You are on page 1of 48

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan suatu investasi bagi masyarakat dalam menata
kehidupannya ke arah yang lebih baik lagi, melalui pengembangan potensi
peserta didik dari semua aspek. Pendidikan menghasilkan sumber daya
manusia untuk membangun semua aspek kehidupan seperti aspek ekonomi,
politik, kesehatan, militer, dan lain sebagainya. Dari penjelasan tersebut dapat
kita simpulkan bahwa pendidikan adalah unsur yang paling penting bagi
masyarakat dalam menjalankan proses kehidupan ini, baik pendidikan jalur
sekolah maupun luar sekolah. Pendidikan jalur sekolah dilaksanakan pada
satuan pendidikan yang disebut dengan sekolah.

Sekolah adalah organisasi yang bertanggung jawab untuk
melaksanakan proses pendidikan dan pembelajaran yang terdiri dari beberapa
unsur penting seperti kepala sekolah, guru, peserta didik, staf administrasi
sekolah, dan lain-lain. Semuanya saling bekerjasama untuk mencapai tujuan
yang telah ditetapkan oleh sekolah terutama SD sebagai tingkat satuan
pendidikan dasar dalam BSNP (2006: 9) yaitu untuk meletakkan dasar
kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk
hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.

Guru sebagai bagian dari sistem pendidikan memiliki andil yang
sangat besar terhadap keberhasilan pembelajaran di sekolah. Selain itu, guru
merupakan subsistem yang dominan dari beberapa subsistem pendidikan yang
lainnya terutama dalam menghasilkan peserta didik yang bermutu. Hal ini
dikarenakan guru langsung berhadapan dengan peserta didik dalam proses
pembelajaran. Gurulah yang mengetahui kelemahan dan kelebihan peserta
didik. Dengan begitu ia dapat menciptakan proses pembelajaran yang tepat
untuk peserta didiknya. Ketepatan proses pembelajaran itulah nantinya yang
akan membawa peserta didik berhasil dalam mencapai tujuan pendidikan.

1

Ketepatan proses pembelajaran itu hanya dapat dilakukan oleh guru
yang memiliki kinerja baik. Guru yang memiliki kinerja dapat dilihat ketika
guru mampu menyusun rencana pembelajaran, melaksanakan interaksi
pembelajar-an, menilai prestasi belajar peserta didik, melaksanakan tindak
lanjut hasil penilaian prestasi belajar peserta didik, mengembangkan profesi
keguruannya, memahami wawasan pendidikannya, dan menguasai bahan
kajian akademiknya dengan baik.

Banyak faktor yang dapat mempengaruhi kinerja dari masing-masing
guru. Faktor tersebut dapat berasal dari dalam (internal) dan luar (eksternal)
diri guru. Barnawi dan Moh. Arifin (2012: 43) mengemukakan bahwa faktor
internal yang mempengaruhi kinerja guru adalah kemampuan, keterampilan,
kepribadian, persepsi, motivasi menjadi guru, pengalaman lapangan, dan latar
belakang keluarga. Sementara itu faktor eksternal yang mempengaruhi kinerja
guru adalah gaji, sarana dan prasarana, lingkungan kerja fisik, dan
kepemimpinan.

Sama halnya dengan organisasi maupun lembaga lain, organisasi
pendidikan khususnya sekolah tidak akan bisa berjalan tanpa adanya
pemimpin. Sekolah dipimpin oleh seorang kepala sekolah. Untuk
meningkatkan mutu sekolah, kepala sekolah memiliki peran yang sangat
penting serta kontribusi yang tinggi dalam kemajuan sekolahnya, karna gerak
langkah sekolah dikendalikan oleh kepala sekolah. Makna kepemimpinan
dalam hal ini dapat dilihat dari fungsi kepemimpinan, metode
kepemimpinan dan gaya kepemimpinan kepala sekolah.

Salah satu peran dari seorang kepala sekolah yaitu sebagai seorang
pemimpin yang melakukan fungsi dan tugas-tugas kepemimpinan. Dalam
manajemen sebuah lembaga pendidikan, kepemimpinan menjadi hal yang
penting, karena di dalam kepemimpinan akan terjadi proses yang dilakukan
dengan berbagai cara agar dapat mempengaruhi pikiran, perasaan,
mengarahkan tingkah laku orang lain, sehingga terjadi sebuah kerjasama
untuk dapat mencapai tujuan bersama.

2

Daryanto (2011: 1) menyatakan bahwa kepala sekolah harus bertindak
sebagai manajer dan pemimpin yang baik. Sebagai manajer yang baik, kepala
sekolah harus mampu mengatur agar semua potensi sekolah dapat berfungsi
secara optimal agar tujuan sekolah dapat tercapai. Kemampuan yang
dimaksud di sini adalah kemampuan manajerial kepala sekolah yang
berkenaan dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 13 Tahun 2007
Tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah, kemampuan tersebut meliputi:
menyusun perencanaan, mengembangkan organisasi sekolah, memimpin
sekolah, mengelola perubahan dan pengembangan sekolah, serta menciptakan
budaya dan iklim sekolah yang kondusif. Dengan kemampuan manajerial
yang baik, diharapkan agar kepala sekolah mampu menjadi pendorong dan
penegak disiplin bagi para guru agar kinerja mereka menjadi lebih baik.

Dalam mewujudkan tugas maupun fungsi-fungsi kepemimpinan secara
integral maka akan berlangsung aktivitas kepemimpinan. Di dalam aktivitas
tersebut akan tampak adanya tipe kepemimpinan yang dikelompokkan
berdasarkan perilaku pemimpin. Setiap kepala sekolah memiliki pola yang
berbeda-beda dalam menerapkan kepemimpinannya. Adanya perbedaan
tersebut dapat dilihat dari cara kepala sekolah untuk mempengaruhi,
mengarahkan serta mendorong guru maupun karyawan yang ada di sekolah
tersebut. Perbedaan pola kepemimpinan inilah yang disebut sebagai tipe
kepemimpinan.

Salah satu tipe kepemimpinan yang digunakan dalam dunia pendidikan
adalah tipe kepemimpinan demokratis. Tipe ini dianggap sebagai tipe yang
ideal dan paling baik terutama untuk kepentingan pendidikan (Ngalim
Purwanto, 2010: 52). Sudarwan Danim (2004: 75-76) menyatakan bahwa inti
demokrasi adalah keterbukaan dan keinginan memposisikan pekerjaan dari,
oleh, dan untuk bersama. Landasan dari kepemimpinan demokratis adalah
anggapan dengan adanya interaksi dinamis maka tujuan organisasi akan
tercapai. Daryanto (2011: 34) menyatakan bahwa kepemimpinan demokratis
menempatkan manusia sebagai faktor utama serta yang paling penting dalam

3

sebuah organisasi. Perwujudan dari tipe kepemimpinan ini didominasi
perilaku sebagai pelindung, penyelamat, serta perilaku yang cenderung
memajukan dan mengembangkan organisasi. Selain itu diwujudkan juga
melalui perilaku kepemimpinan sebagai pelaksana. Dengan didominasi oleh
ketiga perilaku kepemimpinan tersebut, maka dalam tipe ini diwarnai dengan
upaya mewujudkan dan mengembangkan hubungan manusiawi yang efektif,
berdasarkan prinsip saling menghormati dan menghargai antara yang satu
dengan yang lain. Dalam tipe kepemimpinan demokratis selalu terlihat usaha
untuk memanfaatkan setiap orang yang dipimpin. Anggota organisasi
diberikan kesempatan untuk berpartisipasi dalam setiap kegiatan. Partisipasi
tersebut disesuaikan dengan jabatan maupun tingkat dan jenis kemampuan
setiap anggota organisasi. Selain itu pengambilan keputusan dalam tipe
kepemimpinan ini sangat mementingkan musyawarah, sehingga dalam
pelaksanaan setiap keputusan tidak ada anggota yang merasa terpaksa
(Daryanto, 2011: 34-35).

Pada dasarnya sekolah membutuhkan pemimpin pendidikan yang
mampu mempertanggungjawabkan cara kerja maupun cara bergaulnya serta
bisa menggerakkan orang lain untuk turut serta dalam mencapai tujuan yang
ingin dicapai (Hendiyat Soetopo dan Wasty Soemanto, 1988: 7). Hal ini
senada dengan pendapat Pasolong (2010: 56) yang menyatakan bahwa tidak
ada satupun gaya kepemimpinan yang efektif dan tidak ada gaya
kepemimpinan yang terbaik untuk setiap situasi. Setiap situasi menuntut
adanya gaya kepemimpinan tertentu. Selain itu Cribbin (dalam Pasolong,
2010: 56) juga mengemukakan bahwa seorang pemimpin yang baik akan
menyesuaikan perilakunya dengan tuntutan keadaan. Gaya kepemimpinan
yang diterapkan oleh pemimpin dengan menyesuaikan perilakunya dengan
tuntutan keadaan adalah gaya kepemimpinan situasional yang dicetus oleh
Hersey dan Blanchard. Seorang kepala sekolah sebagai pemimpin, memimpin
guru-guru sesuai dengan situasi yang ada pada saat itu, memberikan
pengarahan dan dukungan yang tepat, dan berdasarkan tingkat kematangan
yang dimiliki oleh masing-masing guru. Dengan begitu penerapan gaya
4

Misalnya guru membuat RPP dengan mengcopy paste tanpa adanya pemahaman oleh guru itu 5 sendiri. Misalnya guru datang ke sekolah terlambat sekitar 10 menit dan memperbolehkan peserta didik keluar dari jam pelajaran sebelum bel istirahat berbunyi. 4. 5 . 5. Sebagian guru menggunakan waktu luangnya untuk hal-hal yang kurang bermanfaat misalnya pergi ke luar lingkungan sekolah untuk memfotokopi dan tidak disertai izin kepala sekolah. tidak menambah wawasan terkait pelaksanaan tugasnya mengajar seperti memperkaya pengetahuan sehubungan dengan materi pembelajaran. Sebagian guru melaksanakan tugas mengajarnya tidak dilandasi oleh sikap semangat yang baik dan bekerja apa adanya saja. Misalnya dalam membuat RPP dan batas-batas pembelajaran baru akan dilaksanakan ketika diinstruksikan oleh kepala sekolah. Sebagian guru belum memiliki kesadaran penuh terkait pelaksanaan tugas mengajarnya. 2. diperoleh gambaran masih adanya kinerja guru yang bermasalah. Sebagian guru kurang memiliki motivasi terkait penggunaan strategi dan media pembelajaran yang menarik untuk meningkatkan keterlibatan aktif peserta didik dalam proses pembelajaran. Namun berdasarkan pengamatan yang penulis lakukan di beberapa SDN Kecamatan Padang Utara Kota Padang selama bulan september 2016 melalui wawancara dengan kepala sekolah dan guru-guru. Misalnya menggunakan metode ceramah dan tidak menggunakan media pembelajaran. tetap berbicara dengan guru lainnya padahal sudah waktunya untuk mengajar. Selain itu guru juga jarang berkonsultasi dengan teman sejawat ketika mengalami kesulitan dalam memahami bahan ajar. Sebagian guru tidak tepat waktu dalam memulai dan mengakhiri proses pembelajaran sesuai dengan jam yang telah ditetapkan. 3.kepemimpinan tersebut akan menimbulkan rasa nyaman pada setiap guru saat melaksanakan tugasnya dan terciptanya hubungan yang baik antara kepala sekolah dan guru-guru. Hal ini dapat dilihat dari fenomena-fenomena yang ditemui antara lain seperti: 1.

