You are on page 1of 14

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN

PASIEN DENGAN DEGLOVING

Untuk Memenuhi Tugas individu Pendidikan Profesi Ners Departemen Surgical


di Ruang 21 RSSA Malang

Disusun Oleh
Priskila Prasetyaningrum
150070300011042

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN


UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2016
HALAMAN PENGESAHAN
LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN
PASIEN DENGAN DEGLOVING

Untuk Memenuhi Tugas individu Pendidikan Profesi Ners Departemen Surgical


di Ruang 21 RSSA Malang

Oleh :
Priskila Prasetyaningrum
150070300011042

Telah diperiksa kelengkapannya pada :


Hari :
Tanggal :
Dan dinyatakan memenuhi kompetensi

Perseptor Akademik, Perseptor Klinik,

( ) ( )
NIP. NIP.

Kepala Ruangan,

( )
NIP.
1. Definisi Degloving
Degloving merupakan gangguan pada kulit sedikit sampai luas dengan variasi
kedalaman jaringan yang disebabkan trauma ditandai dengan rusaknya struktur yang
menghubungkan kulit dengan jaringan dibawahnya, kadang masih ada kulit yang melekat
dan ada juga bagian yang terpisah dari jaringan dibawahnya. Degloving dapat juga
berhubungan dengan permukaan pada jaringan lunak, tulang, persarafan ataupun vaskuler.
Jika trauma menyebabkan kehilangan aliran darah pada kulit, maka dapat terjadi nekrosis.
Trauma degloving ini seringkali membutuhkan debridement untuk menghilangkan jaringan
yang nekrosis. Trauma degloving dalam jumlah besar disertai dengan jaringan yang lebih
profunda menyebabkan jaringan terkelupas atau berupa sayatan.
Degloving paling sering terjadi pada daerah lengan maupun tungkai. Hal ini biasanya
disebabkan oleh trauma mekanis, biasanya oleh karena trauma pada kendaraan bermotor,
trauma akibat kipas angin. Namun juga bisa akibat trauma tumpul.

