You are on page 1of 20

BED SIDE TEACHING

RETINOPATI HIPERTENSI

Disusun Oleh:
Ildiani Ramli 0910312123
Nurhayati 1010313096
Farisah Izzati 1110312033
Mila Permata Sari 1210313008

Preseptor :
dr. Getry Sukmawati, Sp.M (K)
dr. Havriza Vitresia, Sp.M (K)

BAGIAN ILMU KESEHATAN MATA
RSUP DR. M. DJAMIL PADANG
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS
2017

BAB 1
ILUSTRASI KASUS

Identitas Pasien
- Nama : Ny. I
- Jenis Kelamin : Perempuan
- Usia : 68 tahun
- Pekerjaan : IRT
- Agama : Islam
- Alamat : Berok

Anamnesa
Seorang pasien perempuan berusia 68 tahun datang ke Poliklinik Mata RSUP Dr
M Djamil Padang pada tanggal 10 Februari 2017.

Keluhan Utama :
Mata kiri terasa kabur sejak 6 bulan sebelum berobat ke RS

Riwayat Penyakit Sekarang :
- Pandangan mata kabur sejak 6 bulan yang lalu
- Pandangan ganda (-)
- Mata merah (-)
- Mata nyeri (-)
- Pandangan berkabut (-)
- Terlihat gambaran halo (-)
- Penglihatan silau (-)
- Mata berair (-)
- 5 tahun yang lalu pasien didiagnosis menderita Hipertensi. Pasien kontrol
ke Poli RSUP M. Djamil.

Riwayat Penyakit Dahulu :
- Riwayat hipertensi ada. Pasien rutin meminum obat anti hipertensi.
Tekanan darah terakhir 140/90 mmHg, 2 hari yang lalu
- Riwayat diabetes mellitus tidak ada
- Riwayat trauma pada mata tidak ada

Riwayat Penyakit Keluarga :

Media Bening Relatif bening . Tidak ada anggota keluarga yang mengalami keluhan seperti pasien Status Oftalmikus (10 Februari 2017) : STATUS OD OS OFTALMIKUS Visus tanpa koreksi 0 5/15 Silia / supersilia Trikiasis (-) Trikiasis (-) Madarosis (-) Madarosis (-) Palpebra superior Edema (-) Edema (-) Palpebra inferior Edema (-) Edema (-) Margo Palpebra Entropion (-) Entropion (-) Ektropion (-) Ektropion (-) Sikatrik (-) Sikatrik (-) Aparat lakrimalis Dalam batas normal Dalam batas normal Konjungtiva Tarsalis Hiperemis (-). RP +/+.4 . Hiperemis (-). RP +/+. batas tegas. folikel sikatrik (-) (-). batas tegas Bulat. diameter 2-3 Bulat.Papil optikus Pucat. Papil (-). eksudat (-) .3-0. c/d = 0. sikatrik (-) Konjungtiva Forniks Hiperemis (-) Hiperemis (-) Konjungtiva Bulbii Injeksi konjungtiva (-) Injeksi siliar (-) Injeksi siliar (-) Injeksi konjungtiva (-) Sklera Putih Putih Kornea Bening Bening Kamera Okuli Cukup dalam Cukup dalam Anterior Iris Coklat Coklat Pupil Relatif bulat. folikel (-). Papil (-).Retina Tidak dapat dinilai Perdarahan (-). diameter 2-3 mm mm Lensa Afakia Bening Korpus vitreum Jernih Jernih Fundus : .

M. Sekitar 5 tahun yang lalu pasien didiagnosis menderita hipertensi. . Dr. Djamil Padang tanggal 10 Februari 2017 dengan keluhan utama keluhan mata kiri kabur sejak 6 bulan yang lalu. Pasien kontrol ke Poli RSUP M. Keluhan mata kabur dapat disebabkan oleh adanya kelainan refraksi dan dapat juga disebabkan oleh penyakit intraokuler atau kelainan sistemik seperti retinopati hipertensi. Djamil. Adanya riwayat hipertensi yang diderita pada pasien ini menunjukkan bahwa kemungkinan penglihatan kabur pada pasien ini disebabkan karena penyakit sistemik yaitu retinopati hipertensi..Makula Refleks fovea (-) Refleks fovea (+) Tekanan bulbus okuli 22 mmHg 14 mmHg Posisi bulbus okuli Ortho Ortho Gerakan bulbus okuli Bebas ke segala arah Bebas ke segala arah Gambar Diagnosis Kerja : Retinopati Hipertensi KW II OS Glaukoma absolut OD Rencana : Cendo lyteers 4x1 OS Kontrol TD BAB 2 DISKUSI Telah dilaporkan seorang pasien perempuan berusia 68 tahun datang ke poliklinik Mata RS.aa/vv retina Tidak dapat dinilai a:v = 1:3 .