Fenomena di atas menunjukkan bahwa perilaku guru dalam melaksanakan tugasnya masih rendah. penyelamat. Salah satu tipe kepemimpinan yang digunakan dalam dunia pendidikan adalah tipe kepemimpinan demokratis. hal ini ditandai dengan terjadi kecenderungan adanya batasan pada guru 6 . Tipe ini dianggap sebagai tipe yang ideal dan paling baik terutama untuk kepentingan pendidikan (Ngalim Purwanto. 2011: 34-35). Ada beberapa faktor yang menyebabkan rendahnya kinerja guru tersebut. serta perilaku yang cenderung memajukan dan mengembangkan organisasi. artinya kinerja guru belum dapat dikatakan baik. seperti yang telah dikemukakan sebelumnya yaitu faktor kepemimpinan yang diterapkan oleh kepala sekolah mencakup gaya kepala sekolah dalam mempengaruhi. dan membina guru-guru. Sudarwan Danim (2004: 75-76) menyatakan bahwa inti demokrasi adalah keterbukaan dan keinginan memposisikan pekerjaan dari. menggerakkan. oleh. Landasan dari kepemimpinan demokratis adalah anggapan dengan adanya interaksi dinamis maka tujuan organisasi akan tercapai. dan untuk bersama. Perwujudan dari tipe kepemimpinan ini didominasi perilaku sebagai pelindung. sehingga dalam pelaksanaan setiap keputusan tidak ada anggota yang merasa terpaksa (Daryanto. Daryanto (2011: 34) menyatakan bahwa kepemimpinan demokratis menempatkan manusia sebagai faktor utama serta yang paling penting dalam sebuah organisasi. 2010: 52). Dalam tipe kepemimpinan demokratis selalu terlihat usaha untuk memanfaatkan setiap orang yang dipimpin. Anggota organisasi diberikan kesempatan untuk berpartisipasi dalam setiap kegiatan. Partisipasi tersebut disesuaikan dengan jabatan maupun tingkat dan jenis kemampuan setiap anggota organisasi. motivasi serta arahan yang diberikan oleh kepala sekolah. Berdasarkan pengamatan yang sudah penulis lakukan gaya kepemimpinan kepala sekolah masih belum sesuai dengan yang diharapkan. Selain itu pengambilan keputusan dalam tipe kepemimpinan ini sangat mementingkan musyawarah.

sehingga kurang adanya kerjasama dan interaksi antara kepala sekolah dengan guru dan karyawan. Oleh karena itu penulis akan meneliti lebih jauh tentang “Hubungan Gaya Kepemimpinan Demokratis Kepala Sekolah dengan Kinerja Guru di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Kecamatan Padang Utara Kota Padang”. Kinerja yang baik ini dipengaruhi oleh kepemimpinan kepala sekolah. namun pada akhirnya yang disepakati tetap pendapat dan keputusan kepala sekolah. dan lain-lain. strategi dan metode yang digunakannya pada proses pembelajaran. tampaknya kinerja guru belum sesuai dengan yang diharapkan. Seperti yang terlihat di beberapa Sekolah Dasar yang ada di Kecamatan Padang Utara yang mana beberapa guru mengatakan bahwa ketika ada musyawarah yang sedang berlangsung. Dalam hal ini seorang kepala sekolah harus mampu mempengaruhi dan menerapkan gaya kepemimpinan yang tepat sesuai dengan tingkat kematangan guru di sekolah tersebut. Hal tersebut dapat berpengaruh pada kurangnya semangat guru maupun karyawan lain untuk memajukan dan memperbaiki pendidikan serta pengajaran di sekolah. maupun karyawan lain untuk turut berpartisipasi dalam rangka mencapai tujuan bersama. 7 . B. Berdasarkan fenomena tentang kinerja dan gaya kepemimpinan di atas. bukan berdasarkan hasil musyawarah. hasil belajar peserta didik yang memuaskan. Rendahnya kinerja guru salah satunya dipengaruhi oleh gaya kepemimpinan kepala sekolah. meskipun guru-guru diperbolehkan untuk berpendapat. Identifikasi Masalah Guru yang memiliki kinerja baik dapat dilihat dari proses dan hasil pembelajaran yang dilaksanakannya seperti persiapannya sebelum melaksana- kan proses pembelajaran. Hal ini terindikasi dari perilaku yang dimunculkan guru dalam pelaksanaan tugasnya.

Kepala sekolah menggunakan gaya kepemimpinan yang kurang efektif dan tidak sesuai dengan situasi dan tingkat kematangan bawahan. Kemampuan dan kompetensi profesional guru masih rendah. 3. 3. Mengingat keterbatasan penulis dari segi waktu. Adapun identifikasi masalah pada penulisan penelitian mengenai gaya kepemimpinan kepala sekolah adalah: 1. 4. 5. maka identifikasi masalah pada penelitian ini mengenai kinerja guru adalah: 1. Kepemimpinan demokratis yang diterapkan oleh kepala sekolah masih belum optimal 2. Guru kurang bertanggung jawab dalam membuat dan menyelesaikan RPP dengan baik sesuai dengan kriterianya. terlihat bahwa banyak faktor yang kemungkinan mempengaruhi kinerja guru. Berdasarkan latar belakang masalah di atas. Pengawasan kepala sekolah terlalu longgar sehingga guru melaksanakan tugas seenaknya saja. Pembatasan Masalah Berdasarkan identifikasi masalah di atas. dan lain-lain serta untuk lebih memfokuskan penelitian. 2. Upaya kepala sekolah dalam mengimplementasikan visi dan misi yang sudah dibuat bersama masih rendah. C. dana. 4. Rendahnya pemberian motivasi oleh kepala sekolah. Seperti yang dikemukakan di atas bahwa kinerja guru dipengaruhi oleh kepemimpinan kepala sekolah fokusnya yaitu kepemimpinan demokratis. 5. Guru kurang disiplin dalam melaksanakan tugasnya. maka faktor yang mempengaruhi kinerja guru yang akan diteliti adalah gaya kepemimpinan. Motivasi guru rendah dalam meningkatkan proses pembelajaran. Sarana prasarana sekolah kurang lengkap sehingga strategi dan metode guru dalam pembelajaran cenderung statis. Untuk lebih jelasnya dibatasi pada: 8 .

Kepemimpinan kepala sekolah dibatasi pada gaya kepemimpinan Demokratis kepala sekolah yaitu memperhatikan guru-guru. maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. memberikan tindak lanjut. 1. mengikut sertakan guru-guru. Hubungan gaya kepemimpinan kepala sekolah dengan kinerja guru di SDN Kecamatan Padang Utara Kota Padang. Tujuan Penelitian Berdasarkan perumusan masalah di atas. Kinerja guru di SDN Kecamatan Padang Utara Kota Padang. Kinerja guru dibatasi pada perencanaan pembelajaran. maka penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran tentang: 1. terbuka dalam mengambil keputusan. F. Perumusan Masalah Berdasarkan pembatasan masalah di atas. mengevaluasi hasil belajar. Bagaimana kinerja guru di SDN Kecamatan Padang Utara Kota Padang? 2. melaksanakan pembejaran. 2. memberikan kebebasan dalam bekerja. Gaya kepemimpinan kepala sekolah di SDN Kecamatan Padang Utara Kota Padang. 2. Kegunaan Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat berguna sebagai bahan informasi bagi: 9 . Hubungan gaya kepemimpinan kepala sekolah dengan kinerja guru di SDN Kecamatan Padang Utara Kota Padang. diskusi. 3. D. Apakah ada hubungan gaya kepemimpinan demokratis kepala sekolah dengan kinerja guru di SDN Kecamatan Padang Utara Kota Padang? E. Bagaimana gaya kepemimpinan demokratis kepala sekolah di SDN Kecamatan Padang Utara Kota Padang? 3.

1. 2. Guru-guru SDN Kecamatan Padang Utara Kota Padang dalam meningkatkan kinerjanya pada proses pembelajaran di kelas. Pengawas dalam memberikan pembinaan kepada kepala sekolah dan guru. 3. Walikota dalam membuat kebijakan terutama dalam meningkatkan anggaran untuk peningkatan kemampuan gaya kepemimpinan kepala sekolah dan kinerja guru. 5. 6. Kepala SDN Kecamatan Padang Utara Kota Padang dalam menerapkan gaya kepemimpinan agar kinerja guru dapat ditingkatkan. 4. Peneliti sebagai masukan untuk melakukan penelitian lanjutan mengenai masalah yang sama pada lembaga yang sama atau objek yang berbeda. Kepala dinas pendidikan sebagai sumbang saran dalam usaha pengambilan kebijakan peningkatan gaya kepemimpinan kepala sekolah dan kinerja guru. 10 .