2. Anatomi Kulit
Kulit merupakan bagian yang sering mengalami degloving , karena merupakan
bagian dari organ tubuh yang terletak paling luar dan membatasinya dengan lingkungan
hidup manusia. Kulit juga sangat kompleks, elastis dan sensitif , bervariasi pada keadaan
iklim , umur , seks, ras dan juga bergantung pada lokasi tubuh. Luas kulit orang dewasa
1.5-2m2 , dengan berat kira-kira 15% berat badan. Tebalnya antara 1.5-5 mm ,
bergantung pada letak kulit , umur , jenis kelamin , suhu dan keadaan gizi. Kulit paling tipis di
kelopak mata , penis , labium minor ,dan bagian medial lengan atas. Sedangkan kulit yang
tebal terdapat di telapak tangan dan kaki , punggung, bahu, bokong.
Kulit terdiri dari tiga lapisan, yaitu
1. Lapisan epidermis .
Lapisan epidermis merupakan epitel berlapis gepeng yang sel selnya menjadi pipih
bila matang dan naik ke permukaan, yang terdiri dari stratum korneum, stratum
granulosum, stratum spinosum dan stratum basale dengan melanosit, juga tidak
terdapat pembuluh darah. Pada telapak tangan dan kaki, epidermis sangat
tebal untuk menahan robekan dan kerusakan yang terjadi pada daerah ini.
Pada bagian tubuh yang lainnya, misalnya pada bagian medial lengan atas dan
kelopak mata, kulit sangat tipis.
2. Lapisan dermis
Lapisan dermis ini lebih tebal dari pada epidermis. Lapisan ini terdiri atas jaringan ikat
padat yang banyak mengandung pembuluh darah, pembuluh limfatik dan saraf.
Dermis terdiri dari stratum papilare dan stratum retikulare. Tebalnya dermis
berbeda beda pada berbagai bagian tubuh dan cenderung menjadi lebih tipis
pada permukaan anterior dibanding dengan permukaan posterior. Dermis pada
perempuan lebih tipis dibandingkan pada laki laki.
3. Lapisan subkutis
Lapisan ini merupakan kelanjutan dari dermis, terdiri atas jaringan ikat longgar yang
berisi sel sel lemak. Berfungsi sebagai pengatur suhu dan pelindung bagi lapisan kulit
yang lebih superficial terhadap tonjolan tonjolan tulang.
Di dalam dermis, sebagian besar berkas serabut serabut kolagen berjalan sejajar.
Insisi bedah pada kulit yang dilakukan disepanjang atau antara berkas berkas ini
menimbulkan kerusakan minimal pada kolagen sehingga luka yang sembuh dengan sedikit
jaringan parut. Sebaliknya, insisi yang dibuat memotong berkas berkas kolagen akan
merusaknya dan menyebabkan pembentukan kolagen baru yang berlebihan sehingga
terbentuk jaringan parut yang luas dan jelek. Arah berkas berkas kolagen ini dikenal
sebagai garis insisi ( garis Langer ), dan garis garis ini cenderung berjalan longitudinal
pada extremitas dan melingkar pada leher dan batang badan.
Struktur lain yang ada pada kulit yaitu kuku , folikel rambut , kelenjar sebasea dan
kelenjar keringat.
3. Etiologi
Trauma degloving dapat disebabkan beberapa faktor, antara lain karena kecelakaan
lalu lintas seperti terlindas dari kendaraan atau kecelakaan akibat dari olah raga seperti roller
blade, sepeda gunung, acrobat dan skate board. Trauma degloving ini mengakibatkan
penurunan supplai darah ke kulit, yang pada akhirnya dapat terjadi kerusakan kulit.
Degloving yang luas dan berat biasanya diakibatkan oleh ikat pinggang dan ketika tungkai
masuk ke roda kendaraan. Adapun penyebab lainnya bisa berupa kecelakaan pada
escalator atau biasa juga disebabkan oleh trauma tumpul.
Degloving minimal biasa terjadi pada pasien yang sudah tua, misalnya benturan
terhadap meja. Selain pada extremitas, degloving juga biasa terjadi pada mucosa
mandibula, yang diakibatkan oleh high jump pada acrobat biking atau kecelekaan lalu lintas.

4. Klasifikasi
Trauma degloving dibagi 2 yaitu :
1. Trauma degloving dengan luka tertutup.
Trauma ini jarang terjadi tapi penting diperhatikan karena terjadi pada pasien
dengan multiple trauma, dimana jaringan subkutan terlepas dari jaringan
dibawahnya. Klinis awalnya dari jenis ini seringkali tampak normal pada permukaan
kulit, dapat disertai dengan echimosis. Dan jika tidak dikoreksi, akan menyebabkan
peningkatan dari morbiditas yaitu jaringan yang terkena akan mengalami necrosis.
Untuk itu dilakukan drainase dengan membuat insisi kecil yang bertujuan untuk
kompresi, karena terdapat ruangan yang terisi oleh hematome dan cairan. Luka
degloving yang tertutup terjadi jika ada kekuatan shear dengan energi yang cukup
dalam waktu yang singkat sehingga kulit tidak terkelupas. Tapi didalamnya kadang
dapat terjadi pemisahan antara jaringan dengan pembuluh darah, hal ini
menyebabkan bagian yang atas dari jaringan yang terpisah menjadi nekrosis karena
tidak mendapat aliran darah. Komplikasi dari traksi dapat mengakibatkan trauma
degloving luka tertutup pada kulit sehingga dapat menyebabkan terjadinya lesi pada
kulit. Hal ini mungkin disebabkan oleh usia lanjut dan kulit yang lemah. Jadi pada
trauma degloving tertutup jaringan subkutan terlepas dari jaringan dibawahnya, sedang
bagian luar atau permukaan kulit tanpa luka atau ada luka dengan ukuran yang kecil.
2. Trauma degloving dengan luka terbuka.
Trauma degloving ini terjadi akibat trauma pada tubuh yang menyebabkan jaringan
terpisah. Gambarannya berupa terangkatnya kulit dari jaringan dibawahnya disertai
dengan luka yang terbuka. Ini merupakan trauma degloving dengan luka terbuka. (3)

