You are on page 1of 17

1

BAB I
LAPORAN KASUS

A. IDENTITAS PASIEN
Nama : An. G
Jenis Kelamin : Laki-laki
Usia : 11 tahun
Pekerjaan : Pelajar
Agama : Islam
Suku Bangsa : Jawa
Alamat : Jalan Anyar Beringin RT 2/VI, Semarang
No rekam medik : 056484
Waktu Diperiksa : Senin, 23 Maret 2015 pukul 12.45 WIB

B. ANAMNESIS
Berdasarkan alloanamnesis dan autoanamnesis pada hari senin tanggal 23
Maret 2015 pukul 12.45 WIB
Keluhan Utama : Gatal pada tungkai bawah dan punggung tangan kanan
Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien datang ke poliklinik kulit dan kelamin RSUD Tugurejo dengan keluhan
gatal pada punggung tangan kanan dan tungkai bawah kanan. Keluhan
dirasakan pasien sejak 1 bulan yang lalu. Keluhan gatal berawal pada tungkai
bawah kanan, yang kemudian disusul pada punggung tangan kanan, dirasakan
setiap hari dan mengganggu aktifitas serta gatal bertambah ketika pasien
makan telur.
Keluhan disertai bercak merah kehitaman pada kulit. Awalnya muncul sedikit-
sedikit berwarna merah kehitaman, karena merasa sangat gatal dan
mengganggu, pasien sering menggaruk-garuk sehingga disertai luka. Pada
bagian tungkai bawah kanan luka berwarna kehitaman dan pada punggung
tangan kanan berwarna kemerahan.

Riwayat Penyakit Dahulu :

Wh -/- Cor : BJ I-II reguler. Riwayat Pribadi dan Sosial : Pasien tinggal bersama orangtuanya. . Setelah berobat keluhan pasien dirasakan berkurang tetapi sekitar 1 minggu yang lalu. likenifikasi dan krusta. Pasien merupakan pelajar kelas V SD. Riwayat Penyakit Keluarga : Ibu pasien alergi terhadap obat tertentu yaitu penisilin. Pasien suka makan telor. dan diberi obat minum dan salep. Riwayat Pengobatan : Sebelumnya pasien sudah pernah berobat ke klinik. terakhir mengalami keluhan pada usia 6 tahun. C. Daerah tengah ditutupi skuama tebal. PEMERIKSAAN FISIK Status Generalis Keadaan Umum : Baik Kesadaran : Composmentis Status Gizi Berat Badan : 40 kg Tinggi badan : 138 cm Tanda Vital Nadi : 80 x/menit Respirasi Rate : 20 x/menit Suhu : 36. KGB = pembesaran Thorax : Pulmo : Bentuk dada simetris. akral hangat ekstremitas superior dan inferior (+/ +). Rh -/-. berbentuk bulat. pinggir lesi polisiklik dan agak meninggi. murmur (-). sklera ikterik (-/-) Leher : JVP = meningkat. dikarenakan obatnya habis pasien merasakan keluhannya kambuh kembali. kegiatan setelah pulang sekolah adalah sering bermain di pasir dan jarang cuci kaki setelah main. dengan papul dan eritema di tepi. tetapi ibu pasien tidak mengetahui nama obat yang diberikan. sianosis (-/-) Status Dermatologi Lokasi : Regio talocruralis posterior dextra UKK : Plakat hiperpigmentasi berbatas tegas.50C Keadaan Spesifik Mata : Konjungtiva anemis (-/-). anular. VBS +/+. nyeri tekan (-) Ekstremitas : CTR < 2 detik. BU (+). 2 Pasien sering mengalami gatal-gatal seperti ini sejak dahulu. gallop (-) Abdomen : Bentuk datar.

pinggir lesi polisiklik dan agak meninggi. likenifikasi dan erosi. dengan papul dan eritema.1 Lesi pada Regio Talocruralis Posterior Dextra Sebelum Terapi Status dermatologis: Lokasi: Regio talocruralis posterior dextra UKK: Plakat hiperpigmentasi berbatas tegas. berbentuk bulat. pinggir lesi polisiklik dan agak meninggi dengan eritema di tepi. anular. . Daerah tengah ditutupi skuama tebal dan likenifikasi.2 Lesi pada Regio Talocruralis Posterior Dextra Setelah Terapi Lokasi : Dorsum manus dextra UKK : Plakat hiperpigmentasi berbatas tegas. 3 Gambar 1. anular. Daerah tengah ditutupi skuama. Gambar 1.

