You are on page 1of 9

Persona, Jurnal Psikologi Indonesia

Sept. 2013, Vol. 2, No. 3, hal 199 - 207

Hubungan Antara Kecerdasan Emosional Dan Konformitas


Kelompok Teman Sebaya Dengan Konsep Diri Remaja

Praditya Indrayana Fabiola Hendrati


mustikaainun@yahoo.com fhendrati@yahoo.co.id
Alumni Program Magister Psikologi Fakultas Psikologi
Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya Universitas Merdeka Malang

Abstract. This study examined the correlation between emotional intelligence and peer
group conformity to adolescent self-concept. The subjects were the students of class XI
students of SMK Taman Siswa Mojokerto. The populationwere 480 students, then 144
students were taken out as the sample of this study. The data collection of this study was
got through questionnaire. This study used multiple regression analysis to analyze the
data. This study indicated that there is a positive correlation between emotional intelligence
and peer group conformity toadolescent self-concept shown by the value of F =
76.309 with p = 0.000 (p <0.05). There is also a positive correlation between emotional
intelligence and self-concept of adolescents shown by the value of t = 9.654 withp = 0.000
(p <0.05). This study showed no positive correlation between peer group conformity with
adolescent self-concept because the value of t = 0.601 p = 0.594 (p> 0,05).
Keywords: adolescent self-concept, emotional intelligence, peer group conformity

Intisari. Penelitian ini merupakan penelitian korelasional yang meneliti hubungan antara
kecerdasan emosional dan konformitas kelompok teman sebaya dengan konsep diri remaja.
Subyek penelitian ini adalah siswa-siswi kelas XI SMK Taman Siswa Mojokerto. Populasi
dalam penelitian ini sejumlah 480 siswa, sedangkan sampel penelitian ini berjumlah 144
siswa. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan angket. Teknik analisis dalam
penelitian ini menggunakan teknik analisis regresi berganda. Hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa ada korelasi positif antara kecerdasan emosional dan konformitas
kelompok teman sebaya dengan konsep diri remaja dengan nilai F = 76,309 pada p =
0,000 (p< 0,05), ada korelasi positif antara kecerdasan emosional dengan konsep diri
remaja dengan harga t = 9,654 pada p = 0,000 (p<0,05) dan tidak ada korelasi positif antara
konformitas kelompok teman sebaya dengan konsep diri remaja dengan harga t = 0,601
pada p = 0,594 (p>0,05) .
Kata kunci : konsep diri remaja, kecerdasan emosi, konformitas kelompok teman sebaya

PENDAHULUAN Sarlito (2012) hukum di Indonesia sendiri ha-


nya mengenal anak-anak dan dewasa. Hukum
Fase remaja, sebagai salah satu diantara be-
perdata, misalnya, memberikan batasan usia 21
berapa fase pada manusia memiliki peranan
tahun (atau kurang dari itu asalkan sudah meni-
yang penting bagi seorang individu.Hal ini
kah) untuk menyatakan kedewasaan seseorang
karena fase remaja merupakan fase perantara
(pasal 330 KUH Perdata).
dimana sebelumnya individu berada pada fase
Sesuai dengan kapasitasnya sebagai seorang
anak- anak menuju ke fase dewasa.
remaja, berbagai tantangan dan permasalahan
Banyak ahli mendefinisikan tentang apa dan
muncul. Permasalahan-permasalahan ini mulai
siapa itu remaja. Secara hukum, di Indonesia
muncul ketika remaja mulai mempertanyakan
tidak mengenal konsep dan definisi remaja.
tentang dirinya sendiri. Siapa Aku?, Bagai-
Pemahaman tentang remaja justru berasal dari
mana Aku harus bersikap?, Siapakah teman-
disiplin ilmu yang lain seperti antropologi,
temanku? pertanyaan-pertanyaan ini muncul
sosiologi, paedagogi dan psikologi. Menurut

