You are on page 1of 51

BAB I

1.1Pendahuluan
Iktiosis merupakan kelainan kulit yang umum diturunkan melalui keluarga
yang ditandai dengan kulit kering, menebal, kasar, kulit bersisik. Setidaknya ada
20 varietas iktiosis, termasuk bentuk herediter dan acquired.
Iktiosis vulgaris, merupakan paling sering terjadi dan relaif ringan. Iktiosis
vulgaris, terdapat sekitar 95% dari semua kasus iktiosis. Hal ini disebabkan oleh
perubahan ekspresi profilaggrin menuju scaling dan desquamation. Terlihat
derajat ini dipertahankan untuk waktu yang lebih lama dan hanya berupa sauatu
kumpulan pergantian kulit. Iktiosis herediter juga berhubungan dengan atopi.
Protein filaggrin penting dalam menjaga fungsi barier kulit yang efektif. Mutasi
pada gen profilaggrin (FLG) terdapat hingga 10% dari populasi, menyebabkan
iktosis vulgaris dan mencetuskan faktor resiko utama untuk pengembangan
dermatitis atopik. Pewarisan autosom dominan yakni diturunkan dari orang tua
untuk sekitar separuh anak-anak mereka. Meskipun bayi biasanya memiliki kulit
normal, namun tanda dan gejala iktiosis vulgaris biasanya menjadi jelas dalam
tahun pertama kehidupan.
Bentuk utama lainnya dari iktiosis herediter termasuk iktiosis laminer,
epidermolytic hiperkeratosis dan x-linked iktiosis.
Iktiosis didapat, biasanya muncul untuk pertama kalinya dalam masa
dewasa, adalah kondisi nonherediter yang terkait dengan penyakit sistemik.
Iktiosis aquired jarang dan harus dilihat sebagai penanda penyakit sistemik,
termasuk keganasan, penyebabnya biasanya dihubungkan dengan penggunaan
obat tertentu.

1

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 ANATOMI
1. Lapisan Epidermis
Lapisan epidermis terdiri atas stratum korneum, stratum lusidum, stratum
granulosum, stratum spinosum, dan stratum basale. Stratum korneum adalah
lapisan kulit yang paling luar dan terdiri atas beberapa lapisan sel-sel gepeng yang
mati, tidak berinti, dan protoplasmanya telah berubah menjadi keratin (zat
tanduk). Stratum lusidum terdapat langsung di bawah lapisan korneum,
merupakan lapisan sel-sel gepeng tanpa inti dengan protoplasma yang berubah
menjadi protein yang disebut eleidin. Lapisan tersebut tampak lebih jelas di
telapak tangan dan kaki (Djuanda, 2003).
Stratum granulosum merupakan 2 atau 3 lapis sel-sel gepeng dengan
sitoplasma berbutir kasar dan terdapat inti di antaranya. Butir-butir kasar ini
terdiri atas keratohialin. Stratum spinosum terdiri atas beberapa lapis sel yang
berbentuk poligonal yang besarnya berbeda-beda karena adanya proses mitosis.
Protoplasmanya jernih karena banyak mengandung glikogen, dan inti terletak
ditengah-tengah. Sel-sel ini makin dekat ke permukaan makin gepeng bentuknya.
Di antara sel-sel stratum spinosun terdapat jembatan-jembatan antar sel yang
terdiri atas protoplasma dan tonofibril atau keratin. Pelekatan antar jembatan-
jembatan ini membentuk penebalan bulat kecil yang disebut nodulus Bizzozero.
Di antara sel-sel spinosum terdapat pula sel Langerhans. Sel-sel stratum
spinosum mengandung banyak glikogen (Djuanda, 2003).
Stratum germinativum terdiri atas sel-sel berbentuk kubus yang tersusun
vertical pada perbatasan dermo-epidermal berbasis seperti pagar (palisade).
Lapisan ini merupakan lapisan epidermis yang paling bawah. Sel-sel basal ini
mrngalami mitosis dan berfungsi reproduktif. Lapisan ini terdiri atas dua jenis sel
yaitu sel-sel yang berbentuk kolumnar dengan protoplasma basofilik inti lonjong
dan besar, dihubungkan satu dengan lain oleh jembatang antar sel, dan sel

2

pembentuk melanin atau clear cell yang merupakan sel-sel berwarna muda,
dengan sitoplasma basofilik dan inti gelap, dan mengandung butir pigmen
(melanosomes) (Djuanda, 2003).

2. Lapisan Dermis

Lapisan yang terletak dibawah lapisan epidermis adalah lapisan dermis yang
jauh lebih tebal daripada epidermis. Lapisan ini terdiri atas lapisan elastis dan
fibrosa padat dengan elemen-elemen selular dan folikel rambut. Secara garis
besar dibagi menjadi 2 bagian yakni pars papilare yaitu bagian yang menonjol ke
epidermis, berisi ujung serabut saraf dan pembuluh darah, dan pars retikulare
yaitu bagian bawahnya yang menonjol kea rah subkutan, bagian ini terdiri atas
serabut-serabut penunjang misalnya serabut kolagen, elastin dan retikulin. Dasar
lapisan ini terdiri atas cairan kental asam hialuronat dan kondroitin sulfat, di
bagian ini terdapat pula fibroblast, membentuk ikatan yang mengandung
hidrksiprolin dan hidroksisilin. Kolagen muda bersifat lentur dengan bertambah
umur menjadi kurang larut sehingga makin stabil. Retikulin mirip kolagen muda.
Serabut elastin biasanya bergelombang, berbentuk amorf dan mudah mengembang
serta lebih elastis (Djuanda, 2003).

3. Lapisan Subkutis

Lapisan subkutis adalah kelanjutan dermis yang terdiri atas jaringan ikat
longgar berisi sel-sel lemak di dalamnya. Sel-sel lemak merupakan sel bulat,
besar, dengan inti terdesak ke pinggir sitoplasma lemak yang bertambah. Sel-sel
ini membentuk kelompok yang dipisahkan satu dengan yang lain oleh trabekula
yang fibrosa. Lapisan sel-sel lemak disebut panikulus adipose, berfungsi sebagai
cadangan makanan. Di lapisan ini terdapat ujung-ujung saraf tepi, pembuluh
darah, dan getah bening. Tebal tipisnya jaringan lemak tidak sama bergantung
pada lokasinya. Di abdomen dapat mencapai ketebalan 3 cm, di daerah kelopak
mata dan penis sangat sedikit. Lapisan lemak ini juga merupakan bantalan.

3

Vaskularisasi di kulit diatur oleh 2 pleksus, yaitu pleksus yang terletak di
bagian atas dermis (pleksus superficial) dan yang terletak di subkutis (pleksus
profunda). Pleksus yang di dermis bagian atas mengadakan anastomosis di papil
dermis, pleksus yang di subkutis dan di pars retikulare juga mengadakan
anastomosis, di bagian ini pembuluh darah berukuran lebih besar. Bergandengan
dengan pembuluh darah teedapat saluran getah bening (Djuanda, 2003).

Adneksa Kulit

Adneksa kulit terdiri atas kelenjar-kelenjar kulit, rambut dan kuku.
Kelenjar kulit terdapat di lapisan dermis, terdiri atas kelenjar keringat dan kelenjar
palit. Ada 2 macam kelenjar keringat, yaitu kelenjar ekrin yang kecil-kecil,
terletak dangkal di dermis dengan sekret yang encer, dan kelenjar apokrin yang
lebih besar, terletak lebih dalam dan sekretnya lebih kental (Djuanda, 2003).

Kelenjar enkrin telah dibentuk sempurna pada 28 minggu kehamilan dan
berfungsi 40 minggu setelah kehamilan. Saluran kelenjar ini berbentuk spiral dan
bermuara langsung di permukaan kulit. Terdapat di seluruh permukaan kulit dan
terbanyak di telapak tangan dan kaki, dahi, dan aksila. Sekresi bergantung pada
beberapa faktor dan dipengaruhi oleh saraf kolinergik, faktor panas, dan
emosional (Djuanda, 2003).

4

Kelenjar apokrin dipengaruhi oleh saraf adrenergik, terdapat di aksila, areola
mame, pubis, labia minora, dan saluran telinga luar. Fungsi apokrin pada manusia
belum jelas, pada waktu lahir kecil, tetapi pada pubertas mulai besar dan
mengeluarkan sekret. Keringat mengandung air, elektrolit, asam laktat, dan
glukosa, biasanya pH sekitar 4-6,8 (Djuanda, 2003).

Kelenjar palit terletak di selruh permukaan kulit manusia kecuali di telapak
tangan dan kaki. Kelenjar palit disebut juga kelenjar holokrin karena tidak
berlumen dan sekret kelenjar ini berasala dari dekomposisi sel-sel kelenjar.
Kelenjar palit biasanya terdapat di samping akar rambut dan muaranya terdapat
pada lumen akar rambut (folikel rambut). Sebum mengandungi trigliserida, asam
lemak bebas, skualen, wax ester, dan kolesterol. Sekresi dipengaruhi hormone
androgen, pada anak-anak jumlah kelenjar palit sedikit, pada pubertas menjadi
lebih besar dan banyak serta mulai berfungsi secara aktif (Djuanda, 2003).

Kuku, adalah bagian terminal stratum korneum yang menebal. Bagian kuku
yang terbenam dalam kulit jari disebut akar kuku, bagian yang terbuka di atas
dasar jaringan lunak kulit pada ujung jari dikenali sebagai badan kuku, dan yang
paling ujung adalah bagian kuku yang bebas. Kuku tumbuh dari akar kuku keluar
dengan kecepatan tumbuh kira-kira 1 mm per minggu. Sisi kuku agak mencekung
membentuk alur kuku. Kulit tipis yang yang menutupi kuku di bagian proksimal
disebut eponikium sedang kulit yang ditutupki bagian kuku bebas disebut
hiponikium (Djuanda, 2003).