45 WIB bahwa pasien datang ke poliklinik kulit dan kelamin RSUD Tugurejo dengan keluhan gatal pada tungkai bawah kanan dan punggung tangan kanan. RESUME Berdasarkan hasil alloanamnesis dan autoanamnesis pada hari senin tanggal 23 Maret 2015 pukul 12.3 Lesi pada Dorsum Manus Dextra Sebelum Terapi Status dermatologis: Lokasi : Dorsum manus dextra UKK : Plakat hiperpigmentasi berbatas tegas. Daerah tengah ditutupi skuama. dengan nodul dan eritema disekitarnya. anular. likenifikasi. pinggir lesi polisiklik. Keluhan dirasakan pasien sejak 1 bulan yang lalu disertai plakat hiperpigmentasi.4 Lesi pada Dorsum Manus Dextra Setelah Terapi D. 4 Gambar 1. Sebelumnya pasien sudah pernah . erosi dan krusta. Gambar 1.

PENATALAKSANAAN Umum  Menjelaskan kepada pasien mengenai penyakit dan cara pengobatannya. anular. pinggir lesi polikistik dan meninggi. . pemeriksaan kadar IgE total di dalam serum pasien. dan erosi (+).  Menghindari aktifitas yang terlalu mengeluarkan banyak keringat. tanda-tanda vital dan status interna dalam batas normal. DIAGNOSIS BANDING Dermatitis Numularis Neurodermatitis Dermatitis Kontak Alergi Dermatomikosis Pitiriasis Rosea F. alkohol. E. eritema (+). krusta (+). USULAN PEMERIKSAAN PENUNJANG Patch test.  Menyarankan agar pasien:  Selalu menjaga kebersihan diri dan lingkungannya (mandi minimal dua kali sehari. Pada pemeriksaan fisik. Pasien sering main di pasir dan jarang cuci kaki serta suka makan telur. 5 berobat ke klinik dan diberi obat minum dan salep. kelembaban tinggi.  Menghindari makanan-makanan yang dicurigai mencetuskan rasa gatal. kultur dan uji resistensi sekret serta biopsi. dll). likenfikasi (+). berbentuk bulat. serta rutin mencuci seprei dan selimut).  Menghindari suhu yang terlalu panas dan dingin.  Menghindari pemakaian bahan-bahan iritan (detergen. pakaian harus sering diganti bila berkeringat. skuama (+). DIAGNOSIS KERJA Dermatitis Numularis H. G. papul (+).  Menganjurkan pasien mengusahakan daerah lesi selalu kering. status dermatologis ditemukan efloresensi plakat hiperpigmentasi (+) berbatas tegas. Ibu pasien alergi terhadap penisilin. Lokasi pada tungkai bawah kanan dan punggung tangan kanan.

biasanya mudah pecah sehingga basah (oozing). maupun faktor endogen (dari dalam).000 mg/hari dalam dua dosis)  Topikal :  Tiamcinolone asetonide 0. vesikel. papul. semen). DEFINISI Dermatitis adalah peradangan kulit (epidermis dan dermis) sebagai respons terhadap pengaruh faktor eksogen. fisik( contoh : sinar. edema. likenifikasi) dan keluhan gatal. oli. skuama. suhu). menimbulkan kelainan klinis berupa efloresensi polimorfik (eritema. EPIDEMIOLOGI . 6  Bila terasa gatal. misalnya bahan kimia (contoh : detergen. Khusus  Sistemik :  Antihistamin : Cetirizin 1 kali sehari diminum pada malam hari selama 7 hari (dosis : 5-10 mg/hari)  Antibiotik : Cefadroxill 2 x 500 mg selama 7 hari (dosis 25-50 mg/kgBB/hari = 1. jamur).3 Dermatitis numularis adalah dermatitis berupa lesi berbentuk mata uang (coin) atau agak lonjong. asam. mikroorganisme (bakteri. PROGNOSIS Quo ad vitam : ad bonam Quo ad functionam: ad bonam Quo ad sanationam: dubia ad malam Quo ad cosmetican : dubia ad malam BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. sebaiknya jangan menggaruk terlalu keras karena dapat menyebabkan luka dan infeksi sekunder.ˡ B. ekzem discoid. basa. 1 Dermatitis numularis juga dikenal dengan nama ekzem numular. Istilah ekzem numular diperkenalkan oleh Devergie pada tahun 1857.000 – 2. neurodermatitis numular. berbatas tegas dengan efloresensi berupa papulovesikel.1 % (dioles pada lesi 3 kali sehari) I.