199
Hubungan Antara Kecerdasan Emosional Dan Konformitas Kelompok Teman Sebaya Dengan Konsep Diri Remaja

hingga pada permasalahan yang lebih kompleks dan akan memiliki kecenderungan untuk meng-
seperti permasalahan dengan kondisi fisik dan aktualisasikan dirinya secara positif juga.
kenakalan remaja. Pada intinya, remaja mulai Secara alami konsep diri seseorang dipenga-
mengenal dirinya sendiri, kondisi fisiknya dan ruhi oleh dua faktor, intern atau faktor yang
lingkungan sosialnya. berasal dari dalam diri remaja tersebut.Dan
Pada perkembangannya, remaja dituntut se- yang kedua adalah faktor ekstern atau faktor
cara perlahan untuk mengembangkan kedewa- yang berasal dari luar diri remaja itu.Faktor
saan. Secara psikologis, kedewasaan diartikan intern yang paling menonjol dalam pembentu-
sebagai suatu keadaan dimana sudah ada cirri- kan konsep diri remaja adalah kecerdasan emo-
ciri psikologis tertentu pada seseorang. Alport sional. Menurut Goleman (2002), kecerdasan
(dalam Sarlito, 2012) menyebutkan bahwa ter- emosional adalah kemampuan seseorang me-
dapat beberapa ciri dari kedewasaan, yaitu : 1) ngatur kehidupan emosinya dengan inteligensi
Pemekaran diri sendiri (extension of the self), 2) (to manage ouremotional life with intelligence);
Kemampuan untuk melihat diri sendiri secara menjaga keselarasan emosi dan pengungkapan-
obyektif (self objectivication) dan 3) Memiliki nya (the appropriateness of emotion and its
falsafah hidup tertentu (unifying philosophy of expression) melalui keterampilan kesadaran
life). diri, pengendalian diri, motivasi diri, empati dan
Kedewasaan yang dialami oleh seorang re- keterampilan sosial.
maja akan sangat tergantung dari konsep diri Seorang remaja yang memiliki sikap dan
yang dia bangun dengan adanya intervensi dari perilaku positif tentunya merupakan remaja
lingkungan sekitar. Keluarga, saudara, teman yang memiliki kemampuan dalam pengendalian
sebaya, tingkat emosional, intelejensi dan kon- diri yang baik, mampu menunjukkan perasaan-
disi alam sekitar telah memberikan andil yang nya dengan baik, apakah itu senang, sedih, ma-
besar didalam pembentukan konsep diri seorang rah, menangis sesuai dengan tempat dan waktu
remaja. yang tepat. Remaja tersebut dapat dikatakan
Konsep diri yang baik dapat ditunjukkan de- sebagai remaja yang memiliki kecerdasan emo-
ngan proses penerimaan terhadap diri sendiri sional yang tinggi.
secara baik, mampu memandang orang lain dari Remaja dengan berbagai permasalahannya,
sudut yang positif dan mampu berpikiran positif entah itu terkait dengan kesulitannya terhadap
tentang bagaimana cara orang tersebut meman- penampilannya, bentuk tubuhnya, permasalahan
dang dirinya. dengan hubungan persahabatannya, perkelahian
Banyak kasus terkait dengan konsep diri atau permasalahan dengan keinginannya belajar
remaja. Remaja-remaja yang sering mengalami adalah sangat dipengaruhi oleh kemampuannya
pelecehan baik secara verbal maupun secara dalam mengelola emosi.Ada satu istilah dalam
fisik yang dilakukan oleh teman-temannya atau menggambarkan remaja, yaitu masa muda,
lingkungan masyarakatnya akan cenderung me- masa yang berapi-api.Istilah tersebut muncul
ngembangkan bentuk konsep diri yang negatif. oleh karena pada masa remaja, fluktuasi emosi
Hal ini akan ia tampilkan dalam bentuk perilaku yang dialami oleh mereka sangatlah tinggi.
takut, minder atau selalu berpikiran negatif Sementara itu, faktor ekstern dalam pemben-
kepada orang lain. biasanya, remaja-remaja tukan konsep diri pada remaja adalah konfor-
yang mengalami kondisi ini banyak dikarena- mitas kelompok teman sebaya.Tak bisa dipung-
kan kondisi fisiknya yang kurang proporsional kiri bahwa pada masa remaja pengaruh teman
seperti terlalu kurus atau gemuk, kondisi wajah sebaya sangat tinggi apabila dibandingkan pada
yang berjerawat atau kemampuan akademisnya saat fase anak-anak sedang terjadi, dimana
yang rendah. pengaruh keluargalah yang mendominasi.Pada
Namun sebaliknya, remaja-remaja yang da- fase remaja, konformitas dapat dianggap seba-
lam kehidupannya banyak dipenuhi oleh pujian gai suatu eksistensi dalam pergaulan, Sekalipun
maupun dukungan dari orang-orang di sekitar- perilaku yang diciptakan dari kelompok tersebut
nya, justru akan mengembangkan sikap positif merupakan perilaku yang negatif. Banyak rema-
ja laki-laki merasa tidak menyukai bermain