dimana pada keadaan ini terjadi peningkatan tekanan darah sistolik lebih besar dari 140 mmHg dan atau diastolik lebih besar dari 90 mmHg. Retinopati hipertensi merupakan kelainan atau perubahan vaskularisasi retina pada penderita hipertensi. Pada pasien ditemukan riwayat hipertensi sejak 5 tahun yang lalu. Tahap selanjutnya sudah mulai terjadi penyempitan dan kelainan fokal pada pembuluh darah retina. Peningkatan tekanan darah sistemik akan menyebabkan penyempitan/vasokonstriksi arteriol. retina tidak ditemukan perdarahan dan eksudat. Vasokonstriksi terjadi karena adanya proses autoregulasi pada pembuluh darah agar tidak terjadi overperfusi pada retina. Pada pemeriksaan oftalmikus ditemukan visus mata kiri 5/15. Pada pemeriksaan funduskopi OS. pada pasien ini medikamentosa yang diberikan adalah cendo lyteers sebagai tetes mata artificial dan obat-obat anti hipertensi. dan tekanan darah terakhir didapatkan 140/90 mmHg. cotton woll spot dan hard excudate. Kemudian terjadi perdarahan retina. Peningkatan tekanan darah tersebut mengakibatkan pembuluh darah retina mengalami perubahan patofisiologis sebagai respon terhadap peningkatan tekanan darah tersebut. Penatalaksanaan yang diberikan berdasarkan tingkat kerusakan retina. Hal ini menunjukkan bahwa adanya penurunan ketajaman penglihatan yang diakibatkan oleh penyakit sistemik yaitu retinopati hipertensi. Pasien rutin meminum obat antihipertensi. Pada tahap awal biasanya belum terdeteksi atau belum terjadi perubahan yang signifikan pada pembuluh darah retina. Hipertensi merupakan salah satu faktor resiko terjadinya retinopati hipertensi. Pada tahap akhir terjadi penyempitan disertai perdarahan pada pembuluh darah retina kemudian terbentuk eksudat dan edema diskus optikus. terjadi penyempitan arteri dengan aa:vv = 1:3 dan ditemukannya reflek fovea. . Penatalaksanaan retinopati hipertensi bertujuan untuk membatasi kerusakan dan menghindari komplikasi pada retina.

1 Anatomi Retina Retina adalah selembar tipis jaringan saraf yang semitransparan. membentang dari papil saraf optic ke depan sampai Oraserata.1 . dan multilapis yang melapisi bagian dalam dua per tiga posterior dinding bola mata. BAB 3 TINJAUAN PUSTAKA 2.

Retina terdiri dari 2 lapisan utama yaitu lapisan luar yang berpigmen dan lapisan dalam yang merupakan lapisan saraf. tidak dapat melihat warna. cahaya dengan intensitas tinggi dan penglihatan sentral. 2 . untuk penglihatan perifer dan orientasi ruang sedangkan sel kerucut berguna untuk melihat warna. Gambar 3. Retina banyak memiliki suplai pembuluh darah yang menyuplai nutrisi dan oksigen pada retina. Lapisan saraf memiliki 2 jenis sel foto reseptor yaitu sel batang yang berguna untuk melihat melihat cahaya dengan intensitas rendah.1 Anatomi Retina Retina merupakan bagian mata yang mengandung reseptor yang menerima rangsangan cahaya. Retina berbatasan dengan koroid dan sel epitel pigmen retina.