Rambut, terdiri atas bagian yang terbenam dalam kulit dan bagian yang berada
di luar kulit. Ada 2 macam tipe rambut, yaitu lanugo yang merupakan rambut
halus, tidak mrngandung pigmen dan terdapat pada sbayi, dan rambut terminal
yaitu rambut yang lebih kasar dengan banyak pigmen, mempunyai medula, dan
terdapat pada orang dewasa. Pada orang dewasa selain rambut di kepala, juga
terdapat bulu mata, rambut ketiak, rambut kemaluan, kumis, dan janggut yang
pertumbuhannya dipengaruhi hormone androgen. Rambut halus di dahi dan
badan lain disebut rambut velus. Rambut tumbuh secara siklik, fase anagen

5

seringkali disertai rasa gatal (Wildauner et al. Garukan akan merusak struktur kulit sehingga dapat mengakibatkan infeksi kuman piogenik (Kligman. Kulit kering pada orangtua berhubungan dengan pruritus. Kulit yang kering dapat menyebabkan masalah yang serius bahkan dapat menjadi prekursor dekubitus pada pasien rawat inap yang tidak berubah posisi berbaringnya (Allman et al. 2003). 2000). 2000). sulfur 5% dan oksigen 20. gatal yang sering mengganggu tidur dan penurunan kualitas hidup. Pada umumnya kulit kering ditandai dengan keadaan kulit yang bersisik dan pecah-pecah. Fase telogen berlangsung beberapa bulan...36%. nitrogen 17. Gejala klinis yang ditimbulkan oleh kondisi kulit kering sangat bervariasi dari sangat ringan sehingga diabaikan tetapi dapat menjadi sangat berat sehingga mengakibatkan kulit pecah-pecah dan terinfeksi.60%..35 mm per hari. Komposisi rambut terdiri atas karbon 50.berlangsung 2-6 tahun dengan kecepatan tumbuh kira-kira 0. 6 .1 Kekeringan pada Kulit Kulit kering ditandai dengan menurunnya kapasitas retensi air pada stratum korneum dengan kandungan air kurang dari 10% sedangkan pada kondisi normal mengandung 30% air (Tagami and Yoshikuni. 1995) Kekeringan kulit dapat terjadi pada semua orang dengan berbagai penyebab baik eksogen maupun endogen dan bukanlah merupakan diagnosis tunggal (Kligman. 1985). 2..2 KULIT KERING 2. Kehilangan air terjadi akibat penurunan fungsi sawar stratum korneum dan peningkatan TEWL (Black et al.2. Di antara kedua fase tersebut terdapat fase katagen. hydrogen 6.14%. 2005).80% (Djuanda. 1971).

Kulit yang sehat memiliki rasio lipid rich yang proporsional (Downing and Stewart. Perubahan konfigurasi komposisi lipid menyebabkan barrier pada lapisan terluar menjadi lebih lemah. 2000). kolesterol dan asam lemak berperan sebagai sawar utama terhadap kehilangan air (water loss). sebaliknya kadar ceramide yang rendah menyebabkan kulit menjadi kering dan bersisik (Downing and Lazo. Banyak perubahan yang sangat kompleks yang mendasari terjadinya kekeringan 7 . Fungsi proteksi lain adalah melindungi kulit dari kekeringan (Kligman. Kadar ceramide yang tinggi menjaga ikatan antar sel. Pelembaban kulit terjadi karena pada ruang di antara ikatan sel junctional bridges atau desmosomes dipenuhi oleh substansi yang mengandung lemak lipid rich. serta pelindung terhadap infeksi bakteri. 2000). 2. fisik dan mekanik. Sawar kulit mampu melindungi terhadap bahan kimia. 2006). Untuk mengetahui hal yang mendasari terjadinya kulit kering maka perlu pemahaman tentang struktur dan fungsi stratum korneum (Egelrud..2 Etiologi Kulit Kering Etiologi kulit kering didasari oleh berkurang dan atau adanya ketidakseimbangan lipid termasuk perubahan komposisinya dalam kulit (Schûrer. 2000). juga sebagai storage untuk obat-obatantopikal yang bersifat lipofilik. Perubahan kadar komposisinya akan mengakibatkan gangguan fungsi sawar kulit (Laudanska et al. 2000). 25% asam lemak dan 20% kolesterol. 2003). Stratum korneum berperan sebagai sawar yang memiliki fungsi proteksi. jamur.2. Lemak ini adalah ceramide. Lipid ekstraseluler pada stratum korneum yang berperan sebagai sawar air disusun oleh >40% ceramide.

1993). 2002). 2009). Pada iktiosis vulgaris juga terdapat kekurangan NMF memberikan gambaran kulit yang kering dan bersisik (Sybert et al. Tetapi pada pasien yang menderita kekeringan kulit dan kadar air yang sangat menurun dapat saja tanpa disertai penurunan kadar ceramide (Akimoto et al. merupakan gangguan kulit dengan ciri khas kekeringan kulit. Pada penderita iktiosis vulgaris terdapat peningkatan produksi korneosit yang menunjukkan adanya kelambatan proses deskuamasi. 1991). kering dan mengelupas (Icen et al. 2005). Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pada dermatitis atopik terdapat kekurangan ceramide (Imokawa et al. Oleh karena itu diduga bahwa kekeringan kulit berhubungan dengan struktur lamellar dan lipid intraseluler dalam stratum korneum (Bauman..pada kulit. Faktor yang dapat mempengaruhi komposisi lipid dalam hidrasi dan sawar kulit adalah: 1. Kulit akan tumbuh secara cepat.. 2002a). b. Riwayat atopik : Dermatitis atopik. Jenis Kelamin: 8 .. Genetik: Ditemukan adanya pewarisan genetik untuk gen yang berpengaruh terhadap protein filagrin yang unik yang merupakan penentu dominan apakah seseorang akan menderita kekeringan kulit atau tidak (Scott.. Psoriasis adalah keadaan inflamasi pada kulit akibat adanya defek pada sistem imun. 1985). Faktor internal: a. c. (Simon.

spa treatment dan lain-lain (Draelos. 2006). Perbedaan yang utama adalah ketebalannya karena penyebaran rambut pada laki-laki lebih banyak. keluhan alergi dan kekeringan kulit menurun karena fungsi kelenjar sebasea. Wanita lebih sering mengoleskan bahan anti aging topikal yang dapat menyebabkan kerusakan barier kulit seperti halnya tretinoin. estrogen dan progesteron pada wanita dan laki-laki juga berbeda. 2006). 2004). dan ekrin serta apokrin berfungsi dengan baik (Hashizume. asam glikolat. d. Keadaan ini juga yang menyebabkan kulit laki-laki lebih terlindung dari kerusakan akibat aktivitas enzim kolagenase dengan adanya radiasi sinar ultra violet (UV) (Draelos. mikrodermabrasi. Wanita juga lebih sering menjalani prosedur perawatan seperti peeling wajah. Pada usia pubertas. Testosteron dan estrogen keduanya mempengaruhi produksi sebum (Hashizume. 2006). Menopause (hormonal): 9 . asam laktat dan lain-lain. Hal ini yang mendasari seringnya terjadi kekeringan kulit dan dermatitis pada anak-anak. Usia : Sebelum pubertas produksi sebum dan kelenjar ekrin masih minimal. wanita juga lebih sering mengalami dermatitis kontak alergik maupun iritan akibat seringnya mengoleskan bahan-bahan iritatif untuk perawatan kulit dibandingkan laki-laki (Schûrer. Keseimbangan hormon testosteron. Selain karena kulit wanita lebih tipis. 2004). e. Secara visual kulit pada laki-laki berbeda dibandingkan dengan kulit wanita.

Dengan menurunnya produksi estrogen. defisiensi vitamin A. b. mudah gatal karena pelindung pada akhiran saraf juga menurun (Hashizume. Lingkungan dengan kelembaban yang rendah akan merusak sawar kulit. dan keganasan (Health Grade. 2006). 2009). Faktor eksternal: a. Cuaca dan iklim: Perubahan mendadak pada kelembaban udara akan mempengaruhi kelembaban kulit. Pada wanita usia 40 an. hipotiroidisme. 2. produksi sebum mulai menurun dan lipid interselular berkurang terutama pada kondisi menopause. tetapi pajanan yang berulang terhadap surfactant dapat menyebabkan dermatitis kontak iritan yang mengakibatkan kekeringan kulit (Pedersen and Jemec. uremia. maka kualitas kulit juga menurun. penyakit ginjal. Kulit yang teriritasi fungsinya akan terganggu sama halnya dengan kondisi penyakit kulit. f. Sekalipun stratum korneum membentuk lapisan yang mencegah terjadinya difusi air. Penyakit kronik: Kondisi kronik yang juga menyebabkan kekeringan kulit di antaranya adalah Diabetes melitus. menjadi mudah rusak dan kering karena menurunnya kolagen pada dermis. Bahan kontak dan iritasi kronik: Kulit kering dapat disebabkan oleh kerusakan akibat polusi. 2004). bahan kimia dan surfactant. sehingga 10 . Proses keratinisasi melambat.

peningkatan lamellar bodies dan penebalan stratum korneum.. Gaya hidup (Lifestyle): Sekalipun tanpa memiliki kelainan kulit. 2002) : (1) Mandi dengan air panas: berendam dengan air panas dalam waktu yang lama akan mengakibatkan lipid natural pada kulit mudah hilang.. Akhir-akhir ini semakin meningkat dengan kebiasaan mandi dengan shower dan air panas yang terlalu sering dilakukan atau berendam dalam air yang ditambahkan bath salt dan busa sabun. Penelitian terhadap hewan menunjukkan. kondisi kulit kering dapat saja terjadi akibat pengaruh lifestyle. Sedangkan pada hewan yang dipajankan udara yang lembab (80% RH) akan menginduksi penurunan biosintesis lipid. Setelah dipindahkan dari lingkungan yang lembab (80% RH) ke lingkungan yang kering (10%RH). 1998). 2001).terdapat respons peningkatan sintesis DNA (Deoxyribonucleic acid) epidermis (Denda et al. TEWL menurun sekitar 30% pada hewan yang dipajankan pada udara yang kering (<10% RH). Berbagai kondisi yang dapat mempengaruhi ikatan air dalam stratum korneum dan menyebabkan kekeringan kulit di antaranya (Bauman. terdapat peningkatan TEWL 6 kali lipat (Sato et al. c. (2) Gesekan pakaian (3) Kebiasaan bepergian dengan pesawat udara (4) Berada di ruang ber AC dalam waktu lama 11 . Hal ini terjadi karena terdapat peningkatan biosintesis lipid.

di atasnya adalah sel spinosum karena memiliki banyak penghubung sel yang berbentuk seperti duri disebut desmosom.4 Struktur dan Fungsi Epidermis Kulit tersusun atas 3 lapisan primer: epidermis. Diproduksi oleh stem cells yang disebut sel basal. merupakan massa sel padat yang sudah kehilangan inti dan granulanya. Proses maturasi dan pergerakan sel anakan menuju sel di atasnya disebut keratinisasi (Kimyai-Asadi et al. dan lapisan paling luar adalah sel kornifikasi atau stratum korneum. Lapisan paling bawah adalah sel basal. Stem cells akan membelah dan memproduksi sel anakan yang secara perlahan bergerak ke bagian atas epidermis. 1987). Lapisan di atasnya lagi adalah sel granulosum karena mengandung granula keratohialin. Stratum korneum dilapisi material protein yang disebut cell envelope yang mempertahankan kadar air dan absorpsi (Bauman.. sel akan mengalami perubahan karakteristik. Tiap lapisan memiliki karakter dan fungsi masing- masing. Selama pergerakan. 2003). 2002a). Desmosom merupakan struktur kompleks adhesi molekul dan protein. 2002a). 12 . Penelitian tentang struktur dan fungsi epidermis memerlukan pembesaran dengan mikroskop elektron agar dapat secara jelas mengetahui struktur lamellar granules pada sel spinosum dan granulosum serta gambaran struktur sel lainnya (Madison et al.2. karena memberikan kelembaban dan tekstur kulit (Bauman. Keratinosit atau dikenal dengan korneosit adalah sel utama pada epidermis. epidermis merupakan lapisan terluar dan sangat penting perannya dalam segi kosmetik.. Sekalipun merupakan struktur dan jaringan yang menyatu. dermis dan subkutan.

