You are on page 1of 14

DASAR-DASAR DAN EMPIRIS PENGENDALIAN HAYATI

MAKALAH
untuk memenuhi tugas matakuliah Pemgendalian Hayati
yang diampu oleh Dr. Fatchur Rohman, M.Si. dan Sofia Ery Rahayu S.Pd, M. Si.

Oleh:
Kelompok 2 Off H 2014
Assayid
Dwi Junita Sari (140342600431)
Monica N. Kuruwop ( 1403426
Robiatul Hadawiyah (140342604500)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
Pebruari 2017

2006) Sebagai suatu ekosistem. parasit dan pathogen (Tauruslina dkk.2. BAB I PENDAHULUAN 1. Akibatnya. Hama merupakan agen yang menurunkan produktivitas dengan cara memakan atau menjadi pathogen tanaman budidaya (Hendrival dkk. 2006). Pengendalian hayati diterapkan dalam sebuah agroekosistem..4 Bagaimana perekonomian pengendalian hayati? 2 . Upaya meningkatkan produktivitas tanaman secara konstan memberikan dampak lingkungan dan sosial.. 1. Hama dan musuh alami merupakan komponen penyusun keanekaragaman hayati di lahan pertanian (Henuhili & Aminatun. Kerugian akan timbul setelah pemakaian berlebih dan berakibat dalam jangka waktu yang lama. kualitas produksi tanaman yang diharapkan meningkat dapat menurus secara drastis (Lihawa M.2 Bagaimana peranan musuh alami dalam suatu agroekosistem? 1.1 Bagaimana pengendalian alamiah dan keseimbangan alam? 1.2. Untung (2006) mendefinisikan agroekosistem sebagai bentuk ekosistem binaan manusia yang ditujukan untuk memperoleh produksi pertanian dengan kualitas dan kuantitas tertentu. kualitas lingkungan menurun akibat hilangnya organisme decomposer.3 Bagaiman masalah yang timbul akibat kontroversi penerapan pengendalian hayati? 1. 2013).2. 2013).1 Latar Belakang Prinsip pengendalian hayati adalah pengendalian kepadatan populasi organisme pengganggu tanaman. agroekosistem tersusun atas komponen biotik dan abiotik yang saling berinteraksi satu sama lain. 2011). pengendalian hama dilakukan secara alami dengan memanfaatkan musuh alaminya tanpa mengurangi produktivitas tanaman budidaya.2 Rumusan Masalah 1. dan meningkatkan perkembangan populasi jasad penganggu tanaman.2. yaitu dengan memanfaatkan musuh-musuh alaminya (agen pengendali hayati). Menurut Sunarno (2009) pestisida berpengaruh dalam mengganggu kesehatan manusia. Penggunaan pestisida sintesis dapat menyingkirkan hama dan meningkatkan produktivitas tanaman sementara. Oleh karena itu. terutama keanekaragaman hayati dalam ekosistem buatan tersebut (Lihawa M. seperti predator.