7 Prevalensi penyakit dermatitis numularis di dunia adalah 2 kasus per 1000 penduduk. PATOGENESIS . paling banyak terjadi pada dekade ke enam dan ke tujuh dan banyak terjadi pada pria. Trauma lokal. Dermatitis Numularis yang disebabkan trauma lokal terutama terjadi pada tangan. Eksaserbasi terjadi bila koloni bakteri meningkat diatas 10 juta kuman/cm².5 3. banyak faktor secara sendiri atau bersama- sama telah dikemukakan sebagai agen penyebab : 1.2 C.3 D. ETIOLOGI Penyebabnya tidak diketahui. Prevalensi yang sama didapatkan di negara Amerika Serikat.1 5. Insufisiensi vena dan varises Ditemukannya kasus dengan lesi Dermatitis Numularis di sepanjang vena tungkai menimbulkan dugaan bahwa Dermatitis Numularis mungkin disebabkan oleh adanya varises dan edema pada ekstremitas bawah. mungkin juga lewat mekanisme hipersensitivitas. Xerosis atau kekeringan kulit Insiden Dermatitis Numularis meningkat pada musim kering dengan kelembaban rendah. Bakteri Stafilokokus dan mikrokokus ikut berperan . misalnya gigitan serangga atau terkena bahan kimia yang menyebabkan iritasi.mengingat jumlah koloninya meningkat walaupun tanda infeksi secara klinis tak tampak. baik fisik maupun kimia Patogenesisnya belum diketahui secara pasti. Usia puncak awitan terbagi menjadi dua distribusi usia.1 6. Alkohol Minuman beralkohol dapat menyebabkan eksaserbasi. bahkan dikatakan bahwa stres merupakan faktor pencetus utama pada dermatitis.1 2. Dermatitis numularis lebih terjadi sering pada pria daripada wanita.1 4. Stres emosional /psikologis 60% kasus eksema dicetuskan oleh faktor stres. selanjutnya terjadi perubahan komposisi lipid sawar epidermis sehingga kulit menjadi kering atau xerosis. Lingkungan dengan kelembaban rendah menyebabkan peningkatan hilangnya kandungan air dalam kulit. sehingga timbul istilah varicose eczema.

8 Dermatitis numular merupakan suatu kondisi yang terbatas pada epidermis dan dermis saja. tetapi sering bersamaan dengan kondisi kulit yang kering. Peneliti mengemukakan hipotesa bahwa pelepasan histamin dan mediator inflamasi lainnya dari mast cell yang kemudian berinteraksi dengan neural C-fibers dapat menimbulkan gatal. mengakibatkan menurunnya kemampuan menguraikan neuropeptida dan protein. Karena pada dermatitis numular terdapat sensasi gatal. meningkat pada daerah lesi maupun non lesi pada penderita dermatitis numular. Neuropeptida ini dapat menstimulasi pelepasan sitokin lain sehingga memicu timbulnya inflamasi. Substansi P dan kalsitonin terikat rantai peptide meningkat pada daerah lesi dibandingkan pada non lesi pada penderita dermatitis numular. GAMBARAN KLINIS Penyakit dermatitis numularis biasanya menunjukkan gambaran klinis :  Lesi berbatas tegas. telah dilakukan penelitian mengenai peran mast cell pada proses penyakit ini dan ditemukan adanya peningkatan jumlah mast cell pada area lesi dibandingkan area yang tidak mengalami lesi pada pasien yang menderita dermatitis numularis. Hanya sedikit diketahui patofisiologi dari penyakit ini. Suatu penelitian juga mengidentifikasi adanya peran neurogenik yang menyebabkan inflamasi pada dermatitis numular dan dermatitis atopik dengan mencari hubungan antara mast cell dengan saraf sensoris dan mengidentifikasi distribusi neuropeptida pada epidermis dan dermis dari pasien dengan dermatitis numular. Adanya fissura pada permukaan kulit yang kering dan gatal dapat menyebabkan masuknya alergen dan mempengaruhi terjadinya peradangan pada kulit. Para peneliti juga mengemukakan bahwa kontak dermal antara mast cell dan saraf. .2 Penelitian lain telah menunjukkan bahwa adanya mast cell pada dermis dari pasien dermatitis numular menurunkan aktivitas enzim chymase. Disregulasi ini dapat menyebabkan menurunnya kemampuan enzim untuk menekan proses inflamasi.2 E. Barrier pada kulit yang lemah pada kasus ini menyebabkan peningkatan untuk terjadinya dermatitis kontak alergi oleh bahan-bahan yang mengandung metal.