Lapisan nukleus luar merupakan susunan lapisan nukleus kerucut dan batang. Lapisan pleksiform luar merupakan merupakan lapisan aselular mengandung sambungan-sambungan sel bipolar dan sel horizontal dengan fotoreseptor 6. terdiri atas sel batang yang berbentuk ramping dan sel kerucut yang merupakan fotosensitif. 3. Lapisan nukleus dalam. merupakan lapisan aselular yang merupakan tempat sinaps sel bipolar. Lapisan fotoreseptor.2 Lapisan Retina2 Lapisan retina dari luar ke dalam2 1. Dilapisan ini terdapat sebagian besar pembuluh darah retina. sel amakrin dengan sel ganglion. Membran limitan eksterna yang merupakan membran ilusi 4. Epitel pigmen retina (RPE) 2. Membran limitan interna merupakan membran hialin antara retina dan badan kaca. Lapisan sel ganglion 9. 7. Serabut saraf merupakan lapisan akson sel ganglion menuju ke arah saraf optik. Lapisan pleksiform 8. 5. . Gambar 3. 10.

Gambar 3. 2004). eksudat pada retina. Lapisan retina bagian luar tidak mengandung pembuluh darah kapiler sehingga nutrisi diperoleh malalui difusi secara primer berasal dari lapisan yang kaya pembuluh darah di koroid. beberapa penelitian epidemiologi telah dilakukan pada sekelompok penduduk yang menunjukkan gejala retinopati hipertensi dan didapatkan bahwa kelainan ini banyak ditemukan pada usia 40 tahun keatas. Prevalensi retinopati hipertensi bervariasi antara 2%-5%. Ini mungkin disebabkan oleh sensitivitas alat yang sensivitas alat yang semakin baik apabila dibandingkan dengan pemeriksaan oftalmoskopi di klinik-klinik (NEJM. fotoreseptor dan lapisan epitel pigmen retina dan arteri retina sentral yang mendarahi 2/3 sebelah dalam retina. .3 foto fundus normal Retina menerima darah dari 2 sumber yaitu Koriokapilari yang mendarahi 1/3 luar retina termasuk lapisan flexiform luar dan lapisan inti luar.3 Epidemiologi Retinopati Hipertensi4 Sejak tahun 1990. Arteri retina sentralis masuk ke retina melalui nervus optik dan bercabang-cabang pada permukaan dalam retina.2 Definisi Retinopati Hipertensi3 Retinopati hipertensi adalah kelainan-kelainan retina dan pembuluh darah retina akibat tekanan darah tinggi. yang merupakan percabangan dari arteri oftalmika dan khoriokapilari yang berada di tepi luar membran bruch. Hipertensi memberikan kelainan pada retina berupa retinopati hipertensi dengan arteri yang besarnya tidak teratur.2 2. data ini berbeda dengan hasil studi epidemiologi yang dilakukan oleh Framingham Eye Study yang mendapatkan hasil prevalensi rata-rata kurang dari 1%. edema retina dan perdarahan retina 2.

4 Klasifikasi Retinopati Hipertensi Berdasarkan “ Modified Scheie Classification of Hypertensive Retinopathy “ by AAO5 : Grade 0 : Tidak ada perubahan Grade 1 : Penyempitan arteriolar yang hampir tidak terdeteksi Grade 2 : Penyempitan arteriolar yang jelas dengan kelainan fokal Grade 3 : Grade 2 + perdarahan retina dan/ eksudat Grade 4 : Grade 3 + pembengkakan diskus optik Klasifikasi Keith-Wagener-Barker (1939)2 Derajat 1 : penyempitan arteriol minimal.otak dan ginjal. sclerosis. gangguan ringan pada fungsi jantung. biasanya pada hipertensi ringan. dan fenomena arterivenous crossing . perdarahan flame-shaped. tekanan darah lebih tinggi dan menetap. tekanan darah lebih tinggi dan menetap .2. Derajat 4 : derajat 3 + silver-wiring arteriola dan gambaran papil edema . hard exudates . Gunn sign. sakit kepala. Gambar 3. Derajat 3 :derajat 2 + ditemukan copper wire appearance. otak dan ginjal. sclerosis.vertigo. asimptomatik Derajat 2 : penyempitan atau konstriksi fokal. gangguan fungsi jantung. dan berbeloknya arteriol retina.5 retinopati hipertensi 2 derajat 1 derajat 22 .dan cemas gelisah .4 retinopati hipertensi Gambar 3. cotton wool patches arteriolosclerosis. Bonnet sign.