2006). Menurut Flint dan Bosch (2000). Pengendalian alami merupakan proses pengendalian yang berjalan sendiri tanpa campur tangan manusia. 2006).1 Pengendalian alamiah dan keseimbangan alam Setiap makhluk hidup menjadi suatu penyusun komunitas dan berinteraksi dalam suatu keterikatan dan ketergantungan hingga menghasilkan keseimbangan (Untung. Pengendalian alamiah. 2006). Biologi dan ekologi serangga sangat penting dipahami untuk mengatur keseimbangan agroekosistem karena musuh alami bersifat polifag. Tingkat ekonomi atau ambang ekonomi adalah keberadaan serangga yang mengganggu dan menurunkan kualitas pertanian. Interaksi antar organisme tersebut dapat bersifat antagonistik. yakni: a. (hama penggerek padi) Trichogramma sp. 3 . terhadap Scirpophaga sp. sehingga dianggap merugikan c. salah satu parasitoid pada telur hama penggerek padi yang nantinya telur-telur tersebut tidak akan menetas menjadi larva hama penggerek padi melainkan menjadi Trichogramma sp. Menurut Purnomo (2006) unsur pengendalian dibagi menjadi tiga. kompetitif. Salah satu mekanisme tersebut adalah predasi (peristiwa mangsa-memangsa). b. yaitu pengendalian dengan menggunakan predator dan parasit atau pengendalian secara hayati (biologis) yang terjadi di alam. Peristiwa tersebut terkait dengan rantai makanan yang terjadi terus menerus sepanjang masa. Contoh pengendalian alami yaitu parasitasi Trichogramma sp. (Wilyus. tidak ada proses perbanyakan musuh alami (Purnomo. Dalam hal ini apabila populasi serangga hama rendah maka serangga tersebut bukan merupakan hama yang mengganggu. dalam kurun waktu tertentu ekosistem alami dapat menjaga sifat-sifatnya dengan cukup konstan. BAB II PEMBAHASAN 2. atau bersifat positif seperti simbiotik (Untung. 2009).

Parasitoid Parasitoid merupakan serangga pradewasa yang memarasit serangga atau binatang antropoda lainnya dengan cara menghisap cairan tubuh inang guna memenuhi kebutuhan hidupnya (Mahrub. Menurut Rukmana dan Sugandi (2002) dilihat dari fungsinya musuh alami dapat dikelompokkan menjadi: a. yaitu: 1) Parasitoid telur yaitu parasitoid yang meletakkan telur pada telur inang. Kebanyakan parasitoid bersifat monofag (memiliki inang spesifik). inang atau pemangsa. 2004). Menurut Andrixinata (2012) parasitoid dapat digolongkan berdasarkan fase tubuh inang yang diserang. 4 . terhadap Scirpophaga sp. dan mengurangi fase reproduktif dari serangga. 2012). b. akibatnya telur inang tidak menetas. a b a. meskipun serangga dewasa jarang terparasit. tetapi ada juga yang oligofag (inang tertentu). 2006).2 Peranan musuh alami dalam suatu agroekosistem Musuh alami sebagai bagian dari agroekosistem memiliki peranan dalam menentukan pengaturan dan pengendalian populasi hama (Untung. tetapi larva gagal menjadi pupa. Musuh alami adalah organisme yang ditemukan di alam yang dapat membunuh serangga sekaligus. sehingga dapat mengakibatkan kematian pada serangga. Scirpophaga sp. nematoda. dan invertebrata diluar serangga. (hama penggerek padi) 2) Parasitoid telur – larva yaitu parasitoid yang meletakkan telur pada telur inang. parasitoid menyebabkan kematian pada inangnya secara perlahan-lahan dan parasitoid dapat menyerang setiap fase hidup serangga. melemahkan serangga. 1987). seperti Holcothorax testaceipes yang meletakkan telur pada inang stadia telur dan muncul pada saat inang stadia larva pada hama penggorok daun. telur inang memetas.Trichogramma sp. Umumnya. Musuh alami biasanya mengurangi jumlah populasi serangga. dengan memakan individu serangga (Thamrin M & Asikin S. Hampir semua kelompok organisme berfungsi sebagai musuh alami serangga hama termasuk kelompok vertebrata. Sumber: bugguide.net 2. seperti parasitasi Trichogramma sp.Parasitoid memanfaatkan energi inangnya yang masih hidup untuk kepentingan reproduksi (Shelton. Selain itu parasitoid memiliki ukuran tubuh yang lebih kecil dari inangnya. jasad renik.