2004).1) Terdapat bundle serabut keratin yang menyeberangi tiap sel yang menguatkan perlekatan desmosom dan nukleus. Bila sel spinosum matur. Biasanya terdapat 2-4 lapis sel granulosum dan granula keratohialin ukurannya semakin bertambah (McGrath et al. Sel granulosum Sel ini memiliki granul yang merupakan deposit keratohialin yang dapat terlihat dengan mikroskop cahaya. 13 . berbeda dengan lamellar granule yang hanya biasa terlihat dengan mikroskop elektron karena ukurannya sangat kecil. lamellar bodies dan lamellar granules (Oldland.Sel basal Sel basal adalah bagian sel paling bawah yang berfungsi meregenerasi sel dengan cara membelah (Kimyai-Asadi et al. 2003). Tiap sel saling melekat karena ada 2desmosom dan hemidesmosom. sel basal melekat ke dermis dengan bantuan anchoring fibril (Chu et al. membrane-coating granule. Corneodesmosomes merupakan struktur utama yang harus rusak agar kulit dapat mengelupas dalam proses deskuamasi (Brannon.. 2007). Struktur ini juga merupakan bagian dari analogi "mortar" pada "brick and mortar" analogy. 2003). akan mengakumulasi organel yang disebut “Oldland bodies”.. Sel spinosum Merupakan anakan sel dari hasil pembelahan sel basal yang memiliki duri. Paku yang melekatkan korneosit satu sama lain adalah struktur protein spesial yang disebut corneodesmosomes.. 1991). saling melekat antar sel dengan diperantarai desmosom (Gambar 2.

sel transisional ini secara bertahap kehilangan struktur organ subselulernya termasuk nukleus dan struktur membran sitoplasma. enzim pada stratum korneum akan merusak bagian luar envelope lamellar bodies dan membebaskan lipid tipe asam lemak bebas dan ceramides (Brannon. diikuti dengan keluarnya granul yang mengandung lamellar disk (Downing and Lazo. Proses ini akan menjadikan sel kehilangan organel subselulernya sehingga hanya memiliki keratin fibril yang tersusun paralel pada panjang sel. Sel kornifikasi Stratum korneum terdiri atas sel yang tidak memiliki inti dan DNA sehingga tidak dapat mensintesis apapun. Pada saat keratinosit matur. tetapi sel ini ternyata tetap hidup (Steinert and Freedberg. 1991). Di antara keratin fibril terdapat matriks keratohialin yang tersisa (McGrath et al. 2000). Lamellar granule keluar dari sel dan masuk ke dalam ruang interseluler di atasnya dengan cara berfusi dengan membran sel.. 2004). termasuk asam 14 . Lamellar bodies dibentuk dalam keratinosit pada stratum spinosum dan stratum granulosum. Setelah lamellar granule keluar sampai berada di ruang interseluler. 2007). sel transisional berubah menjadi datar dengan diameter 30 µm dan tebal 0.Sel transisional Bagian atas sel granulosum menjadi sel mati dan lebih datar. Selama proses ini granula keratohialin bergabung dengan bundle filamen keratin sehingga gambaran sel yang bergranul menjadi hilang. Protein pada matriks ini tampaknya berdegradasi dengan susunan material yang berat molekulnya rendah.3 µm.

1989). Selama proses kornifikasi... Protein envelope sulit dicernakan oleh enzim dan substrat dimana lipid eksternal melekat secara kimiawi (Wertz et al. 1991). Dalam 30 tahun terakhir terutama 5 tahun terakhir para ilmuwan telah menemukan bahwa aktivitas biologis dan kimiawi stratum korneum sangat kompleks (Brannon.amino. Sebelum pertengahan tahun 1970 stratum korneum diduga inert secara biologis seperti lapisan plastik tipis yang melindungi lapisan di bawahnya yang lebih aktif. 1987a). Keratin merupakan material yang sangat hidrofilik yang dapat mengikat substansi yang mengandung air. Struktur korneosit yang merupakan sawar kulit tersusun atas dua komponen utama.. Lapisan pada epidermis memiliki peran penting dalam fungsi sawar kulit yang vital. Terdapat substansi hidrofobik (water repellent) merupakan sawar lipid dan komponen hidrofilik (water-attracting) (Wertz et al. Difusi air melalui keratinosit tidak dapat terjadi secara bebas karena keratin membatasinya (Bodde et al. protein envelope pada korneosit selalu ditambahkan di antara permukaan internal membran sel dan melekat pada serabut keratin (Polakowska and Goldsmith. Stratum korneum merupakan lapisan terluar dari epidermis. 1987a). 2007). Keratin envelope terutama mengandung protein yang membentuk ikatan iso peptida antara residu glutamine dan lysine. 15 . Sawar lipid terutama mengandung lipid netral (asam lemak dan kolesterol) serta ceramides yang berfungsi mengontrol dan membatasi transpor air melalui kulit (Wertz et al.. 1990).

Tetapi terdapat bukti bahwa sel yang telah bermigrasi dari sel basal tidak mampu lagi mengabsorpsi lipid dari sirkulasi dan harus mensintesisnya sendiri dengan menggunakan prekursor berat molekul rendah. 1988 .. Struktur lipid pada epidermis Lipid termasuk dalam struktur anatomi sel epidermis dan memiliki fungsi serta struktur yang bermakna pada jaringan. Lipid epidermis di antaranya terdapat pada membran plasma sel. Lipid pada jaringan kulit yang dapat diekstraksi adalah: fosfolipid. Biosintesis.. membran sitoplasma internal. sel basal akan kehilangan sel anakan dari permukaan kulit tetapi komposisi lipid akan tetap konstan. Pada membran sel permukaan terutama terdapat fosfolipid dan kolesterol. Fosfolipid banyak mengandung linoleic acid sehingga dapat diduga bahwa kulit mendapat lipid dari darah (Monger et al.et al. Glycosylceramides di dapat dari lamellar granule sel spinosum dan sel granulosum (Swartzendruber et al.. badan Golgi dan bounding membrane pada lamellar granule serta lipid pada struktur intercellular lamellae di antara sel kornifikasi (Wertz et al. 1988). Downing. 2. 1987b . 2002). 1992)..2. 1988). kolesterol dan glycosylceramides. trigliserida dan ceramide.3 Biosintesis lipid pada sel hidup Sel basal mengandung sedikit lipid dibandingkan dengan membran sel permukaan dan sitoplasmanya. 16 . retikulum endoplasma. transformasi dan translokasi lipid epidermal dalam tiap sel akan terus berlanjut dan berubah tiap waktu (Wertz and Downing. yaitu glukosa (Doering. Selama 2-3 minggu pembelahan. sedikit asam lemak bebas. Downing and Stewart. 2000).

HA merupakan mukopolikasarida yang secara kovalen berikatan dengan protein. 2000). Molekul HA mengikat air dalam jumlah besar sekalipun dalam konsentrasi yang sangat rendah.4 Transformasi biokimia dan translokasi lipid selama diferensiasi Epidermis Lamellar granule dikeluarkan dari sel granulosum sebelum sel berubah menjadi stratum korneum. Fungsi dan peran HA akan dijelaskan kemudian. Membran akan berikatan melekat dengan lamellar granule dan menjadi bagian membran sel (Wertz and Downing. 2. tekanan osmotik.2. Biosintesis lipid pada epidermis sangat bergantung pada adanya matriks ekstraseluler hyaluronic acid (HA) yang memegang peranan penting dalam aktivitas sel.5 Intercellular lamellae 17 . HA memiliki viskositas yang sangat tinggi. mengatur aliran ion dan sebagai lubrikan pada permukaan sel (Neudecker et al. 2. 1970). Hal di atas menunjukkan bahwa biosintesis epidermis berdiri sendiri dan tidak bergantung pada glukosa dalam sirkulasi (Feingold and Elias. Lipid yang disintesis harus mampu membentuk lamellar granule pada sel spinosum dan sel granulosum (Robson et al. 1994).. Hal ini menunjukkan bahwa setelah berdiferensiasi menjadi sel kornifikasi. HA dalam matriks ekstraseluler dermis berperan mengatur keseimbangan kadar air. Sel granulosum hanya mengandung glucosylceramides sedangkan sel kornifikasi hanya mengandung ceramides. 1987b)..2. glucocylceramides mengalami deglikosilasi dan berubah menjadi ceramides (Lavker. 2004).

Lipid ini cukup untuk membentuk monomolecular layer lipid pada seluruh permukaan sel kornifikasi (Polakowska and Goldsmith. Isi lamellar disk akan keluar dari lamellar granule kemudian terdistribusi ke dalam ruang interseluler. 2007). Protein ini memiliki ikatan yang kuat satu sama lain sehingga membuat cell envelope menjadi struktur pada korneosit yang paling sulit larut.6 Lipid envelope pada korneosit Bila stratum korneum diekstraksi maka didapatkan 2% ω hydroxyceramides. Sub tipe dari cell envelope dapat "rigid" atau "fragile" bergantung pada interaksi lamellar bilayer dengan cell envelope (Brannon. melekat edge to edge dan bergabung membentuk intercellular lamellae. NMF merupakan senyawa kimia yang sangat larut dalam air (water soluble). Pada kulit normal apabila sering terpajan sabun.2. sangat mudah keluar dari sel bila berkontak dengan air. 2000).2. Lamellar disk akan membentuk double lipid bilayers dengan membuat liposome menjadi datar (Downing and Lazo. 2. NMF terdiri atas asam amino dan metabolitnya dibebaskan oleh lamellar granules dengan memecah filagrin. Itulah sebabnya kontak dengan air yang berulang justru akan mengeringkan kulit (Bauman. 18 . Tiap korneosit dikelilingi oleh selubung protein yang disebut cell envelope. maka kadar NMF permukaan kulitnya akan menurun dibandingkan dengan yang tidak sering terpajan sabun. 2002a).7 Transformasi Lipid pada Stratum Korneum Natural Moisturizing Factor (NMF) terdapat dalam stratum korneum sehingga bersifat humektan (mampu mengikat air) . 1991). Cell envelope tersusun dari terutama 2 protein loricrin dan involucrin. 2.