5  Predileksi Dermatitis numularis paling banyak ditemukan di punggung kaki. Pada kelainan ini bagian tepi lebih vesikuler dengan batas relatif kurang tegas. bila terjadi kekambuhan umumnya timbul pada tempat semula dan dapat pula terjadi pada tempat yang mengalami trauma (fenomena kobner). Sering dijumpai sebagai plak tunggal yang terjadi pada sisi reaksi luka bakar. 9  Plak (biasanya berukuran 1-3 cm) berbentuk coin yang merupakan penggabungan dari papul dan papulovesikel yang eritematosa dan sedikit edematosa. kelainan dapat sangat edematous dan berkrusta.  Lesi lama cenderung kering. Bentuk ini merupakan bentuk yang lebih sering dijumpai. Gatal minimal yang berbeda sekali .1  Pada dewasa muda gambaran lesi cenderung simetris. persisten dan eksudatif. Lesi permulaan biasanya timbul di tungkai bawah kemudian menyebar ke kaki yang lain. 1 Dermatitis numular pada tangan dan lengan. bagian ekstensor ekstremitas. cepat meluas disertai papul-papul dan vesikel yang tersebar. bokong dan bahu.2 2 Dermatitis numular pada tungkai dan badan. lengan dan sering ke badan.2 3 Dermatitis numular bentuk kering. dapat berupa likenifikasi dan skuama.  Basah (oozing) dan krusta biasanya menutupi seluruh permukaan lesi. punggung tangan.3 Tiga bentuk klinis dermatitis numular yaitu. dikelilingi kulit normal atau terkadang xerotic.  Penyembuhan dimulai dari tengah lesi. tetapi secara klinis berbeda dari bentuk lesi tinea. kimia atau iritan. Umumnya kelainan bersifat akut. Dalam perkembangannya. Kelainannya terdapat pada punggung tangan serta di bagian sisi atau punggung jari-jari tangan. Pada Dermatitis numular juga sering dijumpai penyembuhan pada bagian tengah lesi. kelainan sering didahului oleh trauma lokal ataupun gigitan serangga. Lesi ini jarang meluas. Bentuk ini jarang dijumpai dan berbeda dari dermatitis numular umumnya karena di sini dijumpai lesi diskoid berskuama ringan dan multipel pada tungkai atas dan bawah serta beberapa papul dan vesikel kecil di bagian tepinya di atas dasar eritematus pada telapak tangan dan telapak kaki.4  Cenderung kambuh-kambuhan.  Pruritus bervariasi dari ringan hingga berat. Pada sebagian kasus.

3 Lesi yang khas berbentuk koin pada tangan Histopatologi lesi pada dermatitis numularis: .2 Lesi yang khas berbentuk koin dari dermatitis numularis pada lengan Gambar 2. Menetap bertahun-tahun dengan fluktuasi atau remisi yang sulit diobati.2 Gambar 2. 10 dengan bentuk dermatitis numular lainnya.1 Lesi dermatitis numularis pada mata kaki Gambar 2.

