1

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Bencana yang tidak ada habisnya, baik karena manusia maupun karena
kejadian alam merupakan sumber stressor yang dapat mengakibatkan terjadinya
berbagai masalah kesehatan jiwa masyarakat, baik yang ringan sampai yang berat.
Masalah kesehatan jiwa yang ringan berupa masalah psikososial seperti
kecemasan, psikosomatis dapat terjadi pada orang yang mengalami bencana.
Bahkan keadaan lebih berat seperti depresi dan psikosis dapat terjadi jika orang
yang mengalami masalah psikososial tidak ditangani dengan baik (Keliat, 2007).
Biasanya harga diri sangat rentan terganggu pada saat remaja dan usia
lanjut. Dari hasil riset ditemukan bahwa masalah kesehatan fisik dapat
mengakibatkan harga diri rendah. Harga diri tinggi terkait dengam ansietas
yang rendah, efektif dalam kelompok dan diterima oleh orang lain. Sedangkan
harga diri rendah terkait dengan hubungan interpersonal yang buruk dan
resiko terjadi harga diri rendah (Rusniati 2008).
Gangguan harga diri dapat digambarkan sebagai perasaan negatif
terhadap diri sendiri termasuk hilangnya percaya diri dan harga diri. Harga diri
rendah dapat terjadi secara situasional (trauma) atau kronis (negatif self
evaluasi yang telah berlangsung lama). Dan dapat di ekspresikan secara
langsung atau tidak langsung (nyata atau tidak nyata). Konsep diri sangat erat
kaitannya dengan diri individu. Kehidupan yang sehat, baik fisik maupun
psikologi salah satunya di dukung oleh konsep diri yang baik dan stabil.
Konsep diri adalah hal-hal yang berkaitan dengan ide, pikiran, kepercayaan
serta keyakinan yang diketahui dan dipahami oleh individu tentang dirinya.
Hal ini akan mempengaruhi kemampuan individu dalam membina hubungan
interpersonal. Meskipun konsep diri tidak langsung ada, begitu individu di
lahirkan, tetapi secara bertahap seiring dengan tingkat pertumbuhan dan
perkembangan individu, konsep diri akan terbentuk karena pengaruh
ligkungannya. selain itu konsep diri juga akan di pelajari oleh individu melalui
kontak dan pengalaman dengan orang lain termasuk berbagai stressor yang

2

dilalui individu tersebut. Hal ini akan membentuk persepsi individu terhadap
dirinya sendiri dan penilaian persepsinya terhadap pengalaman akan situasi
tertentu. Gambaran penilaian tentang konsep diri dapat di ketahui melalui
rentang respon dari adaptif sampai dengan maladaptif. Konsep diri itu sendiri
terdiri dari beberapa bagian, yaitu: gambaran diri (body Image), ideal diri,
harga diri, peran dan identitas (Rusniati, 2008).

1.2 Rumusan Masalah
Bagaimana Asuhan Keperawatan pada pasien dengan gangguan jiwa di
komunitas komunitas?

1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Dari penyusunan makalah ini diharapkan penulis dapat mengetahui dan
memahami tentang konsep bagaimana penanganan pasien dengan gangguan jiwa
pada suatu komunitas.

1.3.2 Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui konsep gangguan jiwa
2. Untuk mengetahui pelaksanaan metode penanganan pasien dengan gangguan
jiwa di komunitas
3. Untuk memahami bagaimana asuhan keperawatan komunitas pada gangguan
jiwa

1.4 Manfaat
Setelah penulisan makalah ini, diharapkan penulis :
1. Mampu mengetahui konsep gangguan jiwa
2. Mampu mengetahui pelaksanaan metode penanganan pasien dengan gangguan
jiwa di komunitas
3. Mampu memahami bagaimana asuhan keperawatan komunitas pada gangguan
jiwa

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Gangguan Jiwa

3

2.1.1 Pengertian Gangguan Jiwa
Gangguan jiwa adalah gangguan otak yang ditandai oleh terganggunya
emosi, proses berpikir, perilaku, dan persepsi (penangkapan panca indera).
Gangguan jiwa ini menimbulkan stress dan penderitaan bagi penderita (dan
keluarganya) (Stuart & Sundeen, 1998).
Gangguan jiwa dapat mengenai setiap orang, tanpa mengenal umur, ras,
agama, maupun status sosial-ekonomi. Gangguan jiwa bukan disebabkan oleh
kelemahan pribadi. Di masyarakat banyak beredar kepercayaan atau mitos yang
salah mengenai gangguan jiwa, ada yang percaya bahwa gangguan
jiwadisebabkan oleh gangguan roh jahat, ada yang menuduh bahwa itu akibat
guna-guna, karena kutukan atau hukuman atas dosanya. Kepercayaan yang salah
ini hanya akan merugikan penderita dan keluarganya karena pengidap gangguan
jiwa tidak mendapat pengobatan secara cepat dan tepat (Notosoedirjo, 2005).

2.1.2 Penyebab Gangguan Jiwa
Gejala utama atau gejala yang menonjol pada gangguan jiwa terdapat pada
unsur kejiwaan, tetapi penyebab utamanya di badan (somatogenik), lingkungan
sosial (sosiogenik) ataupun psikis (psikogenik), (Maramis1994). Biasanya tidak
terdapat penyebab tunggal, akan tetapi beberapa penyebab sekaligus dariberbagai
unsur itu yang saling mempengaruhi atau kebetulan terjadi bersamaan, lalu
timbulah gangguan badan ataupun jiwa.

2.1.3 Macam-Macam Gangguan Jiwa
Gangguan jiwa artinya bahwa yang menonjol ialah gejala psikologik dari
unsur psikis (Maramis, 1994). Macam gangguan jiwa (Rusdi Maslim, 1998):
Gangguan jiwa organik dan simtomatik, skizofrenia, gangguan skizotipal dan
gangguan waham, gangguan suasana perasaan, gangguan neurotik, gangguan
somatoform, sindrom perilaku yang berhubungan dengan gangguan fisiologis dan
faktor fisik, Gangguan kepribadian dan perilaku masa dewasa, retardasi mental,
gangguan perkembangan psikologis, gangguan perilaku dan emosional dengan
onset masa kanak dan remaja.
1. Skizofrenia.

ketidak berdayaan. klien tidak mempunyai kontak dengan realitas. Individu yang menderita suasana perasaan (mood) yang depresi biasanya akan kehilangan minat dan kegembiraan. ketiadaan gairah hidup. sikap dan kepercayaan bahwa seseorang hidup menyendiri. 1998). keleluasaan. 1994). tetapi sekali-kali bisa timbul serangan. psikomotor. sehingga pemikiran dan perilakunya abnormal. Skizofrenia merupakan suatu bentuk psikosa yang sering dijumpai dimana-mana sejak dahulu kala. Depresi adalah gangguan patologis terhadap mood mempunyai karakteristik berupa bermacam-macam perasaan. 1993). rasa putus asa dan tak berdaya. Meskipun demikian pengetahuan kita tentang penyebab dan patogenisanya sangat kurang (Maramis. harga diri rendah.Depresi adalah suatu perasaan sedih dan yang berhubungan dengan penderitaan. pesimis. 4 Merupakan bentuk psikosa fungsional paling berat. Perjalanan penyakit ini bertahap akan menuju kearah kronisitas. 2. Depresi Merupakan satu masa terganggunya fungsi manusia berkaitan dengan alam perasaan yang sedih dan gejala penyertanya.1995). Dalam kasus berat. putus asa. Jarang bisa terjadi pemulihan sempurna dengan spontan dan jika tidak diobati biasanya berakhir dengan personalitas yang rusak ”cacat” (Ingram et al.. perasaan tidak berguna. konsentrasi.. 2000). 1997). termasuk perubahan pada pola tidur dan nafsu makan. putus asa dan lain sebagainya (Hawari. Depresi dianggap normal terhadap banyak stress kehidupan danabnormal hanya jika ia tidak sebanding dengan . Sebagai ganti rasa ketidaktahuan akan kehilangan seseorang akan menolak kehilangan dan menunjukkan kesedihan dengan tanda depresi (Rawlins et al. bersalah. 1993). Depresi menyerupai kesedihan yang merupakan perasaan normal yang muncul sebagai akibat dari situasi tertentu misalnya kematian orang yang dicintai. dan berkurangnya energi yang menuju keadaan mudah lelah dan berkurangnya aktifitas (Depkes. kelelahan. harapan yang negatif dan takut pada bahaya yang akan datang. dan menimbulkan disorganisasi personalitas yang terbesar. Depresi juga dapat diartikan sebagai salah satu bentuk gangguan kejiwaan pada alam perasaan yang ditandai dengan kemurungan. serta gagasan bunuh diri (Kaplan.Dapat berupa serangan yang ditujukan pada diri sendiri atau perasaan marah yang mendalam (Nugroho.

3. Gangguan fungsi jaringan otak ini dapat disebabkan oleh penyakit badaniah yang terutama mengenai otak atau diluar otak. Gangguan Kepribadian Klinik menunjukkan bahwa gejala gangguan kepribadian (psikopatia) dan nerosa berbentuk hampir sama pada orang dengan intelegensi tinggi atau rendah. kecemasn ringan. (Maslim. berat dan kecemasan panik. Jadi dapat dikatakan bahwa gangguan kepribadian. maka lokasi inilah yang menentukan gejala dan sindroma. 2000). anankastik atau obsesif-konpulsif. Bila bagian otak yang terganggu itu luas. 6. sedang. 4. yang pernah dialami oleh setiap orang dalam rangka memacu individu untuk mengatasi masalah yang dihadapi sebaik-baiknya. 5 peristiwa penyebabnya dan terus berlangsung sampai titik dimana sebagian besar orang mulai pulih (Atkinson.1998). Pembagian menjadi psikotik dan tidak psikotik lebih menunjukkan kepada berat gangguan otak pada suatu penyakit tertentu daripada pembagian akut dan menahun. skizoid. bukan penyakit yang menyebabkannya. astenik. histerik.Intensitas kecemasan dibedakan dari kecemasan tingkat ringan sampai tingkat berat. pasif agresif. Gangguan Psikosomatik . nerosa dan gangguan intelegensi sebagaian besar tidak tergantung pada satu dengan yang lain atau tidak berkorelasi.Menurut Sundeen (1995) mengidentifikasi rentang respon kecemasan kedalam empat tingkatan yang meliputi. Bila hanya bagian otak dengan fungsi tertentu saja yang terganggu. Maslim (1991). antisosial. afektif atau siklotemik. 5. maka gangguan dasar mengenai fungsi mental sama saja. Kecemasan Sebagai pengalaman psikis yang biasa dan wajar. Klasifikasi gangguan kepribadian: paranoid. dan kepribadian inadequate. tidak tergantung pada penyakit yang menyebabkannya. Gangguan Mental Organik Merupakan gangguan jiwa psikotik atau non-psikotik yang disebabkan oleh gangguan fungsi jaringan otak (Maramis. axplosif.1994). Suatu keadaan seseorang merasa khawatir dan takut sebagai bentuk reaksi dari ancaman yang tidak spesifik (Rawlins 1993).Penyebabnya maupun sumber biasanya tidak diketahui atau tidak dikenali.

