko sepsis.1 Komplikasi terapi cairan Komplikasi yang terjadi bisa berupa:3 1. Infeksi Infeksi lokal apda jalur vena yang dilalui.

4. Prough D. 5. 2006. Eriksson L I. 197-203. Young W L. Miller R D. 2010.293-301. 16 . New York: McGraw-Hill. New York : Elsevier. Petunjuk praktis anestesiologi: Terapi cairan pada pembedahan. Jakarta: Penerbit Indeks. 2009.h. Latief SA. Kronish J P W.h. h. Dachlan MR. Fleisher L A. Svensen C. Daftar pustaka 1. Perioperative fluid therapy. Hahn R. Buku ajar ilmu anastesia dan reanimasi. p. 692-5. 2002.133-9. New York : Informa Healthcare.H. Miller’s anasthesia seventh ed.S.G. Chapter 88. Mikhail M S. Jakarta: Fakultas Kedokteran UI. Junior G E M. 435-46. 3. Mangku G. Murray M J. Edisi ke-2. 2006. Clinical anesthesiology 4th ed. Suryadi KA. 2. Senapathi TGA.