Gambaran klinis
Terkelupasnya lapisan kutis dan subkutis dari jaringan dibawahnya, dapat juga masih
terdapat bagian dari kulit yang melekat, ini terjadi pada trauma degloving terbuka. Gejala
klinik yang lain dapat pula ditemukan gambaran permukaan kulit yang normal atau dapat
disertai dengan echimosis, ini terjadi pada trauma degloving tertutup.

5. Pathway

Cedra atau sayatan

Pembengkakan/perlukaan/lecet

Perdarahan
Perawatan luka baik
Luka terbuka / tertutup
Penanganan RICE

Kuman masuk Perawatan luka tidak baik Infeksi tidak ada


Infeksi Sembu
h
Luka Komplikasi
- Sepsis
- Kematian
6. Patofisiologi

Jenis-jenis luka dapat dibedakan dua bagian, yaitu luka tertutup dan luka terbuka, luka
terbuka yaitu dimana terjadi hubungan dengan dunia luar, misalnya : luka lecet ( vulnus
excoratiol ), luka sayat ( vulnus invissum ), luka robek ( vulnus laceratum ), luka potong (
vulnus caesum ), luka tusuk ( vulnus iktum ), luka tembak ( vulnus aclepetorum), luka
gigit ( vulnus mossum ), luka tembus ( vulnus penetrosum ), sedangkan luka tertutup
yaitu luka tidak terjadi hubungan dengan dunia luar, misalnya luka memar.

7. Tanda dan Gejala


Tanda-tanda umum adalah syok dan syndroma remuk ( cris syndroma ), dan tanda-
tanda lokal adalah biasanya terjadi nyeri dan pendarahan. Syok sering terjadi akibat
kegagalan sirkulasi perifer ditandai dengan tekanan darah menurun hingga tidak teraba,
keringat dingin dan lemah, kesadaran menurun hingga tidak sadar.
Syok dapat terjadi akibat adanya daerah yang hancur misalnya otot-otot pada daerah
yang luka, sehingga hemoglobin turut hancur dan menumpuk di ginjal yang
mengakibatkan kelainan yang disebut lower Nepron / Neprosis, tandanya urine
berwarna merah, disuria hingga anuria dan ureum darah meningkat.

5. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaaan fisik pada pasien dengan cedera Degloving terdiri dari beberapa
langkah berikut:
Pemeriksaaan kondisi umum
Pemeriksaan cedera yang mengancam jiwa
Pemeriksaaan cedera mayor
Pemeriksaan area degloving
Sejauh mana kulit yang hilang
Ekspos/cedera struktur vital
Gerakan yang bisa dilakukan