2000). Intercellular lamellae adalah barrier terhadap air dan molekul polar lainnya dengan adanya multiple lipid lamellae dalam tiap intercellular space akan meningkatkan sawar (Guy et al. maka kadar NMF juga akan menurun (Scott and Harding.. Lapisan lipid yang mengelilingi korneosit menyelubungi dan mencegah hilangnya NMF (Brannon. diperkuat lagi dengan adanya intercellular lamellae dan corneocyte lipid envelope yang meningkatkan efektivitas fungsi sawar lipid (Linberg and Forslind. 2007). Karena terdapat dua tipe lipid. 2007).2. 2.8 Lipid Epidermal dan Fungsi Barrier Lipid pada stratum korneum memiliki “melting point” dan polaritas yang tinggi sehingga dapat membentuk lipid bilayer yang kuat. Strukturnya terdiri atas dua bagian: (1) bagian yang tebal yang melekat pada sitoplasma tersusun oleh protein dan (2) bagian yang tipis merupakan 19 . Intercellular Lipid Asam lemak bebas dan ceramides yang dibebaskan dari lamellar bodies akan berfusi bersama dalam stratum korneum untuk membentuk continuous layer lipids. kadarnya sekitar 20-30%.Dengan bertambahnya usia. 2000). Natural moisturizing factor (NMF) merupakan kumpulan substansi water-soluble yang hanya didapatkan pada stratum korneum. maka lapisan ini juga disebut lamellar lipid bilayer. 2. 1994).2.9 Corneocyte lipid envelope Corneocyte envelope membentuk bagian yang penting dalam sawar permeabilitas epidermis. Lipid bilayer berperan penting dalam memelihara sawar kulit dan analog dengan "mortar" pada model brick and mortar (Brannon.

2.bagian yang menyusun sisi luar protein yang tersusun dari lipid. Bagian yang terdapat di antara 20 . 2007). 2. 2002a). 2002) Lapisan lipid ceramides melekat pada cell envelope dan menolak air. Pada dermis terdapat saraf. Corneocyte lipid envelope dapat menahan asam amino dengan berat molekul rendah dan berperan penting dalam sawar permeabilitas epidermis (Swartzendruber et al. Pada penuaan lapisan basal akan menurun ketebalan dan kelembabannya (Bauman. Ini akan memelihara keseimbangan kadar air dalam stratum korneum dengan memerangkap molekul air dibandingkan dengan membiarkannya terabsorpsi ke dalam lapisan epidermis yang lebih dalam (Brannon. elastin dan protein matriks lain serta enzim. kelenjar keringat dan kolagen.. Karena lamellar lipid bilayer juga menolak air. pembuluh darah. Pada bagian terluar dermis di bawah epidermis disebut dermis papila dan bagian bawahnya disebut dermis retikuler. Ketebalan kulit bervariasi pada bagian tubuh yang berbeda dan dipengaruhi oleh usia.10 Struktur dan Fungsi Dermis Dermis terdapat di antara epidermis dan lemak sub kutan dan berperan terhadap ketebalan kulit. maka molekul air akan berada di antara cell envelope lipid dan lipid bilayer. Struktur pada dermis retikuler lebih padat dibandingkan pada dermis papila. Lévêque. 1987 . Sel yang dominan pada dermis adalah fibroblas yang memproduksi kolagen. 2002). Ikatan lipid pada corneocyte lipid envelope sama dengan lipid pada intercellular lamellae (Bauman.

Komponen yang paling dominan pada kulit adalah HA (Neudecker et al. glycoprotein. 2004). Serabut yang imatur terdapat pada dermis superfisial.2. Struktur ini terdiri atas glycosaminoglycan (GAG). dermis dan subkutan. yang terutama terdapat pada dermis.epidermis dan dermis disebut dermal-epidermal junction (DEJ) (McGrath et al.11 Kolagen Kolagen merupakan salah satu dari protein natural yang paling kuat dan berperan terhadap kekuatan dan kelenturan kulit.. sedangkan yang matur terdapat pada lapisan yang lebih dalam pada dermis (McGrath et al. Pada mulanya perhatian terhadap struktur kulit ditujukan pada sel yang menyusun lapisan epidermis... Kolagen merupakan protein kompleks. 2002b). 21 . Ternyata komponen matriks ekstraseluler (MES) memiliki peran yang sangat besar terhadap aktivitas sel. 2. growth factor peptide dan struktur protein kolagen serta elastin. 2004). Berbagai produk maupun prosedur peremajaan kulit memiliki target kerja pada kolagen. 2004). Letak serabut kolagen tersusun tegak lurus dengan serabut elastin. Dengan mikroskop elektron komponen MES ini tampak sebagai massa yang amorf. proteoglycan. Saat ini yang menjadi pusat perhatian adalah material yang berada di antara sel. Seperti halnya produk kosmetik yang mengandung asam glikolat dan asam askorbat yang diklaim dapat meningkatkan sintesis kolagen (Bauman.

Demikian juga dengan residu lisin. Residu prolin pada rantai prokolagen berubah menjadi hidroksiprolin dengan adanya enzim prolyl hydroxylase.. Proses ini membutuhkan Fe + +. Terutama didapatkan di sekitar pembuluh darah di bawah epidermis (Kimyai-Asadi et al. 2003)..2.. Tiap tipe kolagen tersusun atas 3 rantai. Kolagen tipe V tersebar secara difus pada dermis sekitar 4-5%. diameternya lebih kecil dibandingkan kolagen tipe I. Proses ini juga membutuhkan Fe ++.. 2003). vitamin C dan α-ketoglutarate. Kolagen tipe III terdapat pada matriks dermis 10-15%. Sedangkan kolagen tipe XII terdapat pada hemidesmosom (Kimyai-Asadi et al. Dikenal juga dengan istilah “fetal collagen”. 2.12 Elastin Serabut elastin terdapat di perifer serabut kolagen. Tipe VII membentuk anchoring fibril pada DEJ. vitamin C dan α-ketoglutarate. 2004). Kolagen disintesis pada fibroblas dalam bentuk prekursor prokolagen. Tipe kolagen pada dermis Kolagen tipe I merupakan tipe kolagen yang terbanyak dan 80-85% terdapat pada dermis. berubah menjadi hidroksilisin dengan adanya enzim lysil hydroxylase. 2003). Kekurangan vitamin C akan menurunkan produksi kolagen (McGrath et al. tersusun dalam bentuk mikrofibril yang merupakan gabungan 22 . Kolagen tipe IV terdapat pada basement membrane zone. Jumlah kolagen tipe I menurun pada photoaged dan merupakan kolagen yang sangat mempengaruhi penuaan kulit (Kimyai-Asadi et al. berpengaruh pada kekuatan dan kelenturan dermis. karena ditemukan terbanyak pada masa embrional.

2. GAG merupakan senyawa yang mampu mengikat air dan berperanan dalam pelembaban kulit (Jung et al. 23 .2. 2003).. karsinogenesis.. GAG terutama didapatkan dalam matriks ekstraseluler tetapi terutama disintesis oleh apparatus Golgi yang terdapat dalam sel (Jung et al. 2009). 1997).13 Glycosaminoglycans Glycosaminoglycans (GAG) adalah rantai polisakarida yang tersusun oleh unit disakarida yang berulang dan berikatan secara kovalen dengan protein inti. Glycan terdapat dalam berbagai bentuk dan ukuran dari rantai linier (polisakarida) sampai molekul dengan banyak cabang. infeksi. Bila sering terpajan sinar matahari elastin menjadi substansi yang amorf pada dermis dan rusak (Kimyai-Asadi et al. tendon dan paru. penyakit jantung.. Fibrilin merupakan tempat elastin dideposit.. Dermatan sulfate adalah GAG yang terutama didapat dalam kulit tetapi juga pada pembuluh darah. Bagian utama dari GAG adalah gula yang berupa konjugat molekul kompleks yang disebut glycan. Dermatan sulfate berperan dalam koagulasi. Glycan merupakan bagian terbesar yang menempati ekstraselular matriks dan berperan penting dalam transmisi sinyal biokimia ke dalam dan antar sel (Tzellos et al. 2009). katup jantung. penyembuhan luka dan fibrosis (Tzellos et al.fibrilin. Proteoglycans merupakan makromolekul kompleks yang terdiri atas protein utama dan satu atau lebih rantai GAG yang terikat secara kovalen. 1997). Chondroitin sulfate adalah GAG yang tersulfatasi tersusun atas rantai gula ((N-acetyl-galactosamine dan glucuronic acid)..

Rantai chondroitin dapat memiliki 100 gula dalam berbagai variasi posisi dan jumlah. 2009). Kompleks Molekul Gula dari Glycan Merupakan diversi dari struktur yang membentuk permukaan sel dan matriks ekstraseluler yang berada di antara sel. Polisakarida ini tampak tersusun seperti manik-manik yang berwarna-warni yang melekat pada protein (berwarna biru) dengan ikatan kovalen. Perkembangan teknologi terbaru untuk mengeksplorasi struktur rantai gula dipelajari dalam cabang ilmu yang disebut Glycobiology.. farmasi dan laboratorium. Dalam perkembangan Glycobiology akan dibahas lebih jauh tentang peran utama molekul kompleks karbohidrat dalam 24 . Istilah ini pertamakali dikenalkan oleh Rademacher. Parekh. 2009). Glycan dibentuk dalam Golgi. biologi sel. Glycan dapat merupakan rantai linier (GAG) atau memiliki cabang molekul gula. Saat ini merupakan dasar ilmu bagi perkembangan bioteknologi. Glycobiology sangat bergantung pada disiplin ilmu genetika molekuler. fisiologi dan kimia protein (Bertozzi and Rabuka. Terdapat vesikel lipid yang mengangkut glycan yang sudah dimodifikasi menjadi protein ke permukaan sel (Bertozzi and Rabuka. Chondroitin sulfate merupakan struktur komponen utama dari kartilago dan berfungsi melindungi dari regangan dan benturan (Bertozzi and Rabuka. dan Dwek pada tahun 1988 untuk menunjukkan pengetahuan modern tentang kimia karbohidrat dan biokimia serta biologi molekuler dari glycan. Sampai saat ini istilah tersebut tetap digunakan (Rademacher et al. 1988). biosintesis dan biologi dari saccharide (rantai gula atau glycan).Biasanya melekat pada proteoglycan. Ilmu ini terutama mempelajari tentang struktur. 2009).