Gambar 3. yang terlihat seperti huruf S atau Z (salus sign).5 Patogenesis Ada 3 faktor yang memiliki pengaruh dalam pathogenesis retinopati hipertensi. Dinding arteri yang kaku akan menekan dinding vena yang lebih lembut. arteriosklerosis.7 retinopati hipertensi derajat 32 derajat 42 2. dan peningkatan permeabilitas vaskular. Dalam keadaan normal tidak terjadi penekanan dan elevasi pada persilangan arteri dan vena. Peningkatan tekanan darah sistemik akan menyebabkan vasokonstriksi arteriol. sehingga akan terlihat elevasi vena di atas arteri. Arteriosklerosis akan menyebabkan gangguan pada persilangan arteri dengan vena (arteriovenous crossing). bila sklerosis lebih berat menyebabkan vena menjadi defleksi pada daerah persilangan. Bentuknya bervariasi tergantung dari beratnya sklerosis. 3 Bertambahnya . Tahap selanjutnya akan terjadi stenosis vena di bagian distal persilangan karena proses sklerosis arteri yang berat. vena yang berada di bawah arteri tidak terlihat karena arteri yang sklerosis maka vena seolah terputus dan akan muncul lagi secara perlahan setelah melewati persilangan arteri (arteriovenous nicking). Penekanan pada vena oleh arteri yang sklerosis dapat terjadi dalam beberapa tahap. Arteriosklerosis adalah penebalan dinding arteriol akibat hipertensi.6 retinopati hipertensi Gambar 3. Hal ini dikenal dengan nama Gunn’s phenomenon. Vasokonstriksi terjadi karena adanya proses autoregulasi pada pembuluh darah supaya tidak terjadi overperfusi pada retina 2. Pada keadaan tertentu vena berada di atas arteri. yaitu : vasokonstriksi arteriol.

dinding arteri semakin menebal dan lumen mengecil yang akhirnya hampir tidak terlihat sehingga waktu penyinaran hanya berbentuk garis putih saja.4 Iskemik fokal atau area non perfusi yang terjadi pada lapisan serabut saraf retina.4 Papil edema disebabkan oleh adanya iskemia didaerah papil yang akan menyebabkan hambatan aliran axoplasma.6 Pada funduskopi akan terlihat sebagian pembuluh darah seperti tembaga (copper wire). pantulan refleks cahaya normal hilang dan cahaya terlihat lebih luas dan buram. yang dikenal sebagai refleks kawat perak (silver wire reflex). sehingga terlihat seperti lidah api (flame shape).4 Perdarahan akan terjadi bila hipertensi berlangsung lama dan tidak terkontrol. sehingga terjadi pembengkakan axon di papil nervus optikus.7 2. 8 Penurunan penglihatan atau penglihatan kabur hanya terjadi pada stadium III atau .ketebalan dinding arteriol karena proses arterioseklerosis maka terjadi perubahan refleks cahaya arteriol. Pada pembuluh darah yang menebal.6 Manifestasi Klinis Retinopati hipertensi merupakan penyakit yang berjalan secara kronis sehingga gejala penyakit awal sering tidak dirasakan. maka serabut saraf akan berdegenerasi menjadi bengkak dan secara histologi tampak seperti suatu kelompok cystoid bodies. Bila proses sklerosis berlanjut. distribusinya mengikuti alur serabut saraf. Kelainan ini dikenal dengan cotton wool spot (soft exudates). Hal ini dianggap sebagai tanda awal terjadinya arteriosklerosis. Kerusakan ditingkat kapiler maka perdarahan terjadi pada lapisan inti dalam atau pleksiform dalam. bentuknya lebih bulat (blot like appearance). Proses yang kronik ini akan menyebabkan kerusak inner blood barrier. Perdarahan biasanya terjadi pada lapisan serabut saraf retina. sehingga terjadi ekstravasasi plasma dan sel darah merah ke retina (hard exudates). yang pada pemeriksaan funduskopi terlihat sebagai area putih keabuan seperti kapas dengan batas yang tidak tegas. Penderita retinopati hipertensi biasanya akan mengeluhkan sakit kepala dan nyeri pada mata. Pantulan cahaya dari permukaan dinding arteriol yang konveks terlihat seperti garis tipis yang mengkilat di tengah kolom darah (refleks cahaya normal). karena meningkatnya ketebalan dinding dan lumen berkurang kemudian terjadi perubahan pada refleks cahaya arteriol.