8. Diketahui bahwa ciri dan bentuk anggota tubuh serta sifat kepribadian yang umum dapat diturunkan dari orang tua kepada anaknya. Gangguan Perilaku Masa Anak dan Remaja. Gangguan perilaku mungkin berasal dari anak atau mungkin dari lingkungannya. 6 Merupakan komponen psikologi yang diikuti gangguan fungsi badaniah (Maramis.1. Karena biasanya hanya fungsi faaliah yang terganggu. Empat faktor penyebab kekambuhan dan yang memerlukan perawatan. Gangguan psikosomatik dapat disamakan dengan apa yang dinamakan neurosa organ. bahasa. neoplasma dapat mengakibat- kan perubahan kepribadian. sehingga berpengaruh pada tingkat kecerdasan secara menyeluruh. akan tetapi akhirnya kedua faktor ini saling mempengaruhi.1998). Faktor lingkungan juga dapat mempengaruhi perilaku pada anak. 2001). 7. 1994). 2007). Maka dengan demikian gangguan perilaku dapat dicegah. motorik dan sosial (Maslim. dan 79% pada tahun ke-II (Yosep. 2. ensepalitis. 2006). Kekambuhan biasa terjadi karena adanya kejadian buruk sebelum mereka kambuh (Wiramis harja. Pada gangguan jiwa kronis diperkirakan mengalami kekambuhan 50% pada tahun I. Anak dengan gangguan perilaku ini ditunjukkan dengan perilaku yang tidak sesuai dengan permintaan. kebiasaan atau norma masyarakat (Maramis.4 Pencegahan Kekambuhan Gangguan Jiwa Pencegahan kekambuhan adalah dengan mencegah terjadinya peristiwa timbulnya kembali gejala yang sebelumnya sudah memperoleh kemajuan (Stiart. Pada gangguan otak seperti trauma kepala. Anak dengan gangguan perilaku dapat menimbulkan masalah dalam asuhan dan pendidikan. Sering terjadi perkembangan neurotik yang memperlihatkan sebagian besar atau semata-mata karena gangguan fungsi alat-alat tubuh yang dikuasai oleh susunan saraf vegetatif. maka sering disebut juga gangguan psikofisiologik. 1994). menurut Sullinger (1988) adalah sebagai berikut : . Retardasi Mental Merupakan terhenti atau tidak lengkapnya perkembangan jiwa terutama ditandai oleh terjadinya gangguan keterampilan selama masa perkembangan. misalnya kemampuan kognitif.

Beberapa gejala kambuh yang perlu diidentifikasi oleh klien dan keluarga. Depresi dan menarik diri Setelah klien kembali ke keluarga. 7 1. Cara terapi bisanya: mengumpulkan anggota keluarga dan memberi kesempatan menyampaikan perasaan. Selain itu. Menjadi ragu-ragu dan serba takut (nervous) 2. Penanggung jawab klien: Setelah klien pulang. 2. Perawat komunitas yang menangani klien dapat menganggap rumah klien sebagai “ruangan perawatan”. mengkritik. namun penggunaan obat neuroleptic yang lama dapat menimbulkan efek samping Tardive Diskinesia yang dapat mengganggu hubungan sosial seperti gerakan yang tidak terkontrol. hasilnya 57% kembali dirawat dari keluarga ekspresi emosi tinggi dan 17% dari keluarga ekspresi emosi keluarga rendah. adalah sebagai berikut : 1. Dengan terapi keluarga. Sukar konsentrasi 4. sebaiknya klien melakukan perawatan lanjutan pada puskesmas di wilayahnya yang mempunyai program kesehatan jiwa. Tidak nafsu makan 3. klien dan keluarga dapat mengatasi dan mengurangi stress. Perawat. 3. Keluarga: Berdasarkan penelitian di Inggris dan Amerika keluarga dengan ekspresi emosi tinggi (bermusuhan. Klien: ketidakteraturan mengkonsumsi obat mempunyai kecenderungan untuk kambuh. Tidak ada minat 6. klien juga mudah dipengaruhi oleh stress menyenangkan (naik pangkat. Memberi kesempatan menambah ilmu dan wawasan kepada klien ganguan jiwa. banyak menekan dan menyalahkan). maka perawat puskesmas tetap bertanggung jawab atas program adaptasi klien di rumah. memfasilitasi untuk menemukan situasi dan pengalaman baru. menikah) maupun yang menyedihkan (kematian/kecelakaan). 4. Dokter (pemberi resep): pengguanaan obat yang teratur dapat mengurangi kambuh. Sulit tidur 5. tidak ramah. klien dan keluarga bekerjasama untuk membantu . Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan 25%-50% klien yang pulang dari rumah sakit tidak memakan obat secara teratur.

Semua ini merupakan persiapan individu untuk berperan di masyarakat. Individu menguji coba perilakunya di dalam keluarga. Keberhasilan perawat di rumah sakit dapat sia-sia jika tidak diteruskan di rumah yang kemudian mengakibatkan klien harus dirawat kembali (kambuh). dan umpan balik keluarga mempengaruhi individu dalam mengadopsi perilaku tertentu. Salah satu faktor penyebab kambuh gangguan jiwa adalah. Jika keluarga dipandang sebagai suatu sistem maka gangguan yang terjadi pada salah satu anggota merupakan dapat mempengaruhi seluruh sistem. 1982). termasuk keluarga lainnya. Peran serta keluarga meningkatkan kemampuan keluarga merawat klien di rumah sehingga kemungkinan dapat dicegah. keluarga yang tidak tahu cara menangani perilaku klien di rumah (Sullinger. keluarga merupakan tempat dimana individu memulai hubungan interpersonal dengan lingkungannya. Keluarga berperan dalam menentukan cara atau asuhan yang diperlukan klien di rumah. Klien dengan diagnosa skizofrenia diperkirakan akan kambuh 50% pada tahun pertama. Keluarga merupakan “institusi” pendidikan utama bagi individu untuk belajar dan mengembangkan nilai.1 Pengertian Dukungan Sosial Keluarga Menurut Sarwono dalam Yusuf (2007). sebaliknya disfungsi keluarga merupakan salah satu penyebab gangguan pada anggota.2. Pentingnya peran keluarga dalam klien gangguan jiwa dapat dipandang dari berbagai segi. yaitu : (1) dukungan material adalah menyediakan . Pertama. keyakinan. 1988). Keluarga merupakan unit yang paling dekat dengan klien dan merupakan “perawat utama” bagi klien. Bila ayah sakit maka akan mempengaruhi perilaku anak. 70% pada tahun kedua dan 100% pada tahun kelima setelah pulang dari rumah sakit karena perlakuan yang salah selama di rumah atau di masyarakat. Perawat dapat membuat kontrak dengan keluarga tentang jadwal kunjungan dan after care di puskesmas. 8 proses adaptasi klien di dalam keluarga dan masyarakat. Sistem dukungan untuk mempromosikan perubahan perilaku ada 3.2 Dukungan sosial keluarga 2. 2. sikap dan perilaku (Clement dan Buchanan. baik moril maupun materil untuk memotivasi orang tersebut dalam melaksanakan kegiatan. dukungan adalah suatu upaya yang diberikan kepada orang lain. dan istrinya.

2. Sarafino (1998) serta Taylor (1999). 2. diperlukan dan dicintai oleh sumber dukungan sosial. Menurut Friedman (2003) dukungan sosial keluarga adalah bagian integral dari dukungan sosial. kepedulian dan perhatian terhadap orang yang bersangkutan. 2. menyatakan bahwa fungsi dasar keluarga antara lain adalah fungsi efektif. instrumental. Dukungan Penghargaan Dukungan penghargaan terjadi lewat ungkapan hormat (penghargaan) positif untuk orang itu. tindakan dan penerimaan keluarga terhadap penderita yang sakit. dukungan sosial keluarga adalah sikap. keluarga memiliki dukungan. yaitu fungsi internal keluarga untuk pemenuhan kebutuhan psikososial. dan (3) dukungan emosional atau semangat adalah member pujian atas keberhasilan proses latihan. Friedman dalam Sudiharto (2007). dorongan maju atau persetujuan dengan gagasan atau perasaan individu. penghargaan. Dukungan Emosional Dukungan emosional mencakup ungkapan empati. yakin. dan informatif. dan perbandingan positif orang itu dengan orang lain. (2) dukungan informasi adalah untuk memberiakan contoh nyata keberhasilan seseorang dalam melaksanakan diet dan latihan. yaitu : 1. Anggota keluarga memenadang bahwa orang yang bersifat mendukung selalu siap memberikan pertolongan dan bantuan jika diperlukan.2 Jenis Dukungan Sosial Keluarga Kaplan (1976) dalam Friedman (1998) menjelaskan bahwa keluarga memiliki 4 jenis dukungan.Bentuk dukungan ini membuat individu memiliki perasaan nyaman. saling mengasuh memberikan kasih sayang serta menerima dan mendukung. Studi tentang dukungan sosial keluarga telah mengkonseptualisasi dukungan sosial sebagai koping keluarga. Menurut Sheridan dan Radmacher (1992). 9 fasilitas latihan. contohnya dengan membandingkannya dengan orang lain yang lebih buruk keadaannya. . Dampak positif dari dukungan sosial keluarga adalah meningkatkan penyesuaian diri seseorang terhadap kejadian-kejadian dalam kehidupan. yaitu : dukungan emosional. sehingga dapat menghadapi masalah dengan lebih baik. Menurut Friedman (1998).