2.2. 2009). Untuk mempercepat sinyal bertingkat ini reseptor pada permukaan sel harus berubah struktur yaitu dengan melekat pada reseptor kedua (glycan) secara simultan (Esko and Linhardt.14 Jalur Komunikasi Glycan Merupakan petunjuk komunikasi yang penting bagi perkembangan sel dan jaringan serta fungsi fisiologisnya (Bertozzi and Rabuka. Dengan selesainya urutan genom manusia (human genom project) dan pengetahuan berbagai model organisme akan menjadi salah satu pengetahuan yang sangat berharga bagi perkembangan sistem biologi (Bertozzi and Rabuka. et al. kemampuan memelihara kegiatan sel. Pengikatan growth factor pada reseptornya merupakan gerakan akibat sinyal kaskade yang berakhir dalam nukleus sel dan memicu gen yang memodulasi proliferasi sel. Jenis GAG yang terbanyak pada dermis adalah hyaluronic acid (HA) atau hyaluronan (Varki. 2009).komunikasi sel. Salah satu interaksi protein dan GAG adalah fibroblast growth factor akan menerima sinyal dari GAG sehingga fibroblast growth factor dapat berinteraksi dengan reseptornya pada permukaan sel. Konsep utama dari informasi ini bukan hanya presisi dalam template-driven tetapi juga kemampuan memanipulasi tiap kelas molekul berdasarkan pengetahuan tentang pola urutan homologi dan hubungannya dengan fungsi dan evolusi. 2009) Untuk menunjukkan peran glycan dalam komunikasi sel dapat digambarkan dengan salah satu contoh sebagai berikut. 2009). Kadarnya meningkat pada aktivitas proliferasi. Volume HA yang besar berhubungan dengan kandungan air dan hidrasi kulit. Paradigma sentral dari biologi molekuler modern adalah tentang alur informasi dari DNA ke RNA. regenerasi dan 25 .

M++ adalah metal ion cofactor. 2009). Perkembangan genetika molekuler dan kemajuan dalam human genom project disempurnakan dengan pengetahuan tentang metabolisme HA. Sedangkan pada lapisan basal HA didapatkan terutama intraselular (Tammi et al. HA total terutama didapatkan pada kulit sekitar 50 %. Dengan demikian HA memiliki potensial sebagai anti penuaan. HA terutama diproduksi dalam mesenkim jaringan konektif dan paling banyak oleh fibroblas.. 1991). 26 . HA berfungsi sebagai humektan (Neudecker et al. HA terdiri atas disakarida yang berulang yang disusun oleh Nacetylglucosamine (GlcN) dan glucuronic acid (GlcA) dan membentuk matriks yang menghidrasi..penyembuhan luka (wound healing). sedangkan enzim yang memiliki peran dalam reaksi katabolik adalah hyaluronidase. deposisi. menyusun sel dan protein tertentu dan kemudian mendegradasinya (Varki and Sharon. HA terutama terdapat ekstraselular pada lapisan stratum spinosum dan stratum granulosum. HA disintesis oleh HA syntases (HAS). Dapat mencapai sirkulasi darah melalui saluran limfatik (Neudecker et al... Dalam produk kosmetik. 2004). 2004). HA memiliki reseptor yang mengontrol sintesis HA. Kadarnya lebih banyak pada dermis papila dibandingkan pada dermis retikuler (Neudecker et al. Berperan pada pertumbuhan sel. 2009). 2004). UDP= Uridine Diphosphat (Varki and Sharon. HA pada dermis lebih banyak dibandingkan dengan pada epidermis. Biosintesis HA oleh HA synthase (HAS) terjadi dengan penambahan gula (Nacetyl-glucosamine/GLcN and glucuronic acid/GlcA) pada akhir polimer. berfungsi sebagai reseptor membran dan adhesi sel.

Hal ini menunjukkan terdapat juga peranan intrinsik dalam menentukan terjadinya kekeringan kulit (Irvine and Mc Lean. angin.2.15 Filagrin dan Kulit Kering Di luar mekanisme kompleks yang disebutkan di atas. kering. Filagrin memiliki komposisi asam amino histidin dan arginin. kerusakan akibat detergen dan lain-lain. Genotip filagrin sebagai penentu utama kecenderungan kulit kering Filagrin dikode oleh gen profilagrin yang terletak pada kompleks diferensiasi epidermal lokus 1q21 pada kromosom 1 bersama dengan gen yang terlibat dalam proses diferensiasi epidermal lainnya. Kadar filagrin dalam kulit menjadi penentu terjadinya kekeringan kulit. 2006). 2005). Gen ini mengkode sejumlah protein prekursor yang disebut profilagrin terdiri atas 10-12 protein filagrin yang bergabung dengan ikatan peptida (Scott. Profilagrin disintesis dalam jumlah besar pada permukaan luar epidermis.2. Filagrin dan Natural Moisturizing Factor Pada saat stratum korneum bergerak ke permukaan kulit. 33% diproduksi dalam stratum granulosum. Profilagrin berkumpul di dalam sel membentuk granul keratohialin dan merupakan salah satu protein yang sensitif terhadap protease (Irvine and Mc Lean. udara dingin. maka akan terpajan dengan kondisi yang kering. Aktivitas air 27 . 2006). Filagrin merupakan protein yang penting dalam kulit dan mempunyai efek dominan terhadap resistensi stres. terdapat beberapa orang yang menderita kekeringan kulit sekalipun terlepas dari pengaruh stres lingkungan.

Memproduksi urocanic acid yang berperan dalam imunomodulator dan sebagai tabir surya 28 . Membentuk acid mantle kulit e. pyrolidone carboxylic acid bersifat sangat higroskopik sehingga dapat menarik air dalam kondisi kering sekalipun. 2006). Asam amino bebas hasil pembongkaran filagrin akan mengalami berbagai perubahan. histidine kehilangan ammonia akibat pengaruh enzim histidine ammonia lyase kemudian akan memproduksi urocanic acid (Scott. Pada saat ini protease dalam stratum korneum menjadi aktif dan secara lengkap akan mendegradasi filagrin menjadi asam amino individual. Fungsi filagrin Dalam proses keratinisasi. Proses ini sangat penting bagi stratum korneum. Glutamine akan kehilangan ammonia dan berubah menjadi pyrrolidone carboxylic acid melalui reaksi non enzimatik. filagrin mempunyai fungsi (Irvine and Mc Lean. Proses ini dipicu oleh peningkatan konsentrasi ion karena sel kehilangan air.akan menurun di bawah 95%. 2005). Mengagregasi keratin sehingga menjadi struktur matriks yang closepacked b. Pembentukan kompleks asam amino yang disebut sebagai NMF ini membuat stratum korneum tetap terhidrasi (Irvine and Mc Lean. Mengkatalisa ikatan disulfida di antara keratin c. 2006) : a. Membentuk NMF d.

United Kingdom) menunjukkan granula keratohialin pada kulit normal (kiri) berbeda kontras dengan hilangnya lapisan granulosum pada individu homozigot yang kehilangan filagrin (kanan). Newcastle upon Tyne.. Pasien remaja ini menderita iktiosis vulgaris dan dermatitis atopik yang sedang sampai berat sejak bayi (Irvine and Mc Lean. 2000). enzim. 29 . 2.2. kohesi stratum korneum dan peran enzim proteolitik mempengaruhi proses ini (Chu et al. dan nonstructural protein. kulit tidak memiliki filagrin. substansi dengan berat molekul rendah dan berbagai derajat hidrofilik yang berinteraksi dengan rendahnya kadar air (Egelrud. Immunostaining dengan filaggrin repeat domain mAb 15C10 (Novocastra. 2006). Bagian yang mengendalikan proses deskuamasi adalah intercellular space dari stratum korneum karena didalamnya mengandung campuran lipid complex yang menyusun struktur protein. Filagrin Akibat mutasi homozigot.16 Proses Deskuamasi Proses deskuamasi yang normal merupakan hal yang penting dalam menjaga fungsi stratum korneum yang normal. 2003).

Desmosom memperantarai kontak antar sel stratum korneum bentuknya bulat oval dengan diameter 0. Kadar Air Pada Stratum Korneum dan Hidrasi Kulit Pengukuran hidrasi stratum korneum untuk meneliti biofisik dan fungsi sawar kulit sangatlah penting artinya. Dengan memonitor parameter ini dapat secara efisien menjadi dasar 30 . degradasi corneodesmosome akibat reaksi enzim proteolitik stratum corneum chymotriptyc enzyme (SCCE) akan menyebabkan terjadinya proses deskuamasi karena menurunkan kohesi stratum korneum (Simon et al. Berikatan dengan intracellular keratin filament dan glycoprotein. Corneodesmosome berikatan dengan intercellular keratin filament yang lebih padat.2 – 1 mm. tetapi belum diketahui sifat alami dari enzim ini dan bagaimana mulai mengaktivasi proses eksfoliasi ini sekalipun diketahui bahwa air dan pH berperan penting terhadap aktivitas enzim ini (Brannon. 2007). Pada kondisi menurunnya kadar air dalam stratum korneum. maka enzim yang merusak desmosom menurun sehingga proses deskuamasi terganggu. Permukaan kulit akan tampak kasar dan dan kering (Orth and Appa. Kegagalan desmosom menyelesaikan program self destruction pada proses deskuamasi akan mengakibatkan kulit bersisik. 2002).. 2005). 2000). Bila stratum korneum mengalami penurunan water- binding capacity. Telah diketahui beberapa enzim yang merusak corneodesmosomes dengan pola spesifik. maka elastisitas kulit akan menurun (Scott. Deskuamasi atau eksfoliasi merupakan proses pada stratum korneum yang sangat kompleks dan sampai saat ini baru sebagian yang terungkap.

lawan dari kulit kering adalah kulit yang tidak kering sedangkan kulit berminyak lawannya adalah kulit yang tidak berminyak. 2.dalam mencegah kambuhnya penyakit kulit dan membantu mengevaluasi efektivitas pengobatan kulit (Primavera et al. berbagai lipid barrier utama menurun sehingga fungsi sawar kulit juga menurun dan terjadilah kekeringan kulit (Fore. Sejak tahun 1980 dikenal alat korneometer yang dapat mengukur kadar air dalam kulit. Hal yang mempengaruhi keadaan ini adalah peningkatan ukuran korneosit. 2003) Kulit yang menua ditandai dengan perubahan histopatologi dan biologi. 31 . dan dapat mengukur perubahan tingkat hidrasi kulit serta hanya membutuhkan waktu yang singkat dalam pengukuran.2. peningkatan ketebalan stratum korneum akibat akumulasi korneosit yang disebabkan gangguan deskuamasi. Pengukuran ini secara tidak langsung mengukur fungsi sawar kulit (Heinrich et al. 2000).. stratum korneum juga mencegah hilangnya molekul endogen termasuk kehilangan air dari lapisan dalam epidermis. Dengan bertambahnya usia. 2005). Prinsip pengukuran korneometer berdasarkan kapasitans dari media dielektrik. Keunggulan prinsip pengukuran ini adalah tidak dipengaruhi oleh kondisi permukaan kulit di luar hidrasi kulit. 2009). Setiap perubahan pada dielektrik yang diakibatkan variasi hidrasi kulit akan mengubah kapasitans pada kapasitor pengukur..17 Hidrasi kulit Selain sebagai sawar yang melindungi dari pengaruh luar. sehingga pengukuran produksi sebum tidak dapat mengukur kekeringan kulit (Kligman. Kulit kering tidak berarti berlawanan dengan kulit berminyak.