200
Praditya Indrayana dan Fabiola Hendrati

band, namun oleh karena tuntutan pergaulan di- sangat berperan dalam pembentukan citra posi-
antara mereka yang terus menerus membicara- tif kelompok itu sendiri, dengan konsep diri
kan tentang aliran musik tertentu atau lagu yang matang, maka seorang remaja akan mam-
tertentu mau tak mau memaksa remaja untuk pu menciptakan tren positif diantara mereka
mengikuti pola tersebut hanya demi alasan sendiri.
eksistensi dan agar tidak tersingkir dari pergau-
lan. Konsep Diri Remaja
Berdasarkan uraian di atas, bisa diambil be- Konsep diri pada seorang remaja didefinisi-
berapa kseimpulan disini. Yang pertama adalah kan sebagai suatu perilaku yang dilakukan oleh
perilaku yang ditampilkan remaja menunjukkan seorang remaja untuk menunjukkan tentang sia-
seberapa baik konsep diri yang ia miliki. Hal ini pa dirinya baik secara fisik, psikis, sosial dan
karena konsep diri yang baik dapat terlihat dari prestasi. Konsep diri yang positif diperlihatkan
eksistensi dan perilaku yang positif, mengun- dalam bentuk penerimaan terhadap kondisi fisik
tungkan untuk masa depannya dan dapat diteri- yang ada baik pembentukan persepsi oleh diri-
ma oleh lingkungan masyarakatnya. nya sendiri maupun penerimaan oleh persepsi
Yang kedua adalah dalam rangka pembentu- orang lain, kemampuan mengelola emosi yang
kan konsep diri yang baik, pengelolaan emosi tinggi dalam berperilaku atau dalam mengha-
sangat diperlukan agar remaja mampu menun- dapi persoalan-persoalannya, kemampuan da-
jukkan perasaannya secara tepat. Remaja yang lam menjalin hubungan yang baik dengan orang
mampu mengelola emosi dengan baik dapat lain yang lebih muda, lebih tua atau dengan
dikatakan sebagai remaja yang memiliki kecer- teman-teman sebayanya dan kemampuan yang
dasan emosional yang tinggi. tinggi dalam mengaktualisasikan diri untuk
Yang ketiga adalah kelompok teman sebaya berkompetisi dan menunjukkan prestasinya.
diantara remaja tersebut mampu menciptakan Hurlock (1993) menyebutkan bahwa konsep
suatu konformitas positif maupun negatif. Kon- diri merupakan kesan (image) individu menge-
formitas kelompok teman sebaya yang bersifat nai karakteristik dirinya, yang mencakup karak-
positif adalah perilaku yang dilakukan oleh teristik fisik, sosial, emosional, aspirasi dan
sekelompok remaja yang mengarah pada hal-hal achievement. Konsep diri ini merupakan gabu-
yang positif dan menguntungkan bagi perkem- ngan dari keyakinan yang dimiliki individu ten-
bangan psikologisnya kelak. Sebaliknya konfor- tang mereka sendiri yang meliputi karakteristik
mitas negatif berarti sebaliknya, mampu men- fisik, psikologis, sosial, emosional, aspirasi dan
ciptakan perilaku-perilaku yang tidak mengun- prestasi.
tungkan bagi mereka, seperti perkelahian rema-
ja, tawuran atau pun perilaku dalam meng-
Kecerdasan Emosional
konsumsi rokok dan minuman keras.
Kesimpulan terakhir adalah dengan kecer- Kecerdasan emosional adalah suatu kemam-
dasan emosional yang tepat dan konformitas puan yang dimiliki remaja dalam usahanya
kelompok teman sebaya yang positif, akan untuk mengelola dan menunjukkan emosinya
membentuk konsep diri remaja menjadi lebih secara tepat sesuai dengan situasi dan kondisi
matang. Hal ini karena untuk menuju konsep yang sedang Ia alami. Remaja yang cenderung
diri yang matang diperlukan pengetahuan temperamen atau justru tidak mampu menun-
mengenai diri sendiri secara baik, bagaimana jukkan emosinya secara tepat bisa disebut seba-
emosinya ketika menghadapi masalah, bagai- gai remaja yang memiliki kecerdasan emosional
mana ia mengatur mood atau perasaannya untuk yang rendah. Namun sebaliknya, remaja yang
melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesua- mampu mengatur, menggunakan dan mengak-
tu, bagaimana ia merespon apa yang orang lain tualisasikan emosinya secara tepat dapat disebut
lakukan dan bagaimana ia menilai suatu kondisi sebagai remaja dengan kecerdasan emosional
yang sedang dialami orang lain. yang tinggi.
Sedangkan konsep diri yang ada di dalam Aspek kecerdasan emosional menurut Gole-
konformitas kelompok teman sebaya akan man (dalam Salovey, 2002) adalah mengenali