6. Penatalaksanaan
Jika terjadi kehilangan jaringan yang luas dapat terjadi syok dilakukan penanganan
dari syok. Penanganan dari trauma degloving ini berupa kontrol perdarahan dengan
membungkusnya dengan kassa steril pada luka dan sekitar luka, debridement luka dan
dilakukan amputasi bila jaringan tersebut nekrosis. Trauma degloving seharusnya di lakukan
pencucian atau debridemen dari benda asing dan jaringan nekrotik juga dilakukan
penutupan dari luka. Bila lukanya kotor maka dilakukan perawatan secara terbuka sehingga
terjadi penyembuhan secara sekunder, lukanya bersih dilakukan penutupan luka primer.
Pada trauma degloving tertutup sering tidak diketahui, dimana tidak terdapat luka
pada kulit, yang mana jaringan subkutan terlepas dari jaringan dibawahnya, menimbulkan
suatu rongga yang berisi hematoma dan cairan. Pada degloving tertutup ini dapat dilakukan
aspirasi dari hematome atau insisi kecil selanjutnya dilakukan perban kompresi. Insisi dan
aspirasi untuk mengeluarkan darah dan lemak nekrosis, volume yang dievakuasi antara 15
-800 ml ( rata-rata 120 ml ).
Sedang pada trauma degloving dengan luka terbuka, yang mana terdapat avulsi dari
kulit, dilakukan pencucian dari jaringan tersebut yaitu debridement dari benda asing dan
jaringan nekrotik. Pada luka yang kotor atau infeksi dilakukan rawat terbuka sehingga terjadi
penyembuhan secara sekunder. Kulit dari degloving luka yang terbuka dapat dikembalikan
pada tempatnya seperti skin graft dan dinilai tiap hari ,keadaan dari kulit tersebut. Jika kulit
menjadi nekrotik, maka dilakukan debridemen dan luka ditutup secara split thickness skin
graft.
Terapi degloving yang sekarang dipakai adalah Dermal Regeneration Template
(DRT), yaitu pembentukan neodermis dengan cara Graft Epidermal. Adapun tekniknya
berupa Full Thickness Skin Graft (FTSG), Split Thickness Skin Graft (STSG) , Pedical Flap
atau Mikrovascular Free Flap. Penggunaan DRT merupakan terapi terbaik untuk trauma
degloving dan juga dapat dipertimbangkan sebagai terapi, jika terdapat kehilangan jaringan
sekunder yang bisa menyebabkan avulsi.
Sebelum dilakukan FTSG dan STSG, diperlukan tindakan berupa mempersiapkan
daerah luka dengan Vacum Assisted Closure ( VAC ). Tiga minggu setelah terapi VAC, maka
pada daerah luka terjadi revascularisasi disertai dengan terbentuknya jaringan granulasi
sehingga siap untuk di graft. Biasanya pada degloving yang luas, terjadi drainase yang
berlebihan, resiko kontaminasi bakteri yang luas dan cenderung menyebabkan luka yang
avaskuler . Ketiga hal tersebut mengakibatkan sukar sembuh pada luka yang telah dilakukan
skin graft. Oleh karena itu dengan VAC diharapkan drainase lebih terkontrol, kontaminasi
bakteri menurun serta terjadi stimulasi jaringan granulasi pada dasar luka.
VAC merupakan pengembangan teknologi canggih dari prosedur perawatan luka.
Penggunaan vakum drainase membantu untuk menghilangkan darah atau cairan dari bagia
luka (Muptadi, 2013). VAC digunakan untuk manajemen luka dengan menggunakan tekanan
negatif atau tekanan sub-atmosfer di tempat luka. VAC adalah terapi adjuvant noninvasif
yang menggunakan kontrol tekanan negatif menggunakan vakum untuk membantu
penyembuhan luka dengan menghilangkan cairan yang dihasilkan dari luka terbuka melalui
sealed dressing dan tube yang disambungkan dengan kontainer penampung (Mubtadi,
2013).
VAC atau penutupan luka dengan vacuum menggunakan spons pada luka ditutup
dengan dressing ketat kedap udara, kemudian vakum dipasang. VAC bisa digunakan untuk
luka dengan kebocoran limfa yang besar dengan fistula. Mekanisme utama VAC adalah
untuk menghilangkan edema. VAC menghilangkan cairan darah atau limfa yang berada di
intertisiil sehingga meningkatkan difusi intertisiil oksigen ke dalam sel. VAC juga
menghilangkan enzim-enzim kolagenase dan MMP yang kadarnya meningkat pada luka
kronis (Suryadi, 2011). VAC memberikan tekanan sub atmosfer secara intermiten atau terus-
menerus dengan tekanan sebesar 50-175. VAC paling bagus dilakukan pada luka granulasi
yang buruk serta banyak terdapat eksudat. Diantara berbagai cara 4 pengobatan tambahan
yang tersedia untuk penanganan luka kronis, terapi vacuum assited closure (VAC)
menunjukan hasil menjanjikan (Suryadi,2011).
Hal ini didukung oleh beberapa hasil penelitian yaitu hasil studi dilakukan di RS
Sarjito dimana tiga pasien dengan luka kronis datang ke divisi Bedah Plastik Rumah Sakit dr
Sarjito pada awal tahun 2010 dilakukan perawatan dengan menggunakan simplest modified
vacuum assisted closure (VAC) didapatkan hasil semua pasien mengalami proses
penyembuhan luka dengan baik dan dilaporkan puas terhadap hasil yang didapatkan
(Mahandaru, 2010). Demikian juga didukung oleh penelitian yang dilakukan ASERNIPS
(Australian Safety and Efficacy Register of New Internasional Prosedur Surgical) dimana
perawatan luka kronis dan kompleks dengan VAC meningkat secara signifikan 28.4%
dibandingan dengan menggunakan natrium clorida (Nacl 0.9%) (Arsenip S, 2003).
ASUHAN KEPERAWATAN