Pasien mengeluhkan buram dan seperti berbayang apabila melihat sesuatu. telah mengenai makula. pemeriksaan oftalmologi (funduskopi).7 Diagnosis Diagnosis retinopati hipertensi ditegakkan berdasarkan pada anamnesis (riwayat hipertensi).stadium IV oleh karena perubahan vaskularisasi akibat hipertensi seperti perdarahan. sudah mulai terjadi perubahan pada pembuluh darah retina.5 Pemeriksaan tajam penglihatan dan funduskopi adalah pemeriksaan oftalmologi paling mendasar untuk menegakkan diagnosis retinopti hipertensi. Melalui pemeriksaan funduskopi. sebagai berikut : . Penglihatan biasanya turun secara perlahan sehingga tidak disadari. Pada anamnesis penglihatan yang menurun merupakan keluhan utama yang sering diungkapkan oleh pasien. pemeriksaan fisik (tekanan darah). Hasil pemeriksaan dengan oftlamoskop. dapat ditemukan berbagai kelainan retina pada pasien retinopati hipertensi. dan pemeriksaan penunjang dengan angiografi fluorosens. Pemeriksaan tekanan darah didapatkan tekanan diastol > 90 mmHg dan tekanan sistol > 140 mmHg . cotton wool spot.5 2.

1 .8 Perubahan pada funduskopi retinopati hipertensi9 Pemeriksaaan penunjang yang dilakukan setelah pemeriksaan funduskopi adalah angiografi fluoresein. Pemeriksaan ini dapat menentukan dengan tepat lokasi terjadinya neovaskularisasi dan kebocoran kapiler retina. gambaran pembuluh darah tersebut difoto dengan kamera khusus yang menggunakan sinar biru. Ketika kontras sudah mencapai pembuluh darah retina. Kontras berupa bahan fluoresein dimasukkan melalui vena di lengan. Gambar 3.

dan edema retina. dilatasi vena dan berkelok-kelok. Kelainan refraksi . hard exudate. Pada funduskopi direk didapatkan refleks fundus yang hitam. neovaskularisasi. 3. Retinopati Diabetik Gambaran Retinopati diabetik pada funduskopi hampir sama dengan retinopati hipertensi yaitu ditemukan blotlike apperance. dan pada pemeriksaan funduskopi terlihat atrofi papil saraf optik yang terlihat warnanya dari merah kekuningan menjadi pucat. 2. Selain itu juga didapatkan gula darah yang tidak terkontrol yaitu > 200 mg/dl. adalah : 3 1. mikroaneurisma. defek lapang pandang. 4. Katarak Penurunan visus perlahan pada pasien katarak akibat kekeruhan lensa yang terjadi secara berangsur.9 Perbandingan foto retina dengan angiografi fluorosein 2. atrofi papil saraf optik. Tekanan intraokular > 20mmHg.8 Diagnosis Banding Diagnosis banding mata tenang visus turun perlahan. Glaukoma Pada glaukoma terjadi peningkatan tekanan intraokular. selain itu dapat ditemukan pula edema papil. soft exudate. Gambar 3.

10 Obat hipertensi oral yang dipakai di Indonesia 11 Obat Dosis Efek Lama Perhatian khusus kerja Nifedipin 5-10 mg 5-15 menit 4-6 jam Gangguan (Ca antagonis) koroner Kaptopril 12. sehingga bayangan dari benda jatuh didepan retina pada mata yang tidak berakomodasi. Miopia. Konsumsi . Pada miopia panjang bola mata anteroposterior yang lebih besar atau kekuatan pembiasan media refraksi terlalu kuat. Astigmatisme jika berkas sinar tidak difokuskan pada satu titik dengan tajam pada retina akan tetapi pada dua garis titik yang saling tegak lurus yang terjadi akibat kelainan kelengkungan kornea.5 mg 15-30 menit 6-8 jam Stenosis arteri (ACE inhibitor) renalis Klonidin 75-150 mg 30-60 menit 8-16 jam Mulut kering. Penggunaan obat ACEI (Angiotensin Converting Enzyme Inhibitor) terbukti dapat mengurangi penebalan dinding arteri akibat hipertrofi. astigmatisme adalah kelainan refraksi yang dapat menyebabkan visus turun..8 Beberapa studi eksperimental dan percobaan klinik menunjukan bahwa tanda-tanda retinopati hipertensi dapat berkurang dengan mengontrol kadar tekanan darah. Mengobati faktor primer adalah sangat penting jika ditemukan perubahan pada fundus akibat retinopati arterial. Pada hipermetropia gangguan kekuatan pembiasan mata dimana sinar sejajar tidak cukup dibiaskan sehingga titik fokusnya terletak di belakang retina. Tekanan darah harus diturunkan dibawah 140/90 mmHg.5. (beta blocker) blok jantung Perubahan pola dan gaya hidup juga harus dilakukan. (alfa-2 agonis mengantuk adrenergik) Propanolol 10-40 mg 15-30 menit 3-6 jam Bronkokonstriksi. hipermetrop.9 Tatalaksana Penatalaksanaan retinopati hipertensi bertujuan untuk membatasi kerusakan yang sudah terjadi serta menghindari terjadinya komplikasi.5-2. 2. maka kelainan klinis yang terjadi tidak dapat diobati lagi tetapi dapat dicegah progresivitasnya. Kontrol berat badan dan diturunkan jika sudah melewati standar berat badan seharusnya. Jika telah terjadi perubahan pada fundus akibat arteriosklerosis.