201
Hubungan Antara Kecerdasan Emosional Dan Konformitas Kelompok Teman Sebaya Dengan Konsep Diri Remaja

emosi diri, mengelola emosi, memotivasi diri untuk variabel kecerdasan emosional (X1). Hal
sendiri, mengenali emosi orang lain dan membi- ini menunjukkan bahwa variabel kecerdasan
na hubungan dengan orang lain. emosional sebarannya mendekati normal.
Uji normalitas sebaran terhadap variabel
Konformitas Kelompok Teman Sebaya konformitas kelompok teman sebaya (X2) di-
Konformitas kelompok teman sebaya dapat peroleh koefisien Z Kolmogorov-Smirnov sebe-
didefinisikan sebagai suatu perilaku yang terjadi sar 1,042 dengan taraf signifikansi p= 0,227 (
apabila individu mengadopsi sikap atau perilaku p> 0,05). Hal ini menunjukkan bahwa pada
orang lain karena merasa didesak oleh orang variabel konformitas kelompok teman sebaya
lain (baik desakan nyata atau hanya bayangan sebarannya normal.
Sedangkan uji normalitas sebaran terhadap
saja). Sears (1991) menyatakan bahwa konfor-
variabel konsep diri remaja diperoleh harga
mitas terjadi apabila seseorang menampilkan
perilaku disebabkan oleh karena orang lain me- koefisien Z Kolmogorov-Smirnov sebesar 1,094
nampilkan perilaku tersebut. Jadi, semakin sese- dengan taraf signifikansi p= 0,183 (p > 0,05).
orang itu berperilaku sama seperti kelompok- Hal ini menunjukkan bahwa variabel konsep
nya, maka tingkat konformitasnya semakin diri remaja sebarannya normal.
Uji Linieritas digunakan untuk mengetahui
tinggi. Dan sebaliknya, apabila seseorang sema-
kin tidak sama perilakunya dengan kelompok- apakah hubungan variabel terikat dengan varia-
nya, maka orang tersebut akan dianggap memi- bel bebas berupa garis lurus yang linier atau
tidak.
liki konformitas kelompok yang rendah.
Hasil uji asumsi linieritas antara variabel
kecerdasan emosional dengan variabel konsep
METODE
diri remaja (X1Y) menunjukkan harga koefi-
Dalam penelitian ini, peneliti mempergunaan sien F = 94,763 pada p = 0,000 (p<0,01). Hal
teknik analisis regresi berganda.namun sebelum ini menunjukkan bahwa antara variabel kecer-
dilakukan analisa regresi, dilakukan uji asumsi dasan emosional dengan konsep diri remaja
terlebih dahulu yang meliputi Uji normalitas telah memenuhi kaidah linieritas.
bertujuan untuk melihat normal atau tidaknya Sedangkan pada uji asumsi linieritas antara
distribusi sebaran jawaban subjek pada suatu variabel konformitas kelompok teman sebaya
variabel yang dianalisis. Distribusi sebaran dengan variabel konsep diri remaja (X2Y)
yang normal menyatakan bahwa subjek pene- menunjukkan harga koefisien F = 0,903 pada p
litian dapat mewakili populasi yang ada, seba- = 0,344 (p>0,01). Hal ini menunjukkan bahwa
liknya apabila sebaran tidak normal maka dapat antara variabel konformitas kelompok teman
disimpulkan bahwa subjek tidak representatif sebaya dengan konsep diri remaja tidak meme-
sehingga tidak dapat mewakili populasi. Uji nuhi kaidah linieritas.
normalitas sebaran pada penelitian ini menggu- Uji Kolinieritas dipergunakan untuk menge-
nakan teknik analisis One Sample Kolmogorov tahui ada tidaknya penyimpangan asumsi klasik
Smirnov Test, yang digunakan untuk memban- kolinieritas atau hubungan linier antara variabel
dingkan frekuensi harapan dan frekuensi ama- bebas dalam model regresi.Tolok ukur yang
tan, apabila ada perbedaan antara frekuensi dipakai adalah harga VIF<2. Hasil analisa pene-
harapan dan frekuensi amatan dengan taraf sig- litian menunjukkan harga VIF sebesar 1,004
nifikansi 5% (p<0,05) maka distribusi sebaran pada variabel kecerdasan emosional (X1) dan
dinyatakan tidak normal, sebaliknya apabila pada variabel konformitas kelompok teman se-
(p>0,05) maka distribusi sebaran dinyatakan baya (X2).Oleh karena itu dapat disimpulkan
normal. bahwa antara variabel X1 dan X2 tidak terjadi
Pada penelitian ini uji normalitas sebaran kolinieritas.
dilakukan terhadap ketiga variabel penelitian. Uji Multikolinieritas menunjukkan harga
Adapun hasil uji normalitas sebaran adalah koefisien Durbin-Watson sebesar 2,104 sehi-
koefisien Z Kolmogorov-Smirnov sebesar 1,392 ngga disimpulkan memenuhi kaidah Multikoli-
dengan taraf signifikansi p = 0,042 ( p< 0,05) nearitas.