1. Pengkajian
Ada dua kondisi yang perlu dikaji
Luka baru
1. Kaji keadaan umum pasien
2. Kaji tempat kejadian ( emergensi atau stabil )
3. Kaji Tanda Vital ( Tensi, suhu, nadi, pernapasan )
4. Kaji keadaan luka ( luas, lokasi, jenis, )
5. Kaji adanya tanda tanda infeksi luka
6. Kaji hal hal yang berhubungan dengan luka, fraktur, perdarahan, injuri, dan
cedera kepala
7. Kaji perdarahan yang keluar ( ada atau tidak, Jumlah, warna , bau )
Luka lama / sudah ada tindakan
1. Kaji penampilan luka ( tanda-tanda infeksi )
2. Kaji luas luka
3. Kaji Keluhan nyeri ( Lokasi, intensitas )
4. Kaji kondisi jahitan luka
5. Kaji drainage atau cairan yang keluar
2. Diagnosa Keperawatan
1. Kerusakan integritas kulit Berhubungan dengan
Trauma tumpul / tajam
Insisi operasi
Penekanan yang lama
Injury
Imobilisasi
2. Nyeri berhubungan dengan
Cedera Termal
Insisi operasi
Kerusakan jaringan
Immobilisasi
3. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan
Hilangnya sebagian jaringan
Luka terbuka
Malnutrisis
4. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan
Nyeri
Imobilisasi
Kelemahan fisik
3. Intervensi
1. Kerusakan Integritas kult berhubungan dengan trauma tumpul/tajam, insisi operasi,
penekanan yang lama, injury, immobilisasi
Hasil yang diharapkan :
Klien akan mempertahankan keutuhan kulit selama perawatanJ
Jaringan tampak menyatu
Kulit tidak lecet
Integritas kult bebas dari luka tekan
Intervensi :
1. Kaji / catat keadaan luka ( ukuran, warna, kedalaman luka) perhatikan jaringan
nekrotik
R/ : Memberikan informasi dasar adanya kemungkinan kebutuhan tentang
sirkulasi
2. Kaji kulit luka terbuka, benda asing, kemerahan, perdarahan dan perubahan
warna
R/ : Sebagai data dasar untuk intervensi selanjutnay
3. Anjurkan pasien untuk merubah posisis miki / mika setiap 4 jam
R/ : Meningkatkan sirkulasi dan perfusi jaringan dengan mencegah tekanan yang
lama
4. Lakukan perawatan luka secara aseptik dan steril 2 kali sehari
R/ : Mencegah terjadinya kerusakan kulit lebih lanjut
5. Pertahankan tempat tidur dalam keadaan bersih dan kering
R/ : Menghindari kulit lecet dan terkontamionasi mikroorganisme
6. Tempatkan bantalan air / bantalan lain di bawah siku/ tumit sesuai dengan
indikasi
R/ : Menurunkan tekanan pada area yang peka dan beresiko terjadinya kersakan
kulit
7. Gunakan baby oil / krim kulit 2-3 kali dan setelah mandi

