You are on page 1of 7

TUGAS KOMUNIKASI KEPERAWATAN

LAPORAN KOMUNIKASI SBAR

Oleh : Kelompok 3
Ayu lestari siregar

Bernadet hondro

Debora

Ebriani siahaan

Fenny hutagaol

Indra pardede

Septiana purba

Verdinawati sinaga

STIKes Santa Elisabeth Medan


T.A 2014/2015
Role Play komunikasi SBAR post operasi Apendiksitis

Suatu pagi di ruangan Maria dengan pasien bernama Tn. Ando masuk sebuah Rumah
Sakit Elisabeth Medan. Seorang perawat yang bernama Rini mendapat giliran untuk dinas
pagi, sebagai mana biasanya pagi itu dia mengecek keadaan pasiennya. Pada saat itu ada
seorang pasien post operasi apendiksitis namanya Tn. Ando yang masih terbaring dan
ditemani oleh istrinya. Tn. Ando mengalami mengalami masalah pada luka operasinya yaitu
nyeri sekitar jahitan perutnya, Tn. Ando dan istrinya khawatir dengan keadaan tersebut
mereka takut akan terjadi infeksi yang menyebabkan penyakitnya bertambah parah.

Perawat Debora : Selamat pagi pak ! buk ! (dijawab oleh pasien dan istrinya
Pak saya perawat Rini, yang menjadi perawat bapak pada hari ini, jadi jika
bapak memerlukan saya , bapak bisa nyuruh keluarga bapak untuk memanggil saya.
Pasien : iya dek.!!
Perawat Debora : bagaimana pak, apa bapak sudah merasa baikan hari ini.?saya lihat
hari ini bapak lebih segar kayaknya sudah ada baikan ya pak..???
Pasien : Udah lumayan suster
Perawat Debora : bagus lah tu pak, saya juga lihat wajah bapak sudah cerah pagi ni..
Pasien : makasih dek. Oh ya dek, ada yang ingin bapak tanya.
Perawat Debora : oh ya silahkan pak, apa itu masalahnya??
Pasien : begini dek, rasa nya dari kemaren perut saya terasa nyeri dan perih
dek.
Perawat Debora : perih bagaimana pak?
Pasien : kadang perih nya tu sampai-sampai saya menangis dek.
Perawat Debora : ooo begitu ya pak, dibagian lukanya yang perih ya pak?
Pasien : iya dek.
Perawat Debora : ada kemungkinan bapak makan yang pedas-pedas atau makanan yang
keras ya pak ?
Pasien : maksudnya dek?
Perawat Debora : ya mungkin bapak ada makan nasi yang keras, gulai atau sambal yang
pedas sepertinya pak.
Pasien : ooo begitu ya dek.
Perawat Debora : iya pak, kemarin atau malam tadi bapak makannya pake nasi biasa
atau nasi lunak pak?
Pasien : rasa nya gak terlalu keras lah nasinya
Kemudian perawat Debora bertanya kepada istri Tn.Ando.
Perawat Debora : buk, kemaren bapak makannya pake nasi biasa atau lunak buk? Dan
sambal nya pedas gak buk?
Istri pasien : kemaren cuman dikasih makan gulai cancang dan dendeng batokok dek.cuman
nasinya nasi lunak.
Perawat Debora : betul pak, kemaren makan dendeng batokok ya..?
Pasien : iya dek, maklumlah dek,bapak sudah lama gak makan gulai cancang
sama dendeng batokok.
Perawat Debora : ooo begitu ya pak..bapak suka makan dendeng batokok ya?
Istri pasien : iya dek, bapak tu suka sekali makan dendeng batokok sama gulai
cancang.
Perawat Debora : betul tu pak?
Pasien : betul dek.
Perawat Debora : bapak, bapak boleh makan gulai cancang dan dendeng batokok, tapi
sebaiknya selagi bapak dalam masa penyembuhan bapak lebih baik tidak makan itu dulu,
karena bisa mengganggu proses penyembuhan bapak, bapak ni baru selesai dioperasi, jadi
perut bapak masih luka dan belum kering pak.
Pasien : apakah bisa muncul infeksi karena makanan itu suster ?
Perawat Debora : ada kemungkinan pak, klo bapak terus makan itu, seperti rasa nyeri
yang bapak rasakan sekarang, itu efek dari makanan yang bapak makan pak, karena
makanan itu lewat diusus bapak .
Pasien : ooo gitu ya dek,
Perawat Debora : nanti pak klo bapak merasa nyeri lagi, bapak coba pelan-pelan bapak
tarik napas agak panjang dan keluarkan kembali.. coba lakukan itu berkali-kali ya pak untuk
meringankan rasa nyerinya.
Pasien : iya dek, dek, bapak takut nanti infeksi. Sebab didekat rumah saya
kemaren pernah mengalami infeksi usus sehingga dia sampai meninggal.
Perawat Debora : nah itu makanya pak, sebelum terjadi infeksi coba bapak berhenti
dulu untuk makan makanan yang pedas dan berlemak termasuk gulai cancang dan dendeng
batokok tadi. Kalau bapak mau makan , makan saja makanan yang sudah disediakan oleh
rumah sakit ya pak.
Pasien : ooo gitu ya dek, Jadi sampai kapan saya gak bisa makan makanan
yang pedas-pedas dek?
Perawat Debora : sebaiknya sampai luka bapak benar-benar dinyatakan sembuh nanti
pak. Bapak sabar aja ya.. tetap semangat untuk cepat sembuh.
Pasien : oh ya lah klo begitu , terima kasih ya dek.
Perawat Debora : sama-sama pak.
Tak lama kemudian...
Pasien : sus..sus nyeri nya terasa lagi. Tolong saya suster
Perawat Debora : Tarik nafasnya ya pak.. keluarkan perlahan-lahan..
(Perawat menghubungi dokter segera )
Dokter : Selamat Siang, dengan saya Ebri ada yang bisa dibantu ?
Perawat Debora : Siang dok, dengan saya Debora.
Dokter : Iya ada apa sus?
Perawat Debora : Ini pasien dokter atas nama Tn. Indra, saya mau melaporkan dok
bahwa Tn. Indra merasakan nyeri berat pada bekas operasinya dikarenakan pasien
mengkonsumsi makanan pedas ketika makan malam semalam. Saya sudah menganjurkan
pasien latihan tarik nafas untuk mengurangi rasa nyerinya dan saya berikan analgesik.
Dokter : Ohh.. baiklah sus. saya akan segera ke ruangan untuk melihat kondisi
pasien.
Perawat Debora : Baik dok, kami tunggu. Selamat siang dok
Dokter : Selamat Siang.
Dokter pun tiba di ruangan...
Perawat Debora : Ini pasien kita dok. Latihan tarik nafas dan pemberian obat analgesik
sudah diberikan.
Dokter : Baiklah sus. (Dokter memeriksa keadaan pasien)
Setelah pemeriksaan...
Dokter : Nah, tolong terapi latihan tarik nafas diteruskan ya sus. Berikan juga
obat antiemetik parenteral untuk mengurangi rasa nyeri di bekas operasi bapak tersebut.
Perawat Debora : Baik dok.
Dokter : sudah ya sus, pantau terus pasien kita ya.
Perawat Debora : Iya dok.
Tak lama kemudian dokter pergi meninggalkan ruangan, atas saran dokter tersebut perawat
debora meneruskan terapi itu.
Laporan
Komunikasi SBAR adalah kerangka teknik komunikasi yang disediakan
untuk petugas kesehatan dalam menyampaikan kondisi pasien. SBAR adalah alat komunikasi
dalam melakukan identifikasi terhadap pasien sehingga mampu meningkatkan kemampuan
komunikasi antara perawat dan dokter. Dokter lebih memperhatikan karena informasi yang
ringkas, perawat bekerja lebih cepat dan mengkomunikasikan masalah dengan jelas serta
dapat memberi kesempatan menyampaikan saran kolaborasi.