Anwar (1986:86) memberikan pengertian kinerja sama dengan performance yang esensinya adalah berapa besar dan berapa jauh tugas-tugas yang telah dijabarkan telah dapat diwujudkan atau dilaksanakan yang terhubung dengan tugas dan tanggung jawab yang menggambarkan pola perilaku 11 . Senada dengan Usman (2009:488) juga menyatakan “kinerja merupakan usaha yang dilakukan dalam rangka mencapai prestasi yang lebih baik”. Jadi kinerja seseorang akan terlihat mulai dari proses pekerjaan itu sendiri sampai hasil yang didapat dari pelaksanaan kerja. bagaimana seseorang mencapai suatu hasil. melainkan proses kinerja itu sendiri. Kinerja Guru a. Landasan Teori Penelitian ini dilandaskan pada teori yang sejalan dengan objek penelitian. Pengertian Kinerja Ruky (2002:14) mengatakan kinerja berasal dari kata “performance”. Artinya kinerja bukan hanya hasil atau pencapaian seseorang. Kemudian Handoko dalam Tika (2008:121) mendifinisikan “kinerja sebagai proses dimana organisasi mengevaluasi atau menilai prestasi kerja karyawan”. 1. Selanjutnya Armstrong (2006:712) “performance is often defined simply in output terms-the achievement of quantified objectives. BAB II KAJIAN TEORI A. But performance is a matter not only of what people achieve but how they achieve it”. Disini akan dibahas tentang kinerja guru dan gaya kepemimpinan Demokratis. kinerja merupakan suatu proses bagaimana pekerjaan berlangsung untuk mencapai hasil kerja”. Secara umum kinerja dapat diartikan sebagai unjuk kerja atau hasil kerja. Artinya Prestasi atau kinerja adalah catatan tentang hasil-hasil yang diperoleh dari fungsi- fungsi pekerjaan tertentu atau kegiatan selama kurun waktu tertentu. Menurut Wibowo (2007:6) “kinerja dapat dipandang sebagai proses maupun hasil pekerjaan. Dijelaskan Bernardin dan Russel dalam Ruky (2002:15) “performance is defined as the record of outcomes produced on a specified job function or activity during time period”.

pengajar dan pelatih hendaknya dapat berimbas kepada siswanya. Pengertian Kinerja Guru Guru merupakan profesi di mana ia dituntut untuk berupaya semaksimal mungkin menjalankan tugasnya. seperti mengerjakan administrasi sekolah dan administrasi pembelajaran. Rusman (2011:95) menyatakan kinerja atau unjuk kerja dalam konteks profesi guru adalah kegiatan yang meliputi perencanaan pembelajaran. pengalaman dan kesungguhan serta penggunaan waktu. Dalam hal ini guru hendaknya dapat meningkatkan terus kinerjanya yang merupakan modal bagi keberhasilan pendidikan. b. sehingga tujuan pendidikan yang telah 12 . Berdasarkan beberapa pendapat ahli di atas dapat disimpulkan bahwa. Hal yang hampir senada dikemukakan Mangkunegara (2000:67) mengemukakan pengertian kinerja adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang karyawan dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikannya. pengalaman dan kesungguhan serta penggunaan waktu untuk mencapai hasil kerja. Sebagai seorang profesional maka tugas guru sebagai pendidik. kinerja merupakan proses seseorang dalam melaksanakan tugas- tugas yang dibebankan kepadanya yang didasarkan atas kemampuan. Menurut Rusyan (2008:17) kinerja guru adalah melaksanakan proses pembelajaran baik dilakukan di dalam kelas maupun di luar kelas di samping mengerjakan kegiatan-kegiatan lainnya. melaksanakan bimbingan dan pelayanan pada para siswa. Kinerja guru atau prestasi kerja (performance) guru merupakan hasil yang dicapai oleh guru dalam melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya yang didasari atas kecakapan. Kinerja guru dalam proses pembelajaran perlu ditingkatkan sebagai upaya mengembangkan kegiatan yang ada menjadi kegiatan yang lebih baik. sebagai aktivitas dalam kompetensi yang dimiliki. dan melakukan penilaian hasil belajar. Dalam kajian yang berkenaan dengan profesi guru. pelaksanaan pembelajaran. serta melaksanakan penilaian.

kepribadian. Dijelaskan Sedarmayanti dalam Supardi (2013:19) kinerja guru dipengaruhi oleh berbagai faktor. dan d) memberikan tindak lanjut dari hasil evaluasi hasil belajar. 7) jaminan sosial.etika kerja). 8) iklim kerja. c) evaluasi hasil belajar. Kemudian Yamin dan Maisah (2010:87) menyatakan “kinerja pengajar adalah perilaku atau respon yang memberi hasil yang mengacu kepada apa yang mereka kerjakan ketika dia menghadapi suatu tugas”. b) pelaksanaan pembelajaran. pengalaman dan kesungguhan serta penggunaan waktu untuk mencapai hasil kerja. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kinerja seseorang sangatlah kompleks. 5) tingkat penghasilan. 9) sarana dan prasarana. nilai sikap. dasar-dasar. Banyak orang yang mampu tetapi tidak mau. 2) pendidikan. Menurut Wibowo (2007:111) kinerja dipengaruhi oleh (a) pengetahuan. 11) kesempatan berprestasi. kepercayaan dan gaya kepemimpinan. c. kepentingan/minat. Faktor yang mempengaruhi Kinerja Kinerja selalu mendapat perhatian dalam manajemen karena sangat berkaitan dengan produktivitas. sebaliknya banyak orang mau tapi tidak mampu sehingga tidak menghasilkan kinerja yang baik.disiplin kerja. jawaban yang mereka buat. 13 . 4) manajemen kepemimpinan. 10) teknologi. Dengan demikian. dan sikap (b) gaya kerja. 3) keterampilan. kemampuan. ditetapkan dicapai dengan baik pula melalui suatu kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru efektif dan efisien dengan target dan tujuan yang telah ditetapkan. untuk memberi hasil atau tujuan. antara lain faktor yang mempengaruhi kinerja adalah: 1) sikap mental (motivasi kerja. 6) gaji dan kesehatan. Kinerja guru menyangkut semua kegiatan atau tingkah laku yang dialami guru. Tugas guru dalam mengajar meliputi: a) perencanaan pembelajaran. dapat disimpulkan bahwa kinerja guru merupakan proses pelaksanaan tugas-tugas guru yang diembankan kepadanya yang didasarkan atas kemampuan.

dan komitmen individu. ditunjukkan oleh tingginya tingkat tekanan dan perubahan lingkungan internal dan eksternal.faktor yang mempengaruhi kinerja adalah sebagai berikut: 1) Personal factors. 3) suasana kerja. 3) Team factor. kompetensi yang dimiliki. Seiring dengan pendapat diatas menurut Arikunto dalam Taslim (2004:8) ada dua faktor yang mempengaruhi kinerja. motivasi. 3) intelegensi. 2) sikap. Some principals lack general leadership skills or simply fail to deal effectively with their teacher’s difficulties. 6) keadaan fisiologis. Eliezer Yariv (2011:81) menyatakan tentang pengaruh kepemimpinan terhadap kinerja guru “One important external source of weak performance is poor management skills and the lack of adequate supervision. 4) System factors. 4) motivasi. ditunjukan oleh adanya sistem kerja dan fasilitas yang diberikan organisasi. ditunjukkan oleh kualitas dorongan. dan 5) kepribadian. yaitu faktor internal dan faktor eksternal. 7) insentif. 4) motivasi. Faktor internal seperti: 1) sikap. They do not take corrective measures at early stages when such guidance might still help”. dan 4) lingkungan kerja. dan dukungan yang dilakukan manajer dan team leader. Selanjutnya Anoraga (1992:25) menyatakan bahwa kinerja dapat dipengaruhi oleh faktor 1) intelegensi. 2) minat. Beberapa kepala sekolah tidak memiliki keterampilan kepemimpinan umum atau gagal untuk menangani 14 . 2) Leadership faktor. 9) sarana dan prasarana. 5) Contextual/ situasional factors. 8) keamanan dan perlindungan dalam bekerja. 11) kepemimpinan atasan.(Salah satu sumber eksternal penting dalam mempengaruhi kinerja guru yang buruk adalah keterampilan manajemen yang buruk dan kurangnya pengawasan yang memadai. 2) insentif atau gaji. 3) minat. Selanjutnya Armstrong dan Baron dalam Wibowo (2007:99) berpendapat bahwa faktor. 5) pengetahuan dan kemampuan. 10) iklim kerja. bimbingan. sedangkan yang termasuk kedalam faktor eksternal adalah: 1) sarana dan prasarana. yang ditunjukkan oleh tingkat keterampilan. ditunjukkan oleh kualitas dukungan yang diberikan oleh rekan sekerja.

Kunandar (2009:55) menyatakan bahwa “kompetensi guru adalah seperangkat penguasaan kemampuan yang harus ada dalam diri guru agar dapat mewujudkan kinerjanya secara tepat dan efektif. syarat utamanya adalah pendidik harus memiliki serta menguasai berbagai kompetensi sebagai pendidik. yaitu memiliki kompetensi (keahlian dan kewenangan) dalam pendidikan dan pembelajaran agar dapat melaksanakan pekerjaannnya secara efektif dan efisien serta berhasil dan berdaya guna. sehat jasmani dan rohani.” Menurut Permadi dan Arifin (2013:15) Guru sebagai profesi memiliki makna bahwa guru harus memenuhi syarat. d. Mereka tidak mengambil langkah- langkah perbaikan pada tahap awal ketika bimbingan tersebut masih mungkin bisa membantu). dijelaskan bahwa:”Kompetensi adalah seperangkat pengetahuan. Sejalan dengan itu Permendiknas nomor 16 tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi guru menyatakan standar kompetensi guru dikembangkan 15 . keterampilan dan perilaku yang harus dimiliki. secara efektif kesulitan guru mereka. serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Pasal 28 ayat 1 menyatakan bahwa”pendidik harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran.” Sejalan dengan itu Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan BAB VI. Dengan demikian faktor penting yang mempengaruhi kinerja berasal dari eksternal guru itu sendiri yaitu bagaimana kepala sekolah memimpin dan melakukan pengawasan terhadap guru-guru di sekolahnya.” Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Tugas Guru Agar pendidik dalam pelaksanaan proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik serta dapat menciptakan peserta didik yang berkualitas. dihayati dan dikuasai oleh guru atau dosen dalam melaksanakan tugas keprofesionalan.