2003). 2. Adanya pegas pada probe membuat penekanan pada permukaan kulit tetap konstan. tetapi pada periode kehidupan tertentu dapat terjadi perubahan yang bermakna. Pengukuran TEWL hanya valid di dalam batas lapisan yang mengalami difusi pada tubuh manusia yang kedalamannya sekitar 10 -30 µm pada kondisi normal. Transepidermal water loss (TEWL) TEWL mencerminkan penguapan dari permukaan kulit.18. Hidrasi kulit dan TEWL merupakan pengukuran non invasif yang penting dalam dermatologi dan kosmetologi karena nilai pengukuran TEWL dan kadar air stratum korneum dapat digunakan untuk menilai dan membandingkan efikasi berbagai produk yang dioleskan pada kulit terutama pelembab (Pedersen and Jemec. Pengukuran kelembaban kulit dengan korneometri lebih mudah dan lebih reliabel dibandingkan dengan pengukuran TEWL (Heinrich et al.. 2005). 2003). 2005). Salah satu karakteristik kulit yang sehat adalah perbandingan yang proporsional antara TEWL dan hidrasi kulit (Primavera et al. Seluruh kaliberasi data ada pada probe (Heinrich et al. 2006). Luas permukaan probe 49 mm2 memudahkan pengukuran pada semua bagian tubuh dan mudah dibersihkan.. Usia tidak terlalu banyak mempengaruh TEWL.. misalnya pada bayi prematur dengan kehamilan kurang dari 30 minggu akan mengalami gangguan sawar 32 .2. Sensitivitas instrumen juga dapat mengganggu hasil pengukuran TEWL (Black et al. Probe yang digunakan merupakan bahan elektronik yang berkualitas dan stabil terhadap perubahan temperatur serta tidak dipengaruhi oleh fluktuasi sumber listrik..

Alat ini mempunyai probe yang mengukur tekanan penguapan air parsial pada dua lokasi di atas permukaan kulit. 2005). Menjaga kadar lipid barrier kulit. salep dan bath oil. lanolin. kasar dan bersisik akibat xerosis. 2. Substansi hidrofobik ini akan membentuk lapisan oklusif pada kulit yang akan menurunkan TEWL dengan mencegah penguapan air. 3 mm dan 9 mm dengan bantuan dua pasang humidity transducer dan thermistor. 2005). Nilai TEWL normal adalah antara 2-5 gr/m2 per jam.epidermal tetapi dalam beberapa hari setelah kelahiran akan terjadi maturasi sawar kulit (Primavera et al. a. pelembab adalah emulsi yang mengandung substansi aktif yang dioleskan pada kulit dengan tujuan untuk rehidrasi atau regenerasi kulit kering. 2005). Perbedaan tekanan penguapan air parsial pada kedua lokasi tersebut kemudian dikalkulasi dan dinyatakan sebagai gr/m2 per jam.19 Pelembab Menurut Gabard (1994). Komposisi yang bersifat oklusif secara fisik memblokir kehilangan air dari permukaan kulit (Hannon and Maibach. c. b.. 2005). iritasi atau oleh sebab lain.. Pengukuran TEWL menggunakan evaporimeter. Pelembab bekerja dengan komposisi yang bersifat oklusif dan atau humektan seperti halnya komponen pada NMF.2. beeswax. Nilainya dapat mencapai 90-100 gr/m2/ jam setelah stripping kulit atau pada keadaan adanya lesi dermatitis atopik (Black et al. lotion. Komposisi yang bersifat humektan bekerja dengan menarik air ke dalam kulit (Hannon and Maibach. Sediaan pelembab adalah. 33 . krim. Contoh : petrolatum.

yaitu bahan yang bersifat emolien (Simion and Story. Komposisi bahan aktif lain yang dapat memperbaiki kelembutan kulit dengan melubrikasi dan mengisi celah antar sel di antara sel yang kering. Air berfungsi sebagai pelarut bagi bahan aktif dan inaktif. Beberapa substansi di atas merupakan komponen NMF. mengemulsi sehingga didapatkan bentuk produk yang nyaman dipakai (Black. Banyaknya kadar air juga memudahkan absorpsi dan evaporasi beberapa komponen pelembab di samping berperan sebagai hydrating agent (Simion and Story. Hidrasi stratum korneum akan menormalkan lipid interselular dan proses deskuamasi alami c. c. alpha hydroxy acids. propylene glycol. f. d. et al. pelembab juga dapat mengandung: a. 2005). b. e. b. Pada umumnya pelembab mengandung 65-85% air dalam lotion. Selain komponen oklusif dan humektan. Humektan akan berperan seperti halnya natural hydrophilic humectants dalam stratum korneum. jarang dari lingkungan. glycerine dan urea. asam laktat. 2005). Air yang diambil untuk mempertahankan kelembaban kulit berasal dari lapisan epidermis yang lebih dalam. Yang termasuk humektan antara lain: asam amino.a. Kulit menjadi lebih resisten terhadap kondisi kekeringan. menstabilkan. 2005). Bahan inaktif yang membantu melarutkan. 34 .

. dan asam lemak) pada kulit akan memperbaiki kekeringan. 2005). e. terdapat defisiensi kolesterol sehingga perlu formulasi kolesterol yang lebih banyak untuk formula pelembab pada orangtua (Warner and Boissy.. 2000). 2005). tetapi bila digunakan tanpa campuran akan terasa lengket. Pelembab yang berbentuk krim mengandung sedikit air dan lebih banyak minyak atau bahan oklusif (Black et al. Hidrasi yang adekuat bergantung pada adanya campuran intrinsic hydroscopic water soluble material atau NMF (Irvine and Mc Lean. Lanolin: bekerja baik dengan lipid stratum korneum. Vaselin: berfungsi oklusif dan emolien. jarang menyebabkan alergi. kolesterol. Perlu penelitian yang lebih lanjut untuk menetapkan rasio yang tepat. 2005).d. Dapat terjadi sensitisasi terhadap lanolin (Black et al. 2006). Bahan-Bahan Pelembab Bahan-bahan dalam formulasi pelembab antara lain: a. Salep dengan bahan dasar minyak kadar airnya yang sangat kecil atau tidak ada akan sangat berlemak dan oklusif (Black et al. 35 . karena lanolin mengandung kolesterol yang merupakan bahan penting untuk pembentukan lipid stratum korneum serta keduanya dapat bergabung pada suhu kamar. Dengan mengoreksi rasio 3 komponen utama lipid interseluler (ceramides. sehingga sebaiknya dicampur dengan bahan lain (Black et al. 2005). tidak bersifat komedogenik.. Pada kulit yang menua.. b.

e. Sering digunakan dalam terapi topikal pada penyakit kulit lain misalnya psoriasis. 2005). Urea : Termasuk humektan. dan setelah kering akan memberikan efek mengencangkan kulit yang bersifat sementara (Yu and Van Scott. iktiosis. mempunyai efek keratolitik. 2005). g. serta larut dalam air. rasa tersengat dan rasa terbakar terutama pada lesi ekskoriasi yang baru (Black et al. Gliserin: bersifat humektan kuat. berbentuk cairan. iritasi dan rasa terbakar (Yu and Van Scott. mempunyai efek antipruritus ringan. 2005). Asam alfa hidroksi membantu sintesis lipid interselular terutama sintesis ceramide (Yu and Van Scott. dan dermatitis atopik. mempunyai kemampuan menyerap air (NMF). Terdapat efek samping berupa kemerahan. Asam hidroksi alfa maupun beta dapat memudahkan pengelupasan kulit. f. 2005). dengan pengolesan moisturizer akan meningkatkan kandungan 36 . terbuat dari asam amino. antimikrobial.. dengan kadar 3% dan 10% dalam bentuk krim.. yang akan melekat pada permukaan kulit sehingga permukaan menjadi lebih rata dan halus. 2005). Kolagen dan Polipeptida lain : kolagen yang mampu melakukan penetrasi ke dalam stratum korneum adalah kolagen yang mempunyai berat molekul < 5000 dalton. Mekanisme Aksi Pelembab Pelembab bekerja pada berbagai lokasi pada epidermis. dan meningkatkan penetrasi. tidak berbau. d. berfungsi menstabilkan dan memberi air pada membran sel (Black et al. alkohol dan minyak. Efek samping berupa terjadi dermatitis alergi.c. Propilenglikol : sebagai humektan dan bahan oklusif.

Mekanisme pelembaban kulit tidak terlepas dari sinyal kaskade yang memerlukan HA sebagai salah satu reseptor untuk 37 . Peningkatan ini terjadi karena adanya substansi yang mampu menahan air (humektan) sehingga konsentrasi air pada permukaan kulit meningkat (Johnson and Anthony.air karena terjadi peningkatan absorpsi per kutan terhadap air. Gambar Hidrasi Kulit Sangat Dipengaruhi oleh Kadar GAG dan Proteoglycans Proteoglycans. 2000). Berinteraksi dengan matriks ekstrasel dan memiliki peran biologi yang penting dalam proliferasi (Kligman. 2005). Glycoproteins dan Glycosaminoglycans merupakan regulator yang mengaktifkan fungsi sel.