Crocidolomia binotalis sumber: bugguide.net 4) Parasitoid larva – pupa yaitu parasitoid yang meletakkan telur pada larva inang. seperti Eriborus argenteopilosus yang memarasit larva dari Crocidolomia binotalis. b a a. setelah menetas akan memarasit pupa dari larva inang tersebut. seperti Tetrastichus howardi yang memarasit larva dari Pluttela xylostella 5 . akibatnya larva inang gagal menjadi pupa. Holcothorax(Ageniaspis) testaceipes sumber: bugguide. b. Eriborus argenteopilosus.net 3) Parasitoid larva yaitu parasitoid yang meletakkan telur pada larva inang. sehingga pupa gagal menjadi imago.

Tetrastichus howardi. Pluttela xylostella sumber: bugguide. a b a. yang memparasit pupa Drosophilla sp.net 6) Parasitoid imago yaitu parastoid yang meletakkan telur pada stadia imago. a b a. sehingga pupa inang gagal menjadi imago. sumber: bugguide. seperti Opius sp. Opius sp. 6 . b. Drosophilla sp. b.net 5) Parasitoid pupa yaitu parastoid yang meletakkan telur pada pupa inang.. seperti Comperiella unifasciata yang memparasit Aspidiotus rigidus.

kumbang kubah (Micraspis hirashimai). b. Menurut Untung (2006) ada beberapa ciri-ciri predator. oligofag dan polifag. wereng batang. ada menusuk mangsanya dengan mulutnya yang berbentuk seperti jarum dan menghisap cairanya tubuh mangsanya. 2002). pupa dan imago 2) Predator membunuh dengan cara memakan atau menghisap mangsanya dengan cepat 3) Seekor predator memerlukan dan memakan banyak mangsa selama hidupnya 4) Predator membunuh mangsanya untuk dirinya sendiri 5) Kebanyakan predator bersifat karnifor 6) Predator memiliki ukuran tubuh lebih besar dari pada mangsanya 7) Dari segi perilaku makannya. ngengat dan larva penggerek batang serta ulat pemakan daun di pertanaman padi (Herlinda. antara lain: 1) Predator dapat memangsa semua tingkat perkembangan mangsanya (telur.net b. Contoh predator pada agroekosistem antara lain predator seperti laba-laba kerdil (Atypena Formosana). a b 7 . Aspidiotus rigidus sumber: bugguide. Predator Predator adalah binatang atau serangga yang memangsa serangga lain. a b b. nimfa. Comperiella unifasciata. dan kumbang tanah (Ophionea nigrofasciata). 8) Metamorfosis predator ada yang holometabola dan hemimetabola 9) Predator ada yang monofag. ada yang mengunyak semua bagian tubuh mangsanya. larva. mencari mangsa seperti wereng daun.

). pengendalian Sclerotium rolfsii oleh Serratia marcescens disebabkan oleh ekspresi enzim kitinase (Ordentlich et al. selulosa. Menurut Pal dan Gardener (2006) beberapa jenis agen hayati pathogen dapat dilihat pada tabel berikut: 8 . dan hemiselulosa (Bull dkk. c. c a.. kumbang tanah (Ophionea nigrofasciata) sumber:bugguide. mencapai 19-22 familia predator dan 8-10 familia parasitoid. Patogen Mikroorganisme dapat menyerang dan menyebabkan kematian serangga hama sehingga patogen disebut sebagai salah satu musuh alami (Pal dan Gardener. Ekspresi dan sekresi enzim tersebut dihasilkan oleh mikroba spesifik yang dapat menekan aktivitas pathogen tanaman secara langsung. Selain itu masih banyak jenis pathogen yang berperan sebagai pengendalian hayati. 1988) dan α-β-1.3-glucanase dapat menghambat aktivitas Lysobacter enzymogenes spade tanaman infeksi train C3 (Palumbo et al. bergerak aktif untuk menggigit dan mengunyah mangsanya. b. 2005).net Hasil penelitian Marheni (2004). misalnya.kumbang kubah (Micraspis hirashimai). protein. wereng batang coklat mempunyai banyak musuh alami di alam. dalam beberapa pengamatan di lapangan. 2002). Banyak mikroorganisme yang memproduksi dan melepaskan enzim litik yang dapat menghidrolisis berbagai macam senyawa polimer.laba-laba kerdil (Atypena Formosana). Hasil pengamatan menunjukkan bahwa penggunaan beberapa jenis predator dapat menekan populasi wereng batang coklat. dan c. Patogen adalah salah satu faktor hayati yang turut serta dalam mempengaruhi dan menekan perkembangan serangga hama. seperti kitin. 2006. Predator-predator ini cocok terhadap serangga hama tanaman padi.