Situation (S) :

Nama : Tn.I umur 42 tahun, tanggal masuk 20 Juni 2015 sudah 3 hari perawatan, DPJP : dr

Ebriani, SpPD, diagnosa medis : Post Operasi Apendisitis

Masalah keperawatan:

- Nyeri

Background (B) :

- Nyeri tetap ada selama dirawat dibagian bekas operasi

- Terpasang infuse NaCl 10 tetes/menit

- Latihan tarik nafas dalam

Assessment (A) :

- Kesadaran compos mentis

- Hasil laboratorium terbaru : Hb 9 mg/dl, albumin 15, ureum 237 mg/dl

- Pasien masih mengeluh nyeri.

Recommendation (R) :

- Bantu pasien memenuhi kebutuhan dasar pasien seperti diet yg telah ditentukan

- Anjuran dokter untuk memberikan obat antiemetik parenteral kepada pasien


Kesimpulan

Kerangka komunikasi yang efektif yang digunakan adalah komunikasi model SBAR

(Situation, Background, Assessment, Recommendation). Metode ini digunakan secara efektif

saat serah terima antara shift atau antara staf di daerah klinis yang sama atau berbeda. SBAR

juga digunakan untuk diskusi antara anggota tim kesehatan atau tim kesehatan lainnya

(perawat dokter).

Saran

Dengan komunikasi efektif diharapkan tidak terjadi kesalahan dalam pemberian asuhan

ke pasien. Komunikasi efektif dengan metode SBAR akan terbentuk catatan dokumentasi

tidak terpecah sendiri-sendiri. Sehingga disarankan dokumentasi catatan perkembangan

pasien terintegrasi dengan baik, sehingga tenaga kesehatan lain dapat mengetahui

perkembangan pasien.
DAFTAR PUSTAKA

1. Depkes RI. (2006). Panduan nasional keselamatan pasien rumah sakit (patient safety).
Jakarta: Bakti Husada.

2. Permenkes RI No 1691 (2010). Keselamatan pasien rumah sakit. Jakarta : Menteri


Kesehatan RI.

3. Materi komunikasi efektif. Diakses http://galericampuran.blogspot.com/2013/03/materi-


komunikasi-efektif.html

4. Joint Commission Accreditation of Health Organization. (2010). National patient safety


goals.

5. Rofii, Muhamad. (2013). Komunikasi efektif dengan SBAR. Disampaikan dalam


pelatihan di RSUD Tugurejo Semarang tanggal 21 November 2013.