202
Praditya Indrayana dan Fabiola Hendrati

HASIL emosional memberikan pengaruh sebesar 39,6%


terhadap konsep diri remaja.
Berdasarkan olah statistik dengan menggu- Masih melalui perhitungan manual berdasar-
nakan analisa regresi, didapatkan hasil berupa kan hasil olah data sumbangan efektif kese-
harga koefisien F = 76,309 pada p = 0,000 (p< luruhan sebesar 40,2 %, didapatkan bahwa
0,05). Artinya bahwa secara bersama sama Rparsial variabel konformitas kelompok teman
variabel kecerdasan emosional (X1) dan kon- sebaya (X2) sebesar 0,006. hal ini menunjukkan
formitas kelompok teman sebaya (X2) berko- bahwa variabel konformitas kelompok teman
relasi dengan variabel konsep diri (Y). dengan sebaya memberikan pengaruh sebesar 0,6%
demikian hipotesa penelitian yang berbunyi ada terhadap konsep diri remaja.
korelasi positif antara kecerdasan emosioanl
dan konformitas kelompok teman sebaya, di- PEMBAHASAN
terima.
Secara parsial, hasil perhitungan statistik Diterimanya hipotesa pertama yang berbunyi
menunjukkan harga t = 9,654 pada p = 0,000 ada korelasi positif antara kecerdasan emosional
(p,0,05) untuk korelasi antara variabel kecer- dengan konsep diri remaja menunjukkan bahwa
dasan emosional (X1) dengan konsep diri (Y), semakin tinggi kecerdasan emosional yang
dan harga t = 0,601 pada p = 0,594 (p>0,05) dimiliki oleh remaja, maka semakin baik pula
untuk korelasi antara konformitas kelompok konsep diri yang ia bangun terhadap dirinya.
teman sebaya (X2) dengan konsep diri (Y). Hal Hal ini tentu sangat mendukung pendapat dari
ini dapat diartikan bahwa secara parsial variabel Hurlock (1990) dimana ia memberikan penger-
kecerdasan emosional berkorelasi secara signi- tian bahwa konsep diri adalah kesan (image)
fikan dengan konsep diri remaja, akan tetapi individu mengenai karakteristik dirinya berupa
variabel konformitas kelompok teman sebaya karakteristik fisik, sosial, emosional, aspirasi
tidak berkorelasi positif dengan konsep diri dan penghargaan (achievement).
remaja. Sehingga dapat disimpulkan bahwa hi- Seorang remaja yang mampu mengenal diri
potesa yang berbunyi ada korelasi positif antara pribadinya secara baik diwujudkan dalam wu-
kecerdasan emosional dengan konsep diri rema- jud pengetahuannya akan emosi pribadinya
ja, diterima.Sedangkan hipotesa yang berbunyi yang menjadi dasar dari adanya kecerdasan
ada korelasi positif antara konformitas kelom- emosi. Karakter emosional ini akan membentuk
pok teman sebaya dengan konsep diri remaja, kesadaran pribadi akan emosinya sendiri. Ke-
ditolak. mampuan seorang remaja dalam mengelola
Persamaan garis regresi yang dibentuk yaitu: emosi digambarkan dalam bentuk pengendalian
Y = X00 + X11 + X22 berdasarkan olah dalam mengungkapkan atau menyembunyikan
statistik dengan harga koefisien 0 = 76,309 kondisi emosinya sehingga seorang remaja akan
pada SD = 6,647 ; 1 = 0,630 dan 2 = 0,039. tampil selaras dan seimbang kualitas psikologis-
Harga sumbangan efektif kedua variabel X nya. Sementara itu, aspek kecerdasan emosi
terhadap Y ditunjukkan dari harga R2= 0,402 berupa kemampuan untuk memotivasi diri sa-
yang berarti variabel Kecerdasan Emosional ngat terkait dengan penanaman semangat yang
dan Konformitas Kelompok Teman Sebaya se- seorang remaja lakukan.
cara bersama-sama memberikan pengaruh sebe- Kemampuan seorang remaja dalam menge-
sar 40,2% terhadap Konsep Diri. Sehingga ada nali emosi orang lain juga berpengaruh terhadap
59,8% variabel lain yang memberi pengaruh konsep diri remaja. Hal ini terjadi karena
terhadap Konsep Diri selain kedua variabel X pembentukan sensitivitas terhadap diri seorang
yang diteliti. remaja sedang berlangsung. Selama masa
Dari perhitungan manual berdasarkan hasil kanak-kanak, remaja belajar bagaimana merasa-
olah data sumbangan efektif keseluruhan sebe- kan emosi orang lain. dalam lingkungan yang
sar 40,2 %, didapatkan bahwa Rparsial variabel kecil, anak-anak diajarkan merasakan emosi
kecerdasan emosional (X1) sebesar 0,396. hal maupun ekspresi emosi orang tuanya dan
ini menunjukkan bahwa variabel kecerdasan anggota keluarga yang lain. sedang salam