Kinerja guru merupakan tingkat profesionalisme guru dalam proses pembelajaran selama periode tertentu yang diwujudkan melalui kompetensi atau kemampuan (a) pedagogik yaitu kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik. serta menilai dan mengevaluasi hasil pembelajaran. Menurut Muslich (2007:56) “komponen perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran merupakan unsur pokok tugas profesional guru dan melalui komponen ini dapat diketahui kualitas kinerja guru”. dan (d) sosial yaitu kemampuan guru untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan efisien dengan peserta didik. (d) Memberikan tindak lanjut. dapat disimpulkan bahwa kinerja guru merupakan tingkat professional guru dalam proses pembelajaran dalam melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya. sesama guru. Seiring 16 . Kemudian Mulyasa (2009:249) menjelaskan Tugas guru dalam kegiatan pembelajaran adalah: (a) perencanaan pembelajaran. Dari beberapa penjelasan yang dikemukakan di atas. Keempat kompetensi tersebut terintegrasi dalam kinerja guru. dan masyarakat sekitar. yang terintegrasi dalam kinerja guru. Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Pasal 20 tentang guru dan dosen juga dijelaskan bahwa dalam melaksanakan tugas keprofesionalan. (c) professional yaitu kemampuan penguasaan materi pelajaran secara luas dan mendalam. Sejalan dengan Imron (2004:4) menyebutkan guru dalam menjalankan tugasnya memiliki tiga macam tugas utama yaitu merencanakan.secara utuh dari empat kompetensi utama. berakhlak mulia. yang dapat diamati dan dapat diukur yang diwujudkan melalui kompetensi. (b) kepribadian yaitu kemampuan kepribadian yang mantap. guru berkewajiban diantaranya: merencanakan pembelajaran. arif dan berwibawa serta menjadi teladan peserta didik. (c) penilaian hasil belajar. orang tua/wali peserta didik. melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu. kepribadian. sosial. melaksanakan pembelajaran dan memberikan balikan berupa evaluasi. (b) pelaksanaan pembelajaran. dan professional. yaitu: Kompetensi pedagogik.

dengan pendapat diatas Imron (2004:109) menambahkan tugas yang harus dilakukan guru dalam mengajar adalah memberikan tindak lanjut dari evaluasi hasil belajar peserta didik. materi ajar. alokasi waktu. kompetensi dasar (KD). Agar lebih rinci maka dapat diuraikan satu persatu tugas guru dalam mengajar: 1) Perencanaan Pembelajaran Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 41 Tahun 2007 tentang standar proses pembelajaran untuk satuan pendidikan dasar dan menengah meliputi silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang memuat identitas mata pelajaran. metode pembelajaran. penilaian hasil belajar. kegiatan pembelajaran. 17 . c) mengevaluasi hasil belajar. alokasi waktu dan sumber belajar yang dikembangkan oleh setiap satuan pendidikan berdasarkan standar nasional pendidikan (SNP). Seiring dengan itu Mulyasa (2009:133) juga menyatakan bahwa silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu kelompok mata pelajaran dengan tema tertentu. Pengembangan silabus diserahkan sepenuhnya kepada setiap satuan pendidikan khususnya bagi yang sudah mampu melakukannya. materi pembelajaran. a) Silabus Menurut Muslich (2008:23) “silabus merupakan penjabaran standar kompetensi dan kompetensi dasar ke dalam materi pokok. dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian. Jadi berdasarkan pendapat di atas maka aspek yang akan dijadikan indikator dalam variabel kinerja guru dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: a) membuat rencana pembelajaran. indikator penilaian. dan sumber belajar”. b) melaksanakan pembelajaran. dan d) memberikan tindak lanjut dari hasil evaluasi hasil belajar dalam perbaikan remedial dan pengayaan. kegiatan pembelajaran. dan sumber belajar. kompetensi dasar. indikator pencapaian kompetensi. tujuan pembelajaran. alokasi waktu. standar kompetensi (SK). yang mencakup standar kompetensi.

serta dibutuhkan follow up atau tindak lanjut”. MA. Agar pengembangan silabus yang dilakukan oleh setiap satuan pendidikan tetap berada dalam jalur pengembangan silabus yang sesuai dengan standar nasional maka perlu diperhatikan prinsip pengembangannya. disesuaikan dengan peserta didik. Seperti yang telah dijelaskan dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 Pasal 17 Ayat (2) yang berbunyi: “Sekolah dan komite sekolah. dan departemen yang menangani urusan pemerintah di bidang agama untuk MI. Muhaimin. Langkah-langkah Pengembangan Silabus: (1) Mengkaji Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar (2) Mengidentifikasi Materi Pokok/Pembelajaran (3) Mengembangkan Kegiatan Pembelajaran (4) Merumuskan Indikator Pencapaian Kompetensi (5) Penentuan Jenis Penilaian (6) Menentukan Alokasi Waktu (7) Menentukan Sumber Belajar b) Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Menurut Mulyasa (2009: 212) rencana pelaksanaan pembelajaran adalah rencana yang menggambarkan prosedur dan manajemen pembelajaran untuk mencapai satu atau lebih kompetensi dasar yang ditetapkan dalam standar isi dan dijabarkan dari silabus. atau madrasah dan komite madrasah. dibutuhkan rekaman hasil pelaksanaan. dan MAK”. dkk (2009:111) menyatakan “silabus bersifat fleksibel. mengembangkan kurikulum tingkat satuan pendidikan dan silabusnya berdasarkan kerangka dasar kurikulum dan standar kompetensi lulusan. Oleh karena itu. SMA dan SMK. SMP. di bawah supervisi dinas kabupaten/kota yang bertanggung jawab di bidang pendidikan untuk SD. setiap satuan pendidikan diberi kebebasan dan keluasan dalam mengembangkan silabus sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing. Guru merancang penggalan 18 . RPP disusun untuk setiap KD yang dapat dilaksanakan dalam satu kali pertemuan atau lebih. MTs.

c) Tujuan pembelajaran Tujuan pembelajaran menggambarkan proses dan hasil belajar yang diharapkan dicapai oleh peserta didik sesuai dengan kompetensi dasar. (2) Standar kompetensi Standar kompetensi merupakan kualifikasi kemampuan minimal peserta didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan. program/program keahlian. sikap. (3) Kompetensi dasar Kompetensi dasar adalah sejumlah kemampuan yang harus dikuasai peserta didik dalam mata pelajaran tertentu sebagai rujukan penyusunan indikator kompetensi dalam suatu pelajaran. Komponen RPP adalah: (1) Identitas mata pelajaran Identitas mata pelajaran. kelas. dan keterampilan yang diharapkan dicapai pada setiap kelas dan/atau semester pada suatu mata pelajaran. yang mencakup pengetahuan. d) Materi ajar 19 . sikap. meliputi: satuan pendidikan. RPP untuk setiap pertemuan yang disesuaikan dengan penjadwalan di satuan pendidikan. semester. jumlah pertemuan. dan keterampilan. mata pelajaran atau tema pelajaran. (4) Indikator pencapaian kompetensi Indikator kompetensi adalah perilaku yang dapat diukur dan/atau diobservasi untuk menunjukkan ketercapaian kompetensi dasar tertentu yang menjadi acuan penilaian mata pelajaran. Indikator pencapaian kompetensi dirumuskan dengan menggunakan kata kerja operasional yang dapat diamati dan diukur.

f) Metode pembelajaran Metode pembelajaran digunakan oleh guru untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik mencapai kompetensi dasar atau seperangkat indikator yang telah ditetapkan. konsep. dan konfirmasi. dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. dan ditulis dalam bentuk butir-butir sesuai dengan rumusan indikator pencapaian kompetensi. dan kemandirian sesuai dengan bakat. Kegiatan ini dilakukan secara sistematis dan sistemik melalui proses eksplorasi. elaborasi. minat. b) Inti Kegiatan inti merupakan proses pembelajaran untuk mencapai KD. Pemilihan metode pembelajaran disesuaikan dengan situasi dan kondisi peserta didik. inspiratif. menantang. prinsip. dan prosedur yang relevan. serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa. memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif. Materi ajar memuat fakta. 2) Kegiatan pembelajaran a) Pendahuluan Pendahuluan merupakan kegiatan awal dalam suatu pertemuan pembelajaran yang ditujukan untuk membangkitkan motivasi dan memfokuskan perhatian peserta didik untuk berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran. Kegiatan pembelajaran dilakukan secara interaktif. kreativitas. e) Alokasi waktu Alokasi waktu ditentukan sesuai dengan keperluan untuk pencapaian KD dan beban belajar. c) Penutup 20 . menyenangkan. serta karakteristik dari setiap indikator dan kompetensi yang hendak dicapai pada setiap mata pelajaran.

3) Penilaian hasil belajar Prosedur dan instrumen penilaian proses dan hasil belajar disesuaikan dengan indikator pencapaian kompetensi dan mengacu kepada Standar Penilaian. bahwa tugas guru dalam melaksanakan pembelajaran dapat dikelompokkan sebagai berikut: (a) Kegiatan Pendahuluan Dalam kegiatan pendahuluan. penilaian dan refleksi. Penutup merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mengakhiri aktivitas pembelajaran yang dapat dilakukan dalam bentuk rangkuman atau kesimpulan. dan tindak lanjut. guru: (1) Menyiapkan peserta didik secara psikis dan fisik untuk mengikuti proses pembelajaran. Pelaksanaan pengajaran berpegang pada apa yang tertuang dalam perencanaan yang telah dibuat sebelumnya. Tugas guru dalam mengajar menurut Mulyasa (2009: 181) meliputi kegiatan pembukaan. pembentukan kompetensi dan penutup. serta materi ajar. 21 . umpan balik. 4) Sumber belajar Penentuan sumber belajar didasarkan pada standar kompetensi dan kompetensi dasar. dan indikator pencapaian kompetensi. Dari pendapat di atas dapat disimpulkan. kegiatan inti dan kegiatan penutup. Selanjutnya Permendiknas no 41 tahun 2007 tentang standar proses menetapkan Pelaksanaan pembelajaran merupakan implementasi dari RPP. kegiatan pembelajaran. 5) Melaksanakan Pembelajaran Melaksanakan pengajaran pada dasarnya adalah proses interaksi antara siswa dengan guru dan lingkungan. (2) Mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengaitkan pengetahuan sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari. sehingga terjadi perubahan tingkah laku kearah yang lebih baik. Pelaksanaan pembelajaran meliputi kegiatan pendahuluan.

kreativitas. studio. lingkungan. Kegiatan inti menggunakan metode yang disesuaikan dengan karakteristik peserta didik dan mata pelajaran. media pembelajaran. guru: (a) Membiasakan peserta didik membaca dan menulis yang beragam melalui tugas-tugas tertentu yang bermakna. (d) Melibatkan peserta didik secara aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran. atau lapangan. (3) Menjelaskan tujuan pembelajaran atau kompetensi dasar yang akan dicapai (b) Kegiatan Inti Pelaksanaan kegiatan inti merupakan proses pembelajaran untuk mencapai KD yang dilakukan secara interaktif. yang dapat meliputi proses eksplorasi. (2) Elaborasi Dalam kegiatan elaborasi. guru: (a) Melibatkan peserta didik mencari informasi yang luas dan dalam tentang topik/tema materi yang akan dipelajari dengan menerapkan prinsip alam takambang jadi guru dan belajar dari aneka sumber. dan (e) memfasilitasi peserta didik melakukan percobaan di laboratorium. (c) Memfasilitasi terjadinya interaksi antarpeserta didik serta antara peserta didik dengan guru. 22 . minat dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. (b) Menggunakan beragam pendekatan pembelajaran. memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif. serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa. elaborasi dan konfirmasi. dan sumber belajar lain. menantang. (1) Eksplorasi Dalam kegiatan eksplorasi. dan kemandirian sesuai dengan bakat. dan sumber belajar lainnya. inspiratif. menyenangkan.