saran-saran atau umpan balik. Dukungan sosial keluarga ini bersifat formal sedangkan dukungan sosial keluarga artifisial adalah dukungan yang dirancang dalam kebutuhan primer seseorang misalnya dukungan keluarga akibat bencana alam melalui berbagai sumbangan sehingga sumber dukungan sosial keluarga natural mempunyai berbagai perbedaan jika dibandingkan dengan dukungan sosial keluarga artifisial. Jenis informasi seperti ini dapat menolong individu untuk mengenali dan mengatasi masalah dengan lebih mudah. Perbedaan terletak pada keberadaan sumber dukungan sosial keluarga natural bersifat apa adanya tanpa di buat-buat sehingga mudah diperoleh dan bersifat spontan. menemui seseorang dengan menyampaikan salam.2.4 Faktor-Faktor yang Memengaruhi Dukungan sosial keluarga . Sumber dukungan sosial keluarga yang natural mempunyai kesesuaian dengan nama yang berlaku tentang kapan sesuatu harus diberikan.Bentuk dukungan ini dapat mengurangi beban individu karena individu dapat langsung memecahkan masalahnya yang berhubungan dengan materi. 10 3. sumber dukungan natural mempunyai keragaman dalam penyampaian dukungan. sumber dukungan sosial keluarga natural terbatas dari beban dan label psikologis. Dukungan Instrumental Dukungan instrumental mencakup bantuan langsung. Dukungan sosial keluarga yang natural diterima seseorang melalui interaksi sosial dalam kehidupan secara spontan dengan orang yang berada di sekitarnya. 4. 2. petunjuk-petunjuk. mulai dari pemberian barang yang nyata. 2. sumber dukungan sosial keluarga natural berakar dari hubungan yang berakar lama.2. Dukungan Informatif Dukungan informatif mencakup memberikan nasehat. seperti kalau orang memberi pinjaman uang kepada orang itu.3 Sumber Dukungan Sosial Keluarga Menurut Root & Dooley (1985) dalam Kuncoro (2002) ada 2 sumber dukungan sosial keluarga yaitu natural dan artifisial.

Menurut Friedman (1998). atau merasa tidak nyaman saat orang lain menolongnya. Keluarga belum bisa menjaga kebersihan diri penderita gangguan jiwa. atau kurang sensitif terhadap sekitarnya sehingga tidak menyadari bahwa orang lain membutuhkan dukungan darinya.Selain itu orang tua dengan kelas sosial menengah mempunyai tingkat dukungan. dan tidak ingin orang lain tahu bahwa ia membutuhkan bantuan. tidak suka menolong orang lain. efeksi dan keterlibatan yang lebih tinggi dari pada orang tua dengan kelas sosial bawah. Kelas sosial ekonomi disini meliputi tingkat pendapatan atau pekerjaan orang tua dan tingkat pendidikan orang tua. Beberapa orang terkadang tidak cukup asertif untuk memahami bahwa ia sebenarnya membutuhkan bantuan dari orang lain. 2. atau merasa bahwa ia seharusnya mandiri dan tidak mengganggu orang lain. hubungan yang ada lebih otoritas atau otokrasi. faktor yang mempengaruhi dukungan sosial keluarga lainnya adalah kelas sosial ekonomi orang tua. harus menolong dirinya sendiri. sementara dalam keluarga kelas bawah. Dalam keluarga kelas menengah. 2. Faktor-faktor tersebut diantaranya adalah : 1. .2. 11 Sarafino (2006) menyatakan bahwa terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi apakah seseorang akan menerima dukungan sosial keluarga atau tidak. Faktor dari pemberi dukungan (providers) Seseorang terkadang tidak memberikan dukungan sosial kepada orang lain ketika ia sendiri tidak memiliki sumberdaya untuk menolong orang lain. Faktor dari penerima dukungan (recipient) Seseorang tidak akan menerima dukungan sosial dari orang lain jika ia tidak suka bersosial. suatu hubungan lebih demokratis dan adil mungkin ada. Keluarga belum dapat memantau penderita gangguan jiwa dalam pemberian obat sesuai dengan anjuran petugas kesehatan. atau tengah menghadapi stres.5 Indikator Dukungan Sosial Keluarga Indikator rendahnya dukungan sosial keluarga diantaranya: 1. 2. atau tidak tahu kepada siapa dia harus meminta pertolongan.

bicara gaur. 6. Keluarga masih merasa malu dengan adanya penderita gangguan jiwa di rumahnya karena dianggap aib keluarga. 2. BAB dan BAK sembarangan.2. 9. 2. Keluarga tidak dapat berkomunikasi baik dengan penderita gangguan jiwa. Keluarga juga tidak mempunyai kreativitas dalam cara pemberian obat pada penderita gangguan jiwa. Tidak Terjadi prilaku penyimpangan seperti tidak mau minum obat. Dukungan informasional Keluarga berfungsi sebagai kolektor dan diseminator (penyebar) informasi tentang dunia. Keluarga belum mampu memberikan informasi dan motivasi pada penderita gangguan jiwa.2. tidak mau keluar rumah. 5. tidak mau makan. 7. Keluarga masih melakukan pengasingan pada penderita gangguan jiwa. Menjelaskan tentang pemberian saran.7 Fungsi Keluarga Dalam Memberikan Dukungan Caplan (1964) dalam Friedman (1998) menjelaskan bahwa keluarga memiliki beberapa fungsi dukungan yaitu: 1. Tidak terjadinya prilaku seperti bicara sendiri 5. 4. tidak mau mandi. sugesti. Tidak terjadinya prilaku ketawa sendiri. 4. Keluarga masih beranggapan bahwa penderita gangguan jiwa tidak dapat di sembuhkan lagi. tidak mau bicara. Keluarga belum bisa memenuhi kebutuhan KDM penderita di sebabkan adanya kegiatan lain. informasi yang dapat digunakan mengungkapkan suatu masalah. tidak mau tidur.6 Indikator Pencegahan Kekambuhan pada Penderita Gangguan Jiwa Indikator pencegahan kekambuhan penderita gangguan jiwa di Puskesmas adalah sebagai berikut : 1. berdiam diri. Tidak terjadinya prilaku penyimpangan penderita seperti perilaku kekerasan 2. 12 3. tidak mau minum. Tidak terjadinya prilaku penyimpangan pada penderita seperti Histeris 3. 8. Manfaat dari dukungan ini .

2. diantaranya: kesehatan penderita dalam hal kebutuhan makan dan minum. yaitu dengan membimbing dan menengahi pemecahan masalah. ketiga domain ini diukur dari pengetahuan (Knowledge). penghargaan. mendengarkan dan didengarkan. saran. praktek dan tindakan (Practice). Sikap dan tanggapan (attitude). Dukungan penilaian Keluarga sebagai bimbingan umpan balik. Peran keluarga dalam kesembuhan dan kekambuhan penderita gangguan jiwa sangat penting. karena keluargalah orang yang paling dekat dengan penderita gangguan jiwa. Aspek dalam dukungan ini adalah nasehat. meskipun ranah tersebut tidak mempunyai batasan yang jelas dan tegas tetapi pembagian tersebut dilakukan untuk tujuan suatu pendidikan adalah mengembangkan atau meningkatkan ketiga domain (ranah) perilaku tersebut. perhatian. sebagai sumber dan validator indentitas anggota keluarga diantaranya memberikan support. perhatian 3. Dukungan emosional Keluarga sebagai tempat yang aman dan damai untuk istirahat dan pemulihan serta membantu penguasaan terhadap emosi. 4. Aspek-aspek dari dukungan emosional meliputi dukungan yang diwujudkan dalam bentuk afeksi. Dalam perkembangan selanjutnya dan untuk kepentingan pengukuran hasil pendidikan.Pencegahan kekambuhan atau mempertahankan penderita gangguan jiwa di lingkungan keluarga dapat terlaksana dengan persiapan pulang yang adekuat serta mobilisasi fasilitas . usulan. Dukungan instrumental Keluarga merupakan sumber pertolongan praktis dan konkrit. terhindarnya penderita dari kelelahan. adanya kepercayaan. Individu tersebut membutuhkan peran orang lain di sekitarnya. Penderita gangguan jiwa tidak mungkin mampu mengatasi masalah kejiwaanya sendiri. istirahat. Bloom (1908) seorang ahli psikologi pendidikan membagi perilaku ke dalam 3 domain (ranah). 13 adalah menekan munculnya suatu stressor karena informasi yang diberikan dapat menyumbangkan aksi sugesti yang khusus pada individu. khususnya keluarganya. petunjuk dan pemberian informasi. yang terdiri dari ranah kognitif (coognitif domain) dan ranah afektif (affective domain) dan ranah psikomotor (psychomotor domain).