38 . 2000). permukaan yang kasar menjadi lembut dan halus. 2009). 2005). bersisik. 2. Pelembab digunakan untuk melembabkan kulit sehingga gejala dan tanda kekeringan kulit. 2000). 2000). Kombinasi asam lemak. ceramide dan kolesterol pada pelembab dapat memperbaiki kerusakan lipid bilayers akibat sabun. cuaca dingin dengan mengganti komponen lipid yang berpengaruh (Warner and Boissy. SI merupakan molekul gula yang dibentuk sedemikian rupa agar menyamai kondisi glycan pada kulit. maka barrier- repairing yang dikandung dalam lipid pada pelembab diupayakan sama dengan lipid intraseluler pada kulit.20 Saccharide Isomerates (SI) SI diproduksi sebagai salah satu jawaban dari perkembangan Glycobiology untuk mendapatkan mekanisme pelembaban kulit yang efektif. Pelembab sering digunakan sebagai antiinflamasi pada pasien yang diterapi dengan psoralen yang dikombinasi dengan UVA (PUVA) (Kligman. Pelembab memiliki manfaat yang tidak saja melembabkan kulit. tetapi juga dapat mengobati dermatosis kronik seperti dermatitis atopik dan psoriasis karena dapat memperbaiki kerusakan sawar kulit. Pelembab yang digunakan selama lebih dari 6 bulan sangat efektif untuk mengurangi photodamaged pada kulit wajah (Johnson and Anthony.membawa sinyal pada permukaan kulit agar mempertahankan kelembaban kulit (Bertozzi and Rabuka. kondisi lingkungan yang sangat kering. Pelembab berbeda dengan “barrier cream” yang digunakan untuk melindungi pajanan bahan kontak yang menyebabkan dermatosis (Kligman. cairan yang iritatif.2. Untuk mendapatkan efek pelembaban kulit yang optimal dengan menggunakan bahan pelembab topikal.

2009). Berfungsi mempertahankan kelembaban sekalipun dalam kelembaban udara yang rendah. maka akan tetap efektif sekalipun berada pada udara yang kering dan kelembabannya rendah (Pentapharm. Komposisi SI yang sesuai dengan HA berperan sebagai pelembab yang efektif mengendalikan kelembaban kulit dengan berikatan pada grup asam amino lisin yang ada pada keratin stratum korneum. yaitu bahan yang bersifat emolien (Simion and Story. SI memiliki ikatan yang kuat dengan stratum korneum yang hanya bisa terlepas dengan proses deskuamasi. SI merupakan kompleks karbohidrat yang sama dengan yang ada pada stratum korneum kulit manusia. di samping itu juga dapat membuat kulit menjadi lebih halus dan tidak gatal (Pentapharm. 39 . Kombinasi SI dan berbagai bahan pelembab berperan mengefektifkan kelembaban kulit dengan berikatan pada grup asam amino lisin yang ada pada keratin stratum korneum. maka akan tetap efektif sekalipun berada pada udara yang kering dan kelembabannya rendah. Dalam bahan pelembab juga dapat mengandung bahan aktif lain yang dapat memperbaiki kelembutan kulit dengan melubrikasi dan mengisi celah antar sel di antara sel yang kering. Karena ikatannya sangat kuat. 2009). SI dapat berikatan dengan kulit sekalipun dalam kondisi pH yang sangat rendah sehingga sangat ideal bila digunakan bersama dengan bahan pelembab yang mengandung Alpha hydroxy acid (AHA) (Pentapharm. oleh karena itu sangat efektif melembabkan kulit. 2005). SI dapat bersifat sebagai komponen oklusif dan humektan. Karena ikatannya sangat kuat. 2009).

2. Iktiosis didapat sangat jarang.3Defenisi Iktiosis merupakan kelainan kulit yang umum diturunkan melalui keluarga yang ditandai dengan kulit kering. Berdasarkan penelitian yang dilakukan produsen Saccharide Isomerate. 2. Satu studi di Berkshire. Prevalensi ini di Amerika Serikat tidak diketahui. iktiosis yang paling umum terjadi dan relatif ringan. Prevalensinya di 40 . di samping itu juga dapat membuat kulit menjadi lebih halus dan tidak gatal (Pentapharm. mengemulsi sehingga didapatkan bentuk produk yang nyaman dipakai (Warner and Boissy. 2009). prevalensi sebenernya mungkin lebih tinggi. dengan prevalensi sekitar 1 kasus dari 300 orang. menebal. Oleh karena itu hanya bisa terlepas dengan proses deskuamasi.4Epidemiologi Iktiosis vulgaris adalah penyakit keturunan yang umum di amerika serikat. Iktiosis vulgaris. sebelum dipasarkan. dan prevalensinya tergantung pada lokasi. menstabilkan. kulit "sisik ikan". Karena gejala membaik dengan usia. Inggris. 2000). kasar. Iktiosis vulgaris herediter ditemukan di seluruh dunia. Pelembab juga ditambahkan bahan yang mengandung bahan inaktif yang membantu melarutkan. Iktiosis didapat sangat jarang. Iktiosis vulgaris. Hal ini disebabkan oleh perubahan ekspresi profilaggrin menuju scaling dan desquamation. oleh karena itu sangat efektif melembabkan kulit. terdapat sekitar 95% dari semua kasus iktiosis. didapatkan hasil bahwa ikatan SI dengan dengan stratum korneum. mengamati frekuensi 1 kasus dalam 250 anak sekolah.

Profilaggrin di sintesis di lapisan granuler epidermis. berat molekul filaggrin yang tinggi. Menurut jenis kelamin sama. Iktiosis vulgaris herediter dan didapat memiliki kecenderungan rasial yang tidak diketahui. merupakan komponen utama keratohyalin. Dalam beberapa studi disebabkan oleh bahan biokimia.seluruh dunia tidak diketahui. dan pewarisan autosomal dominan. 2. Penurunan produksi asam amino dan beberapa metabolism ion dapat menurunkan kadar air dalam stratum korneum sehingga dapat menyebabkan kulit kering dan dapat memperparah penyakit ini. Filaggrin adalah proteolyzed dan dimetabolisme menghasilkan asam amino bebas 41 . yang banyak muncul pada kebanyakan pasien yang terjadi selama setahun pertama kehidupan dan sebagian besar terjadi pada usia 5 tahun. namun penyakit sistemik yang terkait usia memang terjadi pada anak-anak. tidak ada pengaruh kelainan produksi lipid yang mempengaruhi penyakit iktiosis vulgaris. Melalui berbagai modifikasi posttranslational.5 Etiologi Iktiosis vulgaris menunjukkan penyakit autosomal inherediter biasanya muncul pada awal masa anak-anak yaitu pada umur 3-12 bulan. profilaggrin dikonversikan ke filaggrin yang menggabungkan antara filamen keratin di lapisan bawah corneum. Satu- satunya marker molekuler yang dikenal pada iktiosis vulgaris herediter dipengaruhi oleh profilaggrin. hal ini hanya dapat berefek pada kulit saja. Besarnya jumlah biasanya meningkat sampai pubertas dan kemudian menurun dengan pertambahan usia. Biasanya mengenai umur 3-12 bulan. Iktiosis vulgaris biasanya tidak ada pada saat lahir.6 Patofisiologi Iktiosis vulgaris diidentifikasikan sebagai hyperkeratosis retensi. Iktiosis didapat biasanya pertama kali muncul di usia dewasa. Bersifat umum. 2.

Penelitian telah menunjukkan bahwa regulasi posttrnscriptional yang cacat mengarah pada penurunan stabilitas profilaggrin mRNA. sebuah studi menemukan hanya 50% dari profilaggrin mRNA dan 10% dari protein profilaggrin yang ada. Abnormalitas biokimia ini berkolerasi dengan jumlah penurunan keratohyalin dan keparahan kondisi klinis. 2. ekspresi profilaggrin tidak ada atau kurang dalam epidermis. Angka mitosis dan waktu menjadi normal. Mutasi pada gen penyanding filaggrin telah diidentifikasi sebagai penyebab iktiosis vulgaris dan ditunjukkan sebagai faktor predisposisi utama dermatitis atopic baik di Eropa maupun Jepang. proses agregasi menjadi skuama = hyperkeratosis karena retensi). hidrasi dan dehidrasi berperan dalam desquamation normal. Normal ekspresi gen pada profilaggrin dapat pertama kali dideteksi pada lapisan granular. Analisis kultur keratinosit telah menunjukkan mRNA profilaggrin berkurang. Dibandingkan dengan jumlah yang normal. Siklus normal dari kulit. Siklus ini terganggu pada iktiosis vulgaris.7 MANIFESTASI KLINIS Gejala a. Iktiosis vulgaris merupakan gangguan pembentukan keratin (filaggrine) mengakibatkan gangguan keratinisasi dan perubahan sifat dari sel tanduk (pelepasan sel tertunda. Dalam iktiosis vulgaris.yang dapat berperan penting sebagai senyawa yang mengikat air di atas stratum corneum. Kulit kering dan berat 42 .

Scaly skin (kulit bersisik) c. Kemungkinan penebalan kulit d.8 Diagnosis Anamnesis Walaupun kulit pada iktiosis vulgaris herediter terlihat dan terasa normal saat lahir. 43 . 2. Gatal-gatal ringan pada kulit Kulit kering bersisik biasanya paling berat pada kaki. lengan dan bagian tengah tubuh. ini berangsur-angsur menjadi kasar dan kering pada anak usia dini. b. Orang dengan kondisi ini mungkin juga memiliki banyak garis-garis halus di atas telapak tangan. tetapi mungkin juga terdapat pada tangan.