festival. (b) Memberikan konfirmasi terhadap hasil eksplorasi dan elaborasi peserta didik melalui berbagai sumber. (c) Memfasilitasi peserta didik melakukan refleksi untuk memperoleh pengalaman belajar yang telah dilakukan. (i) Memfasilitasi peserta didik melakukan kegiatan yang menumbuhkan kebanggaan dan rasa percaya diri peserta didik. 23 . (b) Memfasilitasi peserta didik melalui pemberian tugas. (f) Memfasilitasi peserta didik membuat laporan eksplorasi yang dilakukan baik lisan maupun tertulis. tulisan. serta produk yang dihasilkan. dan lain-lain untuk memunculkan gagasan baru baik secara lisan maupun tertulis. menganalisis. (2) Membantu menyelesaikan masalah. (d) Memfasilitasi peserta didik dalam pembelajaran kooperatif dan kolaboratif. (c) Memberi kesempatan untuk berpikir. dan bertindak tanpa rasa takut. menyelesaikan masalah. isyarat. secara individual maupun kelompok. (e) Memfasilitasi peserta didik berkompetisi secara sehat untuk meningkatkan prestasi belajar. turnamen. (g) Memfasilitasi peserta didik untuk menyajikan hasil kerja individual maupun kelompok. guru: (a) Memberikan umpan balik positif dan penguatan dalam bentuk lisan. diskusi. maupun hadiah terhadap keberhasilan peserta didik. (d) Memfasilitasi peserta didik untuk memperoleh pengalaman yang bermakna dalam mencapai kompetensi dasar: (1) Berfungsi sebagai narasumber dan fasilitator dalam menjawab perta-nyaan peserta didik yang menghadapi kesulitan. dengar menggunakan bahasa yang baku dan benar. (3) Konfirmasi Dalam kegiatan konfirmasi. (h) Memfasilitasi peserta didik melakukan pameran.

(c) Kegiatan Penutup Penutup merupakan kegiatan akhir yang dilakukan guru untuk mengakhiri pembelajaran. (3) Memberi acuan agar peserta didik dapat melakukan pengecekan hasil eksplorasi. serta pemahaman peserta didik terhadap materi yang telah dipelajari. (5) Memberikan motivasi kepada peserta didik yang kurang atau belum berpartisipasi aktif. (4) Memberi informasi untuk bereksplorasi lebih jauh. Evaluasi Hasil Belajar Menurut Dimyati dan Mudjiono (1999:200) “evaluasi hasil belajar merupakan proses untuk menentukan nilai belajar siswa melalui kegiatan penilaian dan pengukuran hasil belajar” Kemudian menurut Imron (2004:93) “evaluasi hasil belajar peserta didik adalah suatu proses menentukan hasil prestasi belajar peserta didik dengan menggunakan patokan-patokan tertentu guna mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditentukan sebelumnya. Menurut Dimyati dan Mudjiono (1999:209) prosedur yang harus dilalui oleh guru dalam melaksanakan evaluasi hasil belajar meliputi: (1) 24 . 3) Memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran. program pengayaan. e. 4) Merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pembelajaran remedi. layanan konseling dan/atau memberikan tugas baik tugas individual maupun kelompok sesuai dengan hasil belajar peserta didik. sekaligus mengakhiri kegiatan pembelajaran. 2) Melakukan penilaian dan/atau refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan secara konsisten dan terprogram. guru: 1) Bersama-sama dengan peserta didik dan/atau sendiri membuat rangkuman/ simpulan pelajaran. 5) Menyampaikan rencana pembelajaran pada pertemuan berikutnya. Dalam kegiatan penutup ini guru harus berupaya untuk mengetahui pembentukan kompetensi dan pencapaian tujuan pembelajaran. Dalam kegiatan penutup.

kenaikan. baik secara kelompok maupun secara individual. Sebab kalau tidak. dikhawatirkan menyulitkan peserta didik sendiri pada materi-materi berikutnya. Remedi secara kelompok dilakukan apabila sekelompok peserta didik mengalami masalah yang tergolong sama. 2) Mengadakan Remedi Remidi dapat diberikan kepada peserta didik. menjadi makin kaya pengetahuannya. Memberikan Tindak Lanjut dari Hasil Evaluasi Hasil Belajar Evaluasi hasil belajar peserta didik harus ditindaklanjuti. dinaikkan. (5) pelaporan dan penggunaan hasil evaluasi. tidak dinaikkan dan tidak diluluskan. (3) pelaksanaan pengukuran. Tindak lanjut tersebut bermacam-macam sesuai dengan tujuan dan hasil evaluasi. diluluskan dan sebaliknya. Sebaliknya peserta didik yang belum paham terhadap materi yang sebelumnya ia terima diharapkan menjadi lebih paham lagi. dan kelulusan. 4) Mengadakan Promosi. 25 . remedi individual dilakukan apabila masalah yang dialami oleh peserta didik berbeda satu sama lain. (4) pengolahan hasil pengukuran. persiapan. Dari hasil evaluasi akan dapat diketahui. (2) penyusunan alat ukur. Menurut Imron (2004:109) beberapa tindak lanjut tersebut meliputi: 1) Mengadakan Pengayaan Pengayaan perlu dilakukan jika materi pelajaran yang diberikan kepada peserta didik telah dikuasai sepenuhnya. f. Kenaikan dan Kelulusan Salah satu tindak lanjut evaluasi yang penting adalah mengadakan promosi. 3) Mengulangi Pelajaran Penyajian pelajaran perlu diulangi. Ini agar peserta didik yang telah paham terhadap materi yang diberikan. Sebaliknya. mana peserta didik yang layak dipromosikan. jika peserta didik sebagian besar belum paham berdasarkan hasil evaluasi.

Jadi proses kepemimpinan akan terjadi apabila ada orang lain atau kelompok yang akan dipimpin. Makawimbang (2012: 9) mengemukakan bahwa kepemimpinan adalah kemampuan yang ada dalam diri seseorang baik secara alamiah atau melalui suatu pendidikan untuk mempengaruhi orang lain baik individu maupun kelompok dalam suatu organisasi dalam situasi tertentu sehingga dengan sukarela anggota organisasi melakukan tujuan yang hendak dicapai. mengarahkan. Definisi ini sejalan dengan pendapat Taty dan Dedy (dalam Tim Dosen Administrasi Pendidikan UPI. 2. 5) Pelaporan Pelaporan hasil evaluasi. 2012: 125) bahwa kepemimpinan itu berarti kemampuan dan kesiapan yang dimiliki oleh seseorang untuk dapat mempengaruhi. menuntun. Kepemimpinan Demokratis a. mengajak. Pengertian Kepemimpinan Kepemimpinan dalam suatu organisasi pendidikan memiliki kaitan yang erat sekali dalam usaha pencapaian tujuan organisasi tersebut. dapat dilakukan oleh guru kepada peserta didik sendiri. dan kalau perlu memaksa orang atau kelompok agar menerima pengaruh tersebut selanjutnya berbuat sesuatu yang dapat membantu tercapainya suatu tujuan tertentu yang telah ditetapkan. Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa: 1) Kepemimpinan itu menyangkut orang lain dan kelompok. Dran (2012: 73) defined that leadership is the ability to influence a group toward the achievement of goals. Apabila seorang pemimpin mampu memimpin secara tepat maka ia akan memimpin bawahannya secara tepat pula dan tentunya akan berdampak pada cara yang dilakukan oleh bawahan dalam melaksanakan tugasnya dan terciptanya hubungan yang baik antara atasan dan bawaham. menggerakkan. 2) Kepemimpinan itu merupakan proses untuk mem- 26 . kepada kepala sekolah dan kepada orang tua. mendorong.

Kepemimpinanan Demokratis Kepemimpinan demokratis ditandai dengan adanya suatu struktur yang pengembangannya menggunakan pendekatan pengambilan keputusan yang kooperatif. b. 27 . menuntun. 2010:188). Pemimpin demokratis tulen itu merupakan pembimbingan yang baik bagi kelompok. menggerakkan. Pemimpin yang demokratis bias bersifat sebagai katalisator yang bisa mempercepat proses-proses secara wajar dan membantu pencapaian objek yang ingin dicapai dengan cara yang paling sesuai cocok dengan kondisi kelompok tersebut. dan memandang umpan balik sebagai sesuatu kesempatan untuk melatih karyawan. Dibawah kepemimpinan demokratis bawahan cenderung bermora tinggi. dan memaksa orang lain atau kelompok untuk melakukan suatu hal dalam rangka mencapai tujuan organisasi. Menurut Robbins dan Coulter (2002) gaya kepemimpinan demokratis mendeskripsikan pemimpin yang cenderung mengikutsertakan karyawan dalam pengambilan keputusan. dan menghasikan banyak keuntungan dapat menjadi motivator bagi karyawan dalam bekerja. Ciri-ciri kepemimpinan demokratis menurut Sukanto (1987): 1) Semua kebijaksanaaan terjadi pada kelompok diskusi dan keputusan diambil dengan dorongan dan bantuan dari pemimpin. mengajak.mendorong partisipasi karyawan dalam menentukan bagaimana metode kerja dan tujuan yang ingin dicapai. mengutamakan mutu kerja dan dapat mengarahkan diri sendiri Rivai (2006). Jerris (1999) menyatakan bahwa gaya kepemimpinan yang menghargai kemampuan karyawan untuk mendistribusikan knowledge dan kreativitas untuk meningkatkan servis. pengaruhi. mendorong. mengedelegasikan kekuasaan. mengembangakan usaha. Dia menyadari baha tugas nya ialah mengkoordinasikan perkerjaan dan tugasnya ialah dari semua anggotanya dengan menekankan rasa tanggung jawab dan kerja sam yang baik kepada setiap anggotanya (kartono. mengarah- kan. dapat bekerja sama.