DIAGNOSIS BANDING Diagnosis banding dari penyakit ini antara lain : 1 Liken simpleks kronikus (neurodermatitis).4 G. PEMERIKSAAN PENUNJANG 1.1 Gambar 2.3 3. Limfosit di epidermis mayoritas terdiri atas sel T-CD8+. sebukan limfosit dan makrofag di sekitar pembuluh darah. Sebagian besar sel mast di dermis tipe MCtc (mast cell tryptase). Dermis bagian atas fibrosis.10 . hipergranulosis dan hiperkeratosis.11 2.11 Pemeriksaan KOH untuk membedakan tinea dengan dermatitis numular yang mempunyai gambaran penyembuhan di tengah. 11 Pada lesi akut ditemukan spongiosis.4 Gambaran histopatologi dari dermatitis numularis F. mungkin juga spongiosis ringan. Lesi kronis ditemukan akantosis teratur. Tes laboratorium Patch test berguna untuk mengidentifikasi kasus kronis yang tidak kunjung sembuh dan mengenyampingkan dermatitis kontak sebagai diagnosis banding. Biasanya jarang. Biopsi Untuk melihat perubahan histopatologis sehingga dapat menentukan tahapan (akut atau kronis) dari penyakit dermatitis numularis. vesikel intraepidermal. Kultur dan uji resistensi sekret Untuk melihat mikroorganisme penyebab dan penyerta. Pada dermatitis numularis IgE cenderung normal. lesinya kering berupa plak yang likenifikasi dengan distribusi tertentu. berisi triptase. sebukan sel radang limfosit dan makrofag di sekitar pembuluh darah. sedangkan yang di dermis sel T-CD4+.

Untuk membedakan dapat dilakukan pemeriksaan patch test atau prick test.9 Gambar 2. 12 Gambar 2. Pada dermatitis numularis bagian tepi lebih vesikuler dengan batas relatif kurang tegas dibandingkan tinea.7 Bentuk lesi tinea corporis 4. bagian tengah agak menyembuh. Morfologi klinis primer antara dermatitis kontak dan dermatitis numular sering sulit untuk dibedakan.6 Bentuk lesi dermatitis kontak alergi akibat penggunaan plester dan reaksi sinar matahari 3. dan ditemukan riwayat kontak sebelumnya. Pada tinea dapat dicari hifa dari sediaan langsung.11 Gambar 2. Pitiriasis rosea Merupakan peradangan yang ringan dengan penyebab yang belum diketahui. Dermatomikosis Dapat terlihat sebagai tinea dengan pinggir aktif. Pada dermatitis kontak biasanya lokal. tetapi secara klinis berbeda dari bentuk lesi tinea. Banyak diderita oleh wanita yang berusia antara 15 dan 40 tahun .5 Bentuk lesi dari neurodermatitis 2 Dermatitis kontak alergi.

1 ml/suntikan). Gatal dapat diobati dengan steroid potensi rendah (kelas III-VI). pengurangan peradangan dan pengobatan infeksi apapun. 3) . Berendam air hangat atau dingin atau mandi untuk mengurangi gatal dan membantu rehidrasi kulit.25-0.(2. Lesi-lesi tunggal berwarna merah muda terang dengan skuama halus.8 Lesi pada pitiriasis rosea dengan lesi awalnya lebih besar dan mengikuti garis kulit yang berbentuk seperti pohon cemara H. Pitiriasis rosea berakhir antara 3-8 minggu dengan penyembuhan spontan. diikuti oleh aplikasi pelembab atau preparat obat topikal untuk menahan air di kulit. vesikel. PENATALAKSANAAN Pengobatan ditujukan untuk rehidrasi pada kulit dan perbaikan barrier lipid epidermal. dan pruritus membutuhkan steroid potensi tinggi (kelas I-II). Bisa juga lebih eritematus.1%) efektif untuk mengurangi eritematosa. Steroid oral. Lesi tambahan cenderung mengikuti garis kulit dengan distribusi pohon cemara dan biasanya disertai dengan rasa gatal yang ringan.1 mg/mg (0. Jika sangat berat diobati dengan suntikan kortikosteroid intralesi seperti triamsinolon asetonida 0. Steroid topikal (misalnya pemberian triamcinolone 0. Gambaran klinisnya bisa menyerupai dermatitis numular.Steroid Steroid terapi yang paling umum digunakan untuk mengurangi peradangan. erupsi menyeluruh. Lesi yang sangat meradang dengan eritema intens. 13 terutama pada musim semi dan musim gugur. intramuskular.7 Gambar 2. 2 Obat yang bisa digunakan : 1. atau parenteral mungkin diperlukan dalam kasus- kasus yang parah. Pasien harus diinstruksikan untuk mandi setidaknya 1-2 kali sehari. Tetapi umumnya terdapat sebuah lesi yang besar yang mendahului terjadinya lesi yang lain yang disebut lesi induk atau herald patch.