5.10 Pengawasan oleh dokter mata dilakukan untuk mengevaluasi progresivitas retinopati hipertensi dan komplikasinya. oklusi arteri retina cabang (BRAO). Arteri oftalmika merupakan cabang pertama dari arteri karotis interna. oklusi vena retina cabang (BRVO) . Embolus bisa berasal dari jantung atau arteri karotis yang secara jelas mengarah langsung ke mata. Terapi laser retina terbukti memperbaiki oksigenasi retina bagian dalam. sehingga menurunkan tekanan hidrostatik di kapiler dan venula. hal ini akan menurunkan aliran cairan dari kompartemen intravaskular ke dalam jaringan dan menurunkan edema jaringan. Penurunan tekanan hidrostatik pada saat yang bersamaan menyebabkan venula konstriksi dan memendek menurut hukum Laplace dan studi Kylstra dkk12. dan sudah terjadi komplikasi maka fotokoagulasi laser dapat dipertimbangkan. Komplikasi yang dapat terjadi seperti oklusi arteri retina sentralis dan oklusi cabang vena retina merupakan perburukan dari retinopati hipertensi yang tidak terkontrol secara baik. Emboli dari jantung terdiri dari empat tipe. Menurut hukum Starling. Jika sudah terjadi eksudat di makula. 2. 8 Fotokoagulasi laser merupakan salah satu terapi dalam penanganan komplikasi tersebut.1 Komplikasi Komplikasi dari retinopati hipertensi yaitu berupa oklusi arteri retina sentralis (CRAO). 4. KWB stadium III. sehingga meningkatkan tekanan oksigen dan mengurangi hipoksia. bila berasumsi tekanan onkotik konstan. Fotokoagulasi pada fotoreseptor mengurangi konsumsi oksigen di bagian luar retina dan menyebabkan oksigen lebih mudah berdifusi dari koroid ke bagian dalam retina. Peningkatan tekanan oksigen di bagian dalam retina mengakibatkan mekanisme autoregulasi berupa vasokonstriksi dan peningkatan tekanan arteriol. antara lain emboli terkalsifikasi . Konsumsi alkohol dan garam perlu dibatasi dan olahraga yang teratur.makanan dengan kadar lemak jenuh harus dikurangi sementara intake lemak tak jenuh dapat menurunkan tekanan darah.13 Penyebab dari oklusi arteri retina paling umum akibat adanya emboli.