Gaya kepemimpinan demokratis memberikan tanggung jawab dan wewenang kepada semua pihak. 3) memberikan kebebasan dalam beerja. memberikan bantuan dan sebainya. mengontrol dan mengevaluasi serta mengkoordinasi. anggota di beri kesempatan untuk memberikan usul serta saran dan kritik demi kemajuan organisasi. membimbing. mendelegasikan kekuasaan. membina. 3) Pemimpin adalah objektif atau fact-minded dalam pujian dan kecamannya dan mencoba menjadi seorang anggota kelompok biasa dalam jiwa dan semangat tanpa melakukan banyak pekerjaan. kata pemimpin mengandung konotasi “menggerakkan. dan jika di butuhkan petunjuk-petunjuk teknis pemimpin menyarankan dua atau lebih alternatf prosedur yang dapat di pilih. sehingga mendapat tempat sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai manusia. sehingga ikut terlibat aktif dalam organasasi. Gaya kepemimpinan ini memandang bawahan sebagai bagian dari keseluruhan organisasinya. 4) terbuka dalam mengambil keputusan. mendorong partisipasi karyawan dalam menentukan bagaimna metode kerja dan tujuan yang ingin di capai. Indikator kepemimpinan demokratis adalah 1) memperhatikan Guru-guru 2) diskusi. memberikan dorongan. Pemimpin mempunyai tanggung jawab dan tugas untuk mengarahkan. memberikan teladan. mengarahkan. melindungi. Berdasarkan di atas dapat di ambil kesimpulan baha kepemimpinan demokratis adalah pemimpin yang cenderung mengikut sertakan gyru dalam pengambilan keputusan. 5) mengikut sertakan guru-guru. langkah-langkah umum untuk tujuan kelompok di buat. Dalam praktek organisasi.2) Kegiatan-kegiatan didiskusikan. 28 . 3) Para anggota bebas bekerja dengan siapa saja yang mereka pilih dan pembagian tugas di tentukan oleh kelompok Ciri-ciri gaya kepemimpinan demokratis menurut Reksohadiprodjo (1997): 1) Lebih memperhatikan bawahan untuk mencapai tujuan organisasi 2) Menekankan dua hal yaitu bawahan dan tugas.

latar belakang keluarga. Hubungan Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah dengan Kinerja Guru Kepemimpinan merupakan salah satu faktor yang dapat meningkat- kan kinerja para guru sebagai bawahan dalam sebuah organisasi sekolah. peran. dan sistem penghargaan (reward system). kepribadian. desain pekerjaan. kepemimpinan. Penelitian yang Relevan Frimaiyulis (2013) mengemukakan bahwa pengaruh gaya kepemimpinan terhadap kinerja guru memiliki hubungan yang signifikan. keterampilan. Dalam mempengaruhi bawahan tersebut ada beberapa cara yang dapat dilakukan oleh kepala sekolah sebagai pimpinan sekolah. Sebagaimana yang sudah dikemukakan pada teori sebelumnya oleh Gibson (dalam Makawimbang. Dengan pengimplikasian gaya kepemimpin-an situasional oleh kepala sekolah secara tepat tentunya kinerja pada guru sebagai bawahan akan tertingkatkan. Salah satunya dengan menerapkan berbagai gaya kepemimpinan yang sesuai dengan situasi dan kondisi serta tingkatan kematangan guru sebagai bawahan di sekolah tersebut. Gaya kepemimpinan yang seperti ini dikenal dengan gaya kepemimpinan situasional. Kinerja yang baik dari para guru dipengaruhi oleh gaya kepemimpinan yang diterapkan oleh kepala sekolah pimpinan dalam satuan pendidikan. pengalaman kerja.3. sikap. dan kepuasan kerja dan (3) faktor organisasi seperti struktur organisasi. motivasi. Gaya kepala sekolah dalam mempengaruhi guru-guru terutama yang berhubungan dengan pelaksanaan tugas mengajarnya berbeda antara satu dengan yang lainnya sesuai dengan kemampuan dan kemauan masing-masing guru. (2) faktor psikologis seperti persepsi. 2012: 220) bahwa kinerja seseorang dipengaruhi oleh 3 faktor yaitu (1) faktor individu seperti kemampuan. tingkat sosial dan demografi seseorang. Kepemimpinan adalah cara seorang pemimpin yakninya kepala sekolah dalam mempengaruhi para guru sebagai bawahannya untuk mencapai tujuan yang sudah diusung oleh organisasi sekolah. B. Hasil penelitian ini memberikan gambaran bahwa adanya hubungan yang berarti antara gaya dasar kepemimpinan kepala sekolah dengan kinerja guru dengan 29 .

b) melaksanakan pembelajaran. mendorong partisipasi karyawan dalam menentukan bagaimna metode kerja dan tujuan yang ingin di capai. Salah satu faktor yang mempengaruhinya adalah gaya kepemimpinan yang diterapkan oleh pemimpin dalam mengelola organisasi dan bawahannya. 5) mengikut sertakan guru-guru. 30 . Salah satu gaya kepemimpinan yang dapat meningkatkan kinerja guru adalah gaya kepemimpinan demokratis. Kerangka Konseptual Kinerja guru adalah proses kerja yang diperlihatkan guru dalam melak- sanakan tugasnya.626. Hasil penelitian ini memberikan gambaran bahwa adanya hubungan yang berarti antara gaya kepemimpinan demokratis kepala sekolah dengan kinerja guru dengan besar koefisien korelasi hubungan 0. c) mengevaluasi hasil belajar. Berdasarkan di atas dapat di ambil kesimpulan baha kepemimpinan demokratis adalah pemimpin yang cenderung mengikut sertakan gaya dalam pengambilan keputusan. 4) terbuka dalam mengambil keputusan. besar koefisien korelasi hubungan 0. C. Gaya kepemimpinan demokratis adalah cara seorang pemimpin dalam mempengaruhi bawahannya sesuai dengan situasi dan tingkat kematangan bawahan. Ia meneliti hubungan gaya kepemimpinan terhadap kinerja guru di SD Negeri 2 Pariaman.721. 3) memberikan kebebasan dalam beerja. mendelegalisikan kekuasaan. Jadi berdasarkan pendapat di atas maka aspek yang akan dijadikan indikator dalam variabel kinerja guru dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: a) membuat rencana pembelajaran. Mardiyanti (2013) juga mengemukakan bahwa kinerja guru dalam satuan pendidikan sangat dipengaruhi oleh gaya yang diterapkan oleh pimpinan. Situasi dan tingkat kematangan dalam hal ini difokuskan kepada kemauan dan kemampuan para bawahan. Ia meneliti hubungan gaya kepemimpinan demokratis kepala sekolah dengan kinerja guru di SDN Kecamatan 2x11 Enam Lingkung Kabupaten Padang Pariaman. dan d) memberikan tindak lanjut dari hasil evaluasi hasil belajar. Indikator kepemimpinan demokratis adalah 1) memperhatikan Guru-guru 2) diskusi.

Memberikan kebebasan 3. Dalam bentuk statistik. mengevaluasi hasil belajar dalam bekerja 4. Mengikut sertakan guru. memberikan tindak lanjut dari 4. Berdasarkan uraian diatas maka diyakini bahwa kepemimpinan demokratis memiliki hubungan dengan kinerja guru. H1: terdapat hubungan yang signifikan pada taraf signifikansi 95% antara gaya kepemimpinan demokratis kepala sekolah dengan kinerja guru di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Kecamatan Padang Utara Kota Padang. Terbuka dalam membuat hasil evaluasi hasil belajar keputusan dalam perbaikan remedial dan 5. Hipotesis Hipotesis dapat diartikan sebagai jawaban sementara atau dugaan sementara terhadap masalah penelitian yang kebenarannya masih harus diuji melalui verifikasi di lapangan. membuat rencana 1. Berdasarkan masalah yang dikemukakan sebelumnya. Kerangka Konseptual Penelitian Hubungan Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah Dengan Kinerja Guru D. melaksanakan pembelajaran 3. hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: H0: tidak terdapat hubungan yang signifikan pada taraf signifikansi 95% antara gaya kepemimpinan demokratis kepala sekolah dengan kinerja guru di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Kecamatan Padang Utara Kota Padang. pengayaan guru Gambar 1. Hal ini dapat terlihat dalam kerangla konseptual yang digambarkan sebagai berikut: Gaya Kepemimpinan Kepala Kinerja Guru Sekolah 1. hipotesis tersebut ditulis: Ho: µ1 = µ2 Ha: µ1 ≠ µ2 31 . Diskusi 2. Memperhatikan guru guru pembelajaran 2.

maka jenis penelitian adalah penelitian korelasional yaitu jenis penelitian yang menggambarkan suatu keadaan atau situasi tertentu sebagaimana adanya secara sistematis. c) mengevaluasi hasil belajar. dan d) memberikan tindak lanjut dari hasil evaluasi hasil belajar dalam perbaikan remedial dan pengayaan. Berkaitan dengan hal tersebut menurut Arikunto (2010: 4) mengemuka-kan bahwa penelitian korelasional adalah metode penelitian yang dilakukan peneliti untuk mengetahui tingkat hubungan antara dua variabel atau lebih. Desain Penelitian Berdasarkan permasalahan dan tujuan yang diajukan dalam penelitian ini. 32 . tanpa melakukan perubahan. 2. Variabel Dependen/ Terikat (y) Variabel terikat (y) kinerja guru adalah prestasi kerja yang di peroleh oleh seseorang dalam melaksanakan pekerjaannya dalam suatu waktu tertentu dengan kriteria tertentu pula adapun indicator dalam penelitian menjelaskan Tugas guru dalam kegiatan pembelajaran adalah: a) membuat rencana pembelajaran. Definisi Operasional Variabel Penelitian Ada dua variabel yang akan diteliti pada penelitian ini. b) melaksanakan pembelajaran. Dengan demikian dalam penelitian ini akan melihat hubungan gaya kepemimpinan kepala sekolah dengan kinerja guru di SDN Kecamatan Padang Utara Kota Padang. BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. yaitu: 1. Variabel Independen/ Bebas (x) Variabel bebas (x) gaya kepemimpinan kepala sekolah adalah cara seorang pemimpin dalam mempengaruhi bawahannya. akurat. tambahan atau manipulasi terhadap data yang memang sudah ada. aktual. B. dan ditentukan hubungan antara variabel yang diteliti. Tentu saja gaya tersebut sesuai dengan situasi dan tingkat kematangan para bawahan.