Pada tahun 1983 dibentuk cabinet pembangunan IV dengan menitikberatkan negara sebagai swasembada pangan dan keberhasilan tersebut mendapatkan apresiasi dari FAO.2 Masalah kontroversi penerapan pengendalian hayati Indonesia pernah menjadi negara swasembada pangan. Namun. pengendalian hayati memiliki keuntungan antara lain. tidak berlangsung lama muncul masalah yang menyebabkan kerugian besar. Hama wareng padi menyebar di ribuan hektar sawah karena tidak adanya musuh alami. dan 9 . Akhirnya. dilakukan kajian mengenai pengendalian hayati dengan memanfaatkan musuh alami hama wareng.2. menyebar dan mencari makan sendiri (4) Tersedia di alam dan pengendalian dapat berjalan sendiri (5) Musuh alami bekerja secara selektif terhadap inangnya atau mangsanya. (1) Aman artinya tidak menimbulkan pencemaran lingkungan dan keracunan pada manusia dan ternak (2) Tidak menyebabkan resistensi hama (3) Dapat berkembang biak. Menurut Jumar (2000). dimana hasil pangan meningkat dan diekspor ke beberapa negara lain.

4 juta per hektar daripada penggunaan pestisida. Permasalahan dalam menggunakan agen pengendalian hayati tidak banyak ditemukan. Nilai inilah yang dapat menarik petani menggunakan agen hayati. Selain itu. Menurut Tauruslina (2015) di Sumatera Barat. Menurut Cholifah () selisih penggunaan agen hayati lebih banyak 1. keuntungan pengendalian hayati juga terdapat kelemahan atau kekurangan seperti : (1) Hasilnya sulit diramalkan dalam waktu yang singkat (2) Diperlukan biaya yang cukup besar pada tahap awal baik untuk penelitian maupun untuk pengadaan sarana dan prasarana (3) Dalam hal pembiakan di laboratorium kadang-kadang menghadapi kendala karena musuh alami menghendaki kondisi lingkungan yang kusus (4) Teknik aplikasi dilapangan belum banyak dikuasai dan perlu keahlian dan ketelitian dalam pengembangan Beberapa permasalahan pengendalian hayati tersebut membutuhkan banyak pihak untuk berkontribusi dalam sosialisasi kepada petani untuk tidak menggunakan sistem pengendalian hama terpadu dengan pestisida kimia. Penggunaan agen hayati tidak menimbulkan polusi seperti halnya pestisida (Sunarno. 2. 2013. 2009).3 Perekonomian pengendalian hayati Saat ini. Sedangkan Hasibuan (2008) mencatat bahwa PHT telah banyak diterapkan oleh petani padi di kabupaten Tapanuli Selatan.) dapat menghasilkan keuntungan mencapai 6 10 . Selain itu. (6) Bersifat permanen untuk jangka waktu panjang lebih murah. Hal ini mendorong upaya konservasi musuh alami dengan cara memperbanyak anggota populasinya (Henuhili & Aminatun. Sedangkan dalam produksi agen hayati (Trichogramma sp. Petani yang beralih menggunakan agen hayati meraup untung yang lebih besar daripada menggunakan pestisida. Hanya saja pengalihan sistem tanpa pestisida di masyarakat sulit dihilangkan karena kurangnya pemahaman terhadap pengendalian hayati.). tetapi menggunakan musuh alaminya. apabila keadaan lingkungan telah setabil atau telah terjadi keseimbangan antara hama dan musuh alaminya. Medan. Sistem ini ramah lingkungan dan akan memperkaya biodiversitas agroekosistem dengan menambah musuh alami. petani lokal masih sering menggunakan pestisida Darmabas 500 EC dengan intensif penyemprotan 2 x seminggu. Hal ini menyebabkan struktur keanekaragaman dan kemerataan serangga predator kurang stabil. berbagai kelompok tani bersama dengan perintis pengendalian hayati di berbagai agroekosistem telah banyak dikembangkan. khususnya kelurahan Talawi. diperlukan kajian mengenai komposisi ekosistem suatu agroekosistem untuk menggunakan musuh alami secara tepat.