R/ : Melicinkan kulit dan menghindari gatal


8. Kolaborasi dengan dokter untuk therapi anti inflamasi
R/ : Menghindari infeksi
2. Nyeri berhubungan dengan cedera termal, insisi operasi, kerusakan jaringan
,immobilisasi
Hasil yang diharapkan :
Klien akan bebas dari nyeri selama perawatan
Klien mengatakan nyeri berangsur-angsur berkurang sampai dengan hilang
Klien tampak rileks
Kilen dapat beraktifitas tanpa nyeri
Rencana Tindakan :
1. Kaji keluhn nyeri ( lokasi, intrnsitas, lamanya serangan )
R/ : sebagai data daras untuk menentukn intervensi selanjutnya
2. Pertahankan tirah baring slama fase akut
R/ : Tirah baring dalam posisi yang nyaman memungkinkan pasien untuk
menurunkan spasem otot, penekanan pada bagian tubh tertentu dan
memfasilitasi terjadinya reduksi
3. Anjurkan pasien untuk melakukan gerqkan tubuh yang tepat dan batasi aktifitas
selama nyeri
R/ Menghlangkan / mengurangi sterss pada otot dan mencegah trauma lebih
lanjut
4. Anjurkan dan ajarkan klien untuk melakukan teknik visualisasi , relaksasi
R/ : mengalihkan perhatian dan membantu menghilangkan nyeri dan
meningkatkan proses penyembuhan
5. Tinggikan dan dukung ekstermitas yang terkena
R/ : meningkatkan aliran balik vena, meningkatkan edema dan menurunkan nyeri
6. Lakukan kompres dingin / es 24-48 jam pertama
R/ : Menurunkan edema / pemb4ntukan hematom, menurunkan sensasi nyeri
7. Letakan semua kebutuhan pasien dalam batas yang mudah di jangkau oleh
pasien
R/ : menurunkan resiko pregangan saat meraih
8. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian therapi analgetik
R/ : Analgetik dapat mengurangi nyeri
3. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan hilangnya sebagian jaringan, lika terbuka,
malnutrisi
Hasil yang diharapkan :
Kilen tidak menunjukan adanya tanda-tanda infeksi selama masa perawatan
Luka tampak kering dan bersih
Tidak ada cairan atau darah yang kelar atau merembes
Penyembuhan luka rapat dan baik
Intervensi :
1. Kaji kulit terhadap adanya iritasi, lika terbuka atau robekan kulit
R/ : Mengidentfikasi adanya faktor pencetus masuknya kuman penybab infeksi
2. Kaji tanda-tnda vital ( suhu, nsdi )
R/ : Sebagai indikator untuk intervensi selanjutnay dari perubahan tanda-tanda
vital
3. Tekankanpentigya cuci tangan yang baik untuk semua individu yang datang
kontak dengan pasien
R/ : Mencegah kontaminasi silang, menekan resiko infeksi
4. Kalau perlu ajnurkan pasien untuk diisolasi sesuai dengan indikasi
R/ : Isolasi dapat dilihat dari luka sederhana/ terbuka sampai komlit untuk
menurnkan resiko kointaminasi silang
5. Lakukan perswtan luka secara aseptik dan steril 2 kali sehari
R/ : Menurnkan resiko infeksi dan mendukung proses openyembuhan
6. Tampung cairanb sisa yang terkontaminasi pada tempat tertentu dalam ruangan
kemudian di buang pada opembuangan yang sudah ditentukan oleh rumah sakit
R/ : Mencegah penyebatran infeksi di lingkungan rumah sakit
7. Kolaborasi dnegan dokter untuk pemberian antibiotik
R/ : Antibiotik dapa membunuh kuman oenyakit pemyebab infeksi dan
mengurangi penyebat\ran ifeksi
4. Intoleransi dalam beraktifitas berhubungan dengan nyeri, imobilisasi, kelemahan fisik
Hasil yang diharapkan :
Klien dapat melakukan aktifitas mandiri selama masa perawatan
Pasien tampak rileks
Intervensi :
1. Kaji respon terhadap aktifitas pasien
R/ : Sebagai parameter untuk menentukan tingkat kemampuan pasien dalam
beraktifitas
2. Kaji Tanda-tamnda vital
R/ : Sebagai indikator terhadap perubahan TTV akibat aktifitas
3. Observasi keluhan pasien selama beraktifitas
R/: Indikator untuk melakukan intervensi selanjutnya
4. Jelaskan pada pasien tentang teknik penghematan energi
R/ : mengurangi dan menghemat penggunaan energi, juga membantu
keseimbangan antara suplai dan kebutuhan O2
5. Ubah posisi secara periodik dan dorong untuk latihan napas dalam
R/ : Mengurangi tekanan pada salah satu area dengan meningkatkan sirkulasi
perifer
6. Anjurkan pasien untuk menggunakan teknik relaksasi
R/ Mengurangi kelelahan otot dapat membantu mengurangi nyeri, spame dan
kejang.