14 pelayanan kesehatan yang ada di masyarakat khususnya peran serta keluarga. keluarga dekat. 2. 1. pencegahan sekunder pada masyarakat yang mengalami masalah psikososial (resiko gangguan jiwa) dan pencegahan tersier pasien gangguan jiwa dengan proses pemulihan. (Sarafino. 3. . 4. Aspek (bio-fisik) Dikaitkan dengan masalah kesehatan fisik seperti kehilangan orang tubuh yag dialami anggota masyarakat akibat bencana yang memerlukan pelayanan dala rangka adaptasi mereka terhadap kondisi fisiknya. kecemasan maupun kondisi lebih berat yang memerlukakan pelayanan agar mereka dapat beradaptasi dengan situasi tersebut. 5. dan harta benda yang memerlukan pelayanan dari berbagai sektor terkait agar mampu mempertahankan kehidupan sosial yg memuaskan. Aspek cultural Dikaitkan dengan tolong menolong yang dapat digunakan sebagai sistem pendukung sosial dalam mengatasi berbagai permasalahan yang ditemukan. Aspek psikologis Dikaitkan dengan berbagai masalah psikologis yang dialami masyarakat seperti ketakutan. Pelayanan keperawatan komprehensif adalah pelayanan yang berfokuskan pada pencegahan primer pada anggota masyarakat yang sehat jiwa. pekerjaan.1 Pengertian Keperawatan kesehatan jiwa komunitas adalah pelayanan keperawatan yang komprehensif . tempat tinggal. Aspek social Dikaitkan dengan kehilangan suami/istri/anak. Pelayanan keperawatan holistik adalah pelayanan menyeluruh pada semua aspek kehidupan manusia yaitu aspek bio-psiko-sosio-cultural dan spiritual.3 Konsep Dasar Community Mental Healthy Nursing 2. holistik.3.kronis maupun terminal yang memberi dampak pada kesehatan jiwa. 2006) 2. trauma. Demikian pula dengan penyakit fisik lain baik yang akut. Aspek spiritual Dikaitkan dengan nilai-nilai keagamaan yang kuat yang dapat diperdayakan sebagai potensi masyarakat dalam mengatasi berbagai konflik dan masalah kesehatan yang terjadi. rentan terhadap stress (resiko gangguan jiwa) dan dalam tahap pemulihan serta pencegahan kekambuhan (gangguan jiwa). dan paripurna yang berfokus pada masyarakat yang sehat jiwa .

Membentuk desa siaga sehat jiwa . Sociocultural context of psychiatric nursing care (keadaan-keadaan sosial budaya dalam keperawatan jiwa).3. 5. 2. 8. 9.3. Actualizing the Psychiatric Nursing Role : Professional Performance Standards (aktualisasi peran keperawatan jiwa: melalui penampilan standar- standar professional). Environmental context of psychiatric nursing care (keadaan-keadaan lingkungan dalam keperawatan jiwa). 15 Pelayanan keperawatan paripurna adalah pelayanan pada semua jenjang pelayanan yaitu dari pelayanan kesehatan jiwa spesialis . 6. Implementing the nursing process : standards of care (penatalaksanaan proses keperawatan: dengan standar. Basic Course (BC) CMHN Sasaran : perawat keswamas (puskesmas) Kegiatan : perawat diberikan pelatihan cara memberikan asuhan keperawatan (7Dx Keperawatan) pada klien dan keluarga pasien gangguan jiwa dirumah.2Prinsip-Prinsip Keperawatan Kesehatan Jiwa Prinsip-prinsip keperawatan kesehatan jiwa adalah sebagai berikut : 1. Biological context of psychiatric nursing care (keadaan-keadaan biologis dalam keperawatan jiwa).standar perawatan). Stress adaptation model of psychiatric nursing (model stress dan adaptasi dalam keperawatan jiwa). Legal ethical context of psychiatric nursing care (keadaan-keadaan legal etika dalam keperawatan jiwa). 2. pelayanan kesehatan jiwa integratif dan pelayanan kesehatan jiwa yang bersumber daya masyarakat. Perberdayaan seluruh potensi dan sumber daya yang ada dimasyarakat diupayakan agar terwujud masyarakat yang mandiri dalam memelihara kesehatannya. 4. Psychological context of psychiatric nursing care (keadaan-keadaan psikologis dalam keperawatan jiwa). Conceptual models of psychiatric nursing (konsep model keperawatan jiwa). 2.3 Jenis – jenis CMHN 1. Intermediate Course (IC) CMHN Sasaran : Kader Keswa dan Perawat Keswa (Puskesmas Kegiatan : a. 10. 7. 2. 3. Therapeutic Nurse patient relationship (hubungan yang terapeutik antara perawat dengan klien).

Hal ini lebih dikenal dengan metode hypnotic yang memerlukan keahlian dan latihan yang khusus. Peran perawat adalah berupaya melakukan assessment atau pengkajian mengenai keadaan-keadaan traumatic atau stressor yang dianggap bermakna pada masa lalu misalnya ( pernah disiksa orang tua. Advance Course (AC) CMHN Sasaran : individu. pernah disodomi. klien akan mengungkapkan semua pikiran dan mimpinya. staf puskesmas. Manajemen keperawatan kesehatan jiwa b. sedangkan therapist berupaya untuk menginterpretasi pikiran dan mimpi pasien. c. Misalnya ketidakpuasan pada masa oral dimana anak tidak mendapatkan air susu secara sempurna. Hal ini akan menyebabkan traumatic yang membekas pada masa dewasa. peraturan. diperlakukan secar kasar. masalah psikososial dan sehat jiwa. kelompok formal dan informal serta masyarakat luas Kegiatan : a. agama(super ego/das uber ich). akan mendorong terjadinya penyimpangan perilaku (deviation of Behavioral). Merekrut dan melatih kader keswa untuk skreening ggn jiwa di masyarakat. Faktor penyebab lain gangguan jiwa dalam teori ini adalah adanya konflik intrapsikis terutama pada masa anak-anak. diasuh dengan . Erickson). Proses terapi pada model ini adalah menggunakan metode asosiasi bebas dan analisa mimpi. Melatih perawat keswa mengintervensi klien dengan masalah psikososial dan mengembangkan rehabilitasi pasien gangguan jiwa. dilarang dengan kekerasan untuk memasukkan benda pada mulutnya pada fase oral dan sebagainya. keluarga. Kerjasama Lintas sektoral 1) Psycoanalytical (Freud. norma. 3. Ketidakmampuan seseorang dalam menggunakan akalnya (ego) untuk mematuhi tata tertib.kata. 16 b. Misalnya klien dibuat dalam keadaan ngantuk yang sangat. Menjelaskan bahwa gangguan jiwa dapat terjadi pada seseorang apabila ego (akal) tidak berfungsi dalam mengontrol id (kehendak nafsu atau insting). tidak adanya stimulus untuk belajar berkata. Dalam keadaan tidak berdaya pengalaman alam bawah sadarnya digali dengamn pertanyaan-pertanyaan untuk menggali traumatic masa lalu. Dengan cara demikian. diterlantarkan. transferen untuk memperbaiki traumatic masa lalu.

Trusting Relationship and interpersonal Satisfaction (menjalin hubungan yang saling percaya) dan membina kepuasan dalam bergaul dengan orang lain sehingga klien merasa berharga dan dihormati. 2) Interpersonal ( Sullivan. di masyarakat atau tempat kerja. dengan menggunakan pendekatan komunikasi terapeutik setelah terjalin trust (saling percaya). Seseorang akan mengalami gangguan jiwa atau penyimpangan perilaku apabila faktor social dan faktor lingkungan yang memicu munculnya stress pada seseorang (social and environmental factors create stress. di sekolah. Rogers). diperkosa pada masa anak). Menurut konsep model ini. atasan. Proses terapi menurut konsep ini adalh Build Feeling Security (berupaya membangun rasa aman pada klien). Perawat memberiakan respon verbal yang mendorong rasa aman klien dalam berhubungan dengan orang lain. . 3) Social ( Caplan. therapist use empathy and relationship (perawat berupaya bersikap empati dan turut merasakan apa-apa yang dirasakan oleh klien). Szasz). Ancaman tersebut menimbulkan kecemasan (Anxiety). di kantor. 4) Existensial ( Ellis. Ansietas timbul dan alami seseorang akibat adanya konflik saat berhubungan dengan orang lain (interpersonal). peplau). 17 kekerasan. Prinsip proses terapi yang sangat penting dalam konsep model ini adalah environment manipulation and social support (pentingnya modifikasi lingkungan dan adanya dukungan sosial) Peran perawat dalam memberikan terapi menurut model ini adalah pasien harus menyampaikan masalah menggunakan sumber yang ada di masyarakat melibatkan teman sejawat. which cause anxiety and symptom). kelainan jiwa seseorang bisa muncul akibat adanya ancaman. apa yang biasa dicemaskan oleh klien saat berhubungan dengan orang lain). Menurut konsep ini perasaan takut seseorang didasari adnya ketakutan ditolak atau tidak diterima oleh orang sekitarnya. keluarga atau suami-istri. Sedangkan therapist berupaya : menggali system sosial klien seperti suasana dirumah. Menurut teori model ekistensial gangguan perilaku atau gangguan jiwa terjadi bila individu gagal menemukan jati dirinya dan tujuan hidupnya. Peran perawat dalam terapi adalah share anxieties (berupaya melakukan sharing mengenai apa- apa yang dirasakan klien.

. Semua hal tersebut terakumulasi menjadi penyebab gangguan jiwa. kritik. memperluas kesadaran diri dengan cara introspeksi (self assessment). 5) Supportive Therapy ( Wermon. Membenci diri sendiri dan mengalami gangguan dalam Body imagenya. pemarah. Terapist berupaya menjalin hubungan yang hangat dan empatik dengan klien untuk menyiapkan coping klien yang adaptif. 18 Individu tidak memiliki kebanggaan akan dirinya. Penyebab gangguan jiwa dalam konsep ini adalah: factor biopsikososial dan respo maladaptive saat ini. Rockland). ragu-ragu.tidak disukai. bergaul dengan kelompok sosial dan kemanusiaan (conducted in group). kurang percaya diri. kekuatan mana yang dapat dipakai alternative pemecahan masalahnya. batuk-batuk. memahami riwayat hidup orang lain yang dianggap sukses atau dapat dianggap sebagai panutan (experience in relationship). Perawat harus membantu individu dalam melakukan identifikasi coping yang dimiliki dan yang biasa digunakan klien. Terapist berupaya untuk memperluas kesadaran diri klien melalui feedback. menarik diri. Fenomena tersebut muncul akibat ketidakmamupan dalam beradaptasi pada masalah-masalah yang muncul saat ini dan tidak ada kaitannya dengan masa lalu. Aspek psikologisnya mengalami banyak keluhan seperti : mudah cemas. tidak mampu mendapatkan pekerjaan. Prinsip keperawatannya adalah : klien dianjurkan berperan serta memperoleh pengalaman yang berarti untuk memperlajari dirinya dan mendapatkan feed back dari orang lain. Aspek biologisnya menjadi masalah seperti: sering sakit maag. Kraeplin). bermusuhan. individu diupayakan mengenal telebih dahulu kekuatan-kekuatan apa yang ada pada dirinya. misalnya melalui terapi aktivitas kelompok. Prinsip proses terapinya adalah menguatkan respon coping adaptif. dan sebagainya. Aspek sosialnya memiliki masalah seperti : susah bergaul. 6) Medica (Meyer. Prinsip proses terapi- nya adalah : mengupayakan individu agar bergaul dengan orang lain. mendorong untuk menerima jati dirinya sendiri dan menerima kritik atau feedback tentang perilakunya dari orang lain (encouraged to accept self and control behavior). perasaan bersalah. migraine. saran atau reward & punishment.