keuletan. Dengan demikian. namun dibutuhkan ketelatenan. dan semangat tinggi dalam menuju pertanian sehat. biaya pertanian dapat ditekan hingga 70%. Peluang dalam mengembangkan agen hayati sangat besar.juta. 11 .

4 Perekonomian dalam pengendalian hayati menjanjikan karena membutuhkan biaya lebih murah daripada penggunaan pestisida.2 Musuh alami merupakan organisme yang menggantungkan hidupnya kepada organisme lain (hama) dengan cara predasi.1 Kesimpulan 3. yaitu tidak dapat diperoleh hasil dalam waktu singkat 3. serta dapat menjadi peluang usaha dalam memperbanyak agen hayati 3. antagonis.1 Pengendalian alamiah merupakan proses pengendalian organisme oleh organisme lain tanpa campur tangan manusia yang menghasilkan keseimbangan alam tetap terjaga karena proses rantai makanan yang terus menerus terjadi 3. dan patogen 3. BAB III PENUTUP 3.2 Dapat menjadi referensi dalam mengaplikasikan agen pengendalian hayati 12 .1 Diharapkan penulisan makalah ini memberi pengetahuan kepada pembaca untuk memahami mengenai agen pengendali hayati 3.1.1.1.1.2. parasitoid.2.2 Saran 3.3 Beberapa masalah kontroversi pengendalian hayati berhubungan dengan kelemahannya.

. 2002. Daerah Istimewa Yogyakarta. 18(2): 29- 40 Herlinda S. and biocontrol agents. (www.). 78:84-88 13 . Universitas Sumatera Utara Hasibuan.com). Jakarta: Rineka Cipta Lihawa M. C. 6: 17-29 Ordentlich. Phytopathology. M. Y. Hidayat. 2008. Analisis Komunitas Artropoda Predator Penghuni Lansekap Persawahan di Daerah Cianjur.. Interactions between Myxobacteria. Sebuah Pengantar. DAFTAR RUJUKAN Andrixinata B. T. Shetty. 86:889-896 Cholifah. T. Keanekaragaman dan Kelimpahan Musuh Alami Bemisia tabaci (Gennadius) (Hemiptera: Aleyrodidae) pada Pertanaman Cabai Merah di Kecamatan Pakem. V & Aminatun. Bogor: Departemen Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor Bull. Cholifah Kalahkan Hama Padi dengan Musuh Alaminya Sendiri. (Online).. IPB Jumar. 1988. Jurnal Natur Indonesia. R. Jawa Barat. 2011. I. Thesis. V. The role of chitinase of Serratia marcescens in the biocontrol of Sclerotium rolfsii. Pengendalian Hama Terpadu. dan Nurmansyah. Kabupaten Sleman. 2006. 2004. Bogor: Program Pascasarjana. Kajian Penerapan Pengendalian Hama Terpadu pada Petani di Kabupaten Tapanuli Selatan. 8(2): 96-109 Henuhili. P. Plant Dis. Kajian Penerapan Pengendalian Hama Terpadu pada Petani di Kabupaten Tapanuli Selatan. diakses 5 Pebruari 2017 Flint L. G.langitperempuan . Yogyakarta: Kanisius Hasibuan. Entomol. 1 (3):124-129 Marheni. 2000. dan Subbarao. 2008. Elad. Jurnal J. Indon. Biologi Reproduksi Brachymeria Lasus Walker (Hymenoptera: Chalcididae) pada Ulat Penggulung Daun Pisang Erionota Thrax Linnaeus (Lepidoptera: Hesperiidae). K. K. Thesis. A. [Disertasi]. 2013. 2000. M. A. plant pathogenic fungi. Jurnal Ilmiah Agro Sains Tropis.. Kemampuan beberapa predator pada pengendalian wereng batang coklat (Nilaparvata lugens Stal. 2016. Entomologi Pertanian. Universitas Sumatera Utara Hendrival. (2000). Arthopoda Predator pada Ekosistem Padi yang Diberi Pestisida Kimia. Konservasi Musuh Alami Sebagai Pengendali Hayati Hama Dengan Pengelolaan Ekosistem Sawah Jurnal Penelitian Saintek. 2012. M dan Van den Bosch. Chet.