203
Hubungan Antara Kecerdasan Emosional Dan Konformitas Kelompok Teman Sebaya Dengan Konsep Diri Remaja

lingkup yang lebih luas, anak-anak mulai mera- Faktor yang pertama adalah penelitian ini
sakan emosi yang ditampilkan gurunya, ling- dilakukan pada kalangan siswa SMK berbasis
kungan keluarga besarnya dan teman-teman jurusan teknik. Siswa-siswa pada jurusan teknik
sebayanya. Pada saat remaja, mereka belajar sangat dituntut akan kreativitasnya dimana
untuk merasakan ekspresi emosi dari orang- kreativitas masing-masing siswa akan berkem-
orang di sekelilingnya secara lebih kuat, proses bang berbeda sesuai prosesnya. Masing-masing
ini pada akhirnya membangun sensitivitas emo- siswa dituntut untuk menampilkan kreativitas
sional remaja menjadi lebih kuat dan matang. pribadinya yang diungkapkan dalam bentuk
Yang terakhir, proses pembentukan konsep materi pelajaran di sekolah. Terkait dengan tun-
diri remaja apabila dipandang dari sudut pan- tutan kreativitas pribadi tersebut, secara psiko-
dang kecerdasan emosional remaja adalah keti- logis siswa-siswa SMK teknik ini akan lebih
ka seorang remaja mampu membina hubungan banyak melakukan proses berpikir sendiri-
baik dengan orang lain. Goleman (2012) me- sendiri dan cenderung menomor duakan kesa-
nyebutkan bahwa kemampuan dalam membina tuan dalam berkelompok atau konformitas
hubungan baik dengan orang lain ini merupakan kelompok yang sudah mereka bentuk. Proses
sebuah keterampilan yang berguna untuk me- berpikir sendiri-sendiri ini pada akhirnya mem-
nunjang eksistensi pribadi, popularitas, kepe- berikan satu sumbangan khususnya ketika para
mimpinan dan keberhasilan antar pribadi. Seba- siswa remaja ini mengambil keputusan. Ketika
gai dasar dari terjalinnya sebuah hubungan yang mereka mengambil keputusan, mereka menge-
baik dengan orang lain adalah kemampuan dan sampingkan pendapat kelompok.
keterampilan dalam menjalin komunikasi. Ma- Faktor yang kedua, oleh karena mayoritas
sih menurut Goleman (2012), orang-orang da- dari siswa SMK Taman Siswa Mojokerto ini
pat menjadi popular dalam lingkungannya dan berjenis kelamin laki-laki, proses ketika mela-
akan menjadi teman yang menyenangkan ketika kukan pengisian skala penelitian ini asal
mereka mampu untuk berkomunikasi dengan asalan atau tidak bersungguh-sungguh. Hal ini
baik. Salovey (2002) bahkan mengemukakan boleh jadi memberikan sumbangsih besar ter-
pendapatnya bahwa sejauh mana kepribadian hadap nilai atau prosentase sumbangan efektif
siswa berkembang dapat dilihat dari banyaknya variabel konformitas kelompok teman sebaya
hubungan interpersonal yang dilakukannya. terhadap variabel konsep diri remaja yang ha-
Pengaruh kecerdasan emosional terhadap nya bernilai 0,6% saja.
konsep diri remaja sangat tinggi. Hal ini Ditolaknya hipotesa kedua ini pada akhirnya
terbukti dengan tingginya sumbangan efektif mematahkan konsep dan teori Sears (1991) di-
parsial yang diberikan oleh variabel kecerdasan mana seorang remaja dalam melakukan konfor-
emosional terhadap konsep diri remaja sebesar mitasnya melakukan kekompakan, kesepakatan
39,6%. Ini menunjukkan bahwa kecerdasan dan ketaatan.
emosional sangat berperan penting dalam Kekompakan yang terjadi dalam kelompok
terciptanya kematangan konsep diri yang se- teman sebaya memang menyatakan kesatuan,
dang dibentuk di usianya, dimana konsep diri kelekatan, kesetiaan dan kebersamaan antar
yang dimaksud disini adalah konsep diri yang anggota kelompok.akan tetapi hal ini juga
positif. menyatakan ketidak percayaan diri seorang
Ditolaknya hipotesa kedua yang berbunyi remaja untuk tampil sebagai pribadi individual,
ada korelasi positif antara konformitas kelom- bukan sebagai pribadi yang memiliki dukungan
pok teman sebaya dengan konsep diri remaja kelompoknya.
menunjukkan bahwa konformitas kelompok Aspek kedua yang dikemukakan oleh Sears
teman sebaya justru kurang memberikan andil (1991) adalah kesepakatan, dimana terdiri dari
terhadap pembentukan psikologis remaja khu- indikator kepercayaan terhadap kelompok, per-
susnya dalam hal pembentukan konsep diri. samaan pendapat dan penyimpangan terhadap
Adapun beberapa faktor yang menyebabkan pendapat kelompok. sesuai dengan aspek yang
ditolaknya hipotesa kedua ini. kedua ini, ditolaknya hipotesa kedua tersebut
dapat dikarenakan oleh keberanian dan kemam-