laporan mengenai dampak terapi. Center for Mental Health Services secara resmi mengakui keperawatan kesehatan jiwa sebagai salah satu dari lima inti disiplin kesehatan jiwa. Sehingga focus penatalaksanaannya harus lengkap melalui pemeriksaan diagnostic. perawat sangat penting untuk mengetahui dan meyakini akan peran dan fungsinya. farmakologik dan teknik interpersonal. Mengelola dan mengkoordinasikan sistem pelayanan yang mengintegrasikan kebutuhan pasien. lingkungan dan sosial. Pengkajian biopsikososial yang peka terhadap budaya.penyuluhan dan konseling 5. 19 Menurut konsep ini gangguan jiwa muncul akibat multifactor yang kompleks meliputi: aspek fisik. Dalam mengembangkan upaya pelayanan keperawatan jiwa. serta memahami beberapa konsep dasar yang berhubungan dengan asuhan keperawatan jiwa.3. genetic. dan perilaku manusia untuk mendapatkan suatu kerangka berpikir teoritis yang mendasari praktik keperawatan. mengatasi pengaruh penyakit mental . Meningkatkan dan memelihara kesehatan mental.. teori kepribadian. therapist berperan dalam pemberian terapi. Berperan serta dalam pengelolaan kasus 4.3. dan menentukan jenis pendekatan terapi yang digunakan.4 Peran dan Fungsi Perawatan Kesehatan Jiwa Komunitas Keperawatan kesehatan jiwa adalah proses interpersonal yang berupaya untuk meningkatkan dan mempertahankan perilaku yang mendukung pada fungsi yang terintegrasi sehingga sanggup mengembangkan diri secara wajar dan dapat melakukan fungsinya dengan baik. sanggup menjelaskan tugasnya sehari-hari sebagaimana mestinya. Memberikan pedoman pelayanan kesehatan 2. . 2. Perawat jiwa menggunakan pengetahuan dari ilmu psikososial. biofisik. terapi somatic. Merancang dan implementasi rencana tindakan untuk klien dan keluarga. Pengkajian yg mempertimbangkan budaya 2. Merancang dan mengimplementasikan rencana tindakan 3. keluarga staf dan pembuat kebijakan 6. menentukan diagnose. Perawat berperan dalam berkolaborasi dengan tim medis dalam melakukan prosedur diagnostic dan terapi jangka panjang. 2. 1.5 Kompetensi perawat kesehatan jiwa komunitas (competent of caring) 1.

Memberikan pedoman pelayanan bagi individu. Pencegahan Primer Fokus pelayanan keperawatan jiwa adalah pada peningkatan kesehatan dan pencegahan terjadinya gangguan jiwa. 6. kelompok. mengkaji. 4. sekunder.6 Pelayanan Keperawatan Jiwa Komunitas Pelayanan keperawatan jiwa komprehensif adalah pelayanan keperawatan jiwa yang diberikan pada masyarakat pasca bencana dan konflik. Peran serta dalam pengelolaan kasus: mengorganisasikan. teknologi dan sistem sosial yang paling tepat. 5. negosiasi. program sosialisasi kesehatan jiwa . 2. Meningkatkan dan memelihara kesehatanmental serta mengatasi pengaruh penyakit mental melalui penyuluhan dan konseling. Tujuan pelayanan adalah mencegah terjadinya gangguan jiwa . untuk menggunakan sumber yang tersedia di komunitas kesehatan mental. Memberikan askep pada penyakit fisik yang mengalami masalah psikologis dan penyakit jiwa dengan masalah fisik. staf. dan tersier. persiapan menjadi orang tua. dengan kondisi masyarakat yang sangat beragam dalam rentang sehat – sakit yang memerlukan pelayanan keperawatan pada tingkat pencegahan primer. koordinasi pelayanan bagi individu dan keluarga. termasuk pelayanan terkait. manajemen stress. keluarga.3. Mengelola dan mengkoordinasi sistem pelayanan yang mengintegrasikan kebutuhan klien. dan usia lanjut. 20 3. remaja. Aktivitas pada pencegahan primer adalah program pendidikan kesehatan . Beberapa kegiatan yang dilakukan adalah : a. dan pembuat kebijakan. Pelayanan keperawatan kesehatan jiwa yang komprehensif mencakup 3 tingkat pencegahan yaitu pencegaha primer . 3) Memantau dan menstimulasi perkembangan 4) Mensosialisasikan anak dengan lingkungan b. 1. keluarga. program stimulasi perkembangan. dan tersier. Target pelayanan yaitu anggota masyarakat yang belum mengalami gangguan jiwa sesuai dengan kelompok umur yaitu anak. Memberikan pendidikan kesehatan pada orangtua antara lain : 1) Pendidikan menjadi orangtua 2) Pendidikan tentang perkembangan anak sesuai dengan usia. dewasa. 7. sekunder. mempertahankan dan meningkatkan kesehtan jiwa. Pendidikan kesehatan mengatasi stress 1) Stress pekerjaan 2) Stress perkawinan .

individu yang kehilangan pasangan . tim kesehatan dan penemuan langsung. Bunuh diri merupakan salah satu cara penyelesaian masalah oleh individu yang mengalami keputus asaan. Penyalahgunaan obat sering digunakan sebagai koping untuk mengtasi masalah. pekerjaan. 2) Menyediakan lingkungan yang aman untuk mencegah bunuh diri. Program pencegahan penyalahgunaan obat. 3) Melatih keterampilan koping yang adaptif. . b. Menemukan kasus sedini mungkin dengan cara memperoleh informasi dari berbagai sumber seperti masyarakat. 3) Latihan afirmasi dengan menguatkan aspek-aspek positif yang ada pada diri seseorang. Program dukungan sosial diberikan pada anak yatim piatu . Melakukan penjaringan kasus dengan melakukan langkah sebagai berikut : 1) Melakukan pengkajian 2menit untuk memperoleh data fokus pada semua pasien yang berobat kepukesmas dengan keluhan fisik. Oleh karena itu perlu dilakukan program : 1) Memberikan informasi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang tanda-tanda bunuh diri. yang semuanya ini mungkin terjadi akibat bencana. Kegiatan yang dilakukan: 1) Pendidikan kesehatan melatih koping positif untuk mengatasi stress 2) Latihan asertif yaitu mengungkapkan keinginan dan perasaan tanpa menyakiti orang lain. Target pelayanan adalah anggota masyarakat yang beresiko atau memperlihatkan tanda-tanda masalah dan gangguan jiwa. Program pencegahan bunuh diri. 3) Melatih keterampilan sesuai dengan keahlian masing-masing untuk mendapatkan pekerjaan 4) Mendapatkan dukungan pemerintah dan LSM untuk memperoleh tempat tinggal. e. 21 3) Stress sekolah 4) Stress pasca bencana c. kehilangan rumah/ tempat tinggal . Beberapa kegiatan yang dilakukan adalah : 1) Memberikan informasi tentang cara mengatasi kehilangan 2) Menggerakkan dukungan masyarakat seperti menjadi orangtua asuh bagi anak yatim piatu. Tujuan pelayanan adalah menurunkan angka kejadian gangguan jiwa. Pencegahan Sekunder Fokus pada pencegahan sekunder adalah deteksi dini dan penanganan dengan segera masalah psikososial dan gangguan jiwa. Aktivitas pada pencegahan sekunder adalah : a. d. 2.

terapi keluarga dan terapi lingkungan. kelompok keluarga. 3) Mengumumkan kepada masyarakat tentang gejala dini gangguan jiwa (di tempat– tempat umum) 4) Memberikan pengobatan cepat terhadap kasus baru yang ditemukan sesuai dengan standar pendelegasian program pengobatan (bekerja sama dengan dokter) dan memonitor efek samping pemberian obat. gejala. melakukan pengawasan ketat. Aktifitas pada pencegahan tersier meliputi : . atau kelompok masyarakat pemerhati) berupa kegiatan kelompok yang mebahas masalah-masalah yang terkait dengan kesehatan jiwa dan cara penyelesaiannya. dan melakukan rujukan jika mengancam keselamatan jiwa. 8) Melakukan terapi modalitas yaitu berbagai terapi keperawatan untuk membantu pemulihan pasien seperti terapi aktivitas kelompok . 3. 5) Bekerja sama dengan perawat komunitas dalam pemberian obat lain yang dibutuhkan pasien untuk mengatasi gangguan fisik yang dialami (jika ada gangguan fisik yang memerlukan pengobatan). Target pelayanan yaitu anggota masyarakat mengalami gangguan jiwa pada tahap pemulihan. dan menginformasikan jadwal tindak lanjut. mengajarkan keluarga agar melaporkan segera kepada perawat jika ditemukan adanya tanda-tanda yang tidak biasa. 7) Menangani kasus bunuh diri dengan menempatkan pasien ditempat yang aman. 10) Menyediakan hotline service untuk intervensikrisis yaitu pelayanan dalam 24 pukul melalu telepon berupa pelayan konseling. dan kepatuhan pasien minum obat. 11) Melakukan tindakkan lanjut (follow-up) dan rujukan kasus. menguatkan koping. 9) Memfasilitasi self-help group (kelompok pasien. Tujuan pelayanan adalah mengurangi kecacatan atau ketidak- mampuan akibat gangguan jiwa. Pencegahan Tersier Pencegahan tersier adalah pelayanan keperawatan yang berfokus pada peningkatkan fungsi dan sosialisasi serta pencegahan kekambuhan pada pasien gangguan jiwa. 6) Melibatkan keluarga dalam pemberian obat. 22 2) Jika ditemukan tanda-tanda yang berkaitan dengan kecemasan dan depresi maka lanjutkan pengkajian dengan menggunakan pengkajian keperawatan kesehatan jiwa.