Jochum. 2006. Peranan Bahan Organik untuk Menyuburkan Tanah.. Yogyakarta: Gajah Mada University Press Wilyus. K.entomology. Diakses 1 Februari 2017 Sunarno. 2015. 2009.deptan. and Kobayashi. Info Teknologi Pertanian No.R.A..litbag. (Online). Phytopathology. Di dalam Elektronik Journal Prosiding Seminar Nasional BKS PTN Wilyah Indonesia Barat. C. 2004. Hama Tanaman dan Teknik Pengendaliaanya. G. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian. Analisis keanekaragaman hayati musuh alami pada eksosistem padi sawah di daerah endemik dan non-endemik wereng batang cokelat Nilaparvata lugens di Sumatera Barat. (www. Trizelia. Populasi serangga musuh alami pada lingkungan iklim mikro di lahan pasang surut. Makalah Seminar Nasional Dies Natalis Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya & Peringatan Hari Pangan Sedunia. 14 . Yogyakarta: Kanisius Shelton A. Mutagenesis of beta-1.3-glucanase genes in Lysobacter enzymogenes strain C3 results in reduced biological control activity toward Bipolaris leaf spot of tall fescue and Pythium damping-off of sugar beet. (Online). Pengantar Pengelolaan Hama Terpadu. D. 2006. Yaherwandi.go. Y. 2002. Palembang. Pros Sem Nas Masy Biodiv Indon 1 (582 3): 581-589 Thalib R. 13-15 April 2009. Hamid. E. diakses 1 Pebruari 2017 Tauruslina. 2002. 7- 8Oktober 2002 Thamrin M & Asikin S. ( https://=natural_enemies_handbook_pdf). dan Sugandi. (http://biocontrol. D. Dalam Prosiding Seminar Nasional Entomologi dalam Perubahan Lingkungan Sosial. 5 Oktober 2004 Untung. Pengendalian Hayati (Biologi Control) sebagai Salah Satu Komponen Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Yuen. The Plant Health Instructor DOI: 10. K. B. H. 2012. 2006.7. J.edu).. Effendy TA. Herlinda S.. Survei eksplorasi Parasitoid Telur Pengggerek Batang Padi di Desa Sungai Duren Kecamatan Jambi Luar Kota. M. 2009. (Online). Bogor. 95: 701-707 Purnomo. Hlm 413-418. Banten.id) Diakses 1 Februari 2017 Rukmana. Tatum. ISBN 978-979-1415-0-05-7. Biological Control of Plant Pathogens. Struktur komunitas dan potensi artropoda predator hama padi penghuni ekosistem sawah dataran tinggi di daerah Lahat. Sumatera Selatan. K. Biologycal Control.. 2005.Jatim. E. C. 11 hlm. Y.1094/PHI-A-2006-1117-02 Palumbo.cornell. dan Gardener.Pal.