204
Praditya Indrayana dan Fabiola Hendrati

puan masing-masing individu yang berbeda dan Konsep diri positif pada dasarnya dibentuk
tidak mau bersepakat. Siswa-siswa memiliki oleh faktor intern (dalam) individu dan faktor
kecenderungan lebih logis dalam berpikir, tidak extern (luar) yaitu oleh lingkungan tempat dia
mau ikut-ikutan saja untuk melakukan sesuatu hidup. Seperti penyataan yang dikemukaan oleh
akan tetapi mereka telah mampu untuk mem- Hurlock (1993) bahwa konsep diri dapat dilihat
pertimbangkan apakah suatu aktivitas yang dari penampilan fisiknya, kesesuaian dengan
akan mereka kerjakan dengan kelompoknya jenis kelaminnya, arti penting tubuhnya dalam
tersebut adalah aktivitas positif untuk dirinya hubungannya dengan perilaku yang ia jalani,
atau tidak. Adanya pendapat dalam kelompok- pengenalan dirinya terhadap kemampuan dan
nya tersebut boleh jadi hanya sebagai bahan ketidak mampuan, harga diri dan kemampuan
pertimbangan untuk melakukan pengambilan dalam menjalin hubungan dengan orang lain.
keputusan pribadinya itu. Pada akhirnya pe- Konsep dalam berpenampilan seorang indi-
nyimpangan terhadap pendapat kelompok se- vidu merupakan gambaran kecerdasan emosio-
makin besar. nalnya dan merupakan perwujudan kemampu-
Pada aspek ketaatan sebagai aspek ketiga annya dalam bergaul dengan sesamanya. Se-
dengan indikator harapan orang lain dan teka- orang individu yang berpenampilan mewah
nan karena ganjaran, ancaman dan hukuman dapat dikatakan tidak memiliki kecerdasan
justru memberikan dampak kepada siswa untuk dalam mempersiapkan penampilannya ketika ia
tidak melakukan konformitas dengan kelom- menampilkan di hadapan kelompok teman
poknya. Adanya tekanan maupun ancaman sebaya yang berpenampilan sangat sederhana.
yang semakin tinggi justru semakin menjauhkan Hal in tentunya akan mengganggu hubungannya
remaja dengan kondisi untuk berkonformitas untuk berkonformitas dengan kelompoknya.
dengan kelompok teman sebayanya.Hal ini Begitu juga konsep dalam memandang jenis
terjadi karena adanya tekanan, ancaman dan kelaminnya sendiri, apakah seorang remaja
ganjaran atas perilaku yang dilakukan oleh menikmati dan merasa nyaman dengan kondisi
seorang anggota kelompok justru memberikan jenis kelaminnya saat ini, ataukah justru menga-
ketakutan dan ketidaknyamanan dalam menya- lami ketidak nyamanan dengan jenis kelamin-
lurkan pendapat ataupun ide-idenya. Ketidak- nya sehingga ia perlu merubah penampilannya
nyamanan dalam berkonformitas ini diwujud- seperti penampilan lawan jenisnya. bukti nyata
kan dalam bentuk keluarnya seorang remaja ketidak nyamanan fisik terkait dengan jenis
dari keanggotaan kelompok tersebut dan ber- kelamin adalah adanya remaja laki-laki yang
pindah untuk mencari kelompok lainnya yang tampil kemayu atau remaja perempuan yang
mampu memfasilitasi ide dan pendapatnya. tampil tomboi seperti remaja laki-laki. Remaja-
Adapun faktor lain dari ditolaknya hipotesa remaja dengan perilaku seperti ini tentunya
kedua ini adalah karena jumlah item penelitian akan sangat berkonformitas dengan rekan-rekan
pada skala konformitas kelompok teman sebaya sebayanya yang dalam hal ini mayoritas rekan
ini tidak mampu mewakili dari seluruh indi- sebayanya berpenampilan dan berperilaku se-
kator yang ada. suai dengan jenis kelaminnya.
Diterimanya hipotesa ketiga yang berbunyi Berikutnya adalah anggapan remaja tentang
ada korelasi positif antara kecerdasan emosional dirinya sendiri terkait dengan arti penting
dan konformitas kelompok teman sebaya tubuhnya sangat erat kaitannya dengan kepua-
dengan konsep diri remaja menunjukkan bahwa san dan kemampuan seorang remaja dalam
kecerdasan emosional yang dimiliki oleh se- mensyukuri kondisi tubuhnya. Kecerdasan emo-
orang remaja dan kemampuan remaja dalam sional remaja untuk mau dan mampu memiliki
berkonformitas dengan teman sebayanya men- rasa puas biasanya diwujudkan dalam bentuk
dukung kualitas konsep diri remaja. Bahwa keinginan dan aktiviitas untuk menjaga dan
semakin matang konsep diri seorang remaja dan merawat penampilan diri. Remaja-remaja pe-
semakin tinggi kemampuan remaja dalam ber- rempuan yang memiliki tubuh overweight atau
konformitas maka semakin tinggi pula konsep gemuk cenderung mengalami kesulitan untuk
diri positif yang dibentuk remaja. membina hubungan dengan orang lain menyatu

205
Hubungan Antara Kecerdasan Emosional Dan Konformitas Kelompok Teman Sebaya Dengan Konsep Diri Remaja

dengan kelompoknya. Hal ini karena remaja 2. Bagi para orang tua diharapkan untuk mam-
seperti ini mengalami krisis percaya diri oleh pu membekali putera-puterinya tidak sekedar
karena tubuhnya yang tidak seindah teman- dengan akademis atau pendidikan keagama-
teman perempuannya yang lain. an saja, akan tetapi diperlukan juga pendi-
Sementara itu dari sisi psikologis, konsep dikan berperilaku dan tentang cara-cara pe-
diri dibangun dengan pengetahuan individu ngambilan keputusan yang baik agar mereka
tentang kemampuan dan ketidak mampuannya nanti siap menjadi orang dewasa dengan
terhadap diri sendiri. Dengan mengetahui ten- konsep diri yang positif. Hal ini sangat
tang kelebihan dan kekurangan dirinya ini, penting agar dalam proses menuju tahap
seorang remaja akan mampu membangun per- kedewasaan, kebimbangan dalam memilih
caya diri dan menunjukkan kemampuannya atau menentukan teman yang dialami para
kepada rekan-rekan sebayanya. Ada suatu pera- remaja itu dapat diminimalisir. Selain itu
turan tidak tertulis di kalangan kelompok teman peneliti berharap agar para orang tua mau
sebaya yaitu siapa yang paling bisa, dia yang untuk meluangkan waktu untuk berkomuni-
berkuasa atau dalam hal ini menjadi ketua dari kasi dengan puetra-puterinya minimal sehari
kelompok tersebut. Dengan memiliki kemam- sekali untuk bertanya tentang kehidupan ma-
puan tertentu, seorang remaja akan mampu sa remajanya, baik itu tentang sekolahnya
untuk membina hubungan dengan orang lain. ia maupun tentang pergaulannya.
juga tidak akan banyak mengalami kesulitan 3. Saran bagi para pendidik adalah sebagai
ketika harus berkonformitas dengan rekan seorang pendidik biasanya akan dijadikan
sebayanya, hal ini karena mayoritas keputusan sebagai patokan, tolok ukur atau seseorang
yang diambil berasal dari pandangan remaja yang selalu dicontoh oleh para siswanya.
yang memiliki banyak ide. Hasil dari perhi- Oleh sebab itu, diharapkan para pendidik
tungan statistik menunjukkan bahwa kecerdasan untuk selalu memberikan contoh yang positif
emosional dan konformitas kelompok teman tentang bagaimana bertingkah laku baik.
sebaya berpengaruh cukup besar yaitu sebesar Dengan begitu siswa-siswa dapat menjadi
40,2%. Hal ini tentu menunjukkan bahwa sum- positif segala pemikirannya dan pada akhir-
bangsih kedua variabel bebas tersebut cukup nya mampu mendukung pembentukan kon-
besar dalam membentuk konsep diri remaja. sep diri yang positif.
Saran bagi peneliti selanjutnya adalah me-
KESIMPULAN ngingat banyak sekali faktor yang turut ber-
pengaruh pada penelitian ini, diharapkan pene-
a. Ada korelasi positif antara kecerdasan emosi- liti selanjutnya dapat meminimalisir factor-
onal dan konformitas kelompok teman seba- faktor yang dapat mengurangi kualitas dari
ya dengan konsep diri remaja (0,000 < 0,05). penelitian tersebut. Peneliti juga berharap agar
b. Ada korelasi positif antara kecerdasan emosi- pada penelitian selanjutnya dapat dilakukan di
onal dengan konsep diri remaja (0,000 < kota-kota lain selain Mojokerto dengan kondisi
0,05). subyek penelitian yang lebih heterogen.
c. Tidak ada korelasi positif antara konformitas Diharapkan pada penelitian selanjutnya hasil-
kelompok teman sebaya dengan konsep diri hasil yang ditemukan dapat lebih baik dari hasil
remaja (0,594 > 0,05). yang peneliti saat ini dapatkan.