3) Menyediakan pelatihan dan kemampuan dan potensi yang perlu dikembangkan oleh pasien. oleh karena itu. Melakukan pendekatan kepada tokoh masyarakat. teman dekat. Program sosialisasi 1) Membuat tempat pertemuan untuk sosialisasi. jalan santai. Stigma merupaka anggapan yang keliru dalam masyarakat terhadap gangguan jiwa.mengelola rumah tangga. remaja dan lansia) . 2) Penjelasan tentang pentingnya pemanfaatan pelayanan kesehatan dalam penanganan pasien yang melayani kekambuhan. tokoh masyarakat).7 Jenis gangguan jiwa yang ditangani pada (anak. c. serta tentang sikap dan tindakan menghargai pasien gangguan jiwa. yaitu : a. perlu diberikan program mencegah stigma untuk menghindari isolasi dan deskriminasi terhadap pasien gangguan jiwa. 23 a. pengajian. Beberapa kegiatan yang dilakukan adalah : 1) Pendidikan kesehatan tentang perilaku dan sikap masyarakat terhadap penerima pasien gangguan jiwa. b. 2) Mengembangkan keterampilan hidup (aktifitas hidup sehari-hari [ADL]. dan pelayan terdekat yang terjangkau masyarakat. atau yang berpengaruh dalam rangka mensosialisasikan kesehatan jiwa dan gangguan jiwa. pergi rekreasi. Program rehabilitas untuk memberdayakan pasien dan keluarga hingga mandiri berfokus pada kekuatan dan kemampuan pasien dan keluarga dengan cara : 1) Meningkatkan kemampuan koping yaitu belajar mengungkapkan dan menyelesaikan masalah dengan cara yang tepat 2) Mengembangkan sistem pendukung dengan memberdayakan keluarga dan masyarakat. 4) Kegiatan sosial dan keagamaan (arisan. mengembangkan hobi 3) Program rekreasi seperti nonton bersama. Program dukungan sosial dengan menggerakan sumber-sumber di masyarakat seperti : sumber pendidikan. majelis taklim. Beberapa kegiatan yang dilakukan. b. 4) Membantu pasien dan keluarga merencanakan dan mengambil keputusan untuk dirinya. keluarga dan masyarakat agar pasien produktif kembali. dukungan masyarakat (tetangga.3. 2. Memberikan pendidikan kesehatan kepada masyarakat tentang kesehatan jiwa dan gangguan jiwa. Program mencegah stigma. kegiatan adat) 4.

g. serta dengan tanda fisik kecemasan (gugup). Gangguan Tic : Gangguan ini menyebabkan seseorang melakukan aktifitas yang sama serta berulang. f. Gangguan perkembangan : Anak dengan gangguan ini memiliki masalah dalam memahami dunia di sekitar mereka. Dalam kasus yang jarang terjadi. Tetapi hal yang tidak biasa bagi seorang anak memiliki lebih dari satu gangguan. seperti detak jantung yang cepat dan berkeringat. Hal ini menjadikan masalah kesehatan jiwa sebagai prioritas bagi Kementerian Kesehatan karena merupakan tantangan yang besar dengan kompleksitas tinggi di berbagai lapisan dan aspek kehidupan. h. c. Gangguan kecemasan : Anak dengan gangguan kecemasan menanggapi hal- hal tertentu atau situasi dengan rasa takut dan ketakutan. walaupun manifestasifisiologik yang ditimbulkannya sama cemas . e.6 % dari sekitar 19 juta penduduk yang berusia di atas 15 tahun. serta perilaku tidak biasa. Jenis gangguan jiwa yang ditangani pada Anak Berdasarkan data hasil Riskesdas tahun 2007. Jenis Gangguan jiwa yang ditangani pada Remaja a. gangguan afektif. meskipun dapat berlanjut terus sampai dewasa. Skizofrenia : gangguan serius melibatkan persepsi terdistorsi dan pikiran. yang merupakan bentuk respon emosional terhadap bahaya yang obyektif. Beberapa penyakit. dan skizofrenia. Sedangkan gangguan perilaku dan gangguan perkembangan. terkait dengan kondisi tubuh bahkan makanan. Anak-anak dapat menderita gangguan jiwa. persentase gangguan jiwa mencapai 11. dapat terjadi pada orang dewasa maupun anak-anak. gangguan belajar dan komunikasi dimulai pada masa kanak-kanak saja. gangguan makan. Gangguan Eliminasi : Gangguan ini mempengaruhi perilaku yang terkait dengan pembuangan limbah tubuh (feses dan urin). 24 1. gangguan eliminasi. Gangguan Afektif : Gangguan ini melibatkan perasaan sedih terus menerus bahkan berubahnya suasana hati dengan cepat. Gangguan perilaku : Anak dengan gangguan ini cenderung menentang aturan dan sering mengganggu di lingkungan terstruktur. gangguan tic dapat terjadi pada orang dewasa. sebagai berikut : a. gerakan tiba-tiba dan tak terkendali serta sering. seperti gangguan kecemasan. Gangguan Cemas Cemas (ansietas) adalah perasaan gelisah yang dihubungkan dengan suatu antisipasi terhadap bahaya. b. seperti sekolah. Gangguan makan : Gangguan makan dapat melibatkan emosi dan sikap. 2. d. ini berbeda dengan rasa takut.

gangguan psikiatrik pada remaja sering kali akan berlanjut sampai masa dewasa. c. 25 merupakan suatu bentuk pengalamanan yang umum. mempunyai lebih banyak kelelahan sometik. putus asa. Akibat sulitnya membedakan antara kedua kondisi diatas. Gangguan Depresi Dalam perkembangan normal. Gangguan Psikotik Gangguan psikotik adalah suatu kondisi terdapatnya gangguan yang berat dalam kemampuan menilai realitas. harga diri yang rendah . Pasien biasanya menolak adanya kemungkinan penyebab psikologis. tapi dapat ditemui dalam bentuk yang berbeda pada gangguan psikiatrik dan gangguan medis Diagnosis mengenai cemas ditegakkanapabila gejala cemas mendominasi dan menyebabkan distres (rasa tertekan) atau gangguan yang nyata. Menurut Carlson. dan lebih sering terlihat mudah tersinggung. 1) Tipe primer : bila tidak ada gangguan psikiatrik sebelumnya 2) Tipe sekunder : bila gangguan yang sekarang mempunyai hubungan dengan gangguan psikiatrik sebelumnya. b. Gangguan somatoform ( Psikosomatik ) Gangguan ini lebih dikenal di masyarakat umum sebagai gangguan psikosomatik . d. membuat depresi pada remaja sering tidak terdiagnosis. problem tidur. walaupun ditemukan gejala ansietas dan depresi yang nyata. mempunyai ide bunuh diri. dan tidak patuh. halusinasi. seperti yang dikutip oleh shafii membagi depresi pada remaja menjadi tipe primer dan sekunder. bila tidak ditangani dengan baik. penurunan prestasi sekolah. yang bukan karena retardasi mental atau gangguan penyalahgunaan NAPZA. lebih agresif. oleh karena itu sangatlah penting untuk membedakan secara jelas dan hati-hati antara depresi yang disebabkan oleh gejolak mood yang normal pada remaja (adolescent turmoil) dengan depresi patologik. . Pada gangguan depresi yang sekunder biasanya lebih kacau. yang disertai dengan dengan permintaan pemeriksaan medis : meskipun sudah berkali-kali terbukti hasilnya negatif dan juga telah dijelaskan oleh dokter bahwa tidak ditemukan kelainan fisik yang menjadi dasar keluhannya. remaja mempunyai kecenderungan mengalami depresi. Terdapat gejala yaitu waham . Ciri uatama dari gangguan somatoform adalah adanya keluhan gejala fisik yang berulang.

mudah marah. dan zat Adikif lainnya ) Penyalahgunaan Napza di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir ini semakin meningkat. Faktor risiko yang dapat diidentifikasi pada remaja penyalahgunaan NAPZA : 1) Konflik keluarga yang berat 2) Kesulitan Akademik 3) Adanya komorbiditas dengan gangguan psikiatrik lain. waham. alkohol. katatonia. Ganguan skizofrenia . yang disertai halusinasi. bingung. psikologis dan sosial-budaya.Kes. Skizofrenia pada lansia angka prevalensinya sekitar 1% dari kelompok lanjut usia (lansia) (Dep. Gangguan penyalahgunaan NAPZA (narkotik.1992). 26 perilaku yang sangat kacau . Hal tersebut juga menyebabkan gangguan emosi sehingga emosi menjadi labil misalnya cemas. halusinasi. sehingga penderita menjadi tak tahu waktu. Terjadi juga gangguan perilaku. psikotropika. mudah salah faham dan sebagainya. Skizofrenia pada masa kanak dan remaja didefinisikan sama dengan skizofrenia pada masa dewasa. asosiasi yang melonggar atau inkoherensi ( isi pikir yang kacau). demensia). pembicaraan yang inkoheren ( kacau ) . Jenis Gangguan Jiwa yang ditangani pada Lansia a. seperti gangguan tingkah laku dan depresi. Gangguan skizofrenia pada lanjut usia (lansia) ditandai oleh gangguan pada alam pikiran sehingga pasien memiliki pikiran yang kacau. e. seperti adanya defisit pada fungsi adaptasi. tempat maupun orang. tingkah laku agitatif dan disorientasi yang termasuk gangguan psikotik antara lain : 1) Skizofrenia 2) Gangguan mood / afektif yang disertai dengan gejala psikotik 3) Gangguan waham 4) Gangguan mental organik gejala psikotik (ditandai adanya delirium. afek yang tumpul atau tidak dapat diraba-rabakan. Skizofernia Skizofrenia Gangguan jiwa skizofrenia merupakan gangguan jiwa yang berat dan gawat yang dapat dialami manusia sejak muda dan dapat berlanjut menjadi kronis dan lebih gawat ketika muncul pada lanjut usia (lansia) karena menyangkut perubahan pada segi fisik. waham dan gangguan kemampuan dalam menilai realita. 4) Penyalahgunaan NAPZA oleh orang tua dan teman 5) Impulsivitas 6) Merokok pada usia terlalu muda 3. dengan gejala psikotik yang khas.