Riwayat keluarga dengan iktiosis vulgaris herediter mungkin sulit untuk dipastikan karena berbagai derajat penetrasi dan peningkatan umum gejala dari waktu ke waktu. kasar. dixyrazine. Iktiosis suit bathing adalah yang mencolok dan unik dari bentuk klinis iktiosis kogenital autosomal resesif yang ditandai adanya sisik pada area yang sesuai dengan badan yang terendam api tapi kurang pada ekstremitas 44 . transplantasi sumsum tulang. d. Iktiosis didapat dikaitkan dengan banyak penyakit sistemik. hiperparatiroidisme. alergi serbuk ringan). penyakit autoimmune. dan mengkilap dengan sebagian besar tanda-tanda dan gejala muncul pada usia 5 tahun b. gangguan gizi. Penggunaan obat-obatan tertentu telah dikaitkan dengan iktiosis acquired. simetidine. Banyak pasien iktiosis vulgaris herediter terkait manifestasi atopic (misalnya: asma. lepra. triparanol. Salah satu studi mencatat manifestasi atopic hampir 41% memiliki setiaknya satu orang relative yang juga terpengaruh. Kondisi atopic dapat ditemukan dalam banyak anggota keluarga dengan atau tanpa gejala iktiosis vulgaris. Kulit secara bertahap menjadi kering. butyrophenones. a. a. Area popok biasanya tidak terpengaruh c. Gejala perbaikan penting terjadi selama bulan-bulan musim panas e. f. Iktiosis didapat secara klinis tidak dapat dibedakan dari iktiosis herediter. gagal ginjal kronis. bersisik. Munculnya iktiosis pada orang dewasa dapat terjadi sebelum atau setelah didiagnosis dari kondisi sistemik b. yaitu asam nikotinat. akan tetapi iktiosis didapat dikaitkan dengan berbagai penyakit sistemik. eczema. penyakit tiroid. Tingkat keparahan penyakit bervariasi tergantung pada kondisi sistemik c. termasuk SLE dan dermatomitosis. Dahi dan pipi mungkin terkena lebih awal tapi biasanya sisik kulit berkurang dengan pertambahan usia d. sarcoidosis. infection HIV. dan dofazimine e. termasuk kanker (terutama limfoma).

e. tetapi perubahan atopi dapat terjadi. Gejala kulit lainnya yang berhubungan (fakultatif): keratofolikular dan dermatitis atopic Pemeriksaan penunjang Dermatophatlogy 45 . Pada kulit bayi yang baru lahir dapat tampak normal b. disebabkan oleh kekurangan transglutaminase-1 menampilkan bukti yang menyarankan itu adalah phenotype yang sensitive terhadap suhu. 2. Region antekubiti dan fosa poplitea biasanya juga tidak terkena. lipatan region axial dan gluteal biasanya tidak terkena. Distribusi difus generalisata dengan predileksi pada region ekstremitas superior inferior. Iktiosis suit bathing (sesuai daerah tubung yang berenang).9 Pemeriksaan fisik Gambaran klinis pada iktiosis vulgaris. adalah: a. sedangkan wajah dan kulit dekat mukosa. Morfologi ikteosis yaitu di dapatkan kulit xerosis. dan wajah. d. berskuama berbentuk poligonal c.

Non bullous congenital ichthyosiform eritroderma (NCIE) d. dan bersisik. Iktiosis vulgaris (IV) b. pd leher 2-3 minggu Daerah depan.000 bayi laki-laki Manifestasi membrane mirip Skuama Kulit kering Skuama klinik collodion putih. Iktiosis resesif terangkai kromosom X (XLI) c. Dermatitis atopic (DA) IL NCIE IV XLI Pola Autosomal resesif Autosomal Autosomal X-linked pewarisan resesif dominan resesif Muncul Saat lahir universal >3 bulan <3bulan dg r. pertama kehidupan.000 200. lapisan germinative rata. ektensor dan 46 .c defisiensi sulfatase plasental Insiden 1:300. region axial. lipatan ekstremitas Skuama lebar. SC e. a.000-6. Pada mikroskop electron kecil. 2. luas kemudian kulit eritroderma ekstremitas dan mencolok berskuama selama yang jelas fleksural.000 1:100. kurang terbentuk granula keratohyalin. Didapatkan: penekanan hyperkeratosis berkurang atau tidak adanya lapisan granular.10 Diagnose Banding Ini biasanya dapat dibedakan dari jenis yang kurang umum pada iktiosis berdasarkan pola pewarisan dan dari jenis dan distribusi scaling.000 .1:250 1:2. hyperkeratosis membungkus bayi generalisata terutama yg lebih saat lahir. dengan pada daerah gelap. Ikteosis lamellar (IL) e.

dada/trunkus. 47 . antecubiti Siku. kecoklatan keabu. telapak abuan. Kelenturan dari stratum korneum juga ditingkatkan. Keparahan dari iktiosis acquired biasanya tergantung pada kondisi sistemik yang mendasarinya. Hidrasi mempromosikan desquamasi dengan meningkatkan aktivitas enzyme hidrolitik dan kerentanan terhadap kekuatan mekanik.11 Penatalaksanaan Perawatan Iktiosis vulgaris herediter adalah gangguan kronis yang dapat meningkat dengan pertambahan usia. quadrilateral dan fosa tangan. Pendekatan utama pada pengobatan dari dua kondisi baik mencakup hidrasi kulit dan penerapan sebuah salep untuk mencegah penguapan. atopi eklabium dan ekstropion 2. tapi sering memerlukan terapi terus menerus. berwarna gluteal. Jarang Keratosis Hernia lain eklabium dan ditemukan folikular dan ingunal ektropion alopesia dermatitis sikatrik. lutut sangat tebal pada popliteal fleksor dan kasus berat tidak terkena telapak kaki sering ditemukan tidk terlibat hyperkeratosis Lebih cepat derajat sedang di hilang pd telapak tangan dan musim panas kaki Bertambah usia makin buruk Manifestasi Alopesia sikatriks. tebal.

5. Keratinocid memodulasi 48 . Retinoid Penurunan hyperproliferative keratinosit normal dan dapat tujuan mengurangi potensi untuk menjadi ganas. Tazarotane. Iktiosis sistemik yang mendasarinya. Propylene glycol adalah kendaraan umum di kedua resep dan over-the-counter persiapan 4. merangsang mitosis dan omset. Kulit tabal kemudian gudang hidrasi berikut. Penghapusan sisik pada kulit dapat dibantu oleh keratolitik (misalnya.1. Pada sediaan 6% gel asam salisilat dapat digunakan pada daerah yang terbatas 3. Penggunaan sehari dua kali telah menunjukkan hasil yang lebih baik pada krim petrolatum untuk pengendalian iktiosis vulgaris.3 Pengobatan Tujuan farmakoterapi adalah untuk mengurangi morbiditas dan untuk mencegah komplikasi 1. Obat ini bekerja dengan menyebabkan disagregasi dari comeocytes di tingkat bawah pada pembentukan lapisan stratum corneum yang baru. Pelembab yang mengandung urea dalam kekuatan lebih rendah (10-20%) menghasilkan strata corneum yang lebih lentur dengan bertindak sebagai humectants. Iktiosis vulgaris tidak responsive terhadap steroid. sebuah reseptor selektif retinoid topical juga telah efektif dalam satu percobaan kecil. dan menekansintesis keratin. Propylene glycol menarik air melalui stratum corneum dengan membentuk gradient air. Topical retinoid (misalnya. asam salisilat) yang menyebabkan disagregasi corneocyte di korneum lapisan atas. tetapi steroid topical ringan mungkin berguna untuk pruritus 6. 2. tretinoin) mungkin akan bermanfaat. Over the-countern produk yang sering mengandung urea atau propilen glikol. Asam laktat tersedia sebagai laktat 12% ammonium lotion atau bisa dicampur pada resep dalam konsentrasi 5 – 10% dalam wadah yang cocok. glikolat atau asam piruvat) yang efektif untuk hydrating kulit. Alpha-hydroxy acids (misalnya laktat. Obat ini dapat mengurangi kekompakan sel-sel epitel.

05% gel selama 2 minggu. diferensiasi. Dewasa Hanya digunakan untuk daerah yang terkena . Dewasa 0. Bekerja untuk melembabkan kulit dan megurangi keratinisasi epidermis yang berlebihan dengan menyebabkan hilangnya perlengketan antara korneosit. 49 . Dosis: . Tretinoin (Retin-A. produk ini mungkin menguntungkan Dosis: . Karena penggunaan retinoid serig terhambat dan imitancy. 3 kali/ minggu . Avita) Agen keratolitik yang bertindak meningkatkan mitosis sel epidermal dan omset sementara dengan menekan sintesis keratin Dosis: Dewasa: gunakan 0. Humectants Meningkatkan kelembabab kulit Ammonium laktat (lac-hydrin) 12% krim atau lotion Alpha-hydroxyl-acid yang juga humectants alami dikulit. Tazarotene (tazarac) Reseptor selektif adalah intesis retinoid prodrug yang dikonversi secara cepat menjadi asam tazarotenic. Anak : Tidak ditetapkan 2. Anak Berlaku seperti orang dewasa. Tersedia OTC sebagai 12% laktat lotion (Amlactin lotion).1% krim Anak : tidak ditetapkan b. Telah terbukti mengurangi resiko pembentukan kanker kulit pada pasien dengan transplantasi ginjal a.

Stephen I. 7th edition.D. 6th edition.A. Goldsmith. Lowell A. Philadelphia: W. Color atlas and synopsis of clinical dermatology.A.C.A. Available from: http://dermnet.B. 2009 (updated: 15 jun 2009). In: Baumann. New York: McGraw-Hill.2001. PhD. Klaus. editors. M. 2004. neil Cox. MD.com Hunter. 2009 (update: 4 Oct 2009). Clinical Dermatology.72-75 Armold.html Schwartz.nz/scaly/ichtyosis. L. 2002. MD.org. New York: The McGraw-Hill Companies 50 . Christoper Griffiths. Basic Science of the Epidermis. Johnson RA. Rook’ s Textbook of Dermatology. Vanessa. MD. Fitzpatric’s dermatology in general medicine. 2008. A. P:34-7 – 34-9 Berman. M. 2009) available from : http://emedicine. PhD. 2002a. FRCP. William D.2009 (updated: jul 21.V. Harry L. F. Katz. Wolff K. Odom. Andrew’s disease of the skin clinicl dermatology. J. MPH. ed.D. Savin. Richard B. Sauders Company.p.A.p:407-408 Ngan. M. James.. Cosmetic Dermatology: Principles and Practice. New York: McGraw-Hill. MD.2. P:41-42 Bauman. J. Jr. and Weisberg. 8th edition. 3th edition. M. Available from: http//www. Robert A. Oxford: Blackwell Scientific Publication. Ichtyosis. P:88-122 Bums Tony..S. Hanya saja perlu diperhatikan keadaan penyakit sistemik yang terjadi selama masih berlangsungnya periode penyakit ini. Wolf. MD. DAFTAR PUSTAKA Fitzpatrick TB. Kevin.medscape.D.B.Dahl. Ichtyosis Vulgaris..1990. L.P.12 Prognosis Prognosis dari iktiosis vulgaris sangat baik seiring bertambahnya usia. M. Oxford: lackwell Scientific Pulications.com Fitzpatrick TB.medlineplus. Sthepen Breathnach.

H. 2000. In: Elsner. Testing the efficacy of moisturizer. Boca Raton.N. 1990. DC. H. Gabard. P. 1994. Washington.I. London.K... Dry Skin and Moisturizer. : CRC Press. Bodde. FL : CRC Press. 51 . Van Den Brink. Berardesca. B.H.. Kligman.I. editors.. Maibach. I. J Controlled Release. H. editors.. M. In: Loden. New York. E... A. Chemistry and Function. Bioengineering of the skin: Water and the Stratum Corneum. Koerten. Boca Raton. and De Haan. F. Introduction: Dry Skin and Moisturizer. Visualization in Vitro Penetration of Mercuric Chloride: Transport Through Intercellular Space vs. Maibach. H. Cellular Uptake Through Desmosomes.