4) terbuka dalam mengambil keputusan. Populasi dan Sampel 1. C. Populasi Sugiyono (2011: 90) menyatakan bahwa populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri dari obyek atau subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang diteta pkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Populasi Penelitian di SDN Kecamatan Padang Utara Kota Padang (Jumlah SDN dan populasi sebelum dilakukan penggabungan) No Nama SDN Populasi Berdasarkan Jumlah Guru Jenjang Pendidikan < S1 S1 1 SDN 01 Ulak Karang Selatan 2 9 11 2 SDN 02 Ulak Karang Selatan 4 5 9 3 SDN 03 Alai 10 16 26 4 SDN 05 Air Tawar Barat 6 4 10 33 . Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut ini: Tabel 1. Menurut staf tata usaha kantor UPTD Kecamatan Padang Utara jumlah SDN di Kecamatan Padang Utara Kota Padang sebelum penulis melakukan penelitian berjumlah 25 SDN. Situasi dan kematangan dalam hal ini difokuskan kepada kemauan dan kemampuan para bawahan. Namun setelah itu jumlah SDN di Kecamatan Padang Utara Kota Padang sekarang berjumlah 23 SDN dengan 2 SDN beserta peserta didik dan guru untuk sementara digabung ke salah satu SDN dengan alasan jumlah peserta didik di SDN ini tidak mencukupi. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh guru di SDN Kecamatan Padang Utara Kota Padang yang berjumlah 236 orang. Indicator Kepemimpinan demokratis adalah 1) memperhatikan Guru-guru 2) diskusi. 5) mengikut sertakan guru-guru. 3) memberikan kebebasan dalam beerja.

5 SDN 07 Ulak Karang Selatan 6 3 9 6 SDN 08 Ulak Karang Selatan 3 6 9 7 SDN 09 Air Tawar Barat 6 2 8 8 SDN 11 Lolong 4 6 10 9 SDN 12 Ulak Karang Utara 4 5 9 10 SDN 13 Lolong 3 4 7 11 SDN 14 Ulak Karang Selatan 3 4 7 12 SDN 15 Lolong 5 4 9 13 SDN 16 Air Tawar Timur 5 4 9 14 SDN 17 Gunung Pangilun 4 5 9 15 SDN 18 Air Tawar Selatan 3 6 9 16 SDN 19 Air Tawar Barat 6 3 9 17 SDN 20 Padang Utara 5 3 8 18 SDN 21 Parak Kopi 4 4 8 19 SDN 22 Ulak Karang Utara 6 2 8 20 SDN 23 Lolong 4 5 9 21 SDN 25 Air Tawar Selatan 5 3 8 22 SDN 26 Air Tawar Timur 5 5 10 23 SDN 27 Ulak Karang Utara 1 7 8 24 SDN 28 Air Tawar Timur 2 8 10 25 SDN 29 Ulak Karang Utara 5 2 7 JUMLAH 111 125 236 Sumber: Staf Tata Usaha Kantor UPTD Kecamatan Padang Utara 34 .

Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah proportionate stratified random 35 . Populasi Penelitian di SDN Kecamatan Padang Utara Kota Padang (Jumlah SDN dan populasi setelah dilakukan penggabungan) No Nama SDN Populasi Berdasarkan Jumlah Guru Jenjang Pendidikan < S1 S1 1 SDN 01 Ulak Karang Selatan 2 9 11 2 SDN 02 Ulak Karang Selatan 4 5 9 3 SDN 03 Alai 10 16 26 4 SDN 05 Air Tawar Barat 6 4 10 5 SDN 07 Ulak Karang Selatan 6 3 9 6 SDN 08 Ulak Karang Selatan 3 6 9 7 SDN 09 Air Tawar Barat 6 2 8 8 SDN 11 Lolong 4 6 10 9 SDN 13 Lolong 3 4 7 10 SDN 14 Ulak Karang Selatan 3 4 7 11 SDN 15 Lolong 5 4 9 12 SDN 16 Air Tawar Timur 5 4 9 13 SDN 17 Gunung Pangilun 4 5 9 14 SDN 18 Air Tawar Selatan 3 6 9 15 SDN 19 Air Tawar Barat 6 3 9 16 SDN 20 Padang Utara 5 3 8 17 SDN 21 Parak Kopi 4 4 8 18 SDN 22 Ulak Karang Utara 6 2 8 19 SDN 23 Lolong 4 5 9 20 SDN 25 Air Tawar Selatan 5 3 8 21 SDN 26 Air Tawar Timur 5 5 10 22 SDN 28 Air Tawar Timur 2 8 10 23 SDN 29 Ulak Karang Utara 10 14 24 JUMLAH 111 125 236 2.Tabel 2. Sampel Sugiyono (2011: 91) menyatakan bahwa sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut.

sampling dengan menggunakan rumus Slovin. Dengan demikian peneliti mengambil strata untuk penelitian ini adalah jenjang pendidikan dengan karakteristik < S1 dan S1. maka ditentukan ukuran sampel sesuai dengan Slovin (dalam Liana. maka karakteristik populasi yang dipertimbangkan dalam pengambilan sampel adalah jenjang pendidikan guru di SDN Kecamatan Padang Utara Kota Padang. 2009: 33) pada tingkat kesalahan 10% dengan rumus: Keterangan: n = Jumlah sampel seluruhnya N = Ukuran populasi 36 . Untuk memperoleh sampel penelitian. Menentukan subjek yang akan dijadikan responden Berdasarkan proporsi masing-masing strata kelompok populasi. maka langkah-langkah yang dilakukan adalah: a. b. Identifikasi Strata Berdasarkan pengamatan lapangan yang dilakukan di SDN Kecamatan Padang Utara Kota Padang.

Jenjang pendidikan d. Jenjang pendidikan < S1 b. e = % kelonggaran karena kesalahan pengambilan sampel c. Untuk menentukan jumlah sampel setiap ruangan digunakan rumus: Keterangan: ni = Jumlah sampel menurut sekolah Nr = Jumlah populasi menurut sekolah N = Jumlah populasi menurut jenjang pendidikan n = Jumlah sampel menurut jenjang pendidikan 37 . maka digunakan rumus: Keterangan: ni = Jumlah sampel menurut jenjang pendidikan N = Jumlah populasi seluruhnya Ni = Jumlah populasi menurut jenjang pendidikan n = Jumlah sampel seluruhnya Maka jumlah sampel untuk masing-masing jenjang pendidikan adalah: a. Untuk menentukan sampel pada jenjang pendidikan guru.

Untuk lebih jelasnya mengenai jumlah sampel di tiap sekolah dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 3. Jumlah sampel di SDN Kecamatan Padang Utara Kota Padang (Jumlah SDN dan Sampel setelah digabungkan) 38 . Jumlah sampel di SDN Kecamatan Padang Utara Kota Padan (Jumlah SDN dan Sampel sebelum digabungkan) No Sekolah Sampel Berdasarkan Jumlah Guru Jenjang Pendidikan < S1 S1 1 SDN 01 Ulak Karang Selatan 1 3 4 2 SDN 02 Ulak Karang Selatan 1 2 3 3 SDN 03 Alai 3 5 8 4 SDN 05 Air Tawar Barat 2 1 3 5 SDN 07 Ulak Karang Selatan 2 1 3 6 SDN 08 Ulak Karang Selatan 1 2 3 7 SDN 09 Air Tawar Barat 2 1 3 8 SDN 11 Lolong 1 2 3 9 SDN 12 Ulak Karang Utara 1 2 3 10 SDN 13 Lolong 1 1 2 11 SDN 14 Ulak Karang Selatan 1 1 2 12 SDN 15 Lolong 2 1 3 13 SDN 16 Air Tawar Timur 2 1 3 14 SDN 17 Gunung Pangilun 1 2 3 15 SDN 18 Air Tawar Selatan 1 2 3 16 SDN 19 Air Tawar Barat 2 1 3 17 SDN 20 Padang Utara 2 1 3 18 SDN 21 Parak Kopi 1 1 2 19 SDN 22 Ulak Karang Utara 2 1 3 20 SDN 23 Lolong 1 2 3 21 SDN 25 Air Tawar Selatan 2 1 3 22 SDN 26 Air Tawar Timur 2 2 4 23 SDN 27 Ulak Karang Utara . 2 2 24 SDN 28 Air Tawar Timur 1 2 3 25 SDN 29 Ulak Karang Utara 2 1 3 JUMLAH 37 41 78 Tabel 4. e.

Hal ini di lakukan untuk memberi peluang yang sama bagi semua anggota populasi yang sama pada strata untuk menjadi anggota sampel. D.No Sekolah Sampel Berdasarkan Jumlah Guru Jenjang Pendidikan < S1 S1 1 SDN 01 Ulak Karang Selatan 1 3 4 2 SDN 02 Ulak Karang Selatan 1 2 3 3 SDN 03 Alai 3 5 8 4 SDN 05 Air Tawar Barat 2 1 3 5 SDN 07 Ulak Karang Selatan 2 1 3 6 SDN 08 Ulak Karang Selatan 1 2 3 7 SDN 09 Air Tawar Barat 2 1 3 8 SDN 11 Lolong 1 2 3 9 SDN 13 Lolong 1 1 2 10 SDN 14 Ulak Karang Selatan 1 1 2 11 SDN 15 Lolong 2 1 3 12 SDN 16 Air Tawar Timur 2 1 3 13 SDN 17 Gunung Pangilun 1 2 3 14 SDN 18 Air Tawar Selatan 1 2 3 15 SDN 19 Air Tawar Barat 2 1 3 16 SDN 20 Padang Utara 2 1 3 17 SDN 21 Parak Kopi 1 1 2 18 SDN 22 Ulak Karang Utara 2 1 3 19 SDN 23 Lolong 1 2 3 20 SDN 25 Air Tawar Selatan 2 1 3 21 SDN 26 Air Tawar Timur 2 2 4 22 SDN 28 Air Tawar Timur 1 2 3 23 SDN 29 Ulak Karang Utara 3 5 8 JUMLAH 37 41 78 Jadi sampel penelitian ini adalah 78 orang guru yang di tetapkan secara acak dengan system undian. Jenis Data 39 . Jenis Data dan Sumber Data 1.

Menurut Sugiyono (2011: 151) angket adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada reponden untuk dijawabnya. E. Angket disusun dengan model skala likert yang terdiri atas 5 alternatif jawaban yaitu SL (selalu). d. KD (kadang-kadang). 40 . TP (tidak pernah). b. 2. 3. Penyusunan instrumen penelitian ini dilakukan melalui beberapa tahapan yaitu: a. 1. Menyusun petunjuk pengisian instrumen penelitian. 2. SR (sering). Instrumentasi Penelitian dan Teknik Pengumpulan Data 1. Bobot jawaban dari masing-masing pilihan jawaban akan diberi skor 5. Membuat kisi-kisi angket berdasarkan indikator penelitian. Menentukan indikator dari variabel yang akan diteliti. Sumber Data Sesuai dengan jenis data yang dibutuhkan dalam penelitian ini. c. e. 4. Menyusun butir pernyataan berdasarkan indikator yang telah ditetapkan dari kedua variabel penelitian sesuai dengan kebutuhan yang dibuat dengan berpedoman pada indikator masing-masing variabel. Melakukan kajian literatur untuk mengkaji konsep-konsep atau variabel yang akan diukur. maka sumber data diperoleh dari guru yang terpilih sebagai responden dalam penelitian ini. Instrumentasi Penelitian Alat pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket/kuesioner. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kuantitatif yaitu data yang berbentuk angka atau data kualitatif yang diangkakan seperti skoring berkenaan dengan hubungan gaya kepemimpinan kepala sekolah dengan kinerja guru di SDN Kecamatan Padang Utara Kota Padang. JR (jarang).