namun secara kuantitas perilakunya menjadi irrasional. Gangguan afektif ini antara lain: 1) Gangguan Afektif tipe Depresif 2) Gangguan Afektif tipe Manik d. Mereka biasanya tidak menikah atau hidup perkawinan dan sexual yang kurang bahagia. bizar). Umumnya banyak terjadi pada wanita dari kelas sosial rendah atau lebih rendah. Secara umum gangguan neurosis dapat dikategorikan sebagai berikut: 1) Neurosis cemas dan panic 2) Neurosis obsesif kompulsif 3) Neurosis fobik . sedangkan separuhnya lagi adalah gangguan yang didapatkannya pada masa memasuki lansia. Gangguan ini ditandai oleh kecemasan sebagai gejala utama dengan daya tilikan (insight) serta daya menilai realitasnya yang baik. 27 berawal dengan keluhan halusinasi dan waham kejaran yang khas seperti mendengar pikirannya sendiri diucapkan dengan nada keras. Gangguan ini sering dianggap sebagai kondisi diantara Skizofrenia paranoid di satu pihak dan gangguan depresif di pihak lain. b. Gangguan neurosis pada lansia berhubungan erat dengan masalah psikososial dalam memasuki tahap lansia. bermusuhan) dan skizoid (aneh. jika punya sedikit itupun sulit mengasuhnya sehingga anaknyapun tak bahagia dan biasanya secara khronik terdapat gangguan pendengaran. Gangguan Jiwa Afektif Gangguan jiwa afektif adalah gangguan jiwa yang ditandai dengan adanya gangguan emosi (afektif) sehingga segala perilaku diwarnai oleh ketergangguan keadan emosi. atau mendengar dua orang atau lebih memperbincangkan diri si penderita sehingga ia merasa menjadi orang ketiga. Hampir separuhnya merupakan gangguan yang ada sejak masa mudanya. secara kualitas perilaku orang neurosis tetap baik. Kepribadiannya tetap utuh. Sering sukar untuk mengenali gangguan ini pada lansia karena disangka sebagai gejala ketuaan. Neurosis Gangguan neurosis dialami sekitar 10-20% kelompok lansia. Parafrenia Parafrenia merupakan gangguan jiwa gawat yang pertama timbul pada (lansia). (misalnya pada waktu menopause pada wanita). Lebih sering terjadi pada wanita dengan kepribadian pramorbidnya (keadaan sebelum sakit) dengan ciri-ciri paranoid (curiga. c.

1 Data Inti (Core) 1. Vital statistik: Kelurahan Patimuan terletak di Kecamatan Patimuan.1 Pengkajian Keperawatan 3. Di Kelurahan Patimuan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari memakai air sumur jadi selama pohon-pohon itu masih mampu menampung air. karena Kelurahan tersebut masih banyak terdapat pohon-pohon rindang. memandang dirinya tidak sebaik teman-temannya di sekolah. Demografi a. sebelah timur berbatasan dengan Kelurahan sidamukti. Riwayat trauma : takut yang berlebihan d. 28 4) Neurosis histerik (konversi) 5) Gangguan somatoform 6) Hipokondriasis BAB 3 ASUHAN KEPERAWATAN KOMUNITAS JIWA MASYARAKAT 3. dan setiap RT terdapat 28 Kepala Keluarga. dan setiap RW ada 5 RT. Kabupaten Cilacap. Kelurahan Patimuan berbatasan langsung dengan 4 Kelurahan. Tingkat kebisingan di Kelurahan Patimuan masih diambang batas normal. ketersediaan air bersih akan terpenuhi. Jenis ganguan jiwa yang pernah diderita: gangguan konsep diri: harga diri rendah. Budaya : Jawa 3. Kelurahan Patimuan terdapat 5 RW. c. dan sebelah barat berbatasan dengan Kelurahan Maos. Sebelah utara berbatasan dengan Kelurahan purwodadi. Agama : Islam c. Data Delapan subsistem a. karena di Kelurahan tersebut tidak terdapat pabrik ataupun industri. b. Riwayat : a.1. Lingkungan fisik Kualitas udara di Kelurahan Patimuan cukup bersih tidak ada polusi udara. Usia penderita: Anak : 15 – 20 tahun Orang tua : 32 tahun b. sebelah Selatan berbatasan dengan Kelurahan cinyawang. Konflik : penganiayaan 2. Selain .

Untuk yang sekolah sampai sarjana masih bisa di hitung dengan jari. dan apabila musim kemarau berdebu. Faktor pengganggu seperti hewan buas ataupun hewan pemangsa tidak ada. Jadi untuk situasi keamanan lingkungan masih terjaga. urutan yang kedua lulusan SMP dan sisanya lulusan SMA. Tidak jarang orang bepergian ke kota harus jalan kaki dahulu keluar Kelurahan. Jadi untuk keamanan di jalan kurang terjaga. Keamanan di jalan bisa dipastikan kurang terpenuhi. selain karena jalannya apabila hujan licin. masih ada yang terjatuh gara-gara selip ataupun senggolan karena sempitnya gang masuk di Kelurahan tersebut. Petugas di jalan raya . Keamanan & transportasi Petugas keamanan di Kelurahan Patimuan sistemnya digilir. karena warga di Kelurahan Patimuan lebih banyak menggunakan sepeda untuk beraktifitas sehari-hari. hampir tak ada pagar pembatas untuk tiap-tiap rumah. Jarak antar rumah di Kelurahan Patimuan sangan dekat. Sarana pendidikan belum begitu terpenuhi. perkosaan apalagi perkelahian antar warga. Kelurahan Patimuan walaupun sebagian besar tingkat penghasilan warganya tergolong menengah kebawah. perampokan. apalagi terkait sarana pendidikan jiwa. namun mereka bangga dengan hasil yang halal. Kepadatan penduduk di Kelurahan Patimuan sangat padat. belum ada. 29 itu kendaraan bermotor yang bisa menjadi sumber kebisingan juga jarang berlalu-lalang di Kelurahan tersebut. selain karena ada jadwal pos kamling setiap malam. Untuk keamanan transportasi sendiri masih terjaga. Setiap malam ada 2 orang yang bertugas. warga Kelurahan Patimuan orangnya lebih bangga dengan barang-barangnya sendiri. untuk pencurian atau perampokan jarang terjadi. Jadi setiap malam ronda yang terpusat di pos kamling kemudian keliling Kelurahan. untuk pembagian jadwalnya diatur oleh penanggung jawab keamanan di Kelurahan tersebut. setelah itu naik angkot atau kendaraan umum lainnya. Tidak ada pencurian. untuk sekolah SMP ada satu dan SMA juga ada satu. Sebagian besar pendidikan warga masyarakat Kelurahan Patimuan lulusan SD. Sarana tranportasi yang biasa digunakan adalah sepeda “onthel” dan sebagian kecil menggunakan motor sebagai alat transportasinya. c. b. Terkait sarana pendidikan formal terdapat 5 SD di Kelurahan Patimuan.

Stigma negatif untuk orang dengan gangguan jiwa masih melekat dalam kehidupan warga Kelurahan Patimuan. kalaupun itu hujan deras. kecelakaan bisa di minimalisir. Jembatan tersebut terbuat dari bahan bangunan. Pemda masih fokus dengan masalah-masalah yang sifatnya medis. Yang seperti itu kurang mendapatkan perhatian dari pemerintah setempat. Jadi untuk keamanan sudah terpenuhi. dan panas. Aturan pemda tentang jiwa di masyarakat sudah ada. dan untuk pengendara mobil wajib memakai sabuk pengaman. Pemerintah setempat lebih tertarik membiayai pemenuhan sarana dan prasarana di Kelurahan Patimuan. Puskesmas di Kecamatan harus menempuh jarak 10 km untuk mengakses pelayanan kesehatan tersebut. diare. Banyak orang stress dengan semakin meningkatnya kebutuhan. Ada puskesmas pembantu di Kelurahan Patimuan itupun melayani penyakit yang umum dimasyarakat seperti flu. Situasi politik di Kelurahan Patimuan juga kurang terlihat. misalnya demam berdarah. Jadi pengaruhnya dengan jiwa masyarakat tidak terdeteksi lebih dini. e. Jenis pelayanan kesehatan jiwa yang diberikan adalah belum begitu berpengaruh dengan masih tingginya tingkat stress warga di Kelurahan . Skrining warga dengan gangguan jiwa juga belum pernah dilakukan. Pelayanan umum dan kesehatan Akses pelayanan kesehatan jiwa terhadap masyarakat kurang terjangkau. Perlindungan warga dari pasien jiwa juga kurang optimal. tetapi tingkat penghasilan minimal. bukan tertarik di kesehatannya. batuk. karena polisi yang bertugas di lalu lintas mewajibkan setiap pengendara sepeda motor memakai helm. Gangguan jiwa masyarakat belum mendapatkan perhatian khusus. Antara Kelurahan Patimuan dengan Kelurahan sebelah dihubungkan dengan jembatan penyeberangan. Tidak ikut hanyut terbawa sungai. 30 Petugas dijalan raya di dekat Kelurahan Patimuan sudah bekerja seoptimal mungkin. Kecelakaan juga jarang terjadi. Kalau mau ke RS harus menempuh jarak ±20 km. Jadi walaupun di jalan raya ramai dengan kendaraan. lebih-lebih tertarik dengan kesehatan jiwa masyarakat. terkait program imunisasi lengkap. kusta. d. tetapi dalam prakteknya keluarga pasien yang berinisiatif membawanya berobat ke pelayanan pengobatan terkait. Politik & pemerintahan Pemerintah daerah (Pemda) setempat kurang tanggap dengan kejadian gangguan jiwa di masyarakat.