dan materi miksomatosa akibat miksoma atrial. Tanda yang dapat ditemukan berupa retina menjadi putih di area yang dialiri arteri.13 Penyakit arteri karotis juga dapat menjadi sumber emboli. Oklusi yang terjadi merupakan akibat dari emboli. 13. Tanda-tanda yang dapat ditemukan berupa pupil Marcus Gunn atau amaurotik.14 BRAO (oklusi arteri retina cabang) paling sering diakibatkan oleh karena emboli. trombus yang berasal dari jantung bagian kiri. pembengkakan berkabut perlahan menjernih. Pasien dapat mengeluh hilangnya lapang pandang secara melintang atau sektoral dan terjadi mendadak. Dengan pemeriksaan angiografi menunjukkan penundaan pengisian arteri dan karena terdapat edema retina maka fluoresensi ke bagian koroid tertutupi. dan emboli terkalsifikasi. dan oklusi arteri retina cabang. vena yang tersumbat akan mengalami rekanalisasi sehingga kembali terjadi reperfusi dan berkurangnya edema.14 BRVO (oklusi vena retina cabang) akut tidak terlihat pada gambaran funduskopi.14 2. emboli fibrinoplatelet. vegetasi dari endokarditis bakterial. Seiring waktu.14 Gambaran klinis dari oklusi arteri retina dapat berupa oklusi arteri retina sentral. tetap terjadi kerusakan yang permanen terhadap pembuluh darah. Emboli retina dari arteri karotis terdiri dari tiga tipe yaitu emboli kolesterol (plak Hollenhorst). Kerusakan penglihatan yang serius biasanya tidak terjadi sebagai dampak langsung dari proses hipertensi .14 CRAO (oklusi arteri retina sentral) biasanya diakibatkan oleh ateroma. dalam beberapa waktu dapat menimbulkan edema yang bersifat putih pada retina akibat infark pada pembuluh darah retina. tetapi bagian dalam retina menjadi atrofi dan berhubungan dengan hilangnya lapang pandang sektoral yang permanen.dari katup aorta atau mitral. Keluhan yang dialami pasien biasanya bersifat akut dan hilangnya lapang pandang. Namun.2 Prognosis Prognosis tergantung kepada kontrol tekanan darah. Pada fluoresensi angiografi menunjukkan area yang terlibat menunjukkan gambaran tidak adanya perfusi. dan pada beberapa kasus juga dapat ditemukan rekanalisasi arteriol yang tersumbat. retina tampak putih akibat pembengkakan dan terdapat cherry-red spot. meskipun hal ini dapat disebabkan akibat emboli terkalsifikasi.

ed. AK.156-161 . Riodan Eva P. In Ryan SJ. 5 DAFTAR PUSTAKA 1. Ilmu Penyakit Mata. 2. Vaughan DG. American Academy of Ophthalmology. MD.1. 2008. Comprehensive Ophthalmology. 2014-1015 6. 2007. Khurana. Oftalmologi umum. Retinal Vascular. 4. Jakarta : EGC. Mitchell P. pp 249-267.Louis : CV Mosby : 2002 7. Namun. editors. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. Basic and Clinical Science Course Section 12 : Retina and Vitreous. komplikasi tetap tidak dapat di hindari walaupun dengan kontrol tekanan darah yang baik. Edisi 17. 2013. Hypertension. Chew EY. Murphy RP. Asbury T.kecuali terdapat oklusi vena atau arteri lokal. Retina. grade IV : 98%. 2005. Lancet 2007 369: 425–35. Journal Of The American Heart Association. The Eye in Hypertension. 5. Wong TY. 3. Gerald Liew. Vol 2. pada beberapa kasus. grade III : 80% . St.10 Keith Wagener Barker menentukan 5 year survival rate berdasarkan tidak diberikan terapi medikamentosa yaitu antara lain grade I : 4%. grade II : 20%. Edisi Ketiga. 5. Ilyas S. New Delhi: New Age International Publisher.

3. editors. 2007 Jan 4 [cited 2017 Feb 15] Available from: URL:http://www. Aru. Arsaell Arnasson and Einar Stefansson.D Regillo. [Online]. Pakainis VA.htm 11.Jilid I.emedicine. 2006.Edisi IV. Laser Treatment and The Mechanism of Edema Reduction In Retinal Occlusion.2006 12. Brown LL et al. 10. Oxford. 2014-1015 9. Moinfar N. New York.8. Hypertension.et al. American Academy of Ophthalmology. Association For Research In Vision and Ophtalmology. Ophthalmology – A Pocket Textbook Atlas 2nd ed.1999 14. March 2000 13.com/oph/topic488. Thieme Medical Publisher. University of Iceland. G. Clinical Ophtalmology A Systematic Approach. Sudoyo. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Vol. Kanski JJ. Basic and Clinical Science Course Section 01: Update on General Medicine.Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Butterworth Heinemann . pp 333-5. Thieme: Stuttgart. Vitroretinal Disease : The Essentials. Hughes BM. Law SK. Charles S. 4 th ed. 1999 . C. Lang.41 No.