You are on page 1of 4

BAB 1.

PENDAHULUAN

1 Latar Belakang
Infeksi nosokomial merupakan kejadian yang sering terjadi di rumah sakit
dan dapat menimbulkan kerugian bagi pasien, keluarga dan rumah sakit itu
sendiri. Salah satu infeksi nosokomial yang sering terjadi adalah infeksi saluran
kemih pada pasien-pasien yang terpasang kateter uretra. Angka keterjadiannya
mencapai 40% dari semua tipe infeksi nosokomial (Kasmad dkk, 2007). Di dunia,
80% dari kejadian Infeksi Saluran Kemih (ISK) yang didapat di rumah sakit
adalah CAUTIS (Catheter Associated Urinary Tract Infection). Di Indonesia
prevalensi ISK tinggi pada pasien yang memakai kateter yaitu 80% dan 10%-30%
pasien tersebut akan mengalami bakteriuria.
Kateterisasi uretra merupakan metode primer dekompresi kandung kemih
dan juga berfungsi sebagai alat diagnostik retensi urin akut. Selain itu, kateter juga
digunakan untuk mengevaluasi jumlah cairan yang masuk dan jumlah urin yang
keluar pada pasien inkontinensia urin.
Infeksi saluran kemih disebabkan oleh berbagai macam bakteri, diantaranya
E. coli, Klebsiella, Proteus, Providensiac, Citrobacter, P. aeruginosa,
Acinetobacter, Enterococu faecali, dan Staphylococcus saprophyticus. Masuknya
bakteri melalui kateter sangat berhubungan dengan pembentukan biofilm pada
kateter. Jumlah bakteri di biofilm sangat banyak dan bervariasi, baik bakteri gram
negatif, gram positif dan juga ragi. Bakteri-bakteri intestinal seperti Escherichia
coli, Enterobacter, Klebsiella, Enterococci, dan Proteus adalah patogen umum
saluran kemih yang dapat menyebabkan ISK akibat kateterisasi.
Biofilm adalah struktur kompleks terdiri dari bakteri, produk ekstraseluler
bakteri, sel host dan komponen urin seperti protein, elektrolit dan molekul organik
lain. Biofilm ini berkembang dan tumbuh di dalam dan di luar kateter sehingga
terlihat seperti membungkus kateter (Semaradana, 2014). Apabila biofilm berhasil
terbentuk pada kateter, maka akan menyebabkan infeksi persisten. Apabila hal ini
sudah terjadi, maka upaya penyembuhan akan menjadi lama dan menelan biaya
yang banyak. Bakteri biofilm ini juga dapat menyebabkan rinosinositis kronis,
berdasarkan penelitian di RS M.Djamil Padang.
Ada beberapa cara dilakukan dalam pencegahan pelekatan biofilm ini
seperti dengan penggunaan surfaktan kimia seperti deterjen dan shampo bayi,
serta juga penggunaan madu. Dalam penanganan biofilm, penggunaan herbal
sudah banyak dilakukan seperti penggunaan benih Nigella sativa, Rhubarb,
Fructus gardeniae, dan Andrographis paniculata (Chaieb, Kamel dkk., 2011).
Kapulaga adalah rempah-rempah yang terbuat dari biji beberapa tanaman
dalam genus Elettaria dan Amomum dalam keluarga Zingiberaceae. Biji kapulaga
ini sangat terkenal sebagai obat tradisional dalam masyarakat Indonesia dari
waktu ke waktu. Nanas (Ananas comosus) adalah buah-buahan yang tumbuh di
iklim tropis. Buah ini sangat populer dikonsumsi masyarakat. Hasil konsumsi

2 buah nanas berupa limbah kulit buahnya yang tentunya juga berjumlah besar mengingat kepopuleran buah ini. cardamomum (kapulaga kecil) diketahui efektif dalam melawan beberapa bakteri patogen manusia dengan ukuran zona mulai 15- 28 mm (Kaushik et al. cardamomun) dan kulit buah nanas (Ananas comosus) sebagai pencegahan pembentukan dan pengobatan biofilm oleh bakteri- bakteri penyebab infeksi saluran kemih akibat pemasangan kateter uretra. Sehingga penelitian ini dapat menerangkan potensi ekstrak biji E. 3 Menentukan minimum biofilm eliminating concentration (MBEC) ekstrak biji kapulaga dan kulit nanas. Dari uraian tersebut. 2 Identifikasi potensi antibakteri dan antibiofilm ekstrak biji kapulaga dan ekstrak kulit nanas terhadap bakteri penghasil biofilm. 3 Tujuan Penelitian 1 Identifikasi bakteri-bakteri penyebab infeksi saluran kemih pada pemasangan kateter uretra yang dapat menghasilkan biofilm kuat. cardamomun dan kulit Ananas comosus sebagai antibiofilm dalam pencegahan dan terapi penyakit infeksi saluran kemih akibat pemasangan kateter yang diterbitkan baik di jurnal nasional maupun internasional. 4 Urgensi Penelitian Keutamaan dari penelitian ini adalah karena berdasarkan penelusuran pustaka yang dilakukan penulis. penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai potensi antibiofilm ekstrak biji kapulaga dan kulit buah nanas terhadap bakteri- bakteri penghasil biofilm sebagai kandidat pencegahan dan pengobatan infeksi saluran kemih pada pemasangan kateter uretra. 2011). cardamomun dan kulit Ananas comosus untuk dikembangkan menjadi alternatif dalam terapi maupun preventif terhadap pembentukan biofilm pada infeksi saluran kemih. serta sangat sulitnya menghancurkan bakteri yang telah membentuk biofilm. Luaran lain dari . Ekstrak air dari buah E. Senyawa bromelain merupakan senyawa yang berpotensi besar sebagai antibakteri (Ketnawa et al. cardamomun dan kulit Ananas comosus sebagai anti biofilm dalam pencegahan dan pengobatan infeksi saluran kemih oleh bakteri-bakteri penyebabnya. 5 Target Luaran Penelitian Luaran dari penelitian ini adalah artikel ilmiah tentang potensi ekstrak biji E. Sedangkan kulit buah nanas (Ananas comosus) merupakan sumber potensial dari senyawa bromelain. tidak ditemukan adanya penelitian tentang potensi ekstrak biji E. 2010). 2 Rumusan Masalah Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana efektifitas antibiofilm ekstrak biji kapulaga (E.

cardamomun dan kulit Ananas comosus sebagai pencegahan pembentukan dan pengobatan biofilm oleh bakteri-bakteri penyebab infeksi saluran kemih akibat pemasangan kateter. cardamomun dan kulit Ananas comosus lebih lanjut.penelitian ini juga berupa sebuah produk inovasi berupa minyak pelumas atau jelly kateter dan kateter berbahan biji kapulaga dan kulit buah nanas sebagai perlindungan terhadap perkembangan koloni bakteri-bakteri biofilm penyebab infeksi saluran kemih. praktisi kesehatan bahkan kalangan peneliti untuk mengkaji potensi ekstrak biji E. Artikel penelitian yang diterbitkan akan bermanfaat bagi kalangan masyarakat umum. maka bisa dijadikan sebagai landasan teori dan menambah wawasan serta pengetahuan akan besarnya potensi ekstrak biji E. mahasiswa. 6 Manfaat Penelitian Apabila penelitian ini dilaksanakan dan mendapatkan hasil yang diharapkan. .