SARAN DAFTAR PUSTAKA


1. Bagi para siswa diharapkan untuk dapat Azwar, S. 2012. Metode Penelitian. Yogyakar-
memilih aktivitas yang positif dalam pergau- ta: Pustaka Pelajar.
lan. Peneliti berharap agar para siswa selalu
mengkomunikasikan setiap permasalahan __2008. Penyusunan Skala Psikologi. Yogya-
karta : Pustaka Pelajar.
yang sedang dihadapi kepada orang tua atau
guru pembimbing (BK) di sekolah.

206
Praditya Indrayana dan Fabiola Hendrati

Berzonsky, Michael D., Adams, Gerard R. Rakhmat, Jalaludin. 2005. Psikologi Komuni-
Blackwell Handbook of Adolence. San Fran- kasi, edisi revisi. Bandung: Remaja Ros-
cisco : Blackwell Publishing. dakarya.
Burns, 1993. Pengertian Konsep Diri. http:// Rini, 2002. Konsep Diri. http://www.e-psiko
belajarpsikologi.com/pengertian-konsep diri/. logi.com/dewa.160502.htm. diunduh tanggal
diunduh tanggal 25 Maret 2013, pukul 01.00 25 maret 2013, pukul 01.15 WIB.
WIB. Salovey, P., & Mayer, J.D. 1990. Emotional
Centi, Paul J. 1993. Mengapa Rendah Diri?. Intelligence. Imagination < Cognition and
Yogyakarta : Kanisius. Personality.Connecticut: Yale University.
Goleman, Daniel. 2002. Kecerdasan Emosional. Sarason, S.B. 1972. The Creations of Settings
Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama. and The Future Societies. San Francisco:
Jossey Bass.
Hadi, Sutrisno. 2000. Manual SPS Paet MIDI.
Yogyakarta : UGM. Sarwono, S. W. 2012. Psikologi Remaja. Jakar-
ta: Rajawali Pers.
Hein, Steve. 1999. Emotional Intelligence. UK
University. Setiawan, Sandy. 2005. Perilaku Organisasi.
Jakarta : Salemba Empat.
Hurlock, E.B. 1996. Psikologi Perkembangan
Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehi- Sears, D., Freedman, J., Peplau, L. 1994. Psiko-
dupan. Jakarta : Erlangga. logi Sosial.Jakarta : Erlangga.
Mangkunegara, Anwar P. 2005. Sumber Daya Shavelson, B.J., & Roger, B. 1982. Self Con-
Manusia Perusahaan. Bandung: Remaja Ros- cept: The Interplay of Theory Methods.
dakarya. Journal of Educational Psychology, 72, 1, 3
17.
Mulyana, Deddy. 2000. Ilmu Komunikasi:
Suatu Pengantar. Bandung: Remaja Rosda- Sheppard, Jon M. 1977. Study Guide to Accom-
karya. pany Socyology. Fifth Edition. New York :
West Publishing Company.
Partosuwido, S., R. 1992. Penyesuaian Diri
Mahasiswa dalam Kaitannya dengan Konsep Stuart, G. W., Sundeen, S.J. 1998. Buku Saku
Diri, Pusat Kendali dan Status Perguruan Keperawatan Jiwa. Jakarta : EGC.
Tinggi. Yogyakarta: Fakultas Psikologi Uni-
versitas Gadjah Mada.

207