DAFTAR PUSTAKA
Sjamsuhidajat R. Luka, trauma, syok dan bencana. Dalam : Sjamsuhidajat R, Jong W, ed.
Buku Ajar ilmu Bedah. Edisi 1. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC 1997: 72-3.
Wasitaatmadja. SM. Anatomi Kulit . Ilmu Penyakit kulit dan kelamin , edisi ketiga , FKUI
,Jakarta , 2001, hal 3-8.
I. C. Josty, R. Ramaswamy and J. H. E. Laing. 2001. Vacuum-assisted closure: an alternative
strategy in the management of degloving injuries of the foot. British Journal of Plastic
Surgery.
Yamada, N. Ui, K. Uchinuma, E. 2001. The use of a thin abdominal flap in degloving finger
injuries. British Journal of Plastic Surgery volume 54 pp: 434-438.
Chen, SL. Chou, GH. Chen, TM. Wang, HJ. 2001. Salvage of completely degloved finger
with a posterior interosseous free flap. British Journal of Plastic Surgery .The British
Association of Plastic Surgeons.
Van der Kolk, BM. Pickkers, P. 2007. Treatment of necrotizing soft tissue infections.
Netherlands Journal of Critical Care.
Karmiris, NA. Vourtsis, SA. Assimomitis, CM. Spyriounis, PK. 2008. The role of microsurgical
free flaps in distal tibia, ankle and foot reconstruction. A 6 year experience. EEXOT
Volume 59, (4):223-229.
E Segev, S Wientroub. Y Kollender, I Meller. A Amir, E Gur. 2007. A combined use of a free
vascularised flap and an external fixator for reconstruction of lower extremity defects
in children. Journal of Orthopaedic Surgery ;15(2):207-10
Chin-Ta Lin, Shyi-Gen Chen, Niann-Tzyy Dai, Tim-Mo Chen, Shun-Cheng Chang. 2013. Free
Sensate Anteromedial Thigh Fasciocutaneous Flap for Reconstruction of Complete
Circumferential Degloving Injury of the Digits: Case Report and Literature Review. J
Med Sci ;33(1):057-060
Pilanc, zgr. Et al. 2013. Management of soft tissue extremity degloving injuries with full-
thickness grafts obtained from the avulsed flap. Ulus Travma Acil Cerr Derg Vol. 19,
No. 6.
Kenneth A. Kudsk. George F. Sheldon, Robert L, Walton. 1981. Degloving Injuries of the
Gitto, Lorenzo. Maiese, Aniello. Bolino, Giorgio. 2013. A traffic accident resulting in a
degloving injury of the passenger: Case report and biomechanical theory. Rom J Leg
Med [21] 165-168.