membentuk penghalang antara kulit dan lingkungan. Emolien dan steroid topikal kelas I-III dapat digunakan jangka pendek. gliserine dan cetomacrogol cream. vistaril. Ointment dan Emolien Aplikasi obat pada kulit yang lembab memungkinkan penetrasi yang lebih efektif dan penyembuhan lebih cepat. hidrasi agresif berkelanjutan dapat mengurangi eritem.(2. Ointment biasanya lebih efektif daripada krim karena mereka lebih oklusif. Contoh emollients yang sering digunakan antara lain .Fototerapi Ketika erupsi menyeluruh dan berkepanjangan. dan lebih efektif menahan air ke dalam kulit.3) 8.2 3 Antiinflamasi topikal lainnya Penggunaan tar sangat membantu untuk mengurangi peradangan. UVB spektrum luas dan sempit paling sering digunakan. dapat digunakan dalam kasus-kasus infeksi sekunder. plak berskuama. meskipun PUVA (Psoralen + UVA) dapat digunakan pada kasus yang berat. aqueous cream. penggunaannya sering dimulai beberapa hari setelah steroid topikal untuk mengurangi risiko sensasi terbakar yang mungkin terjadi bila diterapkan ke kulit yang sangat teriritasi. Pelembab yang berat (lebih) atau petroleum jelly yang diaplikasikan pada kulit setelah mandi dapat membantu. fototerapi (umumnya UVB) dapat membantu. terutama di iklim kering.Pelembab lainnya Setelah erupsi hilang. Immunomodulator Immunomodulator topikal (tacrolimus dan pimecrolimus) juga mengurangi peradangan.2 . cephalexin.2 5.7 7.2 4. seperti dicloxacillin. wool fat lotions. Kultur swab dapat menjadi panduan dalam pemilihan antibiotik.Antihistamin Antihistamin oral atau sedatif dapat membantu mengurangi gatal dan membantu tidur.2 6. Biasa digunakan dicloxacillin dosis oral 125-500 mg 4 kali per hari selama 7-10 hari. terutama pada orangtua. Misalnya hydroxyzine (atarax. 14 2. lesi tebal.vistazine) dengan dosis oral 25-100 mg 4 kali per hari. Antibiotik Antibiotik oral. atau erythromycin .

didapati bahwa 22% sembuh. Dermatitis numularis adalah dermatitis berupa lesi berbentuk mata uang (coin) atau agak lonjong. Obat immunosupresif seperti metotreksat telah dijelaskan aman dan efektif pada pasien dengan lesi yang lebih berat. dapat ditangani dengan pemberian krim steroid dan emolilients. edema. dermatitis yang belum sembuh sempurna. Penyebabnya tidak diketahui. skuama. 15 9. KESIMPULAN Dermatitis adalah peradangan kulit (epidermis dan dermis) sebagai respons terhadap pengaruh faktor eksogen dan atau faktor endogen. terutama yang . vesikel. yang mana dapat memperberat kondisi penyakitnya walau tidak tampak pada gejala klinis. Bentuk-bentuk infeksi lainnya pada dermatitis.1 J. menimbulkan kelainan klinis berupa efloresensi polimorfik (eritema. biasanya mudah pecah sehingga basah (oozing). Bentuk dermatitis ini lebih sering mengenai pria daripada wanita dan sering mengenai remaja. seperti adanya kolonisasi Staphylococcus aureus. papul.2 I.Immunosupresif Penyakit bisa bertambah berat dan tidak responsif dengan perawatan di atas. Pada satu studi menunjukkan dermatitis numularis meningkat pada pasien dengan usia yang lebih tua. berbatas tegas dengan efloresensi berupa papulovesikel. 53% tidak pernah bebas dari lesi kecuali masih dalam pengobatan. 25% pernah sembuh untuk beberapa minggu sampai tahun. diberikan prednilson dengan dosis oral 40-60 mg 4 kali per hari dengan dosis yang diturunkan secara perlahan-lahan. Dermatitis numularis termasuk ke dalam pembagian dermatitis berdasarkan bentuk. Hanya berguna dalam beberapa minggu. PROGNOSIS Dari suatu pengamatan sejumlah penderita yang diikuti selama berbagai interval sampai dua tahun. Steroid sistemik Digunakan untuk kasus-kasus dermatitis numular yang berat. dewasa muda dan umur yang lebih tua serta jarang pada anak-anak dengan riwayat dermatitis atopi.2 10. likenifikasi) dan keluhan gatal.