2) Reliabilitas 41 . Menganalisis data hasil ujicoba untuk melihat validitas dan reliabilitas angket dengan tujuan untuk mengetahui kelayakan angket yang digunakan dalam penelitian. Menelaah kesesuaian pernyataan instrumen penelitian dengan kisi-kisi instrumen dengan tujuan untuk mengetahui apakah item-item yang akan dikembangkan sudah mewakili setiap indikator yang dibutuhkan. h. sedangkan juka r hitung < r table maka item dikatakan tidak valid. Uji coba dimaksudkan untuk mengetahui validitas dan reliabilitas. Melakukan uji coba instrumen terhadap 15 orang guru di luar sampel penelitian dan masih di dalam populasi. 1) Validitas Uji coba validitas angket dalam penelitian ini digunakan rumus korelasi tata jenjang dalam Arikunto (2010: 321) yaitu: xy = Keterangan: = Koefisien korelasi tata jenjang Jumlah beda N = Banyaknya subjek Kriteria pengujiannya adalah: Jika r hitung ≥ r table maka item dikatakan valid. Mengkonsultasikan angket tersebut dengan pembimbing.f. i. g.

Uji coba angket reliabilitas dalam penelitian ini digunakan rumus Alpha Cronbach (Arikunto. 2010: 239) yaitu: ) Keterangan: = Reliabilitas yang dicari = Jumlah butir pertanyaan/soal = Jumlah varian butir = Varian total Rumus untuk mencari varians tiap-tiap item yaitu: = Keterangan: = Varian tiap item = Kuadrat total skor tiap-tiap item = Total skor tiap-tiap item 42 .

2. dimasukkan ke dalam tabel distribusi frekuensi. Pengolahan data Data yang telah diberi skor nilai. sedangkan juka r hitung < r table maka item dikatakan tidak reliabel. Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan sendiri oleh penulis dengan prosedur sebagai berikut: a. c. 4. 2. Membuat tabel pengolahan. Memeriksa kelengkapan dan kesesuaian isi angket yang telah diisi oleh sampel penelitian. Kemudian dicari mean. 3. median. Pemberian skor dan menghitung jumlah jawaban sampel penelitian. b. maka dilakukan analisis data dengan menggunakan teknik korelasi product moment. N = Jumlah responden Jika r hitung ≥ r table maka item dikatakan reliabel. modus. dan standar deviasi serta 43 . Menyebarkan angket penelitian. setelah itu kepala sekolah untuk meminta izin melaksanakan penelitian. Peneliti datang bertemu dengan operator/staf tata usaha sekolah terlebih dahulu. Namun sebelumnya dilakukan langkah-langkah sebagai berikut: 1. Mendatangi semua SDN Kecamatan Padang Utara Kota Padang. Teknik Analisa Data Untuk melihat hubungan gaya kepemimpinan kepala sekolah dengan kinerja guru di SDN Kecamatan Padang Utara Kota Padang. Setelah mendapat izin dari kepsek. F. angket disebarkan kepada responden yang telah ditunjuk sebagai sampel dalam penelitian ini. Mengumpulkan kembali angket yang telah diisi responden.

Klasifikasi rentangan nilai untuk mendapatkan nilai skor ideal Klasifikasi Persentase Sangat baik (SB) 90-100 Baik (B) 80-89 Cukup (C) 65-79 Kurang (K) 55-64 Sangat kurang (SK) 0-54 5. Adapun uji persyaratan analisis yang dilakukan pada jenis penelitian ini adalah: a. Uji Persyaratan Analisis Tujuan dilakukannya uji persyaratan analisis ini adalah untuk mengetahui apakah data yang dikumpulkan memenuhi persyaratan untuk dianalisis dengan teknik yang telah direncanakan. 2009: 41) sebagai berikut: Tabel 5. Untuk memperoleh gambaran korelasi dari kelompok variabel gaya kepemimpinan kepala sekolah dengan kinerja guru di SDN Kecamatan Padang Utara Kota Padang menggunakan nilai skor ideal yaitu dengan membandingkan skor rata-rata dengan skor tertinggi dan dikalikan 100% dengan menggunakan klasifikasi yang dikemukakan oleh Sudjana (dalam Liana. Uji normalitas Uji normalitas ini dilakukan untuk mengetahui apakah data yang terkumpul berdistribusi normal atau tidak dengan menggunakan rumus chi kuadrat dalam Arikunto (2010: 333) yaitu: Keterangan: = Harga chi kuadrat yang dicari = Frekuensi yang diperoleh berdasarkan data 44 . menggambarkan histogramnya.

Korelasi Dalam hal ini digunakan uji statistik distribusi t dengan membandingkan nilai t hitung dengan nilai t hasil pada taraf kepercayaan 95% sampai 99% dengan menggunakan rumus dalam Arikunto (2010: 337) yaitu: t= Keterangan: t = Keberartian korelasi r = Koefisien korelasi N = Jumlah responden 45 . Menentukan hubungan gaya kepemimpinan kepala sekolah dengan kinerja guru menggunakan teknik korelasi product moment dalam Arikunto (2010: 317) yaitu: Keterangan: nilai koefisien korelasi antara variabel X dan Y N = jumlah sampel yang digunakan X = skor nilai variabel X Y = skor nilai variabel Y 7. = Frekuensi yang diharapkan 6. a. Uji hipotesis Uji hipotesis yang dilakukan adalah korelasi karena jenis penelitian ini adalah penelitian korelasional.

46 .

Sugiyono. Studi Pengembangan Kepala Sekolah. Performance Appraisal. Miftah. Bandung: Refika Utama. Saondi. Kinerja Guru Profesional. Makawimbang. Veithzal. Administrasi Pendidikan. Kepemimpinan Pendidikan yang Bermutu. Jakarta: Rajawali Pers. Stephen P. Jogjakarta: Ar-ruzz Media. (2006). Suhardiman. Perilaku Organisasi. Jakarta: Rineka Cipta. Rivai. (Skripsi). (2011). Padang: AIP FIP UNP. Suharsim. (2013). Pasolong. Arikunto. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. (www. Bandung: Alfabeta. Rivai. Veithzal dkk. ______________. Jakarta: Rineka Cipta. BSNP. Hubungan Gaya Kepemimpinan Demokratis Kepala Sekolah dengan Kinerja Guru di SMA Negeri Kecamatan 2x11 Enam Lingkung Kabupaten Padang Pariaman. (2005). Ondi dan Aris Suherman. Jakarta: Raja Grafindo Persada Robbins. (2012). (2012). Budi. (2011). Jakarta:Rineka Cipta Barnawi dan Mohammad Arifin. Panduan Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah. Suharsimi. Teori Budaya Organisasi. Bandung: Alfabeta. Kinerja Guru. (2009). 2005. (2013). Bandung: Alfabeta. Jakarta: PT Indeks Komplek Gramedia Engkoswara dan Aan Komariah. Mardiyanti. Viewed November 2013. Harbani. Kepemimpinan Birokrasi. (2012). Bandung: Alfabeta Peraturan Pemerintah Nomor 74 tentang Guru. DAFTAR KEPUSTAKAAN Anoraga. Pandji. (2010). Leadership And Its Influence In Organizations. (2004). Etika Profesi Keguruan. Prosedur penelitian suatu pendekatan praktik. Supardi. Arikonto. (2012).macrothink. A Review Of Intellections In International Journal Of Learning And Development Vol 2 No 6. Pemimpin dan Kepemimpinan dalam Organisasi. Jerry. (2013). Thoha. Jakarta: Rajawali Pers. 47 . Metode Penelitian Administrasi. Jakarta.org/ijld). (2004). (2010). Kepemimpinan dalam Manajemen. Dran. Jakarta: Rajagrafindo Persada. (2012). Jakarta: Rineka Cipta. 2009. Psikologi Kerja. Jakarta:Rineka Cipta.

Dadi dan Arifin. Purwanto. Anoraga. Manajemen dan Kepemimpinan Kepala Sekolah. Buku Panduan Penulisan Tugas Akhir/Skripsi. Jakarta: Bumi Aksara.: Tchenechovsky St. Statistik Konsep Dasar dan Aplikasinya. Ali. Menjadi Kepala Sekolah Profesional dalam Konteks Menyukseskan MBS dan KBK. Teori Kinerja dan Pengukurannya. Jakarta: Rajagrafindo Persada. Eliezer. UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Manajemen Kinerja. Hamzah dan Nina Lamatenggo. Bandung: Alfabeta. Gordon college of Education. Wibowo. (2012). Nuansa Aulia 48 . Enco. Jakarta : Bumi Aksara Muslich. Administrasi Supervisi Pendidikan. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. 2002. Masnur. Psikologi Pendidikan: Sebuah Orientasi Baru. 2004. (2011). Malang: Depdiknas. Israel. Uno. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Jakarta:Rineka Cipta. Ruky. Panduan Menjadi Guru Profesional. panji. Iskandar.2011. 2007. UU Nomor 23 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. 1992. Agus. Jakarta: Gaung Persada Press. Manajemen Pendidikan. Enco 2009. Enco. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama Imron. 2013. Achmad. Nawawi. Jakarta: Bumi Aksara. Bandung: Rosdakarya Permadi. Mulyasa. Bandung: Remaja Rosdakarya Mulyasa. 2004. 2005.psikologi kerja. Irianto. 2005.Tim Dosen Administrasi Pendidikan UPI. Yariv. (2012). Jakarta: Remaja Rosda Karya.Deterioration in Teachers’ performance:coeses and some Remedies. (2012). Padang:UNP. Sistem Manajemen Kinerja. Manajemen Peserta Didik Berbasis Sekolah. World journal of Education. Manajemen Stratejik Organisasi Non Profit Bidang Pemerintahan. Yogyakarta: Gajah Mada University Press. Ngalim. UNP. Hadari. 2009. Bandung : CV. Sertifikasi Guru Menuju Profesionalisme Pendidik. Haifa. 2011. Mulyasa. 2003.