tetapi kita harus peka dengan kejadian walaupun itu baru stress masyarakat. maka ada sebagian keluarga yang mengalami sedikit gangguan jiwa seperti seringnya marah-marah pada anak sehingga anak mengalami gangguan konsep diri. g. panas. namun terhadap kesehatan jiwa belum begitu berdampak karena masih sedikit media yang menjelaskan mengenai kesehatan jiwa. f. sehingga menyebabkan saingan dan juga pendapatan yang kurang maka para orang tua sering marah pada anaknya sebagai pelampiasan kekesalannya terhaap kondisi ekonomi. Jadi deteksi dini jiwa msyarakat perlu dioptimalkan lagi oleh petugas pelayanan kesehatan terutama kita sebagai perawat. pada saat musim tidak mendukung untuk bertani maka sebagian warga beralih ke pekerjaan yang sama seperti mengojeg. Kepadatan kerja masyarakat dan dampak terhadap kesehatan jiwa masyarakat. h. maka kesejahteraan masyarakatnya terbilang masih rendah. Rekreasi . serta setiap informasi yang ada sering dilakukan melalui masjid yang ada. apalagi yang sampai mengamuk ataupun merusak prasarana Kelurahan. Karena kebanyakan warga hanya petani. Dampak pelayanan kesehatan bagi kesehatan jiwa masyarakat bisa diminimalisir untuk kejadian gannguan jiwa. Untuk penyakit serius akan di rujuk di RS terdekat. imunisasi. Pelayanan yang biasanya dilakukan adalah memberikan penyuluhan sederhana terkait steres dan dampaknya jangka panjang. Komunikasi Komunikasi yang digunakan diwilayah tersebut adalah musyawarah yang dilakukan antar warga dan pejabat kelurahan. Karena kesejahteraaan ekonomi yang rendah. dan ada ibu-ibu yang berdagang di depan rumahnya. pelayanan kesehatan untuk masyarakat yang sakit umum. Ekonomi Kondisi ekonomi yang sedang sulit disebagian keluarga di kelurahan Patimuan. namun karena musim yang sedang mendukung ada juga sebagian warga menggunakan kendaraan sepeda motornya untuk mengojeg. seperti flu. 31 Patimuan. Media komunikasi yang ada di masyarakat Patimuan cukup di mengerti oleh warga. Peluang penghasilan tambahan masyarakat di kelurahan Patimuan ke banyakan warganya adalah petani. Jenis pelayanan umum untuk masyarakat adalah kesehatan ibu dan anak. Tidak menungga ada kasus. KB. batuk.

Warga yang ada di kelurahan Patimuan biasanya melakukan rekreasi di lapangan pada sore hari dan berkumpul di lingkungan rumah pada saat malam sehabis magrib. Orangtua di kelurahan patimuan dapat mengatasi stres. d. Percaya diri paa remaja di kelurahan patimuan meningkat. 3. . Tujuan jangka panjang Koping komunitas di kelurahan Patimuan menjadi efektif dalam menjalani masalah. 2. b. Tujuan jangka pendek a. 32 Sarana rekreasi yang sering digunakan oleh warga yang ada di kelurahan Patimuan adalah bermain bersama di lapangan bola setiap sore. Remaja di kelurahan patimuan tidak lagi takut dengan orangtuanya. Kedekatan orang tua dan remaja menjadi lebih baik. dan sering berkumpul mengobrol di lingkungan rumah. Dampak rekreasi terhdap kesehatan jiwa masyarakat rekreasi yang ada cukup memberikan dampak positif pada warga.3 Perencanan 1. 3. c. Tidak terjadi kekerasan pada remaja di kelurahan patimuan.2 Diagnosa Keperawatan Harga diri rendah situasional pada remaja di kelurahan Patimuan berhubungan dengan Gangguan gambaran diri yang dimanifestasikan dengan Akibat dimarahi dan diperlakukan kasar sama orang tua. e. karena semakin terjalinnya kebersamaan dan rasa peduli antar warga dan sering berdiskusi untuk mengatasi masalah ekonomi yang sulit sehinga kondisi emosional sebagian warga yang sering marah dapat di kurangi dengan saling berdiskusi pada saat berkumpul di lingkungan rumah.

Kader Aula Setiap Respon1. Edukasi bagaimana cara .3 Implementasi Kriteri Dx Tujuan Umum Tujuan Khusus Strategi Rencana Kegiatan Sumber Tempat Waktu Standar Evaluasi Evaluator a . Maha 2. Pembentukan 2. Tokoh 2. Warga bisa selama 2 minggu Jiwa (mengadakan Patimuan minggu. menyebut warga kelurahan melalui training motivasi) dilakukan 3.I Setelah dilakukan Setelah dilakukan Proses 1. Pembentukan 1. desa dan kelompok diskusi kelompok kesehatan jiwa. Setelah dilakukan Pedidikan 3. pendukung . pendukung seperti pengajian tindakan koping kelompok kerja kesehatan kelompok yang efektif.keperawatan tind. Warga mengikuti Mahasiswa tind. Materi ttg minggu. kesehatan jiwa kesehatan masy. Warga mengikuti Mahasiswa tind keperawatan kesehatan kepemimpinan kesehatan Kelurahan hari verbal training motivasi Kader 2. keperawatan kelompok kelompok kerja kesehatan Kelurahan hari verbal kelompok kerja Kader 2. kader Aula Setiap Respon1. kesehatan masy. Tokoh selama 3 minggu selama 1 minggu: kesehatan jiwa di Patimuan minggu. Warga mengikuti orangtua bisa Patimuan dapat 2 kali/ siswa kelompok kelompok melakukan membentuk 4. Latihan 1. 33 3. kesehatan jiwa di jiwa pengajian. diharapkan Warga Kelurahan desa dilakukan di desa 3. Tokoh 4.

jiwa dilakukan 3. Pembinaan 1. melalui kemungkinan kunjungan Perawa . keperawatan yaan dan keluarga sehat dan kesehatan Kelurahan hari Psikom diskusi terkait Kader 2. mahasiswa melakukan kepemimp tentang minggu masalah 5. Pembinaan sering dihadapi jiwa Respon mampu kelompok & Afektif menghadapi masy. Materi minggu kelompok kasus tentang stress dan di tentang diskusi tersebut masalah yang diskusikan. Warga aktif Mahasiswa tind. materi demonstrasi ttg inan bagaimana cara tentang bagaimana cara memecahkan kesehatan menyelesaikan masalah) jiwa suatu masalah yang baik. otor kasus yang ada kesehatan masy. Setelah dilakukan Pemberda 1. 34 patimuan dapat Formasi (penyuluhan Agama 2 kali/ 1 memecahkan 4. Kader Aula Setiap Respon1. kesehatan 3. Maha emosinya patimuan dapat membahas kasus 2 kali/ 1 siswa dengan melakukan studi terkait manajemen4. Tokoh selama 3 minggu kemitraan anggota keluarga Patimuan minggu. Warga terkontrol warga kelurahan resiko gang. Masyarakat lebih 2. 2.

7. Warga merasa Mahasiswa 5. Setelah dilakukan Intervensi 1. Terapi modalitas 4. Terapi siswa melakukan studi emosinya . Perawat Aula Setiap 2 Respon1. Warga merasa selama 4 minggu l berupa pemberian Patimuan sekali/min kesehatan 6.keperawatan profesiona keperawatan Kelurahan hari verbal lebih tenang dan kader masy. Kerjasama LP wawasan dan dengan Dinas peluang usaha Kesehatan untuk perbaikan Kabupaten berupa ekonominya. Warga bisa patimuan dapat nafas dalam. 2. 35 t Puskesmas/ masalah yg ada Komunitas warga terbuka 3. Maha mengontrol 2. Tokoh lebih semangat warga kelurahan teknik relaksasi ggu agama 3. Tokoh tind. pengadaan kegiatan rutin Life Skill Education dan LS berupa pelatihan kewirausaan dari Dinas Perikanan.

36 kasus tentang komplementer masalah yang berupa sering dihadapi manajemen stress 3. Pemberian bimbingan keagamaan (spiritual) .

perawat sangat penting untuk mengetahui dan meyakini akan peran dan fungsinya. mencegah.1 Kesimpulan Keperawatan Jiwa adalah pelayan keperawatan OaladaptiveO didasarkan pada ilmu perilaku. sanggup menjelaskan tugasnya sehari-hari sebagaimana mestinya.2 Saran 1. Keperawatan kesehatan jiwa merupakan proses interpersonal yang berupaya untuk meningkatkan dan mempertahankan perilaku yang mendukung pada fungsi yang terintegrasi sehingga sanggup mengembangkan diri secara wajar dan dapat melakukan fungsinya dengan baik. Bagi Institusi Sebagai acuan wawasan pengetahuan dalam praktek pengajaran DAFTAR PUSTAKA . (individu. dengan menggunakan diri sendiri dan terapi keperawatan jiwa (komunikasi terapetik dan dan terapi modalitas keperawatan kesehatan jiwa) melalui pendekatan proses keperawatan untuk meningkatkan. serta memahami beberapa konsep dasar yangf berhubungan denga asuhan keperawatan jiwa. Bagi Mahasiswa Sebagai tambahan informasi bagi mahasiswa mengenai asuhan keperawatan jiwa di komunitas manusia serta pencegahanya 2. keluarga. Ilmu keperawatan jiwa pada manusia sepanjang siklus kehidupan dengan respon psiko-sosial yang Oaladaptive yang disebabkan oleh gangguan bio-psiko-sosial. mempertahankan dan memulihkan masalah kesehatan jiwa. kelompok komunitas). 37 BAB 4 PENUTUP 4. Klien. 4. Dalam mengembangkan upaya pelayanan keperawatan jiwa.

38 Keliat.html . Post 14 Maret 2012. dari alamathttp://makalahkeperawatanku. Diambil pada tanggal 21 Juni 2014. Keperawatan Kesehatan Jiwa Komunitas CMHN Basic. Makalah Keperawatanku. Community Mental Health Nursing. 2011. Budi Anna.blogspot. Jakarta: EGC.com/2012/03/community- mental-health-nursing.