23. USA: Saunder-Elsevier. 11. 1828. Paus R. 9.p. Thailand. 2. 7th Edition. et al. Dr.S. Yeast Infection : Nummular eczema. P. Paller AS. Dermatitis Numularis. 16 sangat sensitif dengan aloealergi. DAFTAR PUSTAKA 1. Muhlis. 12. 2010. Prof. Shimizu. et al. Shimizu’s Textbook of Dermatology. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.36- 37. Japan : Hokkaido University Press. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Edisi Kelima. Atlas Berwarna Saripati penyakit Kulit. 10. 2006. Katz SI. Mahidol University. USA. Jakarta. P. et al. 2007. Gilchrest BA. A. Contact Dermatitis and Drug Eruptions 10st Edition. Leffell DJ.99-101. 2013. 120-121. BMJ. 2008. 4. Siregar. James WD. 6. Fitzpatrick TB. Burns T. Sularsito. ABC of Dermatology. Vol 2:74-78. 7.10. P. Clinical Features and Aggravating Factors in Nummular Eczema in Thais. Sterry W. P. Dermatitis Numularis. Heffernan MP. In: Departement of Dermatology. 2007. Leung MDY. MD. p.. R. Burgdof WH. Janik MP. Umumnya prognosis dari penyakit ini adalah baik dan dapat sembuh dengan pengobatan topikal. 2008.. 102-103. 1852-1853.eds. 2005. p. P. USA. In : Wolff K. 2012. Elder JE. Nummular Eczema. Jiamton S. Dalam : Adhi Juanda. 8. Bangkok. 197 . 2005. P. Rooks Textbook of Dermatology Volume 1 8th ed. 148-150. 2008 fitzpatrick’s Dermatology in General Medicine Edisi 7. 17-26. DTM & H. EGC.. Gudjonsson JE. Departement of Dermatology Medical Faculty of Hasanuddin University.9-23. 4th. Fitzpatrick’s Dermatology in General Medicine. 5. The McGraw-Hill Companies. et al. p. Gasington Road. London. Goldsmith LA. H. New York : McGraw-Hill. 3. New York: McGraw Hill . USA. Button BK. Nummular Dermatitis Treated With Corticosteroid and Antibiotic. 197. Djuanda. Phd. S. Thieme. 2011. p. S. Dermatology. Faculty of Medicine Siriraj Hospital. et al. Fungal Infection 7st Edition Volume 1.

et al. h. EGC. et al. Lange L. Nummular eczema. Emmy S. 17 13.com/search. Available at: http://search. Penyakit Kulit yang Umum di Indonesia. 2007. Farmakologi dan Terapi Edisi Kelima. h.4shared. Available at : http://www. PT Medical Multimedia Indonesia. 2011. Surabaya. Nummular Dermatitis. M. Accessed on June 17. Dwi Murtiastutik. Atlas of the Skin and Venereal Diseases. h. 15. Dermatitis dan Peran Steroid dalam Penanganannya..com.. 20 08. Handbook of skin diseases.761-764. Dermatologi Dasar untuk Praktik Klinik. Air Langga University Press.. . Nafrialdi. et al.html? searchmode=2&searchName=Handbook%2520of%2520Skin %2520Diseases . 22. 131-143.. 2005. 63(7):947 -9. Nummular Dermatitis. h. 2004 . and Normal-Appearing Sk in. Jakarta. Available from: www. 21. et al.org/skin/dermatologic diseases/nummular ec zema. Diseases of the Skin Clinical Dermatology. Dexa media. Lore n E. 19. Elevated Leve ls of Tryptase in Children with Nummular Eczema. 183-190. 2 010. 22-23. 4 (17) : 159. Ardhie. 18. Departemen Farmakologi dan Terapeutik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 23. Jou rna l of the American Academy of Dermatolo gy. 14. et al. 20. Jakarta. 190-198. 2007 [cited 2015]. Dermal Dendritic Ce lls In Psoriasis. et al. Journal of Alle rgy Jul. Jakarta. h. 2011. William D James. 2010. 16. A. Accessed on June 17. et al. Robin Graham. Miller JL. 17.emedicine. Saunders Elsevier. 2009. 2011.a ocd. China.